Imam Tanpa Bayangan I Jilid 18

 
JILID 18

RUPANYA sekilas pandangan yang samar tadi telah memberikan pandangan yang mendalam dalam benak Yan Long Koen, tetapi disebabkan pandangannya kurang sreg dan hanya sekilas pandang saja, maka pria ini berusaha keras untuk mengulangi kembali pandangannya.

Kiranya orang ini mempunyai suatu penyakit yang sangat aneh, bukan saja kesukaannya adalah memandang wajah gadis yang cantik, bahkan dia pun mempunyai kebiasaan untuk menilai setiap bagian panca indra si gadis itu, sepertinya hidung yang terlalu mancung atau pesek, bibir yang terlalu tipis atau pendek, pendek kata sebelum memandang dan menilai sampai puas ia tetap akan merasa penasaran.

Kini dengan munculnya tubuh si manusia aneh berjubah merah itu menghalangi pandangan matanya, lamunan yang sedang terkumpul di dalam benaknya kontan jadi buyar.

Bisa dibayangkan betapa gusarnya pria itu, ia meraung keras dan segera mengirim satu babatan kilat ke arah depan.

"Bajingan sialan, rupanya kau adalah anak jadah yang dipelihara oleh cucu kura-kura," makinya kalang kabut.

Manusia aneh berjubah merah itu tertegun, ia tidak menyangka kalau pihak lawannya langsung memaki dirinya dengan kata-kata yang kotor, sebagai seorang jago Bu lim yang mempunyai kedudukan tinggi tentu saja orang itu tak kuat menahan diri setelah dirinya dimaki dengan ucapan sekotor itu, suara tertawa dingin berkumandang tiada hentinya memecahkan kesunyian... "Kau sendiri yang anak jadah, kau sendiri yang dipelihara oleh cucu kura-kura," bentaknya gusar, sorot matanya memancarkan cahaya kilat. "Bajingan cilik! Kau berani mengucapkan kata-kata sekotor itu terhadap diriku... Hmmm! Kalau aku si Telapak Penghancur Mayat tidak hajar dirimu sampai hancur lebur, aku bersumpah tidak akan kembali lagi ke gunung Hoa san..."

Ia tidak tahu kalau Yan Long Koen jadi naik pitam berhubung ia telah menghalangi pandangan matanya serta membuyarkan lamunannya, dalam perkiraan jagoan dari gunung Hoa-san ini pihak lawan memang ada maksud menghina serta tidak pandang sebelah mata terhadap dirinya, napsu membunuh seketika menyelimuti seluruh wajahnya.

Tampaklah si Telapak Penghancur Mayat menggerakkan bahunya meloloskan diri dari serangan telapak lawan, laksana kilat dari tubuhnya ia cabut keluar sebilah pedang pendek yang aneh sekali bentuknya, setelah digetarkan di tengah udara ia mengirim satu babatan dahsyat ke depan...

Yan Long Koen meskipun sudah lama berdiam di wilayah See Liang, tetapi banyak sekali nama jagoan terkenal di dalam dunia persilatan yang dia ketahui, begitu mendengar bahwa pihak lawannya adalah si Telapak Penghancur Mayat dari gunung Hoa-san, hatinya tanpa terasa ikut terperanjat juga.

Segera teringatlah olehnya akan sepasang bersaudara she Sim dari gunung Hoa-san, sang kakak Coei Si Chiu si Telapak Penghancur Mayat Sim Hiong serta sang adik Liat Hwee Loen si Roda Kobaran Api Sim Jiang, kedudukan ke-dua orang ini di dlm partai Hoa san amat tinggi, dan mereka merupakan manusia-manusia aneh yang paling sukar dilayani di dalam dunia persilatan...

Begitu menyaksikan senjata pedang lawan membabat tiba, ia mendengus dingin, teriaknya :

"Hey, Telapak Penghancur Mayat di dalam tiga pukulan kilat aku akan membinasakan dirimu!" Di dalam partai See Liang,ia termashur sebagai seorang jagoan yang bertenaga raksasa, ditambah pula kepandaian silat yang dipelajarinya teramat lihay maka ia semakin kosen lagi dibuatnya.

Apabila secara beruntun ia melancarkan tiga serangan kilat, maka kendati seseorang yang terdiri dari baja yang kuat pun akan terhajar hancur olehnya, semasih ada di wilayah See Liang dulu tak seorang pun yang berani menerima sebuah pukulannya.

Kemudian ciangbunjien dari partai See Liang sendiri pun dihajar sampai tergetar mundur oleh tiga buah pukulan berantainya hingga disebut jago paling kosen di wilayah sana, kejadian ini cukup membuktikan sampai di manakah kelihayan dari tenaga saktinya.

Demikianlah begitu ucapannya selesai diutarakan, sang badan segera meloncat maju tiga langkah ke depan, kepalannya yang besar secara beruntun mengirim tiga pukulan berantai, satu pukulan demi satu pukulan dilancarkan lebih cepat, semuanya mengandung hawa tekanan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Si Telapak Penghancur Mayat tidak tahu kalau kepandaian silat yang dimiliki orang ini sangat lihay, mendengar pria itu sesumbar dengan mengatakan bahwa ia akan dibunuh di dalam tiga jurus, saking gusarnya manusia aneh itu segera tertawa terbahak-bahak.

"Kalau kau bisa memukul aku sampai mati di dalam tiga jurus, partai Hoa san akan kuserahkan kepadamu..." jeritnya.

Siapa tahu belum habis ucapannya diutarakan keluar, terasalah desiran angin pukulan yang menderu laksana gempuran martil yang dapat menghancurkan batu emas, meluncur datang dengan cepatnya menelan ucapan selanjutnya yang belum sempat diutarakan keluar.

Blaaaam...! ledakan dahsyat segera bergeletar membelah seluruh angkasa.

Si Telapak Penghancur Mayat yang semasa hidupnya sudah sering kali menjumpai musuh tangguh belum pernah bertemu dengan lawan selihay dan sehebat ini, ia segera merasakan darah panas di dalam rongga dadanya bergolak keras, sambil memperdengarkan seruan kesakitan yang rendah dan berat darah segar menyembur keluar dari mulutnya.

Buru-buru ia tekan rasa sesak itu ke dalam perut, sementara tubuhnya harus mundur lima enam langkah ke belakang sebelum sanggup berdiri tegak kembali.

