Imam Tanpa Bayangan I Jilid 24

 
Jilid 24

"LOOHU adalah Khong Kie dari benteng Han Sim poo, mungkin kau pernah mendengar namaku bukan?"

"Tidak tahu!" sahut Pek In Hoei sambil gelengkan kepalanya. "Aku tidak kenal namamu itu... perguruan dalam rimba persilatan terlalu banyak, mana aku bisa mengingat satu per satu... lagi pula kebanyakan jago yang kutemui sebagian besar adalah manusia yang bernama kosong belaka, sungguh membuat hati jadi kecewa."

Hampir saja Han Sim Poocu Kheng Kie muntah darah segar saking gusarnya setelah mendengar ia dihina habis-habisan oleh pihak lawan di hadapan para jago Bu lim, sekujur tubuhnya gemetar keras teriaknya :

"Bajingan cilik, sampai di mana sih kepandaian silat yang kau miliki sehingga begitu berani tak pandang sebelah mata pun terhadap orang kangouw? Tahukah kau bahwa kedudukan loohu di wilayah selatan..."

"Huuuh apa yang kukatakan adalah suatu kenyataan, dewasa ini manusia macam dirimu tidak lebih hanyalah manusia..."

"Bangsat cilik, loohu akan menjajal lebih dahulu sampai di manakah kelihayanmu..." jerit Han Sim Poocu Kheng Kie dengan mata melotot.

Saking gusarnya seluruh badannya gemetar keras, sambil menyeret sebuah toya baja dan dengan langkah kaki yang mantap ia maju mendekati si anak muda itu. Pek In Hoei tertawa sinis, sinar matanya menyapu sekejap ke arah urutan panji kebesaran di atas tanah, kemudian katanya :

"Ooooh...! Rupanya dalam wilayah selatan kau menduduki urutan yang ke-empat, ehmmm! Mungkin saja kau memang punya sedikit simpanan..." ia merandek sejenak, lalu sambil menoleh ke arah Ouw-yang Gong ujarnya :

"Ular asap tua, coba kau ambil dulu panji kebesaran Han Sim Leng itu..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... sungguh tak nyana si ular asap tua sekarang jadi tukang barang rongsokan," sambil mengomel Ouw- yang Gong meloncat ke depan dan tertawa cengar-cengir.

Han Sim Poocu Kheng Kie semakin naik pitam, ia putar senjata toyanya menghalangi jalan pergi Ouw-yang Gong, kemudian makinya keras-keras :

"Hey, kau mau apa?"

"Hiiih... hiiiih... hiiih... tentu saja mau mengambil panji Han Sim Leng itu... Kenapa?"

"Menang kalah belum ditentukan, aku larang kau menyentuh panji Han Sim Leng tersebut."

"Hmmm! Cepat atau lambat semua panji itu bakal kudapatkan semua," jengek Pek In Hoei dengan suara dingin, "pada saat partai Thiam cong didirikan kembali, semua panji itu akan menancap di gunung Thiam cong sebagai hiasan..."

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, semua jago yang hadir dalam kalangan jadi sama-sama jadi gusar , suasana jadi ramai dan semua orang dengan wajah tidak puas sama-sama maju ke depan siap mengerubuti si anak muda itu.

"Kau jangan bermimpi di siang hari bolong," bentak Khong Kie dengan suara keras. "Sebelum benda itu berhasil kau dapatkan kemungkinan besar jiwamu sudah melayang lebih dahulu..."

"Mungkin saja apa yang kau ucapkan tidak salah, tetapi aku pun hendak memberitahukan sesuatu kepadamu, aku si Jago Pedang Berdarah Dingin bukan hanya sehari dua hari saja berkecimpung dalam Bu lim, gelombang besar macam apa pun sudah pernah kujumpai, tidak nanti aku bakal jeri menghadapi sebuah benteng Han Sim poo yang kecil..."

Kali ini Han Sim Poocu Kheng Kie benar-benar sudah tak sanggup menahan diri lagi, ia putar toya bajanya di tengah udara membentuk tiga kuntum bunga api, kemudian dengan jurus Naga Hitam keluar dari samudra laksana kilat ia totok tubuh si anak muda itu.

"Huuuh, kau masih terpaut jauh kalau dibandingkan dengan diriku!..." jengek Pek In Hoei sambil putar telapak melancarkan sebuah pukulan.

Di saat ujung toya hampir mengenai tubuhnya itulah mendadak dengan cepat telapak ia babat senjata lawan.

Han Sim Poocu Kheng Kie segera merasakan sekujur tubuhnya tergetar keras, tak tertahan lagi ia mundur lima enam langkah ke belakang dengan sempoyongan.

Ketika itulah Sang Kwan Cing maju ke depan dan berseru sambil ketawa lengking.

"Khong Poocu harap kembali, kita tak boleh membikin kacau jalannya rencana..."

Han Sim Poocu segera meloncat mundur ke belakang, serunya : "Bangsat, nanti kita bertemu lagi!"

Kesadarannya sudah mulai pulih kembali, otaknya sudah tidak terlalu terpengaruh oleh emosi, orang ini sadar bahwa dia bukan tandingan si anak muda itu maka sebelum Sang Kwan Cing mengulangi kembali perkataannya, buru-buru ia sudah mengundurkan diri ke belakang.

Pek In Hoei tertawa lantang.

"Apakah masih ada yang ingin maju lebih dahulu?"

Para jago yang hadir dalam selat Seng See Kok malam itu rata- rata adalah manusia licik, tentu saja yang menunjukkan reaksi setelah melihat kekalahan dari Khong Kie, sinar mata mereka segera dialihkan ke arah Sang Kwan Cing.

"Kenapa kau terburu-buru?" seru Sang Kwan Cing dingin. "Sebelum urusan dibikin jelas lebih dahulu, siapa pun dilarang bertempur di dalam selat Seng See Kok..."

Dengan sorot mata yang tajam bagaikan pisau ia menyapu sekejap ke seluruh kalangan lalu tambahnya :

"Siapa yang berani melanggar peraturan yang sudah ditetapkan dalam pertemuan ini, jangan salahkan kalau nonamu segera akan usir kalian keluar dari selat Seng See Kok. Dan sekarang aku hendak mewakili seluruh partai yang ada di wilayah selatan untuk berbicara dan Pek In Hoei..."

"Apa yang ingin kau katakan kepadaku? Cepat katakanlah keluar, aku akan mendengarkan dengan seksama..." sahut Pek In Hoei dingin.

