Imam Tanpa Bayangan I Jilid 25

 
Jilid 25

KESEMPATAN itu digunakan Ouw-yang Gong mencabut jenggot laki-laki itu dan lari.

Pria itu gusar, cepat ia mengejar.

Ouw-yang Gong sambil lari menoleh ke belakang, ketika melihat pria aneh itu mengejar ia jadi takut dan sukmanya serasa melayang tinggalkan raganya. Tapi sebagai seorang cerdik dengan cepat ia mendapat akal, sambil menoleh serunya :

"Kau tak boleh memukul aku!" "Kenapa??" tanya pria itu sambil berhenti.

Sambil tunjukkan segenggam jenggot di tangannya Ouw-yang Gong tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... kalau kau tidak punya jenggot bagaimana caranya pergi menghadap raja Akhirat?? Giam Ong berkata bahwa jenggot adalah sumber kehidupan yang diberikan orang tuamu dan tinggalan nenek moyangmu; hanya orang yang berjenggotlah yang pantas jadi orang tua...

Pria kekar itu tundukkan kepala berpikir sebentar lalu jawabnya : "Ehmm, ucapmu memang masuk di akal, aku tidak memukul

dirimu lagi..."

Para wakil dari jago-jago selatan tak seorang pun yang kenali siapakah pria kekar itu, melihat orang tersebut dipermainkan oleh Ouw-yang Gong secara habis-habisan, dalam hati mereka merasa amat geli. Sementara itu Sang Kwan Cing dengan wajah serius telah maju ke depan, tegurnya :

"Toako ini, ada urusan apa kau kunjungi selat Seng See Kok kami?"

Pria kekar itu melotot sekejap ke arah gadis itu, lalu menjawab : "Aku tak mau beritahukan kepadamu, suhu sering bilang bahwa kaum wanita tak seorang pun yang merupakan manusia baik, lidahnya

paling panjang dan sepatah kata bisa ditarik menjadi sepuluh li..." "Haaaah... haaaah... haaaah... betul, anggapanmu memang tepat

sekali," sambung Ouw-yang Gong sambil tertawa tergelak, "lidah kaum wanita lebih panjang daripada lidah setan gantung...Hiiih... kalau lidahnya menjulur terus di tepi bibir, setiap hari tentu akan menakutkan orang yang melihat... engkoh cilik! Perkataanmu memang betul, jangan kau dekati kaum perempuan nanti darahmu bisa dihisap dan kepalamu bisa dililit oleh lidahnya..."

Sang Kwan Cing jadi sangat mendongkol sehingga hampir saja ia muntah darah segar, dengan gusar teriaknya :

"Hey ular asap tua, kalau kau ngaco belo lagi, jangan salahkan kalau aku tak akan berlaku sungkan lagi terhadap dirimu."

Ouw-yang Gong pura-pura berlagak pilon, seolah-olah tidak pernah mendengar ucapan itu, ia julurkan lidahnya dan bertanya kepada pria kekar tadi :

"Engkoh cilik, siapa sih namamu??"

"Soen Put Jie!" jawab pria itu setelah berpikir sebentar. "Bagus!" seru Ouw-yang Gong sambil acungkan jempolnya.

"Jadi oncu memang tak boleh pakai dua she, namamu bagus sekali..." Ouw-yang Gong adalah seorang manusia yang cerdik, setelah menyaksikan kelihayan tenaga sakti orang itu ditambah pula kemunculannya yang secara tiba-tiba, ia tahu bahwa kehadiran orang ini pasti hendak menyusahkan Pek In Hoei, maka dari sakunya ia segera ambil keluar kelereng kaca yang berhasil didapatkan dari gudang harta milik Hee Giong Lam, sambil diayunkan ke tengah udara serunya menggapai ke arah Soen Put Jie.

"Engkoh cilik, kemarilah, ayoh kita main kelereng..."

Bagaikan bocah cilik Soen Put Jie berteriak kegirangan dan segera lari ke depan,tapi baru berjalan beberapa langkah mendadak ia berhenti dan geleng kepala.

"Jangan bermain sekarang, pekerjaan yang ditugaskan suhu kepadaku belum selesai kukerjakan!"

"Tidak apa-apa, kita toh cuma bermain sebentar saja... ayohlah..." sambil berkata kakek konyol itu segera menyentil kelereng itu membidik kelereng yang lain.

Bagaimana juga Soen Put Jie adalah seorang pria tolol, lama kelamaan ia tak tahan juga terpancing oleh permainan kelereng itu, ia segera berjongkok dan ikut menyentil kelereng.

Demikianlah ke-dua orang itu segera berjongkok dan bermain kelereng seperti anak kecil saja.

Kejadian ini bukan saja membuat para wakil pelbagai partai dari wilayah selatan dibikin tertegun bahkan Pek In Hoei sendiri pun jadi melongo termangu-mangu.

Pada saat itulah tiba-tiba dari luar selat berkumandang datang suara berkeleningan yang berbunyi terhembus angin, mengikuti keleningan tadi terdengar irama seruling mengalun seluruh angkasa...

Begitu mendengar suara itu air muka Sang Kwan Cing berubah hebat, gumamnya dengan suara gemetar :

"Aaaah, dia... dia..."

Rupanya para jago yang hadir di situ rata-rata sudah tahu siapakah yang telah datang, semua orang berdiri di tempat masing- masing dengan sikap menghormat, siapa pun tidak berani buka suara dan sinar mata sama-sama dialihkan keluar selat.

Di antara orang yang hadir di situ, hanya Ouw-yang Gong serta Soen Put Jie dua orang saja yang tetap tenang, mereka berdua tetap berjongkok sambil main kelereng. Sekalipun begitu si ular asap tua Ouw-yang Gong telah basah kuyup oleh keringat dingin, satu ingatan berkelebat dalam benaknya, tapi ia tetap berusaha untuk melayani Soen Put Jie bermain di sana.

"Aaaah, sudah, aku tak mau bermain lagi, suhuku telah datang," terdengar pria kekar itu berseru.

"Jangan terburu-buru... ayoh kita bermain sebentar lagi, mari kuajari kau bermain kelereng menggelinding ke dalam lubang..."

Di atas tanah segara dibuatnya lima buah lubang kecil, lalu kelereng itu disentilkan ke dalam lubang-lubang tadi.

Sifat kekanak-kanakan Soen Put Jie pada dasarnya memang belum hilang, melihat permainan itu ia jadi tertarik dan urusan lain pun segera dilupakan.

