Imam Tanpa Bayangan I Jilid 21

 
Jilid 21

DALAM keadaan apa boleh buat si anak muda itu hanya bisa menghela napas panjang belaka, perlahan-lahan ia loloskan pedang sakti penghancur sang surya yang tersoren di punggungnya.

Setelah menggetarkan ujung pedangnya membentuk enam buah kuntum bunga pedang, Pek In Hoei tertawa dingin dan berkata :

"Sekarang kau boleh segera turun tangan!"

Chee Loo jie membentak keras, ia segera bersiap sedia melancarkan serangan mautnya.

Mendadak Lie Ban Kiam yang berdiri di sisi kalangan meloncat maju ke depan dengan wajah serius ia tarik tangan Chee Loo jie untuk mundur ke belakang kemudian kepada Song Ceng To tanyanya :

"Song Loo toa, kenalkah kau akan pedang mestika tersebut?" Tiba-tiba air muka Song Ceng To berubah hebat, serunya : "Aaaah! Pedang mestika penghancur sang surya... bagus sekali,

Kiong cu, rupanya bukan saja kau membantu orang lain, bahkan membela pula musuh besar dari ibumu. Hmmm! Sungguh tak nyana kau adalah seorang anak yang tidak berbakti..."

"Kau berani bicara mengawur seenaknya sendiri?" bentak Kiong cu dengan gusarnya.

Rupanya perempuan ini merasa teramat gusar setelah mendengar ejekan itu, tapi disebabkan sesuatu alasan tertentu rasa gusar itu masih dipertahankan di dalam dadanya. Setelah tertawa dingin dengan pandangan hambar dan tiada berperasaan apa pun ia mendongak dan memandang atap ruangan tengah itu. Pek In Hoei sendiri ketika menyaksikan sang Kiong cu tidak mengutarakan komentar apa-apa, segera mengetahui bahwa ia bermaksud agar dirinya turun tangan secepat mungkin.

Pada dasarnya dalam hati kecil pemuda ini memang amat mendendam atas ketidakmaluan Song Ceng To, pedangnya segera dilintangkan ke arah depan dan berseru :

"Kalau kau ada maksud untuk bergerak, tiada halangan cabut keluar pedangmu dan mari kita coba..."

Song Ceng To bukanlah seorang manusia yang gampang termakan oleh hasutan, ia tertawa sinis dan menepuk-nepuk bahu Chee Loo jie, katanya lirih :

"Dalam pertarungan babak pertama ini kau harus menyaksikan pahalamu!..."

Chee Loo jie mengangguk di tengah udara, mendadak sambil menciptakan selapis cahaya tajam dari bawah menuju ke arah atas langsung mencukil ke arah tubuh lawan.

Pek In Hoei si Jago Pedang Berdarah Dingin terperanjat juga melihat kepandaian lawan, ia tidak menyangka kalau ilmu pedang yang dimiliki pria itu sedemikian lihaynya, dalam serangan itu hawa pedang memancar ke empat penjuru dan pertama-tama membendung dahulu tiga buah jalan mundur lawannya.

Diam-diam ia mengagumi akan kelihayan musuhnya, hingga tanpa sadar pemuda itu berseru :

"Sebuah jurus To Liong Can Coe membunuh naga menebas mutiara yang sangat lihay!"

Berhubung pertarungan babak pertama ini mempunyai pengaruh yang besar bagi perkembangan selanjutnya maka dengan wajah serius ia menghindarkan diri dari serangan pedang lawan, kemudian dengan gerakan yang tercepat laksana sambaran bayangan secara tiba-tiba mengirim satu tusukan ke depan.

Sekujur badan Chee Loo jie gemetar keras, ia merasa tusukan yang dilancarkan lawannya ini bagaikan tanduk tajam dari kambing gunung, bagaikan pula naga yang membentangkan cakarnya, sedikit pun tak bisa diraba bagian tubuh manakah yang sedang diancam, hatinya bergidik dan di dalam keadaan gelagapan buru-buru ia mengundurkan diri ke belakang...

Sreeet! di tengah desiran hawa pedang yang tajam, pakaian bagian dada dari Chee Loo Jie terbabat hingga robek. Robekan baju berkibar terhembus angin. Dengan wajah merah padam karena jengah ia tertawa keras, ujarnya kepada Song Ceng To.

"Aku telah menyia-nyiakan harapan serta jerih payahmu mendidik dan memelihara diriku, dalam keadan begini aku tiada muka untuk bertemu dengan orang lagi."

Habis berkata pedangnya segera digetarkan dan langsung ditusuk ke arah ulu hati.

Perubahan yang terjadi secara mendadak dan di luar dugaan semua orang ini segera membuat para jago berdiri tercengang, laksana kilat Song Ceng To berkelebat ke depan, dengan cepat ia putar telapak tangannya menghajar rontok ujung pedang yang hampir menembusi ulu hati pria berbaju hitam itu.

"Kenapa kau mesti mengurusi diriku?" ujar Chee Loo Jie dengan nada sedih. "Aku sudah tiada muka untuk hidup lebih lanjut..."

"Heeeh... heeeh... heeeh... hal ii tak dapat salahkan dirimu," seru Song Ceng To sambil tertawa seram. "Kedahsyatan tenaga lweekang yang dimiliki keparat cilik ini jauh di luar perhitunganku, tunggu sajalah kau di situ, biar aku sendiri yang hadapi bajingan ini."

Sementara itu Lie Ban Kiam telah menggetarkan pedang panjangnya, lalu berkata :

"Song Loo toa, biar aku yang minta petunjuk lebih dulu akan kelihayan ilmu pedang penghancur sang surya dari bajingan cilik ini..."

Di dalam urutan jago pedang istana Mo kiong, kedudukan Lie Ban Kiam adalah nomor tiga dari atas. Kecuali tiga jurus ilmu pedang pengejar nyawa dari Kiong cu serta ilmu pedang tanpa bayangan dari keluarga Song, boleh dibilang ilmu pedang Gulungan Ombak dari keluarganyalah termasuk paling dahsyat.

Kini setelah menyaksikan kehebatan ilmu pedang yang dimiliki Pek In Hoei, hatinya jadi bergidik, tanpa mempedulikan kedudukannya lagi ia berebut meloncat keluar ke tengah kalangan.

