Imam Tanpa Bayangan II Jilid 19

 
Jilid 19

"THIAN LIONG TOA LHAMA, muridmu betul2 luar biasa sekali, dibalik perkataannya membawa duri yang tajam, apakah kesemuanya itu adalah hasil pelajaran dari thay-su?”

“Oouw.... muridku ini memang orang manusia kasar, semasa berada di Tibet ia membuka sebuah toko penjual peti mati. Loo Sianseng, harap kau jangan marah dan layani orang kasar macam dia”

Suasana kembali diliputi keheningan entah berapa lama sudah lewat, terdengar suara dari Thian Liong Toa Lhama kembali bergema diangkasa: “Buronan yang hendak kau tangkap apakah bernama Pek In Hoei?"

“Darimana kau bisa tahu kalau dia bernama Pek In Hoei?" sahut Hoa Pek Tuo dengan hati terperanjat.

“Dari ribuan li jauhnya buru-buru loolap berangkat kemari, tujuanku yang terutama bukan lain hendak mencari Pek In Hoei. Oleh karena itu aku harap Hoa Loo sianseng suka melepaskan satu jalan hidup bagi dirinya”

“Toa Lhama, buat apa kau mencari Pek In Hoei?" “Sribaginda keluarga Toan yang ada di negeri Tayli mengetahui bahwa Pek In Hoei ialah manusia berbakat yang paling bagus di kolong langit dewasa ini. Maka sengaja ia memerintahkan Pun Kok-su dengan membawa sepuluh orang jago kelas satu dari istana untuk datang kemari mencari Pek In Hoei”

Hoa Pek Tuo terperanjat, ia tidak menyangka kalau secara tiba-tiba bisa muncul utusan khusus dari Sri Baginda dinegeri Tayli.

Dengan hati setengah percaya setengah tidak pikirnya: “Pek In Hoei adalah jago lihay dari partai Thiam Cong, sedangkan jarak antara gunung Thiam Cong dengan negeri Tayli tidak terlalu jauh, jangan-jangan Kaisar keluarga Toan dari negeri Tayli benar-benar pernah bertemu dengan Pek In Hoei dan kini hendak mengangkat dirinya diri ”

Sekalipun ia cerdik melebihi orang dan punya kepintaran yang luar biasa, tetapi setelah semalaman suntuk secara beruntun mengalami pelbagai peristiwa yang aneh-aneh, sedang semua peristiwa itu terjadi secara mendadak serta diluar dugaan semua membuat ia kehilangan keseimbangan badannya dan keyakinan terhadap kecerdasan serta kekuatan sendiripun jauh berkurang.

Dalam kesunyian serta keheningan yang mencekam seluruh jagat itulah tiba-tiba telinganya menangkap suara gesekan kaki yang lirih, seakan-akan terdapat seorang manusia yang terluka sedang bergerak menuju keluar perkampungan.

“Pek In Hoei, jangan pergi!" segera bentaknya.

Langkah kaki itu terhenti, disusul suara bentakan gusar dari Pendekar Jantan Berkapak Sakti Chee Thian Gak berkumandang datang: “Nenek moyang sialan, apa yang sedang kau teriakkan? sekujur badan Pek In Hoei telah terluka, keadaannya tidak jauh berbeda dengan orang mati, mana mungkin ia masih bisa berlari?"

Dalam hati Hoa Pek Tuo merasa amat gusar, dia ingin sekali menubruk ke depan tanpa memperdulikan apapun, tetapi ia jeri terhadap Thian Liong Toa Lhama sebagai Kok- su Kerajaan dewasa ini, apalagi kedatangannya atas undangan dari Cia Kak Sin Mo, dia takut rencana besar yang telah dipersiapkannya selama ini terbengkalai dan hancur berantakan hanya disebabkan urusan kecil ini saja.

Diam-diam pikirnya dalam hati: “Sepanjang hidupku baru kali ini kualami penghinaan serta pengejekan yang paling banyak, tetapi aku rela menyabarkan diri. Hmmm! kesemuanya ini tidak lain demi pembalasan dendamku terhadap Hoo Boan Jien si perempuan rendah itu ”

Berpikir demikian, sambil gigit bibir segera ujarnya “Kalau memang demikian adanya, silakan Toa Lhama beristirahat dahulu diruang tamu”

“Haa.... haa.... haa    terima kasih atas maksud baik dari

Loo siangseng, biarlah loolap perintahkan dahulu muridku untuk menghantar Pek In Hoei pergi ke markas besar Wie ciangkun sana, kemudian kita rundingkan rencana besar untuk mempersatukan seluruh dunia persilatan dibawah kekuasaan kita, disamping itu akupun hendak serahkan sepucuk surat rahasia dari Cia Kak Sin Mo yang dititipkan untuk diri Loo-sianseng”.

“Oooo.   jadi Cia Gak Sin Mo telah menitipkan sepucuk

surat rahasia kepada diri taysu silahkan. ".

“Surat ini menyangkut rencana besar kita untuk menguasai sungai Tiang-kang sebelah utara serta selatan, karena itu Loolap sudah seharusnya kalau serahkan sendiri surat tersebut kepadamu, tetapi berhubung loolap sedang melaksanakan perintah dari Sri Baginda maka mau tak mau aku harus menghantar Pek In Hoei lebih dahulu”.

“Ehmmmm, apakah Thaysu bersikeras hendak membawa pergi diri Pek In Hoei...?"

“Eeeeei... setelah Loo sianseng kabulkan permintaan kami tadi, apakah sekarang kau hendak mengingkari janji?".

