Imam Tanpa Bayangan II Jilid 03

 
Jilid 03

MENGIKUTI bergesernya tubuh sekilas bau busuk menyebar keangkasa, ampas tembakau yang masih terbakar dalam lubang hunewee itu tahu tahu meluncur keluar, menerobos sela sela telapak lawan menghantam dada lawan. Kakek tua berbaju hitam itu tidak sempat berkelit, seketika itu juga baju hitam bagian dadanya kena terhajar ampas tembakau tadi dan mulai terbakar. Dalam sekejap mata muncul sebuah lubang besar diatas jubah hitam kakek itu untung dengan cepat ia berhasil mendekamkan jilatan api sehingga selamatlah dia dari ancaman terluka.

Terdengar Ouw yang Gong mendongak, dan tertawa terbabak-bakak.:

".Haaaaaa...... haaaa...... haaaa.       racun?"

Tua sialan, bagaimana dengan gerakan Ular racun melepaskan kentutk u ini? Air muka kakek tua berbaju hitam itu kontan berubah jadi hijau membesi tangan kanannya balik menyentil, ampas tembakau yang masih menempel diatas bajunya segera rontok ke tanah.

"Ular asap tua kepandaian yang barusan kau tunjukkan benar benar mencerminkan rendahnya martabatmu. Hmmm, tak ubahnya seperti maling maling terkutuk."

Senyuman yang menghiasi wajah Ouw yang Gong kontan lenyap tak berbekas, air muka nya berubah jadi serius.

"Kentut busuk nenekmu . ... selama tujuh belas tahun aku harus menekan rasa marigkel dan dongkolnya terhadap dirimu, apa salahnya kalan sekarang kuperseni sebuah ketukan keatas tubuhmu? jangan kau bangkitkan kegusaranku. Hmmmm ! dari

pada kubakar lembah racun tengikmu ini sehingga jadi abu.

Dalam pada itu Pek In Hoei sudah dibikin melongo oleh makian makian o«ang aneh ini, dengan alis berkerut pikirnya : "Orang tua ini benar benar seorang makhluk anen, kalau bicara otaknya sama sekali tak pernah digunakan, bukan saja makiannya kotor bahkan tidak pakai aturan . .

"Sedang Hee Siok Peng dengan wajah cemberut telah berteriak ;

"Hey siluman tua, kau berani mencaci maki ayahku !". "Hmm kalau bukan sibisa tua kentut neneknya yang

mulai dulu    ".

"Kau berani maki ayahku dengan kata kata yang kotor? coba sekali lagi, akan kulihat

"Aaaaaaaaah... tidak berani, tidak berani nyonya muda, harap kau suka maafkan diriku !

"Dengan menjulurkan lidahnya, cepat cepat Ouw yang Gong menjura Menyaksikan tingkah laku yang aneh itu Pek In Hoei merasa tercengang, ia heran kenapa Ouw yang Gong yang memiliki kepandaian silat amat tinggi ternyata begitu takut dengan Hee Siok Peng.

Sementara itu sikakek berbaju hitam itu sudah alihkan sinar matanya kearah Pek In Hoei, ia mendengus dingin.

"Hey keparat cllik ! kaukah yang memutuskan sarang laba laba dan melepaskan sisetan ular asap ini ?".

"Heeeeh... heeeeeh... hceceeh... kau kira aku bisa kau kurung selama delapan puluh tahun Sehingga modar dalam gua itu?" Ejek Ouw yang Gong dengan nada bangga. "Tak nyana bukan akhirnya muncul juga seorang bocah yang tak pandai ilmu silat untuk menolong aku lolos dari kurungan?".

"Hmmm ! siapa kau ?? secara bagaimana kau bisa tiba disini." Kakek berbaju hitam ini tidak menanyakan apakah Pek In Hoei pandai bersilat, jelas hal ini menunjukkan bahwa ia percaya pada setiap patah kata yang diutarakan Ouw yang Gong. Sebab selama tujuh belas tahun dengan andalkan kedelapan lembar sarang laba laba itu ia berhasil mengurung manusia aneh itu tidak mungkin setelah lewat sebegini lama tiba tiba saja ia ingkar janji.

Pek In Hoei yang ditegur cuma melirik se kejap kearah kakek berbaju hitam itu, kemudian sama sekali tidak menggubris.

Air muka Kakek berbaju hitam itu kontan berubah jadi membesi, kulit wajahnya berkerut kencang.

"Siok Peng, bagaimana caranya ia masuk kemari?" hardiknya.

"Ayah, dia... dia..." merah jengah selembar wajah Hee Siok Peng.

"Hmrnmmm ! kenapa dia ?? ayoh cepat jawab!".

Menyaksikan keadaan Hee Siok Peng yang patut dikasihani, timbul perasaan tidak enak dalam hati Pek In Hoei, dengan cepat ia ms nyela :

"Cayhe Pek In Hoei datang kemari dengan berjalan kaki

!"

"Darimana kau datang? bagaimana cara mu menyusup

kemari?" kembali kaksk berbaju hitam itu menghardik, sementara tangan kanannya perlahan-lahan diangkatnya keatas

Hey cucu monyet situa bangka berbisa, kau hendak menganiaya bocah cilik" Teriak Ouw yang Gong. "Reeeeeb... heeeeh... heeeh ... kau harus ingat bahwa dia sama sekali tak mengerti akan ilmu silat !". Telapak tangan kakek berbaju hitam yang diangkat ketengah udara itu lambat laun berubah jadi hitam pekat, dibawah sorotan sinar sang surya tampak sangat mengerikan.

Heeeeeeh... heeeeeeh... heeeeeeh... ilmu pukulan beracunmu tetap seperti sedia kala, sudahlah tak usah kau pamerkan kekuatanmu di depan mata seorang boanpwee" ejek

Ouw yang Gong kembali."Mari... mari.sini akan ku jajal keiihayanmu itu, aku mau tahu apakah ilmu pukulau beracunmu mendapat banyak kemajuan !'

Bicara sampai disini ia tarik Pek In Hoei kebelakangan dan tambahnya ;

"Ayoh cepat menyingkir kesamping situa bangka berbisa ini lebih keji dan seekor srigala, justru karena hatinya licik dan pikirannya jahat itulah maka ia berbasil jadi ketua? dari perguruan Seratus racun

"Apa ? dia adalah ketua dari perguruan! Seratus Racun??

Jadi Hee Siok Peng    ".

