Imam Tanpa Bayangan I Jilid 19

Jilid 19

"BANGSAT, KAU PUN terlalu jumawa!"

Dalam keadaan sama-sama gusar dan dipenuhi hawa amarah, ke- dua orang pemuda itu saling melotot dengan sinar mata berapi-api. Mendadak si Jago Pedang Bertangan Sakti membentak keras, serentetan cahaya yang menyilaukan mata segera meluncur di tengah angkasa membabat ke tubuh lawan.

"Bagus sekali!" seru Pek In Hoei sambil tertawa tergelak, senjata pedangnya langsung membabat ke bawah.

Traaang... ! Sepasang pedang saling membentur dengan kerasnya menimbulkan suara dentingan yang nyaring, percikan bunga api menyebar ke empat penjuru, setelah saling berpisah mereka maju lagi sembari mengirim serangan-serangan mematikan.

"Ing jie!" si Tangan Sakti Berbaju Biru segera berteriak. "Gunakan ilmu pedang Hoen Kong Kiam untuk lukai dirinya..."

"Tapi ayah.. di antara kami toh tiada terikat dendam sakit hati..." "Tutup mulutmu! Apa yang aku suruh kau lakukan, segera

laksanakan tanpa membantah!"

Dalam hati si anak muda itu merasa keheranan, tetapi perintah ayahnya tak berani dibantah, terpaksa seluruh tenaga serta perhatiannya dipusatkan ke ujung pedang, kemudian tarik napas panjang dan hawa murninya disalurkan ke dalam pedang.

Kiem In Eng yang menyaksikan kejadian itu jadi amat terperanjat, dengan air muka berubah hebat telapaknya disilangkan di depan dada siap melancarkan pukulan, teriaknya : "Wie Soe Kie! Kau berani melukai dirinya?"

Wajah si Tangan Sakti Berbaju Biru berkerut kencang, sekujur badannya gemetar keras, ia tahu bahwa hubungannya dengan perempuan itu sudah hancur berantakan dan tak bisa dirujukkan kembali, tanpa terasa seluruh rasa mangkel dan gusarnya telah ditumpahkan ke atas tubuh Pek In Hoei.

"In Eng!" katanya sedih, "Antara diriku dengan Pek Tiang Hong telah terikat dendam sakit hati yang sedalam lautan, mengapa kau mesti mencampurkan diri di dalam masalah tersebut? Aku sangat mencintai dirimu, dan aku tak ingin disebabkan oleh karena dirimu aku harus membatalkan niatku..."

"Aku tidak ambil peduli. Pokoknya kalau kau berani melukai Pek In Hoei maka yang bakal mati kalau bukan kau pastilah aku!"

Si Tangan Sakti Berbaju Biru tertegun, ia tak mengira kalau persoalan akan berubah jadi demikian serius, sementara pria ini masih berdiri termangu-mangu mendadak terdengar suara bentakan keras berkumandang datang, putranya si Jago Pedang Bertangan Sakti dengan mengayunkan pedangnya menciptakan diri jadi selapis cahaya laksana kilat telah membabat ke arah tubuh lawannya.

Si Jago Pedang Berdarah Dingin segera tertawa terbahak-bahak. "Baiklah, aku pun akan suruh kau menyaksikan kedahsyatan dari

ilmu pedang penghancur sang surya dari partai Thiam cong kami."

Rupanya pemuda ini sadar bahwa ilmu pedang Hoen Kong Kiam atau ilmu pedang pemisah cahaya ini merupakan suatu kepandaian tiada tandingan yang mengandalkan kecepatan serta kegesitan, semua gerakan jurusnya mengambil perubahan-perubahan terbalik dari jurus pedang biasa, seandainya ia tidak menahan dengan memakai ilmu pedang Sie Jiet Kiam Hoat-nya, niscaya posisi yang menguntungkan akan berhasil direbut lawan, dalam keadaan demikian keadaannya tentu akan semakin runyam.

Baru saja si Jago Pedang Bertangan Sakti mengirim satu babatan, mendadak ia rasakan cahaya pedang lawan bagaikan gulungan ombak telah menyapu tiba bahkan berhasil menekan gerakan jurus pedangnya ke arah bawah, hal ini membuat ia jadi terkesiap, dengan cepat ia keluarkan jurus 'Hoen Keng Boe Im' atau Memisahkan Cahaya Menubruk Bayangan, pedangnya langsung menotok ke atas urat nadi pada pergelangan tangan Pek In Hoei.

Jago Pedang Berdarah Dingin ini mendengus sinis, gerakan pedangnya mendadak berubah dengan menciptakan diri jadi selapis cahaya bianglala ia menerobos masuk ke tengah kalangan pedang lawan.

Suara dengusan berat seketika berkumandang memecahkan kesunyian, masing-masing pihak mundur ke belakang dan kemudian berpisah.

Serentetan darah segar mengucur keluar membasahi Jago Pedang Bertangan Sakti, sambil menahan rasa sakit di badannya ia tertawa keras, kemudian serunya penuh perasaan dendam.

"Bangsat, dendam sakit hati ini suatu saat pasti akan kutuntut balas, kau tunggu saja saatnya..."

Si Tangan Sakti Berbaju Biru sendiri rupanya dibikin terperanjat juga oleh hasil pertarungan itu, ia tak mengira kalau Pek In Hoei di dalam usia yang semuda itu ternyata mempunyai kesempurnaan permainan pedang yang luar biasa sehingga ilmu pedang Hoen Kong Kiam hoat andalannya pun bukan tandingan.

Ia jadi sakit hati dan buru-buru tanyanya :

"Ing-jie bagaimanakah keadaan lukamu?"

"Masih rada mendingan. Hmmm! Suatu hari aku pasti akan berhasil mengalahkan dirinya..."

Si Tangan Sakti Berbaju Biru mengebaskan ujung jubahnya, dengan sinar mata tanpa perasaan dan napsu membunuh menghiasi wajahnya, ia silangkan sepasang telapaknya di depan dada dan membentak dengan penuh kemarahan :

"Loohu ingin minta petunjuk dari kepandaian silatmu!" Tiba-tiba Ouw-yang Gong meloncat keluar dari dalam hutan, teriaknya :

"Neneknya anak gombal, kau si telur busuk tua mentang-mentang sudah lihay lantas main nantang? Bagus! Biar aku si huncwee gede yang melayani dirimu!"

Tangan Sakti Berbaju Biru tertegun, kemudian serunya : "Ooooh, ular asap tua, kiranya kau."

