-->

Imam Tanpa Bayangan I Jilid 40

 
Jilid 40

LU KIAT menggeser tubuhnya ke samping dan teriaknya : "Oooh... jadi makmu dilahirkan oleh seekor anjing betina."

Pemuda itu tak mau dirinya dimaki orang dengan kata-kata yang merugikan, maka terlontarlah makian yang jauh lebih pedas daripada makian musuhnya.

Tetapi dengan kejadian ini hawa amarah yang berkobar dalam dada Mayat Bengis tak terkendalikan lagi, telapak kanannya diayun ke depan melancarkan satu pukulan bahaya," teriaknya :

"Jika aku tak mampu menyelesaikan jiwa anjingmu itu, aku bukan manusia jagoan di dalam Benteng Kiam-poo."

Tajam sekali desiran angin pukulannya, seakan-akan gugurnya tanah berbukit yang menimpa badan, angin pukulan tersebut dengan mengandung hawa dingin yang menggidikkan hati segera mengepung empat penjuru di sekeliling tempat itu.

Lu Kiat tercekat hatinya menyaksikan datangnya ancaman angin pukulan yang begitu mengerikan, ia tahu bahwa musuhnya meyakinkan suatu ilmu pukulan beracun yang sangat lihay, tubuhnya buru-buru mengigos ke samping dan loncat mundur ke belakang dengan kecepatan laksana sambaran petir.

"Toako!" Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei segera tertawa dingin, "serahkan saja bangsat itu kepadaku."

Lu Kiat menyadari bahwa kepandaian silatnya bukan tandingan lawan, mendengar itu dia mengepos tenaga dan segera loncat ke belakang. "Kali ini aku harus saksikan kemampuanmu!" bisiknya sambil tertawa ewa.

Dalam pada itu tatkala Mayat Bengis menyaksikan serangannya tidak mengenai sasaran, hatinya segera jadi bergidik, sambil tertawa seram dan wajahnya menyeringai seram ke-dua belah tangannya direntangkan lebar-lebar, sepuluh jari tangannya dengan kuku yang panjang bergetar di udara mencari sasaran, selangkah demi selangkah ia maju mendekat si anak muda itu.

"Siapa kau?" teriaknya gusar.

"Hmm! Aku adalah orang yang sedang kalian nantikan," sahut Pek In Hoei sambil mendengus dingin.

Mayat Bengis segera menghentikan gerakan tubuhnya, dengan wajah tercengang dan sangsi ia menegur :

"Oooh...! Jadi kau adalah Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei? Apa kau tidak berbohong?"

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... tidak salah, akulah Pek In Hoei yang sedang kalian tunggu-tunggu," pemuda itu tertawa dingin, "bukankah kalian tiga sosok mayat hidup sedang menjalankan tugas dari Cui Tek Li untuk menghadang jalan bagiku? Kini aku sudah berdiri di hadapan kalian semua, setiap saat kamu boleh turun tangan."

"Oooh! Jadi kau adalah putra Pek Tiang Hong?" tanya Mayat Bengis lagi dengan hati tercekat.

Pek In Hoei melirik sekejap ke arah lootoa dari tiga mayat hidup kemudian balik tanyanya :

"Kau juga kenal dengan ayahku?"

Air muka Mayat Ganas berkerut kencang, wajahnya yang penuh codet bergetar keras menahan emosi yang berkobar-kobar, jeritnya penuh kebencian :

"Kenal... kenal... tentu saja kenal."

"Hmm! Aku tidak percaya," tukas Pek In Hoei dengan wajah menghina, "aku tidak percaya kalau ayahku sudi mengadakan hubungan dengan manusia macam kalian itu. Ciss! Semua sahabat serta kenalannya adalah manusia budiman serta orang gagah yang berbudi luhur dan berjiwa ksatria, dia tak mungkin sudi berhubungan dengan kamus semua!"

Seolah-olah dadanya terhantam oleh suatu benda yang amat berat, tiba-tiba Mayat Ganas mendesis penuh kesakitan, sorot matanya memancarkan cahaya berapi-api yang penuh mengandung hawa kegusaran, keadaan orang itu ibaratnya binatang liar yang sedang menghadapi ajalnya.

Penampilan mimik wajah itu bukan saja mengejutkan hati Jago Pedang Berdarah Dingin, bahkan Lu Kiat yang berada di belakang pun ikut berdebar keras menjumpai keadaan tersebut.

"Coba saksikanlah raut wajahku ini," ia berseru sambil tertawa seram.

"Hmm! Selembar wajah yang amat jelek dan memuakkan hati," seru Pek In Hoei dengan perasaan jijik, "belum pernah kutemui manusia yang sejelek dan sengeri wajahmu itu, setiap kali menyaksikan tampangmu aku merasa perutku kontan jadi mual dan ingin muntah. Hey! Manusia berwajah setan, sudah terlalu banyak kejahatan yang kau lakukan semacam ini, kolong langit sudah bosan menampung manusia jelek berhati kejam macam dirimu lagi, aku lihat sudah tiba waktunya bagimu untuk pulang ke neraka dan bercampur dengan bangsamu."

"Haaaah... haaaah... haaaah... tahukah engkau kenapa wajahku bisa hancur jadi begini rupa?" teriak Mayat Ganas sambil tertawa seram.

"Bagi manusia-manusia ganas yang sudah sering melakukan perbuatan jahat seperti kalian, siapa pun mempunyai keinginan untuk melenyapkan kamu semua dari muka bumi," seru Pek In Hoei ketus, "wajah kalian tidak menampilkan kebajikan dan kebaikan hati, sedang dalam hati kejahatannya melebihi raut mukanya itu, tentu saja setiap ksatria yang bertemu dengan kalian ingin merusak tampangmu itu... bila kalian suka bertobat dan tidak melakukan perbuatan jahat lagi, mungkin jiwa kalian bertiga masih bisa diselamatkan..."

"Tutup mulut!" tiba-tiba Mayat Ganas membentak keras, "sudah cukupkah perkataanmu itu?"

Pek In Hoei tertawa dingin.

"Terhadap manusia-manusia tak tahu diri semacam dirimu itu sebenarnya tak usah banyak bicara, tetapi kalau memang kau sudah merasa tersinggung hatinya oleh perkataan ku tadi, sekarang bolehlah kita lanjutkan penyelesaian urusan ini dalam beradu kepandaian..."

Mayat Ganas memegang kencang-kencang raut wajahnya yang mengerikan itu lalu mendesis penuh penderitaan, perlahan-lahan tangannya meluncur ke bawah dan angkat kepala, dengan wajah penuh kebencian.

"Tahukah engkau, bahwa wajahku bisa hancur jadi begini gara- gara perbuatan dari ayahmu..." jeritnya.

