Imam Tanpa Bayangan I Jilid 23

 
Jilid 23

SEAKAN-AKAN mereka berdua mempunyai pikiran yang sama, masing-masing melancarkan sebuah serangan yang memaksa mundur Pek In Hoei kemudian loncat keluar dari kalangan.

Pek In Hoei mengejar ke depan, sambil putar pedang, jengeknya sinis :

"Eeei... kenapa kalian berdua tidak bergebrak lagi?"

Dengan napas terengah-engah Cia Toa Hiong mundur ke belakang, sahutnya setengah gusar :

"Kesempatan masih banyak, tunggu saja saatnya."

Sementara itu dara muda tadi telah berada di antara mereka bertiga sambil tertawa cekikikan sambungnya :

"Betul, kesempatan toh masih amat banyak, kenapa mesti cemas di saat ini..."

Langkah tubuhnya enteng, pinggangnya ramping dengan wajah yang manja serta senyuman menghiasi ujung bibirnya, kecantikan wajah yang begini serasi menegunkan hati Pek In Hoei, ternyata ia terpikat oleh kecantikan wajahnya.

Dalam pada itu setelah mengetahui siapakah yang telah datang, baik kisp Cia Toa Hiong maupun Boen Soe-ya sama-sama tunjukkan sikap yang sangat menghormat, setelah memberi hormat sapanya berbareng :

"Nona Sang Kwan!" "Huuuh, kalian dua orang lawan satu orang, apakah tidak terlalu menjual muka para enghiong dari wilayah Lam Ciang..." sindir Sang Kwan Cing sinis.

Merah jengah selembar wajah Cia Toa Hiong. "Tentang soal ini..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... Loohu adalah penduduk kota Kwan Lok," seru Boen Soe-ya sambil tertawa terbahak-bahak. "Dengan kalian jago-jago dari wilayah Lam Ciang sama sekali tiada hubungan..."

"Oooh jadi kalau enghiong dari kota Kwan Lok lantas mencari kemenangan dengan andalkan jumlah banyak?? Jadi kalau berasal dari Kwan Lok lantas boleh main kerubutan..."

"Soal ini..." Boen Soe-ya tertegun, untuk beberapa saat lamanya ia tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Pek In Hoei melirik sekejap ke arah Cia Toa Hiong serta Boen Soe-ya, kemudian ujarnya pula dengan nada dingin.

"Manusia yang mencari nama dengan jalan paksaan, biasanya kebanyakan merupakan manusia-manusia berpipi tebal yang tak tahu malu..."

Bagian 26

MENDENGAR perkataan itu Sang Kwan Cing kerutkan alisnya setelah mengerling sekejap ke arah pemuda itu serunya dingin :

"Aku menegur mereka bukanlah berarti membantu dirimu, persoalan ini adalah urusan pribadi kami orang-orang dari wilayah Lam Ciang, oleh sebab itu lebih baik janganlah bicara yang bukan- bukan dan kurangi perkataan yang tak berguna daripada mendapat teguran yang pedas.

Pek In Hoei melongo, ia tak menyangka kalau sikap dara muda itu jauh bertentangan dengan watak manusia biasa, sebagai seorang pemuda yang sombong dan tinggi hati tentu saja Pek In Hoei tak mau mandah ditegur. Setelah mendengus dingin katanya dengan nada sinis :

"Aku tidak membutuhkan bantuanmu, lebih baik kau segera enyah dari tempat ini..."

"Sungguh takabur kau ini!" bentak Sang Kwan Cing dengan wajah berubah hebat. "Walaupun kami orang-orang dari selat Seng See Kok tak pernah mencampuri urusan keduniawian, tetapi kami tak akan berpeluk tangan belaka menghadapi manusia jumawa yang sedikit pun tidak memandang sebelah mata terhadap orang lain macam dirimu..."

Diam-diam Cia Toa Hiong bergirang hati melihat gadis itu sudah mulai bersilat lidah dengan musuhnya, ia segera menimbrung :

"Nona Sang kwan, Pun Poocu atas nama beratus-ratus orang jago dari wilayah Lam Ciang menyatakan salut yang setinggi-tingginya kepada nona, di samping itu loohu pun siap mendampingi di sisi nona untuk bertempur hingga titik darah penghabisan melawan si Jago Pedang Berdarah Dingin..."

"Tentang soal ini sih aku tak berani menerimanya," tukas Sang Kwan Cing dingin. "Masalah partai Thiam cong hendak mengusir para jago keluar dari wilayah Lam Ciang sudah bukan merupakan masalah pribadi seseorang lagi, bila pelbagai perguruan tidak bersatu mulai sekarang mungkin wilayah Lam Ciang dalam waktu singkat akan terjatuh ke tangan partai Thiam cong..."

Sinar matanya beralih melirik sekejap ke arah Pek In Hoei, kemudian sambungnya lebih jauh :

"Bila kau ingin memusuhi beratus-ratus orang jago yang ada di wilayah Lam Ciang hanya mengandalkan kekuatanmu seorang, mungkin kekuatan itu terlalu miring dan tak masuk dalam bilangan, terutama sekali anak murid partai Thiam cong dewasa ini tercerai berai dimana-mana, aku rasa usahamu untuk menghidupkan kembali partai Thiam cong hanya akan berubah jadi gelembung-gelembung udara belaka..."

Pek In Hoei tertawa dingin. "Partai Thiam cong selamanya tak akan terhapus dari muka bumi, sekali pun terhadap tenaga tekanan yang paling dahsyat pun tidak akan menghalangi perjuangan partai Thiam cong untuk menduduki posisinya kembali..."

"Huuuh! Posisi apa yang masih dimiliki partai Thiam cong di dalam wilayah Lam Ciang? Gunung Thiam cong san saja sudah bukan menjadi milik kalian, buat apa kau bicarakan tentang kebangkitan partai itu kembali..."

"Hmmm! Direbutnya gunung keramat kalian oleh pihak musuh sudah merupakan suatu peristiwa yang paling memalukan, tak nyana kau masih bisa-bisanya untuk dibicarakan kembali..."

"Tutup mulut! bentak Pek In Hoei sangat gusar. "Sekali pun partai Thiam cong telah runtuh tapi aku Pek In Hoei masih punya kemampuan untuk menumbuhkan kembali semangat juang partai kami, aku hendak membangun partai Thiam cong sebagai suatu partai yang terbesar di langit wilayah sebelah selatan..."

