Imam Tanpa Bayangan I Jilid 14

 
Jilid 14

"WAAAAAAH... tenaga lweekang yang dimiliki Pek In Hoei makin lama semakin hebat," pikirnya sambil menghembus segumpal asap huncwee. "Dahulu aku si Ouw-yang Gong masih punya pikiran hendak mengangkat orang sebagai anak muridku, sekarang kalau dipikirkan lagi betul-betul menggelikan sekali, bukan saja aku tak sanggup memberi pendidikan kepada orang lain malahan sebaliknya berulang kali aku harus dilindungi keselamatanku olehnya..."

Tiba-tiba terlihat tubuh Pek In Hoei meloncat mundur ke belakang, kemudian membentak :

"Hee Giong Lam, kau keras..."

Bluuuum...! di tengah sebuah ledakan dahsyat, tubuh Pek In Hoei serta Hee Giong Lam saling berpisah dan masing-masing lima enam langkah ke belakang, darah segar tampak mengucur keluar membasahi ujung bibirnya, napas tersengkal-sengkal hebat sedangkan air mukanya berubah jadi pucat pias bagaikan mayat...

Pek In Hoei sambil mencekal pedang mustika penghancur sang surya selangkah demi selangkah maju mendekat, sepasang matanya dengan sorot tajam bagaikan pisau menatap wajah Hee Giong Lam tanpa berkedip.

Dengan penuh penderitaan Hee Giong Lam berseru : "Pek In Hoei, kau betul-betul kejam..."

Pek In Hoei ayunkan pedang penghancur sang suryanya hingga membentuk selapis cahaya tajam yang menyilaukan mata, ujarnya ketus : "Partai Thiam cong mengalami bencana hingga musnah dari permukaan bumi, tiga ratus anak muridnya mati binasa dalam keadaan konyol, kalian boleh turun tangan sedemikian kejinya terhadap manusia-manusia lemah itu, apakah aku tak boleh kejam terhadap dirimu..."

Ia merandek sejenak lalu tertawa panjang.

"Haaaah... haaaah... haaaah... Hee Giong Lam kau dengan tindakan yang rendah serta memalukan menganiaya orang lain, sekalipun kubunuh dirimu juga tidak mengapa..."

Kembali ia tertawa panjang, mendadak cahaya pedang berkilauan membelah angkasa dan segera menghunjam ke atas dada si Rasul Racun.

"Pek In Hoei, tahan..."

Bentakan nyaring tapi merdu berkumandang memecahkan kesunyian, Pek In Hoei tersentak kaget, pedang yang telah meluncur ke depan segera ditarik kembali dan meloncat mundur ke belakang, setelah itu putar badan dan memandang ke arah mana berasalnya suara tadi.

Sesosok bayangan tubuh yang kecil ramping muncul dari balik pintu, begitu melihat siapakah gadis itu sekujur otot dalam tubuh Pek In Hoei menjadi kencang, hampir saja ia berseru memanggil...

Sedangkan Hee Giong Lam sendiripun tergetar saking kagetnya, ia segera berseru :

"Ooooh Siok Peng, anakku sayang..."

Dengan pandangan murung Kong Yo Siok Peng melirik sekejap ke arah si anak muda itu kemudian perlahan-lahan mendekat Hee Giong Lam, dengan sedih ia menghela napas panjang,sambil memandang wajah Rasul Racun itu sepatah kata pun tak sanggup diucapkan keluar. 

"Anakku, kenapa kau?" tegur Hee Giong Lam sambil menyeka darah yang meleleh keluar dari ujung bibirnya.

Kong Yo Siok Peng tertunduk sedih, sahutnya : "Aku bukan anakmu, dan kau pun bukan ayahku..."

"Kau bilang apa?" teriak Hee Giong Lam sangat terperanjat. "Siapa yang memberitahu kepadamu..."

Hatinya seakan-akan terpukul oleh martil yang sangat berat, hampir saja hancur berkeping-keping, suatu rahasia yang tidak ingin diketahui orang lain akhirnya terbongkar juga, membuat Hee Giong Lam dengan pandangan tersiksa menatap gadis itu tanpa berkedip.

"Kau tak usah membohongi diriku lagi..." bisik Kong Yo Siok Peng dengan sedih. "Ayahku adalah Kong Yo Leng..."

"Omong kosong! Jelas ada orang yang sengaja meretakkan hubungan kita berdua, jelas ada orang tidak suka melihat hubungan ayah dan anak di antara kita, Siok Peng kau adalah seorang anak yang baik, janganlah kau percayai omongan-omongan setan itu..."

Kong Yo Siok Peng merasa amat sedih sekali, ketika dilihatnya orang tua itu sedemikian gelisah dan cemasnya hingga sulit untuk menutupi perasaan tersebut, ia merasa semakin sedih...

Sambil gelengkan kepalanya berulang kali ujarnya :

"Peduli kau benar atau tidak sebagai ayah kandungku, aku tetap akan menghormati dirimu serta mencintai dirimu seperti sedia kala, karena itu pada hari ini aku tak akan membiarkan Pek In Hoei melukai dirimu..."

Titik-titik air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya yang halus, dengan pandangan murung dan sayu diliriknya sekejap wajah si anak muda itu.

Terlihatlah si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei ketika itu sedang memandang pula ke arahnya dengan pandangan bimbang...

Kong Yo Siok Peng tersentak kaget, perlahan-lahan ia maju ke depan menghampiri si anak muda itu.

"Pek In Hoei!" pintanya sambil menghela napas sedih. "Aku minta agar kau suka melepaskan ayah angkatku..."

"Apa? Kau sebut aku sebagai Gie hu..." bisik Hee Giong Lam melengak. Rupanya ia tak menyangka kalau secara tiba-tiba Kong Yo Siok Peng dapat mengubah sebutannya, rasa bergidik segera muncul dari dasar lubuk hatinya, ia tahu gadis manis yang selalu disayang dimanjanya ini telah bukan menjadi miliknya lagi...

