Imam Tanpa Bayangan I Jilid 16

 
Jilid 16

"DI ATAS LOTENG!" sahut dayang itu dengan sikap hormat, ia segera menyingkir ke samping.

Wie Chin Siang tersenyum ringan, dengan cepat ia melangkah masuk ke dalam loteng Coei Hoa Loo. Di bawah sorot cahaya lampu tampaklah sebuah permadani merah menutupi lantai dari depan pintu hingga atas loteng, di sisi pintu berdirilah empat orang dayang berbaju hijau yang menyoren pedang menghalangi jalan perginya.

Wie Chin Siang tetap melangkah naik dengan sikap tenang, melihat kehadiran gadis cantik ini ke-empat orang dayang itu tunjukkan sikap tercengang, delapan sorot mata menatap wajah tetamunya tanpa berkedip, rupanya mereka merasa terpesona oleh kecantikan orang.

"Tolong berilah laporan kepada majikan kalian, katakan saja boanpwee Wie Chin Siang ada persoalan hendak menjumpai dirinya..." kata gadis itu sambil tersenyum.

"Majikan kami tidak suka menemui tamu," tolak seorang dayang yang berdiri di sisi Wie Chin Siang dengan nada ketus. "Kecuali kalau kau adalah satu-satu dari dua jenis manusia, maka dia baru akan menjumpai dirimu..."

"Dua jenis manusia? Dua jenis yang bagaimana?" tanya gadis itu dengan wajah tertegun.

Dayang tadi tertawa dingin. "Pertama adalah sahabat yang mendapat kartu undangan, dan kedua adalah gadis cantik yang datang kemari karena memperoleh pilihan! Kau termasuk jenis yang pertama atau kedua?"

"Kedua-duanya bukan!"

Begitu mendengar pihak lawan bukanlah rekan sealiran yang diundang datang oleh majikannya, air muka ke-empat orang dayang itu seketika diliputi oleh napsu membunuh, terdengar dayang yang buka suara tadi segera mendengus dingin dan menegur :

"Bagaimana caramu memasuki tempat ini?"

Setelah merandek sejenak ia berpaling ke arah rekannya dan menambahkan :

"Coen Lan, cepat keluar dan periksa bocah penjaga pintu itu, kalau mereka berdua berani secara pribadi memasukkan orang luar ke dalam loteng Coei-Hoa-Loo ini, bunuh lebih dahulu kemudian baru laporkan kepada majikan..."

Seorang dayang menerima perintah dan segera meloncat turun dari atas loteng, sebelum Wie Chin Siang sempat mengambil keputusan apakah ia akan menerjang masuk ke dalam secara kekerasan atau memancing kemunculan si Tangan Sakti Berbaju Biru dengan akal, dari kejauhan terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang datang, rupanya ke-dua orang bocah lelaki tadi sudah mati di tangan Coen Lan.

Diam-diam Wie Chin Siang menghela napas panjang, ia tidak menyangka kalau peraturan dari si Tangan Sakti Berbaju Biru demikian ketatnya, hanya disebabkan memasukkan seseorang ke dalam wilayah mereka, ke-dua orang yang tidak bersalah itu telah dibinasakan. 

Dalam hati segera pikirnya :

"Pada saat ini sekeliling tempat ini sudah tersebar jago lihay yang amat banyak, jejak mereka begitu rahasia dan misterius, jelas si Tangan Sakti Berbaju Biru bukanlah manusia dari kalangan lurus, sungguh tak nyana suhu bisa mengadakan hubungan dengan manusia semacam ini."

Belum habis ia berpikir, tampaklah Coen Lan telah balik ke atas loteng, setelah melirik sekejap ke arah Wie Chin Siang dengan pandangan dingin dengan sikap yang sangat hormat ia menjura kepada pemimpinnya yakni si dayang berbaju hijau tadi, lapornya :

"Menurut laporan dari para boach penjaga pintu, perempuan ini menerjang masuk ke dalam dengan andalkan kepandaian silatnya. Aku benci mereka berdua di hari-hari biasa terlalu lalaikan ilmu silat yang telah diwariskan kepada mereka, maka kupenggal sebuah lengan mereka..."

Ucapan ini diutarakan dengan enteng dan seenaknya, sama sekali tidak ada perasaan di dalam hatinya bahwa memotong lengan orang adalah suatu perbuatan yang melanggar peri kemanusiaan, hal ini membuktikan bahwasanya ke-empat dayang ini sudah terbiasa menyaksikan perbuatan-perbuatan menyeramkan semacam itu sehingga lama kelamaan timbul pendapat dalam hati mereka bahwa berbuat demikian bukanlah suatu perbuatan yang melanggar peri kemanusiaan.

Darah panas yang bergolak dalam dada Wie Chin Siang kontan bergelora dengan hebatnya, hawa napsu membunuh terlintas di atas wajahnya, bibir yang kecil segera tersungging satu senyuman dingin yang menggidikkan hati.

Ia tertawa dingin lalu berkata :

"Terhadap dua orang bocah yang tidak tahu urusan pun kalian begitu tega untuk turun tangan keji. "Hmmm1 Sungguh memalukan kalau kalian disebut kaum wanita. Aku betul-betul tidak mengerti, hati kalian sebenarnya hati manusia ataukah hati serigala..."

"Heeeeh... heeeh... heeeh... kalau kami kaum wanita semuanya mempunyai perasaan belas kasih serta lemah lembut seperti kau, kaum pria yang ada di kolong langit tentu sudah menunggang di atas kepala kita semua. Justru kami berbuat demikian agar semua orang  tahu bahwa kaum wanita bukanlah makhluk lemah yang bisa dipermainkan serta diinjak-injak seenaknya, sebaliknya masih mempunyai banyak bagian yang jauh lebih kuat dari kaum pria lainnya..."

Didahului dengan perkataan yang masuk di akal seperti ini untuk beberapa saat lamanya Wie Chin Siang jadi gelagapan, ia tidak tahu bagaimana harus menjawab perkataan orang. Tapi ia pun tahu bahwa keadaannya pada hari ini sangat berbahaya sekali, bahaya jauh lebih banyak dari kemujuran maka gadis ini pun bersiap sedia untuk melakukan penyerangan.

