Imam Tanpa Bayangan I Jilid 38

 
Jilid 38

CUI TIAP TIAP kembali tertawa dingin :

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... walaupun aku tidak menghalangi atau merintangi kebebasannya, tetapi aku tidak mengijinkan dia berkelahi dengan orang lain menggunakan ilmu silat keluarga, perbuatan macam itu bukan saja tak akan mendatangkan manfaat baginya, malah justru bakal mencelakai jiwanya."

"Tiap Tiap..." teriak Soat Hoa Nio Nio sambil tertawa seram, tubuhnya tanpa terasa ikut bergeser maju setindak ke depan, "perhatikan dulu duduknya perkara hingga menjadi jelas, siapkah Kiam Beng? Dan siapa pula bajingan she Pek itu? Kau anggap Kiam Beng dapat dihina dan dipermainkan orang seenaknya? Apa kau tidak tahu kalau bajingan she Pek itulah yang datang mencari gara-gara? Kiam Beng sebagai anggota Benteng Kiam-poo tunduk kepala terhadap bajingan liar itu? Meskipun mungkin aku bisa menyetujui pendapatmu itu, belum tentu ayahmu bisa menyetujui, aku rasa tentang masalah ini kau tak usah ribut-ribut lagi dengan aku."

Pek In Hoei ye mendengarkan banyolan nenek tua itu kontan menengadah dan tertawa terbahak-bahak.

Air muka Soat Hoa Nio Nio berubah hebat, dengan penuh kemarahan ia menjerit melengking, bentaknya :

"Bajingan tengik, anak jadah! Apa yang sedang kau tertawakan?" "Sungguh tak nyana kau si nenek peyot yang hampir modar bukan saja kau membolak-balikkan persoalan bahkan pintar juga menghasut orang lain dengan ucapan-ucapan yang tajam... Hmm! Seandainya aku tidak melihat usiamu yang sudah tua dan ajalmu setiap saat suah hampir tiba, ingin sekali menyuruh kau merasakan buah karya dari ucapanmu itu."

"Kentut busuk makmu..." maki Soat Hoa Nio Nio, "anak jadah sialan, kau berani memaki lo-nio? Bangsat matamu memang sudah buta semua, kalau tidak mengingat perasaan hatiku pada saat ini sedang lega, huuh! Jangan ditanya lagi akan kusuruh kau merasakan bagaimana kelihayannya lo-nio."

"Nenek peyot yang hampir modar, tak usah mengeluarkan kentut busuk lagi! Kalau memang merasa hebat dan punya kepandaian, kenapa tidak dikeluarkan? Tua bangka yang bermuka tebal... Hmmm, paling banter tong kosong bunyinya saja yang nyaring," ejek Pek In Hoei sinis.

Sudah tentu dalam hati kecilnya Soat Hoa Nio Nio sudah mengetahui jelas keadaan sebenarnya, meskipun tenaga dalam yang dimilikinya sangat lihay tapi di depan mata orang kelihayan itu tidak lebih seujung jarinya, bila sungguh terjadi pertarungan maka dia akan semakin kehilangan muka lagi.

Oleh karena itulah meskipun sangat gusar mendengar sindiran lawan, tetapi sekuat tenaga ia tekan emosinya di dalam dada dan tidak membiarkan dirinya terpengaruh oleh ejekan tersebut.

Tapi lama kelamaan ia tak tahan juga Pek In Hoei secara terang- terangan sudah menantang dirinya untuk berduel, dengan kedudukannya sebagai seorang angkatan yang lebih tua jika tak berani melayani tantangan seorang angkatan muda maka sejak itu hari dia tak mungkin lagi bisa tancapkan kakinya dalam Benteng Kiam-poo, sekali pun mukanya tebal ia pun tak akan tahan terhadap ejekan- ejekan lawan.

Sambil menggerang gusar teriaknya :

"Baiklah, lo-nio akan melayani tantanganmu itu! Hmm, jangan kau anggap lihay dan tak berani memberi pelajaran kepadamu." Kecerdasan orang ini benar-benar luar biasa dan hebat sekali, dia tahu ilmu pedang yang dimiliki Pek In Hoei sangat lihay dan sukar dicari tandingannya di kolong langit, jika dia minta pelajaran tentang ilmu pedang maka sembilan puluh sembilan persen dia pasti kalah.

Oleh sebab itu begitu tubuhnya maju ke depan, ia segera menerjang si anak muda itu dengan serangan tangan kosong.

Pek In Hoei meludah ke lantai dengan pandangan menghina ejeknya :

"Kau benar-benar perempuan tua yang kehilangan anak, sudah tahu air itu dingin tapi kau nekat juga untuk menceburinya. Hmmm! Jangan salahkan kalau aku akan bertindak kasar padamu."

Soat Hoa Nio Nio tidak berani mengucapkan sepatah kata pun, sambil membentak dengan suara yang berat perlahan-lahan telapak kanannya diangkat ke atas udara, dari balik telapak tangannya yang kering kerontang itu terpancarlah seberkas sinar hitam yang amat menyilaukan mata, bersamaan dengan pengerahan tenaganya cahaya hitam itu kian lama kian bertambah tebal sehingga akhirnya terciptalah segumpal awan hitam yang pekat.

Lu Kiat terkesiap melihat keampuhan nenek tua itu, ia tahu pihak lawan telah mengerahkan ilmu beracunnya untuk membinasakan musuh yang paling dibencinya itu.

Pek In Hoei sendiri diam-diam pun merasa terperanjat, dengan cepat ia himpun segenap kekuatan yang dimilikinya di dalam lengan, bajunya dengan cepat menggelembung bagaikan bola sedang sorot matanya yang tajam menatap perempuan tua itu tanpa berkedip.

"Bajingan cilik," teriak Soat Hoa Nio Nio sambil tertawa seram, "terimalah pukulan mautku ini!"

Telapak tangan yang kurus kering itu bergerak silih berganti di udara, segulung hembusan angin dahsyat yang sangat kuat segera memancar keluar dari balik telapaknya dan menerjang tubuh Jago Pedang Berdarah Dingin dengan hebatnya. Pek In Hoei tarik napas panjang-panjang tubuhnya bergeser ke samping menghindarkan diri dari ancaman itu, kemudian sambil membentak keras dia ayun pula telapak tangannya menyongsong kedatangan serangan lawan.

"Blaaaammmm...!" ledakan dahsyat bergeletar memecahkan kesunyian, pusaran angin puyuh menggulung di angkasa menerbangkan pasir dan kerikil yang berada di sekeliling situ, sungguh dahsyat benturan itu sehingga pemandangan di sekitar sana jadi gelap dan mengerikan.

