Imam Tanpa Bayangan I Jilid 15

 
JILID 15

DALAM pada itu Go Kiam Lam si ketua perguruan Boo Liang Tiong, tatkala menyaksikan Pek In Hoei serta Ouw-yang Gong melarikan diri masuk ke dalam sebuah hutan, hawa gusarnya seketika berkobar, sambil menerjang keluar dari ruangan bentaknya keras-keras:

"Tangkap dan hadang jalan pergi ke-dua orang bangsat itu, jangan pedulikan mati hidup mereka lagi..."

Anak murid perguruan Boo Liang Tiong menyahut berbareng dan segera gerakkan tubuh masing-masing untuk melakukan pengejaran.

Mendadak... Di tengah kesunyian yang mencekam seluruh jagad berkumandang datang suara pekikan irama khiem yang panjang dan tajam... Ting... tiing... suara itu begitu tajam dan indah membuat para jago lihay dari perguruan Boo Liang Tiong segera menghentikan gerakan tubuhnya dan berdiri termangu-mangu sambil menikmati merdu serta indahnya suara khiem tersebut.

Go Kiam Lam sendiri pun dibuat tertegun oleh kejadian yang berlangsung secara tiba-tiba itu, pikirnya dengan cepat :

"Irama khiem ini muncul secara tiba-tiba dan aneh sekali, entah siapakah yang dapat memetik khiem memainkan irama lagu yang begini mempersonakan..."

Ia memandang jauh ke depan, terasalah irama lagu yang begitu merdu serta empuknya itu seakan-akan muncul dari delapan penjuru, kecuali irama yang menggema di angkasa sama sekali tidak nampak sesosok bayangan manusia pun yang muncul di sana..." Bayangan tubuh Pek In Hoei serta Ouw-yang Gong dengan cepatnya lenyap di balik pepohonan yang luas, ia jadi terperanjat dan segera bentaknya gusar :

"Kalian semua pengin mati? Ayoh cepat kejar ke-dua orang itu..." Bagaikan tersadar dari satu impian yang sangat indah, para jago dari perguruan Boo Liang Tiong itu segera sadar kembali dari lamunan mereka, diiringi teriakan-teriakan keras, mereka pun

melakukan pengejaran kembali.

Belum sampai para jago lihay itu melangkah masuk ke dalam hutan, dari balik pepohonan mendadak terdengar suara helaan napas panjang, seorang perempuan berbaju serba hitam perlahan-lahan munculkan diri di hadapan mereka.

Dalam pangkuannya memeluk sebuah khiem kuno, wajahnya tertutup oleh selapis kain kerudung berwarna hitam, kecuali sepasang matanya yang bening dan tajam sedang mengawasi kawanan jago lihay itu, tak nampak anggota badan lainnya.

Ketika itu ke-lima jari tangannya yang runcing dan halus sedang menarik-narik di antara senar khiemnya.

Tiiiing...! Tiiiing...! Tiiiing...! irama merdu berkumandang tiada hentinya membuat anak murid dari perguruan Boo Liang Tiong itu berdiri termangu-mangu, perhatian mereka semua telah terhisap oleh kehadiran perempuan misterius berbaju hitam itu.

Terdengar wanita berkerudung itu menghela napas sedih, lalu berkata :

"Aaaai...! kalian adalah orang yang punya kepandaian semua, sejak aku berlatih main khiem hingga kini belum pernah kujumpai ada banyak orang yang mendengarkan irama kasar yang dimainkan seorang perempuan..."

Suaranya halus dan ucapannya merdu enak didengar, membuat setiap orang merasakan hatinya jadi enteng dan segar.

Anak murid perguruan Boo Liang Tiong yang pada hari biasa selalu mendapat pengawasan serta pendidikan yang keras oleh Go Kiam Lam, setelah menghadapi kejadian seperti ini, sembilan puluh persen dari mereka jadi leleh oleh keayuan serta kehalusan orang, tanpa sadar mereka dibikin kesemsem oleh perempuan ini.

Dengan cepat Go Kiam Lam enjotkan badannya melayang ke depan lalu bentaknya keras :

"Siapa kau? Tahukah kau bahwa gunung Thiam cong san ini..."

Dengan pandangan dingin perempuan berkerudung hitam itu melirik sekejap ke arahnya kemudian menjawab :

"Saudara jien heng ini kenapa begitu tak tahu sopan santun? Gunung Thiam cong san toh bukan istana emas yang tidak boleh dikunjungi orang lain, kalian boleh datang kemari kenapa kami tak boleh datang ke sini pula..."

Go Kiam Lam tertegun, untuk beberapa saat lamanya ia tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Ditatapnya perempuan ini dengan lebih seksama, dengan cepat ia telah menyadari bahwa kehadiran yang secara mendadak oleh perempuan ini pasti mengandung sesuatu maksud tertentu.

Ia segera mendengus dingin dan kembali menegur :

"Kau jangan sengaja main licik di hadapanku, tempat ini bukanlah tempat yang baik untuk kau kunjungi..."

Mendadak perempuan berkerudung hitamitu tertawa merdu. "Apa gunanya disebabkan karena satu persoalan kecil di antara

kita harus terjadi suatu bentrokan yang tak berguna ? Anggap sajalah kesalahan siauw li yang telah mengganggu ketenangan kalian semua. Di sini aku memberi hormat terlebih dahulu..."

Setelah menjura ke arah semua orang, ia berkata lagi diiringi senyuman manis :

"Gunung sepi kuil terpencil menyedihkan hati, bagaimana kalau siauw li mainkan sebuah lagu indah untuk menghibur hati cuwi sekalian..." Tanpa menunggu apakah pihak lawan setuju atau tidak, ia mulai menggerakkan jari tangannya memetik senar tali khiem dan memainkan sebuah lagu yang amat sedih...

Go Kiam Lam segera menyentilkan ujung jarinya ke arah tubuh perempuan itu, bentaknya :

"Sungguh lihay kepandaian yang nona miliki!"

