Imam Tanpa Bayangan II Jilid 17

 
Jilid 17

DARI dalam sakunya Hoa Pek Tuo ambil keluar sebuah botol porselen berwarna hijau, kemudian mengeluarkan sebutir pil bewarna merah darah.

Sambil melemparkannya keatas pembaringan serunya tertawa dingin: “Suatu saat kau terjatuh ditanganku, kalau tidak kusuruh kau rasakan siksaan dikerubuti berlaksa-laksa ekor binatang yang paling berbisa dikolong langit, aku bersumpah tidak mau jadi orang!" 

“Seandainya ilmu silat yang kumiliki telah punah, kendati kau berhasil menangkap dirikupun percuma seja, tiada artinya sama sekali. Begini saja, bila kiia bertemu muka lagi dikemudian hari mari kita saling beradu kecerdasan lagi! Aku sih ingin sekali berhasil kau tangkap dikemudian hari sehingga dapat merasakan bagaimana penderitaan seseorang yang dikerubuti berlaksa-laksa ekor binatang beracun, tetapi aku takut tidak demikian gampangnya kau bisa memenuhi keinginanmu itu!”

Dia ulapkan tangannya, kemudian tambahnya lagi “Sekarang, silahkan kau keluar dari ruangan ini!"

Lama sekali Hoa Pek Tuo menatap wajah Pek In Hoei, akhirnya dengan suara berat dia mengancam: “Bilamana kubiarkan kau berhasil tinggalkan tempat ini sejauh tiga puluh li, sejak ini hari aku tidak akan she Hoa lagi!"

Pek In Hoei tertawa dingin, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia awasi wajah kakek tua itu tanpa berkedip.

Bagaikan dua ekor binatang buas yang saling berhadapan kedua orang itu saling berpandangan beberapa waktu lamanya.

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya sambil tertawa hambar Pek In Hoei berkata: “Kalau aku tak sanggup tinggalkan daerah sejauh tiga puluh li dari sini dan keburu kena kau tangkap lagi, mulai ini hari juga aku pun tak sudi she Pek lagi”

“Bagus! perkataan seorang lelaki sejati berat laksana gunung Thay-san, setelah diucapkan tak akan diingkari kembali”.

Hoa Pek Tuo mendengus dingin, tanpa mengucapkan separah kata lagi segera putar badan berlalu dari ruangan itu.

Pek In Hoei termenung berpikir sejenak, tiba-tiba tanyanya lagi: “Berapa lama waktu yang kau berikan kepada kami?"

“Dua jam!” sahut Hoa Pek Tuo sambil menoleh dan tertawa, kemudian dengan cepatnya ia berlalu dari ruangan tersebut.

Mendengar waktu yang disebutkan itu sepasang alis Pek In Hoei kontan berkerut kencang” pikirnya didalam hati:

“Kurang ajar.... kembali aku tertipu, waktu selama dua jam hanya cukup bagiku untuk melakukan perjalanan sejauh tiga puluh li.... bukankah terang-terangan aku bakal kalah taruhan lagi”

Ia merandek sejenak, lalu pikirnya lebih jauh: “Aku masih mengira dalam pertarungan ini dirikulah yang pasti peroleh kemenangan siapa sangka ucapanku yang terakhir justru telah terjatuh kedalam perangkap orang. Aaaiiii.....

rupanya aku harus lebih banyak berlatih diri lagi, dengan demikian dikemudian hari baru tidak sampai tertipu lagi oleh manusia licik yang banyak akalnya seperti dia ”

Dia hanya pusatan semua perhatiannya untuk mencari akal bagaimana caranya melepaskan diri dari pengejaran Hoa Pek Tuo dan telah melupakan bahwasanya Kim In Eng masih berada disitu.

Dalam pada itu sidewi khiem sendiri sejak memasuki ruangan itu hingga kini hanya berdiri bersandar disisi dinding saja. menyaksikan Pek In Hoei dalam keadaan yang kepepet dan terdesak ternyata masih sanggup menolong dirinya dengan kecerdikan otaknya, diam-diam ia jadi kagum dibuatnya.

Sambil tersenyum segera pikirnya didalam hati: “Kini dia telah mulai bergerak menuju keposisi kursi singgasana nomor wahid di kolong langit, suatu saat ia akan berhasil melenyapkan semua rintangan didepan matanya dan menjadikan dirinya sebagai manusia yang paling kosen dikolong langit.....

Tapi.... belum lama senyuman girangnya menghiasi bibir perempuan itu, tiba tiba ia saksikan sekujur badan Pek In Hoei gemetar keras, dengan menahan rasa sakit tak terhingga dia mendengus berat kemudian roboh terjungkal dari atas tiang pembaringan.

Cahaya pedang berkelebat lewat, senjata Si Jiet Kiam yang tajam seketika merobek kain kelambu berwarna merah itu dan membawa tubuh Pek In Hoei yang berat roboh terjengkang diatas ranjang.

Air muka Kim In Eng berubah hebat, cepat cepat dia maju kedepan memayang bangun tubuh sianak muda itu, tampaklah air mukanya telah berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, keringat sebesar kacang kedelai membasahi sekujur tubuhnya, sambil menggigit bibir ia telah jatuh tidak sadarkan diri.

Dengan perasaan penuh kasih sayang dan kasihan perempuan itu mengeluarkan saputangan untuk menyeka air keringat yang telah membasahi wajah pemuda itu, bagaimana pun juga dia merasa kagum dan memuji akan kegagahan serta keberanian yang telah diperlihatkan sianak muda itu barusan.

Tanpa berpikir panjang lagi diambilnya dua butir pil yang berada diatas ranjang itu kemudian menghancurkannya dan dijejalkan ke dalam mulut Pek In Hoei, selelah itu tangannya berkerja keras menguruti dada serta lambung pemuda itu agar peredaran darah tubuhnya bisa berjalan kembali dengan lancar.