Lengan kanan Soat Hoa Nio Nio seketika terkulai lemah ke bawah, dengan sempoyongan dia mundur tujuh delapan langkah ke belakang, air mukanya berubah jadi pucat pias bagaikan mayat darah kental berceceran di atas pakaian dan menodai ujung bibirnya, dari kenyataan itu bisa ditarik kesimpulan bahwa nenek tua tadi sudah menderita luka dalam yang amat parah dalam adu tenaga tadi.

"Kau... bangsat!... anak jadah... kau... kau telah menghancurkan ilmu silat kebanggaanku... kau terkutuk..." jerit nenek tua itu dengan suara yang tinggi melengking.

Pek In Hoei menghembuskan napas panjang,dengan senyuman mengejek menghiasi ujung bibirnya ia menjawab :

"Selama hidup aku paling benci menyaksikan seseorang berlatih ilmu telapak yang beracun, di ujung telapakmu yang mengandung racun jahat itu entah sudah berapa banyak jiwa yang menjadi korban? Aku tidak bermaksud lain kecuali memusnahkan cakar ayammu itu, agar di kemudian hari kau tak dapat menggunakan kelebihanmu itu untuk berbuat kejahatan..."

"Bajingan... lebih baik... lebih baik bunuh saja diriku!" jerit Soat Hoa Nio Nio dengan suara gemetar.

"Huuuh...! kalau aku punya minat untuk berbuat begitu, pekerjaan tersebut dapat kulaksanakan dengan mudah, tapi sayang... aku tidak berminat untuk melakukan hal itu..." Soat Hoa Nio Nio terbungkam dalam seribu bahasa, dia pun menyadari sampai di manakah tabiat pemuda sombong dan tinggi hati ini, ia bisa berkata tentu bisa pula untuk melaksanakannya.

Andaikata dalam pertarungan yang baru saja berlangsung pihak lawan tidak mengampuni jiwanya... maka pada saat itu bukan sebuah lengannya saja yang patah, ada kemungkinan jiwa pun ikut melayang.

Dia tertawa sedih, setelah termenung sebentar ujarnya :

"Pek In Hoei, tahukah engkau dendam sakit hati ini sebentar lagi akan dibalaskan oleh orang lain?"

"Hmmmm! Sungguhkah itu?" ejek Pek In Hoei sambil mendengus, "ingin sekali kusaksikan manusia macam apa sih yang memiliki kepandaian selihay dan sedahsyat itu..."

Belum habis pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, mendadak dari balik hutan yang lebat berkumandang datang gelak tertawa yang seram dan aneh kedengarannya.

Cui Kiam Beng tampak muncul kembali di sisi gelanggang mengiringi seorang kakek tua yang aneh sekali bentuknya, kakek itu punya mata yang sipit dan berbentuk segi tiga, hidung menghadap langit dan bibir yang lebar, sekilas pandangan panca inderanya kelihatan mengerikan sekali.

Setelah menyaksikan kemunculan kakek aneh itu, Soat Hoa Nio Nio segera menjerit dengan suara melengking :

"Tua bangka yang tidak mati-mati, kali ini aku sudah jatuh kecundang di tangan orang..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... kau si tulang tua yang tinggal kulit pembungkus tulang, sudah setua ini masa bisa jatuh kecundang di tangan seorang bocah ingusan macam itu," seru Han San sianseng sambil tertawa terbahak-bahak, "aku jadi tak habis mengerti apa sih kerjamu di waktu-waktu belakangan ini? Kenapa makin tua semakin loyo dan tak berguna?"

Lengan kanan Soat Hoa Nio Nio sudah dipatahkan oleh Pek In Hoei, saat itu tangan tadi terkulai ke bawah dan tak sanggup diangkat kembali, saking sakitnya keringat dingin keluar tiada hentinya, dengan bibir yang pucat dan tubuh yang gemetar keras serunya :

"Tua bangka sialan aku..."

Rupanya pada waktu itu Han San sianseng pun sudah menyaksikan keadaan Soat Hoa Nio Nio yang tidak beres, ia terkejut dan cepat-cepat meloncat ke sisi perempuan tua itu, setelah melakukan pemeriksaan yang seksama di sekitar lengan kanan itu air mukanya mendadak berubah jadi serius.

"Siapakah yang telah turun tangan sekeji ini terhadap dirimu??" serunya dengan sorot mata berkilat.

"Siapa lagi kalau bukan dia??" jawab Soat Hoa Nio Nio sambil melirik sekejap ke arah Jago Pedang Berdarah Dingin.

Han San sianseng segera angkat kepala dan tertawa keras saking gusarnya, sepasang alis berkerut kencang.

"Apakah dia adalah putra dari Pek Tiang Hong??" serunya. "Sedikit pun tidak salah, dia adalah anak jadah dari bangsat tua

itu..."

Mimpi pun Jago Pedang Berdarah Dingin tak pernah menyangka, dengan kedudukan Soat Hoa Nio Nio yang begitu tinggi dan dihormati oleh setiap jago Bu lim, ternyata mulutnya amat kotor dan pandai mengucapkan kata-kata yang tak sedap didengar, mendengar ucapan itu ia naik darah, napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya.

"Siapa yang kau maki...?" bentaknya.

Sejak kemunculan Han San sianseng di tengah gelanggang, rasa takut yang semula menyelimuti benak Soat Hoa Nio Nio sudah jauh berkurang, dalam perkiraannya dengan kemampuan yang dimiliki kakek aneh itu rasanya masih cukup untuk digunakan menghadapi Jago Pedang Berdarah Dingin.

Mendengar teguran itu, dengan wajah tak gentar ia tertawa dingin dan menjawab : "Hmmm! Aku sedang memaki dirimu, kenapa? Kau tidak terima?"

Pek In Hoei benar-benar tak sanggup menahan diri lagi, dengan langkah lebar dia maju ke depan, serunya :

"Nenek bangkotan yang sudah hampir modar, itu namanya kau telah menggali liang kubur bagimu sendiri!"

"Sahabat!" dengan cepat Han San sianseng melayang maju ke muka, "aku si orang tua ada persoalan yang hendak dibicarakan dengan dirimu!"

"Urusan apa?"

Han San sianseng tidak menjawab, sambil mengangguk ketus perlahan-lahan dia ulur tangan kirinya ke muka.

Pada lengan tersebut kecuali ibu jarinya yang masih utuh, ke- empat buah jari tangan lainnya telah lenyap dan jelas-jelas telah terpapas oleh senjata tajam, Pek In Hoei tercengang, ia tak tahu maksudnya kakek tua itu memperlihatkan telapak kirinya itu kepada dia, pelbagai ingatan dengan cepat berkelebat memenuhi benaknya, ia sedang berpikir kenapa ke-empat buah jari manusia aneh itu sudah terpapas dan siapa yang melakukannya?

