-->

Imam Tanpa Bayangan I Jilid 45

 
Jilid 45

"HMMMM! Meskipun bukan kau yang turun tangan sendiri, tapi apa bedanya kalau ia mati di tanganmu?"

"Tentu saja jauh berbeda," jawab Hoa Pek Tuo sambil gelengkan kepalanya berulang kali, "meskipun nama dari aku Hoa Pek Tuo dalam dunia persilatan tersohor sebagai seorang manusia yang berhati hitam dan bertangan telengas, tetapi belum pernah kugunakan cara yang paling keji untuk menghadapi seorang perempuan, kesemuanya ini harus salahkan nasibnya yang kurang baik... siapa suruh ia berjumpa dengan Hee Giong Lam yang edan..."

"Hehhmmm.... heeehhemmm... apa sebabnya Hee Giong Lam bisa menjadi gila?... Ayoh jawab!"

Hoa Pek Tuo tarik napas panjang-panjang.

"Kau tak usah menyalahkan diriku..." serunya, "terus, terang saja kukatakan bahwa aku pun tidak berharap gadis itu menemui ajalnya, karena..."

Sebelum ia sempat melanjutkan kata-katanya, Jago Pedang Berdarah Dingin telah menukas dengan suatu dengusan yang dingin dan ketus yang begitu menyeramkan hatinya membuat kakek licik itu buru-buru bungkam.

"Bukankah karena ia masih mempunyai nilai untuk kau pergunakan tenaganya?" seru Pek In Hoei sinis.

Hoa Pek Tuo tertawa hambar.

"Tepat sekali perkataanmu itu," dia menjawab, "aku pun hendak berkata demikian, selamanya aku selalu bertindak dengan cara yang sama... asal aku merasa senang untuk mengerjakannya maka tanpa tedeng aling-aling akan kuutarakan semua secara terbuka."

"Hmmm! Agaknya kau merasa amat bangga dengan hasil kerjamu pada hari ini..." hardik Pek In Hoei ketus.

Mula-mula Hoa Pek Tuo nampak tertegun diikuti ia tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... sedikit pun tidak salah, meskipun atas terjadinya peristiwa pada hari ini kurang memuaskan hatiku, akan tetapi aku memang merasa agak bangga, karena hasil yang akan kudapatkan pada hari ini ternyata jauh lebih banyak daripada apa yang kuduga semula..."

Dengan perasaan sangsi Jago Pedang Berdarah Dingin menatap rase tua itu tajam-tajam, ia temukan raut wajah Hoa Pek Tuo diliputi hawa dingin yang menggidikkan hati.

Setelah termenung sebentar ia lantas menegur kembali.

"Aku rasa mungkin ada persoalan lain yang lebih membanggakan hatimu."

"Haaaah... haaaah... haaaah... sedikit pun tidak salah, sekarang aku telah mengalihkan tujuanku ke atas kepalamu."

"Persoalan apa?" tanya Pek In Hoei dengan wajah tertegun. "Haaaah... haaaah... haaaah... aku menginginkan jiwamu... Pek In

Hoei! Aku telah mengincar jiwa anjingmu itu..."

Pek In Hoei mendengus, dengan sorot mata yang tajam ia menjawab :

"Rase tua yang tak tahu diri... besar amat ambisimu itu... semangkuk nasi belum habis dimakan sekarang sudah mengincar mangsa yang lebih besar lagi... bagus! Aku Jago Pedang Berdarah Dingin juga bukan seorang manusia yang berkepala tiga berlengan enam, dalam pandanganmu mungkin dirimu menyerupai segumpal daging yang gemuk, kita lihat saja nanti bagaimana hasilnya."

Dengan sangat berhati-hati ia letakkan jenazah Kong Yo Siok Peng di suatu sudut gua, setelah itu dipandangnya sekejap mayat sang gadis yang baik hati itu, saking terharunya hampir saja ia tak mampu mengendalikan air mata yang menetes keluar, pemuda itu menghela napas panjang, satu senyuman dingin tersungging di ujung bibirnya yang tipis, dengan penuh kebencian ditatapnya Hoa Pek Tuo tanpa berkedip.

Criiingg...! Sekilas cahaya pedang yang menyilaukan mata memancar keluar dari genggaman Jago Pedang Berdarah Dingin, pedang mestikanya yang telah dicabut keluar perlahan-lahan diangkat ke tengah udara, lalu sambil menatap wajah Hoa Pek Tuo dengan sinar mata menggidikkan ia menegur :

"Hay rase tua, kau telah bersiap sedia?"

Tatkala menyaksikan pedang mestika penghancur sang surya telah dicabut keluar, perasaan hati Hoa Pek Tuo seketika tercekat dan bulu kuduknya tanpa terasa pada bangun berdiri, ia merasa pedang mestika milik lawannya itu mendatangkan pengaruh yang amat besar bagi dirinya, berulang kali dia bergebrak melawan si anak muda itu, setiap kali hampir saja termakan oleh bacokan pedang tadi.

Setelah ragu sebentar, akhirnya dengan hati tegang ia berkata dingin :

"Saudara...! Rasa benciku terhadap pedang mestika milikmu itu jauh lebih tebal daripada rasa benciku terhadap engkau."

"Kau tiada beralasan untuk membenci pedangku ini... kalau ingin membenci sepantasnya kalau benci terhadap diriku..."

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... sedikit pun tidak salah," Hoa Pek Tuo tertawa seram, "sejak engkau masuk ke dalam perkampungan Thay Bie San cung aku sudah menyadari bahwa di kemudian hari engkau akan merupakan musuh tangguhku dan engkau pula merupakan satu-satunya orang yang akan saling merebut kekuasaan dengan diriku... dalam pertarungan yang beberapa kali telah terjadi, engkau selalu beruntung dapat melarikan diri dari cengkeramanku, tapi malam ini... Hmmm... Hmmm... engkau tak akan menjumpai nasib sebaik itu lagi, coba lihatlah tempat ini... engkau hanya dapat masuk ke dalam dan tak mungkin bisa keluar lagi..."

"Aku sama sekali tidak ingin keluar dari sini," jawab Pek In Hoei dengan nada sinis, "Hay rase tua, aku hendak membinasakan dirimu karena berdasarkan akan dua alasan!"

"Coba kau katakan apa alasanmu?"

Raut wajah Jago Pedang Berdarah Dingin berkerut kencang, dengan penuh kepedihan ia tarik napas panjang-panjang, matanya berapi dan mukanya sinis, katanya dengan suara dingin :

"Pertama, engkau telah mencelakai jiwa seorang gadis yang tak berdosa, dalam keadilan engkau mesti memberikan pertanggungan jawab, kedua, ada permusuhan apa antara engkau dengan ayahku? Mengapa kau himpun para jago lihay dari kalangan hek-to untuk bersama-sama mengerubutinya di puncak gunung Cing Shia? Dari dua hal tersebut di atas maka sudah sepantasnya kalau engkau menerima kematian atas dosa-dosamu itu, bila aku orang she Pek biarkan dirimu lolos dari keadilan ini, maka di kolong langit tentu tak ada keadilan lagi..."

Dalam pandangannya seolah-olah dia melihat keadaan ayahnya yang mati secara mengenaskan di puncak gunung Cing shia, rasa dendam dan benci muncul dari dasar lubuk hatinya, seara lapat-lapat air mata jago muda itu membuat pandangannya jadi kabur, seolah- olah dia melihat pula segumpal darah... darah yang menyiarkan bau amis... kematian ayahnya dalam pandangannya, kian lama pandangan itu kian jelas dan kian membesar...

Dengan sekujur badan gemetar keras Hoa Pek Tuo menjerit : "Apa sangkut pautnya antara kematian ayahmu dengan aku?" "Hmmm! Kau tak usah mungkir lagi, pemilik Benteng Kiam-poo

telah menceritakan kesemuanya kepadaku."

