Imam Tanpa Bayangan I Jilid 22

 
Jilid 22

SERANGAN adu jiwa semacam ini tepat merupakan jurus pemecahan dari serangan yang mematikan tersebut, dalam bayangan Sak Toa Bauw kali Ouw-yang Gong kalau tidak mati pasti akan terluka parah, kepalan ditonjol keluar segenap kekuatan yang dimilikinya segera dikerahkan semua.

Siapa tahu kenyataan sama sekali tidak segampang dan sesederhana apa yang dibayangkan dalam benaknya.

Si huncwee gede Ouw-yang Gong bukan saja merupakan seorang ahli silat yang sangat berpengalaman, ia pun seorang jago kawakan. Sewaktu dilihatnya bayangan kepalan disodok mendatang mendadak ia tundukkan kepalanya ke bawah, sedang huncwee gedenya pada saat yang bersamaan bagaikan sebatang pit menyodok ke atas.

Kraaak...! terdengar suara benturan yang amat memekakkan telinga, disusul jeritan ngeri yang menyayatkan hati dari Sak Toa Bauw menggema di angkasa.

Sekujur badannya secara mendadak jadi tegang dan tak bisa berkutik, tidak ampun lagi badannya bergelindingan di atas tanah, sebuah jalan darah penting di atas badannya telah termakan ujung senjata.

Menyaksikan Sak Toa Bauw roboh terjengkang dia tas tanah, seorang pria yang lain di atas kereta serta empat pria kekar bersenjata pedang sama-sama membentak keras, serentak mereka menubruk ke arah Ouw-yang Gong. "Mundur!" tiba-tiba terdengar Sak Toa Bauw membentak gusar, "kalian jangan bergebrak lagi..."

Pria kekar yang duduk di sisi Sak Toa Bauw sewaktu masih berada di atas kereta tadi nampak tertegun ketika mendengar bentakan itu, wajahnya menunjukkan seolah-olah tidak rela tapi apa boleh buat, terpaksa dengan wajah menyeringai seram mengundurkan diri ke tempatnya semula.

"Toako," tegurnya dengan nada tidak paham, "kita mana boleh memalukan serta menjual nama baik ayah?"

"Apa yang bisa kita lakukan lagi?" sahut Sak Toa Bauw sambil tertawa sedih.

Saat itu si ular asap tua Ouw-yang Gong telah menuding ke arah kereta sambil bertanya :

"Barang apa saja yang berada di dalam kereta itu?"

"Apakah kau tak bisa pergi melihat sendiri?" jengek Sak Toa Bauw ketus.

Ouw-yang Gong tertawa dingin, ia segera meloncat naik ke atas kereta dan menggeledah isi kereta tersebut. Tapi kecuali intan permata serta benda-benda berharga lain sama sekali tiada benda istimewa lain yang menyolok mata, maka sambil mendengus serunya :

"Huuuh! Kalau cuma benda macam itu aku tak sudi untuk meraba apalagi memegang..."

Pek In Hoei yang selama ini berdiri di sisi kalangan memperhatikan terus tingkah laku Sak Toa Bauw, ketika dilihatnya sinar mata orang itu mengerling ke sana kemari dengan tidak tenangnya, sang hati jadi tertegun, satu ingatan dengan cepat berkelebat di dalam hatinya.

Perlahan-lahan ia periksa sekujur badan pria itu dengan seksama. Sedikit pun tidak salah, pada bagian pinggang orang she Sak itu nampak menonjol besar, seakan-akan di dalamnya disembunyikan sesuatu barang.

Sambil tertawa dingin segera jengeknya : "Heeeeh... heeeeh... heeeeh... jangan-jangan masih ada benda yang lebih berharga lain disembunyikan di badan saudara, bukankah begitu?"

"Omong kosong!" bentak sb dengan penuh kebencian. "Dengan andalkan nama Hek Bin Siuw loo kenapa aku mesti takut ada orang datang membegal keretaku... aku tak akan berbuat demikian..."

Ouw-yang Gong tertawa sinis, dengan huncwee gedenya ia segera menotok perlahan pinggang orang she Sak itu, suara dentingan nyaring segera terdengar memecahkan kesunyian.

Ouw-yang Gong tarik napas dalam-dalam, satu ingatan secara mendadak berkelebat di dalam benaknya, sesaat kemudian bentaknya nyaring :

"Bawa keluar!"

Air muka Sak Toa Bauw berubah hebat, sorot mata ketakutan memancar keluar dari balik matanya, setelah ragu-ragu sejenak akhirnya sambil menggigit bibir dia ambil keluar sebuah kotak panjang dari pinggangnya.

"Nih, kuberikan kepadamu," serunya, "bagaimana pun juga tak nanti kau bisa mendapatkan benda ini..."

Tampaklah kotak itu terbuat dari kayu dengan ukir-ukiran yang sangat indah, tetapi ada satu hal yang sangat aneh yaitu isi kotak tersebut ternyata enteng sekali seolah-olah sama sekali tak ada isinya. Dengan cepat Ouw-yang Gong membuka kotak tersebut, dari balik kotak mendadak muncul secuil kain yang terpapas oleh pedang, hancuran kain itu begitu terlihat di depan mata, sekujur badan Pek In

Hoei seketika bergetar keras.

Sebab potongan ujung kain tersebut sangat dikenal olehnya.

Kejadian itu untuk selamanya tak akan terlupakan, sebab setiap kali melihat cukilan kain tersebut ia segera teringat kembali akan ayahnya yang mati dalam keadaan mengenaskan. Cukilan kain itu bukan lain adalah potongan dari ujung jubah yang dikenakan ayahnya sewaktu menjumpai peristiwa tragis tersebut... Darah panas segera bergelora dalam hatinya, pandangan mata jadi nanar, tanpa kuasa lagi ia membentak keras :

"Serahkan kepadaku!"

Dengan pandangan tidak mengerti Ouw-yang Gong serahkan potongan kain jubah itu ke tangannya.

Pek In Hoei segera merasakan hatinya jadi kecut, hampir saja titik-titik air mata mengucur keluar membasahi wajahnya. Sambil mencekal robekan kain jubah itu seluruh badannya hampir terasa jadi kaku, ia merasa begitu sedih, pedih dan terharu. Napsu membunuh selapis demi selapis menyelimuti wajahnya, dengan alis berkerut ia berseru :

"Kau..."

