-->

Imam Tanpa Bayangan I Jilid 50 Tamat

 
Jilid 50 (Tamat)

"POOCU, ENGKAU SUDAH PULANG sebelum saatnya, mengapa tidak beri kabar kepadaku? Aku sudah hampir setengah bulan lamanya menanti di sini... Hmm... poocu, hasil yang dicapai Komplotan Tangan Hitam dalam dunia persilatan mengagumkan sekali bukan? Bagaimana akhirnya persoalan dengan pihak Perkumpulan Bunga Merah..."

"Persoalan antara Komplotan Tangan Hitam dengan Perkumpulan Bunga Merah telah beres..." jawab Cui Tek Li sedikit pun tidak menunjukkan reaksi apa-apa.

"Sudah beres?" seru Hoa Pek Tuo tertegun, "apa yang telah terjadi? Dengan kemampuan poocu untuk memimpin jago, masa urusannya dengan pihak Perkumpulan Bunga Merah bisa... Heeeeh... heeeeh... heeeeh... Poocu, atau jangan-jangan nasib Komplotan Tangan Hitam untuk kali agak jelek sehingga jatuh kecundang di tangan pihak Perkumpulan Bunga Merah..."

"Bukan begitu," Cui Tek Li menggeleng, "dalam suasana yang ramah tamah dan penuh kedamaian ke-dua belah pihak telah setuju untuk menyelesaikan persoalan ini secara baik-baik. Heeeeh... heeeeh... heeeeh... hasil dari perundingan itu memutuskan bahwa ke- dua belah pihak tak akan munculkan diri kembali dalam dunia persilatan..."

"Oooh...! Masa begitu..."

Jelas Hoa Pek Tuo merasa bahwa kejadian ini sedikit ada di luar dugaan, ia merasa hatinya agak gemetar sebab tujuan kedatangannya ke Benteng Kiam-poo kali ini adalah untuk menyelidiki secara diam kekuatan dari Benteng Kiam-poo, terjadinya bentrokan antara pihak Komplotan Tangan Hitam serta Perkumpulan Bunga Merah membuat ia merasa bahwa rencana besarnya sudah hampir mencapai pada taraf seperti yang diinginkan, maka ia pun bergirang hati karenanya...

"Poocu!" serunya kemudian sambil tertawa seram, "apakah engkau telah mengesampingkan rencana besarmu untuk menguasai seluruh dunia persilatan..."

"Aaaai...!" tiba-tiba Cui Tek Li menghela napas panjang, "aku sudah tidak berani memimpikan cita-cita itu lagi..."

"Kenapa?"

Napsu membunuh menyelimuti seluruh wajah Cui Tek Li, jawabnya :

"Karena ada seseorang yang memiliki ambisi jauh lebih besar daripada diriku, orang itu sudah lama sekali mengincar kedudukan sebagai Bengcu yang menguasai seluruh dunia persilatan, sekali pun aku berhasil mendapatkan kedudukan itu toh akhirnya harus bertengkar dan adu kekuatan sendiri dengan dirinya, oleh sebab itu daripada bermusuhan dengan orang itu terpaksa aku harus melepaskan cita-cita tersebut.

Sambil tertawa getir ia gelengkan kepalanya, lalu menambahkan

:

"Apalagi di tempat ini masih terdapat banyak orang yang

mengkhianati diriku. Aaaai...! Sungguh tak nyana dengan andalkan kekuatan yang kumiliki dalam dunia persilatan, masih ada juga orang yang berani mengkhianati diriku, Aaaai...! Tahun ke belakang ini memang kurang beruntung begitu, siapa suruh aku terlalu percaya dengan perkataan teman..."

"Siapakah orang itu?" seru Hoa Pek Tuo dengan jantung berdebar amat keras, "Siapakah orang yang mempunyai ambisi besar itu? Berani benar ia adu kekuatan dengan poocu." "Hmm! Dengan ketajaman telinga dari engkau Hoa Pek Tuo, masa tidak tahu siapkah orang itu?"

Hoa Pek Tuo benar-benar tidak tahu siapakah orang yang mempunyai ambisi besar untuk menguasai seluruh dunia persilatan kecuali poocu dari Benteng Kiam-poo ini, sebab dalam bayangan kecuali Cui Tek Li boleh dibilang tiada orang lain yang memiliki kekuatan sebesar itu.

Seketika itu juga rase tua yang lihay dan cerdik ini jadi kebingungan setengah mati, lama sekali ia baru berseru :

"Poocu, aku benar-benar tak bisa menebak."

"Hmmm! Hoa heng, seandainya engkau yang menjumpai lawan tangguh seperti ini, bagaimana kamu akan mengatasi masalah ini?" tanya Cui Tek Li sambil tertawa seram, "aku sekali ini memohon petunjuk dari Hoa heng."

"Tentang soal ini... tentang soal ini..." seru Hoa Pek Tuo dengan alis berkerut, setelah mempertimbangkan sebentar ia meneruskan :

"Tiada jalan lain, kecuali melenyapkannya dari muka bumi..." "Tepat sekali! Pendapatmu itu bagus sekali dan aku rasa memang

hanya itulah satu-satunya jalan yang bisa dilaksanakan..."

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh..." Hoa Pek Tuo tertawa seram, "bila musuh tidak dibunuh maka diri sendirilah yang akan rugi, Poocu! Dalam melakukan segala macam pekerjaan kita harus bertindak cepat sekali, makin cepat makin baik. Jangan lupa, perkampungan Thay Bie San cung dengan Benteng Kiam-poo adalah satu keluarga..."

Cui Tek Li tertawa dingin tiada hentinya.

"Aku memang membutuhkan sekali bantuan dari Hoa heng untuk menyelesaikan banyak persoalan!" katanya.

