Imam Tanpa Bayangan I Jilid 17

 
Jilid 17

"AKU telah berubah pendapat, aku tidak bermaksud sekaligus membinasakan dirimu!" sahut si Jago Pedang Bertangan Sakti dengan napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya.

So Siauw Yan yang tidak mengerti maksud hati majikan mudanya jadi amat gelisah sehabis mendengar perkataan itu, cepat- cepat serunya :

"Sauw Tangcu, kau jangan lupa bahwa di adalah pembunuh yang telah mencelakai Loo Tangcu kita..."

"Aku tahu!" tukas si Jago Pedang Bertangan Sakti dengan suara ketus. "Justru karena dia adalah musuh besar dari Loo Tangcu, maka aku ingin membunuh dirinya secara perlahan-lahan, agar dia merasakan segala penderitaan terlebih dahulu baru mati..."

Mendengar ancaman itu Wie Chin Siang jadi bergidik, teriaknya

:

"Kau hendak membuat malu diriku?"

Dalam pada itu seorang dayang telah berjalan menghampiri ke

hadapannya sambil mengangsurkan sebilah pedang, tanpa mengucapkan sepatah kata pun gadis cantik she Wie ini menyambut senjata tajam itu kemudian dengan hebatnya mengirim satu serangan kilat ke arah si Jago Pedang Bertangan Sakti.

Pada saat ini ia sudah nekad maka dengan segala daya kemampuannya ia berusaha untuk berebut melancarkan serangan- serangan mematikan. Setelah gadis itu nekad tanpa sadar kekuatan serangannya semakin bertambah hebat lipat ganda, si Jago Pedang Bertangan Sakti sendiri walaupun sudah banyak tahun memperdalam kepandaian ilmu pedangnya dan tenaga lweekang pun jauh di atas lawannya, tetapi belum pernah ia jumpai pertarungan semacam ini, tanpa sadar tubuhnya terdesak mundur ke belakang berulang kali...

Dengan susah payah akhirnya ia berhasil merebut kembali posisinya yang terdesak, sambil mengirim satu babatan ke depan serunya :

"Aku tidak akan memberikan pengampunan terhadap dirimu lagi!"

Ilmu pedangnya telah berhasil mencapai pada taraf penyatuan antara tubuh dan pedang, mendadak ia tarik napas panjang-panjang, sambil putar telapak tangannya sang pedang dari gerakan membabat berubah jadi gerakan menotok langsung bagaikan sebatang pit menyodok ke tubuh bagian atas Wie Chin Siang.

Jurus serangan ini mempunyai perubahan campur baur yang sakti dan dahsyat, arah yang dituju sama sekali di luar dugaan orang.

Rambut Wie Chin Siang yang panjang buyar dan awut-awutan, suatu kepandaian untuk menyelamatkan diri membuat badannya tanpa sadar bergeser ke samping, pedangnya berkelebat menciptakan selapis cahaya pedang yang rapat dan kuat untuk membendung datangnya ancaman itu dengan keras lawan keras.

"Traaaang...!"

Di tengah suara bentrokan nyaring yang memekakkan telinga, letupan bintang api memancar ke empat penjuru.

Tubuh Wie Chin Siang secara beruntun mundur beberapa langkah ke belakang, pakaian yang ia kenakan telah hancur termakan babatan senjata lawan hingga terlihatlah pakaian dalamnya yang berwarna merah,sementara senjata pedangnya termakan oleh gerakan menotok dari pihak lawan patah jadi dua bagian, wajahnya pucat pias bagaikan mayat. Dengan sedih gadis itu menghela napas panjang, katanya lirih : "Aku tidak akan memberikan perlawanan lagi, sekarang kau

boleh membinasakan diriku."

Habis berkata dengan kepala tertunduk dan wajah suram ia jatuhkan diri duduk mendeplok di atas lantai, rambutnya yang terurai menutupi bahunya serta tubuhnya yang hampir telanjang, keadaan gadis itu nampak mengenaskan sekali.

Si Jago Pedang Bertangan Sakti tertegun, kemudian sambil menggetarkan pedangnya ia berseru :

"Ayoh bangun, jangan berpura-pura jadi orang mati!"

Wie Chin Siang sama sekali tidak menggubris terhadap ucapannya, ia berlagak pilon dan duduk di lantai bagaikan seorang padri.

So Leng Yang segera meloncat ke depan, sambil tertawa ringan katanya :

"Sauw Tangcu, kalau kau tidak tega untuk turun tangan, biarlah budak yang mewakili dirimu!"

I rampas pedang mestika dari tangan si Jago Pedang Bertangan Sakti, lalu sambil menuding ke arah Wie Chin Siang katanya :

"Kau tidak bajik terlebih dulu dan aku tidak setia kawan belakangan, jangan salahkan kalau aku berbuat kejam terhadap dirimu!"

Ujung pedang bergeletar di tengah udara, secara mendadak ia tusuk ulu hati dara ayu she Wie ini.

Tiba-tiba... terdengar bentakan keras menggema memekakkan telinga, dengan mata melotot besar si Tangan Sakti Berbaju Biru menghardik :

"Tahan!"

Bentakan ini keras bagaikan guntur yang menggeletar membelah bumi, sekujur badan So Leng Yang segera gemetar keras, tanpa sadar pedang yang berada digenggamannya terlepas dan jatuh ke atas lantai. "Tangcu!" teriaknya sambil mundur ke belakang dengan wajah ketakutan setengah mati.

Air muka si Tangan Sakti Berbaju Biru perlahan-lahan putih kembali seperti sedia kala, wajahnya tidak sepucat tadi lagi. Sambil membesut noda darah yang mengotori ujung bibirnya ia tarik napas dalam-dalam.

"Aaaai... hampir saja kalian sudah melakukan suatu tindakan yang keliru besar!"

"Ayah, apakah kau orang tua tidak terluka?" tanya si Jago Pedang Bertangan Sakti dengan wajah melengak.

Tangan Sakti Berbaju Biru menghela napas dan gelengkan kepalanya.

"Aku hanya merasa napasnya tersumbat untuk beberapa saat hingga membuat darah yang menggumpal dalam dadaku sukar dimuntahkan keluar. Siapa bilang aku telah terluka? Kalian telah menaruh salah paham terhadap nona ini..."