"Haaaah... haaaah... haaaah... " Ouw-yang Gong tertawa tergelak, sambil menutulkan huncweenya ke muka ia mengoceh :

"Hey si Wie tua anak monyet! Sudah banyak tahun kita tak pernah saling berjumpa, kalau kau pengin cari gara-gara dan memusuhi aku si ular asap tua, baik! Aku pasti akan mengetuk batok kepalamu biar hancur lebur berkeping-keping..."

Rupanya si Tangan Sakti Berbaju Biru mempunyai suatu rahasia yang sukar diutarakan keluar, ia tertawa getir, tiba-tiba ia keluar dari kalangan, kemudian menatap sekejap ke arah wajah Kiem In Eng, tertawa keras dan segera berlalu dari situ.

Kepergiannya secara mendadak ini bukan saja membuat Kiem In Eng melengak, Pek In Hoei pun tertegun dibuatnya.

Titik-titik air mata mulai keluar membasahi wajahnya, ia menghela napas panjang dan berdiri mendelong.

Wie Chin Siang yang mendengar helaan napas gurunya jadi terkejut, dengan badan bergetar keras ia angkat kepala lalu bertanya :

"Suhu, siapakah dia?"

"Dia... dia... " sambil menggertak gigi mendadak serunya, "Ayoh berangkat Chin Siang, mari kita kejar ayahmu..."

Wie Chin Siang mendelong, tanpa sadar ia ikut menggerakkan tubuhnya mengikuti di belakang Kiem In Eng berlalu dari situ.

......

Triiiiing....! Triiiing ! Di tengah kesunyian yang mencekam sebuah tanah lapang, terdengar suara bunyi keliningan bergema memenuhi angkasa, suaranya merdu bagaikan irama lagu yang mempesonakan hati.

Pagi yang cerah baru saja menyingsing, kabut belum sempat buyar... beberapa ekor kuda nampak bermunculan di ujung bukit sebelah Timur, seorang gadis berbaju hijau bergaun merah dengan membawa sebuah panji berwarna kuning berjalan di paling depan, tiga orang dara yang menggembol senjata mengikuti di belakangnya. Sreet...! Sebatang anak panah meluncur keluar dari tepi bukit sebelah selatan, menembusi angkasa dan meluncur ke arah barisan

gadis muda itu.

Dengan cepat ke-empat orang dara tadi menahan tali lesnya masing-masing hingga lari kuda mereka segera berhenti, kemudian hampir secara berbareng mereka angkat kepalanya memandang ke arah tepi bukit di mana berasalnya anak panah tadi.

Tampaklah seorang lelaki bercambang berdiri di atas dinding bukit sebelah selatan, di tangannya memegang pula sebuah panji kuning yang dikebas-kebaskan di tengah udara.

Gadis berbaju hijau yang membawa panji kuning itu segera goyangkan pula benderanya lalu berkata dengan suara merdu :

"Barisan depan telah menemukan jejak kita, mari kita menantikan kedatangan mereka di sini saja!"

Bayangan hijau bertaburan di angkasa, dengan gerakan yang enteng bagaikan burung walet ke-empat orang dara itu melayang turun ke atas tanah. Belum lama mereka berdiri mengaso, dari hadapan mereka berkumandanglah suara derap kaki kuda disusul munculnya dua sosok bayangan dengan menembusi kabut tebal berlari mendekat.

"Aneh! Kenapa bisa seorang kakek tua bangka..."

Lambat laun raut wajah ke-dua orang itu bisa terlihat jelas, orang yang ada di sebelah kiri adalah seorang kakek tua berambut lebat, sedang orang yang ada di sebelah kanan adalah seorang pemuda berwajah tampan.

Rupanya ke-dua orang itu pun berhasil menemukan jejak ke- empat orang gadis muda itu, tampak mereka seperti sedang membicarakan sesuatu.

Kemudian terdengar Ouw-yang Gong tertawa tergelak dan berseru :

"Waaah... di pagi hari buta kita sudah berjumpa dengan gadis cantik yang begini banyak jumlahnya. Hei bocah! Rejekimu benar- benar bagus. Hmmm... cuma kehadiran mereka terlalu aneh, jangan- jangan..."

Pek In Hoei tidak menggubris godaan orang, katanya pula : "Hey ular asap tua kau jangan bicara sembarangan, hati-hati kalau

orang akan menggaplok mulutmu sampai robek!"

Gelak tertawa Ouw-yang Gong kian bertambah keras. "Haaaah... haaaah... haaaah... aku si huncwee gede kecuali

merasa cocok dengan budak she Hee itu, belum ada seorang gadis pun yang suka bermesraan dengan diriku, apabila hari ini..."

Sengaja ia merandek dan melirik sekejap ke arah ke-empat orang gadis yang ada di tengah jalan itu, kemudian tertawa terbahak-bahak. Menyaksikan tingkah pola orang, ke-empat orang dara ayu itu segera mengerutkan dahinya tetapi senyuman masih tetap tersungging

di ujung bibir mereka.

Si dara berbaju hijau tadi perlahan-lahan menggetarkan panji kuning dalam genggamannya sehingga panji berbentuk segi tiga itu berkibar tertiup angin.

Tampaklah di atas panji tersebut bersulamkan sebuah mutiara besar yang memancarkan cahaya diapit oleh dua batang senjata, kemudian di atas lambang tadi bertuliskan empat buah huruf besar yang berbunyi 'Tang Hay It Coe'.

Pek In Hoei melongo, ia tak tahu apa maksud dari ke-empat huruf besar itu, dengan alis berkerut segera bisiknya lirih : "Eeei ular asap tua, tahukah kau apa maksudnya Tang Hay It Coe tersebut?..."

Si ular asap tua Ouw-yang Gong melirik sekejap ke arah panji tadi, air mukanya mendadak berubah hebat, seakan-akan ia telah menyaksikan sesuatu kejadian yang mengerikan, lama sekali tak sepatah kata pun yang diucapkan keluar.

Lama... lama sekali ia baru bergumam dengan suara gemetar : "Mungkinkah dia?..." tapi agaknya ia merasa tidak percaya

dengan jalan pikirannya. "Aaaaah, tak mungkin! Masa dia bisa munculkan diri di dalam dunia persilatan?"

"Siapakah dia?" tegur Pek In Hoei tidak habis mengerti.