"Ilmu kepandaian sesat apakah yang kau pergunakan?" teriaknya dengan wajah kesakitan.

"Tidak sudi kuberitahukan kepadamu, pikirlah sendiri dengan otak bebalmu itu..."

Si Telapak Penghancur Mayat Sim Hiong segera berpaling ke arah saudaranya si Roda Kobaran Api Sim Jiang dan bisiknya :

"Jie te, aku telah terluka!"

"Hmmm! Hmmm! Tidak bakal modar kalau cuma terluka sedikit," sahut Sim Jiang ketus. "Lagi pula kalau kau sampai mati aku masih sanggup untuk membalaskan dendam bagimu. Sekarang ia telah melukai dirimu, aku akan menarik balik modalmu..."

Kedua orang bersaudara ini merupakan saudara kembar yang dilahirkan pada tahun, bulan serta hari yang sama dan watak mereka pun sama dingin, ketus dan tiada perasaan apa pun, peduli menghadapi persoalan apa pun di dalam pandangan mereka berdua sama sekali tidak disertai dengan perasaan, semua tindakan dilakukan sesuai dengan apa yang ia pikirkan di dalam hati.

Terlihatlah Liat Hwee Loen menggeserkan badannya ke depan, lalu sambil melirik sekejap ke arah Yan Long Koen tegurnya gusar :

"Bajingan cilik, siapa namamu?"

"Hmmmm! Kau tidak berhak untuk mengetahuinya!"

Tabiat pria bercambang ini sungguh aneh luar biasa, sehabis menjawab pertanyaan orang sinar matanya segera dicurahkan kembali ke atas wajah Kiem In Eng dan terjerumus pula di dalam lamunannya, terhadap peristiwa berdarah yang barusan berlangsung di mana ia hajar si Telapak Penghancur Mayat hingga terluka seolah-olah sudah terlupakan sama sekali. Si Roda Kobaran Api tertegun, sebelum ia sempat bertindak untuk melancarkan serangan, ketua dari perguruan Boo Liang Tiong Go Kiam Lam telah mengerlingkan matanya memberi tanda, diikuti orang itu maju tiga langkah ke depan sambil menegur :

"Saudara, kau berani menerbitkan keonaran di tempat ini, tahukah kau tempat apakah ini?"

Tapi Yan Long Koen sama sekali tidak ambil peduli akan tegurannya itu, bahkan seakan-akan tidak mendengar ucapannya, ia tetap tidak berpaling barang sekejappun.

Go Kiam Lam si ketua dari perguruan Boo Liang Tiong segera tertawa dingin, sinar matanya perlahan-lahan menyapu sekejap seluruh kalangan dan terakhir bertemu di atas wajah Kiem In Eng, walaupun ia menaruh curiga terhadap asal usul perempuan ini tetapi dia pun dibuat kebingungan dengan alasan apakah ternyata pria bercambang itu bisa demikian kesemsen dan tergiur terhadap dirinya. "Go heng, apa yang masih kau ragukan lagi," teriak si Roda Kobaran Api dengan penuh kemarahan. "Coba kau lihat, ia sama

sekali tidak memandang sebelah mata pun terhadap kita orang..."

Sembari berkata ia segera melepaskan roda raksasa bergigi lima yang tergantung di atas punggungnya, kemudian setelah memasang kuda-kuda senjata roda itu diputar satu kali di tengah udara sehingga menimbulkan suara nyaring yang aneh sekali.

So Leng Yan segera tertawa terkekeh-kekeh jengeknya :

"Hey, apakah kau pengin berkelahi? Mari... mari... siauw moay akan melayani dirimu untuk bermain-main sebentar!"

Pada dasarnya ke-dua orang dara ayu pembuat impian dari wilayah See Liang ini bukanlah termasuk gadis perawan yang alim, asal mereka jumpai lawan yang berwajah tampan atau gagah, segala perbuatan rendah apa pun bisa mereka lakukan.

Dan kini ketika dilihatnya perawakan tubuh si Roda Kobaran Api sangat tinggi besar dan kekar berotot, segera timbullah ingatan cabul dalam benaknya. Sambil maju ke depan mengirim satu pukulan ke udara kosong, biji matanya berputar-putar melemparkan satu kerlingan maut ke arah manusia aneh berjubah merah itu.

Terkena kerlingan tersebut kontan si Roda Kobaran Api Sim Jiang merasakan jantungnya berdebar keras, ia merasa agak tidak tahan menghadapi godaan seperti itu.

Haruslah diketahui si Roda Kobaran Api ini meskipun di luaran nampak dingin dan tiada berperasaan padahal dalam hati kecilnya paling tidak tahan menghadapi godaan, maka senjata rodanya segera digetarkan, dengan jurus 'Ngo Loen cia Sian' atau Lima Roda Muncul Secara Mendadak langsung menotok ke atas dada So Leng Yan.

Merasakan datangnya ancaman, bukannya menghindar So Leng Yan justru malah membusungkan dadanya ke depan, dengan sepasang gundukan dagingnya yang besar bulat ia terima datangnya totokan tadi sambil menjengek :

"Apakah kau tega untuk melukai diriku?"

Sim Jiang yang sudah terpikat oleh kecabulan serta kebinalan gadis itu kontan jadi terperanjat, buru-buru ia tarik kembali senjata rodanya dan mundur dua langkah ke belakang, ujarnya setengah berbisik :

"Lebih baik kau menyingkir saja dari sini, aku tidak ingin melukai dirimu!"

Mimpi pun si Roda Kobaran Api Sim Jiang tak pernah menyangka kalau kepandaian silat yang dimiliki ke-dua orang dara ayu itu sebenarnya jauh lebih dahsyat dari kepandaian dua bersaudara Sim dari Hoa san pay, karena menyaksikan gerak-gerik lawannya yang menggiurkan hati, ia jadi benar-benar tidak tega untuk turun tangan.

Criiing...! Criiing...! Criiing...!

Tiga rentetan irama khiem berkumandang memenuhi seluruh angkasa, semua jago lihay yang hadir di tengah kalangan saat itu seketika merasakan jantungnya berdebar keras. Terdengar Yan Long Koen meraung keras kemudian secara beruntun mundur dua langkah ke belakang.

"Kau... kau adalah..."

