Imam Tanpa Bayangan I Jilid 30

 
Jilid 30

RUPANYA manusia buta ini adalah seorang lelaki dengan jiwa panas, berhubung Si Bu Mo pernah menyelamatkan jiwanya maka ia rela berkorban demi tuan penolongnya ini, apalagi setelah sepasang matanya menjadi buta, ia makin segan hidup di dalam kolong langit, ia merasa tiada berharga hidup dalam dunia kegelapan....

Sementara itu Loo Hian telah tertawa terbahak-bahak, serunya : "Baiklah, kalau memang kau mencari kematian buat diri sendiri

maka jangan sesalkan kalau aku berhati keji."

Sorot matanya melirik sekejap ke arah jago pedang berdarah dingin, kemudian tambahnya :

"Apakah kau bisa menyatakan pula pendirianmu?" "Hmmm! Pentingkah itu bagiku?" sahut Pek In Hoei ketus.

Sebagai seorang pemuda tinggi hati, ia merasa tidak terbiasa menyaksikan kesombongan serta kejumawaan Loo Hian ayah dan anak, karena itu tanpa ia sadari sikapnya telah berubah jadi dingin, ketus dan memandang amat rendah.

"Bocah cilik sialan!" maki Loo Hian, "kau seorang manusia yang tak tahu diri, wajahmu lebih bau dari kencing anjing buduk."

Tertegun hati Pek In Hoei mendengar makian dari Loo Hian, ia tak mengira kalau makian kakek tua itu demikian kotor dan rendahnya, hawa amarah segera berkobar, serunya dengan suara ketus.

"Tua bangka yang dungu dan takabur, aku Jago Pedang Berdarah Dingin paling memandang hina tua bangka tak tahu diri macam kau, jika kau ada kesenangan untuk unjuk kelihayan, aku akan layani keinginanmu itu sampai di mana pun juga!"

"Pek In Hoei...? Pek In Hoei..." gumam Loo Hian ulangi nama tersebut berulang kali, mendadak ia maju ke depan, tanyanya lebih lanjut :

"Jago Pedang Berdarah Dingin benarkah kau she Pek?"

"Heeei, apa maksudmu? Meskipun aku si jago pedang berdarah dingin bukan keturunan ningrat, tapi aku tak akan mencatut she orang lain, bila kau ingin mempermalukan aku orang she Pek, kunasehati dirimu lebih baik ukur dulu sampai dimana kekuatan yang kau miliki, coba takar dulu apakah kemampuanmu itu sanggup untuk menandingi aku."

"Hmmm ! Baiklah, aku akan bekerja menurut rencana semula," ujar Loo Hian kemudian, "akan kubereskan dulu manusia she Si itu, kemudian baru berurusan dengan kau orang she Pek, mumpung kita sudah saling bertemu, ada baiknya kalau urusan sekalian dibereskan!"

Lo Hong mengangguk tanda menyetujui, kepada Pek In Hoei serunya kemudian :

"Harap kau minggir dulu ke samping, setelah kami selesaikan urusan kami dengan orang she Si itu, persoalan keluarga Lo dan keluarga Pek baru kita bicarakan."

"Haaaa... haaa... haa... bagus... rupanya daganganku kian lama kian bertambah besar, sampai-sampai jago dari See-In pun tertarik kepadaku. Lo-heng kau tak perlu sungkan-sungkan, mau dagang berapa jauh pun akan kulayani terus keinginanmu itu."

"Hmm.... Hmm.... pandai sekali kau cari hubungan, dan pandai pula kau selami hati manusia, tunggu saja sampai nanti!"

Dalam pada itu In Pat Long serta Si Bu Mo merasa bergirang hati ketika menyaksikan jago pedang berdarah dingin ada ganjalan hati dengan Lo Hian ayah dan anak, si mata buta segera berseru dengan suara dalam: "Pek enghiong, keadaan kita bagaikan dua jembatan yang menghubungkan satu jalan, bagaimana kalau kita bekerja sama untuk menghadapi manusia she Lo itu?"

"Terima kasih In toa-ya," tukas Pek In Hoei ketus, "Aku tiada kegembiraan untuk berbuat demikian."

In Pat Long jadi sedih, tapi di luar ia berkata dengan nada gusar: "Manusia bodoh, kalau kau merasa punya kehebatan untuk

menanggulangi mereka secara sendirian, terserahlah."

Sementara itu Lo Hian sudah tertawa dingin, melihat kelicikan In Pat Long hendak mengajak Pek In Hoei bekerja sama, napsu membunuh segera menyelimuti seluruh wajahnya, sorot mata yang tajam menatap wajah orang buta itu tak berkedip, kemudian ejeknya sinis :

"Mata buta, perhitunganmu kali ini salah besar!"

Dengan gesit dia maju tiga langkah ke depan, telapaknya langsung berkelebat mencakar tubuh orang she In tersebut.

Walaupun sepasang matanya buta, pendengaran In Pat Long tidak kalah tajamnya dengan penglihatan manusia biasa, dengan cepat tubuhnya bergeser lima depa ke samping telapaknya laksana kilat bekerja balas membabat dada Lo Hian."

"Bangsat, kau cari modar!" bentak Lo Hian gusar.

Tiba-tiba telapaknya dibalik ke atas segulung tenaga kekuatan yang maha dahsyat memancar keluar dari tubuhnya, terhadap datangnya ancaman musuh ia sama sekali tidak menggubris.

Blaaaam.... ! dua gulung tenaga pukulan saling membentur satu sama lainnya menimbulkan suara ledakan yang sangat dahsyat, pasir debu beterbangan di angkasa, daun ranting berguguran ke tanah. Pada saat yang bersamaan sepasang tubuh manusia saling berpisah ke belakang.

In Pat Long merasakan lengannya jadi kaku wajahnya berkerut kencang dan dadanya naik turun tersengkal-sengkal, dengan kesakitan ia merintih. "Manusia she Lo kau jangan mendesak orang keterlaluan... " teriaknya.

Jago lihay kalangan Hek-to yang berasal dari wilayah See Ih ini meski tidak memiliki ilmu silat yang lihay, tapi rasa setia kawannya amat besar. setelah menyadari bahwa ilmu silat yang dimiliki Loo Hian jauh lebih tinggi beberapa kali lipat daripada dirinya sendiri, bukan saja ia tidak menjadi putus asa, malahan semangat bertempurnya semakin berkobar.

Ia semakin bertekad untuk menahan serangan maut musuhnya ini demi keselamatan Si Bu Mo.

Begitu badannya tergetar mundur ke belakang ia segera menerjang kembali ke depan, dalam waktu singkat tujuh buah serangan berantai dan tiga buah tendangan kilat telah dilancarkan.