Senyuman sadis tersungging di ujung bibir Pek In Hoei, selangkah demi selangkah ia maju mendekati tubuh Sak Toa Bauw, siapa pun tak tahu apa yang hendak ia lakukan. Mereka hanya tahu bahwa si anak muda itu dalam waktu yang amat singkat telah berubah jadi seorang manusia yang lain, berubah jadi begitu sadis dan menyeramkan, lagaknya serta tingkah lakunya yang begitu mengerikan seolah-olah seseorang yang hampir mendekati ajalnya, membuat semua orang diam-diam terkesiap dan bergidik...

"Dari mana kau dapatkan potongan kain jubah ini..." hardiknya dengan sinar mata berapi-api.

Saking terkejutnya sekujur badan Sak Toa Bauw terasa gemetar keras.

"Dari mana aku bisa tahu potongan kain jubah itu berasal dari mana..." sahutnya. "Orang lainlah yang menyerahkan benda itu kepada ayahku..."

"Siapakah orang itu?"

"Memandang dari pelbagai alasan yang kuat, aku tak dapat memberitahukan kepadamu!"

"Hmmmm...!" Ouw-yang Gong mendengus dingin, "Serahkan saja anak monyet cucu kura-kura ini kepadaku, asalkan aku si ular asap tua gunakan sedikit ilmu memisahkan otot merenggang tulang, aku tidak percaya kalau tulang tubuhnya terdiri dari tulang besi otot kawat..."

Mendengar ancaman itu air muka Sak Toa Bauw berubah sangat hebat, teriaknya dengan gusar :

"Kau berani mengapakan diriku?"

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... asl kau suka berterus terang dan mengaku sejujurnya, tentu saja aku si ular asap tua akan melepaskan dirimu..."

"Hmm, tiada perkataan lain yang bisa dibicarakan lagi, aku sama sekali tidak mengetahui tentang persoalan itu..."

Pek In Hoei keluarkan telapak tangannya dan menotok tubuh Sak Toa Bauw satu kali serunya dingin :

"Saking gemas dan bencinya ingin sekali aku membinasakan dirimu pada saat ini juga. Tabokan tersebut anggaplah sebagai satu peringatan, cepat utarakan dari mana asalnya potongan kain jubah ini kepadaku..."

Dengan wajah tanpa berubah Sak Toa Bauw gelengkan kepalanya berulang kali.

"Jawabanku masih tetap seperti semula, sedikit pun aku tidak mengetahui akan persoalan itu..."

"Kau betul-betul seorang manusia tak tahu diri," maki si huncwee gede Ouw-yang Gong dengan gusar. "Mungkin kau masih belum tahu bagaimanakah tindakan aku si ular asap tua untuk menghukum orang..."

Dengan suara rendah ia tertawa seram, jari tangannya segera berkelebat menotok jalan darah di atas tubuh Sak Toa Bauw.

"Huuuh, menghadapi seorang manusia yang tak mampu melawan dengan cara begini rendah, kau terhitung seorang manusia macam apa?" jengek Sak Toa Bauw sambil pejamkan matanya rapat-rapat.

Dengan demikian si ular asap tua Ouw-yang Gong jadi tak berani untuk melanjutkan serangannya, ia melirik sekejap ke arah si Jago Pedang Berdarah Dingin dan untuk sesaat tak tahu apa yang mesti dikerjakan.

Dengan wajah berat dan serius Pek In Hoei masukkan potongan kain jubah itu ke dalam sakunya, Sak Toa Bauw yang menyaksikan kejadian itu jadi cemas bercampur gelisah, mendadak ia meloncat bangun dari atas tanah sambil teriaknya keras-keras :

"Kau tak boleh ambil pergi benda itu!"

"Kenapa?" sahut Pek In Hoei tertegun. "Benda itu adalah potongan kain jubah dari ayahku, kenapa aku tak boleh untuk mengambilnya kembali?..."

Kini sikapnya jauh lebih tenang dan kalem, ia tahu untuk mengetahui siapakah pembunuh besar sebenarnya yang telah membinasakan ayahnya, hanya dari mulut Sak Toa Bauw-lah bisa diketahui, sebab itu ia tak mau bertindak terlalu tergesa-gesa.

"Benda itu adalah titipan dari seorang sahabat," seru Sak Toa Bauw amat gelisah. "Kalau benda lain yang hilang masih mendingan, benda itu sesekali tak boleh lenyap dari tanganku, hey, si Jago Pedang Berdarah Dingin, lebih baik serahkanlah kembali benda itu kepadaku..."

"Maaf seribu kali maaf, aku harus membawanya pergi..." sahut Pek In Hoei ketus.

Sembari berkata ia mengerling sekejap ke arah Ouw-yang Gong si huncwee gede itu, kemudian mereka berdua putar badan dan segera berlalu dari situ.

"Hey, seperginya kalian berdua, aku mesti kemana untuk menemukan kalian..." teriak Sak Toa Bauw gusar.

"Hmmm! mencari aku bukanlah suatu pekerjaan yang sulit, di kota paling depan sana aku bisa berdiam selama beberapa hari..."

Rupanya ia sudah mempunyai rencana lain dalam hatinya, selesai berkata bersama-sama Ouw-yang Gong segera berlalu dari situ.

Menanti mereka sudah berada di suatu tempat yang jauh dari pandangan Sak Toa Bauw, si anak muda itu baru berhenti berlari. Ouw-yang Gong yang tidak habis mengerti apa sebetulnya yang telah terjadi tanpa sadar segera bertanya :

"Bocah cilik, sebetulnya permainan setan apa yang sedang kau perankan???"

"Aku hendak berdiam selama dua tiga hari di tempat ini, ingin kulihat siapakah yang bakal mencari aku untuk merampas kembali potongan kain jubah tersebut," kata Pek In Hoei dengan nada sedih. "Setelah itu aku akan berusaha untuk memancing keluar orang di balik layar itu, bila persoalan telah berkembang jadi begitu maka persoalan yang menyangkut kematian ayahku pun akan kian bertambah cerah dan jelas..."

"Aaaai! Berapakah bagiankah keyakinanmu akan hal ini?" tanya Ouw-yang Gong sambil menghela napas.

Pek In Hoei gelengkan kepalanya berulang kali.