Seolah-olah pria bercambang ini telah berjumpa dengan suatu kejadian yang mengejutkan serta menakutkan hatinya, sehingga kata- kata selanjutnya tidak sanggup diteruskan, dengan mata terbelalak dan mulut melongo orang itu berdiri menjublak di tempat semula.

Dengan wajah dingin ketus dan membopong khiem antiknya perlahan-lahan Kiem In Eng menggeserkan tubuhnya.

"Aku minta kalian semua segera enyah dari sini," serunya ketus. "Kalau tidak maka kamu semua akan mati konyol di tengah permainan irama hatiku yang sadis..."

Bagian 23

AIR MUKA GO KIAM LAM berubah hebat, sambil maju ke depan ujarnya :

"Nona, tolong pinjamkan sebentar khiem mestika itu kepadaku!" "Hmmmm! Kau termasuk manusia jenis apa? Berani betul

mengajukan permintaan sesumbar itu."

Sekilas wajah yang menyeramkan berkelebat menghiasi wajah Go Kiam Lam, sambil menyeringai seram katanya dengan penuh kebencian :

"Kau jangan anggap di kolong langit tiada seorang manusia pun yang kenali khiem antik di dalam boponganmu itu adalah Khiem Maut tujuh perasaan. Hmmm...! Aku Go Kiam Lam sudah lama mencari khiem tersebut, aku harap kau sedikit tahu diri dan segera menyerahkan kepadaku..."

"Aku suruh kalian segera enyah dari sini, sudah didengar belum?" hardik Kiem In Eng semakin gusar.

"Hmmm...! Tidak akan segampang itu," jengek Go Kiam Lam sambil tertawa dingin. Tiba-tiba... terdengar suara bentakan nyaring berkumandang datang dari balik kegelapan.

"Siapa yang bilang tidak akan segampang itu?"

Terlihat sesosok bayangan manusia laksana suka gentayangan menubruk datang dengan gerakan yang sangat cepat, ke-lima jari tangannya laksana cakar setan langsung mencengkeram tubuh Go Kiam Lam, kemudian mengangkatnya ke tengah udara dan dilemparkan keluar dari hutan tersebut.

"Braaaak...!" dari balik hutan terdengar suara bantingan keras bergema memecahkan kesunyian disusul suara rintihan kesakitan.

Gerakan tubuh orang itu tidak berhenti sampai di situ saja, selesai melemparkan tubuh Go Kiam Lam ia tubruk pula tubuh si Roda Kobaran Api Sim Jiang dengan ganas.

"Bangsat, kau belum juga mau enyah dari sini?" bentaknya.

Dengan gerakan laksana kilat, jari tangannya meluncur keluar bagaikan hembusan angin puyuh, dalam sekejap mata tubuh si Roda Kobaran Api serta si Telapak Penghancur Mayat telah terlempar semua keluar dari kalangan.

Gerakan tubuhnya bukan saja cepat, tepat dan cekatan, bahkan sungguh berada di luar dugaan siapa pun.

Kehadiran orang ini di tengah kalangan dilakukan sangat mendadak, gerakan tubuhnya pun cepat dan lihay, kontan membuat hati semua orang yang hadir di situ jadi terkesiap dan bergetar keras. Dalam pada itu setelah berhasil melemparkan tubuh ke-tiga orang jago lihay itu keluar dari hutan, mendadak tubuhnya merandek

sejenak dan tidak meneruskan serangannya lagi.

Kiem In Eng menggunakan kesempatan tersebut memperhatikan sekejap potongan badan orang ini, tampaklah dia adalah seorang manusia yang sangat aneh, wajahnya memakai selembar topeng manusia tertawa yang nampak amat lucu, kecuali sepasang matanya yang tajam bercahaya terang di tangannya memegang sebuah kipas besar yang telah usang. Yan Long Koen rada tertegun beberapa saat lamanya, kemudian tegurnya sambil tertawa :

"Hey! Kau datang dari mana?"

"Haaaah... haaaah... haaaah... " manusia aneh itu goyangkan kipasnya dan tertawa terbahak-bahak. "eeei setan perempuan, apakah kau pun pengin kulempar keluar dari tempat ini?"

Yan Long Koen segera mengerutkan sepasang alisnya. "Saudara, kalau kau ingin menjual lagak di hadapanku, maka

perbuatanmu itu benar-benar merupakan suatu tindakan yang tak tahu diri..."

Manusia aneh itu tidak mengucapkan sepatah kata pun, mendadak ia loncat ke depan dan menghampiri sebuah batu cadas besar yang terdapat di situ, tangannya perlahan-lahan dibabat ke arah bawah, segera terlihatlah batu karang yang amat keras itu seolah-olah sebuah tahu ternyata terpotong-potong jadi beberapa bagian dengan ratanya.

Gerakan tersebut dilakukan amat cepat, tahu-tahu manusia aneh tadi telah menyelesaikan pekerjaannya dan meloncat balik ke hadapan Yan Long Koen, jengeknya dengan nada kurang senang :

"Sekarang katakanlah terus terang kau sendiri yang tidak tahu diri ataukah aku yang tak tahu diri?"

Sungguh dahsyat kepandaian silat yang didemonstrasikan orang itu, kontan Yan Long Koen tarik napas dalam-dalam, ia merasa bahwa ilmu silat yang dimiliki orang itu terlalu ampuh dan sakti, sadarlah pria bercambang ini bahwa kepandaian silatnya masih belum sanggup untuk menandingi orang itu.

Pembicaraan belum sampai dilanjutkan, mendadak terlihatlah Go Kiam Lam serta si Roda Kobaran Api dengan kalap telah menubruk datang lagi, sedangkan si Telapak Penghancur Mayat duduk bersila di atas tanah untuk menyembuhkan luka dalamnya.

Terdengarlah manusia she Go itu dengan wajah hijau membesi, teriaknya penuh kemarahan : "Antara aku dengan dirimu tak pernah terikat dendam permusuhan maupun sakit hati, mengapa kau menghina dan mempermalukan diri cayhe..."

Manusia aneh itu mendengus dingin.

"Selama aku masih berada di sini, siapa pun dilarang bersikap kurang ajar atau pun kurang sopan terhadap dirinya..."

Sembari berkata ia segera menuding ke arah Kiem In Eng.

