Imam Tanpa Bayangan I Jilid 20

 
Jilid 20

"WALAUPUN alasanmu sangat sempurna dan masuk di akal tapi sayang kau telah melupakan satu hal yang penting, peraturanku bersekongkol dengan musuh luar itu hanya khusus ditujukan kepada anak murid yang masuk menjadi anggota istana kami, dan tak pernah memberi ijin kepadamu untuk menghadapi para dayang dari istana. Apakah kau lupa bahwa para dayang yang bertugas di dalam istana hanya pun Kiong cu sendiri yang berhak untuk menghukumnya? Dan sekarang kau berani mewakili kekuasaanku, bukankah hal itu sama artinya tidak pandang sebelah mata pun terhadap Poen Kiong cu. "

Air muka si Utusan Peronda Gunung berubah hebat.

"Walaupun dia adalah dayang istana tetapi dia pun merupakan utusan yang mengendalikan Kereta Kencana Pembawa Maut, dus berarti menurut peraturan dia pun termasuk anak murid istana Mo King "

"Hmmm! Berani mempertahankan alasan yang tak masuk di akal cukup dengan alasan ini kau bisa dijatuhi hukuman mati "

Rupanya si Utusan Peronda Gunung menyadari bahwa untuk melanjutkan hidupnya bukanlah suatu pekerjaan yang gampang, ia segera tertawa kering. Mendadak dengan wajah angkuh dan sedikit pun tidak menunjukkan rasa jeri jengeknya :

"Kiong cu, rupa-rupanya kau sangat membelai dayang itu. "

"Kau tak usah banyak bicara lagi," tukas sang Kiong cu dengan air muka berubah hebat. "Asal kau sanggup mempertahankan diri dari ke-tiga jurus pedang  pengejarnya maka tentu  saja sesuai dengan peraturan aku bisa memberikan satu jalan kehidupan bagimu. Tetapi kalau kau memang menganggap bahwa dirimu masih mempunyai kesempatan untuk membela diri, tiada halangan bagimu untuk mencari bantuan dari Song Ceng To serta Lie Ban Kiam... Poen Kiong cu akan memberi waktu tiga jam kepadamu!"

"Baik!" sahut si Utusan Peronda Gunung ketus. "Hamba segera akan mencari Song toako serta Lie jie ko. Hmmm!... sampai waktunya Kiong cu tidak akan seenteng dan sesombong seperti sekarang..."

Rupanya ia sudah mempunyai rencana yang masak dalam benaknya, begitu selesai berkata badannya segera berputar dan berlalu dari situ, ketika lewat di hadapan si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei, tiba-tiba ia melotot sekejap ke arahnya dengan penuh kebencian, ancamnya :

"Bajingan cilik, urusan di antara kita belum selesai, nantikanlah saat kematianmu..."

Si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei tertawa dingin. "Bagus, kalau memang kau masih ada kegembiraan untuk

bertarung, cayhe tentu akan melayani dirimu untuk ukur kekuatan..." "Bajingan cilik, sebelum ajalku tiba aku pasti akan mencari seorang teman untuk mengiringi keberangkatanku... nanti orang

pertama yang akan kucari adalah dirimu."

Meskipun di mulut ia berbicara terus tapi langkah kakinya sama sekali tak berhenti, bahkan berlalu semakin cepat lagi hingga dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

Menanti bayangan tubuh si Utusan Peronda Gunung sudah tak nampak lagi, sang Kiong cu baru menoleh dan melotot sekejap ke arah Coei Coei, katanya :

"Andaikata aku tidak tiba di sini dengan cepat, niscaya kau sudah menemui ajalnya di tangan orang itu."

Terhadap masalah mati hidupnya ternyata Coei Coei tidak menaruh perhatian atau pun rasa kuatir barang sedikit pun juga, sepeninggalnya si Utusan Peronda Gunung mendadak wajahnya berubah jadi amat murung dengan nada gelisah katanya :

"Kiong cu, kenapa kau melepaskan dirinya pergi? Seandainya sebentar lagi Song Ceng To serta Lie Ban Kiam dengan kedudukannya datang kemari mencari Kiong cu untuk berdebat, maka waktu itu... Aaaai!..."

"Tentang soal ini kau tak perlu kuatir," kata Kiong cu sambil tertawa hambar. "Tentu saja aku mempunyai rencana yang amat sempurna sebelum bertindak demikian, cuma saja langkah berikutnya kita mesti bekerja lebih cepat lagi, di dalam waktu tiga jam segala sesuatunya harus sudah beres dan siap, dan aku rasa hal inilah yang paling merepotkan..."

"Lalu apa daya kita?" tanya Coei Coei dengan wajah penuh kegelisahan.

"Keadaanmu tiada jauh berbeda dengan keadaanku, setiap saat ancaman kematian mungkin bisa menimpa diriku. Tetapi kau tak usah kuatir, kawanan manusia itu masih demikian jeri dan takutnya kepadaku karena aku masih mempunyai tiga jurus ilmu pedang pengejar nyawa yang memiliki kekuatan sangat ampuh. Sekarang adalah saatnya bagi para pengkhianat untuk memberontak, dan kita pun harus cepat-cepat melakukan pertolongan..."

"Ooooouw...! Jadi kalau begitu Kiong cu telah tahu tentang segala-galanya..." tanya Coei Coei.

Sang Kiong cu tertawa getir.

"Sejak ibuku menghembus napasnya yang terakhir, setiap orang yang ada di dalam Istana Mo Kiong berusaha untuk merebut kekuasaan dan menduduki jabatan sebagai pemimpin, terutama sekali Song Ceng To serta Lie Ban Kiam, ambisi mereka berdua paling besar di antara yang lain. Sekalipun aku tiada maksud untuk membinasakan mereka, tetapi mereka pun tak mungkin tiada niat untuk menyingkirkan diriku, tentang hal ini apakah kau tak bisa melihatnya..." Sejak kedua orang majikan dan dayang itu bercakap-cakap walaupun Pek In Hoei hanya membungkam melulu tapi secara lapat- lapat ia bisa menangkap duduk perkara yang sebenarnya walaupun ia tak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi sehingga istana Mo Kiong di laut Tang Hay bisa berubah jadi begini, tetapi ia pun mengerti bahwa pokok persoalannya tidak jauh daripada perebutan kekuasaan di kalangan istana Mo Kiong sendiri.