"Apa yang barusan kuucapkan hanyalah suatu pendapat dari apa yang kupikirkan barusan, berapa bagiankah keyakinanku akan hal ini sulit untuk dikatakan. Andaikata jalan ini sukar ditembusi maka aku akan berangkat ke perkampungan Sak Kee-cung untuk bertemu dengan Hek Bin Siuw loo si Malaikat Berwajah Hitam, atau langsung meluruk ke dalam perkampungan Thay Bie San cung dan tanyakan persoalan ini kepada Hoa Pek Tuo pribadi..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... bocah keparat, rupanya kau betul- betul seorang manusia latah yang pernah kujumpai selama ini," seru Ouw-yang Gong sambil tertawa keras. "Hampir seluruh jago lihay yang ada di kolong langit hendak kau jumpai untuk diajak berkelahi, aku bisa mempunyai seorang sahabat macam kau benar-benar patut merasa bangga dan gembira."

"Bagus! Mari kita isi perut dulu..."

Mereka berdua segera menggerakkan tubuhnya dan berkelebat pergi dari situ.

****** Butir hujan yang bulat bagaikan air mata kekasih menetes ke bawah dari awan yang tebal di angkasa, membentur permukaan tanah dan menimbulkan suara rintikan yang nyaring.

Senja yang gelap menyelimuti seluruh jagad, suara air hujan berdenting memecahkan kesunyian yang mencekam dan kabut yang tebal menambah suramnya pemandangan ketika itu...

Di tengah hujan deras setelah lohor ini, jalan raya jadi basah dan becek, tak sesosok bayangan manusia pun yang nampak berlalu lalang, seolah-olah semua pejalan kaki, para pedagang dan para pelancong telah menyembunyikan diri semua di bawah atap rumah takut basah kuyup oleh air hujan.

Di tengah jalan raya yang basah lembab serta becek itu tiba-tiba berkumandang datang suara keleningan yang lirih tapi tajam, kian lama suara keleningan itu kedengaran semakin nyata dan nyaring diikuti nampaklah seorang pemuda berbaju biru dengan menunggang seekor kuda putih yang tinggi besar perlahan-lahan berjalan di tengah amukan hujan.

Dengan pandangan bimbang dan termangu-mangu ia memandang awan hitam di angkasa, membiarkan titik air hujan membasahi wajahnya, butiran air mengikuti bibirnya yang tipis membasahi lidahnya dan menimbulkan perasaan hambar dalam hatinya...

Keleningan yang tergantung di leher kuda bergoyang kian kemari terhembus angin dan berbunyi nyaring di angkasa menandingi irama hujan yang merdu...

Pemuda itu berjalan lambat di tengah hujan yang tak terhitung kecil, kecuali seorang yang pandai mencari kesenangan di tengah hujan, siapa pun tak akan sudi berjalan-jalan pada saat seperti ini kecuali seorang tolol atau orang yang sedang putus asa...

Dia yang berada di tengah hujan dengan membawa pikiran yang jenuh dan berat memandang permukaan jalan yang becek dan berlumpur dengan termangu-mangu, lama sekali ia baru menghela napas panjang.

Suara helaan napas itu tiada berbeda jauh dari keadaan orangnya, begitu murung, kesal dan sedih...

Mendadak... pada ujung bibirnya yang tipis tersungging satu senyuman yang getir... hambar... suatu senyuman di tengah kesunyian kesepian yang mencekam hati, pikiran dalam hati :

"Aku benar-benar seorang yang tolol, masa di tengah hujan begini deras bisa berjalan seorang diri di tengah jalan raya, membiarkan air hujan membasahi seluruh tubuhku, lebih-lebih lagi yang menggelikan secara tiba-tiba aku bisa menyukai titik-titik air hujan yang tertumpah dari langit...

Itulah disebabkan karena butiran air hujan bagaikan air mata seorang kekasih, bagaikan awan yang indah permai secara mendadak kehilangan bidadari yang cantik, bagaikan pula kekasih yang sedang menangisi pacarnya... sedang dia, meskipun dalam benaknya pernah timbul bayangan dari beberapa orang gadis, tetapi persoalan lain yang lebih serius telah membebani hatinya, menekan dia hingga sukar untuk bernapas, itulah dendam sakit hati atas kematian ayahnya serta dendam termusnahnya partai Thiam cong di tangan Boo Liang Tiong...

Kini dendam kematian ayahnya telah menunjukkan titik terang, bagaikan cahaya kilat yang muncul di tengah kegelapan yang mencekam, kilatan cahaya itulah seberkas harapannya, harapan yang bergerak maju sambil meraba asalnya cahaya tersebut...

Tetapi tiga hari telah berlalu dengan cepatnya, jejak Hek Bin Siuw loo belum nampak juga muncul di hadapannya bahkan orang dari perkampungan Sak Kee cung pun tak ada yang nongol... selama ini dengan hati gelisah ia berharap akan kehadiran Malaikat Berwajah Hitam Sak Kioe Kong agar asal usul potongan kain jubah itu cepat diketahui, tetapi ia kecewa, mau tak mau terpaksa ia harus mohon bantuan Ouw-yang Gong untuk memeriksa keadaan yang sebenarnya. Sebatang kara Pek In Hoei berjalan di tengah hujan deras, tanah lumpur yang kuning kecoklat-coklatan telah menodai celananya, ia besut butiran air hujan yang membasahi wajahnya lalu menghela napas panjang.

"Aaaaa...! si huncwee gede sudah berlalu begitu lama, kenapa belum nampak ia kembali? Jangan-jangan ia sudah menemui kesulitan..."

Ingatan tersebut dengan cepatnya berkelebat di dalam benak si anak muda itu, mendadak ia merasa hatinya jadi tegang, satu bayangan hitam memenuhi pandangan matanya, sekilas cahaya redup memancar di atas wajahnya yang tampan membuat sepasang alisnya yang lentik berkerut, senyuman seram tersungging makin nyata...

"Haaaah... haaaah... haaaah... "

Di saat Pek In Hoei masih duduk terpekur sambil melamun itulah, tiba-tiba dari belakang punggungnya berkumandang datang suara gelak tertawa yang amat nyaring, ia terkesiap dan segera berpaling ke belakang.