Suara keleningan serta suara seruling itu kian lama kian mendekati, akhirnya tampaklah delapan orang pria berbaju putih dengan menggotong sebuah tandu perlahan-lahan munculkan diri di sana.

"Apakah Toan yaya di situ??" Sang Kwan Cing segera memburu maju dan menegur.

"Hmm, di mana ayahmu?" sahut orang di dalam tandu sambil mendengus dingin.

Air muka Sang Kwan Cing berubah hebat.

"Ayahku telah menutup diri dan tidak mencampuri urusan keduniawian lagi, selama dalam selat tak ada urusan dunia persilatan yang dicampuri olehnya."

Toan yang di dalam tandu kembali mendengus dingin, serunya ketus :

"Pandai amat dia mencuci diri, apa dianggapnya urusan itu bisa diselesaikan begitu saja? Pikirannya terlalu sederhana!"

Mendadak ia pertinggi suaranya dan berteriak : "Soen Put Jie!"

Sekujur tubuh Soen Put Jie gemetar keras, buru-buru ia buang kelereng kaca itu ke atas tanah dan lari menghampiri tandu tadi. Ouw-yang Gong yang gagal menarik tangannya segera berteriak

:

"Heeei... nanti... dulu... nanti dulu, mari kita bermain lagi!" Sementara itu Toan ya di dalam tandu telah mendengus berat,

pria kekar itu jadi ketakutan dan segera jatuhkan diri berlutut di atas tanah, teriaknya berulang kali :

"Suhu... oooh, suhu... murid tidak berani lagi!"

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... bagaimana dengan tugas yang kuserahkan kepadamu? Sudah kau laksanakan?"

Seolah-olah baru saja mendusin dari mimpi Soen Put Jie tepuk kening sendiri dan berseru :

"Aaaaah aku tadi lupa!"

Ia segera meloncat bangun dan melancarkan satu pukulan dahsyat ke tengah udara. Blaaam! Pasir dan debut beterbangan, di atas permukaan segera muncullah sebuah liang besar.

Menyaksikan kehebatan musuhnya, para jago yang hadir di situ jadi mengkeret dan tanpa sadar mundur dua langkah ke belakang.

Soen Put Jie sambil berdiri di tengah kalangan teriaknya keras- keras :

"Siapa yang bernama si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei?"

Si anak muda itu melengak, ia tidak menyangka kalau pria tolol itu hendak mencari satroni dengan dirinya, melihat tingkah lakunya yang masih kekanak-kanakan itu timbul kesan baik dalam hatinya, ia segera melayang keluar sambil menyahut :

"Akulah yang kau cari."

"Kujotos badanmu!" teriak Soen Put Jie sambil meloncat ke depan, kepalannya langsung ditonjok ke depan.

Gerakan yang dilakukan secara tiba-tiba ini hampir saja membuat Pek In Hoei jadi kelabakan, badannya segera bergeser ke samping dan melayang untuk menghindar.

"Hey, kenapa kau jotos badanku?" tegurnya. "Suhuku yang suruh aku jotos badanmu."

Sambil berseru kembali ia lancarkan satu jotosan kilat ke depan. Baru untuk pertama kali ini Pek In Hoei menjumpai manusia kukoay semacam Soen Put Jie, dalam hati ia rada mendongkol juga,

telapaknya segera berkelebat menghantam ke atas tubuh lawan. "Bagus! Aku akan suruh kau merasakan ilmu Lay Bie Kang

ajaran suhuku...!" seru pria kekar itu sambil putar telapaknya ke depan.

Blaaam...! sepasang telapak segera saling membentur satu sama lainnya, di tengah bentrokan nyaring Soen Put Jie berteriak kesakitan dan mundur dua langkah dengan keheranan kemudian sambil lari balik ke arah tandu teriaknya :

"Suhu! Ilmu Lay Bie Kang mu tidak mempan untuk menandingi ilmu tulang keras miliknya, aku si Loo soen sudah tak sanggup."

Toan Hong ya yang berada di dalam tandu mendengus dingin: "Hmmm! Manusia yang tak berguna, ilmu silat dari keluarga

Toan kami tiada tandingannya di kolong langit, mengerti kau??"

Tampak horden di depan tandu bergoyang dan muncullah seorang pria berusia pertengahan yang memakai jubah kuning bersulamkan benang emas, dengan memakai kopiah kaisar.

Sinar matanya yang tajam segera menyapu sekejap ke atas wajah Jago Pedang Berdarah Dingin, dengusan sinis bergema memecahkan kesunyian.

Ouw-yang Gong yang berada di sisi Pek In Hoei segera berbisik

:

"Dia adalah Tong Hong ya dari Tay li dalam wilayah selatan,

tidak termasuk dalam perguruan mana pun tetapi kepandaian silatnya merupakan pemimpin di antara partai lain, asal kita sebut nama Toan Hong ya dari negeri Tay li, siapa pun mengenali dirinya, orang ini sangat hambar terhadap urusan dunia dan jarang mencampuri urusan dunia persilatan, kemunculannya kali ini sungguh mencurigakan sekali..." "Ooooh, kiranya dia adalah seorang kaisar tanpa mahkota!" sahut Pek In Hoei.

Ia segera perhatikan wajah orang itu tajam-tajam, tampaklah olehnya bukan saja raut wajahnya dingin dan agung bahkan gerak geriknya gagah sekali, tidak malu disebut sebagai seorang kaisar.

Dalam pada itu Tong Hong ya pun sedang mengamati wajah Pek In Hoei tajam-tajam, lalu menegur :

"Apakah kau adalah si Jago Pedang Berdarah Dingin??" "Sedikit pun tidak salah!"

"Ehmmmm...! seorang diri menyerbu ke daerah selatan, keberanianmu memang patut dihargai..."

"Apa maksudmu?" seru Pek In Hoei tertegun.

"Haaaah... haaaah... haaaah... kolong langit demikian luasnya, tahukah kau bahwa jago lihay tiada tara banyaknya? Benarkah kepandaian silatmu itu sanggup untuk menaklukkan para jago yang ada di wilayah selatan?..."

"Hmmm! Di antara tiga partai dua selat enam benteng sudah ada separohnya yang keok dan bertekuk lutut, apakah kau juga punya kegembiraan untuk ikut serta di dalam pertemuan ini..."