"Aaaai... jadi kalau begitu kau sudah mengambil keputusan untuk melakukan pertikaian dengan para enghiong dari wilayah Lam Ciang..." bisik gadis itu sambil menghela napas.

Sekilas cahaya keemas-emasan menembusi langit yang mendung menyoroti permukaan tanah yang berlumpur, hujan akhirnya berhenti dan suasana menjadi hening kembali...

Sambil menghela napas panjang Sang Kwan Cing mendongak ke atas memandang udara yang masih diliputi awan, rambutnya berderai terhembus angin... tiba-tiba dia alihkan sinar matanya ke arah depan. Di atas tanah yang berlumpur mendadak berkumandang datang suara derap kaki kuda yang santer memecahkan kesunyian  yang

mencekam seluruh jagad ketika itu.

Sang Kwan Cing tertawa hambar, bisiknya :

"Hek Bin Siuw loo Sak Kioe Kong telah datang..."

Seorang kakek berwajah hitam pekat bagaikan pantat kuali muncul di paling depan disusul oleh Sak Toa Bauw serta dua orang pria berbaju hitam, pedang panjang tersoren di punggung masing- masing dengan wajah yang dingin kaku bagaikan es.

Begitu tiba di hadapan Pek In Hoei, beberapa orang itu segera meloncat turun dari kudanya.

Terdengar Sak Toa Bauw tertawa seram, sambil menuding ke arah Pek In Hoei serunya keras :

"Ayah, dialah si Jago Pedang Berdarah Dingin!"

Sak Kioe Kong mengiakan, setelah melirik sekejap ke arah si Jago Pedang Berdarah Dingin itu dengan pandangan hambar dengan langkah lebar ia menghampiri Sang Kwan Cing, lalu menjura dan menegur :

"Nona Sang Kwan, rupanya kau pun sudah mengetahui akan peristiwa ini???"

Sang Kwan Cing tertawa ewa.

"Di dalam dunia persilatan sudah terjadi peristiwa yang demikian besarnya, semua perguruan yang termasuk dalam wilayah Lam Ciang telah mengetahuinya, tentu saja pihak selat Seng See Kok kami pun telah mendapat kabar, justru kedatanganku kemari adalah ingin melihat macam apakah manusia paling latah yang hendak memasuki wilayah Lam Ciang ini..."

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... selat Seng See Kok adalah pemimpin dari pelbagai partai yang ada di wilayah Lam Ciang," ujar Hek Bin Siuw loo Sak Kioe Kong sambil tertawa seram. "Asalkan nona Sang Kwan suka tampil ke depan, loohu percaya masalah ini akan beres dengan gampangnya. Hmmm... sungguh tak nyana setelah kemusnahan partai Thiam cong masih terjadi pula gelombang yang begini besar, dan di antara pelbagai partai-partai dalam wilayah Lam Ciang, perkampungan Sak Kee cung kamilah yang pertama-tama kena musibah..."

"Tidak bisa jadi," sela Cia Toa Hiong dari benteng Kiem See Poo sambil gelengkan kepala. "Kami dari benteng Kiem See Poo pun sudah terseret pula di dalam persoalan ini..." "Heeeeh... heeeeh... heeeeh... kalau begitu anggap sajalah peristiwa ini merupakan ketidakberuntungan dari kita berdua..."

Lambat-lambat ia mendekat Boen Soe-ya dan bertanya : "Boen ya, bagaimana dengan urusannya?

Boen Soe-ya tertawa getir.

"Kepandaian silat yang loohu miliki terlalu cetek, persoalan dari Sak heng mungkin tak sanggup aku kerjakan lebih jauh."

Wajah Hek Bin Siuw loo segera berkerut kendang, dengan gemas ia melotot sekejap ke arah Pek In Hoei lalu mendongak dan tertawa terbahak-bahak, seluruh jubahnya bergelembung besar dan bergetar keras.

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... sejak Hek Bin Siuw loo munculkan diri di dalam dunia persilatan hingga kini sudah puluhan tahun lamanya, berkat sanjungan serta bantuan sahabat Bu lim terhadap loohu, banyak hal yang dilakukan oleh perkampungan Sak Kee cung kami. Sungguh tak nyana dalam perjalanannya putraku menghantar hadiah untuk Hoa Loo enghiong di perkampungan Thay Bie San cung, belum sampai keluar dari wilayah Lam Ciang barang kawalan kami telah dibegal oleh si Jago Pedang Berdarah Dingin, perbuatan terkutuk semacam ini betul-betul membuat loohu merasa amat menyesal..."

"Hmm, sungguh menarik hati perkataanmu itu," dengus Pek In Hoei dengan nada sinis.

Sak Kioe Kong tertawa dingin, serunya kembali :

"Pek sauwhiap, dapatkah kau kembalikan dulu barang yang kau begal itu kepada loohu?"

Selama ini yang diharap-harapkan oleh Pek In Hoei adalah munculnya Hek Bin Siuw loo di tempat itu, agar dari mulut orang ini ia bisa mendapat tahu asal mula datangnya potongan kain jubah tersebut, justru karena persoalan ini menyangkut teka teki kematian ayahnya Pek Tiang Hong maka ia memperhatikannya dengan serius. Dan sekarang disinggung kembali oleh si Malaikat Berwajah Hitam itu, pemandangan di masa lampau pun segera terbayang kembali dalam benaknya, api dendam seketika berkobar memenuhi seluruh dadanya...

Dengan penuh kebencian teriaknya :

"Potongan kain jubah itu adalah benda milik mendiang ayahku, cayhe tak mungkin dapat mengembalikan kepadamu..."

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... dari mana Pek sauwhiap bisa membuktikan bahwa benda itu adalah milik mendiang ayahmu..."

"Ketika dari gunung Thiam cong menuju ke gunung Cing Shia ayahku mengenakan kain jubah dengan motif ini, tatkala aku berhasil mengejarnya di gunung Cing Shia ayahku telah mati terbunuh orang, jubah yang dikenakan terpapas oleh pedang, dan kini benda tersebut muncul kembali di depan mata tentu saja aku dapat mengenalinya kembali..."

"Hmm, bagimu hanya tahu bagaimana caranya merampas kembali potongan jubah tersebut, tahukah bahwa loohu pun mendapat titipan dari seseorang untuk menyerahkan potongan jubah ini kepada Hoa Pek Tuo di perkampungan Thay Bie San cung?? Setelah kau begal benda itu di tengah jalan, secara bagaimana loohu bisa memberikan pertanggungan jawabnya terhadap sahabatku itu..."