Kiem In Eng yang ditunjuk jadi melengak dan tidak habis mengerti, ia merasa tak pernah kenal dengan seorang tokoh Bu lim yang memiliki ilmu silat sedemikian lihaynya, tanpa sadar pikirannya telah terjerumus dalam lamunan, dengan gunakan segenap daya ingatannya ia berusaha mencari tahu asal usul orang itu.

Dalam pada itu air muka Go Kiam Lam telah berubah jadi dingin dan kaku.

"Hmmm! Apakah saudara ingin mengandalkan sepatah dua patah kata itu hendak menggertak kami sekalian?" katanya.

"Tidak berani, tidak berani!" sahut manusia aneh itu berulang kali, perlahan-lahan ia menggeserkan badannya menghampiri sang ketua dari perguruan Boo Liang Tiong itu.

Berhubung Go Kiam Lam sudah tahu sampai di manakah taraf kelihayan lawannya, ia jadi jeri dan gentar tatkala dilihatnya pihak lawan mendekati ke arahnya, tanpa sadar ia mundur beberapa langkah ke belakang dan memandang ke arah orang itu dengan sorot mata ketakutan.

Manusia aneh itu tertawa menghina.

"Huuuuh! Kalau kau masih kepengin menjajal kepandaian silatku, mari... mari... tiada halangannya bagimu untuk mencoba!"

Go Kiam Lam bukanlah seorang manusia yang tolol dan tak punya pikiran, setelah mengalami kerugian besar di tangan orang dari dasar hati kecilnya telah timbul perasaan jeri yang tak terhingga, ia sadar bahwa dirinya pasti akan kalah lagi andaikata melancarkan serangan ke arahnya. Oleh sebab itu setelah ragu-ragu sesaat akhirnya ketua dari perguruan Boo Liang Tiong ini mengambil keputusan untuk sementara menghindari bentrokan langsung dengan orang itu.

"Hmmm, kita lihat saja nanti!" serunya dengan gemas.

Habis berkata ia segera berlalu dari situ diikuti si Roda Kobaran Api yang memayang kakaknya si Telapak Penghancur Mayat.

Suara seruling yang lirih kian lama kian menjauh dan akhirnya sirap, jelas ia telah menarik kembali seluruh anak murid perguruan Boo Liang Tiong yang telah mengepung rapat-rapat sekeliling hutan itu.

Mendadak... bayangan manusia berkelebat lewat, Wie Chin Siang munculkan diri dari tengah hutan.

Sepasang dara ayu pembuat impian dari See Liang menyaksikan hal itu air muka mereka segera berubah hebat, satu ingatan dengan cepat berkelebat di dalam benak mereka.

"Toako!" terdengar So Leng Yan berteriak keras. "Apa yang harus kita nantikan lagi di sini?"

Yan Long Koen berpaling, tatkala menyaksikan di tempat itu muncul pula seorang gadis muda yang cantik jelita, tanpa terasa penyakit anehnya kambuh kembali, ia menelan air liur dan bertanya :

"Leng Yan, apakah kau maksudkan gadis ini?"

"Sedikit pun tidak salah," sahut So Leng Yan sambil tertawa ringan. "Tua bangka itu telah menyerahkan benda tersebut kepadanya..."

Yan Long Koen tertawa terbahak-bahak, ia segera menyingkap ujung jubahnya dan meloncat ke depan.

Siapa tahu baru saja badannya bergerak, tiba-tiba manusia aneh itu telah munculkan diri di hadapannya dan menghadang jalan perginya. Hal ini membuat pria bercambang itu jadi amat terperanjat.

"Hey, apa yang kau inginkan?" teriaknya penuh kemarahan.

Dengan sorot mata yang tajam manusia aneh itu menatap sekejap ke arahnya, kemudian sahutnya dengan suara dingin : "Cepat enyah dari sini! Beritahu kepada suhumu, janganlah sekali-kali ia punya pikiran untuk mendapatkan pil mujarab Som Wan berusia seribu tahun itu."

"Siapakah sebenarnya dirimu?" seru So Siauw Yan tidak puas, "sekembalinya dari sini kami harus memberikan suatu pertanggungjawaban kepada guru kami..."

"Heeeh... heeeh... heeeh... " manusia aneh itu tertawa dingin. "Asalkan kau sebutkan potongan wajahku, maka gurumu segera akan mengerti..."

Sepasang gadis cantik pembuat impian dari wilayah See Liang ini pun tahu bahwa manusia aneh tersebut bukanlah seorang manusia yang gampang dilayani, dengan penuh kebencian mereka melirik sekejap ke arahnya kemudian sambil menarik tangan Yan Long Koen buru-buru mengundurkan dari situ.

Malam yang gelap terasa amat sunyi, segulung angin dingin berhembus lewat membuyarkan rambut Wie Chin Siang yang terurai ke bawah, perlahan-lahan ia benahi rambutnya yang kusut dan melirik sekejap ke arah gurunya Kiem In Eng, lalu menghela napas dalam- dalam.

Kiem In Eng sendiri dengan ringan menyentil tali senar khiem- nya hingga mengalukan irama yang memecahkan kesunyian di tengah malam itu, kemudian ia mendongak dan memandang ke arah muridnya dengan sorot mata yang halus dan lembut, ujarnya lirik :

"Nak, mau apa kau datang kemari? Sebelum daya kerja obat itu menunjukkan reaksinya, kau harus melindungi keselamatan mereka, hati-hati kalau ada orang yang turun tangan melukai mereka di kala kau sedang berada di sini..."

"Karena aku dengar suara ribut-ribut di tempat luaran maka aku datang kemari untuk menengok apa yang terjadi," sahut Wie Chin Siang dengan nada sedih. "Suhu benarkah obat Som Wan berusia seribu tahun itu mempunyai khasiat yang hebat, mengapa hingga kini Pek In Hoei belum sadar juga dari pingsannya..." Kiem In Eng adalah seorang perempuan yang sangat memahami perasaan hati sepasang muda mudi yang sedang berkasih-kasihan, terutama seorang gadis muda apabila ia telah mencintai seseorang maka ia akan menerima kasih sayang pihak lawannya dengan segenap jiwa dan raganya, andaikata pihak lawannya menderita luka atau tidak senang hati, maka rasa kuatir, cemas, gelisah serta perhatian yang diperlihatkan seringkali jauh melebihi perhatiannya terhadap diri sendiri.