Hoa Pek Tuo mengangguk.

"Seperti ucapanku tadi, serahkan saja semua tugas itu kepada aku orang she-Hoa..."

"Peduli pekerjaan apa pun apakah Hoa-heng bersedia membantu diriku?" tanya Cui Tek Li dengan sinar mata berkilat tajam. Hoa Pek Tuo tertegun, lalu jawabnya :

"Tentu saja, asal aku sanggup melakukannya tentu saja tiada perkataan lain lagi. Hmmm... hmmm... Poocu, asal engkau tidak menganggap aku sebagai orang luar, silahkan sampaikan perintahmu itu..."

Cui Tek Li segera menepuk bahu kakek she-Hoa itu, ujarnya : "Hoa-heng, tiada lain yang kuharapkan bantuan darimu, aku

cuma berharap agar engkau suka membiarkan anak buahku membelenggu tubuhmu dengan kencang... dan segala sesuatunya aku telah mengaturnya secara sempurna."

"Aku disuruh apa?" seru Hoa Pek Tuo dengan wajah tertegun. Cui Tek Li tertawa dingin.

"Siasat menyiksa diri!" jawabnya.

Diam-diam Hoa Pek Tuo merasakan hatinya bergidik, ia merasa tingkah laku dari Cui Tek Li pada hari ini jauh berbeda dengan keadaan biasa, dia seorang yang licik pula tentu saja bisa menduga hal-hal yang kurang beres, cuma ia tak tahu permainan apakah sesungguhnya yang sedang disiapkan Cui Tek Li untuk beberapa saat lamanya ia berdiri menjublak.

"Siasat menyiksa diri?" serunya, "poocu gunakan siasat untuk ditunjukkan kepada siapa? Dan apa gunanya pula mengikat diri diriku? Poocu, dapatkah engkau terangkan lebih jauh?"

"Untuk menghadapi orang itu terpaksa aku harus menyiksa sebentar diri Hoa-heng, aku harap Hoa-heng suka melakukan suatu tugas rahasia di pihak lawan, engkau boleh bilang saja aku telah menghina dan menyiksa dirimu, maka orang itu pasti akan menerima engkau sebagai pembantunya...Heeeeh... heeeeh... heeeeh..."

"Orang itu berada di mana?" tanya Hoa Pek Tuo setelah tertegun sejenak.

"Orang itu berada dalam benteng ini, ilmu silatnya amat lihay dan ia memaksa diriku untuk berunding secara terbuka, Hoa heng, jika engkau bersedia membantu aku maka laksanakanlah tugas ini sebaik- baiknya... bersedia bukan?"

"Kurang ajar, jadi ia berani datang ke Benteng Kiam-poo?" teriak Hoa Pek Tuo dengan sorot mata tajam, "besar amat nyali bangsat itu, aku orang she Hoa ingin melihat sendiri manusia macam apakah dia..."

Ia berhenti sebentar dan melanjutkan :

"Poocu, aku bersedia untuk menjumpai orang itu, cuma saja..." "Tentang persoalan lain yang lebih rumit aku bisa

menjelaskannya kepadamu," kata Cui Tek Li sambil tertawa ringan, "tapi engkau mesti ingat bahwa orang itu sukar sekali untuk dihadapinya, engkau harus berpura-pura secara serius hingga orang itu sama sekali tidak menaruh curiga, Hoa-heng, sekarang aku hendak menyiksa dirimu sebentar..."

Ia bertepuk tangan, Kongsun Kie sambil membawa seutas tali masuk ke dalam. Hoa Pek Tuo yang cerdik mimpi pun tak pernah menyangka kalau pembalasan bakal datang dengan begitu cepatnya, apalagi kembalinya Cui Tek Li sama sekali tidak menimbulkan suara apa pun, maka ia sama sekali tidak menaruh curiga ke soal yang lain. "Hoa lo-sianseng," ujar Kongsun Kie sambil memberi hormat,

"kesemuanya terpaksa harus dibebankan pada kesuksesanmu..." Hoa Pek Tuo tertawa seram.

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... kita latihan dulu, aku tak bisa bermain sandiwara secara baik..." katanya.

Kongsun Kie sama sekali tidak menggubris perkataannya,dengan cepat ia mengikat tubuh Hoa Pek Tuo erat-erat, menanti semuanya telah beres Cui Tek Li ambil keluar seutas tali kulit dan menjeratnya di atas leher kakek licik itu kemudian ditariknya keras-keras.

"Eeei... eeei... apa yang hendak kau lakukan?" teriak Hoa Pek Tuo dengan wajah tertegun.

"Hmmm! Setelah bertemu dengan orang itu, katakan saja kepadanya bahwa aku Cui Tek Li tidak menganggap engkau sebagai manusia, tapi menjiratnya seperti anjing budukan... ia pasti akan menerima dirimu, dan menyanggupi untuk balaskan dendam bagimu... Pada saat itulah engkau boleh bumbui ceritamu dengan pelbagai macam kata sehingga ia benar-benar mempercayai dirimu." "Plooook...!" Cui Tek Li ayunkan telapaknya dan mengirim sebuah gaplokan keras ke atas wajah Hoa Pek Tuo, membuat kakek licik itu merasakan kepalanya pusing tujuh keliling dan matanya berkunang-kunang,   sebuah   bekas   telapak   tangan   yang merah

membengkak segera tertera jelas di atas wajahnya.

"Poocu apa yang sedang dilakukan?" bentak Hoa Pek Tuo dengan penuh kegusaran.

Cui Tek Li tertawa dingin.