Tapi sebelum ia sempat bergerak mendadak terdengar suara irama musik yang merdu berkumandang datang dari tempat kejauhan, sungguh tak nyana si Tangan Sakti Berbaju Biru bukan saja adalah seorang seniman yang suka akan ketenangan serta keindahan bunga, bahkan merupakan seorang ahli pula di dalam permainan kecapi.

Wie Chin Siang segera pusatkan perhatiannya untuk mendengarkan irama musik itu, kemudian tanyanya :

"Apakah majikan kalian sedang menjamu tetamu?" Coen Lan mendengus dingin.

"Asal kau bisa menerjang keluar dari penjagaan kami, majikan kami dengan sendirinya akan menjumpai dirimu."

Wie Chin Siang tertawa dingin.

"Bagus, kalau demikian adanya terpaksa aku harus menyusahkan kalian semua!" serunya.

Sang badan segera bergerak ke depan, pedangnya bergetar kencang menciptakan selapis cahaya dingin, yang menggidikkan hati, diiringi desiran angin tajam senjata tersebut langsung menyerang ke arah empat orang dayang itu memaksa ke-empat orang tadi terdesak mundur dua langkah ke belakang.

Air muka Coen Lan kontan berubah hebat. "Aaaaah! Tidak salah kalau kau berani mencari gara-gara di atas loteng Coei Hoa Loo ini, kiranya kau pun seorang jago silat yang sangat terlatih!"

Mereke semua merupakan jago-jago lihay yang telah memperoleh didikan yang sangat keras, setelah terdesak mundur oleh serangan kilat dari Wie Chin Siang tadi dengan cepat ke-empat orang itu telah membenahi diri sendiri.

Dalam waktu singkat sebuah barisan yang kokoh dan kuat telah terbentuk, empat kilas cahaya pedang yang tajam dan menyilaukan mata dengan menciptakan beribu-ribu jalur cahaya yang kuat dan kokoh segera membentuk selapis dinding pertahanan yang kuat di hadapan mereka berempat.

Dalam posisi yang demikian ketat serta kuatnya ini, bukan masalah yang gampang bagi Wie Chin Siang untuk menyerang masuk ke dalam barisan itu, apalagi untuk bertemu dengan si Tangan sakti berjubah biru pemilik dari loteng Coei Hoa Loo ini.

Bagian 22

MASING-masing pihak saling bergebrak puluhan jurus banyaknya, tetapi menang kalah masih susah untuk ditentukan.

Mendadak Wie Chin Siang membentak keras : "Tahan!"

Mendengar bentakan itu dayang yang memiliki kepandaian silat paling lihay itu tampak tertegun dan tanpa sadar telah menghentikan serangannya, di saat ia masih melengak itulah Wie Chin Siang menggerakkan tubuhnya menerobos masuk ke dalam.

Seraya membalingkan pedangnya di tengah udara ia berseru : "Kalian sudah menderita kalah!"

Ke-empat orang dayang itu semakin tertegun, saat itulah ujung pedang lawan telah menyapu tiba. Untuk menghindar sudah tak sempat lagi, diiringi bentakan gusar di atas pakaian masing-masing orang telah bertambah dengan sebuah babatan panjang yang merobekkan baju mereka.

"Hmmm, kau gunakan akal licik..." teriak Coen Lan dengan nada gusar bercampur penasaran.

"Dalam suatu pertarungan, siasat licik paling diutamakan, aku tahu bahwa untuk menangkan kalian bukanlah suatu pekerjaan yang gampang, oleh karena itu terpaksa aku harus gunakan sedikit siasat kecil membohongi kalian, dan sekarang kalian tertipu, hal ini harus disalahkan kalau pengalaman kalian di dalam menghadapi musuh terlalu cetek, siapa suruh kalian terlalu mempercayai perkataan lawan!"

Walaupun ke-empat dayang itu merasa bahwa cara yang digunakan lawannya kurang jujur dan terlalu licik, tapi setelah merasakan bahwa ucapan dara itu memang merupakan suatu kenyataan yang tak bisa dibantah, maka mereka berempat hanya bisa saling berpandangan tanpa sanggup melakukan sesuatu perbuatan.

Sebuah kain horden yang panjang dan berwarna hijau tergantung hingga menjuntai lantai, dari balik horden tersebut Wie Chin Siang merasa bahwa cahaya lampu menerangi seluruh ruangan.

Di tengah sebuah ruangan yang luas, empat batang lampu lilin memancarkan cahaya terang, di balik dinding tembok terlihat pantulan cahaya yang memperlihatkan beberapa sosok bayangan manusia sedang berbicara dan tertawa dan suara yang keras.

Seorang Siucay berusia pertengahan yang memakai jubah berwarna biru duduk dengan gagahnya di depan meja, waktu ia sedang minum arak dengan lahapnya, di kedua belah sisinya masing- masing mendampingi seorang gadis cantik yang berwajah genit.

Pakaian sutera berwarna merah yang tipis memperlihatkan sepasang paha mereka yang putih bersih, membuat orang yang memandang terasa ikut terpesona. Wie Chin Siang hampir saja dibikin gugup dan tidak tenang hatinya setelah menyaksikan tingkah pola yang genit yang merangsang dari ke-dua orang gadis jalang itu, buru-buru ia berusaha menenangkan hatinya kemudian perlahan-lahan maju ke depan menghampiri siucay berbaju biru itu.

Ketika merasakan ada orang asing yang muncul di dalam ruangan itu, ke-dua orang gadis jalang tadi segera menghentikan tingkah polanya dan bersama-sama alihkan sinar matanya ke arah tubuh Wie Chin Siang, dibalik sorot matanya yang tertera jelas sikap permusuhan yang tebal, seolah-olah mereka telah memandang gadis she Wie ini sebagai musuh besarnya yang terikat dendam sedalam lautan.

"Kau kemarilah!" tampak si Tangan Sakti Berbaju Biru menggape ke arah dara she Wie itu.

