-->

Imam Tanpa Bayangan I Jilid 39

 
Jilid 39

CUI TEK LI kontan tertawa dingin, "rupanya kau merasa tidak puas dengan perbuatanku ini... tidak terima?" serunya.

"Tentu saja!" jawab Soat Hoa Nio Nio sambil tertawa dingin pula, "meskipun aku belum kawin secara resmi dengan dirinya, tetapi paling sedikit adalah kekasihku sejak muda, kau mencelakai dirinya sama halnya dengan mencelakai diriku sendiri, tentu saja aku tidak puas dan tidak terima atas perbuatanmu itu."

Sorot mata tajam berkilat di antara kelopak mata pemilik Benteng Kiam-poo, katanya kemudian :

"Jika kau ingin balaskan dendam bagi kematiannya, sekarang juga kau boleh turun tangan!"

Tetapi Soat Hoa Nio Nio dengan cepat menggeleng : "Dugaanmu itu keliru besar Poocu, bagaimana pun juga kau

adalah majikanku, sekali pun majikan telah berbuat kesalahan aku yang menjadi bawahannya tentu saja tidak berani berbuat apa-apa, aku harap poocu suka memandang di atas jawa Han San sianseng selama banyak tahun yang telah mengikuti dan setia padamu, ijinkanlah padaku untuk mendirikan sebuah kuburan yang bagus baginya."

"Baik!" jawab pemilik Benteng Kiam-poo dengan nada ketus, "keadaan ini lebih bagus entah berapa kali dari keadaan dari Ko lo-te di masa silam."

"Terima kasih atas budi kebaikan dari poocu!" ujar Soat Hoa Nio Nio dengan air mata bercucuran. Perlahan-lahan ia menyeka air mata yang mengembang dalam kelopak matanya, lalu melotot sekejap ke arah Jago Pedang Berdarah Dingin dengan pandangan penuh kebencian setelah membopong badan Han San sianseng bersama Cui Kiam Beng ia berlalu dari situ.

Sepeninggalnya ke-dua orang tadi, pemilik Benteng Kiam-poo alihkan sorot matanya ke wajah Pek In Hoei, tegurnya :

"Besar amat nyalimu hey anak muda, tak kusangka kau berani membunuh orangku dalam benteng pedang!""Hmmm! Itu sih belum seberapa, anggota benteng kalian yang terlebih dahulu mencari gara- gara dengan ku, tentu saja aku tak bisa berpeluk tangan membiarkan mereka pasang gaya seenaknya sendiri, setelah terjadi bentrokan mati atau terluka bukan suatu kejadian aneh. Sekali pun kematian Han San sianseng mempunyai hubungan dengan diriku, tapi sedikit banyak poocu pun tak dapat melepaskan sebagian dari tanggung jawab ini."

"Hmmm! Kau maksudkan hatiku terlalu kejam dan tak kenal peri kemanusiaan. Melihat dia hampir mati tak mau menolong," ujar Cui Tek Li dengan nada dingin.

"Aku memang mempunyai perasaan demikian, andaikata poocu suka menghadiahkan sedikit bubuk obat kepadanya, aku percaya dia tak akan mati atau paling sedikit selembar jiwa tuanya masih bisa dipertahankan."

"Tahukah engkau siapa orang itu?" tanya Cui Tek Li sambil mendengus dingin.

Pek In Hoei tertegun, lalu jawabnya :

"Dari mana aku bisa tahu? Aku tidak kenal dia dan tak tahu pula asal usulnya, tentu saja tak kuketahui siapakah dia kecuali orang itu adalah pembantumu!"

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... dia adalah salah seorang pembunuh yang ikut membinasakan ayahmu," ujar pemilik Benteng Kiam-poo sambil tertawa dingin, "seandainya kau mengetahui persoalan ini sedari tadi aku percaya kau tidak akan menaruh belas kasihan kepadanya lagi, bahkan mungkin sekali kau akan menganggap apa yang telah kuucapkan adalah perkataan yang benar!"

"Apa? Sungguhkah itu?" untuk beberapa saat lamanya Pek In Hoei berdiri termangu-mangu.

"Hmm! Walaupun ini hari kau telah membunuh pembantuku, aku tetap akan mengikuti peraturan dan melepaskan kalian pergi dari sini, malam nanti kalian berdua boleh bersiap-siap untuk menerjang keluar dari benteng ini, jika kalian gagal untuk keluar dari benteng ini kejadian tersebut harus salahkan nasib kalian yang kurang mujur, jangan salahkan aku kalau berhati kejam."

Ia melirik sekejap ke arah Cui Tiap Tiap dan menambahkan : "Tiap Tiap, ayoh ikut aku pulang ke benteng."

Berangkatlah ke-dua orang itu tinggalkan hutan tersebut, para jago dari Benteng Kiam-poo pun mengundurkan diri.

Angin malam berhembus lewat, Benteng Kiam-poo yang tersohor sebagai benteng paling misterius terasa diliputi oleh ketegangan yang amat tebal, semua jago lihay yang bermukim dalam benteng itu telah bertindak dengan memblokade seluruh jalan keluar dari benteng mereka.

Malam nanti ada dua orang pemuda yang berani mati akan menerjang keluar dari pertahanan Benteng Kiam-poo yang tersohor karena ampuh dan kokohnya itu, meskipun harapan mereka untuk berhasil kecil sekali tetapi ke-dua orang itu tetap akan mencobanya.

Entah sudah berapa banyak pendekar lihay dan jago sakti yang berusaha membuka sejarah baru dengan menjebol pertahanan Benteng Kiam-poo, tetapi setiap kali mereka menemui ajalnya semua secara mengenaskan, tak seorang manusia pun berhasil membobolkan pertahanan benteng itu hingga pos yang terakhir, terutama sekali kelihayan dari poocu benteng itu, belum pernah tercatat dalam sejarah ada jago yang sanggup melakukan perlawanan sebanyak tiga jurus. Oleh karena itu semua orang percaya bahwa Benteng Kiam-poo hanya ada jalan masuk dan tiada jalan keluar... hanya sukma gentayangan yang sanggup keluar dari benteng itu...

*******

Teeeeng... teeeeng...

Bunyi lonceng yang amat nyaring bergetar di udara menggoncangkan perasaan setiap orang yang ada dalam benteng itu, ketegangan semakin tebal menyelimuti seluruh jagad dan semua orang merasa jantungnya berdebar keras.

Sebuah panji merah yang besar perlahan-lahan dinaikkan di atas bendera yang tinggi, inilah pertanda bahwa Pek In Hoei k lawan segera akan terjun ke gelanggang untuk mempertaruhkan keselamatan jiwanya, tanda itu memperingatkan kepada semua anggota Benteng Kiam-poo agar bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan.

Teeng... teeng...

Bunyi lonceng ke-dua bergetaran lebih nyaring dengungan suara yang tersebar di udara seakan-akan isak tangis keluarga yang menghantarkan salah seorang anggota keluarganya menuju liang kubur...