"Tahukah kau bagaimana kejadiannya sehingga ke-empat buah jari tanganku ini lenyap?" seru Han San sianseng dengan suara dingin. "Oooh...! Mungkin kau sudah mencuri ayam atau anjing milik orang lain, maka sang pemilik lantas memotong ke-empat jari

tanganmu itu sebagai ganjaran!" sindir Lu Kiat dari belakang. "Bajingan cilik! Mulutmu kotor, rupanya kau sudah bosan

hidup," bentak Han San sianseng penuh kegusaran.

Ibaratnya sukma yang gentayangan di tengah angkasa, dengan suatu gerakan yang amat cepat ia menerjang maju ke muka, telapak tangannya diayun mengirim satu pukulan kilat.

Lu Kiat sama sekali tidak menyangka kalau dirinya secara mendadak bisa diserang demikian hebat, dalam keadaan gugup tak sempat lagi baginya untuk menghindarkan diri. "Blaam...! Dengan telak serangan tersebut bersarang di dadanya membuat Lu Kiat mengerang kesakitan dan uak...! Dia muntah darah segar, tubuhnya mundur tujuh langkah ke belakang dengan sempoyongan.

"Kurang ajar, kau berani melukai toakoku," bentak Pek In Hoei dengan wajah berubah hebat.

"Hmmm! Itulah ganjaran bagi mulutnya yang usil serta bicara tidak karuan," ujar Han San sianseng dengan suara dingin ketus, "selama hidup aku si orang tua paling benci kalau mendengar ada orang suka mengaco belo tak karuan. Huuh! Siapa suruh dia bikin gara-gara kepadaku? Kalau tidak diberi pelajaran dia pasti tak jera dan semakin berani menghina diriku!"

Lu Kiat yang termakan sebuah gaplokan sehingga muntah darah, dengan cepat mengatur pernapasannya dan berusaha menyembuhkan luka baru itu, kemudian tubuhnya bergerak siap menerjang ke depan.

Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei yang berada di sisinya dengan cepat menghadang jalan perginya.

"Toako!" ia berkata dengan suara rendah tapi bertenaga, "hutangmu itu biarlah aku yang tagih kembali, beri kesempatan padanya untuk menyelesaikan dahulu semua pembicaraannya setelah itu baru kita coba kepandaian silatnya."

"Hmmm! Rupanya imanmu cukup tangguh juga," ejek Han San sianseng sambil tertawa dingin.

"Tua bangka sialan!" tiba-tiba Soat Hoa Nio Nio berteriak gusar, "kuundang kehadiranmu ke tempat ini bukan suruh kau membicarakan kata-kata yang sama sekali tak ada gunanya itu, dua orang bajingan muda itu sudah menganiaya diriku hingga jadi begini, apa yang masih kau nantikan lagi?"

"Jangan ribu dulu, bagaimana pun aku toh mesti mempelajari lebih dahulu bagaimanakah duduk perkara yang sebenarnya," bantah Han San sianseng. Ia memandang sekejap ke arah tangan kirinya yang tinggal ibu jari itu, lalu dengan wajah murung bercampur sedih tambahnya kembali :

"Orang she Pek, coba lihat lengan kiriku ini!"

"Hmmm! Lengan kutung apa sih kebagusannya untuk dilihat?

Aku tak sudi untuk menikmatinya."

"Tahukah engkau apa sebabnya lenganku ini bisa berubah jadi demikian rupa? Pek In Hoei! Sepanjang hidup aku si orang tua belum pernah jatuh kecundang di tangan orang separah yang pernah kualami ini dan justru aku telah jatuh kecundang di tangan ayahmu Pek Tiang Hong, dialah yang telah menghadiahkan tangan macam begini kepadaku."

Pek In Hoei Jago Pedang Berdarah Dingin tercengang mendengar ucapan itu, ia tak menyangka kalau lengan kiri Han San sianseng jadi kutung dan hancur macam begitu di tangan ayahnya, dengan wajah penuh kebanggaan segera serunya :

"Siapa sih suruh kau tidak belajar ilmu silat secara bersungguh- sungguh? Kenapa setelah kalah menyalahkan orang."

Dengan penuh kebencian Han San sianseng tertawa terbahak- bahak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... sedikit pun tidak salah, anak muda! Apa yang kau ucapkan memang sedikit pun tidak salah, meskipun lengan kiriku sudah berubah jadi cacad tapi aku tak pernah punya maksud membenci ayahmu, yang selama ini kupikirkan adalah bagaimana caranya untuk mengembalikan gengsiku yang sudah hancur total itu, sejak ayahmu binasa aku mengira tiada kesempatan lagi bagiku untuk mencuci bersih namaku yang telah ternoda itu, siapa tahu hari ini malaikat elmaut telah mengantarkan dirimu datang kemari, inilah kesempatan yang paling baik bagiku untuk menuntut balas. Hmm... hmm... Thian memang maha adil dan mengatur semua orang dengan bijaksana selama hidup seorang manusia masih diberi kesempatan." "Huuuh! Untuk menandingi ayahku saja kau tak mampu, mau apa kau datang mencari aku? Pengin mengantar kematian dengan sia- sia?"

"Oh... jadi kau lebih ampuh daripada Pek Tiang Hong," seru Han San sianseng dengan tercengang.

"Aku tidak maksudkan begitu," bantah Pek In Hoei sambil menggeleng, "meskipun ketika belajar silat ayahku belajar lebih dahulu, bagaimana pun sumbernya tetap satu, atau paling sedikit aku sudah menguasai sebagian kecil dari ilmu pedang penghancur sang surya serta ilmu silat partai Thiam cong lainnya, aku yakin bila kepandaian itu kugunakan untuk menghadapi dirimu maka kau tak akan mampu meloloskan diri."

"Hmmm!" Han San sianseng mendengus berat, "kau terlalu pandang rendah diriku, selama banyak tahun aku telah mempelajari kembali ilmu silatku dengan rajin dan tekun, aku yakin kepandaian yang kumiliki saat ini jauh lebih ampuh daripada kepandaian yang dimiliki ayahmu, Han San sianseng yang sekarang jauh berbeda dengan Han San sianseng tempo dulu, orang muda janganlah salah melihat orang."

Pek In Hoei tertawa hambar mendengar perkataan itu.

"hh yang dahulu belum pernah kutemui, dan Han San sianseng yang sekarang telah kujumpai sendiri, kalau dilihat tampangmu itu aku percaya sekali pun bertambah lihay juga tak akan seampuh seperti apa yang kau lukiskan."

"Bajingan cilik, kau pengin modar!" bentak Han San sianseng gusar.

Jago tua yang berwajah aneh itu betul-betul sudah naik darah dan diliputi oleh napsu angkara murka yang sukar dikendalikan lagi, hawa membunuh meliputi seluruh wajahnya dengan hati mendongkol ia berteriak keras, sambil bergerak maju ke depan pedang yang tersoren di pinggang segera dicabut keluar. Cahaya tajam berkilauan, dari ujung pedang itu segera terpancarlah cahaya dingin yang menggidikkan hati.