Sementara ia masih termenung memikirkan persoalan itu, Kiong cu sudah menggeserkan badannya maju ke depan, tegurnya dengan suara lirih :

"Pek kong cu, kau tentu merasa terkejut bukan?"

"Kiong cu," kata Pek In Hoei ketus. "Apa maksud tujuanmu dengan mengundang cayhe datang kemari..."

Perlahan-lahan Kiong cu membenahi rambutnya yang kacau terhembus angin, lalu sambil tertawa sahutnya :

"Kali ini pun Kiong cu jauh-jauh dari laut Tang Hay datang ke daratan Tionggoan, kesemuanya ada dua buah persoalan yang hendak kuselesaikan, dan kedua buah persoalan itu kesemuanya ada hubungan serta sangkut pautnya dengan Pek kongcu, oleh sebab itu pun Kiong cu sengaja mengundang Pek kongcu untuk sementara waktu berdiam di dalam istana kami..."

"Tapi... antara cayhe dengan Kiong cu toh tidak saling kenal mengenal..." kata Pek In Hoei tertegun. "Mana mungkin persoalan yang terjadi di laut Tang Hay bisa ada hubungan serta sangkut pautnya dengan diri cayhe, harap Kiong cu suka memberi petunjuk..."

Sang Kiong cu segera ulapkan tangannya.

"Pek kongcu, silahkan masuk ke dalam untuk minum teh. Pun kiong cu segera akan mengutarakan sebab-sebabnya..."

Dengan gerakan tubuh yang enteng bagaikan awan di angkasa ia berkelebat meninggalkan tempat itu, si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei ragu-ragu sejenak akhirnya dia pun mengikuti di belakang gadis tersebut. Tatkala bayangan tubuh Pek In Hoei telah lenyap di balik pepohonan, Utusan Peronda Gunung beserta dua orang kakek berjenggot hitam kebetulan munculkan diri dari sudut bukit.

Si Utusan Peronda Gunung segera menuding ke arah bayangan punggung Pek In Hoei sambil katanya :

"Toako, kita bereskan dulu bajingan cilik itu..."

"Tentu saja," sahut si kakek tua di sebelah kiri yang mempunyai tahi lalat besar di atas wajahnya sambil tertawa seram. "Setiap orang yang mempunyai hubungan dengan budak rendah tersebut tak boleh kita kasih hidup di kolong langit..."

Kiranya si kakek tua itu bukan lain adalah Song Ceng To yang mempunyai kedudukan sebanding dengan Kiong cu dari istana Mo Kiong itu, sedangkan si kakek yang lain bukan lain adalah Lie Ban Kiam yang punya kekuasaan tinggi pula di dalam Mo Kiong.

Sementara itu Lie Ban Kiam telah memandang sekejap ke sekeliling tempat itu lalu berkata :

"Song Loo toa, coba kau lihat sesuai atau tidak kalau kita mulai bergerak pada saat seperti ini..."

Song Ceng To termenung berpikir sejenak, kemudian menjawab

:

"Kalau ditinjau dari tingkah laku perempuan rendah itu, rupanya

ia sudah mengetahui akan persoalan kita, tetapi tidak seharusnya begitu cepat tiba di sini. Sekarang persoalan keselamatan dari Goan Poo Kay-lah yang paling menguatirkan, seandainya kita tidak percepat gerakan kita maka aku rasa posisi agak tidak menguntungkan bagi kita..."

"Toako," seru si Utusan Peronda Gunung dengan ketakutan. "Kita semua menjunjung dirimu sebagai pemimpin, tidak seharusnya kalau kau buang kesempatan untuk menguasai seluruh jago lihay dari laut Tang Hay ini dengan percuma, bila kejadian ini berlangsung di laut Tang Hay maka kau serta aku pasti akan mati sebab di situ sedikit banyak perempuan rendah itu masih mempunyai beberapa orang kepercayaan, tetapi sekarang... Hmmm!... hampir separuh bagian orang yang ikut keluar adalah orang-orang kita, aku tanggung ia tak akan mempunyai kemampuan besar untuk membendung pemberontakan kita..."

"Sudah tentu! sudah tentu!" Song Ceng To mendehem dua kali. "Cuma saja perempuan cilik itu sejak kecil sudah memperoleh warisan langsung dari ibunya akan ilmu pedang Toei Hoen Sam Kiam meskipun ilmu pedang lautan Tang Hay antara satu keluarga dengan keluarga lainnya mempunyai kelihayan yang berbeda-beda tetapi Tui Hoen Sam Kiam tiga jurus ilmu pedang pengejar nyawa itu merupakan ilmu pedang yang paling ampuh di antara yang lain, bilamana sampai terjadi pertarungan nanti, aku rasa masalah inilah yang paling memusingkan kepala..."

"Hmmm! Ilmu pedang tiga jurus pengejar nyawa itu cuma besar namanya belum tentu hebat kenyataannya," seru Lie Ban Kiam sambil mendengus. "Menurut pengamatanku selama banyak tahun, ilmu silat yang dimiliki perempuan rendah itu tidak seberapa Song Loo toa! Bilamana kau tidak lega hati, pertarungan pertama nanti serahkan saja kepadaku..."

"Heeeh... heeeeh... heeeh... kejadian ini benar-benar merupakan suatu peristiwa aneh," Song Ceng To tertawa seram. "Perempuan rendah itu selalu menyembunyikan diri rapat-rapat sehingga siapa pun tak tahu sampai di manakah sebenarnya kepandaian silat yang dimiliki, jangan-jangan tiga jurus ilmu pedang pengejar nyawa itu hanya suatu gertak sambal belaka yang dipergunakan mendiang Kiong cu kita untuk menakut-nakuti anak buahnya, sehingga membuat kita jeri dan pecah nyali dan selamanya tak berani memberontak... Hmmm!... sekarang hatiku barulah menjadi paham..." Belum habis dia berbicara mendadak orang itu membungkam, sinar matanya segera dialihkan ke arah depan dari mana terlihatlah sesosok bayangan manusia dengan kecepatan yang penuh sedang

bergerak menuju ke situ. Air muka Song Ceng To nampak agak berubah, serunya : "Aaaah, It-boen Pit Giok! Kenapa dia pun munculkan diri seperti

ini..."

Sementara itu It-boen Pit Giok telah di hadapan mereka bertiga, setelah dipandangnya sekejap wajah orang-orang itu dia tertawa hambar dan menegur :

"Apakah Kiong cu kalian ada?"