Perempuan berbaju hitam itu menggeserkan badannya ke samping meloloskan diri dari ancaman, setelah itu sahutnya merdu :

"Ruas jari-jari tanganmu terlalu kasar, bukan bakat yang bagus untuk belajar memetik khiem..."

Gerakan tubuhnya untuk menghindar amat lincah dan gesit, dengan suatu kelitan yang manis tahu-tahu ia telah melepaskan diri dari ancaman jari Go Kiam Lam, hal ini membuat hati gembong iblis itu jadi amat terperanjat.

"Ooooh... sungguh tak kusangka ternyata kau pun seorang jago silat yang lihay..."

Secara beruntun ia melancarkan tujuh delapan buah serangan berantai meneter pihak lawannya,tapi kembali ia dibikin terkesiap oleh gerakan orang yang ternyata dapt menghindarkan diri dari semua ancaman tersebut, buru-buru ia melayang mundur ke belakang seraya menegur dengan suara dingin :

"Nona, apa sebabnya kau mencari permusuhan dengan kami, orang-orang dari perguruan Boo Liang Tiong? Silahkan kau segera menyingkir dari sini, kami harus segera mengejar buronan penting dari perguruan kami..."

"Siapa sih yang sedang kau kejar? Mungkin aku tahu jejaknya..." seru perempuan itu.

Melihat perempuan berkerudung hitam ini selalu menghadang jalan pergi mereka untuk memasuki hutan belantara itu, Go Kiam Lam segera sadar bahwa perempuan yang tidak diketahui asal usulnya ini memang ada maksud menyusahkan dirinya, sebuah pukulan dahsyat segera dilancarkan. "Ayoh menyingkir!"

"Kalian dilarang untuk melewati tempat ini!" sahut perempuan berkerudung hitam itu sambil menutulkan khiem kunonya ke depan.

Merasakan urat nadi penting di atas pergelangan tangannya terancam oleh totokan lawan, dengan hati terkesiap cepat-cepat Go Kiam Lam tarik kembali tangannya sambil meloncat mundur ke belakang.

"Rupanya kau pengin modar!" ia menghardik.

Sementara ia bersiap-siap melancarkan serangan mematikan, mendadak perempuan itu mengundurkan diri ke belakang seraya berkata :

"Di tempat ini tiada orang yang sedang kalian kejar, di depan sana merupakan tempat sembahyang bagi lelayon mendiang leluhur siauw li, kalian berani mengganggu orang tua kami yang telah meninggal itu... Hmmm! Jangan salahkan kalau aku bakal mencari kalian untuk mengadu jiwa..."

Go Kiam Lam tertegun, untuk sesaat lamanya ia berdiri menjublak tanpa sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Ia tak menyangka kalau perempuan itu secara tiba-tiba bisa mengutarakan kata-kata seperti itu. Sebagai seorang ketua dari suatu perguruan besar sudah tentu ia tak mau mempercayai perkataan orang dengan begitu saja.

Setelah termenung beberapa saat lamanya, dengan alis berkerut ia segera tertawa dingin.

"Seratus li di sekeliling gunung Thiam cong san tiada rumah penduduk, nona, lebih baik kau jangan mengajak kami untuk bergurau..."

"Hmmm! Kalau kalian tidak percaya silahkan pergi memeriksanya, kalau ucapanku tidak salah maka kau harus berlutut di depan layon mendiang orang tuaku untuk mohon maaf kalau tidak aku tak akan mengampuni dirimu..." Go Kiam Lam mendengus dingin, dengan memimpin anak muridnya ia segera masuk ke dalam hutan itu.

Dari balik hutan yang gelap dan lebat secara lapat-lapat tersiar bau busuk yang memuakkan, tidak selang beberapa saat kemudian sampailah mereka di tengah hutan, di situ tampaklah sebuah rumah gubuk yang terang di bawah sorot cahaya lampu lentera.

Go Kiam Lam tertawa dingin, sambil mendorong pintu ia segera melangkah masuk ke dalam. Tapi dengan cepat senyuman yang semula menghiasi bibirnya lenyap tak berbekas, ia berdiri termangu- mangu tanpa sanggup berbuat sesuatu apa pun.

Tampaklah di balik horden kain putih yang menutupi ruangan membujurlah dua buah peti mati berwarna merah, peti-peti mati itu terletak di tengah ruangan dihiasi lampu lilin serta asap hio yang tebal, suasana terasa serius dan diliputi kesedihan.

Di depan meja lelayon duduk seorang gadis berbaju putih, waktu itu dengan pandangan termangu-mangu sedang menatap sebuah huruf besar yang terpasang di tengah meja sembahyang, terhadap kehadiran para jago lihay dari perguruan Boo Liang Tiong ini ternyata sama sekali tidak menggubris.

Setelah berdiri termangu-mangu beberapa saat lamanya, ia siap mengundurkan diri dari situ. Mendadak terasa segulung desiran angin tajam menyebar lewat di belakang tubuhnya, Go Kiam Lam terperanjat buru-buru ia berkelit ke samping untuk menghindarkan diri. 

Menanti ia berpaling ke belakang, tampaklah perempuan berkerudung hitam itu sambil memeluk khiem antiknya telah berjaga- jaga di depan pintu dengan sikap dingin.

"Hmmm...! sekarang kau sudah percaya bukan?" tegurnya ketus. Go Kiam Lam jadi gelagapan dan tak sanggup memberi jawaban, mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, sambil menuding

ke arah peti-peti mati itu ia bertanya :

"Mayat siapakah yang berada di dalam peti mati itu?" Perempuan berkerudung kain hitam itu tertawa dingin. "Mendiang orang tuaku! Hmmm! Secara gegabah kau telah

memasuki ruang layon kami sehingga membuat sukma mendiang orang tua kami tidak senang di alam baka, mulai detik ini juga kau adalah musuh besarku, ayo cepat berlutut dan minta ampun..."

Dengan sepasang alis berkerut Go Kiam Lam maju menghampiri kedua buah peti mati itu, tangan kiri serta tangan kanannya masing- masing ditekankan ke atas peti mati tadi, dan serunya hambar :

"Maaf, cayhe telah mengganggu kalian."