"Lie Ban Kiam!" ejek Kiong cu sambil tertawa dingin. "Kau hendak mengalahkan dirinya di dalam jurus yang ke berapa..."

"Di dalam sepuluh jurus, aku hendak mencabut selembar jiwa anjingnya di ujung pedangku..."

Pek In Hoei yang mendengar kata sesumbar itu kontan jadi naik pitam, bentaknya :

"Hey, orang takabur! Lebih baik kau jangan bicara yang muluk- muluk tanpa pakai perhitungan, serangkaian ilmu pedang rongsokan yang kau miliki itu belum tentu merupakan ilmu pedang yang tiada tandingan di kolong langit, kalau terlalu banyak bicara hati-hati lidahmu kalau sampai tersambar geledek hingga putus jadi dua bagian..."

Rupanya di dalam hal ilmu pedang Lie Ban Kiam telah berhasil melatih dirinya hingga mencapai pada taraf yang paling sempurna, sindiran serta ejekan-ejekan yang dilontarkan Pek In Hoei sama sekali tidak berhasil memancing reaksi apa pun darinya, bahkan orang itu tetap bersikap tenang seolah-olah tak pernah memikirkan persoalan itu di dalam hati.

"Percuma kalau kau hanya pandai jual omongan dan bersilat lidah melulu, lebih baik kita segera turun tangan..." serunya ketus.

Dalam hati si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei merasa hatinya bergidik, pikirnya :

"Sungguh lihay kakek tua ini, kata-kata ejekanku yang berusaha untuk memanasi hatinya ternyata gagal total. Ditinjau dari sikapnya yang tenang serta sanggup menahan diri dari amukan angkara murka yang berkobar di dalam hatinya jelas di dalam hal tenaga lweekang orang yang bernama Lie Ban Kiam ini jauh lebih lihay beberapa bagian daripada Chee Loo Jie, di dalam bertarung nanti aku harus bersikap lebih hati-hati..."

Ia tarik napas dalam-dalam, sorot matanya berkilat tajam dan menatap wajah lawannya tanpa berkedip, pedang panjang direntangkan ke muka, sekilas cahaya tajam yang amat menyilaukan mata memencar keluar dari ujung senjata tersebut dan menyorot ke seluruh penjuru, gerakan yang lamban dan perlahan itu menunjukkan seolah-olah serangan tersebut dibebani oleh suatu kekuatan yang besar.

Inilah merupakan puncak dari suatu ilmu pedang, semakin lambat gerakan pedang tersebut semakin dahsyat pula akibatnya.

Lie Ban Kiam yang menjumpai keadaan itu, hatinya jadi terkesiap, serunya dengan nada keras :

"Hampir saja aku tertipu oleh akal muslihatmu, rupanya kelihayanmu jauh berada di luar penilaianku semula!"

"Terima kasih atas pujianmu," jawab Pek In Hoei ketus. "Lebih baik kau bersiap-siaplah dengan sempurna, sebab cayhe segera akan turun tangan melancarkan serangan."

Dengan air muka serius dan berat ia maju selangkah ke depan, pergelangan tangannya menggunakan kesempatan di kala menggeserkan sang badan ke depan itulah diayun ke muka mengirim satu babatan pedang, demikian cepat babatan tadi hingga jauh di luar dugaan siapa pun, sekilas berkelebat tahu-tahu ujung senjata telah memantul keluar.

Kelihatannya tusukan kilat ini segera akan menembusi tubuh Lie Ban Kiam, orang-orang yang berada di empat penjuru segera menjerit kaget, dalam perkiraan mereka orang she Lie tersebut kali ini pasti akan menemui ajalnya.

Siapa tahu Lie Ban Kiam segera tertawa dingin, sambil menggerakkan badan bergeser tempat, pedangnya laksana gulungan ombak di tengah sungai langsung membalas ke depan. Orang ini sudah mendalami intisari ilmu pedang, ternyata di dalam sebuah jurus serangannya mengandung tiga buah perubahan, dan di dalam setiap perubahan itu masing-masing mengancam sebuah jalan darah penting di tubuh Pek In Hoei.

Meskipun si Jago Pedang Berdarah Dingin menggunakan senjata mestika penghancur sang surya untuk bergerak melawan musuhnya dan di dalam senjata memperoleh keuntungan, tetapi setelah ia melancarkan beberapa babatan kemudian secara mendadak menemukan bahwa di balik serangan pedang lawan mengandung sesuatu kekuatan daya tekan yang maha besar memancar keluar dari ujung cahaya pedangnya, setiap kali serangan pedangnya bersarang di tubuh lawan selalu saja arah tujuan pedangnya terpukul miring ke samping oleh daya tekanan tersebut, hal ini menunjukkan bahwa kepandaian lawan benar-benar sudah mencapai kesempurnaan.

Saking gelisahnya keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, ia jadi bingung dan tidak habis mengerti bagaimana caranya menghadapi serangan ilmu pedang yang demikian anehnya itu.

Mendadak terdengar Lie Ban Kiam tertawa dingin, kemudian serunya :

"Heeeh... heeeh... heeeh... rupanya jurus ilmu pedang yang kau pahami cuma satu jurus itu saja!"

Dengan ganas dan kuatnya ia mengibaskan sang pedang ke muka membentuk serangkaian lapisan pedang yang kuat, di tengah suara dentingan nyaring mendadak tubuh ke-dua belah berpisah satu sama lainnya, sementara kutungan pedang berserakan di tengah udara.

Sambil mencekal kutungan pedangnya Lie Ban Kiam membentak keras :

"Bajingan cilik, kau sudah pasti harus modar disini!"

Mendadak ia meloncat bangun, kutungan pedangnya dengan menciptakan serentetan cahaya tajam dari atas meluruk ke bawah, dalam waktu singkat tiga puluh enam buah jalan darah penting di seluruh tubuh Pek In Hoei telah terkurung di tengah kilatan cahaya pedangnya.

Sang Kiong cu yang menyaksikan kejadian itu air mukanya berubah hebat, segera bentaknya :

"Lie Ban Kiam! Jurus serangan yang ke berapakah itu?"

"Jurus ke-sepuluh..." sahut Lie Ban Kiam dengan terengah- engah, cepat ia tarik kembali serangannya dan mengundurkan diri ke belakang."