"Tidak ada!" sahut Song Ceng To sambil gelengkan kepalanya. "Kedatangan nona It-boen agak terlambat satu tindak karena ada urusan dia telah pergi..."

"Mana mungkin?" It-boen Pit Giok berdiri melengak. "Kita sudah berjanji untuk berjumpa pada hari ini..."

Meskipun dalam hatinya sangsi dan menaruh curiga tetapi mimpi pun ia tak pernah mengira kalau Song Ceng To sedang menipu dirinya, setelah berseru tertahan karena tak habis mengerti ia enjotkan badannya dan berlalu dari situ.

"Song Loo toa, kau telah membohongi dirinya..." bisik Lie Ban Kiam sepeninggalnya gadis itu.

"Sekarang kita sedang bersiap-siap untuk melakukan pergerakan," ujar Song Ceng To dengan wajah serius. "Bilamana bocah perempuan itu sampai mencampuri pula urusan ini maka pekerjaan kita jadi sulit untuk dilaksanakan. Dan kini It-boen Pit Giok berlalu, tindakan selanjutnya adalah mengumpulkan segenap kekuatan yang berpihak kepada kita, mari kita lakukan suatu penyergapan secara tiba-tiba sehingga membuat perempuan rendah itu jadi gelagapan tak karuan..."

"Betul!" sambung si Utusan Peronda Gunung seraya tertawa seram. "Song Loo toa kita bertemu lagi di kebun bunga belakang tiga jam kemudian..."

Setelah berunding lagi dengan suara lirih, ke-tiga orang itu saling berpisah dan lenyap di balik pepohonan.

****** Cahaya sang surya memancar masuk lewat jendela dan menyinari permukaan yang luas, sesosok bayangan manusia terbias di tengah kilatan cahaya menunjukkan perawakannya yang tinggi.

Dengan pandangan keheranan Pek In Hoei sedang mengamati ruang besar yang indah, mewah, dan megah itu. Setelah dayang menghidangkan air teh masing-masing pun mengambil tempat duduk. Dengan sepasang biji mata yang berapi-api Kiong cu melirik sekejap ke atas wajah Pek In Hoei si Jago Pedang Berdarah Dingin, lalu menghela napas dalam-dalam, di atas wajahnya yang terhias senyuman secara mendadak terlapis satu kekesalan dan kemurungan

yang tipis.

Terdengar ia tertawa hambar lalu berkata :

"Pek kongcu, mengenai persoalan yang menyangkut pedang mustika penghancur sang surya dari partai anda, apakah kau sudah tahu akan asal usulnya serta ikatan budi dan dendam yang terkait dalam hal ini..."

"Asal usulnya?" seru Pek In Hoei tertegun. "Aku belum pernah mendengar akan hal ini..."

Kiong cu tertawa.

"Inilah persoalan pertama yang akan kubicarakan dengan kehadiran Pek Kongcu dalam istana kami pada hari ini. Walaupun nama besar istana Mo Kiong dari laut Tang hay kami jadi tersohor di dalam dunia persilatan karena tindak tanduknya yang bengis dan menakutkan serta pembunuhan-pembunuhan yang mengerikan, tetapi kau harus tahu bahwa sebagian besar korban yang mati di tangan kami adalah termasuk di antara manusia-manusia laknat yang sudah terlalu banyak melakukan kejahatan. Asalkan seseorang telah memahami keadaan yang sebenarnya dari istana kami maka mereka pasti akan mengetahui apa sebenarnya yang sudah terjadi dengan istana Mo Kiong..." Tatkala Pek In Hoei mendengar bahwa pihak lawannya mengungkap soal pedang sakti penghancur sang surya dari partai Thiam cong, dalam hati merasa tertegun. Ia mengerti bahwa senjata tajam ini sudah terlalu banyak mengikat tali budi dan dendam di dalam dunia persilatan, tetapi berhubung situasi di dalam dunia kangouw selalu berubah dan kebanyakan orang kangouw masih disibukkan oleh hadirnya beberapa kekuatan baru maka masih jarang sekali ada orang yang menuntut persoalan itu.

Dengan nada tercengang ia segera bertanya :

"Persoalan pedang sakti penghancur sang surya yang diungkap Kiong cu, sebenarnya apa yang telah terjadi?"

Kiong cu termenung dan berpikir sebentar,kemudian menjawab : "Setelah Si pedang sakti Cia Ceng Gak dengan sebatang pedangnya berhasil mengalahkan ratusan orang jago lihay yang ada di daratan Tionggoan tempo dulu, para partai yang ada di dalam Bu lim segera menjuluki dia sebagai malaikat dari ilmu pedang, tetapi persoalan ini justru telah menggusarkan hati seorang Boe Beng Loo jien kakek tanpa nama yang berdiam di kolam pedang gunung Thian san, orang ini sepanjang masa berlatih pedang dengan tekun dan tak pernah mencampuri urusan kangouw, tetapi justru dikarenakan keyakinannya yang begitu besar terhadap keberhasilannya di dalam ilmu pedang maka setelah mendengar bahwa di dalam dunia kangouw telah muncul seorang jago lihay yang masih muda belia, di samping keinginannya untuk mengalahkan Cia Ceng Gak di ujung pedangnya, dia pun ingin mengingatkan pula kepada seluruh umat Bu lim bahwa di atas puncak gunung Thian san masih terdapat seorang jago pedang

yang maha sakti..."

Kiong cu melirik sekejap ke arah Pek In Hoei, setelah berganti napas ujarnya kembali :

"Dengan membawa sebilah pedang sakti Leng Pek Kiam dari gunung Thian san si kakek tanpa nama itu langsung menyerbu ke gunung Thiam cong, di situ ia tantang Cia Ceng Gak untuk berduel. Partai Thiam cong yang jadi tersohor di kolong langit berkat kelihayan Cia Ceng Gak sudah tentu tak ingin pamornya rontok dengan begitu saja, mula-mula mereka kirim jago-jago lihaynya untuk memberitahukan kepada kakek tanpa nama itu bahwa Cia Ceng Gak tak ada di atas gunung, kemudian baru mengutus jago-jagonya untuk bertarung melawan kakek tua itu. Dalam sekejap mata si kakek tanpa nama telah memukul keok ke-tiga puluh dua orang jago lihay dari partai Thiam cong kemudian menantang Cia Ceng Gak untuk bertemu di puncak Soe Sim Hong gunung Huang san, apabila ia tidak datang maka julukannya sebagai si pedang sakti dipersilahkan dihapus dari muka Bu lim, kalau tidak maka partai Thiam cong harus menutup pintu mengasingkan diri. Selesai berpesan demikian sambil tertawa terbahak-bahak pergilah si kakek tanpa nama itu.