Melihat perbuatan orang itu, baik dara berbaju putih itu maupun perempuan berkerudung hitam sama-sama berubah air mukanya, dara berbaju putih itu segera membentak gusar, tubuhnya menerjang maju ke depan sambil melancarkan satu pukulan dahsyat.

"Kau berani!" hardiknya.

Cepat-cepat Go Kiam Lam meloncat ke samping meloloskan diri dari ancaman.

"Cayhe mohon diri terlebih dahulu," katanya. "Bila mana kami telah mengganggu ketenangan kalian, di kemudian hari pasti akan mohon maaf..."

Selesai berkata ia segera ulapkan tangannya, para jago lihay dari perguruan Boo Liang Tiong dengan cepat mengikuti di belakang ketuanya berlalu dari hutan tadi dan dalam sekejap mata telah lenyap dari pandangan mata.

Berdiri di depan pintu perempuan berkerudung hitam itu membentak keras :

"Go Kiam Lam, hutang yang kita perbuat hari ini kami catat atas namamu..."

Suara yang amat nyaring menggema hingga ke tempat kejauhan membuat daun dan ranting bergetar keras, lama sekali baru sirap.

Memandang bekas telapak lima jari di atas peti mati itu, dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipi dara berbaju putih itu, sikap serta wajahnya yang sedih dan mengenaskan itu membuat perempuan berbaju hitam yang menyaksikan dari samping pun ikut beriba hati.

Terdengar perempuan berkerudung hitam itu menghela napas panjang, lalu berkata :

"Chin Siang, kau tak usah sedih, walaupun ilmu Toa Lek Im Jiaw dari Go Kiam Lam tersohor karena kekejian serta kehebatannya, tak nanti kepandaian itu berhasil melukai diri Pek In Hoei..."

Perlahan-lahan ia berjalan ke depan peti mati itu, membuka penutupnya dan tampaklah si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei dengan wajah kuning keemas-emasan menutup matanya rapat- rapat dan berbaring dalam peti mati tersebut.

Perempuan berbaju hitam itu melepaskan kain kerudungnya yang berwarna hitam hingga terlihat raut wajahnya yang cantik jelita, setelah menyapu sekejap wajah Pek In Hoei, dengan sikap serius katanya sedih :

"Sungguh tak nyana tenaga lweekang yang dimiliki Go Kiam Lam telah mencapai pada taraf 'Meminjam benda menyalurkan tenaga'. Pek In Hoei sudah terkena obat pemunah tenaga 'Liok Hong Lok' sudah tentu ia tak dapat menggunakan kekuatan tubuhnya untuk menahan serangan Toa Lek Im Jiauw kang tersebut. Kalau dilihat raut wajahnya yang kuning keemas-emasan jelas luka yang dideritanya tidak ringan..."

Wie Chin Siang yang mendengar ucapan itu bergetar keras hatinya seakan-akan guntur membelah bumi di siang hari bolong, dengan sempoyongan ia mundur lima langkah ke belakang lalu serunya sedih :

"Suhu, kau harus mencari akal untuk menyelamatkan jiwanya..." Perempuan berbaju hitam yang bukan lain adalah Kiem In Eng si Dewi Khiem Bertangan Sembilan, tampak ia termenung berpikir

sebentar lalu gelengkan kepalanya berulang kali.

"Aaaai... ilmu cakar sakti Toa Lek Im Jiauw kang termasuk salah satu di antara lima macam kepandaian paling keji di kolong langit, setelah Pek In Hoei terkena serangan ilmu beracun itu, aku rasa untuk sesaat memang sulit untuk menolongnya..."

Perkataan yang diucapkan dengan nada rendah dan perlahan ini menggelisahkan hati Wie Chin Siang hingga membuat wajahnya berubah hebat dan butir air mata jatuh berlinang membasahi pipinya dengan pandangan mendelong ia awasi gurunya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Kembali Kiem In Eng menghela napas panjang.

"Aaaai...! kesemuanya ini adalah gara-gara kedatangan kita yang terlambat, hingga mengakibatkan ia dicelakai oleh Go Kiam Lam sedangkan aku... karena tidak leluasa untuk unjukkan diri sulit pula untuk mencegah peristiwa ini..."

Wie Chin Siang tidak bicara, mendadak ia cbut keluar pedangnya dan diayunkan ke tengah udara sehingga membentuk sekilas cahaya tajam yang menyilaukan mata, wajah yang murung dan sedih seketika lenyap tak berbekas diganti dengan wajah bening yang penuh diliputi hawa napsu membunuh.

"Aku akan pergi mencari Go Kiam Lam untuk beradu jiwa," serunya. "Akan kupaksa dirinya untuk serahkan obat penawar racun pukulannya, kalau tidak maka akan kubunuh semua orang yang ada di gunung Thiam cong agar darah segar membasahi seluruh jagad..." "Chin Siang kau tak boleh berbuat begitu," cegah gurunya seraya menggeleng. "Walaupun perbuatanmu itu bisa membalas dendam sakit hatinya tetapi sama sekali tidak berguna bagi Pek In Hoei, perbuatanmu itu hanya akan mempercepat kematiannya belaka, lagi pula perguruan yang dipimpin Go Kiam Lam mempunyai hubungan yang erat sekali dengan sucouwmu, di sinilah letak ketidakleluasaan gurumu untuk bertindak secara terang-terangan, maka satu-satunya jalan yang dapat kita tempuh sekarang adalah mencari akal lain untuk

mendapat obat pemunah..."

Mendadak ia tertawa dan menggape ke arah gadis itu. "Nak, masuklah kemari!" Dengan pandangan tidak mengerti Wie Chin Siang memandang ke arah suhunya kemudian perlahan-lahan maju ke depan dan berdiri di hadapan gurunya dengan sikap hormat.

"Suhu, ada urusan apa?" tanyanya.

Kiem In Eng menatap wajah muridnya tajam-tajam lalu bertanya

:

"Anakku, terus terang mengakulah kepadaku, betulkah kau

mencintai Pek In Hoei?"

