Imam Tanpa Bayangan I Jilid 41

 
Jilid 41

PELBAGAI ingatan dengan cepat berkelebat dalam benaknya, pada detik penentuan atas mati hidupnya itu, pedang mestika penghancur sang surya bagaikan hembusan angin meluncur ke depan dengan jurus Kiam-si-liat-jin atau terik sang surya hancur terbelah.

Triing...! Triing...! Triing...! Di tengah udara dentingan nyaring babatan pedangnya berhasil menangkis balik serangan gabungan ke- empat bilah pedang panjang yang maha dahsyat itu tetapi dia sendiri terdesak mundur lima enam langkah ke belakang baru sempat mempertahankan diri, dadanya naik turun dan napasnya terengah- engah, peluh sebesar kacang kedelai membasahi seluruh jidatnya.

Dari keadaan itu bisa ditarik kesimpulan betapa dahsyat dan lihaynya serangan gabungan tersebut.

"Keparat cilik," teriak Hay San Jin sambil tertawa tergelak, "walaupun jurus pertama berhasil kau lampaui, belum tentu jurus ke- dua bisa kau hadapi."

Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei menyadari bahwa serangan yang maha dahsyat sebentar lagi bakal berlangsung, ia segera tarik napas panjang, dalam hatinya berpikir :

"Kenapa aku tidak berusaha untuk menyerang lebih dahulu, agar serangan gabungan mereka tak mampu digerakkan?"

Yang dipikirkan pemuda itu sekarang ialah bagaimana caranya merebut posisi baik serta mengalahkan musuhnya, terhadap kekuatan tubuh sendiri sama sekali tidak dipikirkannya. Mendadak ia membentak keras, tubuhnya laksana kilat berkelebat maju ke depan, pedangnya tiba-tiba membabat mendatar dan terhadap ke-empat orang tokoh sakti itu masing-masing mengirim satu tusukan.

"Aaah...! Jurus Sin Kiam Si Jit," teriak Bong Yu Seng dengan suara setengah menjerit.

Jurus serangan ini merupakan inti dari ilmu pedang penghancur sang surya, ketika Cia Ceng Gak menundukkan ke-empat orang tokoh sakti tersebut di masa yang lampau, jurus ini pula yang dipergunakan olehnya. Karena itu setelah menyaksikan kemunculan dari jurus serangan tersebut, hati mereka jadi tercekat, dengan tindakan yang berhati-hati dia ayun pedangnya ke muka. Traaang... beberapa kali dentingan nyaring bergema di angkasa, tiba-tiba senjata pedang di tangan ke-empat tokoh sakti itu terlepas dari cekalannya dan mencelat ke udara.

Kejadian ini mengejutkan ke-empat orang itu, membuat mereka berdiri menjublak dan untuk beberapa saat lamanya tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Bukan saja ke-empat orang itu berdiri tertegun, bahkan Pek In Hoei sendiri pun melengak dan tak habis mengerti, ia tidak habis mengerti apa sebab tenaga dalam yang dimiliki ke-empat orang itu secara tiba-tiba bisa lenyap tak berbekas sehingga keadaannya tak berbeda dengan manusia biasa.

Pedang mestika penghancur sang surya menyambar lewat dan meninggalkan satu guratan panjang di tubuh ke-dua orang itu membuat darah segar segera mengalir keluar.

Gui Ku Jin pertama-tama yang berteriak lebih dahulu, serunya : "Sungguh aneh, kenapa tenaga dalam ku tiba-tiba bisa lenyap tak

berbekas?"

Yan An tertawa menyeringai dengan seramnya :

"Saudara-saudaraku, kita sudah tertipu oleh siasat poocu!" katanya keras. "Apa?" teriak tiga orang rekannya dengan terperanjat, enam sorot mata tajam dan berapi menatap wajah Yan An tanpa berkedip, mereka sedang menantikan jawaban dari pemimpinnya itu.

Dengan menahan penderitaan dan sakit hati Yan An berkata : "Obat yang diberikan poocu kepada kita semua adalah puder

pelenyap tenaga, rupanya ia sengaja hendak melepaskan Pek In Hoei lolos dari sini dan membiarkan kita jadi korban-korbannya di tempat ini, akhirnya aku berhasil menangkap jitu maksud hati yang sebenarnya dari poocu."

"Kenapa, kenapa ia begitu tega untuk mencelakai kita semua?" tanya Hay San Jin dengan suara gemetar.

Yan An menghela napas panjang.

"Aaai...! Kesemuanya ini harus salahkan diri sendiri, kesemuanya ini adalah kesalahan kita sendiri, saudaraku, sekarang kita cuma punya satu pilihan saja, dan aku akan berangkat satu tindak lebih dulu."

"Eeeeei... nanti dulu, kalian toh bukan menderita kalah secara memalukan..." teriak Pek In Hoei setelah tertegun sebentar, "kenapa kau..."

"Kurang ajar, kau berani mentertawakan diriku??" bentak Yan An dengan gusar.

Dia angkat telapak kanannya dan segera digaplokkan ke atas ubun-ubun sendiri, percikan darah segar segera berhamburan di angkasa, isi otak berceceran di tanah dan binasalah jago lihay itu.

"Toako..." teriak tiga orang rekan lainnya dengan perasaan hancur lebur.

Lu Kiat yang menyaksikan kesemuanya itu hanya bisa menggeleng sambil bertanya :

"Sebenarnya apa yang telah terjadi??"

"Mana aku tahu?" sahut Pek In Hoei lirih, "mungkin hanya poocu seorang yang mengetahui rahasianya..." Perempuan tua yang bersembunyi di balik pepohonan di tengah kegelapan segera menghembuskan napas lega setelah menyaksikan drama yang amat tragis itu, dia menyeka rambutnya yang terurai di atas dahi lalu berbisik lirih :

"Tek Li, kau terlalu baik terhadap diriku!"

"Hu jin, aku berbuat demikian bukanlah disebabkan ingin mengampuni Pek In Hoei, kulakukan kesemuanya ini karena aku tidak ingin kehilangan dirimu!" kata Cui Tek Li sambil gelengkan kepalanya berulang kali, "Bicara terus terangnya saja, aku benci dan ingin sekali membinasakan Pek In Hoei dengan telapak tanganku..."