Lo Hian memang lihay, ia tidak gentar menghadapi serangan tersebut, dalam satu gerakan yang enteng dan manis tahu-tahu seluruh serangan lawan berhasil dipunahkan semua.

Dengan kejadian ini, hawa amarah dalam dada kakek tua itu segera berkobar, serangan-serangan balasan yang dilancarkan semuanya merupakan jurus-jurus mematikan, hal ini membuat In Pat Long keteter hebat dan terjerumus dalam posisi yang sangat berbahaya, keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.

Si Bu Mo menyaksikan jalannya pertarungan dari sisi kalangan jadi teramat gelisah dari situasi yang terbentang di hadapan nya ia semakin sadar bahwa kepandaian silatnya masih bukan tandingan lawan, walaupun demikian setelah sahabat karibnya In Pat Long terancam bahaya, bagaimanapun juga ia harus turun tangan.

Sambil membentak keras ia menerjang ke depan, sambil melancarkan sebuah babatan teriaknya:

"Lo Hian! Bukankah aku yang sedang kau cari? Ada urusan bereskan saja dengan diriku pribadi!" Begitu merasakan datangnya desiran angin tajam yang menghantam punggung, Lo Hian segera mengetahui bahwa Si Bu Mo telah turun tangan, ia segera tertawa terbahak-bahak, telapaknya laksana kilat berputar balas mengirim satu pukulan.

"Ucapanmu memang tepat sekali," serunya sambil tertawa dingin, "Si-enghiong, kalau kau merasa seorang lelaki memang sudah sepantasnya kalau urusan di antara kita diselesaikan oleh kita sendiri, bila sampai teman pun terseret dalam persoalan ini, keadaan memang kurang nyaman "

"Si heng, kau jangan urusi diriku" teriak In Pat Long pula dengan napas tersengkal-sengkal, "Aku hendak beradu jiwa lebih dulu dengan dengan bajingan ini "

"Maksud baik In-heng biarlah aku terima dalam hati," kata Si Bu Mo sedih. "Aku tidak ingin kau menderita karena urusanku, apalagi seandainya kau sampai terjadi suatu kecelakaan, bagaimana tanggung jawabku terhadap keluarga In yang lain??"

Ia berhenti sebentar, kemudian sambil menatap wajah Lo Hian berdua dengan sorot mata yang tajam bagaikan pisau belati, serunya kembali:

"Apakah kalian berdua dapat mengabulkan sebuah permintaanku??"

"Katakan dulu apakah permintaanmu itu, kalau kami merasa cocok tentu saja aku orang she Lo akan mengabulkan permintaanmu itu "

"Bagus! Kau orang she Lo memang seorang lelaki sejati," seru Si Bu Mo sambil acungkan jempolnya.

"Hmmm... turun temurun keluarga Lo kami belum ada seorang manusia pun yang melupakan budi, apalagi membalas air susu dengan air tuba, bila seseorang pernah melepaskan budi maka kami sekeluarga akan menghormati dirinya, tapi sebaliknya bila ada orang mengingkari janji maka kami orang she Lo akan berdaya upaya untuk membasmi manusia terkutuk itu " Pada saat saat itu Si Bu Mo sudah bulatkan tekad untuk menghadapi persoalan itu seorang diri, terhadap sindiran yang diucapkan Lo Hian ia sama sekali tidak ambil peduli, sambil melirik sekejap ke arah si buta In Pat Long ujarnya:

"Saudara In sama sekali tiada hubungan atau pun sangkut pautnya dengan persoalan ini aku harap kalian berdua suka melepaskan dirinya dalam keadaan hidup dan jangan menyusahkan dia lagi. Hanya ini saja permintaan dari aku orang she Si, harap kalian suka mengabulkan!"

"Haaaah... haaaah... haaaah... itu sih satu urusan kecil, sedari tadi aku memang tiada maksud untuk mencabut jiwanya. Bukan aku aku orang she Lo omong besar, seandainya dalam hatiku sudah ada niat membunuh, jangan dibilang jiwanya cuma selembar, sekalipun ada serep rangkap tiga juga akan habis semua di tanganku!"

Perkataan ini cukup jelas artinya, ia maksudkan bila dirinya ada maksud membunuh, maka sejak tadi In Pat Long sudah roboh binasa. Si mata buta jadi naik pitam mendengar perkataan itu, teriaknya:

"Si toako, aku tak sudi menyerah kepada orang itu dan kau pun tak usah mintakan ampun bagiku !"

"Aku tidak mintakan ampun bagimu, aku cuma tidak ingin menyaksikan kau berkorban tanpa sebab!"

Hubungannya dengan orang buta ini bukan berlangsung baru setahun dua tahun saja, ia tahu tabiat sahabatnya ini keras kepala, karena itu bersamaan dengan selesainya perkataan tadi, pedangnya sudah digetarkan ke muka.

"Sekarang kita boleh selesaikan urusan pribadi kita berdua..." katanya.

"Haaaaa... haaaah... haaaaah... bagus sekali, Si Bu Mo! Selama berada di dalam dunia persilatan kau pun terhitung seorang pria sejati, aku orang she Lo pernah menolong dirimu, siapa tahu kau balas air susu dengan air tuba, secara diam-diam kau curi belajar ilmu rahasia keluarga kami Hwee Gan ci. Karena peristiwa itu aku jadi malu menghadapi leluhurku, maka sebuah jari tangan kananku kupotong dan aku bersumpah tak akan berlatih ilmu Jari itu lagi sekalipun putraku aku pun melarang dia berlatih ilmu kepandaian itu lagi, tahukah kenapa sebabnya aku berbuat demikian?"

"Aku tidak tahu!" jawab Si Bu Mo dengan suara gemetar.

Lo Hian acungkan tangan kanannya di mana sebuah jari tangannya telah lenyap, dengan suara pedih serunya kembali :

"Lihatlah! Inilah hasil karyamu."

"Urusan itu tokh sudah lama berlalu, apa gunanya diungkap kembali? Lebih baik kita selesaikan persoalan ini dalam ilmu silat saja!"

"Tidak bisa, masih ada beberapa urusan aku hendak selesaikan dulu secara jelas!"

Orang tua yang berwajah murung ini seakan-akan sedang membayangkan kembali satu persoalan, air mukanya berubah menjadi mat sedih, lama sekali ia pandang wajah orang she Si itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Urusan apa lagi yang kau hendak selesaikan?" seru Si Bu Mo ketus. "Asal aku tahu semua penjelasan pasti akan kuberitahukan kepadamu! Ayoh cepat mulai bertanya..."