"Hmmm! Urusan sekecil ini tidak berharga bagiku untuk mencampurinya, setelah mendapat laporan kemarin malam dan mengetahui tujuanmu menjelajahi wilayah selatan kali ini, sebenarnya aku tidak ingin datang kemari, tapi aku merasa tidak lega hati membiarkan kau bikin onar di sini, maka sengaja aku datang kemari untuk ikut menyaksikan jalannya pertemuan ini..."

"Kedatanganmu untuk menonton keramaian memang tepat pada waktunya..." jengek Pek In Hoei tertawa dingin.

Air muka Toan Hong ya berubah hebat.

"Caramu bertanding satu lawan satu sungguh terlalu buang waktu, sekarang aku akan mewakili seluruh partai yang ada di wilayah selatan untuk memberi kesempatan bagimu guna merebut kemenangan, asal kau sanggup melayani aku sebanyak lima puluh jurus maka semua partai yang ada di wilayah Lam Ciang akan mengundurkan diri ke dalam keresidenan In Lam, selamanya tak akan menginjakkan kaki di wilayah selatan lagi. Coba lihatlah bagaimana dengan cara ini?"

"Hmmmm! Aku rasa kau belum tentu sanggup untuk mewakili mereka?"

"Haaaah... haaaah... haaaah... itu soal gampang!" Sinar matanya menyapu sekejap para wakil seluruh padri, lalu tegurnya :

"Sampai di manakah kelihayannya ilmu silat yang dimiliki si Jago Pedang Berdarah Dingin aku rasa kalian sudah melihatnya sendiri, dapatkah kalian menangkan dirinya aku percaya bahwa dalam hati kalian mengerti jelas, sekarang adalah saat bagi kalian untuk menentukan nasib, bagaimana seandainya aku orang she Toan mewakili seluruh partai dalam wilayah selatan untuk bertanding melawan dirinya..."

Semua jago yang hadir di situ mengetahui bahwa ilmu silat yang dimiliki Toan Hong ya tiada tandingnya di kolong langit, asal ia suka tampil ke depan maka urusan pasti akan beres.

"Maka tanpa terasa semua orang segera berseru :

"Baik, Toan Hong ya! Kami titipkan tugas berat ini kepadamu..." Waktu itu hanya Sang Kwan Cing dari selat Seng See Kok saja yang nampak murung dan tidak senang hati, dengan alis berkerut ia

segera melangkah maju ke depan.

"Apakah kau tidak setuju?" tegur Toan Hong ya tertegun. "Aku tahu bahwa ayahmu selamanya tinggi hati dan tak mau tunduk kepada aku orang she Toan. Hmmm... Hmmm... urusan sudah lewat begitu lama, apakah dia masih belum dapat melupakan akan kekalahannya di tangan aku orang she Toan..."

"Apa? Ayahku pernah kalah di tanganmu?" seru Sang Kwan Cing dengan wajah berubah hebat. "Aku belum pernah mendengar akan cerita kau ini..." "Haaaah... haaaah... haaaah... peristiwa yang memalukan semacam itu tentu saj ayahmu tak akan memberitahukan kepadamu, seandainya pada saat ini ayahmu mengetahui bahwa aku sudah memasuki selat Seng See Kok, kemungkinan besar dia akan ajak diriku untuk berduel lagi..."

"Hmm, meskipun keluarga Toan dari negeri Tay li dihormati orang sebagai suatu kekuatan besar, tapi belum tentu kau mampu untuk mengapa-apakan selat Seng See Kok kami," sahut Sang Kwan Cing dengan nada dingin. "Bila kau hendak mewakili partai yang ada di wilayah selatan, maka aku akan membantu Pek In Hoei untuk memusuhi dirimu..."

Toan Hong ya melengak, tapi ia segera tertawa :

"Tabiat dari ayahmu pun demikian, ia paling suka mengambil jalan yang bertolak belakang dengan diriku. Baiklah mari kita saling membantu salah satu pihak, coba kita lihat selat Seng See Kok yang lebih mampu atau keluarga Toan dari negeri Tay li yang lebih hebat!"

Persoalan secara tiba-tiba berubah jadi begini serius, hal ini jauh di luar dugaan siapa pun. Sekarang masalahnya bukan melulu perebutan antara Pek In Hoei dengan para partai dari wilayah selatan saja, juga merupakan perebutan antara Toan Hong-ya dengan selat Seng See Kok.

Dari sakunya Sang Kwan Cing segera ambil keluar sebuah tabung dan melepaskan tabung tersebut ke tengah udara, asap warna pun menyebar ke empat penjuru dan berhembus ke dalam selat.

Toan Hong ya melengak, ia segera menegur : "Hey, apa yang sedang kau lakukan?"

"Aku sedang memberitahukan kepada ayahku bahwa kau telah datang, asap itu merupakan hio minta tolong dari selat Seng See Kok kami, asal tanda ini sudah dilepaskan maka ayahku segera akan tiba..." "Hmm... Hmm... banyak amat permainan setanmu," jengek Toan

Hong ya sambil tertawa dingin. Ia menoleh dan memandang sekejap ke arah si Jago Pedang Berdarah Dingin, lalu dengan langkah lebar ia maju ke depan.

"Hey, apa hubunganmu dengan Cia Ceng Gak?" tegurnya. Pek In Hoei terkejut, segera pikirnya :

"Sungguh tak nyana ia kenal sucouwku, entah ia kenal tidak dengan ayahku?"

Ia segera memberi hormat dan menjawab :

"Dia adalah sucouw kami, ayahku bernama Pek Tiang Hong..." "Ooooh... kau maksudkan Pek Tiang Hong? Tempo dulu ketika

aku sedang bertanding ilmu pedang melawan sucouw-mu Cia Ceng Gak, ayahmu masih seorang anak kecil, waktu itu ia selalu mendampingi sucouw-mu dan besarnya juga sebanding dengan kau sekarang..." ia menghela napas panjang.

"Aaaai... dalam sekejap mata tiga puluh tahun lebih sudah lewat, angkatan yang lebih tua sudah banyak yang mengundurkan diri atau pulang ke alam baka..."

"Kurang ajar, berapa sih usiamu? Berani betul mengatakan ayahku sebagai anak kecil..."

"Sekarang aku berusia delapan puluh delapan tahun, apakah usia sebesar itu belum dianggap tua?"

