-->

Imam Tanpa Bayangan I Jilid 34

 
Jilid 34

MELIHAT sikap lawannya yang jumawa itu, Lu Kiat tertawa dingin tiada hentinya, sedang Pek In Hoei angkat kepalanya memandang awan di angkasa.

sikapnya yang sombong dan takabur ini kontan membuat si angin puyuh Siang Tek Sam tak kuasa menahan diri, saking gusarnya air muka berubah hebat, tegurnya :

"Siapa mereka berdua?" "Mereka adalah..."

Jago pedang berdarah dingin Pek In Hoei melotot sekejap ke arah lawannya, kemudian menjawab dengan suara dingin :

"Aku she Pek    "

Selesai berkata sorot matanya di alihkan kembali ke ujung langit yang jauh terbentang di depan mata kesombongan serta kejumawaan itu mencerminkan sikapnya yang seakan-akan tidak memandang sebelah mata terhadap siapa pun juga.

Si angin puyuh Siang Tek Sam tak tahan menyaksikan kejumawaan serta kesombongan lawan, diam-diam ia putar otak dan memikirkan siapakah gerangan pemuda she Pek itu, ia berasal dari partai mana?

Sambil tertawa seram ia lantas berkata:

"Kau she Pek? Belum pernah aku dengar orang menggunakan she tersebut... " "Itulah dikarenakan pengetahuanmu terlalu picik dan pengalamanmu masih amat cetek..." sambung Pek In Hoei sambil tetap memandang angkasa.

"Mungkin perkataanmu itu benar," sahut Siang Tek Sam dengan alis berkerut, "kalau ditinjau dari gayamu itu kau mirip sekali dengan seorang manusia sungguhan, tetapi dalam dunia persilatan banyak sekali terdapat manusia yang pandai sekali berpura-pura, di luar berlagak gagah padahal isinya kosong melompong, sahabat Pek aku percaya kau tentu bukan manusia semacam itu bukan..."

Senyuman serta nada ucapan yang penuh mengandung sindiran membuat orang susah untuk menahan diri, tetapi jago pedang berdarah dingin bukanlah manusia sembarangan, dalam menghadapi sikap mengejek dari lawannya ia mampu untuk bersabar diri, ia tidak berubah air muka pun tidak gusar oleh sindiran tersebut, sebaliknya senyuman yang lebih dingin dan menggidikkan hati menghiasi bibirnya, membuat siapa pun yang memandang akan tercekat hatinya...

Menyaksikan keadaan musuhnya yang mengerikan itu, Siang Tek Sam jadi kaget, tanpa terasa ia mundur beberapa langkah ke belakang hingga tiba di sisi kedua orang rekannya, telapak tangannya tanpa terasa mulai meraba gagang pedang yang tersoren di atas pinggang...

Pek In Hoei tertawa dingin, serunya:

"Gentong nasi? Haaaah... haaaah... haaaah... sahabat Siang, apakah kau adalah manusia semacam itu, aku rasa kau tak mungkin manusia semacam itu, atau paling sedikit kau masih punya sedikit keberanian, sebab kau masih berani meraba gagang pedangmu... mungkin kau tidak tahu, banyak sekali orang yang tak punya keberanian untuk meraba gagang pedangnya setelah bertemu dengan aku, setiap kali berjumpa dengan diriku tanpa sadar mereka cepat jatuhkan diri berlutut di atas tanah...

Dengan senyuman mengejek ia kerling sekejap wajah orang itu, lalu ujarnya kembali: "Dan aku percaya kau tak akan berbuat demikian bukan? kau tak akan ketakutan setengah mati hingga jatuhkan diri berlutut setelah berjumpa dengan diriku bukan?"

Air muka Siang Tek Sam berubah hebat, ia tertawa seram dan maju selangkah ke depan, serunya :

"Hm! Sahabat Pek apakah kau tidak takut ucapanmu itu akan membuat lidahmu tersambar kutung oleh sambaran petir...

"Aku yakin sekarang peristiwa tersebut tidak mungkin terjadi, sedang di kemudian hari dilihat dulu perkataan yang hendak kuucapkan..."

Ia tarik napas panjang-panjang, senyuman mulai menghiasi bibirnya, dengan hambar ia berkata, "Sababat Siang sudah cukupkah kau perlihatkan kegagahanmu itu?..."

"Toako!" pria yang berada di samping kanan Siang Tek Sam buka suara dan maju ke depan dengan wajah penuh kegusaran, "bajingan cilik ini terlalu tidak beri muka kepada kita semua, aku Bwee Tong Hay paling tidak percaya dengan segala permainan setan, ini hari aku ingin lihat sampai di manakah kegagahan dari sahabat itu..."

Ia melotot sekejap ke arah Pek In Hoei kemudian tegurnya : "Hey, kau merangkak keluar dari perut ibumu yang mana?"

Pek In Hoei balas melotot sekejap ke arah lawannya, kemudian menyahuti:

"Cukup meninjau dari perkataanmu itu, kau harus dihadiahkan sebuah gaplokan mulut yang keras!"

Plooook! bersamaan dengan selesainya perkataan itu sebuah gaplokan nyaring tahu-tahu sudah bersarang di atas wajah lawan. Bwee Tong Hay mundur dengan sempoyongan, pipinya terasa panas, sakit dan linu saking gusarnya darah segar muntah keluar dari mulutnya, dua biji giginya patah jadi dua bagian, hawa gusar seketika berkobar membakar hatinya.

Tetapi ada satu hal yang cukup mengejutkan hati orang, yakni siapa pun tak sempat melihat jelas dengan cara apakah jago pedang berdarah dingin ayunkan telapaknya, bayangan telapak baru saja menyambar lewat tahu-tahu Bwee Tong Hay sudah mundur dengan sempoyongan, gerakan yang demikian cepatnya ini betul-betul luar biasa sekali.

"Kau... " teriak Bwee Tong Hay dengan suara gemetar. "Anggaplah gaplokan tersebut sebagai peringatan atas mulutmu

yang usil dan bau itu," ujar Pek In Hoei dengan suara dingin, "lain kali bila siau-ya mendengar kau maki orang lagi dengan kata-kata yang tidak senonoh. Hmmm akibatnya harus kau tanggung sendiri! Aku percaya hukuman yang bakal kujatuhkan kepadamu tak akan seenteng kejadian hari ini lagi..."