Pek In Hoei yang mendengar sampai di sini segera merasakan hatinya tergetar keras, selanya :

"Sucouw ku apakah menepati janji dan mengadakan pertemuan dengan si kakek tanpa nama di puncak Soe Sim Hong gunung Huang san..."

Kiong cu menghela napas panjang.

"Selama hidupnya sucouwmu berlatih pedang dengan tekun dan rajin, tentu saja ia tak mau menghadiahkan julukan si pedang sakti yang diperolehnya dengan susah payah itu kepada orang lain dengan percuma, sekembalinya ke gunung Thiam cong dan mendengar tantangan tersebut, saking kheki dan mendongkolnya selam tiga hari ia tak mau berbicara dengan siapa pun juga. Seorang diri ia menutup diri di belakang gunung untuk berlatih tiga gerakan terakhir dari ilmu pedang Thiam cong Kiam hoat. Pada keesokan hari ke-enam setelah meninggalkan tulisan seorang diri ia berangkat ke puncak Soe Sim Hong gunung Huang san..."

Berbicara sampai di sini Kiong cu merandek sejenak, setelah memandang sekejap ke atas wajah Pek In Hoei terusnya : "Ketika ia tiba di puncak Soe Sim Hong si kakek tanpa nama itu sudah menanti lama sekali di situ. Begitu Cia Ceng Gak berjumpa dengan kakek tanpa nama itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia segera cabut keluar pedangnya dan bertarung melawan kakek tersebut. Siapa tahu baru saja lewat tiga jurus pedang milik Cia Ceng Gak sudah terbabat kutung oleh senjata mestika si kakek tanpa nama. Sadarlah Cia Ceng Gak bahwa senjatanya tak mampu menandingi milik orang, maka setelah meninggalkan beberapa patah kata dengan menunggang perahu ia menuju ke laut Tang hay..."

"Menang kalah belum ditentukan, mau apa sucouwku berangkat ke laut Tang hay?" tanya Pek In Hoei tertegun.

Dari catatan sebuah kitab ilmu pedang Cia Ceng Gak mendapat tahu bahwa jauh di dasar samudra Tang hay terdapat sebilah pedang mestika yang amat tajam, untuk membalas dendam atas patahnya pedang di ujung senjata si kakek tanpa nama, ia bersumpah akan menemukan pedang sakti itu dari dasar laut Tang hay, tetapi dalam catatan ilmu pedang itu tidak ditegaskan di manakah persis letaknya pedang itu. Untuk mencari sebilah pedang di tengah samudra yang luas tentu saja bukan pekerjaan yang gampang. Dalam keputusasaannya berangkatlah Cia Ceng Gak menuju ke istana Mo kiong kami, di kebun bunga belakang ia berjumpa dengan ibuku. Sebagai pemuda yang berwajah tampan lagi pula seorang ahli dalam bercinta akhirnya ia mengikat tali perkawinan dengan ibuku..."

Sebagai seorang gadis remaja yang baru meningkat dewasa, tatkala berbicara sampai di sini air mukanya tanpa terasa berubah jadi merah padam, suaranya jadi lirih dan kepalanya tertunduk rendah- rendah, sambil mempermainkan ujung baju terusnya kembali :

"Walaupun ibuku belum pernah meninggalkan laut Tang hay barang satu langkah pun, tetapi terhadap semua kejadian yang berlangsung di daratan Tionggoan mengetahui jelas bagaikan melihat jari tangan sendiri, setelah beliau mengetahui bahwa maksud tujuan Cia Ceng Gak mengarungi samudra datang ke laut Tang hay adalah untuk mencari pedang sakti yang tenggelam di dasar lautan, maka dengan suatu kesempatan dengan memberanikan diri ibuku telah mencuri kitab catatan benda aneh di luar lautan milik kakekku. Sedikit pun tidak salah, dalam catatan kuno itulah mereka berhasil menemukan letak yang persis dan tepat dari pedang sakti penghancur sang surya itu..."

"Apa? Pedang sakti yang dicari Sucouwku adalah pedang mestika penghancur sang surya..." hampir saja Pek In Hoei meloncat bangun saking kagetnya.

Kiong cu tersenyum manis.

"Apanya yang aneh? Meskipun Cia Ceng Gak memiliki kepandaian silat yang maha sakti tetapi ia tak memiliki sebilah pedang mestika yang ampuh, kalau tidak mana ia bisa jatuh kecundang di tangan kakek tanpa nama. Untuk memenuhi harapan dari Cia Ceng Gak, di luar pengetahuan engkongku secara diam-diam ibuku telah mengumpulkan tiga belas orang penyelam yang terbaik, dengan diawasi sendiri berangkatlah mereka mencari pedang mestika tersebut. Siapa tahu meskipun pedang sakti penghancur sang surya berhasil didapatkan tetapi karena peristiwa itulah telah mengundang datangnya satu bencana besar di laut Tang hay.

Kiranya pedang sakti penghancur sang surya ini dahulunya adalah senjata ampuh milik Sie Jiet Coen cu untuk menaklukkan iblis di dasar lautan Timur yang disebut kerbau laut, dalam suatu pertarungan kerbau-kerbau laut itu berhasil dipaksa masuk ke dalam sebuah liang es, dengan cahaya tajam dari pedang sakti itulah kerbau- kerbau laut itu dikekang kehebatannya. Setelah pedang sakti itu dicabut maka kerbau laut itu pun munculkan diri kembali di dalam samudra dan kehadiran dari makhluk aneh itu telah menimbulkan gelombang pasang yang amat dahsyat, bukan saja air pasang jadi tinggi bahkan seratus buah perahu nelayan yang berada di sekeliling tempat itu telah tenggelam ke dasar laut termakan ombak. Ibuku yang membawa pedang sakti penghancur sang surya berhasil lolos dari bahaya maut, tetapi ke-tiga belas ahli penyelam itu semuanya tewas ditelan Kerbau laut. Kejadian ini setelah diketahui engkongku, dia orang pun jadi teramat murka, ibuku seketika dikurung dan kepada Cia Ceng Gak didesaknya agar menyerahkan kembali pedang sakti penghancur sang surya itu. Tentu saja Cia Ceng Gak tak mau menyerah dengan begitu saja hingga suatu pertempuran sengit segera berlangsung.