Air muka Ouw-yang Gong beberapa kali berubah hebat, setelah sangsi sejenak akhirnya ia berkata :

"Bocah, coba tengoklah ke belakang benda apa yang kau lihat?" Dengan cepat si anak muda itu berpaling, tapi dengan cepat hatinya jadi terkesiap hingga keringat dingin mengucur keluar

membasahi tubuhnya.

Ternyata di sisi jalan raya yang baru saja mereka lalui, kini telah muncul sembilan tumpukan tulang tengkorak manusia, di atas tiap tumpukan tulang tengkorak itu terdapat sebutir mutiara di atasnya, ia tak bisa menduga sejak kapan tumpukan tengkorak itu muncul di sana, sebab sepanjang perjalanan tak pernah ia saksikan benda-benda semacam itu.

Dan kini tanpa ia sadari seseorang telah meletakkan tumpukan tulang tengkorak itu di belakang tubuhnya, hal ini bisa menunjukkan bahwa kepandaian silat yang dimiliki orang itu sukar diukur lagi.

"Sembilan tumpukan tulang tengkorak..." gumamnya lirih. "Di atas tiap tumpukan itu terdapat sebutir mutiara..."

"Bocah, kita telah berjumpa dengan orang-orang dari Tang Hay Mo Kiong... Istana Iblis dari lautan Timur..." seru Ouw-yang Gong dengan tubuh gemetar. Baru saja ia menyelesaikan kata-katanya, dara berbaju hijau itu sudah maju menyongsong kedatangan mereka, setelah menjura katanya dengan suara lembut :

"Harap kalian berdua suka mengikuti budak untuk berjumpa dengan Kiong cu kami!"

"Kami tidak kenal dengan pemilik istana kalian, nona, mungkin kau sudah salah melihat orang!" buru-buru kakek konyol itu menampik.

Dara berbaju hijau itu tertawa dan gelengkan kepalanya.

"Tidak mungkin salah! Kiong cu kami sudah tiga hari lamanya menunggu di sini, bahkan beliau pun tahu bahwa kalian berdua dalam perjalanannya menuju ke tempat rahasia dari perguruan Boo Liang Tiong bakal melewati jalan ini, maka dari itu..."

"Ooooh, sungguh tajam dan cepat kabar berita dari Kiong cu kalian..." seru Ouw-yang Gong setelah tertegun sejenak.

Dara cantik berbaju hijau itu tertawa cekikikan.

"Hiiih... hiiih... hiiih... selama ini Istana iblis dari lautan Timur bisa menancapkan kakinya hingga kini di luar lautan bukan lain adalah berkat lancar serta tajamnya kabar berita kami, meskipun kami hidup di luar lautan, tetapi setiap peristiwa yang terjadi di daratan Tionggoan dapat kami ketahui semuanya dengan jelas..."

Bicara sampai di situ ia tertawa nakal, lalu sambungnya lebih jauh :

"Ayoh, silahkan segera melanjutkan perjalanan. Kiong cu kami sedang menantikan kehadiran dari kalian berdua..."

"Tolong sampaikanlah kepada Kiong cu kalian, katakan saja berhubung kami masih ada urusan penting lain yang harus segera diselesaikan, maka lain kali saja kami baru akan berkunjung sekalian minta maaf untuk penampikan kami pada kali ini..." buru-buru Ouw- yang Gong berseru.

Mendengar ucapan itu, air muka dara berbaju hijau itu kontan berubah hebat. "Aaaah, hal ini mana boleh jadi?? Jauh-jauh Kiong cu kami datang ke daratan Tionggoan, kejadian ini sudah merupakan suatu peristiwa yang jarang terjadi, apabila kalian tak mau memberi muka lagi kepada kami, bagaimana caranya budak untuk pulang memberikan pertanggungan jawabnya..."

Ucapan tersebut diutarakan dengan nada tegas dan tajam, seolah- olah sebelum maksud tujuannya tercapai dia tak akan menyudahi persoalan tersebut sampai di sini saja.

Pek In Hoei yang ikut mendengar perkataan itu, sepasang alisnya kontan berkerut kencang, tanpa sadar ia mendengus dingin :

"Hmm, siapa sih Kiong cu kalian? Sombong amat dia..." tegurnya.

Air muka dara muda berbaju hijau itu seketika berubah hebat. "Kau..." serunya, mendadak ia tersenyum dan berkata kembali

dengan nada halus. "Saudara berdua silahkan segera berangkat, sedari tadi Kiong cu kami telah menantikan kedatangan kalian berdua..."

Sementara pembicaraan masih berlangsung dari ujung bukit tiba- tiba muncul sebuah kereta kuda berwarna hitam yang disepuh emas, kereta tadi dihela oleh dua ekor kuda putih yang berbulu keperak- perakan dan laksana kilat meluncur datang.

Yang paling aneh dari kereta itu adalah tak adanya kusir yang mengendalikan ke-dua ekor kuda itu, ruangan kereta tertutup rapat dan sama sekali tak ada celah barang sedikit pun juga, tapi kereta itu bisa berlari dengan tenang dan teratur.

"Entah siapakah yang berada di dalam kereta itu?" diam-diam pemuda kita membatin.

Serentetan suara yang sangat aneh perlahan-lahan berkumandang keluar dari dalam ruang kereta...

Menyaksikan kehadiran kereta itu, dengan wajah gelisah dan cemas dara muda berbaju hijau itu segera berseru :

"Kereta Kencana Pembawa Maut telah tiba, kalian berdua segeralah berangkat..." Air muka si huncwee gede Ouw-yang Gong berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, sinar matanya segera menatap kereta kencana itu tajam-tajam, sementara rasa seram, ngeri dan ketakutan yang amat sangat perlahan-lahan mulai menjulur di atas wajahnya dan makin lama perasaan itu tercermin semakin tebal.

"Aaaah! Kereta Kencana Pembawa Maut..." bisiknya dengan suara gemetar. "Setelah dunia persilatan hidup tenang selama tiga puluh tahun, sungguh tak nyana kereta itu munculkan diri kembali... Aaaaai semakin tak pernah kubayangkan bahwa akulah orang pertama yang bakal mati di tangan Kereta Kencana Pembawa Maut itu..."

Haruslah diketahui, pada tiga puluh tahun berselang Kereta Kencana Pembawa Maut dari Tang Hay Mo Kiong telah menciptakan beratus-ratus kejadian, peristiwa berdarah yang amat mengerikan, setiap kali di dalam dunia persilatan terlihat munculnya kereta kencana tersebut maka suatu peristiwa berdarah yang menyeramkan segera akan berlangsung, semua korbannya rata-rata mati di dalam kereta itu dan kemudian mayat mereka dikirim ke suatu tempat yang tak diketahui namanya...