Lambat laut ia berjalan menghampiri gadis she Wie itu, sambil menarik bangun dirinya diamati wajah Wie Chin Siang dengan seksama, lalu tanyanya halus :

"Nak, kau tidak sampai terluka bukan?"

"Tidak!" jawab gadis manis itu sambil gelengkan kepalanya.

Si Tangan Sakti Berbaju Biru melirik sekejap ke arah pakaiannya yang compang-camping tidak karuan, lalu dengan hawa gusar ia mendelik ke arah putranya.

"Binatang, bagus amat perbuatanmu yah?" makinya sambil mendengus dingin.

"Ayah!" seru Jago Pedang Bertangan Sakti tertegun.

Dengan sedih si Tangan Sakti Berbaju Biru gelengkan kepalanya, seakan-akan ia mempunyai suatu persoalan hati yang amat berat dan sulit untuk diutarakan keluar, dengan termangu-mangu ia menatap langit-langit rumahnya tanpa berkedip. Suasana untuk beberapa saat lamanya berubah jadi hening... sunyi... tak seorang pun yang berani buka suara untuk berbicara.

Lama... dan lama... sekali, akhirnya Wie Chin Siang menghela napas panjang memecahkan kesunyian yang mencekam seluruh ruangan itu, katanya lirih :

"Loocianpwee, boanpwee segera akan pergi!"

Sekujur badan Tangan Sakti Berbaju Biru gemetar keras. "Apakah kau tidak inginkan pil Som Wan berusia seribu tahun

itu?..." serunya.

"Cianpwee merasa keberatan untuk menghadiahkan kepada kami, dengan sendirinya boanpwee pun tidak berani terlalu memaksa," sahut Wie Chin Siang dengan sedih. "Cuma... aaai, dengan begitu sahabatku jadi tak tertolong lagi, sayang sekali ia tak bisa mencicipi ketenaran namanya yang baru saja membumbung tinggi... sayang bakatnya yang bagus untuk selamanya bakal terpendam di dalam tanah... dalam usia yang semuda itu dia harus menutup mata..."

"Oooouw...! Begitukah? Tapi... toh aku tak pernah mengatakan bahwa aku menolak permintaanmu itu?" seolah-olah ia merasa teramat girang hati, tanya lagi dengan suara lirih :

"Siapakah nama sahabatmu itu?"

"Kalau dikatakan sahabatku itu bukanlah seorang manusia yang tidak punya nama di dalam dunia persilatan, tetapi dalam pandangan loocianpwee dia masih belum terhitung seberapa. Dia adalah si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei yang belum lama munculkan diri di dalam dunia persilatan, mungkin di antara kalian ada yang pernah mendengar namanya.

Si Tangan Sakti Berbaju Biru tidak memberikan komentar apa- apa, hanya sambil mengangkat kain selendang merah itu ujarnya :

"Beribu li menghantar selendang merah, karena kesulitan mohon obat mujarab, nona! Jago lihay muda belia itu pastilah bukan seorang sahabat biasa dengan dirimu, bukankah begitu?" Walaupun berada dalam keadaan sedih dan kuatir, tak urung air muka Wie Chin Siang berubah juga jadi merah padam saking jengahnya, ia tundukkan kepalanya rendah dan merasa kagum atas ketepatan dugaan si orang tua itu.

Terdengar si Tangan Sakti Berbaju Biru tepuk tangan beberapa kali, kemudian berseru :

"Yauw Hong berada di mana?"

Horden disingkap dan seorang dayang perlahan-lahan berjalan masuk ke dalam, wajah dayang ini cantik jelita dan mempunyai pandangan yang sangat agung.

Setelah menjura, tanyanya :

"Tangcu, kau ada perintah apa?"

"Ambil dan bawa kemari kotak seratus pusaka milikku!"

Nona Yauw Hong mengangguk dan segera berlalu diiringi senyuman manis.

Dalam pada itu Siang Bong Jie Kiauw yang mendengar bahwa si Tangan Sakti Berbaju Biru memerintahkan dayangnya untuk mengambil kotak wasiat, sepasang mata ke-dua orang itu segera berkilat, setelah saling bertukar pandangan sekejap So Leng Yan segera berkata sambil tertawa :

"Tangcu, kau hendak mengambil benda mestika, lebih baik budak sekalian mohon diri terlebih dahulu."

"Ooooh, tidak apa-apa, tetaplah berada di situ!" sahut si Tangan Sakti Berbaju Biru sambil tertawa.

Sesaat kemudian Yauw Hong dengan membawa sebuah kotak perlahan-lahan munculkan diri di dalam ruangan.

Semua orang segera merasakan pandangan matanya jadi silau, sebuah kotak panjang yang bertaburkan intan permata serta mutiara berada di tangannya, Siang Bong Jie Kiauw segera menunjukkan mimik yang aneh, tanpa sadar mereka telah menggeserkan badannya maju ke depan, sedang si Jago Pedang Bertangan Sakti pun menjulurkan lidahnya karena kaget bercampur kagum, ia tidak mengira kalau ayahnya memiliki kotak wasiat yang demikian tak ternilai harganya.

Setelah menerima kotak wasiat tersebut, si Tangan Sakti Berbaju Biru menghela napas panjang, ujarnya :

"Pil Som Wan berusia seribu tahun ini adalah sejenis obat mujarab yang luar biasa khasiatnya, sepanjang hidupku loohu pun hanya memiliki tiga biji saja. Nona! Aku harap kau suka baik-baik menyimpan obat ini..."

Lambat-lambat ia membuka penutup kotak itu, terlihatlah dalam kotak tadi kecuali terdapat sebuah botol porselen putih tiada benda lain yang nampak, Cian Nian Som Wan empat huruf kecil tertera di depan mata Wie Chin Siang membuat jantungnya secara tiba-tiba berdebar keras.

Si Tangan Sakti Berbaju Biru segera angsurkan botol porselen itu ke tangan Wie Chin Siang, katanya :

"Obat mujarab memang kegunaannya untuk menolong orang.

Nah, ambillah..."

"Tapi... cianpwee, aku hanya membutuhkan dua butir saja..." seru Wie Chin Siang ragu-ragu.

