Imam Tanpa Bayangan I Jilid 43

 
Jilid 43

DENGAN pandangan seksama ia segera memperhatikan kembali ke- dua sosok bayangan putih yang nampaknya hanya samar-samar itu, sedikit pun tidak salah dari salah satu di antara ke-dua orang itu mereka temukan seorang perempuan, hal ini membuat mereka semakin girang.

Pria yang ada di sebelah kiri itu segera menepuk bahu rekannya, kemudian berujar :

"Aaah...! Sedikit pun tidak salah, rupanya memang siluman rase perempuan itu..."

Dalam pada itu Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei serta Wie Chin Siang telah berada semakin dekat dengan ke-dua orang itu, air muka mereka dingin dan sama sekali tidak berperasaan, hal ini membuat pria tersebut tertegun dan seketika itu juga timbul perasaan ngeri dari dasar hatinya.

"Saudara, cepat bunyikan tanda bahaya!" pria yang di sebelah kanan segera berseru sambil ayunkan pedang ke muka.

"Sudah terlambat sahabat, rebahlah!" bentak Jago Pedang Berdarah Dingin sambil melompat ke muka.

Gerakan tubuhnya cepat laksana sambaran kilat, bagaikan segulung angin dingin mendadak pemuda itu menerjang ke depan sambil melancarkan totokan kilat ke arah dua orang pria tersebut.

Perubahan yang terjadi mendadak serta sama sekali di luar dugaan ini membuat ke-dua orang pria tersebut tak sempat untuk menghindarkan diri lagi, mereka berseru tertahan dan segera roboh ke atas tanah.

Dengan seksama Wie Chin Siang memeriksa sebentar sekeliling tempat itu, dari atas dinding batu akhirnya dia menyingkap selapis lumut buatan yang rupanya digunakan untuk menutup sebuah mulut gua.

Ketika mulut buatan tadi disingkirkan, segera muncullah sebuah gua besar yang gelap gulita, gadis itu segera melengok sekejap ke dalam kemudian katanya :

"Ayoh masuk ke dalam, hati-hati jangan sampai ketahuan mereka."

Setelah melalui sebuah lorong yang panjang dan berliku-liku akhirnya di hadapan mereka terbentang sebuah undak-undakan batu yang mendaki ke arah atas.

Untuk beberapa saat lamanya Jago Pedang Berdarah Dingin berdiri termangu-mangu, ia tak menduga kalau Hoa Pek Tuo bisa mencari tempat yang begini tersembunyi untuk mengumpat, dengan sangat hati-hati mereka segera mendaki ke atas undak-undakan batu dan menuju ke arah puncak atas dari lorong tersebut.

"Siapa?" dari tempat atas berkumandang datang suara teguran disusul seorang pria bersenjata pedang munculkan diri dari tempat persembunyian.

Dalam pada itu Pek In Hoei serta Wie Chin Siang belum sempat naik ke atas, ketika menyaksikan di hadapan mereka muncul sesosok bayangan hitam yang menghadang jalan pergi mereka, ke-dua orang itu jadi amat terperanjat.

"Apakah Loo Ong di situ?" tegur Pek In Hoei dengan cepat. "Betul!" jawab pria di atas dengan sikap tertegun, "siapa engkau?

Mengapa aku belum pernah berjumpa dengan dirimu?"

"Aku datang untuk menggantikan dirimu bertugas, bukankah kau sudah terlalu lama berdiri di sini?" ujar Pek In Hoei sambil maju ke depan, "mungkin kau tidak kenal dengan aku karena aku adalah orang baru yang belum lama ditugaskan di sini, walaupun begitu aku sudah lama mengenali looheng, malam ini aku bisa menggantikan posmu untuk berjaga, hal ini benar-benar merupakan suatu urusan yang patut dibanggakan..."

Loo Ong melengak mendengar perkataan itu, katanya : "Perkataanmu itu tidak benar, aku belum lama berjaga di sini dan

datang bersama-sama Loo-Lie, tengah malam saja belum tiba masa sudah berganti orang?" Saudara, kau jangan keliru..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... " Pek In Hoei tertawa, "Loo-Lie beritahu kepadaku, katanya malam ini kau akan bertemu lagi dengan siluman rase perempuan itu, maka aku sengaja disuruh datang kemari untuk menggantikan tugasmu... kita toh orang sendiri, kalau ada urusan bisa kita rundingkan secara baik-baik..."

Loo Ong segera tertawa tergelak.

"Saudara, kau memang betul-betul hebat! Perempuan itu bukan siluman rase melainkan janda gelap yang berdiam di sekitar sini. Waah! Perempuan itu memang betul-betul lihay, dalam semalam suntuk aku telah dihajar sampai kehabisan tenaga dan lemas sekali..." Pada ketika itu rasa was-wasnya telah lenyap sama sekali,

perlahan-lahan ia turun dari atas dan mendekati lawannya.

Jago Pedang Berdarah Dingin segera menggape ke arahnya, Loo Ong tertegun dan segera menegur :

"Ada urusan apa?"

Tubuh Jago Pedang Berdarah Dingin menyusup ke arah depan, dalam suatu gerakan yang cepat dia tangkap tubuh Loo Ong ke tengah udara lalu menotok beberapa buah jalan darahnya.

Sungguh kasihan Loo Ong, sebelum dia mengetahui duduk perkara yang sebenarnya tahu-tahu tubuhnya sudah roboh tak berkutik lagi.

Di ujung undak-undakan batu itu merupakan suatu lubang gua yang gelap, luas gua itu delapan depa dan suasananya gelap gulita tak nampak sesuatu apa pun juga. "Apakah Hoa Pek Tuo benar akan datang kemari?" tanya Pek In Hoei dengan hati gelisah.

"Lihat saja nanti!" jawab Wie Chin Siang sambil tertawa ewa, "malam ini dia pasti akan datang kemari!"

Jago Pedang Berdarah Dingin merasakan golakan hawa darah dalam dadanya menggeletar keras, suatu hawa napsu untuk membunuh muncul dari dasar hatinya, dengan hati gelisah ia berjalan hilir mudik sambil memandang ke arah Wie Chin Siang.

Ia sedang membayangkan bagaimanakah perasaan hatinya ketika musuh besar pembunuh ayahnya muncul di hadapan matanya, ia akan segera menerjang ke muka sambil berduel mati-matian dengan musuhnya ataukah menghukum mati lawannya secara perlahan- lahan?

Mendadak dari balik gua yang gelap muncul seberkas cahaya api. Jago Pedang Berdarah Dingin seketika merasakan jantungnya berdebar keras, sorot matanya dialihkan ke arah mana berasalnya cahaya tadi sementara tenaganya dihimpun siap menghadapi segala kemungkinan.

Pada puluhan tombak tingginya di bawah dasar gua muncul empat orang pria berbaju hitam memiliki wajah bengis, sambil membawa obor mereka memencarkan diri dan menanti di empat penjuru di sekeliling sana.

"Sebentar lagi dia akan munculkan diri..." bisik Wie Chin Siang dengan suara lirih.

Sedikit pun tidak salah, bersamaan dengan selesainya ucapan itu Hoa Pek Tuo dengan memakai jubah panjang yang keren dan sorot mata yang bengis perlahan-lahan munculkan diri di sana, ia tertawa seram dan segera membentak keras :

"Sudah disiapkan semua?"

"Telah siap semua!" jawab ke-empat orang pria itu dengan suara penuh rasa hormat. Hawa napsu membunuh yang tebal serta sorot mata tajam yang menggidikkan hati segera muncul di atas wajah Jago Pedang Berdarah Dingin, matanya berapi-api dan badannya gemetar keras.

"Kenapa engkau?" tegur Wie Chin Siang tertegun.

"Aku ingin sekali membinasakan dirinya!" jawab Pek In Hoei dengan penuh kebencian.

"Jangan terburu napsu, coba kita lihat pula apa yang hendak dilakukan olehnya?"

