Imam Tanpa Bayangan I Jilid 31

 
Jilid 31

DENGAN sebat badannya berkelit ke samping, tubuhnya enteng bagaikan segumpal kapas, secara manis dan tepat ia berhasil lolos dari antara bayangan pedang, kejadian ini membuat Lo Hian pun secara diam-diam merasa terkejut.

"Omong kosong !" teriak Lo Hong marah. "Kalau kau punya kepandaian gunakan dulu jurus seperti itu."

Jago Pedang berdarah dingin menyadari akan sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki lawan, ia ada maksud menggusarkan musuhnya itu agar banyak kesempatan baginya untuk pukul roboh orang itu.

Sekarang setelah menyaksikan Lo Hong amat gusar, dalam hati ia merasa sangat geli, ia tahu pada saat inilah merupakan kesempatan yang baik untuk mengacaukan pikiran lawan.

Sambil tertawa tergelak tubuhnya lompat ke tengah udara, lalu serunya :

"Apa sih susahnya melakukan serangan dengan gerakan tadi ?"

Ujung pedangnya menyambar dari bawah menuju ke atas, dengan gerakan langkah yang persis sama dengan jurus Bong bong bu kek tadi ia tirukan gerakan tersebut.

Lo Hian berdua jadi tercekat hatinya, sekarang mereka baru mau mengakui akan kelihayan musuhnya yang mampu meniru jurus serangan orang hanya dalam sekali pandangan belaka.

"Bagaimana?" ejek Pek In Hoei dingin. "Huuh! Secara paksa sih boleh dibilang lumayan, tapi siapa pun tahu bahwa ilmu itu hasil curian!"

"Bajingan, kuberi muka padamu kau tak mau, sekarang rasakanlah kelihaian ilmu pedang penghancur sang surya ku !" Agaknya ia ada maksud menyusahkan Lo Hian berdua, serangan yang kemudian dilancarkan sama sekali tak kenal ampun, di kala Lo Hong masih terkejut, tahu-tahu ujung pedang lawan sudah mengancam di depan dadanya.

Air muka orang she Lo itu berubah hebat katanya: "Aku akan adu jiwa denganmu !"

Timbul tekadnya setelah merasa jiwanya terancam, secara beruntun pedangnya melancarkan tujuh buah serangan berantai dengan harapan dapat melumpuhkan serangan lawan, apa lacur kepandaian musuhnya terlalu lihay, ia rasakan lengannya jadi kaku dan tahu-tahu pedangnya sudah terlepas dari genggaman.

"Kau... kau... mengapa kau tidak bunuh diriku ?" seru Lo Hong dengan suara gemetar.

"Anggaplah perbuatanku ini sebagai pembalasan budi atas pertolongan keluarga Lo terhadap ayahku," jawab Pek In Hoei dingin, "Sekarang di antara kita sudah tiada ikatan budi lagi, bila kau tidak puas pungut kembali pedangmu itu, tapi aku hendak peringatkan lebih dulu, serangan yang bakal kulancarkan nanti adalah serangan mematikan, aku tak akan berlaku sungkan-sungkan lagi seperti barusan."

"Siapa yang sudi menerima kebaikanmu itu ?" teriak Lo Hong sambil pungut kembali pedangnya.

"Hong ji!" cegah Lo Hian sambil maju ke depan, "Ilmu silatmu masih terlampau jauh ketinggalan dari kepandaian lawan, ayo segera mundur ke belakang! Ilmu pedang penghancur sang surya adalah ilmu pedang nomor satu di kolong langit, kau tak nanti bisa menangkan dirinya!" "Ayah! Masa urusan cici akan kita sudahi sampai di sini saja?" teriak Lo Hong marah.

"Ilmu silat kita tak mampu menangkan lawan, apa yang mesti kita katakan lagi ?" sahut Lo Hian sedih, "bila persoalan masih bisa dirundingkan, lebih baik kita bicarakan persoalan ini secara baik baik, seandainya perundingan tak mendatangkan hasil, terpaksa kita

harus kembali dulu ke wilayah See-ih untuk mengundang bala bantuan !"

Ia memandang sekejap ke arah Pek In Hoei dengan pandangan dingin, titik air mata nampak meleleh dari matanya, hal ini membuat Pek In Hoei ikut merasa terharu.

"Pek kongcu!" kembali Lo Hian berkata dengan nada sedih, "Aku hanya mempunyai dua anak angkat, satu putra dan satu putri, kini putriku sudah hampir lima belas tahun lamanya mengidap penyakit gila, setiap hari ia meneriakkan nama ayahmu terus menerus, siksaan badan dan batinnya sukar kubayangkan dengan kata-kata. Aku berharap kau jangan terlalu kukuh pada pendirianmu, katakanlah kepadaku di mana ayahmu berada aku pasti akan bertindak seadil- adilnya."

Jago pedang berdarah dingin menghela napas sedih dan menggeleng jawabnya:

"Locianpwee, aku pun tak tahu bagaimana harus membuka mulutku untuk menjawab pertanyaanmu itu."

"Apakah Pek Kongcu mempunyai kesulitan yang tak dapat mengatakannya keluar?"

"Aku takut setelah cianpwe mengetahui kejadian ini, maka kesedihanmu akan semakin bertambah..."

"Apa yang berharga bagi kita untuk sedihkan?" jengek Lo Hong sambil tertawa dingin, "Asal Pek Tiang Hong bisa ditemukan, itu berarti penyakit yang diderita ciciku ada harapan untuk sembuh         "

"Hm! jangan terlalu percaya pada keyakinanmu sendiri, aku tak mau mengatakannya adalah demi kebaikan ke-dua belah pihak, mungkin kau bisa menahan diri tetapi ayahmu tak mungkin bisa tahan "

"Kongcu kau tak usah pedulikan terhadap diriku, beritahulah kepadaku. "

"Yah... kalau memang begitu apa boleh buat? ayahku telah meninggal dunia "

"Apa?" hampir pada saat yang bersamaan Lo Hian serta Lo Hong berteriak kaget, mereka berdiri menjublak dan tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun...

"Ia benar-benar sudah mati.... oooh dia benar-benar sudah mati...

jerit Lo Hian dengan penuh kesedihan... Putriku... ooh putriku.   Pek

Tiang Hong telah mati... itu berarti penyakitmu tak bakal sembuh lagi... ooh jelek benar nasibmu    kau hanya bisa menantikan ajalmu

saja...

Sambil berseru penuh kepedihan orang tua itu putar badan dan berlalu dengan sempoyongan.

"Ayah! kenapa kau?" jerit Lo Hong dengan suara gemetar. "Mari kita kembali ke See Ih, di sini tak ada urusan yang perlu

kita selesaikan lagi "

Kegelapan menelan bayangan tubuh mereka berdua yang

tertinggal hanya kesedihan yang tak terhingga....