Ucapan ini membuat Hoa Pek Tuo melengak. “Sejak kapan aku menyetujui dirimu untuk membawa pergi Pek In Hoei dari sini?".

“Kurang ajar!” Teriak Thian Liong Toa Lhama dengan penuh kegusaran. “Tak sangka ucapanmu tak bisa dipercayai, Hmmm manusia macam begitu bisa-bisanya mengakui sebagai sahabat karibnya Cia Kak Sin Mo. Aaaaiii. aku benar benar merasa kecewa baginya!"

“Apa yang kau kecewakan?".

“Aku merasa kecewa dan kasihan karena dia sudah mempercayai seorang telur busuk yang lemah tak bertenaga serta tua bangka sebagai sahabatnya, bahkan mempercayai telur busuk macam itu untuk mengatur siasat serta rencana besar guna menguasai kolong langit. ”.

Mendadak ucapannya terputus ditengah jalan, disusul suara batuk yang keras menggema datang.

Kejernihan otak Hoa Pek Tuo boleh dibilang sudah terlamur oleh hawa gusar serta dongkolnya karena dihina dan diejek terus oleh pihak lawan, untuk sesaat lamanya ia tak sempat berpikir Thian Liong Toa Lhama sebagai seorang jago lihay dari Tibet mengapa tidak tahan terhadap sumpeknya kabut hitam dan terbatuk batuk.

Dengan penuh kegusaran segera bentaknya: “Toa Lhama, coba katakanlah sekali lagi dimana letak kedogolanku? dimana letak kegoblokanku dan dimana pula terletak kesalahanku? kalau ini hari kau tak sanggup menerangkan hingga jelas, jangan harap bisa tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup-hidup".

Thian Liong Toa Lhama tertawa dingin. “Kedogolanmu terletak pada usiamu yang sudah tua, kegoblokanmu terletak pada badan yang sudah reyot dan ketololanmu terletak karena kau sudah tua bangka dan siap masuk liang kubur”.

Seolah olah tergusur sebaskom air dingin mendadak satu ingatan berkelebat dalam benak Hoa Pek Tuo, seakan akan dia berhasil memahami sesuatu namun sebentar lagi ia merasakan pikirannya melamur dan tidak jelas.

“Sebenarnya kau siapakah?” segera tanyanya setelah dengan susah payah menghimpun tenaga.

“Hee.... hee.... hee.... kau ingin tahu siapakah sebenarnya diriku?”

“Apakah kau telah mencatut nama besar dari Thian Liong Toa Lhama?”. bantah kakek itu dengan darah tersirap.

“Sedikitpun tidak salah, bagaimanapun juga yang jelas kau tetap sebagai seorang manusia yang paling goblok dikolong langit!".

Sekarang Hoa Pek Tuo sudah dapat menebak siapa lawan bicaranya, dia lantas menjerit lengking: “Kau adalah Pek In Hoei?”.

Dari balik tebalnya asap hitam menggema datang suara gelak tertawa dari Pendekar Jantan Berkapak Sakti Chee Thian Gak, kemudian terdengar ia mengejek: “Telur busuk tua, tahukah kau siapakah aku?” Cahaya berapi api memancar keluar dari sepasang mata Hoa Pek Tuo. “Kaupun Pek In Hoei?” jeritnya.

“Haa.... haa.... haa....” kini suara Jago Naga Emas It Boen Chiu yang bergema memecahkan kesunyian. “Hoa Pek Tuo, otakmu sudah mendekati sinting, jangan-jangan kau anggap akupun sebagai Pek In Hoei?”.

Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, enam titik cahaya keemas-emasan dengan membentuk sebuah jaring yang kuat meluncur tiba.

Mimpipun Hoa Pek Tuo tidak menyangka kalau dia sebagai manusia yang amat cerdik dan sudah banyak tahun malang melintang dalam dunia persilatan tanpa pernah jatuh kecundang ditangan orang barang satu kalipun, kini ternyata harus menelan mentah-mentah pil pahit yang sangat merusak pamornya, dan dipermainkan oleh Pek In Hoei tanpa disadari olehnya.

Beberapa patah kata tadi seolah-olah martil besar yang menghantam kepalanya membuat ia pusing tujuh keliling, hampir-hampir saja ia jatuh semaput saking tak tahannya.

Dia meraung keras sambil muntahkan darah segar dari mulutnya laksana seekor beruang terluka loncat masuk ke dalam jaring emas itu....

Dari tengah kepulan asap hitam meluncur datang titik- titik cahaya emas, yang dipandang sepintas lalu seakan akan sebuah jaring besar yang akan mengurung tubuhnya.

Gerakan tubuh Hoa Pek Tuo yang sedang menerjang seketika merandek ditengah udara, ujung jubahnya dikebaskan kedepan dan seketika itu juga dua gulung desiran angin pukulan yang maha hebat meluncur kearah depan. Setelah menyaksikan kedahsyatan dari naga kecil berwarna emas tadi, kakek tua ini tak berani bertindak gegabah, begitu angin pukulan lepaskan badannya segera meloncat mundur enam langkah ke belakang.

Gerakan mundurnya kali ini dilaksanakan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, tanpa berjumpalitan diudara tahu-tahu ia sudah berada dibelakang.

Saat itu itulah cahaya keemas-emasan yang meluncur datang dari hadapannya tiba tiba bergabung menjadi satu dan rontok pada kurang lebih enam depa dihadapannya.