"Aku merasa tak sanggup menahan diri, hampir boleh dibilang setiap detik aku selalu menantikan datangnya kesempatan yang baik bagiku untuk membinasakan orang itu."

Mendadak terdengar gelak tertawa yang amat nyaring berkumandang memenuhi seluruh ruang gua, sambil menyeringai seram Hoa Pek Tuo bertepuk tangan dua kali, lalu serunya :

"Bawa dia datang kemari!"

Dua orang pria baju hitam buru-buru lari keluar, tidak lama kemudian sambil membawa seorang kakek kurus kering yang pucat pias ke-dua orang itu muncul kembali di sana.

Terperanjat hati Jago Pedang Berdarah Dingin menyaksikan kemunculan orang itu, pikirnya :

"Eeei... bukankah dia adalah Rasul Racun? Bukankah aku telah berhasil menyelamatkan dirinya? Kenapa sekarang bisa terjatuh kembali ke tangan Hoa Pek Tuo? Kenapa Hoa Pek Tuo tidak melepaskan dirinya..." berpikir sampai di situ dengan nada tercengang segera serunya :

"Kenapa Hee Giong Lam bisa berubah jadi begini rupa?" "Ssst... jangan berisik, Hoa Pek Tuo telah melatih sejenis ilmu

pukulan beracun yang hanya bisa dipecahkan oleh Hee Giong Lam seorang, Hoa Pek Tuo takut rahasia ilmu pukulan beracunnya ketahuan orang lain maka ia berusaha sedapat mungkin untuk memburu dan membinasakan dirinya dengan cara apa pun juga." "Aku akan menolongnya kembali..." seru Pek In Hoei sambil mendengus dingin.

Wie Chin Siang menggeleng.

"Kali ini kau tak akan berhasil menyelamatkan dirinya lagi, coba perhatikan dengan seksama, keadaannya sudah tidak jauh berbeda dengan orang mati, Hoa Pek Tuo tentu sudah memberikan sejenis obat kepadanya sehingga membuat dia berubah jadi bodoh dan sama sekali tak berguna lagi."

"Diam-diam Jago Pedang Berdarah Dingin merasa serba salah, ia memperhatikan dengan lebih seksama lagi, tidak salah ternyata keadaan dari Hee Giong Lam memang jauh berbeda dengan keadaan dahulu, sekarang matanya mendelong bodoh dan memandang sudut gua dengan ketolol-tololan, air mukanya sama sekali tidak menunjukkan perasaan apa pun, ia cuma berdiri kaku dengan mulut membungkam.

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... Lo Hee kau tak akan menyangka bakal menemui keadaan seperti ini bukan?" jengek Hoa Pek Tuo sambil tertawa keras dengan suara yang dingin menyeramkan, "tempo hari Pek In Hoei berhasil menyelamatkan dirimu dan kau lantas beranggapan bahwa kau bisa meloloskan diri dari cengkeramanku. Hmmm... hmmm... pikiranmu itu terlalu sederhana, bila aku Hoa Pek Tuo menginginkan seseorang orang itu itu tak akan berani menolak keinginanku itu, jangan bilang engkau sekali pun Pek In Hoei akhirnya takkan lolos pula dari cengkeramanku."

Meskipun sikapnya ketolol-tololan, tetapi pikiran Hee Giong Lam masih jernih, dengan suara dingin ia lantas berkata :

"Hukuman apa yang hendak kau jatuhkan kepadaku, segera lakukanlah! Kurangi saja ocehanmu yang sama sekali tak berguna itu..."

"Heehm...! aku tiada maksud untuk membinasakan dirimu!" "Lalu apa yang hendak kau lakukan?" seru Hee Giong Lam

dengan badan gemetar keras. Hoa Pek Tuo tepuk tangan kembali, seorang pria segera munculkan diri sambil membawa sebutir pil hitam sebesar kacang kedelai, dengan nada dingin katanya :

"Aku harap kau jangan menyusahkan lagi anak buahku, lebih baik telanlah obat ini secara suka rela."

Dengan pandangan dingin Rasul Racun Hee Giong Lam menyapu sekejap ke arah pria itu, kemudian mendengus dingin, tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia pentang mulutnya lebar-lebar.

Pria tadi segera menyentil pil hitam tersebut ke dalam mulutnya, tanpa memperoleh perlawanan pria tadi telah menyelesaikan tugasnya.

"Haaaah... haaaah... haaaah... Hee Giong Lam memang benar- benar seorang enghiong sejati, kau tidak menyusahkan mereka..." seru Hoa Pek Tuo sambil tertawa terbahak-bahak.

Hee Giong Lam tertawa dingin.

"Hmm! Sekali pun racun pemutus usus aku berani juga untuk menelannya..."

"Oooh... tak usah kuatir, bukan racun pemutus usus yang kuberikan kepadamu, racun ini jauh lebih lihay daripada racun apa pun, setelah kau menelan obat itu maka pikiranmu akan menjadi sinting dan semua kejadian yang telah lampau akan kau lupakan sama sekali, selama hidup akan menjadi gila terus hingga akhirnya mati..."

Sekujur badan Hee Giong Lam gemetar keras, dengan suara penasaran bercampur dendam serunya :

"Mengapa kau mesti menyiksa diriku dengan cara yang demikian keji???"

"Oooh... itu baru permulaannya, setelah kau menjadi gila kau akan suruh putri angkatmu Kong Yo Siok Peng menyaksikan dengan mata kepala sendiri manusia macam apakah ayah angkatnya itu..."

"Kau... kau..." air muka Hee Giong Lam berubah hebat, saking gusarnya sekujur badan gemetar makin keras. Setengah harian lamanya dia mengulangi kata-kata tersebut namun tak sanggup melanjutkan lebih jauh, ia hanya bisa memandang ke arah rase tua yang telah kehilangan peri kemanusiaannya itu dengan pandangan penuh kemarahan...

Tetapi sesaat kemudian dia menghela napas sedih dan mendesis penuh penderitaan, katanya :

"Aku tak mau menjumpai Siok Peng dengan keadaan seperti itu, aku tak mau..."

"Sekali pun kau tidak mau juga harus, siapa suruh engkau mengkhianati aku dan melarikan diri dari cengkeramanku? Aku telah memikirkan cara yang keji untuk menghadapi dirimu dan salah satu di antaranya adalah ini. Loo Hee, kau jangan salahkah aku berhati keji, hal ini harus salahkan kau yang telah salah memilih rahim ibumu..."

Dari perkataan-perkataan yang diucapkan makhluk tua ini, bisa dibayangkan betapa keji dan telengasnya manusia tersebut.

Hee Giong Lam yang mendengarkan ucapan itu jadi terkesiap, rasa gusar, benci dan sakit hati terlintas di atas wajahnya, saking marahnya dia sampai menggigit bibir dan melotot ke arah Hoa Pek Tuo dengan penuh kebencian serta perasaan dendam.

"Mengapa kau harus menghadapi diriku dengan cara ini?" kembali Hee Giong Lam berteriak keras.

"Karena kau berani mengkhianati diriku, setiap orang yang berani mengkhianati aku harus diganjar dengan hukuman yang paling kejam..."

"Hmmm... Hmmm... aku rasa alasannya belum tentu hanya karena masalah itu saja..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... tentu saja, salju bisa membeku setebal tiga depa, kejadian itu bukan berlangsung dalam sehari belaka, kalau kau ingin mengetahui alasan yang sebenarnya maka lebih baik tanyalah kepada dirimu sendiri, apakah kau telah mengerjakan tugas yang kuberikan kepadamu secara sempurna..." "Huuh...! Meskipun nama besarku tidak sebesar dan secemerlang namamu dalam dunia persilatan, bagaimana pun juga aku masih tetap merupakan seorang ketua dari suatu perguruan besar, aku tak sudi melakukan pekerjaan seperti apa yang kau perintahkan, kau tak usah bermimpi di siang hari bolong..."