Tengokan ini seketika menambah rasa ngeri dan seram di dalam hatinya, untuk beberapa saat pemuda itu berdiri menjublak tanpa sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Terlihatlah seorang kakek tua yang rambutnya telah beruban sedang duduk di belakang punggung kuda putihnya, sejak kapan kakek itu menunggang di satu kuda dengan dirinya dan dari mana orang itu muncul Pek In Hoei sama sekali tidak merasa hal ini membuat hatinya tercekat dan segera sadar bahwa tenaga lweekang yang dimiliki kakek tua itu sudah mencapai taraf yang mengerikan.

Saat itu dia hanya bisa berdiri di atas tanah sambil memegang tali les kudanya, apa yang harus dilakukannya? Ia sendiri pun tak mengerti.

Derap kaki kuda makin lambat dan lirih, si kakek yang duduk di atas punggung kuda bergoyang ke sana kemari mengikuti irama kantuknya, suara dengkuran keras berkumandang keluar dari lubang hidungnya, begitu keras bagaikan gulungan ombak di samudra membuat permukaan ikut bergetar dan kuda itu sempoyongan ikut bergetar dan kuda itu sempoyongan hampir saja roboh ke atas tanah... Diam-diam Pek In Hoei merasa terkesiap hatinya, terutama sekali terhadap kedahsyatan serta kesempurnaan tenaga lweekang kakek tua

itu.

Setelah diliriknya sekejap sekujur badan orang tua itu, pemuda kita menjulurkan lidahnya berulang kali dan hampir saja tidak percaya kalau di kolong langit benar-benar terdapat kejadian seaneh itu.

Kiranya di tengah hujan yang demikian derasnya, bukan saja butiran air telah membasahi wajahnya bahkan baju pun telah basah kuyup, tetapi wajah kakek tua itu sama sekali tidak basah, setiap kali ada butiran air hujan hampir mendekati tubuh kakek itu, segera muncullah segulung hawa khie-kang yang menyampok miring butiran air hujan itu hingga mencelat ke samping.

Pemandangan aneh ini bukan saja telah mendemonstrasikan kesempurnaan tenaga dalamnya, bahkan menunjukkan pula atas keberhasilannya untuk menggabungkan tenaga gwa kang dengan tenaga lwee kang.

Bagaikan tertidur nyenyak saja si kakek tua itu tetap pejamkan matanya sambil bergoyang ke kiri kanan mengikuti hembusan angin, mendadak ia berseru :

"Loo Lauw, kenapa kau tidak lanjutkan kembali perjalananmu? Kau suka menuntunkan kuda buat toa loo-ya itu namanya rejeki nomplok bagimu, kalau hatiku lagi gembira mungkin saja akan kucarikan seorang istri yang cantik untukmu, waktu itu... haaah... haaah..."

Pek In Hoei mendengus dingin.

"Hmmm! Kau tak usah berlagak seperti orang mati lagi, kalau ada urusan utarakanlah dengan langsung dan terus terang..."

Masih tetap berlagak ngantuk si kakek tua itu tertawa terkekeh- kekeh. "Heeeeh... heeeeh... heeeeh... bagus, Loo Lauw di hari biasa pelayananmu terhadap loohu tidak jelek, kenapa sekarang main gertak dengan nada begitu kasar? Apakah kau anggap hujan yang turun kali ini terlalu deras maka aku jadi tak bisa pulang? Baik! anggaplah aku sudah sia-sia memelihara dirimu, ini hari akan kutambahi ongkosnya untukmu. Bagus! Entah nenek moyang loohu yang mana kurang luhur budinya sehingga sekarang aku mesti menerima cercaan dan penghinaan dari manusia sebangsa kalian..."

Pek In Hoei dibikin melongo dan termangu-mangu oleh ucapan lawannya itu, ia tahu bahwa si kakek tua tersebut ada maksud mempermainkan dirinya, maka dia pun tertawa dingin, mendadak tali les kudanya disentak ke depan hingga membuat binatang itu kaget dan meringkik panjang, kaki depannya segera terangkat ke atas membuat si kakek yang ada di atas pelana jadi ketakutan dan menjerit keras.

"Loo Lauw! teriak si kakek tua itu dengan suara gemetar. "Rupanya kau sedang mengincar hartaku yaah maka sekarang hendak celakai jiwaku lebih dulu. Eeeei...! kau mesti tahu kalau hari ini kecuali aku memmbawa sedikit uang receh tidak membawa barang apa-apa lagi, mungkin kau sudah salah tafsir..."

"Hmmm! Saudara, lebih baik kurangilah lagak sinting dan edanmu di hadapan aku orang she Pek aku..."

"Apa? Kau orang she Pek?" perlahan-lahan si kakek tua itu membuka matanya dan memandang ke arah depan dengan pandangan tercengang. "Aku masih mengira kalau kau adalah kusir kudaku yang bernama Loo Lauw."

Ia mengucek-ucek matanya lalu menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu, mendadak, sambil menjerit keras teriaknya berkaok-kaok

:

"Aduuuh... celaka... aduuuh... celaka... tidak benar! Kenapa aku bisa duduk di atas pantat kuda tungganganmu ini..."

Pek In Hoei tertawa dingin. "Hmmm... Hmmm... Hmmm... kurangilah sikap konyolmu di hadapanku, kalau tidak jangan salahkan kalau aku tak akan bersikap sungkan-sungkan lagi terhadap dirimu..."

"Pek kongcu, kau jangan salah paham," seru kakek tua itu sambil goyangkan tangannya berulang kali. "Aku toh cuma berkata bahwa secara bagaimana aku bisa berada di atas pantat kuda tungganganmu ini, kapan aku memaki dirimu? Pek Kongcu, berbuatlah baik dan jangan salahkan diriku lagi... Aku toh tidak sengaja..."

Pek In Hoei mengerti bahwa si kakek tua yang berada di hadapan matanya saat ini bukanlah manusia sembarangan, cukup ditinjau dari tenaga lweekangnya yang begitu sempurna sudah cukup menunjukkan bahwa dia adalah seorang musuh yang amat tangguh.

Maka dengan suara dingin segera bentaknya : "Siapakah kau?"

Bentakan itu keras, berat dan penuh dengan tenaga membuat seluruh angkasa bergetar dan mendengung keras, lama sekali pantulan suara itu mengalun di angkasa sebelum akhirnya perlahan-lahan membuyar...

Kakek misterius itu mendongak dan tertawa terbahak-bahak. "Haaaah... haaaah... haaaah... aku si siauw Loo jie tinggal di

dusun Boen Ya Cung dalam bilangan keresidenan Kwan Lok, sebut saja diriku sebagai Boen Soe-ya!"

