Imam Tanpa Bayangan II Jilid 05

 
Jilid 05

DENGAN CEPAT sinar matanya dipasang tajam tajam, nun jauh depan sana, dialas sebidang tanah datar melihat tiga sosok bayangan manusia sedang adu tenaga dalam dengan serunya. Ouw-yang Gong ingin loncat kearah situ tapi sacara tiba tiba terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang diangkasa, ketiga sosok bayangan manusia itu segera saling berpisah. Satu diantara ketiga orang itu terdengar menjerit keras lalu berteriak :

“Hoei-jie, aku tak dapat berjumpa lagi dengan dirimu, kau harus balaskan dendam sakit hati ini !"

Orang itu meraung keras, sebilah pedang panjang dengan berubah jali sekilas cahaya tajam segera meluncur kearah dinding tebing dihadapan mukanya.

Dua sosok ba>angan manusia yang ada disisinya mendadak bergabung jadi satu dan tertawa seram.

".Pek Tian Hong akhirnya kau modar jugal"

„Aduh cetaki !" seru Ouw ycng Gong didaiam hati. Rupanya kedatanganku terlambat satu langkah" Segera ia turunkan Pek Ia Hoei keatas tanah. Huncweenya digetarkan, sambil membentak keras badannya meluncur kedepan.

Dua sosok bayangan manusia tadi kelihatan rada tertegun tatkala menjumpai ada orang lalu berkelebat maju kearah barat. Dua orang itu segera memencarkan diri dan lenyap di balik kegelapan.

Pek In Hoei menjerit keras, tanpa memperdulikan keadaan disekelilingnya lagi ia lari kedepan, sementara air mata jatuh bercucuran membasahi wajahnya.

Raga manusia yang tertinggal tadi masih berdiri tenang ditempat semula, sedikitpun tidak berkutik, menanti Pek In Hoei menghampirinya, perlahan lahan roboh di atas tanah tak jauh Pek In Hoei sudah dapat mengenali bahwasanya bayangan manusia itu bukan lain adalah ayahnya yang tercinta sipedang Penghancur sang surya Pek Tian Hong, ketika itu seluruh badannya bermandikan darah segar, mulut luka bekas bacokan senjata tersebar dimana mana, bajunya compang camping tidak keruan dia mati dengan mata tidak meram

Menjumpai ayahnya mati dalam keadaan mengenaskan Pek In Hoei tak dapat menahan diri lagi, ia menjerit keras dan menangis tersedu sedu

„Ayah       ! Ooooh        !"

Air mata bagaikan bendungan yang jebol mengalir keluar dengan derasnya membasahi seluruh wajah.

Rembulan telah muncul diatas awan, bintang bertaburan dimana mana menambah semaraknya suasana dimalam yang sunyi, angin gunung berhembus sepoi sepoi menerbangkan rangkai daun serta rerumputan.

Pek In Hoei masih berlutut dihadapan jenasah ayahnya ia tidak bergerak maupun berkutik, seakan akan dia sudah melupakan segala sesuatu yang ada didaiam jagad ia tak mau tahu lagi dengan kejadian kejadian disekeliling tubuhnya.

Bibirnya terkancing amat rapat, air muka nya berubah jadi keren dan serius.

Lama .... lama sekali .... akhirnya bibir yang terkancing rapat mulai bergetar ia mulai berbicara ... ia bergumam seorang diri :

"Aku harus membalas dendam sakit hati. Aku harus membasmi orang orang jahanam itu . tapi ... tapi. aku

tidak tega membunuh orang

Suaranya serak tapi dingin sedih seolah olah baru datang dari kutup yang dingin dan kaku membuat samudra disekeliling sana seakan akan ikut membeku.

Sekujur badannya bergetar keras, hampir saja ia tidak percaya kalau suara itu berasal dari mulutnya, tapi tatkala teringat olehnya bahwa disini hanya dia seorang diri maka mau tak mau dia harus percaya juga

Aaaaaai........... ! Sianak muda itu menghela napas panjang, sinar matanya yaog sayu perlahan-lahan dialihkan ke tubuh Pek Tian Hong yang telah berubah jadi mayat.

Sekali lagi ia memperhatikan ayahnya yang mau dengan mata tidak meram, memperhatikan sekujur badan ayahnya yang penuh dentan mulut luka . . .

Tanpa terasa ia bergumam kembali dengan nada lirih.

„Dia adalah ayahku, ayahku yang selalu sayang kepadaku, memanjakan aku tapi selalu memberi pelajaran dan peringatan keras kepadaku. Dia suruh aku balajar silat luk melindungi diri sendiri, tapi dia sendiri ... akhirnya mati dikerubuti

Aaaaai .... siapa yang belajar silat ia akhirnya mati juga diujing golok..."

Rasa sedih berkelebat dalam benaknya, perubahan yang menimpa dirinya telah merubah sianak muda ini jadi bertambah murung

"Barang siapa belajar silat pada akhirnya ia mati juga diujung senjata" pikiran tersebut beberapa kali berkelebat dalam benaknya dengan rasa sedih la berpikir lebih

"Selama hidup aku paling benci belajar silat, aku tidak ingin menyaksikan peristiwa saling bunuh membunuh yang mengerikan tapi selama dua hari aku harus bergelimpangan terus diantara bau amisnya darah segenap anggota partai Tiam-cong dibasmi sampai mati ."

Ia gigit bibir dan meneruskan berpikir: "Dendam berdarah partai Tiam cong harus dituntut balas, dan kini ayahku sudah mati, semua tanggung jawab dan tugas berat ini terjatuh keatas pundakku, aku harus menuntutnya satu demi satu, maka aku tak bisa menghindarkan diri lagi dari tugas pembunuhan ini"

Wataknya yang halus, ramah, welas kasih dan budiman saling berbentrokan dengan sakit hati yang berkobar kobar, hal ini mem buat hatinya terasa amat tersiksa, seakan akan dua bilah pisau belati yang menusuk hatinya.

