Imam Tanpa Bayangan II Jilid 12

 
Jilid 12

DALAM SEKEJAP MATA AIR telaga yang biru kegelap-gelapan jadi terang benderang, mutiara mutiara yang jatuh diatas tanah tadi memberikan penerangan atas daerah sekeliling tujuh depa disana.

Pek In Hoei masih belum sadar, mengikuti tonjolan batu cadas tadi ia menggelinding kedalam selokan didasar telaga tadi.

Akhirnya ia jatuh pingsan dan tak sadarkan diri... lama... lama sekali tiba2 satu cahaya tajam membuat dia mendusin kembali, darah yang mengucur keluar dari ujung bibirnya semakin deras, dadanya naik turun dengan cepat dan sianak muda itu kembali munstahkan darah segar.

Ingatan yang mulai kabur kian lama kian jsdi terang, ia mulai teringat secara bagaimana dadanya dihantam Ku Loei dengan ilmu pukulan golok perontok rembulannya hingga menyebabkan dia terjerumus kedalam telaga.

Segera pikirnya didalam hati:

"Kenapa air telaga ini begitu dingin dan membekukan tubuh? Walaupun begitu mengapa tidak sampai beku air air disini? apa sebabnya demikian?"

Urat2 nadi syarafnya makin menyusut, rasa kaku semakin menjadi dan tubuhnya gemetar semakin keras.

Hatinya jsdi terkejut. buru2 hawa murninya dikumpulkan dipusar dan coba salurkan tenaga lwaekangnya keseluruh tubuh, namun baru saja ia tarik napas tiadanya dadanya terasa sakit, begitu sakit hingga hampir saja ia jatuh pingsan,

"Aaaai. !" akhirnya dia menghela napas. "Tak kusangka

ilmu pukulan golok perontok rembulan dari Ku Loei mendatangkan kekuatan yang begitu dahsyat, bukan saja kutang wasiatku bisa ditembusi isi perutku pun terluka parah, ditambah lagi telaga yang mencekam, rupanya ajalku telah akan tiba. "

matanya beralih kesamping, setelah memandang pusaran air telaga dilingkaran luar, Pek In Hoei jadi paham, segera pikirnya:

"Tidak aneh kalau aku meresa menderita luka dalam yang sangat parah, rupenva hal itu disebabkan oleh karena tumbukan gelombang air dalam TELAGA air. Kalau begitu aku telah merusak keseimbangan takaran air telaga Leng Gwat Ouw yang biasanya tak pernah disentuh oleh siapapun jua, dengan terceburnya aku maka pusaran air membuat aku harus merasakan tumbukan2 dahsyat gelombang air ini "

Kesadarannya kian jsdi tenang, pikirnya lebih jauh: "Kenapa aku tak bisa mendapatkan pengertian mengenai

munculnya lingkaran cahaya berbentuk payung dalam air telaga

ini. "

Sepasang tangannya meraba kesamping mencengkeram beberapa butir mutiara yang bergelindingan dari tubuhnya, muncul rasa sedih dalam hatinya Kembali dia berpikir:

„Apa gunanya Thian Liong Taysu meninggalkan begitu banyak mutiara berlian bagiku? Hmm. Pek Swie, Ciat Seng.... Yu Bing. apa gunanya semua benda itu? sekalipun dengan membawa mutiara Pek Swie Coo aku bisa naik keatas permukaan telaga, api gunanya kalau aku tak kuai menahas dinginnya air telaga yang sangat membekukan badan ini, bagi orang yang hampir mati macam aku, sekalipun ditimbuni dengan mustika yang bagaimanapun banyaknya juga percuma, benda itu seakan akan barang tak berharga didalam pandangannya".

„Aaaaaa dia menghela nafas panjang.

Mendadak dari sisi tubuhnya muncul pula helaan nafas yang amat pangjang.

Helaan napas itu seakan akan muncul dari neraka tingkat sembilan, begitu sedih pedih dan menggugah perasaan membuat siapapun yang mendengarkan jadi duka dan mengucurkan airmata.

Walaupun begitu, bagi pendengaran Pek In Hoei suara itu amat menakutkan hati ia jadi bergidik dan bulu pada

bangun berdiri. wajahnya yang telah pucat jadi berubah semakin hijau, sinar matanya mencerminkan betapa kaget dan terkejut dengan penuh seksama didengarnya lagi suara tadi....

Suasana disekeliling tempat itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun. helaan napas yang penuh kesedihan dan kegukaan tadi seakan akan lenyap tak berbekas, tak kedengaran lagi

Ia gigit bibirnya keras2 lalu berpikir:

"mungkinkah urat syarafku sudah tidak normal? Kecuali aku seorang mana mungkin ada manusia lain tinggal didalam telaga ini dan mengehela napas."

Ia menertawakan diri sendiri. Gumamnya lebih jauh:

" Aku harus mati didasar telaga boleh dibilang merupakan suatu peristiwa yang sukar ditemui sepanjang masa, siapa yang menyangka aku Pek In Hoei tidak mati karena terbakar, tidak mati karena keracunan, tidak mati karena bacokan senjata sebaliknya harus mati kedinginan didasar telaga yang begini membekukan badan!"

Pada saat itulah secara tiba2 kembali ia mendengar suara benturan besi berkumandang datang. Air mukanya kontan berubah hebat, ia pusatkan seluruh perhatiaannya untuk mendengar.

Sedikitpun tidak salah suara itu memang suara beradunya besi bahkan muncul tepat dibawah dasar telaga dimana ia berada sekarang.

Hampir saja Pek In Hoei tidak percaya dengan telinga sendiri, dengan gemetar tangannya meraba lumpur yang basah didasar telaga memegang ganggang yang tumbuh disisinya, sekarang ia baru percaya bila tubuhnya benar benar berbaring didasar telaga.

