Imam Tanpa Bayangan I Jilid 27

 
Jilid 27

"HAAA... haaa... haaa.... acara bagus masih ada di belakang, perlahan-perlahan kau akan mengetahui sendiri," sorot matanya mengerling sekejap ke arah Liuw Koei hui dan menambahkan. "Totoklah dahulu jalan darah Kie-kan, Cie-ti serta Ci-Hu tiga buah jalan darahnya."

Liuw Koei hui mengiakan dan segera meloncat maju ke depan, sepasang tangannya bergerak cepat, dalam sekejap mata beberapa buah jalan darah di atas tubuh si kakek konyol itu sudah tertotok.

Toan Hong ya memandang wajahnya dengan sorot mata mengerikan, ia berkata :

"Untuk sementara waktu bangsat tua itu aku serahkan kepadamu, setelah kubunuh semua orang yang ada di sini, bawalah bangsat tua ini ke dalam keratonku, aku hendak baik-baik mendidiknya."

"Hamba terima perintah!" sahut Liuw Koei hui sambil memberi hormat.

Toan Hong ya alihkan sinar matanya memandang sekejap wajah Sang Kwan In, lalu katanya :

"Sekarang apa yang hendak kau katakan lagi?"

"Hmmm! Kau hendak bacok silahkan bacok, mau bunuh silahkan bunuh, aku orang she Sang Kwan sama sekali tidak gentar, tapi aku hendak memberitahu dulu kepadamu, dalam selat Seng See Kok ini jago lihay amat banyak dan tersebar di empat penjuru, gampangan kau datang kemari dan belum tentu bisa tinggalkan tempat ini dengan seenteng mungkin sebelum berhasil keluar dari sini kau telah mati dulu di atas genangan darah."

"Haaaah... haaaah... haaaah... kiranya kau masih ingin mengandalkan empat orang kakek tua dari Partai Thiam cong itu untuk melindungi dirimu, hmmm, Sang Kwan In! Terus terang kuberitahukan kepadamu, ketika aku datang tadi putrimu serta ke- empat orang kakek tua tadi sudah mengalami nasib yang sama, mungkin pada saat ini mereka masih tertiup angin di tempat semula." "Kau telah turun tangan keji terhadap mereka?" tanya Sang Kwan

In dengan nada sedih.

Toan Hong ya gelengkan kepalanya.

"Sewaktu datang kemari tadi aku tidak mempunyai rencana demikian, maka hanya kutotok jalan darah mereka, tetapi keadaan yang terbentang di depan mata saat telah memaksa diriku untuk merubah semua rencanaku, karena engkau kemungkinan besar semua orang akan mati terbunuh konyol!

"Orang she Toan, sekalipun aku telah berubah jadi setan pun akan mencekik dirimu sampai mati!" sumpah Sang-kwan In dengan penuh kemarahan.

"Hmm.... Hmm.... mungkin kau tak akan memiliki kemampuan sampai sebesar itu !"

Dengan pandangan licik ia menatap wajah Sang-kwan In lalu tertawa terbahak babak tapi ketika sampai di tengah jalan mendadak suara tertawanya sirap, wajahnya berkerut kencang dan memandang atas wuwungan rumah dengan mata terbelalak, dengan kaget bercampur gugup ia mundur selangkah ke belakang.

Di atas tiang penglari tampaklah sesosok bayangan hitam berdiri disitu, meskipun hanya bayangan punggungnya saja yang kelihatan secara, tetapi bayangan itu amat dikenal oleh Toan Hong ya.

Sekujur tubuhnya gemetar keras, bisiknya lirih : "Kau... kau... Cia..." Tiba-tiba orang itu menoleh, selembar wajah yang mengerikan terbentang nyata di depan mata, sorot mata orang itu tajam seakan- akan baru datang dari akhirat, dengan suara yang dingin bagaikan sukma gentayangan orang itu berkata:

"Orang she-Toan, kau tak akan menyangka bukan kalau aku masih hidup di kolong langit?"

"Siapa kau?" bentak Toan Hong ya setelah menenteramkan hatinya. ' -

"Aku adalah malaikat sukma.. seorang manusia yang telah terbuang dari dunianya, aku pun sesosok sukma yang penuh dengan hutang darah, aku datang ke dunia ini untuk menagih hutang-hutang darahku dengan beberapa orang, kau adalah manusia pertama yang akan kucari"

Suara itu terlalu dikenal olehnya, meskipun sudah terpaut banyak tahun tetapi Toan Hong ya segera kenali siapakah orang itu setelah mendengar suaranya. Dengan penuh ketakutan ia mundur satu langkah ke belakang, bisiknya:

"Kau... kau masih hidup?"

"Aaa... kau... adalah Ceng Gak! tiba-tiba Liuw Koei Hui menjerit lengking... Cia Ceng Gak, kau benar-benar belum mati!'

Dengan pandangan dingin orang itu menyapu sekejap ke arahnya, kemudian berkata:

"Badan kasar Cia Ceng Gak telah binasa, yang ada hanyalah sukmanya yang selalu akan gentayangan di kolong langit, kejadian yang menimpa dirimu memang patut dikasihani tapi sayang cinta sepihakmu hanya suatu impian belaka, akhirnya toh nihil yang kau peroleh!"

"Ceng Gak! kau masih ingat akan diriku??" Cia Ceng Gak menghela napas panjang.

"Terhadap siapa pun aku masih ingat dengan jelas, terutama sekali terhadap kau dan Toan Horg ya, tiap hari aku selalu terkenang dan tak pernah melupakannya " "Sungguh?" jerit Liuw Koei Hui kegirangan, "Jadi kalau begitu penantianku selama beberapa tahun tidaklah sia-sia belaka!"

"Kau telah menunggu dengan sia-sia" tukas Cia Ceng Gak ketus. "Cia Ceng Gak yang ada sekarang sudah bukan pemuda tampan pada masa yang silam lagi, wajahku memuakkan hati setiap orang, siapa yang berani hidup bersama dengan diriku lagi."

"Aku "

Ketika sorot matanya bertemu dengan raut wajah lawannya yang begitu mengerikan, ucapan selanjutnya tak sanggup diteruskan lagi. Walaupun orang jelek banyak terdapat di kolong langit tetapi tak seorang manusia pun yang mempunyai raut wajah sejelek Cia Ceng Gak saat ini.