Meskipun di dalam Benteng Kiam-poo Bwee Tong Hay masih belum memiliki kedudukan apa-apa tetapi derajat serta tingkat kedudukannya jauh lebih tinggi berpuluh-puluh kali jika dibandingkan dengan orang-orang yang berada di Kiam-bun-kwan itu karena kurang waspada dan terlalu gegabah pipinya kena gaplok satu kali, penghinaan tersebut amat menyiksa hatinya, ia merasa tak punya muka untuk hidup sebagai manusia lagi, ia berusaha mencari jalan untuk mengembalikan gengsinya.......

Dengan penuh kegusaran segera hardiknya:

"Kau.... kau..... kalau     kau punya kepandaian, lihat saja nanti!

Akan kukasih pelajaran kepadamu. "

Sebetulnya dia hendak mencaci maki lagi dengan kata-kata yang kotor, tetapi secara mendadak ia teringat kembali akan pukulan dari Pek In Hoei yang begitu cepat laksana sambaran kilat itu, maka hatinya jadi ketakutan dan kata-kata yang sudah hampir meluncur keluar itu segera ditelan kembali....

Bwee Tong Hay cabut keluar pedangnya lalu dibabat keras-keras di tengah udara, dengan gerakan itu dia hendak menunjukkan kepada lawannya bahwa dia bukanlah seorang manusia yang bisa dipermainkan seenaknya.

Pek In Hoei segera tertawa ringan. "Kau tak usah kuatir, asal di situ ada permainan yang menarik hati, aku orang she Pek pasti akan datang untuk melihat keramaian. Bwee-toa-eng-hiong! Babatan pedangmu itu sungguh luar biasa sekali cuma sayang kemantapannya baru mencapai beratnya empat kati kacang goreng..."

"Kentut busuk" teriak Bwee Tong Hay dengan gusarnya, "toa-ya tidak percaya bacokan tersebut tak mampu untuk membinasakan dirimu..."

"Kalau tidak percaya tanyakanlah kepada tootiang ini" kata Pek In Hoei dengan alis berkerut, "ia dapat memberitahukan kepadamu..."

"Apa???" teriak Bwee Tong Hay dengan suara keras. "kau suruh aku bertanya kepada Yu Tootiang? Dia itu manusia macam apa? Apakah ia bisa lebih hebat daripada diriku cis... aku sih tak akan percaya permainan setan "

Akhirnya ia tak kuasa juga menahan diri, sambil menoleh ke arah Yu Tootiang tanyanya:

"Lo Yu, kau yang suruh keparat cilik itu menahan diriku?"

Ucapan yang sama sekali tak kenal sopan ini, bagi setiap orang yang mempunyai perasaan tentu tak akan kuat menahan diri, meskipun air muka Yu Tootiang berubah hebat tetapi dengan imannya yang tebal serta terutama sekali ia agak jeri terhadap ke-tiga orang itu, segera jawabnya:

"Tidak, kau jangan mendengarkan ocehan orang lain. "

Bwee Tong Hay mendengus dingin, sambil mencekal pedangnya ia maju menghampiri pemuda itu, bentaknya keras-keras:

"Bajingan cilik she Pek, kau terlalu jahat... kau harus dikasih pelajaran!"

"Dan bagaimana dengan kau sendiri? Aku lihat kau lebih jahat lagi, saking jahatnya sampai anjing pun tak sudi menggubris dirimu!" "Hmmm!" dengusan berat bergema di angkasa, bayangan pedang diiringi suara desiran tajam bergeletar menembusi udara menerjang ke depan, tubuh Bwee Tong Hay dengan cepat menerjang maju ke depan.

Berbintik-bintik bunga pedang mengumpul jadi satu di udara, lalu menyebar dan secara terpisah mengurung tempat-tempat penting di seluruh tubuh Pek In Hoei.

Jangan dilihat serangan itu dilancarkan dalam keadaan gusar, ternyata kehebatannya jauh lebih dahsyat berkali-kali lipat daripada Yu Tootiang dari partai Bu tong, meskipun hanya satu jurus belaka tapi sudah jelas menunjukkan kesempurnaan tenaga dalamnya.

Pek In Hoei segera tertawa dingin, serunya:

"Hmmm! Rupanya kau mencari kematian buat diri sendiri, tak akan ada orang yang menaruh kasihan kepadamu..."

Tubuhnya tiba-tiba menciptakan diri jadi segulung asap tipis lalu menerobos lewat di antara ujung senjata lawan, dengan suatu gerakan yang manis tahu-tahu pemuda itu sudah terhindar dari ancaman pedang pria she Bwee itu.

"Sekarang lihatlah pula kelihayanku!" seru pemuda sambil tertawa terbahak-bahak, pedang sakti penghancur sang suryanya perlahan-lahan dicabut keluar dari dalam sarung.

Ilmu silat yang dimiliki jago pedang berdarah dingin termasuk kelas satu di dalam dunia persilatan, tampaklah ia loncat maju ke depan dengan gerakan yang sangat enteng pedangnya berputar dan segera lancarkan satu tusukan kilat ke depan.

Bwee Tong Hay merasa pandangan matanya tahu-tahu jadi kabur dan tubuh musuhnya lenyap tak berbekas, menanti ia berhasil temukan jejak lawannya, ujung pedang dari pihak lawan telah muncul di depan mata.

Hatinya jadi terkesiap, tubuhnya gemetar keras dan buru-buru dia ayunkan pedangnya untuk menyambut kedatangan serangan tersebut. Traaaaang....! percikan bunga api berhamburan di angkasa mengiringi terjadinya suara dentingan nyaring, dengan ketakutan Bwee Tong Hay menjerit keras, tubuhnya secara beruntun mundur tujuh delapan langkah ke belakang dengan ketakutan.

"Siapakah kau?" teriaknya dengan suara gemetar.

"Apa sangkut pautnya urusan itu dengan dirimu? jawab Pek In Hoei dengan suara ketus, "sahabat Bwee, apakah masih akan melanjutkan pertarungan ini, setiap saat aku akan mengiringi kehendak hatimu itu..."

Begitu dingin dan menyeramkan ucapan tersebut, membuat Bwee Tong Hay tak berani mengucapkan kata-katanya lagi.

"Sahabat!" ketika itulah si Angin Puyuh Siang Tek Sam berseru sambil tertawa seram, "kalian datang kemari apakah bertujuan untuk bikin keonaran di dalam benteng Kiam poo "

"Bikin keonaran sih tidak! cuma kami ingin sekali pergi mengunjungi benteng nomor satu yang amat tersohor namanya di kolong langit itu, sahabat Siang! Apakah kami mempunyai kehormatan tersebut??"

