Imam Tanpa Bayangan I Jilid 33

 Jilid 32

LU KIAT mengangguk, baik... ibu, legakanlah hatimu, aku pasti tak akan membiarkan adik In Hoei menderita kerugian "

Dari dalam saku baju Lu Hujin ambil keluar sebilah pedang kecil berwarna kuning emas yang panjangnya mencapai enam cun dan diserahkan ke tangan Lu Kiat, pesannya:

"Benda ini merupakan benda tanda kepercayaan dari Benteng Kiam-poo, bawalah benda itu siapa tahu suatu ketika akan memberikan bantuan kepada kalian, setelah luka yang diderita Pek In Hoei sembuh kalian boleh segera berangkat!"

Dengan perasaan berat Lu Kiat memeriksa pedang emas itu, perasaannya tiba-tiba berubah tenang dan serius, dengan hati tak tenang ia mengangguk.

********

Di bawah sorot cahaya sang surya yang amat panas, Lu Kiat serta Pek In Hoei melakukan perjalanan dengan gerakan yang amat lambat, waktu itu perasaan hati mereka berdua teramat berat den masingl- masinglmemikirkan persoalan hatinya sendiri-sendiri.

Sejak diberitahu oleh Lu Hujin, maka Lu Kiat telah mengetahui bahwa Pek In Hoei adalah adik kandungnya sendiri sebaliknya Pek In Hoei masih tetap bingung dan tidak tahu duduk perkara yang sebenarnya, ia merasa asal usulnya masih tetap merupakan suatu tanda tanya yang amat besar. Sepanjang perjalanan Pek In Hoei hanya berharap bisa cepat- cepat tiba di benteng Kiam poo serta berkumpul kembali dengan ibunya, agar dari mulut ibunya ia berhasil menyelidiki sebab-sebab kematian yang menimpa ayahnya, oleh sebab itu sepanjang perjalanan ia selalu memaksa Lu Kiat untuk mempercepat langkah kakinya.

Sedangkan Lu Koat sendiri karena mengetahui betapa ketatnya penjagaan di sekitar Benteng Kiam-poo dan mengetahui bahwa untuk menyusup ke dalam benteng itu bukan suatu pekerjaan gampang, sepanjang perjalanan selalu putar otak mencari cara yang baik untuk memasuki benteng lawan, di samping mencari tahu pula kabar berita tentang itu di sepanjang perjalanan.

Untung Lu Hujin telah memberi petunjuk yang cukup berharga bagi mereka, hingga selama perjalanan mereka tidak sampai tersesat salah ambil jalan.

Sepanjang jalan kabar berita yang mereka dapatkan semakin banyak, ternyata di sekitar daerah situ sering muncul manusia- manusia misterius yang amat aneh, mereka sering kali nampak kepala tak nampak ekornya, meskipun sering kali muncul secara mendadak tapi dengan cepat lenyap kembali secara tiba-tiba, hal ini membuat orang merasa sulit membayangi jejaknya.

Tetapi ada satu hal yang cukup menggembirakan hati Lu Kiat, yakni di atas dada orang-orang misterius itu ternyata bersulamkan sebuah simbol pedang kecil berwarna perak bentuk serta besar kecilnya persis seperti pedang pendek yang diserahkan Lu Hujin kepadanya, dari tanda-tanda tersebut bisalah ditarik kesimpulan bahwa Benteng Kiam-poo pasti terletak di sekitar daerah ini, atau paling sedikit di tempat itu terdapat orang dari benteng Kiam poo.

Yang paling menggembirakan lagi bagi Lu Kiat adalah terdapatnya sebuah tempat yang disebut Kiam-bun-kwan, katanya dalam sebuah ruangan sembahyang khusus terdapat sebuah bilik pedang yang terbuat dari batu granit yang keras.

Dalam hati kecilnya pemuda she Lu itu lantas berpikir : "Kalau kudengar dari nama Kiam-bun-kwan tersebut agaknya mengandung hubungan yang erat sekali dengan benteng Kiam poo, mungkin saja setelah tiba di sana dengan gampang pula aku bisa temukan tempat benteng tersebut."

Karena berpendapat demikian ia segera usulkan kepada Pek In Hoei untuk berkunjung ke kiam-bun kwan lebih dahulu, siapa tahu di tempat itu mereka akan berhasil menemukan suatu pertanda yang mencurigakan.

"Lu toako, kalau memang demikian adanya ayolah kita percepat perjalanan kita," seru Pek In Hoei sambil menyeka keringat yang telah membasahi tubuhnya.

Lu Kiat tertawa hambar.

"Kenapa kita mesti terburu-buru? Kalau mau terburu-buru rasanya juga tidak pantas dilakukan pada saat ini..."

Melihat sikapnya yang tenang-tenang saja itu Pek In Hoei tahu sekalipun gelisah juga tak ada gunanya, terpaksa ia pun mengendorkan pikirannya dan membuang seluruh ingatan dari dalam benak.

Tetapi ketika ia teringat kembali bahwasanya ibunya sedang menderita di dalam benteng Kiam poo, rasa kesal muncul kembali dalam benaknya.

"Lu toako," serunya kemudian sambil menghela napas panjang, "tahukah kau betapa sedih dan susahnya perasaan hatiku pada saat ini, seandainya kau jadi diriku aku percaya sikapmu juga tak akan seenteng dan seringan dirimu itu..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... adik In Hoei, persoalan ini tak dapat diselesaikan dengan kegelisahan hati," sahut Lu Kiat sambil tertawa terbahak-bahak, "Bila kita terlalu gelisah, maka bukan saja hal itu sama sekali tak ada gunanya bahkan malahan akan menggebuk rumput mengejutkan ular..."

Ia memandang sekejap jalan raya yang terbentang di depan mata kemudian melanjutkan : "Kiam-bun kwan segera akan kita capai, lebih baik kita rundingkan kembali persoalan ini di tempat ini..."

"Biarlah... " ujar Pek In Hoei kemudian sambil diam-diam menghela napas panjang, "kesemuanya baiklah Lu toako yang aturkan buat diriku..."

Dua ekor kuda bergerak kembali ke arah depan meninggalkan debu yang beterbangan di angkasa, di tempat kejauhan tampak muncul sebuah loteng batu yang amat besar, loteng batu itu entah didirikan sejak kapan, nampak tiang-tiangnya sudah lapuk semuanya, di atas bangunan tertera tiga huruf yang amat besar dan nyata, tulisan itu berbunyi, Kiam bun kwan.