"Apa?" teriak Hoa Pek Tuo dengan badan gemetar, "apa yang ia ceritakan kepadamu? Pek In Hoei, engkau jangan mengaco belo tak karuan, persoalan ini dengan cepatnya sudah menjadi jelas... engkau harus tahu, pemilik Benteng Kiam-poo mempunyai hubungan persahabatan yang sangat erat dengan diriku..."

Pek In Hoei mendengus dingin, hawa napsu membunuh melintas di atas raut wajahnya.

"Justru karena antara engkau dan dia punya hubungan persahabatan yang erat maka aku baru percaya dengan apa yang telah dikatakannya, Hoa Pek Tuo...! Buat apa engkau ingkari lagi perbuatan yang sudah kau lakukan itu? Padahal sebelum pemilik Benteng Kiam- poo bercerita, aku sudah mencurigai akan dirimu, masih ingat bukan dengan bekas robekan ujung jubah dari ayahku? Seandainya ayahku bukan mati di tanganmu, kenapa engkau berusaha untuk merebut kembali robekan jubah tersebut? Sekarang aku baru tahu mengapa engkau berbuat begitu... Mengapa engkau berusaha keras untuk merebut kembali robekan jubah itu, rupanya engkau hendak melenyapkan bukti-bukti mengenai keterlibatanmu dalam persoalan ini."

Semakin lama Hoa Pek Tuo merasa hatinya semakin tercekat, satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benaknya, ia berpikir :

"Rupanya segala sesuatu telah diketahui oleh bajingan cilik ini... Hmmm! Cui Tek Li bajingan tua itu benar-benar bukan sahabat yang baik, mak-nya... tak kusangka ia telah membocorkan rahasia itu kepada dirinya... Hmmm! Ketahuilah aku Hoa Pek Tuo juga bukan manusia yang gampang dipermainkan, aku harus berusaha untuk memberikan pelajaran kepadanya."

Berpikir sampai di sini, ia lantas berkata dengan nada menyeramkan :

"Aku tidak menyangkal kalau kematian ayahmu memang melibatkan pula diriku, tetapi engkau pun harus tahu bahwa persoalannya tidak sesempit itu, masih banyak orang yang terlibat dalam peristiwa pengerubutan itu."

"Siapa saja mereka-mereka itu?" tanya Pek In Hoei sambil menekan hawa membunuh yang berkobar dalam dadanya. Sinar mata yang tajam memancar keluar dari balik mata Hoa Pek Tuo, jawabnya :

"Pemilik Benteng Kiam-poo, Cui Tek Li merupakan tokoh yang paling penting dalam peristiwa berdarah itu, Pek In Hoei! Ada satu hal engkau harus bisa memahami, kedudukan Cui Tek Li dalam dunia persilatan jauh lebih tinggi daripada diriku, semua peristiwa yang terjadi dalam dunia persilatan tentu melibatkan pula dirinya, tempo hari ketika ia sedang terikat oleh rasa dendam dengan ayahmu, ia pernah bersumpah bahwa suatu ketika ayahmu akan dibunuh mati dalam bacokan pedangnya, tentu saja orang yang merencanakan pembunuhan terhadap ayahmu adalah dirinya, ia menyebarkan surat undangan Bu-lim Tiap dan undang para jago lihay dari kalangan hitam untuk bersama-sama kumpul di puncak gunung Cing-shia untuk menantikan Pek Tiang Hong masuk perangkap, banyak orang jago mengetahui akan persoalan ini..."

Manusia yang bernama Hoa Pek Tuo ini benar-benar sangat lihay, ia sama sekali tidak mengingat tentang soal persahabatan, setelah terdesak oleh keadaan maka semua tanggung jawab dilimpahkan ke atas tubuh pemilik dari Benteng Kiam-poo, manusia macam inilah yang disebut manusia rendah.

Dengan tenang Pek In Hoei mendengarkan kisah tersebut, lalu ujarnya dengan nada sinis :

"Engkau benar-benar seorang manusia yang cerdik, sampai- sampai sahabat sendiri pun dijual!"

Hoa Pek Tuo tidak menyangka kalau Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei bisa menyindir dan memperolok dirinya, air muka kakek tua yang licik itu berubah hebat, sambil tertawa jengah katanya

:

"Siapa suruh Cui Tek Li mengkhianati diriku lebih dahulu, kalau

ia tidak membongkar rahasia lebih dahulu tak akan kuberitahukan apa-apa kepadamu. Saudaraku, apa yang kuketahui telah kuberitahukan semua kepadamu, apa rencanamu sekarang silahkan diutarakan keluar!"

"Hmmm...! Beritahu kenapakah engkau ikut serta di dalam gerakan pembunuhan terhadap ayahku..."

"Tentang soal ini..." Hoa Pek Tuo termenung sebentar lalu meneruskan, "tentang soal ini sukar untuk dikatakan, ketika itu keadaanku serba salah, kalau aku tidak ikut turun tangan maka orang lain pasti akan menaruh kesalah-pahaman terhadap diriku, ketahuilah musuh besar yang mempunyai rasa dendam dengan Pek Tiang Hong bukan cuma aku seorang, yang ikut dalam pergerakan itu banyak... banyak sekali..."

"Pernyataanmu itu sudah lebih dari cukup," tukas Pek In Hoei sambil menggetarkan pedangnya, "kalau memang engkau termasuk di antara salah satu pengerubut yang membinasakan ayahku, maka aku tak bisa melepaskan dirimu lagi, Hoa Pek Tuo! Aku merasa amat berterima kasih karena engkau telah membeberkan banyak rahasia kepadaku, tapi sayang seribu sayang aku adalah seorang manusia yang suka membedakan mana budi mana dendam, tak mungkin aku lepaskan dirimu lagi dalam keadaan selamat..."

Sambil menyilangkan telapaknya di depan dada Hoa Pek Tuo bergeser maju ke depan, ujarnya sambil tertawa seram :

"Aku belum pernah mengemis atau merengek kepadamu untuk melepaskan diriku, saudara... oleh karena engkau sudah hampir mati maka kubeberkan rahasia ini kepadamu, agar engkau sebelum menemui ajalnya bisa mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, dalam duduk perkara yang sebenarnya, dalam ketulusan engkau tahu tentang rahasia ini atau tidak juga tak ada bedanya, malam ini aku telah menyebarkan jaring langit yang tangguh di sekitar tempat ini, tidak mungkin engkau bisa meloloskan diri dari tempat ini dalam keadaan selamat. Hmmm... Hmmm... saudaraku, kau jangan salah sangka, aku bukan sengaja menakut-nakuti dirimu dengan perkataan seperti ini." Air muka Jago Pedang Berdarah Dingin berubah amat ketus bagaikan es, sedikit pun tiada perasaan, kecuali napsu membunuh dan hawa kegusaran yang terpancar keluar dari balik matanya, masih ada lagi suatu suara aneh tak berwujud yang mendengung di sisi telinganya...

Suara itu bagaikan dipancarkan oleh seseorang yang dikenal olehnya, seperti pula dipancarkan oleh seorang yang masih asing baginya, suara itu serak dan berat se-akan memancar datang dari neraka.

"Balaslah dendam! Balaslah dendam!"

Jago Pedang Berdarah Dingin merasakan hatinya bergetar keras, dengan pandangan penuh mendendam dia melotot ke atas wajah Hoa Pek Tuo, dengan suara yang keras penuh bertenaga teriaknya :

"Hoa Pek Tuo, serahkan nyawamu!"

Bersamaan dengan bentakan tersebut, tubuhnya melayang maju ke depan, pedang mestikanya laksana kilat berkelebat ke depan melancarkan sebuah serangan hebat.