Air muka si Angin Puyuh Siang Tek Sam berubah beberapa kali, setelah hening sejenak ia menjawab :

Sahabat Pek, pintu depan benteng Kiam poo kami selalu terbuka dan setiap saat menyambut kedatangan para enghiong hohan dari seluruh kolong langit cuma... untuk memasuki benteng itu kalian harus patuhi dahulu tiga buah syarat, apakah kau pernah mendengarnya "

Pek In Hoei mengerutkan alisnya yang tebal lalu tertawa. "Tentang soal itu aku sih belum pernah mendengarnya "

Si Angin Puyuh Siang Tek Sam tertawa seram.

"Hmm..." meskipun pintu besar benteng Kiam poo kami selalu terbuka bagi kunjungan setiap jago Bu-lim tetapi setelah masuk ke dalam sulit untuk berjalan keluar kembali, setiap orang yang telah masuk ke dalam Benteng Kiam-poo paling sedikit ia harus bekerja bagi benteng selama tiga tahun, setelah itu ia bari bisa berlalu dari tempat ini. Sahabat Pek! bila kau suka berdiam selama tiga tahun dalam Benteng Kiam-poo kami, maka dengan senang hati pula aku akan mengajak kalian masuk ke dalam benteng Kiam poo..."

"Waah soal itu terlalu sulit bagiku," jawab Pek In Hoei sambil gelengkan kepalanya berulang kali, "Watakku suka bergerak aku tak senang tinggal terlalu lama di suatu tempat tertentu, syaratmu yang pertama ini sulit untuk aku laksanakan..."

"Syarat yang ke-dua adalah khusus ditujukan bagi sahabat- sahabat yang sengaja diundang oleh benteng Kiam poo kami, tentang soal ini aku sudah tahu bahwa kau bukan sahabat benteng kami, maka lebih baik tak usah dibicarakan lagi... " kata Siang Tek Sam dengan suara dingin alisnya berkerut kencang kemudian teriaknya dengan suara keras :

"Syarat terakhir adalah khusus ditujukan bagi mereka yang sengaja datang ke Benteng Kiam-poo kami untuk menuntut balas, andaikata sahabat Pek termasuk dalam golongan yang terakhir maka urusan semakin gampang lagi, asal punya kepandaian maka benteng Kiam poo kami setiap saat dapat menantikan kedatanganmu!"

"Huuuh.... sungguh banyak peraturan dari Benteng Kiam-poo kalian..."

Si Angin Puyuh Siang Tek Sam mendengus dingin.

"Peraturan itu sudah berlaku semenjak dahulu kala. Dan kini kau hendak mengunjungi benteng Kiam Poo pada detik ini juga ataukah nanti saja? biar kau menyadari bahwa ilmu silat yang kamu miliki masih terlalu cetek, aku nasehati kalian berdua alangkah baiknya untuk membatalkan niatmu itu dan pulanglah ke rumah untuk berlatih lagi selama beberapa tahun..."

"Apa kedudukanmu di dalam benteng Kiam poo ??"

"Kami sekalian tidak lebih hanya manusia kecil yang bertugas untuk menyambut kedatangan para sahabat kangouw yang hendak berkunjung ke Benteng Kiam-poo, dalam soal kedudukan kami masih belum berhak untuk melangkah masuk ke dalam pintu tingkat ke-dua. Sahabat Pek! Apa maksudmu mengajukan pertanyaan itu ?" "Harap bawa jalan buat kami," sahut Pek In Hoei dengan wajah dingin menyeramkan.

"Apa yang hendak kau lakukan ?" seru si Angin Puyuh Siang Tek Sam dengan wajah berubah hebat.

Pek In Hoei mendongak dan tertawa terbahak-bahak, sahutnya dengan suara lantang:

"Kalau memang benar di dalam Benteng Kiam-poo terdapat begitu banyak jago lihay aku Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei merasa sudah sepantasnya untuk melakukan kunjungan. Sahabat Siang, dengan merek namaku ini apakah aku berhak untuk melakukan kunjungan? eebm?"

"Ini..." sekarang Siang Tek Sam si angin puyuh baru mengenali siapakah sebenarnya pemuda yang berada di hadapannya itu, saking terkejutnya sekujur tubuh nampak gemetar keras, setelah berpaling dan melotot sekejap ke arah Ya Totiang, katanya:

"Aku akan segera menyiapkan kuda bagi kalian berdua!"

Sekarang ia baru menggerutu kepada Yu Tootiang kenapa tidak memberitahukan siapakah pihak lawannya sejak tadi, dengan hati mendongkol ia segera loncat naik ke atas punggung kudanya diiringi ke-dua orang rekannya, dengan tenang mereka menunggu Pek In Hoei serta Lu Kiat naik ke atas punggung kudanya, setelah itu lima ekor kuda dengan cepatnya meluncur di tengah jalan raya.

Bayangan Kiam-bun-kwan kian lama kian menjauh dan akhirnya lenyap dari pandangan, seakan-akan di kolong langit tidak terdapat tempat semacam itu... lima ekor kuda berlarian dengan gencarnya di tengah jalan menimbulkan debu dan pasir yang beterbangan memenuhi angkasa....

Sepanjang perjalanan Bwee Tong Hay serta seorang pria yang lain dengan kencang mengikuti di belakang Lu Kiat atau tegasnya saja mereka sedang mengawasi gerak-gerik pemuda itu, sebab dari balik sorot mata mereka berdua terpancar keluar sinar permusuhan yang amat tebal, seringkali sorot mata itu ditujukan ke atas tubuh pemuda she Lu.

Sedangkan Si angin puyuh Siang Tek Sam dengan ketat mengawasi gerak-gerik dari Jago Pedang Berdarah Dingin, tiada hentinya ia mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan, sebab ia takut pihak lawannya secara tiba-tiba melancarkan serangan mematikan, karena itu mau tak mau dia harus membuat perhitungan bagi keselamatannya sendiri....

Perjalanan dilakukan lama dan jauh sekali, siapa pun merasa pikirannya tegang dan kalut sepanjang perjalanan.... tetapi baik Pek In Hoei mau pun Lu Kiat masih tetap tenang-tenang saja, sikapnya yang tenang sama sekali tidak nampak gugup ini mendatangkan perasaan tak tenang bagi Siang Tek Sam bertiga...