"Tolol benar kau ini apa kau benar tidak tahu kalau sisetan cilik berakal cerdik itu adalah anak gadis tua bangka ini? dia anak si Rasul bisa Hee Gicmg Lam".

Biji matanya berputar, dengsn bibir senyum tidak senyum terusnya:

"Aku pun sama sekali tidak mengira kalau? situa bangka beracun cucu kunyuk ini bisa mempunyai seorang anak yang cantik jelita bagaikan sekuntum bunga mawar, Heeeeeh...

heeeeeeeh... heeeeeeeeh..... rupanya inilah keuntungan serta kejujuran nenek moyang cucu kunyuknya Selama Ouw yang Gong, mengucapkan beberapa patah kata itu, air muka si Rasul bisa Hee Gong Lam telah berubah beberapa kali hampir hampir saja ia muntah darah saking gusarnya. Sambil meraung keras teriaknya :

"Setan asep tua, rasain sebuah bogen mentahku !".

Padannya meluruk kedepan, segulung angin pukuian yang tajam bagaikan bauatan golok disertai bau amis yang memuakkan segera menyambar kemuka.

"Cepat mundur rada jauhan dari sini!' Seru Ouw yang Gong sambil tarik Pek In Hoei mundur sepuluh langkah kebelakang. .Jangan biarkan badanmu termakan oleh angin pukulan beracunnya yang jahat

Sembari berbicara huncwee gedenya diselipkan kedalam pinggang, lalu dengan mendorong sepasang telapaknya ia sambut datangnya ancaman.

Angin pukulan berpusar yang maha dahsyat segera menyambar kedepan, diiringi desiran tajam la sambut datangnya serangan lawan.

Bruuuk .... Bruuuk . . . Buuuuk dalam tiga kali bentrokan dahsyat badan Ouw yang Gong maju delapan langkah kemuka secara beruntun, diatas permukaan tanahpun muncul delapan buah bekas telapak kaki yang dalam dan nyata.

Sungguh mengerikan telapak tangan Hee Giong Lam, kian lama warna hitam yang muncul diatas tangannya berubah semakin pekat, sorotan mata yang buas dan bengis menyeramkan bagi yang memandang otot otot hijau yang besar dan kasar menonjol keluar diseluruh badan.

"Hmmm !" Ouw yang Gong mendengus erat, bulu kambing berwarna pulih diatas ekujur badannya pada menegang keras, seakan2 duri landak yang menghadapi bahaya. Butir2 keringat sebesar kacang kedele membosahi wajah Hee Giong Lam, air muka semakin lama berubah semakin pucat.

Tiba2 rambut Ouw yang Gong yang awut awutan menegang semua, bagaikan banteng mengamuk ia menerjang kemuka, sepasang telapak digetarkan keluar dan bentaknya keras keras:

"Pergi kedalam liang kubur nenekmu!"

Kaki Hee Giong Lam jadi gontai, termakan oleh tenaga dorongan yang maha dahsyat tadi kontan badannya melayang sepuluh tombak kehelakang dan hampir2 saja roboh keatas tanah.

"Hmmm! selama tujuh belas tahun tidak berjumpa, ternyata ilmu pukulan beracunmu tak memperoleh kemajuan apapun jua jengek manusia aneh itu seraya menghembuskan napas panjang.

Badannya maju semakin kedepan, seraya ayun huncweenya tiba2 ia membentak kembali :

"Coba kaupasn rasakan jurus seranganku ini ".

Bayangan huncwee menyambar lewat, dari suatu posisi dan arah yang sangat aneh ia lepaskan satu serangan maut, perawakan badannya yang tinggi berputar kencang bagaikan sebuah kitiran, seketika itu juga bayangan huncwee jadi kabur dan memusingkan pandangan

Hee Giong Lam mendengus berat, badan nya mundur sempoyongan kemudian berjumpalitan sampai beberapa kali, tak bisa dikuasai lagi badannya terlempar sejauh tujuh kaki lebih. "Ayah!" jerit Hee Siok Peng, Tak bisa ditahan tagi ia lari menghampiri kakek tua itu.

Dengan wajah hijau membesi Hee Giong Lam loncat bangun dari atas tanah,

"Kepandaian apakah yang kan pergunakan?" teriaknya. "Heeeeeeh... heeeeeh... heeeeeh... kenapa sih? Oooh I

kurang cukup jatuh  berjumpalitan  sebanyak empat puluh

kali?" Ouw yang Gong sambil tertawa mcnyengir. "Hmmm! seandainya aku tidak memandang diatas wajah putrimu yang kau sayangi, dari tadi aku sudah suruh kau rebah terlentang aiatas tanah l".

"Hmmm ini hari, kaupun jangan harap bisa keluar dari lembah Seratus Racun dalam keadaan selamat sinar matanya berkedip, tambahnya: "Disekitar tempat ini aku sudah persiapkan dua ratus orang anggota perguruanku mereka telah bersiap sedia menyambut kau dengan lima buah basisan beracun. Heeeh..... heeeeeh..... heeeh . . sekalipun kau punya, tidak nanti dapat lolos dari sini tanpa kekurangan sesuatu apapun jua .Hee Giong Lam masih ingatkah kau dengan perjanjian yang telah kita tetapkan pada tujuh belas tahun berselang?"

.

"Siapa yang lupa dengan janji? bukankah kita sudah berjanji asal kau dapat menahan daya kerja racunku selama dua hari maka akulah yang dianggap kalah, kalau tidak kau sendiri yang harus masuk kurungan, sebelum ada orang yang tak pandai bersilat memutuskan sarang laba laba diluar gua, kau tak boleh keluar dari tempat itu

"Haah...... haaah..... haaaaah....."         I "sekarang? bukankah aku berhasil ditolong oleh seorang yang tak mengerti silat dan berarti aku sudah bebas merdeka

"Sedikitpun tidak salah" Dengan pandangan bengis dan mendongkol Hee Giong Lam melirik sekejap ke arah Pek In Hoei.

"Hey manusia laknat ! "Teriak Ouw yang Gong dengan wajah senus. "Perbuatanmu ini. bukankah sama halnya telah mengingkari janji?"

"Siapa yang ingkar janji? bukankah aku tak pernah berkata bahwa aku akan melepaskan orang yang telah menolong dirimu itu !"

Oow yang Gong melengak, hawa gusar seketika itu juga memuncak, dengan alis berkerut makinya :

"Tua bangka beracun yang tak tahu diri, keturunan kunyuk jelek! hebat sekali aroma tusukmu, tidak aneh kalau Siauw Hong..."