Kong Yo Siok Peng berpaling dan ujarnya dengan suara gemetar

:

"Walaupun kau bukan ayah kandungku tapi sudah memelihara

serta mendidik aku selama belasan tahun lamanya, aku memanggil dirimu sebagai Gie hu pun rasanya pantas dan semestinya..."

"Ooooh..." dengan hati hancur luluh Hee Giong Lam berseru tertahan, ditatapnya wajah Kong Yo Siok Peng dengan pandangan aneh, sepatah kata pun tak sanggup diucapkan keluar...

Perlahan-lahan Kong Yo Siok Peng tarik kembali pandangannya lalu dialihkan ke atas tubuh Pek In Hoei, ujarnya perlahan :

"In Hoei, kau tentu mengabulkan permintaanku bukan..." "Hmmm..." Pek In Hoei mendengus dingin. "Kenapa aku harus

mengabulkan permintaanmu..."

"Aaaaah..." dengan hati terperanjat Kong Yo Siok Peng mundur dua langkah ke belakang suaranya gemetar :

"In Hoei, kau... kau..."

"Hatiku sedang dibakar oleh api dendam yang membara serta rasa gusar yang memuncak, peristiwa tragis yang menimpa partai Thiam cong seolah-olah baru saja berlangsung, aku hendak mencari bajingan-bajingan terkutuk itu untuk membalas dendam, peduli siapa pun yang mintakan ampun bagi musuh besarku ini, tak nanti kukabulkan..."

Begitu ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, ia segera berkata dengan nada :

"Siok Peng, persoalan ini adalah persoalan pribadi antara aku dengan dirinya, harap kau menyingkir ke samping, di kemudian hari kau akan mengerti apa sebabnya aku tak dapat melepaskan dirinya dengan begitu saja..." "Haaaah... haaaah... haaaah... " Ouw-yang Gong ikut tertawa terbahak-bahak. "Hey budak cilik, rupanya kau bisa mintakan ampun bagi si makhluk beracun tua itu..."

"Ular Asap Tua, tenteram betul hatimu, kau..." bentak Hee Giong Lam keras-keras.

"Inilah pembalasan bagi perbuatanmu yang terkutuk, siapa pun tak dapat menyelamatkan jiwamu..."

Dalam pada itu si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei telah mendesak pedang penghancur sang suryanya ke depan, ujung pedang dengan memancarkan cahaya tajam yang berkilauan segera meluncur ke depan...

"Hee Giong Lam, sekarang kau boleh mulai turun tangan!" serunya dingin.

Pada saat ini Hee Giong Lam benar-benar mengenaskan sekali keadaannya, dari sedih ia jadi marah dan timbullah napsu membunuh yang berkobar-kobar dalam hatinya, sekalipun begitu tapi ia sendiri dibikin bergidik oleh pancaran mata lawan yang bengis dan menggidikkan hati, memaksa ia tak berani sembarangan bertindak.

"Heeeeh.... heeeeh... heeeeh... Pek In Hoei," serunya sambil tertawa seram, "kau terlalu memaksa orang lain... Kalau aku tidak berada dalam keadaan terluka parah, loohu tak nanti bakal jeri terhadap dirimu..."

Pek In Hoei mendengus dingin,ia maju selangkah ke depan, cahaya pedang yang dingin menggidikkan hati laksana kilat berkelebat ke depan, mengiringi desiran tajam segera meluncur keluar.

Bentaknya dengan wajah penuh napsu membunuh :

"Hukuman mati bisa kau hindari, tapi hukuman hidup tak akan terlepas dari pundakmu..."

Ketika itulah Kong Yo Siok Peng membentak nyaring, tiba-tiba badannya meloncat ke depan, setelah berganti tiga gerakan di tengah udara telapaknya segera dibabat ke arah bawah. Angin pukulan menderu-deru, di tengah gulungan taupan yang maha dahsyat sebuah pukulan dahsyat telah dilancarkan mengarah ke atas tubuh Pek In Hoei.

Si anak muda itu tidak menyangka kalau Kong Yo Siok Peng secara mendadak telah melancarkan satu babatan maut ke arahnya, ia melengak sejenak kemudian buru-buru meloncat mundur ke belakang sejauh lima depa lebih.

"Siok Peng, kau... kau sudah gila!" tegurnya dengan rasa tercengang bercampur kaget.

Seluruh wajah Kong Yo Siok Peng telah basah oleh air mata, ia kelihatan sangat menderita sekali, bibirnya bergetar keras namun tak sepatah katapun yang meluncur keluar, keadaannya mengenaskan membuat orang yang melihatnya jadi sedih dan ikut menjadi kasihan...

Lama... lama sekali, ia baru tertawa sedih dan berkata :

"In Hoei, kau jangan memaksa diriku, sekalipun sampai di mana besar dan beratnya dosa yang telah dilakukan Gie-huku kau tak akan mengijinkan kau untuk membinasakan dirinya di hadapanku..."

"Siok Peng..."

Si Rasul Racun Hee Giong Lam meraung gusar, dengan perasaan kaget Kong Yo Siok Peng berpaling memandang sekejap ke arah ayah angkatnya, tampaklah ketua dari perguruan seratus racun ini dengan dilapisi hawa berwarna hijau menatap ke arah pemuda itu dengan penuh kebencian.

"Gie hu, kenapa kau?" teriak Kong Yo Siok Peng dengan hati terkesiap.

Dengan sikap yang dingin dan penuh kebencian Hee Giong Lam berseru :

"Aku hendak mengeluarkan racun sakti tanpa bayanganku untuk beradu jiwa dengan dirinya..." Sekujur badan Kong Yo Siok Peng gemetar keras, sekilas rasa ngeri dan takut terlintas di atas wajahnya, ia mohon dengan suara gemetar :

"Gie hu kau tak boleh menggunakan ilmu tersebut..."

Si huncwee gede Ouw-yang Gong pun berubah hebat selembar wajahnya,senjata huncweenya diayunkan ke tengah udara menciptakan berpuluh-puluh lembar bayangan tajam, kemudian sambil membentak keras buru-buru tubuhnya maju tiga langkah ke depan.