"Didasar telaga ini apakah masih ada dasarnya lagi?" Dengan hari kaget bercamput tercengang ia membatin: "Tekanan didasar telaga begini besar dan berat tidak mungkin dibawa dasar telaga masih ada dasarnya lagi....

tetapi bagaimana dengan suara beradunya rantai rantai besi tadi?.... jelas suara itu muntul dari bawah dasar telaga "

Saking tegang dan tercenganggnya ia sampai lupa dengan rasa dingin yang merasuk ketulang sumsumnya, seluruh perharian tenaga serta kemampuannya dipusatkan jadi satu untuk mendengarkan suara beradunya rantai besi itu.

Namun sekalipun ia sudah pertajam pendengarannya dan pusatkan semua perhatiaanya,suara tadi tak kedengaran lagi suasana kembali pulih dalam kesunyian... Suasana didasar telaga hening bagaikan semuanya telah mati. tak ada gema tak ada suara yang nampak hanya air yang berwarna hijau serta bening bagaikan kaca, indah dan menawan hati.

Pemandangan Aneh yang terbentang didepan matanya saat ini membuat dia seolah olah berada disebuah gua.

"Didalam gua.... didalam gua...." Ucapan ini diulangi sampai beberapa kali, dalam benakpun segera terlintas gambaran sebuah gua yang penuh dengan tiang batu cadas.

Mayat bergelimpangan memenuhi permukaan gua itu, setiap mayat telah berwarna hitam pekat.....

Dalam sekejap mata muncul delapan sosok mayat didepan matanya, raut wajah mayat mayat itu menampilkan rasa sedih dan menderita yang tak terhingga terutama seorang lelaki berusia pertengahan . tangan kanannya menggapai gapai ketengah udara seperti mau mengambil sesuatu namun tak sesuatu apapun berhasil ia ambil.

"Pedang penghancur sang surya." serunya kemudian dengan nada terkejut. "Kiranya Sucouw Hendak mengambil pedang mustika Su Jiet Kiam bukankah ia sudah keracunan, apa gunanya ia ambil pedang pusaka tersebut?"

Dalam Benaknya dipenuhi dengan pelbagai persoalan yang memusingkan kepalanya, masalah ini sudah dipikirkannya selama setahun sejak ia masih berada didalam gua diatas gunung hoasan tempo dulu, namun hingga kini belum ada jawaban yang berhasil dipecahkan.

Mengapa mereka keracunan bersama sama? kenapa mereka serentak melarikan diri kedalam gua? kenapa mereka tinggalkan dahulu kepandaian silat andalannya sebelum mati? mereka adalah ketua dari partai partai besar, bagaimana mungkin keracunan berbareng? Siapakah yang telah meracuni meereka?".

Serentetan pertanyaan berkelebat memenuhi benaknya, namun kendati sudah dipikir bolak balik belum berhasil juga dipecahkan.

sekujur badannya sudah mulai membeku, perasaannya telah mati dan anggota badannya tak sanggup bergerak lagi. satu satunya yang masih segar hanyalah ingatannya. disaat saat menjelang kematiannya ia tetap tenang dan tidak gugup.

"Oooh, sungguh dingin sekali." jeritnya didalam hati,Aku tak boleh mati....... Aku tak boleh mati dulu banyak persoalan yang harus aku kerjakan, ilmu pedang penghancur sang surya tak boleh lenyap dari mukan bumi."

Mendadak..... ia tersentak kaget. otaknya tiba tiba teringat akan sesuatu..... maka semua perhatiannya segera dipusatkan keatas pedang Si Jiet Kiam tersebut.

Ia masih ingat, ketika pedang mustika itu diambilnya tempo dulu secara tidak sengaja tangannya telah menyentuh mutiara diujung gagang pedang, dalam pandangannya ketika itu ia seolah olah menemukan tiga lukisan manusiadan dua baris tulisan.

Setiap kali matanya dipejamkan, dua barisan tulisan tadi segera tertera dengan jelas didepan mata, tanpa sadar gumamnya:

"Liat Yng Sin kang, kepandaian maha sakti dari kolong langit."

Diulangnya kata2 tersebut sampai beberapa kaii, sekian harapan untuk hidup muncul dalam batinya, segera ia mengengos napas dan dengan susah payah digerakkannya tangan yang telah kaku itu untuk mencabut mutiara diujung gagang pedangnya,

Sekilas cahaya merah merah memancar keempat penjuru. tatkala tangan kanannya berhasil mencekat mutiara tadi, tiba2 terasalah adanya suatu aliran hawa panas memancar keluar dari benda tadi, menembus urat uratnya yang kaku dan mengalir ke seluruh tubuhnya, seketika lima jarinya yang kaku dapat digerakan kembali.

Dengan penuh rasa gembira ia cekal pedang mestika itu kencang kencang, Kliiik....! diiringi suara nyaring. mutiara pada ujung gagang pedang segera tenggelam kebawah, tatkala benda tadi ditekan dengan jari tangannya, muncullah tiga buah gambar manusia yang sangat kecil sekali,

Disisi lukisan manusia tadi, tertera beberapa patah kata yang berbunyi :

"Liat-Yang Sin Kang, Kepandaian Maha Sakti dari Kolong langit".

