-->

Imam Tanpa Bayangan I Jilid 48

 
Jilid 48

PERCIKAN DARAH SEGERA memancar ke empat penjuru dua orang jago lihay dari Komplotan Tangan Hitam, sebelum sempat melihat jelas raut wajah musuhnya tahu-tahu jiwa mereka telah melayang tinggalkan raganya, sedang ke-tiga dengan mata terbelalak dan mulut melongo duduk dengan badan gemetar keras, dengan sorot mata penuh ketakutan ditatapnya wajah Jago Pedang Berdarah Dingin itu, lalu serunya dengan suara gemetar:

"Oooh... kau!"

"Hmm! Berapa banyak orang yang ada di atas bukit ini?" hardik Pek In Hoei dengan nada ketus.

"Hamba tidak tahu," jawab pria itu sambil menggeleng, "kami hanyalah para petugas yang berjaga di lingkaran paling depan, terhadap semua urusan yang terjadi di atas sana tak boleh ikut tahu, tapi aku lihat hari ini banyak sekali yang telah berdatangan!"

"Bagaimanakah persiapan di bukit sebelah depan sana?" tanya Gan In dengan alis berkerut.

Pria itu ketakutan setengah mati sehingga tubuhnya gemetar keras, jawabnya :

"Semua kekuatan yang kami miliki telah dihimpun di bukit sebelah depan, di sekitar tempat itu telah disiapkan batu cadas,anak panah dan balok-balok kayu, bila kalian naik ke atas bukit maka semua alat serangan itu akan dilancarkan ke bawah, dalam keadaan begini tentu saja sebagian besar kekuatan yang kalian miliki akan ludes sama sekali, pada waktu itulah dari atas bukit batu akan muncul para jago lihay untuk melangsungkan pertarungan dengan kalian."

"Hmm! Sempurna amat rencana kalian itu..." seru Gan In sambil mendengus dingin.

Dengan hati mendongkol ia tendang tubuh pria itu ke atas, sehingga membuat orang tadi terjengkang dan roboh tak berkutik di atas tanah, kemudian sambil berpaling ke arah Pek In Hoei katanya : "Lebih baik kita bertindak hati-hati," jawab Pek In Hoei sambil gelengkan kepalanya, "tujuan dari kedatangan kita saat ini adalah melenyapkan jebakan-jebakan yang telah dipersiapkan oleh pihak lawan, kalau kita bisa bertindak cermat hingga tidak sampai diketahui

oleh mereka hal itu jauh lebih baik lagi, asal kita berdua..."

Ia menengadah ke atas dan tiba-tiba menyaksikan sesosok bayangan manusia sedang lari ke arah mereka dengan kecepatan bagaikan kilat, Jago Pedang Berdarah Dingin segera menggenjot tubuhnya menyerang ke muka, telapak kanannya disilangkan di depan dada siap menghadapi segala kemungkinan sedang tangan yang lain siap melakukan penangkapan.

Sungguh cepat gerak tubuh manusia itu, dalam sekali gerak badan ia telah meloloskan diri dari kejaran Pek In Hoei, setelah saling berhadapan muka Jago Pedang Berdarah Dingin baru berdiri tertegun, sebab orang yang berada di hadapannya saat itu ternyata adalah seorang gadis muda.

"Pek-heng, tunggu sebentar," tiba-tiba Gan In berseru sambil goyangkan tangannya, "dia adalah orang sendiri..."

"Orang sendiri..." ujar Pek In Hoei dengan wajah tertegun dan tidak habis mengerti.

Sementara itu tampaklah gadis tadi sudah tersenyum ketika ditemuinya Gan In berada di situ, ia berkata :

"Engkoh In, kenapa engkau muncul di tempat ini?" Gan In tertawa hambar. "Adik Hoa, aku serta Pek-heng sedang bersiap-siap untuk melakukan peninjauan lebih dahulu ke atas bukit, aku dengar di sekitar tempat ini sudah dipersiapkan jebakan-jebakan maut..."

Ia melirik sekejap ke arah gadis cantik itu, kemudian menambahkan :

"Dan engkau sendiri mau apa?"

"Secara diam-diam aku hendak menyusup turun ke bawah bukit dan memberitahukan keadaan di tempat ini kepada kalian, ini hari sebagian besar anggota Komplotan Tangan Hitam telah berkumpul di sini, dan sekarang mereka sedang melakukan perundingan rahasia."

"Tentang soal itu sih tak usah kau kuatirkan," jawab Gan In sambil tertawa dingin, "sekarang engkau harus berusaha untuk melindungi kami, dan kita hancurkan lebih dahulu semua jebakan- jebakan yang telah dipersiapkan pihak lawan, setelah semua penjagaan di situ berhasil kita patahkan maka para saudara dari Perkumpulan Bunga Merah akan menyergap naik ke atas bukit dalam keadaan yang tiba-tiba..."

"Tindakan semacam ini terlalu menempuh bahaya," sahut gadis itu sambil menggeleng, "aku telah berhasil mengetahui sebuah jalan rahasia di tempat ini, jalan tersebut bisa langsung mencapai atas puncak bukit ini tanpa menjumpai rintangan apa pun, asalkan saudara- saudara dari Perkumpulan Bunga Merah dapat menghindari bukit di sebelah depan sana, maka tak usah dihancurkan semua jebakan itu pun akan tak berfungsi lagi..."

"Ooooh...! Benarkah terdapat jalan seperti itu..." seru Gan In tercengang.

Sambil tertawa dara ayu itu mengangguk.

"Aku telah meninggalkan tanda rahasia di jalan rahasia tersebut, pada setiap sepuluh batang pohon terdapat sekuntum bunga merah, asal engkau mencarinya dengan teliti di sekitar bawah bukit maka jalan itu akan kau temukan dengan mudah, sekarang lebih baik kalian tak usah menggebuk rumput mengejutkan ular kesemuanya dan berjalan menurut rencana..."

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... " tiba-tiba dari belakang batu karang berkumandang datang suara tertawa dingin yang amat menyeramkan, begitu suara tertawa dingin itu berkumandang keluar, Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei segera menggerakkan tubuhnya menerjang ke muka, telapak tangannya langsung diayun melancarkan sebuah babatan.

Anggota Komplotan Tangan Hitam yang bersembunyi di tempat kegelapan itu tertawa dingin, sambil ayun telapaknya ia lompat keluar dari tempat persembunyiannya.

Ternyata dia adalah seorang kakek tua bermata segi tiga, berhidung lebar dan bermulut besar, sambil memandang ke arah gadis ayu itu ia tertawa dingin dan berkata :

"Ong Li Hoa, rupanya telah bersekongkol dengan orang-orang dari Perkumpulan Bunga Merah..."

Air muka Ong Li Hoa berubah hebat, saking takutnya sekujur tubuhnya gemetar keras, ia tak menyangka kalau rahasianya bakal terbongkar dalam keadaan seperti ini, dengan wajah pucat pias bagaikan mayat dia mundur dua langkah ke belakang, serunya :

"Thian Goan, mau apa engkau bersembunyi di situ?"

Gan In sendiri pun merasakan hatinya tercekat setelah mengetahui siapakah musuh yang munculkan diri itu, ia tak menyangka kalau kakek tua di hadapannya adalah si Pendekar Setan Thian Goan yang amat tersohor namanya di wilayah See-Ih, sebagai seorang jago yang berpengalaman dan berpengetahuan luas, setelah menyaksikan kemunculan orang itu hatinya langsung tercekat, katanya dingin :

"Oooooh...! Jadi kau adalah Thian Goan dari wilayah See-Ih, Thian sianseng."

"Sedikit pun tidak salah!" jawab Thian Goan sambil tertawa seram, wakil ketua she Gan, aku sudah lama sangat mengagumi akan nama besarmu... sungguh beruntung hari ini kita bisa saling berjumpa..."