Lu Kiat angkat kepalanya memandang sekejap ke-tiga huruf besar itu, kemudian bergumam seorang diri.

"Di sinilah yang disebut Kiam bun kwan setelah lewat tempat ini entah kita akan tiba di mana?"

Di tengah-tengah bangunan loteng tadi terdapat sebuah ruangan terbuat dari batu granit yang bentuknya mirip sekali dengan sebuah kursi, di atas batu berbentuk kursi itu tercantum beberapa huruf yang berbunyi :

'Kursi kebesaran malaikat pedang'

Lu Kiat serta Pek In Hoei segera loncat turun dari atas kudanya, setelah melihat-lihat sejenak keadaan di tempat itu mendadak timbul niat Jago Pedang Berdarah Dingin itu untuk menempati batu berbentuk kursi kebesaran itu, katanya :

"Toako, coba lihatlah bila aku duduk di sini mirip tidak dengan seorang malaikat pedang."

Lu Kiat yang menyaksikan kejadian itu segera tertawa terbahak- bahak, sahutnya :

"Bagus sekali... bagus sekali... kau memang mirip sekali dengan seorang malaikat pedang..."

Gelak tertawa yang amat keras ini dengan cepat mengejutkan orang yang berada di dalam sebuah rumah makan tidak jauh dari bangunan batu itu, sorot mata mereka semua segera dialihkan ke arah ke-dua orang pemuda itu, ada di antaranya yang menunjukkan sikap tak senang hati tapi ada pula yang segera keluar dari ruang rumah makan dan mendekati mereka berdua.

Orang pertama yang mendekat adalah seorang petani yang membawa cangkul, usianya sudah lanjut dengan jenggot terurai sepanjang dada, sambil menghampiri ke-dua orang itu serunya sambil tertawa terbahak-bahak :

"Haaaah... haaaah... haaaah... kursi kebesaran raja pedang sudah hampir lima puluh tahun lamanya didirikan di tempat ini, namun tak ada seorang manusia pun berani menempatinya, sungguh tak nyana selama aku masih hidup ternyata masih mempunyai kesempatan juga menyaksikan ada orang yang berani menempatinya, peristiwa ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang luar biasa sekali..."

Lu Kiat yang menyaksikan petani tua itu berwajah ramah dan aneh tidak mirip manusia kurcaci yang berniat jelek, buru-buru memberi hormat kepadanya sambil berseru :

"Maafkanlah kami loo tiang, saudaraku ini masih terlalu muda dan suka bergurau, sekaligus ia sudah duduk sebentar di kursi kebesaran itu namun sama sekali tidak bermaksud apa-apa, aku harap loo tiang suka memandang di atas wajahku..."

Perkataan yang halus dan penuh mengandung kata-kata sopan ini dalam anggapan Lu Kiat pasti akan berhasil menyelesaikan persoalan itu, siapa tahu air muka petani tua itu tiba-tiba berubah hebat, serunya dengan nada dingin :

"Aku lihat kalian berdua sama-sama menggembol pedang, sikapnya gagah dan pastilah seorang ahli di dalam permainan ilmu pedang, kalau tidak tak mungkin kalian berani memandang enteng orang lain dan menduduki kursi kebesaran tersebut..."

"Loo tiang, ucapanmu itu terlalu berlebihan," bantah Lu Kiat lagi setelah tertegun sejenak, "saudaraku ini tidak lebih hanya seorang sastrawan, kali ini aku mengajak ia keluar rumah maksudnya bukan lain agar ia mendapat tambahan pengetahuan... siapa bilang kami adalah jago-jago yang ahli dalam permainan ilmu pedang? Sedang aku sendiri... aku pun sama sekali tak mengerti akan ilmu silat, pedang yang sengaja kami gembol ini bukan lain hanya sebagai perhiasan saja agar kami nampak jauh lebih keren... Loo tiang! Kau tok seorang yang bijaksana, aku harap janganlah menyusahkan kami berdua lagi..."

"Mendengar perkataan itu, air muka petani tua itu perlahan-lahan berubah jadi tenang kembali, ia mengangguk dan berkata :

"Kursi kebesaran bagi malaikat pedang adalah suatu kursi kebesaran yang amat terhormat sekali, kalau memang saudaramu itu berbuat silaf karena kurang pengalaman, baiklah untuk kali ini perbuatannya bisa kami maafkan tetapi pedang panjang yang tersoren pada punggung kamu berdua itu harus dilepaskan dan ditinggalkan di atas kursi kebesaran tadi, setelah itu berlututlah di depan kursi itu dan jalankan penghormatan sebanyak tiga kali, maka urusan pun boleh dianggap beres..."

Air muka Jago Pedang Berdarah Dingin serta Lu Kiat sama-sama berubah hebat setelah mendengar perkataan itu, mereka tidak menyangka kalau petani tua itu begitu tak tahu diri.

Pertama-tama Pek In Hoei yang tak kuat menahan diri, ia siap mengumbar hawa amarahnya tetapi Lu Kiat segera mengedipkan matanya dengan sikap yang sangat aneh..."

"Waaah...kalau itu permintaan loo tiang urusan jadi bertambah sulit," katanya sambil maju ke muka, pedang mestika yang kami miliki adalah pedang mestika pemberian orang tua kami, jangan dibilang tinggalkan di tempat ini, sekali pun disuruh lepaskan pun tak berani kami lakukan secara sembarangan. Sianseng! Permintaan yang kau ajukan itu bukankah sama artinya sengaja hendak menyusahkan kami berdua..."

"Berbuat demikian bukankah jauh lebih baik daripada jiwa kalian berdua melayang dengan percuma??" hardik petani tua itu dengan penuh kegusaran, "peduli pedang mestika yang kalian gembol itu pemberian dari siapa, pokoknya ini hari harus ditinggalkan di tempat ini, di samping itu kalian pun harus berlutut dan minta maaf.. salah satu saja di antara ke-dua syarat ini tidak kalian lakukan... Hmmm..." dengan suara berat ia mendengus berat, lalu tambahnya:

"Kalian mesti tahu sikapku ini sudah terhitung cukup sungkan bagi kalian berdua kalau berganti orang lain mungkin sejak tadi mayat kalian sudah menggeletak di atas tanah dengan darah segar menggenangi seluruh permukaan..."