Terperanjat hati Pek In Hoei sehabis mendengar nama itu, satu ingatan dengan cepat berkelebat di dalam benaknya, ia berpikir :

"Kiranya kau adalah Boen Soe-ya dari Kwan Lok Tit It Kee, tidak aneh kalau tenaga lweekangmu begitu dahsyat dan sempurna, aku toh tak pernah mengikat tali permusuhan dengan keluarga Boen, entah apa maksudnya ia sengaja mencari satroni dengan diriku?"

Ingatan tersebut dengan cepatnya berkelebat di dalam benaknya, dengan suara dingin segera ujarnya :

"Eeei...! Bukankah kau melancong di daerah sekitar Kwan Lok, mau apa kau datangi wilayah Lam Ciang ini?" "Haaaah... haaaah... haaaah... bagus, bagus, nama besar si Jago Pedang Berdarah Dingin sudah tersebar hampir meliputi lima telaga empat samudra, aku si orang tua menyadari bahwa dengan usiamu yang masih begitu muda tapi berhasil memiliki ilmu silat yang demikian lihaynya, hal itu menunjukkan bahwa kau memang seorang manusia aneh yang berbakat alam, ada pun kedatanganku kemari pertama, disebabkan aku merasa gatal tangan dan kedua, ingin tahu sampai di manakah taraf kepandaian sejati yang kau miliki hingga dalam satu tahun yang singkat berhasil mendapatkan nama besar yang demikian tersohornya..."

"Jadi kedatanganmu adalah bermaksud untuk menjajal kepandaianku belaka...?" tegur Pek In Hoei dengan alis berkerut, suaranya dingin lagi ketus.

Boen Soe-ya agak tertegun, kemudian segera jawabnya :

"Tentu saja masih ada satu urusan kecil hendak ajak Pek kongcu untuk berunding..."

"Kenapa mesti mengajak aku untuk berunding? Asal kau sanggup mengalahkan sepasang kepalan cayhe jangan dibilang urusan gampang diselesaikan kendati kau inginkan batok kepalaku juga akan kupersembahkan dengan tangan terbuka..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... ucapanmu terlalu serius, ucapanmu terlalu serius... Pek Kongcu! Masa seberat itu kau ucapkan kata- katamu itu? Kedatangan aku si orang tua kali ini kecuali sedang mewakili seorang sahabat untuk minta kembali benda miliknya aku sih belum ada minat untuk bermusuhan dengan dirimu..."

"Hmmm! Sudah kau tak usah banyak bicara lagi," tukas Pek In Hoei sambil tertawa dingin. "Kalau punya kepandaian rampaslah benda itu dari genggamanku, kalau tidak punya kepandaian lebih baik cepat-cepat enyah dari sini..."

Perkataan yang begitu ketus dan sama sekali tidak memberi muka ini kontan menggusarkan hati Boen Soe-ya, dalam wilayah Kwan Lok ia tersohor sebagai seorang jago yang sangat lihay, semua orang kangouw sama-sama menghormati dirinya sebagai Boen Soe-ya, siapa tahu Pek In Hoei yang masih muda belia ternyata sama sekali tidak memandang sebelah mata pun terhadap dirinya, hal ini dianggapnya sebagai penghinaan.

Sambil tertawa dingin tubuhnya segera melayang ke depan, bagaikan kapas yang enteng ia melayang turun tepat di hadapan si anak muda itu.

"Bajingan cilik yang tekebur, rupanya kau cari modar?" teriaknya keras.

Lengan kanannya diangkat ke atas, dari balik telapak segera memancar keluar segulung hawa pukulan yang sangat hebat.

Pek In Hoei enjotkan badannya melayang mundur lima langkah ke belakang, walaupun gerakannya cepat tak urung tubuhnya sempoyongan juga terdesak oleh dorongan angin pukulan itu.

"Haaaah... haaaah... haaaah... tidak aneh kalau Toa Bauw jatuh kecundang di tanganmu, rupanya kau masih punya simpanan juga..." jengek Boen Soe-ya sambil tertawa tergelak.

Pek In Hoei mendengus dingin.

"Hmmm! Kau si telur busuk tua, kenapa tidak pentang matamu lebar-lebar untuk melihat siapakah aku Pek In Hoei. Huuh...! dengan andalkan kepandaian silat kucing kaki tigamu juga pengin wakili Hek Bin Siuw loo untuk mencari satroni dengan diriku..."

"Hubungan persahabatan Sak Kioe Kong dengan Loohu paling intim, kau berani mencari satroni dengan pihak perkampungan Sak Kee cung berarti pula mencari satroni dengan aku si Boen Soe-ya ini hari apabila aku tak berhasil memberi sedikit pelajaran kepadamu..." Pek In Hoei yang mendengar perkataan itu kontan naik darah, tidak menunggu hingga ucapan lawan selesai diutarakan keluar, pedang sakti penghancur sang surya yang tersoren di pinggangnya segera dicabut keluar, dalam satu getaran enteng muncullah enam buah kuntum bunga pedang yang berkilauan di angkasa, hawa pedang yang dingin menusuk tulang menyebar di seluruh angkasa, getaran yang cepat dan lenyap dalam sekilas pandang itu dengan cepat menggetarkan hati Boen Soe-ya.

"Aaaah pedang bagus," serunya memuji. "Sungguh tak nyana pedang sakti penghancur sang surya bisa muncul di tanganmu..."

Kejadian yang di luar dugaan terlalu banyak di kolong langit," jengek Pek In Hoei sambil tertawa dingin. "Sekarang kau semakin tak pernah mengira kalau aku hendak mencabut jiwa anjingmu, di ujung pedangku tak pernah kuijinkan korbanku berhasil lolos dalam keadaan hidup..."

"Hmm, sewaktu ada di kota Lok Swie loohu pernah menjumpai para jago gagah dari tiga belas keresidenan baik di utara mau pun di selatan, tapi belum pernah kujumpai manusia terkutuk yang pandai membual dan jual bacot besar macam dirimu. Heeeeh... heeeeh... heeeeh... bagus, bagus, sedari munculkan diri belum pernah kutemui tandingan, semoga saja kepandaian silat yang kau miliki jauh lebih ampuh belum kali lipat daripada kepandaianmu bersilat lidah, agar dalam pertarungan nanti tidak sampai mengeewakan hatiku..."