Lo Hian tertawa dingin.

"Setelah kau curi belajar ilmu jari Hwee Gan Ci tersebut, pernahkah gunakan di dalam wilayah See Ih?"

"Tidak pernah!" sahut Si Bu Mo dengan wajah berubah hebat. "Omong kosong!" bentak Lo Hian dengan napsu membunuh

menyelimuti seluruh wajahnya, sepasang mata yang tajam bagaikan dua bilah pisau belati menatap wajah Si Bu Mo tanpa berkedip membuat orang itu mundur dua langkah ke belakang dengan wajah ketakutan.

"Manusia she Si!" teriak Lo Hian kembali setelah merandek sebentar, "Benarkah ucapan itu muncul dari hati sanubarimu? Dahulu aku tak pernah mengikat tali permusuhan dengan dirimu, dan sekarang aku pun tak pernah mengikat persengketaan dengan kau, walaupun tiada hubungan yang erat di antara kita berdua, tapi terhitung kita pernah saling kenal satu sama lainnya. Aku tidak mengerti apa sebabnya kau gunakan ilmu jari Hwee Gan Ci itu satu malam sebelum kau tinggalkan wilayah See Ih? Tahukah kau lantaran peristiwa berdarah tadi, orang Bu lim menuduh aku orang she Lo lah yang telah melakukan perbuatan terkutuk ini?"

"Kau dengar peristiwa ini dari siapa?" bisik Si Bu Mo dengan wajah pucat pias.

"Hmmm! Kau sendiri yang melakukan seharusnya kau mengerti sendiri benar atau tidak pernah terjadi peristiwa semacam ini, aku orang she Lo tidak akan ambil peduli seandainya kau gunakan ilmu jari itu untuk menghadapi orang lain, tapi kau... kau betul-betul kejam, orang yang kau bunuh dengan ilmu tersebut justru adalah para penderma yang paling tersohor di kolong langit, si malaikat welas kasih Kong yo san dari See Ih, malaikat berwajah dingin berhati Budha Liok Ing Cu serta Sim Kiauw si nenek susah, bila mereka mengerti ilmu silat itu masih mendingan, tahukah kau bahwa ke-tiga orang penderma yang suka menolong manusia itu sama sekali tidak tahu ilmu silat? Dengan ilmu jari Hwee Gan Ci keluargaku, kau bunuh tiga orang dermawan, karena peristiwa itu hampir saja aku bentrok dengan kawan-kawan Bu lim..."

Dengan sedih ia menghela napas panjang, terusnya :

"Untung aku masih mempunyai beberapa orang sahabat Bu lim yang masih suka mempercayai diriku, setelah aku memberi penjelasan dan alasan yang kuat akhirnya persoalan ini bisa diselesaikan. Meskipun demikian aku sudah tak punya muka untuk muncul kembali di dalam dunia persilatan, di hadapan para jago aku pernah bersumpah akan mengorek keluar jantungmu, kemudian kugunakan isi perutmu untuk bersembahyang di depan kuburan ke- tiga orang dermawan itu..."

Sepasang matanya melotot besar, teriaknya : "Ayo jawab, mengapa kau bunuh mereka bertiga?" "Aku..."

Untuk beberapa saat lamanya ia tak sanggup melanjutkan perkataan itu, wajahnya gugup dan matanya terbelalak lebar.

"Si heng!" terdengar In Pat Long berseru keras, "Benarkah ke- tiga orang dermawan itu mati di tanganmu?"

Si Bu Mo mengangguk.

"Aku silaf... yaah... aku mengaku salah... aku tak pernah menduga kalau aku telah melakukan perbuatan gila semacam itu."

"Si Bu Mo!" In Pat Long berteriak kembali dengan gusar, "Kalau orang lain yang kau bunuh, aku tidak akan ambil peduli, tapi ke-tiga orang dermawan itu tidak seharusnya kau bunuh. Coba bayangkan sendiri, bila kawan-kawan Bu lim ada yang kesusahan, tanpa buka suara mereka bertiga pasti akan berusaha keras untuk memberi bantuan, mau berapa diberi berapa, bahkan sampai aku pun berhutang budi kepadanya... Si Bu Mo! Kau bisa membunuh mereka bertiga menandakan kalau otakmu sudah tidak waras... mungkin kau sudah edan dan tidak beres otaknya... kau benar-benar bukan seorang manusia..."

Si Bu Mo yang dimaki cuma bisa menunduk dengan mulut membungkam, ia tahu sejak detik ini tiada harapan baginya untuk hidup tenang dalam wilayah See Ih lagi, terutama setelah semua orang Bu lim tahu bahwa dialah yang membunuh ke-tiga orang dermawan itu.

In Pat Long adalah seorang pria berdarah panas, setelah mengetahui rekannya sebagai pembunuh ke-tiga orang dermawan tersebut, hawa gusarnya segera berkobar, ia tuding hidung Si Bu Mo sambil makinya kalang kabut :

"Kau telur busuk anak jadah... kau harus mati... dulu aku masih mengira kau sebagai lelaki sejati, karena itu jauh-jauh dari ribuan li aku datang kemari untuk menyampaikan kabar kepadamu, siapa tahu kau adalah bajingan terkutuk di kolong langit, kau adalah manusia rendah berwajah manusia berhati srigala, kau pengecut dan kejam... manusia she Si... aku benci kepadamu dan mulai detik ini akan membenci dirimu hingga akhir zaman, hubungan kita hanya sampai di sini saja, mulai sekarang kita sudah tak ada hubungan lagi, aku tak sudi bertemu dengan manusia semacam kau..."

Jago berhati kasar ini tak bisa menahan emosinya lebih jauh, selesai berkata tanpa menoleh dia lantas putar badan dan lari menuju ke dalam hutan.

Si Bu Mo tertegun, lalu teriaknya keras-keras : "In-heng, tunggu sebentar..."

"Hmm!" Lo Hong mendengus dingin, meskipun tabiat orang itu berangasan dan keras, ia belum kehilangan sifat jantannya, kau bisa berhubungan dengan seorang sahabat yang begitu setia kawan hal ini merupakan suatu rejeki bagimu... kau boleh mati dengan hati lega..." "Kentut busuk makmu..." jerit Si Bu Mo. "Lo Hong! Kau tiada hubungan dengan urusan ini, peduli amat hubunganku dengan In Pat Long... lebih baik tutup saja bacot anjingmu yang bau itu, tak usah

jual tampang tengik di hadapanku..."