Menyaksikan hal tersebut dengan perasaan bergidik Hoa Pek Tuo membatin di dalam hatinya: “Ilmu melepaskan senjata rahasia yang ada dikolong langit boleh dikata kepandaian dan keluarga Tong di Propinsi Su Cuan lah yang paling lihay dan peling keji. Siapa sangka Si jago Naga Emas bisa memiliki cara melepaskan senjata rahasia yang begini lihaynya jauh melebihi keluarga dari Propinsi Su Cuan!".

Berpikir demikian kakinya lantas berputar dan memindahkan tubuhnya kearah lain, kemudian setelah berputar satu lingkaran busur langsung menubruk kearah Thian Liong Toa Lhama berdiri.

“Hmmm! Hmmm!....” Gelak tertawa nyaring berkumandang dari balik kabut hitam. “Hoa Pek Tuo, kau anggap dengan begitu gampang lantas dapat menghindari ilmu pelepasan senjata rahasia “Lak Liong Yoe Thian" atau Enam Naga Menembusi Langitku ini?”.

“Kamu sekalian jangan lari....” hardik Hoa Pek Tuo dengan sepasang alis berkerut.

Belum habis dia berkata bertitik titik cahaya emas telah saling bertumbukan hingga menimbulkan suara nyaring dan secara tiba-tiba bagaikan bunga teratai yang mekar memencar ke empat penjuru.

Senjata rahasia Naga emas yang memencar tadi meliputi daerah satu tombak disekeliling situ, dengan meninggalkan guratan panjang di angkasa segera mengurung tubuhnya rapat-rapat, dan kemudian laksana kilat mendekati badannya....

Hoa Pek Tuo membentak nyaring, sepasang telapak secara beruntun melancarkan tujuh buah serangan berantai, diantara berkelebat dan menarinya cahaya keemas emasan tubuhnya pun ikut meloncat mundur sejauh tujuh langkah.

Baru saja ia melangkah mundur terdengarlah suara desiran angin yang maha hebat, seolah-olah melayang turunnya seekor naga sakti dari tengah udara menyapu dan membuyarkan kabut hitam yang mengelilingi sekitar tempat itu.

Sepasang lengannya segera diangkat balas mengirim satu pukulan, sebuah pusaran angin yang kencang dan cepat menghisap segenap asap hitam yang sedang menggulung kearahnya kemudian melemparkannya ke tengah udara.

Secara beruntun ia telah mengeluarkan ilmu “Poh Giok Chiet Sie" kepandaian maha sakti dari luar lautan untuk menghadapi lawan. Pertama bukan saja untuk mendesak mundur pihak lawan, disamping itu diapun takut Si Jago Naga Emas melancarkan serangan-serangan senjata rahasianya lagi, maka dari itu Poh Giok Chiet Sie dimainkan secara berantai membuat asap hitam terhajar buyar keempat penjuru.

Dalam sekejap mata, pemandangan jadi terang benderang tetapi bayangan dari Thian Liong Toa Lhama serta murid muridnya telah lenyap tak berbekas. Dengan cepat biji matanya berputar. Mendadak ia temukan diatas permukaan tanah kecuali segumpal darah segar tidak nampak siapapun jua entah sejak kapan Pek In Hoei telah berlalu.

Ia tarik napas dalam-dalam untuk mengusir kemangkelan yang sudah tertimbun dalam dadanya. lalu pikirnya: “Selama lima puluh tahun terakhir belum pernah hatiku dirangsang oleh golakan hebat seperti hari ini. Aaaaaai....! kenapa aku harus melancarkan ilmu Poh Giok Chiet Sih setelah tubuhku terbakar oleh napsu berahi serta angkara murka? seandainya aku bisa menenangkan hatiku, kemangkelan ini pasti bisa kutahan".

Tiba tiba ia teringat kembali akan diri Chin Tiong serta Ku Loei muka segera panggilnya keras keras “Ku Loei! Chin Tiong!"

Kobaran api yang membakar pepohonan dibelakang tubuhnya kian lama kian bertambah lirih dan lemah, asap hitam yang menggumpal berlapis-lapis kini mulai buyar terhembus angin, namun jawaban dari Ku Loei maupun Chin Tiong tak kunjung tiba.

Hoa Pek Tuo gigit bibirnya keras keras sambil tundukkan kepalanya ia berpikir: “Aku masih teringat ketika asap tebal masih menutup seluruh jagad, Pek In Hoei telah menusuk Ku Loei hingga terluka, sedangkan Chin Tiong sama sekali tidak tahu kalau musuhnya hanya gertak sambal belaka dan hanya berdiam diri tak berkutik. Kalau tidak, bukankah sekarang bajingan cilik itu sudah berhasil ditawan?”

Dengan perasaan rasa dongkol makinya: “Kedua orang manusia itu gobloknya luar sungguh memalukan mereka sudah mempelajari ilmu silat aliran Seng Sut Hay serta disebut orang kangouw sebagai Bu-lim Sam Siok, dalam kenyataan mereka semua tidak lebih hanyalah kurcaci yang bernyali seperti tikus!. Sialan!”

Asap hitam membawa udara yang panas berhembus lewat disisi tubuhnya, ia tabok kening sendiri sambil bergumam: “Aaaaai. ! kenapa tingkah lakuku pada hari ini

begini tidak genah dan goblok? bukannya pergi menyelidiki jejak dari Thian Liong Toa Lhama sebaliknya hanya menggerutu belaka disini. Beginikah yang dinamakan Hoa Pek Tuo manusia tercerdik dikolong langit?”.