"Itu masih belum cukup, setelah kau tak mau jual tenaga kepadaku, tentu saja aku pun harus mencari akal untuk melenyapkan dirimu dari muka bumi, aku tak ingin membiarkan engkau terjatuh ke tangan orang lain sehingga rahasiaku ketahuan..."

Hee Giong Lam tarik napas panjang-panjang katanya :

"Buat apa kau mengucapkan kata-kata yang begitu indah? Katakan saja kalau kau hendak membunuh orang untuk melenyapkan bukti."

Hoa Pek Tuo tertawa licik lalu menggeleng.

"Aku sama sekali tiada rencana untuk membinasakan dirimu, asal kuberi obat gila kepadamu sehingga membuat kau edan dan tidak kenal siapa-siapa, itu sudah lebih dari cukup, waktu itu kendati sanak keluargamu sendiri pun tak berani mendekati dirimu."

"Kau... kau... hatimu lebih kejam daripada ular berbisa," jerit Hee Giong Lam penuh kebencian.

"Hmm! Terserah engkau mau memaki diriku dengan kata macam apa pun, aku tidak jadi soal... Hee Giong Lam! Sekarang kalau kau menyesal masih belum terlambat, aku masih mempunyai cara untuk melenyapkan racun gila yang mengidap dalam tubuhmu itu."

Hee Giong Lam mendengus dingin.

"Hmmm! Tentulah bukan diobati secara gratis bukan..." "Haaaah... haaaah... haaaah... tentu saja, aku rasa di kolong langit

ini tiada pekerjaan yang tidak diimbali dengan jasa, kuserahkan obat pemunah itu kepadamu dan tentu saja kau harus memberi balas jasa kepadaku, sebab aku rasa cara ini adalah cara yang paling adil." Hee Giong Lam bukanlah seorang manusia lurus yang tulen, apalagi dia bukan lampu lentera yang kehabisan minyak, satu ingatan dengan cepat berkelebat di dalam benaknya.

"Kenapa aku tidak coba bermain licik dengan dirinya? Setelah kudapatkan obat pemunah itu akan aku cari akal lagi untuk melarikan diri atau membinasakan dirinya, cuma otak bajingan ini terlalu banyak dan liciknya bukan kepalang, untuk mendapatkan obat pemunah itu tentu saja bukan suatu pekerjaan yang gampang.

Ia melirik sekejap ke arah Hoa Pek Tuo, kemudian bertanya : "Apa syaratmu?"

"Haaaah... haaaah... haaaah... apakah kau mulai tertarik?" "Hmm! Tak usah banyak bicara lagi, aku hanya

mempertimbangkan balas jasa apa yang kau tuntut untuk obat pemunah tersebut!"

"Oooh... rupanya kau ingin tahu?" seru Hoa Pek Tuo.

Sepasang matanya dengan tajam dan dingin menatap wajah Hee Giong Lam tanpa berkedip, ia tahu bahwa Rasul Racun adalah seorang manusia yang sukar untuk dihadapi, manusia macam itu tak mungkin suka dipergunakan olehnya dengan hati rela.

Satu senyuman licik dan misterius segera tersungging di ujung bibirnya, dengan cepat otaknya berputar memikirkan cara yang paling baik untuk menghadapi musuh racunnya itu.

Setelah termenung beberapa saat lamanya, ia lantas berkata : "Aku hanya menginginkan resep obat Ji-li-biau-hiang mu itu."

Air muka Hee Giong Lam seketika berubah hebat, dengan pandangan bergidik ia memandang ke arah Hoa Pek Tuo, peristiwa ini benar-benar menakutkan sekali dan siapa pun tak pernah menduga kalau Hoa Pek Tuo adalah manusia lihay dengan isi perut yang besar pula, begitu buka mulut yang diminta ternyata resep rahasia dari Perguruan Selaksa Racun yang tak pernah diwariskan kepada orang lain. Resep obat ini kecuali ketuanya sendiri yang boleh mengetahui, sekali pun anak muridnya yang paling menonjol pun tak akan tahu rahasia resep obat ini, tak nyana balas jasa yang dikehendaki orang itu ternyata adalah resep tersebut.

"Apa itu Jit-li-biau-hiang??" Hee Giong Lam pura-pura berlagak pilon.

Air muka Hoa Pek Tuo berubah hebat, bentaknya :

"Kau tak usah banyak bicara lagi, kau sebagai ketua dari Perguruan Selaksa Racun masa tidak tahu tentang obat tersebut? Hey Loo Hee, bersikaplah lebih cerdik, semua barang yang telah diucapkan oleh aku Hoa Loo sianseng selamanya tak pernah meleset, ini hari aku akan berbicara terus terang kepadamu, bila kau tidak memberitahukan resep obat dari Jit-li-biau-hiang maka mulai detik ini juga jangan harap bisa menikmati kehidupan yang aman tenteram. Ehmm... sudah tahu???"

"Sebetulnya apa yang kau inginkan? Aku benar-benar tidak tahu..." seru Hee Giong Lam pura-pura bodoh.

"Tak usah mengulur-ulur waktu lagi," tukas Hoa Pek Tuo dengan suara ketus, "tanda-tanda gila segera akan mulai bekerja di dalam tubuhmu, waktu itu sekali pun ada obat juga tak dapat ditolong, kalau kau setuju maka marilah kita bekerja sama, aku membutuhkan resep obat dan kau membutuhkan keselamatan jiwamu, kita berdua sama- sama tidak merugikan satu sama lainnya."

Ia tertawa seram, setelah berhenti sebentar ujarnya kembali : "Bagaimana? Aku tidak ingin mendengar lagi jawabanmu yang

tidak tahu itu."

"Aaai..." akhirnya Hee Giong Lam menghela napas panjang, ia tahu bahwa dirinya tak mungkin bisa meloloskan diri dari cengkeraman rase tua itu lagi, setelah berpikir sebentar katanya :

"Pertama-tama kau harus memberi keterangan lebih dahulu kepadaku, buat apa kau minta resep obat itu?"

"Hmmm! Tentang soal ini kau tak usah tahu!" "Tidak! Sebelum aku menerima rahasia dari resep mestika itu, aku pernah bersumpah di hadapan sucouku bahwa aku tidak akan menggunakan benda ini secara sembarangan, sebelum dipakai aku harus mengetahui lebih dahulu tujuannya, bila kau tak mau memberitahukan hal itu kepadaku tentu saja aku tak akan memberitahukan rahasia resep itu kepadamu sebelum kuketahui apa sebenarnya kegunaan serta tujuanmu, ketahuilah aku tidak takut mati dan aku bersedia mengorbankan selembar jiwa tuaku ini..."

Hoa Pek Tuo tak menyangka kalau Hee Giong Lam bisa begitu keras kepala sehingga tidak sayang-sayangnya untuk mempertaruhkan kehidupannya untuk adu kecerdikan dengan ia sendiri, hawa napsu membunuh segera menyelimuti seluruh wajahnya.

"Benarkah kau sudah tidak maui jiwamu.."

"Seluruh kehidupanku telah kuserahkan kepadamu, mau bunuh atau mau siksa kau putuskan sendiri. Hoa Pek Tuo! Aku pun menyadari, setelah aku tidak berguna dan rahasia itu berhasil kau dapatkan, tak nanti diriku akan kau lepaskan dengan begitu saja..."

"Ehmmm...! Rupanya kau pun bisa menduga sampai ke situ, sedikit pun tidak salah aku memang mempunyai rencana untuk membinasakan dirimu, tetapi sekarang keadaannya jauh berbeda, asal resep rahasia Jit-li-biau-hiang berhasil kudapatkan, aku tanggung kau akanku lepaskan dalam keadaan hidup..."

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... aku masih tetap dengan perkataan semula, sebelum kau terangkan kegunaannya aku tak nanti akan memberitahukan rahasia tersebut kepadamu, sebab inilah pokok utama yang harus kuketahui lebih dahulu..."