Cia Ceng Gak tidak ingin melukai orang, dengan membawa pedang sakti itu buru-buru dia kembali ke daratan Tionggoan dan langsung menuju ke puncak gunung Thian san untuk menantang si kakek tanpa nama berduel.

Kendati pedang sakti Leng Pek Kiam adalah sebilah pedang mestika, namun senjata itu bukan tandingan pedang sakti penghancur sang surya, dalam jurus yang ke-tiga pula pedangnya terpapas putus oleh senjata Cia Ceng Gak. Dalam terkejut serta gusarnya si kakek tanpa nama muntah darah tiga kali, dengan membawa rasa dendam dan sakit hati berlalulah orang itu dari tempat tinggalnya, sejak itu tiada kabar beritanya lagi dan mungkin ia telah bersembunyi karena malu bertemu dengan orang..."

Dalam waktu singkat ia telah menyelesaikan kisah ceritanya, wajah gadis itu pun mulai terpengaruh oleh perasaan hingga dari kelopak matanya nampak titik air mata.

Setelah menghela napas panjang, ujarnya dengan sedih : "Dengan pedang mestika itu Cia Ceng Gak berhasil menuntut

balas atas sakit hatinya, tetapi ibuku justru kena dicelakai, dalam penjara ia tak dapat melupakan diri Cia Ceng Gak, setiap hari ia berharap agar kekasihnya bisa datang berkunjung ke laut Tang hay untuk menjenguk dirinya, perpisahan yang tergesa-gesa menimbulkan rasa rindu yang amat tebal.

Siapa tahu kepergian Cia Ceng Gak sama sekali tak ada kabar beritanya, bahkan sepucuk surat pun tidak ada yang melayang tiba. Pek kongcu! Coba lihat bukankah sucouwmu itu terlalu tak ada perasaan..."

Pek In Hoei tidak menyangka kalau di balik persoalan ini masih terkandung masalah yang demikian rumit dan kacaunya, mendengar pertanyaan itu ia jadi tertegun, pelbagai ingatan dengan cepat berkelebat di dalam benaknya.

"Seandainya apa yang ia katakan semuanya adalah kenyataan, maka tindakan Sucouw pada masa yang silam memang termasuk tiada perasaan," pikirnya di dalam hati. "Tetapi aku sebagai anak murid partai Thiam cong, tidaklah pantas kalau mengatakan hal yang bukan- bukan mengenai sucouwku sendiri..."

"Tentang soal ini... tentang soal ini..." serunya gelagapan. Kiong cu tertawa dingin, ujarnya kembali :

"Sucouwmu begitu tak berbudi dan tak berperasaan membuat ibuku merasa amat menyesal. Sesaat sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir ia berpesan kepadaku agar mencari jejak dari Cia Ceng Gak dan menuntut balaskan sakit hati ibu yang telah meninggal, atau kalau tidak tarik kembali pedang sakti penghancur sang surya dan dikembalikan ke dasar laut Tang hay, agar peristiwa ini dapat cepat beres. Tetapi... berhubung kabar berita mengenai Cia Ceng Gak masih belum menentu, maka terpaksa pun Kiong cu harus mengundang kehadiranmu untuk menyelesaikan masalah ini..."

"Meskipun aku memperoleh peninggalan pedang mestika penghancur sang surya dari sucouwku tetapi aku sendiri pun tidak tahu akan mati hidup dari Sucouw dia orang tua," ujar Pek In Hoei dengan nada sedih. "Seandainya Kiong cu memang bersikeras hendak menarik kembali pedang mestika penghancur sang surya ini, bagaimana kalau kau tunggu dulu sampai aku berhasil membalaskan dendam sakit hati ayahku serta membangun kembali partai Thiam cong..."

"Tujuanku yang paling penting di dalam perjalanan jauhku datang ke daratan Tionggoan adalah mencari kabar berita mengenai Cia Ceng Gak," kata Kiong cu dengan hambar. "Sekalipun dia sudah mati, aku pun harus menggali tulang belulangnya..."

Mendadak Pek In Hoei merasakan hatinya bergolak keras, suatu tekanan batin yang aneh timbul di dalam benaknya.

"Apakah kau pun ikut membenci sucouwku..." tanyanya.

"Tentu saja," sahut Kiong cu sambil tertawa dingin. "Aku sangat mencintai ibuku, maka aku pun ikut membenci akan ketidak berperasaannya Cia Ceng Gak, sebab sedari kecil aku sudah ketularan sifat-sifat dari ibuku. Terhadap pelbagai persoalan aku bisa memandang dengan gembira, bisa pula memandang dengan kemurungan. Mungkin kau merasa bahwa hal ini sangat aneh, tetapi kenyataan memang demikian..."

Berbicara sampai di sini ia berpaling sekejap ke kiri kanan, tiba- tiba teriaknya :

"Siauw Coei!"

Buru-buru Coei Coei lari ke depan, tanyanya sambil memberi hormat :

"Kiong cu, kau ada petunjuk apa?"

"Coba kau pergilah keluar dan coba tengok apakah adik It-boen sudah datang atau belum?"

Coei Coei memberi hormat dalam-dalam dan segera mengundurkan diri dari situ.

Sepeninggalnya dara berbaju putih tadi, dengan pandangan mata yang tajam bagaikan sebilah pisau belati ia menatap sekejap wajah Pek In Hoei, lalu tanyanya dengan nada sedih :

"Dari pembicaraan adik It-boen aku dengar bahwa di depan perkampungan Thay Bie San cung kau pernah menghancurkan dua puluh empat buah lentera merahnya, hingga membuat ke-tiga orang dewa panjang usia dari lautan merasa amat terperanjat, Pek kongcu benarkah pernah terjadi peristiwa semacam ini?"

Tatkala Pek In Hoei mendengar secara tiba-tiba Kiong cu dari Istana Mo Kiong mengungkap tentang persoalan ini hatinya jadi tertegun, dalam waktu singkat bayangan wajah seorang gadis yang dingin dan ketus tertera nyata di dalam benaknya, senyum serta dengusan gusar It-boen Pit Giok dengan begitu nyata tertera di dalam benaknya...

Diam-diam ia menghela napas panjang, ujarnya :

"Nona It-boen berotak cerdas dan berkepandaian lihay, cayhe mana bisa dibandingkan dengan dirinya..."