Memandang raut wajahnya yang tampan dan menarik hati, muncul perasaan kasihan serta sayang dari mata perempuan itu, bisiknya dengan suara yang lirih: “Selama dua tahun belakangan ini kau tentu sudah menelan banyak pahit getir yang menyiksa tubuhmu, kalau tidak dari mana mungkin dari seorang bocah cilik yang tak pandai ilmu silat kini telah berubah jadi seorang pendekar muda yang cerdik, berani serta memilki kepandaian silat maha sakti”

Tanpa terasa bayangan dari Cia Ceng Gak sijago pedang sakti dari Tiam Cong Pay di kala masih mudanya terbayang kembali dalam benak perempuan she Kim ini. Waktu itu diapun sedang menginjak masa mudanya, bukan saja ganteng, gagah dan berani, bahkan di masa mudanya telah berhasil menduduki jabatan sebagai seorang ketua partai.

Senyuman sedih dan pedih tersungging di ujung bibirnya, diam diam pikirnya kembali “Ketika itu meskipun Cia lang dengan membawa pedang sakti kepandaian lihay menginjakkan kakinya didaratan Tionggoan, namun berhubung dia sudah masuki perguruan To boen maka terhadap gadis gadis cantik yang ada didalam dunia sama sekali tak memandang sebelah matapun. Oleh sebab itulah orang orang sampai menyebut dirinya sebagai pemuda yang tidak romantis ” Ia menghela napas panjang, pikirnya lebih jauh: “Aaaaai! meskipun ia telah menjabat sebagai ciangbunjin dari partai Tiam Cong, namun cinta kasihnya terhadap diriku tetap mendalam dan merasuk hingga ke tulang sumsum. Ia rela tinggalkan segala galanya untuk menemani aku berpesiar kesemua tempat yang indah dan menawan hati. Cinta yang demikian dalamnya bukankah melebihi dalamnya samudra? tapi aku sendiri.... sama sekali tidak mengetahui dimana tulang belulangnya dipendam. ".

Tetes air mata menetes keluar dari balik biji matanya yang hitam, gumamnya: “Cia-lang, kau sebagai seorang ciangbunjin sebuah partai besarpun dapat tinggalkan tata kesopanan serta derajatmu sebagai ketua. Aaaai. tapi

siapakah dikolong langit yang mengetahui bahwa kaulah bianglala dan partai Tiam Cong”

Ditengah kesunyian yang mencekam seluruh ruangan itu, pikirannya jadi melayang layang entah kemana, bayangan Cia Ceng Gak yang gagahpun segera memenuhi seluruh benaknya.

Perlahan-lahan ia cabut pedang Si Jiet Kiam itu, meraba sarung pedang yang terbuat dari kulit ikan hiu itu ia pejamkan matanya rapat rapat.

Ia merasakan dirinya seakan akan berada dalam pelukan kekasihnya, seakan akan ia sedang membelai dadanya yang bidang dan kekar....

“Aaaai....” dia menghela napas panjang. “Tingginya langit lamanya waktu ada batasnya, namun sampai kapan cinta kasihku bisa terpenuhi "

Ia gelengkan kepalanya berulang kaii, kemudian dengan tangannya yang putih halus dipunggutnya mutiara penolak air yang menggeletak diatas selimut itu. Hawa pedang, cahaya mutiara memancar di atas raut wajahnya yang segar membuat perempuan itu kelihatan lebih cantik, seolah-olah sebuah patung arca yang terbuat dari baru pualam.

Mutiara yang besar dan bulat bergelindingan diatas tandannya, sambil tersenyum cengang pikirnya:

“Mengapa perasaan hatiku pada hari ini bisa melayang sampai begitu jauhnya? kenapa aku sudah melupakan bahwa usiaku hampir mencapai angka empat puluh? Aaaai.... kenangan lama apa gunanya   dipikirkan kembali. ".

Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia berpikir lebih jauh: “Chin Siang adalah seorang bocah yang halus dan menawan hati, untuk mencari kabar berita dari Pek In Hoei aku pernah suruh ia berkelana didalam dunia persilatan dengan menggunakan namanya sehingga memperoleh sebutan sebagai jago pedang berdarah dingin kenapa aku tidak jodohkan sama gadis manis itu dengan diri Pek In Hoei?”

Teringat akan Wie Chin Siang, diapun lantas teringat kembali bahwasanya kemarin malam ia telah mengutus muridnya ini untuk menyusup kedalam lorong rahasia dan berusaha untuk menjumpai Cian Hoan Lang Kosu guna menanyakan nasib dari Cia Ceng Gak.

Dengan cepat ia meloncat bangun, pikirnya dengan hati cemas. “Aaaah! kenapa aku telah melupakan dirinya? Sejak kemarin malam masuk ke dalam perkampungan hingga kini belum ada kabar beritanya sama sekali mengenai nasibnya. Aaaiii.... kenapa setelah bertemu dengan Pek In Hoei saking gembiranya aku telah melupakan dirinya ” Sambil menggigit ujung bibirnya dia masukkan kembali padang penghancur sang surya itu kedalam sarung, kemudian putar badan dan loncat keluar dari ruangan itu.

Tiba tiba terdengar Pek In Hoei merintih, diikuti matanya dibuka dengan memandang keempat penjuru dengan sikap tertegun, akhirnya dia loncat bangun dari atas pembaringan.

Mendengar suara rintihan itu, Kim In Eng menoleh, menyaksikan Pek In Hoei loncat turun dari pembaringan dengan penuh kegirangan segera teriaknya: “Bocah, apakah kau telah sehat kembali?".

“Cianpwee, Hoa Pek Tuo ada dimena?"

