Imam Tanpa Bayangan I Jilid 28

 
Jilid 28

TOAN HONG IN tertegun, ia tak mengira kalau pengetahuan si kakek tua itu begitu luas, sambil menatap wajahnya tajam-tajam ia mengangguk.

"Sedikit pun tidak salah, rupanya tidak sedikit yang berhasil kau ketahui."

Ouw-yang Gong tarik napas panjang-panjang, setelah menghening sejenak ia berkata kembali :

"Ilmu jari Hwie-Yan-Kim-Ci dari Loo Hian hanya diwariskan kepada anak laki-laki dan tidak diwariskan anak perempuan, dalam dunia persilatan hanya Loo Hong serta Loo Hian saja yang sanggup menggunakan ilmu ampuh tersebut, tidak mungkin Loo Hong mewariskan ilmu ampuhnya ini kepada orang lain. Hmm...! Kau manusia macam apa? Masa ia rela mewariskan ilmunya kepadamu..." "Tentang soal ini, lebih baik kau tak usah ikut campur..." tukas

Toan Hong In dengan wajah berubah.

"Kenapa aku tak boleh mengurusi persoalan ini?" seru Ouw-yang Gong lagi dengan wajah serius, "ketika aku angkat saudara dengan Loo Hian tempo dulu, ia pernah bercerita kepadaku katanya ada seorang kurcaci she Si yang telah mencuri belajar ilmu jari Hwie-Yan- Ci-nya, kemudian peristiwa itu ketahuan dan kurcaci she Si itu segera melarikan diri terbirit-birit, sejak itu ia tak pernah muncul kembali di dalam dunia persilatan. Sekarang terbukti kau dapat menggunakan ilmu jari tersebut Hmm! Ayoh jawab, apakah ilmu itu kau peroleh

dari kurcaci she Si itu " Bagian 30

"KAU jangan ngaco belo tak karuan!" bentak Toan Hong In dengan hati terkejut. "Ilmu jari itu aku dapatkan langsung dari Loo Hian sendiri..."

"Hmmm! Aku tidak percaya, selamanya Loo Hian tak pernah terima murid, dari mana ia bisa turunkan ilmu sakti itu kepadamu? Sudah mencuri, sekarang kau berani membantu kurcaci she Si itu untuk merahasiakan kejadian ini... Huuh! Selama hidup aku si ular asap tua paling benci terhadap orang yang tidak jujur, hari ini aku bersumpah akan bekuk batang lehermu untuk diserahkan kepada Loo Hian untuk dijatuhi hukuman..."

Perjalanan Toan Hong In kali ini mengunjungi gunung Thiam cong, kecuali untuk membalas dendam atas kematian dari Toan Hong ya, dia pun ingin menaklukkan semua jago lihay yang sedang berkumpul di gunung Thiam cong itu agar takluk kepada keluarga Toan.

Siapa tahu di tengah perjalanan Ouw-yang Gong telah bikin keonaran, hal ini sangat menggusarkan hatinya, dia ingin menghancurkan kakek konyol itu di tangannya.

Sayang walaupun pihak lawan sudah tua ilmu silatnya sama sekali tidak lemah, suatu ingatan segera berkelebat dalam benaknya.

"Untuk sementara lebih baik kita jangan membicarakan dulu persoalan mengenai Loo Hian serta ilmu jari Hwie-Yan-Ci," katanya kemudian, "menunggu urusan di sini sudah beres, silahkan kau berkunjung ke negeri Tayli, saat itu... hmmm..."

Ia tertawa dingin tiada hentinya, sorot mata yang dingin dialihkan ke atas wajah Pek In Hoei lalu tegurnya :

"Kaukah yang bernama si Jago Pedang Berdarah Dingin?" "Hmm, kau masih belum kenal dengan diriku?"

Toan Hong In tertegun, lalu menjawab :

"Kalau aku kenali dirimu kenapa mesti ajukan pertanyaan lagi kepadamu? Bukankah perbuatanku ini mirip copot celana untuk lepaskan kentut? Hey, orang she Pek, tahukah kau bahwa membunuh pembesar berarti ada maksud hendak memberontak? Dalam wilayah selatan kau berani bunuh kaisar dari negeri Tayli, setiap rakyat yang ada di wilayah sini tak akan melepaskan dirimu dalam keadaan hidup..."

Dari sorot mata orang yang bengis dan berkilat tajam, Pek In Hoei menyadari bahwa tenaga dalam yang dimiliki pihak lawan amat sempurna, ia tak berani memandang enteng musuhnya, mendengar tuduhan itu langsung ia membantah :

"Apa sangkut pautnya antar kematian Toan Hong ya dengan aku orang she Pek?"

"Apakah saudaraku bukan mati di tanganmu?"

"Kurang ajar, kalau menuduh orang jangan seenaknya sendiri," maki Pek In Hoei sangat gusar, "kakakmu menemui ajalnya di tangan Liuw Koei hui, mau percaya atau tidak terserah pada dirimu sendiri, kalau kau tidak cepat-cepat enyah dari gunung Thiam cong, Hmmm! terpaksa aku si Jago Pedang Berdarah Dingin harus mengusir dirimu secara paksa..."

"Apa? Kau hendak usir diriku..." saking gusarnya Toan Hong In melengak dan tertawa terbahak-bahak, "Haaah... haaah... baik, akan kupenggal batok kepalamu untuk membalaskan dendam atas kematian dari Toan Hong ya..."

Penyerbuannya ke gunung Thiam cong saat ini adalah merupakan keputusan dari hasil rapat para kerabat istana negeri Tayli, Toan Hong In punya ambisi besar untuk menduduki tahta kerajaan negeri Tayli, dia ingin melenyapkan Pek In Hoei terlebih dahulu kemudian dengan menggunakan jalan ini sebagai perintis untuk mencapai cita-citanya. Maka setelah timbul niat jahatnya di dalam hati, dia segera ulapkan tangannya, dua orang pria kekar segera meloncat keluar dari barisan dan langsung menubruk ke arah Jago Pedang Berdarah Dingin.

"kedua orang pria berbaju hitam itu tersohor karena paling kuat dalam negeri Tayli, kekuatan mereka luar bias dan masing-masing memiliki ilmu silat yang sangat lihay, maka dari itu begitu munculkan diri senjata tajam mereka segera menyambar tiba dari arah kanan mau pun kiri.