Ia tarik napas panjang2. hati yang berdebar berusaha ditenangkan kembali, semua perhatiannya dipusatkan keatas dua baris kalimat tadi dimana ia dapat membaca beberapa baris kata yang berbunyi demikian:

"Bencana besar melanda negeri Tayii, ketika Kaisar Aje duduk dalam pemerintahan kaisar keluarge kita Toan Seng mati ditangan penghianat, putra mahkota Toan To segera melarikan diri jauh di negeri Thian Tok, disitu dengan Susah payah ia berhasil melatih suatu kepandaian sim hoat aliran Thian Tok paling atas yang bernama Thay Yang Sin kang dalam tujuh tahun kemudian ia berhasil menguasai kepandaian tadi, membasmi kaum penghianat dan pulihkan kembali kejayaan kita. Kepandaian silat ini kemudian turun temurun hingga kini, ketika Cing Coe Cu dari partai Tiam cong dengan membawa pedang Si Jiet Sin Kiamnya datang berkunjung, dengan sembilan jurus ilmu pedangnya ia mendapatkan ilmu tadi diubahnya menjadi Liat Yang Sin-kang".

Membaca sampai disini dangan hati kaget bercampur tercengang Pek In Hoei segera berpikir:

"Cing Cioe-cu adalah couwsu pendiri partai Tiam-cong kami, entah secara begaimana ia bisa mendapatkan ijin dari kaisar keluarga Toan dari negeri Tayli untuk mengukir kepandaian maha sakti dari negeri Thian-Tok itu diatas gagang pedangnya, apakah hanya sembilan jurua Si-Jiet Kiam hoat saja yang bisa ditukar dengan tiga macam kepandaian bersemedi ini?".

Hatinya segera dibikin kaget dan tercengang oleh penemuan yang tak terduga ini, rasa dingin jang menusuk ketulang sama sekali tak dirasakan lagi.

Maka dibacanya tulisan itu lebih lanjut.

"Ilmu Sakti Liat Yang Sin kang atau Surya kencana serta ilmu pedang penghancur sang surya sama sama mengutamakan Hawa yang2 panas dan keras, cara berlatihnya hampir sama dan peredaran hawa nyaris sama, tatkala Kaisar angkatan kesebelas dari kerajaan kami menemukan kejadian ini maka bersama sama Cing Cioe Cu dilakukan penyelidikan selama belasan hari lamanya dalam istana negeri Tayli, akhirnya tarciptalah satu kepandaian gabungan yang maha sakti antara kedua macam ilmu tersebut.",

Dibawahnya terukir beberapa kata lagi:

"Tulisan ini dibuat oleh ahli ukir nomor: WAHID dikolong langit Toan Leng kaisar kesebelas negeri Tayli". Selesai membaca tulisan tersebut, sianak muda she Pek ini kembali berpikir didalam hatinya:

"Aaaai..... sungguh tak nyana seorang kaisar dari sebuah negeri kecilpun tak bisa melepaskan diri dari keinginannya untuk memiliki sebuah nama kosong.... walau begitu, ditinjau dari ukirannya yang lembut dan halus, dia memang tidak malu disebut ahli ukir nomor wahid dikolong langit."

Dengan pusatkan seluruh perhatian ia segera awasi ketiga buah lukisan manusia itu dengan seksama, tampak diatas gambaran tadi terukir jelas garis garis serta

kerutan kerutan lembut yang menandakan bagaimana cara mengerahkan tenaga, menghimpun tenaga serta melancarkan serangan.

Berada didasar telaga yang dingin, ingatannya jau lebih jernih daripada ada didaratan, hanya dipandang beberapa Kali ketiga buah lukisan tersebut telah hapal diluar kepala.

Begitulah sambil memeluk pedangnya ia duduk kaku disitu, dalam benaknya terbayang terus ketiga buah lukisan tadi, dengan mengikuti garis garis dalam lukisan tersebut dicobanya untuk melatih kepandaian tadi, namun dengan cepat ia temukan betapa dalam dan tukarnya untuk mempelajari ilmu Liat Yang Sin kang tembus semakin kedalam semakin sulit dipahami hingga pada akhirnya ia tidak mengerti sama sekali.

Matanya segara dipejamkan rapat rapat, pikirnya: "Waaaah.... sulit benar untuk mempelajari kepandaian

ini, jikalau dalam sekali tarikan hawa murni aku harus menerjang tiga buah jalan darah sekaligus dan harus pula segera kumpulkan kembali hawa murninya dipasar      lama

kelamaan urat nadiku bisa pecah dan mati konyol. " Tetapi pada saat itulah seluruh urat nadi dalam tubuhnya telah membeku, satu satunya yang masih tersisa hanyalah sedikit hawa murni yang berkumpul di Tan Thian atau pusar,

Ia tertawa getir, dalam hati pemuda ini mengerti bila dalam setengah jam kemudian tak ada bantuan maka hawa murninya itu akan buyar dan jiwanya akan melayang.

Menghadapi bayangan maut yang setiap saat mengancam keselamatannya, ia peluk pedang Si Jiet Sin- kiamnya erat2. mutiara psda gagang senjata ditekan diatas lambungnya agar daerah sekitar puear terasa hangat dan nyaman.

Sambil membelai pedang mustikanya Ia menghela napas panjang, pikirnya didalam hati.

"Beginilah manusia yang hidup dikolong langit, terhadap benda yang ada dikolong langit terlalu sayang dan terlalu banyak meninggalkan kenangan, walaupun begitu apa gunanya kalau benda tadi dipegangnya kencang2.

Ia tertawa sedih, pikirnya lebih jauh :

"Berhadapan dengan tantangan maut siapa yang bisa melampaui nasib yang telah ditetapkan dan menangkan suatu kematian? siapa pula yang bisa membawa kehidupannya menuju kealam baka."

Memandang aliran didasar telaga yang perlahan2 bergerak, hatinya bergetar keras.