Dalam serangan ini dia telah menggunakan jurus serangan yang paling ampuh dari ilmu pedang penghancur sang surya, bayangan pedang terlihat memancar bagaikan gelombang, hawa pedang yang dingin dan tajam mendesir dan membumbung di seluruh udara.

Hoa Pek Tuo seketika merasakan hatinya bergidik bercampur ngeri tatkala menyaksikan datangnya serangan yang begitu cepat dan lihaynya itu, karena itu tubuhnya buru-buru menyusut mundur ke samping kiri, sedang telapak kanannya dengan cepat disodokkan ke atas tulang iga musuhnya.

Ke-dua belah pihak sama-sama melancarkan serangan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, bukan saja mereka dibikin terperanjat oleh keampuhan ilmu silat lawannya bahkan tak mengira kalau kepandaian mereka masing-masing telah memperoleh kemajuan yang demikian pesat. Setelah melancarkan serangan telapak kanannya, Hoa Pek Tuo mengirim pula satu tendangan kilat ke depan sambil serunya :

"Saudara, lihatlah serangan ini!"

Diam-diam Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei merasa terperanjat juga melihat kecepatan gerak musuhnya di dalam berganti jurus, pedang mestika penghancur sang surya berputar seratus delapan puluh derajat di tengah udara, ujung pedang yang tajam dingin menciptakan sekilas cahaya yang tipis membacok Hoa Pek Tuo yang sedang melancarkan tendangan itu.

Terancam oleh maut, buru-buru Hoa Pek Tuo tarik kembali tubuhnya sambil berganti tujuh delapan jurus serangan di tengah udara, setelah bersusah payah ia berhasil melepaskan diri dari ancaman satu jurus tiga gerakan dahsyat dari lawannya.

Sekarang kakek licik yang berhati keji itu baru menyadari bahwa kepandaian silat yang dimiliki Jago Pedang Berdarah Dingin benar- benar telah peroleh kemajuan yang amat pesat sekali sehingga hampir saja ia tak mampu mempertahankan diri, hatinya semakin tercekat dan ditatapnya wajah Pek In Hoei dengan pandangan tajam sementara satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia berpikir :

"Sungguh tak kusangka kemajuan ilmu silat yang berhasil dicapai keparat cilik ini jauh lebih lihay daripada diriku, tidak aneh kalau ia berani menantang aku untuk berduel... rupanya ia memang benar memiliki ilmu simpanan. Asal...! Tempo hari sewaktu aku bertarung melawan Pek Tiang Hong ilmu silat yang dimiliki orang she Pek itu belum berhasil mencapai taraf seperti apa yang berhasil diyakini oleh anaknya... jangan putra dari Pek Tiang Hong ini benar-benar akan memaksa diriku hingga tak dapat tancapkan kaki kembali di dalam dunia persilatan..."

Kecerdikan orang ini memang luar biasa sekali, terutama ketajaman perasaan hatinya setelah menyaksikan kemampuan yang dimiliki Jago Pedang Berdarah Dingin itu, ia segera sadar bahwa ambisinya untuk merajai dunia persilatan bakal buyar dan hancur sampai di situ saja atau paling sedikit ia tak punya keyakinan untuk merebut kemenangan selama berada di hadapan si anak muda itu.

Pukulan tersebut kalau dibicarakan terhadap diri Hoa Pek Tuo boleh dibilang merupakan suatu pukulan batu yang sangat berat, keadaan tersebut sama halnya dengan kaki yang dikait orang sesaat ia hendak menduduki kursi kebesaran dunia persilatan hingga mengakibatkan dirinya jatuh terjungkal ke atas tanah, sebelum merasakan bagaimana nikmatnya menempati kursi kebesaran ia sudah keburu jatuh terguling ke bawah.

Atas keadaan tersebut ia hanya bisa mendendam, membenci, iri dengki dan ingin sekali menghancurkan si anak muda itu sehingga rasa dongkol dan kesal yang menyelimuti benaknya dapat tersapu lenyap, sebab kalau ia gagal melenyapkan pemuda tersebut maka selama hidup tak mungkin lagi baginya untuk tancapkan kaki di permukaan bumi.

Begitulah, dengan gemas dia ayun telapak kanannya sambil membentak keras-keras :

"Saudara, aku sama sekali tak mampu untuk menahan dirimu!"

Hawa pukulan yang dilancarkan ke depan seakan-akan martil berat yang menghantam ke atas tubuh Pek In Hoei, dalam waktu singkat hawa pukulan yang amat tajam mengepung di sekeliling tubuhnya, membuat daya tekanan kian lama kian bertambah berat, ia menghembuskan napas panjang-panjang.

Suatu ketika pedang mestika penghancur sang surya-nya menotok ke atas telapak tangan Hoa Pek Tuo yang sedang menyerang itu, begitu mendadak dan hebatnya ancaman itu membuat Hoa Pek Tuo jadi amat terperanjat dan buru-buru harus membuyarkan ancamannya.

Kakek licik yang berhati keji itu tahu jika telapak kanannya tidak segera ditarik kembali, maka andaikata sampai membentur dengan ujung pedang lawan, kepandaian silat yang dimilikinya akan punah dan musnah lama sekali, hatinya tercekat, buru-buru ia tarik kembali pukulannya sambil ganti ayun telapak kirinya ke muka.

Bagian 43

PEK IN HOEI membentak keras, tubuhnya loncat maju ke depan mengikuti kilatan cahaya pedangnya, setelah berputar satu lingkaran di tengah udara pedang sakti membentuk gerak gelombang udara, selapis demi selapis secara bertumpuk menekan tubuh Hoa Pek Tuo. "Aaaah...! Jurus pedang sakti menembusi sang surya..." jerit Hoa

Pek Tuo dengan suara gemetar dan air muka berubah hebat.

Sampai di manakah keampuhan serta kedahsyatan dari jurus serangan tersebut telah diketahui olehnya dengan hafal, karenanya setelah menyaksikan Jago Pedang Berdarah Dingin melancarkan serangan dengan jurus ampuh tersebut, saking kaget dan takutnya ia menjerit keras tubuhnya secara beruntun mundur beberapa langkah ke belakang lalu putar tubuh dan kabur dari tempat itu.

Sepasang mata Pek In Hoei berubah jadi merah berapi-api, teriaknya penuh kegusaran :

"Bangsat tua, jangan melarikan diri!"

Hoa Pek Tuo telah menyadari bahwa kepandaian silat yang dimilikinya tak mampu untuk melenyapkan si anak muda itu, ia tahu bahwa tak ada gunanya untuk ribut terus dengan pemuda tadi sebab kalau pertarungan dilanjutkan maka kemungkinan besar dirinya bakal jatuh ke tangan musuh.

Oleh sebab itu sambil putar badan melarikan diri, teriaknya : "Kau jangan keburu merasa bangga lebih dulu, kita lihat saja

bagaimana akhirnya nanti!"

Terlihatlah rase tua itu menggerakkan tubuhnya berulang kali, bagaikan sesosok sukma gentayangan tubuhnya dengan cepat lenyap di balik gua yang gelap. Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei yang tak sempat melakukan pengejaran, terpaksa hanya bisa menghela napas panjang sambil mendepak-depakkan kakinya belaka.

"Bangsat tua, kali ini engkau bisa lolos dari tanganku... tapi kau jangan keburu senang hati... sekali pun engkau dapat terbang ke langit, aku tetap akan mengejar dirimu sampai dapat."

Ia tahu bahwa Hoa Pek Tuo serta anak buahnya tak akan berlalu dari sana dengan begitu saja, dia lantas mengambil keputusan setelah mengubur jenazah dari Kong Yo Siok Peng, usaha pencarian itu baru akan dilakukan.