"Kenyataan dengan cepat akan tertera di depan matamu, awas, aku akan mulai turun tangan..."

Ia tarik napas panjang-panjang, di atas wajahnya yang tampan mendadak terlintas selapis hawa dingin yang tebal, Pek In Hoei getarkan pedangnya lurus ke depan, di tengah geletarnya cahaya tajam di ujung pedang segeralah memancar ke seluruh udara.

Selama berkelana di dalam dunia persilatan Boen Soe-ya sudah banyak menjumpai musuh tangguh, tapi belum pernah ia temui seseorang yang sanggup mempergunakan pedangnya hingga sehebat ini, sadarlah jago tua itu bahwa meskipun usia lawan masih muda tapi kepandaiannya luar biasa sekali.

Diam-diam hatinya tercekat, menanti cahaya pedang yang dingin itu sudah meluncur keluar, buru-buru badannya meloncat dan berkelit ke samping. Menggunakan kesempatan di kala tubuhnya meloncat ke samping, Boen Soe-ya segera mengibaskan tangannya dengan menggunakan jurus Menyelam ke atas menyelidiki dasar, segulung angin pukulan yang kuat dengan cepat meluncur keluar dari balik bajunya dan menahan gerak maju si anak muda itu.

Pek In Hoei putar pedangnya sedemikian rupa sambil dengusnya rendah. "Hmmm! Jangan keburu bersenang hati. Nih! Rasakanlah jurus Enam Naga Menelan Matahariku ini!"

Bayangan pedang menyebar luas di seluruh angkasa. Blaaam! Blaaam! Hawa pedang mengalir ke empat penjuru, di tengah bergetarnya bayangan tajam Pek In Hoei membentak keras, pedangnya membabat ke bawah laksana hembusan angin puyuh.

Boen Soe-ya jadi panik, keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, setelah menghembuskan napas panjang ia himpun segenap kekuatan yang dimilikinya ke atas sepasang telapak, lalu laksana kilat dibabat ke depan.

"Haaaah... haaaah... haaaah... rupanya kau cari mati!" jengek Pek In Hoei sambil tertawa dingin.

Ilmu pedangnya sudah berhasil dilatih hingga mencapai kesempurnaan yang bisa digunakan sesuai dengan perasaan hati sendiri, di tengah perputaran ujung pedang membentuk satu lingkaran busur, senjata tajam itu berputar langsung membabat pergelangan tangan Boen Soe-ya.

Si kakek tua itu tak menyangka kalau ilmu pedang musuhnya telah mencapai taraf yang begini sempurna, untuk berkelit sudah tak sempat lagi, dalam keadaan yang kritis dan terdesak ia mendehem berat, tiba-tiba kaki kanannya melancarkan satu tendangan kilat mengancam lambung Pek In Hoei.

Rupanya dalam keadaan kepepet, si kakek tua itu mengambil keputusan untuk melakukan adu jiwa. Sudah tentu Pek In Hoei tak sudi mengiringi kehendak lawannya, dengan cepat badannya mundur ke belakang, ujung pedangnya berputar langsung membabat lengan kanan lawan.

Mendadak... dari luar kalangan berkumandang datang suara gelak tertawa yang amat keras.

"Haaaah... haaaah... haaaah... Soe yang, jangan panik, aku datang membantu dirimu!"

Segumpal tanah lumpur yang basah bercampur dengan dua butir pecahan batu gunung meluncur datang diiringi desiran tajam. Pek In Hoei terperanjat, ia mengira tubuhnya sedang diancam sejenis senjata rahasia yang maha ampuh.

Tergopoh-gopoh badannya berputar kencang, di antara babatan pedangnya ia berkelebat lewat di tengah udara, tahu-tahu tubuhnya sudah lolos dari ancaman senjata rahasia tadi.

"Aaaa. !" sekalipun Boen Soe-ya nyaris lolos dari kematian, tak

urung lengannya robek juga termakan oleh goresan pedang lawan, sambil menutupi mulut lukanya ia segera mengundurkan diri ke belakang.

"Pek In Hoei, kau amat keji..." teriaknya sambil menahan penderitaan.

Pek In Hoei tertawa dingin, sinar matanya perlahan-lahan dialihkan ke arah seorang pria kekar berjenggot hitam dan memakai topi kecil yang berdiri di sisi kakek tua itu, napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya da ia tatap orang tadi tanpa berkedip.

Pria itu terkejut, ia tak mengira kalau sorot mata pihak lawan sedemikian tajam dan dinginnya.

"Siapa kau?" hardik Pek In Hoei dengan suara ketus.

"Haaaah... haaaah... haaaah... tidak berani... tidak berani, cayhe she Cin "

"Hmmm! Kiranya sang Poo cu dari benteng Kiem See Poo, maaf! maaf!" Cia Toa Hiong dari benteng Kiem See Poo segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... Benteng Kiem See Poo selamanya hidup di wilayah Lam ciang tanpa ada minat untuk mencari nama atau berebut kekuasaan di dalam dunia persilatan, tapi baru-baru ini aku dengar dari orang lain yang mengatakan bahwa kedatanganmu kali ini di wilayah Lam Ciang, kecuali hendak membangun kembali partai Thiam cong, kau pun hendak mengusir semua jago yang ada di wilayah Lam Ciang keluar dari daerah ini. Huuuh... belum pernah kudengar ada orang yang berani bicara sesumbar ini, cayhe sebagai salah satu anggota dari para jago di wilayah Lam Ciang, ingin sekali menyaksikan dan minta pelajaran darimu..."

"Oooh, benarkah ada kejadian seperti ini?" seru si anak muda itu melongo.

Ia tak tahu berita sensasi ini berasal dari mana tetapi ucapan yang diutarakan oleh Cia Toa Hiong tak bakal salah lagi, apalagi sengaja dibuat-buat sendiri, sebagai seorang Poo cu dari benteng Kiem See Poo dia pasti tidak bohong, semakin tak mungkin mempercayai ucapan orang lain tanpa disertai oleh dasar alasan yang kuat, hal ini tentu saja sangat membingungkan Pek In Hoei pribadi.

Setelah menghela napas pikirnya di dalam hati :

"Sebetulnya apa yang sudah terjadi? Baru saja aku datang di wilayah Lam Ciang dari aman bisa muncul kejadian seperti ini? Apakah ada orang sengaja hendak merusak nama baikku dan mencari tenaga gabungan para enghiong yang ada di wilayah ini untuk mengusir diriku..."

