Imam Tanpa Bayangan I Jilid 13

 
Jilid 13

BAYANGAN manusia berkelebat lewat, seorang pemuda tanpa mengeluarkan sedikit suara pun munculkan diri dalam ruang tengah, di tangan kanannya mencekal sebilah pedang sedang matanya dengan pandangan dingin menatap wajah Rasul Racun itu tajam-tajam.

Terdesak balik oleh babatan pedang orang hingga tubuhnya terpaksa kembali ke tempat semula, Hee Giong Lam merasa amat terperanjat, tetapi setelah dilihatnya pemuda itu sedang menatap ke arahnya dengan pandangan dingin, hawa gusarnya kontan berkobar.

"Siapa kau??" tegurnya sambil mendengus dingin.

Pemuda itu tidak menjawab, hanya dengan pandangan dingin ia melirik sekejap ke arah Song Kim Toa Lhama yang sedang duduk bersila di atas tanah, sinar matanya menunjukkan perasaan tidak percaya.

Buru-buru Tok See tarik kembali serangannya sambil meloncat mundur ke belakang, sapanya dengan hormat :

"Jie Thay-cu..."

Lie Peng mengangguk.

"Song Kiem-toa Kok-su, bagaimana keadaan lukamu??" tegurnya.

Pada saat itulah Song Kim Toa Lhama membuka matanya dan menyapu sekejap ke arah Hee Giong Lam dengan pandangan membenci, perlahan-lahan ia bangun berdiri dari atas tanah. "Seandainya aku tidak memiliki ilmu Ga Lan Thay Hoat dari Tibet, mungkin sedari tadi jiwaku sudah melayang! serunya dengan hati penasaran.

Dengan pandangan gusar Lie Peng melirik sekejap ke arah Hee Giong Lam, lalu ujarnya :

"Orang ini berani melukai toa Kok-su, Hmmm! ini hari aku Jie Thay-cu bersumpah akan mencabut jiwanya. Ayoh! Siapa di antara kalian yang mau menangkap keparat ini..."

Tauw Meh serta Tok See bersama-sama menggerakkan tubuhnya maju ke depan dan mengepung Hee Giong Lam rapat-rapat.

Sementara itu Hee Giong Lam sendiri setelah mendengar pemuda yang berada di hadapannya bukan lain adalah keturunan dari dari Kaisar dewasa ini, pangeran kedua Lie Peng, hatinya merasa bergetar keras sekalipun dia adalah seseorang dedengkot dalam ilmu racun tetapi berada di hadapan pangeran tingkah lakunya tak berani keterlaluan.

"Siapa yang berani maju ke depan, aku segera akan melepaskan racun tanpa bayangan..." ancamnya dengan nada dingin.

Ouw-yang Gong yang berada di samping segera berkaok-kaok keras, teriaknya :

"Anjing sialan anak monyet, kau apa tak bisa menghajar dirinya..."

"Hmmmm, kembali kau si ular asap tua bikin gara-gara..." maki Lie Peng sambil melotot ke arah kakek konyol.

"Maknya!" kontan Ouw-yang Gong memaki kalang kabut sambil melototkan matanya bulat-bulat. "Aku ular asap tua masa dikatakan tukang bikin gara-gara..."

Pangeran kedua Lie Peng ini walaupun dalam dunia persilatan tidak punya nama, tapi dalam kerajaan dan terutama dalam keraton mempunyai kekuasaan yang amat besar, melihat si huncwee gede Ouw-yang Gong memaki orang seenaknya sendiri, seketika itu juga hawa amarahnya berkobar. Dengan wajah berubah hebat bentaknya penuh kegusaran : "Ouw-yang Gong, kau lagi ngaco belo apaan???"

Song Kim Toa Lhama mengerti Ouw-yang Gong jago untuk bersilat lidah, untuk menghindari si kakek konyol itu mengucapkan kata-kata yang lebih tak enak didengar, buru-buru meloncat ke arah depan.

Makinya dengan wajah berubah jadi dingin :

"Hey si ular asap tua, kau jangan lupa dengan perjanjian di antara kita..."

Selama hidupnya Ouw-yang Gong paling takut dikata orang tidak pegang janji, setelah ilmu silatnya kalah di tangan pendeta tersebut ia pernah menyanggupi untuk menantikan hukuman dari Song Kim Toa Lhama kecuali kalau dalam perjalanan menghadap Jie thay-cu, ada orang berhasil mengalahkan padri itu, maka perjanjian tadi kan dianggap batal.

Mendapat teguran dengan hati sedih dan badan lemas Ouw-yang Gong kontan membungkam dalam seribu bahasa dan tundukkan kepalanya rendah-rendah.

Tentu saja Hee Giong Lam tidak tahu akan persoalan antara Ouw- yang Gong dengan Song Kim Toa Lhama, melihat ada kesempatan baik yang bisa digunakan senyuman gembira segera terlintas di atas wajahnya yang adem dan kaku itu.

Ia tertawa seram dan berseru :

"Ouw-yang Gong, ayoh kita berdua sama-sama menerjang keluar dari tempat ini kemudian baru mencari kesempatan untuk membalas dendam terhadap mereka..."

"Hmmmm... Hmmmm... terlalu polos jalan pikiranmu," jengak Song Kim Toa Lhama dingin. "Sayang persoalan tidak akan segampang seperti apa yang kau pikirkan..."

Lengannya direntangkan, segulung bayangan telapak laksana tindihan sebuah bukit membabat keluar. Hee Giong Lam segera menggeserkan tubuhnya berkelit ke samping, teriaknya dengan nada gusar:

"Kaa anggap aku jeri terhadap dirimu..."