Tatkala sinar mata si anak muda itu terlintas kembali di atas wajah Kong Yo Siok Peng yang telah layu dan pucat mengerikan, rasa sedih muncul dalam benaknya... dengan penuh kepedihan ia menghela napas panjang kemudian perlahan-lahan mendekati mayat gadis itu.

"Siok Peng!" bisiknya lirih, "setelah mati engkau akan mendapatkan ketenangan yang benar-benar menyenangkan hatimu... meskipun Hee Giong Lam yang mencekik dirimu sampai mati, akan tetapi kau tak usah membenci atau mendendam terhadap dirinya, karena dia hanya seorang gila yang tak waras otaknya, kau tentu tahu bukan... setelah otaknya waras kembali dan mengetahui kalau engkau mati tercekik di tangannya, betapa sedih dan perih hatinya sehingga air mata jatuh berlinang membasahi seluruh wajahnya... ia membenci terhadap dirinya sendiri. Oooh Siok Peng! Keadaan tersebut merupakan suatu hukuman yang sadis terhadap diri, maka engkau jangan menyalahkan ayah angkatmu, aku paling memahami perasaan hatinya... Aaaai... engkau pun kasihan sekali..."

Jago Pedang Berdarah Dingin menghela napas dengan amat sedihnya, dengan tangan gemetar keras ia peluk tubuh Kong Yo Siok Peng ke dalam pelukannya, diciumnya pipi yang dingin dan pucat itu lalu berdiri termangu-mangu di tempat semula tanpa mengetahui apa yang hendak dilakukan olehnya, terdengar pemuda itu bergumam seorang diri :

"Siok peng,kematianmu sungguh penasaran sekali... aku hendak mengubur jenazahmu di suatu tempat yang indah dan tenang, bunga yang segar dan beraneka warna akan selalu memenuhi kuburanmu, burung kecil akan hinggap di atas kuburanmu sambil memperdengarkan kicauannya yang merdu... kau tak akan merasa kesepian, karena kau masih ada seseorang yang mencintai dirimu dan hingga kini pun masih mencintai dirimu... semoga sukmamu di langit bisa selalu mendampingi aku, melihat aku balaskan dendam bagimu." Langkah kaki yang berat kian lama kian terdengar nyaring, dengan penuh kepedihan Jago Pedang Berdarah Dingin membopong jenazah kekasihnya yang pertama dan menggerakkan tubuhnya maju ke depan dengan wajah yang bingung dan pandangan yang kosong...

Ia hanya tahu berjalan... dan berjalan terus... dari satu gua masuk ke gua lain... ia sendiri pun tak tahu apakah bisa keluar dari situ atau tidak karena banyak tikungan terdapat di sana seolah-olah semua jalan bisa tembus ke tempat luaran, namun setelah berputar setengah harian di sana ia masih tetap berkeliaran di tengah kegelapan.

"Uuuh... nguuuhh... nguuuh..."

Dari balik gua yang gelap tiba-tiba berkumandang datang suara isak tangis yang amat lirih, Jago Pedang Berdarah Dingin amat terperanjat, kesadarannya segera menjadi jernih kembali dan diperhatikannya sekeliling tempat itu dengan hati-hati.

"Masa di tempat ini pun masih ada orang lain..." pikirnya di dalam hati.

Setelah mendengar isak tangis seorang perempuan yang begitu nyaring, pemuda itu baru teringat apa sebabnya sampai sekarang Wie Chin Siang belum nampak juga munculkan diri? Apakah dia pun terkurung dalam gua itu karena hendak menemukan jejaknya?

Tak mungkin! Kenapa Wie Chin Siang menangis terisak di situ? Dengan kepandaian silat yang dimilikinya tak mungkin dara itu bisa terkurung di tempat seperti ini, jelas perempuan yang sedang menangis itu adalah perempuan lain... tapi siapakah dia?

Persoalan ini dengan cepatnya berubah jadi satu pertanyaan di dalam benak Jago Pedang Berdarah Dingin, dengan sangat hati-hati ia mencari... dan memeriksa di sekitar tempat itu, di hendak membuktikan benarkah di tempat itu terdapat seorang perempuan sedang menangis?

Lama sekali dia mencari... tapi akhirnya kecewa, karena ia tidak mendengar suara isak tangis itu lagi bahkan suara napas manusia pun tak kedengaran.

Dengan ketajaman telinga serta kesempurnaan tenaga dalamnya, mencari jejak seseorang bukanlah suatu pekerjaan yang terlalu sulit, tetapi perempuan itu sama sekali tidak meninggalkan sedikit suara pun, inilah yang menyulitkan pemuda tersebut, sebab satu-satunya petunjuk telah hilang lenyap pula.

Perlahan-lahan Pek In Hoei bergerak maju ke depan, kemudian tegurnya dengan suara lirih :

"Siapakah engkau?"

Tiada jawaban yang terdengar dari balik gua yang gelap gulita itu, yang terdengar hanya pantulan suara sendiri... Pek In Hoei jadi kecewa dan putus asa, ia mulai mencurigai telinga sendiri.

"Hmmmmm...! Hmmmm...!"

Tiba-tiba dari belakang tubuhnya berkumandang datang suara dengusan berat, terdengar seseorang berseru dengan suara yang dingin menyeramkan.

"Perempuan rendah yang tak tahu diri, siapa suruh engkau menangis terus...

Plooook...! Sebuah gaplokan nyaring berkumandang datang dengan jelasnya, Jago Pedang Berdarah Dingin segera menggerakkan tubuhnya dan menerjang ke arah mana berasalnya suara tadi.

Di tengah kegelapan ia lihat ada sesosok bayangan manusia sedang lari ke depan dengan cepatnya, bahkan terdengar pula suara derap kaki yang keras, sepasang matanya kontan melotot bulat, dengan penuh kegusaran pemuda itu menghardik :

"Jangan lari!"

Suara isak tangis seorang perempuan berkumandang datang dari samping sebelah kiri, Pek In Hoei segera menghentikan langkahnya dan berpaling, ia lihat seorang gadis baju hijau dengan pakaian yang kusut dan wajah menampilkan rasa takut sedang bersembunyi di suatu sudut gua, sepasang matanya yang memancarkan rasa ngeri dialihkan ke atas wajahnya, seakan-akan gadis itu merasa takut kalau dirinya bakal dianiaya.

"Siapa kau?" tegur Pek In Hoei sambil menghela napas ringan.

Perlahan-lahan gadis baju hijau itu menyeka air mata yang membasahi wajahnya, lalu menjawab :

"Liok Hong!"

"Kenapa kau bisa berada di sini?" tanya Jago Pedang Berdarah Dingin dengan suara tercengang.

Liok Hong menggeserkan tubuhnya dan perlahan-lahan bangun terduduk, jawabnya :

"Seperti pula engkau aku pun berada dalam kesulitan, bagaimana caranya engkau masuk kemari begitu pula caraku masuk ke sini, selam berada di tempat setan seperti ini, siapa pun akan datang kemari secara otomatis..."

"Ooooh...! Jadi engkau tertawan oleh mereka..."

"Ditawan dan dirampas apa bedanya?" kata Liok Hong dengan penuh kesedihan, "meskipun ayahku beruntung bisa lolos dari cengkeraman maut, namun keadaannya tidak berbeda jauh dengan kematian, tujuan mereka merampas aku datang kemari bukan lain adalah untuk menghadapi ayahku..."

"Bukankah kau mengatakan bahwa ayahmu terluka..." seru Pek In Hoei tertegun.

Liok Hong menggeleng. "Keadaannya jauh lebih menyedihkan daripada terluka, karena ia bakal kehilangan satu-satunya putri yang dia cintai, ayahku adalah seorang lelaki yang terlalu menjaga gengsi, bila dia tahu kalau aku dikurung di dalam suatu tempat seperti neraka ini, sudah pasti ayahku akan mati karena mendongkol. Aaaaai...! Kesemuanya ini harus salahkan nasibnya yang buruk..."