Pek In Hoei melongo, ia tak mengira kalau usia Toan Hong ya sudah setua itu, tetapi kalau dilihat wajahnya yang masih berusia empat puluh tahunan serta badannya yang gagah, ia tak percaya kalau orang itu sudah berumur setua itu, pikirnya di dalam hati :

"Seringkali aku dengar orang berkata bahwa di kolong langit terdapat ilmu awet muda, dan aku selalu tidak percaya, kalau dilihat keadaannya mungkin Toan Hong ya ini betul-betul menguasai ilmu awet muda..."

Berpikir sampai di sini, ia segera ulangi kembali perkataannya dengan nada agak sangsi.

"Benarkah kau telah berusia delapan puluh delapan tahun..." "Kau tak usah sangsi, seandainya sucouw-mu masih hidup di kolong langit maka keadaannya tidak akan berbeda dengan keadaanku..." wajah tiba-tiba berubah jadi dingin. "Ayoh, kita boleh mulai bertempur..."

Pek In Hoei terkesiap.

"Kau adalah sahabat sucouw-ku, aku tak berani turun tangan melawan dirimu..."

"Hmmm! Bagaimana pun juga kau harus turun tangan bergebrak melawan diriku, persoalan ini menyangkut wilayah selatan bakal menjadi milik siapa, asal kau bisa menangkan aku maka partai Thiam cong baru akan sanggup berdiri lagi di wilayah selatan..."

"Baik...! Kalau begitu terpaksa aku harus pertaruhkan selembar jiwaku untuk bergebrak melawan dirimu!" Perlahan-lahan ia cabut keluar pedang mestika penghancur sang surya lalu diluruskan ke depan, cahaya tajam yang dingin segera memancar keluar dari ujung pedang tersebut.

Ketenangan serta kemantapan si anak muda itu diam-diam mengejutkan hati Toan Hong ya, ia tidak mengira kalau dengan usinya yang semuda itu ternyata sudah berhasil mencapai taraf yang begini tinggi.

"Oooh...! Bukankah pedang itu adalah pedang mestika penghancur sang surya?" seru Toan Hong ya tercengang. "Tempo dulu ketika sucouw-mu bertanding ilmu silat melawan diriku di istana belakang negeri Tay li, pedang yang dipergunakan juga pedang mestika ini, sungguh tak nyana senjata ini telah jatuh ke tanganmu..."

Ia tertawa terbahak-bahak dan melanjutkan :

"Apakah kau sudah mempelajari ilmu pedang penghancur sang surya?..."

"Ilmu silat yang dimiliki sucouw-ku tiada taranya di kolong langit, aku sebagai seorang manusia yang bodoh mana sanggup menandingi kehebatan sucouw-ku? Kalau boleh dibilang berhasil kupelajari, itu pun hanya kulitnya saja..." "Bagus! Itulah jiwa besar pendekar pedang," puji kaisar dari negeri Tay li ini sambil acungkan jempolnya.

Dari dalam saku ia segera ambil keluar sebilah pisau belati, setelah diayunkan ke tengah udara, ujarnya lagi sambil tertawa :

"Pedang mestikamu amat tajam dan luar biasa, biarlah aku gunakan badik Han Giok ini untuk melayani dirimu!"

Semangat Pek In Hoei segera berkobar, ia merasa bahwa dirinya bisa bergebrak melawan Toan Hong ya dari negeri Tay li yang namanya amat tersohor di kolong langit, kejadian itu pasti akan menggemparkan seluruh jagad, pedangnya segera dibabat ke depan, cahaya tajam memancar keluar memenuhi seluruh jagad.

Toan Hong ya terkejut, badannya dengan cepat bergerak, badik Han Giok dalam genggamannya dibabat tiga kali ke depan, desiran tajam segera menderu-deru mengelilingi seluruh tubuhnya.

Pek In Hoei memandang pertempuran kali ini jauh lebih penting dari jiwa sendiri, ia tahu menang kalah dari pertarungan ini menyangkut kehidupan selanjutnya dari dirinya.

Menghadapi musuh yang amat tangguh ia tak berani maju menyerang secara gegabah, pedang mestika penghancur sang surya- nya diputar melindungi keselamatan badan, ia cuma berharap lima puluh jurus dengan cepat berlalu dan pertempuran diselesaikan secara baik.

"Ehmmm, ilmu silat tidak jelek..."

Pek In Hoei merasakan pedangnya bergetar keras, seolah-olah termakan oleh suatu benturan yang hebat, hampir saja ia tak sanggup menguasai diri, hatinya bergidik, cepat-cepat ia keluarkan jurus "Liat Jiet Bun Ciong atau panas terik ke bumi untuk membabat kaisar.

"Oooo... rupanya kau sudah mewarisi seluruh kepandaian silat milik Cia Ceng Gak..." seru Toan Hong ya.

Seakan-akan ia mengetahui bahwa dirinya tak memiliki kekuasaan untuk bertanding menghadapi serangan tersebut, tiba-tiba badannya melayang ke tengah udara, tangannya digetarkan dan badik Han Giok secara tiba-tiba meluncur ke depan.

"Aduuuh...!" teriak Pek In Hoei menjerit kesakitan dan tubuhnya segera terjatuh ke atas tanah.

Para jago yang hadir di situ tak seorang pun yang melihat jelas apa sebenarnya yang telah terjadi, mereka hanya melihat Pek In Hoei memegangi pinggangnya dengan kesakitan, gagang badik muncul di luar dan keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.

"Kau...!" jerit Ouw-yang Gong dengan wajah berubah.

Tubuhnya segera meloncat maju ke depan dan mencengkeram gagang badik itu untuk dicabut keluar.

Siapa tahu lengannya mendadak jadi kaku dan tak sanggup meneruskan gerakan itu.

Terdengar Sang Kwan Cing berseru :

"Jangan sentuh dia!"

Kemudian sambil berpaling ke arah Toan Hong ya ia menambahkan :

"Sungguh tak nyana kau gunakan ilmu Hoei San Jiu untuk membunuh dirinya!"

"Hmmm...! hanya luka sekecil itu dalam pandangan ayahmu tidak terhitung seberapa..."

"Bagus! Kiranya memang kau sengaja meninggalkan kesulitan bagi ayahku, aku sungguh tak pernah mengira kalau seorang Toan Hong ya yang terhormat bakal menggunakan tubuh seorang boanpwee untuk mewujudkan cita-citanya..."

Toan Hong ya sama sekali tidak menggubris ucapan itu, sambil putar badan serunya :

"Kembali ke istana!"