Sejenak kemudian ia mulai menjerit keras teriaknya : "Akan kubunuh semua orang orang itu, akan

memoleskan darah segar mereka diatas tanah."

Sepasang tangannya dikepal kencang kencang, air mata bercucuran bagaikan hujan gerimis, membasahi peluruh pipinya. Dia mendongak memandang rembulan yang tergantung jauh diawan, serunya dengsn rasa amat sedih:

"Aku bersumpah akan mempelajari ilmu silat yang paling jempolan dikolong langit lu harus menjadi jagoan yang paling lihai didalam jagat, kemudian akan kubunuh semua orang yang belajar silat.......". "Akan kubinasakan mereka semua dibawah pedangku "

Dari balik air mata yang mengembang dimatanya terpancar keluar sorot mata yang kukuh dan keras hati, membuat sianak muda ini kelihatan sangat menyeramkan.

Angin malam berhembus lewat disisinya tubuhnya, mengibarkan rambutnya yang kusut dan awut-awutan, perlahan-lahan dia angkat tangan kanannya membesut air mata yang menggenangi pipinya, kemudian berjongkok untuk membopong mayat ayahnya. Setelah itu bangun berdiri dan berjalan turun gunung.

Setelah melewati tanah rerumputan setinggi pinggang, ia berjalan masuk kedalam sebuah hutan. Malam semakin larut, narnun pemuda itu berjalan berjalan terus tidak berhentinya, gemerciknya daun kering terpijak kaki kedengaran begitu nyaring ditengah kesunyian yang mencekam.

Tiba tiba ia berhenti dan berdiri tertegun ditengah kesunyian telinganya secara lapat lapat menangkap tetabuhan suara khiem yang merdu merayu.

Begitu merdu suara itu sampai ia terpesona, kepedihan yang telah terpendam dalam hatipun kini terungkap kembali dia merasa kesedihan yang sedang dirasakan seirama dengan suara khiem tersebut ...

Lama sekaii Pek In Hoei berdiri termangu-mangu disini, entah sejak kapan dua baris air mata membasahi pipinya, tanpa sadar kakinya bergerak menuju kearah mana berasalnya suara khiem itu, sebab dia ingin tahu siapakah yang sudah memainkan irama lagu yang begitu sedih sehingga membangkitkan kedukaan orang

Makin jauh berjalan makin jauh ia meninggalkan hutan, suara khiem tadipun kedengaran makin dekat, kini ia sudah memutari sebuah tebing curam yang menjulang keangkasa dan tiba di depan sebuah gua batu berbentuk aneh

Mendadak ia berhenti, dengan sinar mata ragu ragu ditatapnya sebuah batu besar disebelah kiri.

Batu itu datar lagi licin bagaikan sebuah cermin, diatas batu tadi duduk seorang perempuan berambut panjang yang memakai baju serba hitam. Dibawah sorotan sinar rembulan tampak gadis itu seakan akan duduk ditengah kabut, potongan badannya yang ramping dan menggiurkan menandakan bahwa dia adalah seorang dara yang cantik jelita. Dihadapan gadis itu terletak sebuah khiem, angin malam berhembus lewat menggoyangkan jubahnya yang hitam menambah kecantikan serta keagungan orang itu.

Dengan termangu mangu Pek In Hoei awasi jubah hitam sang gadis yang berkibar tiada hentinya, tanpa terasa ia bergumam seorang diri:

„Gadis berbaju hitam duduk dibawah cahaya rembulan yang cerah, kesedihan yang mencekam serta irama khicm yang lembut merupakan suatu perpaduan yang sangat serasi

Tiba2 gadis berbaju hitam itu angkat kelima jarinya membentuk gerakan setengah lingkaran diudara kemudian menghentikan permainan khiem nya ia tertunduk dan menghela napas panjang.

Berat sekali helaan napas itu seolah olah nembentur hati Pek In Hoei yang mana segera ikut menghela napas tanpa sadar.

Setelah msnghela napas tadi, gadis ua mulai menangis terisak, bahunya goncarg keras, rambutnya yang panjang bergetar dan mengombak, hal ini mempertandakan bahwa ia menangis sejadi jadinya karena sesuatu yang amat menyedihkan hatinya.

„Persoalan sedih apakah yang menimpa gadis itu? Kenapa ia menangis tcrsedu-sedu begitu dukanya?" pikir Pek In Hoei didala, hati. "Apakah dikolong langit yang luas ini benar benar tiada sedikit kegembiraanpun? Benarkah segala penjuru dunia hanya ada kepedihan serta kedukaan belaka?"

Belum habis ia termenung, mendadak hatinya dikagetkan kembali oleh suara suitan yang amat nyaring. Dia cepat cepat angkat kepala, begitu . gadis berbaju hitam yang sedang menangis terisak itu, kapalanya didongakkan keatas dan memandang kearah Barat-laut.

Mengikuti arah sorotan mata gadis tadi, Tampak sesosok bayangan manusia berwarna abu abu laksana sambaran kilat berkelebat datang.

Dikala sianak muda itu masih terperanjat dan berdiri melengak, bayangan manusia tadi akan2 sehelai daun kering tahu tahu sudah layang turun dihadapan perempuan itu.

“Hmmmm!” gadis berbaju hitam itu segera mendengus dingin "Apa maksudmu datang kemari?”