Satu barisan pria baju merah yang menyoren pedang perlahan munculkan diri dari sudut sebelah kiri, ketik tiba di tanah lapang mereka memisahkan diri dan berbaris dalam dua barisan, sikap orang- orang itu serius dan penuh diliputi ketegangan.

Tidak lama kemudian Pek In Hoei serta Lu Kiat di bawah iringan Cui Tek Li, pemilik Benteng Kiam-poo sendiri berjalan menuju ke lapangan.

Sepanjang perjalanan ke-tiga orang itu membungkam dalam seribu bahasa, mereka semua memikirkan persoalan hati sendiri yang terasa bagaikan beban berat.

Ketika tiba di tengah lapangan, Cui Tek Li angkat kepala memeriksa sebentar keadaan cuaca, kemudian katanya : "Kalian berdua baru akan mencapai separuh jalan jika tiga rintangan berhasil kalian singkirkan, pada giliran yang terakhir kamu berdua bakal turun tangan melawan diriku..."

"Hmmm! Jangan dibilang baru tiga rintangan, sekali pun sepuluh rintangan akan kucoba juga untuk membobolkan," jawab Jago Pedang Berdarah Dingin dengan nada ketus.

Cui Tek Li tertawa getir.

"Aku percaya dan tahu bahwa kalian berdua adalah jago-jago lihay yang memiliki kepandaian tinggi, tentu saja kalian tak akan memandang sebelah mata pun terhadap benteng kami."

Ia menghela napas panjang, dengan wajah kesepian ia termenung sebentar lalu ujarnya kembali :

"Kali ini hanya ada empat jalan yang bisa kalian tempuh, silahkan kalian berdua memilih sendiri jalan mana yang akan kalian pilih."

"Aku ingin memilih jalan yang paling lihay, termasuk di antaranya harus bertempur melawan kau sendiri."

Mula-mula Cui Tek Li tertegun, kemudian katanya :

"Pada rintangan yang terakhir semuanya dijaga olehku sendiri, tetapi..."

Ia merendahkan suaranya dan melanjutkan :

"Kali ini aku telah mempersiapkan tiga lapisan jago pedang untuk dijaga ke-tiga jalur rintangan tersebut, semua alat rahasia dan alat jebakan telah kuhapus semua, tujuanku tidak lain adalah agar kita bisa mengukur tenaga dengan kepandaian yang murni dan sesungguhnya... Kalian mesti ingat, mati hidup kamu harap kalian bisa turun tangan dengan berhati-hati."

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... aku tak ingin menerima kebaikan hatimu itu," sela Pek In Hoei sambil tertawa dingin.

"Hmm! Berada dalam keadaan dan situasi seperti ini aku nasehati dirimu lebih baik kurangilah sikapmu yang jumawa dan takabur itu, sebab hal itu tak akan mendatangkan faedahnya apa-apa bagimu."

Ia berhenti sebentar dan melanjutkan : "Sekali pun begitu aku merasa kagum juga oleh sikapmu itu, kau memang tidak malu jadi putranya Pek Tiang Hong, andaikata ayahmu bisa menyaksikan sendiri putranya akan menerjang keluar dari Benteng Kiam-poo, aku rasa tentu akan merasa bangga dan senang..." Pek In Hoei mendengus dingin, ia menyapu sekejap dua belas baris jago pedang baju merah yang berjajar di ke dua belah lapangan,

tanyanya :

"Apa pekerjaan mereka di sini?" Cui Tek Li tertawa hambar.

"Mereka adalah barisan pengantar tamu dari benteng kami, mereka berdiri di tempat ini sebagai tanda rasa hormat kami terhadap dirimu, aku harap kalian berdua jangan sampai menyia-nyiakan rasa hormat mereka itu..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... banyak amat permainan dalam bentengmu ini," seru Lu Kiat sambil tertawa terbahak-bahak.

Sementara ke-dua orang itu hendak berlalu, tiba-tiba para jago pedang baju merah yang berada di sisi kalangan bersama-sama cabut keluar pedangnya, setelah diputar satu lingkaran di udara orang-orang itu segera tunjukkan sikap memberi hormat.

Dalam keadaan seperti ini Pek In Hoei serta Lu Kiat terpaksa harus ayun tangannya pula sebagai tanda jawaban.

Terdengar Cui Tek Li dengan bangga berkata :

"Aku hanya bisa mengantar keberangkatan kalian berdua sampai di sini saja, acara selanjutnya aku serahkan kembali pada kalian sendiri untuk menentukan sikap dan pendirian..."

Perlahan-lahan dia hentikan langkah kakinya dan menambahkan dengan suara berat :

"Lebih baik kalian berdua memilih jalan yang ke-tiga, dua sebab aku rasa hanya jalan yang ini saja paling sesuai dan cocok dengan selera kalian, aku harap maksud baikku ini bisa..." "Benarkah jalan nomor tiga yang paling lihay di antara jalan-jalan lainnya?" tukas Pek In Hoei, "kalau memang demikian adanya, aku rela memilih jalan yang ini..."

"Lihay sih belum tentu," kata Cui Tek Li sambil menggeleng, "hanya aku rasa jalan itu paling serasi dan cocok bagimu..."

Habis berkata ia segera bertindak melangkah pergi dari tempat itu. "Poocu..." mendadak Jago Pedang Berdarah Dingin berseru. "Ada urusan apa?" tanya Cui Tek Li sambil berhenti dan berpaling dengan wajah tercengang.

Pek In Hoei menghembuskan napas panjang, katanya : "Aku harap kau bisa baik-baik merawat ibuku..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... " tiba-tiba pemilik dari Benteng Kiam-poo itu tertawa tergelak, "apakah kau tidak merasa bahwa perkataanmu itu kurang sesuai pada tempatnya? Aku mencintai istriku, tentu saja aku akan merawat dirinya baik-baik! Aku merasa terharu karena kebaktianmu itu, aku bisa menyampaikan kebaktianmu itu kepada ibumu..."

"Tidak! Jangan kau sampaikan kepadanya..."

Dengan hati yang pedih dan penuh siksaan batin pemuda itu berdiri dengan tubuh gemetar, titik air mata mengembang dalam kelopak matanya, lama sekali dia baru menghela napas sedih, ujarnya kembali :

"Poocu, aku masih ada satu urusan hendak kumohonkan kepadamu..."

Cui Tek Li menjawab :

"Tidak berani, meskipun aku Cui Tek Li tidak mempunyai hubungan apa pun dengan dirimu, tetapi sangkut paut di antara kita memang agak berbeda, asal kau sudi untuk mengutarakannya keluar, akua tentu akan berusaha untuk melaksanakannya, tentu saja kecuali pekerjaan yang tak mungkin bisa kubantu... katakanlah!" Sepasang biji mata Jago Pedang Berdarah Dingin yang jeli dan tajam perlahan-lahan dialihkan ke tengah udara dan memandang awan putih yang melayang di angkasa, ia merasa hatinya pedih sukar diutarakan... sesudah termenung sebentar ia berpaling dan memandang kembali ke arah poocu itu.