"Hmm..." Kiong cu tertawa dingin, "di dalam jurus 'Im Hoan Yoe Can' atau Mega Mengumpul Hujan Berderai itu kau telah menyembunyikan berapa gerakan?? Huuuh, begitu masih bisa- bisanya mengaku sebagai ahli waris dari keluarga Lie di laut Tang hay yang dapat membinasakan lawannya di dalam satu jurus tiga gerakan..."

Air muka Lie Ban Kiam berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, serunya dengan nada gemetar :

"Kiong cu, rupanya kau ada maksud mendesak loohu agar menemui ajalnya di hadapanmu..."

"Lie jie," sela Song Ceng To sambil tertawa dingin. "Masih ingatkah kau apa tujuan kita datang kemari?"

"Heeeh... heeeh... heeeh. membunuh perempuan rendah ini," sahut Lie Ban Kiam sambil tertawa seram.

"Bagus, sekarang waktunya sudah tiba, kita tak usah menanti lebih jauh lagi. Bagaimana pun juga perempuan rendah serta bajingan cilik ini tak akan lolos dari tangan kita dalam keadaan selamat, peduli amat kita sudah gunakan berapa jurus..."

"Taaaang...! Mendadak di tengah udara berkumandang suara genta yang amat nyaring, suara genta itu bagaikan kendang emas yang mendengung keras membuat seluruh ruangan itu jadi bising dan memekakkan telinga. Dalam waktu yang amat singkat itulah air muka Kiong cu mendadak berubah jadi amat tegang, seolah-olah ia telah menyaksikan suatu peristiwa yang amat menakutkan.

Dengan kencang digengggamnya tangan Pek In Hoei, dan serunya :

"Untuk membasi kaum pengkhianat ini dari muka bumi, terpaksa aku harus meminjam kekuatan dari kongcu..."

"Soal ini... aku pasti akan membantu dirimu dengan segenap tenaga..." sahut Pek In Hoei setelah tertegun sejenak.

Suara genta yang amat memekakkan telinga itu perlahan-lahan lenyap di tengah udara, ruang besar itu seketika terselimut oleh napsu membunuh yang berlapis-lapis. Song Ceng To serta Lie Ban Kiam dengan memimpin para anak buahnya mengurung ruang tengah itu rapat-rapat.

Perlahan-lahan Kiong cu berhasil juga menguasai keadaan, hatinya jadi tenang kembali dan dengan pandangan dingin disapunya sekejap sekeliling tempat itu, kemudian berkata :

"Song Ceng To! Kau anggap orang-orang itu mampu untuk membinasakan diriku?"

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... " kekuatan Kiong cu amat minim dan tiada bantuan lain, andaikata kau ingin meloloskan diri dari tempat ini aku rasa hal itu bukanlah suatu pekerjaan yang gampang!"

Kiong cu mendengus dingin, ia bolang-balingkan pedang tak kenal budinya ke tengah udara dan berseru :

"Kalian boleh mulai turun tangan!"

Si Utusan Peronda Gunung dengan sinar mata berapi-api membentak keras, dari pinggangnya ia loloskan sepasang senjata palunya, kemudian sambil menubruk ke arah Kiong cu serangan gencar dilancarkan bertubi-tubi.

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... manusia pertama yang menghantar kematiannya telah datang..." jengek Kiong cu sambil tertawa. Cahaya pedang yang dingin berkelebat di tengah udara, seketika itu juga terdengarlah suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memenuhi seluruh ruangan. Terlihatlah tubuh si Utusan Peronda Gunung dengan kepala terpisah dari badan menggeletak mati di atas genangan darah.

Serangan dengan jurus pedang yang maha dahsyat ini seketika menggetarkan hati semua orang yang hadir di dalam kalangan, walaupun mereka semua merupakan jago-jago lihay di dalam hal ilmu pedang,tetapi siapa pun tak sempat melihat dengan cara bagaimanakah Kiong cu mereka melancarkan serangannya itu.

Cahaya tajam hanya berkelebat lewat, sang korban sudah roboh binasa tanpa kepala, kepandaian silat yang demikian lihay dan ampuhnya ini benar-benar cukup menggetarkan hati setiap manusia.

Air muka Song Ceng To berubah hebat, tanyanya : "Ilmu pedang apakah yang telah kau gunakan???"

"Gerakan pertama dari tiga jurus ilmu pedang pengejar nyawa..." jawab Kiong cu dengan wajah dingin.

"Apa? Kau benar-benar menguasai ilmu pedang pengejar nyawa?

Hal ini tak mungkin terjadi..."

"Mengejar nyawa tiada bayangan, tiada bayangan menghilangkan gelombang, apakah kau lupa bahwa ilmu pedang aliran Tang hay antara satu keluarga dengan keluarga lain mempunyai kelihayan yang berbeda. Sejak nenek moyang keluarga Song dan keluarga Lie yang lalu secara sukarela takluk di bawah kekuatan keluargaku, sejak itu pula tiga jurus sakti ilmu pedang pengejar nyawa telah menaklukkan kalian semua..."

Lie Ban Kiam ganti sebilah pedang yang baru, lalu berkata : "Song Loo toa, antara kita dengan perempuan rendah ini sudah

tiada persoalan yang bisa dibicarakan lagi. Turunkanlah komando agar semua orang yang hadir di sini meluruk ke depan bersama-sama dan beradu jiwa dengan dirinya, aku tidak percaya kalau ia sanggup menandingi orang dalam jumlah yang begini banyaknya..." "Hmmm! Perhitungan sie poa kalian telah meleset jauh, kalian punya orang apa dianggapnya aku tidak memiliki anggota pasukan yang setia kepadaku sampai mati..."

Pedangnya dengan enteng disentilkan tiga kali di tengah udara, suara pekikan naga yang nyaring segera berkumandang memenuhi seluruh angkasa.

Terdengar suara bentakan nyaring berkumandang datang dari balik horden, dua puluh empat orang gadis yang membawa lampu lentera merah secara serentak munculkan diri dari belakang ruangan, sementara si huncwee gede Ouw-yang Gong sambil membawa senjata andalannya munculkan diri pula sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... Pek In Hoei," tegurnya dengan suara keras, "rupanya kau si keparat cilik belum mati di dalam kereta itu..."

Pek In Hoei si Jago Pedang Berdarah Dingin tersenyum.