Gan In mengerutkan dahinya, hawa napsu membunuh terlintas di atas wajahnya, ia berkata :

"Thian sianseng, engkau bukannya hidup makmur di wilayah See-Ih, mau apa engkau kunjungi tempat seperti neraka ini..."

"Hmmm! Tutup mulutmu!" bentak Thian Goan sambil mendengus, "aku datang kemari atas undangan dari pemimpin Komplotan Tangan Hitam, ia minta aku menggabungkan diri dengan kekuatannya untuk menelan semua partai yang ada di kolong langit dan merajai dunia persilatan. Hmmm! Kalian manusia-manusia kurcaci dari Perkumpulan Bunga Merah berani berlagak sombong dan coba menentang kekuatan kami... Hmmm... hmmm... lebih baik cepat-cepatlah menyerah..."

"Cuuuh...!" Gan In meludah dengan penuh penghinaan, lalu membentak gusar :

"Selamanya kami orang-orang dari Perkumpulan Bunga Merah tak sudi hidup berdampingan dengan Komplotan Tangan Hitam..."

Thian Goan tertawa sinis.

"Aku dengar katanya di pihak perkumpulan kalian telah kedatangan seorang jago lihay yang menyebut dirinya sebagai Jago Pedang Berdarah Dingin. Hmmm...! Besar amat nyali bajingan itu, ia berani melukai Mao Bong saudara seanggota kami... Heehmmm...heehmmm... aku sangat berharap pada hari ini bajingan cilik itu bisa ikut munculkan diri untuk menjumpai aku orang she Thian, akan kusuruh dia rasakan sampai di manakah kelihayan dari ilmu pedang aliran See-Ih ku ini..."

Pek In Hoei segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... akulah si Jago Pedang Berdarah Dingin yang kau cari!"

Secara beruntun Thian Goan mundur beberapa langkah ke belakang, dengan wajah sangsi bercampur ragu ia menatap wajah Jago Pedang Berdarah Dingin beberapa saat lamanya, kemudian menegur :

"Benarkah engkau adalah Pek In Hoei?"

"Sedikit pun tidak salah," jawab pemuda itu sambil tertawa dingin, "Thian sianseng, ada urusan apa engkau mencari diriku?"

"Aku ingin sekali memohon petunjuk dari jurus ilmu pedang yang terampuh dari daratan Tionggoan," sahut Thian Goan sambil meloloskan pedangnya, "aku sangat heran sekali, kenapa seorang pemuda yang masih bau tetek macam dirimu bisa mempunyai kesempurnaan yang luar biasa dalam permainan ilmu pedang, lebih heran lagi apa sebabnya Mao Bong bisa terluka di ujung pedangmu..."

Pek In Hoei mendengus dingin, ia tidak melayani perkataan orang itu sebaliknya berpaling ke arah Gan In sambil tanyanya :

"Apakah orang ini boleh dibiarkan hidup atau tidak?" Gan In tertegun, lalu jawabnya dengan cepat :

"Kau harus turun tangan cepat-cepat, lebih baik lagi kalau tidak sampai diketahui oleh seorang manusia pun yang ada di atas bukit ini, kalau tidak maka kedudukan Ong Li Hoa di sini akan hancur berantakan, Pek-heng dalam keadaan seperti ini kita tak bisa bertindak bijaksana dan lemah lagi, kalau tidak maka puluhan lembar jiwa anggota Perkumpulan Bunga Merah akan musnah di tempat ini juga..."

Thian Goan sama sekali tidak menyangka kalau dua orang pemuda yang berada di hadapannya sama sekali tidak memandang sebelah mata pun terhadap dirinya, karena gusar bercampur mendongkol sekujur tubuhnya gemetar keras, hawa amarah berkobar dalam dadanya dan memuncak dalam benak, sambil ayunkan senjatanya ia berteriak :

"Bajingan cilik, engkau jangan terlalu takabur..."

Ilmu pedang aliran See-Ih tersohor karena jurus-jurus serangannya yang aneh serta arah serangan yang jauh berlawanan dengan ilmu pedang pada umumnya, setelah Thian Goan melancarkan serangannya maka arah yang dituju membingungkan sekali, untuk beberapa saat lamanya Jago Pedang Berdarah Dingin itu tak tahu bagian tubuh yang manakah yang sedang diancam oleh lawannya.

Diam-diam Pek In Hoei terkesiap, pikirnya :

"Ilmu pedang aliran See-Ih rupanya benar-benar luar biasa dan tak boleh dipandang enteng..."

Ia sadar bahwa waktu pada saat ini sangat berharga sekali dan mempengaruhi setiap lembar nyawa yang ada di bawah bukit, asal ia bersikap mengendor niscaya puluhan lembar nyawa akan lenyap tak berbekas, setelah terbayang akan seriusnya situasi ketika itu, pedang mestika penghancur sang surya segera dilancarkan ke muka dengan hebatnya.

"Thian sianseng, maafkanlah daku!" serunya dengan suara berat. Setelah pedang dilancarkan, di tengah udara berkumandanglah suara dengungan yang sangat nyaring, serentetan cahaya pedang yang menyilaukan mata memancar keluar mengiringi gerakan 'Lak-liong- hui-jit' atau Enam Naga Menghadap Sang Surya, selapis hawa pedang

yang kuat seketika menyelimuti seluruh tubuh Thian Goan.

Jurus serangan itu merupakan salah satu jurus paling ampuh di antara ilmu pedang penghancur sang surya, dan merupakan jurus serangan yang paling cepat pula untuk menyelesaikan satu pertarungan. Thian Goan sama sekali tidak menyangka kalau ilmu pedang yang dimiliki lawannya selihay itu, dalam kejutnya ia jadi ketakutan dan buru-buru jatuhkan diri bergelinding di atas tanah.

Darah segera memancar keluar dari lengan jago lihay tersebut, air mukanya berubah hebat dan senyuman pedih tersungging di ujung bibirnya dengan suara mendendam ia berteriak :

"Bagus, rupanya engkau memang sangat hebat..."

Sambil ayun pedangnya Pek In Hoei mendesak maju lebih ke depan, ujarnya dengan suara dingin :

"Engkau dapat meloloskan diri dari sejurus seranganku, hal ini menandakan kalau engkau masih lumayan juga." Tiba-tiba Thian Goan putar badan dan kabur dari situ, teriaknya keras-keras :

"Keparat cilik, nantikan pembalasanku."

Jago Pedang Berdarah Dingin segera enjotkan badan siap melakukan pengejaran, akan tetapi Gan In yang berada di sisinya telah menghalangi kepergiannya sambil berseru :

"Mari kita turun gunung saja, rupanya pihak lawan sudah mengetahui gerakan kita..."

"Bagaimana dengan aku?" seru Ong Li Hoa dengan hati gelisah hingga air mata jatuh bercucuran, "mereka sudah tahu kalau aku bekerja untuk Perkumpulan Bunga Merah, aku pasti akan dibunuh oleh mereka... engkoh In, katakanlah apa yang harus kulakukan sekarang?"

Gan In gelengkan kepalanya.

"Apa daya lagi? Kejadian ini adalah suatu tindakan yang terpaksa, sekarang engkau hanya bisa berlalu mengikuti kami, kau tak bisa kembali ke situ lagi... meskipun para anggota Komplotan Tangan Hitam lihay akan tetapi mereka tak akan berani mengganggu dirimu secara sembarangan..."

Dengan air mata bercucuran Ong Li Hoa menghela napas panjang, terpaksa ia harus mengikuti Gan In serta Jago Pedang Berdarah Dingin untuk turun ke bawah bukit, ke-tiga orang itu bergerak bagaikan hembusan angin, dalam waktu singkat mereka sudah kembali ke induk pasukan.