Seandainya kali aku gagal untuk keluar dari benteng ini dan tidak beruntung aku menemui kematian, harap berita ini jangan kau sampaikan kepada ibuku," kemudian lanjutnya dengan suara lirih, "aku tidak mengharapkan hatinya sedih dan berduka karena kejadian itu, katakan saja bahwa aku telah berhasil lolos dari tempat ini... Poocu, aku rasa pekerjaan segampang ini tentu sanggup kau lakukan bukan?"

"Ehmm..." Cui Tek Li mengangguk, "baiklah, aku akan berusaha keras untuk memberi bantuan kepadamu!"

Setelah kepedihan hatinya berhasil disapu lenyap, air muka Jago Pedang Berdarah Dingin pun berubah jadi cerah kembali, dengan semangat menyala-nyala ia tertawa tergelak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... Poocu!" serunya, "sekarang kau boleh turunkan perintah, kami telah siap menerjang keluar dari benteng ini..."

"Semua rintangan telah siap dan orang-orangku telah menanti di sana, kalian berdua boleh segera berangkat! Sepanjang jalan kudoakan agar kalian berdua bisa melakukan pertarungan dengan penuh semangat, ingatlah baik-baik kehidupan atau kematian kalian berdua semuanya tergantung pada usaha kamu berdua kali ini..."

Dia tertawa misterius, lalu menambahkan lagi :

"Semoga saja perpisahan kita kali ini bukanlah perpisahan untuk selama-lamanya, aku berharap masih punya kesempatan untuk bertemu lagi dengan kalian berdua."

"Hmmm," Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei mendengus berat, sepasang dahinya berkerut, setelah tertawa dingin serunya : "Kau tak usah kuatir poocu, suatu ketika aku bakal mengunjungi lagi Benteng Kiam-poo dan memusnahkan tempat yang penuh noda ini!"

"Kau... selamanya kau tak akan bisa kembali lagi ke sini..." teriak Cui Tek Li dengan jantung berdebar keras.

"Hmmm! Lihat saja nanti bagaimana hasilnya," seru Lu Kiat sambil mendengus, "Poocu! janganlah kau memandang suatu urusan terlalu yakin, aku percaya suatu ketika pasti akan tiba saatnya kami muncul kembali di tempat ini..."

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... aku pun berharap bisa menjumpai keadaan seperti itu, moga-moga apa yang kalian ucapan bisa tercapai."

Sambil tertawa seram pemilik dari Benteng Kiam-poo ini segera ulapkan tangannya, dua baris jago pedang baju merah itu segera putar badan dan berlalu mengikuti di belakangnya.

Jago Pedang Berdarah Dingin serta Lu Kiat tetap berdiri tegak di tengah lapangan, mereka tahu percobaan hidup yang paling berat telah berada di depan mata... menanti semua orang telah berlalu, mereka saling bertukar pandangan sekejap dan perlahan-lahan maju ke muka. "Toako!" di tengah jalan Pek In Hoei berkata dengan perasaan

hati berat, "aku benar-benar merasa tidak enak hati terhadap dirimu, kali ini gara-gara urusan siau-te, aku telah mengajak dirimu untuk ikut serta dalam perjuangan menempuh bahaya maut."

"Aaah! Perkataan macam apakah itu..." tukas Lu Kiat sambil tertawa rawan, "urusanmu berarti urusanku pula, asal kita bisa bersatu padu aku percaya Benteng Kiam-poo yang demikian kecilnya ini pasti tak akan mampu menahan diri kita berdua."

Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei menghela napas panjang, sambil tertawa getir dia gelengkan kepalanya berulang kali, dengan wajah yang murung dan langkah yang berat ia lanjutkan langkahnya menuju ke depan. Setelah melewati sebarisan beranda di hadapan mereka muncullah sebuah kebun bunga yang luas, dalam kebun tadi Kongsun Kie berdiri seorang diri di tempat itu.

Ketika menyaksikan kedatangan dua orang pemuda itu sambil tersenyum dia segera maju menyongsong, katanya :

"Saudara berdua, sewaktu masuk ke dalam benteng akulah yang telah menjemput kalian, sekarang waktu kalian akan keluar dari benteng ini aku pula yang akan menghantarkan keberangkatan saudara berdua, tolong tanya hari ini kalian akan memilih jalan yang ke berapa untuk ditempuh dalam usaha keluar dari Benteng Kiam-poo ini?"

"Jalan ke-tiga..." jawab Pek In Hoei ketus.

"Jalan ke-tiga...?" tanya Kongsun Kie setelah tertegun sebentar, "pilihan kalian memang tepat sekali... silahkan! Aku akan menghantar kalian berdua untuk melakukan perjalanan."

Dengan cepat ia menggerakkan tubuhnya menerobos masuk ke dalam kebun bunga yang amat luas itu, tidak lama kemudian sampailah mereka di depan tiga buah jalan bercabang yang membentang di tengah kebun itu.

Sambil menuding ke arah jalan cabang yang berada di sebelah kanan, ujarnya :

"Kalian berdua boleh segera melakukan perjalanan lewat jalan ini, inilah jalan nomor tiga yang kalian inginkan... Nah! Tugasku hanya sampai di sini saja, semoga kalian berdua bisa lancar di jalan dan keluar dari benteng ini tanpa mengalami kekurangan sesuatu apa pun..."

"Sampai jumpa lain waktu..." sambung Lu Kiat sambil berpaling dan tertawa dingin.

Berjalan di samping Pek In Hoei, berangkatlah ke-dua orang pemuda itu lewat jalan paling kanan yang ditunjukkan itu, dari belakang secara lapat-lapat masih terdengar suara tertawa dingin Kongsun Kie yang tak sedap didengar, rupanya orang itu sedang mentertawakan mereka berdua.

Sepanjang jalan bau harum bunga tersiar di seluruh udara, kicauan burung dan bunyi jangkrik membuat suasana terasa nyaman dan damai, seandainya ke-dua orang itu bukan untuk berangkat bertarung, niscaya mereka akan berhenti sejenak di sana untuk menikmati keindahan alam tersebut.

Malam telah menjelang tiba, kegelapan mulai menyelimuti seluruh angkasa, berjalan di tengah kegelapan yang sunyi dan sepi Pek In Hoei merasa jantungnya berdebar dan bulu kuduk tanpa terasa pada bangun berdiri.

Tiba-tiba... di hadapan mereka muncul dua buah lentera yang memancarkan cahaya hijau, cahaya yang mendatangkan perasaan ngeri bagi yang melihat.

Cahaya hijau yang terpancar keluar dari lampu lentera di tengah kegelapan itu menyiarkan warna yang pucat dan menyeramkan, seolah-olah api setan yang gentayangan di udara terbuka.

Sebuah batu nisan yang tinggi besar berdiri menjulang ke angkasa, batu itu sangat besar dengan beberapa huruf terukir di atas permukaannya, tulisan itu berbunyi demikian :

'Jalan di depan sudah putus tiada jalan, kembali ke tepian tepian pun musnah'

Pek In Hoei tertawa dingin, dia ayunkan telapak kanannya ke muka melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke atas permukaan batu cadas tadi, makinya :

"Enyah kamu dari sini..."