"Orang muda!" teriaknya keras, "dendam lama dan dendam baru telah bertumpuk-tumpuk, sudah tiba waktunya bagi kita untuk membuat perhitungan dan menyelesaikan semua hutang piutang tersebut, aku yakin nama besarku Han San sianseng tidak akan terpaut jauh dengan julukanmu sebagai Jago Pedang Berdarah Dingin."

Dengan angkuh dan jumawa Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei mendengus dingin, ia melirik sekejap ke arah kakek tua itu dengan pandangan menghina sementara sorot mata yang tajam menyorot keluar seolah-olah dua batang pisau belati yang sedang mencari mangsa.

Han San sianseng terkesiap, tanpa sadar ia mundur dua langkah ke belakang dengan hati merinding.

"Waah... hubungan ini benar-benar hubungan yang luar biasa," jengek Pek In Hoei sinis, "tak pernah kusangka kalau kau Han San sianseng bisa memandang tinggi aku Jago Pedang Berdarah Dingin, memandang di atas sikapmu ini sudah sepantasnya kalau kuucapkan banyak-banyak terima kasih kepadamu."

Nama besar Han San sianseng bagaikan pula raut mukanya yang masam, selalu murung dan loyo seakan-akan ada orang yang berhutang berjuta tahil perak kepadanya, tak sehari pun nampak cerah atau gembira.

Sepasang alisnya yang tebal selalu mengerut jadi satu, dengusan dingin diperdengarkan berulang kali, sementara sorot matanya yang memancarkan kebencian menatap di atas pemuda sombong itu tanpa berkedip.

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... " ia tertawa seram, sambil membasahi bibirnya yang kering ia berkata, "untuk mengikat tali persahabatan harus dinilai dari kedua belah pihak, meninjau dari kemampuanmu untuk memusnahkan lengan si nenek tua itu, aku yakin kau adalah sahabat karib yang boleh dijalin, cuma, hmm... hmmm... aku rasa nasibku tidak sebaik itu untuk mengaku kakak beradik dengan dirimu."

Dengan lirikan yang tidak sengaja ia memandang sekejap ke arah Soat Hoa Nio Nio, nampaklah air muka nenek tua itu meski masih diliputi kesedihan namun di balik wajahnya yang pucat terlintas pula rasa girang, agaknya ia merasa girang karena Han San sianseng telah turun tangan membalaskan sakit hatinya.

"Han San sianseng jiwamu sejak tadi sudah melayang," seru Pek In Hoei sambil tertawa rawan, "inilah kesempatan terakhir yang kuberikan kepadamu, jika kau ngotot menantang aku berkelahi maka aku yakin bukan saja lenganmu yang lain akan kutung bahkan sepasang kaki anjingmu itu pun bisa lenyap tak berbekas."

"Bajingan, kau berani sebut namaku seenak udelmu sendiri!" bentak kakek itu marah.

"Apa sih bagusnya namamu?" kata Pek In Hoei, "kalau kau takut namamu disebut orang, lebih baik ganti saja namamu Han-san jadi Han suan si kecut."

"Kau berani menghinaku?" teriak Han San sianseng sambil menggetarkan pedang.

"Siapa yang bilang aku kurang ajar? Aku berbicara menurut kenyataan yang berada di depan mata, aku rasa tindakanku ini tidak terlalu kelewat batas."

Saat ini Han San sianseng benar-benar sudah tak dapat menahan sabar lagi, teriaknya keras-keras:

"Cabut pedangmu, mari kita tentukan siapa yang lebih unggul di ujung senjata."

"Untuk membunuh seekor anjing budukan macam engkau, aku tidak ingin mengotori pedang pusakaku dengan darah anjingmu itu!" Perkataan ini sangat menghina dan terlalu menusuk perasaan Han

San sianseng, hampir saja kakek tua itu muntah darah saking gusar dan mendongkolnya, dia mencak-mencak dan ayun pedangnya ke depan : "Kentut busuk... kentut busuk... kau berani membanding- bandingkan aku dengan seekor anjing budukan... kau bangsat cilik... anak jadah, mulutmu terlalu dekil..." jeritnya.

"Huhh! Sebutan itu sudah cukup menghormati dirimu, mengerti?" ujar Pek In Hoei sinis, "atau kau ingin mendengar sebutan yang lebih tak enak didengar lagi? Han San sianseng, apakah kau ingin mendengar lebih lanjut?"

Han San sianseng tak bisa mengendalikan emosi dan hawa amarahnya lagi, ingin sekali dia bekuk batang leher pemuda itu serta memberi ganjaran yang setimpal kepadanya, tetapi melihat Jago Pedang Berdarah Dingin tidak turun tangan juga, ia merasa tidak leluasa untuk turun lebih dahulu.

Maka dengan sekuat tenaga dia berusaha untuk memaksa lawan turun tangan lebih dahulu, agar dia tidak kehilangan gengsinya sebagai angkatan yang lebih tua.

"Kau tak usah pentang bacot anjingmu lagi," teriaknya marah, "kalau punya kepandaian ayoh rentangkan keluar semua."

Pek In Hoei merasa sudah cukup waktunya untuk mempermainkan musuhnya ini, jika ejekannya diteruskan lebih jauh ia kuatir akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, maka ia maju selangkah ke depan dan pedang sakti penghancur sang surya perlahan-lahan dicabut keluar.

Kilatan cahaya tajam berhamburan di angkasa, setelah pedang mestika itu dicabut keluar, semua orang yang hadir dalam kalangan berdiri tertegun, dengan pandangan bergidik sorot mata mereka sama- sama ditujukan ke atas senjata mestika itu.

"Aaah...! Pedang mestika penghancur sang surya..." bisik Han San sianseng dengan suara gemetar, "sungguh tak kunyana senjata mestika ini telah terjatuh ke tanganmu."

Selapis hawa dingin terlintas di atas wajah Pek In Hoei, katanya dengan suara yang dingin : "Pedang sakti partai Thiam cong diturunkan kepadaku, apa sih yang patut kalian kagetkan? Hmmm... manusia goblok!"

"Pedang itu tajamnya luar biasa dan terkenal keganasannya, bila sampai terjatuh ke tanganmu maka keadaannya bukankah ibarat harimau tumbuh sayap?... kebetulan sekali sejak kecil aku si orang tua memang gemar akan senjata mestika... Hmmm... Hmmm... siapa tahu kalau ini hari aku bakal mendapatkan pula benda itu..."

Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei memandang sekejap pedang mestika penghancur sang surya-nya, kemudian berkata :

"Asal kau merasa punya kepandaian, setiap saat pedang ini boleh kau ambil pergi!"