"Tidak! Kau tidak boleh berbuat begitu," teriak perempuan tua itu dengan suara gemetar, "Pek Tiang Hong telah menemui ajalnya di tanganmu, kau tak boleh melenyapkan pula sisa keturunannya yang cuma satu-satunya itu... Tek Li! Dengarkanlah perkataanku..."

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... sudah terlalu banyak yang kudengar dari mulutmu," seru Cui Tek Li pemilik Benteng Kiam-poo sambil tertawa seram, "kalau bukan kau yang mintakan ampun buat dirinya, aku tidak nanti akan membiarkan bocah keparat she Pek itu tiba di tempat ini. Aaai...! Tahukah engkau mengapa aku berbuat demikian?? Tidak lain karena dirimu..."

"Aku tahu... dan aku mengerti akan perasaanmu," bisik perempuan tua itu dengan air mata bercucuran, "kau terlalu baik terhadap keluarga Pek kami, aku bisa berterima kasih kepadamu, terutama sekali pada malam ini kau suka melepaskan In Hoei dalam keadaan hidup. Aku percaya sukma Pek Tiang Hong di alam baka pasti mengetahui akan hal ini, dan dia pun akan berterima kasih pula kepadamu..."

"Cukup... cukup..." tukas Cui Tek Li sambil ulapkan tangannya, "aku tak mau mendengarkan perkataanmu lagi, sekarang kau boleh pulang lebih dahulu... bila berita ini sampai tersiar di dalam dunia persilatan, orang-orang Bu lim tentu akan mengatakan bahwa manusia dari Benteng Kiam-poo adalah manusia-manusia yang tak becus..."

Perempuan tua itu menyeka air mata yang membasahi pipinya dan mengangguk, "baiklah aku akan kembali dulu ke kamar, jangan kau katakan kepadanya kalau aku telah datang kemari..."

Cui Tek Li tertawa rawan.

"Pulanglah! Aku agak pusing kepala menghadapi dirimu..."

Perempuan tua itu berpaling dan memandang sekejap ke arah jago kawakan yang tersohor karena kelicikannya itu, dia tahu mati hidup Pek In Hoei sepenuhnya berada di tangan pemilik dari Benteng Kiam-poo ini, karena dia kuatir lelaki itu berubah pikiran maka dengan sorot mata penuh permohonan ia memandang kembali ke arahnya.

Cui Tek Li tidak menggubris perempuan tua itu lagi, ia putar badan dan memandang sekejap ke arah jenazah yang menggeletak di tengah jalan, wajahnya tidak menunjukkan perubahan apa pun, hanya senyuman sinis yang menghiasi ujung bibirnya, seakan-akan dia merasa puas sekali dengan hasil karya yang telah dilakukan olehnya. Dalam pada itu Jago Pedang Berdarah Dingin serta Lu Kiat telah melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke depan, untuk sesaat tak seorang pun di antara ke-dua orang itu buka suara dan berbicara, mereka tidak pernah tahu kalau Cui Tek Li pemilik dari Benteng

Kiam-poo selama ini mengikuti terus di belakang tubuhnya... "Heeeeh... heeeeh... heeeeh... " tiba-tiba Cui Tek Li tertawa seram

sambil menatap bayangan punggung ke-dua orang itu, serunya : "Saudara berdua, kionghi untuk kalian semua."

Pek In Hoei serta Lu Kiat bersama-sama menoleh ke belakang, empat buah sorot mata serentak ditujukan ke atas tubuh rase tua itu, pandangan mata mereka begitu dingin dan diliputi kewaspadaan.

"Pek In Hoei, aku harus menyampaikan ucapan selamat kepadamu..." ujar Cui Tek Li sambil tertawa seram.

"Apa yang perlu diselamatkan?" "Selama kau menerobosi tiba rintangan kesemuanya sudah ada sembilan orang manusia laknat yang menemui ajalnya di tanganmu, dalam pandanganmu pekerjaan ini merupakan suatu usaha yang sukses, sebaliknya bagi diriku merupakan suatu kerugian yang besar..."

"Tak ada yang perlu disayangkan atas kematian dari orang-orang itu..." tukas Pek In Hoei mendongkol.

"Hmm... tahukah engkau siapakah mereka itu?"

Melihat jawaban dari pemilik Benteng Kiam-poo ini agak aneh dan tidak beres, sekali lagi Jago Pedang Berdarah Dingin berdiri tertegun, satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benaknya.

"Dua manusia ganas she-Hoa, tiga mayat hidup serta empat manusia bengis semuanya terdiri dari sampah masyarakat yang sudah terlalu banyak melakukan kejahatan, manusia semacam ini sekali pun mati juga tak perlu disayangkan..." katanya.

Cui Tek Li tertawa dingin.

"Hmmm... tahukah engkau bahwa orang-orang itu bukan saja terdiri dari manusia keji yang harus dibunuh, mereka pun merupakan pembantu-pembantu yang telah membunuh ayahmu..."

"Apa?? Kau maksudkan mereka semua ikut dalam peristiwa pengerubutan terhadap ayahku..." seru Pek In Hoei dengan jantung berdebar keras.

"Sedikit pun tidak salah, sengaja kuatur kesemuanya ini untuk dirimu, bukanlah peristiwa ini patut digirangkan dan diberi ucapan selamat?? Semua manusia-manusia penting yang ikut di dalam peristiwa pengerubutan di puncak gunung Cing Shia hanya terdiri dari beberapa orang itu."

"Mengapa kau bantu diriku untuk membalas dendam?" tanya Pek In Hoei dengan darah panas bergelora.

Cui Tek Li tertawa dingin.

"Aku sama sekali tidak membantu dirimu, aku sedang membantu diriku sendiri!" "Apa maksudmu??"

Ia merasa bingung dan tak habis mengerti terhadap semua perkataan yang diucapkan Cui Tek Li pada hari ini, ia merasa ucapannya merupakan teka teki dan sulit untuk diraba, kendati Pek In Hoei cerdas tak urung dibikin melongo juga.

"Orang-orang itu ada maksud hendak mengkhianati diriku," ujar pemilik dari Benteng Kiam-poo lagi, "dan aku pun ada maksud untuk melenyapkan mereka semua dari muka bumi, kedatanganmu merupakan suatu hal yang sangat kebetulan, maka kuatur siasat ini secara rapi..."

Pek In Hoei jadi amat gusar setelah mendengar perkataan itu, serunya marah-marah :

"Rupanya kau sedang meminjam tanganku untuk melenyapkan bibit bencana yang mengancam dirimu... bagus, bagus sekali! Cui Tek Li, kau memang luar biasa sekali dan aku sudah mengenali siapakah engkau!"