Mendadak dari luar ruang tengah berkumandang datang suara bentakan serta teriakan tajam, dengan wajah pucat pias bagaikan mayat terburu-buru Coei Coei lari masuk ke dalam, kemudian tangannya bergerak memberi kode rahasia.

Melihat gerakan tangan dara berbaju putih itu, air muka Kiong cu berubah hebat.

"Kau mau apa?" tegurnya.

"Kiong cu," seru Coei Coei dengan suara gemetar, "Song Ceng To mereka..."

Kiong cu mendengus dingin, ia segera ulapkan tangannya.

"Kau segera mengundurkan diri dan suruh mereka bersiap sedia, di tempat ini biar aku yang atur sendiri..."

Saking gelisah dan cemasnya Coei Coei gelengkan kepalanya berulang kali kemudian berkelebat masuk ke dalam ruang belakang.

Baru saja badannya berkelebat lenyap dari pandangan, dari luar ruang tengah sudah terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang datang, terdengarlah Song Ceng To sambil tertawa seram berseru :

"Kiong cu, aku Song Ceng To ada urusan hendak mohon bertemu..."

"Hmmm! Bukankah sudah kukatakan tadi bahwa tiga jam kemudian baru aku akan menjumpai kalian?"

Walaupun Song Ceng To yang berada di luar ruangan mempunyai kedudukan yang cukup tinggi di dalam istana Mo Kiong, tetapi dia pun tak berani secara gegabah menerjang masuk ke dalam, sambil tertawa seram segera jengeknya :

"Kiong cu, apakah kau tidak sudi untuk berjumpa dengan diriku?"

"Apa maksudmu?" seru Kiong cu dengan air muka berubah hebat.

Song Ceng To mendehem dan tertawa seram :

"Heeeh... heeeh... heeeeh. sejak istana Mo Kiong dari laut Tang hay didirikan hingga kini belum pernah aku dengar ada orang bisa hidup keluar dari Kereta Kencana Pembawa Maut, ini hari Kiong cu telah bertindak di luar kebiasaan bahkan menahan orang hukuman di tempat ini, entah bagaimanakah penjelasan dari Kiong cu..."

"Hmmm! Masuklah ke dalam!" jengek Kiong cu dingin. "Rupanya mau tak mau harus berjumpa dengan kalian berdua..."

Peraturan dari istana Mo Kiong amat ketat sekali, sebelum Kiong cu mengijinkan siapa pun tidak diperkenankan tanpa sebab berjalan masuk ke dalam ruang tamu. Meskipun Song Ceng To menduduki jabatan sebagai penilik dari istana Mo kiong, tetapi sebelum secara resmi bentrok ia tak berani bertindak secara gegabah.

Dengan wajah dingin dan menyeramkan si kakek tua itu berjalan masuk ke dalam ruang tengah, ujarnya sambil tertawa mengejek :

"Kiong cu, kau menerima seorang luar asing di tempat ini, apakah tidak merasa bahwa perbuatanmu itu telah menurunkan pamor serta derajat sendiri?"

"Song Ceng To!" bentak Kiong cu nyaring. "Rupanya kau sengaja datang kemari untuk membuat gara-gara..."

Air muka Song Ceng To berubah membeku, hatinya bergetar keras dan dengan cepat ia berpikir :

"Perempuan rendah, kau jangan berlagak sok lebih dulu, nanti sebentar kau bakal tahu sampai di manakah kelihayanku..."

Dalam hati berpikir demikian, di luar ia tertawa dingin dan menyahut : "Kiong cu, perkataanmu terlalu menusuk perasaan orang, di kala ibumu masih hidup di kolong langit pun ia menaruh sikap mengalah tiga bagian terhadap aku si orang she Song, sedang kau... Hmm!... hampir boleh dibilang dalam pandanganmu sama sekali tiada orang lain..."

Air muka Kiong cu berubah hebat.

"Besar amat nyalimu, berani benar kau cari satroni dengan aku orang..." bentaknya.

Sambil berkata ia bangkit berdiri, dengan wajah adem dan pandangan penuh kegusaran ditatapnya wajah si kakek licik dan berhati kejam ini tanpa berkedip.

Ketika meloncat bangun tadi, di atas wajah sang Kiong cu terlintas napsu membunuh yang amat tebal dan cukup menggidikkan hati orang, kewibawaannya yang besar serta sikap yang dingin dan tajam membuat Song Ceng To yang menyaksikan merasakan hatinya bergetar keras.

"Kiong cu, apakah kau hendak membinasakan diriku?" tegur Song Ceng To dengan air muka berubah hebat.

Dengan wajah yang tetap hambar sedikit pun tidak menunjukkan perasaan apa pun, jawab Kiong cu ketus :

"Kalau kau sudah memahami akan hal ini, itu lebih dari cukup, kau mesti tahu bahwa di dalam istana Mo kiong bagaimana pun juga aku adalah tetap seorang majikan , sekalipun kau merupakan pembantu setia dari ibuku almarhum dan setiap kali menghadapi persoalan aku selalu mengalah tiga bagian kepadamu, tetapi di dalam bentrokan gy cukup tajam dan berbahaya ini sekalipun aku tiada niat untuk membinasakan dirimu, aku rasa kau pun tidak nanti akan melepaskan aku bukan begitu?"

"Hmm, rupa-rupanya kau sudah mengetahui segala sesuatunya." "Aku sudah terlalu memahami akan tingkah lakumu," sahut Kiong cu dengan nada menghina. "Kau bukan lain adalah seekor rase tua yang lebih mementingkan kepentingan diri pribadi daripada kesetiaan yang jujur, aku pun tahu bahwa sebagian besar kekuatan yang berada di dalam istana Mo kiong hampir seluruhnya berada di pihakmu, tetapi sampai sekarang kau tak berani bentrok secara langsung dengan diriku adalah disebabkan karena kau masih menaruh rasa jeri terhadap tiga jurus ilmu pedang pengejar nyawa keluargaku, seandainya aku tidak memiliki serangkaian ilmu pedang yang bisa menandingi ilmu pedang keturunan keluarga Song dan keluarga Lie, aku percaya bahwa kalian tidak akan sejinak ini untuk tunduk di bawah perintahku."

"Hmmm!..." Dengusan berat bergema keluar dari lubang hidung Song Ceng To, sorot mata bengis berkelebat lewat dalam kelopak matanya, mendadak dengan wajah membesi ujarnya sambil tertawa dingin.