Rupanya kebencian telah berkecamuk di seluruh benaknya, segera timbul niat untuk beradu jiwa dalam hati orang ini, dia tarik napas panjang-panjang, segenap kekuatannya dihimpun jadi satu lalu bentaknya keras-keras :

"Lo Hian! Ayoh kita mulai bertempur... selembar jiwa aku orang she Si berada di sini, kalau kau merasa punya kepandaian ayoh maju... jangan pentang bacot jual suara terus..."

"Bangsat! Kejahatan yang kau lakukan udah terlalu banyak," ujar Lo Hian dengan alis berkerut, "sampai sekarang pun sifatmu itu masih menyelimuti jiwamu, baiklah! Kalau memang kau tak kenal bertobat, bukan saja aku orang she Lo akan balaskan dendam kematian ke-tiga orang dermawan itu akan kubasmi pula bibit bencana bagi seluruh umat dunia..." "Kentut busuk nenekmu! Kalian ayah dan anak pun bukan manusia baik-baik..." teriak Si Bu Mo sambil ayun pedangnya.

Lo Hong yang berada di sisi kalangan tak dapat menahan sabar lagi, dengan wajah hijau membesi karena mendongkol serunya :

"Ayah, buat apa kita bersilat lidah lebih jauh dengannya? Terhadap manusia yang tak kenal budi seperti dia, lebih baik kita bunuh saja habis perkara..."

Lo Hian menggeleng.

"Tunggu sebentar, keluarga Lo kita turun temurun boleh dibilang tak pernah melakukan perbuatan yang memalukan, sekarang ia menuduh kita orang jahat, biarkan kita tunggu dulu apa yang hendak dikatakan olehnya..."

Dengan sorot mata yang tajam ia melotot ke arah Si Bu Mo, kemudian tanyanya :

"Si Bu Mo, begitu benci kau terhadap keluarga Lo kami, apakah dari keluarga kami pernah melakukan kesalahan terhadap dirimu? Meskipun aku hendak membunuh dirimu, asal kau bisa mengutarakan sebab-sebabnya mungkin aku bisa memberikan keadilan kepadamu..."

"Lo Hian, tahukah kau apa sebabnya timbul niatku untuk mencuri belajar ilmu Hwee Gan ci dari keluar kalian?" teriak Si Bu Mo penuh kebencian, "Kesemuanya ini bukan lain adalah hasil karya adikmu yang tersayang itu, ia meminjam nama besar serta kekuasaan keluarga Lo di wilayah See Ih memaksa engkohku Si Seng tak bisa tancapkan kaki lagi di situ, karena kejadian ini engkohku lantas mengadu kepadaku, aku tahu tiada harapan bagiku untuk menuntut balas, karena itu kucuri belajar ilmu silat kalian agar bisa digunakan menghadapi kalian berdua, sayang hasil latihanku belum memadai kehebatan yang berhasil kau capai..."

"Oooh... jadi Si Seng adalah engkohmu??" "Benar, meskipun engkohku tidak mempunyai nama baik di wilayah See Ih, tidak semestinya kalau kalian buru dirinya terus hingga tiada jalan lain kecuali mati di tengah gurun pasir!"

"Oooh... jadi karena urusan sekecil ini kau lantas merusak nama baikku dengan lakukan pembunuhan-pembunuhan sadis tersebut? Kenapa tidak kau selidiki dulu bagaimanakah perbuatan serta tabiat engkohmu semasa hidupnya? Tahukah kau bahwa engkohmu telah membunuh Sam Si kongcu sekeluarga hanya disebabkan sebutir batu permata? Tahukah kau bahwa dia sudah memperkosa istri Sam Si kongcu serta adik perempuannya? Coba bayangkan! Seandainya adikku mengetahui peristiwa ini, sukakah dia lepaskan dirinya dengan begitu saja? Sebagai seorang Bu lim kau tak boleh mendengar tuduhan dari sepihak saja, sebelum tahu duduk perkara yang sebenarnya tak usahlah menuduh orang lain dengan tuduhan yang bukan-bukan!"

Si Bu Mo tertegun mendengar ucapan itu, lama sekali ia baru berkata :

"Engkohku tidak pernah mengatakan bahwa dia sudah memperkosa istri Sam Si kongsu serta adik perempuannya!"

"Tentu saja ia tak mau mengakui kesalahannya di hadapanmu, tapi mengapa tidak kau selidiki tingkah lakunya selama berada di wilayah See Ih? Bila kau tinjau dari kejahatannya yang sudah tersohor, kau mesti bisa berpikir sampai ke situ..." seru Lo Hong.

"Si Bu Mo," ujar Lo Hian pula, "sekarang duduknya perkara sudah jelas, keadilan apa lagi yang kau inginkan dariku?"

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... " Si Bu Mo tertawa seram, "aku tak mau tahu bagaimana duduk perkara yang sebenarnya, aku hanya tahu membalaskan dendam bagi engkohku. Lo Hian! Serahkan jiwa anjingmu..." pedang tajamnya disertai kilatan cahaya yang menyilaukan mata segera membacok tubuh Lo Hian setelah membentuk gerakan lingkaran busur di depan dada. "Manusia yang tak tahu diri, kau benar-benar sudah bosan hidup?? bentak Lo Hian gusar.

Telapaknya berkelebat menembusi bayangan pedangnya yang rapat, segulung daya tekanan yang maha dahsyat segera menggulung keluar menghantam tubuh orang itu.

Bruuuk... Si Bu Mo menjerit kesakitan, tubuhnya mencelat ke tengah udara dan muntah darah segar, senjatanya terlepas dari cekalan.

"Kau... kau..." seru Si Bu Mo gemetar.

"Hmmm! Siapa berdosa dia harus terima hukumannya, jangan salahkan kalau aku berhati keji!"

"Lo Hian, jangan terlalu mendesak diriku, aku Si Bu Mo pasti akan membalas dendam sakit hati ini walaupun hal ini baru akan kulakukan setelah dua puluh tahun kemudian... Hmmm! Saat penitisanku kembali di dunia, berarti bagi kita untuk selesaikan hutang darah ini!"

Ia sambar pedang yang menggeletak di atas tanah lalu ditusuk ke atas dada sendiri, darah segar menyembur keluar bagaikan pancuran air, diiringi teriakan nyaring tubuhnya berkelejot dan menemui ajalnya.

"Ehmmm... ternyata kau masih patut disebut seorang pria sejati..." bisik Lo Hian dengan wajah murung.

Sinar matanya perlahan-lahan dialihkan ke atas wajah pin, lalu ujarnya :

"Sahabat Pek, mari kita cari tempat untuk baik-baik berbicara!" "Terserah, akan kuiringi kemana pun juga kau pergi..."