Dalam pada itu Pertapa Nelayan dari Lam-beng sedang mempersiapkan anak buahnya untuk melakukan sergapan ke atas bukit, ketika menyaksikan Gan In sekalian tiba kembali, ia nampak tertegun.

Dengan cepat Gan In memberikan perintahnya, kemudian memerintahkan seluruh pasukan bergerak ke atas gunung.

Di bawah pimpinan Ong Li Hoa, berangkatlah para jago lihay dari Perkumpulan Bunga Merah yang tak jeri menghadapi kematian ini menuju ke atas bukit lewat jalan rahasia yang tidak dipasang jebakan tersebut.

Para anggota Komplotan Tangan Hitam tidak menyangka kalau musuh-musuhnya dapat menemukan jalan rahasia tersebut, menanti mereka menyadari akan hal tersebut di atas, persiapan sudah tak sempat lagi dilakukan lagi. Kejadian ini membuat para jago dari Komplotan Tangan Hitam jadi amat mendongkol sekali.

Blaaam...! Dari atas puncak Siau-in-san tiba-tiba terjadi ledakan dahsyat, diikuti munculnya satu rombongan jago lihay berbaju hitam di bawah pimpinan Mao Bong.

Ketika sampai di tengah bukit, Mao Bong segera berseru dengan suara lantang :

"Sahabat-sahabat dari Perkumpulan Bunga Merah dipersilahkan naik ke atas bukit."

Gan In agak tertegun melihat kemunculan orang-orang itu, tapi sebentar kemudian ia telah berkata :

"Rupanya pihak lawan telah tinggalkan jebakan-jebakannya serta mengutus orang untuk mengundang kehadiran kita ke atas bukit. Haaaah... haaaah... haaaah... mereka tahu bahwa siasatnya tidak jalan maka secara suka rela mengadakan penyambutan..."

Menanti para jago Perkumpulan Bunga Merah sudah naik semua ke atas, berangkatlah Mao Bong memimpin jalan di paling depan, walaupun bukit Siau-in-san curam dan berbahaya sekali letaknya akan tetapi di atas puncak merupakan sebidang tanah datar, di sana meja perjamuan telah dipersiapkan, dan dua baris anggota Komplotan Tangan Hitam dengan senjata tersoren menyambut kedatangan mereka di sepanjang jalan.

Menyaksikan kekuatan musuh yang rupanya sengaja dipamerkan itu, Gan In mendengus dingin, ujarnya :

"Mao heng, apakah ketua kalian sudah tiba?"

"Saudara Gan tak usah gelisah atau pun terburu napsu,"jawab Mao Bong dengan ketus, "Komplotan Tangan Hitam berani mengundang kehadiran kalian di tempat ini, tidak nanti kami akan bikin hati kalian jadi kecewa, silahkan kalian menanti..."

"Hmmm, Komplotan Tangan Hitam berani mengundang kehadiran kami, kenapa ketua kalian tak berani hadir sedari tadi..." sindir Gan In dengan nada sinis.

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... saudara Gan, coba lihatlah!

Bukankah ketua kami telah tiba..."

Mengikuti arah yang ditunjuk, terlihatlah tiga orang kakek berjubah merah sedang berjalan menuju ke puncak mengiringi seorang pria kurus yang berjubah dengan sulaman naga serta memakai kain kerudung hitam di atas wajahnya.

Gan In tertegun, segera pikirnya di dalam hati :

"Apakah manusia berkerudung itu ketua Komplotan Tangan Hitam...? Ia mengerudung wajahnya dengan kain hitam dan cuma perlihatkan sepasang matanya belaka, apa maksudnya berbuat begitu? Apakah ia tak berani menjumpai orang dengan wajah asli ataukah sengaja berlagak sok misterius hingga menimbulkan kesan yang luar biasa dalam hati kami semua..."

Perlahan-lahan ke-tiga orang kakek berjubah merah itu naik ke atas puncak dan berhenti di depan sebuah meja, manusia berkerudung itu sendiri setelah melirik sekejap ke arah Gan In serta Jago Pedang Berdarah Dingin segera menempati kursinya dengan sombong. 

Tak sepatah kata pun yang diucapkan, ia cuma ulapkan tangannya belaka.

Seorang kakek jubah merah segera maju ke depan, setelah menyapu sekejap wajah Gan In sekalian dengan pandangan dingin, katanya :

"Ketua kami mempersilahkan wakil ketua she-Gan untuk menempati kursi utama..."

Gan In mendengus dingin.

"Hmmm! Bukan dia yang buka suara, kenapa engkau yang banyak mulut..." serunya. Kedudukan kakek jubah merah itu rupanya tidak rendah, setelah mendengar perkataan dari Gan In yang begitu jumawa dan sama sekali tak pandang sebelah mata pun terhadap dirinya itu, kontan ia naik pitam, dengan penuh kegusaran ditatapnya Gan In sekejap lalu teriaknya :

"Wakil ketua Gan, kalau berbicara aku harap engkau bisa sedikit tahu diri..."

"Aku lihat lebih baik engkau menyingkir saja dari situ, apa sih kedudukanmu di dalam Komplotan Tangan Hitam? Berani benar mewakili atasanmu untuk berbicara dengan aku, apakah Komplotan Tangan Hitam memang tak kenal akan tata kesopanan?"

Kakek jubah merah itu tertegun, sekilas rasa ngeri terbentang di atas wajahnya, dengan cepat ia berpaling dan memandang sekejap ke arah ketuanya, namun pada waktu itu sang ketua sedang memandang ke atas sambil memandang awan di angkasa, terhadap kejadian yang berlangsung di tempat itu sama sekali tidak menaruh perhatian.

Ia segera menenangkan hatinya dan berkata :

"Wakil ketua she-Gan, anggap saja engkau lebih hebat... Aku Lan Eng akan selalu mengingatnya di dalam hati."

Gan In sert Pek In Hoei sama sekali tidak memandang sebelah mata pun terhadap kakek jubah merah yang mengaku bernama Lun Eng itu, dengan langkah lebar ia maju ke depan dan duduk di kursi tepat berhadapan muka dengan kakek berkerudung hitam itu, sedangkan para anggota Perkumpulan Bunga Merah sama-sama ambil tempat duduk pula di samping pemimpinnya.

"Hay ketua dari Komplotan Tangan Hitam," seru Gan In dengan suara dingin, "kemarilah dan mari kita berbicara..."

Perkataan ini amat sombong dan sama sekali tidak memandang sebelah mata pun terhadap para jago dari Komplotan Tangan Hitam, hal ini membuat para jago yang hadir di situ jadi naik pitam dan segera melotot bulat-bulat, sikap mereka sangat mengancam dan suatu pertarungan rupanya segera akan berlangsung. Melihat gelagat yang kurang baik, para anggota Perkumpulan Bunga Merah di bawah pimpinan Pertapa Nelayan dari Lam-beng pun melakukan persiapan untuk menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Ketua dari Komplotan Tangan Hitam itu sama sekali tidak berkutik dari tempat semula, dia tidak memberi komentar apa pun, tidak menunjukkan reaksi apa pun juga, seakan-akan kejadian tersebut sama sekali tak ada hubungannya dengan dia.

"Gan In," teriak Mao Bong dengan sangat gusar, "berani benar engkau bersikap kurang ajar terhadap ketua kami?"

Gan In tidak menjawab, dia hanya melirik sekejap ke arah Mao Bong dengan pandangan dingin, sama sekali tidak menggubris ucapan dari lawannya.

Melihat ucapan tidak diambil peduli, Mao Bong semakin naik pitam, ia mencak-mencak dan berkaok-kaok kegusaran, teriaknya :

"Hey, kenapa kamu tidak bukan suara? Apakah tidak pandang sebelah mata pun terhadap aku orang she Mao?"