Hoa Pek Tuo segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, untuk sesaat ia jadi serba susah dan tak tahu apa yang mesti dilakukan, ia tak mengetahui apa sebabnya Hee Giong Lam memaksa untuk mengetahui kegunaan serta tujuannya, walaupun Rasul Racun itu juga seorang pembunuh manusia yang tak berkedip, tetapi setelah ia mengetahui rahasianya, belum tentu iblis tersebut bersedia untuk bekerja sama dengan dirinya, dan persoalan ini merupakan masalah utama yang memusingkan kepalanya sebab dia tahu bahwa peristiwa ini menyangkut kehidupan banyak orang.

Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak rase tua she Hoa ini, sepasang matanya segera memancarkan cahaya tajam. Sambil menatap tubuh Hee Giong Lam tanpa berkedip untuk beberapa saat lamanya ia bungkam dalam seribu bahasa.

Lama sekali... akhirnya dia mengambil keputusan, ujarnya : "Aku bisa memberitahukan maksud serta tujuanku itu, tetapi aku

pun ada syaratnya."

"Tak usah kau katakan aku pun sudah tahu, bukankah kau suruh aku menutup rahasia..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... bukan, bukan soal itu, aku merasa amat percaya terhadap dirimu. Sebab ada beberapa macam barang penting milikmu yang berada dalam genggamanku, aku percaya kau tak akan berani membocorkan rahasia ini."

"Lalu persoalan apakah yang kau maksudkan?" tanya Hee Giong Lam dengan wajah tercengang.

"Setelah kuberitahukan persoalan itu kepadamu, kau harus memberitahukan kepadaku rahasia resep tersebut, kau tak boleh sengaja menolak atau mempersulit diriku."

"Oooh... kiranya tentang soal itu, baik asal kehidupan serta keselamatanku terjamin, aku pasti akan mengabulkan permintaanmu."

Jago Pedang Berdarah Dingin yang menyaksikan kesemuanya itu dari tempat persembunyiannya, seketika timbul perasaan bencinya terhadap Hee Giong Lam, ia merasa Rasul Racun itu terlalu pengecut dan gampang menyerah kepada musuh hanya disebabkan ingin mempertahankan kehidupannya, alis matanya berkerut dan hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, ia merasa tak kuat menahan diri dan ingin sekali meloncat turun ke bawah untuk membinasakan Hoa Pek Tuo.

"Chin Siang," bisiknya, "aku mau turun ke bawah dan membunuh mati bangsat tua itu..."

"Tunggu sebentar!" cegah Wie Chin Siang sambil menarik tangannya, "aku tahu bahwa membalas dendam adalah suatu urusan yang amat penting, tetapi racun Jit-li-biau-hiang milik Hee Giong Lam pun merupakan suatu jenis racun yang maha dahsyat, ditinjau dari keinginan Hoa Pek Tuo yang begitu besar untuk mendapatkan benda itu, bisa diduga kalau ia mempunyai suatu rencana besar yang luar biasa sekali, kesempatan seperti ini jarang sekali ditemui, kenapa kau mesti terburu napsu, tunggulah sebentar dan mari kita dengarkan dahulu apa rencana busuknya itu..."

Diam-diam Pek In Hoei menghela napas panjang, ia merasa kagum sekali terhadap pikiran yang terang serta pengertian dari Wie Chin Siang, dia tahu Hoa Pek Tuo bukan cuma memusuhi dirinya seorang, boleh dibilang seluruh umat dunia persilatan adalah musuh- musuhnya, bila pada saat ini dia bisa menggunakan kesempatan baik itu untuk mencari dengar rencana busuknya, hal ini boleh dibilang merupakan suatu pertolongan yang besar bagi umat dunia persilatan.

Ia menggelengkan dengan gemas sambil gumamnya :

"Yaah... terpaksa aku harus membiarkan dia untuk hidup beberapa jam lebih lama lagi..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... " sementara itu Hoa Pek Tuo yang mendengar bahwa Hee Giong Lam telah menyanggupi permintaannya, karena girang ia segera tertawa terbahak-bahak, sorot matanya memancarkan cahaya gembira yang sukar dikendalikan lagi, serunya : 

"Loo-Hee, kau memang tidak malu disebut sebagai seorang manusia yang cerdik!"

"Hmm! Tak usah mengucapkan hal-hal yang sama sekali tak berguna, cepat beritahukan kepadaku apa rencanamu itu!" Senyuman yang semula menghiasi ujung bibir Hoa Pek Tuo seketika lenyap tak berbekas, ujarnya :

"Kau tentu ingin tahu bukan, apa sebabnya selama banyak tahun aku orang she Hoa selalu berusaha menerbitkan keonaran di dalam dunia persilatan? Tujuanku bukan lain adalah untuk mewujudkan suatu pekerjaan besar dan mendirikan suatu kekuatan besar di dalam dunia persilatan yang penuh dengan pertikaian ini agar dipuji dan disanjung oleh setiap orang, tetapi selama ini meskipun aku telah menggunakan segenap kekuatan yang kumiliki untuk menciptakan beberapa macam peristiwa besar yang menggetarkan seluruh jagad, tetapi hasil yang kucapai masih terbatas sekali, baik para jago dari golongan lurus maupun para jago dari golongan sesat masih belum tunduk semua kepadaku..."

"Hmmm... hal itu disebabkan cara hidupmu yang terlalu sadis dan kejam," sambung Hee Giong Lam sambil tertawa dingin, "setiap kali ingin membutuhkan tenaga seseorang maka orang itu dirayu dan disanjung dengan kata-kata yang manis, dengan menggunakan cara apa pun berusaha untuk mendapatkan tenaganya, tetapi setelah nilai dari orang itu hilang maka kau akan rubah muka tak kenal sahabat, bukan saja terhadap orang-orang yang pernah membantu dirimu itu tak kenal budi, bahkan berusaha keras dengan menggunakan pelbagai cara yang paling keji untuk mencelakai jiwanya, di sinilah terletak pangkal kekalahan yang harus kau terima... mengerti bangsat?"

Seakan-akan perkataan itu merupakan anak panah yang bersarang telak di atas ulu hatinya, air muka Hoa Pek Tuo seketika berubah hebat, dengan penuh kegusaran dia melotot ke arah lawannya, hampir saja hawa napsunya dilampiaskan.

Tetapi malam ini ia tidak berbuat demikian, wajahnya perlahan- lahan berubah jadi tenang kembali, katanya dengan suara hambar :

"Aku tidak membantah kalau aku pernah melakukan perbuatan semacam itu, tetapi hal itu kulakukan karena keadaan yang terpaksa, kau mesti tahu bila seseorang ingin muncul dalam dunia persilatan dan ingin jadi terkenal maka orang itu harus berani bertindak keji, harus berani melakukan perbuatan yang tak berani dilakukan orang lain, bagiku yang penting adalah cita-citaku tercapai dan apa yang kuhendaki bisa terpenuhi, aku tak mau ambil peduli dengan cara apakah aku berbuat apa yang dikatakan orang di belakang tubuhku..." Hee Giong Lam terkejut mendengar perkataan itu, terhadap kelicikan serta kekejian dari rase tua yang berhati iblis ini ia pun lebih mengerti setingkat, ia tahu tak ada gunanya membicarakan tentang masalah itu dengan dirinya, maka otaknya segera berputar mulai

mencari akal untuk digunakan menghadapi rase tua itu...

Setelah mendengus dingin, ujarnya :

"Kau menganggap enteng apa yang akan menamatkan riwayatmu, kau mesti tahu betapa benci dan mendendamnya orang- orang yang pernah kau gunakan itu, mereka akan tinggalkan dirimu satu per satu, di belakangmu menjelek-jelekkan kau dan menyiarkan kabar ini kepada orang lain, menanti semua orang sudah mengetahui manusia macam apakah dirimu itu maka tak akan ada manusia yang berani berhubungan dengan dirimu lagi..."

