Imam Tanpa Bayangan I Jilid 29

 
Jilid 29

"HEEEH... heeeh... heeeh... modalku sih modal cukong, apalagi ilmu jari Hwee_yan-ci ini luar biasa hebatnya, aku ingin tahu kau hendak pakai modal dengkul apa untuk melayani diriku."

"Jangan kuatir, modalku adalah modal atas jeri payahku sendiri, aku tidak doyan dengan modal asal curian."

"Bangsat! Kau jangan kuatir, wilayah selatan masih amat luas, bahan dasar berlimpah limpah kenapa aku mesti mencuri?"

Sebagai penutup kata ujung jarinya diiringi kilatan cahaya merah yang membara segera menerjang tiga bagian tubuh Pek In Hoei secara dahsyat, hawa panas segera terasa menyengat badan.

Jago pedang berdarah dingin tak berani menghadapi datangnya serangan hawa panas itu secara gegabah, ia loncat ke samping menghindarkan diri sementara telapaknya mengirim satu babatan kearah musuhnya.

"Huuh ! Kalau cuma ilmu jari Hwee yan-ci sih aku sudah pernah minta petunjuk, paling banter juga cuma begitu-begitu saja," ejeknya sinis.

"Bangsat, kau harus tahu ilmu jari Hwee yan-ci ini dinamakan pula panggang ayam, jauh berbeda dengan ilmu jari biasa, bagi siapa yang kena serangan paling enteng bakal patah tulang nadi kita, paling berat akan menimbulkan kematian, hutangmu sudah bertumpuk- tumpuk maka sekalian jiwa anjingmu akan kuringkus ... "

Tenaga dalam yang dimiliki Pek In Hoei memang diakui kehebatannva, apa lacur ilmu jari yang dimiliki pihak lawan sangat dahsyat, desiran angin pukulan yang begitu memaksa tubuhnya susah untuk mendesak lebih mendekat.

Lama kelamaan ia jadi rada mendongkol, sambil membentak keras telapaknya segera diputar aneh dan mengirim satu babatan keluar.

Si Bu Mo sendiri juga menyadari akan kesempurnaan tenaga lweekeng yang dimiliki lawannya, ia tidak berani bertindak gegabah. Melihat datangnya ancaman, buru-buru serangan totokan berubah jadi serangan telapak, sambil membentuk gerakan satu lingkaran busur laksana kilat dia songsong datangnya ancaman tersebut.

"Blaam  !" ledakan dahsyat bergeletar di angkasa, seluruh bumi

bergetar keras, pasir dan batu beterbangan memenuhi udara, daun ranting berhamburan di atas tanah, bentrokan dua gumpal tenaga yang maha dahsyat itu secara tiba tiba menerjang sebuah pohon siong yang tumbuh di sekitar sana, begitu hebat bentrokan tadi menyebabkan pohon tersebut tumbang jadi dua bagian dan mencelat sejauh setengah tombak lebih.

Dengan sempoyongan Si Bu Mo mundur tujuh delapan langkah ke belakang, setiap langkah dia mundur, di atas permukaan tanah segera tertinggallah sebuah bekas telapak kaki sedalam kurang lebih tiga cun lebih.

Bukan begitu saja, pada akhir langkahnya orang itu muntah darah segar dan berdiri dengan badan gemetar keras.

"Bejingan cilik!" teriaknya kemudian dengan suara penuh kebencian meluap-luap, "Kau betul-betul hebat, orang bilang ada pinjam harus ada kembali. Setelah kau memberi hadiah kepadaku sudah selayaknya kalau kubalas dengan sedikit hadiah pula untukmu, bersiap-siaplah kau menerima hadiah itu."

Sekalipun orang ini adalah seorang pincang, tapi gerak geriknya jauh lebih gesit dan enteng dari pada orang biasa, bersamaan dengan selesainya ucapan itu ia segera loloskan sebuah pedang dari atas punggungnya. Pedang digetarkan menimbulkan percikan cahaya yang berkilauan, sambil menatap si anak muda itu dengan sorot mata yang bengis teriaknya :

"Cabut keluar pedang penghancur sang suryamu !"

Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei tarik napas panjang- panjang, air mukanya sama sekali tidak menunjukan perasaan apa pun, dalam hati ia menyadari bahwa ilmu silat yang dimiliki pihak lawan sangat lihay dan orang itu bukan musuh sembarangan, karenanya ia lantas mendengus dingin dan perlahan-laban cabut keluar pedang mestika Penghancur sang surya.

"Sahabat karibku.... " ejeknya sambil tertawa hambar, "Setelah kau undang keluar sababat karibmu, akupun akan undang pula rekan sekerjaku ini "

Sudah terlalu banyak Si Bu Mo mendengar cerita mengenai kehebatan serta kelihayan ilmu pedang lawan. sekarang menjumpai wajahnya berubah amat sadis dan diliputi napsu membunuh, hatinya jadi bergidik saking tegangnya sampai-sampai gagang pedang dipegang kencang-kencang.

Suasana hening untuk beberapa saat lamanya, kedua belah pihak sama-sama tidak bergerak atau pun bergeser dari tempat semula. Tapi lama-kelamaan Si Bu Mo tak dapat menahan diri lagi, ia membentak keras pedangnya disertai sambaran cahaya kilat langsung membacok tubuh si anak muda itu.

Jago pedang berdarah dingin sama sekali tidak melayani datangnya ancaman itu tiba-tiba badannya meloncat keluar dari kalangan, sambil putar pedangnya di udara dan menyapu sekejap luar hutan ejeknya sambil tertawa tergelak.

"Hah... haah.... sahabatku, bukankah kau telah membawa bala bantuan? Kenapa tidak kau undang keluar? Aku si jago pedang berdarah dingin bukanlah seorang manusia berjiwa sempit, persilahkan saja teman-temanmu untuk ikut hadir dalam perayaan ini, mereka pasti akan kulayani dengan sebaik-baiknya " Si Bu Mo tertegun, pedang yang telah siap melancarkan serangan segera dihentikan kembali, kemudian sambil celingukan ke empat penjuru pikirnya dalam hati :

"Aneh benar, dalam rencanaku mengajak bangsat ini berduel belum pernah kubawa bala bantuan, jangan dikata pembantu murid sendiripun tidak kuajak, masa ada yang datang tanpa diundang ?"