Ketika ke-dua orang gadis jalang itu menyaksikan majikan mereka secara tiba-tiba memanggil dara berbaju putih itu menghadap, wajah mereka segera berubah hebat, dengan wajah penuh napsu membunuh gadis gemuk yang ada di sebelah kiri segera meloncat bangun, kemudian sambil tertawa terkekeh-kekeh ujarnya kepada Wie Chin Siang :

"Eeei kenapa? Adik kecil, apakah kau pun ada maksud berebutan majikan dengan kami Siang Bong Jie Kiauw..."

Sembari berkata badannya melayang ke depan, jari tangannya dengan menciptakan selapis bayangan tajam langsung menyodok ke arah dada Wie Chin Siang diikuti segulung bau harum yang amat menusuk penciuman menyebar ke dalam hidungnya membuat dara itu merasa tersentak kaget.

Mimpi pun Wie Chin Siang tak pernah menyangka kalau ia bakal diserang dengan cara yang begitu keji dan berat oleh seorang gadis yang baru saja ditemuinya untuk pertama kali.

Dengan sebat Wie Chin Siang mengigos ke samping lalu sambil melancarkan satu serangan balasan serunya :

"Eeei... sebenarnya apa maksudmu?" Perempuan itu tertawa terkekeh-kekeh, suaranya keras dan membetot sukma, terhadap pertanyaan yang diajukan Wie Chin Siang bukan saja tidak dijawab sebaliknya serangan yang dilancarkan makin lama semakin dahsyat dan hebat, semua gerakannya merupakan serangan mematikan yang mana tentu saja memaksa Wie Chin Siang jadi keteter dan hanya bisa menghindar ke sana berkelit kemari.

Dalam pada itu ketika perempuan jalang tadi menyaksikan tujuh delapan buah serangannya berhasil dihindari semua oleh lawannya, napsu membunuh yang terlintas di atas wajahnya semakin menebal, suara tertawanya makin lama makin keras, sambil merangsek lebih ke depan jengeknya seraya tertawa dingin :

"Ayoh balas, kenapa kau tidak membalas seranganku? Kalau cuma bisanya menghindar bukan terhitung seorang enghiong yang patut dikagumi..."

Bahunya bergerak cepat, mendadak telapak kirinya mengirim satu pukulan kilat yang maha dahsyat.

Sejak memasuki loteng Coei Hoa Loo tadi Wie Chin Siang sudah merasakan hatinya mangkel, mendongkol bercampuran penasaran, sekarang setelah dilihatnya perempuan jalang itu meneter dirinya terus menerus tanpa memberi kesempatan baginya untuk berbicara,hawa amarahnya kontan memuncak dan sukar dikendalikan lagi.

Sambil mendengus gusar serunya :

"Hmm, kau jangan anggap aku betul-betul jeri kepadamu. Nah, rasakanlah sebuah pukulan mautku!"

Dengan menghimpun segenap tenaga lweekang yang dimilikinya ia segera sambut datangnya serangan lawan dengan keras lawan keras.

Bluuum...!

Suatu ledakan yang amat dahsyat segera menggeletar di dalam ruangan itu membuat tubuh mereka berdua sama-sama tergetar mundur tiga langkah ke belakang masing-masing pihak sama-sama merasa terkejut akan kesempurnaan tenaga lweekang orang. Sejak pertarungan mati-matian itu berlangsung hingga berakhir, si Tangan Sakti Berbaju Biru hanya menonton jalannya pertempuran itu dari samping, tak sepatah kata pun yang diucapkan. Kini secara tiba-tiba ia bangkit berdiri dan ujarnya sambil tersenyum :

"Harap kalian berdua segera berhenti bertarung!"

Ia merandek sejenak, kemudian sambil berjalan menghampiri Wie Chin Siang katanya lagi :

"Siapa pun yang berada di loteng Coei Hoa Loo, dia terhitung sahabat karib loohu!"

Sambil menarik tangan gadis she Wie itu ujarnya lagi seraya menuding ke arah gadis jalang yang baru saja bergebrak dengan dirinya :

"Dia adalah loo toa dari Siang Beng Jie Kiauw, sepasang gadis ayu pembuat impian So Siauw Yan, sedang yang itu adalah sang Loo jie So Leng Yan, nona, dan kau sendiri siapa namamu?"

Siang Bong Jie Kiauw tertawa dingin tiada hentinya, mereka tidak mengucapkan sepatah kata pun.

"Boanpwee bernama Wie Chin Siang!" dara itu memperkenalkan

diri.

Dengan pandangan mata tajam laksana sebilah pisau belati si

Tangan Sakti Berbaju Biru menatap wajah Wie Chin Siang tajam- tajam, lalu tanyanya lagi.

"Siapakah gurumu? Kalau dilihat dari gerakan ilmu silat yang kau pergunakan di dalam pertarungan tadi rupa-rupanya mirip dengan kepandaian seorang sahabat karibku..."

Wie Chin Siang tersenyum.

"Maafkanlah diri boanpwee apabila tak bisa mengutarakan nama besar suhuku berhubung hal itu merupakan pantangan bagi kami..."

"Hmmm! Sungguh besar amat bacotmu..." jengek So Leng Yan yang duduk di kursi sambil tertawa dingin.

Dengan pandangan dingin dan hina Wie Chin Siang  melirik sekejap ke arahnya, lalu ujarnya kembali sinis : "Meskipun kepandaian silat yang boanpwee miliki amat cetek, sebelum mendatangi loteng Coei Hoa Loo tadi dalam pandanganku tempat ini pastilah merupakan suatu tempat yang merupakan sarang naga dan harimau, penuh dengan manusia-manusia pandai yang berilmu, siapa tahu... heeeeeh... kenyataan jauh merupakan kebalikannya, sungguh membuat hati orang jadi kecewa..."

Air muka Siang Bong Jie Kiauw berubah hebat, pada saat yang bersamaan mereka berdua siap menggerakkan tubuhnya untuk menyerang diri Wie Chin Siang.

Si Tangan Sakti Berbaju Biru segera ulapkan tangannya, ke-dua orang gadis jalang itu segera mengundurkan diri kembali ke tempat semula.

