Imam Tanpa Bayangan I Jilid 32

 
Jilid 32

PEK IN HOEI segera tertawa dingin.

"Hmmm... dan kau percaya aku telah mengucapkan kata-kata tersebut? Lu-heng, dengan kedudukan serta nama baikmu di dalam dunia persilatan, aku rasa tidak sepantasnya kalau kau ikut bergaul dengan manusia-manusia sesat seperti itu bukan!"

Meskipun dalam dunia persilatan Lu Kiat tidak memiliki nama yang baik tetapi dia pun bukan jagoan dari kalangan sesat, pertanyaan dari Jago Pedang Berdarah Dingin ini segera menimbulkan rasa sesal dalam hati kecilnya, sekilas rasa malu muncul di atas wajahnya.

Hoa Pek Tuo yang menyaksikan gejala kurang menguntungkan, dengan cepat tubuhnya loncat ke depan, ia takut urusan bila dilarut- larutkan terlalu lama maka akan mengakibatkan timbulnya hal-hal yang tidak diinginkan, segera hardiknya dengan suara keras :

"Kau maki siapa yang termasuk jago-jago kalangan sesat? Pek In Hoei kalau bicara sedikitlah tahu diri, kalau kau mengacu balau terus dengan kata-katamu yang usil, jangan salahkan kalau aku tak akan berlaku sungkan lagi terhadap dirimu."

"Huuh...! Kau adalah seorang pentolan golongan Hek-to yang membunuh orang tidak melihat darah, ayoh mengaku! Bukankah kau punya ambisi besar untuk mengangkangi dunia persilatan? Bukankah kau sendiri yang punya niat untuk menundukkan seluruh partai besar dan memperbudak seluruh jago yang ada di kolong langit."

"Omong kosong!" teriak Hoa Pek Tuo penuh kebencian, "Hmm!

Rupanya kau telah bosan hidup!" Kepada Lu Kiat, Korlea dan Bu Sam ia melotot sekejap, serunya

:

"Apa yang kalian nantikan lagi? Selama orang ini masih tetap

hidup dan dalam kolong langit, kita jangan harap bisa hidup di dalam dunia persilatan dengan aman dan damai, sekarang mumpung jumlah kita banyak, mari kita keroyok dia sampai mati, kita tidak usah lagi membicarakan soal peraturan Bu lim atau tidak."

Sambil tertawa terbahak-bahak, telapak kanannya segera diangkat ke atas, segulung angin pukulan yang luar biasa dahsyatnya dengan cepat meluncur keluar dari telapaknya dan langsung menghantam tubuh Jago Pedang Berdarah Dingin.

Dengan tangkas Pek In Hoei meloncat ke samping, dia silangkan pedangnya di depan dada, dengan wajah serius dan penuh kegusaran pemuda itu tarik napas panjang dan berkata :

"Hoa Pek Tuo, bagaimana pun juga kau adalah seorang jago kenamaan di dalam dunia persilatan, sebelum pertarungan dimulai terlebih dahulu, asal kau menyanggupi aku baru suka turun tangan menghadapi dirimu, kalau tidak..."

"Baik! Katakanlah apa permintaanmu itu," seru Hoa Pek Tuo berlagak besar jiwa.

"Gampang sekali permintaanku itu, aku harap kau suka memandang di atas wajahku melepaskan Hee Giong Lam dari tempat ini, di samping itu turunkanlah perintah agar orang-orang mu tidak menyusahkan mereka ayah dan anak lagi!"

"Haaaah... haaaah... haaaah... saudaraku kau benar-benar bagaikan raja akhirat yang mengemis... sudah hampir mati pun mencari uang," ejek Hoa Pek Tuo sambil tertawa tergelak-gelak. "Sekarang untuk mempertahankan selembar jiwamu sendiri pun kau tak mampu, malah masih bisa-bisanya mintakan ampun buat orang lain... Hmmm! Betul-betul manusia yang tak tahu diri..."

Dengan wajah dingin kaku serunya lebih jauh : "Mudah saja kalau kau menginginkan agar aku lepaskan budak cilik itu, tapi suruh aku lepaskan Hee Giong Lam... Hehh... heeh... maaf, seribu kali maaf, aku tak dapat mengabulkan permintaanmu itu sebab aku masih ada dua resep obat yang belum selesai ia buatkan bagiku!"

"Lepaskanlah dia!" seru Lu Kiat pula sambil melangkah maju ke depan, "Hoa heng bila sedikit permintaan ini tak kau kabulkan bukankah pamormu akan merosot sekali? Lagi pula Rasul Racun Hee Giong Lam toh bukan seorang manusia yang luar biasa apa sih salahnya melepaskan dia berlalu dari sini?"

Hoa Pek Tuo tertegun, dengan cepat satu ingatan berkelebat dalam benaknya, sambil tertawa ia lantas berkata :

"Baiklah, memandang dia wajah Lu-heng terpaksa aku harus melakukannya."

Ia tepuk tangannya keras-keras, seorang pria baju hitam berjalan masuk ke dalam, kepada orang itu Hoa Pek Tuo berkata :

"Segera lepaskan Hee Giong Lam dari kurungan!"

Sambil tersenyum pria itu mengangguk dan mengundurkan diri dari situ.

Kong Yo Siok Peng yang selama ini bersembunyi di sudut ruangan segera merasa hatinya jadi lega ketika mengetahui ayah angkatnya tidak cedera, dengan suara gemetar serunya :

"In Hoei, mari kita bersama-sama tinggalkan tempat ini!" "Tidak bisa," sahut Pek In Hoei sambil gelengkan kepala, "kau

dan ayah angkatmu harus cepat-cepat berlalu dari sini, setelah kuselesaikan persengketaanku dengan sahabat-sahabat yang begini banyak, aku akan segera menyusul dirimu, mungkin sebelum senja hari nanti aku telah berhasil menyusul dirimu..."

"Tidak!" bantah Kong Yo Siok Peng dengan suara keras, "kalau mau mati biarlah kita mati bersama!"

Pada saat ini gadis tersebut tidak merasa takut lagi, dengan wajah basah oleh air mata ia meloncat ke sisi pemuda itu. Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei jadi amat gelisah diam-diam sambil menggertak gigi ia membentak dengan penuh kegusaran.

"Kalau kau tidak segera berlalu dari sini, jangan salahkan kalau aku tak mau kenali dirimu lagi!"

Rupanya pemuda itu telah menyadari betapa bahayanya situasi yang terbentang di depan mata dewasa itu, untuk mundur dari tempat itu dalam keadaan selamat bukanlah suatu pekerjaan yang gampang, oleh sebab itu untuk menghindari pengorbanan jiwa yang tak berguna terpaksa pemuda itu harus keraskan hati dan mengusir Kong Yo Siok Peng dari sana.