Karena tercengang ia segera balik bertanya:

"Bala bantuan ? Siapa yang mengundang pembantu ?"

"Heeh... heeh... heeh... tak usah berlagak pilon kawan, masa aku mesti menunjukkan kepadamu ?"

Si Bu Mo semakin keheranan lagi hingga untuk beberapa saat lamanya ia berdiri termangu-mangu.

"Bala bantuan? aneh benar, aku toh tidak pernah mengundang pembantu ? dari mana datangnya bala bantuan ?" gumamnya seorang diri.

Baru saja perkataan itu sirap dari pendengaran, dari luar hutan tiba-tiba terdengar suara langkah kaki manusia yang berat dan nyaring berkumandang datang, disusul dari balik pepohonan munCul seorang pria buta yang memakai ikat kepala berwarna hitam serta membawa tongkat warna hitam pula selangkah demi selangkah jalan mendekati.

Terdengar si buta itu berseru dengan suara karas :

"Eeei... eeei... numpang tanya, kalau akan pergi ke istana negeri Tayli aku mesti lewat mana?"

Bagian 31

JAGO pedang berdarah dingin segera terbahak-bahak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... hey si buta kau memang pintar mencari orang, sungguh kebetulan sekali Si toaya yang kau tanyai berasal dari istana negeri Tayli, kalau kau ingin pergi ke situ ada baiknya kalau tempeli dulu si pincang tersebut, nanti ia tentu akan menuntun kau pergi ke tempat tujuan..." Rupanya sejak tadi ia sudah tahu bahwa si buta ini bukan manusia sembarangan, sebab walaupun matanya buta tapi sepasang keningnya menonjol amat tinggi, asal diperhatikan lebih seksama lagi maka siapa pun akan tahu bahwa dia adalah seorang jago yang tersembunyi.

Dalam pada itu si buta telah menegur dengan suaranya yang nyaring :

"Si-toaya, apa jabtanmu di dalam istana negeri Tayli ? apakah aku boleh numpang tanya?"

Sejak kemunculan si buta, dalam hati Si Bu Mo sudah merasa amat kenal dengan orang ini, hanya untuk beberapa saat dia tidak ingat siapakah gerangan orang itu.

Mendengar pertanyaan tersebut, dengan suara dingin ia balik bartanya :

"Siapa yang kau cari dalam istana negeri Tayli ?"

"Haaaah... haaaah... haaaah... kalau dibicarakan memang sangat kebetulan, orang yang kucari itupun memakai she-Si!"

Si Bu Mo terkesiap dan tanpa terasa mundur beberapa langkah ke belakang, sejak ia melarikan diri dari wilayah See Ih masuk ke dalam wilayah Tionggoan, sepanjang tahun hidupnya hanya bersembunyi di dalam istananya Toan Hong In, jarang sekali orang kangouw kenal dengan dirinya, dan lagi orang yang berada di situ cuma tahu dia she Si.

Kini si buta tersebut datang-datang lantas berkata hendak mencari seorang she Si pula dalam istana negeri Tayli, tidak aneh kalau hatinya langsung tercekat. Segera pikirnya di dalam hati :

"Jangan-jangan si buta ini memang sedang mencari aku?" Berpikir demikian ia pun lantas bertanya:

"Dalam istana negeri Tayli terdapat beberapa orang yang menggunakan she Si, tolong tanya Si mana yang sedang kau cari?"

Si Buta itu termenung sejenak, kemudian tanyanya : "Apa kau kenal dengan orang yang bernama Si Bu Mo?" "Si Bu Mo tersentak kaget, ia tak menyangka kalau orang itu benar datang mencari dirinya, tapi di luaran ia tetap bersikap tenang sambil tertawa dingin tegurnya :

"Ada urusan apa kau mencari dirinya?"

"Ooh cuma urusan kecil... cuma urusan kecil       "

Jago Pedang Berdarah Dingin yang selama ini membungkam segera tertawa terbahak-bahak, serunya :

"Too heng kalau begitu memang sudah tepat menemukan orangnya, sebab sahabat itu pun she Si dan kebetulan dia pun bernama Bu Mo, apa betul dialah yang sedang kau cari "

"Ooh. iya??"

Setelah berdiri termangu-mangu beberapa saat lamanya, orang buta itu mendadak ayun toya hitamnya dan dengan gencar menyerang sekujur tubuh Si Bu Mo.

"Eeei... eeei... apa maksudmu?" teriak Si pincang kelabakan. Tubuhnya miring ke samping menghindarkan diri dari kemplangan toya lawan, pedangnya dengan sebat membacok punggung si buta itu dengan jurus Sin Kiem In Eng leng in atau Tombak sakti membuyarkan arwah.

Si buta segera menggearkan toyanya membentuk berlapis-lapis bayangan yang tebal, sang badan maju selangkah ke muka berbareng itu pula toya hitamnya menyodok ke arah lambung musuh.

"Si heng!" terdengar orang itu berseru dengan suara dalam, "Kenapa kau tidak menggunakan Long Heng Pat Kiam?"

Begitu mendengar ucapan 'Long Heng Pat Kiam' atau ilmu delapan pedang bayangan serigala, Si Bu Mo tersentak kaget, bagaikan dadanya dihantam oleh sebuah martil yang amat berat wajahnya seketika berubah jadi pucat pasi, keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, hampir saja ia terluka di ujung senjata lawan.

Sepanjang perjalanannya melarikan diri ke dalam wilayah Tionggoan, dia selalu berusaha merahasiakan jejaknya sebaik- baiknya, ia takut musuh tangguh yang paling disegani olehnya itu berhasil menyusul dirinya, karena itu ilmu pedang 'Long Heng Pat Kiam' yang merupakan ciri khasnya itu tidak pernah diperlihatkan di hadapan sembarangan orang.

Sekarang, ia dengar lawannya yang sama sekali tak dikenal olehnya itu sanggup mengungkap tentang ilmu pedang andalannya itu, tentu saja bisa dibayangkan sampai di mana kaget dan takutnya.