"Hmmmm.... Aku sama sekali tidak mengharapkan ucapan terima kasih darimu, kalau aku tidak menyusun rencana seperti sekarang ini, mampukah engkau membasmi semua musuh besarmu yang ikut serta di dalam peristiwa pengerubutan terhadap ayahmu itu? Bukankah tindakanku ini menguntungkan ke-dua belah pihak?"

"Hmmmm!" Pek In Hoei mendengus dengan penuh penghinaan, di atas wajahnya yang tampan terlintas hawa napsu membunuh yang mengerikan, sorot mata yang tajam bagaikan pisau memancarkan cahaya berapi-api, karena gusar sekujur badannya gemetar keras, tiba- tiba ia melangkah maju setindak ke depan.

"Aku akan menggunakan cara yang jujur dan terbuka untuk menuntut balas atas sakit hatiku," serunya gegetun, "aku tidak mau menerima kebaikan hatimu itu!"

"Seandainya aku tidak memberi bantuan, kepadamu dengan mengatur kesemuanya ini bagimu, aku percaya selama hidup kau tak nanti berhasil temukan orang-orang itu," ujar Cui Tek Li dengan sikap wajar, "Pek In Hoei! Kau mesti tahu bahwa aku sama sekali tidak jeri terhadap dirimu, aku berbuat kesemuanya ini karena memandang di atas wajah ibumu..."

"Pintar amat kau ambil hati orang!" bentak Jago Pedang Berdarah Dingin dengan nada keras.

"Hmmm!" Cui Tek Li pemilik dari Benteng Kiam-poo mendengus dingin, "sekarang kau jangan keburu bersenang hati lebih dahulu, sebab masih ada satu rintangan terakhir yang harus kau lalui dan akulah yang akan kau hadapi! Bila kau ingin tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup, lebih baik simpanlah sedikit tenaga untuk menunggu beberapa saat lagi..."

"Sekarang juga kita boleh mulai turun tangan!" seru Pek In Hoei dengan wajah hambar.

"Ayohlah berangkat, pintu benteng telah terbuka bagimu..." kata Cui Tek Li sambil putar badan dan melangkah pergi terlebih dahulu.

Lu Kiat serta Pek In Hoei segera menyusul dari belakangnya, perasaan hati mereka mulai diliputi ketegangan dan terasa berat sekali.

Di depan pintu benteng yang kuno berdiri dua baris pria baju merah yang masing-masing membawa sebuah obor cahaya terang menyinari daerah sekitar tempat itu membuat suasana jadi terang benderang dan tidak jauh berbeda dengan keadaan di siang hari.

Tiba-tiba Pemilik Benteng Kiam-poo itu melepaskan jubah luarnya yang berwarna biru langit, kemudian berkata sambil tertawa : "Sekarang kau boleh coba menerobos keluar dari rintangan yang

terakhir..."

"Poocu sebelum pertarungan dimulai terlebih dahulu aku ada satu permintaan yang hendak diajukan kepadamu," kata Pek In Hoei dengan wajah amat serius.

"Memandang di atas wajah ibumu, aku rasa tidak sepantasnya kalau kutampik permintaanmu itu. Nah! Katakanlah..." "Hmmm! Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei mendengus dingin, air mukanya menunjukkan perasaan tidak senang hati.

Dari sikap pemuda itu bisa dilihat betapa susah dan segannya Pek In Hoei mengucapkan permintaannya, dia tidak ingin diejek dan dihina terus oleh Cui Tek Li, tetapi ketika sorot matanya membentur di atas tubuh Lu Kiat yang berada di sisinya, ia segera bertekad untuk menahan rasa malu serta mengutarakan keinginan hatinya.

Dalam hati dia mengeluh, kemudian ujarnya :

"Andaikata aku bernasib sial dan akhirnya harus mati konyol di tanganmu, maka aku berharap agar kau jangan menyusahkan toako Lu Kiat lagi, antara aku dengan dirinya sama sekali tiada ikatan hubungan apa pun juga..."

"Adik In Hoei, apa maksudmu mengutarakan hal seperti itu??" teriak Lu Kiat dengan wajah tertegun.

Pek In Hoei tertawa getir.

"Toako kau masih mempunyai ayah dan ibu, kau masih dibutuhkan tenaganya untuk berbakti kepada mereka dua orang tua, sedang aku hanya sebatang kara tanpa sanak tanpa saudara, walaupun harus mati juga tak ada yang perlu disesalkan. Jika kau harus menemani aku mati di sini, kejadian tersebut boleh dibilang sangat keterlaluan..."

Lu Kiat sangat terharu sehingga tanpa sadar air mata bercucuran membasahi pipinya, mendadak dia angkat kepala dan tertawa panjang, kulit mukanya berkerut beberapa kali, ujarnya :

"Adikku, pendapatmu itu keliru besar... ke-dua orang tuaku baik sekali dan mereka tidak membutuhkan perawatanku lagi, ini hari kalau hidup kita akan hidup bersama kalau mati kita akan mati berbareng, aku tidak mau kalau disuruh lari seorang diri!"

Ia berhenti sebentar lalu dengan suara gemetar sambungnya kembali :

"Aku lebih-lebih tidak senang kalau kau harus merengek-rengek minta belas kasihan orang lain karena ingin menyelamatkan jiwaku, perbuatan semacam itu bukan saja merupakan suatu penghinaan bagimu, bagi diriku pun merupakan suatu penghinaan pula..."

"Apakah kau tidak menyetujui jalan pikiranku ini?? seru Pek In Hoei dengan gelisah.

"Aku tidak nanti akan melarikan diri guna mencari hidup," seru Lu Kiat sambil membusungkan dadanya, "adikku, kau tak usah banyak bicara lagi."

Ketika telapak tangannya menepuk dada itulah tiba-tiba Lu Kiat menyentuh kembali pedang kecil berwarna perak yang diserahkan Lu hujin kepadanya sesaat sebelum berangkat, hatinya tercekat dan di sisi telinganya seakan-akan berkumandang kembali pesan dari ibunya:

"Benda ini merupakan kepercayaan dari Benteng Kiam-poo, bawalah dan siapa tahu benda tersebut akan bermanfaat bagi kalian berdua..."