"Agar siasat menyiksa diri ini bisa berjalan lebih sukses, terpaksa Hoa Pek Tuo harus menahan diri. Hehhmm... heehhmmmm. Hoa heng, aku hendak menggaplok mukamu sebanyak sepuluh kali, menendang dirimu sebanyak tiga kali agar tubuhmu babak belur dan mengucurkan darah kemudian baru pergi menjumpai orang itu..."

Hoa Pek Tuo ketakutan setengah mati, air mukanya berubah hebat, teriaknya:

"Aku harus menjumpai siapa? Poocu beritahu dulu kepadaku siapakah orang itu?"

"Hmmm! Orang itu bukan lain adalah Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei, orang itu tentu sudah tak asing lagi bukan bagimu..."

"Poocu, rupanya engkau ada maksud untuk membereskan jiwaku..." teriak Hoa Pek Tuo dengan tubuh gemetar keras.

Ketika ia menyadari bahwa masuk perangkap, untuk menolong diri sudah tak sempat lagi. Sungguh tak nyana Hoa Pek Tuo yang seringkali bermain licik akhirnya terjebak pula di tangan orang, bahkan masuk perangkap atas kerelaan dan kemauan sendiri.

Cui Tek Li tertawa dingin, katanya : "Sebenarnya aku memang ingin sekali membinasakan dirimu, tetapi berhubung engkau terlalu licik dan berbahaya maka aku merasa sama sekali tak ada harganya untuk bergebrak melawan dirimu, terpaksa kugunakan sedikit siasat untuk beradu kecerdikan dengan dirimu."

"Rupanya engkau membohongi diriku?" teriak Hoa Pek Tuo dengan penuh kegusaran.

"Hmmm! Untuk menipu dirimu adalah suatu pekerjaan yang sulit, sungguh beruntung ini hari pun-poocu berhasil membohongi dirimu sehingga masuk perangkap, Hoa heng! Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei adalah musuh bebuyutanmu, sebentar lagi ia tentu akan berkunjung kemari,maka dari itu aku ingin mempersembahkan dirimu kepadanya sebagai suatu barang hadiah..."

Hoa Pek Tuo jadi ketakutan setengah mati sehingga sukma terasa melayang tinggalkan raganya.

"Engkau hendak menghadiahkan diriku kepada Pek In Hoei..." serunya dengan suara gemetar.

"Kenapa engkau mesti tegang dan kaget?"jengek Cui Tek Li sambil tertawa sinis, "toh engkau masih hutang satu nyawa dari ayahnya? Dan sekarang ia datang menagih hutang lamanya, hal itu merupakan suatu kejadian yang jamak dan lumrah sekali dalam kolong langit. Hehmm... heehmmm... perbuatanku toh tidak lebih cuma mendorong perahu mengikuti aliran air dan menghadiahkan dirimu kepadanya..."

"Hmmm! Engkau jangan keburu bangga dan senang hati," teriak Hoa Pek Tuo dengan wajah menyeringai bengis dan menyeramkan, "Pek In Hoei tak akan lepaskan diriku, pun tak akan melepaskan dirimu. Poocu! Seandainya engkau adalah orang cerdik maka lepaskanlah diriku, mari kita berdua bersatu padu untuk menghadapi dirinya, hanya berbuat begitu saja kita baru akan berhasil membinasakan dirinya..." "Tutup mulut anjingmu!" bentak Cui Tek Li dengan gusarnya, "engkau si rase tua yang tak tahu diri. Hmmm... sekarang baru tahu apakah yang disebut rasa ngeri dan ketakutan? Hmmm... apa yang telah kau katakan sewaktu berada di hadapan Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei????"

Pucat pias selembar wajah Hoa Pek Tuo setelah mendengar teguran itu, jawabnya :

"Itulah dikarenakan engkau mengkhianati diriku lebih dahulu..." "Kentut busuk!"

Cui Tek Li ayunkan telapak tangannya dan secara beruntun melancarkan tujuh delapan buah serangan berantai, kemudian dengan penuh kebencian didepaknya tubuh Hoa Pek Tuo sampai jatuh terjungkal di atas tanah, tali kulit yang berada di tangannya segera ditarik keras-keras membuat tubuh Hoa Pek Tuo yang sudah terlempar jauh segera tertarik balik ke tempat semula.

"Aaaauuh...!" Hoa Pek Tuo berteriak keras dan memperdengarkan jeritan ngeri yang menyayatkan hati, darah kental mengucur keluar dari ujung bibirnya, ia membelalakkan matanya lebar-lebar dan teriaknya dengan penuh kegusaran :

"Kau... kau sungguh kejam..."

"Hmmm! Aku menginginkan engkau mati..." teriak Cui Tek Li dengan penuh kebencian pula.

Dia ulapkan tangannya dan Kongsun Kie segera menarik tali kulit iut menuju ke arah luar.

Hoa Pek Tuo berpaling ke belakang, jeritnya keras-keras : "Eeei... engkau hendak membawa aku pergi kemana?"

cl mendengus dingin.

"Hmmm! Kemana lagi? Tentu saja menggantung tubuhmu di depan pintu gerbang Benteng Kiam-poo..." ia menjawab.

Dengan rasa takut bercampur jeri Hoa Pek Tuo memaki kalang kabut, suaranya kian lama kian menjauh sehingga akhirnya sama sekali tidak kedengaran lagi. Seekor rase tua yang licik dan berhati kejam, akhirnya ketemu tandingannya juga, dalam keadaan begini bukan saja ia tak dapat menunjukkan kelicikannya, keganasan serta kekejaman hatinya pun tak dapat diperlihatkan lagi...

Senja telah menjelang tiba, sisa cahaya sang surya masih terpancar di balik gunung dan menyoroti sebagian dari jagad dengan sorot cahaya yang lemah, beberapa ekor burung terbang melintasi atas kepala menuju ke dalam hutan.