"Waaah... waaah... syaratmu itu terlalu menyulitkan kami berdua..." kata Lu Kiat kembali sambil gelengkan kepalanya, "menyerahkan pedang serta berlutut minta maaf merupakan pekerjaan yang paling sulit bagi kami berdua... sebab bagi kami berdua ke atas hanya menyembah langit, ke bawah menyembah bumi, di rumah menyembah orang tua, di tempat luaran kami tak sudi kalau disuruh menyembah sebuah batu yang sama sekali tak punya otak..."

Diam-diam petani tua itu tertegun juga menyaksikan kekerasan kepala ke-dua orang pemuda itu, meskipun di luaran ucapannya amat serius dan bersungguh-sungguh namun di mukanya sama sekali tidak menunjukkan perasaan jeri barang sedikit pun jua, segera katanya :

"Meskipun menyembah kepada batu bukan pekerjaan yang enteng, tetapi toh hal itu lebih gampang daripada jiwa kalian berdua melayang di ujung senjata..."

"Kami lihat lebih baik urusan ini diselesaikan dengan cara lain saja, sebab kedua syaratmu itu tak mungkin bisa kami laksanakan..." "Tidak bisa jadi," ngotot  petani  tua bersikeras dengan pendiriannya,  "syarat itu bisa bebas  asal kamu sanggup mendemonstrasikan sedikit kepandaian yang kalian miliki sehingga kami merasa yakin bahwa kalian memang berhak untuk menduduki

kursi kebesaran tersebut..."

Sambil berkata napsu membunuh seketika menyelimuti seluruh wajahnya, melenyapkan raut wajahnya yang saleh dan ramah itu. Pek In Hoei melirik sekejap ke arah petani tua itu dengan pandangan sinis, lalu tegurnya dengan nada mengejek :

"Apa yang harus aku lakukan hingga bisa dikatakan berhak? Dan bagaimana pula dikatakan tak berhak?"

Sorot mata petani tua itu berkilat tajam, dengan nada misterius sahutnya :

"Gampang sekali, di sini terdapat banyak orang yang pandai menggunakan pedang, asal kalian sanggup memukul roboh semua orang yang berada di sini, maka peristiwa itu kami sudahi sampai di sini saja..."

Dengan pandangan tercengang ia melirik sekejap ke arah wajah Jago Pedang Berdarah Dingin, lalu katanya kembali :

"Kalau kulihat potonganmu, rupanya kau punya sedikit simpanan juga..."

Air muka Pek In Hoei berubah jadi amat dingin lagi ketus, sahutnya :

"Soal belajar ilmu pedang, aku sih pernah belajar satu dua hari, hanya saja pelajaran yang kudapat hanya berupa kembang biasa saja, indah dipandang tak bagus dipergunakan, bila kau memang ingin menyaksikan kebagusan kembangan tersebut, baiklah aku akan minta petunjuk dari sianseng saja..."

Lu Kiat takut rahasia asal usul Jago Pedang Berdarah Dingin ketahuan orang sehingga memancing datangnya kesulitan yang tidak diinginkan, dengan perhitungan yang lain ia segera loncat maju ke depan, serunya :

"Adikku, kita sedang berpesiar dan bukan keluar rumah untuk bikin keonaran, dengan kepandaian silat yang kita miliki mana sanggup untuk menandingi sianseng ini, aku lihat lebih baik pertarungan ini dibatalkan saja..."

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... enak amat perkataanmu itu," ejek sang petani tua itu sambil tertawa seram, "kau anggap hanya cukup mengucapkan sepatah dua patah kata lantas urusan bisa diselesaikan dengan begitu saja? Hmmm... saudara cilik, Kiam bun kwan jauh berbeda dengan rumahmu. Kalau kau ingin berlalu dari tempat ini dengan begitu saja... lebih baik janganlah bermimpi di tengah siang bolong..."

"Siapa sih nama besar sianseng ini?" tegur Lu Kiat sambil memberi hormat, "kalau didengar dari ucapanmu, agaknya kau mirip sekali dengan seorang Bu lim cianpwee."

"Sebutan Bu lim cianpwee sih tak berani kuterima, aku si orang yang kerjanya bertani pernah beberapa waktu lamanya belajar kembangan silat, orang-orang di tempat ini panggil aku si Cau cu Lia, orang tua she Lie si tukang kayu, dan pernah pula berdagang kecil- kecilan di tempat ini..."

Terkesiap hati Lu Kiat mendengar jawaban itu, dalam benaknya terbayang kembali akan seseorang, diam-diam ia amati sejenak bentuk tubuh orang itu, kemudian serunya :

"Cianpwee sungguh tak nyana sebutanmu yang khas pun telah kau rubah sama sekali... seringkali aku dengar ayahku berkata bahwa di dalam dunia persilatan terdapat seorang jago yang bernama Lie Ji Liong, meskipun dandanannya juga dandanan seorang tukang penebang kayu, tetapi sebenarnya dia adalah seorang jago pedang kenamaan..."

Air muka penebang kayu she Lie itu kontan berubah hebat. "Siapakah ayahmu? Bolehkah aku mengetahuinya?" ia berseru. Lu Kiat segera menggeleng.

"Aku hidup sebagai putra seorang manusia tak berani secara kurang ajar menyebut nama orang tuaku, lebih baik namanya tak usah diungkap saja!!!" katanya.

"Hmmm! Sekalipun kau tak mau mengatakannya, aku juga punya cara untuk mengetahui siapakah kau?" jengek penebang kayu she Lie dengan suara dingin, "saudara cilik, aku si penebang kayu she Lie bukan lain adalah Lie Jie Long, sekarang cabutlah pedangmu! Aku hendak paksa kau untuk memperlihatkan wujudmu yang sebenarnya dalam tiga jurus..."

"Eeei... eiii.. hal ini mana boleh jadi," seru Lu Kiat sambil goyangkan tangannya berulang kali, "aku betul-betul tak pandai mempergunakan pedang!"