Dengan wajah berubah hebat teriaknya :

"Hey, apa yang sedang kau katakan?? Apa itu delapan pedang bayangan srigala?? Aku sama sekali tidak kenal dengan ucapanmu itu."

Setelah menyadari bahwa si buta mengenali ilmu pedangnya, Si Bu Mo semakin tak berani mengeluarkan ilmu pedang Long Heng Pat Kiamnya, sebab ia tahu asal jurus pedang itu dipergunakan maka dengan cepat orang itu akan kenali dirinya sebagai Si Bu Mo yang sedang dicari.

Sementara itu jurus serangan yang dilancarkan si buta kian lama kian bertambah gencar, sambil menyerang teriaknya kembali :

"Si heng, ilmu pedang Long Heng Pat Kiam adalh ilmu pedang nomor satu di kolong langit, banyak jago lihay dalam wilayah See Ih terluka di ujung pedangmu itu. Setelah perjumpaan kita hari ini mengapa kau malahan sembunyikan jurus tersebut?..."

Si Jago Pedang Berdarah Dingin yang berada di sisi kalangan segera mengejek sambil tertawa tergelak :

"Haaaah... haaaah... haaaah... dia adalah seorang pedagang dengan modal cukong, sebelum tahu barang yang berharga, tentu saja ia tak akan tertarik untuk menunjukkan kekayaannya. Hey sahabat kalau kau ingin tahu kekayaannya, maka kau sendiri pun harus tunjukkan pula barang dagangan yang jitu..."

"Oooo, kiranya begitu," sahut si Buta sambil mengangguk, "kenapa tidak kau katakan sedari tadi?" Permainan toyanya bagaikan titiran air hujan, dengan rapat dan dahsyatnya bayangan tersebut mengurung sekujur tubuh Si Bu Mo.

Seketika itu juga si pincang terdesak hebat, ia keteter mesti kerahkan segenap tenaganya untuk mempertahankan diri, diiringi teriakan-teriakan gusar tujuh buah serangan berantai telah dilancarkan.

"Hey sahabat, di antara kita toh tak pernah terikat dendam atau pun sakit hati, mengapa selalu desak diriku? Apa sebenarnya maksudmu?" jerit orang she Si itu gusar.

"Tiada maksud lain kecuali ingin membuktikan benarkah kau adalah orang yang sedang kucari... sudah habis bagaimana? Kau sudah tahu bahwa mataku buta tidak bisa melihat dirimu, dari mana bisa membuktikan bahwa kau adalah Si Bu Mo..."

"Ada urusan apakah mencari dirinya?"

"Tentu saja ada urusan penting, kalau tidak kenapa aku mesti mencari dirinya..."

Pada saat itu Si Bu Mo telah menganggap orang buta di hadapannya adalah salah satu di antara musuh-musuh besarnya, karena takut pikirannya mulai kacau dan kepercayaannya pada diri sendiri semakin goyah, pedangnya dibabat semakin dahsyat lagi dengan harapan dapat memaksa mundur musuhnya ini.

Tapi sayang tenaga lweekang yang dimiliki orang itu luar biasa dahsyatnya, jangan dikata mendesak mundur dirinya, kesempatan bagi diri sendiri untuk melarikan diri pun tak ada.

Bayangan tongkat si Buta mengurung tubuh orang she Si itu semakin rapat, hal ini membuat napas Si Bu Mo tersengkal-sengkal, ia terdesak hebat dan mulai tak sanggup mempertahankan diri, agaknya bila pertarungan diteruskan maka tidak sampai beberapa jurus lagi dia pasti akan roboh binasa.

Ketika itulah si buta membentak kembali :

"Si heng, benarkah kau tak sudi mengeluarkan ilmu pedang Long Heng Pat Kiam-mu itu?" Dalam pada itu keadaan Si Bu Mo sudah benar-benar mengenaskan, ia tak bertenaga lagi untuk melakukan perlawanan, si pincang itu mulai sadar bila ia tidak pergunakan ilmu pedang 'Long Heng Pat Kiam' maka jiwanya pasti akan melayang di ujung toya lawan.

Diam-diam ia menghela napas pikirnya :

"Aaaai... apa boleh buat, ya sudahlah, kalau memang rejeki tak bisa diraih, kalau memang bencana tak bisa dihindari bila aku berhasil membinasakan si buta dengan ilmu pedang Long Heng Pat Kiam, mungkin bencana ini bisa kuhindari, sebaliknya kalau aku harus menemui ajalnya di tangan si buta, yaaah... mungkin itulah nasibku..."

Dengan cepat ia ambil keputusan, segera bentaknya : "Buta sialan, aku akan beradu jiwa dengan dirimu..."

Badannya meloncat dari atas permukaan, pedangnya tiba-tiba digetarkan menciptakan tujuh buah kuntum bunga pedang yang dalam waktu singkat berubah jadi sekilas cahaya tajam, ia langsung tusuk dada orang.

Inilah jurus pertama dari ilmu pedang 'Long Heng Pat Kiam' yang disebut 'Hay long hui sut' atau tikus meloncat di tengah ombak, desiran angin tajam mengiringi kilatan bayangan pedang seketika tersebar memenuhi angkasa.

Sungguh tajam pendengaran si buta itu, mendengar ancaman pedang ia segera tertawa terbahak-bahak, permainan toyanya ikut berubah, dengan pergunakan gerakan keras lawan keras ia tangkis datangnya ancaman tersebut.

"Si heng!" ujarnya sambil tertawa, "jurus tikus meloncat di tengah ombak sudah dua puluh tahun lamanya tak pernah muncul di wilayah See Ih meskipun hari ini Siauw te tak dapat menyaksikan kehebatannya dengan mata terbuka, tapi aku yakin kehebatannya jauh melebihi keadaan dulu, ini membuktikan bahwa Si heng tak pernah melalaikan ilmu silatnya selama banyak tahun belakangan ini..."

Ia berhenti sebentar, lalu sambil tertawa sambungnya kembali : "Si heng, bagaimana pula dengan ilmu jari Hwe Gan Ci mu itu?