Tatkala dilihatnya Liuw Koei Hui jadi ketakutan sehingga tak berani meneruskan kembali kata-katanya, Cia Ceng Gak segera tertawa dingin dan berkata :

"Huuh... yang kau sukai hanyalah raut wajah yang tampan, dan kini raut wajah tampan yang selama ini kau idam-idamkan telah musnah berantakan, aku tiada berharga untuk kau cintai lagi "

Mendadak ia menghela napas panjang, tambahnya :

"Siapa yang tahu bagaimana kejadian hingga wajahku jadi hancur dan musnah hingga berubah jadi begini?"

Toan Hong ya tersentak kaget dan menunduk dengan penuh ketakutan, keringat dingin mengucur keluar menghabisi seluruh tubuhnya, meskipun batinnya suruh ia berusaha untuk tenangkan hatinya, tetapi jantungnya tetap berdebar dengan amat keras.

"Beritahukan kepadaku, siapa yang telah menghancurkan raut wajahmu terdengar Liuw Koei Hui berseru dengan nada sedih.

"Setelah kuberitahukan kepadamu, apa yang hendak kau lakukan? Apakah kau dapat membalaskan sakit hatiku...

"Tentu saja, sekalipun orang yang paling akrab dengan diriku aku pasti akan membinasakan dirinya di hadapanmu juga. " "Oooo. Kalau begitu kau benar-benar masih mempunyai rasa cinta terhadap diriku..." seru Cia Ceng Gak, ia melirik sekejap ke arah Toan Hong-ya lalu menambahkan, "Orang itu bukan lain adalah manusia yang berada di depan matamu..."

Dengan hati terkesiap Toan Heng-ya angkat kepalanya, saking takut dan kedernya tak sepatah yang sanggup diucapkan keluar.

Sedang Liuw Koei Hui sendiripun merasa kejadian ini sedikit berada di luar dugaannya ia jadi gelagapan dan tak tahu apa yang mesti dilakukan.

"Orang she Toan," seru Cia Ceng Gak dengan suara berat. "Beranikah kau mengakui akan kejadian ini?"

"Kenapa aku mesti takut untuk mengakuinya?" balas Toan Hong- ya dengan suara gemetar.

Dalam pada itu Liuw Koei Hui telah berhasil menenangkan hatinya, dengan sinar mata penuh keheranan ia memandang wajah Toan Hong ya tajam-tajam, perasaan hatinya jadi kalut dan sukar dilukiskan dengan kata-kata mendadak sambil berlutut ia berkata :

"Sri Baginda, kenapa kau mencelakai Ceng Gak dengan cara begitu keji?..."

Toan Hong-ya menghela napas panjang.

"Sejak aku berikan dirimu kepada Cia Ceng Gak, dalam hati kecilku telah mengambil keputusan untuk menjodohkan kalian berdua hingga bisa hidup rukun hingga akhir tua nanti, siapa tahu Sang-kwan In keparat tua ini telah menghasut Ceng Cak hingga hubungan kalian jadi berantakan tak karuan, dalam sedih dan sakit hatiku akhirnya aku bersumpah untuk menemukan kembali Cia Ceng Gak guna diserahkan kembali kepadamu, bila ia tak mau kembali ke sisimu terpaksa akan kumusnahkan raut wajahnya yang tampan itu, dalam keadaan demikian terpaksa aku harus bertindak keji..."

"Ku« berbuat demikian memang demi kebaikanku," kata Liuw Koei Hui hambar, "Mana mungkin aku menyalahkan dirimu dan menganggap budi sebagai dendam, Hong ya! Hamba tiada sesuatu apapun yang bisa kuberikan kepadamu untuk membalas budi kebaikanmu itu, maka harap kau suka menerima tiga buah penghormatanku sebagai tanda rasa baktiku terhadap dirimu..."

"Tak usah banyak adat!" buru-buru Toan Hong-ya maju mencegah.

Baru saja tangannya menyentuh lengan perempuan itu. Tiba-tiba Liuw Koei Hui dengan menggunakan gerakan tangan yang cepat dan aneh mencengkeram tengkuk Toan Hong-ya lalu dicekiknya dengan sekuat tenaga...

"Kau... jerit Toan Hong-ya dengan suara gemetar.

Begitu kencang cekikan itu hingga membuat pernapasan kaisar dari negeri Tayli ini terhenti sejenak, di saat yang kritis itulah timbul sesuatu kekuatan dalam tubuhnya untuk menyelamatkan diri, sekuat tenaga dia hantam tubuh Liuw Koei Hui.

Blaam...! dalam jarak yang begitu dekat, pukulan tersebut dengan telak bersarang di atas tubuh lawannya.

Dengan penuh kesakitan Liuw Koei Hui menjerit ngeri, darah segar muncrat keluar dari ujung bibirnya, ia mendengus penuh kebencian, serunya :

"Hong-ya, sikapmu terhadap diriku terlalu baik, tetapi aku tak bisa menerima kebaikanmu itu, kau berani menghancurkan hidup Ceng Gak maka terpaksa akupun harus mencekik dirimu sampai mati!"

Mati-matian ia cekik tengkuk kaisar itu membuat tubuh Toan Hong-ya jadi sempoyongan, matanya jadi berkunang-kunang dan dadanya terasa amat sesak, akhirnya ia tak tahan dan roboh ke atas tanah.

Tetapi sesaat sebelum menghembuskan napasnya yang penghabisan, rupanya Toan Hong-ya merasa tidak rela mati dengan begitu saja, telapaknya direntangkan lebar, ke-lima jarinya bagaikan pisau belati ditusuk ke atas dada Liuw Koei hui hingga tembus pada punggungnya. Perempuan itu menjerit ngeri, badannya kejang dan darah segar muncrat keluar membasahi seluruh lantai, melayanglah jiwa selir dari negeri Tayli ini dalam keadaan mengerikan.

Air muka Toan Hong-ya sendiri pun berkejut kencang, sepasang matanya melotot bulat-bulat, kakinya menjejak lantai dan kaisar dari negeri Tayli inipun menghembuskan napasnya yang penghabisan.

Sang-kwan in diam-diam menghela napas panjang, sambil menggeleng katanya :

"Hukum alam selalu akan menimpa mereka yang bersalah, sungguh tak nyana seorang kaisar dari suatu negeri harus menemui ajalnya dalam keadaan yang begini mengenaskan... Ceng Gak-heng sakit hatimu akhirnya terbalas juga..."