Pada saat ini ia telah sadar bahwa untuk menerjang keluar dari kepungan bukanlah satu persoalan yang gampang, karena itu segera timbullah ingatan untuk untung-untungan melakukan pertarungan adu jiwa.

Demikianlah tanpa menyahut atau mengeluarkan sedikit suara pun sepasang telapaknya mendadak direntangkan ke kiri dan kanan, dengan kecepatan laksana sambaran kilat ia serang Song Kiem Toa Lhama serta pangeran kedua Lie Peng pada saat yang bersamaan.

Air muka Padri itu kontan berubah hebat. "Kau berani!" teriaknya.

Dengan menggunakan ilmu 'Thian Liong Ciang' suatu kepandaian sakti aliran Tibet ia lancarkan satu pukulan yang cepat dan berat. Tapi... walaupun reaksi serta gerakannya dilakukan dengan kecepatan yang luar biasa, namun gagal juga maksudnya untuk menghalangi serangan telapak yang ditujukan ke arah tubuh Lie Pang tersebut, hal ini membuat padri ini saking cemasnya segera meraung gusar.

Ketika itu Tauw Meh berdiri paling dekat dengan Jie Thay cu, ketika menyaksikan Lie Peng terancam mara bahaya tanpa memikirkan keselamatan sendiri lagi ia segera meloncat ke depan, seluruh tubuhnya menghadang di hadapan Jie Thay cu sementara pedangnya laksana kilat membabat keluar...

Bluuuk ! di tengah benturan keras, Tauw Meh merasakan kepalanya pusing tujuh keliling dan matanya berkunang-kunang, tubuhnya yang bsar terpental beberapa langkah ke belakang setelah termakan oleh pukulan yang maha dahsyat itu, tidak ampun lagi darah segar muncrat keluar dari mulutnya.

Dalam pada itu Hee Giong Lam sendiri pun terpaksa harus menarik banyak kekuatan serangannya berhubung menghadapi serangan adu jiwa yang dilancarknn oleh Song Kim Toa Lhama, walaupun ia berhasil menyarangkan kepalannya di atas tubuh Tauw Meh, tapi dia sendiripun terbabat tubuhnya oleh sabetan pedang Tauw Meh sehingga menimbulkan mulut luka yang panjang.

Ia menjerit kesakitan kemudian meraung gusar, tubuhnya buru- buru meloncat ke arah samping meloloskan diri dari ancaman berikutnya yang hampir menempel di badannya, dengan demikian pukulan Song Kim Toa Lhama segera mengenai sasaran yang kosong.

Dengan sempoyongan tubuh Tauw Meh maju beberapa langkah ke depan kemudian roboh terjengkang, tapi Jie Thay cu Lie Peng yang berada di dekatnya dengan cepat menyanggah badannya kemudian memayang bangun.

Terlihatlah wajah Tauw Meh telah berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, darah segar muntah keluar terus dari mulutnya.

Lie Peng si pangeran kedua segera menepuk-nepuk bahunya seraya menghibur :

"Kau berjasa besar karena melindungi pun Thay cu dari bahaya ancaman musuh, aku pasti akan menaikkan pangkatmu..."

Tauw Meh jadi teramat girang mendengar janji tersebut, seketika itu juga ia lupa kalau luka dalam yang sedang dideritanya amat parah, sembari membesut darah kental yang menetes keluar di ujung bibirnya buru-buru ia menjura menyatakan rasa terima kasihnya. 

"Terima kasih atas anugerah dari Thay Cu..."

Perlahan-lahan Lie Peng alihkan kembali sinar matanya ke tengah kalangan, pedang dalam genggamannya digetarkan keras sehingga mendengung nyaring, setelah membentuk lingkaran cahaya yang amat besar terpancarlah suara pekikan naga yang memekakkan teling.

Ia tertawa keras.

"Haaaah... haaaah... haaaah... aku akan membinasakan dirinva dengan tanganku sendiri, agar sakit hatimu bisa terbalas..." Tubuhnya segera meloncat ke depan, setelah melewati bayangan tubuh Song Kim Toa Lhama serta Tok See pedangnya laksana kilat membabat ke arah tubuh lawan.

Sementara itu Hee Giong Lam di bawah serangan gencar dari Song Kim Toa Lhama serta Tok See sudah mulai keteter hebat dan menunjukkan tanda-tanda tidak kuat menahan diri, sekarang setelah bertambah pula dengan hadirnya Lie Peng dalam pertarungan, keadaannya semakin payah.

Akhirnya ketika melihat Ouw-yang Gong tidak ada maksud membantu, dengan hati penasaran segera teriaknya dengan penuh kegusaran :

"Ouw-yang Gong, kau sudah modar?"

Sebaliknya Ouw-yang Gong sendiri merasa amat bergirang hati setelah dilihatnya Hee Giong Lam dipukul sampai keteter hebat, ia hisap huncweenya berulang kali lalu perlahan-lahan menyemburkan asapnya ke udara.

"Haaaah... haaaah... haaaah... Hee Giong Lam!" jengeknya sambil tertawa tergelak. "Aku si ular asap tua tak dapat membantu dirimu..."

Matanya segera melirik sekejap ke arah si Telapak naga Goei Peng yang bersandar di tubuh Cho Ban Tek kemudian tertawa ringan.

Melihat lirikan tersebut si telapak naga Goei Peng segera mendongak dan menghardik dengan penuh kegusaran :

"Kau mau apa?"