Orang yang barusan datang tadi adalah seorang pemuda berpakaian ringkas warna abu dengan sebilah pedang tersoreng diatas punggungnya. Mendengar teguran tadi, ia segera menjura dan menjawab :

Keponakan murid Pay Boen Hay mendapat perintah dari suhu untuk datang kemari mengundang sukouw

Tutup mulut" hardik gadis berbaju hitam itu dengan suara keras, ia lantas duduk dan melanjutkan :

„Suhumukah yang suruh kau mengucapkan kata kata semacam itu. Hmmm. Perguruan Seng Sut Hay kami tidak terdapat murid macam kau ! ayoh cepat berlutut

Pay Boen Hay tertegun, segera bantahnya :

„Suhu dia orang tua segera akan.........

„Berlutut" tukas gadis berbaju hitam itu.

Pay Coen Hay kelihatan ragu ragu. namun akhinya ia jatuhkan diri berlutut

Gadis beibaju hitam itu segera mendengus. Hmmmm! pantangan pertama dari perguruan kita adalah dilarang bersikap kurang hormat terhadap angkatan yang lebih tua, apa berani melanggar dia harus dihukum mati. Kau anggap setelah mempelajari ilmu ilat perguruan lantas boleh malang melintang dengan sombong dan jumawa?

"Keponakan murid tidak berani" sahut Pay Boen Hay dengan serius, keangkuhannya ketika lenyap tak berbekas.

"Ehmm..! pergilah kau dari sini". "Sukouw, suhu dia orang tua sudah datang perkampungan Thay Bie san cung harap sukouw

Aku mengerti, kau boleh segera pergi dari sini!"

Perlahan lahan Pay Boen Hay bangun berdiri kemudian sekali lagi memberi hormat dengan penuh sungguh sungguh, tapi tatkala dia putar badan sinar matanya segera terbentur dengan tubuh Pek In Hoei yang sedang berdiri kurang lebih tiga tombak dari situ.

Pek In Hoei sendiri pun merasa kaget sewaktu berbenturan dengan sinar mata orang itu ia rasakan betapa tajam dan bengisnya Orang tadi sebelumnya ia sempat bertindak sesuatu terasa angin tajam berhembus lewat tahu tahu orang she-pay tadi satu sudah berdiri dihadapannya.

"Siapa kau?" hardik orang itu dengan suara dingin, tatkala sinar matanya terbentur dengan mayat yang ada di tangan Pek In Hoei ia kelihatan kaget bercampur tercengang.

Pek In Hoei bungkam dalam seribu bahasa, ia merasa pemuda ini bukan saja ganteng dan gagah perkasa, sayang bibirnya terlalu tebal dan senyumannya terlalu menghina, hal membuat dia sungkan untuk berhubungan denganl orang tadi. Melihat Pek In Hoei tidak menjawab Pay Boen Hay mendengus dingin lalu maju selangkah kedepan, tangannya bergetar kencang, pedang berkelebat lewat membentuk kuntum bunga pedang, ujung pedangnya menyambar robek baju yang dikenakan sianak muda itu.

Sungguh dahsyat serangan orang ini, hawa pedang yang tajam merasa menyayat badan membuat Pek In Hoei tidak tahan dan mundur selangkah kebelakang. Pay Boen Hay putar pedangnya masukkan kembali senjata itu kedalam sarung lalu jengeknya sinis :

"Hmmmm kiranya kau adalah manusia bisu"

Sewaktu menyaksikan dari balik pakaian Pek In Hoei yang robek tersambar pedang sama sekali tidak mengucurkan darah, kembali orang itu berseru tertahan.

Ia tercengang sebab tadi ia merasa bahwa ujung pedangnya sudah menembusi badan lawan sedalam dua coen lebih, namun pihak lawan sama sekali tidak mengeluarkan suara sebaliknya hanya mundur sambil membuka sedikit mulutnya, dia lantas mengira Pek In Hoei adalah bisu.

Tapi kini setelah menemukan pemuda itu tidak terluka, air mukanya kontan beiubah hebat

"Siapa kau?" segera bentaknya.

"Pek In Hoei!" sahut pemuda itu hambar mendadak suatu ingatan aneh berkelebat dalam benaknya, segera serunya dengan nada berat:

"Pek In Hoei dari partai Tiam-cong"

Pek In Hoei dari partai Tiam-cong? diantara partai Tiam- cong masih ada orang??". Partai Tiam-cong tidak akan musnah dari muka bumi untuk selamanya partai Tiam-cong selalu ada orang"

Sepasang biji mata Psy Boen Hay berputar, seraya memandang mayat yang ada ditangan anakk muda itu tegurnya:

"Siapakah mayat yang ada ditanganmu"

Tatkala menjumpai begitu banyak mulut luka yang membekas diatas tubuh Pek Tian Hong serta kematiannya yang mengerikan, terasa ia kerutkan sepasang alisnya, Pek In Hoei dapat melihat semua perubahan orang itu dengan cepat, ia melirik sekejap kearahnya dengan pandangan benci, mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

"Keparat cilik aku dengar dari partai Tiam-cong terdapat seorang jago yang disebut orang si pedang sakti penghancur sang surya Pek Tian Hong..." ia maju kemuka. "Apakah mayat yang ada ditarganmu adalah mayatnya?"

Sekujur badan Pek In Hoei gemetar keras tiba tiba ia teringat kembali akan perkataan ayahnya yang mengatakan ia diundang sigolok perontok rembulan Ke Hong serta si Bintang kejora menuding langit Boen Thian Bong untuk menaiki gunung Cing Shia.

Teringat pula akan ucapan Pay Boen Hay yang mengungkap soal perkampungan Tay Bie san-cung, tanpa terasa segara tanya nya :

Perkampungan Thay Bie San cung yang maksudkan tadi, apakah tempat tinggal sigolok perontok rembulan Ke Hong?"

Dengan sinar mata bengis dan sinis Pay Boen Hay memandang wajah Pek In Hoei, jengeknya berat : "Sungguh tak nyana sipedang sakti penghancur sang surya telah menemui kematiannya dengan begitu mengenaskan sampai sampai mayatnya tak ada tempat untuk mengubur!"