Terdengar So Siauw Yan tertawa ringan dan menyindir : "Majikan! Toh di sini aa tamu agung yang sedang datang

berkunjung, biarlah kami sekalian mohon diri terlebih dahulu!" "Tidak mengapa!" Si Tangan Sakti Berbaju Biru gelengkan

kepalanya lalu sambil tersenyum ujarnya kepada Wie Chin Siang : "Nona manis, apakah kau adalah gadis yang dipilih putraku untuk

melayani diriku?"

"Bukan!" sahut dara she Wie itu sambil gelengkan kepalanya.

Sepasang alis si Tangan Sakti Berbaju Biru kontan berkerut kencang, wajah yang semula berseri-seri pun seketika berubah jadi kecut, mendadak dengan wajah dingin kaku bagaikan es katanya :

"Kalau begitu sungguh aneh sekali, kalau nona memang bukan termasuk gadis cantik yang dipilih putraku untuk datang melayani diriku, juga bukan merupakan sahabat dari loohu, lalu apa maksud tujuanmu datang berkunjung ke loteng Coei Hoa Loo ini?..."

Nada suaranya mulai kedengaran ketus, tajam dan bersifat menegur, sementara sepasang matanya dengan memancarkan cahaya tajam bagaikan sayatan pisau menatap wajah gadis itu tanpa berkedip. Sikapnya yang ketus, dingin dan tak sedap dipandang ini mendatangkan suatu perasaan aneh bagi gadis she Wie, ia ragu-ragu dan tidak habis mengerti atas kehendak lawannya.

Bibir Wie Chin Siang segera bergetar seperti mau mengucapkan sesuatu tapi niat tersebut kemudian dibatalkan, sikapnya jelas menunjukkan bahwa ia mempunyai banyak persoalan yang hendak diutarakan keluar tanpa diketahui oleh pihak lain, sinar matanya dengan dingin melirik sekejap ke arah Siang Bong Jie Kiauw.

Sebagai seorang jago kawakan yang banyak pengalaman di dalam dunia persilatan sudah tentu si Tangan Sakti Berbaju Biru dapat menangkap maksud hati gadis itu, ia segera mendengus dingin dan ulapkan tangannya memerintahkan sepasang gadis ayu buat impian itu mengundurkan diri dari dalam ruangan.

"Teng cu, apakah kau bisa mempercayai perempuan ini??" seru So Leng Yan sambil maju ke depan.

"Heeeh... heeeh... heeeh. kau tak usah kuatir," sahut si Tangan Sakti Berbaju Biru sambil tertawa dingin.

Wie Chin Siang yang mendengar pembicaraan itu, kontan naik pitam teriaknya dengan penuh kegusaran :

"Hey sebenarnya apa maksudmu?? aku Wie Chin Siang bukanlah seorang manusia durjana yang berhati keji dan bermaksud jahat, aku pun bukan seorang gadis yang termasuk dalam manusia tak genah tukang memikat hati orang dengan andalkan kecantikan wajah..."

Siang Bong Jie Kiauw yang kenan disindir air mukanya berubah hebat, mereka melirik sekejap ke arah si Tangan Sakti Berbaju Biru dengan sorot mata ketakutan kemudian buru-buru mengundurkan diri.

Sambil menoleh terdengar So Leng Yang mendengus gusar dan mengancam :

"Perempuan sialan, kau berani bicara tidak karuan dan ngaco belo menghina kami, hati-hatilah ancaman kematian setiap saat bisa menimpa dirimu..." "Sudahlah, kalian mengundurkan diri lebih dahulu," tukas si Tangan Sakti Berbaju Biru sambil ulapkan tangannya. "Nanti kita baru merundingkan masalah besar lagi..."

"Tang cu! Asal kau memanggil kami, dengan cepat kami kakak beradik akan muncul di sini untuk menemani diri Teng cu!" sahut So Leng Yan dengan wajah kegirangan.

Selesai berkata bersama-sama saudaranya mereka segera berlalu dari situ, di tengah udara hanya tertinggal bau harum semerbak yang merangsang hidung.

Sepeninggalnya ke-dua orang gadis ayu pembuat impian itu, si Tangan Sakti Berbaju Biru baru menoleh dan menatap wajah Wie Chin Siang lagi dengan sinar mata tajam, beberapa saat kemudian ia baru berkata dengan suara ketus :

"Nona, sekarang kau boleh mengutarakan persoalan hatimu!"

Wie Chin Siang tidak langsung berbicara, dari sakunya dia ambil keluar selembar kain selendang berwarna merah, kemudian sambil diserahkan ke tangan lelaki berbaju biru itu katanya :

"Tangcu, apakah kau kenal dengan benda ini?"

Sekilas perasaan hati yang bergolak terlintas di atas wajah si Tangan Sakti Berbaju Biru yang dingin dan ketus, ia tidak menyambut kain selendang tersebut sebaliknya sambil tertawa dingin tegurnya :

"Nona, apakah kedatanganmu ke sini karena hendak memohon sesuatu kepada loohu?"

"Benar, dua orang sahabat boanpwee karena kurang hati-hati telah termakan ilmu pukulan Toa Lek Im Jiauw Kang, oleh sebab itu mohonlah agar supaya cianpwee bisa beringan tangan dengan menghadiahkan dua butir Som Wan berusia seribu tahun untuk menyelamatkan jiwa ke-dua orang sahabatku itu."

"Tentang soal ini..." Si Tangan Sakti Berbaju Biru nampak berdiri tertegun. Sesaat kemudian dengan cepat ia rampas kain selendang merah itu lalu digenggam kencang-kencang, setelah dicium beberapa kali sepasang matanya dipejam rapat-rapat.

Waktu detik demi sedetik berlalu di tengah keheningan serta kesunyian yang mencekam seluruh jagad, walaupun hanya beberapa waktu tapi dalam perasaan Wie Chin Siang bagaikan setahun lamanya, ketika dilihatnya si Tangan Sakti Berbaju Biru hanya memegangi kain selendang merah itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun hatinya kian lama kian bertambah gelisah, tanpa sadar ia mulai menguatirkan keselamatan Pek In Hoei.