"Telur busuk! Ngaco belo tak karuan," bentak penebang kayu she Lie dengan suara keras, "kalau kalian tak bisa bermain pedang apa gunanya menggantungkan pedang di atas pinggang? Bukankah dengan sengaja kalian sedang membohongi aku si orang tua? Saudara cilik, aku tak ingin menggunakan kedudukanku yang lebih tua menekan kalian yang lebih muda, lebih baik kau saja yang turun tangan lebih dahulu..."

Air muka Pek In Hoei berubah hebat karena mendongkol setelah mendengar desakan-desakan lawannya, dengan suara lantang ia segera berseru :

"Toako, tua bangka sialan ini terlalu memuakkan hati, biar aku yang memberi sedikit pelajaran kepadanya!"

Sreet... sekilas cahaya tajam bergeletar keluar dari ujung pedangnya, setelah bergetar sebentar di tengah udara bayangan pedang menggetar menembusi angkasa lalu... Creet! Pedang tadi berkilat dan balik lagi ke dalam sarung pedang, ia tatap wajah petani tua itu dengan pandangan yang menggidikkan hati.

"Hmmm... hmmm...kenapa tidak jadi turun tangan?" seru penebang kayu she Lie sambil tertawa seram.

"Huuuh... kau suruh aku turun tangan apa lagi?" ejek Jago Pedang Berdarah Dingin dengan pandangan mengejek, "sahabat, selembar jiwamu telah lolos dari ujung pedangku, andaikata aku tidak teringat bahwa di antara kita belum pernah terikat dendam sakit hati apa-apa, mungkin pada saat ini kau sudah menggeletak di atas tanah..."

Penebang kayu she Lie merasa terperanjat, tiba-tiba ia menemukan ada suatu benda melayang jatuh dari atas tubuhnya, ketika ia sambut benda itu hatinya kontan terkesiap. Terlihatlah segumpal alis matanya telah rontok dari tempat semula dan tersebar ke atas tanah, dengan terperanjat ia mundur tujuh delapan langkah ke belakang, peluh dingin membasahi tubuhnya, sungguh cepat gerakan lawan, begitu cepat hingga tak sempat baginya untuk mengikuti gerakannya.

Ucapan pihak lawan sedikit pun tidak salah, andaikata pihak lawan bukan sengaja mengampuni selembar jiwanya, mungkin pada ini ia sudah menggeletak di atas tanah.

"Kau..." serunya dengan suara gemetar.

"Apakah kau masih berniat menahan pedang milikku ini?" ejek Pek In Hoei dengan suara dingin, "aku lihat kau masih belum memiliki kemampuan sehebat itu..."

Sambil tertawa hambar ia putar badan dan bersama-sama Lu Kiat berlalu dari situ.

Mimpi pun penebang kayu she Lie tak pernah menyangka kalau dirinya bakal jatuh kecundang di tangan lawan sebelum ia sempat untuk turun tangan, dengan hati mendongkol segera hardiknya keras- keras :

"Sahabat, harap berhenti sebentar!"

"Hmmm! Kau masih ingin menantang diriku untuk berduel?" dengus Pek In Hoei sambil memutar badan.

Penebang kayu she Lie tertawa dingin, ia sobek jubah luarnya hingga nampak pakaian ringkas warna hitam yang dikenakan dalam tubuhnya, pada bagian dada pakaian ringkas tadi tersulamkan sebuah simbol berbentuk pedang kecil berwarna perak, bentuk pedang itu persis seperti pedang yang diberikan Lu Hujin kepada Lu Kiat itu.

"Sahabat!" teriaknya, "periksa dulu siapakah aku, setelah itu kalau mau bikin keonaran silahkan untuk siap-siap..."

"Hmmm!" dengusan dingin kembali berkumandang keluar dari balik ruang rumah makan, seorang kakek tua berwajah dingin dan berjenggot hitam munculkan diri dari kerumunan orang, dengan gusar ia melotot sekejap ke arah penebang kayu she Lie itu, kemudian tegurnya :

"Lo Lie, sungguh besar nyalimu..."

"Ciu heng..." seru penebang kayu she Lie dengan suara tertegun. "Hmmm! Siapa yang suruh kau perlihatkan asal usulmu," tegur kakek berjenggot hitam itu dengan suara ketus, "Ehmmmm... ingatlah bagaimanakah pesan Poo cu kepadamu??? Ia toh menyerahkan tugas kepadamu untuk menjaga Kian bun kwan ini? Siapa yang suruh kau

unjukkan asal usulmu setelah bertemu dengan orang lain?"

Sekujur tubuh penebang kayu she Lie itu gemetar keras, dengan ketakutan sahutnya :

"Ciu heng, aku mengerti salah..."

"Sekali pun mengaku salah urusan juga tak dapat selesai dengan begitu saja," ejek kakek berjenggot hitam itu sambil tertawa dingin, "lebih baik pulanglah ke benteng dan berilah penjelasan sendiri kepada poocu, aku tak dapat mengambilkan keputusan bagimu, sekarang asal usulmu sudah diketahui orang, bagaimanakah tindakanmu selanjutnya terhadap ke-dua orang ini, aku rasa kau tentu mengerti jelas bukan?"

"Aku tahu, Ciu heng! Harap kau suka membantu diriku dengan beberapa patah kata yang enak didengar..." pinta penebang kayu she Lie dengan suara gemetar.

Ia amat membenci diri Jago Pedang Berdarah Dingin, lengannya segera diangkat dan ayunkan cangkulnya ke tengah udara, sambil mengerdipkan matanya ke arah beberapa orang pria kekar di belakang tubuhnya ia berseru :

"Tangkap mereka berdua!"

"Sahabat, aku rasa kalian tak perlu menggunakan tenaga yang begitu banyaknya untuk menghadapi kami..." jengek Lu Kiat dengan suara dingin.

Ketika dilihatnya ada beberapa orang pria sambil ayun pedang menyerbu ke arahnya, napsu membunuh seketika berkelebat di atas wajahnya, ia putar telapaknya dan sekaligus merobohkan tiga orang di antaranya.

"Haduh!" jeritan kesakitan yang memilukan hati berkumandang memecahkan kesunyian, tiga orang pria itu roboh terjengkang ke atas tanah lalu muntah darah segar dan mati tak berkutik lagi...