Gadis she Kong yo itu sendiri kontan merasakan hatinya tercekat dan dingin bagaikan tercebur ke dalam liang es, dengan penuh penderitaan ia menjerit lengking, teriaknya :

"In Hoei kau..."

Ucapan selanjutnya tak mampu diteruskan, sambil menutup wajah sendiri gadis itu segera lari keluar dari ruangan tersebut.

Memandang bayangan punggungnya lenyap dari pandangan mata, dengan sedih Pek In Hoei tundukkan kepalanya hampir saja ia melelehkan air mata karena sedih, sambil menghela napas panjang segera pikirnya :

"Siok Peng, maafkanlah daku, aku tidak seharusnya bersikap demikian kasar kepadamu, Aaiii...! Adakah kau masih belum dapat memahami perasaan hatiku?? Apa boleh buat, mau tak mau terpaksa aku harus bersikap demikian demi kebaikanmu sendiri!"

Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sebilah pisau, perlahan- lahan pemuda itu menyapu sekejap ke sekeliling ruangan, lalu serunya dengan suara ketus.

"Ayoh, turun tanganlah, urusan di antara kita sudah sepantasnya cepat-cepat diselesaikan..."

Dengan pandangan berat ditatapnya wajah para jago lihay yang telah bersiap sedia di depan mata, pedang mestika penghancur sang surya diangkat tinggi di depan dada sementara segenap hawa murninya dihimpun pada ujung senjata tersebut, keangkeran serta kegagahannya yang melebihi seorang pendekar ulung itu membuat Lu Kiat diam-diam merasa terkesiap, rasa pandang enteng musuhnya seketika lenyap tak berbekas dari dalam ingatannya.

Sementara itu Golok Kilat Bu Sam sudah tak dapat menahan diri lagi, sembari putar golok raksasanya di tengah udara ia berteriak keras

:

"Bangsat cilik, rasain dulu sebuah bacokan golokku!"

Jago lihay berkepala gundul yang sejak kecil mendapat pelajaran langsung dari gereja siau lim si ini benar-benar luar biasa sekali, goloknya diiringi deruan angin tajam laksana titiran hujan badai membacok ke arah depan dengan dahsyatnya.

Setelah Bu Sam menunjukkan aksinya, Korlea dari Mongolia itu juga tak dapat menahan diri lagi, ia loloskan pedangnya sambil menerjang ke depan.

Rupanya jago dari Mongolia ini ingin sekali mendemonstrasikan kelihayannya di hadapan Hoa Pek Tuo, serangan-serangan yang dilancarkan amat gencar dan luar biasa sekali, seakan-akan dalam sekali bacokan ia hendak binasakan lawannya di ujung senjata sendiri karena itu serangan pedangnya bukan saja ganas bahkan keji dan rapat.

Demikianlah bersama-sama bacokan golok dari Bu Sam mereka pada saat yang berbareng membacok dari kiri serta kanan pinggang musuh.

Namun Pek In Hoei cukup tangkas, sebelum serangan yang dilancarkan ke-dua orang itu berhasil mengenai sasarannya tahu-tahu ia sudah melayang pergi dari tempat semula.

Bu Sam meraung keras tatkala ia kehilangan sasarannya, sambil putar badan goloknya laksana kilat kembali lancarkan sebuah bacokan maut.

Teriaknya sambil tertawa seram : "Korlea, kau serang dari sisi sebelah kiri biar aku yang menyerang dari samping kanan!"

Berada di bawah kerubutan dua orang jago yang maha lihay itu, Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei masih tetap maju mundur sekehendak hatinya, bukan saja menyerang dan bertahan dilakukan dengan sangat teratur, bahkan gerakan tubuhnya amat lincah sekali, jurus-jurus pedang yang dilancarkan cepat laksana kilat hingga membuat Lu Kiat yang menonton jalannya pertarungan itu dari sisi kalangan dengan mata terbelalak dan mulut melongo, ia semakin mengagumi akan kehebatan dari ilmu silat musuhnya ini.

Hoa Pek Tuo tidak menyangka kalau Lu Kiat yang diundang datang untuk membantu pihaknya itu sama sekali tiada maksud untuk turun tangan memberi bantuan, diam-diam ia merasa teramat gusar namun perasaan tersebut tidak sampai diutarakan keluar, dengan suara yang tenang dan wajah masih dihiasi senyuman katanya :

"Lu heng, aku harap kau segera menggabungkan diri dengan mereka dan mulai turun tangan melancarkan serangan!"

Lu Kiat segera menampik, serunya sambil gelengkan kepalanya berulang kali :

"Dengan jumlah yang banyak mengerubuti musuh dalam jumlah sedikit, apalagi bertempur macam roda kereta yang bergilir seperti ini, aku sebagai seorang murid keturunan keluarga yang besar tidak sudi untuk melakukannya!"

"Tapi kesempatan baik seperti ini sukar didapatkan, lagi pula sebentar lagi kesempatan ini akan lenyap tak berbekas, bila ini hari kita gagal untuk melenyapkan bangsat cilik ini, sulitlah bagi orang Bu lim untuk menandingi dirinya lagi bila sampai demikian..." makin berseru Hoa Pek Tuo semakin gusar hingga akhirnya ia tertawa seram. "Hmmm! Bisa dilawan atau tak bisa dilawan itu bukan urusanku,

maaf! Aku tak dapat menemani dirimu lebih jauh..."

Jago muda ini tidak malu disebut sebagai keturunan keluarga yang besar, setelah menyaksikan perbuatan Hoa Pek Tuo yang tak tahu malu, bukan saja telah mengerahkan empat orang jago untuk mengerubuti seseorang bahkan memancing musuhnya dengan cara yang licik, timbullah rasa gusar dan muak dalam hati kecil Lu Kiat, sambil tertawa dingin ia segera meloncat keluar dari ruangan tersebut. "Aduuuh...! Belum lama Lu Kiat berlalu dari situ, sebuah tusukan kilat yang dilancarkan Jago Pedang Berdarah Dingin bersarang telak di tubuh Golok Kilat Bu Sam, sebuah lengannya seketika terpapas putus jadi dua bagian, darah segar muncrat keluar menggenangi seluruh permukaan tanah, karena kesakitan padri murtad dari gereja

siau lim si ini segera roboh tak sadarkan diri di atas tanah.

Hoa Pek Tuo semakin naik pitam menyaksikan peristiwa itu, jeritnya keras-keras :

"Bila aku biarkan kau lolos dari sini dalam keadaan selamat, aku bersumpah tak mau jadi manusia..."