"Kenapa mereka kurung dirimu di sini?" tanya Jago Pedang Berdarah Dingin lagi dengan tidak habis mengerti.

Liok Hong menghela napas panjang.

"Buat apa lagi? Tentu saja aku dijadikan sandera! Kalau aku tidak ditangkap dan dilarikan ke sini, dari mana mereka bisa memaksa ayahku untuk tunduk terhadap perintahnya? Aaaaai...! Entah bagaimanakah kehidupanku di kemudian hari..."

"Kalau aku menjadi dirimu maka aku akan berusaha melarikan diri dari tempat ini..."

Tiba-tiba Liok Hong menengadah ke atas dan tertawa terbahak- bahak, dengan tubuh gemetar keras katanya :

"Di tempat ini gua berhubungan dengan gua, satu tempat bersambung dengan tempat lain dan keseluruhannya berjumlah tujuh puluh dua gua, bagi mereka yang telah masuk ke dalam tempat yang sangat gelap ini maka selamanya tak akan mampu menemukan jalan keluar... aku sudah mencobanya beberapa kali, tapi setiap kali selalu mengalami kegagalan total... sahabat senasib sependeritaan, aku lihat lebih baik engkau duduk di sini saja dengan tenang! Kalau tidak seperti juga diriku, walau sudah ribut sendiri dan lari ke sana kemari dengan kebingungan akhirnya toh sama saja tak bisa keluar dari tempat ini..."

"Aku tidak percaya..." seru Pek In Hoei sambil menggeleng.

Rupanya pemuda itu tidak habis mengerti apa sebabnya gadis itu lebih suka terkurung di tempat yang gelap dan terpisah dari alam bebas itu daripada harus mencari jalan keluar, dengan pandangan tajam ditelitinya gadis itu dengan seksama, ia mengetahui bahwa dara muda itu tidak mengerti akan ilmu silat, pemuda itu jadi semakin tercengang, ia tak tahu apa sebabnya Hoa Pek Tuo mengurung pula seorang gadis yang tak mengerti akan ilmu silat di tempat seperti ini... Setelah berpikir sebentar pemuda itu menghela napas panjang,

ujarnya lirih :

"Katakanlah padaku, apa sebabnya mereka merampas dirimu dan dijebloskan ke tempat ini?"

"Apa sih sangkut pautnya persoalan ini dengan dirimu? Sahabat senasib sependeritaan, antara manusia dengan manusia selamanya mempunyai rahasia hati yang tak dapat diberitahukan kepada orang lain, ke-dua belah pihak selalu mempunyai kepentingan untuk menghormati kedudukan pihak lawannya, bila aku merasa bahwa urusan itu pantas diberitahukan kepadamu tentu saja akan kuberitahukan kepadamu, sebaliknya kalau aku merasa tidak pantas untuk mengatakannya keluar, sekali pun engkau paksa diriku pun belum tentu aku mau bicara... jangan marah, apa yang kukatakan adalah ucapan yang sejujurnya..."

Dengan termangu-mangu ditatapnya langit-langit gua itu sambil termenung, rupanya ia sedang mengenang kembali akan sesuatu peristiwa, kemudian dengan suara gemetar ujarnya :

"Siksaan serta penderitaan yang kualami selama ini telah membuat nyaliku bertambah besar, aku pernah beberapa kali merencanakan siasat untuk membujuk orang-orang yang membawa aku masuk ke sini untuk membawa aku keluar lagi dari tempat ini, akan tetapi usahaku itu setiap kali mengalami kegagalan total... aku sudah merasa cukup hidup di tempat penuh siksaan bagaikan neraka ini, aku ingin sekali menumbukkan kepalaku di atas dinding hingga mati..."

Ia melirik sekejap ke arah Jago Pedang Berdarah Dingin, lalu tegurnya kembali :

"Siapakah kau?" "Aku adalah seorang manusia yang bersedih hati, nasibku hampir sama dengan nasibmu...!"

Biji mata Liok Hong yang jeli tiba-tiba dialihkan ke atas tubuh Kong Yo Siok Peng, lalu bisiknya kembali :

"Dan dia..."

"Seorang gadis yang telah mati..."

Dalam dugaan Pek In Hoei semula, Liok Hong tentu akan merasa terperanjat setelah mengetahui bahwa Kong Yo Siok Peng telah mati, atau dia akan menjerit ketakutan, siapa tahu gadis itu sama sekali tidak menunjukkan sesuatu perubahan apa pun.

"Ooooh... kembali ada seorang mati!" ia berbisik.

"Eeei... rupanya kau sudah terbiasa menyaksikan keadaan seperti ini, sehingga sama sekali tidak kelihatan kaget," seru Pek In Hoei dengan hati bergetar keras.

Liok Hong sama sekali tidak marah atau menjadi gusar karena perkataan Pek In Hoei yang mengandung sindiran itu, ia benahi rambutnya yang kusut lalu tertawa hambar ke arah Pek In Hoei, jawabnya :

"Kau bisa punya pendapat begitu berhubung engkau masih belum dapat menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitar tempat ini, seandainya tiap hari yang kau lihat adalah orang mati melulu maka kau tak akan menjadi heran dengan sikapku itu..."

"Ooooh... sudah berapa lama engkau berada di tempat ini?" Liok Hong tertawa.

"Tiga bulan lebih dua hari, kalau aku tidak berjumpa dengan dirimu mungkin aku sendiri pun tak akan tahu sudah berapa lama aku berada di sini. Aaaai... meskipun baru tiga bulan lamanya, namun aku merasa bahwa diriku telah hidup selama satu tahun di dalam neraka..." Bicara sampai di sini ia segera menutupi wajahnya kembali dan menangis tersedu-sedu, suaranya berkumandang hingga memenuhi

seluruh ruang gua. Meskipun Pek In Hoei adalah seorang pemuda tinggi hati yang sombong dan suka menyendiri, namun ia merasa kasihan dan simpatik sekali terhadap bencana yang dialami gadis itu, ia tahu selama hidup di tempat itu pasti banyak penderitaan serta penghinaan yang dialami, kalau tidak tak mungkin gadis itu merasa sedih sekali..."

Perlahan-lahan ia menepuk bahunya, dan berkata :

"Jangan terlalu sedih, aku akan berusaha membawa engkau keluar dari sini dan mengantar dirimu pulang..."

"Aku sudah tak punya muka untuk bertemu dengan ayahku lagi, karena aku sudah memalukan dirinya," seru Liok Hong sambil menangis tersedu-sedu, "aku hendak membunuh manusia-manusia terkutuk itu dengan tangan sendiri... kalau tidak maka aku tak dapat mencuci bersih penghinaan serta rasa malu yang telah melekat pada tubuhnya, tolong sudilah engkau membantu usahaku ini."

Pek In Hoei gelengkan kepalanya berulang kali.

"Kau masih terlalu kekanak-kanakan, masih banyak urusan yang tidak kau pahami..." katanya.

Hawa dingin yang menggidikkan hati berhembus lewat di dalam gua yang gelap gulita itu, Liok Hong nampaknya seperti ketakutan... dia tujukan wajahnya yang putih dan diliputi rasa ngerti tersebut memandang ke arah Jago Pedang Berdarah Dingin dengan sorot mata memohon... air mata nampak mengembang dalam kelopak matanya... bibir yang merah dan mungil bergerak lirih seperti mau mengucapkan sesuatu, namun tak sepatah kata pun yang diutarakan keluar.

"Kau kedinginan?" tanya Pek In Hoei sambil memandang ke arah gadis itu.

Rupanya gadis itu merasa agak kedinginan, per-lahan ia menggeserkan tubuhnya dan merapat di tubuh pemuda itu, bau harum yang aneh tersiar kelua dari tubuhnya.