"Dia telah mati " ujar Cia Ceng Gak sedih.

Tiba-tiba terdengar Liuw Koei Hui merintih rupanya ia belum putus nyawa, dengan wajah dihiasi senyuman ia nampak mendongak lalu berbisik dengan air mata bercucuran:

"Ceng Sak, aku telah membalaskan sakit hatimu "

"Benar kau terlalu mencintai diriku, aku merasa menyesal terhadapmu "

Liuw Koei Hui menghembuskan napas panjang, katanya lagi : "Sekarang aku baru tahu arti sebenarnya dari cinta, cinta dapat

menimbulkan keberanian bagi seseorang, dapat pula menghilangkan kejantanan seseorang, aku bisa melakukan suatu pekerjaan yang menggirangkan hatimu, sekalipun harus ditukar dengan kematian bagiku "

Dengan suara mirip mengigau ia melanjutkan :

"Mungkin aku akan berangkat lebih dahulu daripada mu, aku akan mengakhiri perjalananku di dalam dunia ini, aku akan menantikan kedatanganmu di tempat yang jauh, di situ akan kubangun sebuah kebun bunga yang indah, seindah kebun bunga di istana negeri Tayli, setelah kau menyusul diriku nanti, kita akan tinggal di tempat itu, selamanya tak akan keluar lagi.... benar, akan kucarikan pula beberapa orang dayang keraton untuk melayani dirimu, agar kau bisa merasakan kehidupan yang penuh kebahagiaan."

Ditatapnya wajah Cia Ceng Gak dengan sorot mata penuh rasa cinta, lalu tambahnya :

"Sekarang aku tidak takut lagi dengan raut wajahmu, apa salahnya wajah yang bagus atau jelek? Yang kubutuhkan hanya hatimu, asal hatimu baik "

"Kau sangat baik. "

Tiba-tiba Liuw Koei Hui tertegun sejenak seperti telah teringat akan suatu persoalan, ia tertawa sedih dan berkata kembali :

"Kau? kenapa tidak memanggil namaku? Bukankah kau paling suka dengan namaku. "

Ucapannya terputus dan napasnya mendadak memburu, sikap Cia Ceng Gak nampak sangat gelisah hingga keringat dingin mengucur keluar hingga membasahi tubuhnya, ia tetap tak menjawab.

Liuw Koei Hui semakin tertegun, dengan napas terengah-engah serunya :

"Paa... panggillah aku   "

Tapi ia putus asa, sebelum ia mendengar jawaban diri pihak lawan napasnya telah putus. Sesaat sebelum menghembuskan napasnya yang penghabisan wajahnya nampak terkilas beberapa buah pertanyaan yang mencurigakan hatinya, tapi pertanyaan itu selamanya tak akan terjawab, sebab ia telah mati/

Memandang jenazah Liuw Koei Hui yang membujur di atas lantai, Cia Ceng Gak berkata dengan suara gemetar :

"Maafkan daku! terpaksa aku harus berbuat demikian, kalau tidak maka seluruh penghuni selat Seng See Kok bakal musnah Aaai!

aku tahu bahwa perbuatanku menipu cinta kasihmu adalah suatu perbuatan yang salah. "

Secara beruntun Toan Hong ya serta Liuw Koei hui telah meninggal dunia, kejadian ini membuat suasana dalam ruangan berubah jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun. Lama sekali   Sang-kwan In baru buka suara dan berkata :

"Saudara Ceng Gak, kau tak usah bersedih hati! Liuw Koei Hui bisa mati dalam keadaan tenang sudah merupakan suatu kejadian yang membahagiakan dirinya. Siapa yang bisa menghindari kematian? cuma waktunya saja yang berbeda. "

"Ayah!" mendadak orang itu berseru.

Sang-kwan In hampir saja berdiri kaku, ia tak percaya ucapan itu bisa muncul dari mulut Cia Ceng Gak, dengan penuh kecurigaan ia berpaling keluar pintu kemudian berkata :

"Saudara Ceng Gak, kau "

"Ayah... aku adalah Cing Cing "

Mendadak Cia Ceng Gak putar badan dan menarik wajahnya, segera muncullah raut wajah Sang-kwan Cing yang cantik.

Sang-kwan In semakin melengak, ia berseru : "Cing-jie, dari mana bisa kau? "

Dengan air mata bercucuran Sang-kwan Cing menjawab : "Setelah jalan darah ananda tertotok oleh Toan Hong-ya, diam-

diam aku kerahkan tenaga untuk membebaskan pengaruh totokan tersebut. Untung Toan Hong-ya agak ringan turun tangan terhadap diriku. Setelah jalan darahku bebas, tanpa sengaja di atas lantai aku telah menemukan sejilid kitab kecil yang jatuh dari saku Toan Hong- ya, dalam kitab tersebut tercatat semua kisah kejadiannya dengan Cia Ceng Gak.

"Karena keadaan ayah amat berbahaya, aku segera membebaskan Thiam-cong Su Loo dan ajak mereka berunding, tiba-tiba kami mendapat satu akal, dengan cara ini aku hendak menakuti Toan Hong- ya, maka segera kucari sebuah topeng kulit "

"Bocah durhaka!" damprat Sang-kwan In dengan wajah berubah hebat, "Tahukah kau bahwa perbuatanmu itu sudah mencelakai dua lembar jiwa manusia " hingga suara pun bisa kau tirukan sedemikian

tepat, aku tidak habis mengerti sedari kapan kau pelajari begitu banyak kepandaian " Yang berbicara bukan aku, empek Tiong Yan lah melayani tanya jawab itu sambil bersembunyi di atap rumah, karena itulah aku tak berani meloncat turun ke bawah. Kemunculan aku yang mendadak rupanya sangat mengejutkan hati Toan Hong ya serta Liuw Koei Hui hingga mereka sama sekali tidak mengetahui akan penyaruanku... "

Diam-diam Sang kwan In menghela napas panjang, katanva kemudian :

"Kematian dari Toan Hong ya tak usah kita sesalkan, yang patut dikasihani adalah Liuw Koei Hui, kehidupannya selama ada di dunia amat payah dan penuh penderitaan, meskipun pikirannya terlalu picik tapi selama hidupnya amat jarang melakukan kejahatan, perbuatanmu yang telah membohongi dia tentu akan membuat sukmanya di alam baka jadi tak tenteram..."

