-->

Imam Tanpa Bayangan I Jilid 37

 
Jilid 37

KETIKA pemuda itu mengetahui bahwa ibunya selama ini melanjutkan hidup dengan menahan segala penghinaan serta penderitaan tujuannya bukan lain adalah untuk menyelidiki sebab- sebab kematian ayahnya, ia merasa sedih dan malu sendiri karena sikapnya yang telah salah menuduh perempuan tua itu dengan tuduhan yang bukan-bukan.

Dengan pandangan mengandung permintaan maaf ia melirik sekejap ke arah ibunya banyak perkataan berkumpul dalam tenggorokan namun tak sepatah kata pun yang sempat meloncat keluar.

Sudah tentu hubungannya dengan perempuan tua ini selalu dibatasi oleh suatu jarak yang terasa asing sekali, hal ini disebabkan karena sejak kecil ia tak pernah dirawat oleh ibunya, sehingga antara mereka berdua tak pernah timbul suatu perasaan hangat dan kasih sayang sebagaimana sikap seorang ibu terhadap putranya.

Perempuan tua itu menghela napas dalam-dalam dan tertawa getir, ujarnya dengan lirih :

"Asal kau sudah tahu itu lebih dari cukup, aku tak akan memohon yang lain, aku hanya seorang ibu yang cuma ada dalam sebutan namun tiada dalam kenyataan, tentu saja kau tak usah menghormati aku, karena hubungan di antara kita berdua teras amat asing, apalagi aku pun tak dapat mempertahankan kesucianku, aku malu dan menyesal terhadap ayahmu." "Tidak! Pengorbananmu ini cukup mulia dan agung," kata Pek In Hoei cepat.

Perempuan tua itu tertawa getir kemudian berkata :

"Dipandang dari sudut yang lain perbuatanku ini terlalu rendah dan terlalu hina," katanya, "atau paling sedikit tidak sepantasnya kalau aku berkumpul serta hidup bersama dengan seseorang yang mempunyai dendam dengan keluarga Pek."

"Aku mengerti apa sebabnya Cui Tek Li memaksa dirimu untuk menjadi istrinya," kata Pek In Hoei.

"Kenapa?" seru perempuan tua itu dengan badan gemetar keras. "Cara pembalasan yang dipergunakan oleh Cui Tek Li adalah

suatu cara pembalasan yang paling sadis dan paling kejam, ia benci terhadap ayah tapi tak mampu untuk menghadapi dirinya, maka terpaksa ia culik dirimu dan memaksa kau untuk menjadi istrinya, perbuatan ini sengaja dilakukan dengan maksud agar sepanjang hidup ayah selalu menderita siksaan batin yang amat berat, selama hidup ia tak sanggup angkat kepala lagi di hadapan sesama rekan umat Bu- lim."

"Tidak salah, dia memang ada maksud untuk membuat malu ayahmu agar ia menderita sepanjang masa."

Dengan hati mendongkol Pek In Hoei angkat kepala dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... aku hendak membunuh bajingan tua ini, aku hendak menghancur-lumatkan tubuh bangsat itu agar sakit hati ayah bisa terbalas."

"Nak, kendati kau memiliki ilmu silat yang sangat luar biasa, selama berada di sini kau tak bakal berhasil menangkan Cui Tek Li," ujar perempuan tua itu dengan suara gemetar, "aku harap kau jangan mencari kematian buat diri sendiri, kekuatannya di tempat ini luar biasa dan tiada tandingan, lebih baik lebih cepatlah tinggalkan tempat ini." "Cui Tek Li sudah tahu kalau kedatanganku untuk mencari dirinya. Ia tak mungkin lepaskan diriku begitu saja," seru Pek In Hoei dengan suara penuh kebencian, sepasang matanya berubah jadi merah berapi, "lagi pula sekali pun ia rela melepaskan aku belum tentu aku rela lepaskan dirinya begitu saja. Suatu pertarungan sengit tak mungkin bisa dihindari."

"Kau tak usah terlalu emosi nak, mama punya akal untuk mengantar kau keluar dari benteng ini," bisik perempuan tua itu sambil gelengkan kepala.

Pek In Hoei tertawa dingin.

"Semuanya sudah terlambat. Andaikata kau hendak mohonkan ampun bagi bajingan tua itu, maka lebih baik aku tumbukkan batok kepalaku di atas dinding tepat berada di hadapanmu, aku lebih rela mati secara pahlawan daripada harus melanjutkan hidup dengan menahan malu."

"Tetap pengorbanan dengan cara demikian ini sama sekali tak ada harganya."

Pek In Hoei mendengus dingin.

"Hmm! Sejak aku mengerti urusan belum pernah aku mohon atau merengek-rengek belas kasihan atau rasa simpatik dari orang lain. Semenjak kecil aku sudah mempunyai watak yang keras. Dahulu tak ada orang yang mampu merubah watakku itu dan sekarang makin tak ada orang yang mampu untuk merubahnya lagi. Maka bila kau hendak memohonkan pengampunan untukku di hadapan Cui Tek Li maka itu berarti hanya akan menambah kemurungan serta kekesalan bagi dirimu sendiri, di samping peristiwa ini akan dijadikan bahan lelucon bagi pihak lawan."

Dengan termangu-mangu perempuan tua itu menatap wajah Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei tanpa berkedip, ia tidak paham dengan sikap sombong serta jumawa yang diperlihatkan pemuda ini, diam-diam ia menghela napas panjang, pikirnya : "Bocah ini terlalu mirip dengan Pek Tiang Hong, tabiatnya yang keras kepala serta pendiriannya yang begitu teguh dan sama sekali tidak berubah terlalu mirip dengan keadaan diri Pek Tiang Hong, benar-benar terlalu mirip."

Dengan perasaan kuatir ia menghela napas panjang, katanya : "Apakah kau tak mau menerima sedikit bantuan yang ingin

kuberikan kepadamu itu."

"Sebagai anak seorang manusia, bakti harus diutamakan, dalam hal ini aku tak sanggup melakukannya untukmu sehingga membuat kau setiap hari hidup dalam penderitaan, persoalan ini merupakan satu persoalan yang paling menyedihkan hatiku," kata Pek In Hoei dengan suara berat.

Ia berhenti sebentar, kemudian dengan air mata bercucuran ujarnya kembali :

"Dendam berdarah atas kematian ayah tidak ingin kuserahkan kepada orang lain, dalam hal pembalasan dendam, selama aku masih hidup di kolong langit aku akan berusaha untuk mengadu jiwa dengan musuh-musuh besarku, tentang persoalan ini kau tak usah kuatir, malaikat keadilan selalu akan membantu menegakkan keadilan di kolong langit, lagi pula setiap urusan adalah tergantung pada usaha manusia itu sendiri, meskipun Cui Tek Li sangat lihay, suatu ketika ia tak akan terhindar dari pembalasan Thian yang maha adil."