"Hee Giong Lam!" teriaknya. "Asal kau berani menggunakan racun keji tanpa bayangan yang sangat mengerikan itu, mulai detik ini juga aku si huncwee gede bersumpah akan membasmi seluruh anak buah perguruan seratus racunmu, akan kubinasakan semua anak cucu murid racunmu, agar perguruan seratus racun kalian mulai detik ini lenyap dari permukaan Bu Lim..."

Hee Giong Lam tidak gubris ancaman orang, ia melirik sekejap ke arah kakek konyol itu kemudian mendengus dingin, telapak tangannya tiba-tiba direntangkan ke samping lalu diangkat ke atas.

"Pek In Hoei!" serunya sambil tertawa dingin. "Asal sepasang telapakku ini kuayunkan ke tengah udara, maka kau akan mati keracunan..."

Pek In Hoei mendengus dingin lalu menjengek hina, perlahan- lahan pedang mustika penghancur sang suryanya dimasukkan kembali ke dalam sarung, sedangkan hawa sin kang perguruannya dihimpun dan disalurkan ke seluruh tubuh, dalam waktu singkat baju yang dikenakan olehnya segera menggelembung besar.

Ia tarik napas panjang-panjang dan berpikir dalam hatinya : "Aku harus menggunakan ilmu sakti Thay Yang Sam Sie untuk

melenyapkan Hee Giong Lam dari muka bumi, dengan begitu aku baru bisa mencegah bajingan tua ini mengeluarkan racun sakti tanpa bayangannya..." berpikir sampai di situ, ia lantas mengancam. "Kalau kau benar-benar berani mengeluarkan ilmu racun sakti tanpa bayanganmu, maka detik ini juga akan kubunuh dirimu..."

"Heeemm... hmmmm... " Hee Giong Lam mendengus sinis, lalu tertawa tergelak, "Haaaah... haaaah... haaaah... Pek In Hoei, kau telah salah perhitungan..."

"Gie hu..." dengan nada terperanjat Kong Yo Siok Peng berteriak keras, dengan cepat tubuhnya menubruk ke arah Hee Giong Lam kemudian mencekal sepasang lengannya erat-erat.

"Gie hu..." pintanya setengah merengek. "Kau tak boleh bertindak tanpa memikirkan keselamatanmu sendiri..."

Seolah-olah tergetar oleh suatu pukulan yang berat, di atas raut wajah Hee Giong Lam yang tua terlintas rasa sedih yang mendalam, dengan sedih ia gelengkan kepalanya lalu membelai rambut Kong Yo Siok Peng dengan penuh kasih sayang, ujarnya berat :

"Anakku, aku berani bersumpah bahwa kau adalah anak kandungku, dalam kolong langit dewasa ini hanya kaulah yang hidup semati dengan diriku, dan kini entah kau telah mendapat hasutan dari siapa yang menginginkan perpecahan di antara hubungan kita berdua... Aaaaai..."

Ia menghela napas sedih... tiba-tiba dengan keraskan hati ia dorong tubuh Kong Yo Siok Peng ke belakang sepasang telapak tangannya diayunkan ke tengah udara dan selapis hawa kabut berwarna hijau tersebar di seluruh angkasa...

Ouw-yang Gong yang menyaksikan peristiwa itu jadi amat terperanjat, buru-buru teriaknya :

"Hati-hati... hati... racun tanpa bayangan..."

Sedari tadi Pek In Hoei telah salurkan hawa murninya mengelilingi seluruh badannya, tatkala ia saksikan di kala Hee Giong Lam mengayunkan sepasang telapaknya di tengah udara tadi segera tersebar keluar selapis kabut berwarna hijau, diam-diam ia berseru tertahan.

"Aduuuuh celaka!" Mendadak ia geserkan badannya ke samping, telapak kanan bagaikan kilat didorong ke arah depan, segulung cahaya tajam berwarna merah membara dengan cepat meluncur keluar langsung menghantam tubuh Hee Giong Lam.

"In Hoei, jangan bunuh ayah angkatku..."

Kong Yo Siok Peng menjerit lengking, dengan wajah sedih bercampur isak tangis yang memilukan ia maju ke depan, suaranya sedih dan mengenaskan membuat siapa pun yang mendengar ikut beriba hati...

Pek In Hoei terkesiap, tenaga pukulan yang dilepaskan segera mengendor, diam-diam ia menghela napas panjang, sementara pelbagai ingatan berkelebat dalam benaknya.

"Aku tak boleh membinasakan Hee Giong Lam, sehingga menyebabkan Kong Yo Siok Peng selama hidupnya membenci aku..." "Aaaaah..." jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang

di angkasa, tubuh Hee Giong Lam yang tinggi besar mendadak mencelat ke belakang dan roboh terjengkang di atas tanah, darah kental mengucur keluar tiada hentinya dari ujung bibirnya.

"Gie hu..." teriak Kong Yo Siok Peng dengan hati terkesiap, ia tubruk tubuh Rasul Racun itu dan menangis tersedu-sedu.

"Ia tak bakal mati!" bisik Pek In Hoei dengan muka murung. "Berada di hadapanmu aku tidak tega turun tangan keji..."

"Aku tak mau mendengarkan perkataanmu lagi, kau jahat... kau jahat sekali..." teriak Kong Yo Siok Peng dengan benci.

Si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei menghela napas panjang,bersama-sama dengan Ouw-yang Gong ia segera berlalu dari ruangan itu.

******

Gunung Thiam cong di bawah sorot cahaya sang surya,nampak lebih keren dan mengerikan, secara tiba-tiba Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei merasa hatinya lagi tegang. Dengan pandangan bimbang ditatapnya rentetan pegunungan yang menjulang tinggi ke angkasa, tiba-tiba timbul rasa sedih dalam hatinya, ia teringat kembali perguruan Thiam cong yang musnah di tangan orang, entah bagaimana keadaan puing-puing peninggalan partai tersebut...