Fajar baru saja menyingsing, kabut yang tebal menyelimuti seluruh permukaan hingga susah bagi manusia untuk memandang benda yang berada di hadapannya.

Dengan termangu-mangu Pek In Hoei berdiri seorang diri di tengah gumpalan kabut, ia termenung dan memikirkan nasib sendiri...

ia merasa lelah untuk melakukan perjalanan terus menerus dalam dunia persilatan suatu ketika ia ingin mencari tempat yang sunyi dan

tenang untuk melanjutkan sisa hidupnya dengan aman dan bahagia. Suara langkah kaki yang lirih berkumandang dari kejauhan,

begitu lirih suara itu seolah-olah hembusan angin Barat yang kencang, seandainya bukan seorang jago dengan pendengarannya yang tajam, niscaya suara langkah kaki itu tak akan kedengaran.

Pek Ia HoeI tersentak bangun dari lamunannya. ia perhatikan sejenak suara lirih tadi kemudian berpikir :

"Siapakah orang itu? sepagi ini sudah ada orang datang kemari, sungguh aneh!"

Dari balik gumpalan kabut yang tebal secara lapat-lapat bergerak mendekat sesosok bayangan tubuh yang langsing dan kecil, Jago pedang berdarah dingin semakin tercengang, segera tegurnya :

"Siapa di situ?"

"Aku!" jawab bayangan manusia itu sambil menghentikan langkah kakinya, "Pek In Hoei, aku minta kau segera tinggalkan tempat ini, bila kau tak mau pergi dari sini sebelum kabut yaug tebal buyar, maka keadaan itu tidak akan mendatangkan keberuntungan bagimu!"

Suara itu sangat dingin dan seakan-akan sedang menekan suatu perasaan kaget dan takut yang tak terhingga, Pek In Hoei tertegun, ia merasa suara itu seakan-akan pernah dikenal olehnya, hanya ia lupa di manakah ia pernah mendengar suara tersebut.

"Siapa kau?" kembali ia menegur, "Mengapa aku harus tinggalkan tempat ini?"

"Aku hanya seorang perempuan yang tak perlu kau ingat, mungkin bayanganku telah lenyap dari benakmu dan aku harap kau pun tak usah memikirkan lagi siapakah daku. Pek In Hoei! kehadiranmu di sini hanya akan menimbulkan ketidaktenangan bagi banyak orang, dengarlah nssehatku dan segera tinggalkanlah tempat ini daripada kau ketimpa bencana yang akan mencelakai dirimu sendiri..."

"Aaah... haah... nona perkataanmu itu sangat membingungkan hati orang, kehadiranku di tempat ini toh tidak mengganggu sama sekali, aku toh sedang mencari angin di sini... Tapi, kalau kau memang inginkan kepergianku bolehlah, asal kau jelaskan dulu alasan yang sebenarnya!"

Gadis itu mendengus dingin.

"Janganlah kau anggap setelah mencapai sukses besar di wilayah selatan maka kau berani pandang rendah setiap orang, terus terang kukatakan kepadamu tempat ini sangat berbahaya sekali bagi keselamatanmu..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... masa iya ?" di tengah gelak tertawanya yang amat nyaring, mendadak ia loncat ke tengah udara kemudian bagaikan seekor burung elang ia meluncur ke arah bayangan manusia tadi.

"Nona, aku ingin tahu siapakah sebenarnya dirimu ?"

"Jangan kemari!" bentak gadis itu. Telapak tangannya yang putih berputar di tengah udara, sebuah pukulan yang maha dahsyat segera dilancarkan menghantam tubuh jago pedang berdarah dingin.

Dengan tangkas si anak muda itu berkelit ke samping, ke-lima jari tangannya bagaikan cakar setan mencengkeram pergelangan dara itu.

Terdengar ia menjerit kaget lalu berteriak:

"Eei... lepaskan aku !"

Pek In Hoei tertegun, kemudian berseru:

"Hee Siok Peng, kiranya kau!"

"Sekarang aku bernama Kong-yo Siok Peng," sela gadis itu dengan gelisah, "Apa sih gunanya kau berbuat demikian? Sekarang aku jadi kehabisan akal untuk menolong dirimu!"

Dengan gugup dan penuh ketakutan matanya berkeliaran memandang sekeliling sana lalu bisiknya lirih :

"Aku sudah bukan orang yang bebas, Hoa Pek Tuo telah menangkap diriku, ia suruh aku mengusir dirimu karena pada saat ini dia sedang melatih suatu kepandaian beracun. Ayah angkatku Hee Giong Lam sudah ditangkap oleh Hoa Pek Tuo, ia dipaksa untuk menemukan beberapa macam obat beracun." Dalam waktu singkat ia mengutarakan begitu banyak perkataan, hal ini membuat Pek In Hoei melengak, ia tak menyangka kalau banyak perubahan yang telah terjadi, segera bisiknya:

"Hoa Pek Tuo sekarang berada di mana?"

Di sekitar sini, cuma aku tak tahu ia menyembunyikan diri di mana. Cepatlah pergi dari sini, ia telah mengundang beberapa orang jago lihay khusus untuk menghadapi dirimu!"

"Aku tidak takut," sahut Pek In Hoei sambil tertawa dingin, "bawalah aku pergi temui ayah angkatmu!"

"Tidak... tidak boleh... tidak boleh... " seru Kong Yo Siok Peng dengan wajah berubah hebat.

"Mengapa? Apakah kau tidak ingin menolong ayah angkatmu? Meskipun ia sangat kejam dan hidupnya agak condong ke arah sesat, bagaimana pun ia pernah memelihara dirimu selama banyak tahun, asal kau berhasil menyelamatkan jiwanya itu berarti bahwa kau telah menunjukkan baktimu sebagai seorang anak!"

"Bukan... bukan... bukan begitu maksudku, aku bukannya tak mau menolong ayah angkatku, tapi aku merasa bahwa tiada kemampuan bagiku untuk melakukan tindakan semacam itu, selama ini ayah angkatku dijaga oleh empat orang jago lihay, siapa pun dilarang mengunjungi dirinya. Bila kita lakukan pergerakan maka ada kemungkinan ayah angkatku bakal menemui bencana, lebih baik cepatlah kau pergi dari sini!"

"Meskipun hubunganku dengan Hee Giong Lam tdak baik, namun aku pun tidak ingin menyaksikan tokoh beracun itu jatuh ke tangan Hoa Pek Tuo dan dipergunakan tenaganya, apalagi tujuan yang terutama dari Hoa Pek Tuo adalah menghadapi diriku, bila kita biarkan ilmu beracunnya berhasil dilatih, maka di kolong langit tiada orang lain yang bisa menaklukkan dirinya lagi..."