Dengan suara berat ia melanjutkan kembali :

"Suatu saat aku pasti akan berhasil menyambut kau untuk keluar dari tempat yang nista dan ternoda ini, suatu ketika aku pasti akan menolong kau hingga terlepas dari cengkeraman iblis Cui Tek Li."

"Aku sih tidak mempunyai harapan itu," kata perempuan tua tadi sambil menggeleng, "Aku hanya berharap bisa balaskan dendam bagi kematian ayahmu!"

Tiba-tiba perempuan itu nampak agak tertegun, telinganya sempat menangkap suara orang yang mengetuk pintu, dengan ragu- ragu didekatinya sisi jendela lalu menegur dengan suara dingin : "Ada urusan apa?"

"Poocu sudah hampir pulang, nona besar memerintahkan aku untuk memberi kabar kepada hujin," bisik orang di luar pintu dengan suara lirih.

"Ehmmm... aku sudah tahu, pergilah!"

"Baik..." sahut orang di luar pintu dengan sikap hormat, suara langkah kaki yang berat kian lama kian menjauh hingga akhirnya lenyap dari pendengaran.

Perempuan tua itu berdiri termangu-mangu beberapa saat lamanya, kemudian menghembuskan napas panjang ujarnya :

"Nak, pergilah! Bila ada urusan aku bisa memberi kabar padamu."

"Selamat tinggal ibu," dengan pandangan bimbang ditatapnya sejenak wajah perempuan tua itu, lalu menambahkan :

"Baik-baiklah menjaga diri."

"Kau pun harus baik-baik menjaga diri, semoga kau bisa menyayangi jiwa serta keselamatanmu," perempuan tua itu tarik napas panjang-panjang kemudian menambahkan, "dalam menghadapi segala persoalan janganlah ditanggapi dengan emosi dan hati yang gelisah, mama akan berusaha keras membantu dirimu."

Pek In Hoei berpaling dan memandang sekejap wajah perempuan tua yang penuh penderitaan itu, ia menghela napas sedih, air mata mengembang dalam kelopak matanya.

Ia hapus air mata yang membasahi pipinya lalu berkata :

"Aku bisa berterima kasih kepadamu, setelah dendam berdarah ini telah kutuntut, ananda pasti akan menjemput dirimu untuk kembali ke kampung halaman, kita bangun kembali rumah tangga kita yang telah hancur berantakan selama belasan tahun ini."

"Mungkinkah terdapat hari yang bahagia itu? Nak, aku tak berani berpikir sampai ke situ," bisik perempuan tua itu dengan suara gemetar keras. "Dapat," jawab Pek In Hoei dengan pasti, "pasti akan muncul suatu hari yang berbahagia itu!"

Ia tidak ingin berdiam terlalu lama lagi di tempat yang penuh dengan kesedihan itu, sambil menggerakkan tubuhnya yang berat dan sempoyongan selangkah demi selangkah ia berlalu dari tempat itu.

Memandang bayangan punggungnya yang mulai lenyap dari balik kegelapan, perempuan tua itu tak dapat menahan rasa sedihnya lagi, ia menangis tersedu-sedu dengan bibir yang gemetar gumamnya

:

"Nak, rupanya kau amat membenci diriku," ia berhenti sebentar untuk tarik napas panjang, "aku dapat membantu dirimu untuk membinasakan semua musuh besar kita, asal kau tidak membenci terhadap diriku yang tak setia kepada suami ini, aku sudah cukup merasa puas, nak kau tak dapat menyelami perasaanku."

Cahaya lentera bergoyang dihembus angin di kala perempuan tua itu sedang berdiri sambil melelehkan air mata, tiba-tiba terdengarlah suara seruan nyaring berkumandang datang.

"Poocu pulang."

Perempuan tua itu buru-buru membereskan rambutnya yang kusut dan menyeka air mata yang membasahi pipinya, kemudian seorang diri ia duduk di sisi pembaringan.

Suara langkah kaki yang berat berkumandang di luar pintu yang tertutup rapat, perlahan-lahan Poocu dari Benteng Kiam-poo melangkah masuk ke dalam ruangan, ia melirik sekejap ke arah perempuan tua yang duduk seorang diri di sudut pembaringan itu lalu menegur :

"Kenapa? Kau lagi marah dengan siapa lagi?" Perempuan tua itu menggeleng.

"Aku tidak lagi marah dengan siapa pun Tek Li! Ada satu persoalan aku ingin memohon kepadamu."

Pemilik Benteng Kiam-poo Cui Tek Li nampak agak tertegun, dengan sorot mata keheranan ia memandang sekejap wajah perempuan tua itu, kemudian setelah termenung sejenak tanyanya dengan perasaan tidak mengerti :

"Sih Ih, persoalan apa yang hendak kau pintakan kepadaku?"

Ia tahu sejak istrinya memasuki keluarga Cui belum pernah sehari pun ia nampak gembira atau senang, setiap hari kecuali melelehkan air mata kerjanya duduk di sana dengan wajah murung.

Kendati Cui Tek Li adalah seorang pemilik benteng yang bengis dan kejam tetapi sejak mengawini perempuan ini tanpa sadar ia telah jatuh cinta kepadanya, tujuan yang sebenarnya untuk membalas dendam terhadap Pek Tiang Hong lama kelamaan jadi sirna dan sebaliknya ia malah benar-benar jatuh cinta terhadap perempuan ini.

"Permintaanku ini merupakan permohonanku yang terakhir kalinya," kata Hay Sim Ih dengan suara sedih, "aku harap kau tidak menampik permintaanku ini."

Cui Tek Li gelengkan kepalanya.

"Katakanlah!" ia berseru, "asal permintaanmu itu dapat kulaksanakan, aku tak akan membuat kau merasa kecewa.

"Oooh... kalau begitu kuucapkan banyak terima kasih lebih dahulu kepadamu."

"Ehmm... ! Kita toh sudah menjadi suami istri selama banyak tahun, kenapa kau mesti berterima kasih padaku? Selama banyak tahun seandainya bukan kau yang merawat serta membesarkan Tiap Tiap serta Kiam Beng, mereka berdua saudara entah pada saat ini telah berubah jadi bagaimana."

"Anak telah menduduki posisi yang penting dalam pikiran serta perasaan kita," ujar Hay Sim Ih dengan suara sedih. "Meskipun Tiap Tiap serta Kiam Beng bukan putra putri kandungku tetapi aku telah memandang mereka bagaikan anak kandung sendiri. Tek Li! Kau adalah seorang pria yang suka akan anak dan aku pun tidak jauh berbeda keadaannya dengan dirimu, aku juga menyukai mereka semua, karena itu ada satu permintaan hendak kumohonkan kepadamu, aku harap kau..." "Sebenarnya apa sih yang hendak kau mohonkan? Katakanlah cepat, kenapa kau tidak berterus terang..." seru Cui Tek Li tidak sabaran lagi.