"Apa kau bilang? kenapa dengan Siauw Hong?" Air muka si rasul bisa Hee Giong Lam kontan berubah hebat, sorotan mata bengis memancar keluar dari sepasang matanya.

Rupanya Ouw yang Gong sadar bahwa ia sudah terlanjur bicara, mulutnya segera membungkam sementara tangan kirinya garuk garuk kepala yang tidak gatal.

Dalam pada itu Hee Giong Lam telah mendesak maju semakin dekat, kembali ia berteriak:

"Hey siular asep tua, kalau kau tidak terangkan sampai jelas maksud perkataan itu, ini hari juga aku akan mengadu jiwa dengan dirimu, meskipun perguruan seratus racun harus musnah, tidak menanti kubiarkan kau berlalu dari sini!".

"Manusia she Hee I tak usah kau jua! lagak dihadapanku

! akan kusuruh kau rasakan lagi kelihayan dari jurus membolak balik jagadku, agar kau rasakan lagi bagaimana kalau badan terbanting sampai dua belas kali".

"Ehmmm, tak kunyana selama terkurung disini tujuh belas tahun lamanya, ternyata kau berhasil melatih kepandaian silat semacam ini

Matanya melotot, dengan gemas terusnya:

"Tapi kalau kau ingin mengandalkan kepandian tersebut untuk tinggalkan tempat ini

hmmm masih belum cukup, kecuali kalau kau bisa membinasakan segenap anak murid perguruan racunku !"..

"Ayah kenapa kau" Teriak Hee Siok Peng dengan badan gemetar keras.

"Enyah dari sini!" Tukas Hee Giong Lam sambil balik badan. "Siapa suruh kau banyak mulut ditempat ini?".

Hee Siok Peng kelihatan melengak dan berdiri melongo, akhirnya sambil menutupi wajahnya menangis ia lari dari situ.

Pek In Hoei jidi amat gusar menyaksikan hal tersebut, mendadak ia maju kemuka dan membentak keras :

"Tunggu sebentar"

Dengan pandangan tercengang Hee Siok Peng berhenti dan menoleh kebelakang, titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya yang halus.

Sinar mata Pek In Hoei perlahan-lahar beralih dari atas tubuhnya yang halus keatas wajah Si Rasui Bisa Hee Giong Lam, rasa gusar yang membara dalam hatinya melenyapkan rasa jeri dan takut dalam hati sianak muda ini, bentaknya dengan nada berat

"Kau seorang ketua dari suatu perguruan besar ternyata tak bisa membedakan mana benar yang dan mana yang salah, tidak menepati janji, sudah salah masih saja menyusahkan Ouw yang cianpwee. Hmmm ! begitukah tingkah laku seorang Bulim Cianpwee sungguh tidak tabu malu ! pipimu betul betul tebal"

"Keparat cilik, apa kau bilang?" Teriak Hee Giong Lam dengan gusarnya.

Aku bilang kau tidak tahu malu, martabat kau sangat rendah, sudah tahu salah masih ngotot saja . Hmmm kau hendak gunakan nyawa segenap anak murid perguruan racunmu untuk kepentingan pribadi kau sendiri .

"In Hoei . . " jerit Hee Siok peng.

Sesosok bayangan hitam bagaikan seekor burung rajawali, dengan disertai bau amis yang memuakkan menggulung datang, begitu dahsyat daya tekanan itu menghantam datang sehingga membuat mulut sianak muda itu seketika terbungkam,

"Kawanan tikus, kau berani maini bokong!" hardik Ouw yang Gong penuh kegusaran.

Serentetan bayangan huncwee menyambar keluar, desiran angin pukulan yang maha dahsyat tadi seketika terbendung, seakan akan hembusan angin yang berjumpa dengan diniding besi, sama sekali tak dapat ditembus?. Bayangan hitam kembali meluncur keluar dengan tajamnya, diikuti bayangan pertama terlempar kebelakang dan roboh ketanah.

"Aaaaaaah......" Di tengah jeritan ngeri yang menyayatkan hati, telapak kiri Ouw yang Gong secara beruntun telah saling beradu enam kali dengan telapak Hee Giong Lam.

"Tua bangka berbisa yang tak tahu malu kau betul betul manusia rendah yang tebal muka" makinya penuh kemarahan. "Hmmm masa terhadap seorang bocah yang tidak pandai bersilatpun kau tega turun tangan sekeji dan sekejam itu !"-

Hee Giong Lam menyusut mundur kebelakang, dengan cepat ia berpaling, tampak Tong-cu ruang tengah ketiga anak buah si-cecak merah telah menggeletak mati diatas tanah termakan sapuan dahsyat Ouw yang Gong.

la tertawa seram, suitan nyaring segera berkumandang ditengah angkasa . . . dalam sekejap mata segenap anak murid perguruan yang berdiri mengurung dikejauhan sama- sama meluruk datang.

"Atur barisan ular hijau dan berisan kelabang emas!", Bentaknya keras, kemudian ia berpaling dan bertanya "Tongcu Kodok putih Bong Giok Keng, di mana kau?".

"Bong Giok Keng menanti perintah " seorang kakek tua berperawakan kurus kering tampil kedepan dan menjura.

"Kemarin malam kau sudah repot semalam gunung Tiam Cong, sekarang boleh membawa segenap anak buahmu untuk pergi beristirahai".

"Terima perintah dari boencu (ketua)" kakek kurus itu memberi hormat." hadiah dua lembar Hok Leng berusia seribu tabun serta iga keranjang tawon bersayap hitam berekor emas dari Go Kiam Lam ketua dari perguruan Boe Liang Tiong telah tecu bawa

pulang dan serahkan kepada Beng Tiang Keng.

Hok Leng adalah sejenis jamur yang besarnya seperti kepalan berkulit hitam lagi berkerut dan berdaging putih kemerah merahan jamur ini bisa dipakai sebagai bahan obat

"Ehmmm, aku sudah tahu, sekarang bcleh pergi beristirahat".

Menyaksikan Si kodok putih Boog Giok Keng hendak pergi dari situ. Pek in Hoei jadi gelisah, buru-buru teriak-ya

:

"Berhenti! apakah kau mendapat undangan dari Go Kiam Lam uniuk pergi kegunung Tiam-cong.