Kim In Eng tidak langsung menjawab, perlahan lahan ia dekati sianak muda itu kemudian sambil memandangnya dengan penuh kasih sayang pujinya. “Sungguh tak kusangka setelah berpisah dua tahun, kau telah berhasil mempelajari ilmu silat yang demikian lihaynya, terutama sekali didalam situasi yang amat berbahaya kau masih sanggup memaksa ayah angkatku mundur. ”

Merah jengah selembar wajah Pek In Hoei. “Sebetulnya aku tidak pantas menggunakan cara yang demikian rendahnya untuk paksa dia keluar dari sini, tetapi kalau aku tidak berbuat demikian maka jiwaku bakal terancam. ”

“Tidak!” kata Kim In Eng sambil gelengkan kepalanya. “Seseorang bilamana menghadapi situasi yang mengancam keselamatan serta jiwanya, maka tindakan serta perbuatan apapun yang dilakukan tak bisa di anggap sebagai suatu perbuatan yang rendah dan memalukan ”

Ia tertawa getir, lalu tambahnya: “Seandainya kau tidak berhasil menangkap titik kelemahan dari ayah angkatku, mungkin akupun tidak punya harapan untuk tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup. Selamanya dia paling pantang kalau ada orang memasuki kamarnya "

Kendati dalam hati Pek In Hoei merasa heran dari mana Kim In Eng bisa jadi putri angkat dari Hoa Pek Tuo, tetapi ia merasa kurang enak untuk menanyakannya.

Setelah terenung sebentar ujarnya dengan serius: “Kim cianpwee, maaf kalau boanpwee akan bicara blak blakan dengan dirimu. Berhubung Hoa Pek Toew mempunyai sangkut paut yang amat besar dengan partai Tiam Cong kami serta seluruh umat bu lim yang ada dikolong langit, maka bilamana dikemudian hari boanpwee terpaksa harus bertempur melawan dirinya, aku harap cianwee "

“Tidak usah kau teruskan perkataanmu itu. Aku sudah mengetahui apa yang kau maksudkan!” tukas Kim In Eng. Ia menghela napas sedih. “Usiaku sudah hampir mencapai empat puluh tahun. Sejak Cia leng mati hatiku telah berubah jadi tawar bagaikan air. Nanti akan kuberitahukan kepadamu dimana jenasah ayahmu aku kubur. Setelah itu aku akan masuk menjadi pendeta dan selama hidup aku tak mau mencampuri urusan keduniawian lagi. Janganlah kau mengira aku akan mencampurkan diri didalam urusan ini hingga menyulitkan dirimu”

Semua persoalan yang semula memurungkan hati Pek In Hoei kini telah lenyap bagaikan asap diangkasa. Perlahan- lahan ia menarik nafas dalam2.

“Pada dua tahun berselang, boanpwee telah berbuat Puthauw terhadap orang tua sehingga merepotkan cianpwee lah yang harus menguburkan jenasah ayah ku. Atas bantuan serta kebaikan hati cianpwee terimalah sekarang sebuah hormat dari aku Pek In Hoei”

Ia bertekuk lutut dan jatuhkan diri berlutut dihadapan Kim In Eng untuk menjalani sebuah penghormatan besar. Buru buru Kim In Eng membimbingnya bangun “Pek hian-tit kau tak usah berbuat begitu, nanti akupun masih ada sedikit persoalan yang ingin mohon bantuanmu".

Satelah merandek sejenak, katanya dengan nada sedih “Selama hidup hanya satu persoalan yang mencemaskan hatiku, yaitu hingga kini aku merasa belum mengetahui bagaimana nasib Cia-leng. Apakah dia masih hidup atau sudah mati? teringat dikala ia berpisah dengan diriku tempo dulu, mustika penghancur sang surya ini ada bersama sama dirinya, dan kini kau. ”

“Supek-couw telah mati di kaki gunung Ching Shia   ”

seru Pek In Hoei dengan suara berat.

Belum habis ia berkata, sekujur badan Kim In Eng telah gemetar keras, Ia mundur selangkah kebelakang sementara air matanya jatuh berlinang bagaikan hujan deras. Sambil memegang pinggiran ranjang, tanyanya lagi dengan suara terpatah patah “Bagai.... bagaimana mungkin.... apa.    apa

sebabnya dia.... dia mati dan bagaimana.    bagaimana pula

dengan ciangbungjin delapan partai lainnya?”.

“Dia orang tua mati karena terkena racun yang maha dahsyat, sedang ciangbunjin dari delapan partai lainnya pun telah mati semua di dalam satu gua yang sama ”.

Pucat pias selembar wajah Kim In Eng, sambil menggigit kencang bibirnya ia tatap wajah Pek In Hoei dengan tajam, air matanya mengucur keluar makin deras....

“Siapa.... siapakah yang telah membinasakan mereka semua? Siapakah yang mempunyai kepandaian sedemikian lihaynya hingga dapat meracuni mereka semua. ?”

gumamnya.

“Mereka semua dibokong dengan cara yang paling rendah, perbuatan ini bukan dilakukan oleh orang yang tak berkepandaian silat....” kata Pek In Hoei dengan nada sedih.

“Sebenarnya siapa yeng telah mencelakai mereka?" teriak Kim In Eog, suaranya parau dan serak.

Pek In Hoei menjadi ragu, sebelum ia sempat mengambil keputusan untuk memberitakan kerja sama antara Hoa Pek Tuo dengan Cia Ka Sin-mo untuk mencelakai sembilan partai besar di gunung Cing Shia, mendadak pintu digedor orang disusul suara dari Hoa Pek Tauw yang dingin menyeramkan berkumandang keluar: “Hey orang she Pek, waktu satu jam telah lewat!”.