Berpikir sampai di situ, dengan cepat dia ambil keluar pedang kecil warna perak yang panjangnya hanya tujuh cun itu, sambil diangsurkan ke depan serunya :

"Poocu, kenalkah engkau dengan benda ini!"

Tergetar keras hati Cui Tek Li pemilik Benteng Kiam-poo setelah menyaksikan pedang kecil itu, dengan cepat dia loncat maju ke depan, tegurnya :

"Siapa yang menyerahkan benda itu kepdamu?" "Ibuku," jawab Lu Kiat dengan nada dingin. "Bukankah ibumu she In dan kawin Lu Po Eng?"

Lu Kiat tidak menyangka kalau rase tua itu bisa mengetahui begitu jelas tentang asal usulnya, hingga nama dari ayahnya pun diketahui dengan amat jelas.

Dengan nada tercengang segera serunya : "Kau... kau telah mengetahuinya?" "Serahkan pedang itu kepadaku!"

"Tidak bisa!" "Sejak Benteng Kiam-poo didirikan dalam dunia persilatan sudah lima batang pedang budi yang tersebar di kolong langit, sekarang aku sudah menemukan kembali tiga di antaranya dan masih ada dua batang yang belum ditarik kembali, pedang ini merupakan tanda perintah tertinggi benteng kami, jika kau ada permintaan cepatlah utarakan keluar."

"Pentingkah pedang itu bagimu?" Cui Tek Li mendengus dingin.

"Aku pernah berhutang budi pada keluargamu, sekarang kau boleh menggunakan pedang pendek itu untuk mohon satu permintaan apa pun kepadaku, permintaan itu akan kuanggap sebagai balas jasa terhadap diriku."

Lu Kiat melirik sekejap ke arah Pek In Hoei, lalu berkata :

"Aku hanya ingin agar kau menghapuskan pertarungan yang terakhir ini."

Bagian 39

"TENTANG soal ini," bisik Cui Tek Li pemilik Benteng Kiam-poo dengan susah, "permintaanmu itu terlalu kelewat batas, Jago Pedang Berdarah Dingin secara beruntun telah membinasakan sembilan orang jago lihay dari benteng kami, andaikata aku biarkan dia pergi dengan begitu saja maka nama benteng kami niscaya akan hancur berantakan."

Pek In Hoei segera melirik ke arah Lu Kiat dan berkata :

"Toako lebih baik simpan saja benda itu ke dalam sakumu, kita sama sekali tidak membutuhkan benda itu untuk digunakan sebagai benda pemohon ampun dari orang lain, siapa tahu kalau dalam pertarungan yang terakhir nanti kita akan mendapatkan kemenangan." "Hmm, kau anggap dengan kemampuanmu yang tak seberapa itu sudah sanggup untuk menghadapi serangan delapan berantaiku?"

teriak pemilik Benteng Kiam-poo dengan gusar.

Pek In Hoei tertawa dingin. "Kau toh seorang ahli di dalam ilmu pedang, di kala aku menjebolkan ke-tiga buah rintanganmu itu aku percaya kau pasti sudah mengetahui sampai di manakah kemampuanku, mampukah kutembusi rintangan yang terakhir ini aku rasa kau tentu punya perhitungan sendiri di dalam hati."

Cui Tek Li tertawa seram.

"Pek In Hoei, aku akan bicara terus terang kepadamu," katanya, "meskipun kau telah memiliki inti sari dari ilmu pedang penghancur sang surya, tetapi kau masih tetap bukan tandinganku, di dalam tiga puluh jurus mendatang aku percaya masih mampu untuk mengalahkan dirimu, jika kau tidak percaya akan kuperlihatkan sesuatu benda kepadamu!"

Tiba-tiba ia berpaling dan berseru :

"Go Kie!"

Seorang pria baju hitam dengan membawa sebilah pedang panjang munculkan diri dari tempat kegelapan, Cui Tek Li segera menerima senjata itu dan mengebaskannya di udara, cahaya tajam berkilauan dan di dalam waktu singkat ia telah melancarkan tujuh puluh dua tusukan di angkasa.

Ke-tujuh puluh dua tusukan itu dilancarkan dalam sekejap mata, bukan saja tangkas bahkan kecepatannya sukar diikuti dengan pandangan mata.

Terkesiap hati si Jago Pedang Berdarah Dingin melihat kelihayan musuhnya, dari kilauan bayangan pedang yang bertaburan di angkasa, dia bisa menarik kesimpulan bahwa untuk mengalahkan pihak musuhnya bukanlah suatu pekerjaan yang gampang, dengan penuh rasa sedih dia menggeleng dan tetap membungkam dalam seribu bahasa.

"Bagaimana?" ejek pemilik Benteng Kiam-poo sambil tertawa dingin.

"Aku memang belum bisa menandingi kemampuanmu!" jawab Pek In Hoei dengan sedih. Cui Tek Li segera angkat kepala dan tertawa keras, dia memuji ketajaman mata Pek In Hoei dan memuji pula akan keberanian lawannya untuk mengakui keadaan yang sebenarnya, meskipun merasa bangga dia pun agak bersedih hati.

"Bawa kemari!" ujarnya kemudian pada Lu Kiat, "mari kita saling bertukar syarat."

Lu Kiat segera angsurkan pedang kecil itu kepada Cui Tek Li, katanya pula :

"Sejak kini kita masing-masing tidak berhutang satu sama lainnya."

Pemilik Benteng Kiam-poo tidak mengucapkan sepatah kata pun, ia berdiri termangu-mangu beberapa saat lamanya kemudian berseru

:

"Buka pintu dan hantar tamu keluar benteng!"

Para pria baju merah yang berdiri di ke-dua belah sisi jalan segera menyingkir dan pintu benteng yang berwarna hitam pekat perlahan- lahan terbentang lebar, dengan pandangan tercengang orang-orang itu memandang ke arah dua orang pemuda tersebut, selama sejarah berlangsung baru pertama kali ini pintu benteng dibuka bagi musuhnya yang hendak keluar.

"Aaai... kalian adalah orang pertama yang dapat keluar dari Benteng Kiam-poo dalam keadaan selamat!" ujar pemilik benteng pedang itu sambil menghela napas.

"Hmm! Pintu bentengmu itu tak akan bisa tertutup untuk selamanya, akhirnya terbuka juga..." sambung Lu Kiat dingin.

"Benar, mungkin apa yang kau katakan memang benar!" suatu perasaan sedih yang tak terbendung melintas di wajah jago tua she Cui itu.