"Hmmm... hmmm... " Han San sianseng mendengus dingin, pedang panjangnya perlahan-lahan diangkat menuding langit, sesudah tarik napas panjang hawa murninya segera dihimpun dan disalurkan ke ujung senjata tersebut, serunya dengan nada dingin :

"Baiklah, sudah waktunya bagi kita untuk turun tangan!" "Hmm! Sedikit pun tidak salah, kau harus berhati-hati melayani

permainan pedangku ini."

Dengan suatu gerakan yang enteng dan seenaknya sendiri pedang mestika itu didorong ke muka, begitu biasa gerakan itu sehingga seorang bocah pun dapat melakukannya.

Dorongan pedang itu enteng dan biasa, sama sekali tidak terdapat perubahan apa pun, tetapi dengan wajah serius Han San sianseng mundur dua langkah ke belakang.

Setelah mendorong pedangnya ke muka Pek In Hoei tarik kembali senjatanya dan mundur ke belakang, hal ini membuat Han San sianseng jadi tertegun da tak habis mengerti, dia tak tahu apa maksud dan tujuan pihak lawan melakukan tindakan itu.

"Masa jurus seranganmu itu sama sekali tiada perubahan apa pun??" akhirnya dia menegur.

"Hmm! Kau masih menginginkan perubahan apa? Kau sudah kalah... ngerti...?" jawab pemuda itu dingin. "Omong kosong," bentak Han San sianseng gusar, "sekali pun aku si orang tua tidak becus, untuk menghindarkan diri dari serangan pedangmu itu aku yakin masih mampu... pandai benar kau bangsat cilik bicara bohong... padahal dalam kenyataan kelihayan apa pun tidak dimiliki."

Pek In Hoei tertawa dingin.

"Anjing budukan yang tak punya mata, sungguh memalukan sekali kau hidup sebagai seorang jagoan lihay... kalau cuma perubahan jurus ini pun tak mampu kau ketahui, lebih baik pulang gunung menyembunyikan diri saja... aku menyesal telah menilai dirimu terlalu tinggi."

Dia tarik napas panjang-panjang, ujarnya kembali :

"Kalau tidak percaya, apa salahnya kalau tundukkan kepalamu dan coba periksa kancing nomor dua di atas dadamu itu, jika kugunakan tenaga yang lebih besar paling sedikit di atas dadamu itu kini sudah bertambah lagi dengan sebuah lubang besar."

Han San sianseng melengak, rasa sangsi dan tidak percaya terlintas di atas wajahnya, tetapi setelah menyaksikan raut wajah Pek In Hoei yang serius dan sama sekali tidak main-main, tanpa sadar ia segera tundukkan kepalanya dan memandang ke arah kancing nomor dua di atas dadanya.

Kalau tidak diperiksa keadaan mungkin masih mendingan, setelah ditundukkan kepalanya peluh dingin seketika mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, kancing bulat yang terbuat dari kain itu entah sejak kapan telah terbelah jadi dua bagian, bekas tebasannya rata seperti dibacok senjata tajam.

Han San sianseng benar-benar merasakan hatinya tercekat, dengan wajah berubah hebat pikirnya :

"Kejadian ini benar-benar merupakan suatu peristiwa yang sama sekali tak terduga olehku, tak nyana tusukan pedang yang nampak begitu sederhana dan biasa sebetulnya mengandung tenaga perusak yang maha dahsyat, wah... aku Han San sianseng benar-benar sudah jatuh kecundang dalam keadaan yang mengenaskan sekali, seandainya berita ini sampai tersiar di tempat luaran apa yang mesti kukatakan untuk memberi penjelasan kepada mereka..."

Dengan perasaan marah karena malu terhina, kakek tua itu tertawa seram, seluruh rambut dan jenggotnya berdiri tegak bagaikan landak, napsu membunuh yang menyelimuti wajahnya makin tebal, teriaknya setengah menjerit :

"Bajingan cilik... bajingan cilik... kau benar-benar sudah menghina diriku..."

Sang pedang digetarkan di tengah udara menciptakan sekilas cahaya pedang yang menyilaukan mata, tusukan itu tepat dan enteng sekali... dengan hawa serangan yang tajam dan dingin ia ancam tiga tempat penting di tubuh pemuda she Pek itu.

Diam-diam Jago Pedang Berdarah Dingin terkesiap juga menyaksikan kelihayan lawannya, dia tahu dirinya pada hari ini sudah berjumpa dengan musuh tangguh yang belum pernah dijumpainya selama ini, dengan hati tercekat dia putar pedang menyongsong datangnya ancaman tersebut, pikirnya :

"Sungguh tak nyana ilmu silat yang dimiliki kakek tua aneh ini sedemikian lihaynya sehingga sama sekali berada di luar dugaan, tidak aneh kalau Soat Hoa Nio Nio begitu mempercayai akan kemampuannya, ternyata dia memang benar-benar punya isi."

Seluruh perhatiannya segera dipusatkan pada ujung pedang, kilatan cahaya berkelebat dan senjata itu segera meluncur ke muka menyongsong datangnya ancaman lawan.

Tiiing... traaang... tiiing... traaaang... bentrokan nyaring berdesing tiada hentinya, ke-dua belah pihak segera saling berpisah satu sama lainnya dan mundur ke belakang.

Sepasang mata Han San sianseng terbelalak lebar bagaikan sepasang gundu, ia mengawasi tubuh si anak muda itu tanpa berkedip, sorot matanya penuh mengandung perasaan jeri dan ngeri, dan perasaan tersebut hampir saja memadamkan kobaran api amarahnya. "Bagaimana?" ejek Jago Pedang Berdarah Dingin dengan nada ketus, "Han San sianseng, kalau sekarang kau ingin enyah dari sini masih belum terlambat."

"Telur busuk makmu... " maki Han San sianseng dengan wajah berubah hebat, "selama hidup aku si orang tua belum pernah tunduk kepala terhadap siapa pun juga, masa terhadap kau si anak jadah liar pun harus tunduk kepala dan menyerah kalah? Hmmm... kau tak usah bermimpi di siang hari bolong."

"Han-san!" bentak Pek In Hoei dengan wajah berubah, "tahukah engkau, ucapan kasar yang barusan kau utarakan bisa mengorbankan selembar jiwa anjingmu."

"Haaaah... haaaah... haaaah... " Han San sianseng menyeringai dan tertawa seram, "anak jadah murahan, kalau kau memang merasa punya kemampuan ayoh tunjukkan semua, aku si orang tua yakin masih sanggup untuk menghadapinya, sejak semula aku memang sudah tidak maui lagi jiwa tuaku ini, asal kau sudi memberikan hadiah kepadaku, maka jiwa tuaku ini segera akan kuserahkan kepadamu."

Mendengar dirinya berulang kali dimaki 'anak jadah murahan' oleh kakek tua itu, kobaran api amarah yang bergelora dalam dada Jago Pedang Berdarah Dingin sukar dibendung lagi, ia tertawa dingin dan pedangnya segera digertakkan keras-keras.