Pek In Hoei tertawa dingin ketika dilihatnya ada dua orang pria kekar mengayunkan pedangnya menyerang dia, telapak kanan tiba- tiba meluncur keluar, setelah membentuk satu lingkaran busur di tengah udara muncullah segulung angin pukulan yang maha dahsyat menghantam ke muka.

Merasakan datangnya desiran angin pukulan yang menderu-deru, kedua orang pria itu merasakan hatinya tercekat, seketika itu juga mereka terpukul mundur sejauh tujuh delapan langkah ke belakang dengan sempoyongan.

"Aaaah...!" sebelum kedua orang pria itu sanggup berdiri tegak, tiba-tiba mereka menjerit kesakitan dan darah segar mengucur keluar dari ujung bibir mereka, ditinjau dari keadaan tersebut jelas membuktikan bahwa mereka berdua telah menderita luka yang amat parah.

Terkesiap hati Toan Hong In menyaksikan kejadian itu, mimpi pun ia tak pernah menyangka kalau Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei sanggup merobohkan dua orang jago lihaynya tidak sampai satu jurus serangan, ilmu silat yang demikian dahsyatnya itu seketika menggidikkan hati para jago lainnya, untuk sesaat tak seorang manusia pun berani maju ke depan untuk menyerang pemuda itu.

Mendadak... dai antara gerombolan manusia terdengar seorang membentak keras :

"Kembalikan jiwa guruku!"

Bersamaan dengan suara teriakan itu muncullah seorang pemuda yang tinggi kekar, Pek In Hoei yang segera alihkan sinar matanya ke arah mana berasalnya suara itu seketika mengerutkan dahinya, dalam hati ia membatin :

"Soen Put Jie adalah seorang pria polos yang jujur, aku tak ingin bertarung melawan orang seperti ini..." Belum habis ingatan tersebut berkelebat di dalam benaknya, Soen Put Jie sambil membentak keras bagaikan geledek telah meloncat ke muka sambil ayunkan kepalannya.

Bagaimana pun juga Soen Put Jie adalah seorang bodoh yang sama sekali tak berotak, tatkala ia berjumpa dengan Pek In Hoei mendadak tubuhnya merandek dan berteriak :

"Eeei... bocah muda berpipi licin, bukankah kau sudah mati dibunuh oleh ilmu angin berpusing dari guruku?"

Orang ini benar-benar bodoh, ia anggap Pek In Hoei pasti mati setelah terkena badik Han Giok milik gurunya, melihat pemuda itu masih dapat berdiri di hadapannya dalam keadaan segar bugar, ia jadi tidak percaya dan keheranan.

"Tidak salah," terdengar Ouw-yang Gong menanggapi dengan cepat, "keparat cilik berpipi licin ini memang benar-benar sudah mati terbunuh oleh suhumu si anak kura-kura yang telah modar, yang berdiri di hadapanmu sekarang adalah sukmanya, eei bocah muda."

"Aaah! Masa sukma bisa berbicara?" teriak Soen Put Jie dengan hati tertegun.

Ouw-yang Gong semakin girang setelah mengetahui bahwa pemuda itu gobloknya tak ketolongan, satu ingatan dengan cepat berkelebat di dalam benaknya :

"Bocah goblok ini luar biasa bodohnya, kebetulan aku si ular asap tua sedang menganggur, biar kugoda dirinya lebih jauh "

Ia tertawa seram, dengan nada menakut-nakuti ancamnya : "Eeei bocah, sukma dapat berbicara itu berarti kau si bocah cilik

tak akan lama lagi hidup di kolong langit "

"Sungguh?" jerit Soen Put Jie semakin terperanjat.

"Tentu saja sungguh, aku lihat lebih baik kau sedikitlah berhati- hati, mati dalam usia muda benar-benar amat disayangkan "

Ia sengaja geleng kepala sambil termenung seakan-akan sedang mencarikan akal baik baginya. Hal ini semakin mencemaskan hati Soen Put Jie, ia garuk kepalanya yang tidak gatal sambil menengok ke sana kemari, mulutnya bungkam dalam seribu bahasa karena takut bila ia mengganggu maka pikiran orang jadi buyar...

Lama kelamaan Soen Put Jie tidak sabar untuk menunggu lebih lanjut, segera teriaknya :

"Eeei... cepat pikirkan satu akal bagus bagiku, wah... kalau sampai mayat hidup itu menganiaya diriku... Hiiih... aku bisa merinding..."

Toan Hong In jadi amat mendongkol ketika dilihatnya pria kekar itu dipermalukan pihak lawan habis-habisan, wajahnya kontan berubah hebat tapi disebabkan Soen Put Jie memang sudah tersohor akan kedunguannya di negeri Tayli maka ia jadi kehabisan akal, akhirnya ia menghardik :

"Enyah kau dari sini!"

Soen Put Jie kontan naik pitam, dengan mata melotot penuh kegusaran teriaknya :

"Kuberitahukan kepada guruku..."

Tapi belum habis ia berkata tiba-tiba orang tolol ini teringat bila Toan Hong ya sudah mati, saking gelisahnya ia sampai garuk-garuk kepala sambil tertawa jengah.

"Ooooh... bodoh amat kau ini, suhuku toh sudah mati mana bisa beritahukan kepadanya lagi..."

"Aduh celaka..." pada saat itulah mendadak Ouw-yang Gong berteriak keras, teriakan itu kontan membuat sekujur badan Soen Put Jie gemetar keras karena ketakutan.

Sambil menatap wajah kakek konyol itu dengan sorot mata mohon belas kasihan, ia bertanya :

"Ada urusan apa?"

Sebenarnya aku telah mendapatkan satu cara yang bagus untuk menyelamatkan jiwamu, akhirnya gara-gara bentakan bentakan bajingan itu maka pikiranku jadi buyar dan akal bagus itu lenyap kembali," seru Ouw-yang Gong sambil menuding ke arah Toan Hong In. "Waaah... waaah... kalau begitu selembar jiwamu sudah tak bisa diselamatkan lagi!"

Ucapan itu diutarakan dengan nada yang iba dan mengenaskan, ditambah pula helaan napas yang lebih membuat Soen Put Jie jadi ketakutan setengah mati.

"Aduuuu mak... tolonglah aku... coba carikan lagi satu akal bagus untukku..." teriaknya.

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... boleh, cuma kau mesti hantam dulu orang itu, nanti kupikirkan lagi satu akal bagus..."