"Eeeei kau si ular asap tua, selama ini telah bersembunyi di mana???"

"Aku selama ini bersembunyi di belakang sambil memelihara semangat, seandainya kalian tidak ribut-ribut di tempat ini, mungkin aku si ular asap tua telah menghabiskan sekantong tembakau dari laut Tang hay..."

Dalam pada itu Song Ceng To serta Lie Ban Kiam yang secara tiba-tiba menyaksikan munculnya ke-dua puluh empat dara pembawa lampu lentera merah di tempat itu, air mukanya segera hebat, mereka tak pernah menyangka kalau Kiong cu-nya telah mempersiapkan pula sepasukan tentara jebakan di situ, bahkan barisan Ang Teng Toa tin dari It-boen Pit Giok pun sudah dipindahkan kemari.

"Hmmm! Berada di dalam kepungan barisan lentera merah, kalian masih belum juga mau menyerah..." hardik Kiong cu dengan suara dingin.

"Perempuan lonte, kami akan beradu jiwa dengan kalian!" teriak Song Ceng To dengan penuh kegusaran. Sambil membentak keras ia segera mendahului menubruk ke arah depan sedangkan kawanan pria berbaju hitam lainnya setelah melihat pemimpin mereka mulai melancarkan serangan, mereka pun ikut menyerbu ke depan.

Tetapi ke-dua puluh empat orang dara berlampu lentera merah itu adalah jago-jago perempuan yang dididik langsung oleh It-boen Pit Giok, melihat datangnya serbuan masal itu mereka segera menyebarkan diri ke empat penjuru, barisan Lampu lentera pun dengan cepat sudah tersusun rapi.

Dalam waktu singkat pula Song Ceng To sekalian telah terkepung di dalam barisan lentera merah tersebut.

"Pek Kongcu," bisik Kiong cu kemudian setelah melihat kawanan pengkhianat itu terkepung. "Mari kita berlalu dari sini, ada seorang sahabat sedang menantikan kehadiranmu."

Ia tarik tangan Pek In Hoei dan diajak masuk ke ruang belakang, si huncwee gede Ouw-yang Gong buru-buru menyusul dari belakang. "Bagaimana dengan orang-orang itu???" tanya si anak muda itu

setelah tertegun sejenak.

Kiong cu tersenyum manis.

"Tentang soal ini kau tak usah kuatir, aku hendak menjatuhi hukuman mati kepada mereka semua..."

Jari tangannya dengan ringan memencet sebuah tombol yang berada di atas sebuah kayu, dari dalam ruang tengah secara mendadak terdengar suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian, terlihatlah empat bilah dinding bergoyang kencang, dari tengah udara segera meluncur jatuh sebuah jaring yang amat besar, seluruh jago lihay yang terkurung di dalam barisan dengan cepatnya teringkus semua tanpa seorang pun berhasil meloloskan diri.

"Jaring seribu muka milikku ini adalah sebuah alat rahasia yang sangat istimewa," ujar Kiong cu dengan bangga. "Di atas jaring telah dipolesi dengan racun yang amat keji, barangsiapa yang tertempel oleh racun tersebut maka sekujur badannya akan jadi lemas dan tak bertenaga. Song Ceng To serta Lie Ban Kiam sedari dulu memang ada maksud menentang kekuasaanku, kehadiranmu pada hari ini justru merupakan sumbu yang terbaik untuk meledakkan peristiwa ini. Dan sekarang keadaan sudah beres, mereka sudah cukup dilayani oleh para dayang dari It-boen Pit Giok..."

Bicara sampai di situ ia pun memimpin Pek In Hoei serta Ouw- yang Gong berjalan melewati sebuah serambi panjang masuk ke dalam sebuah bangunan rumah yang megah dan sangat mewah.

Baru saja Pek In Hoei hendak melangkah masuk ke dalam ruangan itu, mendadak ia menyaksikan bayangan punggung seorang gadis sedang menghadap ke arah jendela memandang tempat kejauhan, hatinya jadi bergetar keras dan segera pikirnya :

"Aaaah! Itu toh bayangan punggung dari It-boen Pit Giok, kenapa gadis yang kelihatannya tiada rasa cinta tapi dalam kenyataan ada sesuatu dalam hati kecilnya bisa berada di sini? Ia pernah berkata kepadaku bahwa sepanjang hidupnya ia akan selalu membenci diriku, lebih baik aku tak usah bertemu muka dengan dirinya saja..."

Berpikir sampai di situ dia pun segera ambil keputusan untuk angkat kaki dari situ, badannya buru-buru berputar dan siap meninggalkan tempat itu.

Siapa tahu angin dingin berhembus lewat, It-boen Pit Giok dengan wajah penuh kegusaran telah berdiri tegak menghadang jalan perginya.

"Apakah kau tidak sudi bertemu dengan aku?" teriaknya dengan nada ketus.

"Tidak...! Siapa yang bilang?"

Sekilas rasa sedih dan murung berkelebat lewat di dalam biji matanya yang jeli, kemudian sambil tertawa dingin serunya kembali : "Huuuh! Setiap kali kau selalu berusaha untuk menghindari diriku, kau anggap aku benar-benar tidak tahu siapakah yang sebenarnya kau pikirkan terus? Tentu saja kami gadis-gadis liar dari luar lautan tidak akan sehalus dan setulus hati seperti orang lain yang mempertaruhkan jiwa dan raga untuk mendapatkan obat mujarab guna mengobati sang kekasih tercinta..."

"Eeeei... eeeei... siap yang kau maksudkan?" tanya Pek In Hoei melengak.

Rupanya It-boen Pit Giok merasa amat gusar sekali, dengan wajah berangut serunya kembali :

"Begitu cepat kau telah melupakan orang itu. Hmmm! Itu menandakan bahwa kau adalah seorang laki-laki yang tak berbudi, seorang lelaki tak berperasaan dan berhati kejam, aku ikut menyesal bagi jerih payah Wie Chin Siang, kenapa ia begitu sudi bersikap baik terhadap dirimu..."

Ucapan ini terlalu tajam bagi pendengaran Pek In Hoei, sedikit banyak ia dibikin marah juga mendengar perkataan itu.

"Kau jangan ngaco belo yang tidak keruan di sini..." teriaknya.

******

Bagian 25

PLOOOOK!!