"Huuh...! Kau anggap manusia-manusia yang datang kepadaku benar-benar untuk mengikat tali persahabatan," jengek Hoa Pek Tuo sinis, "Lo Hee kau keliru besar, pada jaman sekarang yang punya kekuatan dialah kakak dan siapa punya uang dia adalah nenek moyang, selama aku Hoa Pek Tuo masih punya kekuatan aku percaya masih ada orang yang datang menggabungkan diri dengan diriku, kau jangan lupa uang bisa malang melintang dan kekuasaan bisa mencabut gunung, selama kita masih dapat menguasai ke-dua macam hal tersebut di atas maka entah berapa banyak manusia yang secara sukarela akan datang menyumbangkan tenaganya, karena hanya berbuat demikianlah mereka baru bisa hidup dan dengan berbuat begitu saja keselamatan mereka baru terjamin..."

"Tetapi banyak orang yang tidak bisa digerakkan oleh emas dan kekuatan..." bantah Hee Giong Lam. "Haaaah... haaaah... haaaah... itu gampang sekali!" seru Hoa Pek Tuo sambil tertawa terbahak-bahak, "asal di tangan yang satu kau memegang pisau dan di tangan lain kau membawa uang, sehingga kalau tak usah menggunakan uang lantas memakai pisau, dalam keadaan demikian tak mungkin ada orang yang demikian tololnya hingga lebih suka memilih pisau daripada uang..."

"Dan sekarang kau akan menggunakan cara ini untuk menghadapi diriku..." seru Hee Giong Lam dengan wajah menghina.

Hoa Pek Tuo segera menggelengkan wajahnya.

"Untuk menghadapi dirimu aku rasa ke-dua macam benda itu mungkin tak akan mendatangkan hasil apa-apa, sebab bagaimana pun juga kau sebagai seorang ketua dari suatu perguruan masih dihormati sebagai seorang angkatan tua di dalam Perguruan Selaksa Racun dan aku menghormati dirimu sebagai pria sejati, karena itu aku tidak bersedia menggunakan cara tersebut untuk menghadapi dirimu..."

"Hmmm!" Hee Giong Lam mendengus dingin, satu senyuman yang mengandung rasa benci dan dendam yang amat tebal tersungging di ujung bibirnya, ia berseru :

"Hmmm! Kecuali menggunakan dua macam cara itu, aku percaya kau masih belum memiliki cara lain untuk menghadapi diriku..."

hpg gelengkan kepalanya berulang kali.

"Kenapa kau begitu bodoh dan tololnya sehingga keadaan yang begitu gampang pun tak bisa kau temukan," ia berhenti sebentar dan mendengus penuh penghinaan, "untuk menghadapimu terpaksa akua harus menyerang titik kelemahanmu, dan untuk menguasai engkau aku tak butuh menggunakan uang atau senjata, aku akan membuat engkau menuruti semua perintahku dengan hati rela dan sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk melakukan perlawanan..."

"Oooh... jadi kau telah berhasil menangkap titik kelemahanku itu?"

Sepasang sorot mata Hoa Pek Tuo berkilat, dia mengangguk. "Sedikit pun tidak salah, dan titik kelemahanmu itu justru terletak di dalam hati kecilmu sendiri. Lo Hee, bukankah kau amat menyayangi Kong Yo Siok Peng? Aaaah! Memang benar, dia adalah seorang bocah perempuan yang menyenangkan sekali, asal aku berbuat sesuatu di atas tubuhnya, aku percaya kau tentu akan menyerah kalah."

Hee Giong Lam amat terperanjat setelah mendengar perkataan itu, ia tak menyangka kalau Hoa Pek Tuo adalah manusia yang demikian kejinya sehingga terhadap putri angkatnya pun ia tak mau lepaskan, memang benar dia amat menyayangi Kong Yo Siok Peng, jago racun yang selama hidupnya tak pernah tunduk kepada orang lain ini hanya tunduk dan menurut sekali terhadap setiap perkataan dari putrinya, apa yang diminta gadis itu selamanya selalu dipenuhi, belum pernah ia mengecewakan hati dara tersebut.

Dengan wajah terperanjat dan suara gemetar ia berseru : "Kenapa... kenapa kau berpikir sampai ke tubuhnya?"

"Haaaah... haaaah... haaaah... sejak tempo hari Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei menolong dirimu, aku telah mengetahui betapa cinta dan sayangnya putrimu itu kepadamu, timbullah satu ingatan di dalam benakku untuk menggunakan cara ini guna membekuk dan menundukkan hatimu."

"Kau terlalu kejam!" jerit Hee Giong Lam dengan hati terkesiap. "Hmmm! Tidak... tidak seserius itu, selamanya beginilah caraku hidup sebagai manusia, asal tujuanku bisa tercapai peduli amat dengan cara yang paling keji sekali pun akan kulakukan, obat gila yang kucekokkan kepadamu itu pun baru suatu permulaan dari usaha

besarku..."

"Setelah aku jadi gila hal itu tak akan mendatangkan manfaat apa- apa bagimu..." bentak Hee Giong Lam gusar.

Hoa Pek Tuo tertawa dingin.

"Aku ingin membuat kau jadi edan sehingga tiap orang merasa takut untuk mendekati dirimu, sehingga anak angkatmu sendiri juga takut untuk bertemu dengan engkau... aku ingin merubah sama sekali kesan putrimu terhadap kau, agar di dalam hati kecilnya selalu membekas kesan yang jelek."

"Bajingan... kau... kau hendak mencelakai diriku hingga keadaan yang begitu mengenaskan... kau bangsat berhati binatang," teriak Hee Giong Lam setengah kalap.

Melihat lawannya jadi panik, Hoa Pek Tuo semakin bangga lagi, serunya kembali :

"Hanya dengan ancaman begitulah kau baru suka membicarakan syarat dengan diriku, kalau tidak mengapa kau mesti membuang tenaga serta pikiran yang demikian banyaknya untuk menangkap kembali kalian ayah dan anak."

"Hmmmm... hanya disebabkan ingin memperoleh resep rahasia Jit-li-biau-hiang kau begitu tega menggunakan cara yang paling keji untuk menghadapi aku Hee Giong Lam, hatimu memang hati serigala... kau terkutuk untuk selamanya..."

"Ooooh... tentu saja aku harus bersikap demikian kepadamu, karena aku tahu di kolong langit hanya kau seorang yang memiliki rahasia dari resep Jit-li-biau-hiang tersebut, aku percaya tak seorang manusia pun di kolong langit yang mengetahui cara pembuatan dari obat racun keji tersebut, dalam pandanganmu resep tersebut hanya merupakan suatu kepandaian rahasia, sebaliknya bagiku merupakan suatu kebutuhan, juga merupakan sejenis senjata ampuh, dengan senjata ampuh itu aku bisa melenyapkan berpuluh-puluh orang musuh besarku, dengan benda itu pula aku bisa merajai seluruh kolong langit tanpa tandingan, sekali pun selama ini aku telah bersusah payah tetapi pengorbananku itu tak seberapa kalau dibandingkan dengan hasil yang bakal terjadi, coba pikirlah bukankah perkataan itu benar?"

Hee Giong Lam menghela napas sedih.

"Kau memang lihay... kau memang hebat... aku orang she-Hee merasa kali ini sudah jatuh kecundang di tanganmu," serunya.

Hoa Pek Tuo tertawa seram. "Engkau bisa memahami akan persoalan ini membuat hatiku merasa amat gembira," serunya, "sekarang kau dapat menggunakannya untuk bertukar dengan diriku, inilah persoalan yang paling adil di kolong langit, aku tak bakal merugikan dirimu..."

"Kau belum memberitahukan apa tujuanmu kepadaku," sahut Hee Giong Lam sambil tertawa seram, "karena itu aku tidak akan memberitahukan kepadamu!"

"Hmm...! Sekarang tentu kau tahu di mana lihaynya hubungan ini, tahu atau tidak bukanlah urusan yang terlalu penting bagimu, demi kemanfaatan ke-dua belah pihak aku lihat lebih baik kau tak usah tanyakan lagi persoalan itu kepadaku."