Delapan orang pria berbaju putih itu segera menggotong tandu dan siap untuk berangkat. Ouw-yang Gong merasa amat gusar, ia tidak rela membiarkan musuhnya berlalu dengan begitu saja, jari tangannya segera berkelebat siap menotok ketiak kaisar itu.

"Kau mau apa??" bentak Toan Hong ya secara tiba-tiba sambil menoleh ke belakang.

Ouw-yang Gong melongo, ia merasa hatinya tercekat dan tak berani melanjutkan kembali serangannya, tangan yang masih berada di tengah udara tetap berhenti kaku di situ, untuk beberapa saat ia tak tahu jari tangannya mesti ditarik balik atau melanjutkan kembali serangannya.

"Biar aku yang minta pelajaran darimu..." bentak Sang Kwan Cing sambil maju ke depan.

"Sayang kekuatanmu masih terpaut amat jauh, aku tak sudi turun tangan melawan dirimu!" sahut Toan Hong ya sambil geleng kepala.

Sang Kwan Cing tertawa dingin.

"Hmm, lebih baik kau tak usah jual lagak aku tidak percaya segala tahayul..."

Badannya menerjang ke depan dan jari tangannya segera berkelebat menotok tubuh kaisar itu.

Dengan enteng Toan Hong ya mengigos ke samping, sambil mendengus dingin serunya :

"Put Jie, hajar dia!"

Soen Put Jie adalah seorang bodoh, mendapat perintah ia segera meloncat ke depan sambil berteriak :

"Suhuku suruh aku menghajar kau..."

Kepalan yang amat besar itu bagaikan titiran air hujan segera melepaskan pukulan-pukulan yang gencar.

Sang Kwan Cing teramat gusar, ia membentak keras dan melancarkan pula sebuah serangan :

"Manusia goblok, kau cari mati rupanya..."

Blaaam... serangan tersebut dengan telak bersarang di tubuh Soen Put Jie, tapi musuhnya cuma gontai sebentar dan sama sekali tidak terluka, bahkan sambil meraung keras ia maju ke depan sambil meninju.

Sang Kwan Cing berkelit ke samping ketika jotosan musuh hampir mengenai tubuhnya, telapak kanan berkelebat laksana kilat dan segera menghajar wajah Soen Put Jie.

Plooook... terdengar benturan nyaring memecahkan kesunyian, Soen Put Jie mundur dengan sempoyongan dan hampir saja roboh terjengkang ke atas tanah, sambil berteriak kesakitan dan memegang pipi kirinya yang bengkak ia berseru :

"Suhu bajingan perempuan ini menggaplok pipiku..." "Tidak mengapa, hajar lagi dirinya."

"Aku tidak berani!" seru Soen Put Jie ragu-ragu.

"Kurang ajar! Aku suruh kau gampar pipi kirinya, ayoh cepat gampar pipinya..."

Soen Put Jie meraung keras, dia segera putar telapaknya dan menggaplok pipi kiri Sang Kwan Cing.

Baru saja gadis itu akan gerakkan lengan untuk menangkis, tiba- tiba tangannya jadi kaku dan tak sanggup diangkat lagi.

Ploook...! dengan telak gaplokan itu bersarang di atas pipinya. Sang Kwan Cing meraung dan menangis, sambil memegang pipinya ia lari menuju ke dalam selat.

Tiba-tiba... dari tengah udara berkumandang datang suara gelak tertawa yang mengundang nada gusar :

"Toan Hong ya kau berani datang kemari menganiaya orangku..." belum habis ia berkata tampak sesosok bayangan manusia munculkan diri di situ.

Tampaklah seorang kakek tua berjenggot putih sambil menarik tangan Sang Kwan Cing muncul di sana,ia melirik sekejap ke arah Pek In Hoei lalu dengan wajah berubah hebat tertawa dingin.

Badannya berkelebat ke depan, sekali hantam Soen Put Jie menggeletak di atas tanah, gerakan yang demikian cepatnya ini membuat Toan Hong ya yang ada di situ jadi terperanjat. "Haaaah... haaaah... haaaah... Sang Kwan In, ilmu silatmu hebat juga," serunya.

"Hmmm! Apakah kau juga ingin turun tangan?" tantang Sang Kwan In sinis.

Senyuman yang menghiasi bibir Toan Hong ya seketika lenyap tak berbekas.

"Lebih baik lain kali saja. Sekarang aku tak ada waktu," ia tertawa bangga dan masuk ke dalam tandunya, di tengah tepukan nyaring delapan orang pria berbaju putih itu segera angkat tandu itu dan berlalu dari sana.

Menyaksikan berlalunya kaisar itu, Sang Kwan In menghela napas panjang, katanya :

"Ceng jie, cepat bopong Pek In Hoei masuk ke dalam kamar obatku, kalau terlambat darah yang mengalir akan semakin banyak dan aku tak akan mampu menyelamatkan jiwanya lagi."

"Ayah..." seru gadis itu tertegun.

"Aku hendak menyelamatkan dirinya, kau tak usah banyak bertanya lagi..."

Badannya berkelebat pergi, dan lenyaplah tubuh si jago tua itu.

.....

Asap dupa mengepul ke angkasa... dalam ruangan tampak bayangan manusia bergerak ke sana kemari.

Dengan tenang si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei berbaring di sisi tungku, badik tajam itu masih menembusi pinggangnya, sementara wajahnya masih pucat pias bagaikan mayat, bibirnya hijau membiru, kematian menyelimuti wajahnya...

Di antara semua orang yang hadir, Ouw-yang Gong lah yang paling tegang, bibirnya bergetar namun tak sepatah kata pun sanggup diucapkan, ia genggam tangan Pek In Hoei erat-erat sedang air mata mengucur keluar membasahi pipinya. "Bagaimana keadaannya kongcu? Tolong beritahulah kepadaku..."

"Lebih baik kau keluar dulu, aku pasti akan berusaha keras untuk menyelamatkan jiwanya..." sahut Sang Kwan In dengan wajah serius. "Tidak!" seru Ouw-yang Gong sambil geleng kepala. "Aku ingin mendampingi dirinya asal ia menemui suatu celaka maka aku si ular

asap tua segera akan bunuh diri di hadapannya..."

"Aku minta kau segera keluar dan jaga di depan pintu..." ujar Sang Kwan In lagi dengan alis berkerut, "sebelum memperoleh ijin khusus dariku, siapa pun dilarang masuk kemari termasuk pula semua orang yang ada di dalam selat Seng See Kok ini."

