Imam Tanpa Bayangan I Jilid 26

 
Jilid 26

LENGAN kiri dan kanan dipentang berbareng sambil melancarkan dua pukulan gencar, Gan Hay Beng serta Liok Hong segera merasakan sekujur tubuhnya gemetar, mereka terhajar sampai mundur dua tindak ke belakang.

Tiong Yan meraung gusar, teriaknya :

"Datang-datang kau lantas menganiaya Sang Kwan kongcu, sebenarnya apa maksudmu..."

Terdorong oleh angin pukulan yang sangat berat Liuw Koei hui terdesak mundur satu langkah ke belakang, hatinya tercengang, ia tak tahu apa sebabnya ilmu silat yang dimiliki Tiong Yan jauh lebih lihay daripada tiga orang kakek yang lain.

Haruslah diketahui ketika ke-empat orang kakek itu sedang belajar ilmu silat dahulu, Cia Ceng Gak mendidiknya secara dari bawah menuju ke atas, makin kecil semakin sempurna tenaga dalamnya. Tiong Yan adalah murid yang paling disayang di antara ke- empat orang itu, lagi pula dia paling rajin berlatih, maka dari itu kepandaian silatnya jauh lebih hebat setengah tingkat daripada yang lain.

Sementara itu Liuw Koei hui mencak-mencak karena kegusaran, teriaknya :

"Bagus sekali, kalian orang-orang dari partai Thiam cong pun hendak menganiaya diriku..." Dari dalam sakunya dia ambil keluar sebuah angkin yang ditengkuk-tengkuk, dalam suatu getaran yang ringan ikat pinggang itu segera menari di tengah udara...

Terkesiap hati Thiam cong Su Loo empat kakek tua itu tatkala dilihatnya ikat pinggang yang di tangan perempuan itu bergetar lurus bagaikan tongkat sakti, mengertilah beberapa orang itu bahwa tenaga lweekang yang dimiliki Liuw Koei hui telah mencapai kesempurnaan.

Ouw-yang Gong selama ini membungkam tiba-tiba mencaci maki dengan nada keras :

"Nenek bajingan... perempuan jelek... wajahmu betul-betul lebih jelek dari kentut busuk..."

Berkerut sepasang alis Liuw Koei hui mendengar makian itu, wajahnya berubah jadi sedih sambil menoleh tanyanya :

"Benarkah aku sangat jelek?"

"Haaaah... haaaah... haaaah... wajahmu begitu jelek hingga persis seperti burung gagak... kalau dibandingkan dengan perempuan lain yang begitu cantik jelita...Oooh... wajahmu nampak lebih peyot dan lebih jelek hingga melebihi ibunya siluman babi..."

"Omong kosong," hardik Liuw Koei hui nyaring, "mulutmu sangat kotor, kuhajar remuk mulutmu yang usil itu..."

Sambil putar badan ikat pinggangnya dengan cepat berubah jadi sekilas cahaya merah langsung membelenggu tubuh Ouw-yang Gong dan disentaknya ke belakang.

Tidak ampun tubuh kakek tua itu tertarik dan terbelenggu hingga sama sekali tak dapat berkutik.

Dengan hati terkejut Ouw-yang Gong berteriak keras :

"Aduh... nenek moyangku.. ilmu siluman apa yang kau miliki..." Plook! Liuw Koei hui menggaplok pipi kakek konyol itu keras-

keras, bentaknya :

"Coba ulangi kata-katamu barusan, katakan kalau aku jelek." "Nenek peyot yang jelek dan tak punya lubang pantat kau berani

memukul diriku..." Liuw Koei hui tiba-tiba berdiri tertegun, lalu sahutnya :

"Dari mana kau bisa tahu kalau aku tak punya...?" Nah! Coba lihatlah sendiri..."

Dasar otaknya memang tidak waras, terutama setelah ditinggalkan Cia Ceng Gak, dalam sedihnya perempuan ini semakin sinting dan perbuatan apa pun dapat dilakukan olehnya.

Kadangkala ia mendusin seperti orang biasa, kadangkala sinting melebihi orang gila. Setelah dimaki oleh Ouw-yang Gong barusan, ia jadi amat gusar hingga kesadarannya mulai mengabur, dalam sintingnya ia benar-benar lepas celana dan perlihatkan lubang pantatnya kepada semua orang.

Empat kakek dari partai Thiam cong belum pernah menjumpai pertarungan semacam ini, melihat perempuan itu lepas celana mereka jadi ketakutan dan masing-masing berebut untuk kabur dari dalam ruangan itu.

Ouw-yang Gong sendiri pun jadi amat gelisah, teriaknya sambil goyangkan tangannya berulang kali :

"Jangan lepas celana... Jangan lepas celana..."

"Apa?? Kau tidak jadi melihat lubang pantatku???..." seru Liuw Koei hui dengan mata melotot.

Ouw-yang Gong semakin gelisah, dalam keadaan begini ia kehabisan daya dan cuma bisa berdiri dengan mulut melongo.

Sang Kwan In bisa merasakan situasi yang semakin kalut, tiba- tiba menghardik keras :

"Liuw Koei hui, kau sudah edan..."

Bentakan ini menggunakan ilmu raungan singa yang amat hebat, suara bentakan itu bagaikan guntur yang membelah bumi di siang bolong. Sekujur badan Liuw Koei hui gemetar keras dan sadarlah ia dari sintingnya. Liuw Koei hui tertegun lalu dengan gusar membentak

:

"Bangsat, kesemuanya ini gara-gara kau si telur busuk tua..." Dalam malu dan gusarnya cepat-cepat pakaiannya dikenakan kembali, lalu melemparkan tubuh Ouw-yang Gong ke depan hingga menumbuk di atas dinding tembok keras-keras.

Tidak berhenti sampai di situ saja, ikat pinggangnya kembali berkelebat menyambar sepasang kaki Ouw-yang Gong, sekali sentak tubuh kakek tua itu kembali melayang di tengah udara.

Si kakek konyol itu tak menyerah dengan begitu saja, huncweenya segera berkelebat langsung dihantam ke atas batok kepala Liuw Koei hui.

Perempuan itu tertawa dingin, ejeknya :

"Aku mau bunuh dirimu hingga mati... aku mau siksa tubuhmu lebih keji daripada digorok dengan pisau..."