Apakah juga peroleh banyak kemajuan...?"

Air muka Si Bu Mo berubah sangat hebat, kejut di antara rasa takut yang menghebat, dengan jantung berdebar ia perketat serangan pedangnya, sementara dalam hatinya berpikir :

"Aaah...! Dugaanku tak meleset, ternyata kedatangannya memang disebabkan oleh peristiwa itu..."

Ia meraung gusar, bentaknya :

"Sahabat, kau tak usah berpura-pura bodoh lagi, ayoh kita buktikan kelihayan kita di ujung senjata."

"Si heng, harap kau jangan turun tangan lebih dulu," seru si buta secara tiba-tiba sambil tarik kembali toyanya. "Karena ada kesulitan yang tak bisa dikatakan, terpaksa siauw te harus menjajal kepandaianmu, sejak perpisahan kita dua puluh tahun berselang di wilayah See Ih, masa Si heng benar-benar telah melupakan diriku..." "Siapa kau?" seru Si Bu Mo sambil mundur ke belakang. "Aku

merasa tidak pernah kenal dengan manusia macam kau." Si buta tertawa sedih.

"Perpisahan yang memutuskan hubungan kita memang berlangsung terlalu lama, tidak aneh kalau Si heng sudah melupakan siauw te tetapi kalau kau teringat kembali akan perjalananmu di tengah malam buta melewati gurun pasir, mungkin kau akan ingat kembali siapakah diriku."

Ia berhenti sebentar, lalu tambahnya :

"Aku adalah si anak buangan In Pat Long."

"Haaah...? Kau adalah Pat Long? Kenapa matamu jadi buta?

Tidak heran aku tak kenali dirimu lagi..."

Kiranya di masa masih muda dulu si buta ini adalah seorang begal yang amat tersohor, suatu hari dia membegal seorang perempuan yang sedang melakukan perjalanan seorang diri di tengah gurun, akibatnya ia dihajar sampai luka oleh seorang pendekar yang kebetulan lewat di sana, jiwanya jadi terancam dan seorang diri ia harus menanti datangnya maut di tengah gurun yang sunyi.

Pada saat yang kritis itulah kebetulan Si Bu Mo lewat di situ dan menyembuhkan lukanya, sejak itulah In Pat Long jadi sahabat karibnya.

Dalam pada itu terdengar si buta menghela napas dengan nada yang amat sedih, lalu berkata :

"Kita tak usah memperbincangkan urusan itu lagi, bagaimana dengan ilmu Hwe Gan ci yang kau dapatkan dari Loo Hian? Sejak peristiwa itu Loo Hian menyebar orang di empat penjuru untuk mencari jejakmu, suatu ketika aku berhasil ditemukan, aku dipaksa untuk menunjukkan jejakmu tapi sewaktu aku menjawab tak tahu Loo Hian si bangsat tua itu memaksa aku untuk bertempur, dalam satu jurus saja aku kena dihajar keok..."

"Aaai...! Akulah yang menyebabkan kau ikut menderita..." bisik Si Bu Mo sedih.

Si Buta segera menggeleng.

"Si heng, perkataan yang tak berguna lebih baik tak usah dikatan, kedatangan siauw te malam ini adalah hendak menyampaikan satu berita buruk bagimu, bila kau tidak menghadapinya secara cepat, maka suatu bencana besar telah menanti di hadapanmu..."

"Urusan apa??" tanya Si Bu Mo tegang.

"Loo Hian ayah dan anak sudah tahu kalau kau berada di sini, ketika aku hendak tinggalkan wilayah See Ih, aku dengar mereka berdua sudah berada di wilayah Tionggoan bahkan katanya seringkali muncul dan sekitar tempat ini..."

"Kalau sudah datang lantas mau apa?" jengek Si Bu Mo, "Ilmu jari Hwee Gan Ci telah kuyakini hingga mencapai sembilan bagian, sekalipun mereka berhasil temukan diriku juga tak ada gunanya, sembilan belas tahun sudah aku menyembunyikan diri, rasanya sekarang aku tak perlu takut kepada mereka lagi..." "Si heng kau masih bukan tandingan mereka berdua," seru si buta sambil menggeleng, "lebih baik hindarilah perjumpaan dengan mereka lagi pula kalau dibicarakan seharusnya kaulah yang salah, kau tidak patut mencari belajar ilmu silat milik orang lain!"

"Pat Long kita singkirkan dahulu persoalan itu setelah Loo Hian mereka datang baru dibicarakan lagi," ia melotot sekejap ke arah Pek In Hoei, lalu meneruskan, "dia adalah jago pedang kelas satu di dalam wilayah Tionggoan, lebih baik kita sikat dulu manusia ini..."

Selama ke-dua orang itu bercakap-cakap, Jago Pedang Berdarah Dingin hanya berdiri membelakangi mereka sambil bergendong tangan, menanti Si Bu Mo telah mengucapkan kata-kata tersebut, ia baru mendengus dan putar badan.

"Bagaimana? Pembicaraan kalian berdua apa sudah selesai?" tegurnya.

"Fui! Kau lagi berbiara dengan siapa?" teriak In Pat Long atau si buta itu sambil putar toyanya.

"Orang buta, lebih baik kau jangan mencampuri urusan di sini," kata Pek In Hoei dengan wajah penuh diliputi napsu membunuh, "aku menanti dirimu, lebih baik cepat-cepatlah enyah dari sini."

Sejak sepasang matanya menjadi buta, In Pat Long paling benci kalau ada orang mengejek dirinya sebagai si orang buta, sekarang mendengar si anak muda itu memaki dirinya, hawa amarah kontan berkobar dalam dadanya, senjata toya dalam genggamannya bagaikan segulung asap hitam langsung diayun ke depan.

"Bangsat cilik," teriaknya, "kau berani memaki aku? Huuuh... ketika aku Pat Long masih bekerja sebagai begal, mungkin kau masih berada dalam perut anjing."

Criiing! Sekilas cahaya tajam berkilauan di angkasa, hawa pedang yang dingin dengan membentuk kabut tebal mengurung tubuh In Pat Long dalam kepungan.