Secara beruntun ia lancarkan tiga buah pukulan berantai yang mana dengan susah payah untuk sementara waktu berhasil membendung jalan pergi dari Pek In Hoei.

Korlea yang menyaksikan ada kesempatan bagus baginya untuk turun tangan, segera menerjang maju ke depan, pedangnya laksana kilat lancarkan sebuah tusukan bokongan ke arah punggung lawan.

Pek In Hoei tertawa dingin, sambil putar pedangnya laksana kilat menebas ke belakang bentaknya :

"Modar kau..."

Darah segar muncrat keluar bagaikan pancuran air, sungguh kasihan Korlea yang masih berusia muda, belum sempat menjerit kesakitan tahu-tahu jiwanya sudah melayang tinggalkan raganya.

Blaaam...! Pada saat itulah sebuah pukulan dahsyat dilancarkan Hoa Pek Tuo secara diam-diam, Pek In Hoei tak sempat untuk menghindarkan diri lagi, tubuhnya seakan-akan dihantam oleh sebuah martil yang sangat berat segera bergetar beberapa kali dengan kerasnya, hampir saja ia roboh terjengkang ke atas tanah. Tetapi pemuda itu tidak sampai roboh terjengkang ,dengan tubuh yang tegak ia masih tetap berdiri gagah di tempat semula.

Hoa Pek Tuo jadi terkesiap hatinya melihat Pek In Hoei sama sekali tak terluka oleh pukulan yang ia lancarkan, melihat sikap lawannya yang begitu mengerikan, bahkan pedangnya telah diangkat ke udara siap melancarkan serangan balasan pecahlah nyalinya, tanpa mempedulikan keadaan di sekelilingnya lagi ia putar badan dan kabur dari situ.

"Aaaah...!" belum lama bayangan tubuh Hoa Pek Tuo lenyap dari pandangan Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei berseru tertahan ia muntah darah segar lalu mundur ke belakang dengan sempoyongan, akhirnya roboh terjengkang ke atas tanah dan jatuh tak sadarkan diri.

********

Suara derap kaki kuda yang santer bergema memecahkan kesunyian yang mencekam di seluruh jagad, seekor kuda berwarna abu-abu dengan langkah yang tetap bergerak menuju ke arah benteng keluarga Lu yang jauh terbentang di depan mata...

Memandang benteng Lu Kee cay yang sudah makin mendekat, Lu Kiat merasa hatinya jadi amat lega, ia tarik napas panjang-panjang lalu menepuk kepala kudanya sambil berbisik :

"Sahabat tua, sepanjang perjalanan kau pasti amat menderita bukan?? Seandainya kau tidak lari dengan cepat mungkin paling cepat besok siang kita baru akan tiba di rumah, waktu itu semuanya akan jadi terlambat..."

Ia memandang sekejap Pek In Hoei yang jatuh tak sadarkan diri dalam pelukannya, senyuman lega menghiasi bibirnya, sambil tertawa gumamnya seorang diri :

"Nasibmu terlalu baik, bila satu jam lebih lambat aku tiba di sana mungkin kau telah menyusul arwah jago muda dari Mongolia itu menuju ke alam baka, untuk selamanya tak akan bisa memandang dunia yang indah ini lagi..."

Ia sendiri pun tak tahu mengapa dia bisa menaruh perhatian yang khusus tentang mati hidup seorang jago yang masih asing baginya, bahkan suatu ketika orang ini pernah dipandangnya sebagai musuh yang hendak dilenyapkan, tapi sekarang bukan saja ia tak jadi membunuh dirinya alahan menyelamatkan jiwanya dari ancaman bahaya maut. Peristiwa semacam ini bagi Lu Kiat yang namanya sudah tersohor di seluruh kolong langit boleh dibilang merupakan suatu kejadian yang luar biasa...

Derap kaki kuda bergema memecahkan kesunyian dan mengetuk dalam-dalam di hati kecilnya, dengan alis berkerut Lu Kiat memandang sekejap awan yang kelabu kemudian berpikir di dalam hati :

"Apa yang harus kukatakan setibanya di rumah?? Ayah dan ibu pasti akan menanyakan asal usul dari Pek In Hoei, bila kukatakan dia adalah sahabatku, ayah serta ibu pasti akan menegur diriku karena aku membawa orang asing pulang ke rumah... Ayah dan ibu paling benci melihat orang lain yang tak dikenal oleh mereka berkunjung ke rumah... lalu apa yang mesti kukatakan...??"

Baru saja ingatan itu berkelebat lewat dari dalam benaknya, pohon kecil di depan rumahnya telah nampak di depan mata, di belakang pohon itu adalah sebuah bukit kecil, meskipun bukit itu tidak angker tapi rumahnya didirikan tetap di bawah kaki bukit tersebut, berhubung mereka semua dari keluarga Lu maka orang- orang menyebut tempat itu sebagai Lu kee cay benteng keluarga Lu.

"Oooh... Lu kongcu telah pulang?" pelayan tuanya A-Hok yang berdiri di bawah pohon berteriak kegirangan, dengan langkah lebar orang tua itu segera lari masuk ke dalam rumah untuk mewartakan kedatangannya. Bagian 34

SETELAH melewati sebuah jembatan kecil, akhirnya tibalah pemuda itu di depan pintu rumahnya, dua orang pria baju hitam dengan sikap yang tegap berdiri di depan pintu, Lu Kiat segera membopong Pek In Hoei dan loncat turun dari kudanya, lalu serahkan binatang itu pada dua orang pria tadi.

Sebelum pemuda itu melangkah masuk ke ruang, seorang nona cilik dengan mata yang jeli dan pipi yang merah dengan rambut dikepang dua lari menyongsong kedatangannya.

"Toako, apa yang hendak kau lakukan??" terdengar gadis cilik itu menegur dengan nada tercengang, "Kau toh sudah tahu bahwa ayah serta ibu paling benci melihat orang asing? Kenapa kau pulang dengan membopong pria ini? Apa kau tidak takut dicaci maki oleh ayah dan ibu..."

"Adikku, orang ini sudah terkena pukulan beracun, jiwanya terancam bahaya dan kemungkinan besar bakal menemui ajalnya," kata Lu Kiat sambil tertawa getir, "Aku sebagai sahabat karibnya masa tega melihat ia mati tanpa ditolong..."

"Waaah kalau begitu keadaannya maka lebih sulit lagi," ujar gadis cilik itu sambil tertawa ringan, "obat penawar racun dari keluarga Lu kita selamanya tidak bisa dibagi-bagikan untuk orang luar, bila kau berani masuk ke rumah dengan tingkah laku yang demikian gegabah, kemungkinan besar kau bakal dimaki habis- habisan..."