Pada dasarnya Soen Put Jie memang seorang pria yang bebal otaknya, mendengar Ouw-yang Gong suruh ia hajar Toan Hong In lebih dahulu tanpa mempedulikan apakah orang itu angkatan yang lebih tua darinya atau bukan ia langsung ayun kepalannya dan ditonjok kepada Toan Hong In.

Pria kekar itu jadi amat gusar sekali, melihat datangnya ancaman ia mengigos ke samping, jari tangannya langsung berkelebat menotok tubuh Soen Put Jie.

"Aduuuh celaka..." jerit pria goblok itu kesakitan, "ujung jarinya memancarkan cahaya api..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... kalau begitu cepat lari ke arah selatan sejauh tiga li, di situ carilah sebuah liang kotoran manusia dan rendamkan seluruh tubuhmu di situ, jangan biarkan api setan itu menyerang hatimu, kalau tidak kau bisa modar... cepat..." seru Ouw- yang Gong sambil tertawa tergelak.

Setelah termakan oleh totokan jari itu, Soen Put Jie merasakan sekujur tulangnya jadi sakit seperti remuk, ia tidak berpikir panjang lagi setelah mendengar ucapan itu.

"Aduuuh mak..." teriaknya, tanpa banyak bicara orang itu putar badan dan langsung kabur dari situ.

Toan Hong In tak pernah menyangka di tengah jalan bisa terjadi peristiwa semacam ini, ia merasa dirinya kehilangan muka. Seluruh hawa amarahnya segera dilampiaskan ke tubuh Pek In Hoei, teriaknya dengan nada benci.

"Bajingan she Pek, pahlawan macam apakah dirimu itu??" "Hmmm, orang itu toh kau yang bawa datang, ia jual kejelekan

atau tidak apa sangkut pautnya dengan diriku? Bila kau merasa tidak terima silahkan cabut senjatamu dan mari kita bergebrak, setiap saat aku pasti melayani keinginanmu..."

"Aku hendak melepaskan api membakar gunung, akan ku musnahkan gunung Thiam cong rata dengan tanah..." teriak Toan Hong In setengah kalap.

Pek In Hoei segera tertawa dingin.

"Hmmm... ! aku rasa kau belum memiliki kemampuan untuk berbuat begitu!"

Ucapan itu segera mengingatkan kembali peristiwa yang terjadi beberapa waktu berselang, di kala perguruan Boo Liang Tiong membasmi partai Thiam cong hingga ludes sama sekali, rasa benci dan dendamnya segera berkecamuk dalam dadanya dengan sorot mata tajam dan napsu membunuh pemuda itu menatap lawannya tajam- tajam.

Bergidik hati Toan Hong In ketika saling bentrok pandangan dengan pemuda itu, ia merasa ketajaman mata lawannya bagaikan pisau belati yang menusuk dadanya.

"Ayoh kita segera mulai bertempur," serunya kemudian.

Tangannya segera diulapkan, lelaki kekar yang berada di belakang tubuhnya sama-sama membentak keras dan cabut keluar senjata mereka, kemudian siap menerjang ke arah kuil Sang-cing- koan.

Para anak murid partai Thiam cong yang bertugas menjaga gunung jadi amat terperanjat menyaksikan kejadian itu, mereka sama- sama mengundurkan diri ke kuil Sang cing koan dan melaporkan kejadian ini kepada ketua mereka Sang Kwan In. Taaaang....! bunyi lonceng bergema memecahkan kesunyian yang mencekam seluruh jagad, diiringi seruan memuji keagungan sang Budha tampaklah empat kakek tua Thiam cong Su loo dengan memimpin dua puluh orang murid partai munculkan diri dari balik pintu kuil kemudian menyebarkan diri ke dua belah sisi jalan.

Sang Kwan In diiringi para wakil pelbagai partai besar serta seluruh anak murid partai Thiam cong perlahan-lahan berjalan menuruni bukit, air mukanya dingin tiada senyuman, dengan sorot mata tajam ia menyapu sekejap wajah Toan Hong In kemudian mendengus.

"Sang Kwan Heng," Toan Hong In segera menyapa sambil menjura, "Ketika Jago Pedang Berdarah Dingin mengadakan pertemuan dengan para jago dari wilayah selatan berhubung siaute ada sedikit urusan hingga tak sempat ikut hadir di selat Seng See Kok, entah bagaimana dengan hasil pertemuan itu?"

Dalam hati Sang Kwan In dapat menangkap maksud yang sebenarnya dari ucapan itu, segera tertawa dingin dan berpikir :

"Adik dari Toan Hong ya ini benar-benar bukan seorang manusia yang gampang, cukup mengandalkan sepatah katanya barusan ia dapat memancing perpecahan di antara tubuh para jago dari wilayah selatan... Hmmm lebih baik aku tidak menanggapi ucapannya itu..."

Berpikir sampai di situ ia lantas menegur dengan suara dingin : "Ada urusan apa kau datang ke gunung Thiam cong ini?"

Toan Hong In tertawa seram, pikirnya :

"Seng See Kokcu ini sungguh amat lihay, ia hindari pertanyaan yang kuajukan sebaliknya malah menanyai diriku, bukankah itu namanya sudah tahu pura-pura bertanya??"

Air mukanya berubah jadi dingin, dengan gusar jawabnya : "Aku hendak menuntut balas bagi kematian kakakku!"

"Apa sangkut pautnya antara kematian dari Toan Hong ya dengan partai Thiam cong kami??? Di saat partai Thiam cong sedang melangsungkan upacara peresmian kami tak ingin melakukan banyak persengketaan dengan orang lain, memandang di atas hubungan kita selama banyak tahun, ini hari aku pun tak mau terlalu banyak bersilat lidah dengan dirimu, cepat bawa semua orangmu dan turun gunung..." Ucapan ini kedengarannya lunak tapi kenyataannya keras sekali,

air muka anak buah keluarga Toan seketika berubah jadi hijau membesi.

"Hmmm..." Toan Hong In sendiri pun saking gusarnya sampai mendengus ketus.

"Sang Kwan heng, apakah kau tidak merasa bahwa ucapanmu itu terlalu enteng..."

"Kenapa?" tukas Sang Kwan In marah, "Apa kau anggap aku bisa dipermainkan seenaknya? Toan heng kau telah salah melihat orang, setelah partai Thiam cong berani munculkan diri kembali di wilayah selatan, kami tak akan jeri untuk menghadapi segala macam gangguan dari kaum kurcaci seperti kau. Bila kau berani membikin keonaran lebih jauh di tempat ini, jangan salahkan kalau aku Sang Kwan In akan melupakan hubungan kita di masa yang silam dan menjatuhkan hukuman berat kepadamu."