"Haaaah... haaaah... haaaah... " Tangan Sakti Berbaju Biru tertawa terbahak-bahak, sambil ayun selendang merah di tangannya ia berseru :

"Obat itu walaupun tak ternilai harganya, tetapi tak bisa dibandingkan nilainya dengan kain selendang perlambang jodoh ini, sisanya sebutir anggap saja hadiah perkenalan loohu bagimu. Aaaa...! Kenangan manis di masa lampau sulit untuk dilupakan, pikiranku terasa amat kacau..."

"Tangcu, kau harus pertimbangkan kembali keputusanmu itu..." tiba-tiba So Siauw Yan berseru dengan nada cemas.

"Kau tak usah turut campur," tukas Tangan Sakti Berbaju Biru dengan cepat. "Persoalan ini adalah urusan pribadi loohu sendiri..." Habis berkata ia segera pejamkan matanya dan terjerumus kembali di dalam lamunannya.

Buru-buru Wie Chin Siang menghaturkan rasa terima kasihnya, sesaat kemudian ia seperti mau mengucapkan sesuatu tapi akhirnya dibatalkan dan badan pun perlahan-lahan berputar siap meninggalkan tempat itu.

........

"Nona, harap tunggu sebentar!" tiba-tiba si Tangan Sakti Berbaju Biru membuka matanya kembali dan berseru.

Dengan wajah melengak Wie Chin Siang menoleh.

"Cianpwee, apakah kau masih ada perkataan yang belum selesai kau utarakan keluar?"

Si Tangan Sakti Berbaju Biru tertawa getir.

"Nona! Loohu masih ada beberapa persoalan ini kutanyakan kepada dirimu," ia merandek sejenak, mendadak sambil ulapkan tangannya ia berseru :

"Aaaai! lebih baik kau pergi saja, aku tidak ingin terlalu melukai perasaan hatimu..."

Wie Chin Siang tertegun, tapi ia segera putar badan dan berlalu.

Sepeninggal gadis itu So Leng Yang segera gelengkan kepalanya dan berseru lantang :

"Tangcu, apakah kau benar-benar hendak menghadiahkan pil Som Wan berusia seribu tahun itu kepada budak tersebut?"

"Kenapa? Apakah aku hanya pura-pura saja?"

Siang Bong Jie Kiauw menghela napas panjang dan tidak berbicara lagi, mendadak tubuh So Siauw Yan terhuyung-huyung ke belakang seolah-olah terserang angin duduk, keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya.

Dengan napas terengah-engah segera serunya :

"Tangcu, aku merasa badanku kurang enak, karena itu ingin mohon diri terlebih dahulu." So Leng Yang buru-buru maju memayang tubuhnya dan ke-dua orang itu dengan cepat mengundurkan diri dari dalam ruangan.

"Aaah!" seru si Jago Pedang Bertangan Sakti dengan wajah kebingungan sepeninggalnya ke-dua orang gadis jalang tadi.

"Kau tak usah  banyak bertanya lagi," tukas ayahnya sambil geleng kepala dengan wajah sedih. "Dia adalah adik perempuanmu!" "Apa? Adik perempuanku?" seru si Jago Pedang Bertangan Sakti dengan sepasang mata terbelalak besar. "Ayah kau sebenarnya sedang

mengatakan apa?"

"Aaaai...! Duduknya persoalan tak dapat diterangkan dalam dua tiga patah kata saja, pokoknya kedatangan kita kali ini dari luar perbatasan memasuki daratan Tionggoan antara lain juga ada sangkut pautnya dengan dia..."

Ia merandek sejenak, kemudian seperti menyadari sesuatu ujarnya lagi:

"Selama ini Siang Bong Jie Kiauw selalu mengikuti ayahmu tanpa berpisah barang selangkah pun, tujuan mereka bukan lain adalah mengincar ke-tiga biji pil mujarab Som Wan berusia seribu tahun ini, kau cepat-cepatlah kejar mereka dan coba periksa, mungkin saja mereka sedang turun tangan mendesak adikmu..."

Si Jago Pedang Bertangan Sakti tidak berani berayal lagi, ia segera meloncat keluar dari ruangan. Tersebarlah angin dingin berhembus kencang, bintang telah bertabur di angkasa, entah sedari kapan udara telah jadi gelap.

Ilmu meringankan tubuhnya dengan cepat dikerahkan pada puncaknya, dari tempat kejauhan ia saksikan ada bayangan manusia sedang bergerak di hadapannya, dugaan si Tangan Sakti Berbaju Biru ternyata tidak salah, waktu itu Siang Bong Jie Kiauw telah menghadang jalan pergi Wie Chin Siang dan memaksa lawannya untuk menyerahkan obat mujarab itu.

Dengan tangan kanan mencekal botol porselen itu kencang- kencang, Wie Chin Siang mengancam : "Kalau kalian berani maju lagi ke depan, aku segera akan beradu jiwa dengan kalian, obat mujarab berusia seribu tahun yang langka ini pun akan ikut kumusnahkan. Hmmm! Baik kalian maupun aku jangan harap bisa mendapatkannya..."

Mendengar ancaman tersebut, sepasang dara ayu pembuat impian itu benar-benar tak berani maju mendekat.

Haruslah diketahui pil Som Wan berusia seribu tahun itu adalah obat mujarab yang diidam-idamkan oleh setiap orang Bu lim, bagi orang biasa jangan dikata untuk mendapatkan sebutir di antaranya, untuk melihat pun mungkin susah, karena itu setelah timbul perasaan was-was dengan sendirinya Siang Bong Jie Kiauw tidak berani sembarangan turun tangan mendesak lawannya.

So Leng Yan segera tertawa hambar, katanya :

"Asal kau suka menyerahkan obat itu kepada kami tanpa melawan, maka selembar jiwamu akan kuampuni!"

"Ciiissss!" teriak Wie Chin Siang dengan gusar. "Aku rela menghadiahkan obat itu kepada orang lain, dan tidak akan sudi menyerahkan kepadamu..."

si Jago Pedang Bertangan Sakti yang menyaksikan kejadian itu kontan naik pitam, ia mendengus dingin dan munculkan diri di tengah kalangan.