"Kabut sudah hampir buyar, cepatlah pergi... kalau tidak maka kau akan kehilangan kesempatan!" seru Kong Yo Siok Peng kembali dengan wajah pucat pasi. "Siok Peng!" kata Pek In Hoei kemudian dengan wajah sungguh?, "sebelum kabut membuyar, kita harus pergi menyelamatkan jiwa Hee Giong Lam, inilah kesempatan baik yang diberikan Thian kepada kita kalau kabut telah byar maka sulitlah bagi kita untuk turun tangan."

"Kau tidak takut dengan Hoa Pek Tuo?"

Jago Pedang Berdarah Dingin terasa naik pitam setiap kali teringat penghinaan yang pernah diterima olehnya dari Hoa Pek Tuo sewaktu berada di dalam perkampungan Thay Bie San cung tempo dulu, dalam hati ia telah bersumpah akan membalas penghinaan tadi.

Maka mendengar pertanyaan itu, ia segera tertawa dingin sahutnya :

"Aku takut kepadanya? Hmm! Sungguh menggelikan..." Kong Yo Siok Peng tidak percaya, ia berkata kembali :

"Hoa Pek Tuo pernah berkata bahwa kau adalah seorang bocah yang tak tahu tingginya langit tebalnya bumi, seandainya ia tak ada maksud melepaskan dirimu tatkala berada di perkampungan Thay Bie San cung tempo dulu mungkin kau sudah mati konyol di tangannya..." "Hm! Mungkin saja begitu, tapi itu bukan berarti ia ada maksud melepaskan diriku, sebaliknya akulah yang berhasil melarikan diri dengan cepat, waktu aku membuktikan semuanya ketika itu ilmu silat yang kumiliki memang masih belum mampu untuk menandingi

dirinya..."

"Jadi kalau begitu kau masih bukan tandingannya..."

"Mungkin saja benar, tapi aku bisa mencobanya! Siok Peng, kau harus percaya kepadaku, aku akan mengerahkan segenap tenaga serta kekuatan yang kumiliki untuk membantu dirimu, kali ini aku punya." "Tidak... tidak... aku tak mau kau menempuh bahaya lantaran urusanku," seru Kong Yo Siok Peng ketakutan. "Sekalipun sekarang aku telah kehilangan kebebasanku, tapi Hoa Pek Tuo tak berani membunuh diriku, dan beberapa macam resep ramuan racun yang dia

butuhkan akan diberikan kepadanya oleh ayah angkatku!" "Kalau begitu pandanganmu, maka kau keliru besar," ujar Pek In Hoei dengan nada dingin, "Ayah angkatmu berbuat demikian karena ia tahu bahwa kau tertawan oleh Hoa Pek Tuo, seandainya kau biarkan ilmu beracunnya berhasil dilatih maka bukan saja dia akan bunuh dirimu, Hee Giong Lam pun tak akan dilepaskan dengan begitu saja, dia pasti tak ingin orang kangouw mengetahui bahwa ia telah berhasil melatih suatu ilmu pukulan beracun terutama sekali diriku!"

Ia tepuk paha gadis Siok Peng dan menambahkan : "Tak usah kuatir, aku tak bak l mengalami bencana!"

Dengan pandangan sangsi dan penuh keragu-raguan Kong Yo Siok Peng memandang sekejap ke arah Jago Pedang Berdarah Dingin, dalam pandangannya itu ia menunjukkan rasa sedih dan murungnya yang amat tebal, dari balik biji matanya yang bening secara lapat-lapat ia pun menemukan titik air mata yang mulai mengembang.

Lama sekali gadis itu berdiri tertegun, akhirnya ia berbisik, "Hati- hatilah mengikuti di belakangku, lebih baik janganlah biarkan Hoa Pek Tuo mengetahui akan kehadiranmu..."

Di tengah gumpalan kabut putih yang tebal Kong Yo Siok Peng menggerakkan tubuhnya tinggalkan tempat itu disusul Pek In Hoei di belakang tubuhnya.

Beberapa saat kemudian tampaklah di tempat kejauhan muncul sebuah bangunan besar yang amat gelap, suasana sepi dan tak nampak sesosok bayangan manusia pun...

Kong Yo Siok Peng mengetuk pintu tiga kali, serunya : "Hey buka pintu!"

"Siapa? Apakah budak sialan?"

Kong Yo Siok Peng mengerling sekejap ke arah Pek In Hoei, pemuda itu mengangguk dan segera menyembunyikan diri di balik semak belukar depan pintu.

Menanti pintu sudah terbuka, gadis itu kembali bertanya : "Di manakah ayahku?" Dari balik pintu muncul seorang pria berbaju serba hitam, sambil tertawa seram sahutnya :

Di dalam, mau apa kau datang kemari?" "Aku ingin mengunjungi ayahku!"

"Tidak boleh, di tempat ini tak boleh dikunjungi orang lain, lagi pula ayahmu belum bangun dari tidurnya, kalau kau ingin bertemu mintalah ijin khusus dari Hoa Lo sianseng, kalau tidak... tak usah yah!..."

"Sst... kemarilah!" bisik Kong Yo Siok Peng kemudian sambil menggape pria itu, "Cepatlah kemari, ada satu urusan aku hendak memberitahukan kepadamu!"

"Urusan apa?" tanya pria itu tertegun, ia tak menyangka gadis secantik itu bisa main mata dengan dirinya, melihat sekeliling situ tak ada orang dia segera lari keluar dari balik pintu.

"Eei... bocah perempuan, kau ada urusan apa?" tanyanya.

"Aku inginkan jiwamu!" jawab Kong Yo Siok Peng sambil unjukkan muka setan.

"Haaaah... haaaah... haaaah... mati di bawah bunga Botan, jadi setan pun setan romantis..."

Siapa tahu bersamaan dengan selesainya perkataan itu, mendadak wajahnya berkerut menahan rasa sakit yang tak tertahankan, senyuman yang menghiasi bibirnya lenyap tak berbekas, tanpa mengeluarkan sedikit suara pun ia roboh binasa di atas tanah.

Pek In Hoei cengkeram tubuh mayat itu dan dilempar ke dalam semak, lalu serunya :

"Ayoh kita cepat pergi!"

"Kau harus berhati-hati..." kembali Kong Yo Siok Peng memperingatkan, "yang kau bunuh barusan tidak lebih cuma seorang penjaga pintu, keadaan di dalam jauh berbeda, di situ kita mesti ditanyai sandi-sandi rahasia, padahal aku tak tahu apa sandinya, kau mesti bertindak menurut keadaan!" Jago Pedang Berdarah Dingin tertawa hambar, dengan enteng ia menyerobot masuk ke dalam bangunan itu.