"Bangsa kurcaci?" dengan penuh kemarahan Toan Hong In mendongak dan tertawa terbahak-bahak, "Sang Kwan heng, kau sudah menilai diriku begitu rendah dan sama sekali tak ada harganya..."

"Aku selalu menganggap bahwa kebanyakan orang kangouw adalah manusia pikun yang tak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, ambil contohnya saja, bukankah kau belum mengadakan penyelidikan sebab-sebab kematian dari Toan Hong ya? Dari mana kau bisa bersikeras menuduh bahwa perbuatan ini adalah hasil karya dari Jago Pedang Berdarah Dingin? Tolong tanya kau nilai persoalan ini dari mana????"

Toan Hong In mendengus dingin.

"Apakah Sang Kwan heng ingin mengetahui alasannya? Bila aku utarakan keluar, mungkin alasanku itu akan meninggalkan kejelekan yang tak terhingga bagaimana baik Sang Kwan heng, aku orang she Toan pun bukan baru sehari dua hari berkelana di dalam Bu lim, aku masih tahu apa artinya persahabatan bila kita saling membuka kedok, aku rasa hal ini tidak akan mendatangkan banyak manfaat bagimu..." "Haaaah... haaaah... haaaah... jadi kalau begitu Toan heng masih

memandang tinggi diriku..."

"Tentu saja!" jawab Toan Hong In sambil maju ke depan satu langkah, terusnya dengan suara menyeramkan, "engkohku adalah seorang jago kosen di wilayah selatan, andaikata cuma mengandalkan kekuatan si Jago Pedang Berdarah Dingin seorang tidak nanti engkohku bisa menemui ajalnya dengan begitu gampang; maka dari itu bila dugaanku tidak salah, engkohku bisa mati dalam keadaan mengenaskan paling sedikit pasti ada tiga orang jago lihay yang mengerubutinya secara bersama, atau kalau tidak ia terbunuh karena terperangkap oleh suatu siasat yang licin..."

Sinar matanya dengan tajam menyapu air muka Sang Kwan In, lalu sambil tertawa licik terusnya :

"Siapa tahu di antara pengeroyok itu termasuk juga Sang Kwan heng sendiri? Tapi itu hanya menurut dugaanku saja, bila aku salah berbicara harap Sang Kwan heng suka memaafkan!"

"Bagus sekali!" seru Sang Kwan In sambil tertawa dingin, "memang benar Toan Hong ya mati di dalam selat Seng See Kok kami, bila dibicarakan memang aku orang she Sang kwan tak bisa terlepas dari persoalan ini, terserahlah kau mau menuduh aku dengan tuduhan macam apa pun..."

"Ooooh... kalau begitu kau telah mengaku..."

Pek In Hoei yang mengikuti jalannya pembicaraan dari sisi kalangan, kian mendengar ia merasa semakin gusar, tanpa terasa sambil mendengus dingin tubuhnya meloncat maju ke sisi tubuh Toan Hong In hardiknya :

"Mengaku apa?" Pertanyaan ini diajukan dengan nada yang amat sombong, sikapnya ketus dan jumawa sekali membuat adik dari Toan Hong ya ini mengerutkan alisnya.

"Aku tidak bertanya kepadamu, aku harap kau tak usah ikut menimbrung di dalam pembicaraan ini."

"Oooh begitu?" ejek Pek In Hoei dengan suara dingin, "jadi kalau begitu kau adalah tuan rumah tempat ini?"

Pertanyaan tersebut segera membuat Toan Hong In jadi melengak, setelah tertegun beberapa saat lamanya ia menjawab :

"Itu sih bukan, tetapi berdiri dalam tata cara dunia persilatan paling sedikit ucapanmu haruslah sedikit sopan dan tahu diri..."

"Hmmm! Meskipun aku seringkali melakukan perjalanan di dalam dunia persilatan, tapi terhadap tata cara dunia kangouw tidak banyak yang kupahami, jadi kalau begitu aku sudah dianggap telah melakukan kesalahan terhadap Toan enghiong? Tapi tolong tanya entah bagaimana caranya kalau aku ingin minta maaf terhadap Toan enghiong..."

Perkataan tersebut benar-benar amat jumawa dan sombong, Toan Hong In bukan patung tentu saja hawa amarahnya langsung memuncak. Sreeet! Ia cabut keluar senjata Jie Sang Ki yang tersoren di punggungnya, lalu sambil maju ke depan teriaknya :

"Partai Thiam cong bukanlah sebuah partai besar yang punya nama gede, aku berlaku sungkan terhadap dirimu karena kuhormati dirimu sebagai tuan rumah tempat ini, tapi kalau memang kau tak tahu diri terpaksa aku harus mohon petunjuk darimu."

Pek In Hoei tertawa mengejek.

"Mohon petunjuk sih tak berani, cuma aku pasti akan mengiringi dirimu untuk bermain-main."

Toan Hong In tertawa dingin, ia membentak keras bagaikan suara geledek, tiba-tiba badannya bergerak maju ke depan bagaikan hembusan angin, senjata Jit Seng Ki dalam genggamannya langsung dihantamkan ke atas tubuh si anak muda itu. Bayangan senjata berkelebat di depan laksana kilat, Pek In Hoei tidak menyangka kalau kepandaian Toan Hong In di dalam permainan senjata Jit Seng Ki mencapai tingkat begitu dahsyatnya, melihat datangnya ancaman telapaknya diiringi tenaga pukulan yang maha dahsyat bagaikan sebuah payung segera didorong ke muka.

Ujung senjata lawan segera terbabat miring ke samping dan meleset dari sasarannya.

Melihat serangannya tidak mengenai sasaran, Toan Hong In mendengus dingin, tubuhnya sekali lagi mendesak ke depan, senjata Jit Seng ki-nya dengan menciptakan enam jalur bayangan secara terpisah mengancam enam buah jalan darah penting di tubuh si anak muda itu, gerakannya aneh serangannya ganas dan hebat membuat orang tak berani menilainya sebagai musuh biasa.

Dengan tangkas Pek In Hoei mengigos ke samping, lalu ejeknya dengan suara dingin :

"Hanya mengandalkan beberapa macam gerakan yang begitu sederhana, kau berani-beraninya cari gara-gara dengan pihak Thiam cong??"