Derap kaki kuda berkumandang memecahkan kesunyian yang mencekam hutan tersebut, di atas permukaan tanah hanya tertinggal sebercak darah kental serta sesosok mayat yang tak bernapas lagi.

Ia adalah mayat dari Si Bu Mo yang mati sekarat di tangan sendiri.

******** Seekor burung rajawali terbang rendah dan hinggap di atas permukaan, dua sosok bayangan manusia loncat turun dari punggung burung itu.

Lo Hong menyapu sekejap sekeliling tempat itu, lalu bertanya : "Ayah, mungkinkah Jago Pedang Berdarah Dingin datang

memenuhi janji?"

Lo Hian tertawa dingin.

"Aku rasa bocah keparat itu tak nanti bisa meloloskan diri, kecepatan terbang rajawali kita nomor satu di kolong langit, aku percaya kita masih mampu mengejar dirinya. Hmm... Hong-jie, bagaimana kesanmu terhadap manusia yang menamakan dirinya Jago Pedang Berdarah Dingin ini?"

Bagian 32

LO HONG nampak tertegun, kemudian menjawab :

"Orang itu tinggi hati dan berwatak keras, ilmu silat yang dimilikinya luar biasa, kenapa sih ayah menanyakan soal ini?"

"Emm betul dia seorang pemuda berbakat baik, aku hanya tidak mengerti apa sebabnya ia dibiarkan berkelana seorang diri dalam dunia persilatan, kenapa ayahnya tidak suruh ia baik-baik mempelajari ajaran nabi..."

"Ayah kenapa kau suka urusi orang lain," tegur Lo Hong dengan alis berkerut. "Jago Pedang Berdarah Dingin adalah putra Pek Tiang Hong, mungkin saja sejenak lagi kita bakal bermusuhan, apa gunanya kita membicarakan tentang orang itu?"

"Hong ji, kau tak tahu rumitnya persoalan ini..."

"Urusan apa ayah?" tanya Lo Hong tercengang, "biasanya kau selalu terbuka, mengapa sikapmu pada malam ini aneh sekali? Bicara pun ragu-ragu..."

"Nak, aku hendak mengatakan sesuatu kepadamu, sebetulnya kau bukan putraku!" Sekujur badan Lo Hong gemetar keras, peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya, dengan hati terkejut ia berseru :

"Ayah, kau kenapa sih? Makin lama pembicaraanmu semakin melantur? Kalau aku bukan anakmu lantas anak siapa? Jangan bergurau ah, kalau sampai terdengar orang lain kita kan malu!"

"Nak, aku tidak melantur... kejadian sesungguhnya adalah demikian," ujar Lo Hian serius. "Kau betul-betul bukan keturunan dari keluarga Lo kami..."

Seakan-akan si orang tua ini menyadari sesuatu, mendadak perkataannya terhenti sampai di tengah jalan, dengan pandangan sedih ditatapnya pemuda di depan mata yang dididik dan dipelihara dengan susah payah itu, dia merasa dalam waktu yang singkat hubungan mereka berdua seakan-akan telah berpisah oleh suatu jurang yang amat dalam.

"Ayah!" seru Lo Hong kembali. "Mungkin kau mabuk... mungkin kau terlalu banyak minum tuak, kenapa sih pembicaraanmu melantur tak ada juntrungnya? Kalau ingin bergurau janganlah bergurau yang bukan-bukan... Ayah! Sejak masuk ke daratan Tionggoan, aku lihat pikiranmu mulai kabur... kau seperti kehilangan semangat, apa yang sebenarnya telah terjadi?"

"Aaah! Tak ada urusan... tak apa-apa..." sahut Lo Hian sambil menggeleng.

"Mungkin aku memang mabuk... mungkin aku sudah terlalu banyak minum arak sehingga omelanku tak karuan. Nah! Kau jangan marah dengan ucapanku yang tidak karuan tadi. Aaaai... setiap malam bulan purnama aku selalu ingat akan ibumu, sebab sewaktu dia menghembuskan napas yang terakhir tepat bulan sedang bersinar dengan terangnya... yaaah! Dalam keadaan sedih aku memang sering mengucapkan kata-kata yang konyol, maafkanlah diriku nak..."

"Ayah! Mengapa kau ucapkan kata-kata semacam itu? Masa aku bisa menyalahkan ayah? Cuma perkataanmu malam ini memang rada aneh, hal ini membuat aku jadi bingung dan tak habis mengerti." "Haaaah... haaaah... haaaah... "Lo Hian tertawa terbahak-bahak, dengan gelak tertawa tersebut ia berusaha menguasai rasa kikuk dan jengah yang menyelimuti dirinya, sambil berpaling memandang rembulan di angkasa ujarnya, "makin tua aku memang semakin konyol, apa yang telah kuucapkan pun tak kumengerti sendiri, mungkin pikiranku sudah sinting karena pengaruh arak..."

"Benar!" Lo Hong mengangguk, "Sejak memasuki daerah Tionggoan, baru pertama kali ini ayah minum arak begitu banyaknya, sampai-sampai si pemilik rumah makan pun sepanjang tahun belum pernah ia jumpai orang dengan takaran arak sedemikian besarnya..."

"Aaah...! Kalau cuma itu sih masih terlampau sedikit, di kala masih muda aku selalu minum sampai betul-betul mabuk, sebelum mabuk aku tak pernah berhenti minum, sampai-sampai jago minum arak yang begitu banyak terdapat di wilayah See Ih sama-sama kagum dan tunduk kepadaku, tapi sekarang... aaaai! Aku memang sudah tua dan tak berguna lagi..."

Plook... Plooook... Ploook... derap kaki kuda yang ramai berkumandang memecahkan kesunyian, kian lama suara itu kian mendekat.

Air muka Lo Hong berubah hebat, segera serunya : "Ayah, Jago Pedang Berdarah Dingin telah datang!"

Di bawah cahaya rembulan terlihatlah jago pedang berdarah dingin dengan jubahnya yang lebar, wajahnya yang tampan dan mata yang tajam bagaikan sepasang belati muncul dari balik kegelapan.

Lo Hian segera mendongak dan tertawa terbahak-bahak. "Haaaah... haaaah... haaaah... bagua! bagus! Ternyata kau datang

untuk memenuhi janji."

Pek In Hoei mendengus dingin, sambil melayang turun dari punggung kuda ia menjawab :

"Setelah diundang oleh cianpwee, tentu saja aku harus datang memenuhi janji." "Oooh! Kau malah berlaku sungkan terhadap diriku," kata Lo Hian agak tertegun, "walaupun usiaku telah lanjut tetapi aku tak berani membahasai diri sebagai cianpwee, apalagi berada di hadapan jago pedang nomor satu di daratan Tionggoan, aku tak berani berjual lagak."