Sepanjang hldupnya sudah terlalu banyak masalah yang sulit dan rumit menimpa dirinya. Setiap kali ia selalu berhasil meloloskan diri dari bahaya maut karena andalkan kecerdasan otaknya. Karena itu terjalinlah suatu kebiasaan untuk memikirkan satu persoalan dengan masak-masak serta mencari sebab musabab yang sebenarnya sebelum bertindak.

Karena kebiasaannya ini sering kali membuat ia tak sanggup menduga duduk perkara yang sebenarnya dari satu masalah, dan malahan sering membuang kesempatan baik dengan sia2.

Sejak Pek In Koei masuk kedalam perkampungan Tay Bie San-cung, berulang kali rencana besar yang telah disusun olehnya secara masak dihancur lumatkan oleh pemuda itu. Setiap kali pula tindakan si anak muda itu berada diluar dugaannya. Terutama sekali tindakan Pek In Hoei yang menggunakan tabiat banyak curiganya secara beruntun menyerang titik kelemahan tersebut, membuat ia hampir saja menderita kekalahan total didalam pertandingan adu kecerdikan ini. Karena itu ia mulai mencurigai atas kemampuan dari kecerdasan otaknya.

Karena bayangan hitam itulah membuat kakek tua ini kehilangan kemantapan serta ketenangan hatinya tatkala secara tiba-tiba ia bertemu dengan Thian Liong Toa Lhama, Kok-su kerajaan yang muncul secara mendadak perkampungan Tay Bie San-cung nya.

Lama sekali Hoa Pek Tuo berdiri termangu-mangu ditengah kalangan, mendadak ia berseru tertahan dan bergumam kembali: “Bukankah rombongan dari Thian Liong Toa Lhama terdiri dari tiga orang....? kenapa yang tertinggal diatas permukaan tanah hanya sebaris telapak kaki belaka? lagipula diatas tanah terdapat segumpal darah? sungguh aneh. "

Dengan cepat badannya berkelebat ke depan dan mulai melakukan pengejaran mengikuti bekas telapak kaki itu.

Dalam keadaan seperti ini dia sudah tidak memperdulikan keselamatan dari Ku Loei serta Chin Tiong lagi. Apa yang terdapat dalam benaknya hanyalah mencari tahu kemana perginya Thian Liong Toa Lhama yang telah berlalu sambil membawa tubuh Pek In Hoei.

Lambat sekali langkah Hoa Pek Tuo karena bekas telapak kaki yang tertinggal menimbulkan pelbagai pertanyaan yang mencurigakan dalam hatinya. Baru saja berjalan dua tombak jauhnya mendadak ia temukan kembali segumpal darah kental diatas tanah diikuti bekas telapak kaki bernoda darah memanjang jauh kedepan dan kian lamur warnanya sehingga akhirnya lenyap tak berbekas.

Sinar mata licik terlihat diatas wajahnya, ia tersenyum sinis, pikirnya “Mereka ingin membuat aku menaruh prasangka bahwa Pek In Hoei telah melarikan diri lewat perkampungan sebelah belakang. Hmmm! belakang perkampungan Tay Bie San-cung adalah tebing yang terjal. Dibawah tebing merupakan sungai dengan aliran air yang deras, siapa yang sanggup melewati tempat semacam itu?” Ia mendongak dan tertawa ter-bahak2. “Haa.... haa....

haa.... suara di timur memukul barat hanya suatu siasat yang kecil, siasat macam beginipun hendak diperlihatkan dihadapanku, sungguh tolol”

Di tengah gelak tertawa yang nyaring ia gerakkan sepasang lengannya kemudian tanpa sangsi sedikitpun kakek tua itu berkelebat menuju keperkampungan sebelah depan.

Baru seja bayangan tubuhnya lewat di balik pepohonan dan gelak tertawanya sirap ditelan awan, dari balik kegelapan disisi telaga perlahan-lahan merangkak keluar sesosok bayangan manusia.

Wajahnya pucat pias bagaikan mayat, rambutnya yang panjang terurai kebawah dalam keadaan yang awut awutan. Lambat-lambat ia bergerak menuju ketempat dimana Hoa Pek Tuo berdiri tadi.

Memandang asap hitam yang mulai membuyar diangkasa, orang itu tertawa dingin seraya mengejek “Hoa Pek Tuo! kembali kau tertipu oleh siasatku. Hmmm! justru aku hendak suruh kau rasakan bagaimanakah siasat suara ditimur memukul dibaratku ini. Kalau tidak mana bisa kau berikan jalan keluar bagiku untuk melarikan diri lewat belakang perkampungan?”

Dengan tangan kanan mencekal pedang mustika penghancur sang surya, ia seka darah yang membasahi bibirnya lalu bergumam kembali seorang diri: “Hoa Pek Tuo! aku hendak suruh kau saksikan dan buktikan dengan mata kepala sendiri bahwa kecerdasan yang dimiliki Pek In Hoei masih mampu digunakan untuk dirimu. Pada saat yang bagaimanapun juga aku dapat berdiri dibelakang tubuhmu, menjadi cacing dalam perutmu dan menguntit terus dirimu tanpa kau rasakan dan ketahui” Sorot mata menggidikkan memancar keluar dari biji mata sianak muda itu, bekas merah darah pada keningnya tampak bertambah nyata, napsu membunuh sudah menyelimuti seluruh benak serta hatinya.