Ketika cahaya terakhir dari sang surya telah lenyap di balik gunung, pintu gerbang Benteng Kiam-poo perlahan-lahan terbuka di atas tiang benteng yang kuno tergantung sesosok tubuh manusia terhembus angin malam yang kencang, bayangan itu bergoyang tiada hentinya.

Ketika sorot mata dialihkan ke sebelah barat dari sungai pelindung benteng, tampaklah seorang manusia dengan menunggang seekor kuda berlari mendekati dengan cepatnya, sewaktu tiba di depan pintu benteng tiba-tiba pria itu menghentikan lari kudanya dan goyangkan tangannya ke arah pria yang ada di atas benteng sambil berteriak keras :

"Jago Pedang Berdarah Dingin telah datang..."

"Sudah tahu..." jawab pria yang ada di atas benteng sambil ulapkan tangannya pula.

"Taaaaaang....! Suara lonceng yang nyaring bergeletar di udara memecahkan kesunyian yang mencekam di senjata itu dan mantulkan suara tersebut hingga ke tempat yang amat jauh... lama sekali suara tersebut bergema di angkasa sebelum perlahan-lahan sirap dan lenyap kembali dari angkasa...

Dengungan suara lonceng yang berat dan nyaring dengan cepatnya pula menggema hingga suatu daerah sejauh setengah li dari benteng tersebut, suara tersebut tertangkap oleh sepasang muda mudi yang sedang melakukan perjalanan, membuat ke-dua orang itu segera tersadar kembali dari lamunannya dan menyadari bahwa Benteng Kiam-poo yang merupakan pusat kemaksiatan serta kejahatan sudah berada di depan mata.

Sambil mengerutkan dahinya It-boen Pit Giok berkata : "Sungguh cepat kabar berita kedatangan kita tersebar dalam

pendengaran mereka... baru saja kita melewati Kiam-bun-kwan, orang-orang Benteng Kiam-poo sudah mengetahui akan kehadiran kita. In Hoei! Nasib kita berdua akan ditentukan dalam pertemuan pada hari ini..."

"Peduli betapa ketat dan kokohnya pertahanan serta persiapan Benteng Kiam-poo, aku tetap akan menerjang masuk ke dalam," teriak Pek In Hoei dengan penuh kegusaran, "akan kubunuh Hoa Pek Tuo serta Cui Tek Li, sebab aku tak bisa melepaskan ke-dua orang bangsat tua itu."

"Apakah engkau tidak mempertimbangkan soal tentang ibumu..." tanya It-boen Pit Giok dengan sedih.

Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei merasakan jantungnya berdebar keras, masalah tersebut merupakan masalah yang paling menyakitkan hatinya, ia benar-benar tak mampu untuk menentukan apakah dia akan membunuh suami ibunya, juga antara Cui Tek Li dengan ibunya pernah mempunyai hubungan dan cinta kasih antara suami dan istri...

Untuk beberapa saat lamanya Pek In Hoei tak dapat menjawab pertanyaan itu, air mata jatuh bercucuran membasahi wajahnya, dengan sedih ia menggeleng dan mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa...

"Aku sangat memahami keadaan yang sedang kau hadapi," It- boen Pit Giok dengan sedih, "keputusan seperti ini tak dapat ditetapkan oleh sembarangan orang, kecuali engkau melebihi orang lain... sebab hanya orang yang luar biasa cerdiknya saja yang tahu apa yang mesti dilakukan olehnya..."

"Orang cerdik..." gumam Pek In Hoei dengan suara lirih, "dendam atas kematian ayahku tinggi melebihi bukit, aku tak sudi biarkan musuh besarku tetap hidup di kolong langit, apa yang harus kulakukan..."

Angin malam diiringi deruan tajam berhembus lewat menggoyangkan rerumputan, derap kaki kuda dengan lirih berlarian di atas tanah lapang melampaui jembatan panjang di atas bukit dan tiba di depan Benteng Kiam-poo yang sunyi dan sepi itu...

Pintu gerbang terbentang lebar, dua sosok bayangan manusia berdiri di sisi.

Pek In Hoei segera berpaling ke arah It-boen Pit Giok dan ujarnya sambil tertawa getir :

"Rupanya Cui Tek Li kembali gunakan serombongan anggota Komplotan Tangan Hitam-nya untuk menakut-nakuti kita..."

Bersama It-boen Pit Giok pemuda itu loncat turun dari atas kuda, lalu dengan langkah lebar berjalan menuju ke arah pintu gerbang Benteng Kiam-poo.

Kongsun Kie berdiri di samping pintu menantikan kedatangan ke-dua orang itu, dengan pandangan dingin ia awasi terus musuhnya hingga berada di depan mata.

Pada saat itulah ia baru maju ke depan dan menegur :

"Pek heng, kenapa hari ini engkau muncul lagi di Benteng Kiam- poo? Apakah tempo hari setelah berhasil keluar dari benteng dalam keadaan selamat maka engkau tidak pandang sebelah mata pun terhadap Benteng Kiam-poo???"

Dengan pandangan yang sinis ia melirik sekejap ke arah dua baris lelaki kekar yang berdiri di ke-dua belah sisi pintu gerbang itu, lalu sambil tertawa ewa ejeknya :

"Kongsun-heng, apakah ini hari aku harus masuk benteng secara kekerasan pula?"

"Tidak usah..."

Dia ulapkan tangannya mengundurkan dua baris pria yang berada di situ lalu putar badan dan menuju ke Benteng Kiam-poo dengan langkah lebar. It-boen Pit Giok serta Jago Pedang Berdarah Dingin segera membuntutinya dari belakang.