"Tua bangka yang bosan hidup, terlalu banyak yang sudah kau katakan... mulut baumu itu sudah tiba waktunya untuk beristirahat, sejak kini mulutmu itu tak akan bisa buka suara lagi... kau tak akan mampu menyaksikan lagi betapa indahnya sang surya yang terbit di pagi hari..."

Tiba-tiba pedangnya meluncur ke depan dan membentuk gerakan satu lingkaran busur di tengah udara, ketika bayangan lingkaran tadi belum lenyap segulung hawa pedang telah memancar keluar.

Han San sianseng tertegun, ia tak mengira kalau ilmu pedang yang dimiliki pihak lawan sangat lihay, sudah banyak tahun dia berlatih pedang tetapi saat ini dia jadi kebingungan dan tak bisa menebak arah mana yang sedang terancam oleh serangan itu.

Hatinya tercekat, dan untuk beberapa saat lamanya dia hanya berdiri mendelong belaka sambil memandang ke arah depan.

Tindakannya yang bodoh dan seolah-olah kehilangan semangat ini sangat menguatirkan para jago yang hadir di sisi kalangan, mereka tak tahu apa sebabnya tiba-tiba jago tua itu bisa berubah jadi goblok dan tololnya.

"Han-san! Ayoh cepat menghindar," jerit Soat Hoa Nio Nio dengan badan gemetar keras.

Seluruh perhatian dan pikiran Han San sianseng pada saat itu sudah dicurahkan semua pada ujung senjata lawan, benaknya berputar memikirkan perubahan aneh yang dipergunakan lawannya, boleh dibilang ketika itu dia sudah lupa untuk menghindarkan diri.

Jeritan keras dari Soat Hoa Nio Nio segera menyadarkan kembali dirinya dari lamunan, ia pentang matanya lebar-lebar dan memandang apa yang sebetulnya telah terjadi.

Peluh dingin mengalir membasahi seluruh tubuhnya, diam-diam jeritnya di dalam hati :

"Aduuuh mak, sudah habis riwayatku," pada detik yang sangat kritis dan terancam oleh mara bahaya itulah, tubuhnya buru-buru dilemparkan ke samping, pedangnya ditegangkan kencang-kencang bagaikan sebatang pit langsung menotok ke muka.

Triiing...! percikan bunga api berlompatan di udara, walaupun hanya terjadi benturan perlahan tetapi suara yang berdengung di angkasa amat memekakkan telinga.

Laksana kilat sorot mata Han San sianseng melirik sekejap ke ujung pedang kesayangannya, dia lihat senjata itu gumpil sedikit termakan oleh bacokan lawan, hatinya terasa sakit seolah-olah tubuhnya tertusuk telak, perasaan sedih yang sukar dilukiskan dengan kata-kata menyelimuti wajahnya, dia tahu andaikata kepandaian silat tidak lihay, tak mungkin akan ditemui kesempatan yang demikian baiknya untuk menghindarkan diri dari serangan lawan yang begitu mantap dan ampuh, dan seandainya Soat Hoa Nio Nio tidak menjerit sehingga menyadarkan dirinya dari lamunan, bukan saja ujung pedangnya bakal gumpil bahkan kemungkinan besar tubuhnya bakal menggeletak di atas tanah dalam keadaan tak bernyawa lagi.

"Aku akan beradu jiwa dengan dirimu...1" jeritnya dengan setengah berteriak.

Pek In Hoei tertawa dingin.

"Hmmm...! Kau mampu meloloskan diri dari tusukan maut itu, hal tersebut menandakan kalau nasibmu masih mujur... andaikata gerakan pedangku tadi kumiringkan sedikit saja ke samping maka aku percaya batok kepalamu yang besar itu sudah terbelah jadi dua bagian."

Sejak pertama kali terjun ke dalam dunia persilatan belum pernah Han San sianseng menderita kekalahan total seperti apa yang dialaminya hari ini, dia merasa dirinya sudah kehilangan muka, gengsinya jatuh tak mungkin lagi baginya untuk hidup lebih jauh dalam Benteng Kiam-poo, timbullah keinginannya untuk beradu jiwa dengan Jago Pedang Berdarah Dingin, atau paling sedikit dia akan membinasakan lawannya agar dapat memberikan pertanggungan jawab di hadapan poocu nanti...

Ia menyeringai seram dan tertawa keras, jeritnya :

"Kentut busuk... kau anggap aku si orang tua adalah manusia tolol yang bisa kau tipu seenaknya."

"Hmmm! Kalau memang kau tidak percaya, lihatlah seranganku yang ini."

Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, mendadak ia menerjang maju ke depan, pedang mestika penghancur sang surya berputar satu lingkaran di tengah udara dan langsung meluncur ke depan mengancam tujuh buah jalan darah terpenting di tubuh Han San sianseng. Serangan pedangnya kali ini jauh lebih aneh lagi, bahkan sama sekali berada di luar dugaan orang terutama sekali ke-tujuh titik cahaya dingin yang terpancar di tengah udara, sepintas lalu kelihatan seperti tujuh buah senjata rahasia yang secara berbareng meluncur ke depan membuat orang sukar untuk menduga arah mana yang sebenarnya dituju oleh serangan itu.

Bukan saja ganas serangannya, jurus itu pun kelihatan aneh dan jarang ditemui di kolong langit.

Han San sianseng si jago tua yang sudah banyak pengalaman dalam dunia persilatan, saat ini hanya bisa berdiri melongo belaka, dia tak tahu serangan pedang yang dilancarkan pemuda itu bakal mengancam bagian mana dari tubuhnya.

"Aaah... tujuh bintang pemusing kepala..." bisiknya dengan suara lirih.

"Aduuuh mak..." ia berteriak keras dan berusaha loncat mundur ke belakang, di tengah kepungan tujuh bintang pemusing kepala di sadar bahwa tak mungkin lagi baginya untuk menghindarkan diri, sambil menggertak gigi pedang di tangan kanannya sekuat tenaga segera dibabat ke depan.

"Aduuuh...!" bacokan sekuat tenaga yang dilakukan olehnya ini sama sekali tidak berhasil menyelamatkan jiwanya, satu tusukan di antara tujuh bintang pemusing kepala akhirnya bersarang di tempat pentingnya... dengan kesakitan dia menjerit lengking, tubuhnya yang tinggi besar bagaikan pagoda roboh ke atas tanah disertai benturan yang keras.

Darah segar memancar keluar lewat mulut lukanya di atas pinggang dan membasahi seluruh tubuhnya, ia mengerang dan pedangnya terlepas dari genggaman, dengan pandangan putus asa ia melirik sekejap ke arah Pek In Hoei.