"Hasil karya ayahku?" seru Pek In Hoei tertegun, "maksudmu ayahku yang merusak wajahmu itu..."

"Hmm! Pek Tiang Hong adalah manusia rendah yang tak tahu malu..." teriak Mayat Ganas lagi sambil mendengus, "dia merusak wajahku agar aku tidak dapat bertemu manusia lagi dalam lingkungan hidup masyarakat biasa, dia suruh aku setiap harinya hanya bersembunyi dalam dunia kegelapan..."

Ia berhenti sebentar dan tertawa seram, terusnya :

"Penderitaan dan siksaan batin seperti ini tak mungkin bisa dialami oleh siapa pun, semua orang tak akan tahan kalau disiksa terus menerus dengan secara demikian."

"Aku melarang engkau memaki ayahku seenak-enaknya sendiri..." bentak Pek In Hoei sinis.

"Huuh...! Kau anggap ayahmu adalah seorang budiman? Seorang ksatria yang berbudi luhur? Tahukah engkau bukan saja ayahmu berhati kejam dan bertangan besi, dia adalah telur busuk tua yang pandai sekali menggunakan akal licik, cukup kau pandang raut wajahku ini, maka akan kau ketahui bagaimanakah rendahnya cara ayahmu menghadapi orang..."

Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei tak menyangka kalau Mayat Ganas sang lo-toa dari tiga mayat hidup menilai ayahnya begitu rendah dan seolah-olah sama sekali tak ada nilainya, meskipun dia tak tahu apa sebabnya raut muka Mayat Ganas dihancurkan oleh ayahnya, tetapi dia yakin ayahnya bisa bertindak kejam tentu didasarkan oleh alasan tertentu, tak mungkin ayahnya merusak raut wajah orang tanpa sebab, dia percaya ayahnya bukan seorang manusia berhati keji.

Maka dia lantas tertawa sinis, katanya :

"Aku duga kau tentu sudah melakukan suatu perbuatan jahat dan tertangkap basah oleh ayahku, maka ia lantas bertindak kejam terhadap dirimu... Jika demikian keadaannya, kau tak bisa menyalahkan tindak tanduknya yang keji, hal itu harus salahkan pada dirimu sendiri..."

"Hmmm! Kau serta bapakmu sama-sama telur busuk..." maki Mayat Ganas dengan penuh kemarahan.

Hawa amarah dalam dada Jago Pedang Berdarah Dingin kontan berkobar, ia memperingatkan :

"Hey manusia bermuka jelek, kalau berbicara sedikitlah berhati- hati, kau harus tahu bahwa aku tidak akan seriang ayahku tempo dulu dengan merusak wajahmu belaka, mungkin selembar sisa hidupmu itu pun akan ikut kumusnahkan pula..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... kentut busuk nenekmu, setelah bapakmu modar maka dendam sakit hatiku ini boleh dibilang sudah kutuntut separuh, sisanya yang separuh... Hmm... Hmm... hari ini akan kutagih dari badanmu..."

"Coba katakan dahulu apa sebabnya ayahku telah menghancurkan raut mukamu itu..." kata Pek In Hoei hambar.

Mayat Ganas tertegun sejenak, kemudian balik bertanya : "Mau apa kau tanyakan persoalan ini?" "Aku tidak ingin mempunyai bayangan jelek tentang ayahku di dalam benakku, maka aku harus mencari tahu lebih dahulu duduk perkara yang sebenarnya untuk kemudian akan kutentukan siapa yang benar dan siapa yang salah."

"Hmm! Aku cuma menghabiskan isi otak dua manusia hidup saja, lantaran kejadian itu ayahmu lantas tega-teganya merusak wajahku ini, sekarang katakanlah siapa yang kejam?"

"Haaaah... haaaah... haaaah... kau menghabiskan isi otak manusia hidup, sekali pun mesti mati juga pantas dan ayahku sama sekali tidak terhitung kebangetan!" sahut Pek In Hoei sambil tertawa terbahak- bahak.

"Ciiss... terhitung seberapa sih membunuh dua orang manusia?" teriak Mayat Ganas dengan penuh kemarahan.

Sambil tertawa seram tiba-tiba lengannya disambarkan ke depan, lima jari tangannya yang tajam bagaikan kuku garuda langsung mencengkeram tubuh Jago Pedang Berdarah Dingin yang berada di hadapannya.

Pek In Hoei mendengus dingin. "Hmmm! Kau cari mati."

Criiing...! Di tengah pekikan nyaring pedang mestika penghancur sang surya ikut tercabut keluar bersamaan dengan gerakan itu, hawa pedang yang menggidikkan hati dengan cepat tersebar di angkasa dan terciptalah suatu lingkaran besar di tengah kegelapan.

"Aaaah...! rupanya pedang mestika penghancur sang surya milik Cia Ceng Gak telah terjatuh ke tanganmu..." gumam Mayat Ganas termangu-mangu, agaknya ia tercengang oleh kejadian tersebut.

"Pedang mestika adalah senjata tajam yang khusus dipergunakan untuk membasmi kaum iblis dari muka bumi, aku yang bertugas melenyapkan kaum durjana dari dunia persilatan tentu saja harus menghadapi manusia-manusia laknat itu dengan pedang tajam ini." "Kentut busuk makmu..." Mayat Ganas meraung keras, tubuhnya menerjang maju ke muka, sepasang telapaknya bekerja melancarkan serangan mematikan.

Cahaya pedang tiba-tiba berkilauan di angkasa diikuti jeritan ngeri yang mendirikan bulu roma berkumandang memecahkan kesunyian, dua buah lengan yang berlumuran darah terlempar ke udara dan rontok ke bumi.

Mayat Ganas dengan wajah menyeringai seram tiba-tiba tertawa keras, teriaknya :

"Haaaah... haaaah... haaaah... bagus... bagus sekali... ayahmu telah merusak wajahku dan sekarang kau melenyapkan pula sepasang lenganku, aku tak mau hidup lagi di kolong langit."

Dengan penuh perasaan dendam dia melotot sekejap ke arah pemuda itu, tiba-tiba ia menggigit putus lidah sendiri, diiringi menyemburnya darah segar dari bibir orang itu, melayanglah selembar jiwanya pulang ke alam baka.

"Kau telah memaksa mati toako kami!" bentak Mayat Bengis dengan gusarnya.

"Huuuh... manusia semacam dia, sekali pun mati juga tak perlu disayangkan..." ejek Pek In Hoei sambil tertawa dingin.

"Bangsat kamu..." bagaikan orang gila Mayat Bengis segera menerjang ke depan, dari punggungnya dia lepaskan sebuah senjata pecut yang panjang, setelah digetarkan di udara menciptakan berpuluh-puluh buah jalur pecut yang panjang, ia serang Pek In Hoei habis-habisan.