"Dimana letaknya??" tegur Pek In Hoei suatu ketika sambil memandang ke depan, "kenapa belum sampai juga di tempat tujuan "

"Setelah melewati tikungan bukit sebelah depan, kita akan sampai di tempat tujuan "

Dengan pandangan ketakutan ia melirik sekejap ke arah lawannya, ia takut secara tiba-tiba pihak lawan melancarkan serangan ke arahnya sebab sikapnya yang dingin dan sama sekali tiada berperasaan itu membuat ia mempunyai perasaan seolah-olah sedang mendampingi seekor harimau, setiap saat jiwanya mungkin terancam bahaya.

Siang heng, sungguh tidak pendek perjalanan ini," sindir Lu Kiat dengan suara dingin.

Dalam hati kecilnya si angin puyuh Siang Tek Sam mempunyai perhitungan, ia tertawa jengah dan sahutnya:

"Bukit di sebelah depan situ namanya Hoan bun po, setelah melewati tempat itu berarti kalian berdua sudah tidak mendapatkan jalan untuk balik lagi!"

Setelah menuruni bukit yang terjal itu, di atas tanah lapang dengan rumput yang tumbuh subur nampak bekas kaki simpang siur tertera di atas tanah, jelas sering kali tempat itu dilewati orang. Mereka berlima dengan cepat melalui tanah lapang itu dan berhenti di depan sebuah hutan yang sangat lebat.

"Hmmm !" dari balik hutan yang lebat berkumandang datang suara dengusan berat yang amat mendalam, seorang kakek tua berjubah serba merah munculkan diri dari balik pepohonan, sambil tertawa seran ia berseru nyaring:

"Siang Tek Sam, siapa yang suruh kau tanpa urusan lari datang kemari... "

"Malaikat penjaga sukma, hamba datang kemari untuk menghantar tamu agung masuk benteng..." jawab Siang Tek Sam dengan sikap yang sangat hormat.

"Ooooh...... tamu dari mana yang mau datang menghantar kematiannya??"

Pria she Siang itu melirik sekejap ke arah Pek In Hoei lalu menjawab: "Jago pedang berdarah dingin Pek In Hoei..."

Air muka malaikat penjaga sukma berubah dingin menyeramkan, setelah melirik sekejap ke arah Pek In Hoei serta Lu Kiat ujarnya:

"Harap kalian berdua suka turun dari atas kuda, perjalanan selanjutnya menjadi tanggung jawabku, bila aku telah menghantar kalian berdua tiba di depan pintu benteng maka berarti pula tugasku telah selesai..."

Meskipun perkataan itu diucapkan dengan nada sungkan, tetapi dalam hati merasa amat tidak puas dengan kehadiran dua orang pemuda itu.

Pek In Hoei mencibirkan bibirnya dan tertawa nyaring.

"Kalau memang demikian adanya, harap Lo sian-seng suka menghantar perjalanan kami... " katanya.

Bersama-sama dengan Lu Kiat ia menyingkap jubah luarnya, lalu bagaikan segumpal kapas dengan enteng sekali loncat turun ke atas tanah, sikapnya yang santai dan rileks seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu kejadian apa pun ini membuat malaikat penjaga sukma mengerutkan dahinya, diam-diam ia merasa terkesiap juga oleh kesempurnaan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki kedua jago muda itu.

"Sahabat Pek, aku hanya bisa menghantar kalian berdua sampai di tempat ini saja," ujar Siang Tek Sam si angin puyuh sambil tertawa seram , "setelah masuk ke dalam benteng, semoga sepanjang perjalanan selamat selalu, aku tetap berharap agar pada suatu hari bisa berjumpa kembali dengan kalian berdua keluar dari benteng dalam keadaan selamat tanpa kekurangan sesuatu apa pun jua, tapi kalian mesti ingat bahwa kesempatan itu kecil sekali "

"Kita lihat saja nanti bagaimana akhirnya..." sahut Pek In Hoei dengan suara dingin, "mungkin pada waktu kita berjumpa muka kau telah berubah jadi sesosok mayat tanpa betok kepala, waktu itu...

haah... haaah... haaah... kau jangan salahkan diriku bila sudah tak kenali terhadap sahabat lama lagi "

Dengan hati mendongkol si angin puyuh Siang Tek Sam mendengus dingin, dia ulapkan tangannya dan bersama dua orang rekan lainnya segera berlalu melewati jalan semula.

Menanti bayangan tubuh mereka bertiga sudah lenyap dari pandangan, malaikat penjaga sukma baru berkata dengan suara seram

:

"Tamu terhormat, silahkan kalian berdua mengikuti aku, untuk masuk ke dalam benteng..."

Sembari berkata dia enjotkan badannya dan laksana kilat berkelebat masuk ke dalam hutan.

Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei serta Lu Kiat mengetahui bahwa pihak lawan hendak menguji tenaga dalam yang mereka miliki, buru-buru mereka mengepos tenaga dan segera menyusul dari belakangnya.

Setelah menembusi hutan yang amat lebat itu, di depan mata terbentanglah sebuah sungai yang amat panjang sekali, air yang mengalir dalam sungai itu sangat deras... meskipun demikian sebuah jembatan besi terbentang di atas sungai tadi dan menghubungkan tepi sebelah sini dengan tepi seberang.

Sebuah benteng kuno yang amat besar dan angker berdiri tepat di seberang sungai, dinding bukit yang terjal dan curam mengelilingi sekeliling benteng tersebut, pada setiap jengkal dinding benteng berdiri seorang jago melakukan penjagaan, mereka menghadap ke arah luar dan melakukan pengawasan dengan kerennya.

'Benteng Pedang Sakti'

Tiga huruf besar yang amat menyolok terukir di atas dinding pintu benteng tersebut, pada ke-dua belah pintu besar yang terbuat dari baja murni masing-masing tergantung sebilah pedang panjang berwarna keperak-perakan, di bawah sorot cahaya sang surya senjata itu memantulkan cahaya tajam yang amat menyilaukan mata.

"Inilah benteng Kiam poo," seru Malaikat Penjaga Sukma sambil tertawa dingin, "harap kalian berdua suka mengikuti diriku masuk ke dalam benteng..."

Dengan enteng ia melangkah di atas jembatan besi itu lalu meluncur ke dalam dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat. Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei tertawa dingin, bersama Lu Kiat dia segera menyusul ke arah dalam.

"Siapa di situ? Sandi mulut..." teriak pria yang berada di atas benteng sambil mengawasi ke-tiga orang yang berada di luar benteng itu dengan pandangan tajam.