Sang Kwan Cing tertawa dingin.

"Betulkah partai Thiam cong akan didirikan kembali di dalam wilayah selatan?"

"Sudah tentu!" jawab si anak muda itu setelah melengak sejenak. "Selamanya partai Thiam cong tak akan mengundurkan diri dari dunia persilatan..."

"Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, katanya kedatanganmu ke wilayah selatan adalah untuk menghancurkan semua partai yang ada di sini serta merampas seluruh wilayah selatan untuk dijadikan daerah kekuasaan partai Thiam cong, betulkah kau mempunyai ambisi yang begitu besar???"

"Hmmm! Apa yang mesti kau tanyakan lagi? Aku toh sudah datang kemari rasanya sekalipun hendak berlalu belum tentu kalian ijinkan, karena itu lebih baik kita cepat-cepat selesaikan urusan kita, waktu sudah tidak pagi..."

"Hmmm! Baiklah sampai waktunya kau jangan menyesal..." "Haaaah... haaaah... haaaah... " tiba Pek In Hoei mendongak dan

tertawa   terbahak-bahak,   suaranya   menjulang   ke   angkasa   dan mengalun tiada hentinya dalam selat tersebut, dengan nada sinis ia menjengek :

"Menyesal? Kalau menyesal aku tak bakal datang kemari!"

Sang Kwan Cing menghela napas sedih, untuk sesaat ia dibuat tertegun oleh gelak tertawa lawannya yang jumawa dan sombong ini, cahaya kilat memancar keluar dari balik matanya, kepada wakil dari pelbagai partai kemudian serunya :

"Harap kalian siap-siap untuk turun tangan, wilayah selatan bakal jadi wilayah kekuasaan siapa hal tersebut akan tergantung pada usaha serta perjuangan kalian sendiri. Dan kini siapa yang ingin turun tangan lebih dahulu untuk beradu kepandaian dengan si Jago Pedang Berdarah Dingin..."

Para wakil partai saling berpandangan sekejap, siapa pun tak berani maju ke depan untuk menerima tantangan tersebut, kejadian ini betul-betul merupakan suatu kejadian yang sangat memalukan.

"Aku lihat lebih baik kalian turun tangan secara serentak saja," ejek Pek In Hoei sambil tertawa sombong. "Dengan begitu aku tak usah repot-repot dan waktu pun tidak terbuang dengan percuma. Andaikata aku yang beruntung menang maka setelah mengambil benda-benda itu aku akan segera berlalu, andaikata tidak beruntung dan kalah aku tidak menyesali kenapa ilmu silatku tidak becus..."

"Hmmm..." dengusan berat berkumandang dari balik kegelapan, Han Sim Poocu Khong Kie beserta seorang pria kekar meloncat keluar dari barisan secara berbareng, mereka segera menghampiri si anak muda itu.

"Oooh... bangsat nenek moyangmu, cucu kura-kura kalian ingin dua lawan satu?" maki Ouw-yang Gong si huncwee gede dengan marah. "Hati-hati... kugetok batok kepala kalian sampai hancur lebur..."

Air muka Sang Kwan Cing pun ikut berubah, teriaknya : "Khong Poocu harap segera kembali, kita sebagai jago dari

selatan tak boleh kehilangan pamor..." Han Sim Poocu Khong Kie mendengus dingin, dengan mulut membungkam ia balik kembali ke dalam barisan, sementara pria kekar itu menjemput sebilah pedang dan mendekati lawannya.

Pek In Hoei menjengek dingin, katanya :

"Laporkan dulu siapa namamu, aku ingin lihat dalam berapa jurus sanggup mengalahkan dirimu!"

"Pek In Hoei, ingatlah baik-baik, aku adalah si pedang baja Loei Peng dari partai Kilat," teriak pria itu dengan hati mendongkol, "Bila kau sudah menghadap raja akhirat nanti jangan sampai lupa menyebut namaku..."

Partai Kilat tersohor di kolong langit sebagai sebuah partai yang mengandalkan ilmu pedang terutama sekali sembilan jurus ilmu pedang gunturnya sudah merupakan kepandaian yang ampuh di wilayah selatan.

Ketika wakil dari pelbagai partai lain menyaksikan Loei Peng dari partai Kilat muncul dalam pertempuran babak pertama, mereka bersorak sorai kegirangan, mereka tahu asal jago lihai ini turun tangan lebih dahulu maka sedikit banyak akan menghancurkan pamor Pek In Hoei dan merebut kembali gengsi para jago dari wilayah selatan.

Sambil meluruskan pedangnya di depan dada, Loei Peng tarik napas panjang-panjang, pedangnya digetarkan di udara hingga menimbulkan deruan angin dan guntur yang tajam, tidak malu ia disebut sebagai seorang pimpinan suatu partai.

Pek In Hoei tertawa hambar, serunya :

"Oooh, sungguh tak nyana kau pun seorang jago lihai dalam menggunakan ilmu pedang..."

"Cabut pedangmu! bentak Loei Peng.

"Huuuh...! Kalau cuma menghadapi beberapa jurus ilmu pedangmu itu, sangat memalukan kalau aku harus gunakan pedang..." ia bongkokkan badan mengambil sebatang batang kering dan melanjutkan, "biarlah aku gunakan ranting ini sebagai ganti pedang untuk menemani dirimu bermain beberapa jurus!" Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, seruan kaget berkumandang dari empat penjuru, semua orang menganggap si anak muda itu terlalu jumawa dan takabur.

Loei Peng sendiri dibuat naik pitam atas penghinaan tersebut, mukanya berubah jadi merah berapi, sambil menggetarkan pedangnya di udara ia menghardik keras :

"Bangsat, kau cari mati..."

Seluruh kegusaran dan rasa mendongkolnya segera disalurkan ke dalam serangan yang dilancarkan, ia membentak keras, pedangnya laksana kilat menusuk ke arah lambung musuh.

Sungguh hebat serangan tersebut, di antara bergeletarnya cahaya tajam disertai deruan angin puyuh dan ledakan guntur senjata itu langsung meluncur ke depan.

Pek In Hoei terkejut, ia tak mengira kalau musuhnya telah berhasil meyakini ilmu pedangnya hingga mencapai taraf itu, meskipun ia tidak sampai terpengaruh oleh deruan angin serangan tadi namun pemuda itu tak berani bertindak gegabah sebab serangan yang dituju adalah suatu bagian tubuh yang amat penting.