Bong Giok Keng berpaling dan memandang sekejap kearah Pek In Hoei dengan pandangan dingin, ia mendengus dan wajahnya memperlihatkan pandangan hina.

"Apakah tak ada anggota Tiam-cong-pay yang berhasil lolos dari maut"

Kembali sianak muda itu bertanya. "Hmmm! Tiga ratus orang anggota perguruan Tiam cong telah terbasmi semua di muka bumi, tak seorangpun dianantara mereka berhasil lolos dari cekikan racun atau api serta bacokan senjata. Sejak kini partai Tiam-cong akan lenyap dari dunia persilatan !."

Pek ln Hoei merasakan hatinya bergetar keras, kepalanya langsung jadi pening, tangannya herkunang kunang dan hampir saja ia jatuh tidak sadarkan diri. matanya basah kobaran rasa dendam membakar dalam hatinya. Dengan pandangan membenci ia awasi wajah Bong Giok Keng, lalu serunya dengan keras :

"Akupun akan memusnahkan sejenap orang yang ada didalam psrguruan beracun akan kulenyapkan perguruan seratus racun ini dari muka bumi"

Ia perpaling kearah Hee Giong Lam, de ngan pandangan gusar teriaknya kembali: Orang she Hee, tunggu saja saatnya !"

"Heeeh.... heeeh....heeeh... keparat cilik Kaupun anggota partai Tiam Cong?"

"Kau tak usah banyak bertanya, dalan lima tahun mendatang aku pasti akan membunuh kau dengan tanganku sendiri!"

"Ooouw.... tidak !" jerit Hee Siok Peng. "Pek Ia Hoei I Kau tidak boleh ber buat begitu !"

"Bong Giok Keng.." bentak Hee Giok Lam, "Seret dia pulang dan serahkan kepada gurunya

Bong Giok Keng mengiyakan, ia segera tangkap anak gadis itu dan diseretnya pergi dari sana.

Dalam pada itu Pek In Hoei tidak berani terlalu lama memandang kearah Hee Siok Peng yang digusur pergi sambil menangis, ia sendiri tundukkan kepalanya rendah- rendah titik airmatapun tanpa terasa mengalir keluar membasahi wajahnya. Dalam hati ia bergumam seorang diri:

"Antara aku dengan kau telah berubah menjadi musuh besar, aku tak dapat berjumpa lagi dengan dirimu ...". "Boiklah baik, sudahlah jangan menangis lagi." Buru buru Ouw-yang Gong menghibur? sambil menepuk bahu pemuda tersebut. Kalau kau benar benar senang dengan onak itu, apa yang perlu kau takuti lagi? Aku pasti akan memobntu dirimu dengan segenap tenaga."

"Heeh .. heeh ..... heeh....mau pergi dari sini? Tidak gampang Jengek Hee Giong Lam dengan wajah bijau membesi. Ini hari, jangan harap kalian bisa berlalu Sini dalam keadaan selamat"

Ia ulapkan tangannya, para anggota perguruan seratus racun sambil membawa sebuah tabung bambu perlahan- lahan maju mendekat.

Sinar mata Ouw-yang Gong berkilat, dengan pandangan remeh ejeknya:

"Kau hendak menggunakan binatang binatang berbisa itu untuk menahan kami berdua, jangan mimpi disiang hari bolong."

Hee Glong Lam tidak menggubris ocehan dari manusia she Ouw-yang itu., kembali teriaknya keras keras "Ular beracun keluar dari gua, kelabang emas terbang keangkasa"

Mengikuti teriakan tersebut, anak murid perguruan seratus racun yang berada dibarisan paling depan sama sama melemparkan tabung bambu yang mereka cekal keatas tanah, dalam sekejap mata beratus ratus ekor ular kecil berwarna emas menyusup keluar dari dalam tabung bambu itu

"Ngiiing ... " suara aneh yang sangat memekikan tslinga secara tiba tiba menggema diseluruh angkasa, cahaya keemas emasan mulai menyelimuti udara dan entah berapa ribu ekor binatang bersayap emas segera menutupi cahaya sang surya.

Dengan cepat Pek in Hai menengok keatas ia lihat binatang kelabang berwarna emas telah memenuhi seluruh angkasa, bunyi aneh tadipun berasal dari makhluk beracun ini, air mukanya kontan berubah bebat.

Ouw-yang Gong tidak menjadi gugup dengan cepat ia merogoh kedalam sakunya ambil keluar sebuah benda berwarna perak pada sianak muda itu serunya: "Hey bocah, cepat kenakan tameng kulit emas berwarna perak ini

Pek In Hui sambut benda tersebut yang terbentuk kaus singlet tapi lunak dan berwarna perak sementara ia masih ragu ragu untuk mengenakannya dibadan, terdengar Hee Giong Lam sudah membentak keras:

"Bajingan asep tua Kau berani mencuri mustika pelindung badanku ?"'

Ouw-yang Gong tertawa mengejek, ia putar huncweenya melindungi sekeliling tubuhnya, sedang kepada In Hoei kembali ia berteriak "

"Bocah cilik, ayo cepat kenakan pakaian pelindung itu, kalau tidak kau akan mati tergigit binatang beracun itu"

Pek In Hoei tidak berani membangkang lagi, cepat cepat ia kenakan mustika pelindung badan itu keatas badannya.

Melihat sianak muda itu sudah mengena kan mustika tadi dengan peouh rasa bangga Ouw-yang Gong berseru lagi:

"Aku telah membuat sebuah lorong bawah tanah yang menghubungkan ruangan itu dengan gudang hartamu, semua barang sang paiing berharga dan paling bagus dalam gudang itu sudah kuambil semua I

"Hmmm...... coba kau lihat, hioloo kecil dari ahala Toan, piring porselen dari jaman dinasti Han " Sambil berbicara satu demi satu ia ambil keluar barang barang antik yang tak ternilai harganya itu, setelah ditunjukkan segera dimasukkan kembali kedalam saku.

Hee Gioag Lam sebagai ketua perguruan seratus racun memiliki ilmu menggunakan racun yang sangat lihay sehingga disebut orang sebagai Rasul bisa, selama hidup belum pernah ia dihina dan dibikin malu orang seperti ini hari, setelah tadi dibikin jungkir balik dan sekarang diejek pula dengan kenyataan yang memalukan, darah panasnya kontan bergolak, hampir hampir saja ia muntah darah.