"Kau terlalu merendahkan diri, entah ada urusan apa kalian undang kehadiranku kemari? Apakah kalian bisa segera menjelaskan?"

Lo Hong melirik sekejap ke arah ayahnya, lalu berkata : "Ayah, lebih baik kau saja yang mengatakan!"

Lo Hian mengangguk, air mukanya berubah membesi dengan suara dalam ia bertanya :

"Di antara keluarga Pek yang melakukan perjalanan di daratan Tionggoan, adakah seseorang yang bernama Pek Tiang Hong?"

Pek In Hoei terkejut tak mengira kalau orang yang dicari Lo Hian berdua adalah ayah sendiri, rasa curiga segera berkelebat memenuhi benaknya.

"Dia adalah ayahku!" ia menyahut dengan hormat.

Jawaban itu seketika itu juga menyedihkan wajah Lo Hian, sampai Lo Hong yang bersikap dingin pun berubah hebat, pemandangan semacam ini semakin mencengangkan hati Pek In Hoei, pikirnya dalam hati :

"Ada urusan apa mereka cari ayahku?"

"Sekarang di berada di mana?" terdengar Lo Hian bertanya kembali.

"Katakan dulu sikapmu yang sebetulnya, ada urusan apa kau cari ayahku? Kalau aku merasa penting untuk memberitahukan kepadamu, aku pasti akan mengatakan sebenarnya!"

"Persoalan ini tak bisa ditanggulangi olehmu, lebih baik undang keluar bapakmu!" ujar Lo Hong ketus.

Pek In Hoei jadi tak senang hati, ia tertawa dingin. "Kalau ayahku ada hutang, aku sebagai putranya wajib untuk memikul hutang tersebut, bila ayahku ada persoalan maka sedikitnya aku pun bisa mengatasinya, kau tak usah memanasi hatiku dengan kata-kata, bila ada urusan, aku si Jago Pedang Berdarah Dingin pasti akan memberikan keputusan yang memuaskan hati."

"Perkataan anakku sedikit pun tidak salah," kata Lo Hian secara tiba-tiba sambil menghela napas sedih. "Urusan ini baru akan selesai bila ayahmu muncul sendiri, Pek sau-enghiong, kau tak akan mengerti rumitnya persoalan ini."

"Haaaah... haaaah... haaaah... seandainya ayahku tidak berada di sini, apakah kalian juga akan menemui dirinya?"

"Kurang ajar, wilayah See Ih dengan Tionggoan terpisah begitu jauh pun kami ayah dan anak bersusah payah datang kemari, sekalipun dia tak ada di sini, asal masih terbatas di wilayah Tionggoan, kami tentu akan menemukannya hingga dapat," seru Lo Hong dengan sangat gusar.

Pek In Hoei sendiri juga agak naik pitam melihat kekasaran lawannya, ia bergerak satu langkah ke depan lalu menjawab :

"Selamanya kau tak bakal temukan ayahku, dengan wataknya yang jelek dan perbuatanmu yang menjemukan, kau masih belum berhak untuk menjumpai ayahku!"

"Bangsat cilik, rupanya kekurangajaranmu persis seperti bapakmu tempo dulu," maki Lo Hong sangat marah, "Aku orang She Lo paling benci dengan manusia bangsa kurcaci semacam kau. Bila malam ini aku tak mampu memberi pelajaran kepadamu, aku bukanlah keturunan dari keluarga lo!"

Watak orang ini terlalu berangasan setelah kemarahannya meledak seluruh kesadaran otaknya tak terkondisikan lagi, bersambung dengan selesainya perkataan itu sang badan segera menerjang ke muka, telapak kanannya diayun melancarkan sebuah pukulan geledek. Segulung hawa pukulan yang sangat kuat memancar keluar dari balik telapak tangannya, inilah ilmu 'Sin Lo Ciang' suatu kepandaian yang paling ampuh di antara ilmu pukulan lain asal wilayah See Ih.

"Huuh! Keturunan keluarga Lo masih belum terhitung seberapa bagi orang-orang Tionggoan," maki Pek In Hoei pula tak kalah gusarnya, "Kalau kau ingin menggunakan nama besar keluarga Lo untuk menakut-nakuti orang Tionggoan, maka lebih baik bawalah semangatmu itu pulang ke negeri asalmu!"

Dari gerakan pukulan yang sangat aneh itu, ia menyadari bahwa pemuda she Lo itu pun seorang jago lihai, ia tak berani gegabah, diawasinya seluruh gerakan tersebut dengan seksama.

Menanti ujung telapak lawan sudah tinggal satu depa di depan tubuh, tubuhnya baru bereaksi, telapaknya dengan gerakan yang cepat dan ganas langsung membacok pergelangan musuh.

"Hong ji!" sementara itu terdengar Lo Hian telah menegur dengan suara dalam, "sebelum urusan dibikin jelas, siapa yang suruh kau turun tangan?"

Lo Hong jadi kaget, walaupun ia ada maksud menjajal kepandaian yang dimiliki si Jago Pedang Berdarah Dingin, tapi setelah ditegur oleh ayahnya ia tak berani membangkang.

Sambil loncat keluar dari kalangan ditatapnya wajah si anak muda itu dengan mata melotot.

"Tunggu saja nanti, kupuntir batang lehermu sampai patah!" teriaknya dengan geram.

"Hmmm! Kalau kau merasa mampu untuk berbuat begitu, setiap saat akan kulayani keinginanmu!"

Air muka Lo Hian berubah semakin seram ketika dilihatnya ke- dua orang itu tak mau saling mengalah, ia mendelik sekejap ke arah putranya lalu tarik napas panjang-panjang.

"Pek kongcu, benarkah ayahmu tak ada di sini?" ia bertanya. "Sudah kukatakan sedari tadi, ayahku tak ada di sini, ada urusan

apa sih kok ayahku harus tampil sendiri?" "Aaai...! Pek Tiang Hong mempunyai hubungan yang sangat dalam dengan keluarga Lo kami, bila ia tidak munculkan diri kembali maka ada kemungkinan besar para jago dari wilayah See Ih akan menyerbu daratan Tionggoan secara besar-besaran; Bila sampai terjadi begini maka ke-dua belah pihak tentu akan jatuh korban, seorang lelaki sejati berani berbuat dia harus berani menanggung, bila ayahmu tahu bahwa aku telah datang maka dia pasti akan munculkan diri untuk menemui diriku."