Tiba-tiba Jago Pedang Berdarah Dingin tertarik oleh sesosok bayangan tubuh yang tergantung di tengah udara, ia dekati orang itu dan dipandangnya sekejap.

Dengan cepat pemuda itu berdiri tertegun, air mukanya berubah hebat, serunya :

"Hoa Pek Tuo, kiranya engkau..."

Hoa Pek Tuo membuka kembali matanya, siksaan selama dua malam membuat rase tua yang paling suka mencelakai orang dengan kelicikannya itu jadi layu, sinar matanya sama sekali tidak nampak keren atau bengis lagi, dengan mata merah darah dan biji matanya hampir saja melotot keluar, ia menyahut dengan suara serak :

"Kau... kau adalah Pek In Hoei..."

"Tidak salah!" jawab Pek In Hoei ketus, "sungguh tak nyana engkau pun akan mengalami hari seperti ini, apa yang telah terjadi? Apakah engkau dipecundangi oleh orang sendiri? Haaaah... haaaah... haaaah... suatu peristiwa yang sangat memalukan..."

"Pek In Hoei, aku tahu bahwa engkau membenci diriku, benci karena aku telah membinasakan ayahmu," ujar Hoa Pek Tuo dengan nada gemetar, "sekarang aku harap engkau suka membinasakan diriku, karena..."

Ia berhenti sejenak, dengan sedih hati yang pilu sambungnya : "Aku mati tidak jadi soal, tetapi ada satu hal engkau harus ingat

baik-baik..."

Membunuh seseorang yang sama sekali tak mampu melakukan pembalasan bukanlah pekerjaan dari manusia bangsa kami, Hoa Pek Tuo! Kuberi satu kesempatan kepadamu... mari kita tentukan nasib sendiri dalam suatu duel yang adil..." kata Pek In Hoei dingin.

Dalam bayangan benaknya seakan-akan ia terlihat kembali keadaan dari ayahnya yang mati secara mengenaskan di puncak gunung Cing-shia, hampir saja dari matanya menyembur keluar sinar berapi-api... Criiing! Di tengah dentingan suara yang nyaring, pedang mestika penghancur sang surya telah diloloskan dari sarungnya dan berkelebat di angkasa.

Hoa Pek Tuo gemetar, pintanya :

"Aku mohon kepadamu... bila engkau hendak bunuh aku maka turun tanganlah setelah kuselesaikan perkataanku."

Menyaksikan raut wajah lawannya yang begitu mengenaskan, Pek In Hoei mendengus sinis.

"Hmm...! Aku selalu akan memberikan kesempatan kepadamu untuk melangsungkan pertarungan yang adil, aku tetap akan memberi kesempatan kepadamu..."

Pedang penghancur sang surya yang berkelebat di angkasa dan tubuh Hoa Pek Tuo yang tergantung di tengah udara segera merosot ke bawah dan jatuh terbanting di atas tanah, setelah mengatur napasnya yang terengah-engah, kakek licik she Hoa itu berkata kembali :

"Aku adalah seorang manusia yang sudah mendekati ajalnya, aku harap engkau suka mendengarkan beberapa patah kataku, aku sudah sepantasnya menerima nasib seperti ini karena sudah terlalu banyak perbuatan jahat yang kulakukan, Pek In Hoei! Pusatkanlah perhatian baik-baik, aku ada perkataan yang sangat penting hendak disampaikan kepadamu..."

"Hmmm! Kau hendak bermain setan lagi di hadapanku?" Hoa Pek Tuo menggeleng.

"Tidak, kali ini aku bersunguh-sungguh..."

"Hmmm! Memandang dirimu adalah seseorang yang sudah hampir menemui ajalnya, aku bersedia mendengarkan perkataanmu..."

Hoa Pek Tuo terengah-engah, setelah mengatur pernapasannya ia menjawab lirih : "Meskipun aku ikut ambil bagian di dalam peristiwa pembunuhan terhadap ayahmu, akan tetapi otak dari pembunuhan adalah lain orang."

Tiba-tiba ia muntah darah segar, sepasang matanya terbelalak lebar-lebar dan tak mampu meneruskan kembali kata-katanya, napas tiba-tiba jadi putus dan matilah kakek licik yang selama hidupnya sudah terlalu banyak melakukan kejahatan ini.

"Kurang ajar, engkau si bajingan tua yang bikin gara-gara..." bentak It-boen Pit Giok dengan gusar.

Dengan air muka diliputi hawa napsu membunuh gadis itu menerjang ke arah Kongsun Kie, telapak tangannya bergerak cepat dan dalam waktu singkat telah mengirim tujuh delapan buah serangan ke depan.

Kongsun Kie jadi ketakutan setengah mati, ia mundur beberapa langkah ke belakang sambil teriaknya dengan gusar :

"Eeeeei... apa maksudmu begini?"

"Sungguh tak nyana engkau bajingan tua pun mempunyai hati yang sangat kejam, terhadap seseorang yang sudah menemui ajalnya pun masih tega melancarkan serangan bokongan dengan jarum beracun untuk membinasakan dirinya. Hmmm! Apakah engkau takut kalau sampai rahasia kejelekan dari poocu kalian terbongkar..."

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh..." dari balik benteng yang gelap tiba- tiba berkumandang datang suara tertawa dingin yang amat menyeramkan.

"Nona It-boen!" ujar Cui Tek Li sambil perlahan-lahan munculkan diri dari balik pintu gerbang benteng itu. "Katakanlah! Kejelekan apakah yang pernah aku lakukan sehingga malu bertemu dengan orang? Ayoh jawab...!"

It-boen Pit Giok mendengus dingin.