Pek In Hoei yang selama ini membungkam terus tiba-tiba berseru

:

"Poocu, aku akan kembali lagi kemari pada suatu ketika!" "Mau apa kau kembali lagi ke sini?" "Mencabut jiwa anjingmu."

"Haaaah... haaaah... haaaah... " Pemilik Benteng Kiam-poo angkat kepala dan tertawa seram tiada hentinya, hawa amarah berkobar di dalam rongga dadanya tetapi ia tetap bersabar, menanti bayangan punggung dari Pek In Hoei serta Lu Kiat telah lenyap dari kegelapan ia baru kembali ke dalam benteng dengan perasaan berat.

*****

Awan putih melayang di atas langit yang biru, angin berhembus lewat membawa udara yang dingin, daun kering berguguran di atas tanah dan kicauan burung berdendang menyemarakkan suasana di pagi hari itu.

Di tengah hembusan angin musim gugur yang dingin, Jago Pedang Berdarah Dingin serta Lu Kiat dengan menunggang kuda perlahan-lahan tinggalkan Benteng Kiam-poo berangkat menuju kebebasan.

Keadaan mereka berdua ibaratnya manusia yang baru mendusin dari impian buruk, apa yang sudah terjadi kemarin malam membekas dalam-dalam di hati mereka.

""Aaai...!" terdengar Pek In Hoei menghela napas sedih dan bergumam seorang diri, "aku hanya segumpal awan, segumpal awan yang tipis... awan yang tiada tetap tempat tinggalnya, nasib menentukan aku harus berkelana sepanjang masa, aku baru berhenti bergelandangan bila jiwaku sudah melayang tinggalkan raga."

Dengan wajah tercengang Lu Kiat angkat kepala dan memandang pria kekar yang bersemangat jantan itu, ia tak pernah mendengar pemuda itu mengucapkan kata-kata seperti itu di masa yang silam.

Segera tegurnya dengan nada keheranan :

"Adikku, mengapa engkau?"

"Aku sedang teringat kembali akan asal usulku, serta penderitaanku selama masih hidup di kolong langit." "Kenapa secara tiba-tiba sikapmu berubah jadi begitu murung?" seru Lu Kiat sambil gelengkan kepalanya berulang kali, "dengan kesuksesanmu untuk mengangkat nama dan tersohor di kolong langit, jarang sekali terdapat manusia di kolong langit ini bisa melampaui kehebatanmu itu, sepantasnya kalau kau merasa puas dan bangga dengan hasil yang berhasil kau capai, kau harus puas dengan jerih payahmu selama berlatih ilmu silat hingga mencapai taraf yang demikian hebatnya."

Pek In Hoei tertawa getir.

"Napsu angkara murka serta napsu ingin mencapai sesuatu hingga napsu puasnya merupakan musuh besar bagi umat manusia," katanya, "mungkin dalam hatiku pernah timbul napsu untuk menjadi tersohor di seluruh kolong langit, tetapi pikiran semacam itu kini sudah lenyap tak berbekas dari dalam benakku, sebab aku teringat kembali akan daun yang rontok dari dahannya, suatu ketika aku pun akan jadi tua dan layu, waktu itu ke mana aku harus pergi?"

"Ketika kau sudah menjadi tua dan layu, datang saja ke rumahku, sebab rumahku akan merupakan rumahmu!" sambung Lu Kiat tiba- tiba sambil tertawa.

"Aku tidak membutuhkan benda-benda yang berada dalam kenyataan, yang kucari adalah kepuasan dalam batin..."

Lu Kiat tertegun.

"Aku tidak mengerti dengan apa yang kau ucapkan barusan!" ia berseru.

Pek In Hoei gelengkan kepalanya berulang kali.

"Kau belum pernah mengalami bencana serta penderitaan seperti apa yang pernah kualami, tentu saja kau tidak akan paham terhadap apa yang kumaksudkan dengan ucapan tersebut, ketika seseorang telah merasakan pahit getirnya kehidupan seorang manusia di kolong langit, maka saat itulah dia akan memahami apa artinya kehidupan seorang manusia di kolong langit, apa yang dibutuhkan seorang manusia di saat masih hidup di sini." "Lalu apa yang kau butuhkan?" tanya Lu Kiat sesudah termangu- mangu beberapa saat lamanya.

Pek In Hoei gelengkan kepalanya dan menghela napas panjang. "Setiap manusia mempunyai kesulitannya sendiri-sendiri,

tentang hal ini kau tak mungkin akan tahu..."

"Oooh...! Kalau begitu aneh sekali nama besarmu pada saat ini boleh dibilang amat tersohor di kolong langit dan selama ini belum pernah ada yang berhasil melampaui kesuksesanmu itu, semua partai dan perguruan besar telah mensejajarkan nama besarmu di samping nama besar Cia Ceng Gak, bahkan ada pula yang mengatakan keberhasilanmu jauh lebih hebat daripada ccb, kesemuanya itu sudah cukup untuk membuat kau sombong dan berbangga hati, membuat namammu jadi terkenal dan diketahui orang sebagai malaikat pedang ke-dua di kolong langit, sekarang apa lagi yang belum kau dapatkan? Apa yang membuat kau merasa tidak puas? Adik In Hoei, janganlah terlalu muluk cita-citamu, ketahuilah cita-cita yang terlalu dan tinggi kadangkala akan mendatangkan kekecewaan yang lebih besar bagimu, lebih sedikitlah tahu diri..."

"Tentang persoalan ini kau semakin tidak paham lagi," kata Pek In Hoei sambil tertawa getir, "aku tidak bangga dengan kesuksesan yang berhasil kuraih selama ini, aku sedang risau karena tak bisa mengundurkan diri dari kancah pembunuhan serta pergolakan yang sedang menimpa dunia persilatan ini, ketahuilah semakin tinggi pohon itu semakin banyak angin yang berhembus lewat, sekarang kesulitan yang menimpa diriku sudah terlalu banyak."

"Haaaah... haaaah... haaaah... kalau cuma urusan sekecil itu tak mungkin bisa menyusahkan dirimu, pandanganmu terlalu cupat dan tidak terbuka, apa susahnya untuk mengundurkan diri dari dunia persilatan? Asal kau menyembunyikan dari di suatu tempat yang terpencil, dan jarang didapati manusia, bukankah urusan akan beres dengan sendirinya." "Aaai.. toako, pandanganmu terlalu sederhana, dunia persilatan tidak jauh berbeda dengan sebuah gentong berisi air merah, sekali kau melangkah masuk dan tubuhmu berubah jadi merah, maka sekali pun dicuci juga tak bisa bersih, hingga mati soal budi dan dendam masih akan berkecamuk terus pada dirimu."