Berada dalam keadaan seperti ini, wakil ketua Gan jadi serba salah. Untunglah Pertapa Nelayan dari Lam-beng segera menjawab : "Kami merasa tiada kepentingan untuk mengajak engkau berbicara," jawab Pertapa Nelayan dari Lam-beng dengan suara dingin, "sebab di dalam Komplotan Tangan Hitam engkau tidak lebih hanya seorang badut kecil yang sama sekali tak ada artinya, berbicara dengan manusia seperti dirimu tidak lebih hanya merosotkan derajat

sendiri."

"Hmmm...!" Mao Bong berteriak gusar, "kentut busuk nenekmu, meskipun dalam Komplotan Tangan Hitam aku tidak mempunyai kedudukan apa-apa, akan tetapi aku pun bukan manusia yang gampang dihina dan dipermainkan dengan begitu saja, siapa yang berani pandang rendah aku orang she Mao, maka aku akan mengutuk nenek moyangnya..." "Mao Bong, mundur..." mendadak manusia berkerudung itu membentak dengan mata melotot.

Hanya beberapa patah kata saja namun mendatangkan daya pengaruh yang amat besar, Mao Bong jadi ketakutan setengah mati dan buru-buru memberi hormat.

"Baik ketua!"

Dengan hati mendongkol ia segera mengundurkan diri ke belakang.

Angin dingin berhembus lewat menimbulkan suara berisik pada daun dan ranting pohon, para jago dari Perkumpulan Bunga Merah dengan senjata siap di tangan berdiri teratur di kedua belah sisi tempat itu, sedang para jago dari Komplotan Tangan Hitam bersiap-siap pula di sekitar tempat itu, pertarungan setiap saat mungkin akan berlangsung.

"Plaaak...!" tiba-tiba ketua dari Komplotan Tangan Hitam menghantam meja dengan keras membuat perhatian semua orang ditujukan ke arahnya.

"Saudara Gan," terdengar ia berkata dengan suara dingin, "permusuhan yang terjadi antara Perkumpulan Bunga Merah serta Komplotan Tangan Hitam bukan baru berlangsung selama satu dua hari saja, ke-dua belah pihak sama-sama kukuh dalam pendiriannya masing-masing dan sulit dilakukan penyelesaian secara damai, oleh sebab itulah hari ini sengaja kami undang kehadiran Gan-heng ke atas puncak Siau-in-san untuk menyingkirkan segala perbedaan paham yang ada di antara kita..."

Gan In mendengus dingin.

"Hmmm! Kalau engkau memang berniat sungguh-sungguh, apa sebabnya tidak menemui kami dengan raut wajah aslimu?"

Diam-diam wakil ketua dari Perkumpulan Bunga Merah ini merasa malu, karena pihak lawan mengetahui dirinya amat jelas sebaliknya dia sama sekali tak tahu siapakah lawannya, karena itu dalam pembicaraan pun ia berusaha untuk membongkar rahasia dari ketua Komplotan Tangan Hitam itu.

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh..." ketua dari Komplotan Tangan Hitam itu segera tertawa seram, "mungkin Gan-heng masih belum tahu akan peraturan dari komplotan kami, maka tidak bisa memahami pula keadaan kami yang sebenarnya, ketua dari organisasi hanya merupakan suatu lambang belaka maka bukan saja orang lain tak boleh tahu, sekali pun saudara-saudara dari organisasi kami pun tak boleh mengetahuinya pula, barang siapa yang melihat raut muka ketuanya berarti kematian sudah tiba di depan mata, Gan-heng, dalam keadaan begini engkau pasti tak akan menuduh bahwa aku tak sudi memenuhi harapanmu bukan..."

"Hmmm! Sok rahasia..." jengek Gan In.

"Bukan, bukan aku sok rahasia... ketika aku mendirikan organisasi ini tempo hari, peraturan ini telah kutetapkan lebih dahulu, siapa pun tak boleh tahu siapakah ketua mereka, karena itu pada dasarnya Komplotan Tangan Hitam adalah suatu perkumpulan rahasia maka kata sok rahasia sebelumnya sudah tak pantas untuk digunakan lagi!"

Gan In mendengus dingin.

"Hmmm! Ketua lebih baik kita tak usah membicarakan tentang soal itu lagi, untuk mempermudah kita dalam berbicara, sebutan apakah yang harus kupergunakan untuk menyebut dirimu? Bagaimana pun juga toh tak bisa kalau aku tak tahu siapakah namamu bukan? Engkau harus tahu, bahwa aku adalah seorang manusia yang tidak sudi bercakap-cakap dengan seorang manusia yang tidak jelas asal usulnya, sebab hal itu telah menghilangkan rasa persahabatan di antara ke-dua belah pihak.."

Ketua dari Komplotan Tangan Hitam termenung sebentar, kemudian sambil menatap wajah Gan In dengan pandangan tajam katanya : "Heehmmm...! Engkau memang seorang musuh yang amat lihay, sehingga membuat aku pun merasa kagum terhadap dirimu... berhubung alasanmu tepat sekali, terpaksa aku harus memberikan pula satu jawaban kepadamu, begini saja... sebutlah aku sebagai Sam- ciat sianseng..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... bagus sekali, Sam Ciat sianseng... tolong tanya tiga kelihayan apakah yang kau andalkan sehingga bernama Sam ciat?" ejek Gan In sambil tertawa terbahak-bahak, "dapatkah engkau memberi keterangan kepadaku sehingga semua anggota perkumpulanku dapat mengetahuinya..."

"Kau sedang mentertawakan aku?"

"Kalau engkau tak mau bicara, tentu saja aku pun tak akan memaksa dirimu. Bukit Siau-in-san adalah engkau yang usulkan itu berarti engkau adalah setengah tuan rumah di tempat ini, bila kau ada urusan sekarang boleh diutarakan keluar..."

"Hmmm... bagus sekali," sahut Sam Ciat sianseng sambil tertawa seram, "aku tak ingin begitu cepat bentrok muka dengan dirimu, tapi rupanya keadaan telah memaksa dirimu untuk membicarakan juga masalah tersebut dengan engkau saudara Gan! Sebelum kita lakukan perundingan secara terbuka maka terlebih dahulu aku ingin mohon bantuan dari dirimu."

"Kuil kami terlalu kecil," jawab Gan In sambil menggeleng, "aku takut tempat kami tak muat untuk menerima engkau si malaikat besar..."

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... mana...mana... bicara sesungguhnya persoalan ini sebenarnya amat sederhana sekali, asal Gan-heng anggukan kepala maka semua telah beres... bersediakah engkau?..."

Gan In mengerutkan dahinya, ia tak tahu apakah yang dimohonkan oleh Sam Ciat sianseng tersebut, sebagai orang yang berhati-hati ia tak mau menyanggupi dengan begitu saja, sebab ia tahu asal ia telah menyetujui maka sebagai seorang lelaki sejati segala apa pun yang diminta harus dipenuhi.

Karena itu setelah termenung sebentar, ujarnya dengan wajah serius :

"Sam Ciat sianseng, coba katakan dahulu apakah permintaan itu, asal persoalan itu dapat dilakukan maka dalam hubungan pribadi tentu saja aku bersedia untuk membantu dirimu, tetapi kalau dalam urusan dinas maka maafkan saja diriku sebab Perkumpulan Bunga Merah bukan dikuasai olehku... Nah sekarang katakanlah dahulu apa permintaanmu itu..."

Diam-diam Sam Ciat sianseng mendengus dingin, ia tak nyana kalau Gan In adalah seorang manusia yang teliti, meskipun usianya masih muda namun pengalaman serta pengetahuannya sudah begitu luas, sambil tertawa dingin segera pikirnya :

"Hmmm...! Sekarang kau tak usah berlagak sok, nanti aku akan suruh engkau menangis..."