Penebang kayu she Lie serta kakek berjenggot hitam itu jadi amat terkejut menyaksikan kehebatan lawannya, air muka mereka berubah hebat, mereka tak menyangka kalau Lu Kiat pun seorang jago lihay yang memiliki ilmu silat sangat tinggi, cukup di dalam satu jurus belaka tiga orang jago lihay pihak mereka berhasil dibereskan jiwanya, bila keadaan ini dibiarkan berlarut-larut jelaslah sudah bahwa semua jago lihay yang hadir di situ bakal mati di tangan dua orang pemuda asing yang tidak diketahui asal usulnya ini.

"Sahabat, dengan kepandaian silat yang kau miliki itu tak mungkin kamu berdua adalah manusia yang tak bernama," seru kakek berjenggot hitam itu dengan suara berat, kami manusia-manusia dari Kiam bun kwan selamanya tak pernah mengadakan hubungan dengan para jago dari dunia persilatan, kedatangan kalian berdua untuk berlagak jadi jagoan di tempat ini aku rasa pasti bukan tanpa alasan. Jika kalian adalah sahabat-sahabat kangouw tak ada halangannya untuk perlihatkan asal usul kalian, aku Ciu Toa Keng pasti akan melayani kalian sebaik-baiknya..."

Lu Kiat mendongak dan tertawa terbahak-bahak.

"Aaah... haaah... Ciu-heng apa maksudmu berkata begitu? Kami dua bersaudara hanya secara kebetulan saja lewati tempat ini dan sama sekali tiada maksud untuk bentrok dengan sahabat-sahabatmu itu, bila Ciu-heng suka melepaskan kami berdua berlalu dari sini, kami tentu akan merasa berterima kasih sekali..."

"Hmmm... hmmm... kalau memang sahabat tak sudi unjukkan diri dan perkenalkan nama kalian, tentu saja aku tak berani memaksa lebih jauh," ujar Ciu Toa Keng sambil tertawa seram, "sedang mengenai peristiwa pada hari ini? Heeh... heeh... sebetulnya bukan termasuk suatu urusan yang amat besar, cuma kalian berdua telah membunuh mati tiga orang sahabatku, bila urusan kita sudah sampai di sini saja bagaimana tanggung jawabku nanti dengan atasan kami? Karena itu andaikata kalian berdua suka tinggalkan nama sehingga aku orang she Ciu dapat memberikan pertanggungan-jawaban nanti, tentu saja kalian berdua boleh segera berangkat untuk melanjutkan perjalanan!"

"Kau cukup mengingat-ingat bahwa aku she Lu, sedangkan kalian mau lepaskan kami atau tidak aku percaya Ciu-heng juga seorang manusia yang cerdik, dengan andalkan kemampuan yang kau miliki masih belum tentu sanggup menahan kami berdua, bagaimana menurut pendapatmu, betul bukan?"

"Tentu saja, tentu saja..." sahut Ciu Toa Keng berulang kali, "bagi orang yang melakukan perjalanan di dalam dunia persilatan biasanya yang paling diutamakan adalah kepandaian silat yang sebenarnya, dengan kelihayan yang kalian berdua miliki tentu saja kami semua tak mampu untuk menghalanginya, tetapi aku pun hendak memberitahukan sesuatu terlebih dahulu kepada kalian berdua, kami semua tidak lebih hanyalah prajurit-prajurit kecil yang bertugas di garis depan, dengan kepandaian yang kami miliki untuk melangkah masuk ke dalam pintu bangunan majikan kami pun masih belum berhak, maka bila kalian berdua ingin berlalu dengan begitu saja, mungkin urusan juga tak akan segampang itu."

"Kami tiada maksud berlalu dengan begitu saja," seru Pek In Hoei sambil tertawa dingin, kalau kurang puas, silahkan kau undang kembali bala bantuanmu, tapi aku nasehati dirimu lebih baik carilah yang rada mampu sehingga tidak sampai memalukan semacam kejadian yang baru saja berlangsung ini."

"Kami toh tak pernah kenal dengan diri tootiang, dengan dirimu juga tak pernah terikat dendam sakit hati apa pun juga. Kenapa tootiang sengaja mencari gara-gara dengan kami? Apakah kau pandang kami berdua mudah dipermainkan? heeeh... heeeh... heeh.... Tootiang, bila kau beranggapan demikian maka pandanganmu keliru besar."

"Secara beruntun kalian berdua telah membinasakan tiga orang yang tak berdaya di tempat ini, bagaimana pula penjelasan kalian terhadap peristiwa ini? seru Yu Tootiang dengan suara dingin, "Apakah kalian anggap setelah ilmu silat yang kamu miliki nomor satu di kolong langit maka kalian boleh sembarangan membunuh orang sekehendak hati!"

"Kurang ajar, rupanya kau memang sengaja datang untuk mencari gara-gara dariku?" bentak jago pedang berdarah dingin dengan suara nyaring.

"Hmmm! Sedikit pun tidak salah, bersiap-siaplah kalian berdua menerima seranganku ini!"

Lu Kiat maju ke depan, loloskan pedangnya yang tersoren di pinggang dan berkata:

"Baiklah Tootiang, biar aku yang mohon pelajaran darimu!"

Yu Tootiang yang melihat pedang di tangan Lu Kiat memancarkan cahaya tajam, lagi pula kuda-kudanya sangat ampuh, sadarlah dia bahwa pemuda di hadapannya ini meski berusia muda tetapi ilmu pedangnya sudah mencapai puncak kesempurnaan, cukup dipandang dari gayanya mempersiapkan serangan sudah cukup membuktikan bahwa ia telah berjumpa dengan seorang musuh tangguh.

"Kau anak murid dari perguruan mana??" bentaknya dengan sorot mata berkilat.

"Kepandaian silat yang kami miliki merupakan ajaran keluarga, kami tidak termasuk dalam perguruan atau partai mana pun juga. Tootiang toh seorang ahli di dalam permainan ilmu pedang, masa kau tak dapat melihat asal usul kami  "

"Hmmm... bangsat, sombong dan takabur amat dirimu!" bentak Yu Tootiang sambil mendengus gusar. "Hmmmm ! aku lihat kau pun bukan seorang manusia tolol, di dalam sekali gerak tangan kuda tunggangan kami berdua berhasil kau robohkan, dengan kepandaian semacam itu memang sudah cukup mengejutkan hati orang, betul bukan Tootiang?"