"Hmmm! Mencelakai jiwa orang dengan cara yang keji, hal itu merupakan suatu perbuatan yang sangat memalukan sekali. Toa- poocu! Engkau tak usah memperlihatkan wajahmu yang sok alim lagi... sebab tiada seorang manusia pundi kolong langit yang akan percaya dengan dirimu lagi.. semua orang sudah tahu dan kenal akan kelicikanmu..."

"Heehhmmm... ketahuilah tempat ini merupakan daerah terlarang dari Benteng Kiam-poo, aku tidak akan mengijinkan kalian untuk berlagak sok di tempat ini..."

"Huuuh... kalau Benteng Kiam-poo lantas kenapa? Dalam pandanganku Benteng Kiam-poo bukan sesuatu yang luar biasa..." jengek It-boen Pit Giok sinis, "toa-poocu! Engkau jangan harap dengan andalkan Benteng Kiam-poo mu itu maka kami berdua lantas terkurung dan tak mampu meloloskan diri lagi, terus terang kukatakan kepadamu, kalau bukan naga sakti tak akan menyeberangi sungai, asal kulepaskan pemberitaan maka empat penjuru Benteng Kiam-poo akan diserang dari empat penjuru hingga hancur berantakan, kalau engkau tidak percaya maka akan kuperlihatkan sesuatu benda kepadamu..."

Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, tiba-tiba ia lepaskan sebuah bom udara ke atas angkasa, dengan diiringi suara ledakan yang keras bom udara itu meletus di angkasa dan memancarkan asap warna hitam yang segera menyebar di seluruh udara.

Bersamaan dengan munculnya asap hitam itu, maka dari empat penjuru sekeliling Benteng Kiam-poo berkumandang pula suara ledakan-ledakan secara berantai, tujuh delapan macam cahaya api yang berwarna-warni berhamburan di angkasa membuat suasana di malam hari itu jadi terang benderang dan menyilaukan mata.

Air muka Cui Tek Li berubah hebat, sambil memandang asap di udara serunya :

"Ooooh...! Jadi anak buahmu telah ikut semua."

"Barang siapa masuk ke dalam Benteng Kiam-poo, ia bakal mati, karena itu mau tak mau aku harus bikin persiapan," ujar It-boen Pit Giok dengan dingin, asal engkau berani rebut kemenangan dengan andalkan jumlah banyak maka aku akan mengajak kalian untuk beradu jiwa... di bawah serangan gencar peluru-peluru api dari Perkumpulan Bunga Merah kami, aku percaya tak seorang anggota Benteng Kiam-poo yang berada di sini dapat lolos dalam keadaan selamat..."

"Baik! Kita coba lihat saja mana yang akhirnya lebih lihay..." kata Cui Tek Li dengan pandangan dingin.

Sorot matanya yang tajam bagaikan pisau dialihkan ke arah Pek In Hoei kemudian menambahkan :

"Pembunuh ayahmu telah mati."

"Hmmm! Di luaran sana memang sudah beres, tetapi masih ada satu hal masih belum beres!" jawab Pek In Hoei sambil mendengus.

"Hal yang mana????" tanya Cui Tek Li melengak.

"Masih ada engkau seorang, engkau baru merupakan musuh besar pembunuh ayahku... Cui Tek Li! Sebenarnya aku masih belum tahu kalau engkau begitu hina dan rendah, tetapi ini hari aku telah membuktikan akan sesuatu!"

"Membuktikan apa?" seru Cui Tek Li sambil tertawa dingin tiada hentinya.

Hawa napsu membunuh terlintas di atas raut wajah Pek In Hoei yang tampan. Dengan penuh kebencian jawabnya :

"Aku berhasil membuktikan bahwa engkau adalah seorang telur busuk tua yang jauh lebih rendah derajatnya daripada seekor binatang, bukan saja engkau memiliki hati ular berbisa yang menakutkan bahkan jauh lebih berbisa daripada ular macam apa pun, dunia persilatan bisa porak poranda macam begini kesemuanya bukan lain adalah hasil karyamu seorang..."

Setelah memaki pemilik dari Benteng Kiam-poo ini habis- habisan, pemuda itu rasakan hatinya jadi lega dan nyaman tetapi sebaliknya membuat air muka Cui Tek Li berubah jadi tak sedap dipandang, keadaannya jauh lebih parah daripada mulutnya ditampar beberapa kali, wajahnya pucat bagaikan mayat... "Kau berani memaki diriku secara begini kasar?" teriak Cui Tek Li dengan marahnya.

Pek In Hoei menengadah dan tertawa terbahak-bahak. "Haaaah... haaaah... haaaah... bukan saja aku hendak memaki

dirimu, aku pun hendak membinasakan dirimu. Cui Tek Li! Engkau telah terlalu lama berhutang darah dengan keluarga Pek kami... hutang tersebut telah kau biarkan berlarut-larut hingga banyak tahun..."

"Engkau tak akan kecewa Pek In Hoei," seru Cui Tek Li dengan hawa napsu membunuh menyelimuti pula seluruh wajahnya, "ini hari aku akan memberikan kepuasan bagimu, kita akan melangsungkan duel secara adil dan terbuka... semua anak buah Benteng Kiam-poo tidak akan munculkan diri untuk membantu aku, engkau boleh berlega hati..."

"Criiing...!" desingan pedang yang amat tajam dan tinggi melengking bergeletar di angkasa, Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei menggoncangkan senjatanya membentuk gerakan setengah lingkaran busur di udara, lalu ditujukan ke arah Cui Tek Li, musuh besar pembunuh ayahnya.

"Bersiap-siaplah untuk turun tangan..." ia berkata sambil tertawa sinis.

Cui Tek Li tertawa dingin.