"Manutia dikolong langit ada siapa yang bisa menyerupai diriku, sambil memeluk benda mustika menikmati pemandangan aneh didasar telaga, bahkan aku berhasil mendapatkan pula pelajaren sakti, pedang mustika... kenapa aku harus tunduk begitu saja dengan kematian? sekalipun nasibku memang ditakdirkan demikian, kenapa aku harus melepaskan setiap kesempatan untuk hidup yang kumiliki?"

Dengan cepat ia mengambil keputusan daiam hati kecilnya.

"Bagaimanapun juga, sebelum ajalku tiba, aku harus menguasai lebih dahulu ketiga macam lukisan tersebut. perduli Thay Yang Sam Si dapat digunakan untuk mengusir hawa dingin atau tidak, akan kucoba terus hingga detik yang terakhir, aku tidak mau membuang setiap kesempatan untuk hidup yang kumiliki."

Maka ia segera pejamkan matanya dan mulai berlatih sesuai dengan petunjuk lukisan pertama.

Suasasa hening... sunyi... lama dan lama sekali. akhirnya Pek la Hoei buka matanya, sekilas rasa kecewa. putus

asa. terlintas diatas wajahnya.

Ia mendongak memandang air telaga yang hijau, dengan rasa sedih gumamnya:

"Aaaai.    hari sudah terang tanah, kesempatan beberapa

jam telah kubuang dengan percuma."

Haruslah dikelabui sim-hoat dari lukisan itu sama sekali berbeda dengan cara orang Tionggoan mempelajari sim- hoat tenaga dalamnya, apalagi dengan aliran Tiam-cong yang dipelajarinya, oleh sebab itu walaupun Pek In Hoei telah berlatih satu jam lamanya, ia belum berhasil juga mengerahkan hawa murninya mengikuti petunjuk yang aneh dan kukoay dari ajaran itu.

Dengan mulut membungkam ia tatap air telaga yang hijau, pikirnya :

„Sungguh tak kunyana dasar telaga begini tenang, begini indah dan menarik bagaikan dalam alam impian. " Tiba tiba ia teringat kembali akan satu masalah, dengan hati sangsi pikirnya lebih jauh:

"Eeei.... kenapa di dasar telega tidak nampak seekor ikanpan yang berenang kian kemari?"

Namun dengen ccpai ia berhasil mendapatkan jawabannya, segerompok ikan kecil berwarna putih berenang lewat didepannya.

Ikan ikan kecil itu mempunyai sisik berwarna putih keperak perakan, kepalanya lancip dan badannya sempit lagi panjang, ekornya halus lagi lembut seakan2 gemas tapi yang bergerak dalam air.

Dengan bati kaget sianak muda itu membatin:

"Sungguh tak nyana didalam telaga yang dingin bagaikan salju dan penuh dengan tekanan air yang kuat bisa terdapat jenis ikan yang begitu aneh. ikan2 itu sempit dan panjang bagaikan tali namun ia bisa bergerak kian kemari tanpa mati terkena tekanan air yang berat, sungguh merupakan suatu keajaiban... seandainya mereka tidak memiliki badan yang sempit den panjang serta bisa mengimbangi godakan ombak yang berat.

Tiba tiba satu ingatan terlintas dalam benaknya, sekujur tubuhnya segera gemetar keras.

"Aaah, kenapa aku luapa.... bukankah dia bergerak ikuti aliran ombak tersebut?"

Setelah menyadari bahwa ia berbasil memecahkan kunci penting untuk mempelajari ilmu Tay Yang dengan hati penuh

kegirangan bisiknya didalam hati:

"Asal kulupakan semua pelajaran Sim-Hoat yang pernah kupelajari. bukankah otakku akan bersih bagaikan selembar kertas putih? mau diberi Warna apapun bisa tertera dengan gampang...

Maka Pek In Hoei segera buang semua pikirannya dari dalam benak dan pusatkan segenap semangt serta kemampuannya untuk mempelajari ilmu Tay Yang Sam Sih.

Entah berapa saat sudah lewat, wajahnya yang pucat makin lama berubah semakin merah, asap putih yang tipis perlahan2 menyebar dari batok kepalanya.

Sepasang kakinya yang kaku kini bisa digerakkan kembali, maka dari berbaring pemuda itupun bisa duduk bersila.

Kabut putih kian lama berkumpul kiam memebal, seluruh badannya hampir boleh dibilang terbungkus rapat,

Mendadak.....

Ia mendengus rendah, sepasang lengannya menyapu kesamping, kabut putih disekeliling tubuhnya berubah jadi butiran air dan menyebar kemana mana.

Hawa murni yang berada dalam tubuhnya dari jalan darah Wie Liu segera menerjang jalan darah Ming boen, Gi Kiong dan langsung mendesak masuk kedalam Ihian To Hiat.

Mendadak... mulutnya bergetar keras, bagaikan ledakan guntur menggoncangkan air dalam telaga,

Segumpal hawa panas muncul dari Tan Thian laksana kilat menyebar keseluruh badan dan mengisi setiap jalan darahnya.

Wajah Pek In Hoei berubah jadi merah membara, keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar dari jidatnya, begitu panas hawa murni yang mengalir dalam tubuhnya membuat tulang terasa dipanggang di bawah api yang berkobar kobar

Suatu tekanan hawa dalam tubuhnya membuat kulit serta dagingnya seperti merekah dan hangus. dengan penuh kesakitan ia meraung keras kemudian loacat bangun.

Sepasang telapaknya diayun kemuka, tangan yang putih halus dalam sekejap mata berubah jadi marah membara, serentetan cahaya merah menyambar lewat air telaga menggulung dahsyat dan menggetar bagaikan dilanda gempa bumi.

Bumi bergoyang air te!aga mengguncang dahsyat, seakan2 bumi akan kiamat.... permukaan tanah dimana terkena hantaman tersebut seketika berubah jadi hitam hangus.