Hay Sim Ih menghela napas panjang.

"Baru-baru ini bukankah dalam benteng kita telah kedatangan dua orang pemuda?"

"Siapa yang beritahu kepadamu?" seru Cui Tek Li dan air muka berubah hebat, "dari mana kau bisa mengetahui akan hal ini?"

Hay Sim Ih tertawa dingin.

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... kau anggap setiap kejadian yang berlangsung dalam benteng ini tidak diketahui olehku? Tek Li, aku merasa sangat keheranan, kenapa kau perlu merahasiakan banyak persoalan di hadapanku? Apakah kau telah menganggap aku sebagai istri dari musuh besarmu? Orang bodoh bukankah aku telah berhasil kau rampas?"

"Sim Ih kau jangan salah paham, seru Cui Tek Li dengan wajah pucat pias bagaikan mayat.

"Salah paham?" ejek Hay Sim Ih dengan suara dingin. "Hmmm! Kau tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi suamiku, maka menggunakan kesempatan di kala aku sedang cekcok dengan Pek Tiang Hong dan pergi tinggalkan rumah, kau telah menculik aku datang kemari, apakah tujuanmu? Aku rasa dalam hati kecilmu sudah punya perhitungan sendiri, sekarang persoalan telah berlalu banyak tahun, apakah kau masih begitu tega untuk menghadapi satu-satunya putraku? Tek Lie! Sungguh kejam hatimu..."

"Sim Ih, terlalu banyak yang kau pikirkan," bisik Cui Tek Li sambil gelengkan kepalanya.

"Hmm! Permintaanku tidak banyak, aku hanya berharap agar kau jangan menyusahkan Pek In Hoei."

"Tidak bisa, inilah saatnya yang kunanti-nantikan selama ini, aku tak dapat melepaskan dirinya dengan begitu saja," seru pemilik Benteng Kiam-poo dengan sinar buas memancar keluar dari balik matanya.

Sekujur badan Hay Sim Ih gemetar keras.

"Kenapa kau hadapi dirinya dengan cara demikian keji?" "Hmmm! Siapa suruh dia jadi putranya Pek Tiang Hong? Karena

perbuatan Pek Tiang Hong hidupku jadi amat menderita, ia bisa mendapat akibat semacam ini itulah hasil karya dari perbuatannya sendiri."

"Jadi kalau begitu, kau tak akan melepaskan Pek In Hoei begitu saja!" bentak Hay Sim Ih dengan penuh kegusaran.

"Sedikit pun tidak salah, tak seorang manusia pun yang sanggup menghalangi niatku ini."

Setelah mendengar perkataan yang begitu ketus, tegas dan sama sekali tidak berperasaan, Hay Sim Ih merasa hatinya jadi dingin separuh, air mata mengembang dalam kelopak matanya, dengan gusar ia berteriak :

"Apakah kau telah memikirkan akibat yang bakal kau terima atas perbuatanmu itu?"

"Haaaah... haaaah... haaaah... akibat apa yang harus kutanggung?" ejek Cui Tek Li sambil tertawa bergelak, "asal kubunuh mati Pek In Hoei, maka dalam kolong langit sudah tak terdapat orang yang kupandang sebelah mata pun. Hmmm... hmm... bila sukma Pek Tiang Hong di alam baka bisa mengetahui akan kejadian ini, maka dia akan mengerti dengan cara apakah aku orang she Cui telah menghadapi dirinya."

Dengan suara yang menyeramkan ia tertawa keras, ujarnya kembali :

"Sekalipun Pek Tiang Hong sudah mati tetapi dendam permusuhan dengan dirinya belum selesai, asal aku masih mempunyai kesempatan untuk membalas dendam terhadap keturunan keluarga Pek, aku akan melakukannya peduli dengan cara macam apa pun jua." "Bagus... bagus... sekarang aku baru kenal manusia macam apakah dirimu itu," jerit Hay Sim Ih dengan suara terperanjat.

"Hmmm... hmmm... Sim Ih, Pek In Hoei toh bukan anak kandungmu sendiri, kenapa kau mesti mengurusi soal mati hidupnya? Lagi pula kau kan sudah seharusnya membantu diriku untuk melenyapkan bibit bencana ini."

"Hmmm..." dengan suara berat Hay Sim Ih mendengus, serunya dengan sinis, "aku tidak akan membantu dirimu untuk melakukan kejahatan, cukup meninjau caramu dari masa yang silam di mana kau menggunakan keselamatan dari putraku serta Pek Tiang Hong untuk memaksa aku kawin dengan dirimu, aku sudah tahu bahwa kau adalah seorang manusia rendah yang sudah bejad moralnya, sayang pada waktu itu hatiku jadi ketakutan oleh ancamanmu itu, asal aku bisa menyelamatkan jiwa suamiku serta anakku, aku rela mengorbankan segala-galanya yang kumiliki."

Ia berhenti sejenak, kemudian dengan wajah penuh kegusaran lanjutnya kembali :

"Selama hidup aku sukar untuk melawan hawa kesal dan mangkel yang mengeram dalam dadaku, kau telah merusak nama baikku juga telah menghancurkan suamiku, sekarang kau hendak melenyapkan pula putraku... Cui Tek Li! Aku benar-benar tidak mengerti, sebenarnya apa saja yang kau pikirkan dalam hatimu yang busuk itu..."

Cui Tek Li nampak tertegun.

"Dari mana kau bisa tahu kalau Pek Tiang Hong mati lantaran aku yang mencelakai jiwanya..." ia berseru.

Sebenarnya Hay Sim Ih sama sekali tidak tahu kalau kematian dari Pek Tiang Hong sebenarnya ada sangkut pautnya dengan Cui Tek Li, hanya saja secara diam-diam ia telah mencurigai persoalan ini, untuk membuktikan kebenaran ini maka dengan mempergunakan kata-kata ia berusaha memancing kegusaran orang. Dan ternyata dalam gusarnya Cui Tek Li telah mengakui bahwa perbuatan itu punya sangkut paut dengan dirinya, hal ini membuktikan pula bahwa dugaan yang selama ini bersarang dalam dada perempuan tua itu sedikit pun tidak salah...

Nampaklah air muka Cui Tek Li seketika berubah hebat setelah perkataan itu meluncur keluar dari mulutnya, dengan sikap tegang dan sorot mata memancarkan cahaya tajam ia tatap wajah Hay Sim Ih tanpa berkedip, pelbagai perasaan berkecamuk jadi satu di atas raut mukanya.