Sang surya condong kebarat meninggalkan bayangan tubuh pemuda itu di belakangnya. Dipercepat langkah kakinya menuju kearah gundukan tanah dibelakang telaga Lok Gwat Ouw. Pantulan sinar dari kutang pelindung badan yang ia kenakan membiaskan cahaya keperak- perakan yang amat menyilaukan mata.

Setelah melewati gundukan tanah, ia tiba ditepi pagar kayu setinggi dua tombak.

Suasana disekeliling sana sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun ia celingukan kekanan kiri lalu dengan kelima jari kanannya yang tajam bagaikan jepitan secara tiba-tiba mencengkeram pagar kayu tersebut.

Pagar kayu itu semuanya terbuat dari balok-balok kayu yang amat besar, sekalipun begitu cengkeraman jarinya berhasil menembusi batok tadi sedalam dua coen.

Sekali jejak kakinya, bagaikan burung elang yang melayang ke angkasa tubuhnya segera berjumpalitan satu kali di angkasa dan segera melayang diatas pagar dan meluncur keluar dari daerah terkurung tadi.

Permukaan di bawah pagar kayu merupakan batu-batu kerikil yang tidak rata. Dengan sempoyongan ia berdiri disitu. Untung cepat cepat ia tahan keseimbangan tubuhnya dengan sarung pedang sehingga sang badan tidak sampai roboh ketanah.

Ia tertawa getir, pikirnya: “Pada hari hari biasa pagar kayu setinggi dua tombak tidak akan menghalangi diriku untuk melompatinya. Aaiaai.... tapi sekarang, aku harus kerahkan segenap tenagaku dan bersusah payah baru berhasil melompatinya sungguh lihay kepandaian silat dari Hoa Pek Tuo”

Ia tarik napas dalam dalam, kesadarannya jadi jernih kembali, pikirnya lebih jauh: “Aku telah bertaruh dengan Hoa Pek Tuo, seandainya dalam jarak tiga puluh li dari perkampungan diriku keburu tertangkap kembali maka sejak ini hari aku tidak akan she Pek lagi. Kalau ditinjau dari medan disekitar tempat ini yang penuh dengan belukar serta bukit yang terjal, jelas tidak gampang bagiku untuk melampaui jarak tiga puluh li"

Ia tahu bahwa hingga detik itu Hoa Pek Tuo masih belum tahu bahwa sifatnya yang terlalu menaruh curiga terhadap segala sesuatu ini merupakan titik kelemahannya yang paling gampang dlgunakan orang. Kekalahannya selama inipun tidak lebih karena persoalan itu. Seandainya la mau berpikir dengan pikiran yang dingin, maka dengan cepat ia akan merasakan bahwa dirinya sudah tertipu.

Pemuda itu tertawa geli, batinnya: “Kalau bukan sejak kecil aku sering kali pindah rumah sehingga mempelajari pelbagai logat pembicaraan dari berbagai daerah, tidak nanti aku bisa gertak Hoa Pek Tuo sehingga lari terbirit2. ”

Segulung angin dingin berhembus lewat membawa bau harum bunga yang semerbak. Pek In Hoei tarik napas panjang panjang dan merasakan betapa lapang serta segarnya suasana disitu.

Ia termenung sejenak kemudian loloskan pedangnya dan membuat sebuah lubang yang cetek kurang lebih dua depa diatas pagar kayu tersebut. Dalam sekejap mata ada enam tempat di luar pagar kayu itu telah digali olehnya, hingga sepintas lalu seolah olah tampak enam buah gua yang tertutup oleh pasir.

Memandang hasil pekerjaannya, ia tersenyum ewa, kemudian menyeka keringat yang membasahi tubuhnya dan berlalu menuju ke arah utara.

Kedua kakinya melangkah diatas permukaan batu cadas yang keras, dengan perasaan bangga pikirnya lebih jauh: “Tindakanku ini akan cukup membuat dia jadi amat repot. Menanti ia temukan bahwa lubang tersebut adalah jebakan yang kosong maka cuaca ketika itu tentu sudah gelap. Dalam keadaan seperti itu bila dia ingin mencari tapak kakiku diatas batu cadas yang keras. Haa.... haa....

bukankah sulitnya bagaikan mencari jarum di dasar samudera”.

Batu cadas tadi berlapis-lapis dan memanjang jauh ke dalam. Banyak liang serta celah celah kecil terdapat pada permukaan batu itu hingga sepintas lalu kelihatan bagaikan sarang laba-laba.

“Ribuan tahun berselang mungkin tempat ini merupakan sebuah sungai yang amat besar” pikir Pek In Hoei “Oleh sebab itu disini terdapat begitu banyak batu karang yang berkumpul jadi sebuah bukit”

Tiba tiba ia dengar suara mengalirnya air yang lirih berkumandang datang dari arah samping, jelas disekitar sana terdapat sebuah ngarai yang dalam....

“Sungguh indah pemandangan di tempat ini. Akan kulihat dimanakah letak air terjun tersebut, sebab, kalau keadaanku berada dalam kegembiraan, betapa nikmatnya memandang pemandangan yang begini indahnya ini” Ia percepat langkah kakinya menuju kearah mana berasalnya suara air tersebut. Untuk sesaat ia telah melupakan bahwa dirinya sedang menderita luka parah. Yang dipikirkan saat ini hanyalah ingin menyaksikan dimanakah letak air terjun tersebut.

Makin berjalan kedepan makin jauh ia tinggalkan tempat semula, mengikuti suara aliran air tadi ia mengejar terus kedepan hingga napasnya tersengkal-sengkal pemuda itu baru menghentikan langkahnya.