"Tutup mulutmu aku mau bertanya kepadamu, apakah Ke Hong pada hari ini anak gunung bersama-sama kau?"

Bajingan cilik yang tak tabu tingginya langit tebalnya bumi, Ke suheng sedang murung karena takut tak bisa membasmi rumput sampai seakan akarnya, aku lihai terpaksa cayhe harus mewakili dirinya untuk turun tangan melenyapkan dirimu !"

"Oooooouw..... jadi ini hari merekalah yang sudah menyusun rencana husuk untuk mancelakai ayahku disini!" raung Pek In Hoei dengan amarah yang berkobarz.

Dengan pandangan dingin Pay Boen Hiy melirik sekejap Pek In Hoei.

"Bocah keparat, tak ada gunanya kau mengetahui kejadian itu terlalu banyak, sebab kau bakal modar diujung pedangku"

Sambil tarik napas dalam dalam pedangnya dicabut keluar dari dalam sarung, diikuti cahaya tajam meluncur kedepan laksana sambaran kilat, tahu tahu ia tusuk tenggorokan Pek In Hoei.

Dalam pada itu pemuda she Pek tadi sedang bersiap siap menanyakan kejadian yang telahh menimpa ayahnya, mendadak pandangan matanya jadi kabur, cahaya pedang lawan telah menyambar tiba dengan hebatnya.

Tidak sempat melihat jelas datangnya, ancaman, dengan tergopoh gopoh pemuda itu menggerakkan badannya kesamping dengan maksud menghindari cahaya pedang yang menyorotinya. Pay Boen Hay yang melibat pihak lawan buang badannya kesamping sehingga bagian iga sebelah kanannya terbuka sebuah lubang kelemahan tak mau membuang kesempatan ini dengan sia sia. pergelangan secara ditekan bawah, ujung pedang berkilat membentuk sebuah jaiur yang sangat indah menusuk jalan darah Suo-sim-hiat ditubuh lawan.

"Bieeeeet..... diiringi suara robekan baju, ujung pedang itu dengan telak menusuk kedada Pek In Hoei.

Pemuda she-Pek itu mendengus dingin, ia merasakan dadanya amat sakit sehingga badannya terdorong satu langkah kebelakang oleh tenaga dorongan lawan.

"Aaaaaaa......I" Pay Boen Hay berseru kaget, dalam sangkaannya pihak musuh pasti akan mati terkapar keatas tanah setelah termakan tusukan kilat itu, siapa sangka Pek In Hoei hanya mundur selangkah kebelakang tanpa menunjukkan perubahan apapun jua.

Dengan hati terperanjat, pedangnya kembali didorong kemuka dengan gerakan kota genting terlanda salju, ujung pedang dengan berubah jadi serentetan cahaya tajam langsung menusuk kembali dada musuh.

Breeeeet....... sekali lagi baju Pek In Hoei robek tersambar senjata musuh dan bef kibaran tertiup angin.

Dengan adanya serangan terakhir, badannya tak kuasa menahan diri lagi, ia jatuh terjengkang keatas tanah dan mayat Pek Tian Hong yang berada dalam pelukanyapun ikut terlempar jatuh.

Sinar mata Pay Boen Hay berkilat tiba2 ia mendongak dan tertawa terbahak-bahak:

Haaah...haaah...haaaah... semula ake mengira kau telah berhasil melatih ilmu weduk yang tidak mempan terhadap bacokan senjata, sehingga hawa pedang serta tusukanku tidak berhasil membinasakan dirimu, kiranya kau telah memakai tameng mustika. balik bajumu

Air mukanya kontan berubah hebat, pedangnya diayun kembali siap membabat batok kepala sianak muda itu Mendadak.

"Criiiing.. criiing... dua sentilan irama khiem menggema diangkasa, sentilan khiem itu nyaring bagaikan pukulan martil yang mengena dalam lubuk hatinya, seketika itu juga seluruh tubuh Pay Boen Hay gemetar keras, jantungnya berdebar dan peredaran darah dalam nadinya bergolak, hampir hampir saja ia muntahkan darah segar.

Bukan begitu saja, bahkan pedangnya yang telah dipersiapkan untuk melancarkan babatan ikut bergetar dan akhirnya rontok ketanah.

Air mukanya segera berubah hebat, dengan cepat ia angkat kepala. Tampaklah bibi gurunya Kioe Thian Jien Sian atan sidewi Khiem bertangan sembilan Kim In Eng telah mempersiapkan kembali kelima jari tangan kanannya.

"Kau masib coba ingin turun tangan?" tegur gadis itu sambil menoleh.

Pay Boon Hay tarik napas dalam dalam.

Toa suheng mendapat perintah dari suhu untuk membinasakan sipedang penghancur surya Pek Tian Hong, sedang keparat ini adalah putra dari Pek Tian Hong!".

"Perduli siapakah dia, kau sudah tak dapat membinasakgn dirinya lagi",

"Kenapa?".

Kalau kau adalah anak   murid yang berasal dari perguruan Seng Sut Hay dalam tiga buah tusukan jika tak bisa mencabut nyawanya terutama sekali terhadap seieorang yang sama sekali tidak mengerti ilmu silat apakah kau tidak merasa malu"

Dengan hati mendongkol Pay Boen Haj menyimpan kembali pedangnya kedalam sarung, lalu ujarnya kepada diri Pek In Hoei.

"Bajingan c.lik! hitung hitung anggap saja nasibmu masih mujur, malam ini kuampuni selembar jiwa anjingmu. Hmmm apabila lain kali kau sampai berjumpa lagi dengan diriku, aku pasti akan mencabut jiwa anjingmul"

"Kalau kau punya nyali, ayoh laporkan namamu!" Teriah Pek ln Hoei pula dengan penuh kebencian, hawa nalsu membunuh mulai menyelimuti seluruh wajahnya. "Apabila dikemudian hari aku berjumpa pula dengan dirimu, aku tidak akan lupa untuk menghadiahkan pula beberapa bacokan keatas tubuhmu".