Malaikat Penjaga Sukma segera angkat tangannya dan menunjukkan tiga jari, sahutnya dengan suara keras :

"Menyeberangi sungai hendak bertemu dengan nelayan tua..." "Hmm! Kembali manusia-manusia tak tahu diri yang datang

mengantar kematian buat diri sendiri..." jengek pria itu sambil tertawa dingin.

Dalam pada itu setelah mereka berdua saling bertukar sandi, Malaikat Penjaga Sukma segera membawa ke-dua orang itu berjalan menuju ke arah pintu benteng. Tampaklah ke-dua belah pintu baja yang amat besar itu perlahan- lahan membentang ke samping, dari dalam benteng muncullah dua orang pria penjaga pintu.

"Ong toako," Malaikat Penjaga Sukma menyapa, "harap kau laporkan kepada pengurus benteng, katakanlah Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei serta Lu Kiat datang untuk mengunjungi benteng..."

"Hmm! Tidak bisa, sekarang tidak diperkenankan untuk masuk..." sahut pria yang berada di sisi kiri sambil mendengus.

Malaikat Penjaga Sukma jadi tertegun.

"Ong toako, sebenarnya apa yang telah terjadi??" serunya.

"Kau betul-betul tolol dan makin tua makin bertambah pikun," jawab pria itu dengan sikap yang amat sombong, "apakah kau lupa sekarang adalah hari apa? Toa kongcu dan toa siaocia sebentar lagi akan keluar dari benteng..."

"Oooh... aku betul-betul sangat bodoh... aku memang sangat tolol, ternyata urusan itu sudah aku lupakan!" kata Malaikat Penjaga Sukma dengan tubuh gemetar keras.

Kepada Pek In Hoei ia tertawa getir dan melanjutkan :

"Sahabat Pek, kongcu serta siocia dari benteng kami sebentar lagi akan keluar benteng untuk menikmati pemandangan alam, dalam keadaan seperti ini biasanya poocu kami tak pernah menemui tamu, terpaksa kalian berdua harus kembali dulu.. Inilah rejeki yang paling bagus buat kalian berdua untuk melanjutkan hidup, sebab meneruskan perjalanan ke depan hanya berarti mencari kematian bagi diri sendiri..."

"Sungguh tidak sedikit peraturan dari benteng kalian ini..." ejek Lu Kiat dengan suara dingin.

Air muka Malaikat Penjaga Sukma agak berubah sedikit, buru- buru serunya memperingatkan :

"Kalau berbicara harap sedikitlah berhati-hati, kalian mesti tahu Benteng Kiam-poo jauh berbeda dengan perguruan biasa lainnya, barang siapa yang terjatuh ke tangan kami belum ada seorang pun di antaranya yang berhasil lolos dalam keadaan hidup..."

Dengan sorot mata tajam Pek In Hoei melirik sekejap ke arah Benteng Kiam-poo yang besar dan menyeramkan itu, tiba-tiba sekilas napsu membunuh terlintas di atas wajahnya, ia tarik napas panjang- panjang dan berkata :

"Lu toako, mari kita serbu sendiri ke dalam benteng..." "Ehmm... aku lihat terpaksa kita harus berbuat demikian..." jawab

Lu Kiat sambil mengangguk.

Traang...! Di kala ke-dua orang itu secara diam-diam sedang berunding untuk melakukan penyerbuan secara kekerasan, tiba-tiba dari balik Benteng Kiam-poo yang menyeramkan itu berkumandang datang suara genta tersebut sehingga bergema menembusi angkasa... kemudian pantulan suara tadi menyebar di udara dan perlahan-lahan sirap kembali...

"Menyingkir..." dua orang pria yang berdiri di depan pintu benteng itu segera membentak keras.

Malaikat Penjaga Sukma tahu bahwa toa kongcu serta nona mereka akan keluar dari benteng, saking takutnya buru-buru ia berseru :

"Kalian berdua harap segera menyingkir dari sini..."

Agaknya ia merasa amat takut terhadap putra serta putri dari poocunya itu, dengan wajah berubah hebat buru-buru ia putar badan dan kabur dari jembatan penyeberangan.

Dengan sikap yang sangat hormat dua orang pria yang berdiri di sisi pintu benteng itu segera bongkokkan tubuhnya dan tunduk kepala memandang ke atas lantai, sorot mata mereka tak berani berkeliaran secara sembarangan dan gerak-geriknya ketakutan sekali.

Bagian 35

LU KIAT yang menyaksikan kejadian itu diam-diam mengerutkan dahi, dan berseru : "Besar amat lagak kongcu serta siocia dari Benteng Kiam-poo ini..."

Mereka berdua sama-sama merupakan jago muda yang tinggi hati, meskipun menyadari bahwa lawannya bukan manusia sembarangan, tetapi mereka berdua tetap bersikeras hendak melihat macam apakah gerangan ke-dua orang muda mudi itu, maka dengan lagak pilon dan sikap yang jumawa mereka angkat kepala memandang ke udara.

Dua baris pria berpakaian perak yang bersisik perak dengan pakaian yang menyolok serta pedang tersoren di pinggang, perlahan- lahan muncul dari balik pintu benteng, sikap mereka amat teratur dan rapi, jelas merupakan sepasukan busu berbaju perak yang sudah lama mendapat pendidikan keras.

Di belakang sepasukan busu itu muncullah seorang pemuda berjubah hijau bertopi model jagoan dengan sebilah pedang pendek berbentuk aneh dan antik tersoren di pinggangnya, sepasang matanya memancarkan sorot mata dingin, wajahnya tiada perasaan, sikapnya yang sombong dan jumawa itu cocok sekali dengan kuda tunggangannya yang berwarna putih bersih.

"Hey, siapakah kau?" tiba-tiba ia membentak keras, "berani benar mencuri lihat raut wajah kongcumu!"

Dua barisan busu berbaju perak itu segera menyebarkan diri dan mengurung Pek In Hoei serta Lu Kiat rapat-rapat, sikap mereka jelas menunjukkan rasa permusuhan yang amat tebal.

Sambil loncat ke depan pemuda itu kembali membentak keras : "Ciss... siapakah kalian berdua? Kenapa aku belum pernah

berjumpa dengan kalian berdua? Eeei... kenapa kalian tidak menjawab? Bisu atau tuli kamu berdua?"