Merah padam selembar wajah Yu Tootiang, dengan penuh kegusaran ia membentak keras. Sekali bayangan pedang lolos dari dalam sarung, tubuhnya menerjang ke depan dan langsung membacok tubuh pemuda she Lu itu.

Ilmu pedang yang dimiliki Yu totang sangat lihay lagi sempurna, jurus serangannya mirip sekali dengan ilmu pedang aliran Bu-tong- pay.

Setelah terjadi pertarungan, untuk beberapa saat lamanya Lu Kiat tidak berhasil mendapat keuntungan apa-apa, mereka berdua bergerak dengan cepat gesit, serangan dilancarkan laksana kilat dan gerakannya ganas lagi sadis.

Menyaksikan permainan pedang orang makin lama semakin mirip dengan ilmu pedang aliran Bu Tong Pay, satu ingatan segera berkelebat dalam benak Lu Kiat, ia loncat keluar dari gelanggang pertarungan dan mengundurkan diri ke belakang.

"Yu Tootiang" serunya dengan tercengang, "aku lihat ilmu pedangmu berasal dan partai Bu-tong..."

"Sedikit pun tidak salah!" jawab Yu Tootiang sambil menghentikan gerakannya, "rupanya kepandaian silat yang kau miliki cukup hebat juga..."

Lu Kiat adalah saudara angkat dari Lan Hong Seng Jin seorang jago muda dari partai Bu Tong, setelah mengetahui bahwa Yu Tootiang adalah anak murid Bu-tong-pay, ia jadi sungkan untuk meneruskan kembali pertarungan itu, ujarnya dengan nada sopan:

"Totiang, kenalkah kau dengan seorang jago muda yang bernama Lan Hong Seng Ju dari perguruan anda..." Lan Hong Seng Ju adalah murid partai yang paling menonjol namanya di antara angkatan muda, ia disebut jago muda yang sangat lihay di dalam dunia persilatan.

Yu Tootiang agak tertegun mendengar ucapan itu, dan balik bertanya :

"Apakah kau kenal dengan Lan Hong?"

"Dia adalah saudara angkatku " jawab Lu Kiat sambil memberi hormat.

Air muka Yu Tootiang memperlihatkan suatu sikap yang sangat aneh, ia melirik sekejap ke arah penebang kayu she Lie serta Ciu Toa Keng, lalu sambil putar pedangnya ia maju beberapa langkah ke depan, katanya:

"Andaikata persoalan ini terjadi karena persengketaan pribadi, memandang di atas wajah Lan Hong sute tentu saja pinto dapat mengampuni kalian untuk kali ini, tetapi persoalan ini menyangkut soal dinas, maaf bila mana pinto tak dapat menjual muka buat kalian?" "Tootiang apa guna kau memaksa kami untuk bertempur??" seru

Lu Kiat tertegun.

Pada waktu itu Yu Tootiang mempunyai kesulitan yang tak dapat diutarakan keluar, ketika itu dirinya sudah bukan seorang yang bebas lagi, gerak geriknya berada di bawah pengawasan para jago lihay benteng Kiam poo yang berada di sekitar tempat itu, ia harus bertindak sangat hati-hati, sehingga tidak sampai dituduh mengadakan persekongkolan dengan musuh.

Karena itulah walaupun dia ada minat untuk melepaskan Pek In Hoei dan Lu Kiat, apa daya penebang kayu she Lie serta Ciu Toa Keng berada di situ, terpaksa sambil masamkan muka ia berkata dengan suara dingin:

"Tiada perkataan lain yang dapat dikatakan lagi, kalian telah membinasakan tiga orang sahabat dari benteng kami di tempat ini, persoalan tak dapat disudahi dengan begitu saja, maka lebih baik kamu berdua bersiap-siaplah untuk melangsungkan pertempuran!" "Jadi kalau begitu Tootiang juga merupakan jago dari benteng Kiam poo... " seru Lu Kiat dengan suara dingin.

Yu Tootiang mengetahui akibatnya terlalu fatal bila ia mengakui pertanyaan itu, maka air mukanya berubah beberapa kali, dengan badan gemetar keras ia menggeleng.

"Bukan!" jawabnya.

Setiap anggota dari Benteng Kiam-poo bukan saja tak boleh sembarangan memberitahukan asal usulnya di hadapan orang, mereka pun mempunyai peraturan yang melarang siapa pun mengakui dirinya sebagai anggota dari Benteng Kiam-poo.

Lu Kiat segera tertawa dingin.

"Tootiang, kalau kau memang bukan anggota dari Benteng Kiam- poo mengapa kau membelai pihak Kiam-poo. " tegurnya.

"Itu urusanku sendiri, aku rasa tiada sangkut pautnya dengan dirimu... maka lebih baik kau tak usah ikut campur "

Mendengar perkataan yang ketus dan tak enak didengar itu jago pedang berdarah dingin Pek In Hoei jadi naik pitam dia ada maksud untuk memperlihatkan kelihayaannya di hadapan orang, pedangnya segera digetarkan sambil melangkah maju ke depan.

"Toosu rudin, apa sih gunanya kau jual lagak di hadapannya???" bentaknya.

Dalam pada itu Yu Tootiang sedang merasa serba salah dan hawa gusarnya tiada dapat penyaluran, melihat jago pedang berdarah dingin maju ke depan sambil memutar senjata, ia segera membentak keras:

"Bangsat keparat, rupanya kau sudah bosan untuk hidup. "

Dalam perguruan Ba-tong Pay toosu ini termasuk salah seorang jago kenamaan, pedangnya diayun seketika itu juga, terciptalah sekilas bayangan tajam yang amat menyilaukan mata langsung mengurung sekujur badan si anak muda itu.

Walaupun toosu itu sedang gusar, tetapi ia tiada maksud untuk membinasakan Pek In Hoei, dalam hati ia bermaksud hanya akan melukai musuhnya belaka sehingga dapat mempertanggung- jawabkan diri di hadapan atasannya nanti.

Siapa tahu perhitungannya kali ini telah meleset jauh, kepandaian silat yang dimiliki Pek In Hoei saat ini sudah jauh berbeda dengan kepandaian dari jago-jago biasa, baru saja gerakan pedang Yu tootiang dilancarkan ke depan, tubuh sang pemuda itu sudah bergeser ke arah samping kalangan.