"Aku justru sedang menantikan kemunculan orang itu..." sela Pek In Hoei cepat.

"Hmmm! Aku rasa tidak nanti begitu gampang."

Pek In Hoei jadi naik pitam, sepasang matanya berapi-api dan menatap wajah lawannya tanpa berkedip, teriaknya dengan nada penuh kebencian :

"Kalau nama orang itu tak kau sebutkan maka seluruh isi perkampungan Sak Kee Cung akan menemui ajalnya di ujung pedang saktiku, ini bukan gertak sambal belaka! Aku rasa kau tentu mengerti bukan mampukah aku melaksanakan ancamanku..." Si Malaikat Berwajah Hitam terkesiap, ia merasa begitu dingin dan menyeramkan ucapan si anak muda itu, setiap patah katanya seolah-olah mengandung satu kekuatan yang tak terbantahkan, ia merasa di hadapan matanya seakan-akan terbentang suatu pemandangan yang sangat mengerikan, seluruh isi perkampungannya menggeletak di atas genangan darah...

Dengan hati bergidik dan penuh ketakutan segera serunya : "Kenapa... kenapa kau hendak melakukan hal itu?"

"Gampang sekali! Secara bagaimana ayahku menemui ajalnya, dengan cara itu pula aku hendak membalas dendam, seandainya setiap orang yang telah membunuh orang dapat hidup sentausa dan bebas tanpa hukuman, lalu apa gunanya manusia hidup di kolong langit..."

Sak Toa Bauw yang sedari tadi sudah tak kuat menahan sabar, setelah mendengar perkataan itu sambil cabut keluar senjatanya segera menerjang ke depan, teriaknya keras-keras :

"Ayah! Terhadap manusia seperti ini rasanya tak ada gunanya kita ajak berunding, bagaimana caranya ia rampas benda itu kita rampas kembali dengan cara yang sama. Siapa benar siapa salah siapa hitam siapa putih akhirnya toh bakal ketahuan juga. Asal kita tidak ikut serta di dalam peristiwa pengeroyokan terhadap diri Pek Tiang Hong, kenapa kita mesti takuti dirinya..."

"Kau tak usah ikut campur!" bentak Sak Kioe Kong. "Ayoh mundur dari sini!"

Dengan perasaan mendongkol dan tidak puas Sak Toa Bauw melotot sekejap ke arah Pek In Hoei kemudian mengundurkan diri dari kalangan.

Perlahan-lahan si Malaikat Berwajah Hitam maju ke depan menghampiri si anak muda itu, langkah amat lambat tapi sangat bertenaga, setiap tindakannya seakan-akan ayunan palu yang menghantam hati.

"Hey orang she Pek!" serunya sambil tertawa ewa. "Jadi kau hendak memaksa loohu untuk turun tangan?" "Aku tidak ingin bergebrak, tapi kau harus memberikan penyelesaian terlebih dahulu mengenai potongan kain jubah itu!"

"Bangsat! Rasanya andaikata loohu tidak memberi sedikit pelajaran kepadamu, kau masih mengira di dalam wilayah Lam Ciang benar-benar tak ada orang pandai..."

Sambil mendengus telapak kanannya segera diangkat ke atas, sekilas cahaya tajam berwarna hitam laksana kilat segera diayunkan ke depan.

Air mka Pek In Hoei berubah hebat, serunya dengan nada terkejut

:

"Ah, ilmu pukulan Hek Sat Ciang!"

Si Malaikat Berwajah Hitam Sak Kioe Kong tertawa seram tiada

hentinya, tiba-tiba jubah yang ia kenakan bergelombang besar, sang badan maju ke depan dan melancarkan satu babatan kembali ke atas tubuh musuhnya.

Si Jago Pedang Berdarah Dingin segera menggeserkan badannya menyingkir beberapa depa ke samping, dengan suatu gerakan yang cepat ia masukkan kembali pedang mestika penghancur sang surya- nya ke dalam sarung, lalu dengan telapak kanan yang disertai tenaga dahsyat mengirim pula satu pukulan ke depan.

Pertempuran sengit pun segera berlangsung dengan serunya, bagaikan sambaran angin puyuh. Malaikat Berwajah Hitam meloncat beberapa depa ke tengah udara dan bentaknya keras-keras :

"Kau berani menyambut sebuah pukulanku?"

Telapak kanan membentuk gerakan satu lingkaran di tengah udara dengan jurus Bintang dan Rembulan berebut cahaya ia hantam tubuh Pek In Hoei keras-keras.

Si anak muda itu segera tertawa dingin, jengeknya :

"Sekalipun ilmu pukulan Hek Sat Ciang amat beracun, belum tentu bisa mengapa-apakan diriku..." Ia himpun segenap kekuatannya ke telapak sebelah kanan, setelah menutup ke-tujuh puluh dua buah jalan darah penting dalam tubuhnya, ia segera sambut datangnya ancaman tersebut.

"Blaaam...! Di tengah udara terjadi suatu ledakan yang menggetarkan seluruh jagad, pusaran angin memancar ke empat penjuru memaksa tubuh ke-dua orang itu sama-sama mundur dua langkah ke belakang.

Diam-diam si Malaikat Berwajah Hitam merasakan hatinya tercekat, ia tak menyangka Pek In Hoei dengan usia yang begitu muda ternyata memiliki tenaga dalam yang begitu sempurna hingga sanggup menandingi pukulannya yang maha berat itu.

Ingatan jahat segera muncul dalam benaknya, ia berpikir : "Dewasa ini Tiga partai dua selat serta enam benteng yang berada

di wilayah Lam Ciang telah bersatu padu hendak menghadapi manusia she Pek ini, kenapa aku tidak gunakan siasat yang licik untuk mencelakai jiwa bajingan ini, kenapa aku tidak gunakan... daripada aku mesti turun tangan sendiri..."

Berpikir sampai di situ sambil tertawa seram segera ujarnya : "Pek In Hoei , walaupun kau sanggup menerima sebuah pukulan

loohu, tetapi kau mesti tahu bahwa enghiong hoohan yang ada di wilayah Lam Ciang banyak bagaikan pasir, bila kau ingin mendirikan satu perguruan di tempat ini rasanya bukan suatu pekerjaan yang gampang. Ambil contohnya saja dewasa ini masih ada satu orang yang mampu menandingi dirimu..."