Tenaga murninya dengan cepat disalurkan ke dalam ujung ranting lalu disentilnya ringan ke atas ujung senjata lawan.

Triiiiing...!

Loei Peng seketika merasakan lengannya bergetar keras, serangan pedangnya segera meleng beberapa depa ke samping.

Buru-buru ia putar pedangnya melancarkan kembali serangan dahsyat ke arah depan, jurus yang digunakan adalah Pian Cung menusuk harimau, meski suatu jurus serangan yang sederhana tapi merupakan suatu perubahan serta penyerangan yang amat sempurna. "Hmmm! Apakah kau cuma bisa mainkan sejurus serangan ini

saja?" jengek Pek In Hoei sambil mendengus.

Dengan ranting menggantikan pedang dalam hal senjata ia menderita kerugian besar, tapi rupanya si anak muda itu ada maksud untuk mendemonstrasikan kelihayannya, belum sempat jurus serangan Loei Peng digunakan sampai habis, tiba-tiba ujung ranting itu bergetar di angkasa dan meluncurlah serentetan desiran angin tajam ke arah depan.

"Triiiing...! kembali terjadi dentingan nyaring yang memekakkan telinga, entah secara bagaimana tahu-tahu pedang dalam cekalan Loei Peng sudah terlepas dan rontok di atas tanah, wajahnya pucat pias bagaikan mayat, pakaian bagian badannya hancur terkoyak-koyak, untuk beberapa saat lamanya ia berdiri menjublak di tengah kalangan sambil menatap wajah musuhnya tanpa berkedip.

Lama... lama sekali ia baru tarik napas panjang-panjang dan bertanya, "Ilmu pedang apakah yang telah kau gunakan?"

"Jurus Tenaga sakti menghajar surya dari ilmu pedang penghancur sang surya," jawab Pek In Hoei sambil tertawa ewa.

Dengan putus asa Loei Peng menghela napas panjang, ia tertawa sedih lalu putar badan dan berlalu dari situ, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya telah lenyap di balik kegelapan.

"Ular asap tua, simpan panji guntur tersebut," seru pemuda she Pek itu lantang.

"Baik, inilah partai pertama yang bertekuk lutut pada kita," sahut Ouw-yang Gong dengan bangga. "Aku si ular asap tua harus menghisap huncweeku dalam-dalam untuk merayakan kemenangan ini..."

Ia sambar panji kecil berlukiskan kilatan guntur itu lalu ditaruh di bawah pantatnya dan lantas diduduki.

Perbuatan yang konyol ini seketika menggusarkan wakil dari partai-partai lain, mereka sama-sama menuding kakek itu sambil memakinya kalang kabut.

Setelah kemenangannya yang pertama, semangat Pek In Hoei makin berkobar, sambil tertawa keras serunya :

"Sekarang masih ada siapa lagi yang ingin maju?"

"Hmmm!.... Ku Lip dari benteng Leng Cian Poo ingin mohon petunjukmu..." bersamaan dengan seruan itu dari balik barisan para jago muncul seorang kakek tua yang tinggi besar, sebuah gendawa besar tergantung pada punggungnya, sikap serta gerak geriknya sangat gagah...

Pek In Hoei melirik sekejap ke arah orang itu dengan pandangan sinis, lalu sambil tertawa dingin jengeknya :

"Mampukah kau?"

Leng Cian Poocu Ku Lip melengak, air mukanya segera berubah, sebagai seorang jago yang tersohor dalam dunia persilatan belum pernah ia jumpai manusia yang begitu pandang hina terhadap dirinya, dalam gusarnya ia segera mendongak dan tertawa keras.

"Bajingan cilik, kau terlalu tidak pandang sebelah mata terhadap diriku..."

Ia loloskan gendewa besar yang tergantung di punggungnya lalu cabut keluar sebatang panah panjang berbulu emas, setelah dipasang... Sreet, anak panah itu dibidikkan ke atas sebuah batu cadas.

"Blaaam... hancuran batu bermuncratan di angkasa, di tengah percikan bunga api tampaklah anak panah itu menembusi batu cadas tersebut hingga tinggal bulunya saja yang tersisa di luar.

Dalam hati Pek In Hoei merasa tercekat, ia tak mengira kalau orang ini memiliki tenaga murni yang begitu hebat, dalam sekali bidikan sanggup menembusi batu cadas yang begitu keras.

Dengan andalkan kekuatan semacam ini, ia merasa bahwa musuhnya yang satu ini tak boleh dipandang remeh.

"Sungguh luar biasa, sungguh luar biasa....!" serunya memuji, setelah merandek sejenak tambahnya, "sayang kau cuma mampu membidik mati seekor semut."

Ketika kedengarannya pihak musuh memuji kehebatannya Leng Cian Poocu Ku Lip merasa amat bangga dan gengsinya terasa ikut menanjak naik, siapa tahu Ouw-yang Gong telah menambahi ddg mengatakan bahwa ia cuma mampu membidik mati seekor semut, hawa amarahnya segera berkobar.

Dengan penuh kegusaran teriaknya : "Ular asap tua, kau tak usah menyindir orang dengan perkataan yang tak sedap didengar, asal kau mampu untuk menirukan gerakanku tadi maka benteng Leng Cian Poo ku akan kuserahkan kepadamu tanpa syarat..."

"Huuuh... kau pengin ajak aku si ular asap tua bergurau?? Mari biar kusuruh kau rasakan dulu ikan Lee hi goreng..."

Ia hisap huncweenya dalam-dalam kemudian secara tiba-tiba melentikkan kobaran api yang membara ke arah tubuh Ku Lip.

Percikan api segera berkobar jadi besar dan membakar wajah Leng Cian Poocu, membuat jago tua itu berkaok-kaok kesakitan dan memaki musuhnya kalang kabut.

"Haaaah... haaaah... haaaah... bagaimana rasanya gorengan ikan Leehi ini???" ejek Ouw-yang Gong sambil tertawa tergelak.

Seluruh wajah Leng Cian Poocu Ku Lip kotor oleh abu tembakau, ujung bibirnya bengkak dan muncul gelembung-gelembung air, ia meraung keras, dicabutnya sebatang anak panah lalu dipasang di atas gendewanya.

"Hey ular asap tua, kau cobalah permainan membidik semutku ini..."

Ku Lip tarik gendewanya keras-keras kemudian membidikkan anak panah tadi mengarah tubuh Ouw-yang Gong.

Terhadap datangnya ancaman si kakek konyol itu sama sekali tidak menggubris, bahkan ia malah menyulut tembakau baru di atas huncweenya.