Hay Sim Ih tertawa dingin, serunya :

"Kalau menginginkan orang lain tidak tahu kecuali kalau kau sendiri tak pernah melakukannya, kau anggap perbuatan yang pernah kau lakukan bisa selamanya mengelabui kolong langit? Hmm! Sebenarnya tak ada persoalan yang bisa dirahasiakan dalam kolong langit, seperti pula segala perbuatan yang telah kau lakukan tak sebuah pun yang lolos dari pengawasanku."

"Hmmm! Aku tahu bahwa kau masih belum dapat melupakan Pek Tiang Hong, maka memandang semua perbuatanku kau merasa tidak sedap dan mencolok pandangan," teriak Cui Tek Li dengan penuh kebencian, "Anggap saja Pek Tiang Hong memang mati di tanganku sekarang, kau mau apa?"

"Jadi kalau begitu kau telah mengaku," seru Hay Sim Ih dengan wajah berubah hebat.

"Hmmm! Kenapa aku tak berani mengaku juga? Sedikit pun tidak salah! Pek Tiang Hong memang mati di tanganku, kecuali aku..."

"Kau... kau manusia berhati binatang," jerit Hay Sim Ih dengan suara yang tinggi melengking.

Meskipun Cui Tek Li merupakan seorang pria yang kejam dan berhati buas, tetapi setelah menyaksikan Hay Sim Ih menjadi naik pitam, ia segera gelengkan kepalanya dan tertawa ujarnya :

"Pikirlah yang lebih terbuka, persoalan ini sudah lewat..." "Hmm! Anggaplah mataku yang buta," seru Hay Sim Ih dengan suara dingin, "sepanjang masa aku harus hutang kepada kalian keluarga Cui, karena kau membuat aku tidak mempunyai keberanian untuk melanjutkan hidupku, Tek Li... aku harap kau segera keluar dari sini, biarkanlah aku duduk seorang diri di tempat ini..."

"Ehmm...! Baiklah, mungkin dengan berbuat demikian pikiranmu akan lebih terbuka..."

Ketika Cui Tek Li sudah melangkah pergi beberapa tindak dari ruangan itu, tiba-tiba Hay Sim Ih berseru kembali :

"Tunggu sebentar, aku mempunyai persoalan yang hendak ditanyakan kepadamu..."

"Persoalan apa??" tanya pria itu tertegun.

"Kau bersiap-siap kapan hendak menghadapi Pek In Hoei..." "Tentang persoalan ini... tidak sepantasnya kau ikut tahu..." sahut

Cui Tek Li kemudian dengan sorot mata memancarkan cahaya bengis.

Hay Sim Ih mendengus.

"Hmm! Benarkah kau tak dapat melepaskan bocah itu dalam keadaan hidup..." serunya.

Cui Tek Li geleng kepala.

"Aku tidak memiliki hati sebaik itu! Tak mungkin aku lepaskan dirinya dengan begitu saja, kau tak pernah berkecimpung di dalam dunia persilatan dan tak mengerti kelicikan serta bahayanya dunia persilatan, bila aku tidak membinasakan dirinya maka dia akan membunuh diriku, siapa yang turun tangan lebih dahulu dialah yang akan mendapat keuntungan, karena itu aku tidak akan membiarkan Pek In Hoei turun tangan terlebih dahulu..."

Dengan putus asa Hay Sim Ih menghela napas panjang. "Pergilah..." ia berseru, "aku tidak memiliki kekuatan untuk

membatalkan niatmu membinasakan bocah itu, tetapi... kau harus pertimbangkan kembali persoalan ini sebaik-baiknya, resiko yang harus kau tanggung akibat perbuatanmu ini terlalu berat..." "Hmmm... hmmm... tentu saja! Dan kau tak usah menguatirkan tentang persoalan itu..."

Di tengah suara tertawa dingin yang menyeramkan, perlahan- lahan ia tinggalkan tempat itu...

Memandang bayangan punggungnya hingga lenyap dari pandangan, Hay Sim Ih hanya dapat berjalan mondar mandir dalam ruangan itu dengan hati gelisah, air mata tanpa terasa jatuh bercucuran membasahi pipinya.

Fajar telah menyingsing, sang surya memancarkan cahaya keemas-emasan dari arah sebelah timur... di bawah sorot sinar sang surya Benteng Kiam-poo nampak begitu hening dan sunyi...

Taaang...! Suara genta yang berbunyi nyaring menggema dari loteng bangunan benteng itu dan bergeletar di angkasa... Suara itu mengalun hingga di tempat yang amat jauh dan membangunkan semua anggota Benteng Kiam-poo dari alam impian.

Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei serta Lu Kiat perlahan- lahan munculkan diri dari ruang tamu, sejak pertemuan dengan ibu kandungnya kemarin malam Pek In Hoei semalam suntuk tak dapat tidur, pagi itu wajahnya nampak murung dan sepasang matanya merah membengkak.

Lu Kiat nampak mengerling sekejap sekeliling tempat itu, lalu berbisik dengan suara lirih :

"Adik In Hoei, kapan kita akan keluar dari benteng ini?" Pek In Hoei berpikir sebentar, kemudian menjawab : "Sore nanti kita akan segera berangkat..."

"Pertarungan yang bakal terjadi pastilah suatu pertarungan yang seru, kita harus menghadapinya dengan hati-hati..."

"Hemmm! Lu toako, aku akan berusaha untuk menantang Cui Tek Li berduel satu lawan satu."

Sementara ke-dua orang itu sedang bercakap-cakap dengan suara lirih, Cui Kiam Beng dengan diiringi beberapa orang pria kekar munculkan diri dari sudut benteng sebelah lain, ia melotot sekejap ke arah Pek In Hoei dengan penuh kebencian kemudian maju menghampirinya.

Pek In Hoei menyaksikan kemunculan orang itu, sepasang alisnya segera berkerut kencang, pikirnya :

"Ada urusan apa bocah keparat itu datang kemari?"

Dalam pada itu Cui Kiam Beng telah tiba di hadapan si anak muda itu, sambil melotot ke arah Pek In Hoei ujarnya :

"Hey manusia she Pek, bagaimana kalau kita mencari tempat untuk bercakap-cakap..."

"Huuuh...! Kau ini manusia macam apa? Dengan mengandalkan hak apa kau ajak aku bercakap-cakap???"

Cui Kiam Beng tertegun, ia tidak menyangka kalau sikap Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei begitu sombong dan jumawa, ternyata ia sama sekali tidak memberi muka kepadanya.

Karena gusar bercampur mendongkol, pemuda she Cui itu segera angkat kepala dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... sahabat Pek, kau janganlah terlalu bikin susah orang lain..."

"Kenapa? Apakah kedatanganmu atas suruhan dari bapakmu?" ejek Pek In Hoei sambil tertawa dingin.

"Itu sih bukan, aku ingin menggunakan kedudukan sebagai orang biasa untuk mengajak kau membicarakan suatu masalah pribadi, bila kau tidak suka memberi muka kepadaku... hmmm... hmmm..."