Dengan pandangan tertegun Pek In Hoei memandang ombak telaga yang menggulung daksyat dialas kepalanya, ia tak mengerti genangan tersebut diakibatkan karena pukulan "Yang Kong Bu Cau" atau cahaya Sang Surya Bersinar terang atau bukan.

Ia tidak percaya bila dalam waktu yang amat singkat bukan saja ia berhasil mempelajari tiga jurus ilmu Sang Surya bersinar dari Liat Yang Sin kang bahkan dapat pula mengusir hawa dingin yang telah membekukan tubuhnya, dari rasa takut menghadapi maut ia jadi kegirangan setengah mati.

Untuk sesaat ia berdiri tertegun ditempat itu, ia lupa kalau tubuhnya masih berada didasar telaga Lok Gwat Leng

"Aaaai...!" mendadak suara helaan napas yang amat sedih berkumandang datang dari sisinya.

Pek In Hoei terperanjat, dengan cepat ia berpikir: "Aku tidak pernah menghela napas panjang darimana datangnya helaan napas yang begitu berat dan penuh kepedihan Itu?".

Pedang Si Jiet Sin Kiam dicekalnya kencang-kencang, dengan wajah penuh rasa terkejut ia memandang keatas tanah, dimana ia jumpai tanah lumpur yang basah telah berubah jadi hitam. bahkan batupun hangus seakan akan baru saja terjadi kebakaran. Ia tidak akan menyangka kalau ilmu Liat

Sin kang yang mengutamakan hawa Yang kang berhasil ia pelajari dengan begitu cepat kerena saat itu badannya berada di dasar telaga Lok Gwat Ouw yang dinginnya luar biasa.

Disaat ia masih terkejut dan diliputi rasa heran itulah, suara helaan napas panjang yang berat dan sedih tadi berkumandang kembali diikuti suara beradunya rantai besi dari dasar tanah.

Dalam keadaan yang segar, sekarang ia berani memastikan bila helaan napas serta suara beradunya rantai besi itu benar benar muncul dari dasar tanah.

Dibalik kesemuanya ini tentu ada hal yang tidak beres, kalau tidak mengapa tiang batu itu bisa berdiri tegak didasar telaga bagaikan sebilah pedang?".

Ditelitinya keadaan sekeliling tempat itu dengan seksama, didasar telaga kecuali ganggang serta batu cadas tidak tampak ada tiang batu setinggi tujuh depa macam itu lagi.

Maka segera bentaknya keras keras : "Siapa yang menghela napas dibawah?" Serentetan suara beradunya rantai besi berkumandang nyaring diikuti seruan kaget seseorang dengan nada yang serak dan berat.

Sekarang Pek In Hoei semakin yakin kalau tiang batu itu jauh menembusi dasar telaga, dan didasar telaga tentu ada guanya.

Sambil mencekal pedangnya kencang kencang ia salurkan hawa murninya keujung senjata, setelah itu ia gurat satu tiang batu besar tadi.

Cahaya pedang berkilat, tiang batu tadi sebatas tanah terpapas putus jadi dua bagian dan terlihatlah dasar daripada tiang tadi.

Suara beradunya rantai kedengaran semakin nyata, seakan akan suara itu muncul didepan mata. Serentetan suara manusia yang serak dan berat dengan penuh rasa kaget berseru ;

"Siapa yang tenggelam didasar telaga Lok Gwat Ouw? jangan sekali kali kau patahkan tiang batu itu."

"Siapa kau ?" seru Pek In Hoei temaViu kaget. "Kenapa kau berada didasar telaga?".

Orang yang ada didasar tanah itu rupanya tidak menyangka kalau ucapan, lawan bisa terdengar begitu jelas, ia merandek sejenak kemudian menjawab:

"Apakah air dalam telaga sudah kering cepat beritahu kepadaku apakah air telaga telah mengering?".

"Apakah didasar situ tidak ada tanah kering ? Hey, apa yang sedang kau kerjakan disitu ?".

"kalau air telaga belum mengering, siapa yang dapat berdiri didasar telaga?" kembali orang itu berteriak teriak. Pak In Hoei tidak menggubris ucapannya lagi, ia maju satu langkah kedepan, kakinya menginjak tanah keras keras kemudian dengan sekuat tenaga ditendangnya keatas tiang tersebut.

"Kraaaak......!" sungguh hebat tenaga himpunan yang disalurkan pemuda she Pek pada kakinya, diiringi suara yang amat nyaring tiang batu itu patah jadi dua bagian lumpur disekitar situ jadi gugur dan muncullah sebuah lubang besar.

Pek In Hoei tidak ambil pusing siapakah penghuni gua itu, sambil mencekal pedang pusakanya ia loncat masuk kedalam gua tadi.

Mulai mulai air masih memenuhi gua tadi. namun semakin bergerak kedepan permukaan tanah kian lama kian meninggi hingga akhirnya muncullah sianak muda to dari permukaan air.

Dihadapannya sekarang terbentang satu lorong yang amat panjang, suasana diliputi gelap gulita, batu cadas berserakan dimana mana . setelah berputar satu lingkaran tibalah dia disebuah ruangan, disana terdapat seorang manusia aneh berambut panjang sedang memandang kearahnya dengan pandangan terperanjat.

Pek In Hoei sendiripun terkejut ketika berjumpa dengan orang itu, pedangnya segera dilintangkan didepan dada siap menghadapi segala kemungkinan ynng tidak diharapkan,

Manusia aneh itu mengenakan baju warna hitam yang telah koyak koyak tidak karuan, sepasang tangan serta kakinya diborgol deogan rantai besi, sementara ujung rantainya terikat pada sebuah tiang batu yang sangat kuat, sehingga mengingatkan anjing kita yang sedang dirantai didepan rumah, Pek in Hoei tarik napas daiam dalam, ia merasa hawa dalam gua itu sangat apek dau lembab, membuat dada jadi sesak dan perut jadi mual.