Pek In Hoei tergetar keras, dengan hati bergidik ia melongok ke pintu luar, sekarang ia pun ingat bahwa ia telah berjanji dengan Hoa Pek Tuo, dimana dirinya hanya diberi kesempatan selama dua jam untuk meninggalkan perkampungan Tay Bie San cung.

Dengan hati bergidik segera pikirnya: “Seandainya kuceritakan perbuatan terkutuknya yang telah mencelakai ketua dari sembilan partai besar, kemungkinan besar ia akan mengingkari janji. Bukan saja aku tidak dibiarkan hidup, bahkan Kim cianpwee pun kemungkinan besar bakal menemui ajalnya di tangan bajingan tua ini."

Berpikir demikian, ia lantas berseru lantang “Aku harap kaupun bisa menepati janji yang telah kau ucapkan dan segera mengundurkan diri dari lorong rahasia ini, kalau tidak akupun bisa mengingkari janjiku”

“Bangsat cilik, sekarang baiklah kubiarkan kau berlagak jumawa, nanti kalau aku tidak beset kulit anjingmu lalu suruh kau merasakan disiksa oleh lima jenis racun yang terkeji dikolong langit, agar kau menderita siksa selama tiga hari tiga malam baru mati, jangan panggil namaku Hoa Pek Tuo". Suara itu makin lama semakin lirih dan makin jauh hingga akhirnya lenyap dari pendengaran.

Pek In Hoei mendengus dingin pikirnya: “Walaupun sekarang aku tak bisa menangkan dirimu, tetapi aku bisa menghancurkan kekuatanmu, agar kalian tak dapat bersatu padu untuk mewujudkan rencana besar kalian untuk merajai dunia persilatan".

“Aaaaah, sungguh tak nyana begitu kejam dan telengasnya hati bangsat tua itu" seru Kim In Eng dengan nada terperanjat. “Selama hampir dua puluh tahun lamanya aku masih mengira dia adalah seorang tabib sakti yang berhati penuh welas kasih dan suka menolong sesamanya dikolong langit”

Bibir Pek In Hoei bergerak ingin menguutarakan pula hal hal kekejian serta kelicikan Hoa Pek Tuo, tetapi akhirnya ia batalkan maksud hatinya itu.

Kembali pikirnya didalam hati: “Sekarang adalah saatnya bagiku untuk melarikan diri dari perkampungan Tay Bie San cung ini, pertama tama aku harus berusaha untuk memancing perhatian Hoa Pek Tuo agar seluruh kekuatan dan pikirannya ditujukan kepadaku, dengan begitu, Kim cianpwee dapat melarikan diri dengan leluasa".

Dalam pada itu Kim In Eng telah berhasil menguasai golakan hatinya, sambil membesut air mata katanya: “In Hoei, sekarang aku hendak memberi tahukan sesuatu kepadamu, yakni jenasah ayahmu telah kubakar hingga tinggal abu ”

Dengan perasaan terperanjat, Pek In Hoei mendongak, lalu menatap wajah Kim In Eng dengan pandangan mendelong. Perempuan itu tertawa getir, ujarnya lebih lanjut: “Pada malam itu aku harus bergebrak sebanyak dua ratus jurus dengan Ku Loei, walaupun akhirnya dengan irama khiem ku, aku berhasil mengalahjan dirinya, tetapi akupun menderita luka parah, dalam keadaan seperti itu aku benar benar tak bertenaga sama sekali untuk membawa jenasah ayahmu turun dari gunung Cing Shia”

Ia merandek sejenak kemudian terusnya: “Oleh sebab itu setibanya dilereng gunung Cing Shia, maka jenasah ayahmu segera kuserahkan kepada Hoei Kak Loo Nie untuk dibakar dan hingga kini abu dari ayahmu mauh berada didalam kuil Hoei Kak An dibelakang hutan bambu, bila suatu saat kau datang kesana carilah Hoei Kak Loo nie, maka dia akan serahkan kembali abu orang tuamu itu kepadamu"

“Terima kasih atas bantuanmu, cianpwee   ” seru Pek In

Hoei dengan amat terharu hingga titik air mata tanpa terasa jatuh bercucuran.

Kim In Eng sendiripun dibuat sangat terharu oleh sikap Pek In Hoei yang lugu itu, ia menghela napas panjang.

“Anakku, aku merasa amat menyesal karena tak dapat mengubur jenasah ayahmu di puncak gunung kenamaan itu agar sukmanya yang ada di alam baka memperoleh ketenangan serta ketenteraman, maka dari itu, setelah turun gunung siang malam, aku berusaha menemukan dirimu, dan mohon kepadamu ”

Pak In Hoei berdiri termangu-mangu. Teringat kembali olehnya bayangan tatkala sambil memboyong jenasah ayahnya, per-lahan2 turun gunung, ketika itu tubuhnya penuh dengan luka, hampir boleh dikata tak sebahagianpun berada dalam keadaan utuh.

Air matanya jatuh bercucuran, hampir saja ia tak sanggup menahan kepedihan hatinya, namun ia genggam sepasang kepalannya kencang2 dan menekan penderitaan serta siksaan batin itu dalam hatinya “Aku harus menuntut balas terhadap orang orang itu. Perduli pada saat apapun, dimanapun juga, ujung pedangku pasti akan menembusi tubuh mereka”

Diam diam ia berdoa kepada ayahnya yang berada dialam baka, agar memperoleh ketenangan dan ketenteraman.