Terdengar Kiem In Eng tertawa ringan dan menjawab :

"Luka dalam yang ia derita terlalu parah, penyakit semacam ini tidak akan sembuh di dalam waktu yang singkat! Nak! Kau tak usah terlalu sedih atau pun murung, percayalah obat mujarab yang dimiliki si Tangan Sakti Berbaju Biru merupakan salah satu obat mujarab yang paling hebat di antara ke-lima jenis obat lainnya di kolong langit..."

"Kalau memang begitu aku pun jadi lega, asal ia tidak ada apa- apa aku pun bisa tenang..."

Seperti seorang bocah kecil saja, setelah mendengar bahwa luka dalam yang diderita Pek In Hoei segera akan sembuh kembali, gadis ini jadi kegirangan setengah mati, kemurungan serta kesedihan yang terlintas di atas wajahnya tadi bagaikan terhembus angin kencang seketika lenyap tak berbekas, gadis itu pulih kembali dalam kelincahan serta kegembiraannya, sambil tersenyum ia pun berlalu dari situ.

Menanti bayangan punggung Wie Chin Siang sudah lenyap dari pandangan, Kiem In Eng baru alihkan kembali sinar matanya ke arah manusia aneh itu.

Ditatapnya wajah orang itu dengan sinar mata dingin, lalu tegurnya dengan suara berat :

"Mau apa kau datang kemari!"

"Aaaaa! Kau sudah tahu siapakah aku?" seru manusia aneh itu dengan perasaan hati yang bergolak. "Hmmm! Kau anggap aku tak dapat mengenali kembali dirimu? Sekalipun kau telah menutupi selembar wajahmu dengan topeng kulit manusia, tetapi nada suaramu sama sekali tidak berubah, setelah kuperhatikan dengan seksama tidak sulit bagiku untuk menduganya!" "Aaaai...!" tiba-tiba manusia aneh itu menghela napas dalam-

dalam... "In Eng! Benarkah kau tak pernah melupakan diriku?"

Seolah-olah dia mempunyai perasaan hati yang sukar diutarakan keluar dengan kata-kata, saking goncangnya perasaan hati sepasang matanya bagaikan orang kebingungan memandang ke angkasa tanpa berkedip, setitik air mata mengembang di atas kelopak matanya...

"Hmmm! Aku telah melupakan dirimu," jawab Kiem In Eng dengan nada yang amat tegas. "Sejak dari dulu aku telah melupakan dirimu, dalam hati kecilku sudah tiada dirimu lagi, bagaikan barang- barang yang telah mati aku tidak menaruh kenangan atau pun rasa rindu terhadap dirimu lagi, aku tak pernah memikirkan tentang kau..." "Tidak!" jerit manusia aneh itu dengan penuh penderitaan batin.

"In Eng, kau tidak akan melupakan diriku, selamanya... yaaah selamanya... kau tak akan..."

Tapi dengan cepat Kiem In Eng telah gelengkan kepalanya. "Aku memang tak dapat melupakan dirimu, tapi yang tak dapat

kulupakan adalah penderitaan serta siksaan yang telah kau tambatkan kepadaku, penderitaan batin yang luar biasa itu telah menghapus seluruh hidupku, membuat diriku hampir saja tak punya semangat serta keberanian untuk melanjutkan hidupku."

Ia tak berani mengenangkan kembali peristiwa yang paling menyedihkan bagi hidupnya, ia tak berani mengenang pula semua kejadian sedih yang pernah menimpa dirinya.Bagi seorang gadis dengan pengalaman pahit yang serba getir, pikiran serta perasaannya hanya kosong... hampa belaka.

Selama banyak tahun, seluruh harapan yang timbul dalam hati kecilnya telah ditumpukkan semua ke atas bahu Wie Chin Siang, hanya gadis yang menyenangkan dan lincah ini saja yang dapat mendatangkan perasaan gembira bagi dirinya, tetapi di balik kegembiraan tersebut siapa pun tidak tahu bahwa ia telah merahasiakan banyak persoalan yang tak ingin diketahui oleh siapa pun.

Dalam pada itu si manusia aneh tersebut pun mulai bungkam, mulai murung dan kesal, apa yang bisa ia katakan pada saat ini?

Semua harapan yang dihimpun dan dikumpulkan selama ini kian lama kian bertambah suram, bagaikan asap yang mengumpul di udara saja, sedikit terhembus angin segera buyar dan lenyap tak berbekas, sepanjang masa tidak mungkin bisa berkumpul kembali.

Dengan perasaan yang amat sedih ia menghela napas panjang. "In Eng, apakah kau masih tetap kukuh... kukuh pada

pendirianmu?..."

"Hmmm! Kalau kau ingin aku tunduk di bawah telapak kakimu... heeeh... heeeh... tunggu sajalah sampai matahari bisa terbit dari sebelah barat..."

Rupanya manusia aneh itu dibuat tertegun oleh ucapan yang terakhir ini, lama sekali ia termenung kemudian baru menjawab :

"In Eng, aku tidak bermaksud demikian, aku hanya berharap agar kau suka memandang di atas wajah anak kita berilah kesempatan bagi kami untuk berkumpul kembali, bagaikan rembulan di tengah mega suatu saat pasti bulat dan purnama..."

Kiem In Eng menghela napas lirih dan gelengkan kepalanya. "Kesemuanya itu sudah terlambat, perjumpaan di antara kita

adalah suatu kesalahan yang amat besar, seandainya bukan disebabkan Siang jie, aku percaya bahwa kau tidak akan menemukan diriku, tetapi walaupun begitu aku tak pernah menyangka kalau kedatanganmu bisa sedemikian cepatnya... kehadiranmu sungguh berada di luar dugaanku..."

Saking sedih dan terharunya tanpa sadar si manusia aneh itu mengucurkan air matanya, ia tertunduk lemas. "In Eng, selama ini aku selalu mengikuti di belakang Siang jie, semua peristiwa yang terjadi di tempat ini telah kuketahui semua, In Eng! Aku mengakui bahwa dahulu aku terlalu berkeras kepala, tapi sekarang... sekarang..."

"Tak usah banyak bicara lagi!" tukas Kiem In Eng sambil mengulapkan tangannya.

"Cepatlah pergi dari sini, aku tidak ingin mendengar kau mengungkap kembali peristiwa sudah lewat..."