"Siapa kau ?" setelah hening sejenak, ia menegur dengan sepasang alis berkerut, "Kenapa kau dikurung dalam gua didasar telaga ini ? siapa yang mengurung dirimu ?"

Sepasang mata manusia aneh itu menatap wajah Pek In Hoei tajam tajam, wajahnya masih menampilkan rasa kaget dan tercengang yang tebal, setelah membungkam beberapa saat lamanya ia mulai jadi tenang, bibirnya bergetar keras dan meluncurlah beberapa kata:

:Siapakah kau?"

Bersama dengan selesainya ucapan tadi, darah segar muncrat keluar dari mulutnya.

Pek in Hoei kerutkan alisnya, dengan pandangan minta maaf dia melirik sekejap rantai besi yang mambelenggu tubuh orang itu, sedang dalam hati pikirnya:

"Entah orang ini telah melanggar dosa apa, ternyata badannya dirantai dengan rantai besi sebesar itu dan dikurung dalam gua batu selembab ini, tentu disebabkan aku mematahkan tiang batu tersebut barusan mengakibatkan dia tarluka."

Maka dengan suara lirih segera ujarnya:

"Maaf... aku benar benar tidak tahu kalau kau terikat diatas tiang batu itu...?"

Manusia aneh itu tidak menggubris ucapan Pek In Hoei, sepasang matanya menatap pedang penghancur sang surya tak berkedip, diantara sinar matanya jelas memancarkan suatu keinginan yang membara. Pek in Hoei bukanlah manusia goblok begitu melihat keadaan lawan ia lantas dapat menebak keinginan orang itu yang mengharapkan dirinya bisa mematahkan rantai besi tadi dengan pedangnya.

Sskilas cahaya merah berkelebat lewat, Traug    diiringi

letupan bunga api, ramai besi yaug kasar dan kuat tadi segera kutung jadi dua bagian dan rontok keatas tanah.

Melihat rantainya telah putus napas manusia aneh itu memburu keras, dari tenggorokannya perdengarkan suara raungan lirih yang serak dan berat, sepasang lengannya diayun kesana kemari bagaikan orang gila.

"Hoa Pek Tuo... Hoa Pek Tuo. " serunya sambil tertawa

kalap. Kau tak akan berhasil membelenggu diriku lagi!"

"Siapa kau?" kembali Pek In Hoei menegur. "Mengapa Hoa Pek Too mengurung dirimu dalam gua batu ini?".

Manusia aneh itu tidak mengubris ucapan sianak muda she Pek ini, bagaikan setengah gila ia lari menuju kearah lorong.

Sekali lagi Pak In Hoei berteriak memanggil. orang itu merandek dengan hati sangsi, namun akhirnya dengan terhoyong hoyoag dia lari balik kehadapannya.

Dengan sekujur badan gemetar keras, ia tatap wajah Pek In Hoei tajam tajam, bibirnya gemetar serunya:

"Orang muda terima kasih atas bantuanmu?"

Kembali dari mulutnya muntahkan darah segar, sepasang tangannya menekan dada kencang kencang, setelah menjerit badannya roboh kembali keatas tanah.

Menyaksikan keadaan orang itu Pek In Hoei berseru tertahan, buru buru dia masukkan pedangnya kedalam sarung, lalu berjongkok dan memasang bangun manusia aneh tadi seraya bertanya :

"Kenapa kau ?"

Manusia aneh itu tertawa sedih.

"Selama dua puluh tahun aku terkurung didalam gua yang gelap, lembab dan apek seperti ini, tiada harapan lagi bagiku untuk berlari keluar, dengan badan yang diborgol dengan rantai besi! ini paling jauh hanya satu tombak aku bisa mancangkan, setiap hari aku hanya mengharap harapkan kedatangan orang yang mengirim nasi begitu."

"Selama ini kau terkurung disini. apakah sama sekali tak ada kesempatan bagimu untuk meloloskan diri...?"

Napas orang aneh itu sedikit memburu, dengan suara gemetar jawabnya.

"Semua urat serta otot2 kaki dan tanganku telah dipotong, tiga lembar urat nadiku sudah disayat2 lagi pula dibelenggu diatas tiang batu yang begitu kuat, seandainya kupatahkan tiang batu itu dengan kekuatanku sendiri, maka kemungkinan besar dinding gua ini bakal bobol dan air telaga akan menenggelamkan diriku, apa gunanya aku berbuat hal yang tidak menguntungkan?"

Sekujur badannya gemetar keras, gumamnya seorang diri

:

"Hoa Pek Tuo, kau benar2 berhati keji. kau benar2 tidak

memberi kesempatan hidup bagi diriku..."

Mendadak ia cengkeram lengan kanan Pek In Hoei, kemudian dengan suara serak sambungnya.

"Aku hendak minta pertolonganmu untuk mambunuh seseorang, untuk bantuanmu itu aku pasti akan memberi balas jasa kepadamu." Ucapan ini membuat Pek In Hoei jadi kebingungan, ia tidak menyangka kalau manusia aneh tersebut bisa mengucapkan kata kata seperti itu, setelah sangsi sebentar katanya:

"Aku.    kepandaianku sudah terlalu banyak."

"Aku mohon kepadamu." jerit orang aneh tadi dengan menahan penderitaan.

Dari sinar matanya yang memancarkan permohonan serta biji matanya yang mula2 pudar seakan akan manusia yang hampir mendekati ajalnya, timbul rasa kasiban dalam hati pemuda kita, terpaksa ia mengangguk.

"Baiklah, kukabulkan permintaanmu."