Jago Pedang Berdarah Dingin semakin tertegun, ia tak mengira kalau urusan begitu serius, tidak banyak yang ia ketahui mengenai urusan ayahnya dan ia tak tahu karena urusan apa ayahnya sampai bentrok dengan jago-jago dari See Ih tetapi setelah ayahnya meninggal ia merasa dialah yang harus bertanggung jawab atas semua perbuatan ayahnya, maka dengan wajah serius ujarnya :

"Dapatkah kau menerangkan lebih jauh mengenai urusan tersebut?"

Lo Hian termenung sejenak, kemudian mengangguk : "Baiklah," katanya, "lima belas tahun berselang, ayahmu Pek

Tiang Hong mendapat perintah dari jago pedang sakti Cia Ceng Gak untuk menjumpai manusia sakti Lei Hun Cin Kun, ia mendapat tugas untuk pelajari ilmu 'Lei Hun Sin Kang' yang maha sakti dari jago lihay itu. Lei Hun Cin Kun sebagai sahabat karib dari Cia Ceng Gak tentu saja bersedia memenuhi keinginannya itu."

"Pada malam berikutnya kepandaian tadi siap diwariskan kepada Pek Tiang Hong, tapi kebetulan sekali See Ih Sam Hong sedang berkunjung di rumah kediaman Lei Hun Cin Kun, mereka merasa keberatan bila ilmu silat aliran See Ih diwariskan orang asing bahkan dalam pembicaraan tadi memandang rendah ilmu silat aliran Tionggoan..."

Ia berhenti sejenak untuk mengenang kembali kenangan di masa lampau beberapa saat kemudian ia tarik napas panjang dan melanjutkan : "Pek Tiang Hong yang punya ambisi untuk menjagoi wilayah See Ih, tentu saja tak mau mengalah terhadap ucapan dari See Ih Sam Hong tadi, akhirnya ke-dua belah pihak saling bentrok dan bertempur. "Lei Hun Cin Kun ada maksud membantu Pek Tiang Hong, apa lacur dengan See Ih Sam Hong dia pun punya hubungan erat, dalam

keadaan begini ia cuma bisa berpeluk tangan belaka."

"Dalam pertarungan itu ptk unjukkan kelihayannya yang benar- benar hebat, ia tidak gentar menghadapi kerubutan tiga jago dari See Ih itu bahkan berhasil mengimbangi permainan musuh-musuhnya, hal ini bukan saja membuat Lei Hun Cin Kun merasa kagum, See Ih Sam Hong sendiri pun kagum dengan kehebatannya, lama kelamaan dalam malunya Sam Hong jadi gusar, mereka segera keluarkan ilmu Lian Kiam Hoat, suatu kepandaian maha sakti dari wilayah See Ih untuk menggempur musuhnya, dalam jurus ke-seratus lima puluh, Pek Tiang Hong keteter hebat dan terpaksa harus terjang keluar dari kepungan untuk melarikan diri..."

"Ayahku lari ke mana?" tanya Pek In Hoei terkejut.

"Ayahmu mengatakan hendak membalas dendam atas sakit hati tersebut, hal ini memancing napsu membunuh bagi tiga jago dari See Ih, walaupun mereka berjanji akan hidup damai di hadapan Lei Hun Cin Kun, tapi secara diam-diam ke-tiga orang itu melakukan pengejaran terus menerus, Pek Tiang Hong jadi terdesak hebat, suatu ketika dia telah lari masuk ke dalam perkampungan keluarga Lo kami."

"Aaah... Ayahku lari ke dalam rumahmu?" Lo Hian mengangguk.

"Saking gugupnya Pek Tiang Hong telah lari masuk ke dalam kamar seorang putri angkatku, ketika itu putriku sedang membaca buku di kamar, sewaktu melihat ada seorang pria yang berlumuran darah lari masuk ke dalam kamarnya, ia sangat terperanjat, Pek Tiang Hong sendiri pun tertegun, setelah menerangkan maksud kedatangannya ia minta tolong putriku untuk membantu dirinya lolos dari bencana..."

"Ayah! Kau mengatakan cici bukan anakmu??" seru Lo Hong. "Benar!" Lo Hian mengangguk, "Dia juga putri angkatku, jangan

lupa bahwa ibumu adalah seorang mandul yang tak bisa punya anak karena setiap hari murung dan tak senang hati, maka... aaaai!" ia menghela napas panjang sambil memandang wajah Pek In Hoei ujarnya kembali :

"Putriku adalah seorang perempuan yang dapat menyelami perasaan orang, dalam keadaan begini ia sembunyikan Pek Tiang Hong di bawah kolong ranjangnya, dengan demikian ayahmu pun berhasil loloskan diri dari pengejaran See Ih Sam Hong. Siapa tahu... aaaai! Kejadian itu pun muncul karena persoalan ini, ternyata putriku telah jatuh hati kepada ayahmu bahkan mengatakan hendak menyerahkan kesucian kepadanya, dalam keadaan begini Pek Tiang Hong jadi serba salah, akhirnya dia mengatakan bahwa dirinya telah berkeluarga..."

"Betul!" Pek In Hoei membenarkan. "Tindakan ayahku memang tepat sekali."

"Aaaai... sungguh kasihan putriku yang jatuh cinta kepadanya, saat itu dia mengatakan bahwa ia rela jadi istri mudanya, Pek Tiang Hong tak dapat menolak permintaannya dan terpaksa menyanggupi, atas prakarsaku maka mereka berdua kunikahkan bahkan kepada sism pun kukatakan bahwa Pek Tiang Hong adalah menantu keluarga Lo kami, karena memandang wajahku, sejak itu pula mereka tidak mencari balas terhadap diri ptk lagi."

"Jadi ayahku telah menerima tawaran itu?"

"Benar, di saat hari pernikahannya hampir seluruh orang ternama di wilayah See Ih telah diundang datang, siapa tahu pada detik yang terakhir tiba-tiba Pek Tiang Hong lenyap tak berbekas, kejadian ini membuat aku orang she Lo jadi malu dan ditertawakan oleh semua orang." Pek In Hoei tertegun, ia tak mengira kalau ayahnya bakal kabur di saat hari perkawinannya, dari air mata yang jatuh berlinang membasahi wajah Lo Hian, ia tahu bahwa kejengahan serta kerikuhan yang dihadapi orang she Lo pada waktu itu benar-benar susah diatasi. Ia menghela napas karena kasihan, tak sepatah kata pun sanggup diucapkan keluar kecuali memandang kakek itu dengan mata

mendelong.

Lo Hian menghela napas panjang, ujarnya kembali :

"Yang paling merasa sedih bukanlah aku melainkan putriku, setelah mengalami pukulan batin yang demikian berat ia jadi bodoh dan tak sadarkan diri, keesokan harinya ia jadi gila karena tak kuasa menghadapi kenyataan, kejadian ini membuat aku jadi menyesal sepanjang hidup..."