Wajah Wie Chin Siang yang semula pucat pias dirundung kemurungan seketika berubah jadi merah padam selesai mendengar perkataan itu, dengan tersipu-sipu ia tundukkan kepalanya rendah- rendah.

"Suhu!" katanya, "kenapa kau bertanya lagi kepadaku?" Perlahan-lahan Kiem In Eng menghela napas panjang. "Tahukah kau bahwa Pek In Hoei mempunyai masalah cinta yang

amat banyak...? Tahukah kau bahwa banyak gadis yang mengejar dirinya, menggunakan siasat macam apa pun untuk mendapat dirinya, tapi banyak pula kaum gadis yang bakal kecewa di tangannya..."

Wie Chin Siang tundukkan kepalanya rendah-rendah, jantung terasa berdebar sangat keras, ia merasa masa depannya kosong dan mengambang, apakah keputusan hatinya ini akan membawa keberuntungan atau kesialan ia sendiri pun tak tahu.

Titik air mata meleleh keluar membasahi wajahnya, sambil geleng kepala ia menghela napas panjang.

"Apa yang ananda pikirkan serta harapkan hanya satu, peduli bagaimanakah sikapnya di kemudian hari terhadap diriku, rasa cinta aku terhadap dirinya sepanjang masa tak akan berubah. Nasehat suhu akan tecu ingat selalu di dalam hati..."

"aaaai....! semoga kau dapat berpikir yang lebih luas dalam menghadapi setiap persoalan, janganlah seperti gurumu yang harus menyia-nyiakan masa remajanya karena terbelenggu oleh cinta, dan akhirnya apa pun tak berhasil didapatkan kecuali kesunyian serta kekosongan..."

Ia melirik sekejap ke arah Pek In Hoei yang berbaring di dalam peti mati, lalu sambungnya lebih jauh.

"Dalam pencariannya apabila Go Kiam Lam tidak berhasil menemukan mereka berdua, gembong iblis itu kemungkinan besar bisa kembali ke sini, ia telah bersumpah untuk menangkap ke-dua orang ini dalam keadaan apa pun, mumpung mereka belum balik kemari dan para jago lihay dari perguruan Boo Liang Tiong belum terkumpul semua, lebih baik kita sembunyikan dahulu mereka berdua..."

Berbicara sampai di sini, tanpa menantikan jawaban lagi ia segera mengempit tubuh Pek In Hoei serta Ouw-yang Gong dari dalam peti mati kemudian melayang keluar dari dalam gubuk itu dan meluncur ke dalam hutan.

Memandang bayangan punggung suhunya yang mulai lenyap dari pandangan, Wie Chin Siang berdiri termangu-mangu, secara mendadak ia rasakan suatu kekosongan yang belum pernah dirasakan sebelumnya terlintas di atas wajahnya.

Walaupun ia telah berpikir ke sana berpikir kemari tapi tak pernah ia berhasil menghilangkan bayangan wajah Pek In Hoei yang tampan serta mempersonakan hati itu, rasa kuatir muncul di atas wajahnya... bayangan tubuhnya yang tampan gagah dan tegap selalu terbayang dengan jelas di depan mata...

"Aaaai...!" ia sendiri pun tak tahu kenapa menghela napas begitu panjang dan berat... ia hanya tahu dadanya terasa tersumbat oleh kesedihan serta kekesalan yang membuat ia pengin menghela napas panjang agar rasa kesalnya sedikit berkurang.

Lama sekali gadis itu berdiri termangu-mangu memandang ke tempat kejauhan lalu gumamnya seorang diri : "Aneh sekali... kenapa dalam hati kecilku selalu merindukan dirinya, sejak pertama kali kujumpai dirinya... dalam benakku setiap saat selalu muncul bayangan tubuhnya, terutama sekali sewaktu..."

Teringat akan peristiwa dalam lorong rahasia perkampungan Thay Bie San cung, di mana ia berada dalam keadaan telanjang bulat saling bertindihan dan saling berpelukan dengan Pek In Hoei,wajahnya kontan berubah jadi merah padam... jantungnya berdebar deras dia terduduk sambil memainkan ujung bajunya, ia merasa seolah-olah ada banyak orang yang sedang mengintip ke arahnya.

Di saat ia sedang merasa jengah dengan sendirinya itulah mendadak bayangan manusia berkelebat lewat, Kiem In Eng bagaikan sukma gentayangan tahu-tahu sudah berdiri di hadapannya, Wie Chin Siang yang sedang berdiri dengan rasa jengah merasa makin mengenaskan lagi keadaannya.

kim jadi tercengang bercampur heran setelah melihat keadaan muridnya, segera ia menegur :

"Nak, apa yang sedang kau pikirkan?"

"Aku..." Wie Chin Siang jadi kelabakan setengah mati.

"Nak, sekarang waktu sangat mendesak, aku hanya dapat menerangkan kepadamu sesingkatnya saja. Pergilah cari si Tangan Sakti Berbaju Biru dan mintalah dua butir pil mujarab berusia seribu tahun."

Ia merandek sejenak, lalu tambahnya :

"Setelah turun dari bukit Thiam cong, berangkatlah ke arah timur sejauh empat puluh li, di situ ada sebuah sungai kecil dan di depan sungai terdapat sebuah kebun bunga, pergilah ke situ dan jumpailah si Tangan Sakti Berbaju Biru dengan membawa benda kepercayaanku, mungkin dia tak akan menyulitkan dirimu. Tapi orang itu aneh dan wataknya kukoay, kau harus hadapi dirinya dengan hati- hati, begitu mendapatkan obat tadi segeralah pulang ke sini..." Seraya berkata dari dalam sakunya Kiem In Eng segera ambil keluar sebuah sapu tangan berwarna merah dan diserahkan ke tangan muridnya.

Wie Chin Siang segera menerima sapu tangan tadi dan disimpan ke dalam sakunya, lalu ia berseru :

"Suhu, aku berangkat duluan!"