Ia rentangkan tangannya menghirup hawa udara ngarai yang segar. Memandangi cahaya keemas-emasan yang ditinggalkan sang surya di balik gunung, Pek In Hoei menghela napas panjang.

“Sungguh indah pemandangan disenja hari ini, tapi berapa banyak orang yang dapat menikmatinya? Aaaai....

manusia yang hidup dikolong langit, setiap hari tahunya bekerja, berjuang untuk mempertahankan hidupnya, sama sekali tiada kegembiraan serta waktu untuk menikmati keindahan alam ciptaan Yang Maha Kuasa”

Alisnya berkerut kencang dan senyuman getir tersungging dibibir, pikirnya lebih lanjut: “Sayang aku masih memikul tanggung jawab yang sangat berat. Kalau tidak, maka akan kubuang semua pikiran dari benakku, akan kujelajahi semua gunung yang indah di kolong langit untuk mencari ketenangan serta ketenteraman hidup yang didambakan oleh setiap umat manusia”.

Tak tahan ia menghela napas panjang pikirnya lebih jauh: “Sayang kesemuanya itu hanya khayalan belaka. Selamanya umat manusia tidak akan berhasil melakukan apa yang diidam-idamkan dalam hatinya. Setiap saat ia harus mengimbangi keadaan disekelilingnya dan melakukan pekerjaan yang tidak disenanginya” Setelah melewati sebuah bukit karang yang tinggi, pemandangan dihadapannya tiba tiba berubah. Seluruh bukit boleh di kata bertautan sama lainnya, seakan akan sebidang tanah datar.

Ia mendongak memandang bukit terjal yang beradapun jauh disana, memandang pepohonan serta semak belukar yang merimbun diatas dinding.

“Oooh    sungguh indah pemandangan di tempat ini”

Seolah olah dia telah melupakan keadaannya yang berada dalam bahaya, lupa bahwa ia sedang berusaha melepaskan diri dari kejaran Hoa Pek Tuo. Pemuda itu mulai melamun dan mengkhayalkan kejadian yang bukan2.

Mendadak....

Suara nyaring bagaikan jeritan naga berkumandang datang dari tempat kejauhan. Sesosok bayangan manusia laksana kilat meluncur tiba diikuti dua sosok bayangan manusia lainnya menyusul dibelakang.

Pek In Hoei terperanjat. Baru saja otaknya berputar kencang untuk mencari jalan keluar, ketiga sosok bayangan manusia tadi dengan memencarkan diri dalam posisi segitiga telah meluncur datang semakin dekat.

Dengan hati terkesiap segera pikirnya: “Sungguh tak kusangka begitu cepatnya Hoa Pek Tuo telah menyusul datang kemari, bahkan dua orang yang menyertai dirinya bisa bergerak begitu cepat. Jelas mereka pun merupakan jago-jago Bu-lim yang memiliki ilmu silat sangat lihay”

Tanpa berpikir penjang lagi badannya bergerak menyingkir ke sebelah kanan. Setelah ditemuinya sebuah gua, tanpa berpikir panjang sianak muda itu menerobos masuk kedalam. Luas gua tadi tidak seberapa besar, dalamnya pun hanya mencapai empat depa, persis digunakan untuk menyembunyikan seseorang.

Pek In Hoei melingkarkan tubuhnya bersembunyi dalam gua tadi. Pedang mustika penghancur sang surya dipegang erat erat di tangan kanan. Ia bersiap sedia hendak melancarkan serangan maut bilamana keadaan memaksa.

Baru saja ia menyembunyikan badannya, terdengarlah Hoa Pek Tuo yang ada diluar telah berteriak keras: “Pek In Hoei, ayoh keluar”

Diikuti suara yang amet nyaring bagaikan genta berkumandang datang dari belakang tubuh kakek tua itu.

“Hoa loo, kalau kau berteriak dengan cara begitu, sekalipun Pek In Hoei mendengar panggilanmu juga tak akan menjawab, buat apa kau buang tenaga dengan percuma?”.

“Kong Yo heng, kau tidak mengerti betapa keji dan jahatnya manusia yang bernama Pek In Hoei itu. Berulang kali ia telah menjebak serta mempermainkan diriku. Hmmm bahkan ia hendak menggunakan siasat berantai untuk memancing aku menuju ke jalan yang sesat”

“Haa... haa... haa...” orang yang disebut Kong Yo heng tadi segera tertawa terbahak bahak. “Aku Cia Kak Sin Mo baru kali ini mendengar bahwa di kolong langit masih terdapat juga seorang manusia yang berani beradu kecerdasan dengan Hoa heng. Hmmm semua umat bu-lim yang ada dikolong langitpun sudah berada dalam perhitunganmu. Masa menghadapi seorang bocah cilikpun kau tidak mampu?”.

Pek In Hoei yang mendengar perkataan itu diam diam merasa amat terperanjat. Ia tidak menyangka bahwa gembong iblis dari laut Seng Sut Hay, jago kaum sesat yang terlihay dikolong langit, Cia Kak Sin Mo telah ikut datang pula di sana.

Dengan perasaan terperanjat segera pikirnya: “Jangan- jangan orang ketiga yang menyertai mereka bukan lain adalah istrinya Pek Giok Jien Mo?”.

Saking gentar dan takutnya terhadap gembong iblis yang sudah hampir tujuh puluh tahun lamanya menggentarkan dunia persilatan ini, tanpa sadar sianak muda itu mencekal pedangnya semakin kencang. Segenap perhatian serta tenaganya dipusatkan pada ujung senjata tersebut.