Ia menghela napas panjang dan bergumam seorang diri : "Akhirnya aku kembali lagi kesini!"

Si huncwee gede Ouw-yang Gong ketika menjumpai si anak muda itu dalam waktu singkat telah berubah jadi demikian sedihnya, tanpa terasa ia ikut jadi murung setelah menghisap huncweenya beberapa kali ia berseru :

"Hey bocah cilik, ayoh kita naik ke atas!"

Kedua orang itu segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya meluncur ke atas bukit, tidak selang beberapa saat mereka sudah mulai mendaki gunung itu.

Makin mendaki mereka semakin tinggi berada di gunung itu, puncak hampir terjamah dan terasalah angin gunung berhembus sepoi-sepoi menggoyangkan pohon siong yang lebat...

Taaaang... suara genta yang nyaring berkumandang nun jauh dari atas puncak, di mana dahulu merupakan kuil Sang Ching Koan, pusat kekuasaan partai Thiam cong.

Pek In Hoei mendadak berhenti dan berbisik : "Di dalam ada orang."

Sambil mengelus jenggotnya Ouw-yang Gong pun lantas berpikir

:

"Orang kangouw semua berkata bahwa sejak partai Thiam cong

dibasmi dari muka bumi tak seorang anak muridnya masih hidup, dan kini suasana di atas gunung masih tetap seperti sedia kala, tapi lonceng berbunyi nyaring... apakah benar anak murid partai Thiam cong masih ada yang hidup..."

Belum habis ia berpikir mendadak tampaklah sesosok bayangan manusia berkelebat lewat di dalam kuil Sang Ching Koan, gerakan tubuh orang itu enteng dan cepat, seandainya bukan manusia lihay sebangsa Ouw-yang Gong jelas sulit untuk menemukannya.

Dengan wajah tercengang dan penuh tanda tanya Pek In Hoei meluncur ke depan, serunya :

"Ayoh kita masuk ke dalam!"

Tubuh mereka berdua berjumpalitan beberapa kali di tengah udara kemudian melangkah masuk ke dalam ruang tengah kuil Sang Ching Koan, nampaklah ruangan itu bersih sekali dari debu, seolah- olah sering kali ada orang yang berlalu lalang di sana.

Pek In Hoei serta Ouw-yang Gong menyapu sekejap sekeliling tempat itu, ketika tak ditemuinya sesuatu jejak apa pun dalam hati mereka mulai sangsi dan tak habis mengerti.

"Aneh...! Sungguh aneh sekali..." gumam Ouw-yang Gong sambil garuk-garuk kepalanya. "Barusan dengan amat jelas sekali kujumpai seseorang bayangan manusia berkelebat lewat, kenapa sekarang lenyap tak berbekas?..."

Pek In Hoei sendiri pun tak habis mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi, ia menyapu sekejap sekeliling tempat itu. Tiba-tiba satu senyuman tersungging di ujung bibirnya, sambil membawa Ouw- yang Gong mereka berjalan menuju ke pelataran.

Di sisi pelataran terdapat sebuah tiang batu setinggi enam depa, di atas tiang batu tadi terukirlah sebuah gambar Pat Kwa yang amat besar, Pek In Hoei yang mengetahui kegunaan dari Pat Kwa besar itu segera berjalan mendekati gambar tadi kemudian ditekannya keras- keras ke arah bagian Soen serta Kian di atas lukisan tadi.

Kraaak...! diiringi suara yang nyaring, batu besar tadi secara tiba- tiba bergeser ke arah belakang dan muncullah sebuah lubang gua yang besar.

Menyaksikan hal itu Ouw-yang Gong segera menjulurkan lidahnya sambil berseru dengan nada tercengang :

"Neneknya... tak nyana kalian partai Thiam cong masih mempunyai suatu tempat yang rahasia sekali letaknya..." "Hati-hati... di dalam ada orang!" bisik Pek In Hoei memberi peringatan, sinar matanya berkilat tajam.

Ouw-yang Gong adalah seorang manusia berwatak berangasan, mendengar di dalam gua tersembunyi jago Bu lim yang lihay, hawa amarah dalam dadanya kontan berkobar, sembari putar huncwee gedenya ke tengah udara ia maju dua langkah ke depan.

"Anak kura-kura dari mana yang bersembunyi di dalam, ayoh cepat menggelinding keluar..." teriaknya.

"Lihat serangan..."

Dari balik gua yang hitam dan gelap pekat muncul suara bentakan nyaring disusul tiga titik cahaya bintang yang berkilauan laksana kilat meluncur keluar dalam posisi segi tiga.

Ouw-yang Gong segera ayunkan huncweenya untuk ke depan menangkis, makinya :

"Maknya... rupanya kau berani makan tahu buatan loocu..."

Tiiiing...! Tiiiing...! Tiiiing...! ketiga buah titik cahaya bintang yang berkilauan itu segera tersapu rontok oleh jangkauan huncwee gede dan menggeletak di atas tanah.

Setelah senjata rahasia dilepaskan dari dalam gua, kembali berkumandang keluar suara bentakan keras laksana guntur membelah bumi, terlihatlah tiga orang toosu muda sambil mencekal pedang tajam menyerbu keluar dari tempat persembunyiannya bagaikan kalap.

"Haaaah... haaaah... haaaah... rupanya kalian anakan kura-kura yang bikin keonaran di sini," jengek Ouw-yang Gong sambil tertawa tergelak.

Dengan cepat senjata huncwee gedenya diputar kencang, memakai satu gerakan jurus yang aneh tahu-tahu ia sudah totok jalan darah di atas pergelangan ke-tiga orang toosu muda itu sehingga detik itu juga tiga bilah pedang sama-sama terlepas dari cekalannya.

Betapa terkesiapnya hati ke-tiga orang toosu mudah itu setelah menyaksikan kelihayan orang, air muka mereka berubah hebat sementara matanya memandang ke arah si orang tua berhuncwee besar itu dengan sinar mendelong, sikap mereka seolah-olah masih sangsi kalau seorang kakek tua bangka ternyata memiliki kepandaian silat yang demikian lihaynya.