"Tunggu sebentar!" sekilas rasa murung terlintas di atas wajah Kiem In Eng. "Si Tangan Sakti Berbaju Biru bukan terhitung manusia dari kalangan lurus, ia berdiam di pesisir Pek Sah Than dan menurut apa yang aku ketahui sedang melaksanakan satu rencana besar, kepergianmu kali ini walaupun tiada mara bahaya yang mengancam tapi kau harus baik-baik menjaga diri..."

Mendadak suasana jadi penuh emosi, terusnya :

"Berhubung antara aku dengan dia pernah terikat suatu persoalan maka aku tidak ingin berjumpa dengan dirinya, bilamana kau telah bertemu dengan dirinya berusahalah sedapat mungkin menghindari pertanyaan yang menyangkut soal diriku, daripada mengundang kedatangan pelbagai kerepotan..."

Pada saat ini hati Wie Chin Siang terasa amat gelisah sekali, dia ingin cepat-cepat tiba di pesisir Pek Sah Than serta mendapatkan pil mujarab berusia seribu tahun untuk menyelamatkan jiwa kekasihnya maka ia mengangguk berulang kali dan segera lari masuk ke dalam hutan.

Sepanjang perjalanan dilakukan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, baru saja gadis itu akan tinggalkan kaki bukit Thiam cong mendadak terdengar serentetan bentakan nyaring bergema memecahkan kesunyian, tampaklah dua orang lelaki berbaju hitam meloncat keluar dari balik jalan gunung dan menghadang jalan perginya dengan pedang dilintangkan di depan dada.

"Hey, apa yang hendak kalian lakukan?" kontan dara she Wie ini menegur dengan suara dingin, sekilas rasa gusar terpancar di atas wajahnya yang berkerut kencang. Ke-dua orang lelaki itu merupakan anak murid dari perguruan Boo Liang Tiong, mereka menyapu sekejap wajah Wie Chin Siang lalu dengan wajah tercengang sang pemimpin menegur sambil tertawa dingin.

"Kau hendak pergi ke mana?"

"Enyah kalian dari sini! Aku tidak ingin membinasakan kalian berdua..." seru Wie Chin Siang dingin.

Dengan sikap yang ketus pandangan yang dingin serta wajah yang penuh napsu membunuh, dara itu melanjutkan perjalanannya ke arah depan, ia sama sekali tidak melirik ke arah mereka berdua bahkan sebelah mata pun tak dipandang olehnya.

Cahaya tajam berkilauan memenuhi seluruh angkasa, sambil ayunkan sepasang pedangnya menghalau di depan mata gadis itu, ke- dua orang lelaki berbaju hitam tadi kembali menghalangi jalan perginya, jelas mereka tak ingin melepaskan gadis ini berlalu dengan begitu saja.

Sambil tertawa dingin si lelaki pertama berseru :

"Ketua kami telah turunkan perintah, peduli siapa pun yang ada di atas gunung dilarang turun atau naik bukit Thiam cong ini, kecuali kami berhasil menangkap kembali ke-dua orang buronan tersebut..."

Wajahnya berubah sejenak, kemudian dengan pandangan tercengang tambahnya :

"Nona pun seorang manusia yang cerdik, aku percaya kau tak akan menyusahkan kami berdua..."

"Hmmm! Ketua kalian manusia macam apa? Berani betul dia melarang setiap manusia naik turuni bukit ini..."

Gadis ini sangat menguatirkan keadaan luka dari Pek In Hoei, ia tak berani membuang waktu terlalu lama, setelah mendengus tubuhnya mendadak menerjang ke depan dan melancarkan satu pukulan dahsyat ke arah dua orang lelaki yang menghalangi jalan perginya itu. Ke-dua orang lelaki itu merupakan anak murid angkatan ke-dua dari perguruan Boo Liang Tiong, pada hari-hari biasa terlalu mengunggulkan kepandaian silatnya sendiri. Kini setelah menyaksikan kecepatan gerak dari gadis itu dalam melancarkan serangannya, diam-diam mereka merasa bergidik dan kaget, cepat- cepat tubuhnya menyebarkan ke kiri dan kanan sejauh lima depa dari tempat semula.

"Kau berani menerjang dengan kekerasan!: bentak pemimpin itu sambil memutar pedangnya.

Tetapi setelah dilihatnya dara muda berwajah cantik ini sama sekali tidak memandang sebelah mata pun terhadap ketua mereka, saking gusarnya tubuh mereka jadi bergetar sangat keras, sembari membentak keras pedangnya dan menciptakan selapis cahaya berkilauan segera menerjang ke depan.

Wie Chin Siang tertawa dingin, tubuhnya bergeser ke samping sementara telapak kirinya dengan membentuk gerakan busur sedang telapak kanannya berputar satu lingkaran langsung membabat ke arah depan.

Terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian, batok kepala lelaki itu terhantam sampai hancur berantakan dan roboh binasa di atas tanah.

Lelaki yang lain jadi sangat terperanjat setelah menyaksikan peristiwa ini, pedangnya dibabat keluar memaksa musuhnya meloncat mundur kemudian ia sendiri pun berkelebat mundur ke belakang sembari meraung gusar diambilnya sebuah seruling pendek dari sakunya dan segera ditiupkan berulang kali.

Dalam sekejap mata suara seruling bermunculan dari empat penjuru dan saling susul menyusul, tiupan suara tiga pendek satu panjang itu dengan cepatnya telah berkumandang sampai tempat kejauhan.

Menyaksikan tiupan seruling berkumandang saling susul menyusul disusul munculnya bayangan manusia dari empat penjuru, Wie Chin Siang benar-benar merasa amat gusar, sorot mata penuh napsu membunuh berkelebat lewat dan segera hardiknya :

"Bangsat, kau ingin modar!"

Diiringi bentakan keras tubuhnya meluncur ke depan, telapak tangannya disertai tenaga pukulan yang maha dahsyat segera dihantamkan ke atas tubuh lelaki peniup seruling tadi.

Blaaaam...! lelaki itu menjerit ngeri, tubuhnya mundur tujuh delapan langkah ke belakang dan segera muntahkan darah segar, seruling bambu hitamnya seketika patah jadi beberapa bagian dan rontok ke atas tanah.