"Ananda tahu bahwa perbuatan ini amat bersalah terhadap Liuw Koei Hui... " sahut Sang kwan Cing sambil tundukkan kepalanya. "Aku tidak pantas menggunakan cara seperti ini untuk membohongi cinta kasihnya, untuk menebus dosaku ini ananda rela jadi anak angkatnya, akan kukubur jenazahnya secara layak dan menjaga pusaranya... "

Sang kwan In masih ingin mengucapkan sesuatu lagi, pada saat itulah empat kakek tua dari partai Thiam cong telah melangkah masuk ke dalam ruangan, Tiong Yan langsung minta maaf kemudian ujarnya dengan gelisah :

"Sang kwan Kokcu, apakah Pek In Hoei bisa mati?"

Sang Kwan In tidak menjawab, ia periksa nadi si anak muda itu lalu menghela napas panjang, katanya kemudian setelah memandang jenazah dari Toan Hong ya.

"Jarang sekali ada orang yang sanggup menerima pukulan penebus awan itu, dalam lukanya Pek In Hoei harus menerima pula sebuah pukulan berat dari ilmu sakti itu. Sebenarnya ia bakal mati binasa, tapi menurut denyutan nadinya barusan aku rasa ia berada dalam keadaan normal, mungkin tiada persoalan atas dirinya..." Thiam cong su loo sama-sama menghembuskan napas lega, kerutan dahi yang semula menghiasi wajah mereka kian lama kian bertambah tawar, ketegangan pun semakin mengendor.

"Ayah," tiba-tiba Sang Kwan Cing berseru, "bagaimana caranya untuk memunahkan serbuk racun pasir bintang langit..."

"Tad ada cara lain kecuali menelan obat penawar khusus dari serbuk racun itu..." jawab Sang Kwan In sambil geleng kepala.

Sang Kwan Cing segera lari ke sisi mayat Toan Hong ya dan menggeledah sakunya, tidak lama kemudian dari dalam saku kaisar itu ia temukan sebuah botol porselen serunya :

"Ayah, coba lihat apakah ini?"

Sang Kwan In menerimanya dan dicium sebentar, kemudian menjawab :

"Nak, inilah obat pemunah dari pasir bintang langit, ilmu silat yang kumiliki tak akan punah lagi!"

Ia merandek sejenak, lalu sambungnya :

"Su loo, tolong bimbinglah Pek In Hoei masuk ke dalam kamarku, di situ aku memiliki beberapa macam obat mujarab yang bisa memulihkan kesehatannya dengan cepat..."

Bicara sampai di situ dari dalam botol porselen tadi diambilnya beberapa butir pil berwarna hijau dan segera ditelan, setelah bersemedi beberapa waktu hingga keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, sambil meloncat bangun ia berseru :

"Aku sudah sembuh!"

Sang Kwan Cing menghembuskan napas lega, katanya :

"Ayah, betulkah kau akan membangun kembali partai Thiam cong di dalam wilayah selatan..."

"Tentu saja! Antara partai Thiam cong dengan selat Seng See Kok kita mempunyai hubungan yang sangat erat, bagaimana pun juga aku harus bantu mereka untuk membangun kembali partai Thiam cong yang telah musnah..." "Waaaah... kalau begitu nasib selat Seng See Kok kita jadi amat mengenaskan..."

"Kenapa?"

"Bangkitnya partai Thiam cong di wilayah selatan berarti punahnya selat Seng See Kok kita, julukan sebagai partai nomor wahid di wilayah selatan pasti akan terjatuh ke tangan orang lain..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... kau betul-betul bocah dungu yang belum tahu keadaan, ayoh berangkat! Aku harus segera menyembuhkan luka yang diderita Pek In Hoei, bila terlambat mungkin ilmu silatnya bakal punah!"

******

Pagi yang cerah menyelimuti bukit Thiam cong yang megah, sinar matahari yang berwarna keemas-emasan memancar ke seluruh pelosok bukit tersebut.

Berita tentang bangkitnya kembali partai Thiam cong di wilayah selatan akhirnya tersebar pula di seluruh dunia persilatan, walaupun pelbagai partai telah memperoleh surat undangan tapi tak seorang wakil pun yang hadir dalam perayaan tersebut, kejadian ini mencemaskan hati semua orang yang tergabung dalam partai Thiam cong...

Murid partai Thiam cong yang telah menyembunyikan diri tak seorang pun yang hadir pula saat itu, sepanjang jalan gunung menuju ke kuil Sang Cing Koan dipenuhi oleh jago-jago lihay selat Seng See Kok yang pada waktu itu di bawah pimpinan Sang Kwan In telah menggabungkan diri dengan pihak partai Thiam cong.

Atas permohonan dari Pek In Hoei, akhirnya Sang Kwan In menjabat sebagai wakil ketua dari partai tersebut, sedang Thiam cong Su Loo menjabat sebagai empat pelindung hukum, hanya Pek In Hoei seorang yang tidak ikut menduduki jabatan berhubung persoalannya masih menumpuk. Taaaang...! suara genta bergema memenuhi angkasa membelah jalan gunung yang sunyi...

Dengan wajah sedih Pek In Hoei berdiri di sisi meja abu Sucouwnya, ia merasa kecewa bercampur kesal karena tak seorang wakil pun dari pelbagai perguruan yang diundang ikut hadir di dalam upacara besar ini.

"Tak usah dipikirkan lagi," kata Sang Kwan In dengan wajah serius. "Kita tetap melangsungkan upacara ini tepat pada waktunya..."

Pek In Hoei mengangguk.

"Bila partai yang mendapat undangan tidak hadir dalam upacara ini, itu berarti bahwa mereka tidak pandang sebelah mata pun terhadap partai Thiam cong kita, mulai hari ini mereka pun bukan sahabat dari partai Thiam cong..."

"Setiap partai semuanya tahu sampai di manakah kesukarannya untuk mendirikan partai, tak ada suatu perguruan pun yang tidak mengalami kesulitan di kala membangun perguruannya. Apa yang mesti kita pikirkan tentang sedikit penghinaan ini?" kata Sang Kwan In sambil tertawa getir, "Aku percaya dengan mengandalkan wajahku ada beberapa perguruan pasti akan hadir dalam upacara ini."