Perlahan-lahan Jago Pedang Berdarah Dingin menggeserkan pula badannya ke belakang, lalu berkata : "Jika engkau merasa kedinginan, aku akan melepaskan pakaianku untuk dikenakan di atas tubuhmu.. nona! Engkau duduklah sebentar di tempat ini... aku hendak mencari suatu tempat untuk mengebumikan jenazah sahabatku ini terlebih dahulu!"

"Apakah dia adalah kekasihmu?" tanya Liok Hong dengan suara dingin.

Pek In Hoei tertegun.

"Pertanyaan itu tak kuketahui mesti dijawab secara bagaimana, tapi yang jelas di adalah gadis pertama yang kukenal... meskipun hubungan kami boleh dibilang tidak begitu rupa dan merah, akan tetapi aku tak dapat melupakannya..."

"Bagus sekali kalau ia bisa mati..." sela Liok Hong tanpa perubahan di atas wajahnya.

Air muka Pek In Hoei berubah hebat, tegurnya dengan suara dingin :

"Apa maksudmu mengucapkan kata-kata seperti ini?"

Di atas raut wajahnya tetap tidak menunjukkan perubahan apa pun, hanya ditatapnya wajah Pek In Hoei yang sedang marah itu dengan pandangan dingin, lalu tertawa-tawa.

"Kau marah karena perkataanku itu? Janganlah terlalu sedih, aku berkata demikian karena bermaksud baik, coba pikirlah pada masa hidupnya mungkin gadis itu merasa tidak terlalu bahagia, tetapi setelah dia mati dan tiba-tiba ada seorang pria merasa sedih karena kematiannya, bukankah hal itu memperlihatkan bahwa kematian jauh lebih baik daripada kehidupan...? Kalau aku yang menghadapi kejadian seperti ini, maka aku lebih rela mati daripada harus hidup sebatang kara dan merasakan segala macam penderitaan serta siksaan..."

Pek In Hoei mendengus dingin.

"Hmmmm! Pandai amat engkau melukiskan kenyataan tersebut!" jengeknya.

Liok Hong pun mendengus. "Kau tak usah menggunakan kata-kata seperti itu untuk menyindir diriku, walaupun sekarang keadaanku jelek dan dekil sekali akan tetapi di masa yang silam aku pun seorang gadis kaya yang agung, kalau engkau pernah datang ke rumahku maka kau tak akan menertawakan keadaanku ini..."

"Aku rasa ayahmu tentulah seorang jago kenamaan dalam dunia persilatan bukan?" seru Pek In Hoei.

Liok Hong tertawa bangga.

"Meskipun bukan keluarga kenamaan tetapi nama besarnya diketahui pula oleh sebagian besar orang Bu-lim atau paling sedikit selama berada di wilayah See-Lam, asal kita mengungkap tentang rumah megah hijau daun maka semua orang segera akan acungkan ibu jarinya..."

"Apa?? Jadi engkau adalah putri dari hartawan kaya raya di wilayah See-Lam..." seru Pek In Hoei terperanjat.

Ketika masih kecil ia sering mendengar ayahnya bercerita bahwa orang yang paling kaya raya di daratan Tionggoan adalah rumah hijau di wilayah See-lam, terutama sekali gedung megah hijau dan yang dibangun dengan segala kemegahan dan kemewahan boleh dibilang merupakan bangunan terbagus di seluruh daratan.

Oleh sebab itulah ketika pemuda itu mengetahui bila Liok Hong yang berada di hadapannya bukan lain adalah putri dari hartawan kaya raya di wilayah See-lam, rasa kagetnya sukar dilukiskan lagi dengan kata-kata.

Dengan pandangan dingin Liok Hong melirik sekejap ke arahnya, lalu berkata :

"Ehmmm... rupanya tidak sedikit urusan yang engkau ketahui!" Pek In Hoei tertawa getir.

"Nona!" serunya, "aku tak dapat menemani dirimu, aku harus mengebumikan jenazah sahabat lebih dahulu, kalau tidak maka mayatnya akan membusuk, aku tak punya waktu untuk menemani dirimu lebih lama lagi, kalau nasib kita memang jelek maka kita berdua akan bersama-sama terkurung di tempat ini."

Liok Hong menghela napas panjang.

"Aaaaai... kau tak usah buang tenaga dengan percuma, di tempat ini kau tak akan menemukan jalan keluar untuk meloloskan diri..."

"Bagaimana pun juga aku harus memilih suatu tempat yang agak baik untuk mengebumikan jenazahnya lebih dahulu, aku toh tak dapat membiarkan mayatnya terlontang di udara terbuka untuk menerima siksaan angin dingin yang berhembus di tempat ini... nasibnya sudah terlalu malang, aku tak boleh membiarkan dia lebih tersiksa lagi!"

Liok Hong berpikir sebentar, tiba-tiba serunya : "Ooooh...! Aku teringat akan suatu tempat yang bagus..."

"Di manakah letaknya?" tanya Pek In Hoei cepat dengan hati kegirangan.

Namun Liok Hong segera menggeleng kembali.

"Tempat itu tak dapat kuberikan kepadanya, karena aku telah mempersiapkan diri untuk kugunakan sendiri..."

"Aaaai...! Apakah kau juga ingin mati?" tanya Jago Pedang Berdarah Dingin sambil menghela napas panjang.

"Ehmmm! Daripada hidup di kegelapan aku rasa jauh lebih enak kalau aku mati saja, oleh karena itulah seringkali aku memikirkan tentang soal kematian, setiap kali ingatan tersebut muncul dalam benakku maka aku pun mencari tempat yang indah untuk mengubur jenazahku, sungguh tak kusangka di dalam gua ini memang benar- benar terdapat suatu tempat seperti itu, bukan pemandangannya saja yang indah bahkan orang pun sulit untuk menemukan tempat itu..."

Sambil memandang ke arah wajah pemuda itu, ia tertawa getir lalu melanjutkan :

"Tahukah engkau bahwa di tempat ini terdapat tujuh puluh dua buah gua? Dari pengamatanku yang teliti, di antara sekian banyak gua yang terdapat di sini hanya ada sebuah gua saja yang terang benderang, di siang hari kita bisa melihat sinar matahari dan di malam hari kita menyaksikan rembulan, tetapi satu-satunya yang kurang bagus adalah empat penjuru merupakan dinding gua yang tinggi hingga tak mungkin bisa keluar dari situ... sebab tempat itu terletak di pusat paling tengah yang dikelilingi oleh ke-tujuh puluh dua gua lainnya..."

"Ooooh yaaaah? Aku punya akal untuk keluar dari sini..." "Hmmm! Kau tak usah berlagak sok pintar, selama jangka waktu

tiga bulan aku telah mencoba dengan segala cara untuk keluar dari tempat itu, akan tetapi semua cara yang kupergunakan selalu gagal dan tak sebuah pun yang berhasil."

Pek In Hoei tertawa rawan.

"Kau mengalami kegagalan karena kau masih belum paham dengan keadaan situasi di tempat ini!"

Dia tarik napas panjang-panjang, setelah berhenti sebentar lanjutnya lebih jauh:

"Orang bisa terkurung di tempat ini karena suasana di sini selalu diliputi oleh kegelapan, agar orang masuk kemari tak jelas arah tujuannya, kalau kita mau keluar dari sini maka pertama-tama harus mencari tujuh puluh dua batang obor lebih dahulu, kemudian memancarkannya di setiap gua, dengan begitu secara mudah kita akan temukan jalan keluar dari gua ini..."

Dalam anggapan Jago Pedang Berdarah Dingin akalnya ini boleh dibilang amat cerdik dan sempurna sekali tetapi bagi Liok Hong bagaikan kepalanya diguyur oleh sebaskom air dingin, ia segera tertawa dingin dan gelengkan kepalanya berulang kali.