"Cukup dengan sepatah katamu itu, aku tak akan melepaskan kau dengan begitu saja!" seru Pek In Hoei gemas. Sementara itu napsu membunuh telah menyelimuti pula seluruh wajah In Pat Long, sambil memperketat serangannya ia berteriak :

"Si heng, siapakah bajingan cilik ini?" "Jago Pedang Berdarah Dingin."

Pek In Hoei sendiri pun sudah naik pitam dibuatnya, jurus pedang yang dilancarkan semakin dahsyat, begitu ketat kepungannya pada tubuh si buta itu membuat In Pat Long jadi keteter hebat, keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, tujuh delapan bagian ujung bajunya telah tersayat dimakan senjata lawan.

Tercekat hati Si Bu Mo melihat kelihayan pemuda itu, pikirnya : "Sungguh lihay bangsat cilik ini, agaknya ilmu pedang yang dia yakini jauh lebih lihay daripada ilmu pedang Long Heng Pat Kiam

ku..."

Berpikir sampai di sini, ia segera loloskan pedangnya sambil berseru :

"Pat Long, jangan kuatir, aku datang membantu dirimu..."

Setelah Si Bu Mo ikut terjun ke dalam kalangan perempuran maka situasi dalam kalangan pun mengalami perubahan besar, In Pat Long merasa tidak terlalu berat lagi menghadapi tekanan-tekanan musuh.

Sebalik si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei yang dikerebuti oleh dua orang jago kenamaan, permainan pedangnya masih tetap mantap seperti semula, bahkan sambil tertawa panjang ia sempat mengejek :

"Nah, begitulah baru dinamakan suatu perdagangan besar, kenapa kalian tak mau bekerja sama sedari..."

Cahaya pedang yang dingin dan tajam memancar keluar tiada hentinya dari ujung senjata, desiran angin tajam tiba-tiba membacok ke arah lengan In Pat Long.

"Bangsat, kau berani pandang rendah diriku?" teriak si buta teramat gusar, "Aku akan beradu jiwa dengan dirimu." Toya besinya dibacok langsung ke atas dada lawan, sedang Si Bu Mo dengan menggunakan kesempatan itu mengirim satu tusukan kilat ke arah punggung pemuda itu.

Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei mendengus, ia keluarkan jurus 'Liok Jit In Hui' atau Pantulan cahaya di kala senja.

Pedangnya meleset ke tengah udara menciptakan satu gerakan busur, dalam satu gerakan yang sama ia tumbuk dua senjata lawan secara berbareng.

Traaang! Percikan bunga api bermuncratan di tengah udara mengiringi suara dentingan yang memekakkan telinga, In Pat Long tiba-tiba merasakan tangannya jadi enteng, tahu-tahu toya bajanya telah patah jadi dua bagian.

"Aaaah...! Pedangmu adalah sebilah pedang mestika..." jeritnya dengan suara tertahan.

Karena sepasang matanya buta, ia tak sempat melihat kalau pedang yang dipergunakan lawannya adalah sebilah pedang mestika, menanti toya bajanya terlanggar patah ia baru menyadari akan ketajaman senjata musuhnya, karena terkejut dan ketakutan tubuhnya segera berguling di atas tanah sejauh beberapa tombak.

"Pedang mestika penghancur sang surya!" seru Si Bu Mo pula dengan suara gemetar.

Rupanya ke-dua orang itu sama-sama menyadari akan kehebatan senjata mestika itu, mengetahui bahwa sulit bagi mereka untuk menandinginya, terpaksa dengan keringat dingin masih mengucur keluar mereka mengundurkan diri ke belakang.

"Si Bu Mo!" seru Pek In Hoei kemudian, "Kau berani merusak nama baikku, ayoh jawab sendir, bagaimanakah aku harus sudahi permusuhan ini..."

Si Bu Mo tertawa dingin, ia balas berseru pula :

"Bagaimana pula dengan perbuatanmu membunuh Toan Hong ya?" "Haaaah... haaaah... haaaah... apa hubungan serta sangkut pautnya antar kematian Toan Hong ya dengan diriku? Kau sudah salah mencari orang..."

Dengan wajah menyeramkan dia ayun pedangnya di tengah udara, kemudian melanjutkan :

"Selama aku si Jago Pedang Berdarah Dingin melakukan perjalanan di dalam dunia persilatan, belum pernah aku salah membunuh seorang manusia pun tetapi setelah bertemu dengan manusia kurcaci semacam kalian aku pun segan untuk melepaskan dengan begitu saja. Kamu berdua sebagai sampah masyarakat dari kalangan hitam, mesti kubunuh kamu berdua rasanya perbuatanku ini bukan terhitung satu tindakan yang keterlaluan... bukankah begitu?"

Tiba-tiba... dari tengah udara berkumandang datang suara keleningan yang amat nyaring, suara itu begitu merdu dan menarik hati membuat siapa pun yang mendengarkan merasakan tubuhnya jadi nyaman.

In Pat Long segera pasang telinga dan mendengarkan suara keleningan itu dengan seksama, kemudian teriaknya :

"Si heng coba dengar! Bukankah suara ini adalah keleningan cabut nyawa..."

"Apa?" sekujur badan Si Bu Mo tiba-tiba gemetar, seakan-akan tersambar geledek di siang bolong badannya lunglai dan tak bertenaga lagi, "Betul... betul suara itu adalah suara keleningan pencabut nyawa... Loo Hian bangsat tua itu telah datang..."

"Si heng, ayoh kita lrai..." teriak In Pat Long sambil putar badan dan coba merat.

"Pat Long!" teriak Si Bu Mo pula dengan sorot mata memancarkan cahaya ketakutan, sambil melirik sekejap ke kanan kiri ujarnya kembali, "mampukah kita untuk melarikan diri? Rajawali salju milik Loo Hian adalah binatang tercepat di kolong langit sekalipun kita sudah merat satu jam berselang, jejak kita bakal tersusul juga..." "Tiiing... tiiing... tiiing..."

Suara keleningan yang merdu dan nyaring berkumandng semakin dekat, disusul seseorang tertawa keras dan munculkan diri dari balik pepohonan.