"Neneknya!..." maki Ouw-yang Gong dengan mata mendelik. "Siapa suruh matamu memandang kemari dengan melotot besar seperti jengkol? Kalau aku si ular asap tua tidak merasa kasihan karena melihat keadaanmu yang mengenaskan sebetulnya dan sudi untuk memberitahukan kepadamu, kalau pengin selamat cepatlah bopong suhengmu itu dan pergilah ke lembah selaksa racun mencari Hee Siok Peng, hanya dia yang dapat menyelamatkan jiwa suhengmu..." Si telapak naga Goei Peng sangsi sebentar, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun segera membopong tubuh Cho Ban Tek dan keluar dari ruangan.

"Hey si ular Asap Tua, aku sudah tak kuat..."

Hee Giong Lam benar-benar keteter hebat, napasnya sudah tersengkal-sengkal dan tubuhnya sudah tak kuat bertahan lebih jauh, asalkan waktu berlangsung lebih lama lagi niscaya ia bakal mati di ujung pedang gabungan tiga orang jago lihay itu.

Ouw-yang Gong tertawa mengejek, sementara ia hendak menyindir Hee Giong Lam dengan beberapa kata pedas, tiba-tiba terdengar suara bentakan keras berkumandang datang dari luar ruangan.

"Tahan..."

Bentakan yang keras dan berat bagaikan guntur membelah bumi di siang hari bolong ini menggetarkan seluruh permukaan bumi dan menggoncangkan bangunan rumah itu, begitu dahsyat suaranya sampai menghentikan pertarungan sengit yang sedang berlangsung di tengah kalangan.

Hee Giong Lam bagaikan ayam jago yang kalah bertarung buru- buru tarik napas dalam-dalam, hawa murni yang tersisa dalam tubuhnya berusaha dipulihkan kembali secepat mungkin, agar bilamana perlu ia dapat mempergunakannya untuk menerjang keluar dari ruangan tersebut.

Bersamaan dengan bergeletarnya suara bentakan tadi, seorang pemuda berwajah dingin laksana sukma gentayangan melayang masuk ke dalam, begitu melihat siapakah orang itu semua jago yang hadir dalam ruangan tersebut kontan merasakan hatinya bergetar keras, suasana pun untuk sesaat menjadi hening.

Hanya Ouw-yang Gong seorang yang dapat tertawa terbahak- bahak, terdengar ia berseru :

"Pek In Hoei, hampir saja aku si ular asap tua dibikin mati karena gelisah menantikan kedatanganmu!" Pek In Hoei tertawa hambar.

"Ular asap tua, rupanya manusia-manusia yang menjemukan ini kembali mencari gara-gara terhadap dirimu. Hmmm! Ini hari aku si Jago Pedang Berdarah Dingin pasti akan menghajar dan memberi pelajaran kepada manusia-manusia yang tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi ini, agar mereka tahu bahwa sahabat dari Jago Pedang Berdarah Dingin bukanlah manusia yang bisa dianiaya serta dipermainkan dengan seenaknya..."

Air muka Lie Peng si pangeran kedua kontan berubah hebat. "Kau benar-benar hendak memusuhi diriku..." serunya.

"Di dalam dunia persilatan yang dibicarakan hanya perbedaan antara budi dan dendam, berulang kali kau mengejar dan menganiaya si ular asap tua Ouw-yang Gong sudah tentu hutang ini harus kutuntut balas terhadap dirimu..."

Pangeran kedua Lie Peng tertawa sedih, dalam sorot matanya yang mendalam tiba-tiba terpancar rasa benci yang amat sangat, tertawa seram terdengar memecahkan kesunyian.

Setelah si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei munculkan diri di tempat itu bagaikan sukma gentayangan,si Rasul Racun Hee Giong Lam pun terbebas dari teteran musuh yang hampir saja merenggut selembar jiwanya tanpa terasa ia terbayang kembali keadaan di saat Pek In Hoei untuk pertama kalinya memasuki lembah seratus racun, dimana ketika itu dia masih seorang anak kecil, siapa tahu dalam waktu singkat pemuda itu telah bangkit menjadi seorang jago Bu lim yang lihay bahkan berhasil memperoleh julukan sebagai si Jago Pedang Berdarah Dingin.

Kemajuan ilmu silat yang demikian pesatnya ini membuat si gembong iblis tua yang selama hidupnya suka bermain racun ini merasa takut bilamana kedatangannya Pek In Hoei ke situ adalah untuk mencari balas terhadap dirinya...

Dengan cepat ia berpikir dalam hatinya : "Aku harus berusaha untuk mendapatkan persesuaian pendapat dengan si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei agar dapat bersama-sama menghadapi rombongan Lie Peng si pangeran kedua ini, setelah itu baru berusaha untuk melenyapkan Pek In Hoei dari muka bumi...

Ingatan ini berkelebat dengan cepatnya dalam benak gembong iblis tua itu, tatkala pikiran kedua baru saja meluncur keluar, tiba-tiba ia merasakan ada dua sorot pandangan mata yang dingin sedang menatap ke arahnya tanpa emosi.

Hatinya bergetar keras, tanpa sadar ia berpaling ke samping. Terlihatlah si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei sedang memandang ke arahnya dengan penuh napsu membunuh, sedikit pun tiada perasaan bersahabat atau simpatik.

"Sungguh tajam pandangan mata orang ini..."

Itulah bayangan pertama yang berkelebat dalam benaknya, dengan hati terkesiap Rasul Racun she Hee ini segera berseru :

"Pek In Hoei, kenapa kau memandang aku dengan cara begitu?" Pek In Hoei maju selangkah ke depan kemudian tertawa dingin. "Aku ingin menemukan raut wajah kejam di atas wajahmu itu, bagi manusia tanpa rasa perikemanusiaan barang sedikitpun semacam kau setiap saat bisa muncul pelbagai raut wajah yang berbeda dan di mana pun terdapat senyuman manis yang menyembunyikan kedok

kekejian hatimu..."