Dalam gusarnya secara beruntun Wie Chin Siang telah turun tangan dengan hebatnya, sebelum lewat dua jurus serangan dua orang musuhnya telah berhasil dibinasakan.

Sinar matanya segera dialihkan ke sekeliling tempat itu, tiba-tiba ia terkesiap tampaklah Go Kiam Lam si ketua dari perguruan Boo Liang Tiong dengan wajah dingin telah berdiri di situ.

"Hmmm, kiranya kau!" tegur orang she Go itu sambil mendengus dingin. Di belakang ketua perguruan Boo Liang Tiong ini mengikuti dua orang lelaki yang membawa empat ekor anjing besar, ketika itu anjing tadi menggonggong tiada hentinya membuat Wie Chin Siang dalam gugup dan kagetnya segera berpikir :

"Anjing besar yang berasal dari Tibet ini pandai sekali mengejar jejak manusia, entah suhu telah menyembunyikan Pek In Hoei di mana? Mungkinkah tempat pesembunyiannya ditemukan oleh daya penciuman anjing-anjing lihay ini?"

Ia segera tertawa dingin dan menegur :

"Kaukah yang melarang aku turun dari bukit Thiam cong ini?" "Sedikit pun tidak salah!"

"Hmmm! Kau dapatkan peraturan ini dari mana?"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, ke-empat ekor anjing itu mencium-cium terus sekeliling tubuhnya kemudian menggonggong keras. Lama kelamaan gadis ini jadi jemu dan mendongkol juga, ia angkat kakinya dan segera menendang anjing tersebut hingga terpental ke belakang.

Anjing tadi menggonggong semakin menjadi, bahkan siap melakukan tubrukan kembali.

Sementara itu Go Kiam Lam si ketua dari perguruan Boo Liang Tiong sama sekali tidak menjawab pertanyaan Wie Chin Siang secara langsung, ia menyapu sekejap ke-dua sosok mayat anak buahnya yang menggeletak di atas tanah lalu bertanya :

"Apakah mereka mati di tanganmu?"

Wie Chin Siang mengerti Go Kiam Lam sebagai ketua suatu perguruan pasti memiliki ilmu silat yang sangat lihay dan sukar ditandingi, diam-diam ia salurkan hawa murninya ke dalam telapak dan siap menghadapi segala kemungkinan.

"Hmmm! Membinasakan dua ekor anjing yang goblok dan tolol bukan terhitung suatu pekerjaan besar," sahutnya.

"Budak sialan, jumawa benar ucapanmu itu!" teriak Go Kiam Lam dengan wajah berubah hebat, "Mau ap kau turuni bukit Thiam cong?"

"Hmmm, itu urusanku, mau apa kau turut campur?"

Mendadak serentetan bisikan lembut berkumandang masuk ke dalam telinganya, terdengar Kiem In Eng berkata :

"Kau berusahalah sedapat mungkin turun dari bukit ini, kenapa mesti ngoceh tiada gunanya dengan manusia itu?" Aku telah bersembunyi di sekeliling tempat ini, diam-diam akan kubantu dirimu..."

Wie Chin Siang melongo, ia tak menyangka kalau gurunya Kiem In Eng telah bersembunyi di situ, pikirannya segera ditenangkan dan senyuman congkak tersungging di ujung bibirnya.

"Aku harus mencari satu kesempatan yang paling baik untuk turun tangan terhadap diri Go Kiam Lam..." pikirnya. Sementara itu Go Kiam Lam sendiri pun sudah dibikin gusar oleh kejumawaan orang, ia mendengus dan berseru :

"Budak ingusan, kau betul-betul tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi..."

Belum sampai badannya bergerak, Wie Chin Siang dengan menggunakan kesempatan di kala pihak lawan tidak menaruh perhatian penuh itulah mengirim satu pukulan dahsyat dari tempat kejauhan, serangan ini dilancarkan dan sukar dibayangkan dan kata- kata.

"Kurang ajar, kau berani turun tangan terlebih dahulu!" teriak manusia she Go itu dengan hati mendongkol.

Sebagai seorang ketua perguruan besar, ia merasa sungkan untuk merasakan serangan mematikan terhadap seorang nona kecil, badannya dengan cepat bergeser ke samping, ke-lima jarinya bagaikan cakar burung elang mencengkeram tubuh darah tersebut.

Siapa tahu di kala lengannya dijulurkan sampai setengah jalan,dan jaraknya dengan tubuh Wie Chin Siang tinggal setengah depa, mendadak lengannya jadi kaku dan segera terkulai lemas ke bawah.

Cepat-cepat tubuhnya meloncat mundur ke belakang dan bentaknya :

"Jago lihay dari mana yang bersembunyi di situ?"

Suasana di atas bukit itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit suara pun, dengan wajah tercengang bercampur keheranan Go Kiam Lam mendengus dingin, lalu menegur sekali lagi.

Melihat suhunya secara diam-diam memberi bantuan, semangat Wie Chin Siang kontan berkobar, menggunakan kesempatan sewaktu Go Kiam Lam tidak menaruh perhatian ia menerjang maju ke depan dan melancarkan enam buah pukulan dahsyat.

Ke-enam buah pukulan itu kesemuanya telah menggunakan segenap tenaga yang dimilikinya, Go Kiam Lam sebagai jago yang lihay tak urung dibikin terkesiap juga sehingga terdesak mundur beberapa langkah ke belakang.

Dengan gusarnya ia tertawa keras lalu membentak : "Budak ingusan, rupanya kau memang kepengin modar!"

Setelah timbul keinginan jahat dalam hatinya, serangan-serangan yang dilancarkan pun tidak mengenal rasa kasihan, badannya berkelebat ke depan, jari dan telapak menyerang berbareng diiringi desakan tubuh yang menerjang ke muka, dalam waktu singkat beberapa puluh jurus telah dilepaskan.

Bagaimana pun juga Wie Chin Siang masih kekurangan pengalaman dalam melakukan pertarungan, ia tak sanggup menduga datangnya serangan-serangan lawan dan di dalam gugupnya sang telapak kanan segera disapu ke arah depan.