"Haaaah...... haaaah.......... . Haaah.       ".

Setan cilik, dengarkan baik baik. Sam-ya adalah sipemuda ganteng berpedang sakti Pay Boen Hay"

Pek In Hoei mendengus dingin, tiba-tiba merah darah yang ada diaias jidatnya memancarkan cahaya darah yang tajam dan gerikan sekali.

Gelak tertawanya kontan sirap, dengan pandangan terbelalak dan penuh rasa takut ia awasi bekas merah darah diatas jidatnya.

Hendak . . . suara tetabuhan irama khiem berbunyi kembali, begitu tajam suara itu sampai serasa menusuk kedalam tulang sum sum

"Kau masih belum pergi juga dari sini" hardik Kim In Fng dengan penuh kegusaran. Kau masih punya muka untuk tetap beradadisini? perguruan Seng Sut Hay tidak terdapat anak murid yang tidak tahu malu macam kau"

Pay Boen Hay jadi jeri, dengan sikap menghormat buru- buru ia menjura.

"Terima kasih atas nasebat serta petunjuk dari Sukouw !" "Hmmm ! kau merasa tidsk puas?"

"Sutit tidak berani !"

Kim In Eng mendengus dingin, jari tangannya menyentil diatas khiem dan berkumandanglah serentetan suara yang tajam dan nyaring

"Aaaaah !...." Pay Boen Hay menjerit kesakitan urat nadinya tergetar keras seakan-akan tertumbuk oleh irama khiem yaug tak berwujud tidak ampun lagi muntah darah segar.

"Sungguh tak kunyana ilmu permainan yang sukouw miliki telah mencapai yang begitu tinggi" Serunya kemudian berhasil menenangkan golakan darah dadanya. "Sutit merasa sangat beruntung bisa memperoleh pelajaran darimu!"

"Hmmm! jadi kau anggap aku sudah membela orang lain dan memusuhi anggota perguruan sendiri?"

"Tentang soal ini aku rasa dalam hatimu sudah merasa jelas sekali, tak usah diungkap lagi !"

"Haah... haaaah.... haaah....." menadak Kim In Eng tertawa seram." pun aku sudah membantu pihak partai Tiam-cong, suhumu bisa berbuat apa terhadap diriku?"

Ia tarik kembali gelak tertawanya yang sedap didengar itu, dan terusnya : "Dua puluh tahun berselang, karena persoalan sipedang sakti dari gunung Tiam-cong Cia Ceng Gak dia sudah tidak memperdu!ikan lagi hubungan persaudaraan diantara kita, apakah sekarang aku tidak boleh. melindungi anak murid partai Tiam-cong?" Kembali ia merandek, setelah tukar napas. terusnya dengan nada dingin :

"Keponakan muridnya telah kalian celak, sampai mati, cucu muridnya sudah sepantasnya kalau kulindungi keselamatannya, katakan saja kepada suhumu, barang siapa yang berani mengganggu Pek In Hoei, dia harus mencari aku lebih dahulu"

Pay Boen Hay tidak berani membangkan. Ia memberi hormat kemudian dengan mulut membungkam berlalu dari situ. Dengan termangu-mangu Pek In Hoei awasi bayangan punggung Pay Boen Hay yang lenyap dibalik kegelapan, ia lantas memberi hormat dan berkata

"Cianpwee, terima kasih atas budi pertolonganmu kepada diri boanpwee! budi ini takkan kulupakan untuk selamanya!" Dewi Khiem bertangan sembilan Kim In Eng bungkam dalam seribu bahasa, ia tak menjawab maupun berpaling, dengan pandangan dan sayu berdiri diatas tebing sambil awasi rembulan nun jauh diawang2. Lama sekali baru kedengaran ia menghela napas panjang dan bergumam seorang diri:

"Aiiiiiii Cia-lang, dapatkah kau mendengar jeritanku? dapatkah kau baca pikiran serta kepedihan hatiku? nafanya sedih dan penuh kepiluan membuat Pek in Hoei tidak tega untuk meninggalkan gadis itu seorang diri. dengan bimbang dan pikiran kosong ia ikut berdiri tertegun disitu, matanya awasi tubuh Kim In Eng dengan sinar mendelong. Perlahan-lahan Kim In Eng tundukkan kepalknya, lima jari mulai menari kembali memainkan tali senar khiem dalam pangkuannya.

Irama merdu berkumandang keangkasa, lagu yang dimainkan bernadakan sedih...... seolah-olah ia sedang menumpahkan segala isi hatinya kedalam irama lagu itu

Lama ......... lama sekali ia mainkan lagu itu, Pek In Hoei yang ikut mendengarkan lagu tadi tanpa terasa ikut meogucurkan air mata, ia ikut merasa sedih dan bayangan ayahnya yang tercintapun ikut muncul dalam benaknya

"Aaaaaaai!" ditenggah helaan napas yang panjang, permainan khiem berhenti dan suasana pun kembali diliputi oleh kesunyian.