Ouw-yang Gong si ular asap tua ragu-ragu sejenak, akhirnya ia menghela napas panjang.

"Baiklah! Kokcu, aku serahkan keselamatan jiwanya kepadamu!" Bagaikan seorang yang menderita sakit parah, dengan langkah yang hebat ia berjalan keluar dari ruangan itu dan lenyap di balik

pintu.

Sang Kwan In menghela napas panjang, serunya sambil menoleh

:

"Anak Cing!"

"Ayah, kita akan mulai sekarang juga?" tanya Sang Kwan Cing

sambil masuk dengan membawa sebuah bungkusan.

"Bersiap-siaplah dengan obat penahan darah, aku segera akan turun tangan mencabut keluar pisau belati ini..."

Sebagai seorang ahli dalam ilmu pertabiban, dia menyelami arti pentingnya obat penahan darah, sedikit salah saja dalam tindakannya mencabut pisau belati itu berarti kematian yang mengerikan bagi Pek In Hoei, maka dengan wajah serius ia tarik napas panjang, tangannya perlahan-lahan menggenggam gagang pisau belati itu lalu dicabut keluar.

Begitu pisau belati itu tercabut, darah segar segera menyembur keluar bagaikan pancuran air, Sang Kwan Cing bertindak cepat, ia tutup mulut luka itu dengan tangan kanan lalu dibubuhi selapis serbuk halus untuk menghentikan pendarahan.

Sekujur badan si anak muda itu bergetar keras setelah ia jatuh tak sadarkan diri.

"Ayah... kenapa kau?" mendadak Sang Kwan Cing menjerit kaget.

Air muka Sang Kwan In berubah hebat, sekujur tubuhnya gemetar keras dan ia mengeluh penuh penderitaan, dicekalnya gagang pisau belati itu lalu ditatap tajam-tajam, gumamnya dengan suara gemetar :

"Thian Seng See... Thian Seng See."

"Ayah, apa yang kau maksudkan dengan pasir bintang langit itu?" jerit sang dara.

Sang Kwan In tertawa getir :

"Sungguh keji hati Toan Hong ya, ia tahu bahwa aku telah berhasil meyakini ilmu cakar Jit Ciat Jiau, itu berarti ia tak akan bisa menandingi diriku lagi, maka di atas gagang pisau belati itu ditaburi dengan selapis serbuk beracun yang berasal dari wilayah See Ih... meskipun serbuk pasir bintang langit ini tidak sampai mematikan diriku, tapi benda beracun itu membuat aku tak bisa berlatih silat paling telat selama tiga tahun, padahal janji kami untuk berduel tinggal satu tahun..."

"Ooooh, jadi ayah telah berjanji untuk duel dengan Toan Hong ya setahun kemudian..."

"Aaaai...!" Sang Kwan In menghela napas sedih, "ayahmu telah beberapa kali bertempur melawan tanpa berhasil menentukan siapa menang siapa kalah, oleh sebab itu setiap lima tahun kami bertanding satu kali, sekarang waktunya hingga hari pertandingan itu tinggal setahun, sungguh tak nyana ia telah menggunakan cara yang begini rendah untuk membokong diriku..." "Bukankah tenaga dalam yang dimilikinya amat tinggi? Mengapa ia gunakan cara yang begini tak tahu malu..." tanya Sang Kwan Cing dengan nada tercengang.

Sang Kwan In menggeleng.

"Sebetulnya orang ini ramah dan berhati bajik, sayang ia terlalu gila hormat dan kedudukan hingga akhirnya amat membenci diriku, setiap saat dia ingin membinasakan diriku... tapi... aaaai! kalau dibicarakan yang sebetulnya kesalahan memang terletak pada diriku sendiri!"

"Sebenarnya apa yang telah terjadi??"

"Tentang peristiwa ini akan kuceritakan di kemudian hari saja, sekarang cepatlah undang datang ke-empat pelindung hukum dari selat kita, kemungkinan besar si nenek berhati keji itu segera akan datang kemari..."

Air muka Sang Kwan Cing berubah hebat, buru-buru ia keluar dari ruangan itu. Tidak selang beberapa saat, kemudian dari luar muncul empat orang kakek berbaju abu-abu dan masing-masing segera menempati satu sudut dalam ruangan itu.

"Aaaaai ! Aku sudah terkena serbuk pasir Bintang Langit yang

amat lihay dari wilayah See Ih, terpaksa janji pada setahun kemudian harus kubatalkan, Liuw Koei hui mungkin sebentar lagi akan muncul di sini, aku tak mungkin bertempur sendiri melawan dirinya karena itu harap untuk sementara waktu kalian berempat berjaga-jaga di sini, jangan sampai membiarkan nenek kejam itu bikin keonaran lagi "

Ia merandek sejenak, kemudian sambil mencabut keluar pedang mestika penghancur sang surya milik Pek In Hoei, katanya lagi :

"Inilah pedang mestika penghancur sang surya, benda keramat dari partai Thiam cong kalian. Dahulu karena aku sudah membantu suhu kalian Cia Ceng Gak lolos dari jebakan permaisuri Liuw, maka sejak itulah Toan Hong ya serta Liuw Kui hui amat mendendam terhadap diriku. " Kiranya ke-empat orang kakek tua itu adalah anak murid dari Cia Ceng Gak, murid tertua Lio Heng, murid ke-dua Tan Po Ceng, murid ke-tiga Gan Hay Beng serta murid ke-empat Tiong Yan.

Berhubung Sang Kwan In pernah menyelamatkan jiwa guru mereka Cia Ceng Gak, maka sejak suhunya itu lenyap tak berbekas, mereka segera menggabungkan diri dengan pihak Seng See Kok sambil secara diam-diam mengadakan penyelidikan atas kematian guru mereka.

Setelah partai Thiam cong terbasmi dari muka bumi, ke-empat orang ini merasakan tenaga bantuan yang mereka butuhkan semakin minim ditambah pula sebab-sebab kematian Cia Ceng Gak belum ketahuan, terpaksa sambil menahan diri, mereka bersembunyi di dalam selat Seng See Kok, setiap kali ada waktu luang segera digunakan oleh beberapa orang itu untuk membicarakan soal pembalasan dendam.

Kali ini Pek In Hoei muncul di wilayah selatan sambil menentang para partai persilatan yang ada di sekitar situ untuk bertemu di dalam selat Seng See Kok, Sang Kwan In merasa inilah kesempatan baik untuk mengadakan hubungan dengan si anak muda ini maka di situlah suatu rencana untuk mendatangkan pemuda itu di dalam selatnya.