Jago Pedang Berdarah Dingin mendengus ketus menyaksikan datangnya ancaman itu, katanya :

"Toakomu cukup mengagumkan hatiku sebab dia masih memiliki keberanian untuk bunuh diri, aku tak tahu apakah kau juga mempunyai keberanian untuk melakukan bunuh diri atau tidak, seandainya kau pun ada niat untuk bunuh diri lebih baik pertarungan ini tak usah dilanjutkan lagi." "Kau tak usah bermimpi di siang hari bolong," gembor Mayat Bengis penuh kegusaran, "sampai mati pun aku Mayat Bengis tak mau menyerah apalagi minta ampun kepadamu!"

Setelah menyaksikan rekan sejawatnya mati karena bunuh diri, Mayat Bengis yang tersohor karena kekejiannya itu benar-benar tak sanggup menguasai diri, tanpa memikirkan keselamatan diri sendiri lagi dia mainkan senjata pecutnya sedemikian rupa hingga seluruh jalan darah penting di tubuh lawan sudah berada di bawah kurungannya.

Hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajah Jago Pedang Berdarah Dingin, dia merasa hawa marah dalam dadanya bergolak keras dan sukar dikendalikan lagi, suatu keinginan untuk membinasakan lawannya segera timbul menguasai otaknya.

Pedang mestika penghancur sang surya laksana titiran angin puyuh langsung berkelebat ke depan menerjang masuk lewat kurungan bayangan pecut yang amat rapat itu.

"Aduuuh...!" kembali terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan keheningan malam.

Di kala tusukan pedang yang meluncur ke depan laksana sambaran kilat itu menerobos masuk ke tengah kepungan bayangan pecut yang bersusun, jeritan tadi berkumandang.

Tampaklah sekujur tubuh Mayat Bengis berlepotan darah, tubuhnya terbelah jadi dua bagian dan roboh ke atas tanah, bau amis darah dan hancuran isi perut bercampur aduk di tepi kebun menyiarkan bau amis yang memualkan perut.

Menyaksikan kesemuanya itu Lu Kiat hanya bisa gelengkan kepalanya sambil berkata :

"Dia adalah korban ke-empat yang mati penasaran di ujung pedangmu itu!"

"Bebaskan jalan darah dari Mayat Dingin..." perintah Pek In Hoei sambil mendengus dingin. Lu Kiat melengak, dengan pandangan tidak mengerti dia lirik sekejap ke arah Jago Pedang Berdarah Dingin kemudian berjongkok di sisi tubuh Mayat Dingin dan menepuk dua kali di atas jalan darahnya.

Sekujur badan Mayat hidup itu gemetar keras, ia segera tersadar kembali dari pingsannya.

Uaaak! Ketika bibirnya bergerak hendak berbicara, darah segar memancar keluar dari mulutnya menodai seluruh pakaian yang dia kenakan, rasa kaget dan ngeri terlintas di atas wajahnya.

Tetapi setelah sorot matanya menyapu sekejap ke arah mayat yang bergelimpangan di atas ceceran darah segar, dengan cepat ia sudah tahu apa sebetulnya yang telah terjadi, ia menghembuskan napas panjang lalu berbisik dengan bibir gemetar :

"Kalian..."

"Saudara-saudaramu telah berangkat lebih duluan darimu... mungkin mereka sudah menanti kedatanganmu di tengah perjalanan..." seru Pek In Hoei ketus.

Mayat Dingin menguak-uak perdengarkan jeritan aneh yang mengerikan hati, kemudian bisiknya lirih :

"Aku pun tak bisa hidup lagi!"

Pek In Hoei melirik sekejap ke arah Lu Kiat kemudian ajaknya : "Toako, mari kita lanjutkan perjalanan dan coba membobol

rintangan berikutnya."

Sambil gelengkan kepalanya berangkatlah ke-dua orang itu menyelusuri lorong kecil menuju ke tempat kegelapan.

Meskipun dua rintangan berhasil mereka lalui dengan gampang, bagaimanakah nasib pada rintangan berikutnya mereka sendiri pun tak tahu.

Bayangan merah bergoyang di ujung jalan yang panjang itu, beberapa buah lampu lentera menyinari sekitar tempat itu dan mengusir kegelapan yang menyelimuti jagad, setelah melewati jalan itu mereka akan tiba di depan pintu benteng, jika rintangan ke-tiga bisa mereka lampaui dengan selamat maka orang Benteng Kiam-poo tidak berhak untuk merintangi perjalanan mereka berdua lagi.

Tetapi justru pada dua rintangan yang terakhir inilah kekuatan ini dari Benteng Kiam-poo diletakkan, setiap anggota Benteng Kiam-poo percaya bahwa mereka berdua tak nanti berhasil melampaui rintangan ke-tiga, apalagi rintangan ke-empat yang dijaga sendiri oleh poocu mereka.

Di bawah kilauan cahaya merah berdiri kaku empat orang pria tinggi kekar dengan gagahnya, pedang panjang tersoren di punggungnya dengan sepasang mata memandang lurus ke depan.

Sepintas lalu ke-empat orang itu nampak begitu gagah dan berjiwa ksatria, tetapi setelah diamati lebih jauh maka terasalah hawa sesat yang memancar keluar dari tubuh mereka, menimbulkan perasaan jemu bagi yang memandangnya.

Ke-empat orang manusia kekar itu sudah setengah malaman lebih menunggu di tempat itu, menantikan kehadiran orang yang dinantikan oleh mereka, tetapi sampai begitu jauh tak terlihat sesosok bayangan manusia pun yang mendekati ruang jaga mereka, hal ini menimbulkan perasaan kecewa dalam hati kecil mereka, kecewa karena tak punya kesempatan untuk turun tangan.

Langkah kaki yang berat bergema memecahkan kesunyian membangkitkan kembali semangat ke-empat orang itu, seakan-akan srigala liar yang mendadak menemukan mangsanya delapan sorot mata segera beralih ke arah kiri... sebab suara langkah kaki itu muncul dari sudut jalan sebelah kiri...

Dari balik jalan kecil yang sepi muncul sesosok bayangan manusia, orang itu berjubah panjang berjenggot hitam dan melangkah dengan tindakan berat, seakan-akan dalam hatinya punya ganjalan beban yang berat sekali... selangkah demi selangkah maju terus ke muka...

"Oooo...! Poocu..." Seruan itu mengendorkan pikiran dan perhatian mereka berempat yang sudah tercekam dalam ketegangan, namun kehadiran sang poocu yang tak pernah diduga sebelumnya ini cukup menegunkan pula hati mereka.

Setelah memberi hormat mereka memandang ke arah pemimpinnya ini dengan pandangan tak habis mengerti.

"Yan An!" seru Cui Tek Li setelah menghentikan langkah kakinya.