Suasana di tengah ruangan senyap tak nampak sesosok bayangan manusia pun, hal ini membuat Kong Yo Siok Peng tertegun, segera bisiknya lirik :

"Kenapa di sini tak nampak seorang manusia pun?"

Jago Pedang Berdarah Dingin tidak menjawab, ia pasang telinganya baik-baik, dia periksa keadaan di sekeliling tempat itu, dari balik pintu dinding ruangan secara lapat-lapat ia dengar suara napas manusia, segera didekatinya tempat itu dan mengetuk perlahan.

Rupanya orang yang ada di balik pintu terkejut oleh ketukan tadi, ia segera menegur :

"Apa Lo Liok di situ? Sepagi ini kau telah pergi kemana?" "Bukalah pintu!" bisik Pek In Hoei lirih.

Kembali orang itu tertegun, ia segera berseru :

"Bintang bertaburan di tengah malam yang sunyi, apa kelanjutan dari kata sandi ini?"

"Angin kencang membuyarkan awan putih di angkasa."

"Siapa kau?" seru orang itu, rupanya tercengang. "Kata sandi itu sama sekali tidak benar!"

"Goblok!" maki Pek In Hoei sambil tertawa, "Barusan Hoa lo sianseng merubah kata-kata sandi tersebut, rupanya dia belum sempat memberitahukan kepadamu!"

Sambil berkata hawa murninya disalurkan keluar. Blaam! Pintu kecil itu terpental dan hancur berantakan, tubuhnya dengan cepat meloncat masuk ke dalam.

Di bawah sorot cahaya lampu, tampak tiga orang pria berbaju hitam berdiri berjejer menghadang jalan perginya, enam buah sorot mata yang tajam menatap wajah Pek In Hoei tanpa berkedip.

"Sahabat!" setelah suasana hening beberapa saat lamanya, pria berjenggot hitam yang berada di ujung kiri maju dua langkah ke depan sambil menegur, "Siapakah sebenarnya kau? Kalau ada urusan cepat katakan, sekarang ini, kau hendak masuk ke pintu akhirnya, hal ini merupakan suatu kejadian yang tak enak bagimu..."

"Di manakah Hoa Lo sianseng?" seru Pek In Hoei sambil tertawa terbahak-bahak, "Kenapa ia tidak munculkan diri untuk menyambut kedatangan sahabat karibnya?"

"Oooh! Kiranya kau adalah sahabat karibnya Hoa Lo sianseng, kalau begitu aku Goan Toa Hong minta maaf terlebih dahulu, sekarang kebetulan sekali Hoa Lo sianseng sedang berlatih ilmu, bila kau ada urusan harap tunggulah sebentar di sini, biar aku orang she Goan menyampaikan kabar ke dalam!"

Habis berkata orang itu siap berlalu dari situ.

"Tak perlu!" tampik Pek In Hoei sambil menghadang jalan pergi orang itu, "Goan lo enghiong lebih enak kita bercakap-cakap lebih dulu di sini..."

"Kau..."

"Aku adalah raja akhirat yang mencabut jiwa manusia, saat kematian bagi Hoa Lo sianseng telah tiba, maka kalau setan-setan liar yang gentayangan lebih baik berangkat dulu untuk buka jalan baginya. Nah! Serahkan jiwamu!"

Tercekat hati ke-tiga orang jago lihay itu sehabis mendengar perkataan itu, tapi sebagai jago-jago lihay yang khusus diundang Hoa Pek Tuo untuk menjaga keamanan di situ, hanya sebentar saja mereka tercengang kemudian sambil membentak keras mereka segera menyebarkan diri dan mengepung rapat-rapat si anak muda itu.

"Sahabat, siapakah kau?" tegur Goan To Hong sambil tertawa seram.

"Kami adalah See Pak Su Hong empat manusia ganas dari Say Pak, bila kau adalah seorang manusia yang sering melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, maka kamu pasti tahu manusia macam apakah See Pak Su Hong tersebut!" "Haaaah... haaaah... haaaah... kalau begitu selamat berjumpa kuucapkan bagi kalian bertiga, tolong tanya kemanakah seorang rekanmu yang lain? Mengapa tidak tampak?"

"Karena ada urusan To Liok sedang keluar, bila kedatanganmu ke sini dalam untuk mencari gara-gara dengan kami, jangan kuatir, kami pasti akan melayani keinginanmu itu sehingga kau tak akan merasa kecewa!..."

"Bagus, bagus sekali, kalau begitu serahkan Hee Giong Lam kepadaku..."

"Tak mungkin," sahut Goan Toa Hong seraya menggeleng, "Hee Giong Lam adalah sahabat karib majikan kami Hoa Lo sianseng, tanpa perintah khusus dari Hoa Lo sianseng siapa pun tak akan berani melepaskan dirinya, aku lihat lebih baik batalkan saja niatmu itu, hati- hati kalau sampai kaki anjingmu dipukul patah oleh Hoa Lo sianseng!"

"Huuuh! Hoa Pek Tuo itu manusia macam apa?" maki Pek In Hoei dengan gusar, "Aku sedang kesal karena tak dapat menemukan jejaknya, eeei... tak tahunya kalian malah mengibul dan membangga- banggakan dirinya setinggi langit. Haaaah... haaaah... haaaah... sahabat, suruh saja manusia itu menggelinding keluar, kalau tidak maka pertama-tama yang akan mati binasa adalah kalian semua!"

"Toako!" pria yang berada di ujung kanan berteriak dengan gusar. "Selama kita See Pak Sam Hong berkeliaran dalam dunia persilatan, belum pernah ada orang yang berani kurang ajar terhadap kita orang. Hmmm! Bajingan tengik yang belum hilang bau susu ibunya ini berani betul takabur di hadapan kita, apa yang mesti kita tunggu lagi? Kasih saja peringatan yang pahit kepadanya..."

"Criiing... di tengah udara terpancar cahaya pedang yang amat menyilaukan mata, masih tetap berdiri di tempat semula tahu-tahu Pek In Hoei telah meloloskan pedang saktinya.

"Aaaah... pedang sakti penghancur sang surya..." ucapan itu terlontar keluar dari mulut Goan Toa Hong membuat dua orang rekannya ikut terkesiap dan mundur enam langkah ke belakang dengan badan gemetar keras.

"Kau... kau adalah Jago Pedang Berdarah Dingin? tegur Goan Toa Hong cemas.

"Sedikit pun tidak salah, nama Jago Pedang Berdarah Dingin rasanya tidak terlalu asing bagi kalian bertiga bukan? Bila kalian suka memandang di atas wajahku dan melepaskan Hee Giong Lam, maka aku tak akan beradu senjata dengan kalian bertiga."