"Aku tak mau ambil peduli urusan yang tak berguna seperti itu," kata Lu Kiat sambil gelengkan kepalanya, "keselamatan jiwa orang ini terancam mara bahaya, bila aku tak berhasil menyelamatkan dirinya dari cengkeraman elmaut, bukankah sia-sia belaka aku hidup di kolong langit sebagai manusia..."

Gadis cilik ini bukan lain adalah Lu Siau Hun adik kandung Lu Kiat yang paling dimanja oleh orang tua mereka, ketika melihat kakaknya bersikeras hendak membawa masuk Pek In Hoei ke dalam ruangan, ia segera perlihatkan muka setan sambil berseru :

"Kalau memang begitu masuklah untuk beradu nasib, aku sih tak mau mencampuri urusanmu!"

Lu Kiat melanjutkan kembali perjalanannya masuk ke dalam ruangan, setelah melewati sebuah serambi panjang sampailah dia di sebuah ruangan yang amat besar, seorang perempuan tua yang rambutnya telah beruban semua berdiri di depan pintu dengan wajah serius, ketika melihat pemuda itu melangkah masuk ke dalam ruangan, ia segera menegur :

"Anak Kiat kenapa kau telah melupakan peraturan keluarga..." "Mak inang, di mana ibuku?? Dapatkah undang dia orang tua

keluar..." seru Lu Kiat cepat.

Pelayan tua yang sejak kecil sudah merawat Lu Kiat bagaikan putranya sendiri ini diam-diam menghela napas setelah menyaksikan sikapnya yang gugup, setelah termenung sebentar akhirnya ia berkata

:

"Baiklah, akan kuundang majikan untuk keluar..."

Lama sudah perempuan tua itu masuk ke dalam namun belum juga muncul kembali, lama kelamaan Lu Kiat tak kuasa menahan diri, hampir saja ia hendak menerobos masuk sendiri ke dalam ruangan.

Ketika ia sedang membaringkan tubuh Pek In Hoei di atas sebuah kursi, suara langkah kaki berkumandang datang, ketika pemuda itu berpaling tampaklah ibunya di bawah iringan dua orang dayang kecil perlahan-lahan munculkan diri dari balik pintu.

Perempuan berusia setengah baya itu mempunyai dandanan yang sangat agung dengan pandangan mata yang tajam.

Lu Kiat buru-buru maju memberi hormat sambil sapanya : "Ibu!"

Lu Hujin mendengus dingin, ia melirik sekejap Pek In Hoei yang jatuh tak sadarkan diri itu, kemudian menegur :

"Siapakah orang itu?" "Dia adalah sahabat karibku, meskipun baru pertama kali kita saling bertemu tetapi sikapnya yang gagah dan jujur tidak mirip kawanan sesat ini membuat aku jadi kagum kepadanya, lagi pula di dalam dunia persilatan orang ini mempunyai nama besar yang amat disegani orang!"

"Hmmm! Aku sedang tanya siapakah dia? Berasal dari perguruan mana?" seru Lu Hujin dengan suara ketus, "Anak Kiat mengapa kau begitu tak tahu diri? Kita keluarga Lu sengaja hidup mengasingkan diri di tempat ini bukanlah tidak lain karena ingin menghindari berhubungan dengan orang Bu lim? Apakah kau tak tahu kesusahan serta penderitaan ibumu selama banyak tahun? Sekarang aku harap kau segera juga menghantar ia keluar dari tempat ini..."

"Ibu! Hal ini mana boleh jadi?" seru Lu Kiat dengan hati cemas, "Jiwanya sedang terancam mara bahaya dan sebentar lagi mungkin saja jiwanya bakal melayang, kita keluarga Lu toh suatu keluarga yang hidup berdasarkan peri kemanusiaan, kenapa kita tak mau ulurkan tangan menolong orang yang sudah hampir mati ini..."

"Hmmm! Kau hanya tahu bertindak sebagai seorang pendekar, menolong yang lemah menindas yang kuat, tapi kau tak memahami liciknya hati manusia dalam dunia persilatan, kau tak kenal kebuasan serta kekejaman hati manusia... terhadap asal usul dari orang ini toh kau tidak tahu sama sekali? Kenapa kau tolong dirinya? Siapa tahu kalau orang ini adalah mata-mata yang sengaja dikirim pihak lawan untuk menyusup ke dalam keluarga kita..."

"Tentang soal itu ibu boleh berlega hati," sahut Lu Kiat sambil menggeleng, "kali ini aku mendapat undangan dari Hoa Pek Tuo ketua perkampungan Thay Bie San cung untuk bersama-sama menghadapi seorang jago lihay dari kalangan hitam, semula aku terpikat oleh pancingannya yang manis dan memikat hati itu sehingga hampir saja aku hendak bergebrak melawan saudara ini, kemudian aku segera merasakan bahwa Jago Pedang Berdarah Dingin mempunyai wajah yang gagah dan sedikit pun tidak mirip orang jahat, sampai di tengah jalan aku segera menghindarkan diri dari kalangan pertarungan... tak tahunya dalam pertempuran tersebut saudara ini telah kena dihantam oleh Hoa Pek Tuo hingga terluka parah..."

"Apa?? kau bergaul dengan Hoa Pek Tuo?" seru Hujin dengan wajah berubah hebat.

Lu Kiat tertegun lalu menjawab:

"Aku sama sekali tidak mempunyai ikatan persahabatan dengan dirinya, aku tidak lebih hanya kenal saja?"

"Hmmmm! Makin lama kau semakin tak becus!" maki Lu Hujin sambil mendengus, "tahukah kau bahwa Hoa Pek Tuo adalah seorang manusia licik yang berhati keji? selamanya ia bunuh orang tanpa kelihatan darah mengalir, sudah banyak tahun ia bikin keonaran di dalam dunia persilatan, dengan aku pun pernah terjadi bentrokan yang sengit, sungguh tak nyana kau bisa bergaul dengan manusia macam itu, ditinjau dari sini aku bisa menarik kesimpulan bahwa selama banyak tahun berkelana di dalam dunia persilatan, kau pasti tidak memiliki pamor yang baik. Aaai...! aku tak pernah menyangka kalau dari keluarga Lu kita bakal muncul seorang keturunan yang tolol dan tak berguna macam dirimu itu."

"Ibu!" teriak Lu Kiat dengan wajah berubah hebat karena ketakutan, "Aku mengaku salah, lain kali aku pasti tak akan berhubungan dan bergaul dengan manusia semacam ini."