Kraaak...! Diiringi dentuman yang amat keras, tiang batu yang menjulang tinggi ke angkasa itu patah dan hancur jadi berkeping- keping, percikan bunga api diiringi ceceran bubuk batu berhamburan di angkasa... dentingan nyaring menggetarkan telinga setiap orang. "Hmm... hmm..." tiba-tiba dari balik kebun bunga yang tercekam dalam kegelapan berkumandang keluar suara tertawa dingin yang menyeramkan, suara tertawa itu begitu dingin dan ketus sama sekali tidak berperasaan membuat orang yang mendengar jadi tak sedap dan ngeri.

Lu Kiat dengan sepasang mata melotot besar membentak keras : "Sahabat, kalau kau punya keberanian unjukkanlah dirimu...

orang yang mencari gara-gara datang sudah."

"Hmm... Hm... " kembali suara tertawa dingin yang menyeramkan berkumandang memecahkan kesunyian, dari balik hutan bunga perlahan-lahan muncullah dua orang kakek kekar berbaju hitam.

Begitu menyaksikan raut wajah dua orang kakek baju hitam tersebut, Lu Kiat segera berseru tertahan karena kaget, sambil mendengus dingin, serunya :

"Sungguh tak kunyana kalau rintangan pertama dari Benteng Kiam-poo bisa dijaga oleh ke-dua bersaudara she-Hoa, Hmmm... Hmmm... Hoa-bun-ji-Nio dua orang ganas dari keluarga Bun sudah lama tersohor di kalangan hitam, rupanya kamu berdua sudah ditarik oleh Cui Tek Li masuk ke dalam kalangan komplotannya... maaf... hal ini sangat mengagumkan kami berdua."

Dalam pada itu Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei merasa terkesiap juga sesudah mengetahui kalau dua orang lawannya adalah sepasang manusia ganas dari keluarga Hoa yang tersohor di kalangan hitam itu, mereka sudah tersohor lama sekali dalam dunia persilatan, entah berapa banyak jago lihay dan orang gagah yang jatuh kecundang atau mati binasa di tangannya... sejak dahulu mereka sudah dipandang sebagai dua malaikat pembunuh yang disegani setiap orang.

Terdengar kakek bermata tunggal yang berada di sebelah kiri tertawa seram, lalu berkata : "Saudara Lu, sungguh tajam amat sepasang matamu itu... aku tak mengira kau masih kenali diriku, Hoa toa-ya... baiklah! Bicara terus terangnya saja, malam ini kami berdua bersaudara mendapat perintah dari poocu untuk menjaga pos rintangan pertama, dalam keadaan demikian sekali pun kita punya hubungan di masa silam maafkanlah kalau aku tak dapat memberi muka kepadamu, seandainya kau ingin berlalu dari sini maka cobalah lebih dulu untuk mengalahkan kami berdua!"

Pek In Hoei melirik sekejap ke arah kakek tua itu, lalu sambil berpaling ke arah Lu Kiat tanyanya :

"Toako, siapa nama orang ini?"

"Aku adalah Hoa Beng..." jawab kakek bermata tunggal itu dengan mata melotot bulat.

"Haaaah... haaaah... haaaah... kalau kau bernama Hoa Beng, maka yang satuya lagi tentu bernama Hoa Pak... betul bukan? ejek Pek In Hoei sambil tertawa terbahak-bahak.

Kakek tua di sebelah kanan yang wajahnya penuh codet itu segera berteriak dengan penuh kegusaran, makinya :

"Kentut busuk makmu... aku bernama Hoa Yong! Mengerti tolol?? babi..."

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... aku memang tahu kalau dari keluarga Hoa tak seorang pun merupakan manusia baik-baik, apalagi selam berada dalam Benteng Kiam-poo kalian menjalankan perintah dari Cui Tek Li, bisa kubayangkan tak mungkin ada pekerjaan baik yang telah kalian lakukan... Hmm... Hmm... malam ini aku si Jago Pedang Berdarah Dingin akan menagih hutang-hutang jiwa g telah kalian lakukan..." ujar Pek In Hoei dengan suara yang menyeramkan. "Huuuh...!" Hoa Yong mendesis sinis, "Tadinya kubayangkan manusia macam apa sih Jago Pedang Berdarah Dingin itu, eeei... eeei... tak tahunya cuma seorang bocah cilik yang masih bau tetek. Hmm! Seandainya Poocu tidak menurunkan perintah kepadaku untuk mempertahankan rintangan pertama ini aku betul-betul tak sudi untuk bertempur melawan seorang bocah cilik..."

"Belajar silat tak ada yang lebih duluan atau terakhir, siapa yang berhasil mencapai puncak kesempurnaan lebih dulu dialah jago... kamu berdua tak usah berjual lagak seolah-olah angkatan yang lebih tua, malam ini aku orang she Pek akan suruh kalian saksikan dan rasakan bahwa penampilan yang dilakukan seorang anak muda pun tak akan lebih enteng daripada apa yang kalian lakukan..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... bagus sekali," seru Hoa Beng sambil tertawa seram, "kau berani tidak pandang sebelah mata terhadap kami berdua..."

Pedang panjangnya segera dicabut keluar dari sarungnya, kemudian sambil mengantarkannya di tengah udara ia berteriak keras

:

"Sekarang kalian boleh maju serentak, aku si orang tua dengan pedangku sudah menantikan kedatangan kalian."

"Hm! Kita akan bertarung satu lawan satu atau dua lawan satu?" dengus Jago Pedang Berdarah Dingin.

"Sesuka hatimu, aku si orang tua akan mengiringi kemauanmu itu!"

"Bagus... aku ingin sekali bertempur lawan kalian dua orang she- Hoa dengan kekuatan seorang diri..."

"Adik In Hoei, jangan!" teriak Lu Kiat dengan tubuh bergetar keras karena terperanjat.

Hoa Yong yang mendengar tantangan itu jadi naik pitam, bentaknya :

"Bocah keparat, kau benar-benar takabur dan tak tahu tingginya langit tebalnya bumi, setiap orang dalam dunia persilatan telah mengenal sampai di manakah kelihayan yang kami miliki... dan sekarang kau ingin melawan kami berdua dengan kekuatan sendiri? Huuh... rupanya kau sudah bosan hidup." Pada saat ini Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei merasakan hawa darah dalam rongga dadanya bergolak keras, ia tersenyum dingin dan air mukanya berubah jadi menyeramkan, perlahan-lahan pedang mestika penghancur sang surya dicabut keluar dari sarungnya dan diayunkan di tengah udara.

Sekilas cahaya tajam yang menyilaukan mata segera berhembusan memenuhi seluruh angkasa.

"Aaaa...! Pedang mestika penghancur sang surya..." bisik Hoa Yong dengan tubuh gemetar keras, "tak pernah kusangka kalau benda kesayangan dari Cia Ceng Gak itu bisa terjatuh di tangannya... Hmmm.. toako! Tempo hari bapaknya juga mempunyai kegagahan seperti ini."