"Oooh...! Han-san..." jerit Soat Hoa Nio Nio sambil menerjang maju ke depan, dia lupa akan rasa sakit yang menyerang tubuhnya, sambil menubruk di atas tubuh Han San sianseng serunya : "Oooh... Han-san, aku tidak sepantasnya suruh kau datang kemari... oooh Han-san akulah yang mengakibatkan kau begini."

"Kenapa?" kata Han San sianseng sambil tertawa getir, "apakah kau merasa sedih karena aku hampir mati? Hmmm... Hmmm... nenek tua, kau keliru besar... aku sama sekali tidak sedih karena kematianku ini, karena aku dapat mati di hadapanmu."

"Tidak! Kau tak boleh mati," jerit Soat Hoa Nio Nio sambil menangis terisak.

Dengan penuh kesakitan Han San sianseng tertawa.

"Nenek tua!" ujarnya kembali, "soal mati bagi kita yang sudah berusia lanjut hanya menunggu waktu belaka, sekarang atau besok akhirnya kita bakal mati juga... siapa pun tak bakal bisa meloloskan diri dari kejadian tersebut, kenapa kau mesti bersedih hati karena kematianku ini?"

Dengan napas berat dan terengah-engah terusnya :

"Sebelum aku menghembuskan napas yang penghabisan, terlebih dahulu aku ingin mendengarkan sepatah katamu."

"Perkataan apa?" tanya Soat Hoa Nio Nio tertegun, "asal kau suka mendengarkan, sekali pun seribu kali juga akan kukatakan!"

"Aku rasa apa yang ingin kudengar sudah kau ketahui pula di dalam hati, perkataan itu sudah dua puluh tahun lamanya terpendam dalam hati kecil kita masing-masing!"

"Baik... baiklah..." tiba-tiba Soat Hoa Nio Nio berteriak lantang, "Han-san, rupanya kau masih belum melupakan cinta kasih kita di masa masih muda dahulu... aku akan mengatakannya kepadamu... aku akan mengatakannya seribu kali... aku cinta padamu..."

Pandangan sorot sinar mata Han San sianseng berkilat, wajahnya nampak jauh lebih segar setelah mendengar perkataan itu, ia dorong Soat Hoa Nio Nio ke samping dan ujarnya :

"Cukup... sudah cukup, sekarang kau boleh menyingkir lebih dahulu ke samping, aku masih ada perkataan yang hendak disampaikan kepada pemuda yang telah membunuh diriku itu." Soat Hoa Nio Nio tertegun, dengan mulut membungkam ia segera mengundurkan diri tujuh delapan langkah ke belakang.

"Hey orang muda1" kakek tua aneh itu berseru sambil menuding ke arah Pek In Hoei, "aku sama sekali tidak membenci atau mendendam kepadamu karena kau berhasil membinasakan diriku, aku hanya merasa heran dari mana kau bisa latih ilmu pedangmu itu sehingga mencapai tingkat sedemikian hebatnya, tahukah engkau bahwa di kolong langit belum pernah ada orang yang mampu menyelami ilmu pedang hingga mencapai tingkat seperti itu."

Entah karena rasa sakit yang sukar ditahan atau dia memang sengaja menghentikan perkataannya, tiba-tiba kakek tua itu membungkam dan memandang ke arah pemuda tersebut dengan sorot mata sayu.

Dalam kenyataan jurus serangan aneh yang dipergunakan oleh Pek In Hoei barusan sama sekali tidak dikenal olehnya sendiri sebelum kejadian itu, jurus aneh tadi diyakini olehnya tanpa sadar pada detik itu juga, dan pemuda itu tak pernah menyangka kalau jurus aneh yang berhasil diciptakan olehnya tanpa sengaja itu mendatangkan kekuatan yang demikian hebat dan dahsyatnya.

Perlahan-lahan dia simpan kembali pedang mestika penghancur sang surya-nya ke dalam sarung, lalu gelengkan kepala.

"Aku sendiri pun tak tahu, jurus itu kuciptakan tanpa sengaja..." "Diciptakan tanpa sengaja..." seru Han San sianseng tidak

percaya.

"Sedikit pun tidak salah, aku sama sekali tak pernah menduga kalau gerakan pedangku bisa menciptakan gerakan aneh seperti itu!"

Air muka Han San sianseng berubah hebat, tiba-tiba ia berteriak keras :

"Omong kosong, tujuh bintang pemusing kepala adalah keampuhan yang tak terlukiskan dalam ilmu pedang, setiap orang yang berlatih pedang selalu peras otak dan berusaha keras untuk mencapai tingkatan seperti itu... hmm, kalau dikatakan kau bisa meyakini tanpa bimbingan guru pandai, mungkin hanya setan yang mempercayai ucapan itu... masa terhadap seseorang yang sudah hampir mendekati ajalnya kau masih menipu."

"Terhadap dirimu kenapa aku mesti berbohong? Mau percaya atau tidak terserah pada dirimu sendiri," tukas Pek In Hoei dengan nada suara ketus dan dingin.

"Poocu tiba!" mendadak dari luar hutan berkumandang datang suara teriakan keras.

Cui Kiam Beng terkesiap dan ketakutan, air mukanya berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, dengan cepat dia lari ke belakang Soat Hoa Nio Nio dan dari situ mengintip ke arah ayahnya dengan penuh ketakutan.

Soat Hoa Nio Nio sendiri kelihatan agak rikuh sendiri, ia berdiri dengan senyuman getir menghiasi ujung bibirnya.

Dengan langkah lebar Cui Tek Li ketua dari Benteng Kiam-poo munculkan diri dari balik hutan, ia melotot sekejap ke arah pria yang berseru tadi dengan wajah tak senang hati, jelas ketua dari Benteng Kiam-poo ini sudah tiba di situ beberapa waktu lamanya, semua perubahan yang terjadi dalam kalangan telah diketahuinya, hanya ia tidak menyangka kalau kehadirannya di tempat itu akhirnya ketahuan juga.

Cui Tek Li melirik sekejap ke arah Han San sianseng dengan pandangan hambar, kemudian ujarnya :

"Dia sama sekali tidak membohongi dirimu, dan sekarang kau boleh mempercayai perkataannya!"

"Oooh... jadi Poocu sudah mengetahuinya sedari tadi?" tanya Han San sianseng dengan tubuh gemetar keras.

"Ehmm, sejak permulaan hingga pada akhirnya telah kusaksikan dengan jelas kesemuanya ini tidak lain adalah akibat dari ketololanmu sendiri, sejak Jago Pedang Berdarah Dingin melancarkan serangan untuk pertama kalinya tadi, semestinya kau harus tahu diri dan segera mengundurkan diri..." "Poocu, kalau memang kau sudah mengetahui kesemuanya itu dengan jelas kenapa tidak kau peringatkan diriku sejak tadi??" omel Han San sianseng dengan suara gemetar.

Cui Tek Li mendengus dingin.