Dalam pada itu Pek In Hoei sendiri walaupun sanggup menerima pukulan Hek Sat Ciang yang dilancarkan Sak Kioe Kong tanpa terluka, namun ia merasakan darah panas dalam dadanya bergolak kencang.

Mendengar perkataan itu ia tampak tertegun, lalu tanyanya dengan nada dingin :

"Siapakah orang itu?" Sebagai seorang pemuda yang berjiwa tinggi ia tak tahu kalau si Malaikat Berwajah Hitam sengaja hendak mengadu domba dirinya dengan orang lain, ketika didengarnya bahwa di antara mereka masih terdapat seorang jago lihay, maka timbullah keinginannya untuk mengetahui siapakah orang yang disanjung-sanjung Hek Bin Siuw loo sebagai jagoan kosen.

Sementara itu si Malaikat Berwajah Hitam telah melirik sekejap ke arah Sang Kwan Cing, kemudian sahutnya :

"Orang itu bukan lain adalah nona Sang Kwan dari selat Seng See Kok..."

Sang Kwan Cing tertawa dingin, dengan pandangan yang menghina, ia melirik sekejap ke arah orang itu.

Melihat gadis itu tidak mengaku pun tidak menampik, si Malaikat Berwajah Hitam kembali merasakan bahwa gadis itu merupakan seorang manusia berpikiran panjang yang sukar dilayani, ia segera tertawa seram dan pikirnya lebih jauh :

"Peduli sampai di mana lihaynya kau si budak ingusan, jangan harap kau bisa lolos dari siasat berantaiku. Kalau pihak selat Seng See Kok ingin berpeluk tangan belaka di dalam persoalan ini maka harus menanti dulu persetujuan dari aku orang she Sak."

Sebagai seorang manusia licik, sekali pun dalam benaknya telah timbul ingatan jahat tetapi perasaan itu sama sekali tidak terlihat di atas wajahnya.

Terdengar orang itu sambil tertawa seram kembali berkata : "Pimpinan dari para enghiong yang ada di wilayah Lam Ciang

adalah Sang Kwan loo enghiong dari selat Seng See Kok, sekali pun loohu memiliki sedikit kekuasaan di dalam wilayah Lam Ciang, tapi kalau dibandingkan dengan selat Seng See Kok kekuatanku masih terpaut sangat jauh..."

Ucapan ini memang benar kenyataannya, sejak partai Thiam cong dibasmi oleh perguruan Boo Liang Tiong, maka para jago yang ada di wilayah Lam Ciang telah mengangkat Sang Kwan Im dari selat Seng See Kok sebagai pimpinan para jago lainnya.

Terdengar Cia Toa Hiong dari benteng Kiem See Poo tertawa keras dan menyambung :

"Sedikit pun tidak salah, sedikit pun tidak salah, benteng Kiem See Poo kami adalah tetangga dari selat Seng See Kok dan setiap kali kami selalu memperoleh bantuan dari Sang Kwan loo enghiong. Di dalam wilayah Lam Ciang aku srasa memang tiada partai lain yang bisa menandingi kehebatan dari selat Seng See Kok..."

Diam-diam si Malaikat Berwajah Hitam mendengus dingin, pikirnya :

"Cia Toa Hiong! Kau tak usah terlalu menjilat pantat, kau mesti tahu bahwa perkampungan Sang Kwan Cing kami bukanlah kekuatan yang boleh kau anggap remeh. Hmm! Tunggu saja setelah urusan di sini selesai, pertama-tama kaulah yang akan kulabrak lebih dahulu..." Berpikir sampai di situ ia lantas berpaling ke arah Sang Kwan

Cing dan ujarnya sambil tertawa :

"Nona Sang Kwan, apakah kau menyetujui perkataan loohu?" "Mengenai soal pimpinan para jago di wilayah Lam Ciang sih

kami tak berani menerimanya," sahut Sang Kwan Cing dengan mata dingin. "Terutama sekali tindakan Sak toa cungcu di dalam pertempuran yang secara tiba-tiba mengeluarkan ucapan seperti ini, sungguh membuat hatiku jadi curiga dan tidak habis mengerti..."

"Nona Sang Kwan kau pun seorang gadis yang cerdik, masa tak bisa kau tinjau keadaan situasi yang terbentang di depan mata saat ini?" seru Malaikat Berwajah Hitam sambil menggeleng. "Selat Seng See Kok sebagai pimpinan para jago yang ada di dalam wilayah Lam Ciang tentu tak akan berpeluk tangan belaka bukan menghadapi ambisi pein yang begitu besar dan hendak mengangkang seluruh wilayah Lam Ciang..."

"Dari mana kau bisa tahu kalau aku hanya berpeluk tangan belaka?" "Haaaah... haaaah... haaaah... bagus, bagus, asal nona Sang Kwan suka tampil ke depan maka kita pun tak usah jeri terhadap bajingan cilik she Pek dari partai Thiam cong lagi. Nona Sang Kwan! Apakah ayahmu ada maksud untuk munculkan diri kembali di dalam dunia persilatan..."

Sang Kwan Cing memandang sekejap wajah Pek In Hoei, lalu menjawab :

"Aku tidak ingin menjawab pertanyaanmu itu."

Dengan senyuman hambar tersungging di ujung bibir perlahan- lahan ia menghampiri si anak muda itu, tiba-tiba sambil menatap wajahnya dengan pandangan aneh ia bertanya lirih :

"Apakah kau merasa tidak puas terhadap masalah selat Seng See Kok dianggap sebagai perguruan nomor satu di dalam wilayah Lam Ciang?"

"Pedang sakti menyelimuti langit selatan, hawa pedang memenuhi bukit Thiam cong, di dalam wilayah selatan kecuali partai Thiam cong cayhe belum pernah memikirkan persoalan lain. Nona Sang Kwan! Mungkin kaulah yang tak puas dengan perkataanku ini, tetapi dalam waktu singkat kau pasti akan mengetahui bahwa apa yang kukatakan adalah suatu kenyataan..."

"Hmmm! Kau terlalu percaya pada diri sendiri." "Nona, aku tidak mengerti akan maksudmu!"