"Ada apa poocu?"

Dari antara ke-empat orang pria kekar itu berjalan keluar seorang pria beralis tebal yang mempunyai tahi lalat di atas jidatnya, dengan pandangan tertegun ia memandang sekejap ke arah pemilik benteng itu, lalu tanyanya kembali dengan suara lirih :

"Poocu, ada urusan apa?? Katakanlah!"

Cui Tek Li pemilik dari Benteng Kiam-poo itu menghela napas panjang, setelah ragu-ragu sebentar ujarnya :

"Pek In Hoei telah melampaui dua rintangan dengan membinasakan lima orang jago kita, sekarang satu-satunya harapan terakhir dari benteng kita terletak pada pundak kamu berempat, aku tidak berharap Pek In Hoei berhasil melampaui pula rintang yang ke- tiga ini..."

"Poocu tak usah kuatir, dan kau pun tak usah terlalu merisaukan diri," seru Yan An sambil tertawa keras, "dengan tenaga gabungan dari kami empat orang raksasa, siapakah yang mampu menandingi kekuatan kami?? Coba bayangkanlah sendiri Pek Tiang Hong yang tempo dulu dikatakan sangat lihay pun tak mampu meloloskan diri dari cengkeraman kami, apalagi putranya... hmmm... hmmm... aku Yan An tidak percaya kalau dia bisa lebih dahsyat daripada ayahnya di masa silam..."

"Kalian tak boleh bertindak terlalu gegabah, Jago Pedang Berdarah Dingin secara beruntun mampu menjebolkan pertahanan dari dua rintangan, dari sini bisa kita lihat bila ia benar memiliki kekuatan yang tak boleh dianggap remeh, jika kali ini mereka pun berhasil merobohkan pertahanan dari kamu berempat, aku lihat... terpaksa nama Benteng Kiam-poo kita mesti diganti..."

Kecuali ilmu silat yang dimiliki Cui Tek Li, boleh dibilang Yan An tak pernah percaya kalau orang lain memiliki kemampuan sedahsyat itu, tetapi setelah menyaksikan kekuatiran poocu apalagi pemimpin mereka itu bicara sambil bermuram durja, tak tahan segera tanyanya :

"Poocu, apakah kau tidak punya keyakinan untuk berhasil menangkan dirinya?"

"Aaaa... tentang soal ini sulit untuk dikatakan," jawab Cui Tek Li setelah tarik napas panjang-panjang, "Aku sendiri pun merasa tak punya kemampuan untuk merubuhkan bocah muda itu..."

"Aaaai! Masa iya? Poocu, aku tidak percaya... " teriak pria yang berada di paling ujung sebelah tertegun sebentar.

"Gui Ku Jin!" seru Cui Tek Li dengan mata melotot besar, "kau anggap kepandaian silat yang kumiliki adalah nomor satu di dunia dan tiada tandingan lagi di kolong langit? Meskipun ilmu pedang yang kumiliki nomor satu di seluruh dunia persilatan, itu bukan berarti aku sudah tiada tandingannya lagi di dalam jagat ini, kau mesti tahu pedang mestika penghancur sang surya dari partai Thiam cong sudah cukup digunakan untuk melawan diriku..."

Ia tertawa rawan, setelah berhenti sebentar ujarnya kembali : "Tetapi kalian pun tak usah terlalu takut, Benteng Kiam-poo

bukanlah manusia-manusia tolol yang pandainya hanya bikin malu saja..."

Empat raksasa bertenaga sakti itu terdiri Yan An, Gui Ku Jin, Bong Yu Seng serta Hay San Jin, untuk menundukkan mereka berempat di masa yang lampau Cui Tek Li harus mengorbankan banyak tenaga dan pikiran sebelum akhirnya berhasil, ia harus bertempur sengit selama dua hari dua malam lamanya untuk menentukan siapa menang siapa kalah, oleh sebab itulah dia sangat memahami kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki ke-empat orang ini.

Kalau dibicarakan dari tingkatan tenaga dalam yang dimiliki ke- empat orang itu, maka boleh dibilang Yan An paling lihay sedang Hay San Jin paling lemah, tetapi jika Pek In Hoei sekaligus ingin bertempur melawan ke-empat orang ini, maka boleh dibilang keadaan tersebut ibaratnya batu membentur telur.

"Poocu!" terdengar Bong Yu Seng berkata dengan suara tergagap, "dari nada pembicaraanmu barusan, seolah-olah kau melukiskan kemampuan yang dimiliki Pek In Hoei jauh lebih lihay daripada bapaknya, jika kami berempat hari ini jatuh kecundang maka aku rasa kau pun bakal kehilangan muka pula, karena itu bagaimana pun juga kau harus carikan akal bagi kita orang untuk berhasil membinasakan bangsat cilik itu, bila bibit bencana dapat disingkirkan maka hal ini bukan saja bermanfaat bagi poocu, bagi kami pun menguntungkan..."

"Ehmmmm..." Cui Tek Li mengangguk tanda menyanggupi, "aku memang sudah sepantasnya mencarikan suatu akal bagi kalian berempat..."

Air mukanya tiba-tiba berubah jadi serius, hal ini membuat hati ke-empat orang raksasa itu tercekat, detik itu juga mereka ikut merasakan bahwa pihak lawan tentu ampuh sekali dan tidak gampang untuk menghadapinya... Dengan pandangan gelisah bercampur kuatir sorot mata ke-empat orang itu dialihkan ke atas wajah poocu Benteng Kiam-poo, mereka berharap agar sang pemimpin mereka itu berhasil menemukan suatu jalan yang bagus.

Setelah termenung beberapa saat lamanya Cui Tek Li segera menghela napas panjang dan merogoh ke dalam sakunya untuk mengambil keluar sebuah botol kecil berwarna hijau, dari botol itu dia ambil keluar empat butir obat kecil berwarna merah dan diletakkan di atas telapaknya. "Poocu, obat apakah itu?: tanya Hay San Jin dengan nada tercengang.

"Obat ini bukan lain adalah obat yang sangat mujarab dan tersohor untuk menambah tenaga dari Tibet," kata Cui Tek Li dengan wajah serius, "seandainya seseorang menelan sebutir pil ini maka tenaga dalam tubuhnya akan bertambah kuat dua kali lipat dari keadaan semula. Obat ini kubuat atas petunjuk seorang tokoh sakti dari Tibet, biarlah kali ini kugunakan untuk melipat gandakan kekuatan tubuh kalian berempat dengan harapan Pek In Hoei bisa kita musnahkan dengan cepat, dalam keadaan begini jika bangsat she Pek itu bermaksud melakukan perlawanan, itu berarti dia mencari penyakit buat diri sendiri..."