Ikat pinggangnya berputar beberapa kali, dalam waktu singkat ia sudah gulung seluruh tubuh Ouw-yang Gong kencang, sekali menyentak badannya mencelat ke udara.

"Sungguh lihay... " teriak Ouw-yang Gong.

Rupanya Liuw Koei hui memang menyiksa kakek tua itu habis- habisan, ikat pinggangnya diputar sedemikian rupa sehingga tubuh Ouw-yang Gong berputar di udara dengan kencangny...

"Oooh..." Ouw-yang Gong mendengus berat, tiba-tiba ia muntah darah segar, begitu pening kepalanya hingga kakek ini jadi bingung di manakah ia berada saat itu.

"Lepaskan dia..." mendadak terdengar bentakan yang keras berkumandang di angkasa.

Cahaya pedang yang tajam dan menyilaukan mata melintas lewat. Creet! Ikat pinggang di tangan Liuw Koei hui putus jadi dua bagian sementara badan Ouw-yang Gong meluncur keluar dari ruangan itu.

Liuw Koei hui terperanjat, ia angkat kepala dan memandang ke arah mana berasalnya cahaya pedang tadi. Terlihatlah seorang pemuda berwajah dingin dengan mencekal sebilah pedang berdiri di hadapannya,air muka orang itu pucat pias tak bercahaya, sekilas memandang siapa pun tahu bahwa pemuda ini baru saja sembuh dari sakit.

"Siapa kau??" tegur Liuw Koei hui dengan nada tercengang. "Pek In Hoei!" jawab orang itu sambil tertawa. "Ilmu silat yang

kau miliki mirip sekali dengan kepandaian yang dimiliki Toan Hong ya..."

Dalam pada itu air muka Liuw Koei hui berubah hebat, ia bergumam seorang diri :

"Pedang penghancur sang surya... pedang penghancur sang surya...pedang itu miliki Cia long ku!"

Sejak munculnya pedang mestika itu, wajah Liuw Koei hui berubah hebat bibirnya jadi pucat pias sementara air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya, ia merintih penuh penderitaan, rambutnya berdiri kaku bagaikan jarum.

Dengan wajah murung bercampur sedih ia maju selangkah ke depan, teriaknya keras :

"Kekasih Cia... Kekasih Cia... pedangmu..." mendadak ia berteriak kalap, "pedang itu milik kekasih Cia, Pek In Hoei! Dari mana kau dapatkan pedang itu?"

Pek In Hoei tertegun, dengan pandangan tercengang ditatapnya wajah Liuw Koei hui yang sinting dan tidak waras otaknya itu, kemudian jawabnya dingin :

"Pedang itu milik Su-couw-ku!"

"Sekarang... sekarang dia berada di mana?" tanya Liuw Koei hui dengan badan gemetar keras.

Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei tertegun, ia tak mengira orang itu mengajukan pertanyaan semacam itu, bagaikan hatinya tergodam oleh martil besar tubuhnya yang kekar gemetar keras, terbayang kembali pemandangan di kala ia temukan pedang mestika itu. Ditariknya napas panjang-panjang untuk menekan golakan hati yang kencang, serentetan sorot mat yang dingin dan tajam memancar keluar dari balik matanya.

"Aku sendiri pun tak tahu sekarang ia berada di mana!" jawab pemuda itu kemudian sambil menggeleng.

Dengan amat sedih Liuw Koei hui menghela napas panjang, ia memandang wajah Pek In Hoei yang tampan dengan terpesona lalu menangis tersedu-sedu, rasa sedih yang tertumpuk dalam dadanya selama banyak tahun dilampiaskan keluar semua.

Beberapa saat kemudian ia berhenti menangis, suasana berubah jadi hening dan tak kedengaran sedikit suara pun...

Lama...lama sekali... akhirnya Ouw-yang Gong pertama-tama yang tak sanggup menahan diri, ia mendengus dingin lalu dengan telapaknya yang besar menyeka noda darah yang mengotori ujung bibirnya, wajah Liuw Koei hui ditatap dengan penuh kemarahan, begitu sorot matanya terbentur dengan mata perempuan itu ia berseru tertahan dan segera melengos kembali ke arah lain seolah-olah kakek itu telah melihat sesuatu yang mengerikan.

Liuw Koei hui mendengus gusar, tegurnya dengan suara benci : "Apa yang kau dengusi??"

Ouw-yang Gong tertegun lalu tertawa paksa : "Aku... aku..."

Mendadak kakek itu teringat kembali bahwa barusan ia hampir mati di tangan perempuan gila ini, hawa gusar serta rasa bencinya segera muncul kembali dalam hatinya, kontan ia memaki :

"Nenek jelek sialan, kau adalah barang rongsokan dari mana yang dibuang oleh orang lelaki... bangsat! Kenapa amarahmu mesti dilampiaskan kepada aku si ular asap tua?? Perempuan bajingan kali ini kau sudah tepat menemukan pasanganmu, aku tak punya apa-apa kalau kau suka kawin dengan diriku berarti siap-siaplah menahan lapar!" Dengan pandangan benci Liuw Koei hui melotot sekejap ke arahnya, kalau Ouw-yang Gong adalah sebatang besi mungkin sedari tadi sudah ditelan bulat.

Ouw-yang Gong terperanjat, teriaknya :

"Oooh... nenekku! kau jangan cabut jiwa tuaku ooo..."

Ia sendiri pun tidak tahu apa sebabnya Liuw Koei hui bisa begitu menakutkan bagi dirinya, membuat ia tak kuasa menahan diri, sambil berteriak kakek itu putar badan dan tiba-tiba kabur keluar.

"Kembali! bentak Liuw Koei hui.

Ouw-yang Gong gemetar keras, tanpa sadar ia menghentikan langkah tubuhnya dan berdiri kaku.

"Apa yang hendak kau lakukan?"

"Aku melarang kau untuk keluar dari sini."

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... perempuan siluman rupanya kau benar-benar hendak menelan aku si ular asap tua..." seru Ouw-yang Gong sambil tertawa seram.

Liuw Koei hui tertawa dingin, sorot matanya yang tajam bagaikan pisau belati menatap wajah Pek In Hoei tak berkedip sementara Ouw-yang Gong betul-betul tak berani keluar dari ruangan itu.

"Haaaah... haaaah... haaaah... Pek In Hoei serahkan pedang mestika penghancur sang surya itu kepadaku," seru Liuw Koei hui sambil ketawa keras.