Berpikir sampai di situ segera ujarnya dengan dingin :

"Gan-heng, pelbagai perguruan atau partai yang berada di dalam dunia persilatan paling membenci dan mendendam terhadap manusia yang disebut pagar makan tanaman, sejak Komplotan Tangan Hitam didirikan baru kali ini aku merasa amat gusar dan amat tidak terima, oleh karena itu aku harap Gan-heng suka menyerahkan perempuan rendah itu kepada kami."

Ong Li Hoa yang mendengar perkataan itu jadi ketakutan setengah mati sehingga tubuhnya gemetar keras, air mata jatuh bercucuran membasahi wajahnya, ia tundukkan kepala rendah-rendah dan menyembunyikan diri di belakang para jago lainnya.

Gadis itu menyadari bahwa sampai di manakah keganasan serta ketelengasan orang dari Komplotan Tangan Hitam, membayangkan nasibnya setelah hari ini tanpa terasa gadis itu jadi semakin sedih.

Gan In berpaling dan memandang sekejap ke arah Ong Li Hoa, kemudian berkata : "Sam Ciat sianseng, perkataan itu keliru besar... nona Ong adalah salah satu di antara mata-mata yang telah kami susupkan ke dalam tubuh organisasimu, orang-orang itu sengaja kami susupkan ke tubuh organisasi kalian untuk menyadap pembicaraan serta rencana-rencana besar kalian, oleh sebab itu gadis tersebut tak dapat dihitung sebagai salah seorang anggota dari Komplotan Tangan Hitam. Sungguh menggelikan sekali kalian-kalian yang tak mampu mengawasi anak buahnya sendiri... kenapa sekarang malah marah kepadaku? Dalam keadilan kalian tak pantas untuk meminta kembali dirinya dari tangan kami..."

"Hmmm...!" Sam Ciat sianseng mendengus dingin, "ia pernah bersumpah untuk masuk menjadi anggota perkumpulan kami, itu berarti ia sudah merupakan salah seorang anggota dari Komplotan Tangan Hitam, sekarang aku telah mengambil keputusan untuk menjatuhi hukuman yang setimpal kepadanya, sebelum ia menjalankan hukuman, pembicaraan apa pun tak akan kami lakukan..."

"Jika aku tidak akan mengabulkan permintaan mu itu? Apa yang hendak kau lakukan?"

"Hmmm! Aku rasa engkau tak akan mampu melindungi perempuan rendah itu...?" sahut Sam Ciat sianseng, ia berpaling dan memandang sekejap ke arah Mao Bong, kemudian melanjutkan, "Mao Bong, tangkap perempuan rendah itu dan gusur kemari!"

"Baik, ketua!" jawab Mao Bong sambil memberi hormat.

Diiringi empat orang anggota Komplotan Tangan Hitam mereka segera berjalan menuju ke arah rombongan para jago Perkumpulan Bunga Merah dengan langkah lebar, rupanya jago nomor satu dari wilayah Kam-siok ini sama sekali tak pandang sebelah mata pun terhadap lawan-lawannya, ia dorong anggota Perkumpulan Bunga Merah ke samping dan berusaha menerobos masuk ke dalam.

Tentu saja para jago dari Perkumpulan Bunga Merah tak mau menyingkir dengan begitu saja, sebelum mendapat perintah mereka pun tak berani turun tangan secara gegabah, maka semua orang berdiri tegak tanpa berkutik.

Dalam keadaan begini, tentu saja Mao Bong jadi repot juga untuk menyeret Ong Li Hoa dari tengah kurungan para jago dari Perkumpulan Bunga Merah itu...

"Ayoh menyingkir... menyingkir..." bentak Mao Bong dengan amat gusar, "kalian orang-orang dari Perkumpulan Bunga Merah tidak berhak untuk melindungi pengkhianat tersebut, barang siapa berani menghalangi pekerjaanku... Hmmm! Jangan salahkan kalau ujung pedang dari aku orang she-Mao tak kenal belas kasihan..."

Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei gerakkan tubuhnya dan loncat maju ke depan, senyuman sinis tersungging di bibirnya, dengan langkah lebar ia mendekati Mao Bong.

Jago lihay dari wilayah Kam-siok ini jadi tertegun, rupanya ia dibikin keder oleh sorot mata lawannya yang begitu tajam, setelah berdiri menjublak beberapa saat lamanya, dengan wajah diliputi hawa napsu membunuh tegurnya :

"Apa yang hendak kau lakukan?"

"Aku harap engkau segera enyah dari sini, sudah dengar belum perkataanku ini?" hardik Pek In Hoei.

Mao Bong semakin naik pitam teriaknya :

"Aku sedang mengurusi masalah pribadi Komplotan Tangan Hitam kami, apa hubungannya dengan dirimu? Sahabat Pek, kalau ingin mencampuri urusan orang, engkau harus lihat dulu siapakah lawanmu. Hmmm... hati-hatilah kalau mau campur tangan secara ngawur, jangan sampai menyengat tanganmu..."

Tiba-tiba di ujung bibir Pek In Hoei yang tipis dan kecil tersungging satu senyuman dingin yang amat sinis, air mukanya yang sama sekali tidak berperasaan itu perlahan-lahan menengadah ke atas, memandang awan putih di angkasa katanya dengan dingin :

"Selama aku Jago Pedang Berdarah Dingin masih berada di sini, siapa pun tak boleh mengganggu nona Ong barang seujung rambut pun, jika berani menentang perkataanku ini maka akan kucabut jiwa anjingnya sebagai ganti dari perbuatannya itu. Mao Bong! Aku telah memperingatkan dirimu lebih dahulu, mau percaya atau tidak terserah dirimu sendiri, siapa pun boleh mencoba kalau sudah bosan hidup..." "Hmmm! Sambil menunggang keledai membaca buku

nyanyian... kita lihat saja nanti..." seru Mao Bong dengan gemas.

Pada saat ini keadaannya bagaikan gendewa yang sudah ditarik kencang-kencang, kalau tidak dilepaskan pun tak bisa, terpaksa sambil keraskan kepala ujarnya kepada ke-empat orang pria itu :

"Pergi! Pergi ke situ dan seret keluar budak sialan itu... ini hari aku orang she Mao ingin melihat siapakah yang berani berlagak jadi enghiong di hadapan Komplotan Tangan Hitam. Hmmm... siapa yang berani..."

Dalam pada itu ke-empat orang pria kekar tadi telah menyebarkan diri dan segera menerjang ke arah kumpulan para jago Perkumpulan Bunga Merah yang berada di situ.

Tiba-tiba Gan In berteriak :

"Sam Ciat sianseng, kalau anak buahmu berani menyentuh tubuh orang-orangku maka itu berarti bahwa perkumpulan kalian yang telah turun tangan lebih dahulu kepada kami, tanggung jawab atas terjadinya pertarungan pada hari ini pun harus kau pikul..."

"Ooooh... itu cuma urusan kecil," jawab Sam Ciat sianseng ketus, "urusan di antara kita lihat saja bagaimana akhirnya..."

Tiba-tiba sesosok bayangan manusia meloncat ke angkasa, bagaikan sukma gentayangan meluncur ke arah ke-empat pria itu dan segera melancarkan sebuah cengkeraman maut.

Orang itu bukan lain adalah Jago Pedang Berdarah Dingin, dalam sekali sentakan tahu-tahu ke-empat orang pria baju hitam itu sudah terlempar ke udara dan menggelinding ke bawah bukit.

Melihat anak buahnya sudah roboh, Mao Bong segera cabut keluar pedangnya dan membentak keras : "Pek In Hoei, selama berada di gunung Siau-in-san kau berani bersikap kurang ajar..."