"Kenapa??" teriak Toan Hong In melongo, "kau sungguh- sungguh tak sanggup untuk menyelesaikan jawabmu??"

Jurus serangannya tiba-tiba berubah sepenuh tenaga ia lancarkan serangan yang mematikan.

Pek In Hoei terperanjat juga menyaksikan kelihayan orang, ia tak mengira kalau musuhnya berhasil melumerkan jurus pedangnya di dalam permainan senjata Jit Seng Kiem In Eng.

Untuk beberapa saat ia jadi terkurung dan harus menerobos ke sana menyusup kemari dengan segenap tenaga, walaupun ia tidak sampai terluka namun untuk mempertahankan diri secara sempurna bukanlah suatu urusan yang gampang.

Toan Hong In segera tertawa terbahak-bahak ejeknya : "Manusia she Pek, aku mengira kau punya kepandaian yang maha hebat sehingga berani pentang bacot lebar-lebar, tak tahunya kemampuanmu melulu cuma begini."

Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei yang berada di dalam kepungan senjata orang jadi naik pitam setelah mendengar ejekan tersebut, sekuat tenaga ia lancarkan dua serangan berantai memaksa gerakan tangan orang she Toan itu agak mengendor, teriaknya :

"Huuuh! Kematian sudah berada di ambang pintu, kau masih juga tak tahu diri..."

Dengan susah payah Pek In Hoei berhasil merebut posisi di atas angin, tentu saja ia tak akan membiarkan musuhnya memperbaiki posisi yang makin terdesak itu, ia membentak nyaring telapak tangannya diayun ke tengah udara, seketika itu juga muncullah segulung angin pukulan yang maha dahsyat menerjang tubuh orang she Toan itu.

"Blaaam..." Toan Hong In tidak pernah menyangka kalau tenaga lweekang yang dimiliki pihak lawan telah mencapai puncak kesempurnaan, menyaksikan datangnya ancaman yang begitu dahsyat, ia mendengus, senjata Jie Seng ki-nya dengan menciptakan diri jadi selapis cahaya tajam langsung menusuk ke arah telapak tangan Pek In Hoei.

Di tengah suatu benturan keras, Toan Hong In berteriak kesakitan, tubuhnya yang tinggi besar mencelat ke tengah udara kemudian terbanting keras-keras di atas tanah.

Darah segar muntah keluar dari ujung bibirnya, dengan wajah pucat pias bagaikan mayat ia merangkak bangun dari atas tanah.

Sementara itu senjata Jit Seng ki dalam genggamannya telah hilang, wajahnya mengenaskan dengan darah menodai tubuhnya, seraya menyeka bibir ia berseru penuh kebengisan.

"Pek In Hoei, permusuhan telah terikat di antara kita, selamanya aku tak sudi hidup berdampingan dengan dirimu lagi..." "Jie ya, beristirahatlah dulu..." Lauw Seng Han buru-buru menyusul ke depan.

"Hmmm! Terserah apa yang kau inginkan," terdengar Pek In Hoei menjawab dengan nada ketus. "Aku si Jago Pedang Berdarah Dingin sudah mengikat permusuhan di mana-mana, bertambah satu dua orang manusia semacam kau pun masih belum terhitung seberapa, keramaian di kemudian hari masih teramat banyak..."

Ketika itu Lauw Seng Han sedang menguruti dada Toan Hong In tapi junjungannya segera mendorong tangannya sambil berteriak :

"Suya, turunkan perintah! Basmi habis seluruh partai Thiam cong! Jangan biarkan seorang manusia pun tetap hidup di sini..."

Sang Kwan In ketua partai Thiam cong yang mendengar perintah itu, segera berpaling ke arah Thiam cong su loo sambil menitahkan :

"Turunkan perintah, semua oran gy ini hari datang kemari untuk mengacu jangan dibiarkan terlepas dari sini dalam keadaan hidup, hancurkan mereka semua tanpa ampun..."

Rupanya pihak partai Thiam cong telah menduga bahwa pada hari itu pasti ada orang yang akan datang mengacau, maka sejak semula anak murid mereka telah disebarluaskan di tempat-tempat yang strategis sekitar bukit itu, asal komando diturunkan maka para jago lihay itu akan menyerbu keluar secara serentak.

Begitu perintah ketua mereka diturunkan, teriakan keras segera bergema memenuhi seluruh angkasa, dari tepi jalan muncullah beratus-ratus orang jago dengan senjata terhunus, asal perintah penyerbuan diturunkan serentak mereka akan menyerbu ke depan.

Memandang sekeliling tubuhnya, air muka Lauw Seng Han seketika berubah jadi pucat pias, buru-buru serunya :

"Jie ya situasi sangat tidak menguntungkan pihak kita!" "Kenapa??" tanya Toan Hong In tertegun.

"Coba lihatlah sendiri, pihak lawan menduduki posisi, lagi pula semua daerah yang strategis sudah mereka duduki, sedang jago yang kita miliki ada  batasnya, mungkin sebelum kuil Sang cing koan berhasil diserbu, jumlah korban yang berjatuhan di pihak kita sudah terlalu parah, menurut dugaan hamba lebih baik lain kali saja kita lakukan serbuan secara mendadak, biar mereka jadi kelabakan dan musnah dengan sendirinya..."

Perkataan itu diucapkan dengan suara yang amat lirih kecuali Toan Hong In seorang, yang lain sama sekali tidak mendengar apa yang ia ucapkan.

Dengan sedih Toan Hong In menghela napas panjang, kegagahannya ketika datang tadi seketika hilang bagaikan uap, teringat akan kegagahannya memimpin penyerbuan ini rasa sedih yang mencekam hatinya sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Ia geleng kepala sambil menggerutu :

"Sudah... sudahlah... mari kita pulang saja!"

Dengan keraskan hati Lauw Seng Han melangkah maju ke depan, ujarnya kepada Pek In Hoei :

"Antara kau dengan Toan jie ya kami telah terikat tali permusuhan bila kita saling bertemu lagi di kemudian hari, persoalan ini akan kita selesaikan lagi, ini untuk sementara waktu kami akan mengundurkan diri, tapi kau mesti ingat baik-baik, gunung Thiam cong bukan dari dinding baja yang sukar ditembusi, suatu hari kami pasti akan bakar sarangmu itu hingga musnah jadi abu..."

Pek In Hoei mendengus sinis, selangkah demi selangkah ia maju dan menghampiri ke depan.