Mendengar perkataan itu Gui Ku Jin serta Hay San Jin jadi sangat kegirangan, mereka sambar sebutir pil merah tadi dan dimasukkan ke dalam mulutnya.

Yan an serta Bong Yu Seng saling bertukar pandangan sekejap, kemudian mereka masing-masing pun menelan sebutir.

Cui Tek Li segera tertawa ringan sesudah menyaksikan empat orang jago lihaynya menelan obat itu, katanya :

"Merka sudah hampir tiba di sini, aku harus berlalu lebih dahulu untuk mempersiapkan diri..."

Saat ini air mukanya sudah tidak bermuram durja lagi seperti keadaannya sewaktu datang ke situ, seakan-akan sebuah masalah besar telah berhasil diselesaikan olehnya dengan baik, dengan badan yang enteng tubuhnya segera bergerak menuju ke arah jalan kecil di mana ia datang tadi.

Di balik pepohonan yang lebat dan gelap seorang perempuan tua berwajah sayu berdiri mematung di tempat itu, ketika menjumpai Cui Tek Li berjalan menghampiri dirinya ia segera maju sempoyongan.

"Apakah kau telah berikan obat pelenyap tenaga kepada mereka berempat??" "Ehmmmm! Dan sekarang kau tak usah kuatir lagi," sahut Cui Tek Li pemilik Benteng Kiam-poo sambil mengangguk, "demi dirimu aku tidak sayang untuk mengorbankan begitu banyak jago-jago lihayku, mungkin jiwaku telah kau rubah sama sekali... tetapi sayang sekali kau tidak berhasil merubah diri Pek In Hoei..."

"Suamiku!" seru perempuan tua itu dengan air mata bercucuran, "aku merasa sangat berterima kasih sekali kepadamu karena engkau mau bersikap demikian terhadap In Hoei, di kemudian hari aku bisa memberitahukan kesemuanya itu kepadanya, akan kukatakan betapa kasih sayangnya dirimu terhadap dia, jika ia benar-benar berani datang lagi untuk menuntut balas, aku pasti menegur dan memarahi dirinya..."

"Aku tidak takut menghadapi dirinya, jika ia berani datang lagi pasti akan kuberi peringatan yang tajam kepadanya," seru Cui Tek Li dengan suara dingin, "hujin mari kita pulang!"

Perempuan tua itu gelengkan kepalanya.

"Kau belum mengabulkan permintaanku, lepaskanlah In Hoei pada rintangan yang terakhir..."

"Hujin! Aku telah mengorbankan ke-empat orang pembantu setiaku itu demi memenuhi keinginanmu, masa kau tak bisa memahami maksud hatiku?? Tentu saja aku tak akan menyusahkan dirinya lagi..."

Suara langkah kaki manusia yang lirih secara lapat-lapat berkumandang datang, ketika mereka angkat kepala memandang ke arah samping kanan, terlihatlah dengan langkah gagah Pek In Hoei si Jago Pedang Berdarah Dingin beserta Lu Kiat perlahan-lahan maju mendekat.

"Aku ingin menyaksikan putraku berjuang membobolkan rintangan yang ke-tiga ini..." bisik perempuan tua itu mendadak.

"Aaaaai... aku lihat kau terlalu menyayangi dirinya..." omel Cui Tek Li sambil tertawa, kepalanya digelengkan berulang kali. Di tengah kegelapan Pek In Hoei jalan bersanding di sisi Lu Kiat, dari tempat kejauhan mereka sudah menangkap cahaya merah itu dan mereka pun dapat menyaksikan pula empat orang jago kekar di bawah sorot cahaya lampu lentera itu.

Dengan alis berkerut Lu Kiat segera berbisik :

"Aneh sekali... mengapa semua jago yang kita temui pada malam ini semuanya merupakan manusia-manusia laknat yang sudah tersohor akan kejahatannya di kolong langit..."

"Kenapa? Apakah kau juga kenal dengan ke-empat orang itu..." tanya Pek In Hoei setelah tertegun sejenak.

Lu Kiat tarik napas panjang-panjang, terhadap ke-empat orang itu bukan saja kenal bahkan boleh dibilang amat mengenalinya. Sepuluh tahun berselang mereka pernah secara beruntun membinasakan enam belas orang jago lihay dari kalangan lurus dalam waktu tiga hari, waktu itu peristiwa tersebut sangat menggemparkan dunia persilatan, tiap partai besar mengirimkan jagonya untuk mencari jejak ke-empat orang pembunuh itu tetapi bukan saja ilmu silat yang dimiliki ke- empat orang itu sangat lihay, kecerdasan mereka pun luar biasa sekali, beberapa kali terjadi bentrokan setelah membunuh mereka segera melarikan diri... tak pernah sekali pun menderita luka akibat pertarungan...

"Dari mana kau bisa mengetahui persoalan ini dengan begitu jelas..." tanya Pek In Hoei sesudah tertegun sebentar.

"Waktu itu usiaku masih amat muda, aku ikut ayah menghadiri pergerakan tersebut, karenanya ke-empat orang itu telah memberi kesan yang mendalam bagiku, selama hidup aku tak mungkin bisa melupakan diri mereka lagi..."

Sekilas rasa ngeri dan takut terlintas di wajahnya, dia melanjutkan kembali kata-katanya :

"Kita berdua tak akan mampu menghadapi sepak terjang ke- empat manusia ganas itu, menurut pendapatku lebih baik kita mencari jalan lain saja..." "Maksudmu kau suruh aku melarikan diri dari sini??" tanya Pek In Hoei tercengang.

"Banyak sekali cara hidup seorang manusia di kolong langit, kenapa kita mesti bersikeras untuk memikirkan masalah yang sama sekali tak ada gunanya itu? Bukankah secara terang-terangan kita sudah tahu bahwa kita berdua bukan tandingannya, kenapa kita mesti ngotot menghantar kematian buat diri sendiri?? Adik In Hoei, lebih baik turutilah perkataanku..."

Dengan cepat Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei gelengkan kepalanya berulang kali.

"Selama hidup belum pernah aku mundur dan melarikan diri sebelum melangsungkan pertarungan..."

"Adik In Hoei, sekarang bukan saatnya yang tepat bagi kita untuk berlagak sok pahlawan," seru Lu Kiat dengan gelisah, ia menghela napas panjang.

"Aku ingin memberitahukan pula satu hal kepadamu, mungkin kau bisa menyetujui cara bekerja yang kuusulkan ini, bagaimanakah kemampuan dari malaikat pedang Cia Ceng Gak dari partaimu?"

"Dia adalah malaikat pedang dari partai kami," jawab Pek In Hoei dengan wajah serius.