Perlahan-lahan Pek In Hoei tarik kembali sorot matanya dan balas menatap wajah pemuda itu, sahutnya pula dengan suara ketus : "Siapa kau? Kenapa aku pun belum pernah berjumpa

denganmu?" "Hmmm... itulah disebabkan kau tak punya mata, sepasang matamu buta dan otakmu terlalu goblok!" teriak pemuda itu sambil mendesis penuh kegusaran, "kalau kau belum pernah berjumpa dengan enghiong yang sebenarnya dari kolong langit, maka kau tak kenal dengan kongcumu, bila kau sudah tahu siapakah aku, hmmm... hmmm... kau tak akan berani berbicara dengan sikap begitu kurang ajar terhadap diriku."

Pek In Hoei mengerutkan dahinya lalu tertawa terbahak-bahak. "Haaaah... haaaah... haaaah... jadi kalau begitu, kau benar-benar

adalah seorang manusia lihay!" ejeknya.

Sikap pemuda itu semakin sombong dan jumawa, wajahnya dingin ketus menyeramkan, matanya memancarkan cahaya bengis yang meliputi napsu membunuh, jawabnya :

"Sedikit pun tidak salah, atau paling sedikit aku Cui Kiam Beng jauh lebih ampuh daripada kamu..."

Dengan sorot mata memancarkan cahaya bengis ia tertawa dingin, lalu ujarnya kembali :

"Kenapa kalian berdua belum juga jatuhkan diri berlutut dan menunggu hukuman yang akan kujatuhkan terhadap diri kalian berdua."

"Kau keliru besar sahabat," jengek Lu Kiat dengan alis berkerut, "tak ada orang yang jeri kepadamu!"

Cui Kiam Beng adalah putra kesayangan dari pemilik Benteng Kiam-poo, sejak kecil ia sudah terbiasa dimanja sehingga tanpa terasa terdidiklah watak yang sombong tinggi hati dan jumawa pada dirinya, ketika menyaksikan sikap Pek In Hoei serta Lu Kiat bukan saja tidak jeri seperti sikap orang-orang benteng Kiam poo terhadap dirinya, malah sebaliknya ia sendiri yang disindir dan diejek-ejek, hawa amarahnya kontan berkobar dan napsu membunuh seketika menyelimuti seluruh wajahnya...

Ia menyapu sekejap ke sisi kiri dan kanannya, lalu menegur : "Tahukah kalian berdua di manakah sekarang kalian berada?" "Benteng Kiam-poo... suatu tempat yang penuh kenistaan serta kejahatan," jawab Pek In Hoei dengan nada dingin, "Huuuuh...! Kau menggunakan tempat bejat seperti ini sebagai kebanggaan terhadap diri sendiri, aku pun jadi ikut malu melihat sikapmu yang memuakkan itu."

"Tutup mulut!" bentak Cui Kiam Beng penuh kegusaran, "bangsat terkutuk, kau berani bersikap kurang ajar terhadap kongcumu!"

Dia ulapkan tangannya dan para jago pedang berbaju perak yang mengepung di sekeliling tempat itu segera loloskan pedangnya dan menyilangkan senjata di depan dada, dengan pandangan gusar mereka tatap ke-dua orang itu tajam-tajam.

"Hmm! Kalian mau coba-coba turun tangan?" ejek Jago Pedang Berdarah Dingin dengan napsu membunuh menyelimuti pula seluruh wajahnya.

Cui Kiam Beng tertawa dingin.

"Tak seorang manusia pun diperkenankan bikin keonaran dalam benteng Kiam poo, bajingan cilik! Pentang lebar-lebar sepasang biji matamu, tempat ini bukan tempat sembarangan, dan sekarang kau berani mencuri lihat rahasia dari benteng kami, untuk dosamu itu paling sedikit tubuh kalian harus dihancur-lumatkan jadi berkeping- keping."

Sambil menoleh ke arah anak buahnya, ia membentak keras : "Tangkap semua!"

Bersamaan dengan lenyapnya suara bentakan itu, dua orang pria berbaju perak menerjang datang dari samping kiri dan kanan, pedang mereka digetarkan menciptakan dua baris bunga pedang yang menyilaukan mata, laksana kilat cahaya tajam itu menyerang dua orang pemuda tersebut.

Pek In Hoei serta Lu Kiat serentak melayang ke samping sambil masing-masing kirim satu pukulan ke depan, karena terlalu gegabah menilai lawan ke-dua orang pria itu segera mendengus berat dan terpental kembali ke belakang oleh angin pukulan yang sangat berat itu.

Menyaksikan kelihayan lawannya, air muka Cui Kiam Beng berubah hebat, serunya :

"Sungguh tak nyana kalian berdua adalah jago-jago lihay yang punya sedikit simpanan."

Haruslah diketahui, barisan jago pedang berbaju perak ini adalah barisan pengawal yang dilatih dan dididik sendiri olehnya, meskipun belum terhitung jago pedang yang teramat lihay tapi mereka pun bukan termasuk manusia-manusia tolol yang sama sekali tak berguna, siapa tahu dalam penyerangan yang dilancarkan barusan, bukan saja serangannya gagal total bahkan sebaliknya di dalam satu gebrakan saja anak buahnya kena dipukul mundur dalam keadaan luka. Peristiwa semacam ini bagi Cui Kiam Beng boleh dibilang belum pernah ditemuinya.

Oleh sebab itu dengan wajah berubah hebat, sekilas senyuman menyeramkan menghiasi bibirnya.

"Saudara, bila kau ada minat, tak ada halangannya untuk turun tangan sendiri!" dengus Lu Kiat dengan suara ketus.

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... dengan andalkan sedikit kepandaian semacam itu kalian berdua berani datang ke benteng malaikat pedang untuk bikin keonaran. Kamu sekalian terlalu pandang enteng jago-jago yang ada di tempat ini," seru Cui Kiam Beng sambil tertawa seram, "kalian harus tahu bahwa jago lihay dalam benteng kami tak terhingga jumlahnya, mereka yang memiliki kepandaian silat semacam apa yang kalian miliki itu tak terhitung banyaknya... sahabatku setelah kalian bertemu dengan kongcumu maka itu berarti pula kesempatan untuk hidup bagi kalian berdua telah lenyap, selamanya aku tidak akan membiarkan setiap korbanku lolos dalam keadaan hidup, dan selamanya aku tak pernah membiarkan korbanku untuk mendapat kesempatan guna meneruskan hidupnya..." Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei tak menyangka kalau kejumawaan serta kesombongan pemuda yang berada di hadapannya ini jauh melebihi dirinya, ia tercekat dan segera mengetahui bahwa benteng Kiam poo dapat memimpin dunia persilatan, hal ini menunjukkan bahwa pihak mereka pastilah memiliki suatu kemampuan yang jauh melebihi orang lain, terutama sekali Cui Kiam Beng berani omong besar, tentu di belakang punggungnya mempunyai jaminan kekuatan yang mengerikan sekali dan sedikit banyak ia sendiri pun pasti mempunyai simpanan.