"Aku rasa itu terlalu dipaksakan, yang kuharapkan adalah kehadiran mereka secara sukarela."

"Haaaah... haaaah... haaaah... mungkin saja mereka tidak datang karena merasa malu sebab mereka pernah menderita kekalahan di tanganmu, tapi aku percaya jiwa mereka tak akan sesempit itu, lagi pula di kemudian hari mereka masih membutuhkan kita..."

Belum habis perkataan itu diucapkan, dari luar pintu terdengar suara teriakan keras berkumandang datang :

"Loei Peng dari partai Kilat telah tiba..."

Buru-buru Pek In Hoei munculkan diri untuk menyambut kehadiran orang itu, terlihat Loei Peng dengan wajah dihiasi senyuman muncul di depan pintu didampingi dua orang jago lihaynya, sikap serta tingkah laku orang ini wajah dan sedikit pun tidak memikirkan masalah yang telah lampau.

"Pek sauwhiap, ini hari aku harus memberi selamat kepadamu!" terdengar Loei Peng berseru sambil tertawa terbahak-bahak.

"Aaaah, mana... mana... " jawab Pek In Hoei sambil tersenyum, "Siauw te bisa mendapat kunjungan dari Loei heng, hal ini sudah cukup membuat hatiku merasa amat berterima kasih..."

Dari luar kembali terdengar seorang anggota partai Thiam cong berseru lantang :

"Ku Lok dari benteng Leng Cian Poo tiba..." "Sheng Kong dari selat Leng In Kok..."

Sesaat kemudian hampir separuh dari partai besar di wilayah selatan telah hadir di atas gunung Thiam cong, semua tamu segera dipersilahkan masuk ke dalam ruang tengah.

Selama ini tak seorang pun di antara para jago itu yang mengungkap kembali peristiwa bentrokan mereka dengan Pek In Hoei bahkan menganggapnya tak pernah terjadi peristiwa semacam itu.

Tentu saja hal ini disebabkan mereka memandang di atas wajah Sang Kwan In, sebagai seorang jago lihai dalam dunia persilatan, meskipun terhadap orang ini mereka merasa mendongkol dan benci namun di luaran mereka bersikap ramah dan berkawan, karena mereka tahu memusuhi Sang Kwan In berarti mencari penyakit buat diri sendiri.

Taaang! Taaang! Taaang! kembali terdengar suara genta dipalu nyaring... suasana di tengah ruangan segera berubah jadi amat hening.

Diiringi nyanyian doa, dari ke-dua belah sisi ruangan muncullah dua puluh empat orang toosu dengan membawa obor besar, di belakang barisan toosu itu muncullah Sang Kwan In diiringi Thiam cong Su loo dengan membawa sebuah hioloo.

Setibanya di tengah ruangan, orang-orang itu berhenti dan menghadap ke meja sembahyang.

Terdengar seorang menghardik keras : "Pasang Hio!"

Dengan sikap yang amat hormat Sang Kwan In mempersembahkan hioloo tadi ke meja abu sucouw mereka kemudian jatuhkan diri berlutut dan menjalani penghormatan besar sebanyak tiga kali, ujarnya :

"Anak murid angkatan ke-tiga puluh empat partai Thiam cong pay, Sang Kwan In untuk sementara waktu akan menjabat sebagai ketua, sejak kini tecu rela mengabdi dan menyumbang tenaga serta pikiran demi kejayaan partai Thiam cong..."

Haruslah diketahui meskipun Sang Kwan In bukan murid Thiam cong, tapi ia menaruh budi yang besar terhadap partai tersebut. Sejak Thiam cong pay dimusnahkan secara diam-diam ia seringkali berunding dengan Thiam cong Su loo untuk melakukan pembalasan dendam, ia rela melepaskan perguruannya demi menuntut balas bagi kematian anak murid partai Thiam cong yang terbunuh.

Oleh sebab itulah Thiam cong Su Loo lebih penuju kalau Sang Kwan In untuk sementara waktu menjabat sebagai ketua partai.

Walau begitu, kejadian ini segera mengemparkan seluruh hadirin yang mengikuti jalannya upacara tersebut, tak seorang pun di antara mereka yang tahu secara bagaimana Sang Kwan In menjabat sebagai ketua partai Thiam cong.

Dalam pada itu selesai Sang Kwan In berdoa, serentetan suara kembali berkumandang di angkasa :

"Persembahkan korban!"

Empat orang murid partai menggotong seekor kambing putih berjalan masuk ke dalam ruangan setelah meletakkan binatang itu di depan meja abu Sang Kwan In segera cabut keluar pedang penghancur sang surya dari sarungnya, sekali tebas laksana kilat ujung pedang telah menembusi perut kambing korban tadi.

Darah segera muncrat ke empat penjuru dan cahaya pedang itu segera sirap kembali di balik sarung... Taaang...! Untuk ke-tiga kalinya genta dibunyikan, pertanda ucapan pembukaan partai Thiam cong telah mendekati akhir.

Mendadak... dari pintu bawah bukit itu berkumandang datang suara bentakan keras.

"Empat orang Nio Nio dari keraton keluarga Toan di negeri Tayli datang berkunjung!"

Mendengar seruan itu, semua hadirin dalam ruangan jadi tertegun, sebab menurut peraturan Bu lim pembalasan dendam macam apa pun tidak diperkenankan dilakukan di saat orang lain sedang melakukan upacara hikmat, tapi sekarang pihak keluarga Toan dari negeri Tayli telah melanggar peraturan tersebut, itu berarti bahwa pihak mereka telah bersumpah untuk membasmi partai Thiam cong dari muka bumi.

Air muka Sang Kwan In berubah hebat, katanya : "In Hoei, hadapi mereka!"

Pek In Hoei tertawa dingin dan mengangguk, sahutnya : "Barang siapa berani bikin onar di bukit Thiam cong pada hari

ini, maka aku si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei terpaksa akan gunakan selembar jiwaku sebagai taruhan untuk menghancurkan orang itu."

Badannya laksana kilat meluncur keluar dari ruangan dan menuju ke kaki bukit, di situ ia jumpai empat orang wanita cantik berpakaian berkabung dengan air mata bercucuran berdiri angker di sana, ke- empat orang itu adalah para selir dari Toan Hong ya.

Ketika menjumpai kehadiran Pek In Hoei di hadapan mereka, ke- empat orang perempuan itu segera maju selangkah ke depan.