"Nah! Sekarang kau akan merasa lebih jelas lagi, tahukah engkau bahwa kehebatan Cia Ceng Gak di dalam permainan pedang boleh dikatakan sudah tiada bandingannya di kolong langit. Tetapi ketika ia bertempur melawan ke-empat orang jago itu, dengan mengorbankan diri hingga terluka ia baru berhasil menangkan empat jurus serangan dari mereka, coba pikirlah andaikata mereka tidak memiliki ilmu silat yang betul-betul maha dahsyat, mampukah ke-empat orang manusia ganas itu menghadapi serangan berantai dari seorang malaikat pedang?"

Tercekat perasaan hati Jago Pedang Berdarah Dingin mendengar perkataan itu, dia merasa pikirannya semakin berat dan tidak tenang, hal ini bukanlah disebabkan ia jeri atau takut, tetapi ia sedang membayangkan andaikata dia dengan andalkan ilmu pedang penghancur sang surya yang maha sakti itu gagal mengalahkan ke- empat manusia ganas itu maka itu berarti nama baik partai Thiam cong akan ikut runtuh bersama kekalahan yang diderita olehnya.

Dengan pandangan tajam ia melirik sekejap ke arah empat orang pria tinggi kekar itu, tampaklah olehnya ketika itu mereka sedang menengok ke arahnya dengan pandangan dingin, dari sikapnya yang congkak dan jumawa mereka bisa merasakan bahwa sebetulnya musuh-musuh tangguhnya itu tidak pandang sebelah mata pun terhadap dirinya.

"Toako, ayoh kita maju ke sana!" seru Pek In Hoei kemudian dengan tegas setelah meraba pedang penghancur sang surya-nya.

"Adik In Hoei, apakah kau nekad hendak membentur batu? Ketahuilah keadaan kita bagaikan telur dengan batu karang," seru Lu Kiat dengan perasaan kaget.

"Hmmm! Apakah kita mesti ngeloyor pergi dari hadapan muka orang? Perbuatan ini jauh lebih memalukan daripada dibunuh musuh, aku tidak sudi melakukan perbuatan yang sangat menurunkan derajatku itu. Toako! Bila kau ingin berlalu, pergilah seorang diri, aku si Jago Pedang Berdarah Dingin tidak mungkin dapat melakukan hal ini."

Senyuman dingin yang anggun dan sombong tersungging di ujung bibirnya yang tipis, sepasang matanya berkilat dan menyiarkan cahaya tajam, ia menengok sekejap ke arah empat tokoh maha sakti itu kemudian perlahan-lahan maju ke depan.

Semangat jantannya yang tidak jeri menghadapi bahaya serta jiwa ksatrianya menyongsong kematian yang setiap saat mengancam datang, terpancar keluar dari tubuh orang muda itu, keteguhan serta kekerasan hatinya hampir saja menyelimuti suasana di sekeliling tubuhnya.

Tergetar keras hati Lu Kiat menyaksikan kegagahan rekannya itu, timbul rasa malu dalam hati kecilnya, ia tarik napas panjang-panjang dan segera menyusul di belakang tubuhnya, rasa putus asa dan jeri yang semula menyelimuti wajahnya kini tersapu lenyap hingga tak berbekas.

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... siapkah di antara kalian yang bernama Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei?" tegur Yan An sambil tertawa seram.

"Siapakah engkau?" sahut Pek In Hoei sambil tertawa, hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, "aku Pek In Hoei memberi hormat!"

Yan An tertegun dan berdiri melongo, rupanya ia tak mengira kalau jago muda yang tersohor namanya di kolong langit serta dikenal orang sebagai Jago Pedang Berdarah Dingin itu tidak lebih hanya seorang pemuda yang masih muda usia, ia berseru tertahan sedang satu ingatan dengan cepat terlintas di dalam benaknya.

"Poocu melukiskan orang ini dengan begitu hebatnya, tak nyana yang dia maksudkan hanyalah seorang bocah cilik yang masih berbau tetek, aaah! Benarkah pemuda ini yang telah menimbulkan gelombang besar di dalam dunia rimba persilatan."

Berpikir sampai di situ dia lantas menegur :

"Betulkah kau adalah putranya Pek Tiang Hong?" "Apa kau anggap aku suka mencatut nama orang lain?"

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... rupanya kau adalah seorang manusia yang luar biasa sekali, sampai-sampai tiga mayat hidup pun menemui ajalnya di tanganmu, tidak aneh kalau Poocu memandang begitu serius terhadap kekuatanmu itu, tapi sayang seribu kali sayang kelihayanmu yang luar biasa itu bakal hancur berantakan di atas she mu itu."

"Apakah maksudmu?" tegur Pek In Hoei melengak.

"Karena kau she Pek maka kau harus mati karena orang she Pek tak seorang pun merupakan orang baik."

"Bangsat!" bentak Pek In Hoei gusar, "air ludah yang muntah keluar dari mulut baumu itu benar-benar memuakkan sekali, tidak aneh kalau udara di sekitar sini terasa begitu bau seperti kentut busuk, ternyata di sini ada anjing budukan yang sedang melepaskan kentut." "Bajingan cilik, hati-hatilah kalau bicara," tegur Bong Yu Seng sambil tertawa seram, "kau berani mengucapkan kata-kata semacam

itu, berarti pula kau bersikap kurang ajar terhadap toako kami." "Bagaimana dengan engkau sendiri? Perkataanmu toh tidak

sedap didengar, itukah yang dinamakan sopan?"

Sejak terjun ke dalam dunia persilatan Bong Yu Seng belum pernah dicemoohkan dengan kata-kata yang tak sopan, ketika menyaksikan Pek In Hoei yang begitu jumawa seakan-akan sama sekali tak pandang sebelah mata pun terhadap dirinya, ia jadi naik darah, sambil tertawa seram teriaknya keras-keras :

"Bajingan cilik, rupanya kalau kau tidak diberi peringatan yang pedas, maka kau tak akan tahu sampai dimanakah kelihayanku."

Pedang panjang dalam genggamannya segera digetarkan keras- keras, sekilas cahaya busur terlontar ke tengah udara dan menggulung keluar dengan cepatnya.

Lu Kiat segera menggerakkan tubuhnya sambil berseru :

"Aku dengar ilmu silat yang kau miliki lihay sekali, aku ingin sekali mohon petunjuk darimu."

Tercengang hati Bong Yu Seng ketika menyaksikan Lu Kiat dengan senjata terhunus menyongsong kedatangannya, sesudah tertegun sejenak tegurnya :

"Bocah keparat, kau tidak takut menghadapi kematian?"

Pada saat ini keberanian dalam hati Lu Kiat berkobar, ia merasa ada segulung hawa panas yang bergelora dalam dadanya, membuat rasa jeri dan takut yang semula menyelimuti dirinya tersapu lenyap.

Sambil tertawa keras dengan suara yang lantang, pedang panjang dalam gengamannya laksana kilat membacok ke depan.