"Hmmm... tidak semudah itu sahabat!" ejek Pek In Hoei sambil tertawa dingin.

Pedangnya berputar membentuk gerakan satu lingkaran busur di tengah udara, mendadak senjata itu berputar, angin pedang mengiringi kilatan cahaya tajam langsung menggulung ke arah depan, perubahan dilakukan dengan kecepatan yang luar biasa ini membuat Yu tootiang silau dan hampir saja lupa untuk menyerang musuhnya.

Criit...! Diiringi suara dentingan nyaring, bayangan pedang yang berkilauan di seluruh angkasa itu mendadak sirap dan lenyap dari depan pandangan.

Yu Tootiang berdiri termangu-mangu di tempat semula dengan wajah pucat pias bagaikan mayat, pedang panjang dalam genggamannya tinggal separuh bagian, sedang separuh bagian yang lain entah sudah mencelat sampai di mana.

"Dengan kepandaian yang kau miliki itu, aku yakin dirimu pastilah bukan manusia tanpa nama!" serunya dengan badan gemetar keras karena ketakutan.

"Tebakanmu keliru besar," sahut Pek In Hoei dengan suara dingin, "dengan kepandaian yang kumiliki sekarang, dalam keluarga kami masih belum terhitung seberapa, atau berbicara dengan kata- kata yang kurang enak didengar, kepandaian silat kacung penjaga pintu dalam keluarga kami pun jauh lebih lihay dari kepandaian kami berdua..."

Ucapan yang diutarakan dengan nada bergurau ini ternyata ditanggapi Yu tootiang sebagai suatu kejadian yang sungguhan, hatinya terkesiap dan otaknya dengan cepat berputar memikirkan ucapan dari Pek In Hoei barusan, keluarga manakah yang dimaksudkan? Kalau bukan keluarga yang tersohor tak mungkin perkataannya begitu bebas...

"Apakah kau adalah kongcu dari An Tay hujia..." tiba-tiba ia berseru.

Rupanya secara tiba-tiba toosu itu teringat akan perguruan Mie Liong kun yang amat misterius itu, menyaksikan gerakan pedang ph sangat lihay yang mirip sekali dengan ilmu silat dari An Tay hujia pimpinan perguruan itu maka ia menduga lawannya adalah putra jago lihay tersebut.

Dengan cepat Pek In Hoei gelengkan kepalanya, ia menyahut : "Seandainya kau bisa berpikir dan menduga dari permainan jurus

pedang yang barusan kupergunakan itu, mungkin kau akan tahu siapakah sebenarnya diriku ini!"

Teguran ini seketika menyadarkan Yu Tootiang dari lamunannya, dengan pandangan cermat dia awasi pedang dalam genggaman lawan, lama sekali dia mengamati... mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya membuat hatinya tercekat, dengan nada gemetar ia segera berseru lirih :

"Pedang mestika penghancur sang surya...! Pedang mestika penghancur sang surya... kau adalah Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei..."

"Begitu ucapan ini terlontar keluar dari mulut toosu tersebut, para jago yang berada di sekeliling tempat itu segera sama-sama berseru tertahan tanpa terasa mereka mundur dua langkah ke belakang.

Pek In Hoei tertawa hambar, jawabnya :

"Hmmm! Ternyata pengetahuanmu lumayan juga, sekilas memandang saja segera dapat dikenali siapakah aku. Tootiang! Dengan andalkan ketajaman matamu itu kau tak malu disebut seorang jago lihay keluaran  partai Bu  tong jadi begitu pengembaraanmu selama banyak tahun di dalam dunia persilatan bukanlah perjalanan yang sia-sia belaka..."

Merah jengah selembar wajah Yu Tootiang, ia menunduk dengan tersipu-sipu lalu tertawa getir, sekilas rasa hormat muncul di atas wajahnya, sambil menjura katanya :

"Maaf... maaf... Pek sauhiap, harap kau suka maafkan diri pinto yang punya mata ternyata tak berbiji, aku tak tahu kalau sebetulnya bukan lain adalah jago pedang berdarah dingin..."

Meskipun mereka baru berjumpa untuk pertama kalinya, namun rasa hormat yang muncul dalam hati toosu ini benar-benar ikhlas dan sejujurnya, hal ini mungkin disebabkan karena sepak terjang Pek In Hoei yang sudah dikenal oleh setiap jago membuat ia dipandang sebagai suatu lambang kegagahan serta kesaktian seorang pria sejati. Sementara itu Lu Kiat telah tertawa terbahak-bahak dan bertanya

:

"Tootiang, apakah kami boleh berlalu dari sini?"

"Ilmu silat yang kalian berdua miliki merupakan kepandaian

yang sangat kukagumi," jawab Yu Tootiang dengan wajah serius, "bila kalian berdua hendak berlalu dari sini, tentu saja pinto tak mampu untuk menghalanginya, tetapi pinto hendak memperingatkan diri kalian, dengan kepandaian yang kalian miliki mungkin sulit untuk melalui daerah sekitar tempat ini sejauh sepuluh li..."

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan :

"Menurut pengamatan pinto dari samping, kemungkinan besar kedatangan kalian berdua adalah untuk menyatroni benteng Kiam poo..."

"Sungguh tajam pandangan mata tootiang," seru Lu Kiat sambil mengangguk, "tidak salah kami memang sengaja datang kemari untuk mengunjungi benteng Kiam poo!"

Air muka Yu Tootiang berubah hebat.

"Tahukah kalian berdua benteng Kiam poo terletak di mana???" serunya cepat. "Tentang soal ini terpaksa kami harus mohon petunjuk dari tootiang, menurut apa yang kami dengar katanya benteng Kiam poo terletak di sekitar sini, jalan yang kami berdua tempuh bukankah jalan penasaran, aku percaya dengan cepat tempat itu dapat kami temukan..."

Sekalipun Yu Tootiang tak tahu apa sebabnya ke-dua orang jago muda ini hendak mengunjungi benteng Kiam poo tetapi ia dapat menduga bahwa kepergian Pek In Hoei berdua ke tempat itu pastilah hendak menyelidiki rahasia dari benteng Kiam poo maka ia segera bertanya :

"Jauh dari ribuan li kalian berdua datang kemari serta mencari letak benteng Kiam poo, entah ada urusan apa..."