Kebalikan dari keadaan Ouw-yang Gong, maka bagi Pek In Hoei baru pertama kali ini ia mendengar nama seram kereta pembawa maut itu, ia tidak tahu kekuatan misterius apakah yang tersimpan di balik ruang kereta yang berwarna hitam dengan disepuh emas itu.

Diam-diam si anak muda itu tertawa dingin, mendadak badannya bergerak dan langsung melayang ke atas kereta tersebut.

Ouw-yang Gong yang menyaksikan perbuatan pemuda itu jadi amat terperanjat, teriaknya dengan suara gemetar :

"Hey, bocah, kau jangan bertindak gegabah!"

Si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei tak tahu sampai di manakah kelihayan dari orang yang berada di dalam kereta, ia segera melayang naik ke atas kereta dan tangan kirinya mendadak menjangkau ke depan dan menarik selapis kain horden yang menutupi ruang kereta itu. Siapa tahu belum sampai ujung tangannya menyentuh horden tersebut, tiba-tiba dari balik kereta muncul sebuah telapak tangan yang putih dan lembut, dan gerakan yang cepat laksana kilat langsung mencengkeram pergelangan tangannya.

Pek In Hoei melengak, ia tidak menyangka di saat perhatiannya sedang terpecah, telapak tangan yang putih mulus itu, laksana kilat telah mencengkeram tiba, hatinya jadi bergetar keras, sebelum ia sadar apa yang telah terjadi, tubuhnya sudah tertarik masuk ke dalam kereta oleh lawannya.

Si huncwee gede Ouw-yang Gong jadi amat terperanjat menyaksikan peristiwa itu, teriaknya :

"Hey, bocah cilik, kenapa kau?"

Suasana di dalam kereta kencana sunyi senyap tak kedengaran sedikit suara pun, seakan-akan pemuda itu telah mati secara mendadak, suara dari Pek In Hoei tak kedengaran lagi menggema di udara.

Dalam pada itu Kereta Kencana Pembawa Maut telah memutar arah dan berlari menuju ke arah bukit yang misterius itu.

Terdengar dara muda berbaju biru itu berkata dengan suara dingin :

"Ia telah melanggar pantangan yang terbesar dari istana Mo Kiong kami, dan kini oleh Kereta Kencana Pembawa Maut telah dikirim menuju ke tempat Kiong cu kami itu! Hey, kakek tua bangka, sekarang kau masih membangkang untuk pergi menghadap Kiong cu kami? Apakah kau baru mau berangkat setelah disambut sendiri oleh Kiong cu?..."

Dalam keadaan begini si h gede Ouw-yang Gong tak bisa berbuat lain kecuali tertawa sedih.

"Nona silahkan berangkat," katanya, "selembar nyawa dari aku si ular asap tua telah kusingkirkan ke belakang batok kepalaku..."

Ke-empat orang dara itu pun tidak berbicara lagi, badannya bagaikan segumpal kapas melayang naik ke atas punggung kuda kemudian diiringi suara derap kaki yang ramai berangkatlah mereka tinggalkan tempat itu.

Ouw-yang Gong membungkam dalam seribu bahasa tanpa menunjukkan komentar apa pun jua, ia ikut berlalu dari situ membuntuti di belakang gadis-gadis muda itu.

Dalam pada itu Pek In Hoei yang terbetot masuk ke dalam ruang kereta, sepanjang perjalanan ia sendiri pun tidak tahu saat itu sedang berada di mana, ia cuma takut pada saat badannya meloncat naik ke atas Kereta Kencana Pembawa Maut itu, tiba-tiba dari balik kereta muncul sebuah telapak tangan yang putih dan halus membetot badannya masuk ke dalam ruang kereta.

Dengan termangu-mangu pemuda itu berdiri seorang diri di situ, ia jumpai ruang kereta tersebut kosong melompong tak nampak sesosok bayangan manusia pun, sedang telapak putih yang membetot badannya tadi pun lenyap tak berbekas.

Hatinya jadi amat terperanjat, saking kagetnya sampai keringat dingin mengucur keluar membasahi tubuhnya. Ia tidak tahu dari mana datangnya telapak putih yang aneh itu dan ke mana perginya telapak tersebut setelah membetot badannya masuk ke dalam.

Suasana dalam ruang kereta itu gelap gulita tidak nampak sedikit cahaya pun, buru-buru ia tarik horden di hadapannya, siapa tahu jari tangannya segera membentur dinding kereta yang keras dan kuat bagaikan baja, begitu sempurna dinding kereta itu hingga dari tempat luaran sama sekali tak terlihat kalau sekeliling kereta tersebut terbuat dari baja murni.

Saking gusar dan mendongkolnya Pek In Hoei meraung keras, teriaknya :

"Sungguh misterius kereta ini!"

"Hmmm!" mendadak dari balik kereta berkumandang keluar suara dengusan dingin. "Belum pernah ada orang yang bisa keluar dari Kereta Kencana Pembawa Maut ini dalam keadaan hidup-hidup, meskipun kau adalah sahabat yang diundang Kiong cu tetapi Kiong cu tidak akan melepaskan pula dirimu, setiap orang yang berani mengintip atau mencari tahu rahasia dari Kereta Kencana Pembawa Maut dia tak akan diperkenankan melanjutkan hidupnya..."

Perkataan tadi muncul dari suatu tempat yang sukar ditemukan, seolah-olah berkumandang dari empat arah delapan penjuru, si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei jadi terkesiap, dengan segenap kemampuannya ia berusaha untuk menemukan letak tempat persembunyian orang itu.

Diam-diam ia tertawa dingin, sekilas ingatan dengan cepatnya berkelebat di dalam benaknya, ia berpikir :

"Meskipun Kereta Kencana Pembawa Maut ini amat misterius, tetapi masih belum mampu untuk membelenggu diriku, kenapa aku tidak gunakan segenap kemampuan yang kumiliki untuk menghancurkan kereta yang seringkali mencelakai jiwa manusia ini..."

Ingatan tersebut dengan cepatnya berkelebat lewat dalam benak pemuda itu, diam-diam seluruh hawa murni yang dimilikinya disalurkan ke dalam telapak kanan siap melancarkan sebuah pukulan dahsyat secara mendadak.