"Aku lihat bangsat cilik ini bukan manusia sembarangan, ia tak mungkin goblok dan nekad bila tidak memiliki simpanan," seru Hoa Beng dengan wajah serius, "kali ini kita harus bertindak hati-hati, janganlah sampai terbalik di selokan kecil dan menelan kekalahan secara mengenaskan..."

Pek In Hoei tarik napas panjang-panjang, kembali tegurnya : "Bagaimana? Apakah kalian berdua telah bersiap sedia?"

"Kau betul-betul berani melawan kami berdua dengan kekuatan seorang diri...?" seru Hoa Yong dingin, "sahabat Pek, aku lihat lebih baik tariklah kembali ucapanmu itu, menerjang keluar dari Benteng Kiam-poo bukanlah suatu pertarungan adu jiwa, kenapa kau mesti nekad dan cari penyakit buat diri sendiri? Jika kau berbuat begitu maka harapan untuk hidup pun tak akan kau miliki lagi..."

"Selamanya apa yang telah diucapkan Jago Pedang Berdarah Dingin tak pernah diubah lagi, kalian berdua boleh segera bersiap sedia untuk melangsungkan pertempuran, sebab pada malam ini bukan saja aku akan berusaha untuk menerjang keluar dari Benteng Kiam-poo, di samping itu aku pun hendak membereskan pula jiwa kalian berdua..." "Apa?" saking gusar dan mendongkolnya Hoa Yong sampai meloncat dari tempat semula, ia tuding Pek In Hoei dengan pedangnya dan kembali berteriak :

"Maknya... bangsat! Kau bocah keparat benar-benar tak tahu diri... bajingan terkutuk! Kau berani memandang rendah kami berdua? Hmm! Jika malam ini aku Hoa Yong membiarkan kalian berhasil lolos dari rintangan pertama, aku tak sudi memakai she Hoa lagi..."

Dia memberi tanda kepada Hoa Beng dan melanjutkan sambil tertawa seram.

"Toako, daripada menampik lebih baik kita ikuti saja kemauannya, mari kita maju bersama."

Bayangan pedang bergetar di udara, dua gulung hawa pedang yang berwarna hijau tua segera meluncur masuk di sisi kiri dan kanan, dua orang tokoh sakti dari kalangan hitam ini benar lihay dan tak boleh dipandang rendah, meskipun baru jurus pertama namun bisa terlihat sampai di manakah kelihayannya dalam ilmu pedang.

Dengan hati tercekat Pek In Hoei segera menghindar ke samping, pikirnya dalam hati :

"Tak kusangka dua orang manusia terkutuk ini memiliki kepandaian yang luar biasa."

Pedang mestika penghancur sang surya segera digetarkan ke muka dan laksana kilat melancarkan dua titik cahaya pedang, ke-dua serangan itu luar biasa lihaynya dan merupakan penampilan dari ilmu pedang tingkat paling atas.

Detik itu juga dua orang tokoh sakti dari kalangan hitam itu terpukul mundur dan harus menyingkir tiga langkah ke belakang.

"Hmmm...! Hmmm...! Rupanya kau memang luar biasa dan tak boleh dipandang enteng..." gumam Hoa Beng dengan sorot mata memancarkan sinar kebengisan. "Maknya..." teriak Hoa Yong pula sambil mendorong pedangnya ke arah depan, "aku paling tidak percaya dengan segala permainan setan, coba lihat kelihayanku ini..."

Tubuh mereka berdua kembali bergerak menerjang ke depan, ibaratnya sukma gentayangan dua bersaudara she Hoa ini segera melancarkan bacokan pedang dari samping kiri dan kanan, begitu dahsyat dan mengerikan sekali bacokannya itu membuat Lu Kiat yang berada di sisi kalangan jadi terkejut dan mengucurkan peluh dingin, ia sangat menguatirkan keselamatan dari saudaranya.

Air muka Pek In Hoei masih tetap diliputi keketusan yang menggidikkan hati, ia tarik napas panjang-panjang kemudian bentaknya keras-keras :

"Sahabat, sekarang kalian berdua rasakan seranganku."

Bagaikan segulung angin yang berhembus lewat, tubuhnya berputar di udara dan langsung meluncur ke depan, cahaya pedang mestika penghancur sang surya yang menyilaukan mata menciptakan berpuluh-puluh kuntum bunga yang tajam dan bersama-sama menyapu ke depan.

"Aduuuh...!" dua kali jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang di angkasa memecahkan kesunyian yang mencekam seluruh jagad, percikan darah segar muncrat ke empat penjuru dan membasahi kebun bunga yang harum semerbak itu...

Blaaam...! blaammm...! tubuh Hoa Bun Ji Nio yang tinggi kekar roboh terjengkang di atas tanah dan tak bisa berkutik lagi.

"Kau... kau amat keji!" terdengar Hoa Beng berteriak dengan suara terpatah-patah.

"Hmm! Inilah buah karya yang harus kalian terima atas perbuatan yang sudah kamu berdua lakukan selama ini," sahut Pek In Hoei dengan suara dingin, "seandainya di masa yang silam kalian tidak pernah melakukan kejahatan, tak mungkin pula kamu berdua akan menerima pembalasan yang setimpal pada malam ini... Nah! Saudara berdua, selamat tinggal!" Tuuuung... tuuung...

Suara tambur bergema di tengah kesunyian malam yang menyelimuti seluruh jagad, lentera hijau dengan cahaya yang pucat masih bergoyang di tengah hembusan angin, hanya di sisi tempat itu kini bertambah dengan dua sosok tubuh manusia yang berada dalam sakratul maut...

Tuuung...! Tuuung...! suara tambur kembali berkumandang di tengah kesunyian, setelah berdengung di angkasa perlahan-lahan dan sirap... suasana diliputi kembali oleh kesunyian serta keheningan...

Jenazah dari dua bersaudara she Hoa tergeletak berjajar di tepi kebun bunga, darah dalam tubuh mereka telah membeku dan kematian mereka mengenaskan sekali.

Pek In Hoei serta Lu Kiat menghela napas, diam-diam mereka merasa bersedih hati bagi nasib ke-dua jago-jago yang malang itu... Lu Kiat tarik napas panjang-panjang, lalu berkata :

"Adik In Hoei, kita sedang berusaha keluar dari Benteng Kiam- poo dan bukan melangsungkan pertarungan mati hidup, kenapa kau mesti membinasakan mereka berdua?"

Ia tidak tega menyaksikan kematian dua bersaudara she Hoa yang mengerikan itu, timbul rasa kasihan dan iba dalam hati kecilnya sehingga dalam pembicaraan pun nada suaranya mengandung nada menegur.

Jago Pedang Berdarah Dingin bukanlah seorang manusia yang gemar membunuh orang, bila tidak berada dalam keadaan yang mendesak ia tak ingin membunuh orang.