"Hal ini sama sekali berbeda," teriak Hee Giong Lam dengan gusar, "racun Jit-li-biau-hiang merupakan obat rahasia yang ditinggalkan cou-su Perguruan Selaksa Racun kami, setiap generasi hanya ciangbunjin-nya saja yang bisa menggunakan ilmu tersebut, aku tak bisa menjual cou-su ku karena engkau tak mau memberitahukan apa tujuanmu..."

"Hmmm....! Cou-su ya mu toh sudah mati beberapa tahun," jengek Hoa Pek Tuo dengan nada seram, "aku percaya bahwa kematian cou-su ya mu itu tidak lebih penting daripada keselamatan jiwa putrimu pada saat ini, kau anggap perkataan dari aku orang she Hoa benar atau tidak?"

"Sama sekali berbeda," air muka Hee Giong Lam nampak serius dan keren sekali, "meskipun aku Hee Giong Lam bukan manusia dari kalangan lurus, akan tetapi aku tak akan sudi melakukan tindakan serta perbuatan yang melanggar serta mengkhianati cou-su ya perguruan sendiri, karena sewaktu racun Jit-li-biau-hiang tersebut diwariskan kepadaku, aku pernah angkat sumpah di hadapan lukisan cou-su ya kami bahwa ilmu tersebut tak akan kupergunakan dengan sembarangan sebelum aku mengetahui tujuan serta maksudnya, aku tak akan melanggar peraturan pantangan dari perguruan kami hanya disebabkan putri angkatku, Hoa Pek Tuo! Perkataanku hanya sampai di sini saja, mau kau katakan kepadaku atau tidak itu semua terserah pada keputusanmu sendiri!"

Hoa Pek Tuo termenung dan berpikir sebentar, ia tahu terhadap manusia semacam Hee Giong Lam memang paling sukar dilayani, demi mendapatkan rahasia cara pembuatan racun lihay Jit-li-biau- hiang, terpaksa untuk pertama kalinya dia harus tunduk kepada si Rasul Racun tersebut, seolah-olah mengambil keputusan di dalam hati kecilnya ia berseru lantang :

"Baiklah! Akan kuberitahukan padamu, ketahuilah bahwa di dalam dunia persilatan partai Siau-lim, partai Bu tong serta partai Hoa-san lah yang merupakan perguruan dengan pengaruh terbesar di dunia persilatan, dan tiga partai itu pula merupakan partai yang paling lurus di antara semua perguruan yang ada di kolong langit, kau tentu sadar bukan bahwa untuk menundukkan hati mereka semua sehingga ke-tiga partai besar itu rela membantu usahaku bukanlah suatu pekerjaan yang sangat gampang, aku telah mengutus orang sebanyak beberapa kali untuk menyampaikan maksud hatiku itu, namun sampai sekarang belum ada juga jawabannya."

Ia tarik napas panjang lanjutnya :

"Yang paling pusingkan kepala lagi jika ke-tiga partai tersebut bersatu padu dan bekerja sama untuk menentang kekuasaanku, aku tahu di antara ke-tiga partai tersebut, semuanya merupakan partai yang terbesar di dunia persilatan, berada dalam keadaan begini aku tak boleh membiarkan kekuasaan serta pengaruh mereka bertambah besar, satu-satunya jalan yang bisa kulakukan untuk mengatasi situasi semacam ini hanyalah menumpas dan memusnahkan mereka semua tanpa diketahui dan disadari oleh mereka, tentu saja pekerjaan ini bukan suatu perbuatan yang terlalu gampang..."

"Maka dari itu kau lantas berpikir hendak menggunakan bubuk racun Jit-li-biau-hiang untuk menumpas serta melenyapkan seluruh musuh-musuh yang menentang dirimu itu, bukankah begitu?" sambung Hee Giong Lam dengan cepat. Dengan pandangan dingin ditatapnya wajah Hoa Pek Tuo tanpa berkedip, lalu tambahnya :

"Caramu itu benar-benar terlalu keji dan tidak mengenal akan peri kemanusiaan."

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... peduli amat keji atau tidak, berperikemanusiaan atau tidak, yang kupikirkan dan kuperhatikan adalah berhasil atau tidak caraku itu," sahut Hoa Pek Tuo sambil menyeringai seram.

"Hmmm!" Hee Giong Lam tertawa dingin, "kau hanya tahu bagaimana caranya mencapai cita-cita pribadimu... kau cuma tahu memuaskan ambisi pribadimu... tahukah kau sampai di manakah daya hancur yang diakibatkan racun Jit-li-biau-hiang tersebut? Racun itu akan memusnahkan beribu-ribu lembar jiwa kehidupan..."

Hoa Pek Tuo tertegun kemudian serunya :

"Aku hanya tahu bahwa bubuk racun itu sangat lihay namun belum kuketahui dengan pasti sampai di manakah kekuatan daya hancur yang dimiliki sari racun tersebut, kau toh seorang ahli di dalam penggunaan pelbagai macam racun, dapatkah kau beritahukan sedikit keterangan mengenai persoalan ini..."

"Kelihayan dari bubuk racun Jit-li-biau-hiang bukan hanya ditujukan pada satu orang belaka, asalkan racun itu disebarkan sedikit saja di udara maka sebuah kehidupan yang berada di lingkungan radius tujuh li akan mati keracunan dan musnah jadi segumpal air bercampur darah, dan akhirnya tulang belulang mereka pun akan ikut musnah dan lenyap tak berbekas... keadaan itu boleh dibilang sama halnya membunuh orang tanpa meninggalkan jejak, sampai bukti mayat pun tidak kelihatan, coba bayangkan benda selihay itu apakah bisa kuberitahukan kepada orang lain secara sembarangan..."

Hoa Pek Tuo segera menengadah dan tertawa terbahak-bahak : "Haaaah... haaaah... haaaah... semakin dahsyat daya penghancur

yang dimiliki racun itu semakin bernapsu aku untuk memilikinya... asal kusebarkan sedikit saja racun itu di antara tiga partai besar maka dalam waktu singkat semua anggota perguruan besar itu akan mengalami kemusnahan; dalam waktu yang amat singkat tiga partai besar dari dunia persilatan akan lenyap dari permukaan bumi dan orang kangouw pasti tak akan mengira para anggota dari ketiga partai besar itu secara tiba-tiba lenyap tak berbekas... Haaaah... haaaah... haaaah... Loo Hee! Aku berterima kasih sekali kepadamu karena engkau suka memberitahukan kesemuanya itu kepadaku, kalau tidak aku masih belum tahu kalau racun itu memiliki kelihaian sampai sejauh itu..."

"Hmmm! Yang mengalami kemusnahan bukan cuma ke-tiga partai itu saja, masih banyak yang akan menerima kematian akibat perbuatanmu itu..."

"Siapa lagi yang akan ikut merasakan akibat dari penyebaran bubuk racun itu..." tanya Hoa Pek Tuo tertegun.

Dengan gusar Hee Giong Lam mendengus.

"Orang-orang yang berdiam di sekitar tempat kejadian serta binatang peliharaan atau pun binatang apa pun yang kebetulan berada di sekitar sana akan mengalami kemusnahan total... masih ada lagi orang-orang yang kebetulan lewat di tempat itu, kesemuanya akan mati dan berubah jadi gumpalan darah..."

Hoa Pek Tuo tertawa terbahak-bahak, buru-buru ia perintahkan ke-dua orang pria anak buahnya untuk melepaskan Hee Giong Lam, satu senyuman licik yang menyeramkan tersungging di ujung bibirnya, perlahan-lahan ia maju ke depan dan menepuk bahu Rasul Racun tadi, katanya :

"Lo Hee, kau betul-betul hebat! Rupanya kerja sama di antara kita sudah pasti akan terjalin sekarang aku baru tahu bahwa engkau sangat berguna bagiku, di kemudian hari aku masih membutuhkan banyak obat-obatan darimu."