"Siapakh kalian?" hardik Pek In Hoei dengan suara dingin, "mengapa kamu sekalian bersembunyi di sini..."

Air muka ke-tiga orang toosu muda ini berubah semakin hebat, sambil menunjukkan ketakutan yang tak terhingga mereka pejamkan matanya rapat-rapat, terhadap teguran serta pertanyaan dari Pek In Hoei, bukan saja tidak menggubris bahkan seakan-akan mereka sudah tidak memikirkan tentang mati hidupnya lagi.

Pek In Hoei ulangi lagi pertanyaan itu sampai beberapa kali, tapi ke-tiga orang toosu muda itu tetap tidak ambil peduli dan berlagak pilon, lama kelamaan Ouw-yang Gong tidak kuat menahan diri, ia jadi gusar dan segera memerseni sebuah tempelengan keras ke atas pipi masing-masing toosu muda itu.

"Plooook!... Plooook!... Plooook!"

Suara gaplokan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, setelah ditampar keras ke-tiga orang toosu muda itu mendadak membuka matanya dan melotot ke arah Ouw-yang Gong dengan sinar mata penuh kebencian.

Terdengar orang-orang itu berkata hampir berbareng :

Kami anak murid partai Thiam cong bukanlah manusia yang takut diancam atau disiksa, sekaligus kau bajingan tua hendak membinasakan diri kami pun, tak nanti kami buka suara barang setengah kejap pun untuk menjawab pertanyaanmu..."

"Apa? Kalian adalah anak murid partai Thiam cong?" seru Pek In Hoei dengan hati terperanjat, "Aku pun anak murid partai Thiam cong..."

Dengan pandangan sangsi ke-tiga orang toosu itu menatap wajah Pek In Hoei tajam-tajam, jelas mereka tidak percaya kalau si Jago Pedang Berdarah Dingin adalah anak murid partai Thiam cong, serta merta ke-tiga orang itu meludah ke lantai dengan pandangan menghina.

Sikap mereka yang pasrah dan sama sekali tidak takut menghadapi kematian ini justru malah mencengangkan hati Pek In Hoei serta Ouw-yang Gong, untuk beberapa saat lamanya mereka berdiri termangu-mangu.

Terdengar salah satu di antara ke-tiga orang toosu itu berkata dengan suara dingin :

"Kau tak usah membohongi kami dengan pengakuan tersebut, partai Thiam cong kecuali tinggal kami bertiga yang masih hidup, belum pernah kami dengar ada anak murid lain yang berhasil meloloskan diri dari pembunuhan sadis malam itu..."

Pek In Hoei tahu bahwa mereka tak akan percaya kalau dirinya adalah anak murid partai Thiam cong, maka sepasang tangannya segera bergerak meloloskan pedang mustika penghancur sang surya yang tersoren di atas punggungnya, kemudian diayunkan di hadapan mereka bertiga.

Babatan kilat ini mengejutkan ke-tiga orang toosu muda itu, saking kaget dan takutnya wajah mereka jadi pucat pias bagaikan mayat, sepatah kata pun tak sanggup diucapkan keluar.

Sembari merentangkan pedang tadi ke depan, kembali pemuda she Pek itu berkata :

"Pedang ini adalah pedang mustika dari partai Thiam cong kita, sekarang kalian tentu sudah percaya bukan kalau aku adalah anak murid partai Thiam cong..."

Menyaksikan pedang mustika penghancur sang surya secara tiba- tiba muncul di hadapan mereka, ke-tiga orang toosu muda itu dengan wajah terperanjat buru-buru jatuhkan diri berlutut di atas tanah, kemudian melakukan penghormatan besar sebanyak tiga kali terhadap senjata tersebut.

Toosu muda yang berbicara tadi segera berkata kembali : "Tecu Im Hong, Ching Hong serta Wong Ching tidak tahu kalau..."

Si anak muda itu segera memperkenalkan diri.

"Susiok..." dengan wajah tercengang ke-tiga orang toosu muda itu segera berseru, senyuman lega yang enteng dan riang tersungging di atas wajah beberapa orang itu, buru-buru mereka membawa Pek In Hoei serta Ouw-yang Gong menuju ke ruang tengah.

Ching Hong segera mempersiapkan beberapa macam masakan serta seguci arak, mereka berlima pun duduk di atas lantai dan mulai bersantap.

Pek In Hoei tiada niat untuk minum-minum arak, sambil meneguk setegukan ujarnya :

"Maksud tujuanku kembali ke atas gunung Thiam cong kali ini adalah hendak mengumpulkan anak murid partai kita yang berkeliaran dalam dunia persilatan tanpa pimpinan untuk membangun kembali partai baru, agar dendam sakit hati terbunuhnya anak murid kita dapat dituntut balas..."

"Aaaaai...! Sejak partai kita dibasmi dari muka bumi," kata Im Hong dengan nada murung, "Banyak sekali anak murid kita yang berkeliaran di luaran pada menyembunyikan diri, banyak pula yang menyembunyikan nama serta mengasingkan diri, tak seorang pun yang pernah membicarakan soal partai Thiam cong lagi..."

"Maknya... benar-benar tidak becus dan tak punya semangat," maki Ouw-yang Gong sambil meneguk arak berulang kali, "Sungguh tak nyana partai Thiam cong terdapat pula anak murid semacam itu..." Belum habis ia berkata mendadak air mukanya berubah hebat, dengan gusar ia meraung keras kemudian sambil putar senjata huncwee gedenya ia sapu tubuh Ching Hong, Im Hong serta Wong

Ching.

Siapa tahu baru saja tubuhnya bergerak sampai di tengah jalan, mendadak rontok kembali ke bawah, sedang keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya membasahi seluruh tubuh. "Bocah cilik, kita tertipu!" teriaknya dengan suara gemetar.