Dimaki kalang kabut oleh seorang pemuda di hadapan orang banyak, hawa amarah dalam hati Hee Giong Lam segera berkobar. Dengan hati jengkel telapak tangannya diayun ke depan melancarkan satu pukulan.

Blaaaam! terdengar suara ledakan bergeletar memecahkan kesunyian, di atas permukaan tanah segera muncul sebuah liang besar yang amat dalam, debu dan pasir beterbangan menutupi mata.

"Pek In Hoei, apa maksudmu?" teriaknya gusar.

Dengan nada menghina Pek In Hoei tertawa terbahak-bahak. "Haaaah... haaaah... haaaah... di antara kita berdua masih terdapat hutang piutang yang belum diselesaikan, tunggu sajalah setelah kugebah pergi manusia-manusia latah yang mengaku sebagai jago lihay kelas satu dari dunia persilatan ini, kita selesaikan hutang piutang tersebut..."

"Heeeh... heeeh... heeeeh... mungkin tidak segampang itu..." seru Hee Giong Lam sambil tertawa dingin.

Si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei mendengus dingin, perlahan-lahan ia cabut keluar pedang sakti penghancur sang surya yang tersoren di atas punggungnya,dalam sekali getaran muncullah berpuluh-puluh cahaya kilatan pedang.

Dengan pandangan gagah ia menyapu sekejap sekeliling kalangan lalu teriaknya keras-keras:

"Siapa yang hendak mencari satroni dengan si ular asap tua?" Ouw-yang Gong sudah dua kali pernah ditolong oleh Pek In

Hoei, setiap kali ia menjumpai mara bahaya si anak muda itu pasti akan munculkan diri bagaikan sukma gentayangan, kecuali dalam hati ia merasa berterima kasih, terhadap kegagahan dari pemuda ini pun merasa takluk dan kagum seratus persen.

Begitu mendengar teguran dari Pek In Hoei, dengan huncwee gedenya ia segera tuding ke arah Song Kim Toa Lhama sambil berkata:

"Anak jadah cucu monyet itu yang paling menjemukan hati..."

Pek In Hoei melirik sekejap ke atas wajah Song Kim Toa Lhama dalam-dalam lalu bentaknya ketus :

"Song Kim, ayoh gelinding keluar!"

Song Kim Toa Lhama si jago lihay nomor satu dari daerah Tibet ini semenjak muncul di daratan Tionggoan belum pernah dimaki orang demikian kasar dan hinanya, air muka padri itu kontan berubah hebat sambil tertawa terbahak-bahak tubuhnya bergerak maju ke depan sejauh lima langkah.

"Saudara jangan terlalu jumawa," serunya sambil tertawa dingin. Pek In Hoei mendengus dingin, pedang mustika penghancur sang suryanya dilintangkan di depan dada, sementara di atas wajahnya yang dingin kaku tersungging satu senyuman yang menggidikkan hati.

"Kalau kau sanggup melewatkan sepuluh jurus serangan di ujung pedangku, mulai ini hari aku si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei tak akan mencampuri urusanmu lagi," serunya menghina. "Sebaliknya kalau kau tak sanggup menerima barang sepuluh jurus serangan pun dari tanganku, silahkan kau angkat kaki dari daratan Tionggoan dan segera enyah pulang ke Tibet, sejak itu untuk selamanya jangan masuk kembali ke wilayah Tionggoan, kalau tidak aku akan membabat dirimu sampai mati tanpa sungkan-sungkan..."

Ucapannya tepat dan mantap setiap perkataannya berat tapi bertenaga...wajahnya dingin kaku membuat ucapan itu seolah-olah muncul dari mulut sesosok mayat hidup membuat hati setiap orang kaget dan bergidik.

Song Kim Toa Lhama segera merasakan hatinya bergetar keras oleh pengaruh kata-kata yang tak berwujud itu, keringat sebesar kacang kedele mengucur keluar tiada hentinya membasahi jidatnya, suatu perasaan takut yang tak pernah timbul dalam hatinya kali ini menyelimuti seluruh benaknya membuat sang badan gemetar keras.

Tapi di samping itu muncul pula hawa amarah yang amat sangat bergelora dalam rongga dadanya, ia meraung keras, tulang belulang di seluruh tubuhnya bergemerukkan keras, jubah yang dikenakannya menggembung besar!

"Pek In Hoei!" teriaknya, "kau terlalu menghina orang lain... kau... kau..."

Saking gusarnya sampai kata-kata itu tak sanggup diteruskan lebih lanjut, dengan hati marah bercampur benci segenap hawa murni yang dimilikinya dihimpun jadi satu dalam tubuhnya, hawa pukulan yang maha dahsyat pun disiapkan di telapak kanan. Ujung telapak menggetar di angkasa membentuk gerakan busur beserta segulung tenaga yang besar laksana titiran air bah menggulung ke atas tubuh Pek In Hoei laksana tindihan bukit besar.

Pek In Hoei segera menggetarkan pedangnya sambil menghardik

:

"Baiklah,   untuk   kali   ini   aku   akan   mengalah   satu   jurus

kepadamu..."