"Hmmm, tak usahlah berlagak sok jagoan atau sok pahlawan di hadapanku..." kata Jago Pedang Berdarah Dingin dengan nada sinis, "tak ada orang yang doyang dengan lagakmu itu, Mao Bong! Kalau punya kepandaian ayoh keluarkan semua, melulu berteriak sama sekali tak berguna..."

Ketika sinar mata Mao Bong terbentur dengan sorot mata lawannya yang tajam ia merasakan jantungnya tiba-tiba berdebar keras, ia merasa di balik biji matanya yang tak kenal belas kasihan itu terkandung hawa napsu membunuh yang menyeramkan, ia genggam tangan kanannya kencang-kencang dan hatinya terasa amat gelisah, diam-diam diliriknya Sam Ciat sianseng sekejap namun ketuanya itu berlagak pilon dan sama sekali tidak memandang ke arahnya...

"Pek In Hoei!" teriaknya, "aku akan suruh engkau menyaksikan bagaimana akibatnya kalau seseorang suka mencampuri urusan orang lain..."

Pedangnya bergetar di angkasa lalu membentuk gerakan lingkar busur, tiba-tiba desiran angin tajam menderu-deru dan serentetan bayangan pedang langsung meluncur ke depan.

Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei tahu bahwa jago lihay dari wilayah Kam-siok ini mempunyai kesempurnaan yang mengagumkan dalam permainan ilmu pedang, meskipun ia tak pandang sebelah mata pun terhadap orang ini tetapi ia pun tak berani berbuat gegabah.. tubuhnya segera loncat ke udara dan melancarkan sebuah bacokan ke arah depan.

Angin pukulan yang maha dahsyat bagaikan ambruknya sebuah bukit menumbuk ke depan, Mao Bong merasakan tubuhnya jadi kaku, di tengah hembusan angin pukulan yang tajam, terasalah bacokan pedangnya seakan-akan membentur di atas sebuah dinding hawa yang tak berwujud, sekali pun dipaksakan untuk membacok lebih jauh namun usahanya tetap gagal. Hal ini membuat hatinya semakin bergidik, teriaknya dengan gusar :

"Ayoh, cabut keluar pedangmu!"

"Hmmm...! Kau masih belum pantas untuk memaksa aku menggunakan senjata..." jengek Pek In Hoei sambil tertawa dingin, secara beruntun dia lancarkan dua buah pukulan dahsyat ke depan.

Ke-dua buah pukulannya ini membawa desiran angin tajam yang luar biasa, begitu dahsyatnya sampai menggoncangkan ujung pakaian para jago yang menonton jalannya pertarungan di sisi kalangan.

Mao Bong semakin gemetar hebat, saking lelahnya keringat dingin sampai mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, diam- diam ia menggertak gigi untuk melanjutkan pertarungan tersebut, namun langkah kakinya sudah mulai kacau dan kehebatan permainan pedangnya pun tidak sehebat dan sedahsyat tadi lagi.

"Hmmm...!" akhirnya Sam Ciat sianseng buka suara, tertawa dingin yang menyeramkan berkumandang keluar dari ujung bibirnya, dengan pandangan dingin ia melotot sekejap ke arah musuhnya, lalu berseru :

"Mao Bong, ayoh kembali!"

Secara beruntun Mao Bong melancarkan dua bacokan berantai, kemudian dengan napas yang memburu bagaikan kerbau dia loncat keluar dari kalangan, serunya :

"Ketua, hamba patut dibunuh... aku telah memalukan engkau orang tua..."

"Dalam peristiwa ini engkau tak bisa disalahkan," sahut Sam Ciat sianseng sambil menggelengkan kepalanya, "musuh yang kau hadapi memang terlalu kuat buat dirimu, Aaaai...! Jago Pedang Berdarah Dingin yang tersohor namanya di seluruh dunia persilatan ternyata adalah sahabat dari Perkumpulan Bunga Merah, kejadian ini benar- benar merupakan suatu peristiwa yang sama sekali tak terduga. Aaaai...! Manusia berbakat seperti ini harus terpendam di dalam Perkumpulan Bunga Merah... sungguh sayang... sungguh sayang!"  Ia menghela napas berulang kali, meskipun kata-katanya menunjukkan penyesalan namun ketika terdengar oleh semua orang terasalah suatu perasaan yang aneh sekali.

"Hmmm...! Engkau tak usah bicara yang bukan-bukan," tukas Pek In Hoei sambil tertawa dingin, "aku bukanlah sahabat dari Perkumpulan Bunga Merah..."

Sengaja Sam Ciat sianseng pura-pura tertegun.

"Loo... jadi kamu bukan sahabat dari Perkumpulan Bunga Merah? Waaah... kau aneh sekali ini," serunya, "dengan andalkan ilmu silat serta ketenaranmu dalam dunia persilatan apakah pihak Perkumpulan Bunga Merah telah memberikan kebaikan kepadamu?"

Bagian 44

"TUTUP MULUT!" bentak Pek In Hoei dengan gusar, "aku adalah sahabat karib dari wakil ketua she-Gan, kali ini sengaja aku datang untuk membantu dirinya!"

"Hmmm! Kalau engkau bukan sahabat dari Perkumpulan Bunga Merah, siapa suruh engkau datang..."

Gan In segera bangkit berdiri, ujarnya dingin:

"Jago Pedang Berdarah Dingin Pek sauhiap adalah sahabat dari perkumpulan kami, Sam Ciat sianseng tak usah mencari tulang dalam telur ayam, sengaja mencari kerepotan bagi kami..."

"Heeehhmm... heehmmm... heemmmm... Perkumpulan Bunga Merah serta Komplotan Tangan Hitam sama-sama merupakan perkumpulan rahasia di dalam dunia persilatan, perebutan antara dua perkumpulan tidak pantas kalau dicampuri orang luar, kalau memang Pek In Hoei bukan anggota dari perkumpulan kalian, mau apa ia datang kemari?"

"Sam Ciat sianseng," jawab Pek In Hoei sambil maju beberapa langkah ke depan, "kedatanganku kemari adalah untuk melenyapkan bibit bencana bagi dunia persilatan, dengan tingkah lakumu serta perbuatanmu yang melanggar norma-norma kebenaran, sudah cukup alasan bagiku untuk memusuhi dirimu..."

"Kurang ajar, engkau berani bikin gara-gara dengan aku..." bentak Sam Ciat sianseng amat gusar.

"Hmmm! Engkau toh tiada sesuatu apa pun yang luar biasa, Sam Ciat sianseng! Meskipun sekarang aku belum bisa menduga siapa dirimu, tetapi dalam perasaanku aku merasa bahwa engkau adalah salah satu di antara orang-orang yang pernah kukenal, jika engkau tidak pelupa maka aku rasa kita pernah bertemu muka..."

Pemuda itu merasa bahwa nada suara dari Sam Ciat sianseng seakan-akan pernah didengar olehnya di suatu tempat, hanya saja ia tak bisa menebak siapakah dia karena sahabat-sahabatnya dalam dunia persilatan banyak sekali.

Mendengar ucapan itu Sam Ciat sianseng sekujur badannya gemetar keras, ia segera tertawa dingin dan membantah :

"Aku tidak kenal dirimu!"

"Lepaskan kain kerudung hitam itu, aku ingin melihat siapakah engkau?"

Sam Ciat sianseng segera mendengus dingin:

"Hmmm, apakah engkau tak takut kubunuh dirimu? Pek In Hoei! Raut wajahku tak boleh diketahui oleh siapa pun, sekarang kupandang karena kita baru saja berkenalan maka silahkan engkau segera enyah dari bukit Siau-in-san ini."