Air muka Lu Hujin perlahan-lahan berubah jadi lunak kembali, sambil menghela napas panjang katanya:

"Kalau kau sudah mengerti salah itulah bagus sekali kau mesti tahu banyak jebakan yang terdapat di dalam dunia persilatan, asal kurang berhati-hati bertindak niscaya akan terjerumus ke dalam siasat licik orang lain. Nah sekarang urusan sudah jadi jelas, hantarlah dahulu orang ini keluar dari perkampungan, ibu akan menantikan dirimu disini!"

Lu Kiat tertawa getir. "Ibu, sekalipun kita tak dapat menahan dirinya untuk berdiam disini, sedikit banyak kita pun tak dapat menghantar dia keluar dari kampung dalam keadaan begini, ananda tiada permintaan lain kecuali berikanlah orang ini sebutir pil pemunah racun, setelah orang ini sadar kembali dari pingsannya aku pasti akan menghantar dia keluar dari Sini!"

"Oooh   hal ini semakin tak dapat kita lakukan," kata Lu Hujin

sambil menggeleng lagi," obat mujarab dari keluarga Lu kita sejak dahulu kala hingga kini selamanya tak pernah dihadiahkan untuk orang luar, orang ini toh tiada hubungan sanak atau keluarga dengan dirimu, mana boleh kau obati orang lain secara sembarangan dengan obat mujarab tersebut "

"Tapi Pek In Hoei toh bukan orang luar... " seru Lu Kiat amat gelisah.

"Air muka Lu Hujin berubah hebat, seakan-akan dadanya terhantam oleh martil yang amat berat tiba-tiba sekujur tubuhnya gemetar keras dan ia berdiri menjublak di tempat semula tanpa berkata-kata.

Menyaksikan keadaan dari ibunya itu Lu Kiat mengira perkataannya telah melukai hati ibunya, karena ketakutan tubuhnya jadi gemetar keras, dengan ketakutan segera serunya:

"Ibu! Ananda tahu salah, aku tidak seharus membuat ibu jadi demikian gusarnya "

Namun Lu Hujin tetap berdiri kaku seolah-olah ia tak mendengar sama sekali terhadap ucapan dari putranya itu, dengan bibir yang putih tak berdarah gumamnya seorang diri:

"Angin taupan berhembus kencang awan putih terbang di angkasa. " dengan suara gemetar ia bertanya:

"Anak Kiat apakah dia she Pek??"

"Sedikit pun tak salah, julukannya adalah Jago Pedang Berdarah Dingin namanya adalah Pek In Hoei!" Lu Hujin berdiri termangu-mangu sambil memandang tempat kejauhan tanpa berkedip di depan pandangan seakan-akan terlintas suatu pemandangan yang aneh, lama sekali ia baru bergumam lagi:

"Mungkinkah kesemuanya ini sungguh-sungguh terjadi??"

Ketika ia menyadari akan sikapnya yang salah itu air mata telah mengembang di ujung kelopak matanya buru-buru ia hapus air mata yang menetes membasahi pipinya, lalu kepada yang kecil yang berdiri di sisinya ia berkata:

"Siao Ing, ambillah kotak obatku dan bawalah kemari!"

"Ibu kau hendak menolong jiwanya??" seru Lu Kiat dengan nada tertegun.

"Benar aku harus menyelamatkan jiwa orang ini," jawab Lu hujin dengan sedih, "sebab ia mempunyai hubungan yang erat sekali dengan keluarga kita!"

"Ibu, aku tidak mengerti akan perkataanmu itu!" Lu Hujin tertawa getir.

"Sekarang mungkin kau tak akan mengerti, di kemudian hari suatu ketika kau akan mengetahui dengan sendirinya..."

Tidak selang beberapa saat kemudian ke-dua orang dara yang cilik itu telah balik kembali sambil membawa sebuah kotak obat yang mungil dan indah sekali bentuknya. Lu Hujin segera membuka penutup kotak tadi dan ambil keluar sebutir pil berwarna merah darah kemudian dijejalkan ke dalam mulut Pek In Hoei. Setelah itu dengan sikap yang tegang ia memeriksa keadaan luka yang diderita si anak muda itu, helaan napas panjang berkumandang memecahkan kesunyian yang mencekam sekitar tempat itu.

"Ibu apakah dia masih ada harapan untuk selamat??" bisik Lu Kiat dengan suara yang amat lirih.

"Ehmmm... ! Ilmu pukulan Jit-tok-ciang yang dipelajari Hoa pek Tuo belum berhasil dikuasai sepenuhnya, sehingga dalam serangan yang ia lancarkan itu belum berhasil memaksa racun pukulannya menyusup ke dalam urat nadinya, oleh karena itulah daya kerjanya agak terlambat, sedang dalam pengobatan pun kita tak usah membuang tenaga terlalu banyak. Untung Pil penolak racun dari keluarga Lu kita adalah nomor satu di kolong langit, seandainya tiada bantuan dari obat mujarab ini niscaya ia bakal jadi cacad untuk selamanya."

"Ooooh.....! Waktu itu aku merasa muak dan tak senang hati karena Hoa Pek Tuo hendak mencari kemenangan dengan andalkan jumlahnya yang amat banyak, diam-diam aku menyusup masuk kembali ke istana bawah tanah dan menolong dirinya keluar dari situ, mungkin Hoa Pek Tuo mengira dia sudah mati, kalau tidak tak mungkin bajingan tua itu akan membiarkan dirinya tetap berbaring di situ."

"Tahukah kau Pek In Hoei berasal dari mana??" tanya Lu Hujin kemudian dengan suara hambar.

Lu Kiat tertawa:

"Anak murid partai Thiam cong, hanya dia seorang yang berani berkelana di dalam dunia persilatan, menurut berita yang sempat kudengar katanya di dalam pertemuannya dengan para jago lihay dari pelbagai partai besar yang ada di wilayah selatan, ia berhasil membangun kembali partai Thiam-congnya yang telah runtuh sehingga dihormati dan disegani orang lagi, karena itulah nama besar jago pedang berdarah dingin dianggap sebagai jago pedang nomor dua di kolong langit setelah urutan nama besar dari Cia Ceng Gak..." "Jago pedang nomor dua?" seru Lu Hujin dengan nada bangga, "tidak aneh kalau Hoa Pek Tuo terpaksa harus mengumpulkan jago lihay yang begitu banyaknya untuk bersama-sama menghadapi dirinya, rupanya ia takut meninggalkan bibit  bencana baginya di kemudian hari. Aaai . . . tetapi dalam kenyataan ia memang seorang jago berbakat aneh yang jarang sekali ditemui dalam kolong langit..." Dengan penuh kasih sayang dan rasa kasihan, Lu Hujin melirik sekejap ke arah Pek In Hoei, nampaklah ketika itu ia telah menggerakkan tubuh dan perlahan-lahan membuka matanya kembali. Melihat Lu Kiat berdiri berdampingan dengan seorang perempuan setengah baya yang berwajah ramah di hadapan mukanya Pek In Hoei yang baru saja mendusin dari pingsannya kelihatan agak tertegun kemudian sambil bangkit untuk duduk tegurnya:

"Lu-heng di manakah ini?"