Sreet...! diiringi suara desiran tajam anak panah itu meluncur ke depan bagaikan sambaran kilat.

Ouw-yang Gong tertawa terkekeh-kekeh, ditunggunya sampai anak panah itu hampir mengenai tubuhnya, tiba-tiba huncwee dalam genggamannya ditutulkan ke atas ujung anak panah itu.

"Kraaak...!" diiringi bentrokan nyaring anak panah itu tergetar patah jadi dua bagian. Sambil mencekal patahan panah itu Ouw-yang Gong mendengus hina, dia buang kutungan tadi ke atas tanah dan serunya sambil melirik sekejap ke arah Pek In Hoei :

"Huuuh! Kepandaian dari benteng Leng Cian oo tidak lebih cuma begitu-begitu saja..."

Ku Lip jadi mencak-mencak kegusaran, bentaknya : "Kau jangan banyak bacot dulu. Nih! Coba sekali lagi..."

******

Bagian 27

DALAM pada itu dengan pandangan dingin Pek In Hoei menyapu sekejap wajah para jago yang hadir di tempat itu dan akhirnya berhenti di atas wajah Sang Kwan Cing, jengeknya :

"Benarkah di wilayah selatan sama sekali tidak ada orang pandai?"

Sekujur badan Sang Kwan Cing bergetar keras, ia merasa dari balik sorot mata pemuda itu memancar keluar suatu kekuatan yang aneh, ia melengos ke samping dan menyahut dengan nada dingin :

"Sebentar lagi kau akan tahu apa yang sebenarnya kami miliki, mungkin saat ini kau merasa bangga tapi sesaat lagi mungkin kau akan mengetahui bahwa kelihayan daripada enghiong di wilayah selatan jauh melebihi apa yang kau bayangkan sekarang..."

"Hmmm..." Leng Cian Poocu Ku Lip sambil putar gendewa besarnya meloncat bangun dari atas tanah. "Pek In Hoei, kau masih belum bergebrak melawan aku orang she Ku."

Orang ini benar-benar tak tahu diri, bahkan menantang si jago pedang berdarah dingin untuk bertempur.

Perlahan-lahan Pek In Hoei menoleh, tanyanya :

"Apakah kau hendak menantang aku untuk beradu ilmu memanah?"

"Hmmm! Omong kosong, aku ingin menantang dirimu untuk bertempur ilmu pedang penghancur sang surya..." "Jumawa amat dirimu!" seru si anak muda itu sambil tertawa dingin, napsu membunuh menyelimuti wajahnya.

Leng Cian Poocu Ku Lip tertawa seram, gendewa raksasanya diayun di tengah udara dan memperlihatkan suatu gerakan yang sangat aneh, disapunya tubuh pemuda itu dengan dahsyat.

Pek In Hoei melengak, pikirnya :

"Masa gendewa sebesar ini bisa digunakan sebagai pedang..."

Dengan enteng ia melayang ke samping, kakinya bergeser membiarkan gendewa itu lewat dari bawah.

Merasakan sapuannya mengenai sasaran kosong, dengan cepat Leng Cian Poocu Ku Lip putar badannya satu lingkaran dan melancarkan satu bacokan kembali.

Pek In Hoei tak menyangka kalau perubahan jurus yang dilakukan orang itu sedemikian cepatnya, menghadapi datangnya bacokan yang begitu hebat kembali ia geser badannya ke samping, telapak diputar menghantam punggung gendewa itu hingga berbunyi nyaring.

Leng Cian Poocu Ku Lip merasakan satu tenaga dorongan yang hebat menghajar tubuhnya lewat gendewa tersebut, tak tahan badannya mundur dua langkah ke belakang dengan sempoyongan.

"Aku akan beradu jiwa dengan dirimu..." teriaknya.

Pergelangannya digetarkan keras, tiba-tiba gendewanya menciptakan bunga serangan yang tajam. Sreet! Sreet! Sreet! secara beruntun ia lancarkan tiga buah serangan berantai yang kesemuanya tidak terlepas dari tempat berbahaya di sekeliling tubuh lawannya, semua serangan dilancarkan dengan hebat dan mantap laksana bukit.

Pek In Hoei tertawa dingin, katanya :

"Kalau kau ingin menggunakan cara ini untuk beradu jiwa, maka lebih baik gunakan untuk menakut-nakuti bocah berumur tiga tahun." Badannya bergeser cepat, dalam waktu yang amat singkat ia berputar ke belakang tubuh Ku Lip lalu mengetuk punggungnya

dengan ujung telapak, serunya : "Sekarang kau boleh berlalu dari sini, tetap bertahan berarti mencari kesulitan bagi diri sendiri!"

Bisikan itu diucapkan sangat lirih dan hanya Ku Lip seorang yang mendengar, Leng Cian Poocu ini tertegun dan segera mengerti bahwa si anak muda itu masih memberi muka baginya.

Ia menghela napas panjang, setelah memandang sekejap wajah pemuda itu, ia putar badan dan berlalu.

Tindakan dari Leng Cian Poocu Ku Lip ini seketika menegunkan hati para jago yang hadir di sana, siapa pun tidak sempat melihat secara bagaimana jago itu menemui kekalahannya, melihat ia berlalu semua orang cuma bisa berdiri melongo dan kebingungan saja.

"Ku heng, kau hendak pergi ke mana?" teriak Han Sim Poocu Khong Kie dengan suara keras.

Ku Lip tertawa sedih.

"Ilmu silat yang siauw te miliki hanya biasa saja tetapi berada di sini cuma akan memalukan orang-orang dari selatan saja..."

"Ku poocu harap tahan sejenak," seru Sang Kwan Cing pula sambil tersenyum. "Menang kalah adalah suatu kejadian yang lumrah bagi kita, mengapa kau mesti memikirkannya di dalam hati?? Lagi pun dari pihak kita toh belum banyak yang turun ke dalam gelanggang, siapa tahu ada orang lain yang sanggup membalaskan sakit hati poocu..."

Ouw-yang Gong yang mendengar perkataan itu jadi tidak puas, teriaknya :

"Hey budak ingusan, keras amat selembar bibirmu itu, siapa sih yang mampu mengalahkan Pek In Hoei?? Coba katakanlah dulu kepada aku si ular asap tua..."

"Banyak mulut!" maki Sang Kwan Cing dengan wajah adem. "Hati-hati kalau kupotong lidahmu yang usil itu..."