"Kau mau apa?" tanya Pek In Hoei.

"Pedang itu milik kekasihku, harap kau suka kembalikan kepadaku..."

Pek In Hoei merasa agak kasihan melihat keadaan orang yang begitu tergila-gila oleh sucouwnya, diam-diam ia menghela napas gelengkan kepalanya.

"Pedang mestika dari partai Thiam cong selamanya tak akan dibiarkan terjatuh ke tangan orang lain..." "Aku toh istrinya Cia Ceng Gak, masa juga dianggap sebagai orang luar?..." seru Liuw Koei hui tertegun.

"Aaaa..." Sang Kwan In menghela napas panjang. "Liuw Koei hui, kenangan manis selama dua puluh tahun telah berlalu bagaikan impian, yang sudah lalu biarlah lalu, kenapa kau mesti mengenangkan terus di dalam hati...""Maksudmu aku bukan istrinya Cia Ceng Gak..."

Sang Kwan In menggeleng.

"Cinta kasih yang bukan muncul dari hati yang suci hanya mirip telaga yang tenang, meskipun sebutir batu bisa mengakibatkan riak yang keras tapi itu hanya akan berlangsung sebentar saja menjadi tenang kembali dan kenangan tetap tinggal kenangan, sedikit pun tak akan meninggalkan bekas apa pun jua!"

"Jadi kalau begitu kau maksudkan Cia long sama sekali tidak mencintai diriku?" tanya Liuw Koei hui dengan badan gemetar.

Sang Kwan In menghela napas panjang.

"Napsu birahi hanya akan membakar badan, ketika itu Cia Ceng Gak hanya ingin melampiaskan napsu birahinya belaka, dalam hati kecilnya benar-benar tiada rasa cinta yang mendasari. Waktu itu kalian berdua memang tiap hari terjerumus dalam permainan cinta yang hangat dan mesra tetapi setelah salah satu pihak menemukan bahwa dirinya sama sekali tidak mencintai pihak lawan, maka hubungan cinta yang tidak sempurna ini segera akan berantakan..."

Liuw Koei hui terkesiap.

"Aku percaya bahwa aku benar-benar mencintai dirinya, aku rasa kau tentu mengetahui bukan semua peristiwa dari permulaan hingga akhirnya??? Aku bisa tergila-gila kepadanya itu membuktikan bahwa aku betul-betul mencintai dirinya dengan setulus hati..."

"Kau sama sekali tidak mencintai dirinya dengan setulus hati," kata Sang Kwan In sambil tertawa getir. "Tapi cintamu muncul karena kau membutuhkan sesuatu darinya, atau lebih tegasnya lagi kau hanya membutuhkan birahi! Napsu birahi telah membakar hangus hatimu,Liuw Koei hui, bukankah ucapanku tidak salah???" "Aku..." seru Liuw Koei hui tertegun. Kembali Sang Kwan In geleng kepala.

"Selama hidup di istana negeri Tay li, setiap hari kau hanya dirundung oleh kesepian, lama kelamaan dalam hati kecilmu timbul suatu kebutuhan yang merangsang hatimu, maka setiap hari kau berharap bisa memperoleh seorang pria yang dapat memberi kegembiraan serta hiburan bagimu. Sejak Cia Ceng Gak masuk ke dalam istana Tay li, kau mulai kehilangan martabatmu serta gengsimu sebagai seorang perempuan, kau berusaha keras untuk mendapatkan hatinya, karena itu kecuali kau gunakan badanmu serta daya pikatmu untuk merangsang orang, kau sama sekali tidak mengerti akan arti cinta yang sebenarnya, yang kau butuhkan hanya napsu birahi dan bukan cinta yang senjati..."

"Apakah birahi bukan satu bagian dari penghidupan?" tanya Liuw Koei hui tercengang.

"Oooh... antara cinta murni dan napsu birahi tentu saja bedanya amat jauh, meskipun di dalam perjalanan hidup seorang manusia membutuhkan ke-dua-duanya tetapi cinta yang murni keras bagaikan batu emas yang sukar dibelah sebaliknya napsu birahi lebih banyak kerugiannya daripada keberuntungan, kerugian yang bisa memusnahkan diri sendiri..."

"Hmmm!" tiba-tiba Liuw Koei hui mendengus. "Pandangan yang picik! Andaikata setiap orang mempunyai jalan pikiran semacam kau, suami istri yang ada di kolong langit bisa pensiun dari pekerjaan rutin mereka! Mungkin ucapanmu itu bisa membohongi seorang gadis yang tak tahu urusan, untuk menakuti diriku... Ooooh salah alamat..."

Sang Kwan In menghela napas panjang.

"Aaai... hubungan antara suami dan istri hanya dilakukan secukupnya, dalam kitab Thian Li Keng pernah dikatakan : 'Kalau istri mencintai sang suami maka mereka harus saling hormat menghormati, saling percaya mempercayai, dalam setiap tindakan harus dipikirkan dulu matang-matang, jaga baik-baik kesehatan sang suami, terlalu mengumbar napsu birahi hanya akan menghancurkan tubuh sendiri, ingat... ingat...' oleh sebab itu, bila seseorang betul amat mencintai suaminya, maka tidaklah pantas kalau yang diburu setiap harinya hanya hubungan seks di atas ranjang..."

Seolah-olah baru mendusin dari impian, mendadak Liuw Koei hui dapat memahami sampai di manakah kesucian dari cinta sejati, dengan penuh penderitaan dia memandang atap ruangan, lama sekali tertegun lalu baru bergumam seorang diri :

"Jadi kalau begitu aku telah mencelakai dirinya..."

"Tentu saja," jawab Sang Kwan In sambil tertawa dingin. "Hampir saja kau hancurkan seluruh kekuatan tubuhnya, andaikata secara diam-diam aku tidak menempuh bahaya menyusup ke dalam istana Tay li, saat itu mungkin Cia Ceng Gak sudah hancur di tanganmu tanpa kau ketahui!"

Dalam hati kecil Liuw Koei hui tiba-tiba muncul kembali rasa bencinya walau ia mengerti bahwa perkataan dari Sang Kwan In amat tepat, tetapi setelah ia teringat kembali bahwa kepergian Cia Ceng Gak adalah lantaran bujukan Sang Kwan In, seluruh kegusaran serta kemurungan yang bertumpuk dalam hatinya selama banyak tahun ini segera dilampiaskan ke tubuh orang itu, dia ingin sekali hantam membinasakan orang she Sang Kwan tersebut.