"Siapa kau?"

"Haaaah... haaaah... haaaah... aku adalah kusir yang mengendalikan Kereta Kencana Pembawa Maut ini..." suara yang dingin kaku itu tiba-tiba tertawa lengking.

"Hmmm!..." menggunakan kesempatan di kala orang itu sedang berbicara, Pek In Hoei membentak keras, telapak kanannya laksana kilat diangkat dan melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke arah dinding kereta.

"Blaaaam...!" suara benturan keras bergeletar memecahkan kesunyian, tetapi dinding kereta itu ternyata sama sekali tidak rusak atau pun cedera. Meskipun pukulan yang digunakan dengan mengerahkan segenap kekuatan itu boleh dibilang mencapai kekuatan ratusan kati namun sang kereta sedikit pun tidak goyang atau pun gemilang, dengan gerakan yang tenang dan kalem meneruskan perjalanannya ke depan.

"Hmmm!" suara yang misterius itu mendengus dingin. "Sampai di manakah kekuatan yang kau miliki sehingga sanggup untuk menghancurkan Kereta Kencana Pembawa Maut?"

Dalam keadaan terkejut bercampur gusar si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei tak bisa berbuat lain, kecuali hardiknya

:

"Kau tunggu saja nanti!"

Setelah menyaksikan hawa pukulannya sama sekali tak berguna, diam-diam si anak muda itu tertawa dingin, ia segera mencabut keluar pedang sakti penghancur sang suryanya, cahaya pedang segera berkilauan memencar ke empat penjuru, ruangan kereta itu jadi terang benderang dan terlihat dengan amat nyata.

Tampaklah ruang tersebut diatur dengan amat megah dan indah, semuanya terdiri dari emas murni, dan di atap kereta secara lapat-lapat terlihat empat huruf besar berwarna merah darah yang berbunyi :

"Kereta Kencana Pembawa Maut."

Sepasang mata Pek In Hoei si Jago Pedang Berdarah Dingin itu berkilat tajam, senyuman dingin mulai tersungging di ujung bibirnya, sambil melirik sekejap ke arah sekeliling ruang kereta itu ujarnya tertawa :

"Kalau kau tak mau unjukkan diri lagi, jangan salahkan kalau aku segera akan menghancurkan kereta ini..."

"Kau berani?"

Sang kusir yang bersembunyi di tempat kegelapan rupanya mengetahui juga kelihayan dari pedang mestikanya itu, suara bentakan gusar segera berkumandang datang, bayangan putih berkelebat lewat laksana kilat dan sebuah telapak tangan yang putih mulus tahu-tahu sudah menyambar datang mengancam urat nadi di atas pergelangan Pek In Hoei.

Si anak muda itu mendengus dingin. "Hmm, masih berani menakut-nakuti diriku?" bentaknya.

Kali ini Pek In Hoei memang ada maksud untuk melihat macam apakah orang yang menyembunyikan diri di tempat kegelapan itu, tangan kanannya segera membabat ke samping dan laksana kilat balik mencengkeram telapak tangan lawan.

"Hmm," dengusnya dingin, "kau masih mampu menyembunyikan diri ke mana lagi?"

Bayangan manusia tercengkeram tangannya dan tampaklah seorang gadis muda berbaju serba putih dengan pandangan kaget bercampur tercengang mengawasi wajah Pek In Hoei tanpa berkedip lalu dengan suara yang ketus gadis itu menegur.

"Kepandaian silatmu jauh di luar dugaanku, ternyata lebih tinggi dan hebat daripada apa yang kuduga semula."

"Hheehmmm, tidak berani, tidak berani," sahut Pek In Hoei ketus. "Apakah nona berasal dari istana iblis?"

"Sedikit pun tidak salah, dan sekarang kau sedang berada di perjalanan menuju ke istana Mo Kiong, mulai saat ini gerak-gerikmu berada di dalam kekuasaanku, karena itu aku berharap agar kau suka mendengarkan perintah serta perkataanku tanpa membantah..."

Habis berkata ia putar badan siap berlalu begitu saja, Pek In Hoei tidak sudi melepaskan mangsanya dengan begitu saja, laksana kilat lengannya berkelebat mencengkeram lengan tangan lawan kemudian menariknya sehingga tertunduk di sisi tubuhnya.

"Kau pun tak boleh meninggalkan tempat ini," katanya dingin. "Kalau ingin keluar maka kita harus keluar bersama-sama..."

Tatkala secara tiba-tiba dilihatnya dia harus duduk berdempetan dengan seorang pemuda ganteng di dalam ruang kereta yang sempit, gadis muda berbaju putih itu segera merasakan jantungnya berdebar keras, wajahnya berubah jadi merah jengah dan sikapnya yang malu- malu dan tersipu-sipu itu cukup membuat jantung Pek In Hoei ikut berdebar. Memang dalam kenyataan, apalagi seorang gadis muda yang belum pernah bersentuhan badan dengan pria lain, secara mendadak badannya harus duduk berdempetan dengan seorang pemuda yang berwajah tampan rasa kejut dan girang yang timbul dalam hatinya sukar dilukiskan dengan kata-kata, apalagi ilmu silat serta tabiat lawannya merupakan pilihan yang sukar ditemukan.

"Kau... kau..." serunya gelagapan.

"Nona! Kau tak usah gelagapan," ujar Pek In Hoei hambar. "Siapa namamu?"

Karena malunya dara muda berbaju putih itu tertunduk rendah- rendah, sahutnya lirik :

"Aku bernama Coei Coei!"

Ingin sekali dia bertanya namanya tapi tak ada keberanian untuk berbuat demikian, cuma dalam hati kecilnya gadis itu merasa kejut, girang dan bimbang, ia hanya berharap perjalanan bisa berlangsung lebih lama sehingga kesempatan untuk duduk berdampingan dapat berjalan lebih lama.

"Coei Coei?" seru Pek In Hoei, mendadak ia tertawa ringan. "Indah nian namamu itu! Sungguh indah dan manis!"

Mendadak... Kereta Kencana Pembawa Maut itu bergetar keras, putaran roda kereta yang kencang tiba-tiba berhenti diikuti suara langkah kaki yang nyata berkumandang datang, seolah-olah berjalan mendekati kereta tersebut.

Air muka Coei Coei seketika berubah hebat, ia berseru pelan dan bisiknya, "Aduuuh, celaka!"