"Sejak partai Thiam cong mengalami kemusnahan, nama itu sudah terhapus dari muka bumi, para jago yang ada di wilayah selatan tak pernah memikirkan lagi persoalan partai Thiam cong apalagi mengaguminya, lebih baik urungkanlah niatmu untuk mendirikan kembali partai tersebut di wilayah ini, sebab dengan kekuatanmu seorang tak nanti cita-citamu itu akan terwujud..."

"Belum tentu begitu..."

"Kalau kau tidak percaya yaah sudahlah, tetapi aku hendak memberitahukan lebih dahulu kepadamu, seluruh perguruan yang ada di wilayah selatan telah mengangkat selat Seng See Kok kami sebagai pimipan dalam usaha menghadapi dirimu, apakah kau punya keyakinan untuk menangkan seluruh jago lihay yang begini banyak jumlahnya itu?"

"Silahkan nona berlalu, setiap saat cayhe siap menantikan pelajaran dari pelbagai partai..."

"Bagus sekali!" seru Sang Kwan Cing sambil tertawa. "Aku mewakili seluruh perguruan yang ada di wilayah selatan mengundang kehadiranmu di selat Seng See Kok pada besok malam untuk menyelesaikan persoalan ini..." selesai berkata ia putar badan dan berlalu dari situ.

Malaikat Berwajah Hitam Sak Kioe Kong buru-buru maju ke depan sambil berseru :

"Nona Sang Kwan, harap tunggu sebentar!"

"Kau masih ada urusan apa lagi?" tanya gadis itu sambil menoleh. "Pertemuan yang nona janjikan barusan, apakah telah mendapat

persetujuan dari ayahmu?"

"Kalau kau takut urusan besok malam boleh tak usah hadir di dalam selat Seng See Kok kami. Hmmm! Pelbagai partai yang ada di wilayah selatan kecuali perkampungan Sak Kee cung kalian, yang tak pernah berhubungan dengan orang lain belum pernah kutemui ada perguruan lain yang berani menentang perintahku!"

"Apa maksud ucapanmu itu?" teriak Sak Kioe Kong. "Aku sebagai salah satu anggota kekuatan di wilayah selatan, sampai waktunya tentu saja harus hadir untuk ikut bertarung melawan si Jago Pedang Berdarah Dingin, besok malam loohu pasti akan datang..."

"Kalau mau datang tentu saja boleh-boleh saja, tetapi kau tidak diperkenankan membawa orang lain, sebab dalam pertemuan ini aku hanya memberi ijin kepada satu orang saja dari tiap partai di samping itu jangan lupa bawa serta tanda perintah Hek Liong Leng perguruanmu."

"Apa gunanya Hek Liong Leng itu?" "Dalam pertarungan yang akan berlangsung besok malam, bukan saja merupakan suatu pertarungan yang mempertaruhkan mati hidup kita bahkan merupakan pula suatu perebutan kekuasaan, seandainya pelbagai partai yang ada di wilayah selatan benar-benar tak sanggup menghadapi di seorang, maka terpaksa kita harus serahkan tanda kebesaran kita kepada pihak partai Thiam cong..."

Si Malaikat Berwajah Hitam yang mendengar perkataan itu sepasang alisnya kontan berkerut.

"Baiklah! Loohu akan menuruti perintah dari nona..."

Sang Kwan Cing tertawa dingin, ia segera enjotkan badan dan berlalu dari tempat itu, di tengah kesunyian terdengar gadis itu berkumandang datang dari tempat kejauhan.

"Pek In Hoei, kita berjumpa lagi besok malam..."

Setelah kepergian gadis itu she Sang Kwan itu, si Jago Pedang Berdarah Dingin mulai merasakan hatinya jadi berat, ia tahu bahwa mati hidupnya akan ditentukan di dalam pertemuannya dengan para jago dari wilayah selatan, perlahan-lahan sinar matanya dialihkan ke tengah udara, memandang awan putih yang bergerak di angkasa, tanpa terasa ia menghela napas dan berpikir :

"Demi kebangkitan serta kejayaan partai Thiam cong, terpaksa aku harus melakukan pertaruhan yang terakhir bagi keselamatan jiwaku, peduli bagaimana pun hasil dari pertemuan ini aku harus membuat orang di dalam jagad menyadari bahwa partai Thiam cong sama sekali belum musnah dari dunia persilatan..."

Belum habis dia berpikir, mendadak dari samping kiri terasa segulung angin pukulan yang amat tajam meluncur datang.

Cepat-cepat ia geserkan badannya menghindar lima depa ke samping, kemudian sambil mendengus dingin serunya :

"Hey manusia she Sak, kau adalah seorang manusia rendah!"

Merah padam selembar wajah Sak Toa Bauw, ia tertawa keras dan berseru : "Kau membegal keretaku, menghancurkan nama baik ayahku, dendam sakit hati yang demikian besarnya ini apa tidak pantas kalau kutuntut balas..."

Kiranya sewaktu dijumpai Pek In Hoei sedang mendongak ke angkasa memandang awan, ia menganggap inilah kesempatan yang paling baik baginya untuk melancarkan serangan bokongan, maka tanpa mengucapkan sepatah katapun ia lancarkan sebuah babatan kilat ke muka.

Dalam anggapannya asal babatan tersebut berhasil membinasakan Pek In Hoei maka bukan saja nama besarnya akan menonjol di antara jago muda yang ada di wilayah selatan, bahkan nama besar perkampungan Sak Kee cung pun akan tersiar ke seluruh jagad.

Siapa tahu gerakan tubuh pihak lawan betul-betul amat gesit, belum sampai serangannya mengenai sasaran pihak musuh sudah menghindar ke samping.

"Sak Toa Bauw," teriak Pek In Hoei dengan sinar mata berkilat. "Kau harus merasakan sedikit pelajaran agar tahu lihaynya orang..."

Selama hidup si anak muda ini selalu menghadapi musuhnya secara terang-terangan dan jujur, kini setelah mengetahui bahwa Sak Toa Bauw adalah seorang manusia rendah yang berhati licik, timbul napsu membunuh di dalam hatinya.

Ia segera membentak keras, telapak kanannya laksana kilat diluncurkan ke depan melancarkan sebuah serangan.

"Blaaaam...! Mimpi pun Sak Toa Bauw tidak pernah menyangka kalau serangan dari Pek In Hoei dapat meluncur datang sedemikian cepatnya, air mukanya berubah hebat, buru-buru ia tangkis serangan tadi sedapat mungkin, namun sayang keadaan sudah terlambat, sekujur tubuh Sak Toa Bauw gemetar keras, ia menjerit tertahan dan segera muntah darah segar.