Liuw Koei hui berteriak keras, ancamnya :

"Sang Kwan In, kau anggap aku tak dapat membinasakan dirimu?"

Sekujur tubuh Sang Kwan In gemetar keras, sahutnya :

"Tentu saja kau sanggup, dan sedari dulu aku telah menduga sampai di sini..." dia tarik napas dalam-dalam, "Cuma kali ini... mungkin aku akan mengecewakan dirimu..."

Dalam pada itu Liuw Koei hui telah dapat melihat bahwa semangat tubuh Sang Kwan In amat lemas dan layu, sinar matanya pudar dan seakan-akan sedang menderita luka yang amat parah, dalam hati ia merasa terkejut, sambil maju ke depan tegurnya : "Kenapa kau?"

"Aku sudah terkena pasir Thian Seng See, sekarang sudah tak ada kekuatan untuk bertempur dengan dirimu..."

"Oooh... serbuk pasir Bintang Langit adalah benda milik keluarga Toan dari negeri Tay li, siapa yang telah menggunakan benda beracun itu untuk mencelakai dirimu?"

"Toan Hong ya takut aku mengalahkan dirinya dan merebut kedudukan sebagai jago nomor satu di wilayah selatan, karena itu secara diam-diam ia telah menggunakan siasat licik untuk membuyarkan hawa murniku, agar aku tak dapat menggunakan tenaga dalamku selama tiga tahun..." seru Sang Kwan In dengan gusar.

Ucapan itu sangat mengejutkan Liuw Koei hui.

"Aaah masa perbuatan Toan Hong ya?" serunya tidak percaya. "Dia bukanlah manusia semacam itu..."

Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei yang selama ini membungkam diri, tiba-tiba mendengus dingin dan berkata :

"Toan Hong ya adalah seorang manusia yang rendah dan tak tahu malu, ketika bergebrak melawan diriku ia telah mengeluarkan ilmu berpusingnya yang mana hampir saja merengut selembar jiwaku, aku tahu tujuan orang ini tidak terletak padaku, pada gagang pisau Han Giok tersebut telah ia bubuhi selapis serbuk pasir bintang langit yang tak berwujud dan tak berbau. Waktu itu Sang Kwan Kokcu tidak siaga, ketika badik tadi dicabut keluar dari badanku, tanpa sadar ia telah keracunan..."

Dengan pandangan penuh kebencian Liuw Koei hui melotot sekejap ke arah Pek In Hoei, lalu ejeknya dengan suara dingin :

"Dengan kedudukan apa kau hendak berbicara dengan diriku..."

Pek In Hoei tertegun, kemudian dengan penuh kegusaran teriaknya :

"Sekalipun kau adalah sahabat sucouwku tapi maaf aku tak dapat menghormati dirimu lagi. Liuw Koei hui sekarang juga harap kau enyah dari sini, kalau tidak jangan salahkan kalau aku tak akan bersikap sungkan-sungkan lagi terhadap dirimu..."

"Bocah cilik, kau berani bersikap kurang ajar terhadap diriku..." hardik Liuw Koei hui penuh kegusaran.

Saking marahnya ikat pinggang yang berada di dalam genggamannya segera diayun ke muka, sementara telapak kanannya ditabok ke tubuh musuh.

Dengan tangkas Pek In Hoei meloncat ke samping, pedangnya berkelebat ke atas lalu membabat di tengah udara.

Dalam pada itu telapak tangan Liuw Koei hui sedang menyongsong ke muka, melihat ancaman yang datang dari ujung pedang lawan ia terkesiap, cepat-cepat perempuan itu tarik kembali tangannya sambil mundur ke belakang.

"Hmmm," Pek In Hoei mendengus dingin. "Rupanya ilmu silat yang kau miliki cuma begitu saja..."

Meskipun luka parah yang dideritanya belum sehat benar-benar dan hawa murninya tak berani disalurkan, tetapi ilmu pedang penghancur sang surya telah dikuasai benar-benar, walau cuma kebasan yang enteng tetapi mendatangkan kelihayan yang ada di luar dugaan.

Ilmu silat yang dimiliki Liuw Koei hui memang lihay dan ampuh, tetapi setelah berjumpa dengan serangan yang begitu mengerikan, tanpa sadar perempuan ini dibikin kelabakan juga.

Pedang di tangan Pek In Hoei bagaikan seribu ular yang licin berkelebat maju ke depan di kala tubuh Liuw Koei hui mundur ke belakang, perempuan ini semakin ketakutan hingga secara beruntun ia mundur beberapa langkah ke belakang.

Dengan hati tercekat bercampur gusar, Liuw Koei hui membentak keras :

"Bajingan cilik, kau berani menganiaya diriku..."

Kesadarannya saat itu telah pulih kembali, ia tahu bahwa luka parah yang diderita Pek In Hoei belum sembuh dan ia tak dapat mengerahkan tenaga dalamnya, sambil tertawa dingin sepasang telapaknya segera bergetar melancarkan serangan secara berbareng.

Angin pukulan menggulung bagaikan bukit, tajam bagaikan pisau. Pek In Hoei merasakan mulut lukanya amat sakit, pedang dalam genggamannya tak bisa digunakan sehebat semula lagi, hatinya tercekat dan di dalam hati pikirnya :

"Ilmu telapak yang dimiliki Liuw Koei hui amat aneh serangannya yang amat kuat, dalam keadaan luka parah seperti ini aku tak akan bisa bertahan terlalu lama, setiap saat mulut lukaku bisa pecah kembali..." berpikir sampai di situ ia membentak keras, pedangnya laksana kilat berkelebat ke arah depan.

Liuw Koei hui terkesiap tanpa terasa ia teringat kembali akan diri Cia Ceng Gak tatkala masih berada di dalam istana negeri Tay li, begitu gagah dan keren, pemuda di hadapannya sekarang tidak kalah dengan kegagahan kekasihnya dahulu.

Sedikit pikiran bercabang, lengannya telah terkena satu tusukan yang telak, darah segar mengucur keluar membasahi tubuhnya.

"Ooooh..." Liuw Koei hui berseru tertahan, "Kau... kau..."