Si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei tidak mengerti apa maksudnya gadis itu berseru 'Celaka', sementara otaknya masih berputar memikirkan maksud kata-kata itu, serentetan suara teguran yang kasar dan keras telah menggema tiba.

"Siapakah utusan yang mengendalikan kereta ini?" terdengar seorang pria berseru. Air muka Coei Coei berubah pucat pias bagaikan mayat, keadaannya seakan-akan seorang terhukum yang telah dijatuhi hukuman mati, sekujur tubuhnya gemetar keras.

Dengan alis berkerut kencang dan cepat-cepat membenahi pakaiannya yang kusut ia menyahut :

"Aku!"

Kreeek! Pintu kereta terbuka, Pek In Hoei dengan gerakan tubuh yang paling cepat bersama Coei Coei telah meloncat keluar. Seorang kakek tua bercambang dan berwajah seram berdiri di luar kereta dan menatap wajah gadis itu tajam.

Perlahan-lahan Coei Coei turun dari kereta, lalu menjura dan berkata :

"Utusan Peronda Gunung, budak menanti perintah di sini..." Kakek tua itu mendengus dingin.

"Hmmm! Apa jabatanmu?"

"Mengendalikan Kereta Kencana Pembawa Maut, menghantar dan menjemput sukma-sukma yang gentayangan," sahut Coei Coei dengan sekujur badan gemetar keras.

Utusan peronda gunung itu tertawa dingin.

"Kau sebagai salah satu gadis di antara tujuh puluh dua orang gadis istana Mo Kiong, kenapa begitu sudi menurunkan derajatmu dengan bersembunyi di dalam kereta bersama-sama seorang keparat tanpa nama, apakah kau sudah bosan hidup..."

Dengan ketakutan Coei Coei tundukkan kepalanya rendah- rendah.

"Budak mengerti dosa!"

Sebaliknya si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei yang mendengar hinaan itu kontan naik pitam, hawa amarahnya segera berkobar di dalam dadanya, sambil enjotkan badannya melayang ke depan teriaknya dengan suara dingin :

"Hmmm, kau manusia macam apa? Berani benar menghina aku!" "Bocah keparat, ayoh minggir ke samping, jangan banyak bacot di sini..." seru Utusan Peronda Gunung ketus.

Dengan wajah penuh penghinaan ia tertawa sinis lalu berpaling ke arah lain, sinar matanya yang dingin dan tajam ditujukan ke atas tubuh Coei Coei, dara muda berbaju putih itu, seolah-olah dengan pandangan yang tajam itu ia berusaha untuk menembusi rahasia hati gadis tersebut.

Buru-buru Coei Coei tundukkan kepalanya, tak sepatah kata pun yang berani ia ucapkan keluar.

"Apakah kau telah jatuh cinta dengan bajingan cilik ini?" kembali Utusan Peronda Gunung menjengek dengan nada sinis. "Sebelum kejadian aku hendak memberitahukan kepadamu terlebih dahulu, gadis-gadis dari istana Mo Kiong bukanlah seorang gadis yang bebas merdeka lagi, kau harus berhati-hati..."

Mendadak ia mendongak dan tertawa terbahak-bahak, suaranya tajam dan amat menusuk pendengaran, tambahnya :

"Aku rasa dosa bersekongkol dengan orang asing tak akan sanggup kau atasi..."

"Kau jangan menuduh yang bukan-bukan!" teriak Coei Coei dengan suara gemetar.

Utusan Peronda Gunung tertawa sinis, setelah melirik sekejap ke arah Pek In Hoei serunya :

"Ehmmm...! Pandangan matamu sungguh tidak salah, tidak aneh kalau kau sampai..."

"Konyo kamu!" bentak si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei dengan gusarnya, makin didengar ia merasa semakin tak tahan. "Heeeeh... heeeeh... heeeeh... dugaanku ternyata tidak meleset.

Ehmmm Coei Coei! Ayoh ikut aku menghadap Kiong cu!"

Tiba-tiba Coei Coei tertawa keras dengan penuh gusarnya, ia berseru :

"Hmmmm! Apa maksud hatimu kau anggap aku tidak tahu? Bagaimana pun akhir aku tak akan lolos dari kematian pada hari ini. Goan Poo Kay! Mari kita bersama-sama menghadap Kiong cu, persoalanmu pun akan kukatakan pula kepada Kiong cu..."

Mendengar perkataan itu Utusan Peronda Gunung berdiri melengak, lalu katanya :

"Budak rendah yang tak tahu diri, kau berani sebut nama loohu secara terang-terangan?"

Rupanya dia pun dapat menangkap maksud lain di balik ucapan Coei Coei barusan, dengan mata melotot bulat hardiknya :

"Aku punya persoalan apa yang bisa kau laporkan kepada Kiong cu?"

"Hmmmm! Tak usah kuutarakan keluar, aku rasa dalam hati kecilmu sudah mengerti."

Rupanya dara muda berbaju putih ini sudah nekad walaupun selembar jiwanya dipertaruhkan tapi ia tetap berkeras untuk beradu lidah dengan Utusan Peronda Gunung, oleh sebab itu di dalam pembicaraan pun ia tidak sungkan-sungkan lagi, hal ini tentu saja membuat sang Utusan Peronda Gunung jadi mencak-mencak saking gusarnya.

Terdengar Utusan Peronda Gunung tertawa terkekeh-kekeh dengan seramnya.

"Heeeeh... heeeh... heeeh... budak sialan yang tak tahu diri, kau anggap loohu betul-betul tak berani membinasakan dirimu?"

Dari sakunya perlahan-lahan dia ambil keluar sebuah medali tembaga yang kecil tapi mungil, sambil diacungkan di tengah udara napsu membunuh seketika menyelimuti seluruh wajahnya, senyuman sinis yang tersungging di ujung bibir pun lenyap tak berbekas.

Menyaksikan medali kecil terbuat dari tembaga itu, dengan putus asa Coei Coei menghela napas sedih, kepalanya tertunduk rendah dan tidak berbicara lagi.

"Aku akan menggunakan medali pahala ini untuk ditukar dengan selembar jiwamu..." kata sang Utusan Peronda Gunung dengan nada ketus. Haruslah diketahui medali tembaga tersebut adalah medali pahala yang diberikan pihak istana Mo Kiong dari Tang Hay kepada anggota- anggotanya yang berjasa, medali itu sulit diperoleh dan harus mempertaruhkan keringat dan darah untuk mendapatkannya. Barang siapa yang membawa medali tersebut ia diijinkan untuk memohon segala sesuatu kepada sang Kiong cu.