Perlahan-lahan si manusia aneh itu melepaskan topeng yang menutupi wajahnya, dia bukan lain adalah si Tangan Sakti Berbaju Biru.

Dengan wajah yang lesu, murung dan teramat sedih ia maju beberapa langkah ke depan, sambil mengeluarkan sepasang tangannya ke depan ia berharap :

"In Eng, marilah kita rujuk kembali... marilah kita berkumpul kembali dan hidup dengan kebahagiaan bersama anak-anak kita..."

Kiem In Eng memandang sinis lalu menggeleng dengan wajah dingin, sikapnya begitu tegas dan pendiriannya begitu kukuh membuat si Tangan Sakti Berbaju Biru semakin sedih.

Ia mulai putus asa dan kecewa, hatinya terasa amat terluka hingga tak tahan ia mendongak dan tertawa keras.

"In Eng!" ujarnya kemudian. "Sekali pun kau tidak ingin rujuk kembali dengan diriku, tetapi bagaimana pun juga kau tidak seharusnya mengelabui anakmu sehingga ayah sendiri pun tidak kenal..."

Mendengar perkataan itu hawa pitam Kiem In Eng segera berkobar.

"Mempunyai seorang ayah yang tidak bertanggung jawab seperti kau sama halnya dengan tidak punya ayah, kini Siang jie sedang gembira dan hidup dalam keadaan yang baik, aku harap kau jangan mengacaukan pikirannya lagi, dalam bayangannya ia mempunyai seorang ayah yang bagus dan sempurna dalam segala hal, sedang kau... Hmmm! Aku ogah untuk membicarakan tentang dirimu..."

Mimpi pun si Tangan Sakti Berbaju Biru tak pernah menyangka kalau Kiem In Eng bisa memaki dirinya dengan begitu tak kenal perasaan, membuat sekujur badannya gemetar keras, titik keringat dingin mulai membasahi jidatnya.

"In Eng, masa kau pun melarang aku untuk berjumpa muka dengan darah dagingku sendiri..." rintihnya dengan penuh penderitaan.

"Hmmm! Kalau aku tetap melarang kau mau apa?" makin lama suara dari perempuan itu semakin dingin dan ketus.

Sekali lagi si Tangan Sakti Berbaju Biru tertegun, ia tak pernah mengira Kiem In Eng bisa sedemikian cepatnya berubah sikap terhadap dirinya, ia jadi jengah, kikuk dan serba salah. Dalam keadaan begitu pria berbaju biru ini tidak mengerti, apa yang harus dilakukan. Di saat yang amat kritis itulah mendadak ia temukan putranya si Jago Pedang Bertangan Sakti secara diam-diam sedang menyusup

keluar dari balik hutan belantara.

Satu ingatan dengan cepat berkelebat di dalam benaknya, ia segera berteriak :

"Meh Ing, cepat datang kemari menjumpai ibumu..."

Si Jago Pedang Bertangan Sakti Meh Ing yang telah mengetahui persoalan antara ayah dan ibunya, mendengar panggilan tersebut buru-buru munculkan diri dari tempat kegelapan dan jatuhkan diri berlutut di hadapan perempuan itu.

"Ibu!" panggilnya dengan suara gemetar, air mata tanpa terasa jatuh berlinang membasahi pipinya.

Panggilan yang begitu mesra, begitu lembut seketika menghancurkan hati Kiem In Eng, ia merasakan dadanya seperti digodam dengan martil besar membuat tubuhnya tak tahan dan mundur dua langkah ke belakang dengan sempoyongan, kelopak matanya segera menjadi kabur tertutup oleh air mata. Sambil menuding ke arah si anak muda itu, bisiknya lirih : "Kau... kau adalah Ing..."

Tapi dengan cepat satu ingatan berkelebat di dalam benaknya, ia jadi nekad dan serunya dengan suara tajam :

"Aku bukan ibumu, kau keliru..."

Walaupun hanya beberapa patah kata yang biasa tanpa keanehan apa pun, tetapi kata-kata yang meluncur keluar dari mulutnya ini cukup memilukan hatinya sehingga hampir saja perempuan itu jatuh tak sadarkan diri saking pedih hatinya.

Buru-buru ia putar badannya membelakangi si anak muda itu, agar air mata yang jatuh bercucuran membasahi pipinya tidak sampai terlihat oleh mereka...

Kenangan pahit masa lampau dengan cepat berkelebat kembali di dalam benaknya, ia teringat kembali bagaimanakah si Tangan Sakti Berbaju Biru telah memperkosa dirinya dengan cara serta siasat yang paling rendah dan kotor setelah usahanya untuk mendapatkan dirinya gagal, perasaan benci dan dendam seketika berkobar kembali di dalam dadanya.

Atas hasil perkosaan yang sadis dan brutal itu, selama sembilan bulan ia telah mengandung sepasang bayi kembar yakni Wie Chin Siang serta si Jago Pedang Bertangan Sakti, tetapi ia masih amat mendendam dan membenci akan kebejatan moral serta kelicikan perbuatan si Tangan Sakti Berbaju Biru, maka suatu malam secara diam-diam ia membawa Wie Chin Siang dan meninggalkan lelaki itu beserta anak lelakinya, selama banyak tahun ia bersembunyi di tengah hutan yang lebat dan terpencil...

Sementara si Tangan Sakti Berbaju Biru dari sedihnya telah berubah jadi dongkol dan gusar setelah menyaksikan perempuan she Kim itu tidak mau mengakui anaknya sendiri.

Ia tertawa keras kemudian berseru :

"Kau benar-benar tidak berperikemanusiaan. Hmm! Sejak kecil Ing jie tak pernah mendapat kasih sayang dari ibunya, siang malam ia menangis dan memanggil-manggil ibunya, tapi sekarang terhadap anak sendiri pun kau tidak mau mengakui..."

"Apa kau bilang?" tiba-tiba Kiem In Eng meloncat maju ke depan dan berteriak penuh kemarahan. "Kalau kau tidak mau pergi lagi dari sini, jangan salahkan kalau aku segera akan turun tangan terhadap dirimu!"

Kepedihan serta kesedihan yang berkecamuk dalam hatinya saat ini sukar dilukiskan dengan kata-kata, di dalam gusarnya semua rasa dongkol dan amarah dilampiaskan ke atas si Tangan Sakti Berbaju Biru.