"Aku harap kau segera enyah dari sini!" hardik Pek In Hoei ketus. Liuw Koei hui memeriksa mulut luka di atas lengannya, setelah tahu bahwa luka yang dideritanya hanya luka kulit luar yang amat

enteng, ia tertawa seram, serunya dengan penuh kegusaran : "Sucouw-mu pun tak berani bersikap begini kurang ajar terhadap

diriku, kau sebagai seorang angkatan muda berani tak pandang sebelah mata terhadap diriku... kurang ajar!"

Rupanya ia merasa amat sedih, dengan benci tambahnya : "Sebelum kuhancur-lumatkan tubuhmu jadi beberapa bagian,

rasa dendam dan benciku terasa belum terlampiaskan."

Tiba-tiba dari luar ruangan berkumandang datang suara gelak tertawa yang amat nyaring, bergema di tengah malam suaranya mengguncangkan seluruh dinding ruangan, air muka Sang Kwan In seketika berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, dengan sinar mata ketakutan ia melongok keluar ruangan.

"Oooh... Toan Hong ya telah datang!" bisik Liuw Koei hui lirih.

Sedikit pun tidak salah, bersamaan dengan sirapnya gelak tertawa itu sesosok bayangan manusia muncul di depan pintu, tampak Toan Hong ya dalam pakaian kebesarannya dengan senyum licik menghiasi bibirnya selangkah demi selangkah berjalan masuk ke dalam.

Buru-buru Liuw Koei hui jatuhkan diri berlutut di atas tanah, serunya :

"Yang Mulia ban swie... ban ban swie."

"Haaaah... haaaah... haaaah... bagus, rupanya kau masih belum melupakan diriku," ujar Toan Hong ya sambil tertawa tergelak.

"Budi kebaikan Yang Mulia kepada kau yang rendah sudah banyak tak terhingga, mana berani hamba melupakan diri Yang Mulia..."

"Ehmm, kau boleh bangkit berdiri!"

"Terima kasih Yang Mulia!" sahut Liuw Koei hui sambil bangkit berdiri, dengan tangan lurus ke bawah dan kepala tertunduk ia mundur ke samping.

Haruslah diketahui meski negeri Tay li punya nama tak berkekuasaan, tapi peraturan dalam keluarga Toan amat ketat, hubungan antara junjungan dengan bawahan masih dipertahankan hingga kini. Sekali pun Liuw Koei hui ketika itu telah bebas dari belenggu keraton, namun setelah kemunculan Toan Hong ya di situ, tanpa sadar ia pun memberi penghormatan sebagaimana layaknya.

Dalam pada itu Toan Hong ya telah melirik ke arah Liuw Koei hui, lalu tegurnya :

"Mau apa kau berada di sini??"

"Aku..." mendadak sekujur badan Liuw Koei hui gemetar keras. Toan Hong ya tertawa seram.

"Apakah mereka telah menganiaya dirimu??" Berada di hadapan Toan Hong ya ternyata Liuw Koei hui tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun, penghidupannya selam banyak tahun di dalam istana Tay li tanpa terasa telah menciptakan rasa jeri dan takut yang tak terhingga terhadap junjungannya ini, setiap kali perempuan itu bertemu dengan Toan Hong ya, ia tentu merasa dirinya rendah dan tak berani memandangnya secara langsung.

Dengan suara dingin terdengar Toan Hong ya berkata kembali : "Keluarga Toan kami turun temurun hidup dalam kemegahan,

belum ada suatu partai dalam dunia persilatan yang berani memandang enteng keluarga Toan kami. Sekarang kau mendapat penghinaan di tempat ini, tentu saja aku Toan Hong ya aku..."

"Hey manusia she Toan, rupanya kau hendak merampok di kala terjadi kebakaran..." sindir Sang Kwan In sambil tertawa dingin.

"Hmmm! Kematianmu sudah berada di ambang pintu, kau masih berani menyindir diriku... benar-benar manusia tak sadar diri..."

Ia mendengus dingin, sorot matanya dialihkan ke atas wajah Liuw Koei hui dan menambahkan :

"Apakah kau inginkan aku yang mengambil keputusan bagimu..." "Terserah kepada Yang Mulia, aku yang rendah mengucapkan

banyak terima kasih atas budi kebaikan Hong ya..."

Kembali ia hendak jatuhkan diri berlutut tapi dengan cepat Toan Hong ya telah berseru mengucapkan terima kasihnya lalu mengundurkan diri ke belakang.

Sementara itu Toan Hong ya telah alihkan sinar matanya ke atas Pek In Hoei, sambil tertawa dingin jengeknya :

"Hmmm... kau belum modar?"

Dengan penuh kebencian Pek In Hoei melotot sekejap ke arah Toan Hong ya, lalu jawabnya :

"Hmmm...! Badik Han Giok mu masih belum mampu untuk mencabut jiwaku..." hawa amarah bergelora di dalam dadanya, telapak kanan segera didorong ke muka sambil menggetarkan ujung badannya. "Aku ingin minta petunjuk darimu, ayoh silahkan turun tangan!"

Toan Hong ya melengak, ia tidak menyangka kalau watak si anak muda ini begitu keras kepala, dalam keadaan terluka parah ia masih menantang dirinya bertempur.

Sambil tertawa terbahak-bahak segera katanya :

"Haaaah... haaaah... haaaah... bocah keparat, takabur amat kau ini! Dalam keadaan luka kau masih berani keras kepala main tantang, hmm! Kau anggap aku orang she Toan adalah manusia apa, aku tak akan menggunakan kesempatan seperti ini untuk turun tangan terhadap dirimu. Haaah... haaah... menunggu kesehatanmu sudah pulih kembali seperti sedia kala, aku pasti akan mencari dirimu..."

Ia maju ke depan dengan langkah lebar kepada Sang Kwan Kokcu tegurnya :

"Sang Kwan In bagaimana dengan urusan kita berdua?" "Coba kau lihat, apakah aku mampu untuk turun tangan?"

Toan Hong ya pura-pura menunjukkan wajah kaget, dengan suara keheranan tanyanya lebih jauh :

"Kenapa? Apakah Sang Kwan heng sedang menderita sakit?" "Hmmm! Pada gagang badik Han Giok kau telah membubuhkan

serbuk pasir bintang langit, siasat licik semacam ini sungguh jauh di luar dugaanku. Mulai detik ini selama tiga tahun wilayah selatan tak akan ada orang yang sanggup memperebutkan kedudukan jago nomor wahid lagi dengan dirimu..."