Kehadiran It-boen Pit Giok di tempat itu pada hari tersebut rupanya memang ada maksud untuk menghina dan mempermalukan diri Pek In Hoei si Jago Pedang Berdarah Dingin, mendadak dia ayunkan telapak tangannya dan menghadiahkan tempelengan yang cukup keras ke atas wajah si anak muda she Pek itu.

Pek In Hoei melongo dan berdiri menjublak, ia sama sekali tidak menghindarkan diri dari tabokan tersebut. Ketika telapak lawan bersarang di atas pipinya segera terasalah panas, linu dan sakit, sebuah bekas telapak tangan yang merah dan sebab tertera nyata di ats pipinya yang putih.

"Kau... kau... mengapa kau tidak menghindar..." bisik It-boen Pit Giok kemudian dengan suara gemetar. "Aku dapat mengingat-ingatnya selalu pembalasan yang telah kau lakukan terhadap diriku pada hari ini," kata Pek In Hoei dengan suara yang kaku dan ketus. "Kesombongan serta ketinggian hatimu akan memberikan penderitaan serta sengsara bagi dirimu sendiri, di dalam usiamu selanjutnya kau akan merasa menyesal atas perbuatan yang telah kau lakukan saat ini atas diriku..."

Sebagai seorang pemuda yang sombong dan tinggi hati, setelah ditampar satu kali sikapnya secara mendadak berubah jadi tenang dan sama sekali tiada perasaan apa pun, dengan pandangan tajam ditatapnya wajah It-boen Pit Giok dalam-dalam kemudian sambil tertawa dingin putar badan berlalu dari tempat itu.

"In Hoei..." jerit It-boen Pit Giok sesenggukan. "Aku tidak... tidak..."

"Cukup! Kau tak usah banyak bicara lagi," tukas Pek In Hoei semakin ketus, "aku sudah mengetahui segala-galanya..."

It-boen Pit Giok memburu beberapa langkah ke depan, serunya kembali :

"Apakah kau tidak sudi mendengarkan penjelasanku???? In Hoei!... dengarkan dulu perkataanku..."

Tetapi Pek In Hoei sama sekali tidak menggubris jeritannya lagi, bersama-sama si huncwee gede Ouw-yang Gong tanpa berpaling lagi ia berlalu dari situ.

Memandang bayangan punggungnya yang lenyap dari pandangan, It-boen Pit Giok merasa putus asa dan sedih, rasa murung, kesal dan malu bercampur aduk di dalam hatinya hingga akhirnya ia tak tahan jatuhkan diri ke dalam pelukan Kiong cu dan menangis tersedu-sedu.

Kiong cu menghela napas sedih, bisiknya :

"Toa-moay, kau pun keterlaluan... tidak semestinya kalau sikapmu terlalu kukuh dan keras kepala..."

Dengan penuh kesedihan It-boen Pit Giok angkat kepalanya ke atas titik air mata masih mengembang dalam kelopak matanya. Dengan pandangan kosong dan hampa ia memandang ke pintu luar lalu dengan suara yang sangat rendah dan berat sahutnya :

"Entah apa sebabnya, setiap kali aku berjumpa dengan dirinya timbul rasa benci di dalam hatiku tetapi aku pun merasa rindu kepadanya. Setiap kali aku berjumpa dengan dirinya tak tahan ingin sekali aku menghajar dirinya..."

"Tahukah kau apa sebabnya tindakanmu bisa demikian?" tanya Kiong cu tenang. "Itulah sebabnya kau terlalu mencintai dirinya..."

"Aku mencintai dirinya... aku mencintai dirinya..." gumam It- boen Pit Giok.

.......

Berkuntum-kuntum bunga rontok di atas permukaan air, bergelombang dan bergerak terbawa arus... terombang-ambing dimainkan ombak bagaikan kaum gelandangan yang berkelana ke sana kemari.

Di balik permukaan air yang bergelombang muncul sesosok bayangan manusia yang tinggi ramping, riak ombak yang bergetar kian kemari kian bertambah lebar akhirnya permukaan air tenang kembali seperti sedia kala...

Pluuuung! Sebutir batu disambit ke depan rontok ke dalam air, gelombang kecil kembali muncul di atas permukaan membuyarkan bayangan manusia yang terbias di air dan memecahkan pula lamunan dari si manusia itu sendiri.

Tatkala Pek In Hoei siap menyambitkan batu yang ke-dua, bayangan tubuh It-boen Pit Giok yang ramping kembali terlintas di dalam benaknya, tingkah lakunya yang sombong, sikapnya waktu gusar tertera semua dengan amat jelasnya...

"Aaaaai," Pek In Hoei menghela napas dalam-dalam. "Bagaimana pun juga sulit bagiku untuk menghilangkan bayangan tubuhnya, kadangkala aku merasa bahwa dirinya sama sekali bukan seseorang yang amat penting dalam hati kecilku, tetapi setiap kali aku berada dalam keheningan, berdiri sebatang kara... tanpa sadar bayangan tubuhnya serta potongan raut wajahnya selalu muncul di dalam pandanganku."

Dengan penuh kesepian ia menghela napas panjang, kenangan lama kembali terlintas di dalam benaknya, dalam bayangan saat ini kecuali muncul bayangan tubuh dari It-boen Pit Giok, terlintas pula raut wajah dari Wie Chin Siang serta Hee Siok Peng.

Gadis-gadis yang dikenalinya itu sama-sama berwajah cantik jelita bagaikan bidadari, sama-sama menaruh rasa cinta kepadanya tetapi selama ini ia tak sanggup untuk memilih satu di antaranya, atau jatuh cinta kepada salah satu di antaranya, karena mereka di dalam hatinya mempunyai kedudukan yang sama dan sederajat...

"Hmmm!" dengusan rendah si ular asap tua Ouw-yang Gong memecahkan kesunyian yang mencekam seluruh jagad. Ia loncat menghampiri si anak muda itu lalu sambil menggerogoti ayam goreng yang berada dalam cekalannya kakek konyol itu berkata :

"Ada makanan lezat tiada arak, kejadian ini benar-benar merupakan suatu kekurangan yang tak sedap dipandang..."

Pek In Hoei mengerti bahwa si ular asap tua ini kecuali selama hidupnya bersikap gila dan ugal-ugalan, ia adalah seorang kakek yang berhati jujur dan setia kawan.