Siapa tahu Siang Bong Jie Kiauw sama sekali tidak menggubriskan kehadirannya, malah sambil menjengek sinis katanya

:

"Huuuuh.... manusia telur busuk pun mau ikut campur dalam urusan ini..."

"Kalian mau apa?" teriak si anak muda itu semakin gusar. So Siauw Yan mendengus ketus, sahutnya :

"Sejak tadi aku telah memperhitungkan kehadiranmu di tempat ini. Hmmm! Jago Pedang Bertangan Sakti, kepandaian kucing kaki tiga yang kau miliki meskipun bisa ditonjolkan kedahsyatannya di hadapan anggota perguruanmu, tapi dalam pandangan kami sama sekali tak ada harganya..."

Si Jago Pedang Bertangan Sakti semakin senewen, matanya kontan mendelik besar, teriaknya :

"Bangsat! Rupanya kalian benar-benar mau memberontak?"

Dalam keadaan marah yang tak terkendalikan lagi, pedangnya segera digetarkan kencang-kencang dan mengirim satu babatan dahsyat ke depan.

"Huuuh, kepandaianmu masih terpaut sangat jauh!" jengek So Siauw Yan sinis, tangannya dengan enteng segera dikebaskan ke depan.

Segulung angin pukulan yang maha dahsyat dengan diiringi desiran tajam segera menyapu ke depan.

Braaaak..."

Satu kejadian yang tak terduga sama sekali dengan cepat berlangsung di depan mata, ternyata sepasang dara ayu pembuat impian she So adalah jago-jago lihay yang sengaja menyembunyikan kepandaian aslinya.

Si Jago Pedang Bertangan Sakti segera menjerit kesakitan, pedangnya terpental dan mencelat ke tengah udara, sementara tubuhnya sendiri mundur beberapa langkah ke belakang dengan sempoyongan.

"Bagus!" suatu bentakan keras berkumandang datang dari tempat kejauhan.

Bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu si Tangan Sakti Berbaju Biru sambil tertawa terbahak-bahak telah munculkan diri di hadapan mereka.

"Haaaah... haaaah... haaaah... kiranya kalian adalah mata-mata yang sengaja dikirim partai See Liang untuk menyusup ke dalam perguruan kami, oooh, hampir saja sepasang loohu jadi melamur dibuatnya." Serentetan cahaya merah yang menyilaukan mata segera menyapu datang dari tengah udara dan langsung membabat ke arah tubuh ke-dua orang gadis pembuat impian tersebut.

Dengan hati terkesiap So Leng Yang mencelat ke udara untuk meloloskan diri dari serangan maut, teriaknya :

"Awan ilmu pukulan Hwee Gan Ciang, ayoh lari!..."

Seakan-akan jeri terhadap sesuatu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun ke-dua orang gadis jalang tadi segera melarikan diri dari tempat itu, dalam sekejap mata bayangan tubuh mereka telah lenyap di balik kegelapan.

Sepeninggalnya ke-dua orang dara tadi si Tangan Sakti Berbaju Biru segera menoleh ke arah Wie Chin Siang sambil pesannya :

"Cepatlah berlalu dari sini, partai See Liang tidak akan lepas tangan begitu saja!"

Di tengah kegelapan ke-tiga orang itu berdiri kaku di tempat masing-masing dengan mulut membungkam,beberapa saat kemudian mereka merundingkan sesuatu dengan suara lirih diikuti mereka berpisah dan berangkat ke arah Timur dan Barat.

Siapa pun tidak tahu apa yang barusan mereka rundingkan tetapi mereka tahu bahwa perjalanan Wie Chin Siang dilakukan jauh lebih cepat lagi langsung menuju ke arah gunung Thiam cong.

Angin malam yang dingin berhembus lembut menggoyangkan ranting dan daun hingga menimbulkan suara yang gemerisik, cahaya bintang di angkasa yang remang menembusi dahan dan pepohonan menyinari permukaan jagad...

Gonggongan anjing yang ramai sayup-sayup berkumandang dari kejauhan, membuat suasana di dalam hutan yang lebat itu terasa makin tercekam dalam keseraman.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki manusia bergema memecahkan kesunyian, suara langkah kaki itu amat lembut dan lamban di mana akhirnya berhenti. Sesosok bayangan manusia muncul di balik pepohonan yang lebat dan berdiri termangu di situ.

Di bawah sorot cahaya bintang Kiem In Eng nampak masih begitu cantik dan muda belia, walaupun di atas wajahnya sudah tertera bekas-bekas keriput yang dimakan usia tapi ia masih begitu mempesonakan... begitu menggiurkan bagi setiap pria.

Biji matanya yang bening dan jeli menyapu sekejap sekeliling tempat itu dengan pandangan dingin, tiba-tiba ujung bibirnya tersungging suatu senyuman hambar. Angin malam berhembus lewat mengibarkan ujung bajunya... perempuan itu nampak begitu mengenaskan... begitu menyedihkan.

Criiing... criiing... criiing...!

Tiga kali irama sentilan khiem meluncur keluar membelah kesunyian, bagikan awan yang bergerak di angkasa, air terjun yang membasahi permukaan membuat seluruh hutan belantara itu tertutup oleh irama musiknya...

"Aaaaah!" suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati tiba-tiba berkumandang dari atas pohon diikut... Bluuuk! sesosok bayangan hitam yang tinggi besar terjatuh dari atas dahan pohon.

Lelaki itu dengan penuh penderitaan memegang dadanya kencang-kencang, suara rintihan menggema tiada hentinya dari bibir yang terkatup kencang, dengan wajah penuh ketakutan ia mendongak memperhatikan wajah Kiem In Eng, napasnya tersengkal-sengkal dengan cepatnya...

Beberapa saat kemudian orang itu maju beberapa langkah ke depan dengan sempoyongan, serunya gemetar :

"Apa... apa nama khiem dalam boponganmu itu?"

"Kalau kau ingin mengetahui nama khiem ini, silahkan menikmati lagi sebuah irama laguku!"