Badannya mencelat ke angkasa dan mumbul beberapa tombak jauhnya, dengan begitu angin pukulan maha dahsyat yang sedang mengancam ke arahnya itu pun segera beralih sasaran menuju ke arah Lie Peng si pangeran kedua dari Kerajaan yang berkuasa dewasa itu. Menyaksikan kehebatan gerakan tubuh dari pemuda itu, Lie Peng terkesiap sekali, mendadak satu ingatan jahat berkelebat dalam

benaknya.

Ia segera mengerling sekejap ke arah Tok See yang ada di sekeliling situ, kemudian mendengus berat.

Tok See manggut tanda mengerti, di tengah dengusan berat yang menggema di angkasa itulah pedang tajam yang berada dalam genggamannya dengan kecepatan tinggi segera menusuk ke belakang punggung Pek In Hoei.

Serangan ini bukan saja sadis dan kejam, bahkan luar biasa hebat, sebilah pedang laksana tombak segera menghunjam ke depan.

"Hmmm! Bangsat tukang main bokong..." seru Pek In Hoei sambil mendengus berat.

Tiba-tiba ia putar tubuhnya... Kraaak! Pedang panjang Tok See yang tepat bersarang di atas tubuhnya itu mendadak patah menjadi dua bagian dan rontok ke atas tanah.

Setelah itu sambil putar tubuh ujarnya ketus :

"Aku si Jago Pedang Berdarah Dingin selama hidupnya paling benci terhadap orang yang suka main bokong dari belakang tubuh orang seperti sampah masyarakat seperti kau... Hmmm, akupun harus membiarkan dirimu untuk ikut merasakan bagaimanakah kalau seseorang kena dibokong..."

Ia tinggalkan Song Kim Toa Lhama yang telah siap bertempur itu dan berbalik menubruk ke arah Tok See, pedang sakti penghancur sang suryanya dengan menciptakan diri jadi selapis cahaya tajam segera mengancam tiga buah jalan darah penting di tubuh jago pedang muda itu.

Setelah serangan bokongnya tidak mendatangkan hasil, Tok See tahu bahwa ia bakal celaka. Kini menyaksikan keajaiban serta kesaktian ilmu silat yang diperlihatkan pihak lawan ia jadi kesemsem dan terpesona, sewaktu babatan pedang Pek In Hoei meluncur datang ia sama sekali tak bertenaga untuk melawan, bukannya menghindar atau menangkis jago pedang she Tok ini hanya berdiri sambil memandang ke arahnya dengan pandangan mendelong.

Pangeran kedua Lie Peng yang menyaksikan Tok See berdiri melongo sambil menanti kematian, dalam hati merasa amat terperanjat, sambil ayunkan pedangnya dengan gerakan adu jiwa ia loncat ke depan, senjatanya bergetar dan segera menangkis datangnya ancaman dari pedang penghancur sang surya itu.

Traaaaang...! getaran nyaring yang amat memekikkan telinga berkumandang di seluruh ruangan, Pangeran kedua merasakan tangannya jadi kaku dan linu, pedangnya tahu-tahu sudah terbabat putus jadi dua bagian, sementara Tok See sendiri karena dihalangi ancamannya oleh tangkisan pedang Lie Peng, jago muda ini pun lolos dari bahaya kematian.

"Pek In Hoei!" terdengar Song Kim Toa Lhama membentak keras, "Jangan lukai Jie Thaycu..."

Dalam pada itu Pek In Hoei sedang mempersiapkan diri melancarkan satu serangan maut yang merobohkan Jie Thaycu serta Tok See dalam waktu yang bersamaan, ketika mendengar bentakan Song Kim Toa Lhama berkumandang datang disusul tubrukan maut, dengan cepat ia memutar tubuhnya sambil menjengek dengan nada menghina :

"Menang kalah di antara kita belum berhasil ditentukan, apakah kau ingin berduel satu lawan satu dengan diriku..."

Air muka Song Kim Toa Lhama berubah hebat.

"Aku tahu kalau ilmu silat yang kau miliki sangat lihay dan aku bukanlah tandinganmu," sahutnya. "Sejak ini hari aku Song Kim Toa Lhama tidak akan mencari gara-gara atau satroni dengan diri Ouw- yang Gong lagi, asalkan kau jangan melukai diri Jie Thaycu..."

"Anak kura-kura, kau anggap aku jeri kepadamu..." teriak Ouw- yang Gong marah-marah, badannya segera menubruk ke depan.

Pek In Hoei ulapkan tangannya, Song Kim Toa Lhama buru-buru mengajak Pangeran kedua Lie Peng, Tok See serta Tauw Meh mengundurkan diri dari ruangan itu dengan wajah penuh kebencian.

Menyaksikan rombongan jago-jago kerajaan itu telah mengundurkan diri semuanya, diam-diam Hee Giong Lam pun ngeloyor pergi dari ruangan itu dengan kecepatan tinggi.

"Kembali!" hardik Pek In Hoei dengan amat gusarnya. "Aku belum memberi ijin kepadamu untuk meninggalkan tempat ini."

Sementara itu Hee Giong Lam baru melangkah dua tindak dari tempat semula, ketika mendengar suara bentakan keras bergema dari belakang tubuhnya, ia jadi amat terperanjat kaki yang sudah melangkah ke depan tanpa terasa ditarik kembali.

"Kau panggil kembali diri loohu, sebenarnya ada urusan apa?" tegurnya keras.

Selapis hawa napsu membunuh yang tebal terlintas di atas wajah Pek In Hoei yang dingin, sepasang alisnya berkerut kencang, di ujung bibirnya yang tipis tersungging satu senyuman yang menggidikkan hati.