Dalam pada itu, ke-empat orang tua tadi telah jatuhkan diri berlutut dan menjalani penghormatan besar setelah menjumpai pedang sakti penghancur sang surya.

"Kok cu!" terdengar Tiong Yan bertanya, "Benarkah Pek In Hoei adalah putra Pek Tiang Hong susiok kecil kami..."

"Sedikit pun tidak salah," sahut Sang Kwan In membenarkan, "sejak partai Thiam cong dibasmi orang, hanya dia seorang yang bersumpah untuk membalas dendam sakit hati itu, Pek Tiang Hong bisa mempunyai seorang putra macam dia, arwahnya di alam baka pun bisa beristirahat dengan tenang..."

Pada saat itulah tiba-tiba dari tempat kejauhan berkumandang datang suara suitan panjang yang tinggi melengking, suitan itu bergeletar membelah bumi, dalam sekejap mata telah berada di depan mata dan menggoncangkan seluruh ruangan.

"Aaah! Dia datang lagi," gumam Sang Kwan In, "Cia Ceng Gak bisa mendapat rasa cinta dari seorang perempuan semacam ini, hidupnya boleh dibilang patut merasa bangga...! cuma sayang pikiran Liuw Koei hui (permaisuri) terlalu picik dan jiwanya sempit, rasa kesal dan dendamnya malahan ditumpukkan semua ke atas tubuhku, kejadian ini jauh berada di luar dugaan Cia Ceng Gak..."

Suara suitan mendadak sirap di luar ruangan, terdengar suara bentakan keras bergema di angkasa :

"Siapa di situ?"

Liuw Koei hui tertawa dingin.

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... dan kau sendiri siapa? berani mencampuri urusan dari Liuw Koei hui itu berarti mencari kematian bagi diri sendiri."

"Ooooh... jadi kau toh yang bernama Liuw Koei hui?? Hii... kok menggelikan sekali haaaah... haaaah... haaaah..."

Di luar ruangan segera terjadi suara bentrokan-bentrokan yang amat nyaring, angin pukulan menderu-deru, bentakan nyaring menggema di angkasa, makin bertarung semakin sengit sehingga seluruh permukaan bergetar keras.

Sang Kwan In gelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya : "Ilmu silat yang dimiliki Liuw Koei hui makin lama semakin

tinggi, rupanya kepandaian silat yang ia miliki telah memperoleh kemajuan yang amat pesat!"

Dari luar ruangan tiba-tiba terdengar suara dengusan berat, suara perempuan mendadak berhenti dan agaknya salah seorang di antaranya terluka parah.

Lewat beberapa saat kemudian terdengar Ouw-yang Gong meraung gusar teriaknya :

"Perempuan bajingan, rupanya kau sealiran dengan bangsat she Toan itu." "Hmmm! Aku adalah gundiknya, kau mau apa?" jawab Liuw Koei hui sambil tertawa dingin.

Blaaam! Pintu ruangan terpentang lebar, Liuw Koei hui dengan rambut terurai sepanjang dada menyusup masuk ke dalam ruangan, sementara Ouw-yang Gong dengan pakaian menggelembung besar mengejar dari belakang.

Perempuan itu menyapu sekejap keadaan di seluruh ruangan, lalu ejeknya sinis :

"Sang Kwan In, rupanya kau telah mengundang begitu banyak jago pembantu??"

Sang Kwan In tertawa getir.

"Kau mendesak diriku terus menerus, sebenarnya mau apa?" "Mau apa? Di mana Cia long ku?" teriak Liuw Koei hui sambil

tertawa dingin, "kalau kau tidak serahkan keluar, aku pasti akan membinasakan dirimu."

"Cia Ceng Gak sudah mati!"

"Aku tidak percaya, kecuali ada orang membuktikan bahwa ia benar-benar sudah tiada. Aku tidak percaya kalau orang yang memiliki ilmu silat begitu tinggi bisa mati..."

Tiba-tiba wajahnya menunjukkan rasa penuh penderitaan, dua butir air mata mengucur keluar membasahi pipinya, dengan jari tangan yang kuat ia tarik rambut sendiri sekeras-kerasnya tapi air mukanya tidak nampak kesakitan, malahan sambil tertawa terbahak- bahak ia menari-nari di dalam ruangan itu.

"Ceng Gak...! Ooooh Cia Long..." teriaknya, "bila kau benar- benar mati berilah kabar kepadaku, jangan biarkan aku menderita seorang diri... biarlah aku mengikuti dirimu kembali ke alam baka..." Dengan sorot mata penuh kegusaran ia melirik sekejap ke arah 

Sang Kwan In lalu hardiknya kembali :

"Tempo dulu kalau bukan kau yang bikin gara-gara, Cia Ceng Gak tak akan meninggalkan diriku. Kematian Cia long pasti ada sangkut pautnya dengan dirimu, ini hari aku bersumpah akan membinasakan dirimu untuk membalas sakit hati ini..."

"Cia Ceng Gak adalah seorang jago pedang yang amat lihay," ujar Sang Kwan In sedih, "tapi karena dibodohi oleh Toan Hong ya, ia telah kesemsem untuk hidup royal di istana negeri Tay li, setiap hari kerjanya hanya bersenang-senang dengan dirimu sehingga hampir saja masa depannya hancur. Coba pikirkan baik-baik, ketika Toan Hong ya mempersembahkan dirimu untuk Cia Ceng Gak tempo dulu sebenarnya karena persoalan apa? Bukankah kau berusaha keras untuk mengurung Cia Ceng Gak di dalam istana dan melarang dia untuk berlatih silat hingga seluruh tenaga murninya hampir punah? Kalau kau mencintai dirinya dengan segenap hati, tidak semestinya kau bersikap demikian terhadapnya!"

"Aku serta Cia Ceng Gak rela mengorbankan diri sampai titik darah penghabisan, asal kami berdua dapat hidup berdampingan secara harmonis, apa salahnya kalau kami mati pula secara bersama..."

"Bujuk rayu memang tempat yang ideal untuk bersenang-senang tapi justru karena perbuatanmu itu, tenaga dalam hasil latihannya selama sepuluh tahun telah musnah..."

"Omong kosong! Selama manusia dapat bersenang-senang kita harus puaskan diri, peduli amat dengan tenaga dalam atau tidak..."