Air muka lelaki itu berubah hebat, kulit serta dagingnya berkerut kencang lalu serunya : "Urat nadiku telah tergetar putus oleh irama khiemmu yang membawa maut itu, kini aku sudah tak berkekuatan lagi untuk mendengarkan irama merdu tersebut, sebelum aku menghembuskan napas yang penghabisan, aku ingin tahu apakah suara dari Khiem pusaka yang dapat melukai orang tanpa wujud itu?"

Kiranya Kiem In Eng yang sedang menanti kedatangan Wie Chin Siang dengan hati gelisah di pinggir hutan tadi makin cemas setelah ditunggu yang lima jam tapi gadis itu belum kembali juga.

Pada saat itulah mendadak ia temukan bahwa ada seseorang sedang mengawasi gerak-geriknya di tempat kegelapan, dalam hati perempuan itu segera tertawa dingin, dengan lagu 'Sam Kiem In Eng' bait pertamanya yang bisa melukai orang tanpa berwujud ia serang orang itu dengan gencar.

Jago lihay dari perguruan Boo Liang Tiong yang sama sekali tidak sadar bahwa dirinya sedang diserang orang dengan suara penyerangan tak berwujud ini seketika dibikin terlena dan terpesona oleh irama khiem yang begitu merdu merayu, menantikan dia menyadari apa yang telah terjadi lenyaplah segenap kekuatan tubuhnya untuk melawan daya tekanan yang maha dahsyat tersebut.

Sekilas senyuman hambar menghiasi wajah Kiem In Eng, sahutnya dengan suara dingin :

"Kau bisa mati di tengah alunan irama maut tujuh perasaan yang aku mainkan barusan, hitung-hitung kematianmu tidaklah terlalu penasaran, sebab setiap orang yang mati karena termakan oleh serangan khiem maut ini walaupun urat nadinya patah dan hancur semua di luar badan sedikit pun tidak memperlihatkan tanda luka apa pun..."

Belum habis Kiem In Eng menyelesaikan kata-katanya, pria itu sudah muntah darah segar, badannya gemetar keras dan gumamnya dengan suara lirih :

"Khiem maut tujuh perasaan... Khiem maut tujuh perasaan..." Sepasang matanya mendadak melotot besar hingga biji matanya seakan-akan hendak meloncat keluar dari kelopaknya, dengan perasaan amat ketakutan ia mundur satu langkah ke belakang.

"Aaaah, salah satu dari tiga benda mestika peninggalan Thian Hiang Niocu..."

"Sedikit pun tidak salah, kau dapat mengetahui asal usulnya sungguh jauh berada di luar dugaanku, Thiang Hiang Sam Poo merupakan benda-benda mestika yang diimpikan serta diidamkan oleh setiap orang di dalam Bu lim, walaupun banyak jago-jago Bu lim yang setiap hari mengejar jejak ke-tiga macam benda mestika itu, tetapi tak seorang pun yang tahu bahwa Khiem maut Tujuh perasan bisa berada di tanganku, karena asal usulnya tak pernah kukatakan kepada siapa pun..."

Tiba-tiba pria itu tertawa terbahak-bahak dengan seramnya, seakan-akan secara mendadak ia telah menemukan suatu rahasia besar, setelah tertawa bangga beberapa saat katanya :

"Kau berhasil mendapatkan khiem maut tujuh perasaan dari antara ke-tiga macam benda mestika itu, tetapi tahukah kau siapakah Thian Hiang Niocu itu?"

Pertanyaan itu muncul secara tiba-tiba membuat Kiem In Eng tertegun dan tak sanggup menjawab barang sepatah kata pun.

Tatkala ayah angkatnya Hoa Pek Tuo menyerahkan Khiem maut tujuh perasaan tersebut kepadanya, si orang tua itu sama sekali tidak pernah menyebutkan asal-usulnya, ia hanya berpesan agar baik-baik menyimpannya dan jangan secara gegabah memberitahukan nama dari khiem itu.

Dan kini si jago lihay dari perguruan Boo Liang Tiong ternyata mengajukan pertanyaan semacam itu. Kiem In Eng yang biasanya cerdik dan banyak akal ini tak urung dibuat melengak juga sehingga tak tahu jawaban apa yang mesti dikatakan.

Maka dia pun gelengkan kepalanya dan berkata dengan nada tercengang : "Thian Hiang Niocu cuma ada namanya dan tak pernah kutemui orangnya, manusia yang suka berpelancongan semacam dia siapa yang mengetahui asal-usulnya apalagi bertemu dengan dia..."

Pria itu mendengus dingin.

"Hmmm! Thian Hiang Niocu adalah cikal bakal pendiri perguruan Boo Liang Tiong kami, ia tinggalkan tiga macam benda mestikanya adalah berharap agar anggota partai kami bisa mengembangkan kepandaian silatnya ke seluruh dunia persilatan. Sejak partai kami dibasmi lenyap oleh orang-orang partai Thiam cong, ke-tiga jenis benda mestika itu lenyap tak berbekas, dan kini salah satu benda mestika di antaranya ternyata terjatuh di tanganmu. Hmmm! Rupanya untuk mencari tahu jejak benda-benda mestika itu terpaksa kami harus mengorek keterangan dari mulutmu..."

Seolah-olah ia merasa jeri terhadap sesuatu mendadak dari sakunya dia ambil keluar sebuah tabung bambu yang tipis dan membuka penutupnya, segumpal asap hitam segera membumbung tinggi ke angkasa.

"Apa yang hendak kau lakukan?" hardik Kiem In Eng dengan suara dingin.

"Aku hendak memberitahukan kepada Tiong cu kami bahwa Khiem maut tujuh perasaan telah munculkan diri. Masalah ini menyangkut kemusnahan serta perkembangan partai kami, tak bisa tidak harus kukabarkan..."

"Hmmm!" Kiem In Eng mendengus dingin. "Sebetulnya aku ada maksud untuk melepaskan dirimu, tapi setelah adanya kejadian ini maka timbul pikiran di dalam hatiku, andaikata sekarang aku tidak membinasakan dirimu, kemungkinan besar banyak kesulitan yang bakal menimpa diriku di kemudian hari..."

Tangan kanannya perlahan-lahan diangkat ke atas. Khiem maut tujuh perasaan itu secara tiba-tiba dihantamkan ke bawah.