"Aku minta kau mewakili diriku untuk membuilah Hoa Pek Tuo "

"Hoa Pek Tuo?" bayangan kakek tua yang sedang duduk bersila didepan bangunan air segera terbayang didepan matanya. "Kenapa aku harus membinasakan dirinya?"

"Membasmi bibit bencana bagi dunia persilatan, dan memberi kehidupan bagi para jago kang ouw".

"Apa maksud ucapan itu?".

Orang aneh itu membuka mulutnya lebar lebar namun tak sepatah ketapun yang meluncur keluar, keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya;

Pek In Hoei terperanjat, ia tarik napas panjang panjang, telapak kirinya segera ditempelkan keatas lambung orang itu dan salurkan hawa murninya melalui Tan Thian.

Mendapat bantuan tenaga dari luar, sekujur badan manusia aneh itu gemetar keras, semangatnya segera bangkit lagi, dan katanya: "Karena dia sudah bersongkel dengan Cia Ku Sia Mo si iblis sakti berkaki telanjang dari seng Sut Hay, Kioe Boen Teh Sin Wu si Dukan sakti berwajah seram dari Lam Ciang serta Ay Sian Pouw sat si malaikat suci berbadan cebol dari negeri Thian Tok untuk bersama2 merampas daratan Tionggoan dari tangan orang orang Bulim kemudian membagi baginya menjadi daerah kekuasaan mareka."

Belum pernah Pek In Hoei mendengar beberapa nama orang sakti itu, ia melengak dan segera bertanya : "Bagaimana kalau orarg orang itu dibandingkan dengan tiga dewa dari luar lautan ? apakah "

"Tiga dewa dari luar lautan?" sekilas rasa girang berkelebat diatas wajah manusia sneh itu. "Apakah kau adalah anak murid dari tiga orang dewa sakti itu?"

Dengan hati tercergang Pek In Hoei menggeleng. "Bukan. aku adalah anak murid partai Tiam cong".

Air muka manusia aneh itu segera berubah bebat, darah panas bergolak dalam dadanya dan kembali ia memuntahkan darah segar.

Melihat keadaan orang Itu kian lama makin bertambah parah:, muramlah wajah pemuda kita, dengan cepat ia tempelkan telapak kanannya keatas jalan darah "Ming Boen Hiat" dipinggang orang itu, hawa murninya segera disalurkan keluar dan beru aba mengendalikan golakan bawa darab dalam dadanya.

Nsmun sayang tiga urat urat Im Mehnya telah disayat orang sampai putus, setelah mengalami golakan batin yang amat besar hawa darah yeng bergolak sukar untuk dikendalikan lagi, hawa murni yang disalurkan dari luar segera tercerai berai begitu tiba didada, jelas jiwanya sudah tiada harapan untuk diselamatkan lagi. Sepasang alis Pek In Hoei segera berkerut kencang, lima jarinya bekerja cepat, dalam sekejap mata dua belas buah jalan darah penting ditubuh manusia aneh itu telah ditotok, dengan susah payah dia berusaha untuk mengumpulkan hawa murni yang telah buyar itu.

Sayang usahanya sia sia belaka, kendati segala kemampuan serta tenaganya telah dukerahkan, namun hawa murni yang telah jadi lemah dan tinggal satu satunya itu sukar dikumpulkan.

Ia seka keringat yang membasahi wajahnya. tarik napas panjang panjang dan dengan wajah sedih menundukkan kepalanya.

Hawa murni yang disalurkan kedalam tubuhnya pun sedikit demi sedikit ditarik kembali, dalam keadaan seperti ini percuma berusaha melindungi detak jantungnya belaka agar jangan sampai putus.

"Apakah partai Tiam Cong dalam keadaan baik baik?" tanya orang aneh itu dengan suara serak.

Pek In Hoei tertawa sedih.

"Apakah cianpwee kenal dengan anak murid partai Tiam cong?"

"Aaah..... kejadian masa lampau telah berlalu bagaikan asap yang buyar diudara, lebih baik tak usah diungkap kembali".

Ia tarik napas panjang panjang setelah meronta ujarnya lagi:

"Waktu yang ksmiliki sudah tidak banyak lagi, sekarang juga akan kuberitahu kau semuanya kepadamu."

Napasnya memburu, dengan tersengal sengal ia sambungnya lebih jauhL "Kepandaian yang paling kuandalkan adalah ilmu menyaru diri, sering kali aku muncul didalam dunia persilatan dengan Pelbagai macam corak serta kedudukan, oleh karena itu orang orang sebut diriku sebagai Cian Hoan Lang Koen atau silelaki ganteng berwajah seribu. Disebabkan oleh kehebatanku inilah aku bisa muncul dan berada dalam kalangan yang berbeda, mengikuti rapat serta persidangan orang lain yang sedang merencanakan siasat busuk untuk mencelakai orang."

Sekilas warna merah menghiasi wajahnya yaag kusut, setelah mengatur napasnya sejenak ia melanjutkan :

"Dua puluh tahun berselang, ketika aku berada dipuncak Mong-Yong Hong digunung Hoa-san dengan tanpa sengaja telah berjumpa dengan Cia Ku Sin Mo si iblis sakti berkaki telanjang dari laut Seng Sut-Pay bersama istrinya Pek Giok Jien Mo iblis khiem kumala hijau. Waktu itu dia sedang berlatih main khiem diatas gunung, setiap pagi burung burung yang ada disekitar sana esma sama beterbangan kepuncak sana untuk mendengarkan irama khiemnya yang merdu dan menawan hati.