"Apa sih maksudmu? Aku tak bisa menangkap arti yang sebenarnya..."

"Di pihakmu mungkin budi dan dendam bisa terselesaikan bila kau telah mati, tetapi keadaan dalam pandangan lawan sama sekali berbeda, dia akan memberitahukan kepada putranya dan suruh putranya membalas dendam, turun temurun mereka akan saling bunuh tiada hentinya..."

"Oooh... !" Lu Kiat berseru tertahan, diam-diam ia merasa kagum atas ketajaman pandangan si anak muda itu, meskipun ia sendiri mempunyai pengalaman yang amat luas, tetapi terhadap pandangannya mengenai kehidupan manusia tidak sedalam pandangan dari Pek In Hoei, karena itu dia membungkam dalam seribu bahasa.

Lama sekali, dia baru menghela napas panjang, katanya : "Adik In Hoei, mari ikut aku pulang ke rumah!"

"Tidak, sekarang aku telah mengetahui siapakah musuh besarku, mungkin banyak urusan yang harus segera kulakukan," kata Pek In Hoei sambil menggeleng, "lain kali saja kalau aku punya waktu tentu akan menyambangi empek dan bibi, sekarang aku tak mau mengganggu lebih dahulu."

Lu Kiat menghela napas panjang.

"Aku sudah tahu bahwa engkau pasti tak mau mampir di rumahku, asal kau jangan lupa saja meskipun kita punya nama marga yang berbeda, dalam kenyataan adalah saudara sedarah sedaging, bila kau ada urusan datanglah ke rumah dan carilah aku..."

Dalam hati Jago Pedang Berdarah Dingin merasa terharu sekali terhadap sikap Lu Kiat yang begitu hangat serta memperhatikan dirinya itu, sejak kecil ia sudah hidup sebatang kara terutama setelah ayahnya meninggal, tak pernah ada orang yang memperhatikan dirinya lagi, air mata tanpa terasa jatuh berlinang membasahi pipinya.

Suasana jadi hening... udara terasa gelap dan suara hembusan angin saja yang berkumandang memecahkan kesunyian...

Tooong... tooong... tooong...

Di tengah keheningan, tiba-tiba terdengar suara tambur berkumandang memecahkan kesunyian, Lu Kiat serta Pek In Hoei sama-sama tertegun dan segera angkat kepala memandang ke arah depan.

Tampaklah sebaris pria baju hitam sambil menabuh tambur dan genderang sedang berjalan mendatangi, di depan mereka berjalanlah seorang kakek tua berjubah ungu yang menunggang seekor kuda jempolan yang tinggi besar.

Ketika kedua belah pihak saling berpapasan kakek berjubah ungu itu melirik sekejap ke arah Jago Pedang Berdarah Dingin serta Lu Kiat, kemudian dia ulapkan tangannya dan rombongan pria berbaju hitam itu pun segera menghentikan langkahnya.

Kepada Lu Kiat berdua dia memberi hormat, lalu tegurnya : "Siapakah di antara kalian yang bernama Jago Pedang Berdarah

Dingin Pek toa enghiong?"

"Lo sianseng ada urusan apa? Akulah Jago Pedang Berdarah Dingin," jawab pemuda itu dengan hambar.

Seakan-akan telah menemukan orang yang sedang dicari, kakek berjubah ungu itu segera loncat turun dari punggung kudanya dan maju menyongsong sambil tertawa riang.

"Peristiwa berhasilnya Pek toa enghiong menerobos keluar dari Benteng Kiam-poo telah menggemparkan seluruh dunia persilatan, majikan kami merasa kagum sekali terhadap nama besar enghiong nomor dua setelah Cia Ceng Gak seperti engkau ini, maka sengaja hamba diutus datang kemari untuk menyambut kedatangan Pek toa- enghiong, kami harap agar enghiong suka singgah sebentar di rumah kami sebagai tanda hormat terhadap undangan dari majikan kami ini..."

"Siapa sih majikanmu itu? Aku rasa belum pernah kenal!" sahut Pek In Hoei dengan alis berkerut.

Kakek jubah ungu itu segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... Pek toa enghiong, kenapa kau mesti persoalkan masalah yang sepele itu? Asal kau suka datang ke situ maka kalian toh akan berkenalan sendiri? Bagaimana kalau sekarang juga kita berangkat..."

"Lo sianseng, siapa sih namamu?" tanya Lu Kiat dengan alis berkerut kencang.

Kakek berjubah ungu itu menggeleng.

"Namaku sudah dilupakan orang, kalian sebut saja diriku sebagai Cin Siong loo-jin..."

Habis berkata dia segera menangkap tali les kuda Pek In Hoei dan menuntunnya.

Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei jadi amat terperanjat, buru-buru dia goyangkan tangannya sambil berseru :

"Lo sianseng, jangan... jangan kau lakukan hal itu..." Cin Siong lo-jin tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... aku tidak lebih hanya seorang pahlawan tua, sekarang aku dapat menuntunkan kuda bagi Pek toa enghiong hal ini merupakan suatu pekerjaan yang patut dibanggakan, Pek toa enghiong... Kau tak usah bersikeras hati lagi, majikan kami sudah menunggu dengan hati gelisah."

Tanpa mempedulikan lagi apakah Jago Pedang Berdarah Dingin setuju atau tidak, ia segera menarik tali les kuda orang dan memerintahkan para pria baju hitam lainnya untuk melanjutkan perjalanan.

Yang paling mengherankan adalah tujuan dari rombongan orang- orang itu, mereka tidak meneruskan perjalanan lewat jalan besar melainkan berbelok ke jalan yang sunyi dan terpencil kemudian menuju ke bukit tinggi tidak jauh dari sana.

"Lo sianseng apakah kau tidak salah ambil jalan?" tanya Lu Kiat dengan wajah tercengang.

Cin Siong lo-jin tertawa tergelak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... tidak mungkin salah... tidak mungkin salah, sepanjang tahun aku selalu melewati jalan ini tak mungkin kalau aku bisa salah jalan, setelah membelok di tikungan sebelah depan maka kita akan sampai di rumah kediaman majikan kami..."