Angin malam berhembus sepoi sepoi membawa suara sir yang bergemerincingan, seolah olah terbuai oleh irama lagu yang lembut dan merdu.

Tapi dalam benaknya saat ini sama sekali tiada minat untuk menikmati keadaan tersebut. Apa yang terpikir olehnya hanyalah bagaimana caranya melepaskan diri dari incaran ketiga orang gembong iblis itu.

Dalam keadaan seperti ini Pek In Hoei tak berani bernafas terlalu keras. Ia himpun semua kegugupan hatinya didasar lubuk kemudian memencarkan ke dalam setiap urat dan setiap jalan darah.

Lama kelamaan ia mulai melupakan keadaan disekitarnya. Segenap perhatian dan kekuatannya telah terhimpun di dalam senjata dan telapaknya.

Tiba tiba....

Dari balik irama air yang berpautan dengan hembusan angin berkumandang datang suara dentingan irama khiem yang tajam. Suara tersebut seakan akan dua bilah pisau belati yang sangat tajam menembusi ulu hatinya, membuat hatinya bergetar dan sekujur tubuhnya gemetar keras. Diikuti suara permainan khiem itu kian lama kian bertambah tajam dan bertambah lengking. Seluruh angkasa pura telah dipenuhi oleh irama yang tak sedap didengar itu.

Otot serta kulit badan Pek In Hoei mulai berkerut. Dengan penuh penderitaan ia bongkokkan pinggangnya, ia tetap bertahan dengan segenap tenaga. Ia berusaha agar suara rintihannya jangan sampai kedengaran oleh ketiga orang itu.

---0d0w0---

14

“HOA PEK TUO” seruan seorang perempuan yang tinggi melengking berkumandang keangkasa menembusi suara khiem yang belum buyar. “Kau mengatakan bahwa Pek In Hoei pasti sudah lari ketempat ini, mengapa irama Khiem ku tidak berhasil memaksanya keluar dari tempat persembunyian?”.

“Hujien” sahut Cia Kak Sin Mo dengan nada keras “Hoa-Loo pun berhasil dikelabui oleh Pek In Hoei. apalagi permainan "Hong Loei Cho" mu barusan, sudah pasti tak akan berhasil memancing kemunculan menusia licik ini”

Pek In Hoei yang mendengar perkataan tersebut diam diam tertawa getir. Dia buka bibirnya dan muntahkan darah segar yang telah ditahannya selama ini.

“Setan ini, bajingan keparat!” maki Pek Giok Jien Mo dengan penuh kegusaran “Kau berani mengatakan permainan khiem ku tidak becus? Hmmm, dahulu kau mesih memuji-muji permainan khiem ku yang dikatakan menyerupai permainan para bidadari. Sekarang kau berani pandang enteng aku si Iblis Khiem kemala hijau?”. “Haa.... haa.... haa... Hujien itu kan soal tempo dulu. Bayangkan saja dahulu wajahmu cantik jeliia bagaikan bidadari yang turun dari kahyangan. Hmmm, sekarang coba bercerminlah bagaimanakah tampangmu itu?”

“Setan tua, ceriwis benar mulutmu yang usang. Kau toh sudah tahu bahwa usia Loo-nio tahun ini sudah hampir mencapai delapan puluh tahun, mana bisa dibandingkan semasa masih berusia delapan belas tahun? Kenapa kau tidak bercermin pula? Lihatlah tampangmu yang kurus kering macam tampang monyet itu, jelekmu melebihi diriku berkali-kali lipat. Hmmm bisa-bisanya mengatakan tampang Loo nio jelek?”

“hujien, aku toh tidak mengatakan kalau wajahmu jelek, cuma tidak secantik tempo dulu”.

“Kentut busuk makmu. Lebih baik tak usah jual tampang lagi dihadapanku. Dahulu kaupun seorang keparat cilik yang gundul, berkaki telanjang dan sekujur badan penuh dengan kudis. Semuanya salahku sendiri kenapa mataku tak berbiji dan sudi kawin dengan kau si setan tua. Hmmm, sialan”

Suara dari Cin Kak Sin Mo jadi semakin lemah, buru2 bisiknya lirih: “Sudah.... sudahlah. Hujien Janganlah kau korek korek kejelekenku hingga pada dasarnya. mau

bukan?".

“Ciiss... siapa yang jadi istrimu? istrimu sudah modar di tangan ketiga orang setan tua dari luar lautan”.

“Tempo dulu aku toh tidak sengaja hendak suruh kau rasakan jotosan ilmu “Koan Goen Kien Seh” dari Thay Chi si keledai tua itu. Aku kan terpaksa harus menghindar karena terdesak oleh ilmu setan "Poh Giok Kang” nya Pok giok Cu” “Hmmm mengungkap persoalan masa silam, hatiku merasa semakin dongkol, seandainya wajahku pada masa yang lalu tidak terluka oleb pasir emas, mana mungkin aku bisa menelan kekalahan di tangan thian Tie Loosie? Kemudian aku pergi ke gunung Thian san untuk mencari teratai salju, kaupun tidak berhasil mendapatkannya. Karena itulah wajahku tak dapat pulih kembali seperti sediakala. Apalagi soal itu ”

Sekalipun perkataan itu diutarakan sangat cepat, tetapi suaranya tetap lembut dan merdu, dan walaupun ucapannya kotor namun masih sedap kedengarannya.