"Ada urusan apa kalian berempat datang mengunjungi gunung Thiam cong kami??" tanya Pek In Hoei sambil menahan hawa gusarnya.

Perempuan cantik yang berdiri di tengah menyahut sambil menyeka air mata yang membasahi pipinya :

"Tentu saja untuk menyampaikan ucapan selamat kami!" "Huuuh, sialan!"

Air muka perempuan itu segera berubah hebat :

"Aaaaa...! sombong amat partai Thiam cong kalian, baru saja meresmikan diri dalam dunia persilatan sikap kalian sudah begitu tak pandang sebelah mata terhadap orang Bu lim, aku adalah Nio Nio keraton tengah In Cioe Sim, untuk membalas dendam suamiku terpaksa kami datang berkunjung dengan mengenakan pakaian berkabung!"

"Kalau begitu silahkan menunggu di kaki bukit sana, besok kita bicarakan lagi!" kata Pek In Hoei sambil tertawa dingin.

"Hmmm... Hmmm... kau anggap urusan bisa beres dengan begitu gampang? Hanya dua tiga patah kata saja maka kami lantas bisa diusir pergi?"

"Lalu apa yang kau kehendaki?" hardik Pek In Hoei dengan wajah berubah hebat.

"Aku hendak membalas dendam bagi kematian Sri Baginda," jawab In Cioe Sim dengan suara penuh kebencian.

"Hmmm! Toan Hong ya modar di tangan Liuw Koei hui, kalau kalian mau balas dendam cari saja perempuan itu, kenapa mesti datangi bukit Thiam cong kami?"

"Enak benar ucapanmu," bentak In Cioe Sim dengan gusar, "Siapa tidak tahu kalau Liuw Koei hui adalah orang dari keluarga Toan kami? Cintanya terhadap Sri Baginda melebihi cinta kami semua, mana mungkin ia celakai junjungannya? Sekarang kucari adalah Pek In Hoei, sebab dialah pembunuh sebenarnya dari Toan Hong ya!"

"Hmmm! Aku tak ingin menyusahkan kalian, di saat upacara pembukaan partai Thiam cong baru dilangsungkan, aku tak ingin menodai tanah suci sini dengan genangan darah, aku pun mengerti akan maksud hati kalian..."

Perempuan yang memakai pakaian berwarna putih itu mendadak membentak keras : "Suami pun kami sudah tak punya, apa artinya tetap hidup di kolong langit? Lebih baik kau menyingkir saja, ini hari bila kami tak berhasil membunuh Pek In Hoei, aku bersumpah tak akan pulang..."

Sambil melancarkan sebuah serangan ke depan, bentaknya : "Minggir!"

Dengan gesit si anak muda itu bergeser ke samping, serunya marah :

"Kalau kalian pengin mati, aku Jago Pedang Berdarah Dingin pasti akan penuhi keinginan kalian itu!"

"Kau..."

Rupanya ke-empat orang perempuan itu tak pernah menyangka kalau Jago Pedang Berdarah Dingin yang tersohor akan kelihayannya di wilayah selatan bukan lain adalah pemuda tampan di hadapan mereka, seketika ke-empat orang itu mundur dua langkah ke belakang, dengan pandangan gusar mereka menatap wajah pemuda itu tanpa berkedip.

Sesaat kemudian In Cioe Sim cabut keluar pedangnya dan berseru :

"Adik-adikku sekalian mari kita turun tangan, dialah yang sedang kita cari..."

Empat bilah pedang segera bergeletar di angkasa bagaikan sambaran kilat, sebagai selir kesayangan Toan Hong ya, ilmu silat yang mereka miliki amat lihay, begitu pedang dicabut dengan tangkas ke-empat orang itu segera mengurung musuhnya rapat-rapat.

Pek In Hoei gerakkan badannya melancarkan sebuah pukulan ke depan, katanya :

"Sikap kalian begitu kurang ajar dan tak tahu diri, jangan salahkan kalau aku akan usir kalian turun gunung!"

Baru saja Pek In Hoei hendak turun tangan, mendadak dari tengah udara berkumandang datang suara dengusan berat, sesosok bayangan manusia meluncur masuk ke dalam kalangan dengan cepatnya. "Haaaah... haaaah... haaaah... In Hoei!" seru orang itu, "serahkan saja ke-empat nenek busuk itu kepada aku si ular asap tua."

Ouw-yang Gong sambil menghisap huncweenya dalam-dalam melirik sekejap ke arah empat perempuan itu katanya lagi :

"Perempuan sialan dari mana yang berani mengacau di sini? Waaah... kebetulan sekali, memangnya aku si ular asap tua sedang merasa gatal tangan tak sangka kalian datang menghantar diri... Hmmm ayoh, siapa duluan yang hendak maju?"

Mendadak air muka In Cioe Sim berubah hebat, serunya tertahan

:

"Aaah, kau!"

Agaknya Ouw-yang Gong sendiri pun menjadi tertegun setelah

menatap wajah perempuan itu, dengan wajah terharu ia tuding In Cioe Sim sambil menegur :

"Bukankah kau she In?"

Sekujur badan In Cioe Sim gemetar keras, biji matanya yang hitam bulat memancarkan cahaya yang sukar dimengerti oleh orang lain, bibirnya berubah jadi pucat, sambil mundur dua langkah ke belakang serunya :

"Kau... kau adalah engkoh Ouw-yang."

"Oooh... adik Cioe Sim... adik Cioe Sim..." ia tarik napas panjang-panjang.

"Bukankah kau telah lenyap tak berbekas? Kenapa bisa berada di sini..."

"Engkoh Ouw-yang, kau masih ingat dengan diriku..."

"Aaaai... mana bisa aku lupakan dirimu?" sahut Ouw-yang Gong sambil menghela napas, "Apakah kau sudah lupa ketika kita berdua duduk di kebun tembakau? Kau petikkan daun tembakau terbaik bagiku lalu memanggangnya di atas api unggun, kemudian masukkan ke dalam mangkok huncweeku, waktu itu aku belum punya kantong huncwee, setiap hari aku tentu mencuri huncwee ayahku untuk mengisap..." "Bagus betul daya ingatmu," ujar In Cioe Sim dengan badan gemetar keras. "Aku sendiri pun sudah lupa akan kejadian itu, ternyata kau masih ingat dengan begitu jelas, aku ingat waktu itu kau lebih besar empat tahun dariku..."