Bluuuum...! di tengah bentrokan keras tubuh Wie Chin Siang tergetar mundur tujuh delapan langkah ke belakang, dengan susah payah ia baru berhasil mempertahankan tubuhnya tidak sampai ke tanah, walau begitu dadanya sudah naik turun dengan napas tersengkal-sengkal, keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.

"Hmmm... Hmmm..." Go Kiam Lam tertawa dingin. "Bocah cilik, lebih baik kau menyerah saja..."

Tubuhnya bagaikan seekor burung rajawali segera berputar satu lingkaran di tengah udara sambil merentangkan lengannya segera menubruk ke atas tubuh Wie Chin Siang.

Criit...! di saat yang kritis itulah mendadak muncul suara desiran tajam berkumandang membelah angkasa, sesosok bayangan hitam meluncur ke arah tubuh Go Kiam Lam dan kecepatan penuh dan nampaknya segera akan bersarang di tubuhnya.

Go Kiam Lam terkesiap, ia putar telapaknya melancarkan satu pukulan ke depan, sebatang ranting kering segera terpental ke arah samping. Di saat tubuhnya agak merandek itulah Wie Chin Siang telah berkelit ke samping dan sambil mencabut keluar pedangnya segera menerjang turun ke bawah gunung.

"Manusia kawanan tikus dari mana yang melancarkan serangan bokongan terhadap orang?" teriak Go Kiam Lam penuh kegusaran.

Ia tahu jago lihay yang menyembunyikan diri di tempat kegelapan itu mempunyai kepandaian yang sangat lihay dan sulit untuk menemukan jejaknya, ia segera mendengus dingin.

Sewaktu dilihatnya Wie Chin Siang dengan menggunakan kesempatan itu telah lari sejauh empat tombak, dan marah segera teriaknya :

"Hadang jalan perginya, kalau ingin menangkap kembali Pek In Hoei hanya bisa didapatkan kabar beritanya dari mulut gadis itu..."

Tubuhnya bergerak dan segera mengejar ke bawah.

Wie Chin Siang sama sekali tidak menggubris bentakan-bentakan dari Go Kiam Lam, sambil memutar pedangnya menciptakan selapis cahaya tajam ia terjang dua orang lelaki yang hendak menghalangi jalan perginya, di dalam sekali gebrakan ke-dua orang itu segera terjungkal dengan tubuh terluka parah.

Mendadak terdengar suara gonggongan anjing berkumandang dari arah belakang, tampaklah anjing besar yang galak dan buas itu di bawah petunjuk dua orang lelaki sedang menerjang ke arahnya.

Wie Chin Siang jadi amat gusar, ia putar pedangnya ke samping lalu menusuk anjing tadi hingga mati binasa, kemudian sambil melewati batok kepala orang banyak bagaikan segulung asap ia lari ke bawah gunung dan lenyap di balik pepohonan.

Terlihatlah tiga ekor anjing lainnya mengejar terus dengan kencangnya, suara gonggongan bergema memecahkan kesunyian...

Go Kiam Lam mendengus dingin, tiba-tiba ia hentikan gerakan tubuhnya lalu menyapu sekejap ke arah anak muridnya dengan pandangan dingin. Para jago dari perguruan Boo Liang Tiong segera menyebarkan diri dan mencari jago lihay yang menyembunyikan diri itu.

"Kalian tak akan bisa lolos dari cengkeramanku..." gumam Go Kiam Lam dengan wajah sinis.

Begitu ucapan tersebar di angkasa, terasalah gunung Thiam cong seolah-olah terlapis oleh bayangan hitam membuat orang jadi seram dan bergidik...

Setelah melakukan perjalanan sepanjang empat puluh li, sampailah di pesisir Pek Sah Than.

Sebuah selokan membujur di depan mata, air yang bening mengalir di atas permukaan pasir yang putih di hadapan selokan adalah serentetan pepohonan liuw...

Angin berhembus sepoi-sepoi, Wie Chin Siang merasakan hatinya jadi lega dan nyaman, sambil memandang jembatan kecil di atas selokan ia berdiri termangu-mangu.

Beberapa saat kemudian perlahan-lahan ia menyeberangi jembatan kecil itu dan memasuki pepohonan liuw.

Tiba-tiba dari balik pepohonan muncul dua orang bocah lelaki berbaju biru yang menyoren pedang,mereka langsung menyongsong kedatangan gadis ini.

Usia ke-dua orang bocah itu hanya dua tiga belas tahunan, dengan pandangan dingin dan sama sekali tidak memperlihatkan sifat kebocah-bocahannya menatap gadis itu tajam-tajam, biji matanya yang dingin menunjukkan berapa luasnya pengalaman ke-dua orang bocah ini.

Tampaklah bocah yang di sebelah kiri mendadak ulurkan tangannya sambil berseru :

"Bawa kemari!"

"Apanya yang bawa kemari?" karena tak tahu apa yang diminta Wie Chin Siang balik bertanya dengan nada tertegun.

"Surat undangan!" jawab bocah itu dengan mata melotot. Walaupun hanya dua patah kata, tapi dingin dan ketusnya membuat orang jadi sangsi dan tercengang apabila ucapan itu diucapkan oleh seorang bocah cilik.

Wie Chin Siang melengak dan segera berseru tertahan, lalu gelengkan kepalanya berulang kali.

"Aku tak punya surat undangan!" "Keluar!"

Kedua orang bocah ini betul-betul lain daripada bocah biasa, begitu bocah yang ada di sebelah kiri menyelesaikan kata-katanya kedua orang itu segera mendongak memandang ke angkasa sambil bergendong tangan, sekejap pun mereka tak memandang lagi ke arah tetamunya.

Wie Chin Siang tidak menyangka kalau dirinya bakal dipandang enteng oleh dua orang bocah cilik di tempat itu, hawa gusarnya segera berkobar, tapi teringat akan maksud tujuannya datang ke situ adalah untuk mohon bantuan orang lain, terpaksa ia tekan hawa gusar serta rasa mendongkolnya itu di dalam hati.