Berpikir demikian, Pek In Hoei segera tertawa terbahak-bahak. "Haaaah... haaaah... haaaah... kau bisa berkata begitu karena

selama ini kau belum pernah bertemu dengan jago lihay, oleh sebab itu belum pernah merasakan pula bagaimana rasanya dikalahkan orang!"

"Ooooh... jadi kalau begitu kau adalah seorang jagoan yang sangat lihay?" sindir Cui Kiam Beng.

"Jago lihay sih tak berani dikatakan, cuma di dalam hal kepandaian ilmu pedang aku pernah melakukan penelitian serta penyelidikan!"

Air muka Cui Kiam Beng agak berubah, tubuhnya tanpa terasa melayang turun dari atas punggung kudanya, sambil tertawa seram perlahan-lahan ia cabut keluar pedang pendeknya yang berbentuk aneh itu.

"Hmmm... hmm.... kongcumu ingin sekali menyaksikan sampai taraf yang setinggi apakah ilmu pedang yang berhasil diteliti oleh jago lihay semacam dirimu itu," ujarnya dengan serius, "sahabat, sekarang kau boleh cabut keluar pedangmu... dan ingat! Sewaktu bertempur nanti kau harus bersikap sangat hati-hati..."

Cahaya pedang bergetar kencang, dari ujung pedang pendek berbentuk aneh itu segera memancar keluar segulung hawa pedang yang amat tebal dan menggidikkan hati, cahaya pedang yang dingin membuat siapa pun akan menyadari bahwa pedang yang berada di dalam genggaman lawan itu adalah sebilah pedang mestika yang jarang sekali dijumpai di kolong langit.

"Ehmm... pedang bagus," puji Pek In Hoei dengan wajah serius, "aku Jago Pedang Berdarah Dingin baru pertama kali ini berjumpa dengan pedang mestika macam itu!"

Rupanya ia pun menyadari bahwa lawannya adalah seorang jago muda yang amat sukar dilayani, setelah tarik napas panjang-panjang dengan gerakan yang lambat ia loloskan keluar pedang mestika penghancur sang suryanya dari dalam sarung, kemudian ujung pedang ditudingkan ke tengah udara.

"Jago Pedang Berdarah Dingin!" seru Cui Kiam Beng dengan suara keras, "Apakah kau adalah Pek In Hoei yang pernah mengadakan pertemuan besar sewaktu ada di wilayah selatan..."

"Sedikit pun tidak salah, dan seandainya pada saat ini kau hendak membatalkan pertarungan ini, maka waktu masih belum terlambat..." "Aku merasa amat kagum terhadap keberanian serta kesuksesanmu itu, menggunakan kesempatan yang sangat baik seperti hari ini, aku harus baik-baik minta petunjuk darimu... Pek In Hoei!

Kuhormati dirimu sebagai seorang jago lihay di dalam penggunaan ilmu pedang, silahkan kau turun tangan sendiri..."

Sikapnya pada saat ini mengalami perubahan besar sekali, sementara pada ucapannya juga bertambah sungkan, hal ini menunjukkan bahwa pemuda she Cui itu telah menyadari bahwa lawan yang sedang dihadapinya ini adalah seorang lawan yang amat tangguh.

Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei mengerutkan alisnya sambil mencukil pedangnya ke udara ia tertawa hambar.

"Tamu tidak akan mendahului tuan rumah, lebih kau saja yang turun tangan duluan..."

Cui Kiam Beng segera membentak keras, pedang pendek dalam genggamannya digetarkan ke muka, sekilas bayangan pedang berkilauan menembusi angkasa, desiran pedang yang tajam dan menggetarkan hati berkelebat menembusi udara dan meluncur ke depan.

Sekarang Jago Pedang Berdarah Dingin baru menyadari bahwa lawannya bukan manusia sembarangan, cukup ditinjau dari serangannya yang begitu ganas dan dahsyat laksana gulungan ombak di tengah samudra ini, sudah cukup membuktikan bahwa lawannya adalah seorang jago yang amat lihay.

Dengan serius ia pusatkan seluruh perhatiannya pada ujung pedang sendiri, secara beruntun ia bergantian menyerang sebanyak tujuh delapan jurus dengan lawannya, sebagai jago-jago kelas satu dalam dunia persilatan, setiap kali terjadi benturan dengan cepat mereka tarik kembali pedangnya masing-masing, siapa pun tidak melakukan penyerangan dengan jurus serangan yang sama sekali tidak meyakinkan.

Dengan tegang Lu Kiat mengikuti jalannya pertarungan itu dari sisi kalangan, ia tahu ke-dua belah pihak telah menyerang dengan mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya, satu kali salah bertindak berarti jiwa akan melayang pada detik itu juga, perhatiannya sama sekali terhisap oleh jalannya pertarungan itu sehingga untuk beberapa saat ia lupa terhadap keadaan di sekelilingnya.

"Lu-heng..." suara sapaan yang nyaring dan merdu berkumandang datang memecahkan kesunyian yang mencekam.

Lu Kiat tercengang dan segera berpaling ke arah mana berasalnya suara panggilan tadi, tampak seorang nona cantik bersanggul tinggi perlahan-lahan berjalan mendekati ke arahnya, baju merah yang terhembus angin membuat dara muda itu nampak bertambah cantik, seakan-akan bidadari yang baru turun dari kahyangan.

"Nona Im..." seru Lu Kiat dengan nada tertegun.

Dara muda yang cantik jelita itu gelengkan kepalanya berulang kali, kemudian berkata :

"Tidak, aku she Cui bernama Tiap Tiap... dahulu ketika kita saling berjumpa di kota Siang cu nama yang kugunakan adalah nama palsu... Lu-heng! Kenapa kau bisa datang kemari, kenapa sebelum datang kau tidak memberi kabar lebih dahulu kepadaku..."

Lu Kiat merasa hatinya jadi hangat dan benaknya segera terbayang kembali pemandangan tatkala ia berkenalan dengan gadis itu di kota Siang-ciu, ia merasa hatinya jadi kosong ketika kemudian gadis itu berlalu tanpa pamit.