"Tak dapat kupenuhi harapanmu itu," tukas Pek In Hoei sambil menggeleng, "aku toh datang bersama-sama para jago dari Perkumpulan Bunga Merah, maka kalau suruh aku berlalu dari sini, kami akan berlalu bersama-sama, Sam Ciat sianseng... aku lihat lebih baik engkau bubarkan diri saja."

"Membubarkan diri?" tiba-tiba Sam Ciat sianseng tertawa terbahak-bahak, "Haaaah... haaaah... haaaah... kau begitu gampangkah kupenuhi perintahmu itu? Aku toh belum berunding dengan wakil ketua she Gan, kenapa kau mesti turut campur? Baiklah... urusanmu dengan Mao Bong tak akan kutarik lebih jauh, tetapi aku melarang engkau mencampuri urusan tentang Ong Li Hoa si perempuan rendah itu, kalau tidak... Hmmm... engkau akan merasakan sampai di manakah kelihayanku..."

"Sam Ciat sianseng, kalau ada urusan mari kita bicarakan..." kata Gan In dengan nada dingin.

Sam Ciat sianseng tarik napas panjang-panjang, lalu berkata : "Di antara perkumpulan kita berdua seringkali terjadi bentrokan

dan pertarungan sengit hingga banyak korban yang berjatuhan, aku rasa bila keadaan ini dibiarkan berlarut maka korban yang berjatuhan di ke-dua belah pihak kian lama akan bertambah parah... demi kebaikan serta keuntungan ke-dua belah pihak maka kuanjurkan kepada wakil ketua she Gan untuk melepaskan diri dari ikatan Perkumpulan Bunga Merah serta menggabungkan diri dengan Komplotan Tangan Hitam..."

"Apa?" jerit Gan In dengan wajah tertegun, "kau tak usah bermimpi di siang hari bolong...!"

Sam Ciat sianseng gelengkan kepalanya.

"Selama hidup aku tak pernah melakukan pekerjaan yang tidak meyakinkan, sebelum kuundang kehadiranmu untuk mengadakan pertemuan telah kususun suatu rencana yang amat cermat, jika aku tak punya keyakinan untuk berhasil tak nanti kuutarakan hal ini kepadamu..."

Dia melirik sekejap ke arah jago perkumpulannya yang berada di sekeliling tempat itu, kemudian melanjutkan :

"Saudara Gan, engkau harus tahu bahwa di seluruh bukit Siau-in- san telah berkumpul jago-jago lihay dari pihakku, asal kuturunkan perintah maka darah segar akan menggenangi seluruh permukaan, puluhan lembar jiwa anggota perkumpulanmu segera akan musnah dan lenyap di tempat ini juga."

"Engkau sedang menggertak diriku?" seru Gan In sambil tertawa dingin tiada hentinya. Sam Ciat sianseng tertawa dan segera menggeleng.

"Aku tak berani menggertak Gan heng, aku hanya menerangkan situasi yang tertera di depan mata kepada dirimu. Hmmm... hmmm... aku harap saudara Gan suka mempertimbangkannya secara baik- baik."

"Tiada persoalan yang perlu kupertimbangkan lagi, lebih baik matikan saja niatmu itu!"

"Hmmm!" Sam Ciat sianseng mendengus dingin, "apakah kau sudah tidak maui lagi beberapa pulu lembar jiwa anak buahmu itu?"

"Tepat sekali! Sam Ciat sianseng, puluhan lembar jiwa orang- orangku telah kuserahkan semua kepadamu, cuma engkau pun harus memberi ganti rugi yang cukup besar, mungkin sepuluh kali lipat daripada kerugian yang kami derita."

"Saudara Gan, mulutmu janganlah terlalu keras..." teriak Sam Ciat sianseng, tiba-tiba dia ulapkan tangannya dan seorang nenek tua yang rambutnya telah beruban perlahan-lahan munculkan diri di tempat itu, di belakang nenek tua tadi mengikuti dua orang anggota dari Komplotan Tangan Hitam.

"Subo!" seru Gan In dengan wajah berubah hebat setelah melihat kemunculan nenek tua itu.

Sam Ciat sianseng segera tertawa seram.

"Haaaah... haaaah... haaaah... mungkin subo mu mempunyai cara untuk memaksa engkau berubah pikiran."

Sementara itu nenek tua tadi sudah tertawa dan berkata :

"In-ji, apakah Sam Ciat sianseng telah memberitahukan kesemuanya kepadamu?"

"Subo, In-ji lebih rela mati secara mengerikan di hadapanmu daripada mengabulkan permintaannya, ketika suhu mewariskan ilmu silatnya kepadaku tempo hari, beliau berpesan agar tecu banyak melakukan kebajikan dan tidak diperkenankan melakukan perbuatan yang melanggar norma-norma hukum Thian, tecu harap subo bisa memahami keadaan dari In-ji." "Hmmm! Engkau tak usah mengungkap lagi tentang suhumu yang sudah modar itu, aku In Sam-nio paling jengkel kalau mendengar orang lain menyebut tentang dirinya... Hmm! Toan Seng Ci berambisi besar dan tidak pandang sebelah mata pun kepada orang lain, dianggapnya dia paling luar biasa... Huuuh! Kakek tua sialan..." Kiranya guru dari Gan In yang bernama Toan Seng Gan beristrikan In Sam-nio akan tetapi tabiat mereka jauh berbeda, seringkali mereka cekcok dan bertengkar sehingga akhirnya ke-dua

orang itu memutuskan untuk menempuh jalannya sendiri-sendiri.

Yang satu menjadi pendekar dari kalangan putih sedang yang lain menjadi malaikat dari kalangan hitam, sejak Gan In belajar silat dengan gurunya ia selalu dibikin pusing kepala oleh tingkah pola ibu gurunya ini, apalagi ikut serta In Sam-nio dalam Komplotan Tangan Hitam, membuat pemuda ini setiap hari selalu berada dalam kesedihan.

Gan In tertawa sedih dan berkata :

"Subo, aku harap engkau jangan berkata demikian..."

"Hmmm... engkau berani menasehati aku? Hmmm! Sekarang juga aku perintahkan dirimu untuk menyerah kepada Komplotan Tangan Hitam, kalau tidak maka selamanya jangan datang menjumpai diriku lagi..."

"Tecu tak dapat memenuhi keinginan subo!" Gan In tetap gelengkan kepalanya.

In Sam-nio jadi naik pitam, dengan air muka berubah hebat ujarnya kepada Sam Ciat sianseng :

"Tuan Sam-cat, aku si nenek tua tak mampu menasehati dirinya lagi, sekarang engkau boleh gerakkan pasukan... kalau bocah ini tidak dibiarkan untuk merasakan sampai di manakah kelihayan dari Komplotan Tangan Hitam, ia tak akan tahu tingginya langit dan tebalnya bumi..." "Sedikit pun tidak salah," sahut Sam Ciat sianseng sambil mengangguk, "In Sam-nio, aku akan segera melakukan permintaanmu itu..."

Dia ulapkan tangannya dan para jago lihai dari Komplotan Tangan Hitam yang berada di atas puncak Siau-in-san segera meloloskan senjata mereka dan mengepung para jago dari Perkumpulan Bunga Merah rapat-rapat.

Jumlah anggota Komplotan Tangan Hitam yang hadir di sana pada waktu itu mencapai jumlah dua ratus orang lebih, sedangkan jago dari Perkumpulan Bunga Merah hanya berjumlah lima enam puluhan orang belaka, kalau dibandingkan jumlahnya maka tampaklah suatu perbedaan yang amat besar.

"Sam Ciat sianseng," teriak Gan In sambil tertawa dingin, "engkau jangan harap bisa merebut kemenangan dengan andalkan jumlah yang banyak..."

Dengan cepat ia mengambil keputusan dan memerintahkan anak buahnya untuk bertempur dengan punggung menghadap ke dinding bukit, para jago yang sudah terbiasa mendapat pendidikan ketat berada dalam keadaan begini segera melaksanakan perintah dengan teratur, dalam waktu singkat mereka semua telah bersiap sedia.