"Hmmm... tak kunyana kau pun punya sedikit simpanan juga!" ejek Bong Yu Seng sambil mendengus dingin. Rupanya ia tertarik oleh permainan pedang Lu Kiat yang begitu aneh dan saktinya itu, tanpa terasa timbul kegembiraannya untuk melayani permainan lawan, pedangnya dengan cepat diputar dan mencukil ke atas, arah serangannya aneh dan sama sekali tidak terduga.

Lu Kiat terkesiap, ia merasa permainan pedang lawannya merupakan sejurus serangan yang belum pernah dijumpai sebelumnya, buru-buru dia menyingkir ke samping dan menghindarkan diri.

Tetapi kemana pun Lu Kiat pergi dan bagaimana pun cepatnya dia berusaha untuk menghindarkan diri, jurus serangan lawan yang begitu cepat selalu membuntuti di belakang tubuhnya, hal ini membuat dia terkejut dan segera pikirnya :

"Jurus serangannya benar-benar aneh sekali, entah permainan apakah itu..."

Dalam keadaan yang terdesak dan keteter hebat, terpaksa pemuda she Lu itu harus putar badan sambil melancarkan tangkisan, segenap kekuatan tubuh yang dimilikinya segera dikerahkan keluar.

Traaang...! Terdengar suara benturan nyaring yang memekakkan telinganya, percikan bunga api muncrat ke-empat penjuru, sekilas cahaya putih seketika memancar keluar mengiringi benturan nyaring tersebut, setelah berputar satu lingkaran busur di udara cahaya putih tadi rontok ke atas tanah.

Air muka Lu Kiat berubah hebat, serunya dengan suara gemetar

:

"Aku..."

Ujung pedang lawan yang tajam telah menempel di atas

tenggorokannya memaksa pemuda itu tiada kesempatan untuk menggerakkan tubuhnya lagi, dengan pandangan ngeri bercampur takut dia awasi wajah Bong Yu Seng tanpa berkedip.

"Keparat cilik, bagaimana rasanya serangan pedangku ini?" jengek jago she Bong itu sambil tertawa seram. Mimpi pun Lu Kiat tak pernah menyangka dia sebagai seorang jago pedang kenamaan yang sudah lama terjun di dalam dunia persilatan harus menelan kekalahan di tangan orang dalam tiga jurus serangan, ia merasa malu dan kehilangan muka, sambil menahan rasa dendam teriaknya keras-keras:

"Ayoh sekalian bunuhlah diriku! Ayoh cepat turun tangan!" "Heeeeh... heeeeh... heeeeh... persoalan itu hanya menunggu soal

waktu saja, apa yang perlu kau gelisahkan?" sahut Bong Yu Seng sambil tertawa seram.

Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei berdiri tertegun melihat kesemuanya itu, ia tak mengira kalau pihak lawan memiliki ilmu silat yang begitu dahsyat sehingga Lu Kiat dengan kepandaian ilmu pedangnya yang cukup tangguh harus menelan kekalahan dalam tiga jurus belaka, perubahan tersebut berlangsung terlalu cepat membuat ia tak sempat memberikan pertolongan.

Dengan wajah serius ia segera bergerak maju ke muka, tegurnya dengan nada berat :

"Bawa pergi tudingan pedangmu itu!"

"Hehmmm... hehmmmm... hehmmm... dengan andalkan apa kau hendak memerintah diriku? Bangsat cilik, pentangkan matamu lebar- lebar dan coba lihat siapakah aku, jangan kau anggap aku begitu tak becus seperti gentong nasi hingga angkat pedang pun tak mampu..." 

"Aku tidak merasa bahwa kau memiliki suatu kepandaian yang tinggi di dalam permainan pedang," seru Pek In Hoei dengan nada hambar, "kemampuan yang kau miliki sekarang hanya bisa terhitung sebagai suatu hasil yang kecil sekali, untuk memperdalam satu tingkat lagi... Hmm kau masih terlampau jauh..."

Criiing...! Tiba-tiba terdengar suara dentingan nyaring berkumandang di udara, sekilas cahaya putih meluncur ke depan dengan kecepatan bagaikan petir. Ketika Bong Yu Seng merasakan pandangan matanya jadi silau, tahu-tahu tudingan pedang dalam genggamannya sudah tersampok ke samping.

Menggunakan kesempatan yang sangat baik itulah Lu Kiat segera meloloskan diri dari ancaman maut.

"Toako, kau tidak terluka bukan?" tegur Pek In Hoei sambil tersenyum setelah dilihatnya pemuda she Lu itu lolos dari ancaman bahaya maut.

Sikap pemuda she Pek itu masih tetap tenang-tenang saja dan seakan-akan ia tak pernah melakukan sesuatu apa pun, baik gerakan mencabut pedang mau pun gerakan masukkan kembali senjatanya ke dalam sarung, semua berlangsung dalam sekejap mata dan cepat hingga sukar diikuti dengan pandangan mata.

Demonstrasi penampilan ilmu yang begini dahsyatnya itu bukan saja menggerakkan hati Bong Yu Seng, sekali pun Lu Kiat yang mengetahui akan kelihayan dari rekannya pun diam-diam ikut kagum dan memuji tiada hentinya.

"Bocah keparat!" seru Bong Yu Seng dengan napas tercengang, "tak kunyana permainan pedangmu begitu cepat dan luar biasa..."

Sesudah mengetahui akan kelihayan musuhnya kali, ini raksasa bertenaga sakti yang bernama Bong Yu Seng ini tak berani pandang enteng lawannya lagi, dengan wajah serius dia angkat pedangnya ke atas sesudah tarik napas panjang ia menerjang maju ke depan mendekati pemuda she Pek itu.

"Bong Yu Seng! Cepat kembali, hari ini kita telah berjumpa dengan seorang jago lihay..." teriak Yan An dengan wajah serius.

Perlahan-lahan dia cabut pedangnya, setelah membentuk gerakan melingkar di tengah udara, senjata itu perlahan-lahan disilangkan di depan dadanya.

Inilah tanda rahasia yang memerintahkan anak buahnya untuk membentuk barisan pedang, Gui Ku Jin serta Bong Yu Seng dengan cepat meloncat ke muka, masing-masing berdiri di satu posisi, dalam waktu singkat Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei sudah terkurung di tengah kepungan.

Lu Kiat jadi terperanjat, buru-buru teriaknya :

"Adik In Hoei, tunggulah sebentar! Akan kubantu dirimu..."

Dengan cepat dia menyambar pedang tajamnya yang menggeletak di atas tanah, kemudian dengan wajah serius melangkah masuk ke dalam kurungan barisan pedang itu.

Tercekat hati Jago Pedang Berdarah Dingin, ia berteriak : "Toako, jangan maju kemari!"