Ia tertawa serak, setelah berhenti sebentar sambungnya : "Akibatnya sukar untuk dipikirkan dengan kata-kata..." Pek In Hoei segera mendengus dingin.

"Hmmm! Kita mau berbicara di mana? Kau boleh katakan saja, aku pasti akan hadir..."

Cui Kiam Beng berpikir sebentar, lalu jawabnya :

"Di sebelah belakang benteng ini terdapat sebuah hutan yang luas di sana jarang ada orang yang berkunjung ke situ, aku rasa tempat itulah merupakan suatu tempat yang cocok bagi kita untuk membicarakan urusan pribadi..."

Pek In Hoei melirik sekejap ke arah Lu Kiat, kemudian mengangguk.

"Baiklah, kita akan berjumpa di situ..." katanya.

Cui Kiam Beng segera tertawa keras dengan suara yang menyeramkan.

"Aku harap kau jangan melarikan diri di kala menghadapi pertarungan nanti, di tempat ini hanya ada orang-orangku..."

Belum habis ia berkata tubuhnya sudah berputar dan sambil memimpin orang-orang kepercayaannya ia kembali menuju ke arah benteng...

Hutan yang lebat di belakang benteng Kiam-poo terasa amat hening, kecuali bau busuk daun-daun yang rontok ke bumi yang terdengar hanyalah bunyi kicauan burung yang bersahut-sahutan.

Baru saja Cui Kiam Beng melangkah masuk ke dalam hutan itu, terdengarlah dari balik pepohonan berkumandang keluar suara gelak tertawa seseorang diikuti suara teguran menggema datang :

"Kiam Beng, apakah bocah keparat itu sudah datang???" "Ibu angkat, bajingan cilik itu..."

Soat Hoa Nio Nio munculkan diri dari balik pohon, dengan suara dingin selanya kembali :

"Rasa dongkol yang mengeram dalam hatiku sudah tak dapat ditahan lagi, selama aku si nenek tua berada di dalam Benteng Kiam- poo belum pernah dihina serta merasa malu seperti kali ini, sungguh tak nyana aku sudah jatuh kecundang di tangannya... Hemmm... ini hari kita berdua harus musnahkan dirinya dari muka bumi!"

"Ibu angkat, aku sangat kuatir ayah mengetahui akan peristiwa ini," ujar Cui Kiam Beng dengan wajah murung, "bila ia mengetahui akan persoalan ini ayah pasti akan naik pitam, dia orang tua paling benci kalau lihat aku patah semangat dan tidak punya keberanian." "Hmmm! Hmmm... apa yang kau takuti? Semua persoalan ini akulah yang akan bertanggung jawab," teriak Soat Hoa Nio Nio sambil mendengus dingin, "bila bapakmu menegur maka katakanlah aku si nenek tua yang suruh kau berbuat demikian."

"Bocah setan, kau benar-benar tak becus," bentak Soat Hoa Nio Nio dengan penuh kegusaran, tokh ada aku bertanggung jawab apa yang mesti kau takuti lagi? Seorang lelaki sejati berani berbuat berani bertanggung jawab maka barua bisa menggetarkan seluruh kolong langit..."

"Oooh... ya... Jago Pedang Berdarah Dingin..." tiba-tiba dari luar hutan berkumandang datang suar seruan seorang pria, "siau poocu, orang she Pek itu telah datang..."

Dengan pandangan dingin Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei memandang sekejap ke arah mereka, kemudian bersanding dengan Lu Kiat perlahan-lahan masuk ke dalam hutan, raut wajah mereka berdua menampilkan kekerasan hati, kesombongan serta kejumawaan, seakan-akan tak seorang manusia pun yang dipandang olehnya:

Cui Kiam Beng tertawa seram, lalu berkata :

"Ibu angkat, keparat she Lu itu pun ikut datang..."

Soat Hoa Nio Nio tidak menanggapi, ia loncat ke depan dan berseru :

"Pek In Hoei, kemarin kau nampak gagah sekali..."

"Oooh... sungguh tak kusangka Cui heng telah mengundang datang gurunya," ejek Pek In Hoei dengan suara dingin, "kemarin aku telah minta petunjuk tentang kelihayan ilmu silatnya, ini hari apakah kau masih ada minat untuk turun tangan kembali..."

"Kekalahan yang kuderita kemarin hari akan kutagih lipat ganda pada saat ini, Pek In Hoei, aku si nenek tua paling gemar mencari menangnya sendiri, bila kau hendak suruh aku mengaku kalah, Hmmm...! bukanlah suatu urusan yang gampang..."

Pek In Hoei mendengus dingin. "Kemarin setelah kuampuni selembar jiwamu, seharusnya kau mengerti dan tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, sungguh tak nyana bukan saja kau tak jeri, malahan berani datang kembali untuk mencari kematian. Haaaah... haaaah... haaaah... , nenek sialan, kau harus tahu nasib mujur selamanya tidak berada di sisi tubuhmu, mungkin hari ini adalah saat ajal bagimu."

"Tutup mulutmu, anjing!" jerit Soat Hoa Nio Nio dengan wajah berubah hijau membesi karena menahan marah yang meluap-luap, "kau tak usah berlagak sok di hadapanku, aku si nenek tua berani mengundang kau datang kemari, berarti aku mempunyai cara pula untuk menghadapi dirimu. Hey orang muda! Kau jangan terlalu percaya pada diri sendiri, ada banyak orang yang musnah akibat terlalu percaya pada diri sendiri."

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... nenek tua, kau jangan terlalu sombong," ejek Pek In Hoei pula sambil tertawa dingin. Banyak orang mati di ujung pedangku karena ia terlalu menjual lagak di hadapanku, aku harap kau bisa berpikir yang matang lebih dahulu sebelum bertindak."

"Hmm!" Cui Kiam Beng segera maju satu langkah ke depan, "Ibu angkat, apa sih gunanya kita banyak bicara dengan keparat cilik ini, lebih baik kita segera turun tangan..."

Dari balik rimba yang gelap tiada hentinya tersiar bau busuk daun yang memenuhi permukaan tanah, kicauan burung bergema memecahkan kesunyian yang mencekam di sekeliling tempat itu, sorot cahaya sang surya menyelinap masuk lewat celah-celah daun yang rapat membuat suasana nampak sedikit cerah.

Cui Kiam Beng sengaja memilih tempat yang sangat rahasia letak ini, tujuannya yang sangat terutama bukan lain adalah agar jangan sampai mengejutkan pemilik Benteng Kiam-poo Cui Tek Li, karena sebelum ayahnya turunkan perintah maka siapa pun dilarang menyusahkan diri si anak muda itu... Cui Kiam Beng sambil memimpin beberapa puluh orang anak buah kepercayaannya mengepung rapat sekeliling hutan rimba itu, dengan pandangan dingin ia menatap wajah Pek In Hoei, sinar mata yang terpancar keluar kian bertambah bengis, begitu bencinya pemuda itu terhadap lawannya sehingga ingin sekali ia telan musuhnya bulat-bulat.