Sam Ciat sianseng tertawa terbahak-bahak, serunya : "Lepaskan anak panah!"

Desiran angin tajam dalam waktu singkat berkumandang memenuhi seluruh angkasa, dari balik batu cadas yang tajam bermuncullah berpuluh-puluh orang pembidik jitu, hujan anak panah dengan cepat berhamburan ke arah para jago dari Perkumpulan Bunga Merah.

Jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergeletar memecahkan kesunyian, meskipun para anggota Perkumpulan Bunga Merah memiliki kepandaian yang luar biasa, namun di bawah serangan hujan anak panah yang begitu rapat tak urung keteter juga dengan hebatnya, dalam waktu singkat tujuh delapan orang sudah terkapar di atas tanah. Gan In jadi sakit hati, sepasang matanya memancarkan cahaya berapi-api, dengan sedih ia berteriak lalu mencabut pedangnya dan menerjang ke muka, bentaknya :

"Saudara-saudara sekalian, terjang keluar!"

"Gan-heng," teriak pula Jago Pedang Berdarah Dingin dengan wajah penuh napsu membunuh, "terjang ke bawah bukit tempat ini tak dapat dipertahankan lebih jauh..."

Ia serta Gan In turun tangan lebih dahulu, mereka serbu ke dalam gelanggang dan bayangan pedang seketika berkilauan memenuhi angkasa, dalam waktu singkat berpuluh-puluh orang jago dari Komplotan Tangan Hitam roboh binasa di ujung senjata mereka.

Para anggota dari Perkumpulan Bunga Merah dengan cepat mengikuti di belakang ke-dua orang jago lihay itu dan menerjang keluar.

"Hentikan panah, kepung semua musuh dengan ketat," bentak Sam Ciat sianseng dengan gusarnya.

Hujan panah segera berhenti, para jago dari Komplotan Tangan Hitam sambil membawa senjata terhunus menerjang ke depan, suatu pertarungan yang amat sengit pun segera berlangsung.

Jumlah para jago dari Komplotan Tangan Hitam jauh lebih banyak dari musuhnya, di bawah kepungan yang begitu ketat para jago dari Perkumpulan Bunga Merah keteter hebat dan berada dalam posisi yang sangat berbahaya.

Sam Ciat sianseng tertawa terbahak-bahak, ejeknya :

"Nah, sekarang baru tahu rasa... Haaaah... haaaah... haaaah... kalau kalian mau buang senjata dan menyerah aku akan mengampuni jiwa kaian semua..."

Tiba-tiba dari bawah bukit berkumandang datang suara bentakan keras, para jago dari Komplotan Tangan Hitam sama-sama roboh terjungkal di atas tanah, tampaklah serombongan jago dipimpin oleh seorang dara baju hijau menyerbu naik ke atas puncak.

Gan In tarik napas panjang, segera teriaknya : "Saudara-saudara sekalian, pertahankan diri sekuat tenaga, ketua kita telah datang..."

Sam Ciat sianseng sendiri pun agak tercekat hatinya melihat bala bantuan dari pihak Perkumpulan Bunga Merah telah berdatangan, ia tahu bahwa lawannya sangat tangguh dan kekuatannya tak mungkin bisa membendung serangan mereka, dengan nada mendongkol teriaknya :

"Mundur! Untuk sementara waktu kita mundur dulu..."

Para jago dari Komplotan Tangan Hitam bersuit nyaring, mereka sama-sama kabur dari kalangan dan mencari selamatnya sendiri.

Pek In Hoei amat membenci terhadap kekejaman hati Sam Ciat sianseng, dengan pedang terhunus ia mengejar dari belakang, serunya sambil tertawa dingin :

"Sam Ciat sianseng, aku hendak minta petunjuk dari dirimu..."

Dalam pada itu Sam Ciat sianseng sedang mengundurkan diri di bawah perlindungan Mao Bong, Thian Goan serta Lan Eng, ketika menyaksikan Jago Pedang Berdarah Dingin menyusul datang, beberapa orang itu segera memisahkan diri dan melancarkan sebuah tusuk ke belakang.

Sam Ciat sianseng tertawa dingin, serunya :

"Kalian mundur semua..."

Dari sakunya ia cabut keluar sebilah pedang pendek berbentuk aneh yang memancarkan cahaya emas, dengan wajah penuh napsu membunuh ditatapnya wajah pemuda itu kemudian tegurnya dengan suara dingin:

Kau benar-benar mau menantang aku untuk bertempur?" "Sedikit pun tidak salah," jawab Pek In Hoei sambil tertawa

dingin, "aku ingin sekali mohon petunjuk darimu."

"Engkau bukan tandinganku," kata Sam Ciat sianseng sambil gelengkan kepalanya, "Pek In Hoei, ilmu pedang penghancur sang surya dari partai Thiam cong meskipun terhitung kepandaian paling dahsyat di dalam dunia persilatan, akan tetapi di dalam pandanganku masih belum terhitung sesuatu yang luar biasa!"

"Hmmm! Jadi kalau begitu kepandaian silat ya kau miliki jauh lebih hebat daripada diriku? Sam Ciat sianseng! Aku sangat mencurigai asal usulmu, kalau engkau berani bertempur beberapa jurus melawan aku, maka aku dapat menebak asal usulmu yang sebenarnya!"

"Pentingkah asal usulku itu bagimu?" seru Sam Ciat sianseng dengan wajah tertegun.

"Tentu saja, engkau mirip sekali dengan seseorang, selama ini aku tak punya akal untuk membuktikan dugaanku itu. Sam Ciat sianseng! Tentu saja aku berharap agar engkau bukanlah dirinya, tetapi banyak bagian dari tubuhmu yang mirip sekali dengan dirinya!" "Hmmm! aku tak punya banyak waktu untuk berbicara dengan dirimu, sekarang aku harus segera pulang untuk mempersiapkan langkah selanjutnya. Pek In Hoei! Maafkanlah kalau aku tak dapat

menemani dirimu lebih lanjut..."

Ketika dilihatnya Gan In serta dara berbaju hijau itu telah memburu ke arahnya, ia tak panik ingin cepat-cepat kabur dari tempat itu.

Pek In Hoei mengobat-abitkan pedangnya dan berseru :

"Kalau engkau tidak memperlihatkan kepandaianmu, ini hari jangan harap bisa tinggalkan tempat ini, harap..."

"Hmmm! Keparat cilik, kau anggap aku jeri kepadamu... terimalah seranganku ini..."

Dia tertawa dingin, pedangnya tiba-tiba ditusukkan ke arah luar dengan suatu gerakan yang luar biasa sekali, hampir boleh dibilang sama sekali tidak menunjukkan suatu bekas apa pun dalam serangan itu, akan tetapi kedahsyatannya sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Pek In Hoei berkelit ke samping dan meloncat lima depa dari tempat semula, serunya dengan terperanjat : "Aaaaah... jurus ini adalah gerakan Kiam-ki-leng-in hawa pedang membumbung ke awan dari partai Hoa-san!"

Sam Ciat sianseng mendengus dingin, secara beruntun dia lancarkan pula dua serangan berantai, meskipun ke-dua buah serangan itu dilancarkan pada waktu yang bersamaan akan tetapi jurus serangan yang digunakan sama sekali berbeda.

Jurus yang dipergunakan berikutnya adalah Pat-hong-tang-in atau bayangan tajam di delapan penjuru, salah satu jurus ampuh dari ilmu pedang Hu-lo-kiam-hoat aliran Khong-tong pay, kemudian Tui- hong-bu-tiong atau mengejar angin tanpa jejak dari aliran Siau-lim- pay.