Wajahnya berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, keringat dingin mengucur keluar tiada hentinya. Si Malaikat Berwajah Hitam yang menyaksikan putranya jadi terkesiap, ia segera memburu ke depan sambil berseru :

"Nak, kenapa kau?"

"Aku sudah terluka!" jawab Sak Toa Bauw dengan nada gemetar. Begitu ucapan tersebut selesai diutarakan, kembali ia muntah darah segar, badannya mundur sempoyongan ke belakang dan roboh

tak sadarkan diri di atas tanah.

Si Malaikat Berwajah Hitam segera ulapkan tangannya, dua orang pria buru-buru maju ke depan membopong tubuh Sak Toa Bauw dan segera mengundurkan diri kembali ke belakang.

"Cepat bahwa Sauw ya pulang ke perkampungan untuk beristirahat," perintah Sak Kioe Kong lebih lanjut, "Aku sebentar lagi datang..."

Dengan wajah penuh kegusaran ia segera berpaling, sambil menatap wajah si anak muda itu teriaknya dengan penuh kebencian : "Manusia she Pek, sekali pu n putraku menyerang dirimu dengan cara yang tidak pantas, tetapi tidak seharusnya kau melancarkan serangan keji dengan cara yang begitu kasar. Hmmm! Rupanya sebelum perjanjian besok malam kita harus melangsungkan lebih

dahulu suatu pertarungan sengit!"

"Ia bersalah dan harus menanggung dosanya sendiri!" jawab Pek In Hoei ketus. "Seandainya aku tidak melihat susahnya ia melatih ilmu silat hingga mencapai taraf yang begitu tinggi, huuuh...! Sekali hantam tadi selembar jiwa anjingnya sudah sekalian kucabut..."

Sak Kioe Kong jadi teramat gusar hingga sekujur tubuhnya gemetar keras, ia meraung keras :

"Bangsat! Kau cari mati..."

Tubuhnya laksana kilat menerjang ke depan, sebuah pukulan yang maha dahsyat langsung menghajar tubuh Pek In Hoei.

Tiba-tiba dari tengah udara berkumandang datang suara dengusan rendah, sesosok bayangan hitam bagaikan sukma gentayangan tahu-tahu meluncur masuk ke dalam kalangan dan melancarkan satu serangan ke tubuh Malaikat Berwajah Hitam.

Terdengar Ouw-yang Gong tertawa terbahak-bahak sambil berseru :

"Eeeei... anak monyet cucu kura-kura, sudah kau taruh ke mana kegagahan serta kekerenanmu selama berada di dalam perkampungan Sak Kee cung..." Rupanya kakek konyol ini pernah menderita kerugian besar di tangan Sak Kee Cung maka begitu bertemu dengan musuh lamanya, hawa amarah segera berkobar memenuhi hatinya, segera ia kirim serangan mematikan yang ganas, memaksa Malaikat Berwajah Hitam keteter dan mundur terus ke belakang.

"Hmmm... Hmmm... rupanya kau belum modar?" jengek Sak Kioe Kong sambil tertawa seram.

"Ooooh kentut busuk nenekmu yang tujuh puluh dua kalinya! Cuma andalkan barisan setan semacam itu, kau pikir aku Ouw-yang Gong berhasil dikurung? Huuuh! Anak jadah peliharaan induk anjing, kau mesti tahu aku si huncwee gede bukan manusia gampang diganggu... barusan ketika aku sedang membakar habis perkampungan Sak Kee Cung mu itu para anak murid cucu muridmu pada berteriak memanggil yaya setiap kali bertemu aku..."

Air muka si Malaikat Berwajah Hitam Sak Kioe Kong segera berubah hebat setelah mendengar perkataan itu, hatinya terkejut dan sekujur tubuhnya jadi dingin kaku seakan-akan terjerumus di dalam liang salju.

"Apa?" teriaknya dengan suara gemetar, "Kau telah membakar perkampungan Sak Kee cung..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... apa susahnya membakar sarang tikus macam itu? Sejak dari mulut perkampungan hingga ke pintu belakang aku telah melepaskan puluhan batang obor hingga tikusmu itu bermandikan api, kau si anak jadah entah sudah bersembunyi di mana, aku si huncwee gede sudah setengah harian lamanya menunggu di situ tapi belum nampak juga bayanganmu..." Sepasang mata Sak Kioe Kong segera berubah jadi merah berapi, teriaknya keras-keras :

"Aku akan beradu jiwa dengan dirimu!"

Setelah mengetahui bahwa perkampungan Sak Kee cung-nya dibakar oleh kakek konyol tersebut, orang ini jadi kalap dan nekad, ia membentak keras dan segera menerjang ke muka sambil melepaskan serangan-serangan mematikan.

Rupanya si huncwee gede Ouw-yang Gong ada maksud mempermainkan si Malaikat Berwajah Hitam, melihat ia nekad dan menerjang secara kalap tanpa terasa segera tertawa terbahak-bahak, dengan enteng ia menghindar ke samping dan godanya :

"Hey cucu monyet anak jadah... tubrukanmu ini lebih mirip dengan kucing menangkap tikus... aku lihat lebih baik kau cepat-cepat sipat telinga pulang ke kandangmu, coba periksa dulu apakah anjing tua yang tertinggal di rumah sudah terbakar jadi abu atau masih ada sisa-sisa tulang belulangnya..."

"Bajingan, kau sudah bunuh mati bini tua-ku?... teriak Sak Kioe Kong semakin gusar.

"Huuuh! Setiap anggota perkampungan Sak Kee cung adalah manusia-manusia bejat yang pantas dibunuh, seandainya aku si huncwee gede tidak bermurah hati dan rela melepaskan putra kesayangan yang terluka itu, mungkin sekarang kau sudah kehilangan keturunan. Tapi... begini pun ada baiknya, keluarga Sak toh tidak sampai putus turunan, ayoh kau berterima kasih dulu kepadaku."

Dalam keadaan bingung, sedih bercampur marah, serangan- serangan yang dilancarkan si Malaikat Berwajah Hitam sudah tidak menuruti aturan, sekalipun gencar dan amat dahsyat tetapi terdapat banyak titik kelemahannya. Ouw-yang Gong sendiri tiada maksud untuk beradu jiwa, maka sambil lancarkan serangan untuk memaksa Sak Kioe Kong melindungi keselamatannya ia mengolok-olok lagi musuhnya agar bertambah kalap. Boen Soe-ya yang menyaksikan jalannya pertandingan itu, sepasang alisnya kontan berkerut, teriaknya :

"Sak heng, lebih baik kau mundur lebih dulu!" Sak Kioe Kong mendongak dan tertawa keras.