Terhadap sanjungan dan pujian yang dilontarkan rase tua yang licik dan kejam itu kepadanya, bukan saja Hee Giong Lam sama sekali tidak merasa girang atau senang justru malahan hatinya terjelos, dia tahu Hoa Pek Tuo sedang berusaha keras membaiki dirinya, semua tindak-tanduknya itu dilakukan bukan lain untuk mendapatkan bubuk racun Jit-li-biau-hiang.

Ia segera menggertak gigi kencang-kencang dan menatap wajah rase tua yang licik itu dengan pandangan berapi-api, teriaknya :

"Terima kasih banyak atas sanjungan dan pujianmu itu, sayang sekali aku tidak ingin bekerja sama dengan dirimu."

"Apa?" teriak Hoa Pek Tuo keras-keras, saking gusarnya dia sampai mencak-mencak seperti monyet kena terasi... kau berani menentang diriku...? Kurang ajar... Kau berani tak mau bekerja sama dengan aku... rupanya kau sudah bosan hidup."

"Hmmm! Kenapa engkau mesti bingung dan kaget? Walaupun aku Hee Giong Lam sudah mencelakai banyak orang, sudah membunuh beberapa orang namun jumlahnya masih terbatas sekali, jika kubuatkan bubuk racun Jit-li-biau-hiang tersebut untukmu, maka korban yang menemui ajalnya akan semakin banyak... perbuatan semacam itu benar-benar merupakan suatu perbuatan yang bertentangan dengan peraturan serta tujuan Perguruan Selaksa Racun kami, oleh sebab itu aku sudah mengambil keputusan untuk mempertaruhkan selembar jiwa tuaku ini, tak nanti kuberitahukan kepadamu bagaimana caranya membuat bubuk racun Jit-li-biau- hiang."

"Kau sudah bosan hidup? Kau pengin modar?" teriak Hoa Pek Tuo teramat gusar.

Hee Giong Lam tarik napas panjang.

"Bukankah aku telah menyatakan sikapku? Bukankah pendirianku sudah tercermin jelas sekali? Kalau engkau ingin membinasakan diriku, lakukanlah sekarang juga sekehendak hatimu... aku Rasul Racun tak akan mengerutkan dahi menerima siksaan darimu itu... sekali pun disiksa atau dihukum mati aku Hee Giong Lam tak akan merasa gentar..." Air muka Hoa Pek Tuo berubah jadi jelek dan sangat tak enak dilihat, keadaannya jauh lebih menyeramkan daripada sesudah digaplok orang, otot hijau di wajahnya pada menonjol keluar, saking gusarnya sekujur tubuhnya sampai gemetar keras. Serunya dengan penuh kebencian :

"Aku sama sekali tidak bermaksud untuk membunuh dirimu, engkau telah menelan obat gilaku dan sebentar lagi penyakit tersebut akan mulai bekerja dalam tubuhmu... waktu itu... jika Kong Yo Siok Peng menyaksikan keadaanmu yang edan... keadaanmu yang menyeramkan itu... Haaaah... haaaah... haaaah... bisa dibayangkan bagaimana indahnya pemandangan ketika itu..."

Tiba-tiba Hee Giong Lam tertawa dingin.

"Jangan lupa aku sendiri pun seorang ahli di dalam menggunakan pelbagai macam racun," serunya, "obat edanmu belum tentu mampu merubuhkan aku... Hoa Pek Tuo, aku lihat tindakanmu kali ini mungkin akan menemui kegagalan total."

"Haaaah... haaaah... haaaah... kepandaian Lo Hee di dalam menggunakan pelbagai ilmu beracun memang amat mengagumkan hatiku, tetapi kau telah melupakan sesuatu yakni obat edan itu sengaja kudatangkan dari wilayah Biau dan khusus ditujukan untuk manusia yang mempunyai daya lawan terhadap racun dalam tubuhnya, aku tahu obat biasa tak mungkin akan mendatangkan hasil apa-apa terhadap dirimu, maka sengaja kucampuri pula beberapa jenis obat dalam obat edan tersebut, sekali pun engkau punya kepandaian yang sangat tinggi, aku percaya engkau tak akan mampu untuk memecahkan obat-obat-an yang telah kubuat sendiri itu, kalau kau tidak percaya cobalah untuk mengerahkan tenaga."

Hee Giong Lam merasa hatinya tercelos dan muncullah rasa bergidik dari dasar hatinya, ia mengetahui jelas sampai di manakah kemampuan yang dimiliki kakek licik she Hoa itu, orang ini bukan saja memiliki kemampuan yang luar biasa dalam ilmu silat, ilmu menggunakan racun yang berhasil dikuasai olehnya pun tidak kalah hebatnya, setelah orang itu mengucapkan dengan begitu meyakinkan berarti bahwa apa yang telah terjadi kemungkinan besar memang begitulah kenyataannya.

"Jalan pikiranmu benar-benar amat sempurna..." akhirnya ia berseru dengan hati bergetar keras.

Di dalam menggunakan pelbagai racun orang ini mempunyai suatu cara yang khusus untuk mencoba apakah dirinya keracunan atau tidak, ketika ujung lidahnya dijilatkan di atas langit-langit mulutnya ia telah tahu bahwa dirinya keracunan, dan dari situ pula ia sadar bahwa apa yang diucapkan Hoa Pek Tuo bukan gertak sambal belaka. Justru karena itulah Hee Giong Lam merasakan hatinya bergetar keras, bagi seseorang yang kebal terhadap pelbagai macam racun, bila satu kali keracunan maka akibatnya akan mengerikan sekali, racun tersebut akan memancing bekerjanya racun-racun lain di dalam badan, dalam keadaan begitu tiada kesempatan lagi baginya untuk

menyelamatkan diri.

Sekarang ia tahu bahwa ajalnya sudah hampir tiba, dan saat kemusnahan bagi dirinya sudah ada di depan mata, dengan gusar bercampur mendongkol teriaknya :

"Hoa Pek Tuo, sekali pun berubah jadi setan aku tetap datang mencari dirimu."

Kakek licik itu mendengus dingin."Hmmm! Lihatlah di atas alismu telah muncul hawa hijau yang tebal itu manandakan bahwa

racun di dalam sudah akan mulai bekerja. "

Sedikit pun tidak salah, tidak selang beberapa saat kemudian keringat dingin sebesar kacang kedelai mulai mengucur keluar membasahi jidat Hee Giong Lam, hawa hijau yang amat tebal menyelimuti sekeliling alisnya dan sepasang matanya melotot besar.

Kian lama tubuhnya gemetar semakin keras, air mukanya menunjukkan perubahan yang sangat aneh, inilah suatu pertanda kalau seseorang akan berubah jadi gila... Rupanya Hee Giong Lam menyadari akan keadaan tersebut, dengan sorot mata memancarkan rasa ngeri dan ketakutan ia melotot ke arah Hoa Pek Tuo.

Sebelum pikiran terakhir yang sadar lenyap dari benaknya, tokoh silat yang pandai menggunakan racun ini bertekad untuk melakukan adu jiwa, ia menatap wajah musuhnya tajam-tajam sementara otaknya berputar :

"Sekarang juga aku bakal musnah... sebentar lagi ingatanku jadi hilang dan aku bakal gila... toh Hoa Pek Tuo telah memusnahkan diriku, aku tak boleh membiarkan dia hidup sendiri dengan riang gembira, paling sedikit aku harus pertaruhkan sisa tenagaku untuk berusaha keras melenyapkan rase tua ini dari muka bumi..."

Berpikir sampai di situ sepasang matanya kontan melotot tajam, teriaknya setengah menggembor :

"Hoa Pek Tuo, tahukah engkau apa yang hendak kulakukan saat ini???"

"Kau hendak mencari aku untuk mengadu jiwa!" jawab Hoa Pek Tuo dengan nada dingin.