Sebenarnya Pek In Hoei tidak mengerti apa yang telah terjadi, ia ada maksud menghalangi tindakan Ouw-yang Gong yang berangasan itu, tapi pada saat itulah ia merasakan ke-empat anggota badannya sama sekali tak bertenaga, kepalanya jadi pusing dan matanya berkunang-kunang.

Sementara itu ke-tiga orang toosu muda tadi segera menyebarkan diri dan masing-masing mundur lima enam langkah ke belakang, sambil memandang ke arah Ouw-yang Gong serta Pek In Hoei ke-tiga orang itu tertawa terbahak-bahak.

Pek In Hoei terkesiap, satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benaknya :

"Aduuh.. bodoh amat diriku ini, kenapa aku tidak ingat kalau tingkatan murid dalam partai Thiam cong terbagi jadi angkatan Hian, Song serta Ching?? Ke-tiga orang toojien ini sama sekali bukan anak murid partai Thiam cong, berhubung aku gelisah dan tidak cermat sekarang mengakibatkan aku terjatuh ke tangan mereka..."

Buru-buru ia salurkan hawa murninya untuk melawan daya kerja racun keji yang bersarang dalam tubuhnya, sedang sepasang matanya dengan memancarkan cahaya tajam melotot ke arah ke-tiga orang toosu yang sedang bangga itu dengan pandangan menggidikkan, begitu tajam dan mengerikan sinar matanya membuat ke-tiga orang itu seketika jadi tersurut mundur dengan hati ketakutan.

Ouw-yang Gong sendiri walaupun tubuhnya lemas tak bertenaga, namun mulutnya sama sekali tak mau membungkam, setelah menggerutu beberapa saat lamanya mendadak ia berteriak keras :

"Anak jadah cucu monyet, kalian adalah peliharaan anjing betina... bangsat kamu semua..."

Wong Ching maju ke depang menghampiri si kakek konyol itu kemudian digaploknya wajah Ouw-yang Gong keras-keras sambil bentaknya : "Tadi kau paling dan jumawa sekarang aku jauh lebih gagah daripada dirimu..."

Ploook...! Ouw-yang Gong seketika merasakan pipinya jadi panas dan linu, dengan gusar ia meraung keras :

"Anak jadah peliharaan anjing betina, aku bersumpah akan menjagal dirimu..."

Dengan sekuat tenaga ia coba menghimpun segenap sisa tenaga yang dimilikinya ke dalam telapak kanan, setelah itu ditubruknya tubuh Wong Ching sebisa-bisanya, tapi serangan itu sama sekali tak bertenaga dan segera terkulai kembali ke atas tanah.

Im Hong tertawa seram.

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... ayoh kita segera kabarkan kepada sucouw kalau kita berhasil menangkap dua orang lagi..."

Ching Hong mengiakan, dari sakunya dia segera ambil keluar sebuah tabung bambu.

Serentetan cahaya terang berwarna merah meluncur keluar dari dalam tabung bambu tadi dan meledak di tengah angkasa, tampaklah cahaya terang memenuhi seluruh angkasa... lama sekali baru sirap dan lenyap.

Taaang! Taaang...! Taaang...!

Suara genta yang nyaring berkumandang memecahkan kesunyian yang mencekam seluruh jagad, begitu keras suara genta tadi sampai mengalun jauh ke dalam lembah sempit.

"Hmmm... Hmmm..."

Dalam kuil Sang Ching Koan berkumandang suara dengusan berat, ke-tiga orang toosu muda itu segera menghadap keluar dengan sikap yang sangat menghormat.

"Sudut langit Selatan perguruan Boo Liang Tiong!"

Seruan nyaring bergema memenuhi seluruh ruangan, sekilas rasa girang setelah terlintas di atas wajah ke-tiga orang toosu muda itu buru-buru mereka menyahut :

"Anak murid Boe Liang membasi partai Thiam cong!" Di tengah seruan-seruan nyaring yang gegap gempita memenuhi seluruh ruangan itulah tampak dari luar ruangan muncul enam orang lelaki kekar yang bertubuh tegap berjalan masuk mengiringi seorang siucay berjubah biru.

Si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei merasa hatinya bergetar keras, ia merasa sangat kenal sekali dengan wajah siucay berusia pertengahan itu, mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, tanpa terasa ia lantas berpikir :

"Aaaaah! Dia adalah Hian Pak dan sekarang menjadi Go Kiam Lam sang ketua dari perguruan Boo Liang Tiong..."

Begitu berjumpa muka dengan musuh besar pembasmi partai Thiam cong yang paling dibencinya selama ini, Go Kiam Lam ketua perguruan Boo Liang Tiong, darah panas dalam rongga dadanya seketika itu juga bergolak keras, suatu perasaan gusar yang tak terkirakan berkobar dalam hatinya membuat ia pengin sekali menubruk ke depan dan menghancurlumatkan tubuh orang itu.

Sepasang matanya berkilat tajam, dengan dingin dan menyeramkan ia tatap wajah Go Kiam Lam tanpa berkedip.

Go Kiam Lam sendiri dengan wajah terkejut bercampur tercengang memandang pula ke arah ke-dua orang itu, dari atas wajah Ouw-yang Gong ia segera pusatkan semua perhatiannya di atas wajah Pek In Hoei si Jago Pedang Berdarah Dingin.

"Kau adalah..."

"Hmmm! Si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei bukan lain adalah diri cayhe, kalau daya ingatanmu tidak jelek semestinya bisa mengingat kembali siapakah aku..."

Go Kiam Lam segera tertawa seram.

"Haaaah... haaaah... haaaah... aku telah menduga bahwa suatu saat kau pasti akan kembali kemari, maka kuperintahkan anak murid perguruan Boo Liang Tiong untuk berjaga di sini siang malam, sungguh tak nyana begitu cepatnya kau masuk jebakan..." Seolah-olah merasa sangat bangga dengan hasil yang diperolehnya saat ini, satu senyuman licik tersungging di atas wajahnya, ia berkata kembali dengan nada dingin :

"Sejak kau terjunkan diri ke dalam dunia persilatan,anak murid perguruan Boo Liang Tiong kami setiap saat selalu memperhatikan gerak-gerikmu, nama besar si Jago Pedang Berdarah Dingin yang kau peroleh dianggap sebagai bibit bencana yang terbesar bagi perguruan kami, karena itu kami telah bersumpah untuk mendapatkan dirimu. Hmmm!..."