"Pek-heng, harap jangan sembarangan bergerak dulu," seru Lu Kiat sambil membimbing tubuhnya, tempat ini adalah rumahku, memandang kau sebagai sesama sahabat Bu-lim, ibuku telah menghadiahkan sebutir pil penolak racun kepadamu... di tempat ini kau dapat beristirahat dengan tenang sambil merawat lukamu itu..."

"Ooooh... terima kasih atas budi kebaikan Lu-heng serta Lu Hujin..."

Lu Hujin tetap membungkam dalam seribu bahasa, biji matanya memancarkan serentetan cahaya yang sangat aneh, ia menatap wajah jago pedang berdarah dingin tanpa berkedip, ia merasa bocah itu banyak kemiripannya dengan Pek Tiang Hong, kegagahannya mirip sekali dengan bapaknya di kala masih muda.

"Nak, apakah ibumu masih hidup dalam keadaan sehat walafiat?..." tegurnya dengan suara terharu...

Jago pedang berdarah dingin Pek In Hoei berdiri tertegun, ia tak mengira kalau Lu Hujin bakal mengajukan pertanyaan seperti itu, sejak ia tahu urusan belum pernah pemuda itu bertemu dengan ibu kandungnya karena itu setelah menginjak dewasa dalam benaknya belum pernah terlintas bayangan mengenai ibunya, hatinya jadi sedih dan luka yang pernah membekas dalam sanubari sewaktu kecil segera muncul kembali...

Ia pernah bertanya kepada ayahnya kemana perginya ibu yang tercinta, setiap kali ia ajukan pertanyaan itu Pek Tiang Hong selalu menunjukkan sikap serba salah, bila terdesak hingga kehabisan akal setiap kali ayahnya berkata bahwa ibunya mati sewaktu melahirkan dirinya... Air mata tanpa terasa jatuh berlinang membasahi pipi Pek In Hoei, katanya dengan nada sedih :

"Ibuku telah meninggal dunia..."

"Ayahmukah yang memberitahukan berita tersebut kepadamu?" seru Lu hujin dengan badan gemetar keras.

Pek In Hoei tertegun, setelah termenung sejenak katanya: "Cianpwee, rupanya banyak urusan tentang keluarga Pek kami

yang kau ketahui?"

"Aaai... nak, aku dengan ayah ibumu adalah sahabat karib, semua kejadian yang menimpa keluargamu sebagian besar kuketahui dengan jelas... tahukah kau bahwa ibumu masih hidup dalam keadaan sehat walafiat di kolong langit..."

"Apa?" jerit Pek In Hoei dengan nada terperanjat, "ibuku masih hidup di kolong langit???"

Kabar ini munculnya terlalu tiba-tiba membuat Pek In Hoei hampir saja tidak percaya bahwa apa yang didengar merupakan suatu kenyataan, dengan pandangan bimbang ia awasi wajah Lu Hujin, bibirnya bergetar keras namun tak sepatah kata pun yang mampu diucapkan keluar.

Lama... lama sekali ia baru bertanya dengan suara gemetar: "Dimana cianpwee, katakanlah kepadaku sekarang ibuku berada

di mana?"

"Nak, sebenarnya aku tak pantas memberitahukan persoalan ini kepadamu..." ujar Lu hujin sambil menggeleng, "tetapi persoalan itu sudah belasan tahun lamanya mengganjal dalam hatiku, kalau tidak kukatakan rahasia tersebut aku merasa amat berdosa dengan ibumu..." "Cianpwee, sebenarnya apa yang telah terjadi? Kenapa ayahku

belum pernah memberitahukan soal ini kepadaku???"

Lu hujin menghela napas panjang, ia seakan-akan sedang mengenang kembali peristiwa yang telah lampau... kemudian sambil membereskan rambutnya yang kusut ia berkata : "Peristiwa ini harus diceritakan sejak ayahmu kawin dengan ibumu, setelah menikah orang tuamu hidup dalam suasana yang penuh bahagia, mereka saling cinta mencintai satu sama lainnya, membuat hingga banyak pasangan muda merasa iri, mungkin thian memang ada maksud untuk membubarkan hubungan mereka berdua kendati sudah kawin tiga tahun tetapi ibumu masih belum juga mengandung, ketika itu ibumu telah mengunjungi banyak tabib kenamaan untuk peroleh pengobatan, ia berusaha untuk mendapat tahu penyakit apakah yang sedang diderita, setelah mendapat pemeriksaan dari beberapa orang tabib sakti akhirnya barulah diketahui bahwa ibumu mandul, ia tak mungkin bisa melahirkan anak untuk selamanya..."

"Mandul? Tak bisa punya anak?" tanya Pek In Hoei tercengang, "kalau ibuku tak dapat melahirkan anak, lalu bagaimana mungkin aku bisa dilahirkan..."

Lu Hujin melirik sekejap ke arahnya, lalu menjawab :

"Urusan ini hanya diketahui oleh ibumu seorang, ia terlalu mencintai ayahmu dan ia tak tega menyaksikan ayahmu menderita siksaan batin karena tak punya anak, seringkali ia berusaha keras untuk memancing kegembiraan dari ayahmu... ketika itu Pek Tiang Hong masih belum tahu kalau istri kesayangannya tak mungkin bisa melahirkan lagi, dalam hati kecilnya masih terlintas satu harapan, mungkin harapan yang muncul dalam hati kecilnya terlalu besar maka akibatnya pukulan batin yang dirasakan olehnya amat berat pula..."

Ia berhenti sejenak, kemudian terusnya :

"Ketika ibumu melihat Pek Tiang Hong sangat berharap bisa mempunyai anak, ia jadi tak berani mengatakan bahwa dirinya mandul dan tak mungkin bisa punya anak lagi, dalam keadaan hati yang tertekan akhirnya ia berhasil menemukan satu akal bagus, ia pura-pura berlagak seakan-akan dirinya sedang mengandung, waktu itu ayahmu benar-benar nampak kegirangan, setiap hari ia selalu muncul dengan wajah berseri-seri... mimpi pun ia tak pernah menyangka kalau ada seseorang yang secara sembunyi-sembunyi merasa sedih hati, orang yang patut dikasihani itu bukan lain adalah ibumu, ia menyadari bahwa rahasia ini tak bisa dikelabui terlalu lama... dalam keadaan pusing kepala akhirnya ia mengusulkan kepada ayahmu untuk hidup berpisah, alasannya ibumu takut kandungannya goncang hingga mengalami keguguran, Pek Tiang Hong yang sangat berharap bisa mendapat putra tentu saja segera menyanggupi permintaannya itu..."