Serunya dengan hati cemas :

"Cianpwee! Apakah kau sudi mengabulkan permintaan boanpwee? Apabila kau merasa keberatan untuk menghadiahkan pil mujarab itu untuk menolong orang, terpaksa boanpwee akan mohon diri terlebih dahulu, sebab aku harus mencari akal lain untuk menyelamatkan jiwa mereka, sebaliknya kalau kau rela..."

Setiap perkataannya itu diucapkan dengan keras dan tegas seolah- olah martil yang menggeletar di angkasa, tetapi si Tangan Sakti Berbaju Biru tetap tidak menggubris ucapannya itu, seorang diri ia berdiri melamun, tangannya mencekal kain selendang merah itu kencang-kencang sedang air mukanya menunjukkan perasaan bergolak yang amat hebat, tapi nampak pula kepucat-pucatan seakan- akan secara mendadak menemui suatu peristiwa yang menyulitkan hatinya.

Menyaksikan kesemuanya itu Wie Chin Siang merasa terkesiap, satu ingatan dengan cepat berkelebat di dalam benaknya :

"Sebenarnya kain selendang berwarna merah itu mengandung kekuatan ajaib apa sih? Ternyata benda itu sanggup menjerumuskan seorang jago lihay di dalam dunia persilatan ke dalam lembah penderitaan serta siksaan batin yang begitu hebat..."

Tiba-tiba si Tangan Sakti Berbaju Biru membuka matanya lalu menegur dengan suara keras : "Sekarang dia berada di mana?" "Siapa yang cianpwee tanyakan?"

"Orang yang memberikan kain selendang merah ini kepadamu!" kata lelaki berbaju biru itu sambil menunjukkan kain selendang di tangannya.

Sementara Wie Chin Siang hendak mengatakan jejak dari suhunya, tiba-tiba ia teringat kembali akan pesan dari Kiem In Eng sesaat ia hendak berangkat, gurunya melarang dia untuk mengatakan perguruan sendiri serta jejak dari suhunya daripada mendatangkan banyak kesulitan serta kerepotan bagi mereka.

Karena itu Wie Chin Siang segera menghela napas panjang. "Jejak orang itu tak menentu, sebentar ada di Barat dan sebentar

lagi sudah pindah ke Timur, lebih baik tak usah kukatakan saja."

Ucapan ini sebenarnya merupakan suatu alasan penampikan yang luwes dan enak didengar, tetapi bagi pendengaran si Tangan Sakti Berbaju Biru seolah-olah sebuah martil besar yang menghantam lubuk hatinya keras-keras.

Dengan hati amat sedih dia menghela napas panjang, perawakan tubuhnya tinggi kekar nampak gemetar keras, wajahnya berubah hebat dan pucat pias bagaikan mayat, seakan-akan secara mendadak ia terserang sejenis penyakit yang parah.

Sekali lagi ia tundukkan kepalanya, terdengar suara napasnya tersengkal-sengkal, dadanya naik turun dengan memburu, titik air mata membasahi kelopak matanya, kesemuanya ini menunjukkan bahwa ia meras tertekan jiwanya.

Wie Chin Siang yang menjumpai kesemuanya ini jadi tercengang, tanpa sadar ia mundur beberapa langkah ke belakang.

Pada saat itulah terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang datang dari luar ruangan diikuti kain horden disingkap ke samping.

Seorang pemuda dengan wajah dingin kaku dan senyuman menghiasi ujung bibirnya perlahan-lahan berjalan masuk ke dalam. Ia menyapu sekejap wajah Wie Chin Siang dengan pandangan tajam, sekilas perasaan tercengang menyelimuti wajahnya.

Buru-buru gadis itu melengos ke samping dan menghindarkan diri dari pandangan pemuda tersebut.

Mendadak pemuda itu menyaksikan air muka si Tangan Sakti Berbaju Biru yang berubah jadi pucat pias bagaikan mayat itu, hatinya jadi amat terperanjat, sambil maju tiga langkah ke depan teriaknya dengan hati cemas :

"Ayah!"

Si Tangan Sakti Berbaju Biru tidak menunjukkan suatu reaksi, pemuda itu segera menggoyang-goyangkan tubuhnya, tapi itu pun tidak mendatangkan reaksi apa pun, kejadian ini tentu saja membuat hati pemuda itu jadi sangat terperanjat, ia segera tergetar mundur dua langkah ke belakang.

Sambil tertawa dingin serunya :

"Sungguh tak disangka loteng Coei Hoa Loo yang selamanya tak pernah bersengketa dengan dunia persilatan, tidak tamak untuk memperebutkan nama serta pahala dan jarang berhubungan dengan orang Bu lim, hari ini ayahku bisa mendapat celaka di tangan seorang gadis semacam kau..."

Ia mendengus marah, sambil menatap wajah Wie Chin Siang tajam-tajam, jubah luar berwarna birunya segera dilepaskan, serentetan sorot mata penuh mengandung napsu membunuh memasuki benaknya, seraya tertawa rendah sepasang telapaknya segera bergerak melancarkan serangan.

"Tunggu sebentar!"

Wie Chin Siang dengan sebat meloncat mundur satu langkah ke belakang, serunya lagi dengan nada dingin :

"Kau harus bikin terang dulu duduknya persoalan kemudian baru turun tangan!" "Hmm! Ayahku menderita luka dalam yang demikian parahnya, bukankah kejadian ini adalah hasil perbuatanmu?" teriak pemuda itu dengan wajah sedih bercampur gusar.

Wie Chin Siang tertegun, kemudian bentaknya :

"Ayahmu adalah seorang cikal bakal dari suatu perguruan besar, kau anggap manusia selihay itu bisa jatuh kecundang dan terluka di tangan seorang boanpwee seperti aku? Coba periksalah dengan seksama, kau lihat dulu apakah dia betul-betul terluka akibat pukulan seseorang..."

"Hmmmm! Aku pun tahu bahwa kau tidak nanti mempunyai kemampuan sedahsyat ini," jengek sang pemuda.