Perlahan-lahan Kim In Eng berpaling kearah lain, menyeka air matanya dan berkata: “Menurut apa yang kuketahui Hwie Kak Loo nie berasal dari partai Go-bie. tetapi entah sejak kapan ternyata la berhasil mendapatkan sejilid kitab pusaka ilmu silat yang telah lama lenyap dari peredaran Bu-lim. Kitab tersebut adalah salinan asli kitab "Ie Cin Keng" karangan Tat Mo Couwsu yang dibawa kedaratan Tionggoan dari negeri Thian Tok. "

Wajahnya tiba tiba berubah jadi serius, sambungnya lebih jauh: “Tetapi watak Hwie Kak Loo nie sangat aneh. Bagaimanapun juga ia tak mau serahkan kitab pusaka tersebut. katanya hanya sebiji Si Lek-cu dari Tong Sem Chong Hoat-su saja yang dapat ditukar dengan salinan kitab pusaka Ie Cin Keng tersebut”

Pek In Hoei tidak mengerti apa sebabnya secara tiba tiba Kim In Eng mengungkap soal kitab pusaka "Ie Cin Keng" dari Tat Mo Couwsu. Dengan pandangan tercengang ia memandang kearahnya dan mencari tahu apakah sebenarnya maksud perempuan itu.

“Kelemahan dari ilmu pedang Thiam Cong Kiam Hoat terletak pada terlalu kerasnya tenaga serangan, segala sesuatu yang terlalu keras gampang dipatahkan. Karena itu bila ilmu pedang itu bertemu dengan jagoan kenamaan, maka kau tak akan bisa peroleh keuntungan dibawah serangan tenaga dalam yang lembek dan dan panjang” kembali Kim In Eng menerangkan.

“Boaopwee pun tahu bahwa tenaga lweekang dari partai Sauw lim panjang tetapi. "

“Tenaga sim-hoat partai Sauw-lim dewasa ini tidak lebih hanya kulit luarnya belaka. bukan sim hoat siaulim itu yang kau butuhkan” tukas Kim In Eng. “Kalau kau tidak ingin seperti halnya dengan Cia Lang yang mati keracunan, kau harus melatih tenaga dalam semacam itu"

Tatkala dilihatnya wajah sianak muda menunjukkan rasa terkejut bercampur melengak, dengan nada lirih katanya lagi: “Karena terlalu menguatirkan dirimu dan memperhatikan dirimu, maka aku harus memberi petunjuk kepadamu dengan suara keras. Aku berharap pada suatu hari kau berhasil jadi manusia nomor satu dikolong langit. Anakku, bukankah kau selalu berharap demikian?".

Dengan mulut membungkam Pek In Hoei mengangguk. “Aku pasti akan mempelajari isi kitab Ie Cin Keng. Aku pasti tak akan menyia-nyiakan harapan cianpwee."

“Sekarang akan kuberitahukan kepadamu dimanakah Si Lak Cu tersebut disimpan”

Perempuan itu menengok dulu ke kiri ke kanan, kemudian tangan kiri angkat mutiara penolak air tinggi tinggi, tangan kanannya menulis beberapa patah kata ditengah udara.

“Aaah. Kiranya berada di Ci Im. ”

“Sssst....” cepat cepat Kim In Eng gunakan jari telunjuknya diatas bibir larang si anak muda itu bicara lebih lanjut, bisiknya lirih: “Aku telah berulang kali memerintahkan Chin Siang dengan alasan hendak pasang hio untuk membicarakan soal agama dengan hwesio tua itu, tapi ia cuma berhasil meyakinkan bahwa Si Lak Cu betul betul berada di tengah patung arca. Benarkan Si Lak Cu tersebut adalah peninggalan dari Tong Sam Cong Hoatsu, hal ini terpaksa harus tergantung pada kecerdikannya”

Mendengar perkataan ini, Pek in Hoei lantas teringat kembali akan kejadian di luar kota Sang Tok Hoe dua hari setelah ia turun dari gunung Cing Shia, dimana ia menjumpai Wie Chin Siang sedang pergi pasang hio dikuil luar kota.

Begitu teringat akan bayangan dari Wie Chin Siang, pemuda inipun terbayang kembali segala tingkah lakunya ketika ia dipengaruhi oleh napsu birahi belum lama berselang hingga seluruh pakaian gadis itu dilepaskan.

Sekujur badannya gemetar keras, tanpa sadar ia bersin berulang kali. Rupanya Kim In Eng masih belum menyadari apa yang sedang dipikirkan sianak muda itu, terdengar ia masih bergumam seorang diri: “Chin Siang ku amat cantik jelita bagaikan bidadari dari kahyangan. Bukan saja menawan hati bahkan cerdas dan lincah. Dia merupakan pasangan yang paling ideal bagimu. Sayang kau belum pernah menjumpai dirinya”

“Cianpwee” tukas Pek In Hoei. “Dimanakah kedua butir pil yang baru saja kuminta dari Hoa Pek Tuo?”.

“Eeeei? bukankah sudah kuberikan kepadamu?” sahut Kim In Eng melengak. “Ku tahu betapa dahsyatnya daya kerja dari racun Rumput Penghancur hati itu...”

Keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar dengan derasnya, cepat cepat sianak muda itu lari kesisi pembaringan, kemudian menyingkap selimut yang menutupi badan gadis she Wie. Rambut yang panjang dan hitam terurai dari balik selimut. Air muka Wie Chin Siang merah padam seperti semula, sedang matanya terpejam rapat rapat.

Ia gigit bibirnya kencang kencang. Urat nadi tangan kanan dara itu dengan cepat disambar dan dicekalnya. tapi hatinya segera jadi lega karena denyut nadi dara ayu itu tetap normal seperti sedia kala.

Sementara itu Kim In Eng merasa terperanjat sewaktu dilihatnya Pek In Hoei lari ketepi pembaringan bagaikan kalap kemudian menemukan pula seseorang dibawah selimut yang menutupi pembaringan tersebut.

Ia tidak mengira kalau sienak muda itu menyembunyikan seorang gadis didalam kamar itu, alisnya kontan berkerut dan muncullah keinginan untuk memeriksa siapakah gerangan gadis itu didalam benaknya.