"Perkataanmu terlalu tak enak didengar, apalagi berada di depan mata orang luar. Kiong cu mempermainkan serta memperolok-olok diri loohu, hal ini jelas menunjukkan bila kau sudah tak pandang sebelah mata pun terhadap diri loohu. Heeeh... heeeh... heeeh... sebenarnya aku masih tiada maksud untuk melakukan pemberontakan, tetapi berada di dalam keadaan serta situasi seperti ini aku tak bisa tidak harus memberikan pernyataan pula..."

"Orang she Song, tak usah banyak bacot lagi, kalau kau anggap peristiwa ini terlalu memalukan, apa salahnya kalau saat ini juga kita selesaikan persoalan ini? Pun Kiong cu dengan andalkan sebilah pedang siap untuk melangsungkan kembali pertarungan dengan keluarga Song dan keluarga Lie kalian guna memperebutkan kedudukan majikan dan pembantu ini. Tetapi kalian mesti ingat bahwa pertarungan ini adalah suatu pertarungan adu jiwa, sampai waktunya mungkin saja bakal ada di antara kalian yang roboh terluka atau binasa..."

Rupanya perempuan ini sudah mengambil keputusan bulat di dalam hati kecilnya, perkataan tersebut diutarakan amat lambat dan memperlihatkan suatu kewibawaan yang tebal. Song Ceng To sadar bahwa kepandaian mereka masih terpaut jauh, namun tak seorang pun yang buka suara, mereka hanya tertawa dingin tiada hentinya.

"Ambil pedang!" Kiong cu segera bertepuk tangan tiga kali dan berteriak keras.

Coei Coei mengiakan dan munculkan diri, di tangannya membawa sebilah pedang antik yang amat indah, lalu dengan sikap hormat diangsurkan ke tangan sang Kiong cu.

Setelah menyambut pedang antik itu, perlahan-lahan Kiong cu meloloskannya separuh bagian, tegurnya dengan nada ketus :

"Kenalkah kau akan pedang ini?"

Air muka Song Ceng To berubah sangat hebat, dengan perasaan jeri ia mundur dua langkah ke belakang, bisiknya dengan suara gemetar :

"Pedang tidak kenal budi... pedang tak kenal budi..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... pedang tak kenal budi akan membunuh manusia tak berbudi, pedang mestika ini diserahkan oleh ibuku sendiri kepadaku di kala beliau hendak menghembuskan napasnya yang terakhir, di atas pedang tersebut tercantum pula nama dari nenek moyang keluarga Song serta keluarga Lie kalian. Di bawah ujung pedang tak kenal budi selamanya tak boleh mempunyai pikiran cabang, kalau tidak maka ia harus mati di ujung pedang ini..."

"Kiong cu!" seru Song Ceng To dengan wajah sedih. "Kalau kau mengeluarkan pedang ini, maka loohu tidak berani untuk turun tangan lagi..."

"Hmmm..." Kiong cu mendengus dingin. "Kau tak usah berpura- pura menunjukkan wajah rasemu yang licik itu, pedang tak kenal budi tak akan muncul secara sembarangan, setiap kali muncul baru akan masuk kembali ke dalam sarung setelah ternoda darah segar. Kau sebagai anggota laut Tang hay semestinya mengetahui juga bukan akan peraturan ini..."

Ia tertawa sinis, ujarnya kembali : "Kau hendak paksa aku turun tangan, atau kau turun tangan sendiri untuk melakukan bunuh diri..."

"Aku hendak merebut kesempatan terakhir untuk berduel melawan dirimu..." teriak Song Ceng To dengan penuh kebencian.

Kiong cu tertawa hambar :

"Kau... sebelum kau menemui ajalmu lebih baik tunjukkanlah sedikit semangat enghiongmu, tentu saja aku tak akan menghalangi dirimu untuk memperoleh kesempatan yang baik untuk mempertahankan diri. Song Ceng To! Undanglah konco-konco kau semua agar mereka sekalian bisa masuk ke dalam ruangan..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... " Song Ceng To tertawa terbahak- bahak, dari luar ruangan segera terdengarlah suara langkah kaki manusia yang ramai berkumandang memecahkan kesunyian, disusul terlihatlah Lie Ban Kiam serta si Utusan Peronda Gunung dengan memimpin puluhan orang pria berbaju hitam yang menyoren pedang semua berjalan masuk ke dalam, begitu tiba di dalam ruangan mereka segera menyebarkan diri membentuk setengah lingkaran busur dan dengan cepat mengurung Kiong cu serta Pek In Hoei rapat-rapat.

"Apakah kalian semua hendak berkhianat?" tanya Kiong cu sambil tertawa enteng.

Pria berbaju hitam itu tak berani menjawab, si Utusan Peronda Gunung yang takut hati orang-orang itu goyah dan sebelum bertempur sudah lari terbirit-birit lebih dahulu, sambil menyapu sekejap ke arah orang-orang itu sahutnya :

"Kiong cu bertindak terlalu berat sebelah dan tidak adil, kami sekalian tak sudi diperintah lagi..."

"Hmmm!" Kiong cu mendengus sinis, bentaknya :

"Kau adalah seorang yang telah dijatuhi hukuman mati, dengan andalkan hak apa kau ikut angkat bicara di sini?"

Si Utusan Peronda Gunung itu merasa terkesiap untuk beberapa saat lamanya ia berdiri tertegun di tempat semula dan tidak tahu mesti menjawab bagaimana. Lie Ban Kiam yang menyaksikan keadaannya yang serba kikuk itu segera tertawa sinis dan menyahut :

"Pada saat ini kau sudah tidak berhak untuk mengurusi dirinya lagi..."

Criing... suara lengking nyaring pedang yang nyaring berkumandang memenuhi seluruh ruangan, cahaya tajam seketika memancar ke empat penjur, selapis cahaya kehijau-hijauan menyelimuti angkasa dan menyilaukan mata siapa pun jua.

"Tunggu sebentar!" buru-buru Song Ceng To berseru :

"Kau masih ada perkataan apa lagi yang hendak diutarakan?" tegur Kiong cu dingin.

"Siapakah dia?" tanya Song Ceng To sambil melirik sekejap ke arah Pek In Hoei.

Mendengar perkataan itu dengan cepat Pek In Hoei meloncat bangun, sahutnya :

"Aku adalah si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei, kau ada urusan apa?"