Tidak malu Yu Tootiang disebut sebagai seorang jago kawakan, meskipun perkataannya diucapkan sangat enteng namun sepasang matanya dengan tajam mengawasi terus perubahan wajah Pek In Hoei serta Lu Kiat, rupanya ia hendak mencari tahu tujuan mereka dari perubahan wajahnya itu.

"Kami dengar poocu dari benteng Kiam poo adalah seorang pendekar sejati yang gemar bersahabat dengan umat Bu lim, dia adalah seorang pemimpin dari para jago di kolong langit, sudah lama kami mengagumi akan nama besarnya, maka menggunakan kesempatan yang sangat baik ini kami bermaksud untuk menyambangi dirinya..."

"Oooh apa yang kau harapkan itu sukar untuk dilaksanakan," seru Yu Tootiang, "meskipun kami sekalian punya hubungan yang sangat dekat dengan benteng Kiam po, namun sebetulnya kami bukanlah termasuk anggota benteng tersebut, siapakah sebenarnya poocu dari benteng Kiam poo sampai sekarang pinto sendiri pun belum pernah menjumpainya..."

"Hmmm... sungguh licik selembar mulutmu itu..." seru Pek In Hoei sambil tertawa dingin. "Apa ya kau katakan??? seru Yu Tootiang dengan wajah berubah hebat.

Pek In Hoei sama sekali tidak menggubris dirinya lagi, sambil putar badan ujarnya kepada Lu Kiat:

"Toako mari kita pergi dari sini..."

Berulang kali dihina dan dipandang enteng oleh musuhnya, tak urung hawa amarah berkobar juga dalam dada Yu Tootiang, tetapi dia adalah seorang toosu yang beriman tebal, setelah berpikir sebentar akhirnya ia bersabar kembali melihat Jago Pedang Berdarah Dingin serta Lu Kiat hendak berlalu dari situ, buru-buru serunya kembali :

"Saudara berdua, harap tunggu sebentar..."

"Tootiang, apakah kau ada maksud untuk menahan kami berdua???" tegur Lu Kiat sambil menoleh.

Buru-buru Yu Tootiang goyangkan tangan berulang kali. "Tidak! Tidak! Harap kalian berdua jangan salah paham,

sebenarnya pinto ada urusan yang hendak diberitahukan kepada kalian berdua."

"Katakanlah, kami akan mendengarkan dengan seksama..." "Meskipun pinto tidak begitu memahami tentang seluk beluk dari

benteng Kiam poo, tetapi aku kenal beberapa orang anggota dari benteng tersebut..." ujar Yu Tootiang dengan wajah agak berubah, "harap kalian berdua tunggu sebentar, biarlah pinto mengadakan kontak lebih dahulu dengan beberapa orang sahabatku itu..."

Dia ulapkan tangannya ke arah Ciu Toa Keng serta penebang kayu she Lie, serunya :

"Lepaskan tanda peringatan ke tengah udara, ke-dua orang sahabat ini tak boleh kita tahan lagi..."

Ciu Toa Keng nampak agak sengit, setelah termangu-mangu beberapa saat lamanya ia berseru :

"Tootiang, kejadian ini luar bias sekali!"

"Hmmm! Tentang soal ini kau tak usah turut campur, aku yang mempertanggung-jawabkan kejadian ini...!" Ciu Toa Keng tak berani banyak bicara lagi, dari dalam sakunya dia ambil keluar sebuah tabung kecil berwarna hitam dan dilemparkan ke tengah udara...

Bluuum...! Asap hijau yang amat tebal segera mengepul di tengah udara dan memercikkan tujuh cahaya tajam yang beraneka ragam, meskipun di siang hari bolong namun cahaya itu cukup menyilaukan mata...

Cahaya tajam perlahan-lahan sirap dan suasana pulih kembali dalam kesunyian, dari tengah jalan raya tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda yang amat ramai, tiga orang penunggang kuda berbaju hitam laksana sambaran kilat cepatnya meluncur datang.

Kepada diri Lu Kiat, Yu Tootiang berkata sambil tertawa : "Mereka bertiga adalah tiga orang sahabat dari benteng Kiam

poo, tugas mereka adalah khusus untuk menyambut kedatangan para enghiong hoohan dari pelbagai daerah..."

Belum habis dia berkata, ke-tiga orang berbaju hitam itu sudah meloncat turun dari atas punggung kuda, orang pertama yang menghampiri mereka berdandan siucay, usianya pertengahan dan langkahnya gagah sekali.

Menjumpai kehadiran orang itu, Yu Tootiang buru-buru maju menyongsong ke depan.

"Siang heng..." sapanya sambil menjura.

Dengan pandangan dingin siucay berusia pertengahan itu menyapu sekejap sekeliling kalangan, Ciu Toa keng serta penebang kayu she Lie sekalian buru-buru tundukkan kepalanya rendah- rendah,mereka tak berani mengucapkan sepatah kata pun juga.

Tampak orang itu tertawa seram dan berpaling ke arah Yu Tootiang, tegurnya :

"Apa yang telah terjadi sehingga kau lepaskan tanda peringatan tersebut? Ehm! Tahukah kau gampang untuk melepaskan tanda peringatan ini, sulit untuk menariknya kembali, bila tiada kejadian yang terlalu istimewa..." "Siang-heng, keadaan pada hari ini jauh berbeda, ke-dua orang sahabat ini perlu disambut kedatangannya," seru Yu Tootiang dengan wajah serius.

Dengan pandangan hambar siucay berusia pertengahan itu melirik sekejap ke arah Pek In Hoei serta Lu Kiat, kemudian katanya

:

"Siapa mereka? Hmmm! Tindakanmu itu bukankah sama artinya dengan memperbesar suatu masalah yang kecil..."

Nada ucapan itu mengandung pengertian bahwa ia pandang enteng musuh-musuhnya itu tetapi hal ini tak dapat disalahkan kepadanya sebab dengan kedudukan Hui sian hong si angin puyuh Siang Tek Sam dalam dunia persilatan, tentu saja ia tak akan pandang sebelah mata pun juga terhadap jago-jago Bu lim biasa, terutama sekali Pek In Hoei serta Lu Kiat adalah pemuda-pemuda ingusan yang masih muda belia.