Tetapi kegunaan medali pahala itu hanya satu kali saja, setelah permintaannya dikabulkan maka medali tadi akan ditarik kembali oleh sang Kiong cu.

Si Utusan Peronda Gunung ini rupanya merasa amat takut kalau rahasianya ketahuan Kiong cu maka ia merasa tidak sayang untuk mengorbankan medali pahala itu guna mendapatkan selembar jiwa dari si dara berbaju putih.

Dalam pada itu Coei Coei hanya dapat menghela napas panjang belaka, ujarnya lirih :

"Kau turun tanganlah, aku tidak ingin melakukan perlawanan..."

Heeeh... heeeh... heeeh... itu lebih bagus lagi kau bisa memberikan satu kepuasan bagimu..."

Sambil tertawa seram si Utusan Peronda Gunung mengayunkan telapak kanannya dan segera dihajarkan ke atas tubuh Coei Coei.

Menghadapi ancaman yang sanggup merengut jiwanya itu Coei Coei tetap berdiri tak berkutik, matanya dipejamkan rapat-rapat dan ia pasrah sama sekali. Sedikit pun tidak nampak tanda-tanda yang menunjukkan bahwa gadis itu ada maksud melawan.

Pek In Hoei yang menyaksikan kejadian itu, air mukanya segera berubah hebat, bentaknya keras :

"Tahan!"

Si anak muda itu benar-benar merasa muak dan mendongkol oleh sikap serta tingkah laku si Utusan Peronda Gunung yang sombong dan jumawa itu, ia membentak keras, telapak tangannya dengan cepat didorong ke depan dan segulung angin pukulan yang maha dahsyat segera menyapu keluar. Blaaam...! benturan keras menimbulkan suara ledakan yang memekikkan telinga, pusingan angin tajam segera menderu-deru dan menyebar ke empat penjuru.

"Bajingan cilik!" teriak Utusan Peronda Gunung dengan penuh kemarahan. "Kau pengin modar?"

Dari pinggangnya dia ambil kedua-dua buah senjata berbentuk palu, kemudian dengan jurus 'Jie Seng Thong Liok' atau Sepasang Bintang Rontok Bersama ia hajar tubuh Pek In Hoei dengan dahsyatnya.

Pek In Hoei tak mau unjukkan kelemahannya,ia cabut keluar pedang mestika penghancur sang surya dan menyahut :

"Mari kita coba-coba lihat, siapa yang sebetulnya pengin modar! Kau atau aku..." Tubuh mereka berdua bergerak secara berbareng dan suatu pertarungan sengit pun segera berkobar.

"Tahan!" mendadak terdengar suara bentakan keras berkumandang datang.

Air muka Coei Coei berubah hebat, buru-buru ia jatuhkan diri berlutut di atas tanah sambil serunya :

"Kiong cu!"

Kehadiran sang pemilik istana iblis dari Tang Hay yang mendadak ini membuat pertempuran sengit yang sedang berlangsung di tengah kalangan pun segera terhenti.

Sambil menarik kembali pedangnya Pek In Hoei meloncat mundur dua langkah ke belakang, sedang si Utusan Peronda Gunung sambil ayunkan senjata palunya tak berani turun tangan lagi secara gegabah, hanya saja pandangan gemas dan penuh kebencian ia melotot sekejap ke arah si anak muda itu.

Coei Coei yang berlutut di atas tanah sama sekali tak berani berkutik, bahkan bernapas keras-keras pun tak berani.

****** Bagian 24

SETELAH mengendorkan senjatanya si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei kembali pusatkan seluruh perhatiannya ke ujung pedang, sekejap pun ia tidak memandang ke arah sang Kiong cu tersebut.

Sebab dalam bayangannya pemilik dari istana iblis yang berasal dari laut Tang Hay ini bisa mengandalkan Kereta Kencana Pembawa Maut untuk mencelakai jago-jago Bu lim secara mengerikan, sang Kiong cu tersebut pastilah seorang manusia sadis yang berwajah seram dan berhati binatang, ia merasa tidak sudi berhubungan dengan manusia semacam ini, karenanya dia pun ogah untuk menggubris kehadirannya.

Dugaan si anak muda ini ternyata meleset, sang Kiong cu dari istana Mo Kiong adalah seorang perempuan yang berwajah cantik, diiringi oleh empat orang dara muda perlahan-lahan ia berjalan mendekat, tiada senyuman yang menghiasi bibirnya, kecuali sepasang biji matanya yang nampak sangat tajam, hampir boleh dikata tiada tanda-tanda lain yang menunjukkan bahwa dialah sang pemilik istana iblis yang memiliki ilmu silat sangat lihay itu.

Sedang di atas raut wajahnya yang cantik dan halus, sedikit pun tidak memperlihatkan kekejaman serta kesadisan hatinya yang pernah menyelenggarakan pembunuhan secara besar-besaran, hal ini membuat orang jadi menaruh curiga, benarkah dia adalah perempuan pengejar sukma yang sudah amat tersohor di kolong langit.

Sementara itu dengan pandangan dingin ia sudah melirik sekejap ke arah Coei Coei, lalu sambil ulapkan tangannya ia berseru :

"Ayo bangun!"

Coei Coei tak berani mengucapkan barang sepatah kata pun, buru-buru ia mengundurkan diri ke samping.

Sementara sang Kiong cu dengan sikap yang dingin dan hambar bergerak maju ke depan, tubuhnya enteng bagaikan awan yang melayang di angkasa, ringan lincah dan indah menawan hati. Diam-diam si Utusan Peronda Gunung mencuri lihat sekejap ke arah Kong cu-nya, sorot matanya segera terlintas rasa takut yang tebal, tubuhnya rada getar keras tapi ia maju juga ke depan sambil serunya :

"Kiong cu!"

Si Pemilik istana iblis dari laut Tang Hay ini sama sekali tidak menggubris dirinya, mendadak ia tertawa, begitu manis tertawanya sampai nampak sebaris giginya yang putih dan bersih, dua buah dekik yang kecil menambah manisnya wajah Kiong cu tersebut.

Begitu manis dan menawan hati senyuman perempuan itu, membuat siapa pun yang memandang ikut terpesona.