Song Ceng To tertawa dingin, ia tidak menggubris perkataan orang sebaliknya dengan wajah menyeramkan berpaling ke arah Kiong cu dan berseru :

"Bajingan cilik ini bukan anggota istana kita, mengapa kau mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah rumah tangga kita di hadapannya? Apalagi dia adalah terhukum yang sudah dijatuhi hukuman mati oleh Kereta Kencana Pembawa Maut, Loohu harap Kiong cu selesaikan dahulu persoalan ini baru kemudian membicarakan persoalan di antara kita..."

"Ooooouw...! Rupanya kau bermaksud agar aku membinasakan dirinya..." seru Kiong cu dengan air muka berubah.

"Hal ini tentu saja, seandainya bukan lantaran bajingan cilik ini yang bikin gara-gara, Coei Coei serta Utusan Peronda Gunung pun tak akan terjadi bentrokan yang mengakibatkan urusan jadi semakin runyam, seandainya kita bicarakan bibit bencana yang terutama maka nomor satu kita mesti ari bajingan ini..."

Si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei tidak menyangka kalau hati si rase tua Song Ceng To begitu kejam dan licik, ternyata secara sengaja menyeret dirinya terjerumus ke dalam kancah persoalan yang serba rumit ini, sepasang alisnya kontan berkerut dan napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya.

"Kiong cu!" teriaknya sambil tertawa gusar. "Apakah cayhe pun mempunyai kesempatan untuk melakukan pertarungan..."

"Tentu saja ada! Selamanya pihak istana Mo kiong dari laut Tang hay mempunyai satu peraturan, barang siapa dapat secara beruntun merobohkan tiga buah rintangan maka Pun Kiong cu akan memberikan hadiah suatu kekuasaan yang paling tinggi baginya, kekuasaan itu adalah sikap hormat seluruh anak murid yang ada di dalam istana Mo kiong terhadap dirinya melebihi hormat seorang murid terhadap gurunya, di samping itu dia pun akan tercantum sebagai seorang enghiong dari lautan Timur."

"Haaaah... haaaah... haaaah... bagus sekali," teriak Pek In Hoei sambil tertawa terbahak-bahak. "Cayhe akan bertempur lebih dahulu melawan si rase tua ini..."

Sambil berkata ia segera menuding ke arah Song Ceng To.

Kakek tua she Song yang dituding macam begini tentu saja jadi amat gusar, saking mendongkolnya ia sampai mencak-mencak bagaikan kebakaran jenggot, sambil meraung keras tubuhnya segera menubruk ke depan, bentaknya sambil balas menuding ke arah si anak muda itu :

"Bajingan! Kau tak usah berlagak sok di tempat ini, kau harus tahu bahwa setiap orang dari laut Tang hay bisa membinasakan dirimu..."

"Hey kawan, saat ini bukanlah waktunya untuk membual atau jual omongan... siapa mampu siapa tidak sebentar lagi akan diketahui dengan nyata, lagakmu yang marah-marah macam begini sudah melanggar pantangan paling besar bagi seorang ahli silat, aku nasehati dirimu lebih baik tenangkanlah hatimu lebih dulu dan tunggulah sampai aku turun tangan..."

Song Ceng To tidak malu jadi seorang tokoh lihay dari lautan Timur, setelah mendengar perkataan itu hatinya terkesiap, dengan cepat ia tekan hawa amarah yang masih berkobar di dalam dadanya.

"Heeeh... heeeh... heeeh... bajingan cilik," serunya sambil tertawa seram. "Kau masih belum pantas untuk bergebrak melawan diriku, meskipun loohu ada niat untuk membinasakan dirimu dengan telapak tangan sendiri, tetapi peraturan dari Tang hay tidak bisa dilanggar karena persoalanmu, karena itu terpaksa..."

Sinar matanya dialihkan ke arah seorang pria berbaju hitam yang berdiri di hadapannya, kemudian menambahkan :

"Chee Loo jie, majulah ke depan dan jagal bajingan cilik itu..."

Di dalam rentetan jago lihay angkatan ke-tiga Chee Loo jie termasuk salah seorang murid kebanggaan dari Song Ceng To.

Ketika mendengar perintah dari gurunya, pria itu segera mengiakan dan tampil ke depan, cahaya pedang berkelebat lewat, sambil memperlihatkan sikap bersiap sedia, ia lintangkan pedangnya di depan dada.

Memandang pria berbaju hitam itu, Pek In Hoei tertawa menghina, ejeknya sinis :

"Huuuh, memegang pedang pun belum kencang begitu mau bergebrak melawan diriku..."

Chee Loo jie melengak, tanpa sadar dia alihkan sinar matanya ke arah ujung pedang sendiri, tampaklah pedang terangsur dengan kuat dan mantapnya ke arah depan, begitu tajam dan kuat ujung senjata itu hingga kelihatan begitu kokoh dan kuat.

Dengan penuh kegusaran kontan teriaknya :

"Kau tak usah ngaco belo tak karuan, kalau punya kepandaian tunjukkanlah gaya gerakan ini kepadaku." "Huuuh, nih, lihatlah baik-baik!" jengek si anak muda itu sambil tertawa mengejek.

Mendadak telapaknya berkelebat melancarkan satu serangan totokan, dengan ujung jari tersebut diguratnya di tengah udara menunjukkan suatu gerakan jurus pedang.

Chee Loo jie yang menyaksikan hal itu jadi melongo dan berdiri termangu-mangu, ia sama sekali tidak berhasil mengetahui gerakan tersebut menunjukkan jurus apa.

Sambil menggetarkan ujung pedangnya, ia segera membentak : "Cabut keluar pedangmu, belum pernah aku bergebrak melawan

orang yang tidak bersenjata."

Pek In Hoei tarik kembali gerakannya dan mengundurkan diri ke belakang, serunya dingin :

"Dalam gerakanku barusan apakah kau bisa lihat bagian manakah yang kuserang dalam tubuhmu?"

"Aku tidak akan mempedulikan persoalan sebanyak itu," teriak Chee Loo jie, "Aku hanya kenal pedang tak kenal manusia, kalau cuma ngomong melulu tiada gunanya, ayoh kita tentukan menang kalah kita di ujung senjata, setelah bertempur dengan cepat kita akan tahu siapa yang lebih hebat di antara kita berdua..."

Maksud hati si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei yang sebenarnya adalah membuat Chee Loo jie tahu kesukaran dan mengundurkan diri, siapa tahu pria ini bukan saja tak mengenal budi malahan sebaliknya memaksa pemuda itu untuk turun tangan.