"Kau..." jerit pria tadi dengan perasaan ketakutan. Belum sempat kata-kata selanjutnya diteruskan, khiem antik yang amat besar itu disertai hawa tekanan yang amat dahsyat bagaikan tindihan gunung Thay-san telah meluncur datang, pria itu mendengus berat, tidak ampun lagi batok kepalanya hancur berantakan, darah segar muncrat ke empat penjuru dan otaknya berhamburan di atas tanah.

Di saat Kiem In Eng selesai membinasakan pria itu, dari dalam hutan kembali terlihat sesosok bayangan hitam tanpa menimbulkan sedikit suara pun meluncur datang.

Kiem In Eng tertawa dingin, badannya berputar satu lingkaran ke belakang dengan jurus Burung merak mementangkan sayap ia kirim sebuah babatan maut ke arah depan.

"Suhu, aku!" terdengar bayangan hitam itu menjerit tertahan.

Mendengar jeritan tersebut Kiem In Eng tertegun, gerakan tangannya segera merandek di tengah udara, buru-buru badannya bergeser lima langkah ke samping, ia tarik kembali serangan babatannya yang telah dilancarkan sampai di tengah jalan itu mentah- mentah. 

Untung tenaga lweekang yang dimilikinya telah mencapai pada taraf yang amat sempurna, baik menyerang atau pun menarik kembali serangannya semua muncul mengikuti perasaan hatinya, sehingga walaupun serangan tadi ditarik kembali di tengah jalan namun keadaannya masih tetap tenang seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu apa pun.

Ia segera menghela napas panjang, tegurnya :

"Chin Siang, mengapa kau tidak menyapa terlebih dahulu? Barusan aku masih mengira kau adalah musuh tangguh yang bersembunyi di tempat kegelapan dan akan melancarkan serangan terhadap diriku."

Wie Chin Siang tidak menjawab pertanyaan itu, sinar matanya dengan tajam mengawasi lelaki yang menggeletak di atas genangan darah serta asap tebal yang mengepul keluar dari dalam tabung, ia berdiri tertegun seolah-olah sedang memikirkan apa yang sebenarnya telah terjadi.

Kiem In Eng sendiri pun tidak mengerti asap hitam yang dilepaskan dari tabung bambu kuning itu melambangkan apa, dengan wajah tegang ia pun termenung beberapa saat lamanya.

Tampaklah asap hitam itu kian lama kian menebal dan perlahan- lahan membumbung tinggi ke angkasa.

"Aku rasa kabut hitam ini pastilah tanda kode untuk mengadakan hubungan dari partai Boo Liang Tiong," katanya kemudian. "Aku tidak menyangka kalau pria ini bisa melakukan perbuatan tersebut sesaat sebelum menemui ajalnya..."

Perlahan-lahan ia mendekati tabung itu kemudian ditendangnya sehingga mencelat sejauh tujuh delapan tombak dari tempat semula.

Pada saat itulah dari tempat kejauhan terdengar suara manusia berkumandang tiba, cuma suara itu kecil dan lembut bagaikan bisikan nyamuk, seandainya waktu itu bukan di tengah hutan yang sunyi lagi pula terhembus angin boleh dibilang suara tadi sukar untuk ditangkap. "Nak! Saat ini musuh tangguh berada di sekeliling kita," ujar Kiem In Eng dengan wajah serius. "Cepat beritahulah kepadaku,

apakah kau berhasil menjumpai si Tangan Sakti Berbaju Biru..." Perlahan-lahan dari sakunya Wie Chin Siang ambil keluar pil

Som Wan berusia seribu tahun itu lalu sahutnya :

"Aku telah berhasil mendapatkan benda ini, sekarang Pek In Hoei berada dimana?"

Kiem In Eng menghembuskan napas panjang.

"Aku telah menyembunyikan Pek In Hoei serta Ouw-yang Gong di dalam sebuah gua di seberang sana, cepatlah kau berikan pil Som Wan berusia seribu tahun itu kepada mereka, di dalam satu jam mendatang mereka tak boleh terganggu oleh kehadiran orang asing, kalau tidak tenaga lweekangnya akan mengalami kemunduran yang hebat. Baik-baiklah berjaga di mulut gua, jangan perkenankan siapa pun masuk ke dalam sedang di tempat ini serahkan saja kepadaku..." Wie Chin Siang menggerakkan bibirnya mau mengucapkan sesuatu tapi akhirnya niat tersebut dibatalkan.

Sekilas perasaan gelisah bercampur cemas menghiasi wajah Kiem In Eng, ia segera ulapkan tangannya sambil berseru :

"Semua persoalan kita bicarakan lagi setelah urusan beres semua, sekarang sudah tiada waktu lagi..."

Wie Chin Siang tidak banyak bicara, ia segera enjotkan badannya melayang lima langkah ke depan dengan mengikuti petunjuk dari gurunya ia berlalu dengan cepatnya dari situ.

Sementara dari arah belakang terdengar suara tertawa dingin yang rendah dan berat berkumandang memecahkan kesunyian.

Terhadap munculnya gelak tertawa yang aneh itu Kiem In Eng juga merasa rada tercengang, ia segera melirik ke arah sebelah kiri di situ ia saksikan tiga sosok bayangan manusia dengan gerakan yang amat cepat sedang meluncur datang.

Terdengar suara teguran yang keras dan kasar menggema memecahkan kesunyian :

"Hey, apakah kau melihat ada seorang gadis muda melewati tempat ini?..."

Buru-buru Kiem In Eng mengenakan kembali kain kerudung hitamnya lalu tertawa dingin, di antara ke-tiga orang itu ia jumpai ada dua di antaranya kaum wanita, hatinya jadi heran dan tidak habis mengerti akan asal usul mereka.

Sedangkan orang yang barusan menegur dirinya adalah seorang lelaki kekar bermata besar dan bercambang di atas wajahnya, gerak- gerik serta nada ucapannya amat angkuh seolah-olah tak seorang pun di kolong langit yang dipandang sebelah mata olehnya.

"Hmm! Kau sedang mengajak siapa berbicara?" tegur Kiem In Eng ketus.