Setelah tertawa dingin berulang kali, mendadak ujarnya lagi dengan suara ketus :

"Kau telah menelan obat 'Lio Hong Lok' buatan perguruan kami, meskipun racun ini tidak akan sampai melukai orang tapi seluruh tubuhmu menjadi lemas tak bertenaga, kekuatan hawa murni pun tak akan bisa kau himpun kembali. Sebelum lima jam keadaanmu tetap akan seperti sekarang ini..."

"Hmmm... Hmmm...rupanya kau merasa sangat bangga dengan hasil yang berhasil kau peroleh..." jengek Pek In Hoei sambil tertawa dingin.

Diam-diam ia telah memaksa racun 'Liok Hong Lok' berkumpul di satu sudut badan dan untuk sementara waktu cairan racun itu tak akan berkembang lebih lanjut, kendati begitu lama kelamaan ia harus kerahkan hawa murninya juga untuk melawan.

Dengan cepat otaknya berputar kencang, pikirnya di dalam hati : "Menggunakan kesempatan sebelum racun Liok Hong Lok itu mulai bekerja, kemungkinan besar aku masih dapat melarikan diri dari

gunung Thiam cong ini, tapi bagaimana dengan Ouw-yang Gong..."

Teringat akan si huncwee gede itu tanpa teras ia berpaling dan memandang sekejap ke arah kakek konyol itu, tampaklah pada saat itu Ouw-yang Gong sedang memandang ke arah Go Kiam Lam dengan penuh kegusaran. "Anjing buduk anak jadah!" terdengar ia memaki kalang kabut, "kalian anakan kura-kura hanya bisa mempecundangi orang dengan cara yang rendah dan memalukan, sekalipun aku si huncwee gede terjatuh ke tangan kalian,tapi aku tidak puas..."

"Hmmm! Kau si ular asap tua lebih baik sedikitlah tenang dan jangan ribut melulu," seru Go Kiam Lam memperingatkan. "Kalau kau tidak tahu diri... Hmmm! siksaan yang bakal kau rasakan nanti bukanlah siksaan biasa yang dapat kau tahan..."

Ia sapu sekejap seluruh ruangan dan perintahnya : "Gusur mereka pergi dari sini!"

"Sucouw, kedua orang ini akan dikurung di mana?" tanya Wong Ching sambil maju beberapa langkah ke depan.

Go Kiam Lam sebagai seorang ketua dari perguruan Boo Liang Tiong, mempunyai cara berpikir yang lebih mendalam daripada siapa pun jua, dia tahu baik Pek In Hoei si Jago Pedang Berdarah Dingin maupun Ouw-yang Gong adalah jago-jago lihay kelas satu dalam dunia persilatan, bila mana penjagaan tidak dilakukan dengan ketat, niscaya mereka akan berhasil melepaskan diri dari kurungan.

Ia berpikir sebentar lalu berkata :

"Tempat manakah yang paling sesuai di sini?"

Wong Ching segera menuding ke arah sebuah sumur kering di luar ruang tengah dan segera sahutnya :

"Tecu berani menjamin tak akan ada orang yang bisa menyelamatkan mereka dari sini, karena sumur kering itu..."

"Baik!" tukas Go Kiam Lam sambil kibaskan tangannya. "Aku hendak menggunakan batok kepala ke-dua orang itu untuk bersembahyang bagi arwah-arwah anak murid perguruan Boo Liang Tiong kami yang telah mati, sampaikan perintah agar malam ini juga semua anak murid Boo Liang Tiong berkumpul di sini..."

Wong Ching, Im Hong serta Ching Hong segera memberi hormat dan mengiakan sambil menggusur Pek In Hoei serta Ouw-yang Gong mereka mengundurkan diri dari ruangan itu. "Hmmm! pada saat itulah dengusan dingin berkumandang memecahkan kesunyian, dengan kecepatan laksana sambaran kilat tahu-tahu Pek In Hoei telah menggerakkan tubuhnya melancarkan serangan dahsyat ke arah ke-tiga orang itu.

Blaaaam...! Aduuuuh...

Angin puyuh menyapu lewat, di tengah jeritan ngeri yang menyayatkan hati ke-tiga orang toosu muda itu mencelat ke angkasa dan menumbuk patung arca di tengah ruangan besar, darah segar muncrat berhamburan di atas lantai.

Bruuuk! Bruuuk! Bruuuuuk! tiga kali bentrokan keras, dengan kepala hancur remuk ke-tiga orang toosu muda itu mati binasa di atas tanah, otaknya berceceran di mana-mana dengan genangan darah yang kental dan berbau amis.

Air muka Go Kiam Lam berubah hebat, bentaknya penuh kegusaran :

"Pek In Hoei, kau cari mati!"

Badannya bergerak maju ke depan kemudian laksana kilat melancarkan satu babatan maut, segulung hawa pukulan yang maha dahsyat dengan cepatnya menggulung ke depan menghajar tubuh Pek In Hoei yang sedang berada di tengah udara.

Buru-buru Pek In Hoei mengigos ke samping serunya gelisah : "Ular asap tua, apakah kau masih mampu?"

"Haaaah... haaaah... haaaah... terlalu banyak arak yang telah kuminum, kau pergilah lebih dulu..."

Pek In Hoei segera mencabut keluar pedang mustika penghancur sang suryanya, kemudian dengan menciptakan serentetan cahaya pedang yang dingin dan tajam ia membentak keras, senjatanya langsung diayunkan membabat tubuh para jago yang sedang mengejar datang.