Terhadap nama busuk sepasang manusia ganas dari keluarga Hoa, pemuda ini sudah mengetahuinya sejak pertama kali ia terjun ke dunia persilatan, ia tahu bahwa selama hidupnya ke-dua orang itu belum pernah berbuat kebajikan, entah berapa banyak manusia budiman yang telah menemui ajalnya di tangan mereka. Oleh sebab itu sejak bertemu dengan mereka berdua, dalam hatinya sudah ambil keputusan untuk membasmi dua orang manusia laknat itu dari muka bumi.

Mendengar teguran itu sambil tertawa rawan segera jawabnya : "Toako, kenapa kau bisa mengasihani manusia semacam itu?

Perbuatan mereka yang mana telah membuat kau harus mengasihani dirinya? coba pikirlah... andaikata saat ini kita yang menderita kalah maka betapa mengenaskannya keadaan tersebut, mungkin yang berbaring di tanah pada detik ini bukan mereka melainkan kita berdua..."

"Sekali pun begitu aku tetap merasa bahwa membunuh orang pada saat seperti ini bukanlah tindakan yang benar, asal kita bisa keluar dari mulut harimau dengan lancar tanpa rintangan kejadian itu sudah merupakan suatu keberuntungan yang luar biasa besarnya, kau mesti tahu Cui Tek Li adalah seorang manusia licik yang sangat berbahaya, bila kita terlalu banyak membunuh anak buahnya, siapa tahu kalau ia pergunakan alasan itu untuk menyusahkan kita berdua." "Haaaah... haaaah... haaaah... " tiba-tiba Pek In Hoei angkat kepala dan tertawa terbahak-bahak, "toako, kau anggap Cui Tek Li bisa melepaskan kita berdua dengan begitu mudah dan gampang? Bila kau kau berpendapat demikian maka pendapatmu itu adalah suatu cara berpikir yang keliru besar, sekarang asal kita bisa membunuh satu orang lebih banyak berarti kita akan memperoleh keuntungan yang lebih besar, siapa tahu sampai pada akhirnya kitalah yang bakal

mati."

"Aku tidak sependapat dengan jalan pikiranmu itu," bantah Lu Kiat sambil menggeleng.

Pek In Hoei tertawa hambar.

"Toako, dunia persilatan adalah dunianya manusia menjagal manusia, kalau tindakanmu kurang tegas dan kurang kejam maka dirimu yang bakal terperosok ke dalam jurang kehancuran... Banyak orang karena berhati terlalu lemah dan baik budi, perbuatannya itu mengakibatkan dirinya ikut musnah dari muka bumi."

"Pandanganmu itu terlalu cupat," seru Lu Kiat sambil tertawa getir, "kadang kala membunuh orang belum tentu merupakan suatu cara yang paling baik untuk menyelesaikan suatu persoalan, aku anjurkan lebih baik gunakanlah budi pekerti yang luhur untuk menundukkan kejahatan, sebab itulah cara yang paling bagus!"

"Aaai... mungkin sekali apa yang kau ucapkan memang benar."

Pekikan burung malam berbunyi di tengah kegelapan, jeritan yang tinggi melengking telah menusuk perasaan ke-dua orang itu dalam-dalam, mereka tanpa sadar berpaling ke depan memandang rintangan berikutnya yang telah menantikan kedatangan mereka berdua.

Suara langkah kaki yang berat bergetar di bumi... dengan perasaan serta langkah yang berat bagaikan ditindih bukit tay-san Pek In Hoei serta Lu Kiat meneruskan perjalanannya ke depan, mereka menyadari hidup atau mati tergantung pada perjuangan mereka pada malam ini.

Sebuah jalan kecil beralas batu yang panjang terbentang di depan mata, ke-dua belah sisi jalan penuh tumbuh bunga putih kecil yang menyiarkan bau harum semerbak.

Mendadak... tiga sosok bayangan manusia yang tinggi besar perlahan-lahan berjalan keluar dari balik bebungaan yang lebat, ke- tiga orang manusia itu berbadan kaku bagaikan mayat hidup, tubuh mereka lurus dan kaku sedikit pun tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan, terutama sekali enam buah matanya yang besar dan memancarkan cahaya hijau seolah-olah sorot mata setan yang membetot sukma, membikin hati orang merinding dan berdebar keras. "Heeeeh... heeeeh... heeeeh... " suara tertawa seram yang mendirikan bulu roma berkumandang bagaikan bukan muncul dari mulut manusia, suara yang terpancar keluar dari mayat-mayat hidup itu kedengaran begitu dingin dan mengerikan sehingga terasa jauh lebih dingin daripada es atau salju berusia ribuan tahun...

Lu Kiat segera menyikut badan Pek In Hoei sambil berbisik : "Kau kenal dengan tiga orang itu?"

Pek In Hoei tertegun, lalu menggeleng. "Aku tidak tahu!" jawabnya.

Walaupun di dalam dunia persilatan ia telah berhasil merebut julukan sebagai Jago Pedang Berdarah Dingin, dan selama dua tahun terakhir belum pernah ada manusia yang mampu menandingi kelihayan ilmu silatnya, tetapi dalam hal pengetahuan serta pengalaman dalam dunia persilatan, ia masih jauh ketinggalan jika dibandingkan dengan Lu Kiat, mungkin hal ini dikarenakan keluar Lu adalah keluarga persilatan yang sering kali berhubungan dengan pelbagai lapisan masyarakat, membuat apa yang mereka dengar jauh lebih banyak dari siapa pun.

Oleh sebab itulah dalam hal pengetahuan, Lu Kiat boleh dibilang amat luas dan mendalam sekali...

"Kemungkinan besar ke-tiga orang itu adalah tiga mayat hidup yang pernah kudengar dari pembicaraan orang lain! Cuma aku pernah mendengar pula katanya ke-tiga orang itu sudah mati di bukit Kiu- hoa-san, kenapa sekarang mereka bisa muncul kembali di dalam dunia persilatan..." ujar Lu Kiat dengan wajah serius.

"Mungkin mereka memang belum mati!" sahut Pek In Hoei setelah tertegun sebentar.

"Tidak! Dengan mata kepala sendiri ayahku telah menyaksikan kematian mereka bertiga, waktu itu banyak pula yang menyaksikan kebinasaan tiga mayat hidup... hal ini tak mungkin salah lagi, apakah dari perguruan mayat hidup masih ada orang lain?"

"Perguruan mayat hidup?" ulang Jago Pedang Berdarah Dingin dengan suara gemetar, "apakah kau maksudkan perguruan mayat hidup yang bersarang di propinsi Ou-lam?" "Ehm! Sedikit pun tidak salah, walaupun perguruan mayat hidup bersumber di propinsi Ou-lam tetapi orang yang benar-benar menguasai perguruan tersebut hanyalah keluarga Ko seorang, berhubung perguruan ini adalah suatu aliran sesat yang tidak mempunyai perguruan dan tak mau mengindahkan persilatan orang kangouw tidak sudi berhubungan dengan mereka... terutama keluarga Ko yang sombong dan takabur, perbuatannya amat keji dan telengas, sudah tersohor di kolong langit sebagai manusia-manusia laknat..."