"Hmm! Kenapa aku mesti memberi peringatan kepadamu? Siapa suruh kau tak dapat melihatnya sendiri!"

Sementara itu darah segar yang mengucur keluar dari mulut luka Han San sianseng kian lama kian bertambah banyak, air mukanya yang pucat kini semakin mengerikan, dia menghembuskan napas panjang dan melotot sekejap ke arah poocunya dengan pandangan mendendam.

"Hmmm! Kau benar-benar tidak bersahabat..." serunya. "Benarkah kau mempunyai perasaan seperti itu??" seru Cui Tek

Li sambil tertawa hambar, "mungkin sekali ketika mendekati ajalnya kau Han San sianseng telah mempunyai suatu perasaan yang salah... masih ingatkah dengan peristiwa yang terjadi di gunung Hoa-san? Bukankah kau pernah pula menunjukkan sikap semacam ini? Seorang pria yang mempunyai hubungan persaudaraan dengan dirimu, ketika mendekati ajalnya dia memohon kepadamu agar mau menguburkan jenazahnya, tetapi kau... bukan saja tidak mempedulikan dirinya bahkan malah tertawa terbahak-bahak... bagaimanakah penjelasanmu tentang peristiwa itu??"

"Keadaan waktu itu jauh berbeda dengan keadaan sekarang, waktu itu musuh tangguh datang dari empat penjuru dan aku sama sekali tidak punya waktu untuk mengurusi dirinya lagi, seandainya kau yang berada dalam keadaan seperti itu maka kau pun akan bersikap demikian pula terhadap dirinya... hal ini tak bisa salahkan diriku."

"Alasanmu itu masih boleh dianggap masuk di akal," kata Cui Tek Li kembali dengan suara dingin, "tetapi bagaimana pula penjelasanmu dengan gelak tertawa yang kau perdengarkan sesaat ajal menimpa sahabatmu itu? Han-san... aku ingin sekali membicarakan benar atau tidaknya perbuatanmu itu sebelum ajal menimpa dirimu!" Han San sianseng mengeluh kesakitan, keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, dengan pandangan ketakutan bercampur ngeri dia tatap wajah poocu dari Benteng Kiam-poo itu, suatu sikap yang aneh dan sukar dilukiskan

dengan kata-kata terlintas di atas wajahnya.

Beberapa saat kemudian, kembali dia mengepos tenaga dan berkata dengan suara gemetar :

"Tahukah kau pada saat itu aku merasa amat sedih karena kematian seorang sahabat karib, di samping itu aku pun amat membenci atas kekejian dari pihak musuh yang mendesak terus menerus, karena tak bisa menguasai diri aku lantas tertawa keras untuk melampiaskan semua rasa sedih, mendongkol serta gusar yang bercampur aduk dalam benakku. Poocu! Kau tokh seorang manusia cerdik, kau tentu bisa memahami kesalahpahaman yang terjadi ketika itu."

"Hmmm! Pandai sekali kau mungkir dan membantah kenyataan tersebut," dengus poocu dari Benteng Kiam-poo dengan suara berat, "sayang sekali aku sudah mengetahui jelas bagaimanakah perangai serta tabiatmu yang sebenarnya, benarkah kau melakukan hal itu seperti yang kau ucapkan barusan, dalam hati kita masing-masing tahu dengan perhitungan sendiri!"

"Poocu!" jerit Han San sianseng dengan badan gemetar dingin. "Hmmm! Bukankah kau mendendam terhadap Ko lo-sam karena

dia berhasil merebut janda she I ? Bukankah karena peristiwa itu maka setiap saat kau bermaksud membinasakan Ko lo-sam? Kebetulan sekali kalian telah bertemu dengan peristiwa di gunung Hoa-san, maka kau lantas membalas sakit hatimu itu dengan memberikan siksaan batik yang tak terhingga baginya sesaat sebelum jiwanya melayang..."

"Kau... kau menuduh aku yang membunuh Ko Lo-sam?" "Sedikit pun tidak salah!" tukas poocu dari Benteng Kiam-poo dengan suara ketus, "dan selama ini aku selalu mencurigai dirimu!"

Sekujur badan Han San sianseng gemetar keras.

"Poocu!" serunya, "sekarang aku sudah hampir mati... masa aku membohongi dirimu..."

"Hmmm!" Apa tidak mungkin kau berbuat begitu?" bentak Cui Tek Li dengan gusar, "Bukankah terang-terangan kau tahu kalau aku memiliki resep obat mujarab yang bisa menolong jiwanya dari ancaman maut? Dan kau tahu obat itu bisa menyambung sisa hidupmu itu? Hmmm... aku tahu bahwa kau sengaja bersikap demikian agar aku menaruh simpatik terhadap dirimu dan menyelamatkan jiwamu... Han-san! Perhitunganmu ini keliru besar, aku lebih suka menyaksikan kau mengerang kesakitan sambil menghadapi maut yang datang mencabut jiwamu daripada memberi obat mujarab kepadamu untuk menolong kau manusia rendah yang terkutuk..."

"Poocu, aku benci kepadamu... aku ingin sekali membinasakan dirimu dengan cara yang paling keji..." jerit Han San sianseng penuh perasaan dendam.

Karena marah dan berteriak penuh tenaga, mulut luka di atas pinggangnya merekah semakin besar, darah cair segera mengalir keluar dari mulut luka tersebut, wajah Han San sianseng semakin pucat dan napasnya tersengkal-sengkal.

Ia berpaling ke arah Soat Hoa Nio Nio dan serunya dengan suara gemetar :

"Nenek tua, kau..."

Ucapan terakhir ditarik panjang sekali dan selamanya tak mungkin tersambung lagi, dia menjerit lengking dengan suara yang menyayatkan hati... setelah berkelejot sebentar melayanglah selembar jiwanya meninggalkan badan kasar.

"Kau... kau telah mati..." bisik Soat Hoa Nio Nio dengan bibir pucat tak berdarah. Tak bisa ditahan lagi ia menangis menjerit-jerit, suara tangisannya melengking bagaikan jeritan kuntilanak membuat siapa pun yang mendengar merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Dengan rambut berdiri kaku bagaikan landak, dia melotot sekejap ke arah Cui Tek Li pemilik Benteng Kiam-poo dengan pandangan penuh perasaan benci dan dendam, lalu serunya :

"Kau... kau telah memaksa dia mati!"

"Hmmm... sekali pun mati juga tak ada nilainya, biarkanlah dia mati..." ejek Cui Tek Li sinis.

"Hmmm! Sebenarnya dia tak akan mati, kaulah yang tak mau menyelamatkan jiwanya... kalau kau bersedia memberi obat mujarab kepadanya luka yang kecil itu tentu akan sembuh kembali... bukannya menolong kau malah memanaskan hatinya dengan ucapan yang tak karuan... kaulah yang memaksa dia mati konyol..."