Telapak tangannya berkelebat ke depan laksana kilat, diiringi hawa pukulan yang maha dahsyat ia hajar tubuh lelaki itu.

Dengan cepat si Tangan Sakti Berbaju Biru geserkan badannya ke samping, lalu teriaknya keras-keras :

"Seandainya kau tidak mau pergi bersama aku, aku serta Ing jie akan mati bersama disini..."

Pada saat ini Kiem In Eng telah mengambil keputusan untuk merahasiakan kejadian pada malam ini terhadap Wie Chin Siang, ia tidak ingin di dalam hati putrinya yang masih suci bersih ternoda oleh bayangan hitam tersebut, ia merasa pada usia seperti ini Wie Chin Siang sedang membutuhkan perkembangan yang segar dan harmonis, ia tak mau merusak hatinya dan membuat ia jadi sedih karena peristiwa yang amat memalukan itu...

Sementara itu si Jago Pedang Bertangan Sakti yang melihat Kiem In Eng melancarkan satu serangan ke arah tubuh ayahnya, ia jadi amat cemas, buru-buru badannya mencelat ke udara dan melayang turun di antara tubuh ke-dua orang itu, teriaknya keras-keras :

"Kalian jangan bertarung lagi!"

Kiem In Eng sendiri walaupun dalam hatinya amat membenci si Tangan Sakti Berbaju Biru, tetapi ia merasa tidak tega untuk melukai putranya sendiri, melihat si anak muda itu menghadang di hadapannya dengan cepat serangan yang telah dilancarkan itu ditarik kembali dan melompat mundur ke samping, serunya ketus :

"Kau cepatlah berlalu dari sini bersama ayahmu, aku tidak ingin berjumpa dengan dirimu..."

Si Jago Pedang Bertangan Sakti tidak menjawab, sambil membesut air matanya yang mengucur keluar tiba, ia mengirim satu cengkeraman ke atas wajah Kiem In Eng, berusaha untuk melepaskan kain kerudung hitam itu.

Serangan ini dilancarkan amat cepat dan di luar dugaan siapa pun, Kiem In Eng jadi teramat gusar, sambil membentak ia meloncat ke samping untuk menghindar.

"Apa yang hendak kau lakukan?" hardiknya dengan air mata bercucuran.

"Aku ingin melihat bagaimanakah raut wajah ibuku, aku ingin lihat mengapa ia berhati kejam hingga terhadap putra kandungnya sendiri pun tak mau mengakui. Sekarang kau tidak mau diriku, itu berarti dalam hatimu sudah tiada pikiran terhadap putra kandungmu... Ooooh, selama banyak tahun aku ingin berjumpa dengan ibuku, sungguh tak nyana dia ternyata adalah seorang perempuan yang tidak berperasaan..."

Haruslah diketahui bagi seorang bocah yang semenjak kecilnya tidak beribu, seringkali ia membayangkan ibunya sebagai seorang yang ramah, penuh kasih sayang dan patut dihormati, demikian pula halnya dengan si Jago Pedang Bertangan Sakti ini, sejak kecilnya ia telah membayangkan ibunya sebagai seorang perempuan yang agung dan mencintai putra putrinya.

Tetapi setelah kedua belah pihak saling berjumpa muka, bayangan indah yang telah dihimpunnya sejak dulu seketika hancur berkeping-keping, ia tidak mendapatkan apa yang pernah dibayangkan semasa kecilnya dulu...

"Ooooh...!" Kiem In Eng berseru tertahan, dengan gemetar tubuhnya mundur sempoyongan, ia berusaha mempertahankan diri, berusaha mengeraskan hatinya agar rasa sedih yang bergelora di dalam dadanya tidak sampai tercermin keluar.

Tetapi setelah ia mendengar jeritan batin dari putranya, sang hati yang mulai tenang bergetar kembali dengan kerasnya, pandangan mata segera berkunang-kunang, kepalanya pusing tujuh keliling dan dadanya seperti dihantam dengan martil besar, hampir saja dia roboh terjengkang ke atas tanah.

"Kau..." jeritnya lengking.

"Aku adalah putra kandungmu," ujar si Jago Pedang Bertangan Sakti kembali dengan suara yang memilukan hati. "Tetapi tak sehari pun kau pernah memelihara diriku, tak sedikit pun kau pernah menyayangi diriku. Ooooh, ibu, tahu kau bahwa pepatah kuno mengatakan : Menghormati ayah bagaikan langit, berbakti kepada ibu bagaikan bumi, tetapi kau... kau tidak memiliki..."

"Plooook!" saking tak tahannya menerima sindiran tajam dan pedas dari putranya, Kiem In Eng telah melayangkan sebuah tamparan yang amat keras ke atas wajah si anak muda itu.

Air muka si Jago Pedang Bertangan Sakti berubah hebat, kali ini wajah berubah semakin pucat pias bagaikan mayat.

Lima jalur bekas jari yang berwarna merah dan berubah membengkak tertera jelas di atas pipinya yang pucat, si anak muda itu melengak lalu gumamnya lirih :

"Ibu, inikah kasih sayang yang kau berikan kepada putra kandungmu?..."

"Uuuuwah... " Kiem In Eng yang keras hati dan perkasa kali ini tak dapat menahan goncangan batin yang dihadapinya, dengan penuh kesedihan ia menangis tersedu.

"Ooooh... ! anakku... anakku..."

Dia adalah seorang perempuan, hanya perempuanlah yang tahu bagaimana menyayangi serta mengasihi putranya, ia mempunyai kasih sayang seorang ibu tetapi perempuan itu tak berani memperlihatkannya, sebab ia tak ingin kehilangan satu-satunya putri yang ia cintai, ia takut suatu saat Wie Chin Siang mengetahui akan rahasia ini dan melukai hatinya, mungkin peristiwa itu akan mencelakai seluruh kehidupannya...

"Ibu!" terdengar Jago Pedang Bertangan Sakti merengek dengan penuh kepiluan hati. "Ikutilah ayah dan mari kita pulang ke rumah..." Sebenarnya Kiem In Eng berhati penuh welas asih dan halus perasaannya, tetapi ia tak mau memaafkan si Tangan Sakti Berbaju Biru yang rendah serta terkutuk itu, benaknya terasa kosong... hampa... kehampaan itulah membuat ia jadi bergidik dan merasa

takut.