Dalam pada itu ketika Cia Toa Hiong, Poo cu dari benteng Kiem See Poo menyaksikan Pek In Hoei tetap membungkam dalam seribu bahasa, segera tertawa dingin, jengeknya :

"Saudara, benarkah ada kejadian seperti ini?" "Aku tak tahu!" "Eeei... aneh amat, masa urusanmu sendiri pun tidak tahu," seru Kiem See Poocu setelah tertegun sejenak. "Pek In Hoei, kau bukan seorang bocah cilik lagi, tak mungkin kau bisa melupakan perbuatan yang telah kau lakukan sendiri, penghadanganmu terhadap kereta kawalan Sak Kioe Kong dari perkampungan Sak Kee cung merupakan perbuatanmu yang pertama di wilayah Lam Ciang dan merupakan peringatan pula darimu terhadap para jago di wilayah Lam Ciang..."

"Tutup mulutmu, kau hendak menasehati diriku?" bentak Pek In Hoei dengan gusar.

Air muka Kiem See Poocu Cia Toa Hiong berubah hebat, serunya kembali :

"Walaupun aku Cia Toa Hiong bukan seorang manusia yang tersohor di kolong langit, tetapi wilayah Lam Ciang adalah desa kelahiranku, demi keutuhan wilayahku ini aku rela turun tangan bergebrak lebih dahulu dengan dirimu..."

"Ucapanmu memang terlalu tajam, setajam sikapmu terhadap diriku, bagus, mari kita adu kekuatan..."

Terhadap peristiwa yang muncul secara tiba-tiba ini si anak muda itu tak habis mengerti bagaimana mengatasinya, tapi setelah kejadian berlangsung jadi begini dengan cepat pelbagai ingatan pun dibuang jauh-jauh dari dalam benaknya, pedang segera dihunus dan seluruh perhatiannya dipusatkan ke atas wajah lawan, siap menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.

"Tunggu sebentar!" tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring berkumandang datang.

Dengan wajah yang dingin kaku Boen Soe-ya maju ke depan, tegurnya :

"Pek In Hoei, sungguhkah kau ada niat menjagoi wilayah Lam Ciang..."

Pek In Hoei tertegun dan tidak menjawab.

"Jadi kau sudah mengakui?" seru Boen Soe-ya lagi. Pek In Hoei tarik napas panjang-panjang, ia merasa kemangkelan serta kekesalan yang terhimpun dalam dadanya sukar dilampiaskan keluar, ia tertawa dingin, dengan wajah tanpa menampilkan perasaan ia berkata :

"Di dalam wilayah Lam Ciang ini, aku hanya mempunyai permusuhan yang sedalam lautan dengan pihak Boe Liang Pay, kecuali itu dengan partai lain aku tak mempunyai ganjalan apa-apa, mengenai soal bangkitnya partai Thiam cong, cepat atau lambat hanya tergantung pada waktunya saja, aku tidak ingin disebabkan persoalan Thiam cong Pay hingga menyeret banyak partai di dalam kancah persoalan itu..."

Ucapan yang cukup enak didengar ini dimaksudkan oleh si anak muda itu agar Kiem See Poocu serta Boen Soe-ya mengerti keadaan dan mengundurkan diri, jangan mempercayai berita sensasi yang tersiar di luaran dan hindari pertikaian-pertikaian yang tak berguna, siapa sangka ucapanitu dalam pendengaran Boen Soe-ya serta Cia Toa Hiong bukan saja dianggap sebagai peringatan, mereka malah mengira Pek In Hoei sengaja sedang mengulur waktu...

Kiem See Poocu Cia Toa Hiong segera tertawa kering, serunya : "Hmmm, di saat partai Thiam cong bangkit kembali, mungkin

saja merupakan saat yang paling sial bagi partai lain..." "Hey, apa maksudmu?" tegur Pek In Hoei tertegun.

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... setiap patah kata yang kuucapkan merupakan kenyataan, aku rasa dalam perutmu jauh lebih mengerti daripada pun poocu sendiri!"

"Haaaah... haaaah... haaaah... jadi kalau begitu kau hendak memaksa aku untuk turun tangan juga..."

"Kecuali menempuh melalui jalan ini, pun Poocu rasa tiada cara penyelesaian lain yang lebih baik lagi."

"Baik! Pertama-tama biarlah aku jumpa dahulu Lam Ciang Tit It Toa Poo benteng nomor wahid di wilayah Lam Ciang, Cia Toa Poocu..." Perlahan-lahan dia angkat pedang mestika penghancur sang suryanya ke tengah udara, segulung cahaya pedang segera memancar menghiasi seluruh angkasa.

Kiem See Poocu Cia Toa Hiong terkesiap, dengan tajam tanpa berkedip dia mengawasi semua gerak-gerik Pek In Hoei.

Boen Soe-ya yang berada di samping kalangan tertawa seram dan menimbrung : "Cia Poocu, menghadapi manusia semacam ini kenapa kau mesti berlaku sungkan-sungkan lagi..."

Semula Cia Toa Hiong tertegun, segera ia tertawa dan menyahut

:

"Tepat sekali! Tepat sekali! Perkataan Boen Soe-ya sedikit pun

tidak salah."

Dia pun tidak sungkan-sungkan lagi, dari punggungnya lambat- lambat ia loloskan sepasang senjata roda Jiet Gwat Loen dan salurkan hawa murninya ke dalam senjata roda tadi, mendadak roda Jiet Gwat Loen itu berputar dan menyiarkan suara aneh yang amat nyaring.

Pek In Hoei terkesiap, ia merasakan darah panas dalam dadanya bergolak kencang, suara aneh yang tajam dan melengking itu membuat dia tak sanggup untuk memusatkan seluruh perhatiannya di ujung pedang.

Dalam pada itu Kiem See Poocu Chee Thian Gak telah membongkokkan tubuhnya, sepasang roda berputar membentuk setengah lingkaran di tengah udara, diiringi desiran tajam yang memekakkan telinga dari samping kiri dan kanan ia langsung membabat ke depan.

"Senjata roda Jiet Gwat Loen yang bagus!" bentak Pek In Hoei dengan suara berat.