"Haaaah... haaaah... haaaah... perkampungan Sak Kee cung telah musnah dan kabar ini telah kalian dengar sendiri... hari ini sekalipun loohu harus korbankan selembar jiwaku pun aku harus bergebrak melawan bajingan tua ini..."

"Sak heng, harap kau tenangkan dulu pikiranmu," Cia Toa Hiong dari benteng Kiem See Poo ikut berteriak. "Soal adu jiwa tak usah diributkan sekarang, bagaimana pun toh besok malam kita bakal berjumpa lagi di dalam selat Seng See Kok, aku rasa ia tak bakal lari dari sini..."

Setelah mendengar nasehat dari kiri kanan, akhirnya si Malaikat Berwajah Hitam dengan paksakan diri menahan sedih mengundurkan diri dari tengah kalangan sembari menyeka keringat yang membasahi tubuhnya ia berseru :

"Boen ya, Cia Poocu, coba pikirlah apa yang harus kulakukan sekarang?..."

Boen Soe-ya termenung berpikir sebentar, lalu menjawab : "Lebih baik kita pulang dulu ke perkampungan Sak Kee cung,

seandainya perkampungan itu betul-betul sudah dibakar hingga tinggal tulang yang berserakan, maka besok malam loohu dengan kedudukan sebagai tamu akan memberikan kesaksian di hadapan para enghiong hoohan dari seluruh kolong langit, pada waktu itu... Hmmm... keadilan pasti kita tegakkan..."

Si Malaikat Berwajah Hitam sendiri pun menyadari bahwa kekuatan di pihaknya masih belum sanggup menandingi pihak lawan maka dalam keadaan apa boleh buat ia segera berseru dengan nada benci :

"Ouw-yang Gong, kita tunggu saja sampai waktunya..." Karena ingin cepat-cepat mengetahui keadaan perkampungan Sak Kee cung-nya begitu selesai berkata ia segera putar badan dan berlalu dari situ disusul oleh Boen Soe-ya dan Kiem See Poocu di belakangnya.

Menanti bayangan tubuh ke-tiga orang itu sudah berlalu, Pek In Hoei baru menghembuskan napas panjang sambil mengomel :

"Eeei... ular asap tua, perbuatanmu barusan rada sedikit keterlaluan, masa perkampungan orang kau bakar sampai ludes..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... omong kosong, aku si ular asap tua bukan orang bejat yang suka melakukan perbuatan keji yang merugikan orang lain, siap yang kesudian membakar kandang ayamnya itu??. Cuma... Sak Kioe Kong jadi marah dan licik, maka aku sengaja menakut-nakuti dirinya agar ia jadi marah dan menyumpah-nyumpah..."

"Aaaai... tabiatmu yang suka bergurau dan suka menggoda orang betul-betul bisa bikin kepala orang jadi pusing..." omel pemuda itu sambil tertawa getir.

Ouw-yang Gong tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... watakku memang begini, mau dirubah pun susah sekali..."

"Sudah... sudahlah jangan bergurau lagi, aku dengan pihak partai- partai besar dari wilayah selatan sudah mengadakan perjanjian untuk bertemu muka besok malam, dalam pertemuan kali ini aku rasa lebih banyak bahayanya daripada keberuntungan, kemungkinan besar kau maupun aku bakal terkubur di dasar selat Sak Kioe Kong..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... jangan kuatir... inilah kesempatan yang paling baik bagimu untuk munculkan diri..."

Gelak tertawanya berkumandang hingga mencapai puluhan li jauhnya... tapi Pek In Hoei tetap tertunduk. Apa yang harus ia lakukan besok malam?..."

....... "Taaang...!" suara genta yang nyaring berkumandang memenuhi seluruh selat Seng See Kok yang tersohor akan misteriusnya, Sang Kwan Cing putri kesayangan dari Sang Kwan Im kokcu selat Seng See Kok dengan memimpin empat orang pria berbaju hitam perlahan- lahan munculkan diri dari balik kegelapan.

Dengan sorot mata yang tajam Sang Kwan Cing menyapu sekejap sekeliling tempat itu, kemudian bisiknya :

"Apakah semua wakil dari partai besar telah hadir?"

Bayangan manusia di empat penjuru mulai gaduh dan suara bisiknya mulai berkumandang memecahkan kesunyian, kiranya semua partai yang menerima undangan telah hadir semua kecuali Go Kiam Lam dari partai Boo Liang Tiong.

Terdengar Kiem See Poocu Cia Toa Hiong berseru lantang : "Mumpung sekarang si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In

Hoei belum datang, apakah cuwi sekalian mempunyai sesuatu pendapat?"

Dari gerombolan manusia segera muncul seorang kakek tua berbadan kurus sambil tertawa terbahak-bahak ia berkata :

"Sekalipun di antara perguruan yang ada di wilayah selatan sering terjadi perebutan kekuasaan, tapi belum pernah ada satu partai yang sesumbar hendak mengusir partai yang lain keluar dari wilayah selatan. Pek In Hoei terlalu jumawa dan tak tahu diri, ia berani memandang rendah kita semua bahkan hendak sepak kita semua keluar dari sini... menghadapi manusia macam itu satu-satunya jalan yang dapat kita tempuh hanyalah beradu jiwa dengan dirinya, kalau tidak maka kitalah yang bakal diinjak-injak olehnya..."

Begitu ucapan itu selesai diutarakan keluar, semua orang serentak menyahut hampir berbareng :

"Betul, ucapan dari Han Sim Poocu Kheng Kie sedikit pun tidak salah!"

"Khong Poocu," Sang Kwan Cing segera berkata sambil tertawa ewa, "lalu apakah rencanamu untuk menghadapi Pek In Hoei?" Han Sim Poocu Kheng Kie tertawa seram.