Jawaban tersebut menegunkan hati Hee Giong Lam, serunya dengan nada tercengang:

"Oooh! Rupanya kau telah mengetahui segala-galanya."

Pada saat ini kewaspadaan dalam hati Hoa Pek Tuo telah muncul, segenap tenaga dalam yang dimilikinya telah dihimpun mengelilingi seluruh tubuhnya, ia mengetahui jelas tentang kemampuan yang dimiliki lawannya, karena itu menghadapi musuh yang hampir gila, kakek licik yang berhati kejam ini tak berani bertindak gegabah, napsu membunuh menyelimuti wajahnya dan ia berkata dengan nada dingin :

"Aku orang she Hoa sudah setengah abad lamanya berkelana di dalam dunia persilatan, manusia macam apa pun pernah kujumpai dan kejadian apa pun pernah kualami, dari perubahan sikap serta wajah orang aku yakin masih mampu untuk menebak isi hatinya... oleh karena itu semua yang sedang kau pikirkan di dalam hati, asal terlintas di atas wajahmu maka aku bisa menebaknya dengan tepat. Lo Hee, bertindaklah yang cerdik... jangan melakukan tindakan yang nekad, pada sisa waktu yang amat terbatas ini lebih baik pergunakanlah untuk memikirkan kejadian yang telah lampau kalau tidak maka di kemudian hari kau tak akan memperoleh kembali kesempatan untuk mengenang kejadian yang telah lampau..."

"Aku tidak butuh mengenang kembali kejadian yang telah lampau... Hoa Pek Tuo sekarang yang kubutuhkan adalah bagaimana caranya membinasakan dirimu, kau harus berhati-hati... sebab dalam serangan yang bakal kulancarkan sekarang akan kugunakan semua jurus yang mematikan..."

Meskipun dalam hati kecilnya Rasul Racun dari Perguruan Selaksa Racun ini sudah timbul hasratnya untuk melakukan adu jiwa, akan tetapi ia tak berani turun tangan secara gegabah, sebab pihak lawan bagaimana pun juga merupakan seorang jago yang sangat lihay, asal serangannya mengalami kegagalan niscaya tak ada kesempatan lain yang bisa dipergunakan lagi, oleh sebab itu ia selalu menantikan kesempatan yang terbaik untuk turun tangan.

Sayang pihak lawan melakukan persiapan pula dengan ketatnya, hal ini membuat Hee Giong Lam selalu gagal untuk mencari suatu kesempatan baik yang terasa paling sesuai baginya.

Terdengar Hoa Pek Tuo tertawa dingin lalu berkata :

"Kau tak akan mempunyai kesempatan untuk melakukan hasratmu itu, dan kepandaian yang kau miliki pun tak akan berhasil membuat cita-citamu itu tercapai, sekarang bukannya aku tidak memberi peluang kepadamu, tetapi aku berani bertaruh bahwa engkau tak berani turun tangan bukankah begitu?"

Hee Giong Lam tertawa dingin, perlahan-lahan dia singkap telapak tangannya ke atas sambil berseru :

"Aku pikir engkau pun tak akan berani menyambut pukulan ini!" "Hmmm! Yang penting dicobalah lebih dahulu, bukan saja aku berani untuk menerimanya bahkan aku pun akan balas menyerang sehingga membuat dirimu terluka..."

Diam-diam Hee Giong Lam bergirang hati mendengar ucapan itu, tiba-tiba ia membentak keras telapak kanannya laksana kilat melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke depan.

Serangan itu dilakukan begitu hebat dan cepat sehingga sama sekali di luar dugaan Hoa Pek Tuo, ia tak mengira kalau berada dalam keadaan begini tenaga dalam yang dimiliki musuhnya masih begitu lihay dan hebatnya...

Angin pukulan bagaikan titiran hujan badai meluncur kemudian dengan cepatnya... Blaaam! Di tengah udara terjadilah suatu ledakan keras yang menggetarkan seluruh permukaan bumi.

"Akan kusambut datangnya pukulan itu..." jengek Hoa Pek Tuo sambil ayun telapaknya.

Terhadap datangnya angin pukulan yang keras dan dahsyat yang sedang meluncur datang itu bukan saja kakek licik berhati kejam ini tidak pandang sebelah mata pun bahkan ia sama sekali memandang hina.

Menanti angin pukulan yang dipancarkan lawan hampir mengenai tubuhnya, waktu itulah telapaknya tiba-tiba didorong ke muka dan menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

Blaaaam...! Di tengah udara kembali terjadi ledakan dahsyat yang memekakkan telinga, desiran angin tajam berhamburan ke empat penjuru... dengan badan tergetar Hoa Pek Tuo mundur selangkah ke belakang, keadaannya masih tetap tenang saja seakan-akan sama sekali tak pernah terjadi suatu kejadian apa pun.

"Aduuuh..." keadaan Hee Giong Lam tak seenteng itu, dia menjerit kesakitan dan secara beruntun mundur tujuh delapan langkah ke belakang, darah kental mengucur keluar dari ujung bibirnya, dengan wajah pucat pias bagaikan mayat ia melotot ke arah Hoa Pek Tuo tanpa berkedip.

Bagian 41

"BAGAIMANA?" ejek Hoa Pek Tuo sambil tertawa dingin, "perkataanku sama sekali tidak salah bukan?"

Senyuman yang penuh ejekan tersungging di bibirnya yang telah keriput, seakan-akan kakek licik yang berhati kejam ini sedang merasa bangga dan senang karena pukulan yang dilancarkan barusan mendatangkan hasil seperti apa yang diharapkan.

Hee Giong Lam menengadah dan tertawa seram.

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... sedikit pun tidak salah, di dalam hal ini engkau memang berhasil duduk di atas angin..."

"Huuuh... kalau kudengar dari nada ucapanmu itu, seakan-akan kau menunjukkan bahwa engkau pun berhasil mendapatkan suatu hasil... Hmm! Lo Hee, aku sudah terlalu tahu watak serta perangaimu, aku tahu engkau sedang menyembunyikan suatu perasaan, kalau ada perkataan utarakan saja secara terus terang, mungkin aku bisa memenuhi harapanmu itu..."

"Hmmm!" dengan bangga Hee Giong Lam mendengus, "Hoa heng, apakah kau tidak merasakan suatu gejala yang kurang beres dalam tubuhmu...? Coba rasakan."

Ucapannya sama sekali berubah dan seakan-akan Rasul Racun ini merasa berbangga hati dengan hasil yang berhasil dicapai, hal ini membuat Hoa Pek Tuo jadi melongo dan ragu.

Setelah termenung beberapa saat, akhirnya kakek tua yang licik itu mendengus, sahutnya :

"Aku berada dalam keadaan baik sekali."

"Hmmmm! Ketika sepasang telapak kita saling membentur satu sama lainnya tadi, aku telah mengeluarkan racun tak berwujud dari Perguruan Selaksa Racun kami, dalam keadaan yang tidak berbentuk dan tidak terasa engkau sudah keracunan hebat... dan mungkin pada ini tubuhmu sudah penuh terkena racun keji itu."

Hoa Pek Tuo segera menengadah dan tertawa seram.

"Haaaah... haaaah... haaaah... kau anggap racun tanpa bayangan mampu untuk melukai diriku?" ejeknya.

"Racun tanpa bayangan mampu membunuh orang tanpa wujud dan tanpa terasa, aku sudah mendalami kepandaian tersebut selama banyak tahun," kata Hee Giong Lam dengan suara dingin bagaikan es, "aku merasa di antara semua ilmu racun yang kupahami, racun tak berwujud inilah merupakan suatu hasil karya yang patut dibanggakan, agar aku bisa membinasakan dirimu aku telah memilih dan berpikir beberapa waktu lamanya, aku merasa hanya dengan cara itulah engkau bisa kulukai secara parah hingga mengakibatkan kematian dirimu..."

"Huuuh... bagus juga jalan pikiranmu itu!" jengek Hoa Pek Tuo sambil tertawa sinis.