"Ooooh... Toan Hong ya berseru keheranan. "Betulkah telah terjadi peristiwa semacam ini? Meskipun serbuk pasir Thian Seng Soe adalah benda pusaka milik keluarga Toan kami, tapi aku Toan Hong ya tidak nanti akan melakukan perbuatan semacam itu... Ehmmm sekarang aku telah teringat, perbuatan ini pastilah hasil karya dari muridku yang goblok itu, beberapa hari berselang ia pernah menggunakan badik Han Giok-ku untuk membakar pasir bintang langit... pastilah begitu." "Heeeeh... heeeeh... heeeeh... apa gunanya kau bermain sandiwara di hadapanku? Jalan pikiranmu mungkin bisa mengelabui orang lain, tapi jangan harap bisa mengelabui sepasang mataku..."

"Jadi kalau begitu Sang kwan heng benar percaya bahwa perbuatan ini adalah suatu kesengajaan..."

"Aku percaya dengan ketajaman mataku, apa yang pernah kulihat dan kudengar sudah cukup untuk membuktikan bahwa kau berbuat demikian..." jawab Sang Kwan In dengan wajah sinis.

"Apa yang pernah kau lihat?" bentak Toan Hong ya.

"Dengan mata kepala sendiri aku pernah melihat kau gunakan Liuw Koei hui untuk mencelakai Cia Ceng Gak, aku masih ingat ucapanmu terhadap Liuw Koei hui pada saat itu..."

Air muka Toan Hong ya berubah hebat :

"Urusan yang kau ketahui terlalu banyak, aku tak boleh membiarkan dirimu hidup terlalu lama di kolong langit..."

Diam-diam Sang Kwan In merasa hatinya tercekat, tetapi di luaran tetap ia bersikap tenang, sambil mendengus dingin katanya :

"Aku sudah tahu bahwa kau tak akan membiarkan aku tetap hidup di kolong langit, cuma usahamu itu sia-sia belaka. Sebab sejak aku mengetahui akan peristiwa itu, maka semua kejadian yang kuketahui telah kucatat di dalam sejilid kitab ilmu silat, asal kau berani turun tangan terhadap diriku maka kejadian itu akan diumumkan oleh seseorang kepada khalayak ramai, agar semua orang kangouw mengetahui akan tabiatmu dan keluarga Toan selamanya dicemooh orang..."

"Siapakah orang itu?" tanya Toan Hong ya dengan wajah serius. "Orang itu bukan lain adalah orang yang ingin kau celakai, coba pikirkanlah kecuali Cia Ceng Gak siapa lagi yang hendak kau

lenyapkan? Mungkin dalam hati kecilmu sudah mengerti..."

"Dia belum mati?" teriak Toan Hong ya dengan sepasang mata terbelalak lebar. "Meskipun dia masih hidup keadaannya tidak jauh berbeda dengan keadaan orang mati..."

Toan Hong ya menghela napas panjang, hatinya terasa agak lega, katanya seram :

"Sekarang aku sudah mendapatkan satu akal untuk menghadapi dirimu, Sang Kwan In! Lima puluh ribu orang yang berada di dalam selat Seng See Kok, malam ini jangan harap ada yang bisa keluar dari sini, bila aku orang she Toan tidak berhasil melenyapkan dirimu, malam ini aku betul-betul akan merasakan makan tak enak tidur tak nyenyak..."

Ia tertawa tergelak, kepada Liuw Koei hui ujarnya :

"Sekarang kau boleh membalas dendam waktu itu andaikata tiada Sang Kwan In maka Cia Ceng Gak tak akan meninggalkan dirimu, kalau kau hendak mencari bibit penyakitnya maka keparat tua inilah yang paling menjemukan..."

"Benar! Aku harus membinasakan dirinya untuk membalas dendam..." sahut Liuw Koei hui sambil menggertak gigi.

Sesudah menjerit lengking bagaikan orang kalap, perempuan itu meloncat ke muka, sepasang lengannya direntangkan dan langsung mencengkeram tubuh Sang Kwan In.

"Hmmm, lebih baik tenangkan dulu hatimu!" dengus Pek In Hoei dengan suara dingin.

Pemuda ini menyadari bahwa ketika itu Sang Kwan In sama sekali tak bertenaga untuk angkat tangannya, jelas serangan kalap dari Liuw Koei hui susah untuk dihindari. Pedangnya segera berkelebat membabat punggung perempuan itu secara sadis.

Sreeet...! Sepasang lengan Liuw Koei hui hampir saja mengenai tenggorokan dari Sang Kwan In, pada saat yang amat kritis itulah desiran angin tajam menyapu datang dari belakang punggungnya, membuat perempuan itu tercekat hatinya dan buru-buru menyingkir ke samping. Pek In Hoei tak mau memberi kesempatan bagi lawannya untuk pergi ganti napas, lengannya kembali bergerak cepat, tiba-tiba ujung pedangnya dari arah bawah menyusup ke atas dan langsung menotok telapak tangan lawan.

Serangan macam ini sungguh berada di luar dugaan Liuw Koei hui, ia tarik telapaknya sambil menyusup mundur lagi ke belakang, tapi waktu sudah tak mengijinkan, telapaknya tahu-tahu tertusuk telak dan darah segar mengucur keluar membasahi seluruh lengannya. 

"Hmmm!" setelah dua kali beruntun Liuw Koei hui terluka di ujung pedang lawan, hawa gusar yang bergelora di dalam hatinya sukar tertahan lagi, sambil memandang telapak tangannya yang berlumuran darah ia berteriak keras.

Air muka Toan Hong ya berubah hebat, serunya :

"Kau boleh mundur dari sini, sakit hati ini biarlah aku yang membalaskan bagimu."

Liuw Koei hui gelengkan kepalanya, "andaikata aku tak bisa membunuh sendiri bajingan ini, hamba bersumpah tak akan keluar dari selat Seng See Kok ini lagi. Tadi ia telah melukai lengan kiriku dan sekarang ia lukai lagi telapakku, sakit hati ini selamanya tak akan beres sebelum aku berhasil menghancur-lumatkan tubuhnya..."

"Perempuan edan!" maki Pek In Hoei dengan gusarnya, "kalau kau masih saja tak tahu diri, jangan salahkan kalau aku akan turun tangan keji terhadap dirimu..."