“Aaaaah!” jeritan tertahan berkumandang memecahkan kesunyian. “Chin Siang kau. ?”

Ia maju semakin dekat lalu menatapnya makin tajam dan kini ia benar benar merasa yakin bahwa perempuan yang berbaring disitu bukan lain adalah muridnya Wie Chin Siang.

Tatkala dilihatnya wajah Wie Chin Siang merah padam dan matanya terpejam rapat rapat, perempuan ini semakin terperanjat lagi.

“Chin Siang, kenapa kau?" teriaknya

Pek In Hoei semakin kelabakan “Cianpwee, dia....

dia. ”

“Aaaah” ketika Kim In Eng membuka selimut yang menutupi badan muridnya dan temukan gadis itu berbaring disana dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelai benangpun yang menempel ditubuhnya, jeritan yang tinggi melengking segera menggema dalam ruangan itu.

Wajah Pek In Hoei berubah semakin merah padam. “Dia.... dia terkena. ”

“Ploook” tanpa berpikir panjang, sebuah tempelengan keras mendarat diatas wajah Pek In Hoei, makinya penuh kegusaran. “Sungguh tak nyana kau adalah seorang bajingan tengik yang berhati binatang!”

“Plook!” sebuah gaplokan kembali mendarat dipipi sianak muda tatkala ia masih berdiri melengak tanpa sadar air mata bercucuran membasahi pipinya.

Pek In Hoei jadi penasaran, rasa dongkol dan gelisah bercampur aduk jadi satu dalam benaknya dan terakhir meledak satu amarah yang meluap luap, ia cabut pedangnya lalu bagaikan orang kalap menerjang keluar pintu ruangan keras keras.

“Hoa Pek Tuo. ayoh keluar kau bangsat tua. ”

Pintu kayu diterjangnya kerai keras hingga hancur berantakan. Bagaikan banteng yang terluka Pek In Hoei menerjang keluar dari ruangan meninggalkan Kim In Eng yang sedang gusar, kaget bercampur melengak serta Wie Chin Siang yang masih tertidur nyenyak!

“Aaaai.... Sungguh tak kusangka ia bisa melakukan perbuatan serendah ini.... sungguh tak kunyana. ”

terdengar perempuan itu bergumam seorang diri.

Bentakan gusar dan teriakan kalap dari Pek In Hoei terdengar berkumandang datang dari luar ruangan, tiada hentinya ia meneriakkan nama dari Hoa Pek Tuo.

Setelah mengetahui peristiwa tersebut, Kim In Eng merasa kecewa sekali dengan diri pribadi Pek In Hoei, sudah tentu ua tidak sudi memikirkan pula nasib dari si anak muda itu itu serta apa yang bakal menimpa dirinya setelah berjumpa dengan Hoa Pek Tuo nanti, bukan saja ia kecewa terhadap pemuda itu, iapun kecewa buat impian serta khayalannya barusan....

Ia merasa dirinya tertipu mentah mentah, karena sejak masuk kedalam ruangan itu ternyata hingga detik terakhir sama sekali tidak tahu kalau dibawah selimut ternyata disembunyikan seseorang, dan orang itu ada!ah muridnya sendiri.

“Huuuh....! anggap saja mataku buta” teriaknya penuh kebencian. “Ternyata aku sudah anggap dia seperti halnya Cia lang, seoreng lelaki sejati yang benar benar jantan dan hebat. Sungguh tak nyana dia cuma seorang siauw jien yang punya pikiran sesat. Hmmmm Untung aku belum menjodohkan Chin Siang kepadanya”.

Makin dipikir ia semakin benci akhirnya mutiara penolak air yang ada ditangannya diangkat tinggi tinggi dan siap ditsimpukkan kearah dinding

Cahaya mutiara berkilat membentuk satu lingkaran busur dihadapannya mendadak satu ingatan berkelebat didalam benaknya. “Chin Siang menyusup kemari dengan jalan menyaru, darimana dia bisa tahu kalau dia adalah seorang perempuan? lagi pula pakaian yang ia kenakan tadi rajin dan masih lengkap. Seandainya dia hendak menodai kesucian Chin Siang, semestinya pakaian kutang pelindung badan yang di kenakan harus dilepaskan. ”

Mutiara penolak air itu digenggamnya semakin erat, pikirnya leblh jauh: “Kalau Chin Siang sudah dinodai olehnya, diatas pembaringan pasti ada bekas noda darah, agaknya aku tidak temui noda darah disitu”. Merah padam air mukanya, buru buru ia singkap selimut yang menutupi tubuh muridnya dan diperiksa dengan seksama, kini ia baru temukan bahwa perawan Wie Chin Siang masih utuh dan belum sampai ditembusi oleh milik kaum lelaki.

Ia menghembuskan nafas panjang, pikirnya: “Tak kusangka berhadapan dengan tubuh seorang gadis yang begini indah merangsang, Pek In Hoei sama sekali tak tergerak hatinya. Ia sedikitpun tiada minat untuk menodai kesuciannya”

Sikap serta pandangannya terhadap Pek In Hoei pun dengan cepat berubah seratus persen, karena itu iapun mulai menguatirkan keselamatannya. Sambil menutupi kembali kain selimut itu keatas tubuh Wie Chin Siang, ia pandang gadis itu dengan pandangan sayang bercampur kasihan.

Kini, ia merasa rada mendongkol terhadap Pek In Hoei, sebab berhadapan dengan gadis yang demikian cantiknya ternyata ia tidak bertindak lebih jauh, sebaliknya malah dibiarkan merana begitu saja. Apalagi gadis itu adalah murid kesayangannya.