"Tidak!" tampik Lu Kiat sambil menggeleng, "aku tidak akan membiarkan engkau seorang menempuh bahaya..."

"Toako bukannya aku tidak pandang sebelah mata terhadap dirimu, terus terang saja kukatakan musuh yang harus kita hadapi sekarang terlalu ampuh, jika kau turut serta dalam pertarungan ini maka bukan saja tidak akan membantu apa-apa bahkan malah akan mencabangkan pikiranku untuk melindungi keselamatanmu."

"Tentang soal ini," Lu Kiat merasa sakit hati, akhirnya ia menghela napas panjang, "Aaaai...! Mungkin perkataanmu ada benarnya."

Pemuda ini pun menyadari sampai di manakah taraf kepandaian yang ia miliki, jika ilmu pedangnya dibandingkan dengan ilmu pedang milik Jago Pedang Berdarah Dingin maka ia masih ketinggalan jauh sekali. Seperti apa yang dikatakan Pek In Hoei tadi, ikut sertanya dia dalam pertarungan itu bukan saja sama sekali tak ada gunanya, bahkan justru akan merunyamkan suasana.

Karena itu dengan mulut membungkam dan menekan rasa sedih dalam hatinya, ia mundur kembali ke belakang.

"Adik In Hoei," bisiknya dengan suara gemetar, "jika kau tidak beruntung dan mati binasa di tempat ini, aku pun tidak ingin hidup lagi!"

"Kenapa? Kenapa kau harus berbuat demikian?" tegur Pek In Hoei dengan jantung berdebar keras, "Toako! Jangan sekali-kali kau mempunyai jalan pikiran seperti itu, seandainya nasibku jelek dan menemui ajal di tempat ini maka kau harus berusaha melarikan diri, latihlah kembali ilmu silatmu dengan tekun kemudian balaskan sakit hatiku."

"Hmmm... hmmm... gampang amat kalau bicara," jengek Yan An sambil tertawa seram, "kalau kau modar maka dia pun tak akan lolos dari tempat ini."

Jago Pedang Berdarah Dingin mengerutkan sepasang alisnya, selintas hawa napsu membunuh yang tebal berkelebat memenuhi wajahnya, satu senyuman dingin tersungging di ujung bibir membuat pemuda itu nampak jumawa sekali.

"Huuh...! Kau anggap aku pasti bernasib jelek dan menemui ajal di tanganmu?"

"Haaaah... haaaah... haaaah... kejadian ini tak usah diragukan lagi, setelah kami di kolong langit jarang sekali terdapat manusia yang mampu menandingi tenaga gabungan kami apalagi kau..."

"Hmm! Siapa tahu kalau aku adalah salah seorang dan antaranya," sela pemuda itu dengan cepat.

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... hal itu merupakan suatu bagian yang sama sekali tak masuk di akal," ejek Yan An dengan nada menghina, "jika kau mampu meloloskan diri dari kepungan barisan pedang kami dalam keadaan hidup, maka kami empat saudara akan melakukan bunuh diri di hadapanmu, waktu itu kau tak usah turun tangan sendiri lagi."

Orang itu terlalu percaya pada kekuatan sendiri, dalam pandangan matanya di kolong langit tak terdapat seorang manusia pun yang berharga untuk dinilai apalagi pihak lawannya adalah seorang pemuda yang masih muda usia, perkataan semacam itu dalam pendengaran mereka berempat tidak termasuk ucapan yang takabur. Siapakah yang mampu menandingi tenaga gabungan mereka berempat yang begitu dahsyat?"

Pek In Hoei segera mendengus dingin, serunya : "Kalau bicara janganlah terlalu takabur dan muluk-muluk, hati- hatilah dengan lidahmu kalau tersambar petir."

"Haaaah... haaaah... haaaah... bocah cilik kau tak usah banyak bacot lagi, ayoh turun tangan!" teriak Hay San Jin sambil tertawa terbahak-bahak... tak kusangka kalau kesombonganmu jauh lebih hebat daripada kami berempat."

Jago Pedang Berdarah Dingin mendengus ketus, dengan pandangan serius ia saput sekejap ke empat orang tokoh sakti tadi, ia tahu serta pertempuran sengit tak akan terhindar lagi.

Dia tarik napas panjang-panjang, tangannya meraba gagang pedang dan perlahan-lahan mencabut keluar pedang mestika penghancur sang surya itu, cahaya tajam yang menyilaukan mata seketika berpencar di udara, hawa pedang berwarna hijau bagaikan asap tebal menyelubungi sekeliling tempat tersebut.

"Aaaah...! Rupanya Cia Ceng Gak telah serahkan nyawanya yang ke-dua kepadamu!" seru Yan An dengan wajah berubah hebat, "Tempo hari kami berempat pernah menderita kekalahan total di ujung pedang mestika itu, selama ini kami berharap bisa tiba kesempatan yang baik untuk mencuci bersih kekalahan itu, dan ini hari kami telah memperolehnya, hati-hatilah bocah, kami akan berusaha untuk merampas senjata itu dari tanganmu."

"Selam hidup kau tak akan memperoleh kesempatan itu, aku anjurkan kepada anda lebih baik janganlah bermimpi di siang hari bolong."

"Haaaah... haaaah... haaaah... kau keliru besar, kesempatan yang sangat baik itu sebentar lagi akan kami temukan, Pek In Hoei! Ingatlah baik-baik perkataan kami, bukan saja kau akan kami kalahkan bahkan pedang mestika itu pun akan kami rampas, kami akan berusaha untuk menghancurkan benda mestika dari partai Thiam cong ini agar sejak detik ini lenyap dari permukaan bumi."

Pek In Hoei tertawa dingin. "Ayoh cepat turun tangan! Lebih baik kita putuskan persoalan ini lewat permainan senjata."

"Tidak salah," sambung Gui Ku Jin dengan alis berkerut, "kita bicarakan soal enghiong lewat pertarungan, dengan begitu barulah bisa diketahui siapa lebih unggul di antara kita."

Rupanya Yan An juga tidak ingin membuang waktu lagi, dia sebagai seorang pemimpin yang memberi komando kepada rekannya untuk menyerang atau tidak segera tarik napas panjang, pedangnya diputar di udara.

"Kiam Kui Toa Hay! Pedang sakti lenyap di samudra," bentaknya keras.

Empat sosok bayangan manusia maju serentak, cahaya pedang yang tajam ikut terbentang di udara, segulung hawa pedang yang amat tajam bagaikan gulungan ombak di samudra segera meluncur ke muka dan mengurung seluruh tubuh Pek In Hoei.

Jago Pedang Berdarah Dingin segera merasa dari arah delapan penjuru secara berbareng muncul berpuluh-puluh jalur bayangan pedang yang tajam serta segulung daya tekanan tak berwujud menekan batok kepalanya.