Menyaksikan tingkah lakunya yang konyol itu tak tahan lagi ia tertawa geli, serunya :

"Di tengah gunung yang gersang dan jauh dari keramaian dunia, dari mana datangnya bau arak? Hey, si ular asap tua, jangan-jangan kau menyembunyikan arak di sini..."

Ouw-yang Gong tertawa terkekeh-kekeh.

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... hey kucing rakus, tajam amat penciumanmu, kau memang pandai menerka serta menantikan kenikmatan datang dengan sendirinya..."

Dari punggungnya ia ambil keluar sebuah cupu-cupu arak yang besar lalu diangkat ke tengah udara, mendadak wajah berubah hebat, dengan termangu-mangu ia berdiri kaku di tempat semula sambil memandang ke arah cupu arak itu tanpa berkedip.

Bukan saja Ouw-yang Gong berdiri menjublak sampai Pek In Hoei sendiri pun dibuat berdiri terbodoh-bodoh, sebab ujung cupu- cupu arak entah sudah ditimpuk dengan benda apa, saat itu telah berlubang dan isi araknya telah bocor keluar semua, saat ini hanya tinggal sebuah cupu-cupu arak kosong belaka.

"Hey, ular asap tua!" seru Pek In Hoei setelah tertegun beberapa saat lamanya. "Sungguh lihay selembar mulutmu, seutas ususmu langsung berhubungan dengan pantat sampai aku pun kau ajak bergurau, araknya sudah kau minum sampai habis, begitu masih bisa- bisanya sengaja menawari diriku..."

"Eeeeei... nanti dulu," teriak si ular asap tua dengan panik, tangannya digoyangkan berulang kali. "Kau jangan berbalik memaki diriku yang bukan-bukan, aku ular asap tua angkat sumpah di hadapanmu bahwa aku tak pernah mengajak kau bergurau..."

"Lalu apa yang sudah terjadi?" tanya Pek In Hoei dengan nada tidak percaya.

Ouw-yang Gong berpikir sebentar, kemudian menjawab :

"Ini hari kita telah berjumpa dengan seorang tokoh silat yang sangat lihay..."

Sinar mata Pek In Hoei dengan cepat menyapu sekejap sekeliling tempat itu, namun tak sesosok bayangan manusia pun yang nampak, dengan pikiran tak habis mengerti segera tegurnya :

"Kau tak usah jual mahal lagi di hadapanku, sebenarnya apa yang telah terjadi?"

"Hmmmm! rupanya manusia-manusia itulah yang ajak aku bergurau... hati-hati saja nanti aku Ouw-yang Gong bisa kasih satu pelajaran yang keras agar mereka tahu bahwa aku si ular asap tua bukanlah seorang kakek peot yang gampang dipermalukan..."

Agaknya si kakek konyol ini merasa amat gusar sekali. Sambil menggerutu tiada hentinya ia segera tarik Pek In Hoei untuk mengajak lari meninggalkan tempat itu, sepanjang perjalanan mereka berlari dengan kencangnya, hal ini semakin membingungkan hati si anak muda itu.

Namun sepanjang perjalanan tak sesosok bayangan manusia pun yang nampak, makin dipikir si Jago Pedang Berdarah Dingin ini merasa keadaan semakin tak beres, karena tak kuat menahan diri lagi ia segera menegur :

"Hey ular asap tua, sebenarnya kau ingin berbuat apa?"

Saking mendongkolnya Ouw-yang Gong berkaok-kaok keras, teriaknya :

"Tadi sewaktu aku pergi membeli barang di depan perkampungan telah bertemu dengan serombongan manusia yang menghantar hadiah, cupu-cupu arak ini pastilah manusia-manusia itu yang menyambitnya sampai pecah..."

Sementara ia sedang berbicara sampai di situ dari depan tampaklah debu mengepul membumbung tinggi ke angkasa dan muncul empat ekor kuda besar di belakangnya mengikuti sebuah kereta besar yang diatasnya ditancapi sebuah panji kecil berwarna kuning, dua orang pria berpotongan wajah panjang duduk di atas kereta dengan keren dan gagahnya.

"Dari manakah datangnya orang-orang itu?" bisik Pek In Hoei dengan nada lirih.

"Hmmm bangsat anak jadah, dialah anak-anak dari Sak Kioe Kong..."

Rupanya ia sangat membenci orang-orang itu, selesai berkata tubuhnya segera menerjang ke arah empat orang penunggang kuda yang berada di paling depan.

Menyaksikan datangnya terjangan itu, ke-empat orang pria tersebut segera membentak nyaring, dengan cepat mereka tarik tali les kudanya dan berhenti berjalan.

Salah seorang di antaranya segera membentak dengan suara keras

: "Kakek peot sialan! Buta rupanya sepasang matamu, apakah kau tidak melihat jelas panji tersebut adalah panji kebesaran dari Hak Bin Siuw Loo si Malaikat Berwajah Hitam Sak Kioe Kong..."

"Telur busuk milik nenekmu! maki Ouw-yang Gong sambil ayunkan sepasang telapaknya ke tengah udara. "Peduli amat panji bobrok itu milik cucu monyet anak jadah siapa..."

Termakan oleh angin pukulan yang keras, ekor kuda itu terkejut dan segera meringkik panjang, sepasang kaki mereka diangkat tinggi- tinggi melemparkan ke-empat orang penunggangnya ke atas tanah.

"Hoooore... bagus... bagus..." teriak Ouw-yang Gong sambil bertepuk tangan. "Haaaah... haaaah... haaaah... inilah yang dinamakan gerakan empat kaki menghadap langit..."

Sementara ia masih berteriak-teriak dengan penuh kegembiraan, mendadak dari atas kereta itu meluncur datang sesosok bayangan manusia, sambil tertawa dingin ia mengirim satu pukulan dahsyat langsung menghantam tubuh Ouw-yang Gong.

Blaaaaam!... Dalam keadaan gugup dan tergopoh-gopoh Ouw- yang Gong segera ayunkan pula sebuah pukulan untuk menyambut datangnya serangan tersebut, sepasang telapak saling beradu hingga menimbulkan suara ledakan dahsyat.

Di tengah bentrokan keras itulah tubuh ke-dua belah pihak sama- sama bergetar keras dan tak tahan masing-masing tergetar mundur satu langkah ke belakang.