"Enak amat jalan pikiranmu itu," serunya, "jangan dibilang sulit bagi kita untuk menemukan ke-tujuh puluh dua batang obor,sekali pun bisa kita peroleh kau pun tak mungkin bisa menancapkan tiap obor tersebut pada mulut gua, sebelum kau selesai menancapkan obor-obor itu mungkin api tersebut sudah dipadamkan lebih dahulu oleh orang... engkau jangan mengira kalau orang-orang itu akan melepaskan dirimu dengan gampang, aku lihat lebih baik engkau jangan bermimpi di siang hari bolong, jangan dibilang mau melarikan diri dari sini, kemungkinan besar gerak-gerik kita pada saat ini pun berada di bawah pengawasan orang-orang ini..."

Atas kecerdikan dan ketelitian gadis muda itu, diam-diam Pek In Hoei merasa amat kagum, dengan sedih ia menghela napas panjang lalu memandang ke arah jenazah Kong Yo Siok Peng yang berada dalam pelukannya dengan pandangan sedih.

Pada saat itulah... tiba-tiba ia merasa tidak jauh di tempati itu berkumandang datang suara dengusan napas seseorang.

Dengan cepat ia gerakkan tubuhnya sambil melancarkan sebuah serangan ke arah depan, hardiknya dengan suara berat :

"Sahabat, ayoh cepat keluar dari tempat persembunyianmu!" "Blaaaam... ! Angin pukulan yang berat dan dahsyat itu

menghajar di atas tanah dan menimbulkan percikan dan debu dan pasir beterbangan di angkasa...

"Aduuuuh...! Jeritan kesakitan bergema memecahkan kesunyian, seorang pria kekar sambil muntah darah segar jatuh terkapar ke atas tanah.

Liok Hong menghela napas panjang, ujarnya :

"Orang ini pastilah dikirim oleh Hoa Pek Tuo untuk mencuri dengar pembicaraan kita!"

Dengan pandangan dingin Pek In Hoei memandang sekejap ke arah jenazah pria kekar itu, wajahnya sama sekali tidak menampilkan rasa kasihan atau iba, senyuman sinis yang amat dingin tersungging di ujung bibirnya.

"Hmmm! Mencari kematian buat diri sendiri..." serunya gemas.

Air muka Liok Hong berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, dia pun berbisik :

"Sungguh kuat dan dahsyat angin pukulan yang engkau lancarkan itu..."

Tiba-tiba dari ruangan berkumandang datang jeritan lirih, Jago Pedang Berdarah Dingin segera meletakkan jenazah Kong Yo Siok Peng ke atas tanah, lalu cabut keluar pedang mestika penghancur sang surya-nya dan memburu ke depan.

Memandang bayangan punggung Pek In Hoei yang lenyap dari pandangan, satu senyuman sinis tersungging di ujung bibir Liok Hong.

Tiba-tiba dari belakang tubuhnya berkumandang suara ketukan batu yang amat lirih, ia segera putar badan dan loncat ke samping dinding batu itu, setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu, ia singkirkan sebuah batu cadas yang menonjol di situ dan bertanya :

"Majikan, kau ada pesan apa yang hendak disampaikan kepadaku?"

"Bagaimana hasil dari pekerjaanmu ini?" dari balik gua kecil di atas dinding batu itu bergema keluar suara teguran yang dingin.

"Saat ini hatinya sedang sedih dan untuk beberapa saat lamanya mungkin sukar untuk masuk jebakan, majikan! Harap engkau suka memberi waktu kepadaku, karena kau pun mesti tahu bahwa pekerjaan ini tak dapat segera mendatangkan hasil..."

"Ehmmm..." suara dari Hoa Pek Tuo bergema lagi dari balik lubang gua, "engkau harus berusaha secepatnya untuk mendapat jurus-jurus rahasia dari ilmu pedang penghancur sang surya, engkau harus tahu sampai sekarang aku tak bisa membinasakannya dirinya lantaran jurus pedang yang dimilikinya itu terlalu lihay, asal aku bisa berlatih pula jurus-jurus serangan itu maka dengan cepat aku bisa menaklukkan dirinya..."

"Aku mengerti!" jawab Liok Hong lirih.

"Inilah satu-satunya cara yang dapat kau lakukan untuk membalas budi kepadaku, bila pekerjaan ini dapat kau lakukan dengan baik dan sukses maka aku segera beri kebebasan kepadamu untuk berlalu dari sini, sebaliknya kalau engkau gagal untuk mencapai tujuan tersebut, maka aku pun mempunyai akal untuk menghadapi dirimu."

"Aku tahu... aku tahu...!" Hoa Pek Tuo tertawa seram dan tiada perkataan yang berkumandang kembali, Liok Hong sendiri bagaikan pikirannya ditindihi dengan suatu masalah yang amat berat ia berdiri menjublak di depan gua.

Menanti didengarnya ada suara langkah kaki yang berkumandang datang, ia baru tersentak bangun dari lamunannya, buru-buru ia singkirkan kembali batu besar itu ke tempat semula lalu duduk kembali di atas tanah.

Beberapa saat kemudian Pek In Hoei munculkan diri di tempat itu, dengan suara lirih Liok Hong segera menegur :

"Berhasil kau kejar?"

"Tidak!" jawab pemuda itu sambil menggeleng.

Tiba-tiba dari balik mata Liok Hong memancar keluar sinar mata yang mempesonakan hati, biji matanya bagaikan air bening yang memandang ke arah pemuda itu dengan sorot aneh, hal ini membuat Jago Pedang Berdarah Dingin merasakan tubuhnya gemetar keras, ia merasa sinar aneh yang terpancar keluar dari balik mata lawannya belum pernah dijumpai sebelum ini, ia merasakan pikiran dan hatinya seakan-akan terbetot oleh biji mata lawan membuat ia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun dan memandang ke arahnya dengan pandangan aneh...

Liok Hong tersenyum manis, dengan suatu gerakan yang tak disengaja dia lepaskan kancing baju pada bagian dadanya sehingga terlihatlah kulit tubuhnya yang putih bersih bagikan salju, ia tertawa jengah dan dari wajahnya terpancar keluar suatu sikap yang aneh tapi mempesonakan hati orang.

"Ooooh...! Sakit amat lenganku ini..." bisiknya.

"Perlahan-lahan dia lepaskan pakaiannya dari atas badan lalu menjulurkan lengan tangannya yang putih ke hadapan Pek In Hoei.

" Ehmmm... putih sekali lenganmu ini," bisik Jago Pedang Berdarah Dingin dengan suara lirih.

"Kau suka dengan tanganku ini?" gadis itu bertanya sambil tertawa merdu.

Jago Pedang Berdarah Dingin tidak bicara apa-apa, dia memegang lengan yang putih itu dan menggenggamnya kencang- kencang.

Liok Hong mengeluh lirih, ia jatuhkan diri ke dalam pelukan pemuda itu dan berseru dengan nada manja :

"Asal engkau suka, maka aku akan menyerahkan seluruh tubuhku kepadamu... terserah engkau mau berbuat apa saja dengan diriku..."

Tiba Jago Pedang Berdarah Dingin putar tangannya dan mendorong tubuhnya keluar, kemudian menggaplok pantatnya keras- keras.

"Hmmm! Engkau pandai sekali bermain sandiwara, rupanya kau berasal dari pemain panggung..." hardiknya sinis.

Liok Hong tertegun, ia tidak mengira kalau Pek In Hoei bakal menghadiahkan sebuah pukulan ke arahnya di kala pemuda itu hampir saja terjebak di dalam rayuannya, dengan suara gemetar serunya :

"Kau... kau berani memukul aku?"