"Sahabat, pentang lebar-lebar sepasang matamu," seru Goan Toa Hong dengan suara dingin. "Kami See Pak Sam Hong bukan bocah yang baru berusia tiga tahun, kau anggap dengan andalkan gertak sambal tersebut kami lantas ketakutan setengah mati? Huuuh! Orang yang kau inginkan berada di sini, kalau kau punya kemampuan ayoh... serbulah ke dalam dan ambillah sendiri orang itu!"

Pek In Hoei tertawa dingin.

"Bagus sekali... kalian bertiga boleh siap-siap menerima seranganku...!"

Tubuhnya secara mendadak meloncat ke muka, pedangnya laksana kilat membabat ke muka secara gencar.

Air muka See Pak Sam Hong berubah hebat, cepat-cepat mereka cabut keluar senjatanya dan mundur tujuh delapan langkah ke belakang.

"Maju serentak!" seru Goan Toa Hong.

"Aduuuh..." jeritan kesakitan muncul dari arah belakang, sebutir batok kepala diiringi semburan darah segar muncrat membasahi permukaan,membuat semua orang jadi tertegun.

"Aaaah Lo Liok!" jerit Goan Toa Hong tiba-tiba. Terdengar Pek In Hoei mendengus lalu berkata :

"Inilah akibatnya bagi setiap orang yang suka main bokong dari belakang, sahabat ke-tiga, Lo Liok telah pulang ke rumah neneknya dan mungkin saat ini masih menanti di depan pintu, bagaimana kalau kalian bertiga pun segera ikut berangkat?" Sesosok bayangan manusia berkelebat keluar dari arah kanan, sambil ayunkan pedangnya orang itu langsung membacok tubuh Pek In Hoei.

Dengan tangkas Jago Pedang Berdarah Dingin mengigos ke samping, kemudian putar pedang dan balas membabat.

Orang itu tanpa mengeluarkan sedikit suara pun segera roboh terjengkang di atas tanah, jiwanya putus pada detik itu juga.

Peristiwa itu mengejutkan hati dua orang lainnya, kengerian serta rasa takut menyelimuti wajahnya, membuat mereka hanya bisa berdiri kaku tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Lama sekali Goan Toa Hong baru membentak keras : "Pek In Hoei aku akan beradu jiwa denganmu..."

"Tahan!" serentetan suara bentakan keras berkumandang datang dari tengah angkasa, Goan Toa Hong segera angkat kepala, ia lihat Hoa Pek Tuo sambil melototkan sepasang matanya yang tajam bagaikan pisau belati sedang menatap wajah Pek In Hoei dengan penuh kegusaran.

"Pek In Hoei, rupanya kau belum pergi dari sini?" serunya sambil tertawa dingin.

"Hmmm! Setelah aku tahu bahwa seorang sahabat karibku berada di sini, kenapa aku mesti pergi? Bila aku pergi bukankah itu berarti bahwa aku tidak menghormati sahabat sendiri? Betul tidak?"

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... beberapa hari tidak berjumpa dengan dirimu, rupanya kian hari kau kian bertambah hebat," seru Hoa Pek Tuo sambil tertawa seram, "setelah kau unjuk gigi di wilayah selatan, aku merasa semakin tertarik kepadamu, rupanya di antara kalangan jago muda hanya kau saja yang cocok bersahabat dengan aku, mari... mari.. ini hari kita harus rayakan pertemuan ini!"

"Tentu saja, sulit bagi kita untuk bertemu muka, kau harus ambil sedikit barang sebagai tanda mata bagi pertemuan ini..." "Baik," sahut Hoa Pek Tuo, "kepada Goan Toa Hong segera serunya, "dia adalah sahabat karibku, Goan Toa Hong! Ayoh cepat layani sahabatku ini!"

"Hoa... ini..."

"Hmmm! Manusia yang tak berguna, sampai pada waktunya untuk mempergunakan tenagamu, kalian malah bersembunyi bagaikan cucu kura-kura... huuuuh, sungguh menyebalkan..."

Ia tertawa seram dan menambahkan :

"Waaah... maaf, mungkin aku tak dapat melayani keinginanmu

itu."

"Hoa Pek Tuo, kau tak usah main sandiwara lagi, lebih baik kita

bereskan dulu hutang lama kita!"

"Hmmm... benar... ucapanmu memang benar, hutangmu sedari pertemuan di perkampungan Thay Bie San cung hingga kini belum kau bayar, sekarang kau harus selesaikan berikut rentenya, mungkin malam ini kau tak bisa tinggalkan tempat ini lagi dalam keadaan hidup-hidup."

Napsu membunuh menyelimuti wajahnya, dengan wajah yang menyeramkan ia tatap wajah Pek In Hoei, sorot matanya memancarkan sinar berapi-api, di mana membuat Kong Yo Siok Peng menjerit kaget dan segera merapat tubuhnya di sisi pemuda itu.

"In Hoei... In Hoei... aku takut..." bisik gadis itu dengan wajah pucat dan badan gemetar.

Dalam pada itu Hoa Pek Tuo telah tertawa seram menyaksikan tingkah laku gadis itu segera serunya sinis :

"Bocah perempuan, kemarilah!"

"Tidak! Kau lepaskan dulu ayah angkatku..." jerit Kong Yo Siok Peng.

Sinar mata Hoa Pek Tuo berkilat, senyuman yang mengerikan tersungging di ujung bibirnya membuat Kong Yo Siok Peng semakin ketakutan dibuatnya. Ia pandang sekejap wajah si anak muda itu, kemudian sambil menggoncangkan lengan pemuda itu serunya :

"In Hoe, mari kita pergi dari sini!"

"Tidak!" jawab Jago Pedang Berdarah Dingin sambil menggeleng. "Aku akan menyelamatkan ayah angkatmu dari cengkeramannya..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... Pek In Hoei, mampukah kau untuk melakukan rencanamu itu?" ejek Hoa Pek Tuo sambil tertawa seram.

"Hmmm! Jadi kau ingin mencoba?"

"Saudaraku, aku lihat lebih baik kau batalkan saja rencanamu itu, sepasang kepalanmu belum dapat memadai sebuah jari tanganku, kau ingin mengandalkan apa untuk menolong orang? Hmmm! Hmmm! Janganlah bermimpi di siang hari bolong!"

"Tidak aneh kalau orang  lain sebut dirimu sebagai rase tua!

Rupanya kulitmu memang tebal dan tak tahu malu..."

Hoa Pek Tuo sendiri benar-benar amat benci terhadap pemuda tersebut, terutama kehadirannya di tempat yang sangat rahasia ini sehingga mengacau waktu latihannya, ia benci dan ingin sekali menghajar tubuh pemuda itu hingga hancur lebur.