"Legakanlah hatimu, aku tidak akan mencari suatu keuntungan apa pun darimu, engkau gunakan pedang mestika penghancur sang surya sedang aku gunakan pedang mestika bayangan emas, ke-dua belah pihak sama-sama tidak rugi..."

"Tangannya digetarkan dan pedang aneh bayangan emas yang tersoren di pinggangnya telah dicabut keluar, ia menggetarkan senjata itu di udara, sekilas cahaya tajam bagaikan mengalirnya air sungai memancar ke empat penjuru.

Ia tarik napas panjang-panjang, dua orang jago lihay itu saling berhadapan sambil bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan. Siapa pun tidak berani melepaskan setiap gerakan dari pihak lawannya, sebab dalam pertarungan antara dua tokoh maha sakti macam mereka, dalam satu jurus saja kemungkinan besar menang kalah dapat terlihat jelas.

Tiba-tiba dari balik gedung Benteng Kiam-poo yang sunyi berkumandang datang suara ketukan bok-hi yang amat nyaring... suara ketukan tersebut kian lama kian bertambah nyaring dan kian mendekat di sisi kalangan.

Air muka Cui Tek Li berubah hebat, dengan cepat ia berpaling ke belakang, tampaklah seorang perempuan berusia setengah baya dengan memakai kain berkabung warna putih belacu dan ikat kepala berwarna putih pula dengan mengiringi empat orang hweesio yang tiada hentinya mengetuk bok-hi lambat-lambat mendekati gelanggang pertarungan.

"Hujin, kau..."

Pek In Hoei sendiri pun dibikin tertegun oleh kemunculan perempuan setengah baya itu, teriaknya pula :

"Ibu!..."

"Aku sedang berkabung untuk kematian dari suamiku Pek Tiang Hong..." bisik perempuan itu dengan air mata bercucuran.

"Apa? Kau sudah edan?"

"Aku sama sekali tidak gila, selama banyak tahun aku selalu menantikan saat yang baik seperti sekarang ini, dan kini Hoa Pek Tuo telah mati, itu berarti dendam dari Pek Tiang Hong telah terbalas..."

"Tetapi Cui Tek Li belum mati..." teriak Pek In Hoei sambil menggertak giginya kencang-kencang.

Sekujur badan perempuan itu gemetar keras. "Nak, kau..." serunya.

"Aku hendak membalas dendam..." teriak Pek In Hoei dengan sepasang mata berapi-api.

"Aaaai...! Dengan sedih perempuan itu menghela napas panjang, "Nak, apakah engkau tak dapat lepaskan dirinya?" "Hujin, apa sebabnya engkau mintakan ampun bagiku?" sela Cui Tek Li dan sedih, "Pun poocu bukanlah seorang manusia yang suka dikasihani, maksud baikmu biarlah kuterima dalam hati saja. Heeehhhmmmm... heehhmmm... Pek Tiang Hong bisa mempunyai seorang putra macam ini, ia memang bisa beristirahat dengan tenang di alam baka..."

Dengan pandangan dingin ditatapnya Pek In Hoei sekejap, kemudian meneruskan :

"Kau memaksa aku untuk turun tangan?"

"Tentu saja!" jawab Pek In Hoei dengan tegas, "persoalan ini merupakan persoalan yang kupikirkan siang malam..."

Dengan sedih perempuan setengah baya itu menghela napas panjang, katanya :

"Nak, apakah engkau tak dapat melepaskan dirinya untuk kali ini saja..."

"Ibu, mengapa kau ucapkan kata-kata seperti itu..." teriak Pek In Hoei dengan badan gemetar keras.

Perasaan hati perempuan dewasa ini kacau dan tak menentu, ia sangat berharap agar putra kesayangannya ini bisa membalaskan dendam bagi suaminya yang telah mati Pek Tiang Hong tetapi sebaliknya Cui Tek Li adalah suaminya selama banyak tahun, hal ini membuat ia jadi ragu-ragu dan tak tahu apa yang mesti dilakukan.

Akhirnya ia gelengkan kepalanya. "Nak, ibu..."

Ia tak dapat mengutarakan rasa sedih dan pedih yang mencekam hatinya, dengan sedih ia gelengkan kepala, air mata bercucuran membasahi pipinya, dengan pandangan nyeri ditatapnya wajah Jago Pedang Berdarah Dingin...

"Ibu, kalau ada perkataan utarakanlah keluar," ujar Pek In Hoei dengan air mata bercucuran.

Perempuan itu menggeleng. "Sekali pun kukatakan, engkau pun tak akan mendengarkan perkataanku... percuma saja kukatakan..."

Walaupun Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei amat membenci Cui Tek Li pemilik dari Benteng Kiam-poo, akan tetapi dia pun seorang anak yang berbakti, ia tak mau menyusahkan atau pun menyedihkan hati ibunya di masa tua, setelah menghela napas panjang katanya dengan wajah serius :

"Ibu, aku akan menuruti perkataan..." "Ooooh...! Nak, sungguhkah itu..."

"Meskipun bukan engkau yang membesarkan diriku serta merawat aku hingga dewasa, akan tetapi bagaimana pun juga kau adalah ibuku aku tak bisa tidak harus menghormati dirimu. Ibu utarakanlah perkataanmu itu... kuturuti permintaanmu itu."

Air mata jatuh berlinang membasahi seluruh wajah perempuan setengah tua itu, saking terharunya segera ia menangis tersedu-sedu.

"Aku tak bisa memikirkan kebebasanku seorang sehingga melupakan keadilan," katanya dengan sedih, "Nak, perbuatanmu itu benar, karena tidak sepantasnya kalau ibu menghalangi perbuatanmu itu..."

"Ibu! Ananda tak paham dengan perkataanmu itu," kata Pek In Hoei dengan sedih.