"Betul! Haaaah... haaaah... haaaah... aku masih ingat, ketika celanamu terlepas tempo dulu, di atas pantatmu terdapat sebuah tahi lalat warna merah, ayahku pernah bilang kau punya Hok-Kiem In Eng besar di kemudian hari, dan mungkin punya rejeki untuk jadi selir kaisar..."

Walaupun usia In Cioe Sim sudah mendekat setengah abad, namun ketika didengarnya Ouw-yang Gong secara terang-terangan menceritakan perbuatannya membuka celana ketika masih kecil dulu, tak urun merah jengah juga seluruh wajahnya, sambil tersipu menunduk serunya :

"Keadaanmu masih juga seperti dulu..."

Ouw-yang Gong adalah seorang kakek yang periang, ia tak pernah mengindahkan tata susila atau pun aturan, setelah terjerumus di dalam kenangan lama ia tak ambil peduli apakah di situ ada orang lain atau tidak, apalagi terhadap ucapan dari In Cioe Sim barusan, lebih tak diperhatikan lagi, terdengar ia kembali bergumam :

"Aku masih ingat ketika masih kecil kau seringkali berkata bahwa kau ingin kawin dengan aku tapi ayahmu tidak pandang sebelah mata terhadap kami yang kerjanya hanya bertani, ketika ayahku menggoda kita ternyata kau menangis dan berkata bahwa selama hidup kau akan menantikan diriku, aaai... waktu itu kita memang masih terlalu kecil, kita hanya tahu main bersama, tapi tak tahu suka dukanya manusia hidup di dunia..."

Ia melirik sekejap ke arah In Cioe Sim dengan pandangan penuh rasa cinta, kemudian sambungnya lagi :

"Aku masih masih ingat ketika suatu hari diam-diam kau berkata kepadaku dengan suara setengah berbisik, "Engkoh Ouw-yang, setelah kita dewasa nanti kau jangan kawin gadis lain yaah!" ketika itu aku merasa amat senang bermain dengan dirimu, maka aku lantas menjawab 'tentu saja', aku hanya akan mengawini adik Cioe Sim!" kenangan ini terbayang dalam benakku setiap kali suasana sedang tenang dan hening, aku selalu terbayang kembali kenangan manis di kala kita masih kecil..."

In Cioe Sim merasa amat terharu, katanya dengan suara gemetar

:

"Tapi menanti kita telah dewasa semua, malahan hubungan kita

terasa lebih asing..."

"Tidak jadi soal, suatu hari secara diam-diam aku merangkuk ke jendela kamar tidurmu, aku ingin panggil kau untuk keluar bermain, tapi aku tahu secara diam-diam kau sedang menangis," dengan sedih kakek konyol itu menghela napas, "Siapa tahu keesokan harinya kau dikabarkan lenyap tak berbekas, ayahmu bersikeras menuduh akulah yang telah menyembunyikan dirimu, memaksa aku secara diam-diam harus minggat dari rumah..."

"Aku tahu malam itu ayah menghajar dirimu habis-habisan," ujar In Cioe Sim sambil menangis terisak, "dalam sedihnya diam-diam aku minggat dari rumah dan menanti dirimu dalam ruang kuil di ujung dusun, di situ kita sering bermain maka aku pikir kau tentu ke situ, siapa tahu sampai malam ke-dua kau belum juga datang, dalam lapar dongkolnya aku tak berani pulang ke rumah, seorang diri bersembunyi dalam kuil sambil menangis tersedu, akhirnya Toan Hong ya lewat di situ, ia bawa aku pulang ke negeri Tayli, menanti aku sudah dewasa maka aku lantas dikawini sebagai Nio Nio istana tengah..."

Walaupun kejadian itu hanya serupa kenangan masa silam, tapi diucapkan oleh dua orang tua yang telah lanjut usia hal ini cukup menggetarkan hati semua orang, tiga orang perempuan yang lain segera jadi murung dan ikut sedih oleh kejadian tersebut.

Terdengar In Cioe Sim menghela napas panjang, lalu berkata kembali : "Walaupun aku sudah menikah dengan Toan Hong ya tapi hatiku sama sekali tidak mencintai dirinya. Pengalaman yang menimpa kami beberapa orang sama mengenaskannya, kini tak ada orang yang bisa kami tumpang lagi, dalam sedihnya menggunakan kesempatan di kala dalam istana sedang dilangsungkannya rapat, diam-diam kami ngeloyor datang kemari..."

"Toan Hong ya benar-benar bukan mati di tangan kami..." seru Ouw-yang Gong sambil gelengkan kepalanya.

"Aaaai... tapi orang dari keluarga Toan bersikeras menuduh Pek In Hoei lah yang telah melakukan pembunuhan ini, sebab tenaga dalam yang dimiliki Liuw Koei hui masih terpaut jauh kalau dibandingkan dengan kepandaian silat dari Toan Hong ya, bila Liuw Koei hui ingin membinasakan dirinya hal ini merupakan suatu kejadian yang tak mungkin terjadi..."

Ouw-yang Gong menghela napas panjang.

"Adik Ciow Sim, lebih baik pulanglah dulu ke rumah, di kemudian hari aku pasti datang menemui dirimu untuk menerangkan persoalan ini."

"Baiklah, kami akan berlalu lebih dulu!"

Sebelum perempuan-perempuan itu sempat berlalu, mendadak dari arah belakang kembali terdengar seseorang berseru keras :

"Toan Hong Ing tiba!"

"Aaaah, adiknya Toan Hong ya telah datang," seru In Cioe Sim dengan badan gemetar keras.

Mendengar ucapan itu, Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... kalau ini hari dia berani bikin keonaran di sini, terpaksa aku harus turun tangan keji terhadap dirinya."

Jauh di kaki bukit muncullah serombongan pria berbaju hitam yang mengiringi seorang pria berusia pertengahan yang memakai pakaian perlente, air muka pria itu dingin dan sinis, napsu membunuh menghiasi wajahnya sedang sorot mata memancarkan cahaya tajam.

"Siapa yang datang?" Pek In Hoei segera menegur sambil tertawa dingin.

"Aku datang untuk mencari Jago Pedang Berdarah Dingin." "Akulah orangnya."

Toan Hong In tertawa seram.