Dengan mencekal pedangnya ia tetap bersikap tenang, walaupun senjata roda Jiet Gwat Loen adalah senjata berat yang merupakan tandingan dari pedang, tetapi dengan kepandaian ilmu pedangnya yang maha sakti Pek In Hoei sama sekali tidak gentar, ia getarkan lengannya dan ujung pedang laksana kilat meluncur ke depan. Triiiing... letupan bunga api bermuncratan di angkasa, tubuh masing-masing pihak sama-sama tergetar dan mundur dua langkah ke belakang, cepat-cepat Cia Toa Hiong memeriksa senjata rodanya, tapi rasa bergidik seketika menyelimuti hatinya.

Ternyata di dalam bentrokan barusan senjata rodanya telah gumpil satu bagian termakan oleh babatan pedang lawan, menyaksikan senjata kesayangannya menderita cedera, ia jadi kalap, sambil meraung keras tubuhnya segera menubruk ke arah depan.

Boen Soe-ya menyaksikan keadaan rekannya itu, sepasang alisnya langsung berkerut, segera teriaknya :

"Cia Poocu,kau harus tenang dan pikiran jangan sampai kalut!" "Aku harus beradu jiwa dengan bajingan cilik ini," teriak Cia Toa

Hiong penuh kegusaran, "ia sama sekali tidak pandang sebelah mata pun terhadap para enghiong dari wilayah Lam Ciang. Coba lihat! Sikapnya begitu jumawa dan mendongkolkan hati..."

Sembari putar pedangnya Pek In Hoei tertawa dingin, jengeknya

:

"Huuuh...! pikiranmu tidak tenang perasaanmu terpengaruh oleh

angkara murka, kau semakin bukan tandinganku, Cia Toa Poocu! Perkataan dari Boen Soe-ya sedikit pun tidak salah, satu langkah salah bertindak niscaya kau akan menderita kekalahan total, lebih baik tenangkan dulu pikiranmu..."

Hampir saja meledak dada Cia Toa Hiong setelah mendengar ejekan itu, di antara urutan nama para enghiong di wilayah Lam Ciang ia pun termasuk seorang jago terkemuka yang belum pernah dihina dan diejek orang seperti ini, sekarang dalam keadaan gusar yang sukar terkendalikan lagi ia tidak memperhitungkan kelihayannya lagi, sepasang senjata rodanya diputar sedemikian rupa melancarkan serangan-serangan yang mematikan.

Rupanya Pek In Hoei memang ada maksud untuk memancing kegusaran dari jago lihay ini, melihat pihak musuh sudah mulai kalap dan menyerang secara mengawur, ia segera tertawa dingin dan mengejek :

"Bangsat! Tiga jurus lagi Pun Poocu bisa serahkan jiwamu secara sukarela kepadaku..."

Serangannya makin gencar, memaksa Pek In Hoei harus mundur ke belakang berulang kali, pedangnya berputar ke sana kemari memerseni beberapa buah tusukan di tubuh Cia Toa Hiong hingga membuat si jago lihay itu kesakitan dan meraung-raugn gusar tiada hentinya.

Menyaksikan keadaan Kiem See Poocu Cia Toa Hiong, kian lama kian tak mampu untuk bertahan lagi, Boen Soe-ya dengan mulut membungkam dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun segera maju dua langkah ke depan, kepalanya langsung disodokkan ke muka menghantam punggung si anak muda itu.

"Huuuuh! Bajingan yang tak tahu malu..." maki Pek In Hoei sambil putar badannya mengirim satu babatan.

Boen Soe-ya tertawa seram.

"Menghadapi manusia macam kau, kenapa aku mesti menggunakan cara yang bijaksana dan terbuka..."

"Hiiiiaaat...! Menggunakan kesempatan di kala Boen Soe-ya melancarkan satu pukulan, Cia Toa Hiong mempergencar pula serangan sepasang rodanya dari arah kiri dan kanan, melihat dia mendapat bantuan dari rekannya semangatnya segera berkobar, serangan yang dilancarkan pun semakin mantap dan ganas, tidak sekacau dan seburuk tadi lagi.

Dikerubuti oleh dua orang jago lihay, Pek In Hoei merasa tenaga tekanan yang mengimpit tubuhnya makin lama semakin berat, ia sadar bahwa ke-dua orang jago lihay itu secara tidak tahu malu hendak mengerubuti dirinya hingga mampus, dari gusar napsu membunuh yang berkobar dalam benaknya makin menebal, bayangan pedang segera berlapis-lapis, dalam waktu singkat ia sudah kurung ke-dua orang jago lihay itu di dalam lingkaran cahaya pedangnya. Pertarungan ini berlangsung dengan serunya, begitu seru hingga siapa pun tidak merasa bahwa ketika itu ada seorang nona cilik sambil membawa payung kecil perlahan-lahan mendekati kalangan pertempuran itu di bawah hujan yang deras.

Gadis muda itu mengenakan pakaian berwarna hijau dengan sepasang mata memancarkan cahaya dingin,ia berhenti di sisi kalangan dan setelah mengamati jalannya pertarungan itu sambil geleng kepala dan tertawa serunya :

"Hey, kalian jangan bergebrak lagi!"

Suaranya tak begitu keras tapi setiap orang yang ada di kalangan pertempuran cepat menangkap dengan jelas bahkan di antara beningnya suara itu terselip pula suatu kekuatan yang sukar dilawan. Sementara itu keadaan dari Kiem See Poocu serta Boen Soe-ya sudah mendekati setengah kalap, setelah mendengar teriakan tadi sebenarnya mereka ada maksud untuk mengundurkan diri, apa lacur pedang Pek In Hoei membelenggu senjata mereka membuat ke-dua

orang jago itu saking cemasnya hanya bisa berteriak-teriak belaka. "Sungguh besar nyali kalian!" terdengar gadis itu berseru sambil

angkat bahu. "Sampai seruan dari nonamu pun tak sudi dituruti..."

Ia benahi rambutnya yang terurai di depan wajah, kemudian tambahnya lagi dengan nada dingin :

"Cia Toa Hiong! Mengapa kau bekerja sama dengan Boen Soe- ya mengerubuti dia seorang?"

Sekalipun pada waktu itu Kiem See Poocu serta Boen Soe-ya tak sanggup palingkan muka untuk memeriksa siapakah gadis muda itu, tetapi dari seruan serta nada suara gadis itu mereka sadar bahwa dara muda tadi bukanlah seorang manusia sembarangan.