"Ooh... kalau begitu ke-tiga manusia aneh mayat hidup ini tentulah berasal dari keluarga Ko..."

"Tidak salah, ke-tiga orang itu memang murid kesayangan dari keluarga Ko."

Dalam pada itu manusia aneh berbadan kaku yang menyerupai mayat hidup itu sudah semakin dekat menghampiri mereka berdua, dengan sorot mata yang tajam dan mengerikan ke-tiga orang itu melotot sekejap ke arah pemuda lawannya, seolah-olah mereka sedang menantikan kesempatan yang bagus untuk melancarkan serangan mematikan.

Lu Kiat dan Pek In Hoei adalah jago-jago lihay di dalam dunia persilatan, tentu saja mereka dapat meraba sikap musuh-musuhnya yang mengandung maksud tidak beres, diam-diam mereka pertinggi kewaspadaannya bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Lu Kiat tarik napas panjang-panjang, sorot matanya perlahan- lahan menyapu sekejap wajah ke-tiga makhluk aneh itu, sorot matanya yang tajam tiba-tiba terhenti di atas wajah seorang makhluk aneh yang beralis tebal, berhidung besar, mulut lebar lidah panjang dan wajah penuh codet itu, darah dalam sekujur tubuhnya terasa membeku, peluh dingin mengucur keluar membasahi tubuhnya dan untuk beberapa saat tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

"Kau... kau adalah Le-si ganas!" serunya kemudian dengan suara berat. Manusia aneh berwajah penuh codet itu terkesiap, sekujur badannya bergetar keras. Ia tidak menyangka kalau pihak lawan dengan usianya yang begitu muda ternyata memiliki pengalaman serta pengetahuan Bu lim yang amat luas, dalam sekilas pandangan ia berhasil menebak jitu asal usulnya.

Setelah berhasil menenangkan kekagetan hatinya, ia lantas bertanya :

"Tebakanmu tepat sekali... hey bocah cilik, dari mana kau bisa kenali diriku..."

"Kalian... kalian tiga sosok mayat hidup bukankah sudah mati di gunung Kiu hoa san?" seru Lu Kiat kembali dengan badan gemetar.

"Hmmm... dari mana kau bisa tahu?" jerit Mayat Ganas yang ada di sebelah kanan.

Bagian 38

"HMMM! Kabar berita ini sudah tersebar luas di seluruh dunia persilatan, siapa saja yang pernah melakukan perjalanan dalam Bu lim tentu mengetahui akan peristiwa itu, apa sih yang perlu kalian herankan."

"Hmmm..." mayat hidup berkepala botak yang ada di samping Mayat Ganas segera membalikkan matanya yang aneh dan mendengus dingin, "Aku tidak percaya dengan ucapanmu itu, kecuali beberapa orang tertentu yang mengetahui peristiwa ini orang kangouw tak ada yang mengetahui tentang soal itu... sedang orang yang mengetahui peristiwa itu pun kebanyakan telah kami kejar dan bunuh, apa tujuannya? Bukan lain untuk menutup rahasia ini, kami tidak ingin orang kangouw ikut mengetahui kalau kami pernah pura- pura mati..."

"Oooh... jadi sewaktu berada di gunung Kiu-hoa-san tempo dulu, kalian pura-pura mati..." ujar Lu Kiat dengan hati kaget.

"Haaaah... haaaah... haaaah... tentu saja, hanya dengan berbuat demikianlah kami bisa lepas dari perhatian banyak orang, dan cuma dengan cara ini pula kami berhasil mengejar orang-orang yang pernah hendak membinasakan diri kami untuk kemudian dilenyapkan dari muka bumi, orang-orang itu pasti tak akan bersiap sedia dan menyangka atas kehadiran kami itu... sekarang kau mengerti bukan?" "Ucapanmu tak bisa dipercayai dengan begitu saja," ujar Lu Kiat kembali dengan sangsi, "ketika berada di gunung Kiu-hoa-san begitu banyak jago lihay Bu lim yang menyaksikan kematian kalian bertiga, sekali pun kamu punya kelihayan untuk membohongi orang, tak mungkin kamu bisa membohongi banyak jago lihay yang hadir di situ,

Hmmm! Aku tidak percaya kalian begitu lihaynya..."

Mayat hidup yang berada di tengah segera melangkah maju setindak ke depan, katanya sambil tertawa :

"Apa yang kau ketahui? Huuh... paling kentut busuk... ketahuilah dari perguruan mayat hidup kami memiliki semacam kepandaian maha sakti yang bisa tutup napas pura-pura mati, asal kepandaian itu kami gunakan maka keadaan kami tidak akan jauh berbeda daripada keadaan mayat-mayat biasa, siapa pun tak akan mampu membuktikan apakah kami sudah mati atau masih hidup..."

"Belum pernah kudengar tentang kepandaian sakti macam itu!" seru Lu Kiat sambil tertawa hambar.

"Hmmm... Hmmm... hal itu harus salahkan pengetahuanmu yang masih picik dan tak tahu apa-apa..."

Lu Kiat mendongak dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... ilmu menutup napas bisa merubah seorang hidup menjadi sesosok mayat yang telah mati, kepandaian seperti itu tentulah sejenis kepandaian yang luar biasa sekali... hey! jago lihay dari perguruan mayat hidup, dapatkah kau mendemonstrasikan ilmu sakti itu di hadapanku sehingga menambah pengetahuan dari kami yang masih bodoh..."

"Hmmm... hmmm... jika kau sudah menyaksikan kepandaian seperti itu, maka berarti pula usiamu sudah tidak panjang lagi..." kata si mayat hidup tadi sambil tertawa dingin. "Pada dasarnya kami berdua memang sudah tak punya harapan untuk tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup-hidup, apalagi berada di hadapan tiga mayat hidup yang super sakti seperti kalian, masa bisa lolos dengan selamat? Asal kau dapat mendemonstrasikan ilmu sakti yang dikatakan lihay sekali di hadapan kami, dan kami berdua merasa tak sanggup untuk menghadapinya maka sekali pun harus mati, kami bisa mati dengan tenang sebab kekalahan tersebut salah kami sendiri yang punya mata tak kenal gunung Tay-san."

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... baiklah," ujar mayat hidup itu kemudian setelah tertawa seram, "akan kuperlihatkan sampai di manakah kehebatannya ilmu saktiku itu!"

Ia pentang mulutnya lebar-lebar untuk menarik napas, kemudian alisnya berkerut mata melotot besar dan menggeletaklah tubuhnya di atas tanah.

Luar biasa sekali, ketika tubuhnya sudah roboh maka napas pun ikut berhenti dan keadaannya tidak jauh berbeda dengan orang yang telah putus napas dan mati beberapa saat.

Andaikata tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, siapa pun tak akan percaya kalau mayat di atas tanah sebenarnya adalah manusia hidup.

"Hmmm! Kematian semacam ini aku kira masih belum dapat mengelabui orang..." seru Lu Kiat kembali dengan alis berkerut.