"Hmmm! Engkau jangan mencoba untuk bermain sandiwara di hadapanku," tegur Jago Pedang Berdarah Dingin dengan ketus, "seandainya aku tidak memandang dirimu sebagai seorang gadis, hmmmm! Pada saat ini kemungkinan besar tubuhmu sudah terkapar di atas tanah dengan napas yang lemah..."

"Aku tidak mengerti apa maksudmu berbuat begitu kepadaku?" seru Liok Hong sambil menangis tersedu-sedu, wajahnya pucat pias bagaikan mayat, "aku toh sedang berada dalam kesulitan seperti halnya pula dengan dirimu, aku hanya berharap bisa mendapat seseorang kekasih, sungguh tak nyana engkau begitu tak tahu diri, sedikit pun tidak memiliki perasaan untuk kasihan menyayangi diriku... coba lihatlah betapa dingin dan sunyinya tempat ini, waktu berlalu dengan lambat sekali... aku sengaja berbuat begitu tujuanku bukan lain agar waktu bisa berlalu dengan cepatnya, aku ingin memberikan sedikit warna dalam kehidupan ini... agar napsu berahi melupakan diriku, tapi akhirnya... engkau sama sekali tak dapat menikmati keindahan tersebut, bahkan malah..."

"Tak tahu malu!" maki Pek In Hoei dengan wajah sinis, "engkau benar-benar seorang perempuan yang tak tahu malu, tak kusangka engkau bisa menggunakan cara yang begini rendah untuk memancing aku masuk perangkap... Hmm! Aku Pek In Hoei adalah seorang pria sejati, aku tak nanti akan terperangkap oleh siasatmu itu!"

Sambil menangis terisak Liok Hong gelengkan kepalanya berulang kali.

"Perkataanmu itu benar-benar membuat hati orang jadi penasaran, sikapku terhadap dirimu kuperlihatkan karena dasar cinta yang sejati, aku tidak mempunyai keinginan apa-apa, mengapa engkau menganiaya diriku dengan kata-kata yang begitu menghina..." Perempuan ini benar-benar sangat lihay sehingga membuat Jago Pedang Berdarah Dingin merasa kewalahan untuk menghadapinya, dari wajahnya yang murung serta perkataannya yang mempesonakan sudah cukup membuat hati kaum pria jadi lemah, andaikata Pek In Hoei tidak tahu asal usulnya yang sebenarnya, mungkin keadaannya

pada saat ini tak akan sesederhana ini.

"Hmmm! Tidak aneh kalau Hoa Pek Tuo menyerahkan tugas yang berat ini kepadamu," seru Pek In Hoei lagi dengan suara dingin, "rupanya engkau memang benar-benar pandai sekali memperlihatkan wajah sedih serta patut dikasihani di hadapanku, sayang semua perbuatanmu itu tak akan mendatangkan hasil apa-apa bagi diriku..." "Demi langit dan bumi," teriak Liok Hong sambil angkat sumpah, "jika aku Liok Hong bisa bohong dan benar-benar punya maksud

tertentu..." belum habis ia berbicara, tiba-tiba...

Ploook! Sebuah gaplokan keras telah bersarang di atas wajah perempuan itu, membuat Liok Hong jadi terpukul sempoyongan ke belakang dan lima jari merah yang membengkak besar tertera di atas pipinya.

"Hmmm! Engkau tak usah membohongi diriku lagi," teriak pemuda tersebut dengan nada dingin, "aku sudah tahu siapakah engkau... aku tahu kau bukan Liok Hong melainkan Tang-Ci Hong- Koh!"

Air muka gadis itu kontan berubah hebat, dengan tubuh gemetar keras serunya :

"Dari mana engkau bisa tahu akan asal usulku??" Pek In Hoei mendengus.

"Hmmm! Apa tugas yang dibebankan Hoa Pek Tuo di atas pundakmu??" hardiknya.

"Membohongi dirimu sehingga rahasia jurus-jurus ampuh ilmu pedang penghancur sang surya bisa diketahui olehnya."

"Huuuh...! Banyak amat akal busuknya, sayang sekali aku tak bisa dijebak dengan begitu mudah."

Perlahan-lahan ia berjalan ke depan dinding gua, mencabut batu tonjolan yang menutup gua kecil dan berteriak ke dalam keras-keras : "Hoa Pek Tuo, aku ada perkataan yang hendak disampaikan

kepadamu!"

"Hmmm...!" Hoa Pek Tuo mendesis gusar, "pandai amat dirimu, sampai-sampai rahasia ini pun engkau ketahui, Pek In Hoei! Beritahu kepada perempuan rendah itu, dia berani membocorkan rahasiaku maka aku pun hendak membereskan jiwanya."

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... kalau kau merasa punya kepandaian ayoh unjukkan diri! Kalau tidak aku akan menyerbu ke dalam," seru Pek In Hoei sambil tertawa dingin.

"Hehhhmm... heehhmm... kita lihat saja nanti, siapa yang lebih tangguh di antara kita!"

Jago Pedang Berdarah Dingin tidak melayani perkataannya lagi, mulutnya membungkam dan senyuman sinis tersungging di ujung bibirnya, setelah membopong jenazah Kong Yo Siok Peng dia melirik sekejap ke arah Tang-Ci Hong-Koh lalu berkata sinis :

"Hmmm! Hampir saja aku terjebak oleh siasatmu, kalau aku bukan menemukan rahasia ini tanpa sengaja mungkin sebuah tindakanmu itu akan tercapai seperti apa yang kau inginkan... sayang Thian tidak merestui tindakanmu itu..."

Tang-Ci Hong-Koh meloncat bangun dari atas tanah lalu mendengus dingin.

"Sekarang jejakku sudah ketahuan dan aku tak punya muka untuk berjumpa dengan Hoa Pek Tuo kembali... Hmm! Dia melukiskan engkau, Jago Pedang Berdarah Dingin, sebegitu lihaynya, tapi dalam pandangan aku Tang-Ci Hong-Koh tidak percaya kalau engkau memang begitu lihaynya..."

"Enyah dari sini!" bentak Pek In Hoei ketus, "jangan datang lagi kemari untuk bertemu dengan aku..."

"Ciisss...!" Tang-Ci Hong-Koh meludah ke atas tanah, "banyak pria yang lebih tampan dari dirimu pun jatuh bertekuk lutut di hadapanku, hanya engkau saja yang berlagak sok...!" Malam ini aku ingin melihat sampai di manakah kemampuan yang kau miliki."

Jago Pedang Berdarah Dingin berdiri tertegun mendengar perkataan itu.

"Engkau hendak bertempur melawan aku..." serunya.

Tang-Ci Hong-Koh mengerutkan alisnya rapat-rapat, napsu membunuh yang tebal menyelimuti wajahnya, bibir kecil mungil mencibir ke atas lalu mendengus berat.

"Sedikit pun tidak salah! Kalau aku Tang-Ci Hong-Koh melepaskan dirimu dengan begitu saja, orang-orang akan mentertawakan diriku yang tak becus... agar di hadapan Hoa Pek Tuo nanti aku bis mempertangung-jawabkan diri, aku harus berbuat demikian terhadap dirimu."

"Aku rasa engkau masih bukan tandinganku...!" jengek Pek In Hoei sinis. Tang-Ci Hong-Koh menengadah ke atas dan tertawa terbahak- bahak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... urusan itu gampang untuk dibuktikan, ketika engkau sudah melihat ketelengasanku maka engkau baru akan tahu bahwa apa yang aku ucapkan barusan bukan mengibul atau omong besar belaka..."

Dia maju beberapa langkah ke depan, teriaknya : "Looo-Liok!..."

Dari balik gua yang gelap gulita berkumandang suara dengusan dingin, tiga sosok bayangan manusia tanpa menimbulkan sedikit suara pun munculkan diri di tempat itu, mereka memegang senjata semua dan melotot ke arah Pek In Hoei dengan pandangan dingin.