Pria bercambang dan bermata gede itu mengerutkan sepasang alisnya yang tebal, diikuti kepada dua orang dara yang mengikuti di belakangnya ia bertanya : "Leng Yan! Siauw Yan! Coba kalian katakan aku sedang mengajak berbicara siapa?"

"Hiiih... hiiih... hiiih... toako, itu namanya sudah tahu tapi pura- pura bertanya, buat apa kau mesti berlaku sungkan-sungkan lagi terhadap dirinya?" sahut Siang Bong Jie Kiauw hampir berbareng sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Pria itu segera menggerakkan badannya menerjang ke depan, setibanya di hadapan Kiem In Eng ia awasi wajah perempuan itu beberapa saat lamanya.

Berhubung Kiem In Eng mengenakan kain kerudung hitam di atas wajahnya, maka kecuali sepasang biji matanya yang terlihat dari luar, bagian wajahnya yang lain sama sekali tidak terlihat dari luar.

Pria itu tertawa dingin dengan anehnya, wajah yang menyeramkan nampak semakin mengerikan lagi.

"Toako, kenapa kau masih saja ragu-ragu?" terdengar So Siauw Yan menegur dengan wajah kurang senang. "Lonte busuk itu dengan membawa Som Wan melarikan diri lewati di sini, seandainya kita biarkan ia lolos lalu bagaimanakah pertanggungjawaban kita sekembalinya menghadap suhu nanti?..."

Ia melirik sekejap ke arah Kiem In Eng, lalu dengan nada ketus tambahnya lebih jauh :

"Di tengah malam buta perempuan ini seorang diri berdiri di tengah hutan yang lebat, aku duga ia pasti berasal dari aliran yang tak genah, atau jangan-jangan dia pun merupakan komplotan dari lonte busuk itu..."

"Kau sedang memaki siapa sebagai lonte busuk?" hardik Kiem In Eng dengan nasa gusar.

Ketika didengarnya pihak lawan memaki lonte busuk, lonte busuk tiada hentinya, walaupun dia tahu bahwa bukan dirinya yang dimaki tetapi perempuan ini pun tahu bahwa orang yang dimaki adalah anak muridnya Wie Chin Siang, hawa gusar segera bergelora di dalam dadanya, napsu membunuh yang tebal mulai menyelimuti seluruh wajahnya, membuat sorot mata yang terpancar keluar kelihatan menggidikkan sekali.

So Siauw Yan yang dipandang secara begitu hatinya jadi bergidik, tanpa sadar ia mundur dua langkah ke belakang dan memandang ke arah Kiem In Eng dengan sikap ketakutan.

Dalam pada itu pria tadi sudah menowel pipi So Siauw Yan dengan gemas, lalu ujarnya sambil tertawa :

"Perkataanmu sedikit pun tidak salah, baiklah, akan kutangkap dulu perempuan ini kemudian baru kita bicarakan lagi."

Kiem In Eng mendengus hina ketika dilihatnya pria itu melakukan perbuatan yang tidak sopan di hadapannya, namun ia tidak menyadari pria ini bukan lain adalah Yan Long Koen si pemuda tampan yang suka kecantikan dari partai See Liang Pay, seorang ahli di dalam menikmati kecantikan wajah kaum wanita.

Orang ini walaupun suka melihat gadis-gadis berwajah cantik, tetapi ia tak pernah melakukan perbuatan terkutuk Jay Hoa Cat yaitu memperkosa kegadisan kaum wanita, setiap kali bertemu dengan gadis cantik ia kecuali hanya suka menikmatinya, bertemu dengan gadis berwajah biasa ia malah justru tak sudi memandangnya barang sekejap pun.

Suatu kali sewaktu pria bercambang ini sedang melakukan perjalanan menuju ke kota Keng Chiu, di tengah jalan ia telah berpapasan dengan Tang Hay Siao-cia, secara beruntun ia telah menikmati kecantikan wajah perempuan itu selama tiga hari tiga malam.

Tang-hay Siao cia yang memang ada maksud untuk menguji kesempurnaan tenaga dalamnya ternyata melayani pria tadi dengan duduk di hadapannya saling menatap. Akhirnya Yan Long Koen lah yang tidak kuat menahan diri, setelah muntah darah segar pria ini segera melarikan diri.

Demikianlah, ketika itu meskipun Yan Long Koen ingin sekali menyaksikan raut wajah Kiem In Eng di balik kain kerudung hitamnya, tetapi ia tidak mempunyai kesempatan untuk turun tangan, dalam pandangannya perempuan itu mengenakan kain kerudung hitam di atas wajahnya tentu mempunyai dua sebab, pertama adalah terlalu cantik jelita atau sebaliknya terlalu buruk raut mukanya. 

Karena itu badannya segera merangsek ke arah depan, tiba-tiba tangan kirinya mengirim satu sambaran tajam, ke-lima jari tangannya laksana lima bilah pisau belati mencengkeram kain kerudung yang menutupi wajah perempuan she Kim itu, begitu cepat dan hebat serangan tadi sehingga terdengarlah desiran angin serangan yang maha dahsyat.

Kiem In Eng sama sekali tidak menyangka kalau kepandaian di atas jari dari pria itu sangat lihay, ia mendengus dingin dan memaki gusar :

"Hmmm! Manusia yang tak tahu malu!"

Badannya di saat detik yang terakhir meluncur keluar, dengan kecepatan yang sukar dilukiskan ia menggeser tiga depan ke samping dengan manis tapi tepat tubuhnya berhasil lolos dari ancaman lawan. Kemudian sambil tertawa dingin ia berpaling ke belakang, telapak kanannya menyapu keluar langsung membabat tubuh pria

tersebut.

Air muka Yan Long Koen berubah hebat, jeritnya :

"Sungguh aneh, kenapa semua perempuan yang memiliki kepandaian lihay di kolong langit telah berjumpa dengan diriku?"

Ia himpun segenap kekuatan tubuh yang dimilikinya ke atas lengan tunggal, tatkala dilihatnya telapak tangan Kiem In Eng yang putih mulus sedang meluncur datang, diam-diam ia tertawa dingin, pikirnya :

"Sebuah pukulan yang kuluncurkan paling sedikit mengandung kekuatan hampir seribu kati beratnya, nona ini ternyata tak tahu diri dan berani membabat tubuhku dengan gerakan keras lawan keras. Hmm! Aku harus memberi sedikit pelajaran kepadanya agar dia tahu diri..." Ingatan tersebut dengan cepat berkelebat di dalam benaknya, pria itu segera tertawa dingin, mendadak dengan memperkuat hawa pukulannya sebesar tiga bagian ia sodok telapak tangannya ke depan.