"Coba periksa sendiri, asal kau mampu untuk menyadarkan kembali dirinya maka kami bertiga akan segera mengaku kalah!"

Dengan cepat satu ingatan berkelebat dalam benak Lu Kiat, ia segera berjongkok dan memeriksa keadaan tubuh dari mayat hidup itu, sedikit pun tidak salah! Keadaannya tidak jauh berbeda dengan mayat biasa, keadaannya hampir boleh dibilang dapat mengelabui siapa pun.

Ketika ia meraba tangannya dan tubuhnya ternyata dingin dan kaku, hal ini membuat hatinya diam-diam terkesiap, dia tak mengira kalau di kolong langit terdapat ilmu kepandaian seaneh itu, orang bisa berlagak seolah-olah telah mati, tak aneh kalau para jago lihay yang berkumpul di gunung Kiu-hoa-san tempo dulu berhasil dibodohi oleh ke-tiga sosok mayat hidup itu tanpa mereka sadari.

Diam-diam ia segera menotok tiga buah jalan darah di tubuh mayat hidup itu, aliran darah yang untuk sementara berhenti mengalir itu membuat totokan itu menghasilkan lekukan di tubuhnya, bila ia sadar nanti maka totokan tersebut akan menunjukkan reaksinya membuat aliran darahnya tak bisa pulih dengan cepat, keadaan itu berarti menguntungkan pihaknya.

Setelah melakukan perbuatan itu Lu Kiat segera bangkit berdiri katanya :

"Sungguh luar biasa sekali, aku mengaku kalah."

"Haaaah... haaaah... haaaah... " Mayat Ganas tertawa seram, "saudaraku, sekarang kau boleh bangkit berdiri."

Tetapi mayat hidup itu masih tetap menggeletak di atas tanah tanpa berkutik, ia tak mampu bangkit berdiri kecuali matanya melotot besar bagikan gundu, dengan buih putih mengalir keluar dari matanya.

Setelah terbungkam beberapa saat, dengan penuh kesakitan ia berteriak :

"Toako, dia main licik."

"Apa? Dia main licik..." bentak Mayat Ganas dengan gusarnya. Dengan gemas dan mendongkol dia melotot sekejap ke arah Lu

Kiat, kemudian serunya dengan jengkel :

"Kau berani betul bermain licik di hadapan kami bertiga... Hmm! Bocah cilik, rupanya kau tidak ingin mendapatkan kematian yang utuh, tapi ingin mencicipi dahulu pelbagai siksaan dari kami tiga bersaudara... hmm tunggu saja sebentar lagi."

"Hmm! bukankah kalian bilang sendiri kalau ilmu kepandaian tersebut maha sakti dan tiada tandingannya di kolong langit? Untuk membuktikan kebenaran dari perkataanmu itu terpaksa aku harus gunakan sedikit akal untuk menjajalnya, jika ilmu menutup napas memang benar-benar lihay sekali seperti yang kalian katakan, mayat hidup itu tak nanti akan tetap terbaring di sana tanpa berkutik, hey sahabat, aku lihat lebih baik kurangilah ngibulmu yang terlalu berlebih-lebihan itu, kelihayan yang dalam kenyataan cuma tipuan belaka sama sekali tak ada harganya."

"Hmm! Setan alas..." teriak Mayat Bengis yang selama ini selalu membungkam, "kalau kita tiga sosok mayat hidup mesti jatuh kecundang di tangan seorang bocah cilik maka muka kita semua di kemudian hari mesti ditaruh di mana? Toako... aku ingin mendahar dagingnya."

"Jie-te, jangan sembrono dan bertindak gegabah," cegah Mayat Ganas sambil menggeleng, "aku masih ada perkataan yang hendak dibicarakan dengan bocah bangsat ini."

Sementara itu Mayat Bengis sudah menunjukkan sikap hendak melakukan terjangan, mendengar seruan itu dengan cepat dia tarik kembali serangannya sambil melotot sekejap ke arah Lu Kiat dengan penuh perasaan dendam, hawa membunuh menyelimuti raut wajahnya.

Mayat Ganas mendengus seram, tegurnya :

"Bocah keparat, kau adalah anak murid dari perguruan mana?" "Aku rasa persoalan ini sama sekali tak ada hubungannya dengan

dirimu, tutup saja bacot anjingmu itu."

Mayat Ganas tidak mengira kalau perkataan pemuda itu sangat kasar, seolah-olah sama sekali tidak pandang sebelah mata pun terhadap dirinya, dengan gusar ia tertawa seram.

"Sekali pun tidak kau ucapkan, aku pun sudah tahu, kau pastilah keturunan atau murid dari beberapa orang tua bangka yang berhasil melepaskan diri dari gunung Kiu-hoa-san tempo dulu, kebetulan sekali kalau hendak mencari tahu jejak dari beberapa orang tua bangka celaka itu dari mulutmu."

Setelah berhenti sebentar, ia berpaling dan bertanya : "Loo-ji, di antara orang-orang yang sedang kita cari masih ada berapa orang yang belum berhasil ditundukkan..."

Mayat Bengis berpikir sebentar, lalu menjawab :

"Masih ada seorang kakek she Lu dan seorang perempuan baju hijau..."

Lu Kiat terkesiap, dari jawaban pihak lawan dia tahu kalau kakek she Lu yang dimaksudkan bukan lain adalah ayahnya sendiri, sedang perempuan berbaju hijau itu pun pernah diketahui olehnya, menurut perkataan orang perempuan itu adalah salah seorang jago lihay dari partai Thian-san.

Mereka semua termasuk jago-jago lihay yang pernah berkumpul di gunung Kiu-hoa-san untuk menumpas tiga mayat hidup dari muka bumi.

Terdengar Mayat Ganas mendengus dan berkata :

"Kedua orang manusia celaka itu mengira mereka sanggup menghindarkan diri dari pengejaran kita orang... Hmmm! Dan sekarang mereka kirim anak muridnya untuk memusuhi kita bertiga... haaa... haa..."

Ia tertawa seram, lanjutnya :

"Bocah keparat, bukankah kau adalah anak murid dari salah satu di antara mereka berdua?"

Tokoh sakti dari perguruan Mayat Hidup yang selama hidupnya belum pernah melakukan perbuatan baik ini bukan saja kecerdikannya melebihi orang lain, pengalamannya luas sekali. Dari nada suara serta perubahan air muka pemuda itu, dengan cepatnya ia dapat menebak asal usul orang.

Ditinjau dari kemampuannya ini bisa ditarik kesimpulan bahwa Mayat Ganas dari perguruan Mayat hidup ini bukan manusia sembarangan.

"Kalau memang engkau pandai menebak asal usul orang, kenapa mesti ajukan pertanyaan lagi?" seru Lu Kiat ketus. Mayat Bengis tak dapat menahan diri lagi terhadap tingkah laku Lu Kiat yang dianggap jumawa dan sombong itu, dengan tabiatnya yang berangasan dan gampang naik darah dengan cepat alisnya berkerut, sambil ayun tangan kanannya ke muka dia memaki:

"Enyah kau telur anjing makmu..."