Mimpipun si Rasul bisa tidak pernah menyangka kalau Ouw yang Gong bisa menggali sebuah terusan dibawah tanah yang menghubungkan tempat dimana ia dikurung dengan gudang harta bahkan mencuri barang barang antik kesayangannya, untuk sesaat saking dongkolnya tak sepatah katapun bisa diucapkan keluar.

Melihat musuhnya dibikin keki Ouw-yang Gong semakin kegirangan, kembali ia mengejek:

"Kita sudah hidup bersama hampir tujuh belas tahun lamanya, menurut peraturan sudah sepantasnya kalau kau beri sedikit hadiah kepadaku sebagai tanda mata atau kenangan dari peristiwa ini, karena berpikir begitu maka aku lantas memilih sendiri barang barang yang kusenangi untuk dijadikan sebagai tanda mata. "

"Heei tua bangka beracun, perbuatanku ini tentu saja tidak salah bukan dan aku kira tidak sampa melanggar tata kesopanan bukan?".

"Kentut nenekmu yang busuk !" desis Hee Giong Lam, dengan wajah merah membara

ayun tangannya kebawah dan teriaknya : "Tongcu laba laba hitam Liong Cay Thian, Tongcu ular hijau Gi Peng, Tongcu kelabang emas Ku Hong, Tongcu kadal biru Bong Ci Pauw, dengarkan perintah"

Empat orang kakek tua yang memakai empat macam warna baju berbeda dan berdiri di belakangnya segera sama sama menjura.

"Menanti titah dari Boen-cu"

Cincin besar berukirkan kepala setan yang dikenakan pada jari tengah tangan kanannya segera digetarkan kesamping hingga memancarkan cahaya kebiru biruan, dengan wajah berkerut menahan emosi, teriaknya dengan suara dalam :

"Atur Barisan besar selaksa racun "

.

Si Tongcu laba-laba hitam Liong Cay Thian bersuit panjang, dengan cepat badannya berjumpalitan kearah sebelah utara, disusul Si Tongcu ular hijau Ci Peng mendengus dingin, badannya bergeser kearah Timur, Si Tongcu kelabang emas Ku Hong bersuit aneh, ia loncat kearah Selatan, sedang si Tongku kadal biru tanpa mengeluarkan sedikit suarapun bergeser kearah Barat.

Gerak gerik mereka dilakukan sangat cepat, dalam sekejap mata segenap anak murid perguruan seratus racun telah berdiri pada posisinya masing masing, semua perhatian dicurahkan ketengah kalangan dimana Ouw yang Gong berdiri sambil cengar cengir.

Ini hari, aku akan membuat mayat kalian tidak utuh, akan kuhancurkan kamu berdua hingga jadi abu...." jerit Hee Giong Lam sambil gigit bibir. "Tua bangka beracun yang keji, kau sudah kurung diriku begitu lama, membuat aku merasa kesepian dan tersiksa seorang diri, ini hari aku tidak membunuh kau sudah untung, masa sekarang malahan kan yang mau menghancurkan kami otakmu sebenarnya ada dimana?".

Hee Giong Lam tidak ambil perdulikan, ia membentak keras. Dalam sekejap mata irama seruling yang lembut dan merdu merayu berkumandang diangkasa, mengikuti itu ular ular yang ada disekeliling sanapun sama-sama angkat kepala dnn merangkak kedepan.

Suara dengungan memenuhi angkasa, kelabang emas yang jumlahnya entah berapa itiupun sama-sama mulai melancarkan serangan udara yang luar biasa bebatnya.

Ouw yang Gong membentak keras, telapak kiri diputar satu lingkaran besar lalu menghantam keluar, angin pukulan tajam bagaikan babatan golok seketika itu juga berpuluh puluh ekor kelabang emas jatuh berhamburan keatas tanah.

Sementara itu tangan yang !ain dengan cepat merogoh kedalam saku ambil keluar sebuah botol porselen berwarna hijau.

"Setan asep tua apa yang kau keluarkan?" Bentak Hee Giong Lam gusar.

"Hmmm I dupa wangi liur naga dari Lam Hay".

Sambil berkata dengan cepat ia buka tutup botol porselen itu kemudian menuangkan sejenis bubuk kedalam pipa huncweenya.

"Cepat tarik semua kelabang emas yang ada diudara " Dengan hati cemas Rasul bisa berteriak, "Heeeeeeeeb..... heeeeeeeh...... heeeeh.      Sayang sekali

peringatanmu sedikit rada terra bat

Sambil menjengek batu api yang telah disiapkaa segera menyulut bubuk putih tersebut segulung asap berbau wangi seketika yebar keempat penjuru....

Tercium bau wangi itu, kelabang kelabang yang sedang mempersiapkan serangan lari secara besar besaran itu mendadak gaduh lalu kacau balau, sayapnya sama sama terkatup dan satu demi satu jatuh rontok diatas tanah.

Pek In Hoei sendiri seketika merasakan dadanya jadi lapang begitu mencium bau wangi

yang amat tebal itu, tanpa terasa ia menghisap bau wangi tadi dalam dalam

Sinar mata Ouw yang Gong berkilat, menyaksikan Pek In Hoei sedang menghirup udara dalam dalam, dengan gusar ia memaki telapaknya langsung diayun menggampar pip sianak muda itu.

"Ploocoook! tubuh Peh In Hoei mencelat kebelakang dan hampir saja jatuh terjengkang, alisnya kontan berkerut.

"Eeeeei.    kenapa kau goblok aku?"

"Nenekmu cucu kura kura ! kau ingin modar? kau anggap bau dupa liur naga ini boleh dihisap dalam dalam? apa kau tidak lihat bagaimana nasib kelabang kelabang itu?

Dengan hati kaget Pek In Hoei mendongak ia lihat kelabang emas semula memenuhi

angkasa sekarang sudah tinggal separuh, sekian besar diantara mereka jatuh rontok ketanah sedang sisanya tercerai berai keempat ujuru berusaha untuk melarikan diri, namun terlihat bahwa sayap mereka kelihatan daya kerjanya begitu lemah dan tak bertenaga.

"Aaaaaai....dupa..... dupa ini"

Dupa liur naga dari Lam Hay merupakan benda yang terutama untuk melawan binatang binatang racun semacam itu, meski demikian manusiapun tak boleh terlalu banyak menghirup, sebab kalau tidak urat urat nadi akan mengerut dan akhirnya mati binasa.