Lauw Seng Han jadi pecah nyali ketika dilihatnya jago lihai yang tersohor sebagai Jago Pedang Berdarah Dingin menghampiri dirinya, dengan ketakutan buru-buru ia berseru :

"Aduuuh... yayaku... kau jangan anggap sungguhan..."

Ingin sekali Pek In Hoei menghabisi jiwa penjilat ini, ia maju dan menampar pipinya keras-keras, bentaknya :

"Enyah! Penjilat yang tak tahu malu... cepat enyah dari tempat ini..." Lauw Seng Han tak berani berbicara lagi setelah menerima satu gablokan sambil mengulapkan tangannya, bersama Toan Hong In serta para kawanannya buru-buru mereka berlalu.

Walaupun suatu pertumpahan darah yang sengit untuk sementara waktu bisa dielakkan tapi karena kejadian hari itu, permusuhan antar partai Thiam cong dengan keluarga Toan dari negeri Tayli kian lama kian bertambah mendalam.

*******

Langit biru terbentang meliputi seluruh angkasa, angin gunung berhembus sepoi-sepoi, pemandangan alam yang indah menambah semaraknya suasana pada saat itu...

Di tengah jalan raya yang membentang jauh ke ujung langit tampak seorang pemuda sedang melakukan perjalanan, dia adalah Pek In Hoei.

Kali ini seorang diri ia tinggalkan gunung Thiam cong untuk membereskan masalah pribadinya, tak seorang pun yang mengiring perjalanannya termasuk juga sahabat karibnya Ouw-yang Gong...

Suatu ketika... mendadak dari tempat kejauhan ia dengar suara dentingan yang amat nyaring berkumandang datang.

Tiiing...! Tiiing...! Tiiing...!

Pemuda itu tercengang, itulah suara senjata yang berdenting, belum sempat ingatan ke-dua berkelebat lewat kembali terdengar dengusan berat memecahkan kesunyian yang mencekam.

Dengan cepat Pek In Hoei menoleh ke arah mana berasalnya suara itu, tapi kecuali hutan belantara yang lebat tiada sesuatu apa pun yang terlihat olehnya.

Si anak muda itu semakin tercengang bercampur curiga, ia segera enjotkan badannya menerobos hutan belantara itu dan mendekati dari mana asalnya suara itu. Tampak seorang pria tinggi kekar dengan golok terhunus dan wajah menyeringai seram sedang membentak empat orang pelancong yang berlutut di atas tanah ketakutan.

Terdengar para pelancong itu pada berseru :

"Ooooh... toako, ampunilah jiwa kami."

"Toako... berbuatlah kebajikan, di rumah aku masih ada seorang ibu tua yang telah berusia delapan puluh tahun, kalau kau inginkan hartaku ambillah semua tapi selembar jiwa hamba bisa diampuni..."

"Hmmm! Tida bisa, harta mau pun nyawa aku inginkan semua, tapi... sebelum itu tahukah kalian siapakah aku?"

"Aku tahu, kau adalah bajingan tengik!" jawab salah seorang di antaranya yang bernyali besar.

Pria itu tertawa seram.

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... toaya mu bukan lain adalah si Jago Pedang Berdarah Dingin yang barusan mengadakan pertemuan dengan para jago di wilayah selatan, selamanya aku bekerja tak pernah meninggalkan korbannya dalam keadaan hidup, setelah modar nanti kalian boleh laporkan perbuatanku itu kepada raja akhirat..."

Si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei yang bersembunyi di tempat kegelapan jadi tertegun setelah mendengar perkataan itu ia tidak menyangka kalau di dalam dunia persilatan terdapat seorang manusia yang berani menyaru namanya untuk melakukan pembegalan, hawa amarahnya segera berkobar, sambil tertawa dingin tubuhnya perlahan-lahan munculkan diri dari tempat persembunyian. Dalam pada itu pria kekar itu sudah ayunkan goloknya siap memenggal tubuh beberapa orang itu, ketika melihat munculnya seorang pemuda sambil bergendong tangan tanpa terasa ia jadi

tertegun.

Tapi sejenak kemudian sambil ayunkan goloknya ia membentak kembali :

"Hey kau datang dari mana? Ayoh cepat serahkan semua harta kekayaanmu!" "Oooh... tay ong! Kau datang dari gunung mana?" Pria itu tertawa dingin, lalu menjawab :

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... toa ya mu adalah si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei yang berasal dari gunung Thiam cong. Eeeei! Kunyuk muda, setelah berjumpa dengan aku si Jago Pedang Berdarah Dingin, kenapa kau tidak jatuhkan diri berlutut..."

Ucapannya yang ngaco belo tak karuan itu semakin menggusarkan hati pemuda kita :

Pek In Hoei diam-diam tertawa, pikirnya :

"Biar aku lihat dulu obrolan apa saja yang akan dikatakan oleh bocah keparat ini, kemudian baru kubereskan dirinya..."

Dengan wajah pura-pura terkejut bercampur tercengang ia berseru :

"Oooh... jadi tay ong adalah Pek In Hoei yang tersohor itu?" "Hmmm! Sedikit pun tidak salah," sahut pria itu dengan bangga. "Waaah... Tay ong, kalau begitu aku sudah tukar pekerjaan?" "Apa maksudmu?"

Sambil pura-pura ketakutan Pek In Hoei mundur dua langkah ke belakang, sahutnya:

"Menurut kabar yang tersiar di dalam dunia persilatan, sewaktu Pek In Hoei terjun ke dunia kangouw hingga punya julukan sebagai si Jago Pedang Berdarah Dingin senjata yang dipergunakan adalah sebilah pedang mestika yang disebut pedang mestika penghancur sang surya dan sekarang secara tiba-tiba kau telah tukar dengan sebilah golok bukankah itu berarti bahwa kau sudah tukar pekerjaan..."

Pria semakin melengak, ia tak pernah menyangka kalau pemuda tampan di hadapannya mempunyai pengetahuan yang begitu luas mengenai kejadian di dalam Bu lim, sambil ayun goloknya ia segera membentak :

"Ayoh keluar... Oo...! Siapakah kau si bocah cilik?? Kalau ngomong saja ngaco belo tak karuan!" Air muka Pek In Hoei berubah jadi keren, dengan napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya ia tatap wajah pria itu tajam-tajam, katanya :

"Jago Pedang Berdarah Dingin adalah sahabat karibku, selama hidup ia tak pernah melakukan perbuatan jahat, bangsat! Mengapa kau berani mencatut namanya untuk melakukan perbuatan terkutuk..." Traaang...! Saking tercekatnya hati pria itu, mendadak sekujur badannya gemetar keras, golok kepala setan dalam genggamannya segera terlepas dari genggaman dan jatuh ke lantai, tanyanya dengan

suara tersendat-sendat :

"Kau... kau... kau adalah sahabat karib si Jago Pedang Berdarah Dingin?"