Tapi dalam sekejap mata itulah, dari ujung bibir si Tangan Sakti Berbaju Biru kembali mengucurkan darah segar, wajahnya yang pucat pias bagaikan mayat kelihatan semakin mengerikan lagi.

Melihat kesemuanya itu, pemuda tadi segera berteriak keras : "Tak usah dilihat lagi, di tempat ini kecuali kau seorang tidak

mungkin ada orang yang bisa melukai ayahku! Hmmm! Sungguh membuat hati orang tidak percaya, seorang gadis cilik yang masih muda ternyata begitu tega untuk turun tangan keji yang demikian beratnya terhadap seorang tua yang sama sekali tak pernah terikat dendam sakit hati apa pun dengan dirinya... Manusia rendah dan perempuan adalah orang-orang yang tidak bisa dipercaya, perkataan ini ternyata sedikit pun tidak salah."

Begitu selesai berkata mendadak terdengarlah seluruh persendian tulang si anak muda itu memperdengarkan suara gemerutukan yang nyaring,diikuti pakaian yang dikenakan pun menggelembung jadi sangat besar, serunya dengan nada seram :

"Seandainya aku membiarkan kau lolos dari loeng Coei Hoa Loo ini dalam keadaan selamat, maka sejak hari ini nama si Jago Pedang Bertangan Sakti akan hapus dari dalam dunia persilatan, loteng Coei Hoa Loo ini pun akan menjadi milik pribadimu..." Ia menjengek dingin, sambil meloncat maju ke depan sebuah pukulan yang maha dahsyat segera dilontarkan ke arah Wie Chin Siang.

Sungguh mati gadis she Wie ini tak pernah menyangka kalau perjalanannya menuju ke loteng Coei Hoa Loo bakal menemui perubahan yang jauh di luar dugaannya semula, saat ini ia tak mampu untuk membantah tuduhan lawan sedangkan si Tangan Sakti Berbaju Biru pun tidak menunjukkan reaksi apa pun, hal ini semakin mencemaskan serta mengelisahkan hati si dara muda ini.

Obat mujarab yang diharapkan tidak berhasil didapatkan, bencana telah mengancam keselamatannya. Wie Chin Siang sadar bahwa kesalahpahaman ini sudah terjalin terlalu mendalam, tak mungkin persoalan itu bisa diselesaikan di dalam dua tiga patah kata ucapan saja.

Sambil menahan cucuran air matanya yang telah memenuhi kelopak mat, ia membentak keras :

"Kau betul-betul tolol dan konyol..."

Segulung angin desiran tajam yang maha dahsyat meluncur tiba, terpaksa ia harus goyangkan badannya untuk menghindarkan diri dari ancaman angin pukulan yang maha dahsyat itu, tetapi pihak lawannya walaupun nampak masih muda belia ternyata kesempurnaan tenaga dalamnya benar-benar luar biasa sekali, suatu jurus serangan yang sederhana ketika digunakan olehnya bukan saja mantap bahkan kecepatannya betul-betul jauh di luar dugaan siapa pun.

Sementara itu ketika menyaksikan serangan pertamanya tidak berhasil mengenai sasaran, si Jago Pedang Bertangan Sakti segera melancarkan serangan berikutnya.

Desiran angin pukulan segera menderu-deru memenuhi seluruh angkasa, bayangan manusia saling menyambar, dalam sekejap mata mereka berdua telah saling bergebrak puluhan jurus banyaknya. Mendadak... serentetan gelak tertawa yang nyaring dan bernada jalang berkumandang memecahkan kesunyian diiringi suara teguran seseorang yang merdu dan nyaring menggema datang.

"Sauw Tangcu, sebenarnya apa yang telah terjadi?"

Bayangan manusia berkelebat lewat, Siang Bong Jie Kiauw pada saat yang bersamaan telah munculkan diri di dalam ruangan.

"Coba kalian lihatlah sendiri!" sahut si Jago Pedang Bertangan Sakti sambil melemparkan satu pukulan dahsyat.

"Aaaah! Loo Tangcu menderita luka!" teriak So Leng Yang sambil menjerit kaget.

Seakan-akan si Jago Pedang Bertangan Sakti merasakan suatu pukulan batin yang sangat berat, secara beruntun ia melancarkan enam buah serangan yang maha dahsyat memaksa Wie Chin Siang mundur ke belakang berulang kali sementara jidatnya telah dibasahi oleh butiran keringat sebesar kacang kedelai.

So Leng Yang tiba-tiba meloncat ke depan, teriaknya :

"Sauw Tangcu, tunggu sebentar aku ada perkataan hendak diutarakan keluar."

"Apa yang hendak kau katakan lagi," seru si Jago Pedang Bertangan Sakti dengan suara gemas bercampur marah, tapi badannya meloncat ke belakang juga untuk mengundurkan diri. "Dosa-dosa yang dilakukan orang ini sudah terbukti jelas, kalau bukan dia yang mencelakai ayahku masih ada siapa lagi?... Sejak hadirnya ke dalam loteng Coei Hoa Loo, secara beruntun melukai anak buahku, aku telah menduga kalau budak sialan ini mengandung maksud tidak baik..."

So Siauw Yan tertawa dingin.

"Heeh... heeeh... heeeh... ia berani turun tangan keji secara brutal terhadap Tangcu kita. Hmmm! Hari ini kita jangan kasih kesempatan baginya untuk keluar dari tempat ini dalam keadaan selamat!"

Sementara itu Wie Chin Siang sendiri hampir saja tak sanggup bertukar napas setelah didesak dan diteter terus oleh si Jago Pedang Bertangan Sakti dengan serangan gencarnya, kini setelah musuhnya mundur ke belakang dia pun memperoleh sedikit kesempatan untuk bertukar napas.

Setelah mendengar ucapan So Siauw Yan yang tak sedap didengar itu, kontan ia tertawa menghina.

"Kenapa aku mesti melarikan diri?" jengeknya ketus. "Asalkan di dalam hati aku merasa bahwa tak ada urusan salah yang pernah kulakukan, kenapa aku mesti jeri dan takut terhadap omongan ngaco belo dan tidak karuan dari kalian..."