"Manusia she Pek serahkan kembali jiwa kakakku, dia adalah seorang kaisar dari suatu wilayah tapi sungguh tak nyana kau berani turun tangan keji untuk membinasakan dirinya. Sekarang kami dari keluarga Toan bersumpah akan menghancur-lumatkan tubuhmu!"

Para jago yang ikut datang saat ini kebanyakan merupakan panglima-panglima yang masih setia terhadap keluarga Toan, melihat sikap Pek In Hoei yang jumawa mereka jadi gusar dan sama-sama meluruk ke depan.

"Bajingan cucu monyet, kalian berani maju ke depan?" hardik Ouw-yang Gong dengan suara keras.

Bentakan ini keras bagaikan guntur yang membelah bumi, seluruh permukaan segera bergetar keras bagaikan ketimpa gempa bumi.

Diam-diam Toan Hong In tercekat juga ketika dilihatnya dari balik batu muncul seorang manusia raksasa, segera tegurnya sambil tertawa dingin :

"Siapa kau? Sebut dulu nama!"

"Anak kura-kura dengarkan baik-baik, yayamu she Ouw-yang bernama Gong dengan julukan si huncwee gede si ular asap tua. Dengan sebuah lengan aku pernah membunuh sembilan ekor kerbau, sepuluh ekor harimau dan delapan ekor kumbang, kalau kamu semua anak kura-kura cucu monyet berani maju ke depan...! akan kupersilahkan dia untuk menikmati dahulu sebuah kemplangan huncweeku!"

Toan Hong In mendengus dingin. "Hmmm! Ular asap tua? h gede? makhluk macam apakah itu?..." Ouw-yang Gong tidak menggubris sindiran orang, dengan sikap yang angker bagaikan malaikat ia tetap berdiri tegak di atas batu

cadas.

Toan Hong In mengerutkan dahinya, diam-diam ia tertawa dingin, kepada seorang pria kurus kering beralis tebal dan berjenggot lebat yang berada di sisinya ia segera bertanya :

"Suya, siapakah orang itu??"

Kakek kurus kering berjenggot hitam itu adalah Kun su dari keluarga Toan, meskipun dahulu ia lama sekali berkelana dalam dunia persilatan namun orang ini tidak kenal juga siapakah Ouw-yang Gong. Mendapat pertanyaan itu ia jadi gelagapan :

"Aku... aku sendiri pun tidak tahu."

Mendengar ucapan itu Ouw-yang Gong segera mendongak dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... anak kura-kura kau tidak tahu siapakah aku si ular asap tua tapi aku tahu kau si anjing kuncu menerobos keluar dari lubang yang mana, kau kira sesudah ganti kulit tukar otot lantas tak ada orang yang bisa kenali dirimu lagi?? Hmmm! Sekalipun kau menciptakan diri jadi telur kura-kura pun aku tetap akan kenali dirimu."

"Kau kenal siapakah aku??" tanya kakek berjenggot hitam itu agak tercengang.

"Haaaah... haaaah... haaaah... dahulu ibumu telah nyeleweng dengan pria lain hingga akhirnya lahir dirimu, tapi kau tetap menggunakan she ibumu, tiap hari tiada pekerjaan yang tetap, kerjanya melulu judi, main pelacur dan mabuk-mabukan, semua orang bilang anak jadah selamanya memang tak ada anak yang genah. Suatu hari k untuk main judi dan kalah hingga ibumu pun kau jualkan kepada orang lain, karena tak bisa hidup lebih lanjut di desa maka kau melarikan diri. Heeeeh... heeeeh... heeeeh... siapa nyana sekarang kau telah menjabat sebagai kunsu anjing... Mimpi pun kakek berjenggot hitam itu tak pernah menyangka kalau ia bakal berjumpa dengan orang semacam ini hingga kejelekan keluarganya pun dibeberkan keluar. Dari malunya ia jadi gusar, bentaknya :

"Tutup mulut, kalau kau berani bicara tak genah lagi jangan salahkan kalau aku tak akan berlaku sungkan-sungkan lagi terhadap dirimu..."

Ouw-yang Gong tertawa dingin.

"Huuuh... lagakmu semakin tahun semakin gede... sesungguhnya menyebalkan..."

Rupanya kakek tua ini mengetahui amat jelas seluk beluk keluarga Lauw Seng Han ini, badannya dengan cepat meloncat ke depan menghampiri kuncu itu, bentaknya lagi :

"Lauw Seng Han, cepat enyah dari sini!"

"Sebetulnya siapakah kau?" tanya Lauw Seng Han tertegun.

Ouw-yang Gong tidak menjawab, huncwee gedenya langsung disodok ke depan menghajar dada kakek itu, serangan ini di luar dugaan orang she Lauw itu, dengan ketakutan buru-buru dia mengigos ke belakang.

Toan Hong In jadi naik pitam ketika dilihatnya Kunsu dari negeri Tayli-nya ini dihajar orang sampai kalang kabut, sambil tertawa seram serunya :

"Lebih baik kau beristirahat dulu."

Sambil berseru jari tangannya segera dikebaskan ke muka melancarkan satu serangan dengan menggunakan ilmu 'Hwie Yan-ci' yang telah lama punah dari dunia persilatan.

Cahaya merah membara yang menyilaukan mata memancar keluar dari ujung jari, serentetan gelombang hawa panas yang amat menyengat badan seketika meluncur ke arah tubuh Ouw-yang Gong. Criit...! Si ular asap tua merasakan tubuhnya jadi amat sakit, dadanya bagaikan dipukul dengan sebuah tongkat yang panas

membara membuat ia menjerit kesakitan. "Aduuuh... anak monyet, kau menggunakan ilmu silat apa?" jeritnya keras-keras.

Toan Hong In sendiri pun merasa agak tercengang ketika dilihatnya pihak lawan yang terkena serangan ilmu jari Hwie Yan-Ci sama sekali tidak cedera atau pun terluka, ia terkejut dan segera mendengus.

"Pentang matamu lebar-lebar, inilah ilmu Hwie Yan-Cie yang lihay."

"Hwie Yan-Cie?" ulang Ouw-yang Gong dengan mata terbelalak, satu ingatan dengan cepat berkelebat di dalam benaknya, "Apakah ilmu Hwie Yan Kim Cie yang dimiliki Loo Hian dari wilayah See Ih?"