Pek In Hoei makin tertagun, dalam benaknyaa masih terbayang kembali irama lagu sedih yang baru saja dimainkan gadis itu, lama sekali akhirnya ia ikut menghela napas. "Kau masih belum pergi?" terdengar gadis she Kim itu menegur. "Cayhe terpengaruh oleh irama khiem Cianpwee yang begitu merdu menawan hati, sampai sampai aku lupa keadaan sekelilingku, apabila ada hal-hal yang kurang harap cianpwee suka memaafkan"

"Aku tidak merapunyai banyak waktu untuk bicara tak berguna dengan dirimu, ayoh cepat enyah dari sini"

Pek In Hoei melengak, ucapan yang amat kasar itu kontan menimbulkan perasaan kurang senang didaiam hatinya, segera ia berpikir :

"Hmmm! berhubung kau saling mengenal dengan supek- couw-ku lagi pula sudah menolong jiwaku maka aku bersikap sangat menghormat kepadamu. Siapa kira sekarang kau bersikap becitu sinis kepadaku, dianggapnya aku lantas merengek-rengek ?" Sambil tundukkan kepalanya Pek In Hoei melepaskan jubah luar yang dikenakan-, lalu membungkus jenasah ayahnya baik-baik dan berlalu dari tempat itu.

Baru saja ia berjalan empat langkah dari sana tiba-tiba Kim In Eng berteriak kembali!"

In Hoei melengak dan segera putar dengan sorot mata keheranan diawasinya gadis tadi.

"Apakah kau anak murid partai Tiam-Cong?" tegur Kim In Eng sambil bangkit, perlahan-lahan ia bereskan rambutnya yang panjang. "Tentu kau kenal bukan pedang sakti dari partai Tiam Cong, Cia Ceng Gak?"

"Cio Ceng Cak adalah supek ayahku, telah lenyap sejak dua puluh tahun."

"Aku mengerti bahkan tahu juga kalau Dia sudah lenyap tak berbekas. Aaaaa.... diatas gunung Cing Shia Inilah mereka lenyapkan diri hingga sekarang"

Gadis itu merandek sejenak nenghela napas, lalu terusnya:

"Kalau didengar dari ucapanmu barusan seolah olah kau maksudkan bahwa dirimu bukanlah anak murid partai Tiam-cong?"

"Cayhe sama sekali tidak mengerti akan ilmu silat, tentu saja tak bisa dianggap sebagai anak murid partai Tiam-cong sebetulnya, namun"

Dengan sedih ia menghela napas. "Partai Tiam-cong sudah lenyap dari muka bumi sejak kini nama besarnya terhapus dala. dunia persilatan"

"Aaaaaah......!" rupanya Kim In Eng merasa amat terperanjat dengan kabar tadi sehingga dia berseru kaget, sesudah termenung beberapa saat ujarnya : "Sedikit ilmu silatpun tidak kau miliki, mana mungkin kau bisa balaskan dendam sakit hati partai Tiam-cong?"

"Dengan andalkan semangat serta kemauan yang kumiliki, aku bersumpah akan belajar ilmu silat nomor Wahid dikolong langit, aku pasti akan membalaskan sakit hati dari anak murid partai Tiam-Cong"

"Punya semangat....jenasah yang berada dalam pangkuanmu?"

In Hoei tundukkan kepalanya dengan sedih:

"Ini adalah jenasah ayahku tercinta, menemui ajalnya ksrena dikerubuti kurang lebih tiga puiuh orang jago Buliml"

"Aaaaai dendam serta budi yang ditinggalkan generasi berselang rupanya telah dituntut balas oleh generasi akan datang, saling dendam mendendam saling bunuh membunuh entah sampai kapan baru akan berakhir"

"Aku tahu, kesemuanya ini adalah hasil karya dari sigolok perontok rembulan Ke Hong yang bercokol diperkampungan Tay Bie San-cung"

Kim In Eng termenung sebentar lalu katanya :

"Kau naiklah kemari, aku ada perkata yang hendak disempaikan kepadamu"

Pek In Hoei rada sangsi, namun akhirnya sambil membopong jenasah ayahnya ia bertindak naik keatas tonjolan batu dati tadi dengan langkah lebar. Baru saja ia maju dua tombak jauhnya terdengar Kim In Eng nembentak :

"Hati-hati"

Bersamaan dengan ucapan tadi seutas ikat pinggang berwarna hitam meluncur datang laksana kilat, kemudian bagaikan ekor ular membelilit pinggang sianak muda kencang-kencang.

(Oo-dwkz-oO)

4

DALAM pada itu Pek In Hoes merasakan pinggangnya mengencang, diikuti sisi telingnnya mendengar deruan angin kencang, tahu tahu sekujur badannya sudah ditarik naik keatas batu oleh tarikan ikat pinggang berwarna hitami tadi.

Begitu tiba diatas batu, sianak muda itu merasa kaget, dalam hati pikirnya :

"Dia adalah kcnalan dari Supek-couw, nengapa usianya masih begitu muda?"

Kiranya perempuan yang berdiri dihadapanya saat itu bukan saja berwajah cantik, bahkan masih muda belia.

Alisnya yang tipis lagi panjang, bibirnya yang kecil mungil serta hidungnya yang mancung merupakan suatu perpaduan yang sangat serasi, mencerminkan kecantikan wajah seorang bidadari.

Dengan termangu-mangu pemuda itu berdiri melongo disana, untuk beberapa saat lamanya tak sepatah katapun yang berhasil diutarakan.

Menjumpai keadaan sianak muda itu, Kim In Eng meraba wajah sendiri dan menghela napas.