"Benarkah dikolong langit terdapat kepandaian main khiem yang begitu tinggi dan lihay ?" pikir Pek in Hoei dengan alis berkerut. "Entah bagaimanakah permainan khiemnya kalau dibandingkan dengan dewi Khiem bertangan sembilan Kim Ie Eng? siapa yang lebih unggul diantara mereka?"

Ia tidak tahu kalau iblis Khiem kumala adalah guru dari Kim

In Eng. hanya saja sang garu suka menggunakan kepandaian permainan khiemnya untuk orang, sedang sang murid mencampur adukkan perasaan cintanya kedalam irama khiemnya antara kedua orang itu memperoleh julukan yang bertentangan satu sama lain yaitu si iblis khiem serta si dewi khiem,

Terdengar Cian Hoa Long koen melanjutkan kembali kata2nya:

"pada waktu itu aku merasa heran dan tercengang, sebab irama kbiem yang bisa menjinakan kawanan burung sudah pasti bukan irama khiem biasa yang bisa dilatih oleh manusia biasa apalagi didaratan Tionggoan belum pernah ada orang yang berhasil mencapai tinggka begitu tinggi, maka dari itu aku lantas teringat akan diri si iblis Khiem kumala hijau dari laut Seng Sut Hay."

"Waktu itu belum sampai seperminum teh lamanya irama khiem itu berkumandang diankasa, beribu ribu ekor burung telah memenuhi angkasa membuat udara jadi gelap dan semua pepohonan dipenuhi oleh burung burung tadi..."

"Begitulah makin mendengar aku semakin terpengaruh akibatnya seluruh kesadaranku terpengaruh oleh irama khiem tadi hampir saja aku tak sanggup menguasai diri dari bergerak menuju kehadapannya, bila mana waktu itu aku sampai munculkan diri niscaya dia akan bunuh diriku sampai mati." Pek In Hoei terbelalak, ia bungkam dalam seribu bahasa sementara otaknya membayangkan betapa ngerinya kalau seluruh puncak sebuah bukit dipenuhi dengan beribu ribu ekor burung.

Cian Hogn long Koen pejamkan matanya sejenak dan meneruskan.

"Untung disaat yang paling kritis itulah dari tengah udara berkumandang suara suitan panjang yang amat nyaring dimana irama khiem saling lembut dan merdu tadi seketika terdesak, akupun segera sadar kembali dari lamurnya yang hampir menghampiri diriku kelembah kehancuran."

"Suara suitan itu nyaring laksana guntur membelah bumi disiang hari bolong, suaranya bergema diseluruh penjuru menggetarkan semua bukit dan mengagetkan burung burung yang telah memenuhi bukit dan suasana segera jadi kacau, suara burung yang telah memenuhi bukit tadi bergema memusnahkan kesunyian.

"Melihat kegembiraannya diganggu orang dengan wajah penuh kegusaran si iblis khiem kumala hijau angkat kepalanya memandang empat penjuru, saat itulah dari tengah udara malayang datang sesosok bayangan manusia, munculnya bayangan Jadi seolah olah seekor burung raksasa yang terbang diiringi beratus ratus ekor burung, dalam waktu singkat dia telah tiba dipuncak Mong Yong Hong."

"Apakah orang itu adalah si iblis sakti berkaki telanjang dari laut Seng Sut Hay?" sela Pek In Hoei,

Dsngan napas memburu Cian Hoan Long koen mengangguk.

"Iblis sakti berkaki telanjang mempunyai kepala yang botak, tinggi badannya mencapai sembilan depa dan tidak memakai sepatu. Begitu tiba diatas puncak dia lantas terbahak bahak aku mengerti betapa lihaynya sepasang iblis dari laut Seng Sut Hay ini, maka begitu melihat munculnya si iblis sakti berkaki telanjang tubuhku semakin kusembunyikan dibalik sekumpulan, bergerak sedikitpun tidak berani.

"Hubungan antara suami istri sangat aneh sekali, begitu saling berjumpa segera meluncurlah kata kata makian yang sangat Kotor, Setelah cekcok mulut mereka berduduk bermesraan,   membicarakan urusan rumah tangga dan keadaan situasi didaratan Tionggoan."

Air mukanya berubah semakin merah, dengan penuh emosi katanya.

"Sejak menderita kekalahan didaratan Tionggoan pada enam puluh tabun berselang dan diusir balik kelaut Seng Sut Hay, sepasang suami istri ini segera merencanakan usahe pembalasan dendam dengan menghubungi jago jago lihay disekitar perbatasan untuk bersama2 menghadapi tiga dewa dari luar lautan dan menjajah dunia persilatan..."

"Tatkala aku mendapat tahu bahwasanya mereka telah bekerja sama dengan 8 dewa cebol dari negeri Thian Tok serta Tay Sauw Sin koen dari suku Oo can di Mongolia, maka akupun lantas menarik kesimpulan pasti ada seseorang dibelakang layar yang merencanakan kesemua itu untuk membasmi semua partai besar".

Ia merondek sejenak, air mata jatuh berlinang2 membasahi wajahnya, sambil menahan isak tangis katanya.

Tatkala aku mengetahui rencana keji tersebut betapa terkejutnya hatiku ketika itu, aku baru bersiap siap mengerahkan segenap kemampuan yang kumiliki untuk menyelidiki siapakah orang yang mengatur rencana besar itu. Maka akupun menyusup kedalam perkampungan Tay Bie San Cung dan bercampur baur dengan mereka. Disitu akupun berhasil mengetahui rencana busuk mereka yang lebih mendalam Tapi sayang pada saat aku hampir memahami sebagian besar dari rencana mereka, pada saat itulah dalam dunia persilatan tiba-tiba tersiat berita yang mengatakan aku telah menjadi anak buah si dukun sakti berwajah seram dari Lan ciang dan membunuh anak murid pelbagai partai besar.

OoodwooO