Dalam pada itu tu Pek In Hoei yeng bersembunyi di balik gua sedang merasa pusing kepala karena irama khiem dari Pek Giok Jien Mo. Dia tahu apabila harus mendengarkan irama khiem itu lebih jauh, maka jantungnya pasti akan pecah dan mati binasa.

Siapa sangka peda detik yang amit kritis itulah Sang Sut Hay Siang Mo telah cekcok sendiri.

Dari percekcokan itulah, ia bisa bayangkan bagaimanakah wajah Pek Giok Jien Mo saat itu serta sikap Cia Kak Sin Mo yang serba kikuk den jengah.

Tapi.... secara tiba tiba ia teringat kembali akan diri Hoa Pek Tuo, segera pikirnya: “Sudah begini lama sepasang iblis dari samudra Seng Sat Hay cekcok, kenapa tidak kedengaran suara dari Hoa Pek Tuo? sepantasnya ia menasehati mereka berdua dengen beberapa patah kata”

Berpikir demikian, ingin sekali ia melongok keluar dari tempat persembunyiannya untuk melihat siapa yang sedang di lakukan Hoa Pek Tuo pada saat itu, namun ketika teringat kembali akan kelicikan serta kecerdikan si kakek tua itu, dengan cepat ia batalkan niatnya kembali. Sesaat kemudian suasana diatas tebing batu karang pulih kembali dalam kesunyian, suara cekcok dari sepasang iblis itupun tak kedengaran lagi seolah olah mereka sudah jauh meninggalkan tempat itu.

Kesunyian yang mencekam seluruh jagad ini sangat menekan perasaan batin Pek In Hoei. Suasana diatas tebing makin sunyi hatinya semakin tegang dan batinnya semakin tersiksa. Ia takut secara tiba tiba Hoa Pek Tuo memperlihatkan siasat keji lain yang memancing dia masuk dalam jebakan.

Perlahan-lahan tangan kirinya merogoh kadalam saku ambil keluar tiga batang senjata rahasia naga emas, batinnya: “Seandainya jejakku diketahui oleh mereka, maka pertama tama akan kusuruh mereka rasakan dahulu bagaimana lihaynya senjata rahasia naga emas!” 

Angin malam berhembus sepoi2. Dibawah sorot cahaya rembulan yang redup tampaklah bayangan bukit cadas seakan akan berubah jadi sesosok iblis yang sedang mengincar Pek In Hoei dalam persembunyian.

Ia tertawa getir, pikirnya “Sungguh kasihan nasibku, setiap kali aku harus berusaha mencari jalan hidup dibawah pengejaran orang. Setiap kali malaikat elmaut tertawa mengejek dihadapanku, keadaanku tidak jauh berbeda bagaikan seekor tikus kecil yang selalu melarikan diri dari jangkauan cakar kucing”

Angin malam yang dingin berhembus lewat, ia menggigil dan bergidik, bulu kuduknya pada bangun berdiri.

“Kenapa aku harus menggerutu dan memikirkan hal yang bukan bukan? aku percaya malam ini pasti berhasil melepaskan diri dari bahaya maut, karena malaikat penyelamat selalu menjaga keselamatan serta keamananku” Dengan tenang ia menanti.... menanti datangnya elmaut yang mencabut jiwanya.

Kerlipan kunang kunang nan jauh disitu berkelebat kesana kemari bagaikan api setan dipekuburan. Dia merasa seolah olah ada mata iblis yang sedang mengincar dirinya.

Mendadak ia tersentak kaget. Sekarang ia dapat melihat jelas bahwasanya kerlipan kunang kunang yang dikhayalkan sebagai mata iblis tadi berubah jadi sepasang biji mata yang penuh memancarkan cahaya kekejaman, kerlipan mata yang menggidikkan dengan penuh perasaan dendam sedang menatap dirinya tak berkedip.

Kini, ia yakin seratus persen bahwa ada sapasang manusia sedang mengintip gerak geriknya dan setiap saat siap menerkam dirinya.

Tak usah dilihat lebih jauh ia sudah mengerti siapakah orang itu, pedangnya segera dilintangkan didepan dada siap menghadapi segala sesuatu yang tidak diinginkan.

“Hmmm. Hmmm!” Hoa Pek Tuo perlahan lahan bangkit dari kegelapan, lalu menjengek dengan nada dingin “Keparat cilik, kau masih ingin melarikan diri kemana lagi?”.

Pek In Hoei menggetarkan telapak kirinya siap mengambilkan senjata rahasia naga emas yang digenggamnya, tapi dengan cepat satu ingatan berkelebat dalam benaknya. Ia batalkan maksud tersebut dan segera masukkan kembali senjata rahasia tadi kedalam saku, kemudian dengan dada lapang meloncat keluar dari tempat persembunyian.

Hoa Pek Tuo tertawa dingin: “Hee... hee... hee... sekalipun kau licik dan banyak akal, jangan harap bisa melepaskan diri dari cengkeram loohu. Hmmm, Pek In Hoei! tahukah kau sudah berapa lama loohu mengincar dirimu dari situ?”.

Pek In Hoei mendengus sinis. Ia dongakkan kepalanya dan perlahan-lahan melangkah ke atas batu karang. Meskipun hatinya berdebar debar tetapi menghadapi tantangan perang menjelang kematiannya, ia malah tidak gentar, hatinya makin lama semakin tenang.

Memandang bayangan panggungnya Hoa Pek Tuo ia tertawa dingin, melangkah demi selangkah diapun meloncat keatas batu cadas yang bidang tersebut.

(Oo-dwkz-oO)