"Nak, lakukanlah pembalasan dendam, sukma ayahmu di alam baka pasti akan melindungi dirimu, dalam persoalan ini tiada orang yang mampu menghalangi dirinya, aku pun berharap agar dendam sakit hati dari ayahmu bisa segera dibalas."

"Ooooh...! Ibu, terima kasih banyak atas kebesaran jiwamu," seru Pek In Hoei penuh rasa terharu.

"Hujin, kau..." teriak Cui Tek Li pula dengan wajah tertegun.

Perempuan setengah umur itu menghela napas panjang, katanya dengan sedih :

"Engkau telah membinasakan suamiku, merebut pula diriku, Cui Tek Li, selama banyak tahun kami dari keluarga Pek sudah cukup bersabar terhadap dirimu, sudah banyak yang kulakukan untuk keluarga Cui kalian, dan ke-dua orang putra-putrimu telah kurawat pula hingga menjadi dewasa..."

"Hujin, aku sangat berterima-kasih kepadamu..." bisik Cui Tek Li dengan wajah murung.

"Tek Li, meskipun anakmu bukan dilahirkan olehku, akan tetapi aku tetap mencintai mereka... tetap menyayangi mereka... selama banyak tahun antara mereka dengan aku sudah mempunyai hubungan perasaan yang mendalam... tapi sekarang persoalan telah terjadi, maafkanlah daku! Aku tak dapat merawat mereka lagi..."

"Aaaah! Jadi engkau akan pergi?" teriak Cui Tek Li dengan hati terperanjat.

Perempuan itu mengangguk.

"Aku tak dapat berdiam lebih lama lagi dalam Benteng Kiam-poo ini, aku tak ingin menyaksikan tempat yang penuh dengan kesedihan serta kepedihan ini..."

Dalam keadaan seperti ini Cui Tek Li tak dapat berbuat apa-apa lagi, setelah ditatapnya wajah perempuan itu dalam hati lalu ujarnya : "Pergilah! Aku pun tak akan menahan dirimu lagi... anak-anak

kita pun telah tumbuh jadi dewasa semua, mereka tidak membutuhkan perawatan serta perlindungan dari kita lagi... mereka telah dewasa semua..."

Bicara sampai di sini dengan pandangan dingin ia melirik sekejap ke arah Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei kemudian menambahkan :

"Pek In Hoei, silahkan turun tangan..."

"Bersiap-siaplah," seru Pek In Hoei sambil menggetarkan pedangnya, "aku hendak mengandalkan ilmu silat yang murni untuk membinasakan dirimu..."

Pada saat ini raut wajah Pek In Hoei telah diliputi oleh hawa napsu membunuh yang menggidikkan hati, ia menghembuskan napas panjang-panjang, tubuhnya mendadak meluncur ke depan, pedang mestika penghancur sang surya dalam genggamannya laksana kilat dibacok ke muka.

Cahaya kilat berkilauan membumbung di angkasa itu, Cui Tek Li pada saat yang bersamaan menggetarkan pula pedangnya...

"Pek In Hoei!" seru pemilik dari Benteng Kiam-poo itu secara tiba-tiba, "hari ini kupenuhi semua harapan dan keinginanmu itu."

Tubuhnya bukan menyingkir ke samping, tiba-tiba ia menyongsong datangnya ancaman tersebut.

Dalam pada itu Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei sedang merobah gerakan serangannya dari serangan membabat jadi serangan tusukan, ujung pedang yang tajam langsung menembusi ulu hati Cui Tek Li.

Jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian.

Dengan wajah meringis menahan rasa sakit ia roboh terkapar di atas tanah, kejadiannya sama sekali di luar dugaan semua orang, siapa pun tidak mengira kalau orang she-Cui itu sama sekali tidak menghindarkan diri terhadap ancaman maut itu, sebaliknya malah memapaki dengan tubuhnya.

"Mengapa engkau tidak membalas?" teriak Pek In Hoei dengan penuh kemarahan.

Dengan sedih sekali Cui Tek Li tarik napas panjang. "Memandang di atas wajah ibumu, aku tidak ingin bergebrak

melawan dirimu, selama banyak tahun sudah terlalu banyak budi pekerti dan kebaikan yang dia berikan untuk keluarga Cui kami..."

"Tek Li... Tek Li..." seru perempuan itu sambil menangis terisak. Cui Tek Li melototkan matanya bulat-bulat, setelah memandang sekejap ke arah perempuan setengah tua itu dengan pandangan lembut, ia berkelejot sebentar dan menghembuskan napas yang

terakhir...

Pek In Hoei berdiri termangu-mangu di tempat semula, memandang mayat dari musuh besar pembunuh ayahnya yang terkapar di atas tanah, ia tak tahu apa yang mesti dilakukan segera... dia pun tidak tahu mesti gembira atau sedih dengan keberhasilannya ini...

Lama sekali ia tertegun... pada akhirnya didekatinya tubuh ibunya, sambil membimbing ia bangun berdiri, bisiknya lirih :

"Ibu, kini semuanya telah selesai... sekarang mari kita pulang ke rumah kita..."

Di atas tanah kini tertinggal tiga sosok bayangan manusia, mereka adalah It-boen Pit Giok, Pek In Hoei serta ibunya... perempuan setengah baya itu... dengan kesedihan mereka tinggalkan Benteng Kiam-poo yang sunyi di dalam kegelapan...

Bayangan tubuh mereka bertiga kian lama kian mengecil hingga akhirnya lenyap dari pandangan.

Dengan begitu maka saya pun mengakhiri cerita 'Imam Tanpa Bayangan' ini sampai di sini saja, sampai jumpa di lain kesempatan.

T A M A T