Liuw Koei hui betul-betul sudah dibikin gusar bercampur mendongkol hingga sukar untuk mengendalikan diri lagi, sekujur badannya gemetar keras, sambil meraung kalap ia memandang sekejap ke arah Toan Hong ya tanyanya :

"Bolehkah aku membinasakan dirinya??"

"Kau tak akan sanggup!" jawab Toan Hong ya sambil geleng kepala.

Sorot matanya beralih ke atas wajah pemuda itu, dengan wajah dilapisi napsu membunuh, kaisar she Toan ini tertawa dingin, telapak kanannya perlahan-lahan diangkat ke atas lalu berjalan menghampiri si anak muda itu.

Pek In Hoei tercekat hatinya, sambil mencekal pedang ia berdiri tegak tak berkutik, katanya :

"Bagus sekali, mari kita berduel untuk menentukan siapa bakal hidup dan siapa bakal mati..."

"Hmmmm! Dalam seranganku ini akan kucabut selembar jiwamu..." bentak Toan Hong ya dengan wajah menyeramkan.

Telapak kanannya diayun ke tengah udara, serentetan cahaya tajam yang amat menyilaukan mata segera meluncur ke depan membuat Pek In Hoei tak sanggup untuk membuka matanya.

"Aaaah... ilmu pukulan penembus awan!" seru Sang Kwan In dengan wajah berubah hebat.

Blaaam...! Pek In Hoei segera merasakan tenggorokannya jadi anyir badannya mundur tujuh delapan langkah ke belakang dengan sempoyongan, ia mendengus kesakitan dan berteriak :

"Sungguh licik perbuatanmu!"

Belum habis ia berseru, darah segar telah muncrat keluar dari mulutnya, tidak ampun lagi tubuhnya roboh tak sadarkan diri di atas tanah.

Belum sampai satu jurus Pek In Hoei telah roboh tak sadarkan diri, kejadian ini amat mengejutkan hati Sang Kwan In sehingga air mukanya berubah hebat, saking gelisahnya ia ikut muntah darah segar.

"Aaaai... takdir... takdir... Thian rupanya memang sudah akan mencabut jiwaku..." gumamnya dengan wajah sedih.

Sementara itu Ouw-yang Gong yang selama ini membungkam diri ikut mengucurkan air mata ketika menyaksikan si anak muda itu roboh terluka, serunya keras-keras :

"In Hoei... In Hoei... ayoh bangkit dan pertahankan diri!" Dengan wajah penuh penderitaan ia menarik lengan Pek In Hoei,

tapi pemuda itu sudah jatuh tak sadarkan diri, wajahnya pucat bagaikan mayat, darah kental masih mengucur keluar membasahi bibirnya, keadaan pemuda ini tidak jauh berbeda bagaikan orang mati. "Aku akan membalaskan dendam bagimu," teriak si kakek konyol itu dengan badan gemetar keras, "Pek In Hoei, aku akan mati

bersama-sama dirimu..."

Dengan sedih ia tertawa keras, huncwee gedenya dicabut keluar dari pinggangnya, dengan sepasang mata melotot besar ia lancarkan sebuah totokan ke atas tubuh kaisar itu.

"Huuh... setan mulut usil, kau masih bukan tandinganku... lebih baik tak usah mencari penyakit bagi diri sendiri," ejek Toan Hong ya sambil geserkan badannya ke samping.

Serangan yang dilancarkan Ouw-yang Gong semakin gencar, makinya kalang kabut.

"Kentut busuk ibumu yang ke-tujuh puluh dua kalinya. Huuh... kau sendiri kaisar apa? Kaisar yang lebih bau dari kentut anjing, sejak dilahirkan aku sudah mempunyai jiwa bajingan, aku paling suka mencari gara-gara dengan orang berpangkat macam dirimu!"

Tokoh sakti yang usil mulut ini adalah seorang jago yang amat setia kawan, selama hidupnya ia hanya merasa amat cocok dengan Pek In Hoei seorang, setelah dilihatnya sahabat karibnya ini terancam bahaya ia jadi lupa keadaan, ia lupa kalau musuhnya amat lihay. Yang terpikir olehnya hanyalah adu jiwa dengan Toan Hong ya.

Apa daya kekuatan mereka tak seimbang, sekalipun serangan yang dilancarkan amat dahsyat namun setiap kali Toan Hong ya berhasil menghindarinya, cukup dengan kelitan yang amat enteng.

Lama kelamaan Ouw-yang Gong jadi penasaran juga, bentaknya dengan marah :

"Eeei... bangsat yang dipelihara anjing, kenapa kau tidak melancarkan serangan balasan?"

"Haaaah... haaaah... haaaah... asal aku turun tangan, maka jiwamu bakal melayang!" "Aaaai... sudah, sudahlah!" mendadak Ouw-yang Gong menghentikan gerakan tubuhnya di tengah udara dan menghela napas panjang. "Aku toh bukan tandinganmu, kenapa mesti bertempur lebih jauh? Lebih baik aku mati di hadapanmu saja."

Ia pandang sekejap ke arah Pek In Hoei dalam-dalam dan menambahkan :

"Pek In Hoei, aku berangkat duluan!"

Watak si ular asap tua yang amat setia kawan ini terlalu berangasan, habis berkata dia segera ayunkan huncweenya menghantam ke atas batok kepala sendiri.

"Hmm," tiba-tiba Toan Hong ya mendengus dingin. "Aku tak akan membiarkan kau terlalu keenakan."

Jari tangannya laksana kilat menotok ke tengah udara, segulung desiran angin tajam tanpa menimbulkan sedikit suara pun langsung menghajar jalan darah penting di atas lengan Ouw-yang Gong, begitu cepat dan tepat serangan itu membuat orang sama sekali tak menyangka.

Sementara itu si ular asap tua hanya merasakan lengannya mendadak jadi kaku, sebelum ingatan ke-dua sempat berkelebat di dalam benaknya huncwee gede itu sudah terjatuh ke atas tanah. Dengan penuh kebencian ia melotot sekejap ke arah Toan Hong ya lalu katanya :

"Kau mau apa?"

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... aku hendak suruh kau memandang sepasang mataku."