"Tolong saudara berdua suka melaporkan ke dalam, katakan saja aku hendak menjumpai si Tangan Sakti Berbaju Biru..."

Gadis yang sedang gelisah dan membutuhkan pertolongan ini sudah ulangi perkataannya sampai beberapa kali, tapi selalu didiamkan oleh ke-dua orang bocah itu, mereka tetap pura-pura berlagak tidak mendengar dan tidak ambil gubris, hal ini membuat Wie Chin Siang lama kelamaan jadi tak kuat menahan diri dan meledaklah hawa gusarnya.

"Hey, perkataan yang kuucapkan telah kalian dengar belum?..." bentaknya.

Kebetulan ke-dua orang bocah yang jumawa itu sedang memandang ke arahnya, mendengar bentakan tersebut dengan gusar mereka melotot sekejap ke arah gadis she Wie ini dan menjawab hampir berbareng :

"Tidak boleh!" "Heeeh... heeeh... heeeeh... kalau kalian benar-benar berkeras kepala, terpaksa nonamu akan mencari sendiri..."

Karena pada dasarnya ia memang sudah mendongkol, begitu ucapannya selesai diucapkan tubuhnya segera meloncat ke angkasa dan menerjang masuk ke dalam melewati sisi tubuh ke-dua bocah itu.

"Kau berani!" bentak ke-dua orang bocah itu hampir berbareng.

Gerakan tubuh mereka berdua ternyata tidak lemah, di antara bergetarnya sang pundak mereka dengan memisahkan diri dari kiri dan kanan segera menubruk ke arah tubuh Wie Chin Siang, kecepatan serangannya tidak berada di bawah kepandaian seorang jago kelas satu, membuat gadis itu terkesiap dan segera dipaksa mundur kembali ke tempat semula.

Melihat pihak lawannya telah berhasil dipaksa mundur, ke-dua orang bocah itu pun tidak turun tangan lagi, sambil berdiri sejajar dan tangan meraba gagang pedang mereka tatap wajah Wie Chin Siang dengan pandangan dingin.

Kejadian ini tentu saja mencengangkan serta mengejutkan hati gadis she Wie ini, sejak kecil ia berada di sisi Kiem In Eng boleh dibilang kerjanya setiap hari hanya berlatih silat, hasil latihannya selama belasan tahun ternyata seimbang dengan kekuatan dua orang bocah berusia dua, tiga belas tahunan, lalu apa gunanya jerih payahnya selama ini?

Tapi gadis ini tidak mau menyerah dengan begitu saja sambil mendengus dingin segera serunya :

"Hmmm! Sungguh tak nyana dua orang bocah penjaga pintu pun mempunyai beberapa jurus ilmu simpanan, tidak aneh kalau kalian memandang kosong dunia jagad dan sama sekali tidak pandang sebelah mata pun terhadap rekan sesama kangouw..."

"Cepat enyah dari sini!" bentak bocah sebelah kanan dengan wajah gusar. Wie Chin Siang tertawa menghina, mendadak ia lancarkan dua buah serangan berantai yang mana secara terpisah menyerang dada ke-dua orang bocah itu secara berbarengan.

Ia dua setelah terancam oleh pukulan itu, niscaya ke-dua orang bocah itu bakal mengundurkan diri ke belakang untuk berkelit, siapa tahu kejadian ternyata berada di luar dugaan orang.

Dengan gerakan tubuh yang cepat laksana kilat ke-dua orang itu telah mencabut keluar pedangnya di saat telapak lawan hampir mengenai sasarannya, kemudian dengan menciptakan dua kilatan cahaya tajam segera membabat ke arah pergelangan tangan lawannya.

Wie Chin Siang membentak nyaring :

"Kalau untuk menghadapi kalian dua orang setan cilik pun tak mampu, sia-sia saja aku berkelana selama banyak tahun di dalam dunia persilatan..."

Dari serangan telapak mendadak berubah jadi serangan totokan, dengan cepat ia lepaskan dua sentilan kilat.

Ke-dua orang bocah berbaju biru itu tertegun, mendadak lengan mereka terasa jadi kaku dan senjata mereka segera terlepas dari cekalannya.

Wie Chin Siang tertawa dingin, ia berjalan menuju ke depan tanpa menggubris lawan-lawannya lagi.

Ke-dua orang bocah itu pun tidak mengejar lebih lanjut, memandang bayangan punggungnya yang lenyap di tempat kejauhan mereka hanya berdiri termangu-mangu.

Setelah melewati dua baris pepohonan liuw sampailah gadis itu di dalam sebuah kebun bunga dengan pelbagai tanaman bunga yang indah, bau harum bunga yang semerbak tersiar ke angkasa menusuk penciuman Wie Chin Siang, ia tarik napas panjang dan mendongak ke depan.

Terlihatlah sebuah jalan kecil yang berasal batu menghubungkan kebun bunga itu dengan sebuah bangunan loteng yang megah, sebuah papan emas tergantung di depan bangunan dan bertuliskan 'Coei Hoe Loe' tiga huruf besar.

"Aaaah, tempat ini pastilah loteng yang biasa digunakan si Tangan Sakti Berbaju Biru untuk menikmati bunga memandang rembulan," pikir Wie Chin Siang dalam hati. "Kalau dilihat keadaan di tempat ini, semestinya dia adalah seorang seniman yang mengerti menikmati ketenangan dengan menanam bunga sebagai kegembiraan..."

Ia teruskan langkah kakinya ke dalam, suasana tiba-tiba dipecahkan oleh langkah kaki manusia yang ramai disusul munculnya seorang dayang berbaju hijau dari balik lorong Coei Hoa Loo, sambil memandang Wie Chin Siang dengan pandangan tercengang, rupanya ia kesemsem oleh kecantikan wajah dara ini.

Sesaat kemudian dengan mata terbelalak besar dayang berbaju hijau itu menegur :

"Apakah kau adalah teman majikan kami?"

"Betul!" sambil tersenyum Wie Chin Siang mengangguk. "Majikan kalian tinggal di mana??"