Bluuuum....

Suatu bentrokan yang sangat keras menimbulkan suara ledakan yang menggeletar di atas permukaan bumi, pusaran angin pukulan yang berpusing menggulung di angkasa menimbulkan suara dengungan aneh yang memekikkan telinga, tubuh ke-dua orang itu sama-sama tergetar keras dan masing-masing pihak mundur satu langkah ke belakang.

Pada saat tubuh mereka berdua tergetar mundur ke belakang itulah, ujung kain kerudung hitam yang menutupi wajah Kiem In Eng mendadak tersingkap ke samping terhembus pusingan angin pukulan yang maha hebat itu, selembar wajahnya yang cantik jelita terlintas dalam pandangan Yan Long Koen hingga membuat pria itu kontan berdiri tertegun.

"Manis... oooh! betapa cantiknya raut wajahmu. " bisiknya lirih.

Begitu mendengar Yan Long Koen memuji kecantikan wajah lawannya, Siang Bong Jie Kiauw segera mengerti bahwa penyakit anehnya kambuh kembali. Rasa cemburu, dengki dan iri yang berkobar-kobar kontan muncul dalam hati ke-dua orang itu.

Air muka So Siauw Yan serta So Leng Yang dengan cepat diselimuti napsu membunuh yang tebal, dengan gemas dan penuh rasa mendongkol mereka melotot sekejap ke arah pria tersebut.

Terdengar So Leng Yan berseru tertahan, dengan suara yang kukoay dan aneh katanya :

"Toako, rupanya sakit edanmu mulai kambuh kembali!" "Toako!" So Siauw Yang pun ikut menimbrung dengan suara

manja. "Kalau penyakit anehmu kambuh kembali, kami dua bersaudara akan membiarkan diri kami dipandang olehmu sampai puas, tetapi kau jangan lupa akan pesan yang diberikan suhu kepada kita " Ucapan sambung menyambung yang diutarakan sepasang kakak beradik itu cukup menunjukkan bagi siapa yang mendengar, bukan saja perkataannya terlalu dibuat-buat bahkan kedengarannya jadi aneh.

Tapi Yan Long Koen sama sekali tidak menggubris akan perkataan mereka, seakan-akan tak mendengarnya sama sekali ia hanya menatap wajah Kiem In Eng dengan termangu-mangu, di antara kerlipan cahaya matanya yang tajam siapa pun dengan mudah akan menemukan betapa kesemsem dan terpesonanya pria ini atas wajah lawannya, sayang apa yang dilihat hanya terbatas dalam sepintas lalu belaka.

Kiem In Eng sendiri pun merasakan hatinya bergolak keras tatkala menyaksikan sikap lawannya yang begitu kesemsem, begitu tergiur oleh kecantikan wajahnya, walaupun ia sudah tidak terhitung muda usia tetapi baru untuk pertama kali ini dipandang oleh seorang pria dengan cara begitu gamblang.

Hatinya jadi mendongkol dan lama kelamaan makin jadi gusar, dengan seluruh badan gemetar keras makinya :

"Cisss! Manusia yang tak tahu malu..."

Yan Long Koen si pemuda tampan yang suka akan kecantikan ini menghela napas panjang.

"Aku tidak lagi mengajak dirimu untuk bergebrak kembali, harapanku hanyalah bisa menyaksikan wajahmu sekali lagi!"

"Huuuh, itu namanya mencari kematian bagi diri sendiri teriak Kiem In Eng sambil tertawa dingin.

Dalam hati kecilnya ia merasa amat benci akan kekurangajaran pria bercambang ini, karena itu serangannya tidak disertai dengan rasa belas kasihan, totokan kilat yang dilancarkan langsung mengancam jalan darah Chiet Kan di atas tubuh Yan Long Koen.

Desiran angin tajam meluncur ke depan, dalam sekejap mata telah tiba di sasarannya. Yan Long Koen walaupun merupakan seorang pria yang gemar menatap kecantikan wajah kaum wanita, tetapi kepandaian silat yang dimilikinya benar-benar sangat lihay di luar dugaan siapa pun, sepasang matanya sambil terus menatap wajah lawannya mendadak sang badan melayang ke angkasa, bagaikan selembar daun kering tahu-tahu sudah meloloskan diri dari serangan maut tersebut.

"Toako!" bentak So Leng Yang dengan keras, hawa pitamnya semakin memuncak, "Tahukah kau saat ini adalah saat apa??? Janganlah kau mengumbar sakit syarafmu yang tidak genah itu di tempat seperti ini."

Yan Long Koen gelengkan kepalanya.

"Kalian berdua berangkatlah lebih dahulu untuk mengejar budak tadi aku cuma ingin menyaksikan raut wajahnya sekali lagi."

Baru saja ia menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba dari balik hutan belukar berkumandang datang suara jengekan serta tertawa dingin yang tak sedap didengar, terlihatlah ketua dari perguruan Boo Liang Tiong yaitu Go Kiam Lam dengan memimpin dua orang manusia aneh berbaju merah yang seram bentuk wajahnya perlahan- lahan munculkan diri di tempat itu.

Tanpa berpaling muka Yan Long Koen segera ulapkan tangannya, ia meraung keras :

"Enyah, enyah dari sini, aku melarang siapa pun datang ke tempat ini..."

Sepasang alis Go Kiam Lam kontan berkerut-kerut kencang, tegurnya ketus :

"Siapakah kau? Mau apa kau berteriak-teriak macam setan kesiangan di sini?"

Manusia aneh berjubah merah yang ada di sebelah kiri pun menggetarkan ujung bajunya, bagaikan segumpal kapas ringan ia meloncat ke depan dan melayang turun di sisi tubuh Yan Long Koen, teriaknya sambil tertawa aneh : "Heeeeeh... heeeeh... heeeeh... manusia macam apakah kau?

Cepat sebutkan namamu!"