“Aku tidak percaya In Hoei tidak tergerak hatinya oleh kecantikan wajah Chin Siang serta keindahan tubuhnya yang bugil. Apakah ia benar benar sanggup menahan godaan serta rangsangan yang berada di depannya. Aneh....

sungguh aneh. ”

Tak bisa disalahkan kalau ia mempunyai pikiran demikian, sebab barang siapapun yang mengetahui peristiwa tersebut tentu akan berpendapat demikian. Siapa yang sanggup menahan diri bila dihadapannya berbaring seorang gadis yang amat cantik jelita dalam keadaan bugil tanpa sepotong busanapun yang melekat ditubuhnya? Dalam kenyataan ia tidak menyadari bahwa Pek In Hoei beberapa kali sudah terpengaruh oleh kobaran napsu berahi yang menggelora dalam dadanya, berulang kali kesadaran serta kejernihan pikirannya harus bertentangan dengan bisikan iblis.... dan akhirnya hampir saja ia terjerumus kedalam lembah kehinaan.

Seandainya ia tidak muncul pada saat yang bersamaan sehingga gelora birahi dalam dada pemuda itu berhasil di lenyapkan, mungkin Pek In Hoei telah melakukan perbuatan tersebut.

Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak Kim In Emg, akhirnya dia menghela napas panjang.

“Aaaaai....! bagaimanapun juga Chin Siang adalah putri seorang pembesar, setelah tubuhnya dilihat Pek In Hoei dalam keadaan polos dan bugil seperti itu, dia harus dikawinkan dengan pemuda itu!”

Cahaya mutiara berkelebat, ia letakkan mutiara penolak air itu ke atas rambut Wie Chin Siang yang hitam pekat dan bisiknya lirih: “Semoga dikemudian hari kau memperoleh kehidupan yang bahagia, Jangan seperti aku harus merasakan siksaan batin yang luar biasa karena kesepian, selama dua puluh tahun tak dapat melupakan rinduku yang telah merasuk kedalam tulang dan terukir didalam hati”.

Belum habis ia berkata, tiba tiba dari belakang tubuhnya berkumandang datang suara bentakan yang amat nyaring: “Tutup mulut!”

Dengan rasa kaget bercampur melengah, perempuan itu berpaling, tampaklah entah sejak kapan Hoa Pek Tuo telah masuk ke dalam ruangan itu dan bagaikan sesosok bayangan setan ia telah berdiri kurang lebih enam depa dibelakang tubuhnya. Dengan wajah penuh kepedihan Hoa Pek Tuo angkat kepalanya memandang lukisan gadis sedang tersenyum yang tergantung di atas pembaringan, lalu gumannya seorang diri: “Rindu yang terukir dalam hati, cinta yang membetot usus, kesepian yang sukar dijauhi, penderitaan yang panjang dan tiada taranya ”.

Dengan hati yang sakit seperti ditusuk tusuk dengan beribu ribu jarum ia meraung keras, seraya menjejakkan kakinya ketanah teriaknya keras keras: “Sebenarnya apakah cinta itu?”.

Selama hidup belum pernah Kim In Eng menyaksikan Hoa Pek Tuo menunjukkan penderitaan semacam ini, dan iapun belum pernah melihat begitu gusarnya sikekek tua itu semacam hari ini.

Dengan pandangan terkesiap bercampur ngeri ia memandang bekas telapak kaki yang membekas lima coen di atas tanah pikirnya: “Selama dua puluh tahun belum pernah ia tunjukkan ilmu silatnya dihadapan orang lain. Sungguh tak nyana tenaga lweekang yang berhasil ia miliki jauh melebihi suhu maupun subo. Kepandaiannya untuk merahasiakan diri serta menyimpan kepandaiannya baik baik sungguh sukar dicarikan tandingannya dikolong langit. Tapi. ternyata iapun terbelenggu oleh soal cinta asmara”

Ingatan tersebut bagaikan kilat berkelebat dalam benaknya, tatkala ia saksikan betapa menderitanya Hoa Pek Tuo, lama kelamaan Kim In Eng tidak tega, segera tegurnya: “Gie hu, sebenarnya kau. ”

“Tutup mulut!” bentak Hoa Pok Tuo dengan penuh kegusaran, wajahnya berubah hebat.

Serentetan cahaya mata yang amat buas dan mengerikan terpancar keluar dari balik kelopak matanya, dengan mata yang dingin menyeramkan ia berkata lebih jauh: “Siapapun yang ada di kolong langit tidak diperkenankan masuk ke dalam ruangan ini. Karena barang siapa yang telah menyaksikan iukisan tersebut maka dia harus kubunuh sampai mati. In Eng! Walaupun kau adalah anak angkatku, tetapi akupun tidak terkecualikan peraturanku ini. Nah kau boleh segera bunuh diri!”

Kim In Eng tertawa sedih. “Berapa banyaknya kisah pedih yang di alami umat manusia? Aku adalah orang yang bersedih hati. Sungguh tak nyana Gie hu pun seorang manusia yang bersedih hati, sejak Cia Lang mati tinggalkan diriku, sejak itu pula hatiku sudah mati, sekalipun kau hendak membinasakan diriku, akupun tak akan jeri”.

Mula mula Hoa Pek Tuo rada tertegun. Diikuti badannya bergerak kedepan kelima jari tangan kanannya dipentangkan langsung menyambar lengan kiri Kim In Eng.

“Apa yang kau katakan!?" hardiknya

Kim In Eng sadar bahwa percuma baginya untuk menghindarkan diri, karena itu dia ini sekali tidak berkutik dari tempatnya ia biarkan Hoa Pek Tuo mencengkeram lengan kirinya.

Seakan akan sebuah gelang baja yang mencengkeram lengannya, kian lama jepitan tersebut kian mengencang hingga membuat lengannya seolah olah hendak merekah dan patah.