Tetapi bagi si Utusan Peronda Gunung yang menjumpai senyuman penuh daya tarik yang memikat hati itu bukannya terpikat, sebaliknya air muka si kakek tua itu berubah hebat. Rasa takut, ngeri dan seram yang amat tebal dengan cepat terlintas di atas wajahnya, seolah-olah secara mendadak ia telah bertemu dengan iblis seram yang hendak menggait sukmanya, begitu takut orang itu hingga tak sepatah kata pun sanggup diutarakan keluar.

Lama sekali... ia baru berseru dengan nada gemetar : "Kiong cu, kau, kau..."

"Besar amat nyalimu," jengek sang Kong cu sambil tersenyum. "Ternyata terhadap sang Kiong cu mu sendiri pun berani tak pandang sebelah mata pun..."

"Tidak, tidak!" sahut sang Utusan Peronda Gunung seraya goyangkan tangannya berulang kali. "Aku si orang peronda tak berani..."

Senyuman sang Kiong cu datangnya amat cepat, berubahnya pun amat cepat, mendadak air mukanya berubah jadi dingin bagaikan es, begitu kaku sampai mendekati tiada perasaan sedikit pun jua bahwa napsu membunuh yang tebal terlintas di atas wajahnya yang putih dan cantik. Sikapnya yang dingin, ketus dan sedikit pun tiada perasaan ini jauh berbeda dan tak sesuai dengan raut wajahnya yang cantik jelita bagaikan bidadari itu, sebab cantiknya bagaikan sekuntum bunga Bwee, tapi dinginnya melebihi salju di tengah musim dingin.

"Apa yang hendak kau katakan lagi??" serunya hambar. Si Utusan Peronda Gunung sangsi sejenak, lalu ujarnya :

"Menurut peraturan yang berlaku di dalam istana iblis, aku si orang peronda mempunyai kesempatan untuk angkat bicara."

"Jadi kalau begitu, kau pun berharap agar pun Kiong cu juga memberi kesempatan bagimu untuk berbicara?" sela sang Kiong cu menghina.

Air muka Utusan Peronda Gunung perlahan-lahan pulih kembali dalam ketenangan, ia tahu bahwa asalkan dirinya memperoleh kesempatan untuk mengemukakan alasannya maka itu berarti ia pun mempunyai kesempatan untuk hidup lebih jauh, kendati harapan itu tidak besar tetapi jauh lebih baik daripada menerima kematian tanpa berusaha menolong.

Buru-buru ia simpan kembali senjata palunya dan berkata :

"Hal ini sudah tentu, aku si orang peronda adalah salah seorang pembantu yang diangkat oleh Kiong cu, karena itu hamba percaya bahwa Kiong cu pun akan memberi satu kesempatan kepada diriku entah bagaimana menurut pendapat Kiong cu?"

"Hmmmm! Katakanlah!" seru Kiong cu. "Aku bisa membereskan persoalan ini dengan seadil mungkin."

Senyuman penuh kelicikan tersungging di atas wajah Utusan Peronda Gunung, ia bongkokkan badan memberi hormat kemudian bertanya :

"Kiong cu, tolong tanya dosa serta kesalahan apakah yang telah diperbuat aku si orang peronda sehingga membangkitkan kegusaran Kiong cu dan menjatuhi hukuman mati terhadap diri hamba..."

Agaknya sang Kiong cu merasa tertegun dengan pertanyaan itu, untuk sesaat ia tidak menduga kalau orang tua tersebut bisa mengajukan pertanyaan seperti itu kepadanya, tetapi ia bukanlah seorang perempuan yang berotak bebal. Sebagai seorang pemimpin yang dapat menguasai begitu banyak jago lihay dari lautan Timur bahkan membuat mereka tunduk seratus persen pada perintahnya, dalam waktu singkat ia sudah menemukan jawaban yang tepat.

Maka perempuan itu pun tertawa hambar, sahutnya :

"Eeeei... Utusan Peronda Gunung, bagaimana sih caramu untuk menduduki jabatan setinggi ini kalau cuma kesalahan sendiri pun tidak tahu... kau harus mengerti setelah kuutarakan dosa-dosamu itu maka berarti pula bahwa untuk selamanya kau tidak akan memperoleh kesempatan untuk menyesal..."

Di kala ia mengucapkan beberapa patah kata itulah, dengan cepat dia telah berhasil mendapatkan alasan yang kuat untuk membunuh si Utusan Peronda Gunung ini, biji matanya mengerling sekejap ke depan dan satu rencana bagus pun telah disusun.

Kali ini si Utusan Peronda Gunung-lah yang berdiri tertegun, untuk beberapa saat lamanya ia tidak berhasil mendapatkan akal yang bagus untuk menghadapi sang Kiong cu-nya yang telah diliputi oleh napsu membunuh itu, ia sadar bahwa tabiat Kiong cu-nya seringkali berubah tak menentu, rasa senang, gusar, sedih dan murungnya tak akan pernah berhasil diduga orang.

Setelah berpikir sebentar akhirnya ia pun mengambil keputusan, katanya dengan tegas :

"Silahkan Kiong cu utarakan secara terus terang, asal hamba benar-benar mempunyai kesalahan yang patut dihukum mati, janganlah Kiong cu yang memberi perintah, hamba sendiri pun bisa memenggal batok kepalaku sendiri untuk dipersembahkan kepada Kiong cu..." 

"Hmmm! Sikapmu ternyata terbuka, keras dan cukup tegas!" jengek Kiong cu ketus. "Apa dosa Coei Coei, sehingga kau hendak turun tangan untuk membinasakan dirinya..." "Heeeh... heeeh... heeeh... " si Utusan Peronda Gunung tertawa seram. "Ia berani bersekongkol dengan orang yang hendak dijatuhi hukuman mati oleh pihak istana Mo Kiong kita. Cukup berdasarkan alasan ini sudah dapat mencabut jiwanya sebanyak tiga kali, sedangkan Kiong cu pun telah menyerahkan tugas serta tanggung jawab ini kepada hamba, dus berarti bahwa perbuatan serta tindakan hamba kali ini sama sekali tidak bertentangan atau pun melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh Kiong cu. Dari mana mungkin sekarang malahan hambalah yang akan dijatuhi hukuman mati terlebih dulu?"

Coei Coei yang mendengar perkataan itu, mendadak meloncat maju ke depan dan berseru :

"Goan Poo Kay! Janganlah kau campur adukkan dendam pribadimu dengan tugas, apalagi memfitnah orang sekehendak hati sendiri..."

Dengan cepat Kiong cu ulapkan tangannya mencegah dara berbaju putih itu bicara lebih jauh, katanya :