Tatkala rombongan pria baju hitam itu tiba di sebuah tanah lapang mendadak mereka hentikan langkahnya dan membunyikan suara tambur serta gembrengan semakin keras.

Cin Siong lo-jin membentak keras, tabuhan tambur dan gembrengan pun segera terhenti, dengan sikap menghormati mereka berdiri di tepi lapangan.

"Silahkan kalian berdua turun dari kuda," ujar Cin Siong lo-jin dengan hormat, "hambar akan memberi laporan kepada majikan kami..."

Pek In Hoei tertawa ewa.

"Lo sianseng tak usah sungkan-sungkan, mari kita bersama-sama menghadap majikan kalian..."

Cin Siong lo-jin tertawa, ia segera maju ke arah depan diikuti oleh Jago Pedang Berdarah Dingin serta Lu Kiat di belakangnya.

Setelah menerobosi sebuah hutan lebat yang penuh ditumbuhi pohon siong, sampailah mereka di depan sebuah bangunan rumah berbatu yang sudah kuno dan nampak antik sekali, dua orang pria bersenjata berjaga di kedua belah samping pintu bangunan tersebut.

Lu Kiat terkesiap, ia tidak tahu kalau di tempat tersebut terdapat sebuah bangunan rumah yang aneh dan misterius, tanpa sadar sorot matanya menyapu sekejap sekeliling tempat itu dan kewaspadaan segera ditingkatkan lipat ganda. "Silahkan!" ujar Cin Siong lo-jin dengan sikap menghormat. Jago Pedang Berdarah Dingin serta Lu Kiat ragu-ragu sebentar,

kemudian mereka melangkah masuk ke dalam ruangan itu.

Tampaklah perabot dalam ruangan itu antik sekali, kecuali beberapa buah meja dan bangku yang terbuat dari batu hijau, di atas dinding tergantung pula beberapa buah lukisan pemandangan yang sangat indah.

Cin Siong lo-jin bertepuk tangan satu kali, dari balik ruangan segera muncul seorang pria yang menghidangkan air teh.

Mendadak terdengar suara gelak tertawa yang keras dan nyaring menggema di seluruh ruangan, disusul dari balik ruang belakang berjalan keluar seorang kakek tua penuh bercambang hitam.

Sambil tertawa tergelak kakek bercambang hitam itu menegur : "Bukankah saudara ini adalah Jago Pedang Berdarah Dingin Pek

toa-enghiong...?"

"Tidak berani!" sahut Pek In Hoei sambil tersenyum, "tolong tanya siapakah nama lo-cianpwee?"

"Haaaah... haaaah... haaaah... aku adalah Can Keng Hong, turun temurun sudah berdiam di sini!"

Lu Kiat terperanjat mendengar nama orang itu, bayangan tentang seseorang segera terlintas di dalam benaknya ia memandang sekejap wajah Can Keng Hong lalu berkata :

"Ooooh... rupanya lo-cianpwee adalah ahli waris dari partai Lo- kong-pay..."

Partai Lo-kong adalah sebuah perguruan besar yang berasal dari pulau Lo-kong di luar lautan, di masa lampau kebesaran namanya sudah dikenal setiap orang dan sejajar dengan nama besar partai lainnya.

Lima belas tahun berselang mendadak partai itu dibasmi orang dan sejak saat itulah ahli warisnya tak nampak bermunculan lagi dalam kolong langit. Lu Kiat yang pernah mendengar tentang kisah peristiwa tersebut tentu saja memahami pula tentang asal usulnya.  Tampak Can Keng Hong tertawa getir dan berkata :

"Lu heng, rupanya kau mengetahui jelas sekali tentang semua peristiwa yang telah menimpa partai kami..."

"Oooh...! Aku hanya secara kebetulan saja mendengar cerita ini dari seseorang..."

"Oooh...! Kiranya begitu," seru Can Keng Hong, "ada pun maksudku mengundang kehadiran toa enghiong kemari, kecuali untuk menyatakan rasa hormat dan kagum kami terhadap dirimu, yang paling penting adalah ingin mengetahui sedikit persoalan mengenai keadaan Benteng Kiam-poo..."

"Aku tidak ingin membicarakan tentang persoalan itu, dan aku sama sekali tak mau membicarakannya!"

Air muka Cin Siong lo-jin berubah hebat.

"Dendam sakit hati Pek toa-enghiong hanya diketahui oleh pemilik dari Benteng Kiam-poo seorang, apakah dia tidak mengungkapkan sesuatu kepadamu? Atau memberitahukan sesuatu kepadamu?"

Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei tertegun ,dia tidak menyangka Cin Siong lo-jin begitu mengetahui tentang persoalannya, dengan pandangan tercengang dia melirik sekejap ke arah orang tua itu, kemudian tegurnya :

"Lo sianseng, dari mana kau bisa mengetahui begitu banyak persoalan tentang diriku."

Terkesiap hati Cin Siong lo-jin ketika menyaksikan sorot mata pihak lawan yang begitu tajam menatap mukanya, buru-buru dia melengos ke arah lain sambil tertawa keras :

"Aku hanya mendengar tentang persoalan itu dari mulut orang lain!"

Ia berhenti sebentar, kemudian lanjutnya : "Majikan, silahkan engkau."

"Baik!" kata Can Keng Hong sambil tertawa getir. Ia bertepuk tangan satu kali, seorang pria kekar dengan di tangannya membawa sebuah kotak perlahan-lahan munculkan diri, Can Keng Hong segera menerima kotak itu sambil ujarnya :

"Benda ini merupakan benda kepercayaan yang telah diserahkan cg kepadaku di masa lampau, benda itu bernama Kiam-hu dan rasanya cocok sekali kalau dipasangkan di ujung gagang pedang mestika penghancur sang surya, tempo hari Cia Ceng Gak sendiri pun pernah menggunakannya selama tiga tahun sebelum kemudian dilepas kembali."

"Kenapa harus dipakai selama tiga tahun?" tanya Lu Kiat tertegun.

Can Keng Hong tertawa getir.

"Selama tiga tahun dia akan menerima tantangan untuk bertempur dari pelbagai partai dan selama jangka waktu tersebut dia harus mempertahankan kelihayannya sehingga tidak satu kali pun menderita kekalahan, saat itulah di baru akan disebut malaikat pedang oleh khayalak umum. Karena seorang malaikat pedang harus tak terkalahkan dan tiada tandingannya di kolong langit."