Orang ini pun cukup cerdik setelah mengetahui bahwasanya orang itu adalah sahabat karib Pek In Hoei si Jago Pedang Berdarah Dingin, sadarlah dia bahwa orang yang berada di hadapannya pasti memiliki ilmu silat yang lihay, mengetahui bahwa kepandaian sendiri tak seberapa tentu saja dia jadi ketakutan setengah mati, setelah mendengar gertakan lawannya, begitu takutnya sampai tanpa sadar ia terkencing-kencing.

Pek In Hoei sama sekali tidak menggubris dirinya lagi, kepada ke-empat orang pelancong yang nyaris dirampok itu serunya :

"Kalian boleh segera pergi dari sini, bangsat keparat ini bukan Jago Pedang Berdarah Dingin..."

Ke-empat orang pelancong itu jadi kegirangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun mereka sambar barang milik sendiri dan kabur dari hutan tersebut.

Sepeninggalnya pelancong-pelancong tadi, Pek In Hoei baru berpaling dan menatap kembali wajah pria tadi, perlahan-lahan ia cabut keluar pedang mestika penghancur sang surya sambil berkata : "Bangsat cilik, kau berani mencatut nama orang untuk berbuat kejahatan, dosamu tak bisa diampuni lagi, akan kucabut selembar jiwa

anjingmu!" "Yaaah... ampun... ooh! Toa ya, ampunilah jiwaku... aku tobat... lain kali aku tak berani melakukan perbuatan ini lagi... oooh Toa ya..." rengek pria itu sambil berteriak-teriak keras.

"Hmmm! Sayang moralmu sudah terlalu bejat, aku tak dapat mengampuni dirimu lagi..."

"Oooh Toa ya asal kau mengampuni jiwaku, hamba akan beritahukan satu urusan kepadamu!"

"Cepat katakan! Tapi aku akan memperingatkan dirimu lebih dahulu, kalau kau berani bermain curang atau bermain setan di hadapanku, itu sama artinya mempercepat kematianmu sendiri..."

"Sekali pun nyali hamba lebih besar pun tak akan berani mencatut nama Jago Pedang Berdarah Dingin untuk melakukan pembegalan," lapor pria itu dengan badan gemetar. "Kemarin malam aku didatangi seorang pincang yang mengaku she Si, ia suruh hamba melakukan perbuatan ini, katanya selain ia tak akan menerima emas atau perak hasil begalanku, bahkan setiap hari dia akan menggaji dua tahil perak bagiku..."

Dari perkataan tersebut Jago Pedang Berdarah Dingin segera menyadari bahwa peristiwa ini bukan suatu kejadian biasa, di belakang pria tersebut pasti ada orang yang jadi dalangnya, tapi siapakah orang itu? Untuk beberapa saat lamanya ia tak berhasil mengetahuinya, seingatnya di antara sederet nama musuh-musuh besarnya, sama sekali tidak tercantum nama seorang she Si yang pincang.

"Siapakah orang itu?" tegur pemuda itu kemudian setelah termenung dan berpikir beberapa saat lamanya.

"Aku!"

Jawaban itu muncul secara mendadak dan sama sekali tak terduga.

Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei terperanjat, laksana kilat dia berputar ke belakang dan siap siaga menghadapi segala kemungkinan. Seorang pria berusia pertengahan yang memakai jubah warna abu-abu tampak berdiri bersandar di atas pohon, kaki orang itu pincang sebelah sedang matanya lebih banyak putihnya daripada hitam, sepintas lalu nampak bengis dan mengerikan.

Pek In Hoei bukan terkejut karena wajahnya yang mengerikan, tapi ia kaget akan kelihayan ilmu meringankan tubuhnya. Dia percaya dengan tenaga dalam yang dimilikinya sekarang, siapa pun yang mendekati dirinya pasti akan diketahui dengan cepat.

Tapi nyatanya kehadiran orang itu sama sekali tak diketahui olehnya, apalagi orang itu adalah seorang pincang, dari ini dapat ditarik kesimpulan bahwa tenaga dalam yang dimiliki orang itu kemungkinan besar jauh melebihi dirinya.

"Siapa kau?" pemuda she Pek itu segera menegur dengan alis berkerut.

"Aku bernama Si Bu Mo, belum pernah berkelana di dalam dunia persilatan, mungkin kau belum pernah mendengar nama itu..."

Sementara itu melihat kemunculan Si Bu Mo di tempat itu, bagaikan bertemu dengan bintang penolong pria tadi segera berteriak keras :

"Oooh... Si toa ya, akhirnya kau datang juga..."

"Hmmm! Orang yang kutunggu telah datang, di sini sudah tak ada urusanmu lagi," seru Si Bu Mo sambil melemparkan sekeping uang perak ke atas lantai, "pergilah sana, yang dia cari adalah aku, tak mungkin kepergianmu dihalangi. Nah! Ayoh cepat pergi!"

Seolah-olah mendapat pengampunan besar, pria itu cepat-cepat serobot uang perak itu dari atas tanah, kemudian setelah melirik sekejap ke arah Pek In Hoei, dia kabur dari situ.

Perlahan-lahan Pek In Hoei alihkan pandangannya ke arah orang itu, napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, sambil tertawa gemas ia berseru : "Manusia berhati rendah, mengapa kau gunakan cara yang demikian rendah dan hinanya untuk merusak nama baikku? Apa maksudmu yang sebenarnya..."

"Nama besar Jago Pedang Berdarah Dingin dalam dunia persilatan terlalu besar dan tersohor, untuk mengundang dirimu bukanlah satu pekerjaan yang gampang, bila aku tak menggunakan cara ini dari mana kau bisa kutemui..." sahut Si Bu Mo sambil tertawa dingin. 

Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei semakin murka sehabis mendengar ucapan itu, bentaknya :

"Hmmm! Kau hanya tahu memenuhi keinginan pribadimu, tapi lupa bahwa perbuatanmu itu justru akan mengorbankan manusia yang tak berdosa, seandainya aku tidak tega untuk turun tangan membinasakan pria itu, bukankah sedari tadi ia sudah mati konyol di tanganku..."