"Aduuuh mak... aduuuh nenek moyang..." teriak Ouw-yang Gong ketakutan. "Kau suruh aku lakukan pekerjaan apa pun aku mau, cebokin pantatmu aku juga mau... tapi jangan kau potong lidahku ini... waduh! Kalau aku tak punya lidah bisa jadi aku si ular asap tua jadi seorang bangsat bisu..."

Tingkah lakunya yang kocak membuat para jago tak dapat menahan rasa gelinya dan tertawa terbahak-bahak sampai Sang Kwan Cing sendiri yang berwajah adem pun segera tersungging satu senyuman.

"Siapa sih nenek moyangmu..." hardiknya.

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... anak monyet cucu kura-kura, kau berani mengaku sebagai nenek moyangku..."

"Makhluk tua yang bermulut rongsok, hati-hati kalau kuhajar mulutmu sampai gepeng!"

"Ouw-yang Gong masih ingin membanyol lebih jauh, tiba-tiba ia lihat Pek In Hoei mengerdipkan matanya ke arahnya, cepat-cepat ia membungkam mengundurkan diri.

"Siapa lagi yang hendak memberi petunjuk kepadaku?" seru si anak muda itu kemudian setelah tarik napas dalam-dalam.

Setelah menyaksikan pemuda itu secara beruntun mengalahkan dua jago lihay, sebagian besar para jago yang hadir di tempat itu sudah merasa jeri, mereka semua tahu bahwa di situ kecuali Sang Kwan Cing seorang siapa pun bukan tandingan dari si Jago Pedang Berdarah Dingin itu.

Tetapi benarkah di antara begitu banyak jago yang hadir di situ, tak seorang pun yang berani menghadapi tantangan dari Pek In Hoei? Andaikan kejadian ini benar-benar terjadi maka peristiwa tersebut benar-benar merupakan suatu kejadian yang sangat memalukan.

Maka dari para jago yang hadir dalam kalangan segera saling berpandangan tanpa seorang pun berani tampil ke depan, sinar mata semua orang secara tidak sadar sama-sama dialihkan ke arah wajah Sang Kwan Cing...

Pek In Hoei tertawa dingin, serunya :

"Apakah tak seorang pun yang berani keluar? Hmm, baiklah, terpaksa aku harus memilih satu per satu..." "Tudinglah jago yang kau inginkan," dengus Sang Kwan Cing. "Peduli siapa pun yang kau pilih, mereka tak akan membuat kau merasa kecewa..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... baik, baik," sinar matanya segera mengerling sekejap ke arah Han Sim Poocu Khong Kie. "Aku lihat lebih baik Toa poocu itu saja yang melayani diriku. Khong Poocu, kau suka memberi muka kepadaku bukan?"

Han Sim Poocu Khong Kie merasa hatinya tercekat, secara tiba- tiba timbul rasa takut di dalam hatinya, tetapi setelah si Jago Pedang Berdarah Dingin menjatuhkan pilihan kepadanya, tentu saja ia tak bisa menampik.

Sambil tertawa tergelak segera serunya :

"Baik, baik... Hmm... Hmm... kalau memang kau ingin cepat- cepat modar, biarlah aku orang she Khong menghantar dirimu untuk berangkat..."

Sambil mencekal toya bajanya erat-erat dan napsu membunuh menyelimuti wajahnya, ia maju ke depan dengan langkah lebar, tingkah lakunya tersebut segera mengerutkan dahi Pek In Hoei.

Tiba-tiba sesosok bayangan manusia berkelebat lewat :

"Khong Poocu, dapatkah kau berikan babak kali ini kepada siauw te???"

Khong Kie melengak dan segera menoleh ke arah seorang pria berusia pertengahan yang berdiri di hadapannya.

"Hooh, Seng jie ko, rupanya kau..." Pria itu tersenyum.

"Khong poocu masih bisa ingat akan diriku, hal ini merupakan suatu kehormatan bagiku. Poocu, bagaimana kalau kau serahkan babak pertarungan kali ini kepada aku Seng Kong..."

"Apakah Seng Jie ko mempunyai ganjalan hati dengan si Jago Pedang Berdarah Dingin?"

Seng Kong tertawa dingin. "Hmm... secara beruntun ia mengalahkan jago-jago dari wilayah selatan, membuat jago kita jadi mengkret dan ketakutan semuanya, cukup meninjau dari hal ini sudah cukup untuk membuat kita semua jadi kehilangan muka dan tak bisa hidup lebih jauh di sini..."

"Benar! kejadian ini memang sangat memalukan..." sahut Khong Kie sambil tertawa getir.

"Apakah Khong Poocu merasa amat sedih karena kejadian ini?" "Benar!" untuk kesekian kalinya Khong Kie dibuat melengak. "Kalau memang Khong Poocu merasa sedih, kenapa sedari tadi

kau tidak munculkan diri..."

"Bukankah aku sudah tampil ke depan?" teriak Han Sim Poocu itu dengan gusar.

Seng Kong sama sekali tidak kasih hati kepada musuhnya, ia berseru kembali :

"Seandainya Pek In Hoei tidak menantang dan menuding dirimu, apakah Khong Poocu berani tampil ke depan?"

Khong Kie tidak mengira kalau kemunculan Seng Kong adalah untuk menjelek-jelekkan namanya, dari malu ia jadi naik pitam, sambil meraung keras toyanya segera dikemplang ke depan.

"Bagus sekali!" teriaknya keras-keras. "Rupanya kau mengajak muncul untuk menjelek-jelekkan namaku. Hmmm! Aku ingin tahu selat Leng In Kok mu itu mempunyai jago lihay andalan macam apa, sehingga begitu berani pandang hina orang lain..."

Seng Kong gerakkan badannya menyingkir ke samping, sambil tertawa dingin sahutnya :

"Persoalan di antara kita berdua lebih baik diselesaikan di kemudian hari saja, kenapa kau mesti terburu-buru?"

Laksana kilat badannya menyingkir ke samping dan lepas dari ancaman musuh, perbuatan lawannya ini membuat Han Sim Poocu Khong Kie jadi semakin kalap, ia putar toyanya dan mengajar ke depan, meski serangan-serangannya dahsyat namun tak mampu untuk menyentuh tubuh Seng Kong barang sekali pun. Keonaran yang timbul secara mendadak ini jauh di luar dugaan Sang Kwan Cing serta para jago lainnya, mereka tak mengira kalau kejadian bisa berubah jadi begini. Musuh tangguh belum sempat dipukul mundur, orang sendiri malah saling bergebrak duluan.