Orang itu adlah seorang pria kekar dengan topi lebar berwarna hitam, kuda yang ditunggangi adalah seekor kuda Mongol yang tinggi besar.

Sambil melayang turun dari atas kuda, pria tadi lepaskan topi lebarnya, dan menyapu sekejap wajah Si Bu Mo serta In Pat Long kemudian mendongak dan tertawa terbahak-bahak.

Gelak tertawanya dingin bercampur dengan rasa gusar serta mendongkol yang tebal.

Sekujur tubuh Si Bu Mo gemetar keras, tanyanya dengan suara terpatah-patah :

"Loo Hong di mana ayahmu??"

Gelak tertawa Lo Hong kian lama kian bertambah sirap sambil menatap wajah orang itu dia bungkam dalam seribu bahasa.

Sesaat kemudian setelah melirik sekejap ke arah Jago Pedang Berdarah Dingin katanya :

"Si Bu Mo, sejak perpisahan kita di wilayah See Ih tanpa terasa dua puluh tahun sudah lewat, selama banyak tahun ini aku dengar kau pandai sekali menyesuaikan diri sehingga di antara keluar Toan dari negeri Tayli ada yang sudah angkat dirimu sebagai guru..."

"Aaaah... kau terlalu memuji... kau terlalu memuji..." jawab Si Bu Mo dengan wajah merengek, "Aku berbuat demikian demi isi perutku setiap hari..."

"Hmmm! Kau bisa hidup senang tapi kami berdua harus hidup menderita karena perbuatanmu, selama banyak tahun mereka yang tak tahan hidup di wilayah See Ih kebanyakan telah lari ke negeri Tionggoan, yang masih bisa bertahan tetap di situ..."

Ia merandek sejenak lalu sambil tertawa datar terusnya : "Untuk mencari jejakmu itu, aku serta ayahku berdua terpaksa harus mengobrak-abrik seluruh wilayah gurun pasir serta See Ih, alhasil bayanganmu sama sekali lenyap ak berbekas, pandai amat kau menyembunyikan diri..."

Sementara itu Si Bu Mo dapat menenangkan hatinya setelah mengetahui hanya Lo Hong seorang yang datang, raas jeri dan takut yang semula tercermin di atas wajahnya kini telah banyak berkurang. "Ada urusan apa kalian berdua membuang banyak tenaga dan pikiran untuk mencari jejakku??" serunya sambil tertawa seram. "Persoalan yang telah terjadi banyak tahun kenapa mesti diangkat-

angkat kembali?? Lebih baik kalau dilupakan saja bukan..." "Haaaah... haaaah... haaaah... " Lo Hong segera tertawa terbahak-

bahak, "masa kau lupa dengan hubungan kita berdua?? Sejak kami mendapatkan pembalasan budi dirimu itu, setiap hari kami kenang terus dirimu, kami telah berjanji suatu saat budi kebaikanmu itu pasti akan kami balas..."

"Tidak berani... tidak berani..." seru Si Bu Mo dengan sorot mata ngiris, "Masa kalian ingat terus perbuatan baikku yang tidak seberapa itu?? Sungguh tak kusangka kalian ingat baik-baik kejadian itu, baiklah... aku orang she Si harus mempersiapkan diri untuk menjamin kedatangan kalian berdua..."

"Nah, begitulah baru pantas disebut tuan rumah yang baik, waktu kami masih tetap seperti sedia kala, ada sayur ada arak kita sikat terus, setelah saing bertemu muka memang sepantasnya kalau kami merepotkan dirimu..."

"Aaaah! Jadi... jadi ayahmu juga ikut datang??" seru Si Bu Mo tiba-tiba dengan badan gemetar keras.

"Haaaah... haaaah... haaaah... ada kesempatan untuk bikin keramaian di sini, siapa bilang ayahku tidak ikut datang? Apalagi setelah berjumpa dengan sahabat karib semacam kau, saking rindunya ayahku sampai jatuh sakit..." "Hmmm kalau begitu kalian berdua menaruh perhatian besar terhadap diriku..."

In Pat Long yang selama ini membungkam diri, ketika itu maju ke depan, ujarnya :

"Lo Hong, masih ingat dengan aku orang she In??"

"Oooh... tak kusangka In Pat Long si mata buta juga hadir di sini, sungguh menggembirakan sekali... bukankah pertemuan ini adalah pertemuan yang amat besar? Semua sahabat lama kini berkumpul jadi satu inilah yang dikatakan orang sebagai jodoh, haaaah... haaaah... haaaah... bagus, bagus!"

"Sahabat, kau pasti belum melupakan perbuatanmu bukan??" "Haaaah... haaaah... haaaah... tentu saja aku masih ingat, aku

dengar orang berkata katanya suatu malam kau mengintip gadis orang sedang kencing, akhirnya kau keburu ketangkap oleh nona itu, benarkah telah terjadi peristiwa semacam ini?"

Setiap kali teringat akan sepasang matanya yang buta di tangan Loo Hian ayah dan anak, hawa amarah yang berkobar dalam dada In Pat Long seketika memuncak.

Ia mendengus dingin dan serunya :

"Lo Hong, di depan mata orang jangan pura-pura berlagak pilon, kita adalah kenalan lama, kau tentu tak akan bersikap bodoh tentu bukan..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... masa aku bodoh? Sahabat lama, jangan membohongi diriku aah."

Jago Pedang Berdarah Dingin yang mengikuti tanya jawab itu tak dapat menahan rasa gelinya lagi, dia ikut tertawa terbahak-bahak.

Perbuatannya ini semakin menggusarkan hati In Pat Long, dengan nada uring-uringan tegurnya :

"Hey, apa yang kau tertawakan?"

Pek In Hoei pura-pura berlagak tidak mendengar, ia melengos dan memandang ke arah lain, sikapnya yang tenang dan jumawa ini seketika menggusarkan hati Lo Hong maupun Si Bu Mo. "Tolong tanya siapakah saudara?" Lo Hong segera maju ke depan dan menyapa sambil tertawa.

"Jago Pedang Berdarah Dingin!"

"Oooh... kiranya sahabat Pek, keadaan kita bagaikan satu benang dengan dua kepala, bagaimana dengan penyelesaian urusan ini? Mau bekerja sama ataukah kerja sendiri-sendiri?"