"Loohu bersiap-siap untuk menjagal Pek In Hoei, kemudian memotong-motong tubuhnya jadi beberapa bagian setiap wakil partai yang hadir di sini masing-masing pulang dengan membawa sepotong daging dan digantungkan di depan rumah, agar benda tadi bisa dianggap sebagai peringatan bagi sahabat-sahabat yang hendak memasuki wilayah selatan, barang siapa berani punya maksud untuk mendirikan perguruan baru di sini maka begitulah akhirnya, agar semua jago di dunia mengetahui bahwa orang Bu lim di wilayah selatan bukanlah manusia yang boleh dibuat permainan!"

"Betul, perkataan Khong Poocu memang sangat tepat!"

Itulah suara dari Hek Bin Siuw loo Sak Kioe Kong dari perkampungan Sak Kee cung, perlahan-lahan ia munculkan diri dari gerombolan manusia kemudian ujarnya lagi :

"Khong Poocu, kau memang tidak malu disebut sebagai pemimpin dari suatu daerah, usulmu memang sangat bagus dan loohu yang pertama-tama menyetujuinya, sekalipun kita jarang bergaul rupanya pendapat kita selalu memang searah, setelah pertemuan pada hari ini, aku baru yakin bahwa kecerdikanmu memang luar biasa sekali..."

Disanjung dengan kata-kata yang begitu manis, Han Sim Poocu Kheng Kie merasa amat nyaman sekali, tetapi bagi pendengaran para jago yang lain, ucapan itu terlalu tengik dan memuakkan, beberapa orang segera menunjukkan sikap yang tidak puas.

Sang Kwan Cing tertawa dingin, segera ujarnya :

"Khong Poocu, caramu itu memang bagus tetapi aku rasa terlalu sadis dan kejam..."

"Tidak! Sedikit pun tidak keterlaluan," tukas Sak Kioe Kong cepat sambil gelengkan kepalanya. "Menghadapi manusia macam Pek In Hoei, cara itu aku rasa malah terlalu enteng, kalau mengikuti usulku, loohu ingin sekali menghancurkan badannya hingga remuk jadi abu..." "Tutup mulutmu!" maki gadis she Sang Kwan itu dengan suara ketus. "Aku tidak bertanya kepadamu, harap kau segera mengundurkan diri dari sini..."

Sak Kioe Kong tidak menduga kalau ia bakal disemprot oleh Sang Kwan Cing di hadapan orang banyak tetapi dengan wataknya yang licik berada dalam keadaan yang serba kikuk ia segera tertawa terbahak-bahak dan masuk kembali ke dalam gerombolan manusia.

Tiba-tiba... dari luar selat Seng See Kok berkumandang datang suara derap kaki kuda yang nyaring, suara itu mengalun di tengah angkasa yang gelap dan mengetuk hati setiap jago, air muka orang- orang itu segera berubah jadi tegang.

"Dia sudah datang!" Sang Kwan Cing segera berseru. "Harap kalian semua mengeluarkan tanda kebesaran perguruan kalian masing-masing."

Begitu selesai berkata ia mengeluarkan terlebih dahulu sebuah panji kecil yang bersulamkan huruf 'Seng See Kok' dan ditancapkan ke atas tanah.

Partai lain buru-buru mengeluarkan pula tanda kebesaran mereka dan menancapkan di belakang panji kecil dari selat Seng See Kok tadi. Suara derap kaki kuda kedengaran makin lama semakin nyaring,

di bawah sorot cahaya rembulan tampaklah dua ekor kuda berjalan mendekat, di atas punggung kuda tadi duduklah Pek In Hoei serta Ouw-yang Gong dengan sikap yang agung.

Pek In Hoei masih tetap mengenakan pakaiannya semula, dengan pedang tersoren di punggung dan wajah yang keren ia sapu wajah setiap orang dalam selat itu dengan tajam, lalu tertawa hambar dan menganggukkan kepalanya sebagai tanda menyapa.

Ouw-yang Gong sendiri sambil duduk bersila di atas kudanya, sepasang mata dipejamkan rapat-rapat, huncwee yang berada di dalam genggamannya dihisap berulang kali... sikapnya jumawa dan sama sekali tidak memandang sekejap pun ke arah orang-orang di sekitarnya. "Kalian tentu sudah menunggu lama bukan? Apakah kalian sudah hadir semua?" tegur pemuda itu.

"Semua jago yang punya nama dan kedudukan di wilayah selatan telah berkumpul di sini," jawab Sang Kwan Cing dingin. "Keberanianmu yang besar dan tidak gentar menghadiri pertemuan para enghiong semacam ini, sungguh mengagumkan hati setiap orang..."

"Terima kasih, terima kasih... di sini aku ucapkan banyak terima kasih lebih dahulu atas perhatian dari cuwi sekalian..."

Mendadak sinar matanya berkilat, setelah merandek sejenak ujarnya kembali :

"Di dalam wilayah Lam Ciang yang begitu luas, masa cuma terdiri dari beberapa perguruan belaka?"

Sepasang alis Sang Kwan Cing segera berkerut, ia merasa ucapan dari si anak muda ini terlalu takabur, dengan hati mendongkol segera sahutnya :

"Kecuali partai Boo Liang Tiong semuanya telah menantikan kedatanganmu di sini."

"Hmmm partai Boo Liang Tiong untuk selamanya tetapi akan datang kemari lagi, sebelum aku tiba di sini Go Kiam Lam telah kuusir pergi dari wilayah selatan, seandainya ia tidak berhasil melarikan diri dengan cepat mungkin pada saat ini aku bisa menjumpai kalian sambil membawa batok kepalanya..."

"Apa?" seruan kaget segera berkumandang memenuhi seluruh kalangan, setiap jago yang hadir di situ rata-rata dibikin terkejut dan tidak percaya terhadap apa yang diucapkan oleh Pek In Hoei barusan. Han Sim Poocu Kheng Kie segera loncat keluar dari barisan, 

teriaknya :

"Kau betul-betul seorang manusia yang paling latah di kolong langit. Hmmm...! Kau anggap Go Kiam Lam itu manusia apa? Masa ia merasa jeri terhadap seorang bocah keparat semacam dirimu? Heeeeh... heeeeh... heeeeh... di kolong langit kecuali manusia tolol mungkin tak akan ada orang yang sudi mempercayai omongan setanmu itu..."

Pek In Hoei tertawa hambar :

"Kalian tak usah pusing kepala untuk memikirkan masalah itu, jawaban serta bukti yang nyata dengan cepat akan kalian ketahui, sekarang aku pun tak mau terlalu ribut dengan dirimu, coba sebutkan dahulu kau dari perguruan mana?"