Dengan wajah membesi Sang Kwan Cing segera berseru : "Tahan!" Khong Kie menghentikan gerakan tubuhnya dan

berteriak dengan penuh kegusaran :

"Nona Sang Kwan, coba kau nilai kejadian ini..."

"Huuuh! Apakah kau masih punya muka untuk berbicara?" jengek Seng Kong sambil tertawa dingin. "Semua orang yang ada di sini siapa pun tahu apa yang sedang kau pikirkan di dalam hati..."

"Khong poocu harap segera kembali!" seru Sang Kwan Cing sambil maju ke depan dengan wajah dingin.

Kedudukan Han Sim Poocu Khong Kie di wilayah selatan tidak rendah, tapi pada malam ini secara beruntun ia harus menelan rasa mendongkol di tangan orang lain. Pertama kali di tangan Loei Peng dari partai Kilat, dan kini di tangan Seng Kong dari selat Leng In Kok. Seandainya Seng Kong bicara secara baik-baik dengan dirinya, mungkin ia bisa memberi muka kepada orang itu, siapa tahu orang itu seakan-akan mempunyai sakit hati dengan dirinya, bukan saja sudah menjelek-jelekkan namanya, bahkan membuat pamornya merosot,

hal ini membuat hatinya jadi amat mendendam.

Ditambah pula saat ini Sang Kwan Cing memerintahkan dia untuk mundur, kegusarannya makin memuncak.

Ia tatap gadis itu dengan pandangan membenci lalu serunya : "Tidak sulit untuk memaksa aku mundur ke belakang, tapi kau

harus tanya dulu kepada toyaku ini maukah dia turuti perkataanmu..." "Ooooh...! Jadi kau tak mau memberi muka kepadaku?"

Han Sim Poocu Khong Kie tertegun. "Tentang soal ini..."

Ia tahu selat Seng See Kok adalah partai nomor wahid di wilayah selatan dengan pengaruh yang paling luas, bilamana ia harus bermusuhan dengan selat Seng See Kok dan selat Leng In Kok secara beruntun, sebagai seorang jago yang cerdik tentu saja ia tak mempunyai keberanian itu.

Setelah berpikir sebentar, akhirnya ia tarik kembali toyanya dan mengundurkan diri dari situ sambil melotot sekejap ke arah Seng Kong dengan pandangan penuh kebencian.

"Setelah urusan di sini selesai, aku Seng Kong pertama-tama yang akan berkunjung ke benteng Han Sim Poo untuk minta maaf..." seru jago dari selat Leng In Kok itu dengan dingin.

Khong Kie mendengus berat.

"Hmmm! Bagus sekali, sampai waktunya aku pasti akan menyambut kedatangan Seng jie ko..."

Ia seret toyanya maju dua langkah ke depan dan serunya kembali

:

"Nona Sang Kwan, aku ingin mohon diri lebih dahulu."

"Begitu pun boleh juga," jawab Sang Kwan Cing sambil tertawa

ewa. "Semakin banyak orang di sini malah semakin banyak urusan yang terjadi..."

Khong Kie jadi amat mendendam sampai dia mesti gertak giginya kencang untuk menahan emosi dalam dadanya, dalam hati ia menyumpah :

"Budak setan, suatu hari aku pasti akan suruh kau rasakan kelihayan dari aku orang she Khong..."

Ia tertawa dingin, sambil menyeret toyanya ia melotot sekejap ke arah Pek In Hoei, kali ini rasa bencinya lebih tebal seakan-akan berhadapan dengan musuh besarnya saja, sambil tertawa seram serunya :

"Pek In Hoei, urusan di antara kita lebih baik dibicarakan lain hari saja..."

"Hmmm! Sungguh bagus rejekimu hari ini, di tengah jalan ada orang yang mewakili dirimu..." ejek Pek In Hoei. Han Sim Poocu Khong Kie pura-pura tidak mendengar, dengan langkah lebar ia berlalu dari sana.

Tiba-tiba Ouw-yang Gong mendengus dingin, badannya melayang maju ke depan, teriaknya :

"Tidak bisa jadi, monyet tua ini tak boleh pergi!" "Kau mau apa?" hardik Khong Kie dengan bencinya.

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... mau pergi boleh saja tapi tinggalkan dulu tanda perintah Han Sim Leng itu. Hmmm! Akal licik dari kau si cucu kura-kura paling banyak, kalau kami biarkan kau berlalu dengan begini saja, lalu apa gunanya kami datang ke sini?"

"Benteng Han Sim Poo kami toh belum kalah..." teriak Khong Kie semakin gusar.

"Huuuh... tiada berharganya untuk membicarakan soal benteng Han Sim Poo lebih baik tinggalkan dulu benda itu sebelum pergi."

Baru pertama kali ini Khong Kie mengalami penghinaan sebanyak ini, saking gusarnya ia segera melotot sekejap ke arah Sang Kwan Cing. Tapi akhirnya ia geleng kepala dan menghela napas panjang.

"Aaai...! sudah sudahlah. Nih, ambillah..." habis berkata ia segera berlalu dengan langkah lebar.

Dengan bangganya Ouw-yang Gong tertawa panjang, ia cengkeram panji Han Sim Leng itu sambil mengomel.

"Huuuuh...! Kain dekil ini mirip sekali dengan popok bayi yang penuh tahi... Ooooh...! Tidak aneh kalau masih tercium bau pesing... mungkin kain bekas untuk cebokan..."

Perkataan ini benar-benar keterlaluan sekali, wakil dari semua partai jadi gusar dan ingin sekali merobek mulutnya sampai hancur.

Di tengah kegelapan ucapan tersebut berkumandang sampai jauh dan sampai terdengar oleh Han Sim Poocu Khong Kie, ia semakin mendongkol lagi dan tak tahan jago tua ini muntah darah segar, dengan sempoyongan buru-buru ia berlalu dari situ. Sang Kwan Cing sendiri pun mengerutkan dahinya, kepada Pek In Hoei dia berseru :

"Ucapan dari pembantumu itu sungguh tak enak didengar!" Pek In Hoei tersenyum.

"Pembantuku ini pekerjaannya setiap hari adalah membersihkan kotoran manusia, saban hari kerjanya melulu di antara tumpukan kotoran manusia maka perkataan macam apa pun sanggup dia ucapkan. Nona! Lebih baik kau jangan mengusik dirinya..."