"aaah... apa? Putrimu jadi gila?" jerit Pek In Hoei. "Lo Hong mendengus.

"Hmm! Dalam sedihnya enciku tentu saja jadi gila, huuh... Pek Tiang Hong itu manusia apa? Dia tak kenal budi, bukan saja keluarga Lo kami kehilangan muka, bahkan seluruh jago See Ih pun merasa pipinya bagaikan ditampar, bila kali ini kami gagal menemukan Pek Tiang Hong, seluruh jago wilayah See Ih akan menyerbu kemari sebelum berhasil membunuh mati bajingan yang lupa budi itu, kami bersumpah tak akan berhenti!"

"Tutup mulut!" bentak Pek In Hoei dengan wajah berubah, "meskipun ayahku pernah berbuat salah, tetapi aku larang kau memaki dirinya dengan kata-kata yang tak karuan, lagi pula dalam persoalan ini kesalahan terletak pada ke-dua pihak, kalian tak dapat menyelami kesulitan yang dialami pihak lain, jika kalian adalah orang cerdik, semestinya kalian bisa berpikir mengapa ayahku menolak perkawinan tersebut, jika urusan   dipikirkan   secara    masak- masak, aku percaya tak nanti bakal terjadi peristiwa ini."

"Kentut busuk! Kalian manusia dari keluarga Pek adalah orang- orang yang tak kenal budi," jerit Lo Hong penuh kebencian. "Apa? Kau bilang apa ?" hardik Pek In Hoei amat gusar, "Kalau tidak teringat bahwa keluarga Lo kalian pernah menyelamatkan jiwa ayahku, hmm ! Kupuntir batang lehermu sampai patah dua bagian!"

"Bangsat, kau berani menghina orang ?"

"Kami orang-orang dari keluarga Pek, belum pernah menghina orang!"

"Urusan toh sudah berlangsung, apa gunanya ribut dengan percuma ?" ujar Lo Hian sambil goyangkan tangannya. "Kita harus mencari akal untuk menyelesaikan persoalan ini. Sayang putriku jadi gila, semua keluarga Lo telah diutus ke pelbagai daerah untuk mencari tabib pandai, atas pemeriksaan Atoli seorang dukun tersohor di wilayah See Ih dikatakan bahwa penyakit yang diderita putriku adalah sakit rindu, kecuali kedatangan Pek Tiang Hong pribadi tak mungkin penyakitnya dapat diobati lagi. Oleh sebab itulah maka aku segera datang ke daratan Tionggoan. Pertama untuk menyelesaikan masalah Si Bu Mo dan kedua untuk mencari Pek Tiang Hong agar bisa diajak menemui putriku. "

Diam-diam Pek In Hoei mengeluh di dalam hati segera pikirnya

:

"Sungguh tak kusangka urusan berubah jadi begini dan yang

lebih parah lagi kejadian ini justru terjadi setelah ayahku mati apa yang harus kulakukan sekarang? Kalau kukatakan tentang kematian ayahku, Lo Hian tentu semakin sedih."

Diam-diam ia menghela napas panjang, ujarnya: "Urusan ini memang sulit untuk diselesaikan."

"Pek kongcu," kata Lo Hian kemudian setengah memohon, "Sekarang katakanlah kepadaku, di manakah ayahmu berada ?"

"Tentang soal ini..."

Lo Hong yang pada dasarnya sudah amat gusar, sekarang makin meluap hawa amarahnya setelah menyaksikan keragu-raguan Pek In Hoei, teriaknya setengah menjerit:

"Kenapa kau tidak berani menjawab?" "Oooh ! Kau ingin main gertak ? Haaa... haaa... selama berkelana di dalam dunia persilatan belum pernah aku si jago pedang berdarah dingin tunduk kepada orang lain. Lo Hong! Kemampuanmu masih terpaut jauh kalau dibandingkan dengan diriku."

"Ayah!" teriak Lo Hong marah, "Apa gunanya kita mesti berlaku sungkan-sungkan dengan manusia semacam ini? Aku sudah ak dapat menahan diri lagi, walaupun nanti aku bakal kau marahi, sekarang akan kulampiaskan rasa mengkal dan mendongkolku yang sudah tak tertahan lagi."

Ia cabut pedangnya yang tersoren di punggung diiringi kilatan cahaya tajam yang membentuk setengah lingkaran di tengah udara, ia tusuk tubuh pemuda itu.

"Hmm! Kau cari penyakit buat diri sendiri, jangan salahkan kalau aku bersikap keji padamu," seru Pek In Hoei dengan wajah berubah hebat.

Laksana kilat tubuhnya bergeser ke samping, pedang sakti penghancur sang surya dikebaskan ke muka menyongsong datangnya senjata lawan, lalu ia kirim satu bacokan dahsyat.

Traaang... percikan bunga api meletup di angkasa, tubuh kedua belah pihak sama-sama tergetar mundur ke belakang.

Tercekat hati Lo Hong merasakan kelihayan lawannya, ia berpikir:

"Sungguh luar biasa pemuda ini, rupanya ilmu pedang yang berhasil ia yakini sudah mencapai puncak kesempurnaan. Andaikata aku tidak belajar ilmu pedang sedari kecil mungkin saat ini juga aku sudah jatuh kecundang di tangannya."

Seluruh kekuatannya segera dihimpun di dilam senjatanya, sambil meraung keras, selapis kabut bayangan yang tajam segera mengurung tubuh Pek In Hoei.

"Hong ji !" tegur Lo Hian dengan wajah berubah, "Kau telah menggunakan ilmu pedang Lo-kong Kiam-hoat ?" "Tenaga dalam yang dimiliki pihak lawan terlalu hebat, terpaksa aku harus menggunakan kepandaian ini untuk menghadapinya,"

Berada di tengah kepungan kilatan cahaya pedang lawan, Pek In Hoei tak sanggup menggeserkan tubuhnya secara leluasa, diam-diam ia terkejut juga menghadapi kelihayan ilmu tersebut.

Walaupun begitu serangan Lo Hong yang bertubi-tubi sama sekali tak mampu menempel seujung rambut pun, hal ini membuat Lo Hong semakin gusar.

Ia tertawa seram, dengan jurus Bong-bong-thay-khek pedangnya langsung membabat jalan darah Ci-Ti di tubuh lawan.

Pek In Hoei tertawa dingin.

"Huuuh          jurus seranganmu itu bagi kami orang Tionggoan

merupakan suatu gerakan yang paling rendah."