"Bangsat, sampai detik ini pun kau masih berani bersilat lidah dengan kami?" maki So Leng Yang gusar. "Tunggu saja nanti, bila kau sudah terjatuh ke tangan kami, maka... lihat saja, apakah kau bakal merasa keenakan atau tidak."

"Sudah, kalian tak usah banyak bicara lagi, sekarang aku sudah terjatuh ke tangan kalian, mau diapakan terserah kepada kamu semua, bagaimana pun juga aku sudah pasrahkan nasibku. Tetapi... Ingat, seandainya dalam penyelidikan selanjutnya membuktikan kalau peristiwa ini bukan hasil perbuatan nonamu, maka kemungkinan loteng Coei Hoa Loo kalian ini akan diratakan bumi. Saat itu janganlah salahkan kalau aku tidak memberi peringatan terlebih dahulu."

So Leng Yan segera mendongak dan tertawa terbahak-bahak, suaranya tajam dan amat jalang.

"Haaaah... haaaah... haaaah... meskipun loteng Coe Hoa Loo adalah tanah datar, tempat ini pun bukan suatu tempat yang takut menghadapi segala urusan, sebentar akan kujagal dirimu kemudian menggantung batok kepala anjingmu di atas loteng Coei Hoa Loo, akan kulihat manusia macam apakah yang akan datang balas bagimu..."

Wie Chin Siang pun bukan seorang gadis yang pantang menyerah dengan begitu saja, ia balas berseru : "Selembar jiwaku akan ditukar dengan puluhan jiwa kalian, lihat saja nanti pihak Coei Hoa Loo kalian bakal merasa rugi besar atau tidak..."

"Jadi kalau begitu kau tidak mau mengaku?" hardik si Jago Pedang Bertangan Sakti.

Wie Chin Siang tertawa sedih dan gelengkan kepalanya. "Alasan tidak tepat, terpaksa aku cuma menerima segala sesuatu

yang bakal menimpa diriku..."

"Jadi kau rela menyerah dan biarkan kami membelenggu dirimu?" tanya So Siauw Yan tertegun.

Wie Chin Siang segera mendengus dingin.

"Sejak dilahirkan nasibku memang selalu jelek, tidak sampai detik terakhir aku tak akan melepaskan kesempatan untuk mencari kembali modalku, dengan andalkan sebilah pedang tajam yang menggembol di atas punggungku, rasanya tidak terlalu sulit bagiku untuk mencari satu dua orang teman di dalam melakukan perjalanan jauh nanti."

Ia sadar bahwa peristiwa ini tidak nanti bisa diselesaikan secara damai, karena itu pedangnya segera dicabut keluar dari sarungnya, cahaya merah berkilauan memenuhi angkasa, di antara getaran ujung pedang yang keras terbiaslah cahaya warna merah bagikan darah.

Siang Bong Jie Kiauw segera melayang ke depan, masing-masing merebut sebuah posisi yang menguntungkan dan siap melancarkan serangannya.

Ke-dua orang gadis binal ini termasuk juga salah seorang jago Bu lim yang mempunyai nama besar, kerja sama yang dilakukan oleh mereka berdua pada saat ini betul-betul merupakan suatu kejadian yang tak pernah ditemui sebelumnya.

"Tong Gie!" si Jago Pedang Bertangan Sakti segera berteriak keras setelah merandek sejenak, ujarnya kepada sepasang gadis ayu pembuat impian. "Dendam sakit hati mencelakai ayah dalam melebihi samudra, pembalasan dendam seperti ini tidak pantas dilakukan oleh orang lain, aku minta kalian berdua segera mengundurkan diri, aku akan bertarung sampai titik darah penghabisan dengan perempuan rendah ini, hati-hatilah menjaga keselamatan ayahku..."

Seorang dayang berbaju hijau mengiakan dan berjalan masuk sambil membawa sebilah pedang antik yang amat indah bentuknya, setelah mengangsurkan senjata tersebut ke tangan majikannya dayang tadi segera mengundurkan diri dari situ.

Si Jago Pedang Bertangan Sakti pun menekan tombol di atas gagang pedang, ujung senjata segera tercabut separuh bagian, perlahan-lahan ia pegang senjata tadi dan diloloskan semua dari sarungnya, cahaya tajam segera memencar memenuhi seluruh ruangan, begitu tajam cahayanya hingga terasa amat menusuk pandangan, siapa pun yang menyaksikan hal ini segera akan mengetahui kalau senjata itu bukanlah senjata sembarangan.

Setelah membuang sarung pedang ke samping kalangan, senjata tadi segera digetarkan sehingga di tengah angkasa muncullah enam buah kuntum bunga pedang yang tajam dan dingin, begitu dingin sehingga menusuk tulang sumsum setiap orang.

Dengan suara yang berat, rendah tapi bertenaga pemuda itu berseru :

"Seorang jago mencabut pedang membuang sarung merupakan pertanda akan kebulatan tekadnya, sebelum aku berhasil membinasakan dirimu dengan tanganku sendiri aku bersumpah tidak akan berhenti menyerang, kecuali kau sanggup membinasakan diriku terlebih dahulu..."

"Terserah kepadamu!" sahut Wie Chin Siang tanpa perasaan, pedangnya pun segera dikebaskan ke udara. "Bagaimana pun juga aku pun tidak ingin pulang dari sini..."

Si Jago Pedang Bertangan Sakti tertegun. "Eeeei... kita akan berduel secara sungguhan dan bukan suatu permainan belaka, kau mesti berhati-hati!" peringatnya.

Pemuda ini tersohor di dalam dunia persilatan sebagai si Jago Pedang Bertangan Sakti, kendati dalam hati kecilnya merasa mendongkol dan mangkel terhadap Wie Chin Siang karena dianggapnya gadis itu telah mencelakai ayahnya secara keji, tapi setelah dilihatnya kebasan pedang dara ayu itu sama sekali tidak disertai dengan tenaga, ia tak ingin membunuh seseorang yang tidak bersungguh hati melayani serangan mautnya.