Sang Kwan Cing melirik sekejap ke arah Ouw-yang Gong, ia benar-benar tak berani bersilat lidah lagi dengan kakek konyol itu, sebab dia tahu mulut orang tua ini bagaikan jamban tahi, perkataan macam apa pun sanggup diutarakan keluar, mengusik dia berarti mencari penyakit buat diri sendiri...

Sementara itu Seng Kong telah cabut keluar sebilah pedang, ujarnya :

"Nona Sang Kwan harap mundur ke belakang, aku hendak memberi pelajaran kepada manusia latah ini..."

"Seng jie kokcu! Kau mesti berhati-hati," sahut Sang Kwan Cing sambil tertawa. "harapan semua partai dari selatan telah dititipkan ke atas pundakmu, dalam pertarungan ini kau harus menang sebab kalau tidak maka pasukan kita bakal musnah sama sekali..."

Ucapan itu adalah perkataan yang sejujurnya, ia tahu Seng Kong adalah jago nomor dua di dalam wilayah selatan, kecuali selat Seng See Kok tak seorang pun yang sanggup menandingi ilmu silat dari orang ini maka seandainya Seng Kong menderita kalah juga, berarti ia sendiri pun tidak punya keyakinan untuk menang.

"Nona Sang Kwan tak usah kuatir," seru Seng Kong dengan sombong. "Aku pasti akan berusaha dengan segenap tenaga..."

Dia aryunkan pedangnya ke depan, wajahnya berubah serius dan sorot matanya memancarkan cahaya kilat. Kali ini si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei tak berani bertindak gegabah, ia terkesiap dan menyadari bahwa dirinya telah bertemu dengan jago yang sungguh lihay.

"Ehmmm! Kau memang lebih hebat kalau dibandingkan dengan yang lain cuma sayang kemantapan hatimu masih belum cukup!"

"Dari mana kau bisa tahu?"

Sekali Pek In Hoei terkesiap, ia tak mengira kalau orang itu sangat tenang, segera timbul niatnya untuk menggusarkan pihak lawan, sambil mencibirkan bibirnya ia segera berseru :

"Napsu berangasanmu masih menguasai hati, pedangmu terlalu enteng dan tidak mantap, hal ini menunjukkan bahwa kau cuma mendapat sedikit kulitnya saja dari inti sari ilmu pedang maka itu aku bilang bahwa saat ini kau belum pantas menggunakan pedang, berlatihlah lebih dulu kepandaian itu matang-matang..."

Seng Kong terkesiap, ia merasa dibalik ucapan lawannya mengandung arti yang mendalam. Dengan hati sangsi ujung pedangnya segera diperiksa, sedikit pun tidak salah ia lihat senjatanya agak gemetar dan tidak mantap...

Hatinya jadi terkesiap, teriaknya dengan hati gusar : "Kau jangan omong kosong!"

Pedangnya digetarkan dan laksana kilat melancarkan tiga buah serangan berantai yang secara terpisah menusuk tiga bagian tubuh Pek In Hoei, gerakan itu dilakukan sangat cepat membuat wakil dari pelbagai partai yang berada di sekeliling tempat itu bersorak memuji.

Pek In Hoei gerakkan kakinya ke samping, jengeknya : "Hmmm! Kematian  sudah di ambang pintu, kau masih saja

berkeras kepala..."

Tiba-tiba terasa sekilas cahaya perak yang amat menyilaukan mata memancar di udara, cahaya pedang amat dingin itu segera memaksa Seng Kong untuk mundur dua langkah ke belakang.

"Apakah pedang itu adalah pedang mestika penghancur sang surya?..." tanya Seng Kong dengan hati bergidik. "Sedikit pun tidak salah, apakah kau merasa takut?"

Seng Kong jadi naik pitam pedangnya dipapas ke depan serentetan cahaya pedang berkilauan melancar ke depan hingga memaksa Pek In Hoei buru-buru harus berkelit ke belakang.

Pek In Hoei sendiri pun telah diliputi oleh kegusaran, hawa kemarahan yang sudah tertanam dalam hatinya sejak tadi segera disalurkan keluar semua, ia membentak keras, pedangnya dengan gerakan mendadak menyapu keluar.

Menyaksikan datangnya sapuan pedang lawan Seng Kong pecah nyali, tak sempat lagi baginya untuk berkelit, terpaksa dia ayun pedangnya untuk menyambut datangnya serangan tersebut.

Trang...! terjadi benturan nyaring yang mengakibatkan letupan cahaya api, Seng Kong merasakan tangannya jadi enteng dan tahu- tahu pedang dalam genggamannya telah patah jadi dua bagian.

Sementara itu gerakan serangan dari pihak musuh belum berhenti sampai di situ saja, daya tekanan semakin cepat mendekati tubuhnya.

Diam-diam ia berseru di dalam hati.

"Habis sudah riwayatku... kali ini jiwaku pasti lenyap di ujung pedangnya..."

Ia segera pentang matanya lebar-lebar dan membentak : "Ayoh cepat bunuh diriku!"

Siapa tahu Pek In Hoei tarik kembali pedangnya sambil berkata dengan nada dingin :

"Kalau kubunuh dirimu dengan begini saja maka kau pasti akan merasa tidak puas, sekarang aku akan memberi satu kesempatan lagi kepadamu, kembali dan ambillah pedang lebih dahulu..."

Setelah berhasil menenangkan hatinya yang kaget, Seng Kong menghembuskan napas panjang, sahutnya :

"Pedang saktimu amat tajam, sekalipun aku ganti seratus bilah pedang juga tak ada gunanya!"

Pek In Hoei tertawa nyaring, ia tancapkan pedang mestika penghancur sang surya-nya di atas tanah lalu berseru : "Kalau begitu mari kita coba dengan tangan kosong."

"Rupanya kau sudah bosan hidup," teriak Seng Kong kegirangan.

Ilmu silatnya di dalam kepandaian tangan kosong amat lihay dan ia yakin jarang temui tandingan di kolong langit, mendengar Pek In Hoei hendak melayani dirinya dalam ilmu tangan kosong, semangatnya segera berkobar, kepalannya langsung ditonjolkan ke depan. 

Pek In Hoei rendahkan tubuhnya menghindar, sambil putar badan melancarkan serangan balasan katanya :

"Ehmmmm... rupanya ilmu tangan kosongmu jauh lebih lihay daripada ilmu pedang yang kau miliki..."

Baru saja ia hendak menggerakkan badannya, terasa dari belakang menyambar lewat segulung angin dingin, cepat ia berpaling tampaklah Ouw-yang Gong sambil tersenyum telah berdiri di sisi tubuhnya.