"Manusia she Pek!" ia berseru kembali sambil tertawa seram, "Ketika masih berada dalam perkampungan Thay Bie San cung dahulu au selalu menganggap bahwa sepasang kakimu memang luar biasa, lebih pandai lari daripada kaki anjing, tapi ini hari... Hmmm! Sekalipun kau ingin lari, belum tentu kesempatan itu kau miliki..."

"Sudah, kau tak usah banyak bacot lagi, ini hari aku si Jago Pedang Berdarah Dingin akan suruh kau rasakan betapa enaknya berlari-lari bagaikan anjing, lihatlah!"

Cahaya pedang berkilauan di angkasa, bayangan senjata yang tajam dan rapat segera membabat tubuh Hoa Pek Tuo dengan kecepatan luar biasa.

Hoa Pek Tuo terkejut melihat datangnya ancaman yang begitu hebatnya, cepat-cepat ia berkelit ke samping, telapak kanannya berputar membentuk gerakan setengah busur di tengah udara kemudian menghantam tubuh lawannya dengan gencar.

Tercekat hati Pek In Hoei setelah mencium bau amis yang memancar keluar dari angin pukulan itu, segera teringat olehnya bahwa kakek tua she Hoa ini sedang berlatih ilmu pukulan beracun.

Tentu saja ia tak berani menghadapi datangnya serangan itu dengan keras lawan keras, buru-buru badannya bergeser ke samping, pedang saktinya berputar dan langsung menusuk ke arah iga lawan.

Creeet... Hoa Pek Tuo merasa desiran angin tajam menyerang tubuhnya, sebagian baju yang ia kenakan terbabat kutung jadi berkeping-keping, hal ini membuat hatinya tertegun.

Ia tak menyangka kalau kemajuan ilmu silat yang diperoleh Pek In Hoei sedemikian pesatnya, dalam terkejutnya ia membentak keras, secara beruntun empat buah serangan berantai dilancarkan ke muka.

Bayangan telapak berlapis-lapis bagaikan bukit, memaksa Pek In Hoei terpaksa harus mundur tujuh langkah ke belakang.

"Pek In Hoei, lepaskan senjatamu!" teriak Hoa Pek Tuo sambil tertawa dingin.

"Hmmm! Kau anggap gampang bagiku untuk melepaskan senjata? Kau terlalu pandang rendah diriku..."

Ia himpun segenap kekuatan tubuh yang dimilikinya ke dalam ujung pedang, sekilas cahaya tajam seketika menyelubungi sekeliling tubuhnya.

Hoa Pek Tuo bukan orang bodoh, dia adalah seorang jago yang bisa menilai barang, dari pantulan cahaya pedang yang memancar keluar dari senjata musuh, ia tahu bahwa kelihayan musuhnya telah mencapai pada taraf kesempurnaan.

Satu ingatan segera berkelebat dalam benaknya, tiba-tiba ia putar badan dan kabur ke dalam rumah.

"Hoa Pek Tuo, kau hendak lari ke mana?" bentak Pek In Hoei sambil mengejar ke dalam. "Bangsat she Pek, kita bertemu di dalam saja," sahut Hoa Pek Tuo seram. "Tapi kau mesti ingat, di dalam cuma ada jalan masuk tiada jalan keluar, kalian bakal menemui ajalnya di situ..."

Ia kerling sekejap ke arah Goan Toa Hong sekalian, kemudian mereka bersama-sama kabur ke dalam.

Menanti beberapa orang itu telah lenyap dari pandangan, Kong Yo Siok Peng baru menghembuskan napas lega, katanya :

"Aku benar-benar merasa amat kuatir, kalau bukan kau berhasil membuatnya lari, entah bagaimana akibatnya nanti."

"Apa yang kau temui hanya suatu permulaan belaka," jawab Pek In Hoei sambil geleng kepala. "Hoa Pek Tuo tidak mau menghadapi diriku tapi justru lari ke dalam, jelas dia telah mengatur satu rencana busuk. Siok Peng! Mari kita cari jejak ayah angkatmu, hati-hatilah mungkin Hoa Pek Tuo sudah melakukan sesuatu di atas tubuh ayahmu."

Bangunan rumah yang terbentang di hadapan mereka terasa gelap lagi lembab, meskipun sang surya telah muncul tapi keadaan di situ seakan-akan suatu dunia yang lain.

Ia gandeng tangan Kong Yo Siok Peng secara halus, sedang tangan lain dengan pedang terhunus selangkah demi selangkah berjalan masuk ke dalam.

Kong Yo Siok Peng merasa hatinya jadi hangat, bau pria yang tajam melayang masuk ke dalam penciumannya membuat wajah berubah jadi merah, rasa yang menyelimuti wajah yang cantik, sementara jantungnya berdebar keras, ia rebahkan diri dalam pelukan Pek In Hoei dan menikmati kemesraan itu dengan mata terpejam.

Pek In Hoei sendiri pun merasakan sesuatu perasaan yang sangat aneh, dengusan napas yang harum merangsang pikirannya, tanpa sadar dia peluk tubuh Kong Yo Siok Peng erat-erat, napasnya terasa semakin berat seakan-akan ada sesuatu benda yang menindih tubuh mereka. "In Hoei!" bisik Kong Yo Siok Peng dengan suara lirih, begitu hangat dan mesra panggilan itu membuat mereka lupa akan napsu membunuh yang baru saja menyelimuti sekeliling mereka.

"Ehmmm..." jawab Jago Pedang Berdarah Dingin dengan napas berat.

"Siok Peng, apa yang hendak kau ucapkan?"

"Aku..." getaran keras yang terpancar dari mata lawan jenisnya memaksa gadis itu harus menunduk dengan wajah tersipu-sipu.

Apa yang hendak dia katakan tidak dilanjutkan oleh gadis itu, hanya tubuhnya menempel semakin rapat di dada lawan.

"Apa yang hendak kau ucapkan kepadaku? Katakanlah..." bisik Pek In Hoei sambil tertawa ewa.

Hampir saja Kong Yo Siok Peng menyembunyikan diri saking malunya, buru-buru ia berseru :

"Jangan kau tanyakan lagi... jangan kau tanyakan lagi..."

Dari sudut ruangan yang gelap mendadak berkelebat seberkas cahaya lampu yang bergoyang, hanya sekilas saja untuk kemudian lenyap tak berbekas...

Pek In Hoei meloncat ke depan, pedangnya berkelebat di tengah udara dan langsung menusuk ke arah dinding kayu yang menghalangi pemandangan luar dengan keadaan di dalam.

"Aduuuh..." jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang keluar dari balik dinding kayu, Pek In Hoei tertawa dingin, dengan ilmu pukulannya yang ampuh dia hantam dinding tebal itu sehingga ambrol dan terwujud sebuah lubang besar.