Ia menghela napas panjang, katanya dengan wajah serius :

"Aku serta Jago Pedang Berdarah Dingin secara kebetulan lewat di Benteng Kiam-poo dan tanpa sengaja telah bentrok dengan Cui sau poocu, sungguh tak nyana dalam keadaan seperti ini aku telah berjumpa kembali dengan dirimu... aai..."

"Tapi toh ini namanya jodoh..." ujar Cui Tiap Tiap sambil mengerlingkan biji matanya dan tersenyum.

Lu Kiat tertawa getir.

"Dan jodoh ini datangnya terlalu mendadak sehingga berada di luar dugaan orang..." tambahnya.

Dengan pandangan mesra, Cui Tiap Tiap mengerling sekejap ke arah pemuda itu, lalu berkata :

"Lu-heng, sebelum kau lanjutkan langkahmu untuk memasuki Benteng Kiam-poo lebih baik ajak sahabatmu untuk cepat-cepat berlalu dari sini. Kau tak akan paham terhadap tabiat dari ayahku, peduli siapa pun juga asal berani memasuki Benteng Kiam-poo maka jangan harap bisa keluar lagi dalam keadaan hidup, kecuali kau mati tak mungkin kau bisa tinggalkan benteng ini lagi. Saudara Lu! Kendati aku adalah separuh tuan rumah di tempat ini namun berbicara tentang kedudukan serta kekuasaan aku masih belum dapat memadai adikku, karenanya walaupun aku ingin sekali membantu dirimu sayang sekali tiada tenaga bagiku untuk melakukannya..."

Diam-diam Lu Kiat menghela napas panjang, dengan suara berat katanya :

"Terima kasih buat maksud baikmu itu, sayang sekali menyerbu ke dalam Benteng Kiam-poo merupakan cita-cita serta tujuan kami..." "Tempat ini bukan suatu tempat yang baik," nasehat Cui Tiap Tiap lagi dengan wajah sedih, rasa murung dan kesal terlintas di atas wajahnya, "ayahku telah mendengarkan ucapan manusia laknat, perbuatannya sangat melanggar kebiasaan orang Bu lim, walaupun aku ada maksud untuk menasehati dia orang tua, sayang tenaga serta kemampuanku amat terbatas, aku tak dapat menolong situasi ini lagi..."

Ia melirik sekejap pertarungan yang sedang berlangsung antara ke-dua orang pemuda itu, kemudian bentaknya keras-keras:

"Tahan! Kiam Beng, ayoh kembali..."

Dalam pada itu seluruh jidat Cui Kiam Beng telah basah kuyup oleh air peluh, ia mulai merasa keteter hebat dan mulai tak sanggup mempertahankan diri, ketika mendengar suara bentakan dari encinya, dengan cepat ia dorong pedangnya ke belakang lalu bagaikan segulung angin meloncat keluar dari gelanggang.

"Eeei... kenapa secara tiba-tiba kau hentikan pertarungan ini? Apakah sudah tak diteruskan lagi..." ejek Pek In Hoei dengan suara dingin lagi ketus.

Cui Kiam Beng terengah-engah, sambil mengatur pernapasan sahutnya, "ilmu silatmu memang lihay sekali, sebentar akua pasti akan minta petunjuk lagi darimu..."

Cui Tiap Tiap menggerakkan tubuhnya yang ramping dan perlahan-lahan maju ke depan, raut wajahnya yang cantik jelita bagaikan sekuntum bunga tiba tertutup oleh sikap yang dingin menggidikan hati, tegurnya dengan nada tidak senang hati :

"Siapa yang suruh kau bergebrak lagi dengan orang lain..." "Cici!" sahut Cui Kiam Beng dengan alis berkerut, "dalam

keadaan seperti ini kenapa kau tampil pula ke depan?? Apa pesan ayah kepadamu? Seorang gadis perawan masa secara sembarangan munculkan diri untuk berjumpa dengan orang asing..."

"Hmm! Makin lama kau semakin tak tahu aturan, aku pun hendak kau urusi???" bentak gadis itu dengan nada dingin. "Mengurusi sih aku tak berani... cuma ayah berpesan begitu kepadaku..."

Cui Tiap Tiap melirik sekejap ke arah Jago Pedang Berdarah Dingin, ketika menyaksikan wajahnya yang begitu tampang dengan perawakan tubuh yang sangat gagah, hatinya seketika terasa bergetar keras, pikirnya di dalam hati :

"Lu Kiat sudah termasuk salah seorang pria tampan yang jarang ada di kolong langit, sungguh tak nyana setelah dibandingkan dengan Jago Pedang Berdarah Dingin ternyata di atas tubuh Lu Kiat seakan- akan kekurangan sesuatu benda... tidak aneh kalau begitu banyak gadis muda yang terpikat dan tergila-gila kepadanya... ia memang tampan dan menawan hati...

Sambil tertawa jengah ujarnya :

"Pek tayhiap, benteng kami merasa mendapat kehormatan untuk menerima kunjungan dari seorang jago lihay yang nama besarnya sudah tersohor di seluruh kolong langit serta berkepandaian tinggi macam dirimu... kami merasa amat bangga sekali dengan kehadiranmu ini..."

"Nona terlalu memuji, kalau berbicara tentang ilmu silat maka semestinya kepandaian silat yang dimiliki adikmu itulah baru pantas disebut luar biasa sekali..." sahut Pek In Hoei.

Merah jengah selembar wajah Cui Kiam Beng, hawa gusar seketika berkobar dalam dadanya, ia salah mengira Pek In Hoei mengatakan bahwa ilmu silatnya tak becus dan hanya begitu-begitu saja, sambil ayunkan pedang pendeknya ia maju mendesak ke muka, serunya :

"Kau jangan takabur dan jumawa lebih dahulu, pun kongcu toh belum kalah benar-benar di tanganmu!"

"Eeeei... sebenarnya apa maksudmu??" seru Pek In Hoei dengan nada tertegun.

"Hmm! Gampang sekali, asal kau sanggup menangkan permainan pedang di tangan kongcumu maka dari pihak Benteng Kiam-poo pasti akan muncul orang untuk menyambut kedatanganmu itu, sebaliknya kalau kongcumu yang beruntung mendapat kemenangan... maaf, terpaksa batok kepalamu itu harus berpindah tempat..."

Pek In Hoei sama sekali tidak menyangka kalau putra kandung pemilik Benteng Kiam-poo Cui Kiam Beng begitu tak tahu aturan. Tadi ia tak mau melukai orang karena pemuda itu merasa belum sempat berjumpa dengan pemilik benteng, seharusnya Cui Kiam Beng tahu diri dan segera mengundurkan diri.