"Hey ular asap tua..." seru pemuda itu.

"Haaaah... haaaah... haaaah... secara berurutan kau sudah menangkan beberapa babak pertarungan, kali ini kau mesti kasih kesempatan bagi aku si ular asap tua untuk unjukkan kelihayanku, kalau tidak orang lain tentu mengatakan bahwa aku si pembantu bisanya cuma mengibul dan omong gede kenyataan ilmu apa pun tidak dimiliki..."

Mendadak ia merandek sebab pada saat itulah ia jumpai Seng Kong tanpa mengeluarkan sedikit suara pun sedang melancarkan serangan bokongan ke arah Pek In Hoei.

Ia membentak keras, telapaknya segera diayun ke depan. Blam! bentrokan nyaring bergeletar keras, mengakibatkan pasir dan debut beterbangan memenuhi angkasa.

Tubuh masing-masing pihak mundur tiga langkah ke belakang.

Ouw-yang Gong diam-diam merasa terkejut, pikirnya :

"Sungguh tak nyana kepalan dari bangsat cilik ini sangat lihay." Ia segera tertawa terbahak-bahak. "Haaaah... haaaah... haaaah... eeei cucu kura-kura, kau sudah punya bini belum?"

Seng Kong melengak, ia tak tahu apa maksud kakek tua itu mengajukan pertanyaan tersebut, ia tertegun dan segera menjawab :

"Belum."

"Haaaah... haaaah... haaaah... kalau begitu kau adalah ayam jejaka," menggunakan kesempatan di kala pikiran Seng Kong bercabang telapaknya segera dibabat ke depan, segulung angin pukulan segera meluncur keluar...

Seng Kong terkesiap, teriaknya penuh kegusaran. "Kau main akal..."

Buru-buru telapaknya dirapatkan jadi satu dan menyambut datangnya ancaman itu... Blaam, sekali lagi terjadi bentrokan nyaring, tubuh Seng Kong segera mencelat ke udara.

Braaak, tidak ampun lagi tubuhnya terbanting mencium tanah, darah segar muntah keluar dari mulutnya, keadaannya payah sekali hingga tak sanggup untuk merangkak bangun.

"Kau adalah makhluk tua yang tak punya malu!" teriaknya sambil memandang kakek itu dengan penuh kebencian.

"Anak monyet, cucu kura-kura... kenapa aku tak tahu malu?" "Hmm...! Kau membokong diriku tatkala aku tidak siap, kau tak

punya malu..."

Ouw-yang Gong tundukkan kepala berpikir sebentar, lalu menjawab :

"Aaaah, benar, bukankah tadi aku sedang bertanya kepadamu apakah kau sudah punya bini, tapi... pukulanku itu tak bakal menyia- nyiakan dirimu, binimu segera akan datang menengok dirimu..."

"Seng-heng harap mundur ke belakang," sementara itu Sang Kwan Cing sudah melayang ke depan. "Biarlah aku yang menghadapi setan usil mulut ini..."

"Ular asap tua, mulutmu terlalu kotor dan usil, kau harus diberi pelajaran." "Aduuh... celaka... celaka... " teriak Ouw-yang Gong sambil goyangkan tangannya berulang kali, "menantu perempuan mau pukul mertua, aku harus lari dari sini..."

Ia segera loncat bangun dan kabur ke tengah kegelapan. "Kembali," tiba-tiba terdengar suara bentakan keras

berkumandang di angkasa.

Pek In Hoei mendongak dan merasa terkejut, tampaklah Ouw- yang Gong ditangkap oleh seorang pria kekar bercambang yang perkasa bagaikan sebuah pagoda, tengkuknya dicengkeram pria itu hingga membuat si kakek konyol sama sekali tak berkutik.

Tampak pria kekar itu angkat tubuh Ouw-yang Gong ke udara dan membantingnya ke depan.

Di tengah udara kakek konyol itu menjerit keras :

"Aduuuh mak... aduuuh nenek... tolong aku, kekuatan si raksasa rudin ini hebat sekali..."

Begitu menginjak tanah ia segera tepuk-tepuk pantat sendiri dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... untung tidak sampai terbanting, untung tidak sampai terbanting..."

"Kalau begitu kau boleh coba lagi!" seru pria itu sambil maju ke depan.

Ia gunakan suatu gerakan aneh, tangan kanannya berkelebat lewat dan tahu-tahu tengkuk si kakek konyol itu sudah dipelintir kembali.

Berada di tengah udara Ouw-yang Gong sama sekali tak berkutik, diam-diam ia tarik napas dingin, mendadak sambil cengkeram cambang pria raksasa itu serunya sambil tertawa seram.

"Eeeei... anak kera cucu monyet, tahukah kau selama hidupku apa yang paling kutakuti?"

Ouw-yang Gong perlihatkan muka setan, dan menyahut : "Aku paling takut kalau jenggot seseorang kena dicabut maka setelah mati ia akan dijebloskan ke dalam neraka tingkat ke-sembilan belas, Raja akhirat akan merubah dia jadi seekor kucing hitam. Hiii..."

"Kenapa???" tanya pria itu melengak.

Ouw-yang Gong jadi kegirangan, ia tahu kalau pria itu meskipun memiliki tenaga yang amat sakti tapi dalam kenyataan adalah seorang bodoh, tabiatnya suka menggoda orang segera muncul kembali.

Sambil mencengkeram jenggot pria kekar itu lanjutnya sambil tertawa cengar-cengir :

"Dahulu ada seorang tukang jual jamu mati di dalam sungai, ketika ia masuk ke istana Giam Ong tiba-tiba dilihatnya raja akhirat mendeprak meja sambil berkata, "Hey, di mana jenggotmu??" Tukang jual jamu itu ketakutan maka buru-buru jawabnya, "Jenggotku dimakan ikan!" Raja akhirat yang mendengar ocehan itu jadi semakin gusar, segera teriaknya :

"Kurang ajar, ikan tidak doyan jenggot. Hmmm, kau penipu. Kepala kerbau muka kuda! Jebloskan keparat ini ke dalam neraka tingkat sembilan belas, dan jelmakan dia pada penitisan selanjutnya sebagai kucing, sebelum menghabiskan semua ikan yang ada di dunia tak boleh kembali. Nah itulah dia kenapa kucing paling rakus kalau melihat ikan..."

"Benar ada kejadian seperti itu?" seru pria itu sambil mengendorkan cekalannya.