Tanpa terasa dalam benaknya terbayang kembali raut wajah Cia Ceng Gak yang tampan, ia teringat kembali ketika mereka bermain petak di dalam kebun, menikmati rembulan di gardu... berjalan-jalan di atas jembatan... satu demi satu terlintas kembali dalam benaknya.

Kiranya ketika Cia Ceng Gak serta sutenya Pek Tiang Hong berpesiar ke negeri Tay li, dalam suatu kesempatan ia telah berkenalan dengan Toan Hong ya, maka di dalam istana negeri Tay li mereka selalu membicarakan soal ilmu silat. Waktu itu usia Toan Hong ya masih muda, ia menganggap ilmu silat yang dimilikinya nomor wahid di kolong langit, ketika melihat kelihayan Cia Ceng Gak, timbullah rasa dengki dalam hati kecilnya.

Sebagai seorang yang cerdik dan licik, setelah berpikir beberapa saat lamanya muncullah satu akal dalam benaknya, dia ingin menggunakan perempuan untuk melemahkan tubuh lawannya.

Maka sambil menahan rasa sayang ia berikan selir kesayangannya untuk jago lihay ini.

Menjumpai raut muka Liuw Koei hui yang begitu cantik jelita,Cia Ceng Gak jadi kesemsem dibuatnya, sedang Liuw Koei hui sendiri juga terpikat hatinya oleh ketampanan orang, maka setiap hari kerja mereka pun hanya bersenang-senang belaka, Pek Tiang Hong disuruh pulang ke gunung sedang ia sendiri hidup di istana negeri Tay li dengan penuh kesenangan.

Setahun telah lewat dengan cepatnya, dalam waktu selama ini ilmu silatnya tak pernah dilatih, tubuhnya jadi kurus dan kisut.

Suatu ketika Sang Kwan In sahabat karib Cia Ceng Gak mendengar akan berita ini, ia segera berangkat ke negeri Tay li dan memaki sahabatnya itu habis-habisan. Cia Ceng Gak mendusin dari kesilafannya dan malam itu pula berlalu dari istana mengikuti sahabatnya. Bagian 28 ****** TOAN HONG YA setelah mendapat laporan mengenai peristiwa ini jadi amat gusar, diam-diam ia mendendam terhadap diri Sang Kwan In yang telah menghancurkan rencana besarnya, sedangkan Liuw Koei hui membenci karena orang itu telah melarikan kekasihnya.

Dalam keadaan sedih bercampur dendam berangkatlah perempuan ini tinggalkan istana untuk mencari jejak Cia Ceng Gak, siapa tahu jago pedang ini telah insyaf akan kesalahannya, setiap kali berjumpa dengan Liuw Koei hui ia tentu berusaha menghindar atau main bentak, tak perlu diajak perempuan itu bercakap-cakap.

Dalam gusarnya entah dari mana dia pelajari ilmu silat aneh, setelah tidak berhasil menemukan jejak Cia Ceng Gak maka tiap setengah tahun ia pasti datang ke selat Seng See Kok untuk menantang Sang Kwan In berduel.

Dalam pada itu Sang Kwan In menghela napas panjang ketika menyaksikan perempuan itu menunjukkan rasa sedih dan murungnya, sambil geleng kepala ia berkata :

"Liuw Koei hui, manusia hidup di kolong langit hanya sekejap mata, kau berhasil mendapatkannya juga jadi tanah, kehilangan dirinya juga jadi tanah, apakah kau tak dapat melupakan diri Cia Ceng Gak?"

Sekujur badan Liuw Koei hui gemetar keras, ia mendusin dari sintingnya dan berdiri termangu-mangu, sejenak kemudian dengan wajah gusar teriaknya :

"Sang Kwan In, kau suruh aku lepas tangan?"

"Aku hanya menasehati dirimu cepat-cepatlah mendusin, jangan selalu terjerumus dalam kenangan manis yang telah berlalu, sebab itu hanya akan menyusahkan dirimu sendiri, mau percaya atau tidak terserah dirimu sendiri..."

"Hmmm! Kentut busuk..." dengus Liuw Koei hui.

Sambil berseru tubuhnya bagaikan sukma gentayangan menubruk ke depan.

Ouw-yang Gong membentak keras, dari belakang tubuh perempuan itu dia lancarkan sebuah totokan kilat. Liuw Koei hui sama sekali tidak gentar, bukannya mundur dia malah maju ke depan, telapaknya berputar menghantam tubuh kakek konyol itu.

Serangan ini amat luar biasa, Ouw-yang Gong segera merasakan bayangan telapaknya laksana runtuhnya bukit menerobos masuk ke dalam, dengan tiada kenal belas kasihan ia hantam dadanya. Si ular asap tua jadi terperanjat, cepat hunweenya ditotok ke arah sikut Liuw Koei hui, sama sekali tidak gentar kemudian menggunakan kesempatan di kala perempuan itu menarik kembali lengannya ia meloncat mundur lima langkah ke belakang.

Tujuan Liuw Koei hui memang bukan Ouw-yang Gong, setelah kakek konyol itu terdesak mundur dengan tangkas ia menyusup ke depan menghampiri Sang Kwan In.

Empat orang kakek dari partai Thiam cong yang duduk di empat penjuru sudut ruangan jadi terperanjat ketika melihat kehebatan ilmu pukulan orang. Lio Hong segera meloncat ke depan, sambil melancarkan babatan hardiknya :

"Liuw Koei hui, harap segera mundur!"

Walaupun mereka sudah tua tapi beberapa orang itu tahu bahwa Liuw Koei hui adalah bekas pacar suhunya, maka tak seorang pun yang berani bersikap kurang ajar terhadap perempuan itu.

Tapi Liuw Koei hui tidak mengetahui akan hal ini, melihat Liok Hong mengirim serangan babatan ke arah tubuhnya, ia segera mendengus dingin.

"Hmmm! Apakah kalian berasal dari partai Thiam cong?" tegurnya.

"Benar!" jawab Gan Hay Beng sambil menyodok kepalan kanannya ke arah perut lawan. "Memandang di atas wajah mendiang guru kami, harap Liuw Koei hui suka mundur dari selat Seng See Kok!"

Liuw Koei hui menjengek dingin.

"Hmmm! Kalian belum mampu menandingi diriku, memandang di atas wajah Cia Long kuampuni jiwa kalian semua. Hmmm! Apa kau masih berani turun tangan keji kepadaku diriku..."