Dalam pada itu sambil menggigit bibir merasa gusar Hee Giong Lam menyaksikan binatang kelabangnya rontok ketanah persatu, ia makin mendongkol lagi setelah menjumpai ular ular beracunnya pada melingkar ditanah tak berani berkutik.

Seluruh badannya jadi gemetar, matanya melotot besar, mulutnya menggetar dan kepalannya diremas remas menahan keros

Ouw yang Gong melirik sekejap kearah lawannya, lalu ejeknya :

"Hey tua bangka beracun kau tidak akan menyangka bukan kalau aku berhasil mendapatkan dupa liur naga ini dari dalan gua hartamu? haaasah .... haaaa....... haaaaah ....

inilah yang dinamakan membalas dendam dengar cara seperti apa yang pernah kau lakukan kepadaku"

Hee Giong Lam berteriak keras, ia tak kuat menahan diri, darah segar muncrat keluar dari mulutnya.

Tongcu kelabang emas Ku Hong menyaksikan kejadian itu berseru tertahan, cepat cepat ia loncat kesisi tubuh ketuanya.

Boencoe, kenapa kau ?" tegurnya cemas. Hee Giong Lara menggeleng, sambil membesut noda darah dari bibirnya ia berseru:

"Kalian cepat kembali kepos!sinya masing masing, ini hari aku bersumpah akan membinasakan dirinya dengan tanganku sendiri, kalau tidak rasa dendam dan sakit hatiku sukar ditahan lagi!"

Tongcu kelabang emas melirik sekejap kearah Ouw-yang Gong lalu berbisik :

"Boen-cu, apakah kau hendak mengeluarkan ilmu Racun sakti tanpa bayangan mu 7?."

"Kau cepat menyingkir kebelakang !" bentak Hee Giong Lam.

Ia segera bersuit aneh, mengikuti suitan tadi segenap anggota perguruan seratus racun sama-sama mengundurkan diri dari sana, dalam sekejap mata bukan saja semua orang sudah berlalu bahkan ular2 beracun yang masih mengeram dialas tanshpun pada menyembunyikan diri kedalam balik rerumputan.

Kini hanya tinggal empat orang kakek tua dengan berdiri delapan tombak dibelakang kalangan saja memperhatikan situasi disitu dengan wajah keren dan serius.

Ouw-yang Gong sendiripun menunjukkan sikap yang waspada, ia cekal huncweenya erat erat lalu bergumam: Racun sakti tanpa bayangan .... " Dia angkat kepala dan bertanya;

Hey tua bacgka beracun, permainan setan apa yang sedang kau persiapkan Apakah kau hendak menggertak aku dengan perkataanmu itu?"

Hee Giong Lam tidak menjawab, ia kepal telapaknya kencang kencang, dengan sinar mata bengis diawasinya wajah Ouw-yang Gong tajam tajam sementara badannya selangkah demi selangkah maju kemuka.

Sedikit banyak Ouw-yang Gong keder juga dibikinnya, dengan cepat ia dorong Pek In Hoei kebelakang.

"Cepat menyingkir kesamping, rupanya tua bangka beracun ini akan ajak aku beradu jiwa !"

Mendadak terdengar Hee Giong Lam membentak keras, badannya berputar cepat bersamaan dengan bergetarnya jubah hitam yang ia kenakan, badannya mencelat keteagah udara.

Cepat cepat Onw-yang Gong geser kakinya sehingga berhadapan dengan Rasul bisa Hee Giong Lam, tatkala menjumpai jubah hitam yang dikenakan lawannya berkibar, kencang, suatu ingatan dengan tepat berkelebat dalam benaknya:

"Aduuuh celaka !" serunya tertahan. "Rupanya cucu setan keturunan kunyuk ini hendak menyebarkan bubuk beracun dengan meminjam kekuatan hembusan angin "

Ia segera membentak pula, badannya mencelat keatas, huneweenya berputar dan dalam sekejap mata mengirim delapan buah serangan kilat.

Angin pukulan menderu deru, bagaikan hembusan topan, menggulung dan menyapu kedepan laksana ombak ditengah samudra hebat dan mengerikan sekali.

Hee Giong Lam mendengus dingin, kesepuluh jarinya disentil kedepan dan sepuluh jalur desiran angin tajam segera meluncur kemuka.

Ouw yang Gong bersuit nyaring, berada ditengah udara badannya bergeser enam depa kesampiog berusaha meloloskan diri dari damparan angin serangan. Hee Giong Lam mengebaskan jubah lebarnya, segulung angin halus dengan cepat menggulung kemuka membawa bau harum semerbak ....

Begitu tercium bau harum tadi kontan Ouw-yang Gong merasakan dadanya jadi sesak seluruh badannya jadi gatal gatal.

IA MENJERIT keras, huncweenya segera diayun kemuka dengan cepat, dengan sebuah gerakan yang aneh tapi lihay ia balas menghajar badan musuh. Kraak bruuk

.' Huncweenya berbasil menghajar robek jubah hitam Hee I Giong Lam dan menghantam jalan darah Kie-tong-biat dibawah ketiaknya.

Hee Giong Lam mendengus berat, badannya yang masih berada dltengah udara . tak dapat dikuasai lagi, hingga ia terbanting keras keras keatas permukaan tanah.

Dalam pada itu Ouw-yang Gong dengan suatu gerakan yang amat manis pun sudah bersalto diudara dan melayang keatas tanah.

Dalam waktu yang amat singkat itulah Pek In Hoei menyaksikan seluruh wajah Ouw yang Gong berubah jadi hitam pekat sehingga kelihatan amat menyeramkan.

"Cianpwee. Kau keracunan" serunya tergagap.

Ouw-yang Gong mendengus berat, dengan cepat ia berjongkok keatas tanah dan memungut beberapa ekor bangkai kalabang emas, kemudian tanpa memandang barang sekejappun segera dijejalkan kedalam mulut.

Menyaksikan tingkah laku yang sangat aneh itu Pek In Hoei melongo, matanya terbelalak besar namun tak sepatab katapun yang bisa ia ucapkan keluar. Demikianlah secara beruntun Ouw-yang Gong menelan empat ekor bangkai kelabang emas, kemudian ia baru pejamkan mata dan roboh keatas tanah.

Sementara itu empat orang kakek tua yang berdiri terpencar diempat penjuru sama sama berteriak kaget, mereka sama sama meloncat kedipan menghampiri ketuanya.