Menyaksikan betapa dahsyatnya serangan itu, para jago lihay itu jadi ketakutan, buru-buru mereka mengundurkan diri ke belakang. Go Kiam Lam segera menggerakkan pedangnya melancarkan serangan berantai, bentaknya :

"Jangan lepaskan barang seorang pun di antara mereka, keparat cilik itu tak akan bisa bertahan terlalu lama."

Sebagai ketua dari perguruan Boo Liang Tiong, kekuatan lweekang yang dimiliki Go Kiam Lam sudah tentu luar biasa sekali, di tangan bergetarnya sang pedang segera meluncurlah cahaya kilat yang menggidikkan hati, dengan mengeluarkan jurus 'Hwie Gong Cap Sam Cian' atau tiga belas babatan memenggal udara kosong ia ciptakan tiga belas jalur cahaya pedang yang segera mengurung tubuh lawan.

Air muka Pek In Hoei berubah hebat, satu ingatan dengan cepat berkelebat di dalam benaknya :

"Sungguh tak nyana tenaga lweekang yang dimiliki Go Kiam Lam sedemikian sempurna dan lihaynya, kepandaian ilmu pedang pun sangat mengerikan hati..."

Seluruh kekuatan tubuhnya segera dihimpun ke ujung pedangnya, cahaya kilat menyambar sambil menciptakan selapis hawa kabut berwarna hijau ia balas melancarkan satu babatan.

Criiing...! Sepasang pedang saling beradu satu sama lainnya menimbulkan suara dentingan nyaring, Go Kiam Lam segera merasakan tangannya jadi enteng dan tahu-tahu pedang di dalam genggamannya telah patah jadi dua bagian.

"Aaaaah...!" dengan perasan tercengang bercampur kaget ia menyusut mundur beberapa langkah ke belakang dan serunya dengan hati terkesiap. "Pedang mustika penghancur sang surya... pedang mustika penghancur sang surya..."

Menggunakan kesempatan di kala Go Kiam Lam sedang berdiri tertegun itulah,dengan cepat si Jago Pedang Berdarah Dingin melayang mundur ke belakang, berada di tengah udara ia berputar membentuk satu lingkaran kemudian sambil menyambar tubuh Ouw- yang Gong segera menerjang keluar dari ruangan tersebut. Enam orang lelaki kekar yang muncul bersama-sama dengan Go Kiam Lam tadi segera membentak berbareng masing-masing sambil merentangkan pedangnya berdiri menghadang di depan pintu.

Sepasang mata Pek In Hoei berkilat, bentaknya :

"Siapa berani tidak menyingkir, jangan salahkan kalau aku bertindak telengas."

Cahaya pedang bergetar kencang, secara beruntun tiga orang jago lihay itu kembali terluka di ujung pedangnya.

Menyaksikan betapa lihay dan ampuhnya ilmu pedang yang dimiliki pihak lawan, para jago itu jadi terkesiap, mereka bersama- sama meloncat mundur ke belakang dan bertahan di satu sudut.

"Hmmm!" Go Kiam Lam mendengus dingin. "Pek In Hoei, kau tak bakal bisa lolos dari sini!"

"Heeeh... heeeh... heeeh... belum tentu..."

Segulung angin pukulan yang berat dan mantap mendadak menggulung datang dari belakang punggungnya, ia membentak keras pedangnya segera diputar mengirim babatan ke belakang, menggunakan kesempatan itu badannya segera menerjang kembali ke depan.

"Hiaaat...!" seorang lelaki kekar melancarkan sebuah tusukan dari samping kalangan.

Pek In Hoei segera menangkis datangnya ancaman itu, kakinya melayang mengirim satu tendangan... dan... jeritan ngeri segera bergema memenuhi seluruh ruangan, lelaki tadi seketika juga menemui ajalnya di ujung kaki pemuda tersebut.

Bagian 21

MENYAKSIKAN beberapa orang anak buahnya telah jatuh korban, Go Kiam Lam benar-benar naik pitam dibuatnya, ia segera berteriak keras : "Pek In Hoei, sejak hari ini kami anak murid dari perguruan Boo Liang Tiong bersumpah tak akan hidup berdampingan dengan dirimu..."

Dengan penuh kemarahan ia lancarkan beberapa buah pukulan gencar, angin serangan yang amat dahsyat pun segera menyapu seluruh kalangan.

Pek In Hoei mendengus berat, ia geserkan badannya meloloskan diri dari ancaman lawan, setelah lolos dari ke-tiga serangan mematikan itu tubuhnya mencelat ke angkasa dan meluncur turun dari bukit Thiam cong san.

Go Kiam Lam jadi luar biasa mendongkolnya, ia berkaok-kaok keras memaki kalang kabut :

"Pek In Hoei, sekalipun kau melarikan diri ke ujung langit atau ke dasar samudara, aku bersumpah akan menangkap dirimu kembali." Bentakan-bentakan berat berkumandang datang menggetarkan seluruh bukit Thiam cong, Pek In Hoei tanpa mempedulikan keadaan di sekelilingnya lagi segera berlari kencang menerjang masuk ke dalam hutan. Entah berapa jam ia sudah lari, mendadak tubuhnya mulai sempoyongan dan keringat sebesar kacang kedelai mengucur

keluar tiada hentinya.

Dengan penuh penderitaan ia mendengus, lalu gumamnya seorang diri :

"Sungguh tak nyana daya kerja racun Liok Hong Lok begini cepat kambuhnya, aaaa....! Rupanya ini hari aku bakal terkurung di atas gunung Thiam cong san ini... sungguh tak nyana partai Thiam cong bakal menderita kalah sedemikian hebatnya, sampai untuk kembali ke atas gunungnya sendiri pun tak mampu..."

Gelak tertawanya mengenaskan sekali membuat seluruh daun dan ranting dalam hutan bergetar keras.

"Bocah keparat, kau..." seru Ouw-yang Gong dengan wajah berubah hebat. Pek In Hoei tidak menjawab, ia cuma tertawa keras dengan suara yang sangat mengenaskan...