"Ibu!" sela Lu Kiat dengan nada tak mengerti, "persoalan apa pun bisa dipalsukan, tetapi urusan punya anak tak mungkin bisa dipalsukan, seandainya sudah sampai waktunya dan ia belum berhasil juga melahirkan anak, bukankah waktu itu..."

"Perkataanmu sedikit pun tidak salah," kata Lu Hujin sambil menghela napas panjang, "dalam sedih dan murungnya adikku itu segera berangkat kemari menggunakan kesempatan di kala Pek Tiang Hong sedang kembali ke dalam perguruannya, diam-diam mengajak aku merundingkan persoalan ini serta berusaha untuk mencari jalan keluar untuk memecahkan kesulitan ini, sungguh kebetulan sekali di tempat ini ada seorang perempuan sedang mengandung tua, karena anaknya sudah terlalu banyak dan kehidupannya amat sengsara ia rela menyerahkan putra yang bakal dilahirkan itu kepada orang lain!"

Berbicara sampai di sini ia berhenti sebentar dan melirik ke arah Pek In Hoei, lalu terusnya :

"Untuk memenuhi dari ayahmu itu maka ibumu lantas mengajak perempuan itu untuk berunding, ia berharap setelah anak itu dilahirkan se era dikirim ke rumah Pek. Tentu saja perempuan itu menyanggupi dengan senang hati, lewat tiga bulan kemudian perempuan itu benar-benar telah melahirkan seorang anak lelaki dan bayi itu segera diserahkan kepada ibumu. Maka ibumu pun segera berpura-pura melahirkan, ternyata sandiwaranya itu berhasil mengelabui ayahmu, waktu itu Pek Tiang Hong segera mengadakan perjamuan besar untuk merayakan kejadian yang maha besar itu bahkan memberi pula nama Pek In Hoei kepada bayi lelaki tadi!"

"Aah...! Jadi bocah lelaki itu adalah aku?" seru Pek In Hoei tertahan.

"Sedikit pun tidak salah!" jawab Lu Hujin sambil tertawa getir, "bila kau akan merasa pula bahwa siksaan batin yang terberat bagi seorang perempuan adalah kemandulan yang membuat ia tak dapat melahirkan anak, penderitaan semacam ini tak dapat dirasakan oleh siapa pun juga..."

"Sebenarnya rahasia ini tak diketahui oleh siapa pun jua, ibumu mengira perbuatannya sanggup mengelabui ayahmu untuk selamanya, siapa sangka bencana muncul dari langit, sepatah kata- kata yang muncul tanpa sengaja membuat mereka berdua jadi cekcok sehingga akhirnya terjadilah persoalan ini..."

"Aaaah... kenapa? Apakah Pek Tiang Hong mengetahui akan rahasia ini??" seru Lu Kiat tertahan.

"Tidak, sebenarnya Pek Tiang Hong tak tahu akan rahasia ini, suatu malam ketika sepasang suami istri itu sedang bercakap-cakap di dalam kebun bunga, adikku itu merasa bahwa perbuatannya amat tidak pantas, ia anggap di antara suami istri seharusnya tak boleh ada urusan yang saling merahasiakan, akhirnya ia pun lantas menceritakan duduk perkara yang sebenarnya, setelah Pek Tiang Hong mengetahui akan peristiwa ini hawa amarahnya seketika berkobar, malam itu juga terjadi percekcokan yang sangat ramai membuat adikku itu akhirnya meninggalkan rumah dan untuk selamanya tidak kembali lagi..."

Pek In Hoei berdiri menjublak mendengar kisah cerita tersebut, bagaikan disambar petir di siang bolong ia berdiri menjublak tanpa berkutik barang sedikit pun jua, air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, ia tak berani mempercayai kejadian itu, ia pun tidak percaya kalau asal usulnya begitu rumit dan di luar dugaan, tetapi kenyataan sudah di depan mata, tak mungkin Lu Hujin menceritakan kisah tersebut tanpa didasari alasan yang kuat, maka kendati ia tak mau percaya pun terpaksa harus mempercayainya juga.

"Sekarang ibuku berada di mana?" bisik Pek In Hoei sambil menahan air mata yang jatuh bercucuran.

"Setelah ibumu berlalu dalam kesedihan, ia cuku rambut jadi nikouw dan akan mengasingkan diri dari pergaulan dunia ramai, Pek Tiang Hong jadi menyesal hati setelah mengetahui kejadian ini, ia merasa tidak sepantasnya persoalan kecil yang sama sekali tak ada artinya itu diurusi, maka pada malam itu juga ia berangkat mencari ibumu, tetapi ibumu keburu sudah ditangkap pergi oleh seorang musuh besar dari ayahmu, sejak peristiwa itulah hingga kini kabar beritanya lenyap tak berbekas..."

"Siapakah orang itu?" tanya Pek In Hoei dengan hati bergetar keras.

Lu Hujin tertawa getir.

"Setelah aku melakukan penyelidikan yang seksama selama banyak tahun dengan susah payah perbuatan itu ternyata adalah hasil perbuatan dari pemilik Kiam poo, berhubung tingkah laku orang- orang benteng pedang di dalam melakukan tugasnya sangat rahasia dan jarang sekali berhubungan dengan orang-orang kangouw maka jarang sekali jago Bu lim yang mengetahui tentang manusia pemilik dari benteng Kiam poo ini, sebaliknya aku meski ada niat pergi menolong jiwa ibumu, sayang sekali tenagaku masih tak cukup untuk bertindak secara gegabah... maka aku pun terpaksa membungkam diri..."

"Benteng Kiam poo...! benteng Kiam poo..." bisik Lu Kiat dengan wajah tertegun, "rasanya aku pernah mendengar akan nama ini... tapi kapan? Dan di mana????"