Air muka Soat Hoa Nio Nio pun dingin dan sama sekali tidak berperasaan, selama hidup ia tersohor karena kesombongan serta kesadisannya, peduli persoalan apa pun sulit untuk memancing rasa kasihan atau rasa simpatiknya, karena dia adalah seorang perempuan yang tersohor karena tak punya perasaan.

Hanya Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei seorang yang bersikap paling tenang dan mantap seakan-akan tiada terjadi sesuatu apa pun ia tatap jago lihay dari Benteng Kiam-poo yang tak takut mati itu, senyuman sinis dan penuh ejekan tersungging di ujung bibirnya, napsu membunuh telah menyelimuti wajahnya yang tampan membuat keadaannya nampak tidak serasi...

Yang paling tegang di antara beberapa orang itu adalah Lu Kiat, jantungnya terasa berdebar keras, mengikuti kemunculan dari gerombolan manusia itu ketegangan yang ditampilkan kian lama kian bertambah tebal, ia bukan tegang lantaran memikirkan keselamatan sendiri, yang dia kuatirkan adalah cara keji apa yang hendak dipergunakan Soat Hoa Nio Nio serta Cui Kiam Beng untuk menghadapi dirinya serta Pek In Hoei... sorot mata yang tajam tanpa berkedip menatap terus setiap gerak gerik dari perempuan itu...

Suatu ketika Cui Kiam Beng tertawa seram, ujarnya : "Ibu angkat, aku rasa kita tak usah menanti lagi..." "Sudahkah kau undang datang Han San sianseng?" Cui Kiam Beng tertegun, lalu sahutnya :

"Ibu angkat dengan kekuatan yang kita miliki rasanya masih cukup untuk menghadapi bangsat she Pek itu, apa gunanya kita undang datang Han San sianseng kakek tua yang kukoay itu." "Kau mengerti apa?" bentak Soat Hoa Nio Nio dengan nyaring, "seandainya Han San sianseng tidak datang, apakah kau yakin bisa menangkan permainan pedang dari manusia she Pek itu???"

"Ehmm?" dengan penuh kebencian Cui Kiam Beng melirik sekejap ke arah Pek In Hoei, "aku tidak percaya dengan orang- orangku masih belum mampu untuk menghadapi seorang Jago Pedang Berdarah Dingin."

Pek In Hoei segera tertawa dingin.

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... apa yang diucapkan ibu angkatmu sedikit pun tidak salah," ejeknya, "lebih baik undanglah datang jago lain yang jauh lebih hebat, dengan andalkan kekuatan yang kau miliki itu, bila ingin bertarung melawan aku rasanya masih terpaut terlalu jauh."

"Omong kosong..." jerit Cui Kiam Beng dengan penasaran, "kau jangan terlalu rendah memandang orang lain, aku she Cui yang pertama-tama akan minta pelajaran darimu."

Sang kawan meloncat maju ke depan, tangan kanan diangkat dan pedangnya laksana titiran air hujan bergetar membentuk berkuntum- kuntum bunga pedang di tengah-tengah udara, cahaya berkilauan segera memancar di udara dan amat menyilaukan mata...

"Aku lihat lebih baik tenangkanlah hatimu lebih dulu," ejek Pek In Hoei lagi dengan suara hambar, "hati-hatilah, jangan sampai selembar jiwamu pun ikut melayang dengan percuma. Cui Kiam Beng! Memandang di atas wajah encimu, aku nasehati dirimu lebih baik sedikitlah tahu diri..."

Ucapan itu diutarakan keluar sepatah demi sepatah, nada yang dingin dan meyakinkan itu membuat sekujur badan Cui Kiam Beng bergetar, suatu perasaan tercekat terlintas di atas wajahnya, sekali pun pedang telah diloloskan namun dengan sikap ragu-ragu ia tetap berdiri kaku di tempat semula.

Beberapa saat kemudian ia berteriak keras : "Kentut busuk makmu, aku tak sudi kau lepaskan karena memandang di atas wajah enciku!"

"Itu kan urusanku, apa hubungannya dengan dirimu..."

Cui Kiam Beng dengan kedudukannya sebagai pemilik muda Benteng Kiam-poo setelah berulang kali jatuh di bawah angin di hadapan anak buahnya, hawa gusar seketika berkobar dalam dadanya, pedang digetarkan dan sambil meraung keras ia terjang tubuh jago pedang berdarah dingin, sebuah tusukan kilat segera dilancarkan.

"Cui-heng, akulah yang akan melayani permainanmu itu..." seru Lu Kiat sambil loncat maju ke depan.

Tubuhnya dengan lincah berkelebat ke muka dan tahu-tahu sudah menghadang jalan pergi Cui Kiam Beng dengan ilmu silat yang sangat lihay dia segera mengirim satu babatan maut ke depan.

Tercekat hati Cui Kiam Beng ketika merasa munculnya segulung angin pukulan yang terwujud menerjang dadanya, dengan cepat ia bergeser ke samping bentaknya :

"Enyah kau dari sini.. aku tiada urusan dengan dirimu!" "Hmmm! Apakah Cui-heng merasa tidak sudi bertempur

melawan diriku?... seru Lu Kiat dingin.

"Yang kucari sama sekali bukan dirimu, aku harap kau jangan terlalu suka mencampuri urusan orang lain..."

"Ciu heng, bila kau bertempur melawan diriku mungkin selembar jiwamu itu masih dapat dipertahankan, tetapi bila kau bersikeras hendak turun tangan melawan saudaraku itu... Hmmm... hmmm... aku percaya sekali pun kau miliki cadangan nyawa sebanyak dua puluh pun akan lenyap semua di ujung telapaknya."

"Hmmm! Aku tidak percaya..." Lu Kiat segera tertawa dingin.

"Apa yang kukatakan adalah nasehat yang baik demi keselamatan, tetapi bila kau tidak percaya tak ada halangan untuk menantang ia berduel, tetapi sebelum itu lebih baik carilah kabar berita lebih dahulu dari anak buahmu, pernahkah korban yang bertarung melawan Jago Pedang Berdarah Dingin selama berada di dunia persilatan berhasil lolos dalam keadaan selamat."

"Hmmm! Lebih baik kau tak usah mengibul baginya."

Pek In Hoei tertawa dingin, ia melirik sekejap ke arah Cui Kiam Beng lalu berkata :

"Lu toako, apa sih gunanya kau bersilat lidah dengan manusia semacam itu? Kalau ia tidak percaya biarlah maju sendiri ke depan, kali ini ku tak akan berlaku sungkan seperti tempo dulu, asal ia berani bertarung melawan aku maka itu berarti ia mencari jalan kematian buat diri sendiri."