Tongcu kelabang emas berjongkok dan memayang bangun Hee Giong Lam terlihat olehnya air muka sang ketuanya ini telah berubah jadi pucat pias bagaikan mayat napasnya lemah dan tinggal satu satu Dengan cepat ia membentak keras:

"Boen-cu telah terluka parah, jangan lepaskan setan tua itu dalam keadaan hidup aku akan segera antar Boen-cu pergi beristirahat"

Tongcu laba laba hitam tertawa dingin.

Heeh..... heeeh .... heeeh....... ilmu silat yang dimiliki setan tua ini memang sangat !ihay, tapi sayang ia sudah terkena hantaman Racun Sakti Tanpa Bayangan dari Boen- cu kita kalau toh sudah begitu apa lagi yang perlu kita takuti

Sambil berkata badannya loncat kemuka telapak tangan diayun dan segera mencengkeram urat nadi Pek In Hoei,

Kita jagal dulu keparat cilik ini jerit Kadal Biru Song Ci Piauw penuh kebencian.

Betul Suruh dia rasakan bagaimana enaknya lima racun menyerang hati!" sambung Tongcu Ular hijau Ci Peng. Jari kelingking tangan kanannya lantas diayun kemuka. kukunya yang panjang dan runcing berkelebat diatas nadi sianak muda itu dan meninggalkan sebuah guratan panjang diikuti tangannya berputar memerseni sebuah tempelengan yang amat keras. Sekuat tenaga Pek In Hoei meronta, namun ia tak berhasil melepaskan diri dari cengkeraman musuh, mulutnya segera di pentang dan meludahi wajah Ci Peng dengan air ludah penuh darah.

Kena diludahi mukanya, Tongcu ular hijau Ci Peng semakin gusar, ia bergeser lebih kemuka, tangannya menyambar kemuka dan sekali lagi ia hajar muka Pek In Hoei dengan gaplokkan jauh lebih keras.

"Anak jadah ! Kubunuh dirimu' teriak nya marah.

Percuma kau hajar badannya" mendadak Tongcu laba laba hitam Liong Cay Thian menghalangi niat rekannya, "la memakai tameng mustika yang tahan bacokan sekalipun kau hajar habis habisan dirinya belum tentu ia merasa sakit atau terluka, buat apa kau buang tenaga dengan percuma cepat kita lepaskan baju tameng mustika yang ia kenakan

Tongcu kadal Biru Song Ci Piauw melirik sekejap kearah Ouw-yang Gong yaag masih duduk mendeprok diatas tanah.

"Bagaimana dengan siasep tua itu ?"

"Biar aku saja yang kasih hadiah sebuah jotosan kepada bangsat tua itu agar jiwanya cepat melayang" seru Tongcu Ular Hijau.

Dalam pada itu Tongcu Laba laba hitam Liong Cay Thian sudah tertawa seram.

"Keparat cilik, coba kau lihat binatang apakah ini ?"

Pek In Hoei berpaling, ia lihat ditangan kanan Liong Cay Thian hinggap seekor laba laba raksasa yang besarnya melebihi telapak tangan, waktu itu binatang besar tadi sedang menggerakkan kedelaapan buah kakinya yang panjang untuk merambat maju ke muka. Hatinya berdesir, rasa ngeri berkelebat dalam benaknya, namun sianak muda ini tetap mempertahankan diri. ia tidak ingin menunjukkan sikap jeri seorang lelaki pengecut.

Liong Cay Thian bungkam tidak mengucapkan kata kata lagi, tangan kananuya segera digetarkan kemuka, laba2 raksasa tadipun dengan meninggalkan selembar serat tipis loncat kearah leher Pek Sn Hoei, kemudian pentang bacotnya mulai menggigit.

Sajak urat nadi Pek In Hoei kena tergurat kuku jari dari Ci Peng tadi, bubuk racun yang menempel di atas tubuhnya sudah mulai menyerang kedalam membuat separoh badanya jadi kaku dan hilang rasa, meski demikian tatkala laba2 hitam itu loncat keatas lehernya dan mulai menggigit ia masih dapat merasakan betapa sakitnya daerah sekitar leher yang kena tergigit oleh binatang berbisa itu. Dengan penuh rasa sakit ia merintih, pancaran matanya sayu dan wajahnya jadi amat kusut. Dengan pandangan kabur ia awasi telapak kanan Ci Peng yang sudah diangkat lagi dan selangkah demi selangkah mendekati Ouw-yang Gong.

Dalam saat serta keadaan seperti isi selagi ia merasakan bagaimanakah penderitaan serta siksaan dari seseorang yang tidak mengerti akan ilmu silat ia merasakan betapa jiwa serta keselamatannya gantung ditangan orang lain.

Diam diam didaiam hati ia bersumpah

"Seandainya beruntung aku tidak mati pasti akau mencari ayahku dan minta belajar silat darinya, karena pada saat aku hidup dijagat yang tidak mengutamakan cengli melainkan menggantungkan kekuatan ..."

Sianak muda ini sama sekali tidak tahu bukan kekuatan atau kepandaian silat yang penting untuk hidup dikolong langit pada jaman itu dalam dunia persilatan penuh dengan penipuan, akal licik busuk, bau amis darah serta perbuatan saling bunuh membunuh. Sutu kali ia terjunkan diri kedalam dunia kangouw, tak akan terhindar dari kesemuanya maka dari itu disamping belajar silat dia, harus mulai memahami hal hal tersebut diatas sebab kalau tidak dia pun tak akan bisa dengan tenang didalam jagad ini. sementara itu terdengar Tongcu Kadal tertawa seram.

Banssat cilik!" jengeknya sinis.

Coba kau rasakan lagi bagaimana enaknya darahmu dihisap oleh kadal biru

Dari dalam sebuah tabung yang disimpan dibawah ketiaknya ia ambil keluar seekor kadal besar sepanjang beberapa depa, lalu usap usapkan keatas wajah Pek In Hoei

Sungguh besar bentuk kadal biru itu, diatas badannya yang gede terlihat dua garis yang berwarna biru tua, ekornya yang gede terlihat dua garis panjang bergoyang goyang tiada hentinya, bau amis yang memuakan tersiar dari badannya membuat Pek In Hoei merasa mual dan mau muntah

"Hey bajingan cilik !" seru Tongcu kadal biru lagi dengan nada bengis dan mengerikan, "Pernahkah kau merasakan dijilati oleh lidah panjang sang kadal yang merah lagi basah basah kering itu? Hmmm ! Akan kusuruh kau rasakan bagaimana enaknya kulit badanmu kaku dijilat olehnya dandarah segarmu perlahan lahan dihisap olehnya"

Sepatah demi sepatah perkataan itu utarakan keluar, hal ini semakin menambah kegeraman serta kengerian dalam hati In Hoei, sepasang matanya terbe!a!ak besar tanpa berkedip ia perhatikan terus kadal besar itu.