"Lu heng!" seru Pek In Hoei dengan penuh emosi, "tolong selidikilah di mana letaknya benteng Kiam poo itu? Aku ingin menolong ibuku dalam waktu yang sesingkat-singkatnya... aku rasa dia orang tua sudah cukup lama hidup dalam kesengsaraan..." "Nak kau tak boleh bertindak secara gegabah," hibur Lu Hujin sambil gelengkan kepalanya berulang kali, "orang-orang di dalam benteng Kiam poo memiliki rangkaian ilmu silat yang sangat lihay dan ampuh sekali, meskipun Pek Tiang Hong memiliki keberanian yang luar biasa pun hampir boleh dibilang ia tak berani menyerbu ke dalam benteng secara gegabah, aku lihat lebih baik nantikanlah hingga kesempatan yang sangat baik telah tiba!"

"Oooh... apakah ayahku tidak tahu kalau ibuku berada di dalam benteng Kiam poo?"

Lu hujin menghela napas panjang.

"Aaai... kabar berita ini pernah tersiar ke dalam telinganya, tetapi ia tak punya jalan yang baik untuk membuktikan kebenaran dari berita tersebut, berhubung ilmu silat yang dimiliki pihak lawan terlalu lihay, maka Pek Tiang Hong sendiri pun tak berani menerjang masuk ke dalam benteng yang serba misterius itu secara gegabah."

Sorot matanya dengan tajam menatap pemuda itu, setelah berhenti sebentar, tanyanya kembali:

"Apakah ayahmu masih hidup dengan sehat walafiat?"

Sekujur tubuh Pek In Hoei gemetar keras, dalam benaknya terlintas kembali bayangan pemandangan di kala ayahnya mati secara mengerikan di puncak gunung Cing-shia, ia menggenggam kepalannya kencang-kencang kemudian sahutnya dengan sedih:

"Ayahku teluh meninggal dunia."

"Apa?" jerit Lu Hujin terperanjat, "ayahmu telah menemui ajalnya?"

Sorot mata berapi-api memancar keluar dari balik mata jago pedang berdarah dingin Pek In Hoei, titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, dengan penuh kepedihan ia merintih :

"Benar ayahku telah menemui ajalnya."

Lu Hujin menghela napas sedih, rasa pedih muncul dalam hati kecilnya, setelah termangu-mangu sesaat lamanya ia berbisik: "Kejadian di dalam kolong langit memang sukar untuk diduga, sungguh tak nyana seorang jago lihay yaug tersohor namanya di kolong langit demikian cepatnya telah tutup usia, aaai... nak ilmu silat yang dimiliki Pek Tiang Hong merupakan intisari dari pelajaran ilmu silat partai Thiam cong tak mungkin ia tutup usia tanpa suatu peristiwa "

"Aaaaai " suara elahan napas berat bergema memenuhi seluruh

ruangan; dengan sedih Pek In Hoei mengangguk, "benar ayahku telah dikerubuti banyak orang sewaktu ada di puncak gunung Cing-shia, ia mati karena tak mampu menghadapi kerubutan orang yang jumlahnya amat banyak."

"Oooh, apakah kau sudah selidiki siapa-siapa saja yang terlibat dalam pengeroyokan itu ?"

Pek In Hoei menggeleng.

"Meskipun boanpwe berhasil merebut nama kosong di dalam dunia persilatan tetapi terhadap teka teki yang menyelimuti soal kematian ayahku hingga kini masih belum juga menemukan suatu pertanda apa pun, kejadian ini kalau dibicarakan memang menyedihkan, tetapi cara kerja yang dilakukan orang-orang itu amat bersih dan rapi ternyata tiada jejak barang sedikit pun yang tertinggal "

"Hmmm !" Aku sih bisa menduga perbuatan siapakah itu. " seru

Lu Hujin sambil mendengus dingin.

"Siapa?" dengan emosi yang meluap-luap Pek In Hoei mencekal lengan perempuan itu erat-erat, "cianpwe, beritahukanlah kepadaku perbuatan siapakah itu ?"

Dengan pandangan dalam Lu Hujin menatap sekejap wajah pemuda itu. kemudian menjawab dengan suara sedih:

"Benteng Kiam po, pastilah perbuatan dari mereka... In Hoee! Ditinjau dari peristiwa ini kau harus melakukan suatu kunjungan ke Benteng Kiam-poo, temukan dahulu ibumu... aku percaya dia pasti mengetahui akan persoalan ini... Nak ! Perlihatkanlah keberanianmu untuk menghadapi kenyataan yang terbentang di depan mata."

"Aku tak peduli pukulan batin macam apa pun aku tetap akan pergi ke sana."

"Nak! Sekarang pergilah beristirahat sejenak menanti lukamu telah sembuh, berangkatlah mengunjungi Benteng Kiam-poo !"

"Baik... baik..." jawab jago pedang berdarah dingin dengan bibir gemetar.

Dengan suara berat ia menghela napas panjang lalu geleng kepala dengan penuh kepedihan, perlahan-lahan ia putar badan dan bergeser dari situ... di bawah bimbingan seorang dayang berlalulah pemuda itu dari ruangan tersebut.

Hanya di dalam beberapa menit yang singkat, jago muda yang penuh kegagahan ini secara mendadak telah berubah jadi makin tua, perasaan membuat ia jauh lebih loyo dan lunglai.

"lbu !"      ujar Lu Kiat kemudian setelah bayangan punggung Pek In Hoei lenyap dari pandangan, "dari mana kau bisa tahu duduknya perkara demikian jelas ?"

Lu Hujin tak dapat membendung rasa sedihnya lagi dan menangis tersedu-sedu, "Nak, akulah perempuan yang telah melahirkan dirinya... Akulah ibu kandungnya," ujar nyonya iiu dengan suara gemetar, "Anak Kiat, apakah kau masih belum tahu bahwa Pek In Hoei sebetulnya adalah saudara kandungmu sendiri? Aaai...! Nak apa yang harus kulakukan dalam persoalan ini !"

Dengan air mata bercucuran Lu Hujin mengangguk.

"Sekarang kau tentu sudah paham bukan? Setelah ia dilahirkan di kolong langit maka aku memberi nama Pek In Hoei, sengaja kucantumkan kata In agar aku selalu ingat padanya, tentang peristiwa ini ayahmu mengetahui dengan jelas."

"Ibu kalau begitu sepantasnya kau beritahukan hal ini kepadanya!" seru Lu Kiat dengan nada tegang. Namun Lu Hujin gelengkan kepala, "Tentang peristiwa ini aku tak dapat memberitahukan kepadanya, ia sudah cukup menderita dan tersiksa, anak Kiat kau adalah toakonya dalam urusan apapun juga kau harus baik-baik merawat dirinya, dalam perjalanan menuju ke benteng Kiam poo kali ini aku serahkan dirinya kepadamu, bila ia mengalami suatu kejadian yang tidak diingini, aku akan minta pertanggungan jawab darimu..."