"Bagaimana?" kata Lu Kiat pula dengan nada menghina, "sudah kau dengar bukan perkataannya itu? Sebetulnya aku orang she Lu merasa kasihan bila menyaksikan kau yang semuda ini harus mati konyol, maka aku bermaksud menasehati dirimu agar tahu diri, tetapi bilamana kau memang tak kenal tingginya langit dan tebalnya bumi... baiklah, aku pun tak mau banyak berpikir lagi, terserah kau sendiri yang harus memikul resiko tersebut..."

Hampir saja Cui Kiam Beng muntah darah segar saking mendongkolnya setelah mendengar tanya jawab pihak lawan yang kesemuanya bernada mengejek itu, sekujur badannya gemetar keras, sepasang matanya melotot bulat-bulat, tetapi berhadapan dengan dua orang jago lihay yang maha ampuh itu untuk sesaat ia jadi kehabisan akal dan tak tahu apa yang mesti dilakukan.

Terpaksa ia alihkan sorot matanya yang penuh memohon bantuan itu ke arah Soat Hoa Nio Nio, siapa tahu nenek tua entah sengaja atau tidak sengaja kebetulan sekali sedang mengalihkan pandangannya ke arah lain, terhadap tanda mohon bantuannya itu sama sekali tidak ambil peduli..."

Hal ini semakin membuat pemuda itu mendongkol, dengan suara yang mengerikan ia berseru :

"Aku orang she Cui lebih rela mati di tangan kalian, daripada harus mati karena ketakutan..." "Kalau memang begitu silahkan untuk turun tangan," ujar Lu Kiat dengan suara dingin, "aku tahu bahwa kau tak akan mengucurkan air mata sebelum melihat peti mati tetapi kau mesti waspada sebab inilah kesempatan terakhir bagimu, bila kau bersikeras hendak turun tangan maka kemungkinan besar kau tak sempat lagi untuk melihat terbitnya sang surya di kala fajar baru menyingsing besok pagi."

"Kentut busuk makmu, aku akan bertarung melawan dirimu lebih dahulu," teriak Cui Kiam Beng.

Pedangnya segera digetarkan ke depan, kilatan cahaya senjata segera meluncur ke muka dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Lu Kiat mengigos ke samping, sambil tertawa dingin ejeknya : "Sepantasnya sejak tadi kau telah turun tangan, bukankah aku

sudah menunggu kedatanganmu sedari tadi?"

Tercekat juga hati Cui Kiam Beng ketika menyaksikan serangan babatan pedangnya, berhasil dihindari oleh lawannya dengan suatu gerakan yang sangat aneh, seketika ia sadar bahwa ilmu silat yang dimiliki lawannya sama sekali tidak berada di bawah ilmu silat sendiri.

Ia tarik napas panjang, pelbagai ingatan berkelebat dalam benaknya, ia berpikir dengan cara apakah ia harus berbuat untuk menusuk mati Lu Kiat di ujung senjatanya.

"Bila aku tak mampu meringkus orang she-Lu ini... Hmmm! Akan kutaruh di mana raut wajahku ini... bila ayah mengetahui akan kejadian ini, dia orang tua pasti akan mati karena mendongkol."

Setelah ingatan tersebut muncul dalam benaknya, pemuda itu semakin waspada lagi, pergelangannya digetarkan perlahan, ujung pedang seketika berubah jadi sekilas cahaya tajam dan langsung mengurung sekujur badan Lu Kiat.

Seakan-akan pemuda she-Lu itu ada maksud untuk memancing kegusaran Cui Kiam Beng, meskipun berhadapan dengan serangan pedang yang amat lihay namun ia sama sekali tiada maksud untuk meloloskan senjatanya, dengan sebat kembali ia mengigos ke samping, telapaknya dengan tajam balas mengirim beberapa kelebatan ke depan.

Secara beruntun Cui Kiam Beng telah melancarkan tujuh delapan buah tusukan namun bukan saja ujung baju lawan tak mampu ditowel, bahkan gerakan apa yang dipergunakan lawannya untuk menghindar pun tak sempat ia lihat jelas, hal ini semakin mengejutkan hatinya.

"Pertarungan macam apakah ini?" teriaknya.

"Tanpa turun tangan saja kau sudah tak mampu mempertahankan diri, apalagi bila aku lancarkan serangan balasan," seru Lu Kiat dengan suara hambar, "Haaaah... haaaah... haaaah... saudara, bila aku balas menyerang maka kau tak akan seringan ini... bukankah begitu Cui heng?"

Meskipun di luaran ia berkata dengan enteng, diam-diam hatinya terkejut juga oleh kesebatan serta kecepatan gerak pedang lawannya, peluh dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya...

Bagian 37

"OMONG KOSONG!" teriak Cui Kiam Beng dengan penuh kegusaran, "orang she Lu cabut pedangmu... bila aku berhasil menangkan dirimu dengan cara ini maka kemenangan ini kuraih dengan kurang cemerlang... orang she Lu, aku harap kau jangan terlalu memaksa diriku..."

Menyaksikan raut wajahnya yang sudah diliputi kemarahan itu, diam-diam Lu Kiat merasa kegelian, ia memang ada maksud memancing kegusaran pemuda itu, maka sambil tertawa dingin kembali ejeknya :

"Dengan tangan kosong pun kau tak mampu mempertahankan diri, apalagi bila kuloloskan pedangku, mungkin kau bisa keok!"

Air muka Cui Kiam Beng berubah jadi hijau membesi, sekujur badannya gemetar keras, sepasang mata memancarkan cahaya berapi- api... hampir saja dadanya meledak karena kegusaran, tubuhnya menerjang maju ke depan tetapi beberapa langkah kemudian kembali ia berhenti.

Soat Hoa Nio Nio tidak tahan menyaksikan keadaan tersebut, ia segera mendengus dingin, serunya :

"Kiam Beng, tenangkan hatimu..." "Ibu angkat, aku..."

"Pergilah dari sini dan undanglah Han San sianseng, tanpa kehadirannya siapa pun tak bisa menangkan mereka berdua..." bisik perempuan tua itu sambil menggeleng.

Cui Kiam Beng tahu bahwa Han San sianseng adalah seorang tokoh sakti yang kecuali Soat Hoa Nio Nio yang mengetahui asal usulnya mungkin Cui Tek Li sendiri pun tidak mengetahuinya, mendengar desakan tersebut terpaksa pemuda itu mengangguk.

"Baik..." katanya.

"Kalau kalian berdua memang jantan, tunggulah di sini..." seru Cui Kiam Beng sambil melirik sekejap ke arah Pek In Hoei serta Lu Kiat dengan pandangan penuh kebencian.