Berhadapan dengan mara bahaya yang tiap saat bisa mencabut jiwanya, timbul kembali bayangan tatkala ia melarikan dari gunung Tiam cong yang terkubur dalam lautan api, tanpa sadar ia bergumam seorang diri :

"Aku tak boleh mati, aku tak boleh mati

"Siapa bilaog kau tak boleh mati?" jengek Sang Torigcu kadal biru dengan suara seram, "Aku mau suruh rasakan penderitaan dikala menjelang kematian yang lambat sekali kehadirannya

"Heeeeeeeh....... heeeeeeh...... heeeh..... orang tua itu sudah mulai sinting, otaknya mulai berubah dan tidak sadar" Seru tongcu laba laba hitam Liong Cay Thian sambil tertawa dingin. "Racun yang menyerang badannya sudah mulai menerjang otak serta syaraf syaraf dalam benaknya, ia akan jadi edan kemudian perlahan-lahan keracunan dan modar1".

Pek In Hoei terkesiap, dengan paksakan diri ia pentang matanya yang terasa mulai jadi berat dan mau terkatup terus itu dari dasar hatinya timbul perasaan aneh. keinginannya uutuk mencari hidup amat basar tiba tiba ia berteriak keras :

"Aku tidak akan mati 'f! aku tidak akan mati!!!".

Mendadak dari baiik kadal raksasa berwarna biru yang bergerak gerai dihadapan matanya itu, ia saksikan Tongcu ular Hijau Ci Peng telah angkat telapak tangannya tinggi tinggi kemudian d!ayun kebawah menghatam Ouw yang Gong.

Aaaaaaaahtak tahan ia menjerit , buru buru kepalanya berpaling kelain arah.

Tongcu Kadal biru Song Ci Piauw membentak rendah, kadalnya segera ditempelkan keatas jidat Pek In Hoei. Begitu menempel diatas jidat, kadal biru itu mulai menjularkan lidahnya yang merah menjilat jilat kulit sianak muda itu, diikuti darahnya mulai dihisap keras.

Rasa desiran angin dingin menyambar alisnya Pek In Hoei jadi kaget dan menjerit tertahan.

Disaat yang bersamaan itulah, dengan penuh kebencian Tongcu ular hijau Ci Peng telah membentak :

Aku tidak percaya kalau tak dapat membinasakan dirimu".

Telapak kanannya dibabat dengan santa

Buuuuuuk ! dengan telak hautaman itu bersarang ditubuh lawan.

Oaw yang Gong merintih, tiba tiba ia me nyemburkan darah yang berwarna hitam pekat dari mulutnya, begitu mendadak semburan darah tadi membuat Ci Peng tak sempat untuk menghindar lagi mukanya kotor kena semburan tadi membuat dia terhuyung mundur selangkah kebelakang.

Setelah menyemburkan darah hitam itu. Oaw yang Gong segera membuka matanya lebar lebar dan loncat bangun dari atas tanah, serunya sambil tarik napas dalam2

"Neneknya .... cucu kunyuk bagus dan tepat sekali hantamanmu barusan . . .

Laksana kilat ia menerjang kedepan telapak kirinya berputar, lima jari tangannya laksana

kilat menyambar kemuka mecengkeram lengan kanan Ci Peng. "Hey...... anak bisa cucu racun... kamu semua tentu tidak tahu bukan bahwa aku siorang tua baru saja lolos dari kematlan? Hmmm...... Hmmm justru pukulanmu barusan telah menolong aku untuk memuntahkan darah racun yang menyumbat di Jantung . . . coba darah racun itu tidak bisa ditumpakan keluar . . . entahlah

Tongcu ular hijau Ci Peng meraung keras, bahk badannya sambil putar tangan kanan. jari dipentang lebar lebar, dengan kuku yang panjang dan tajam bagaikan pedang kecil laksana kilat menusuk dada Ouw yang Gong,

Cucu monyet keturunan kunyuk kau ingini jiwaku maki orang tua aneh dengan gusarnya

Sang lengan digetarkan dengan keras, seketika itu juga badan Ci Peng terangkat keatas, setelah berputar satu lingkaran besar ditengab udara tubuh orang itu meluncur kebavvah dan mencium tanah keras keras.

Buuuuuk...... ! seluruh batok kepala Ci Peng terbenam d dalam tanah bagaikan tancapan sebarang anak panah, darah segar segera muncrat keempat penjuru membasahi permukaan tanah jiwanya pun melayang!

Ouw yang Gong tidak berhenti sampai disitu saja. ia bersuit panjang, berada ditengah udara badannya melesat makin kedepan, sambil mencekal huncweenya ia melabrak musuh musuhnya yang lain dengan dahsyat.

Tongcu laba-laba hitam Liong Cay Thian bersuit keras, cepat cepat tangannya diatur kemuka tiga ekor laba-laba berwarna hitam yang besarnya melebihi telapak tangan dengan disertai serat yang mengkilap meluncur kemuka.

Ouw yang Gong meraung keras. "Kalian keturunan kunyuk yang harus dibunuh semua sampai habis!" Teriaknya.

Pergelangannya segera diputar, tatkala ligap cahaya terang itu sudah tiba dihadapan mukanya, huncwee yang sudah dipersiapkan segera menyambar kemuka... Taaaak. ! Taak .! tiga ekor laba laba hitam itu terhantam telak dan rontok keatas tanah dengan badan hancur.

Setelah membinasakan binatang berbisa itu laksana kilat badannya memburu kedepan, sekali lagi huncweenya berkelebat cepat, dalam suatu gerakan menggetar dan membalik Liong Cay Thian menjerit kaget, badannya jungkir balik sebanyak tiga belas kali ditengah udara lalu terbanting keras keras diatas tanah.

Dengan rasa terperanjat Tongcu Kadal Biru Song Ci Piauw berpaling, belum sempat ia melakukan sesuatu Ouw yang Gong sudab berjumpalitan di tengah udara mendekati tubuhnya, sementara senjata huncweenya laksana titiran angin puyuh membabat kabawah.