Saking sakitnya sekujur tubuh perempuan itu mulai gemetar keras. Keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya, namun ia tetap gertak gigil menahan diri, ujarnya hambar: “Walau apapun hendak kau lakukan terhadap diriku, aku tidak akan mendendam atau merasa sakit hati kepadamu, karena hatimu benar benar tersiksa den sangat menderita, perasaan tereebut bagaimanapun juga memang sudah sepantasnya kalau kau lampiaskan keluar”.

Sorot mata Hoa Pek Tno yang buas bagarikan serigala liar dengan tajam menatap wajah Kim In Eng tanpa berkedip, seolah olah dia hendak menembusi lubuk hatinya

Beberapa saat kemudian baruia kendorkan cekalannya sambil berkata dengan suara berat: “Bagaimanapun juga tetap kau harus mati, tak ada seorang manusiapun yang dapat menyelamatkan jiwamu!”

“Bagaimana dengan Pek In Hoei?” tanya Kim In Eng sambil tarik napas panjang panjang, “Bagaimana keadaannya?...”

“Hmmmm aku hendak suruh dia rasakan siksaan yang paling sadis dariku, agar dia mati daiam keadaan yang mengerikan dia mengenaskan”.

Ia tertawa seram setelah merandek sejenak terusnya: “Sekarang dia telah terkurung didalam barisan Pak To Ghiet Seng Tin ka yang lihay. Sebelum seluruh tenaga serta kekuatannya habis tidak nanti kutangkap dirinya. He....

he.... he.... kau mengerti bukan kalau dalam barisan itu masih tersedia tujuh jenis makhluk beracun? barangsiapa yang memasuki barisan tersebut berarti dialah yang akan menjadi "Chiet Seng Tiauw Goen" atau Kaisar daripada tujuh bintang itu, ha.... ha.... ha. ”

Air muka Kim In Eng berubah hebat: “Kau.... kau    kau

benar benar amat keji....” makinya dengan penuh kemarahan. “Kau adalah binatang liar yang tak mempunyai peri kemanusiaan, Kau adalah binatang berkaki empat yang berkedok manusia ”.

“Hee.... hee.... hee.... In Eng, selama hampir dua puluh tahun lamanya hanya kau saja yang sering kumaki dan kutegor, belum pernah kau balas memaki atau menegur diriku. Sekarang kau kuberi kesempatan bagimu untuk memaki diriku sepuas puasnya!”.

Kim In Eng mengerti bahwa barisan “Pek To Chiet Seng Tin" adalah sebuah barisan yang telah dilatih oleh Hoa Pek Tuo dengan susah payah selama banyak tahun dengan mengambil tujuh jenis makhluk berbisa untuk menjaga setiap pintu barisan.

Berhubung begitu hebat dan saktinya perubahan barisan tersebut, maka barangsiapa yang memasuki barisan itu dia akan kehilangan arah dan tersesat. Dalam keadaan seperti itulah serangan bokongan dari tujuh jenis makhluk berbisa sukar untuk dihindari.

Yang paling lihay adalah sebuah barisan Siauw Chiet Seng Tin kecil yang dijaga oleh tujuh jenis makhluk beracun tersebut. Barangsiapa yang masuk kedalam barisan itu maka pada saat yang bersamaan diatas tubuhnya akan muncul tujuh buah mulut luka yang akan menghantar sukma orang itu kembali kealam baka.

Perasaan Kim In Eng pada saat ini bagaikan selaksa kuda yang berlari kencang, ia merasa gemas dan Ingin sekali menghantam roboh Hoa Pek Tuo kemudian lari keluar untuk menolong Pek In Hoei.

Air mukanya berubah berulang kali, mendadak serunya dengan nada dingin: “Hoa Pek Tuo, manusia kejam dan berhati binatang semacam kau memang pantas dijauhi orang, tidak aneh kalau tak seorang perempuan yang mencintai dirimu”

“Kau bilang apa?” seru Hoa Pak tuo tertegun. “Hmmmm. sekalipun kau gantungkan lukisan gadis itu

diatas pembaringan, kendati kau puja puja dia setiap hari bagaikan malaikat, iapun tak nanti akan melirik kepadamu barang sekejappun".

Hoa Pek Tuo meraung keras, ia lepaskan Kim In Eeg lalu meloncat naik keatas pembaringan.

Mimpipun Kim In Eng tidak menyangka kalau ucapannya ini bisa menghasilkan kebebasan bagi dirinya, sementara ia masih tertegun tampaklah Hoa Pek Tuo sudah loncat naik keatas pembaringan.

Perempuan itu tarik napas dalam dalam, kelima jarinya dipentangkan ke muka lalu menghajar jalan darah penting di atas punggung Hoa Pek Tuo, sementara tangan kirinya dengan jurus "Hoei Hoa Gwat Lok” atau Bunga Terbang Merontokkan Rembulan” membabat tekukan lutut si kakek tua berhati keji itu.

Mengikuti serangan tersebut, tubuh Kim In Eng tidak berhenti belaka, laksana anak panah yang terlepas dari busurnya dia ikut meloncat naik keatas pembaringan....

12

SEMENTARA itu, begitu Hoa Pek Tuo meloncat naik keatas pembaringan, kelima jarinya bagaikan cakar burung elang segera menyambar kearah lukisan gadis yang tergantung diatas dinding. Tetapi begitu ujung jarinya menyentuh dasar lukisan, seeolah olah dipagut oleh ular berbisa dengan wajah ngeri dan ketakutan cepat cepat ia tarik kembali tangannya.

Sorot matanya yang buas dan mengerikan dalam sekejap mata berubah jadi halus dan lunak. Dengan nada hampir mendekati memohon teriaknya:

(Oo-dwkz-oO)