"Satu celana tak dapat dipakai dua orang, selesaikan dulu urusanmu kemudian aku pun akan menyelesaikan urusanku..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... bagus, bagus, kalau begitu aku ucapkan banyak terima kasih terlebih dulu..."

Melihat Lo Hong sudah berhubungan dengan Pek In Hoei, dalam hati In Pat Long serta Si Bu Mo jadi tergetar keras, terdengar si buta itu membisik dengan suara ketakutan :

"Si heng, habislah sudah riwayat kita hari ini..."

"Pat Long," sahut Si Bu Mo sambil cabut pedangnya, "akan kutahan ke-dua orang itu untuk sementara, angkat kaki dan kaburlah lebih dulu, setelah ilmumu berhasil kau latih hingga sempurna, balaslah dendam sakit hati ini..."

Dengan sedih In Pat Long menggeleng.

"Si heng, seandainya sepasang mataku belum buta, mungkin dengan andalkan sepasang kakiku masih bisa lari sejauh tujuh delapan li, tapi sekarang.... aaaai! Kakiku sudah tidak kuat digunakan untuk lari... maksud baikmu biarlah aku terima di hati..."

Ia berhenti sejenak, kemudian tambahnya lagi : "Mari kita sikat dulu Lo Hong!"

"Betul!" sambung Lo Hong sambil tertawa tergelak, "setelah menyikat diriku baru melarikan diri."

In Pat Long tak dapat menahan emosinya lagi, ia putar toyanya yang tinggal separoh dan menghantam kepala orang she Lo itu dengan jurus 'Kankun To Coan' atau jagad berputar balik.

"Huuuh...! Cuma andalkan sedikit kepandaian macam begitu, kau hendak menakut-nakuti aku..." ejek Lo Hong dengan suara keras. Lengannya diangkat ke atas, ke-lima jarinya tiba-tiba menyambar ujung toya yang sedang menghantam tiba, gerakan ini sama sekali di luar dugaan In Pat Long, sementara hatinya masih tertegun tahu-tahu potongan toya itu sudah berpindah tangan.

"Aaaah, kau..." seru In Pat Long tergagap.

"Hmm! Mengingat kau adalah seorang buta, untuk sementara waktu kuampuni jiwamu..."

"Pat Long, pergilah dari sini..." bisik Si Bu Mo pula dengan suara sedih.

Tapi In Pat Long manusia buta itu menggeleng.

"Si heng, aku bisa hidup sampai detik ini adalah berkat pertolonganmu, kalau tiada dirimu mungkin sejak dulu aku sudah mati di tengah gurun pasir, saat ini sukmaku mungkin gentayangan dimana-mana. Sekarang kau sedang kesusahan, masa aku tega melarikan diri tinggalkan kau seorang? Kalu mau mati, biarlah kita mati bersama-sama..."

Dengan nada sedih ia tertawa panjang, lanjutnya :

"Si heng, kita belum tiba pada saat yang benar-benar kritis dan tiada harapan untuk hidup, bukankah ilmu pedang Long Heng Pat Kiam mu tiada tandingan selama berada di wilayah See Ih? Disamping itu bukankah ilmu jari Hwee Gan Ci yang kau latih telah mencapai sembilan bagian kesempurnaan?"

"Ehmmmm, ucapanmu tidak salah, kita memang belum tentu harus menemui ajalnya di tangan orang itu..."

Sebaliknya air muka Lo Hong berubah hebat, bentaknya :

"Ilmu jari Hwee Gan Ci adalah ilmu silat sakti dari keturunan keluar Lo kita, sungguh tak tahu malu kau bangsat she Si telah mencuri belajar secara diam-diam. Hmmmm! Tahukah kau disebabkan karena peristiwa itu ayahku telah memutuskan sebuah jari tangan sendiri dan bersumpah selamanya tak akan berlatih ilmu jari lagi? Kesemuanya ini tidak lain adalah hasil dari perbuatanmu..." "Memotong sebuah jari sendiri..." bisik Si Bu Mo dengan suara tertegun.

"Sedikit pun tidak salah. Sekarang seharusnya kau menyadari bahwa mencuri belajar ilmu silat milik orang adalah suatu perbuatan yang amat rendah dan sangat memalukan, mula-mula ayahku menerima kau dengan maksud baik, siapa tahu justru secara diam- diam kau telah curi belajar ilmu silat keluarga kami. Hmmm! Bangsat hampir kau bikin ayahku muntah darah karena jengkelnya..."

"Hong..." tiba-tiba dari tengah udara berkumandang datang suara panggilan yang amat nyaring.

Sekujur badannyasbm gemetar keras, dengan penuh ketakutan dia mundur satu langkah ke belakang, ia takut bertemu dengan Loo Hian, takut melihat raut wajah si orang tua yang telah memotong sebuah jari tangannya sendiri...

Derap kaki kuda yang nyaring bergeletar di angkasa memecahkan kesunyian yang mencekam seluruh jagad, dari balik pepohonan muncullah sesosok bayangan putih.

Seekor kuda berwarna putih salju perlahan-lahan muncul dari pepohonan mendekati kalangan, di atas punggungnya duduk seorang kakek tua bermantel hitam, ia melirik sekejap ke arah Si Bu Mo yang sedang ketakutan, lalu mendongak dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... kesempatan yang begini baik memang susah didapat, aku tak pernah menyangka kalau di tempat ini dapat bertemu pula dengan si buta In Pat Long. Haaaah... haaaah... haaaah... aku pun tak menyangka ke-dua shaabat karibku ini masih bisa hidup dalam keadaan segar bugar di hadapanku... haaa... sejak perpisahan tempo dulu, tanpa terasa dua puluh tahun sudah lewat, aku mengira sahabat-sahabat karibku ini tak bakal bisa kutemui lagi, siapa tahu keadaan kalian masih tetap gagah seperti semula, cuma hawa bajingan kalian masih juga belum berubah..." Air muka Si Bu Mo berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, hatinya tercekat dan untuk beberapa saat ia hanay dapat mengucapkan beberapa patah kata saja.