Dari balik dinding yang ambruk terlihat sesosok mayat terpantek di atas dinding, darah kental mengalir keluar membasahi seluruh lantai, dadanya telah berlubang tertembus ujung pedang penghancur sang surya yang tajam.

Kematian yang mengerikan, wajah yang ketakutan tertera jelas di atas raut muka pria itu membuat Kong Yo Siok Peng yang berada di sisi pemuda itu menjerit keras karena ketakutan. "Toooong...! tuuuung...!"

Suara gendang yang berat bergeletar dari balik bangunan rumah yang gelap, suara tadi sayup-sayup sampai untuk kemudian lenyap kembali tak berbekas.

Dalam sekejap mata seluruh ruangan telah dipenuhi oleh suara langkah kaki yang berat, tampak dua baris pria bersenjata lengkap perlahan-lahan munculkan diri dari balik dua pintu rahasia di sisi ruangan tersebut, Goan Toa Hong sambil membawa sebuah panji kecil selangkah demi selangkah mendekati ke arah pemuda Pek In Hoei.

"Pek sauhiap, Hoa Lo sianseng mengundang kau masuk ke dalam," ujar orang she Goan itu dengan suara dingin.

Jago Pedang Berdarah Dingin agak tertegun, ia tidak mengira Hoa Pek Tuo bakal melakukan tindakan tersebut, wajahnya segera berubah jadi amat serius, dengan pandangan berkilat tegurnya :

"Sekarang dia berada di mana?"

"Hoa Lo sianseng menantikan kedatanganmu di istana bawah tanah, silahkan sauhiap..."

Tidak sampai menyelesaikan kata-katanya ia putar badan dan berlalu lebih dahulu, sedangkan dua baris pria berbaju hitam tadi segera mengepit Pek In Hoei serta Kong Yo Siok Peng di tengah kepungan, dalam suatu pertanda yang diberikan Goan Toa Hong berangkatlah mereka menuju ke depan.

Bagian 33

BAU busuk dan hawa lembab berhembus keluar memuakkan dada siapa pun yang mencium, Pek In Hoei berdua di bawah pimpinan Goan Toa Hong telah memasuki sebuah goa bawah tanah yang amat dingin.

Anak tangga dibuat dari batu, dibangun sangat teratur jauh menjorok ke dalam, sekali lagi Goan Toa Hong ulapkan tangannya, pria pelindung yang berjalan di kedua belah sisi secara tiba-tiba membalikkan tubuhnya dan segera menyumbat pintu masuk lorong tersebut.

'Istana bawah tana'"

Tiga buah huruf besar itu terasa amat menyolok mata, di bawah sorot cahaya lampu, Pek In Hoei tertawa dingin, dengan wajah yang tetap tenang ia lanjutkan langkahnya menuju ke arah dalam, sebaliknya Kong Yo Siok Peng telah dibikin ketakutan sehingga air mukanya berubah jadi pucat pias bagaikan mayat.

"Hoa Lo sianseng berada di dalam, silahkan masuk ke situ!" ujar Goan Toa Hong tiba-tiba sambil menuding sebuah pintu batu.

"Temanilah aku masuk ke dalam," kata Pek In Hoei dingin, "Sahabat, masa kau telah melupakan hubungan persahabatan di antara kita berdua? Ayoh jalan!"

Diiringi suara tertawa dingin, pedang saktinya segera diayun ke arah dada lawan.

Air muka Goan Toa Hong berubah hebat. "Ini... ini..."

Tapi setelah merasakan bahwa ujung pedang lawan telah menempel di atas punggungnya, dengan perasaaan apa boleh buat ia dorong pintu batu itu dan masuk ke dalam dengan langkah lebar.

"Sreeeet... sekilas cahaya putih meluncur keluar dari balik pintu, Goan Toa Hong menjerit lengking dengan suara yang mengerikan, tahu-tahu badannya sudah termakan oleh timpukan pisau belati dan roboh binasa seketika itu juga.

Dengan penuh kegusaran Pek In Hoei tertawa lantang, ia dorong mayat Goan Toa Hong ke samping lalu dengan gerakan tubuh yang amat cepat ia menyusup masuk ke dalam gua.

Hoa Pek Tuo dengan menggunakan sebuah jubah panjang sambil menggoyangkan kipasnya duduk menyeramkan di atas pembaringan. Ketika menyaksikan Pek In Hoei menerobos masuk ke dalam ruangan, ia segera tertawa terbahak-bahak, serunya : "Nasibmu memang terlalu bagus dan usiamu memang diberkahi umur panjang, tak kunyana yang modar ternyata bukan kau!"

"Hmmm! Tempat ini sungguh indah sekali, aku rasa suatu tempat yang paling cocok bagimu untuk beristirahat untuk selama-lamanya!" ejek Pek In Hoei dengan suara dingin.

"Hmmm... hmmm... perkataanmu keliru besar, istana bawah tanahku ini hanya memperkenankan orang masuk ke dalam, selamanya belum ada yang bisa keluar dalam keadaan hidup. Sekarang kau telah berada di sini, itu berarti untuk selama-lamanya kau tak akan berhasil keluar dari tempat ini dalam keadaan selamat!"

Pek In Hoei segera segera tertawa dingin.

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... bagaimana dengan kau sendiri? Apakah kau pun tidak ingin keluar dari tempat ini dalam keadaan hidup?"

"Haaaah... haaaah... haaaah... saudaraku, kau benar-benar bagaikan si setan gantung yang melihat hong swie," seru Hoa Pek Tuo sambil tertawa terbahak-bahak, "Sebelum mati kau juga ingin mencari teman... hmm... hm... sahabat, rembulan di tengah kegelapan kurang sedap dipandang, ucapanmu itu terlalu jauh..."

"Bangsat tua, memandang tampangmu yang begitu jelek seperti kera, aku lihat kau lebih cocok jadi seorang kuli kasaran."

Perkataan ini mengandung nada penghinaan yang amat tebal, seketika itu juga Hoa Pek Tuo naik pitam, saking gusarnya rambut dan jenggotnya pada berdiri kaku semua, sambil berteriak keras tubuhnya loncat bangun dari atas pembaringan, serunya dengan penuh kebencian :

"Saudara, kalau bicara sedikitlah berhati-hati, hati-hati kalau ada geledek yang menyambar putus lidahmu..."

Menyaksikan jago lihay yang berhati licik itu sudah dibikin naik pitam oleh ejekan-ejekannya, Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei segera menggetarkan pedang penghancur sang surya-nya ke tengah udara dan menciptakan berkuntum-kuntum bunga yang amat tajam.