Perlahan-lahan dia letakkan kotak kecil itu di atas meja, dari dalam kotak dia ambil keluar sebuah uang kuno yang terbuat dari tembaga dengan ukiran sebilah pedang aneh di atasnya, pada balik mata uang tadi terukir dua huruf besar yang berbunyi 'Malaikat Pedang'.

Ia tidak mempedulikan apakah Pek In Hoei menyetujui atau tidak, uang kuno tadi segera digantungkan di atas sarung pedangnya. "Eeei... eei... jangan begitu," seru Pek In Hoei sambil goyangkan tangannya berulang kali, "benda itu terlalu tinggi nilainya, aku tidak

berani untuk menerimanya."

"Benda itu diperoleh Cia Ceng Gak dari partai Thiam cong dengan mempertaruhkan selembar jiwanya, benda itu merupakan kebanggaan pula bagi partai Thiam cong, masa kau akan membiarkan kebanggaan partaimu itu terjatuh ke tangan orang lain..." ujar Can Keng Hong dengan wajah serius. Sepasang mata Cin Siong lo-jin tiba- tiba berkilat, serunya dari samping :

"Tuan, kau harus pergi beristirahat."

"Oooh... yah!" Can Keng Hong mengangguk, "saudara berdua, berhubung aku masih menderita penyakit parah dan tak bisa duduk terlalu lama, maafkanlah daku tak bisa menemani lebih jauh, silahkan kalian beristirahat sebentar di sini."

Kepada Cin Siong lo-jin ujarnya kembali :

"Cin siong, bimbing aku masuk ke dalam!"

Cin Siong lo-jin mengiakan berulang kali dan segera membimbing Can Keng Hong masuk ke ruang dalam.

Menanti bayangan punggung ke-dua orang itu sudah lenyap dari pandangan, Lu Kiat segera berpaling dan ujarnya dengan nada dingin

:

"Adikku, apakah kau berhasil melihat sesuatu?"

"Ada yang tidak beres?" Pek In Hoei balik bertanya sesudah tertegun sebentar.

Lu Kiat mendengus dingin.

"Hmm! Apakah kau tidak merasa bahwa kekuasaan dari Cin Siong lo-jin jauh lebih besar daripada Can Keng Hong? Aku lihat setiap gerak-gerik Can Keng Hong berada di bawah kekuasaannya sehingga dia sama sekali tiada pendirian dan di dalam menghadapi segala apa pun harus minta persetujuan lebih dahulu dari Cin Siong lo-jin..."

Pek In Hoei terkejut, seketika itu juga dia pun merasakan banyak hal yang kurang beres, timbul kecurigaan dalam hatinya.

Setelah menyapu sekejap sekeliling tempat itu, bisiknya lirih : "Kita harus waspada menghadapi segala kemungkinan."

Dalam pada itu dari balik jendela yang disinari cahaya lentera terpantul bayangan punggung Can Keng Hong, terdengar dia menghela napas panjang dan berkata :

"Sekarang kau harus lepaskan diriku!" "Haaaah... haaaah... haaaah... tentu saja!" sahut Cin Siong lo-jin sambil tertawa seram, "asal bajingan cilik itu sudah modar, setiap saat aku akan melepaskan dirimu, tetapi sekarang kau harus serahkan kunci kumala itu kepadaku, aku akan menggerakkan semua alat rahasia yang terdapat di sini dan menghancurkan ke-dua orang bajingan itu di dalam bangunan rumah ini!"

"Aku membangun alat rahasia yang terdapat dalam ruangan ini dengan susah payah bukan khusus digunakan untuk menghadapi Pek In Hoei," teriak Can Keng Hong dengan hati tercekat, "aku harap kau jangan memaksa diriku lagi, aku sudah cukup tersiksa menerima tekanan darimu..."

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... sebetulnya kau suka menyerahkan keluar atau tidak?"

Kembali Can Keng Hong menggeleng.

"Aku tidak nanti akan menyerahkan kunci kumala itu kepadamu," katanya lirih, "aku tak mau menggunakan alat rahasia tersebut untuk mencelakai dua orang pemuda yang sama sekali tak ada hubungan permusuhan dengan diriku, liang-sim-ku pada hari ini sudah cukup menderita dan tersiksa, aku harap kau jangan memaksa diriku lebih jauh!"

"Omong kosong!" bentak Cin Siong lo-jin dengan sorot mata berkilat, "sebenarnya kau suka menyerahkannya kepadaku atau tidak..."

"Tidak! Sekali pun kau bunuh diriku juga tak akan kuserahkan kepadamu..."

Sepasang alis Cin Siong lo-jin berkerut kencang, hawa membunuh yang menggidikkan hati menyelimuti seluruh wajahnya, ia gaplok pipi Can Keng Hong keras-keras lalu tertawa seram.

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... pikiranmu harus lebih terbuka, ketahuilah bahwa nasibmu berada di dalam genggamanku!"

"Kau tak usah mengancam atau menggertak diriku lagi, sekarang aku sudah tidak takut menghadapi kematian..." Rupanya Cin Siong lo-jin telah memahami betul-betul tabiat dari Can Keng Hong, setelah dilihatnya orang itu bersikeras tak mau bekerja sama dengan dirinya, dalam hati segera timbul niat untuk membinasakan dirinya.

Ia tertawa dingin dan berkata :

"Kau ini sebenarnya sama sekali tak berharga, membiarkan kau tetap hidup di kolong langit hanya akan meninggalkan bibit bencana belaka, sekarang aku tak akan bersikap sungkan-sungkan lagi terhadap dirimu. Hmmm... Hmmm... tetapi jangan kuatir, aku bisa memberikan kematian yang utuh bagimu sebab tadi kau telah menuruti perkataanku dan mau bekerja sama dengan diriku."

Kembali dia tertawa seram, setelah termenung sebentar lanjutnya

:

"Kau anggap tanpa kau serahkan kunci kumala itu kepadaku

lantas aku tak mampu untuk menggerakkan alat-alat rahasia itu? Kau mungkin sudah lupa kalau aku adalah seorang ahli dalam hal alat rahasia, asal kuperhatikan lebih seksama lagi tidak sulit rasanya untuk menemukan letak kunci utama yang mengendalikan alat-alat rahasia tersebut..."

"Hmm! Kau tak usah bermimpi di siang hari bolong, kalau ingin turun tangan cepatlah turun tangan, hati-hati kalau aku memberi perlawanan kepadamu...!" seru Can Keng Hong ketus.