"Lo heng, sehat-sehat saja bukan selama ini!"

"Ciss! Lagak tengik," maki Loo Hian dengan mata mendelik, "Siapa sih yang kesudian mengaku saudara dengan dirimu? Besar amat nyalimu sekarang... Hmmm... Hmmm... apa aku sudah melupakan sebutanmu di masa yang lampau? Haaaah... haaaah... haaaah... ataukah karena ilmu Hwee Gan Ci tersebut sudah berhasil kau latih hingga mencapai kesempurnaan, maka sekarang kau tidak anggap sebelah mata pun terhadap orang lain..."

"Lo cianpwee... boanpwee mengakui bahwa kesalahan terletak di tanganku..." rengek Si Bu Mo dengan suara gemetar, "bukankah urusan telah lewat banyak tahun? Mana yang dapat dilepaskan seharusnya kau lepaskan... bagaimana kalau kita sudahi persoalan ini sampai di sini saja..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... " gelak tertawa Loo Hian semakin keras tapi ia tidak memberikan tanggapan.

Si Bu Mo bukanlah seorang manusia bodoh, setelah melihat gelagat kurang baik, sebutannya dari 'Lo heng' segera dirubah menjadi 'Lo cianpwee', sebab ketika Loo Hian menerima dirinya dahulu, dia masih seorang anak kecil dan sudah terbiasa menyebut dengan panggilan 'cianpwee' dan kini Si Bu Mo merasa dirinya merupakan seorang jago lihay, ia tidak ingin memperendah kedudukan sendiri.

Sekarang, setelah melihat LooHian hanya tertawa saja tanpa menggubris permintaannya, wajah yang telah memerah kini berubah semakin merah padam bagaikan kepiting rebus, hawa gusar berkobar dalam dadanya, sambil tertawa seram ia berseru :

"Lo cianpwee, apakah kau tidak sudi berbicara dengan diriku?"

Senyuman yang menghiasi wajah Loo Hian seketika lenyap tak berbekas, sebagai gantinya ia mencibir sinis, sepasang matanya memancarkan cahaya tajam, jawabnya ketus : :Aku tidak sudi berbicara dengan manusia macam kau tahu?" "Kenapa?"

"Hmmm! Kenapa aku mesti berhubungan dengan segala macam manusia kurcaci kurang ajar semacam kau ini, terhadap tuan penolongnya sendiri pun membalas air susu dengan air tuba, buat apa kita mesti berkawan dengan bajingan seperti kau..."

Keadaan Si Bu Mo betul-betul runyam, wajahnya berubah jadi merah padam, keberanian untuk membantah sama sekali lenyap, saking mendongkolnya ia hanya bisa berseru :

"Kau... kau..."

"Hmm! Aku kenapa? Sudah salah berbicara?"

Sementara itu In Pat Long yang berada di samping kalangan walaupun tak dapat menyaksikan kejengahan dari Si Bu Mo, tapi dari suara pembicaraan tersebut dia tahu bahwa rekannya tak sanggup menjawab sendirian lawanya itu, dia segera maju dua langkah ke depan sambil ujarnya dingin :

"Loo Hian, jangalah kau paksa orang secara keterlaluan, sekalipun Si toako bersalah, toh kesalahannya tidak sampai terlalu berat sehingga harus dijatuhi hukuman mati. Sebaliknya aku In Pat Long ada permusuhan dengan dirimu, kau telah membutakan sepasang mataku, bila dibicarakan lebih jauh seharusnya di antara kita adalah satu sama, apa salahnya kalau urusan kita sudahi sampai di sini saja?"

"Pat Long!" bentak Lo Hong sambil maju ke depan, "di sini tak ada urusanmu, ayoh cepat enyah dari tempat ini!"

Sejak kemunculan Loo Hian serta Loo Hong, kegusaran yang berkobar dalam dada In Pat Long sudah memenuhi seluruh benaknya, terutama setiap kali teringat bahwa sepasang matanya buta di tangan mereka berdua. Kini mendengar dirinya diusir kegusarannya segera meledak, ia maju ke muka dan berteriak dengan penuh kemarahan :

"Enyah?? Haaaah... haaaah... haaaah... selama berada di wilayah See Ih aku si manusia buta belum pernah tunduk kepada siapa pun, walaupun kepandaian silat yang kumiliki tidak hebat tetapi aku punya darah panas yang tidak jeri menghadapi kematian. Bagus... bagus... tidak sulit kalau kau ingin mengusir diriku, tapi... langkahi dahulu mayatku..."

"Bangsat, kalau aku tidak memandang matamu telah buta sedari tadi aku telah suruh kau berbaring di atas tanah. Si mata buta yang tak tahu diri kau harus tahu keadaan, daripada mati konyol di sini lebih baik cepatlah enyah..."

Si Bu Mo yang berada di samping pun menghela napas sedih, sambil geleng kepala ujarnya :

"Pat Long ucapan dari Loo Hong sedikit pun tidak salah, lebih baik berdirilah di luar kalangan dalam persoalan ini, karena diriku seorang apa gunanya kau ikut mengorbankan jiwamu?? Bukankah perbuatanmu tersebut adalah perbuatan dari orang goblok???"

"Si heng, kau terlalu pandang hina aku si orang buta," seru In Pat Long sambil tertawa seram, "meskipun mataku buta tapi hatiku sama sekali tidak buta, kalau mau mati biarlah kita mati bersama, kalau ingin hidup mari kita hidup bersama, urusanmu adalah urusanku juga. Si heng! Kau tak usah banyak bicara lagi, aku In Pat Long bukanlah seorang pengecut yang takut menghadapi kematian!"

"Haaaah... haaaah... haaaah... seorang sahabat yang amat setia kawan..." seru Loo Hian sambil tertawa tergelak.

"Hingga detik ini aku Loo Hian belum pernah menjumpai manusia gagah semacam kau di kolong langit, In Pat Long! Benarkah kau tidak takut mati? Aku lihat lebih baik kurangilah ocehanmu yang terlalu sesumbar itu!"

"Fui! Berapa banyak manusia yang telah menemui ajal di tanganku, selama ini aku In Pat Long belum pernah mengerutkan dahi!"