"Hmmm! bangsat bermulut usil, lebih baik jangan banyak bacot di tempat ini," tukas Pek In Hoei dengan nada dingin, "kalau mau undang bala bantuan cepatlah pergi, tapi ingat, cari saja beberapa orang yang benar-benar bisa dianggap sebagai seorang manusia, kalau tidak kami akan menanti dengan sia-sia belaka... kami pasti akan menantikan kedatanganmu di tempat ini, aku akan menunggu sampai kau pulang kembali untuk menghantar kematianmu sendiri..."

Dengan penuh kebencian Cui Kiam Beng mendengus dingin, setelah menyapu sekejap wajah Jago Pedang Berdarah Dingin dengan pandangan yang penuh rasa kebencian, ia putar badan dan berlalu dari sana.

"Adikku..." tiba-tiba dari tengah udara berkumandang datang suara panggilan yang merdu dan nyaring, Cui Tiap Tiap sambil loncat masuk ke dalam gelanggang serunya kembali :

"Adikku, kau hendak pergi ke mana?" "Lebih baik kau tak usah mencampuri urusanku," tukas Cui Kiam Beng sambil tertawa getir.

"Kenapa aku tak boleh mencampuri urusanmu?" bentak Cui Tiap Tiap penuh kegusaran, "kau toh belum mendapat persetujuan dari ayah, kenapa kau begitu berani membikin gara-gara dengan Pek In Hoei? Hmmm! Berdasarkan persoalan ini aku sudah punya hak untuk mencampuri urusan."

"Enci... kenapa kau malah membantu orang lain? Apakah kau rela menyaksikan adik kandungmu dihajar orang?" seru Cui Kiam Beng sesudah tertegun sebentar.

"Hmmm! Kau tak usah ngaco belo dan menuduh diriku dengan tuduhan yang bukan-bukan, aku tidak akan membantu pihak mana pun juga, dan siapa pun dilarang melangsungkan pertarungan secara pribadi di tempat ini... kau tahu apa sebabnya Benteng Kiam-poo bisa tersohor di kolong langit dan disegani orang? Itu bukan karena kita punya ilmu pedang nomor satu di kolong langit, juga bukan karena orang kita amat banyak, yang penting adalah karena kita mempunyai kerja sama yang erat dan mau bergotong royong... Dan sekarang, kau sebagai salah seorang anggota benteng ternyata berani bertindak dengan melanggar peraturan Benteng Kiam-poo yang sudah berlangsung banyak tahun, dapatkah kau bayangkan betapa gusarnya ayah jika mengetahui akan kejadian ini? Dan sudahkah kau bayangkan hukuman apa yang bakal ditimpakan kepada dirimu..."

Cui Kiam Beng segera tertawa dingin setelah mendengar perkataan encinya yang panjang lebar itu.

"Enci!" serunya dengan tak senang hati, "cukup sudah nasehatmu yang panjang lebar itu, aku sudah muak dan sebel mendengarkan kesemuanya itu... dan sekarang aku harap enci segera tutup mulut! Selama ini dalam persoalan apa pun juga kau hendak merintangi diriku... Hmmm! Terang-terangan kukatakan kepadamu, hari ini aku tak akan doyan menelan permainanmu itu..." Pada dasarnya pemuda ini sedang mendongkol karena sudah dipermainkan oleh Pek In Hoei berdua tanpa bisa membalas, sekarang melihat encinya banyak bicara maka tak bisa dicegah lagi semua rasa dongkol yang sudah tertimbun dalam dadanya langsung dilampiskan kepada gadis itu, bukan saja perkataannya pedas didengar bahkan tidak sungkan-sungkan dan penuh mengandung sindiran.

Cui Tiap Tiap tentu saja semakin marah sekujur tubuhnya gemetar keras karena menahan emosi.

"Adikku, kau... kau..." jeritnya.

"Kenapa aku?" jengek Cui Kiam Beng sambil maju melangkah ke depan, "enci! Dengarkan baik-baik peringatanku ini, aku larang kau mencampuri urusanku... mengerti????"

Mimpi pun Cui Tiap Tiap tak pernah menyangka kalau adik laki- lakinya yang selama ini disayang dan dimanja olehnya bukan saja bersikap kasar terhadap dirinya, bahkan menyindir pula dengan kata- kata yang pedas.

Gadis cantik ini tak bisa menahan rasa sedihnya lagi, sambil menggeleng ia berbisik :

"Aku tahu kalau kau telah dewasa... aku pun tahu dalam pandanganmu ada atau tidak enci seperti diriku ini sama saja bagimu... tetapi aku ingin memperingatkan pula kepadamu, kau mesti tahu jalan menuju ke arah sesat gampang ditempuh, tapi untuk berbuat kebaikan sulit bukan kepalang, seandainya suatu hari..."

"Pergi... pergi... cepat enyah dari sini," tukas Cui Kiam Beng sambil ulapkan tangannya berulang kali, "lebih baik kurangi saja banyolanmu yang memuakkan itu..."

"Kau... kau telah berubah sama sekali, kau telah berubah jadi mengerikan... hampir saja aku tak percaya kalau kau bisa berubah jadi begitu..."

Cui Kiam Beng tak menggubris perkataan kakaknya lagi, baikan tidak mendengar perkataan itu sambil tertawa dingin tiada hentinya pemuda itu putar badan dan lari keluar dari hutan. Memandang bayangan punggung adiknya yang lenyap dari pandangan, titik air mata tak tahan lagi mengucur keluar membasahi wajahnya, ia melotot sekejap ke arah Soat Hoa Nio Nio dengan pandangan mendongkol kemudian berseru :

"Soat Hoa cianpwee, kenapa kau tidak urusi dirinya? Coba kau lihat ia jadi semakin binal dan tak karuan..."

Dengan nenek tua ini selama hidup Cui Tiap Tiap merasa paling tidak cocok, bahkan boleh dibilang dia agak benci terhadap nenek ini, sekali pun di luaran ia sebut cianpwee kepadanya tetapi dalam hati kecilnya sedikit pun tidak pandang sebelah mata terhadap Soat Hoa Nio Nio, sebab ia tahu bahwa nenek tua ini sering kali mengajarkan perbuatan-perbuatan yang tak senonoh kepada adiknya, membuat adiknya kian lama kian berubah jadi jahat dan sukar diberitahu..."

"Kenapa aku mesti urusi adikmu itu?" ejek Soat Hoa Nio Nio dengan nada yang sinis, "Hmmm! Sebagai orang muda sudah sepantasnya kalau seringkali berlatih diri, kalau tidak merasakan sedikit penderitaan akibat kalah dari mana ia bisa tahu tentang lihaynya orang... Aku rasa persoalan semacam ini bukanlah urusanmu, lebih baik jangan kau campuri lagi... sana, pulang ke benteng."