Dengan ketakutan Hoa Pek Tuo cepat-cepat meloncat mundur ke belakang, serunya berulang kali :

"Tunggu sebentar... tunggu sebentar... sekarang masih belum tiba saatnya untuk mencabut jiwa anjingmu."

"Kenapa? Apakah kau masih ada pesan-pesan terakhir yang kau tinggalkan?" ejek Pek In Hoei dengan suara ketus.

"Ketika menghadapi para jago lihay di wilayah selatan tempo dulu, kegagahanmu betul-betul mengagumkan," kata Hoa Pek Tuo dengan sikap yang amat misterius, "banyak sekali sahabat dari angkatan muda yang berharap bisa berjumpa muka dengan dirimu, oleh sebab itulah sebelum kita berdua menyelesaikan urusan pribadi yang sudah terikat antara kita berdua, terlebih dahulu aku ingin memperkenalkan beberapa orang sahabat kepadamu..."

"Hmm! Jadi kau telah mengundang bala bantuan? Kenapa tidak kau undang keluar?"

"Haaaah... haaaah... haaaah... " dari sisi sebelah kiri tiba-tiba berkumandang keluar suara gelak tertawa yang menyeramkan, disusul dari balik pintu muncullah seorang pemuda berbaju biru.

"Dia adalah kongcu berbaju biru Lu Kiat!" ujar h pt memperkenalkan.

Diam-diam Pek In Hoei merasa terperanjat, ia tidak menyangka kalau kongcu berbaju biru yang nama besarnya telah menggetarkan wilayah sebelah selatan sungai Huang-hoo itu tidak lebih adalah seorang jago yang masih muda, hatinya tercekat. Segera serunya :

"Selamat berjumpa... selamat berjumpa..." "Terima kasih!" sahut Lu Kiat ketus.

Kembali Hoa Pek Tuo menuding ke arah belakang sambil berseru "Dan yang ini adalah si golok kilat Bu-san!"

Seorang hweshio berkepala gundul dengan langkah lebar munculkan diri dari balik pintu, di tangannya membawa sebuah golok Kui-tau-to yang amat besar, pada punggung golok tergantung beberapa rantai gelang besi, setiap langkah kakinya segera menggetarkan gelang besi itu hingga berbunyi gemerincingan.

Waktu itu dengan sorot mata memancarkan napsu membunuh dan senyum mengejek menghiasi bibirnya ia memandang ke arah Pek In Hoei dengan sikap sombong.

Menjumpai hweshio gundul itu dalam hati Jago Pedang Berdarah Dingin segera berpikir :

"Golok kilat Bu Sam adalah murid murtad dari gereja Siau-lim- si, setelah diusir dari perguruan ia seringkali berbuat kejahatan, bukan saja membunuh bahkan seringkali memperkosa anak istri orang, banyak kejahatan yang ia telah lakukan. Sungguh tak nyana Hoa Pek Tuo telah mengumpulkan pula manusia semacam ini sebagai pembantunya. Hmm! Bila sampai terjadi pertarungan nanti, pertama- tama aku harus berusaha keras untuk melenyapkan padri bengis ini terlebih dahulu..."

Berpikir demikian, ia lantas berkata dengan dingin :

"Masih ada siapa lagi? Kenapa tidak sekalian kau undang keluar?"

Golok kilat Bu Sam yang menjumpai Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei sama sekali tak pandang sebelah mata pun terhadap dirinya, napsu membunuh dan watak bengisnya segera muncul, dengan suara seram serunya :

"Belum pernah toaya mu Bu Sam menjumpai manusia angkuh dan takabur semacam ini. Hmm... hmm... Hoa Lo sianseng, buat apa kau biarkan manusia semacam ini tetap hidup di kolong langit? Biarlah ia rasain dahulu sebuah bacokanku!"

Sementara ia siap hendak turun tangan, tiba-tiba Hoa Pek Tuo mendekati hweshio itu lalu membisikkan sesuatu ke sisi telinganya, meskipun kemudian Bu Sam menunjukkan sikap kurang senang namun secara suka rela ia mundur pula ke belakang. Pek In Hoei berlagak tidak melihat akan semua gerak-gerik itu, dengan sombong ia berdiri kaku di tempat semula.

Dalam pada itu Hoa Pek Tuo telah menepuk kembali tangannya, seorang pemuda berdandan Mongol dengan mata yang sipit sekali berlari keluar dari balik pintu, senyuman mengejek menghiasi bibirnya.

"Dia adalah Korlea, jago pedang nomor wahid dari wilayah Mongolia!" seru Hoa Pek Tuo dengan nada bangga.

"Hmmm... hmmm... mana, mana," kata Korlea.

Dalam hati Pek In Hoei terperanjat juga setelah mengetahui begitu banyak jago lihay yang bermuncul di situ, dengan ali berkerut dan nada dingin ejeknya :

"Hmm! Sungguh tidak sedikit pembantu yang kau undang datang!"

"Saudaraku, hanya kau seorang yang mampu mengangkat nama besarmu hingga mencapai puncak yang tertinggi hanya dua tiga tahun sejak kemunculan pertama di dalam rimba persilatan, keadaanmu ini membuat banyak orang merasa sedih hati, bila kami biarkan kau hidup terus di kolong langit maka bagi kita angkatan yang lebih tua jadi sulit untuk berkelana lagi di dalam dunia persilatan. Oleh karena itulah aku harap saudara bisa tahu diri dan cepat-cepat mengundurkan diri."

"Hmm!" Pek In Hoei mendengus dingin, "buat apa kau mengucapkan kata-kata yang begitu manis didengar? Terus terang saja katakan maksud tujuanmu, aku Jago Pedang Berdarah Dingin bukan satu dua hari berkecimpung di dal dunia persilatan, semua tipu muslihatmu itu telah kuketahui semua."

"Hoa heng, kenapa sih kau masih punya kegembiraan untuk jual bacot dengan monyet kecil yang masih bau tetek itu," teriak golok kilat Bu Sam sembari ayunkan senjatanya, "Aku lihat lebih baik kita tak usah buang banyak waktu lagi, biarlah kuhadiahkan sebuah bacokan manis ke atas tubuhnya." Lu Kiat melirik sekejap ke arah golok Kilat Bu Sam dengan pandangan menghina, agaknya pemuda baju biru itu menaruh rasa muak dan benci terhadap padri murid murtad dari gereja Siau-lim-si itu.

Kepada Pek In Hoei ia tertawa hambar dan menegur :

"Saudara, benarkah sewaktu berada di wilayah selatan tempo dulu, kau telah mengatakan kata-kata sesumbar?"

"Perkataan apa?" tanya pemuda itu melengak.

"Kau pernah kata bahwa dengan pedang sakti di tangan, kau hendak taklukkan semua jago yang ada di kolong langit, benarkah kau pernah berkata begitu?"