"Aku inginkan selembar jiwa anjingmu..." sahutnya sepatah demi sepatah. Sekali lagi Hee Giong Lam merasakan hatinya bergetar keras, ucapan yang dingin dan kaku bagikan es itu terasa menembusi ulu hatinya membuat rasul ini dengan pandangan terbelalak penuh rasa ketakutan memandang ke arah Pek In Hoei tanpa berkedip.

"Kau bilang apa?" serunya. Di antara kau dengan diriku toh tiada ikatan dendam atau pun sakit hati, kenapa kau hendak membinasakan diriku?"

Air muka Pek In Hoei berubah sangat hebat, dalam benaknya segera terbayang kembali kenangan lama, seolah-olah ia menyaksikan kembali terbasminya partai Thiam Cong di tangan musuh besarnya, di tengah kobaran api yang mengganas serta daya kerja racun yang keji, di bawah kilatan cahaya senjata tajam tiga ratus orang lebih anak murid partai Thiam cong pada menggeletak mati di ujung senjata anak murid perguruan Boo Liang Tiong Boen..."

Ia maju selangkah ke depan dengan tindakan lebar, lalu berseru : "Hee Giong Lam, mungkin kau masih ingat bukan pemandangan ketika untuk pertama kalinya aku berjalan masuk ke dalam perguruan seratus racunmu! Dari seorang bocah yang sama sekali tidak mengerti akan ilmu silat kini aku menjadi seorang jago dunia persilatan kelas satu, tahukah kau apa sebabnya aku berjuang sampai menjadi begini?"

"Aku tidak tahu," sahut Hee Giong Lam dengan nada tertegun. Pek In Hoei tertawa hambar.

"Tujuanku berlatih ilmu silat bukan lain adalah untuk menuntut balas bagi pertumpahan darah yang terjadi di partai Thiam cong, aku hendak membalaskan dendam ke-tiga ratus orang anak murid partai Thiam cong yang mati terbunuh serta membalas dendam bagi kematian ayahku, dan kini kalian Perguruan Selaksa Racun adalah salah satu musuh besar yang hendak kutuntut hutang darah tersebut..." "Apa?" bentak Hee Giong Lam keras-keras. "Apa yang kau katakan? Apa sangkut pautnya antara kematian ayahmu dengan Perguruan Selaksa Racun kami? Pek In Hoei aku Hee Giong Lam bukanlah seorang manusia pengecut yang takut mencari urusan, tapi kau jangan memfitnah kami dengan kata-kata seperti itu..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... ," Ouw-yang Gong putar huncwee gedenya hingga asap tipis menguap dari dalam mangkok huncwee gedenya itu, kemudian menghisap beberapa kali dan terbahak-bahak. "Hee Giong Lam!" jengeknya dengan nada menghina. "Ternyata

kau tidak punya keberanian untuk mengaku..."

"Ular asap tua, kau suruh aku mengaku soal apa?" bentak Hee Giong Lam dengan mata mendelik.

Pek In Hoei tertawa dingin.

"Aku ingin kau mengakui persoalan partai Thiam cong yang kalian basmi, bukankah anak murid perguruan seratus racun banyak yang ikut serta di dalam perbuatan brutal itu? Kalau pada waktu itu kalian pihak perguruan seratus racun tidak melepaskan racun, tidak nanti partai Thiam cong kami mengalami nasib yang demikian buruk dan mengenaskannya..."

"Omong kosong!" seru Hee Giong Lam dengan wajah berubah hebat. "Dalam peristiwa berdarah itu kami dari pihak perguruan seratus racun sama sekali tidak ikut serta."

"Anak kura-kura, kembali kau berbohong!" bentak Ouw-yang Gong dengan gusarnya. "Sampai aku si Ular Asap Tua pun tahu kalau kau mengutus anak muridmu untuk ikut serta dalam pembasmian terhadap anak murid partai Thiam cong, masa di hadapan aku si ular asap tua kau masih pura-pura berlagak pilon..."

"Ular asap tua..." mendadak Hee Giong Lam mengayunkan kepalannya, "Rupanya kau ada maksud menyusahkan diriku..."

Pukulan ini dilancarkan dengan menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya, begitu pukulan meluncur segulung hawa desiran yang aneh berkumandang di angkasa bercampur baur dengan deruan angin yang tajam.

Buru-buru Ouw-yang Gong meloncat ke samping untuk menghindar, bentaknya keras : "Waaah... waaaah... rupanya kau hendak membunuh orang untuk menghilangkan bukti..."

Kakek konyol ini bukanlah manusia yang gampang dipecundangi orang, sebelum ujung pukulan Hee Giong Lam meluncur tiba huncwee gedenya telah menotok ke depan mengancam iga bawah si Rasul Racun tersebut.

"Hmmmm....!" Hee Giong Lam mendengus dingin, telapak kirinya diayunkan ke depan melancarkan satu pukulan hebat mengancam huncwee gede lawan yang sedang menghalau datang, kekuatannya benar-benar mengerikan sekali.

Ouw-yang Gong segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... kau si cucu monyet anak jadah rupanya mau merusak huncwee gedeku ini..."

Sementara ia bersiap sedia menarik kembali senjata huncwee gedenya, mendadak si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei telah meloncat ke depan, ia tahu-tahu muncul di antara ke-dua orang jago pedang yang sedang bertempur itu, membuat Ouw-yang Gong jadi melengak dan cepat-cepat mengundurkan diri ke belakang.

"Pek In Hoei!" seru kakek she Ouw-yang itu dengan nada kurang mengerti, "Apa yang hendak kau lakukan?"

Pek In Hoei tersenyum.