"Asaaaai      I aku makin bertambah tua"

"Tidak! Cianpwee     kau masih tampak muda '

Kim In Eng geleng kepala dan menghela oapaj kembali. "Pada usia lima belas tahun aku telah berjumpa dengan

dirinya, hingga kini dua puluh tiga tahun sudah lewat, setiap hari tiap malam aku selalu memikirkan dia, menangisi nasibnya yang jelek dan terjerumus dalam lembah kedukaan, siapa bilang aku tidak bertambah tua"

"Cianpwee, aku tidak bohong, kau benar-benar masih kelihatan sangat muda." seru Pek In Hoei dengan wajah merah padam,

"Ulat sutera akan berhenti mengeluarkan seratnya bila dia sudah mati, api lilin akan padam setelah sumbunya habis, aka tetap mempertahankan selembar jiwaku tidak lebih untuk perlahan2 mengenang kembali ke masa silam! Aaaaai . . . makin kini hatiku terasa makin pedih....." Ia melirik sekejap kearah Pek In Hoei katanya :

"Kau duduklah nak"

Pek In Hoei mengiakan dan duduk keatas tanah. Perlahan-lahan Kim In Eng pun duduk diatas tanah,

dengan tangan kanan ia peluk dan tangan lain menyentil senarnya? Rentetan irama merdu menggema diangkasa.

la berpaling memandang sianak muda itu, tegurnya :

Apakah kau ingin belajar ilmu silat?" Anak muda itu mengangguk, aku ingin belajar silat, sebab aku harus memmbalas dendam sakit hati ini"

"Maukah kau belajar ilmu silat dengan diriku ? Jadi anak muridku"

"Cianpwee, tolong tanya apakah ilmu silatmu merupakan ilmu silat yang paling lihay dikolong langit?"

Kim ln Eng tertegun, dengan cepat ia menggeleng.

Dalam kolong langit tidak akan ada ilmu silat yang paling lihay, siapa berani berkata bahwa ilmu silatnya nomor satu di dalam jagat?" Kalau begitu aku tidak ingin belajar silat darimu !"

Aku adalah anak murid dari perguruan Seng Sut Hay, kepandaian silat partai kami mengutamakan kelunakan, kelincahan serta bersumber pada tenaga lunak, meskipun belum bisa disebut sebagai ilmu silat nomor satu dida!am dunia, tapi jarang sekali ada jago didaratan Tionggoan yang dapat menandingi, kenapa kau tidak ingin belajar kepadaku?"

Aku telah tersumpah mempelajari ilmu silat yang paling lihay dikolong langit kalau tidak maka aku harus belajar ilmu penghancur sang surya dari partai Tiam-cong mengutamakan kekerasan, setiap digunakan hawa pedang menjelimuti rasa, kekuatannya luar biasa " mendadak sinar matanya redup bisiknya dengan suara lirih:

Ketika untuk pertama kalinya aku berjumpa dengan Cia- lang, dimana menggunakan ilmu pedang penghancur sang surya beradu kepandaian dengan toa suhengku Ku Loei, waktu itu dia berusia tiga puluh dua tahun, bukan saja ganteng dan gagah iapun berhasil mendapatkan gelar sebagai sipedang sakti.

Sinar matanya terang kembal ia menyapu sekejap sekeliling tempat itu lalu terusnya :

Aku dengan cinta kasih yang paling suci dari seorang gadis mencintai dirinya, kelembutanku akhirnya memperoleh balasan cinta yang setimpal darinya, setelah ia berhasil menangkan ilmu pedang Liuw Sah Kiam-hoat dari perguruan kami, aku lantas diajak berpesiar kemana-mana, kami berdua melewatkan suatu musim gugur yang amat panjang. Waktu itu merupakan musim gugur yang tak terlupakan selama hidupku, kami sama-sama menghitung daun kering yang gugur, bersama-sama menangkap kunang2, waktu   malam   membicarakan impian indah dimasa mendatang.

Wajahnya bersemu merah, dengan halus manja ia belai rambut sendiri yang panjang dan hitam, sambungnya :

Ketika itu dia paling suka dengan rambutku yang hitam dan panjang terurai ini, ia bilang dibalik rambutku yang panjang tersembunyi suatu rahasia yang dalam membuat dalam hatinya timbul banyak lamunan dan kenangan

Dari perubahan sikap serta air muka yangg diperlihatkan Kim ln Eng, pemuda kita bisa membayangkan betapa bahagianya perempuan ini bersama sipedang sakti Cia Ceng Gak dikala muda dahulu, waktu itu mereka berdua tentu saling sayang menyayangi dan melewatkan suatu hidup yang penuh kebahagiaan sehingga membuat Cia Ceng Gak akhirnya merasa berat untuk kembali ke Tiam cong .

Tiba tiba nada ucapan Kim In Eng berubah jadi gelisah ia meneruskan :

"Pada bulan ssembilan musim gugur tahun itu juga, delapan partai besar dari daratan Tionggoan dengan dipelopori oleh partai Sauw lim, Bu-tong, Hoa son serta Go bie mengundang jago jago dari lima partai lainnya untuk mengadakan pertemuan dipuncak gunung Cing-shia pada saat itula dengan menggembol pedangnya pergi"

„Sebenarnya dia berkata kepadaku bahwa besok sorenya dia akan balik lagi, tapi sampai musim salju yang amat dingin dan panjang itu sudah berakhirpun dia belum juga kembali hingga sekarang?"

air mata mulai membasahi matanya

Dengan sedih ia menyambung sejak dia pergi, aku merasakan kekosongan kehampaaa serta kesunyian yang tak terkira, setiap malam telah tiba dan aku pejamkan mata, bayangan tubuhnya selalu muncul didepan mata dia datang sambil membawa kegembiraan serta kebahagiaan yang tak terkirakan bagiku. Setiap kali kubuka mataku dia lenyap tak berbekas. Sambil meninggalkan kehampaan serta kesunyian yang makin menebal mata jatuh berlinang makin deras membasahi wajahnya dan menetes diatas wajahnya.

Malam semakin kelam embun makin tebal. . Aaaai Kabut telah tiba, bergerak mengikuti hembusan angin gunung." In Hoei berdiri termangu mangu bagaikan patung arca, ia awasi Kim In Eng dengan sorot mala melongo, dalam hatinya timbul pula rasa duka yang tebal

Diam-diam ia berpikir :

Seandainya suatu hari aku berhasil pula menemukan gadis yang benar-benar mencintai diriku, aku tidak nanti meninggalkan dirinya sehingga mendatangkan kesedihan serta kepedihan yang tak terhingga baginya

Tiba-tiba..... serentetan suara dengusan yang berat lagi nyaring hingga menggetarkan telinganya berkumandang datang.