Akhirnya perempuan itu menghela napas panjang, perlahan- lahan putar badan dan berlalu.

"Ibu!" jerit si Jago Pedang Bertangan Sakti sambil memburu ke depan.

"Sudahlah, kau tak usah banyak bicara lagi, lupakanlah diriku... anggaplah kau tidak punya ibu..."

"Tidak! Aku tak dapat melupakan dirimu, aku adalah darah dagingmu... aku adalah anakmu yang kau kandung selama sembilan bulan lebih sepuluh hari," jerit si anak muda itu keras-keras. "Aku tak bisa hidup tanpa kau... Oooooh! Ibu.... aku minta... janganlah kau berkeras hati... kembalilah kepada ayah... dan mari kita hidup bersama dengan penuh keharmonisan..."

Saking tak tahan menguasai emosi yang mempengaruhi jiwa serta pikirannya, pemuda itu memburu ke depan dan mencekal tangan Kiem In Eng kencang-kencang lalu ditarik ke belakang.

Pada saat masing-masing pihak saling menarik dan saling membetot itulah tiba-tiba Wie Chin Siang munculkan diri di tempat itu, begitu melihat gurunya sedang saling membetot dengan seorang pemuda, ia salah menyangka gurunya sedang bertempur.

Saking cemas dan gelisahnya laksana kilat ia menubruk ke depan, teriaknya keras-keras :

"In te, cepat kemari!" Si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei yang mendengar jeritan gadis itu bagaikan segulung asap hitam segera meluncur datang, begitu tiba telapak tangannya langsung dibabat ke bawah menghajar tubuh si Jago Pedang Bertangan Sakti.

"Lepas tangan!" hardiknya dengan suara dahsyat.

Si Jago Pedang Bertangan Sakti tidak menyangka kalau tenaga lweekang yang dimiliki orang itu sangat lihay, sebelum badannya sempat berdiri tegak segulung tenaga tekanan yang sangat kuat telah meluncur tiba, ia bergidik dan buru-buru mengigos ke samping lalu melayang mundur ke belakang.

"Telur busuk!" bentaknya gusar. "Kau berani mencampuri urusan pribadiku..."

Setelah merandek sejenak di atas tanah, perlahan-lahan pedangnya diloloskan dari balik punggung sehingga terasalah cahaya tajam berkilatan memenuhi angkasa.

"Saudara, bersiap-siaplah menghadapi kematianmu," serunya sambil melintangkan pedangnya di depan dada. "Aku paling benci terhadap orang yang berani mengganggu urusanku, kau telah turun tangan secara gegabah kepada diriku dan mencampuri urusan yang tiada sangkut pautnya dengan dirimu. Hmmm... aku tak bisa melepaskan kau dengan begitu saja..."

Dari sikap si anak muda itu mempersiapkan serangannya, Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei mengetahui bahwa ia telah berjumpa dengan seorang musuh tangguh, hatinya terkesiap dan wajahnya berubah jadi amat serius, setelah tarik napas dalam-dalam pedang sakti penghancur sang suryanya lambat-lambat dicabut keluar.

Air muka si Tangan Sakti Berbaju Biru berubah hebat.

"Aaaaah! Pedang mestika penghancur sang surya... pedang mestika penghancur sang surya..." serunya berulang kali.

Seolah-olah ia telah bertemu dengan suatu kejadian yang mengerikan, air mukanya berubah sangat hebat, dengan alis berkerut dan napsu membunuh menghiasi seluruh benaknya ia menegur penuh kebencian.

"Apa hubunganmu dengan Pek Tiang Hong?"

Pek In Hoei tertegun, ia tidak menyangka kalau si orang tua itu kenal dengan ayahnya, sementara hendak menjawab Kiem In Eng dengan wajah berubah telah mendahului :

"Apa hubungannya dengan Pek Tiang Hong itu bukan urusanmu dan kau tak perlu tahu..."

"Apakah dia bukan keturunan dari keluarga Pek?" jengek si Tangan Sakti Berbaju Biru dengan suara dingin, napsu membunuh semakin jelas menghiasi wajahnya.

Mendengar ejekan itu Pek In Hoei seketika jadi naik pitam. Sejak si jago pedang sakti dari partai Thiam cong Cia Ceng Gak menemui ajalnya, dalam partai tersebut boleh dibilang kepandaian silat Pek Tiang Hong lah yang paling lihay, meskipun ia tak tahu dendam sakit hati apakah yang telah terikat antara orang ini dengan ayahnya, tetapi ia bisa menduga bahwa orang itu bukanlah sahabat ayahnya.

Sebagai pemuda yang berjiwa tinggi hati, tentu saja ia tak sudi mengingkari dirinya sebagai keturunan keluarga Pek, sambil tertawa dingin pedangnya segera digetarkan hingga memancarkan cahaya yang amat tajam.

"Hmmm! Belum pernah keturunan keluarga Pek menyangkal diri di dalam dunia persilatan, kau dapat mengenali pedang mestika penghancur suryaku ini, tentunya mengetahui pula diriku bukan..."

Si Tangan Sakti Berbaju Biru mendongak dan tertawa terbahak- bahak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... bagus, bagus!" serunya. "Pek Tiang Hong bisa mempunyai seorang putra semacam kau, ia patut merasa bangga..."

Perlahan-lahan sinar matanya menyapu sekejap ke arah wajah Wie Chin Siang lalu katanya : "Dengan mempertaruhkan jiwa kau pergi menempuh bahaya untuk mencari obat Som Wan berusia seribu tahun di loteng Coei Hoa Loo ku apakah obat itu kau gunakan untuk menolong bajingan cilik ini..."

"Benar, locianpwee!" sahut gadis she Wie itu setelah tertegun beberapa saat lamanya.

"Haaaah... haaaah... haaaah... kalau aku tahu bahwa dia adalah putra dari Pek Tiang Hong. Hmmm! Tidak sudi kuberikan obat itu kepadamu..."

"Bangsat tua, sombong amat kau!" bentak Pek In Hoei, makin lama ia merasa semakin naik pitam.

Si Jago Pedang Bertangan Sakti yang mendengar pihak lawan memaki ayahnya, dia pun jadi marah, napsu membunuh bergelora di dalam dadanya, sambil menggetarkan ujung pedangnya membentuk berpuluh-puluh kuntum bunga pedang jeritnya keras :