"Ini adalah urusan pribadiku, harap kau jangan turut campur..." Hee Giong Lam sendiri ketika menyaksikan si Jago Pedang

Berdarah Dingin Pek In Hoei berjalan menghampiri ke arahnya dengan wajah penuh napsu membunuh, dalam hati diam-diam merasa terperanjat, cepat-cepat ia himpun segenap kekuatan yang dimilikinya untuk bersiap sedia, kemudian dengan pandangan bergidik memperhatikan wajah si anak muda itu tanpa berkedip.

"Aku minta kau mengaku terus terang, benarkah si ketua perguruan Boo Liang Tiong yang bernama Go Kiam Lam itu sebelum melakukan pembasmian terhadap anak murid partai Thiam cong telah melakukan perundingan terlebih dahulu dengan dirimu tentang bagaimana caranya membasmi perguruan besar tadi? Dan benarkah sewaktu Go Kiam Lam si ketua perguruan Boo Liang Tiong melakukan gerakan pembasmian tersebut secara diam-diam kau telah mengutus anak muridmu untuk ikut serta dalam peristiwa berdarah itu..."

"Peristiwa berdarah itu adalah perbuatan dari Go Kiam Lam," sahut Hee Giong Lam ketus. "Mengapa kau tidak pergi mencari dirinya..."

Cahaya bengis berkilat di atas wajah Pek In Hoei.

"Sesudah kubunuh dirimu, tentu saja kucari Go Kiam Lam bajingan besar itu untuk membuat perhitungan..."

Nguuuung...! Nguuuuung...!

Menggunakan kesempatan di kala Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei masih berbicara itulah tiba-tiba Hee Giong Lam angkat lengan kanannya ke atas, dari balik ketiak segera meluncur keluar seekor tawon raksasa berwarna hitam yang langsung menubruk ke atas tubuh si anak muda itu.

Dengan gusar Pek In Hoei segera membentak :

"Hmmm! Hanya mengandalkan tawon racun berekor tiga saja kau hendak mencoba membokong diriku..."

Pedang mustika penghancur sang surya yang berada dalam genggamannya segera diayunkan ke tengah udara, tergulung di balik cahaya pedang yang amat tajam, tawon raksasa berwarna hitam tadi segera terbabat putus oleh ketajaman pedang itu hingga menjadi beberapa bagian.

Bergidik sekali hati Hee Giong Lam setelah menyaksikan tawon beracun raksasa yang dilepaskannya dalam sekejap mata telah hancur lebur termakan oleh pedang mustika penghancur sang surya itu, ia tidak punya keberanian untuk mengeluarkan makhluk beracun lainnya untuk mencelakai si anak muda itu.

Bayangan pedang bagaikan awan tersebar meliputi seluruh angkasa, segulung cahaya pedang yang tajam dan dingin mendadak bergeletar ke depan, bagaikan seutas rantai berwarna perak langsung menotok ke arah dada si Rasul Racun dari perguruan seratus racun ini.

Hee Giong Lam meraung keras, secara beruntun ia lepaskan dua buah pukulan berantai untuk memunahkan datangnya ancaman.

Pek In Hoei mendengus dingin.

"Hmmm, kalau aku berhasil melepaskan dirimu dari kurungan pedang mustika penghancur sang surya ini, sia-sia belaka aku berlatih ilmu pedang selama ini..."

Bentakan nyaring yang serius dan keren bergeletar di angkasa dari tubuh pedang itu segera terpancar keluar bayangan cahaya dingin yang menggidikkan hati, menggunakan jurus Kioe Jiet Teng Seng atau sang surya muncul di ufuk Timur, ia babat tubuh Rasul Racun itu.

hg tak pernah menyangka kalau pihak lawan dengan usia yang sedemikian mudanya ternyata telah berhasil menguasai intisari ilmu pedang tingkat tertinggi, dalam satu jurus yang amat sederhana terkandung daya tekanan dahsyat yang memaksa seorang jago lihay yang tersohor dalam dunia persilatan sama sekali tak ada tenaga untuk melakukan pembalasan.

Dalam benak manusia beracun she Hee ini segera terpenuhi oleh pelbagai pikiran bagaimana caranya memunahkan jurus serangan tersebut, di tengah tertegunnya ternyata ia tak sanggup melepaskan diri atau pun menghindarkan diri dari ancaman pedang lawan yang begitu tajamnya itu.

Criiing!

hg tidak malu disebut seorang jago Bu lim yang sudah memiliki nama besar dalam dunia persilatan, pada detik terakhir di saat jiwanya terancam mara bahaya itulah laksana kilat badannya meloncat ke samping menghindarkan diri.

Walaupun begitu ilmu pedang yang dimiliki Pek In Hoei bukanlah hasil yang diperoleh dalam latihan satu hari, sekalipun Hee Giong Lam berhasil menghindarkan diri dari babatan pedang yang mengancam keselamatannya, tak urung sebuah luka babatan yang amat panjang muncul pula di atas lengan kirinya, dengan rasa penuh kesakitan ia berseru tertahan kemudian memandang ke arah si anak muda itu dengan rasa kaget bercampur ketakutan.

"Aku pernah bersumpah akan membasmi semua anggota perguruan seratus racun yang ada di kolong langit,"kata Pek In Hoei ketus. "Dan kau akan merupakan orang pertama dari perguruan seratus racun..."

"Kenapa?" jerit Hee Giong Lam dengan wajah ketakutan. "Apakah disebabkan ada anak murid perguruanku yang membantu Go Kiam Lam..."