Orang yang barusan melancarkan serangan ini mempunyai potongan wajah yang bengis dan seram, wajahnya persegi panjang dengan sepasang alis yang tebal dan bibir yang amat tipis, potongan macam itu memuakkan sekali bagi penglihatan siapa pun.

Sementara itu sambil tertawa seram sorot matanya dengan tajam dan melotot besar sedang menatap wajah si kakek konyol itu tanpa berkedip. "Hebat! Hebat!" serunya dengan wajah kaku. "Kau dapat menyambut datangnya sebuah pukulanku, itu menandakan kalau kau pun termasuk manusia yang tidak gampang!"

"Ciisss..." dengan pandangan menghina si ular asap tua Ouw- yang Gong meludah ke atas tanah. "Setan busuk, apanya yang hebat dengan pukulanmu itu? Kalau punya nyali ayoh kirimlah beberapa buah pukulan lagi untuk dicoba, tanggung kau bakal pulang dengan merangkak..."

Pria itu tertawa dingin, serunya dengan wajah serius :

"Kau jangan anggap pukulan dari aku Sak Toa Bauw adalah suatu perkara yang enteng, tempo dulu sewaktu aku bergebrak melawan para enghiong dari Kwan Lok, tiada seorang pun yang betul-betul sanggup menerima sebuah pukulanku..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... tidak aneh kalau kau pandai mengibul dan omong gede, rupanya kau bernama Toa Bauw si Meriam Gede..." ejek Ouw-yang Gong sambil tertawa terpingkal- pingkal. "Aku si ular asap tua kecuali sepanjang hidupnya suka menghisap tembakau huncwee, aku pun suka pula mengibul dan ngomong bus-busan seperti kentut busuk makmu. Eeeei... anak kura- kura cucu jadah, apakah kau pengin adu kelihayan di dalam berbus- busan macam kentut busuk makmu dengan aku si orang tua..."

Dalam bersilat lidah ia memang di atas angin, di satu pihak merasa kegirangan di pihak lain Sak Toa Bauw jadi mencak-mencak saking dongkol dan marahnya.

"Heeei... eeeei... jangan mencak-mencak... jangan loncat-loncat," kembali Ouw-yang Gong berseru sambil goyangkan tangannya berulang kali. "Kalau mencak terus takutnya kau bisa mencret... dan ampas baumu bisa menyembur keluar seperti tembakan meriam.."

"Keparat tua!" bentak Sak Toa Bauw teramat gusar. "Kau... kau... rupanya pengin modar!"

Ia benar-benar tidak bisa menahan diri lagi atas ejekan serta sindiran Ouw-yang Gong yang tajam serta amat menusuk pendengaran itu, pria itu meraung keras sambil ayunkan telapaknya sang badan segera menubruk ke arah depan dan menyerang Ouw- yang Gong habis-habisan.

Jangan dilihat Sak Toa Bauw sudah naik darah hingga kepalanya nanar, waktu bertempur ia sama sekali tidak kelihatan tolol atau bodoh. Telapak kirinya berputar di tengah udara membentuk satu lingkaran busur, di tengah kecepatan terkandung desiran tajam, di tengah perubahan terselip gerakan aneh membuat si ular asap tua Ouw-yang Gong tidak berhasil mendapat keuntungan apa pun.

Secara beruntun Ouw-yang Gong melancarkan tiga buah serangan berantai, lalu sambil tertawa terbahak-bahak katanya :

"Eeei anak kura-kura cucu monyet, kau adalah pungutan ibu yang mana..."

Sak Toa Bauw yang dimaki nampak tertegun menanti ia berhasil memahami apa yang dimaksudkan, saking gusar dan dongkolnya hampir saja ia muntah darah segar, sekujur badannya gemetar keras dan rambutnya pada berdiri kaku laksana landak.

Dengan langkah lebar ia maju ke depan, telapak tangannya diayun menyongsong ke hadapan tubuh lawan, hardiknya keras-keras

:

"Kau si kakek tua celaka, aku Sak Toa Bauw akan beradu jiwa dengan dirimu..."

"Blaaam... Blaaam... Blaaam..." secara beruntun terdengar tiga kali suara bentrokan keras, tubuh ke-dua orang itu sama-sama tergetar mundur ke belakang.

Rupanya tenaga lweekang yang dimiliki ke-dua belah pihak adalah seimbang, hingga di dalam bentrokan barusan siapa pun tidak berhasil mendapatkan keuntungan apa-apa.

Pek In Hoei yang menyaksikan kejadian itu, sepasang alisnya kontan berkerut, serunya :

"Hey ular asap tua, serahkan saja persoalan ini kepadaku... biar aku saja yang bereskan..." "Tidak bisa jadi," sahut Ouw-yang Gong dengan mata mendelik. "Keparat cilik ini telah menyambit lubang cupu-cupu arakku, aku hendak petik batok kepalanya sebagai ganti cawan arak, ini hari juga aku tak akan mengampuni dirinya..."

"Apa kau bilang?" balas Sak Toa Bauw marah-marah. "Kau telah mencuri arak kami, sekarang masih punya muka untuk mencari gara- gara dengan kami..."

Sembari berkata matanya melirik sekejap ke arah Pek In Hoei, ketika dilihatnya si anak muda bergaya seorang sastrawan yang sedang berpesiaran, maka ia telah salah menduga Ouw-yang Gong sebagai pelayannya.

Maka dengan suara lantang serunya kembali :

"Kau si anak muda kelihatannya tidak mirip dengan seorang pembegal yang kerjanya merampok kereta, kenapa suruh seorang kakek tua celaka macam ini untuk bikin gara-gara? Apakah dalam sesuatu hal keluarga Sak kami telah menyalahi diri saudara..."

"Perkataanmu terlalu tak enak didengar dalam telinga, cayhe Pek In Hoei bukanlah manusia sebangsa itu..." sahut si anak muda itu sambil tertawa.

Si huncwee gede Ouw-yang Gong pun tertawa keras, sambungnya :

"Bagus sekali! Hey Sak Toa Bauw kau si anak monyet cucu kura- kura... berani benar kau menuduh kami hendak membegal barang di dalam keretamu. Hmmmm! Ini hari aku Ouw-yang Gong pengin lihat sebetulnya Sak Kioe Kong mempunyai barang berharga apa sih hingga begitu berharga bagi kami untuk turun tangan..."