"Apa salahku? Bila sampai terjadi pembunuhan maka kejadian ini harus disalahkan dirinya sendiri, siapa suruh dia terlalu kemaruk akan harta..."

Nadanya dingin, ketus dan sama sekali tidak disertai emosi, diam-diam Pek In Hoei bergidik juga menghadapi manusia semacam ini, banyak jago Bu lim yang pernah ia jumpai tapi belum pernah menemukan manusia seram macam Si Bu Mo.

Setelah suasana hening beberapa waktu, pemuda itu kembali tertawa dingin, katanya :

"Ada urusan apa kau datang mencari diriku?" "Gampang sekali, aku datang untuk membalas dendam."

"Membalas dendam...?" Pek In Hoei merasa belum pernah bertemu atau pun berkenalan dengan manusia yang mengaku bernama Si Bu Mo ini, dari mana permusuhan bisa terjadi?"

Pemuda itu segera tertawa dingin.

"Hey! Kalau kau belum edan, mari kita bicarakan persoalan ini sebaik-baiknya, sekalipun aku si Jago Pedang Berdarah Dingin selama melakukan perjalanan dalam dunia persilatan telah banyak mengikat permusuhan dengan orang, seingatku belum pernah aku bermusuhan dengan manusia macam kau. Kita toh tak pernah mengenal satu sama lain, bahkan bertemu pun baru pertama kali ini, dari mana kau bisa mengatakan bahwa kedatanganmu adalah hendak menuntut balas..."

"Heeeh... heeh bagus, bagus sekali, aku orang she Si bisa berkenalan dengan manusia semacam kau, hidupku memang boleh dibilang semakin semarak, kau tak usah mungkir lagi, dalam catatanku sudah tertulis jelas hutangmu setiap sen setiap ketip, kau mesti ingat hutang uang bayar uang, hutang nyawa bayar nyawa, masa begitu cepat kau telah melupakan peristiwa yang terjadi dalam selat Seng See Kok?"

"Oooh... iya? Kenapa aku tidak ingat kalau dalam selat Seng See Kok pernah hutang kepadamu?"

"Tiba Si Bu Mo mendengus dingin, tegasnya :

"Mau bayar atau tidak, yang penting aku orang she Si sudah penuju dirimu, bagaimana pun juga hutang itu harus dibayar berikut rentenya."

Bagaikan segulung angin puyuh ia terjang ke depan secepat kilat, cakar mautnya langsung mencengkeram bahu pemuda itu, ke-lima jarinya yang tajam terasa amat sakit sewaktu menempel di kulit.

Pek In Hoei segera meloncat ke samping sindirnya sambil tertawa dingin.

"Huuuh... ! Cakarmu itu lebih kotor dan bau daripada cakar anjing, lebih baik simpan saja untuk garuk-garuk badanmu sendiri yang banyak kutu... "

Di luar ia mengejek, gerakan tubuhnya tidak mengendor, secara beruntun ia bergeser sebanyak tiga kali, dengan gampangnya pula tiga buah serangan berantai orang she Si itu berhasil dihindari. "Bangsat cilik, mulutmu terlalu bau, aku harus sikat dulu bacotmu itu agar bisa memperdengarkan suara yang lebih merdu," teriak Si Bu Mo sambil tertawa seram.

Kali ini Jago Pedang Berdarah Dingin betul-betul sudah ketanggor batunya, ilmu silat yang dimiliki pihak lawan bukan saja sangat lihay, gerakan tubuhnya amat gesit bahkan mulutnya pun pandai berbicara.

Untuk beberapa saat lamanya ia merasa hatinya tercekat, tak teringat olehnya jago lihay dari manakah yang sedang dihadapinya saat ini.

Secara beruntun ia lancarkan dua serangan dahsyat, dengan susah payah akhirnya dia berhasil juga memaksa Si Bu Mo mundur dua langkah ke belakang.

Sungguh lihay orang pincang she Si ini, setelah terdesak mundur ke belakang ia segera unjukkan kehebatannya dengan suatu gerakan tubuh yang aneh, tiba-tiba badannya menerjang ke depan dan merebut posisi baik lima jarinya bagikan kaitan langsung menyambar dada si anak muda itu.

"Sahabat karibku," ejeknya, "kenapa tidak undang keluar sahabat yang telah membantu mempopulerkan dirimu itu?"

"Aku rasa tak perlu mencari bala bantuan," jawab Pek In Hoei sambil bacok pergelangan lawan. "Bukankah sahabatmu juga belum kau undang untuk tinggalkan sarangnya?"

Lengan kanannya tiba-tiba membalik mencengkeram senjata lawan yang tersembul di balik bahu, sementara kakinya dengan cepat menghadiahkan sebuah tendangan kilat.

Dalam keadaan begini terpaksa Si Bu Mo harus mundur enam langkah ke belakang, diam-diam ia kagum atas kehebatan lawannya yang masih muda belia itu.

"Tidak aneh kalau muridku masih bukan tandinganmu, rupanya kepandaian silat yang kau miliki hebat juga..." serunya kemudian sambil tertawa seram. "Hmm... Jago Pedang Berdarah Dingin, ini hari aku orang she Si akan membagi keuntungan bagimu!"

"Siapakah muridmu?" tanya Pek In Hoei melengak.

"Hmm.. hmm.. kau betul-betul seorang pelupa yang pikun, masa muridku juga sudah kau lupakan... " sinar mata bengis berkilat tajam, sambil tunjukkan jari tangannya ia menambahkan :

"Sekarang mungkin kau sudah tahu siapakah aku!"

Cahaya tajam yang memancarkan sinar membara menyorot keluar dari ujung jarinya, begitu merah membara jarinya itu hingga menyerupai tongkat besi yang membara. Pek In Hoei seketika berdiri terkesiap, dalam benaknya terbayang kembali olehnya akan wajah Toan Hong In, adik Toan Hong ya yang pernah menggunakan pula ilmu jari semacam itu.

Ia segera berseru :

"Oooh...! Rupanya kau adalah tulang punggung Toan Hong In yang disebut sebagai suhu, waah... kalau begitu maaf yaah kalau aku kurang hormat padamu, Eei... pincang kenapa dari tadi kau tidak mau bilang bahwa kau bermodal cukong? Tahu begini sedari tadi aku orang she Pek sudah layani permintaanmu, mari.. mari.. mari kita mulai sekarang juga?"