Dengan terperanjat dia mendongak, sementara air muka Kim In Eng pun berubah hebat, ia awasi tempat kejauhan dengan wajah serius.

"Siapa yang telah datang?" sianak muda itu segera bertanya.

"Toa suhengku". " Couw suhunya Pay Boen"

"Benar" Kim In Eng mengangguk dengan wajah berat. "Dia adalah si Rasul pembenci Langit Ku Loei"

"Rasul Pembenci Langit. Rasul Pembenci Langit ?"

"Haaa --- haaaah .... haaaaah. " Suara tertawa yang amat mengerikan berkumandang keluar dari balik kabut menggetar seluruh lembah bukii tersebut.

Bocah, cepat bersembunyilah dibelakang tubuhku seru Kim ln Eng seraya menghampiri sianak muda itu. "Watak Toa suheng kurang baik, bukan saja ia kasar bahkan berangasan sekali, hati hati terhadap dirinya jangan sampai isi perutmu terluka oleh alunan irama harpanya

Kendati didalam hati Pek In Hoei merasa tidak begitu jelas apa sebabnya irama suara yang diperdengarkan dapat melukai orang, namun mau tak mau dia harus mem percayai akan kenyataan dari kejadian itu.

Sebab tadi, dengan mata kepala sendu ia saksikan isi perut Pay Boen Hay diluka oleh irama khiem sehingga muntah darah maka diapun percaya bahwa irama harpa dari sirasul pembenci langit bisa meluka puia isi perutnya.

Meski begitu, pemuda kita masih keliha an sangsi, untuk beberapa saat dia masih berdiri ditempat semula.

"Cepat bopong jenasah ayahmu dan se bunyikan kebelakang tubuhku" seru Kim In En g dengan nada cemas. "Sekarang dia masih berada lebih duapuluhtombak dari si kalau dia sudah ada tiga tombak jauhnya maka kau pasti akan teriuka ditangannya"

Pek ln Hoei tidak ragu ragu lagi, ia bowa jenasah ayahnya dan berjalan kebelakang Kim In Eng lalu duduk keatas tanah. "Bocah, kenapa kau tidak mengubur saja jenasah ayahmu disini? Daripada kau kerepotan sendiri?" tegur perempuan itu sen alis berkerut.

"Tidak, ayahku mati diatas gunung Cing-Shia aku tidak ingin mengebumikan jenasah ditempat ini." "Aaaai bocah, kenapa kau ingin cari susah buat dirimu sendiri?"

"Ih dimanapun saja, apa bedanya dikubur disini atau ditempat lain ?"

"Sumoay! bentakan keras laksana guntur disiang hari bolong bergetar diseluruh angkasa, dibalik buyarnya kabut muncul seorang kakek tua berjubah merah yang penuh cambang diwajahnya, matanya bulat gede seperti mata harimau perawakannya tinggi besar bagai raksasa.

Begitu tiba ditempat itu, dia lantas mengawasi baju hitam yang dikenakan Kim In Fng kemudian sambil menghela napas tegurnya:

"Sumoay, hingga kini kau masih berkabung untuk kematiannya?"

"Selama hidup aku cuma mencintai dia seorang, dia telah mati dicelakai kalian semua tentu saja aku harus terkabung baginya. Sepanjang hidupku tak nanti kukenakan pakaian dengan warna lain. Selama hidupku akan selalu berkabung bagi kematiannya"

"Sumoay, bukankah pandanganmu itu sempit bagaikan pandangan seorang bocah cilik? Coba katakan, apa sangkut pautnya antara lenyapnya Cia Ceng Gak beserta ketua delapan partai besar dengan diriku? Apakah kau anggap aku benar benar mempunyai kekuatan yang begitu besar untuk membinasakan mereka semua?"

"Diam. Kau jangan menganggap aku , seperti bocah cilik lagi, tahun ini umurku sudah hampir mendekati empat puluh, kau anggap aku masih sudi mempercayai obrolanmu itu.

Ku Lui mengerutkan alisnya "Coba kau lihat, selama banyak tahun kau telah ngambek dan tidak mau pulang ke Seng Sut-Hay, tidak mau mengikuti aku sebagai toa sukomu, bahkan mengecat khiem kuno hadiah suhu dengan warna hitam, apakah tingkah lakumu tidak mirip buatan seorang bocah cilik?"

"Hmmmm I Sejak dulu kan aku sudah bilang, aku sudah bukan anggota perguruan Seng Sut Hay lagi, kenapa aku harus kembali kesana ?"

"Perbuatanmu benar benar keterlaluan sekali, selama enam belas tahun kau selalu menghindari pertemuan diantara kita. Hay-jie yang kuutus untuk mencari dirimu, kau usir pergi bahkan ketika aku perintahkan Hay jie untuk mengundang kau mendatangi perkampungan Tay Bie San cung, isi perutnya kau lukai dengan irama khiem sehingga muntah darah"

"Dia tidak menghormati angkatan yang lebih tua, apa salahnya kalau kuberikan kepahitan buat dirinya ?"

"Tapi      tidak seharusnya kau lindungi orang lain " seru Ku Loei lalu tarik napas dalam dalam.

Sinar matanya beralih dari wajah Kim ln Eng menyorot Pek In Hoei yang bersembunyi dibelakang.

Tatkala matanya terbentur dengan tameng mustika diatas badan sianak muda itu, kakek berewok ini menunjukkan sikap tercengang dengan cepat perhatiannya dikumpulkan keatas wajah pemuda itu.

))00oodwoo00((