Sejak permulaan tadi Wie Chin Siang telah tidak memikirkan soal mati hidupnya lagi, ia lantas menjawab dengan suara hambar.

"Aku hanya berharap bisa cepat-cepat memperoleh kematian yang utuh, daripada hatiku merasa kesal dan murung terus menerus..." Sementara itu si Jago Pedang Bertangan Sakti sudah mempersiapkan serangannya untuk melancarkan satu babatan, tapi setelah mendengar ucapan tersebut buru-buru ia tarik kembali serangannya yang hampir saja dilancarkan itu, setelah tarik napas

dalam-dalam katanya :

"Kalau kudengar dari pembicaraanmu barusan, rupanya kau masih ada suatu persoalan yang belum sempat diselesaikan? Tiada halangan kau sebutkan persoalanmu itu, asal cayhe bisa melaksanakannya aku pasti takkan membuat hatimu jadi kecewa..."

Wie Chin Siang gelengkan kepalanya dan tertawa getir. "Dibicarakan pun tak ada gunanya, lebih baik kau segera turun

tangan saja!"

Sekali lagi si Jago Pedang Bertangan Sakti dibuat tertegun. "Katakanlah dulu persoalan hatimu itu, aku bisa memberi suatu

kepuasan bagimu," katanya.

Wie Chin Siang tundukkan kepalanya dan berpikir sejenak, tiba- tiba air matanya bercucuran membasahi wajahnya yang halus, dengan sedih ia berbisik lirih :

"Aku memang ada persoalan gy belum sempat kuselesaikan!" Ia menghela napas panjang lalu sambungnya :

"Aku ada seorang sahabat yang hampir menghembuskan napasnya yang terakhir, apabila kau benar-benar suka mengabulkan permintaanku ini maka biarkanlah aku menjumpai wajahnya untuk terakhir kalinya, setelah itu tanpa melawan aku akan kembali ke sini lagi untuk menerima kematian..."

So Leng Yang yang ikut mendengarkan pembicaraan itu dari samping kalangan segera tertawa dingin.

"Heeeh... heeeh... heeeh... pandai amat kau menggunakan akal bulusmu untuk membohongi orang, ucapanmu kedengarannya jauh lebih merdu dari nyanyian indah.Hmmm! Kau sih penginnya molor dari sini, setelah kau ngeloyor pergi lalu kita mesti cari siapa?"

Terdengar si Jago Pedang Bertangan Sakti pun berkata sambil gelengkan kepalanya.

"Maaf, permintaanmu itu sulit untuk dikabulkan!"

"Heeeh... heeeh... heeeh... aku tahu bahwa kau tidak akan mengabulkan permintaanku itu, lalu apa maksudmu suruh aku mengutarakannya keluar?..."

Dengan gemas ia getarkan pedangnya sehingga menciptakan gelombang serangan yang tajam, teriaknya keras-keras"

"Lebih baik kau cepat turun tangan! Kali ini aku akan beradu jiwa dengan dirimu!"

Untuk beberapa saat lamanya si Jago Pedang Bertangan Sakti merasa mulutnya seolah-olah tersumbat, ia tak pernah menyangka kalau gadis cantik yang berada di hadapannya saat ini bisa memberikan persoalan yang amat sulit baginya.

Setelah gelagapan sendiri beberapa saat lamanya, ia pun berkata

:

"Baik! Mari kita beradu jiwa. Di antara kau dengan aku sudah

bagaikan air dengan api yang selamanya tak pernah akan bersahabat..." Tampaklah ia ayunkan pergelangan tangannya, sekilas cahaya pedang yang tajam segera meluncur keluar mengancam jalan darah Hian Kie hiat di atas dada Wie Chin Siang, begitu cepat datangnya serangan itu hingga terasa seolah-olah berkelebatnya sekilas cahaya.

Dengan sebat Wie Chin Siang berkelit ke samping, bunga pedang menggabung menjadi satu dan secara mendadak membabat ke arah pergelangan tangan si Jago Pedang Bertangan Sakti, kali ini babatannya mantap dan tepat, mengandung beberapa bagian unsur kekuatan yang hebat.

Suaru pertarungan sengit pun segera berkobar dengan hebatnya, masing-masing pihak melancarkan serangan-serangan yang mematikan, siapa pun tidak memberikan kesempatan atau pun menunjukkan belas kasihannya terhadap pihak lawan. Tampak cahaya tajam berkilauan memenuhi angkasa, desiran angin tajam menderu-deru memekikkan telinga, sedemikian hebatnya pertempuran itu sehingga bagi penonton yang ada di samping kalangan sulit untuk membedakan mana pedang dan mana manusia.

Tiiiing...! Traaaang...! Tiiiing...! Traaang...!

Di tengah udara tiba-tiba berkumandang tiga kali suara bentrokan nyaring yang memecahkan kesunyian, berpuluh-puluh titik cahaya putih meluncur keluar dari tengah kurungan bayangan pedang dan langsung meluncur ke atas dinding batu, begitu keras pantulan tadi sehingga titik-titik cahaya putih tadi hampir sebagian besar menembusi dinding dan bersarang di dalamnya.

Cahaya pedang seketika menjadi sirap dan bayangan tubuh ke- dua orang itu pun saling berpisah.

"Ayoh! Gantilah dengan sebilah pedang yang betul!" seru si Jago Pedang Bertangan Sakti,sambil menyilangkan senjatanya di depan dada.

Kiranya senjata pedang yang dipergunakan Wie Chin Siang telah terbabat putus jadi tiga bagian oleh getaran senjata mustika milik si anak muda itu, memandang kutungan pedang di dalam genggamannya lama sekali ia berdiri termangu-mangu, kemudian sambil menghela napas sedih katanya :

"Kau mempunyai banyak kesempatan baik untuk membinasakan diriku, mengapa kau lepaskan setiap kesempatan baik itu untuk memberi kepuasan bagiku? Apakah kau lupa bahwa di antara kita berdua sedang melangsungkan pertarungan adu jiwa dan bukan lagi memperdalam ilmu atau pun mengadakan Pie-bu untuk mengikat tali persahabatan..."