Ouw-yang Gong melengak, tanpa sadar dialihkan sorot matanya ke atas sepasang mata pihak lawannya, mendadak sekujur tubuhnya gemetar keras, sikap sedih, gusar serta takut matinya lenyap tak berbekas dan sebagai gantinya rasa girang menghiasi seluruh wajahnya.

Dari sorot mata lawannya yang amat tajam itu, Ouw-yang Gong merasa seakan-akan telah menemukan sesuatu yang sudah lama hilang dari pandangannya dan kini ia muncul kembali di depan matanya, selangkah demi selangkah tubuhnya maju ke depan, ia menyebut lirih nama seorang perempuan, nama yang selamanya tak akan dilupakan olehnya. Ia semakin mendekati lawannya agar bisa melihat lebih jelas lagi benda di balik sorot mata lawannya itu.

"Di dalam mataku terdapat 'dia', dalam matamu terdapat aku, kau dapat menemukan 'dia' bila kau masuk ke dalam sini, marilah..." bisik Toan Hong ya dengan suara tenang. "Malaikat yang agung akan memberikan apa yang kau inginkan..."

Keadaan Ouw-yang Gong pada saat ini jauh lebih mirip sesosok mayat hidup yang tak bernyawa lagi, tubuhnya selangkah demi selangkah maju ke depan semakin menghampiri tubuh Toan Hong ya. "Ular asap tua!" Sang Kwan In segera menghardik, "Kau telah

terkena ilmu pembetot sukmanya!"

Tapi Ouw-yang Gong sudah tidak mendengar lagi suara bentakan dari Sang Kwan In, sepasang matanya terpusat di atas mata lawannya, sementara sang lawan bergerak kian mendekat.

Di atas wajahnya sudah tak nampak kesedihan, kegusaran atau pun penderitaan, yang ada tinggal senyuman. Senyuman yang terlalu dipaksakan.

Toan Hong ya tertawa terbahak-bahak, katanya :

"Dalam kerajaan yang dikuasai malaikat ketenangan kau akan melupakan semua kebencian, kejahatan serta rasa dendam, yang aku butuhkan hanyalah peristirahatan yang tenang tenang... peristirahatan yang kekal..."

"Benci... dendam... budi... ketenangan..." gumam Ouw-yang Gong dengan suara lirih.

Ketika tubuhnya tiba pada jarak dua langkah di hadapan Toan Hong ya, tiba-tiba tubuhnya gemetar semakin keras.

Toan Hong ya tahu bahwa daya ingatannya telah kabur, tanpa terasa sambil tertawa katanya lagi : "Semua benda-benda seperti itu sudah tak ada gunanya lagi bagimu, hanya hidup tenang di dalam kebun kegembiraanlah yang akan memberikan kepuasan serta kehangatan dalam hidupmu, di sana kau akan mendapatkan wanita cantik, intan permata, emas perak, arak wangi serta makanan lezat yang tak akan didapat di tempat lain..."

"Hmmm..." mendadak Ouw-yang Gong mengerang keras, di saat Toan Hong ya berada dalam keadaan tidak bersiap sedia itulah mendadak ia meloncat ke depan, sepasang telapaknya laksana kilat melancarkan serangan babatan ke depan.

Blaaaam.... di tengah udara terjadi ledakan dahsyat yang menggetarkan seluruh permukaan, tubuh Toan Hong ya mencelat sejauh setengah tombak lebih dan roboh di atas tanah, sedang Ouw- yang Gong sendiri pun jatuh di atas tanah.

"Hmmm!" ke-dua orang itu sama-sama mendengus dingin lalu muntah darah segar, sesaat kemudian Toan Hong ya perlahan-lahan bangkit berdiri dan melotot sekejap ke arah Ouw-yang Gong dengan penuh kegusaran.

Sekujur tubuh si kakek konyol itu gemetar keras, diam-diam hatinya merasa tercekat, bisiknya :

"Kau... kau masih sanggup berdiri?"

Toan Hong ya tertawa dingin, sambil menyeka noda darah yang membasahi ujung bibirnya ia berseru :

"Aku terlalu menilai rendah dirimu, aku tak menyangka kau bisa berlagak seolah-olah terkena ilmu pembetot sukmaku dan membokong diriku di kala aku tidak siap. Untung reaksiku sangat cepat... kalau tidak dua pukulan dahsyatmu barusan pasti telah menyelesaikan jiwaku..."

"Maknya, kau betul punya jiwa seperti kura-kura bangsat! Aku si ular asap tua mengira perbuatanku ini pasti akan berhasil membalaskan sakit hati Pek In Hoei, tak nyana kau si anak kura-kura mempunyai nasib yang begitu mujur, sudah terkena dua pukulan pun hanya menderita luka enteng, agaknya usahaku cuma sia-sia belaka, takdir telah menetapkan bahwa aku tak bisa membalas sakit hati ini lagi! Aaai... ke-dua pukulan itu pun merupakan takdir, seandainya Sang Kwan Kokcu tidak menghardik sehingga pikiranku sadar kembali, dari mana aku bisa menghadiahkan dua buah bogem mentah kepadamu? Sayang kekuatan tubuhku masih belum cukup untuk membinasakan dirimu, kesempatan yang baik ini harus dibuang dengan percuma!"

"Huuh... peristiwa itu hanya bisa dianggap sebagai keteledoranku hingga terkena bokonganmu, cuma kesempatan baik seperti itu hanya ada satu kali saja, sekarang kau tak akan mampu untuk menciptakan kesempatan sebaik itu lagi!" Bagian 29 ******** TENTANG soal itu aku sendiri pun tahu," sahut Ouw-yang Gong sambil tarik napas dalam-dalam, "Aku pun tahu bahwa ilmu kepandaianku belum dapat menandingi dirimu, bila turun tangan lagi berarti aku mencari penyakit buat diri sendiri. Nah! Sekarang kau boleh mulai turun tangan, aku tak akan memberikan perlawanan."

"Hmmm! Rupanya kau masih tahu akan diri sendiri, tapi... kau mesti tahu bahwa serangan yang akan kulancarkan sebentar lagi bukan permainan kanak-kanak, aku bisa membinasakan dirimu dalam sekali pukulan dan kau pun jangan menganggap aku hendak melampiaskan rasa mendongkolku, aku hanya ingin memberi sedikit kelihayan padamu!"

"Apa yang hendak kau lakukan?" seru Ouw-yang Gong dengan mata terbelalak lebar.