Dengan pandangan dingin Sak Toa Bauw melirik sekejap ke arah si huncwee gede Ouw-yang Gong, lalu tertawa hina, sinar matanya perlahan-lahan dialihkan ke arah tubuh si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei, kemudian ujarnya dingin :

"Kiranya kau adlaah si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei, seorang jago muda yang baru saja munculkan diri di dalam dunia persilatan, tidak aneh kalau dalam pandanganmu sama sekali tidak memandang sebelah mata pun kepada orang lain. Hmmm!... bila orang kangouw mengetahui bahwa manusia yang bernama Pek In Hoei sebetulnya bukan lain adalah seorang pembegal yang suka merampok kereta, mungkin kawan-kawan Bu lim akan tertawa terkekeh-kekeh hingga giginya pada rontok semua..."

"Kau berani menghina aku?" teriak Pek In Hoei dengan air muka berubah hebat.

"Haaaah... haaaah... haaaah... coba lihat, kau sudah takut. Hmmm! Apakah kejadian ini bukan merupakan suatu kenyataan..."

Si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei jadi naik pitam, ia siap maju ke depan untuk memberi pelajaran kepada Sak Toa Bauw. Tetapi sebelum ia sempat maju ke muka, si ular asap tua Ouw- yang Gong telah berkelebat ke hadapannya dan melarang dia untuk

turun tangan sendiri

"Serahkan saja persoalan ini kepada aku si ular asap tua," serunya sambil tertawa. "Aku tanggung Sak Kioe Kong sendiri pun tak akan mampu mengapa-apakan seujung rambut aku si Ouw-yang Gong. Huuuh...! Sak Kioe Kong itu manusia apa? Nama besarnya cuma kosong belaka, dalam dunia persilatan ia telah menipu nama, menipu kedudukan selama banyak tahun, sekarang sudah tiba masanya untuk keok dan jatuh kecundang di tanganku..."

"Jadi kalian sengaja datang untuk mencari gara-gara dengan diriku?..." teriak Sak Toa Bauw marah-marah.

"Itu sih tidak! Meskipun aku si Ouw-yang Gong kalau bekerja agak menuruti suara hati sendiri, itu pun ada batas-batasnya. Asal orang lain tidak mengganggu diriku, aku pun tidak akan mengganggu orang lain, sebaliknya si tua bangkamu itu bukan saja telah mencuri nama dan jabatan bahkan menghirup darah segar dari orang-orang Bu lim, karena itu aku hendak memberi sedikit peringatan kepadamu..."

"Sejak kapan kami orang-orang dari perkampungan Sak Kee Cung menyalahi dirimu? Selama banyak tahun Hek Bin Siuw loo tak pernah menjumpai kejadian apa pun di tempat ini, sungguh tak nyana di dalam perjalanan kami hendak mengirim hadiah telah bertemu dengan kalian... Hmm! Andaikata ayahku sampai mengetahui akan kejadian ini, mungkin persoalan tidak akan beres dengan gampang..." "Sudahlah, lebih baik kau tak usah menggotong keluar nama tua bangkamu untuk menggertak orang," seru Ouw-yang Gong sambil ayunkan huncwee gedenya. "Cerminlah dahulu manusia macam apakah dirimu itu, pantas atau tidak untuk meniup terompet dan

berlagak sok di tempat ini..."

Seolah-olah secara mendadak teringat akan sesuatu, si kakek konyol itu bertanya lebih jauh :

"Toa Bauw, barang-barang itu hendak kau kirim ke mana?" Dengan bangga Sak Toa Bauw tertawa keras :

"Kalau telah kuucapkan harap kalian jangan ketakutan hingga jantung pun rontok, barang-barang ini hendak kami hantar ke perkampungan Thay Bie San cung untuk dihadiahkan kepada Hoa Pek Tuo. Setelah kau tahu kalau barang-barang ini milik Hoa Pek Tuo, aku percaya kau tidak akan berani mempunyai ingatan untuk membegal kereta ini lagi..."

Dalam anggapannya setelah ia mengucapkan kata-kata tersebut, si huncwee gede Ouw-yang Gong pasti akan ngeloyor pergi karena ketakutan. Siapa tahu si kakek konyol itu bukan saja tidak jeri, sebaliknya malah mendongak dan tertawa terbahak-bahak, sekilas pandangan hina dan sinis terlintas di atas wajahnya.

"Haaaah... haaaah... haaaah... barang-barang yang dihadiahkan untuk Hoa Pek Tuo, tentu tidak akan jelek!" serunya.

Bagaikan sedang mengigau, kembali ia bergumam seorang diri : "Berharga... berharga... pekerjaanku kali ini memang sangat

berharga..."

Dalam pada itu Pek In Hoei yang mendengar perkataan itu air mukanya segera membeku sementara hatinya bergetar keras, pikirnya

: "Kenapa si Hek Bin Siauw loo Malaikat Berwajah Hitam Sak Kioe Kong memberi hadiah kepada Hoa Pek Tuo? Sebagai seorang tokoh sakti nomor wahid di kolong langit, Hoa Pek Tuo tak akan pandang sebelah mata pun terhadap benda-benda biasa! Entah barang apa yang dimuat di dalam kereta besarnya itu?"

Berpikir sampai di situ, ia segera mengejek dingin, serunya : "Ular Asap Tua, kau ringkus dahulu bangsat ini..."

Si huncwee gede Ouw-yang Gong sendiri juga tertarik hatinya oleh ucapan lawannya, mendengar perintah dari si anak muda itu senjata huncwee gedenya segera diputar di tengah udara hingga membentuk berpuluh-puluh bayangan huncwee, di tengah gelak tertawa yang nyaring sang badan maju mendesak ke depan, bayangan huncwee dengan sebuah gerakan yang sangat aneh langsung menotok ke atas tubuh Sak Toa Bauw.

Majikan muda dari perkampungan Sak Kee-cung ini tak mengira kalau serangan yang dilancarkan Ouw-yang Gong tiba begitu cepat, dalam jarak demikian dekat tak mungkin lagi baginya untuk berkelit maupun menghindar, terpaksa dari telapak berubah jadi kepalan, pada saat yang paling akhir ia jotos jalan dari Tay yang hiat di atas kening Ouw-yang Gong.