Ia menyadari bahwa ancaman dari si pemuda ini terhadap perguruan seratus racunnya sehari lebih lihay dari hari berikutnya, berada dalam pandangan sorot matanya yang dingin Hee Giong Lam seolah-olah melihat beratus-ratus orang anak murid perguruannya mati konyol di ujung pedangnya semua...

"Hmmmm!" Pek In Hoei mendengus dingin. "Kalau tiada bantuan dari anak murid perguruan kalian, aku percaya pihak perguruan Boo Liang Tiong tak nanti mempunyai kekuatan yang demikian besarnya sehingga dalam semalam berhasil memusnahkan partai Thiam cong dari muka bumi..."

Sementara itu ujung pedangnya telah menempel di atas tenggorokan Hee Giong Lam, asal ia kerahkan sedikit tenaga lagi niscaya ujung pedangnya yang tak kenal kasihan itu akan menembus tenggorokan si Rasul Racun sang ketua dari perguruan seratus racun ini.

Suatu perasaan ngeri dan takut yang tak pernah diperlihatkan sebelumnya terlintas di atas wajah Hee Giong Lam, keringat dingin mengucur keluar tiada hentinya membasahi seluruh tubuh serta pakaiannya, dalam keadaan begini ia benar-benar tidak berani berkutik.

"Singkirkan dahulu pedangmu..." pintanya dengan suara gemetar. Pek In Hoei tertawa dingin.

"Aku minta kau mengaku terus terang, kecuali perguruan Boo Liang Tiong serta perguruan seratus racun kalian yang ikut serta di dalam peristiwa pembasmian terhadap partai Thiam cong, masih terdapat manusia-manusia mana lagi yang ikut serta dalam peristiwa tersebut..." gertaknya.

Hee Giong Lam mundur satu langkah ke belakang dan menjawab dengan penuh penderitaan :

"Aku tidak tahu..."

Pek In Hoei tertawa sini, ujung pedangnya yang dingin dan tajam didorong beberapa coen ke depan, Hee Giong Lam segera merasakan tenggorokannya jadi sakit dan hampir saja tak sanggup menghembuskan napas.

"Asal kudorong maju dua coen lagi maka pedang ini akan menembusi tenggorokanmu serta mencabut jiwa anjingmu," ancam si anak muda itu dengan wajah menyeramkan. "Sekarang kau berada di ujung kehidupan di antara mati dan hidup, mau bicara atau tidak itu terserah pada dirimu sendiri..."

Dalam benak Hee Giong Lam dalam waktu singkat muncul pelbagai ingatan yang berbeda, ia berpikir bagaimana caranya melepaskan diri dari cengkeraman musuh, tapi kalau ditinjau dari situasi yang tertera di hadapannya jelas tak mungkin baginya untuk meloloskan diri dari tempat itu dengan aman dan damai...

Pikirnya lebih jauh :

"Kenapa aku tidak berusaha menggunakan kesempatan di kala pihak lawan berusaha mencari tahu musuh-musuh besarnya untuk meninggalkan tempat ini,kemudian baru membalas sakit hati pada saat ini di kemudian hari..."

Ingatan tersebut dengan cepatnya berkelebat di dalam benaknya, maka ia lantas berkata :

"Tidak sulit bila kau menghendaki aku berbicara, tapi kau harus melepaskan diriku..." "Tentu saja..." Pek In Hoei menyahut dan tertawa nyaring. "Haaaah... haaaah... haaaah... asalkan aku merasa bahwa ucapanmu betul dan bisa dipercaya, tentu saja akan kulepaskan dirimu dalam keadaan selamat..."

Hee Giong Lam tundukkan kepalanya berpikir sebentar, kemudian berkata :

"Peristiwa pembantaian partai Thiam cong sebenarnya merupakan peristiwa pembalasan dendam pihak perguruan Boo Liang Tiong terhadap terbunuhnya tujuh puluh orang anak murid perguruan Boo Liang Tiong dalam semalam pada enam puluh tahun berselang, berhubung Go Kiam Lam sang ketua baru dari perguruan Boo Liang Tiong merasa bahwa kekuatan perguruannya masih belum cukup, maka ia segera mengutus anak muridnya untuk mengundang para jago di perguruan-perguruan besar untuk ikut serta dalam peristiwa berdarah itu, tapi dalam kenyataan perguruan yang betul-betul ikut menyokong dalam kejadian itu hanyalah Dua benteng besar dari Bu- lim serta perguruan kami..."

"Dua benteng mana yang kau maksudkan?" tanya Pek In Hoei dengan sinar mata yang menggidikkan.

"Benteng Liong Hoen Poo serta benteng Thian Seng Poo!" sekilas kelicikan terlintas di antara sorot mata Hee Giong Lam, ia tertawa seram. "Heeeeh.... heeeh... heeeh... kedua buah benteng itu merupakan pembantu kepercayaan dari Go Kiam Lam, kalau kau ingin membalas dendam terhadap mereka, hmmm! aku rasa tidak akan sedemikian gampangnya..."

Sambil tertawa seram mendadak tubuhnya meloncat mundur ke belakang, setelah meloloskan diri dari tudingan pedang si anak muda itu dengan langkah lebar ia segera berlalu dari ruangan tersebut.

"Kembali!"

Bentakan berat yang nyaring dan keras bergeletar keluar dari mulut Pek In Hoei, begitu keras suaranya sampai menggetarkan bangunan rumah itu dan menggoncangkan permukaan bumi. Hee Giong Lam terkesiap, dengan cepat ia menoleh.

"Apakah ucapanmu hendak kau ingkari?" tegurnya dengan perasaan sangsi, rasa kaget bercampur bergidik terlintas di atas wajahnya.

"Hmmmm! Walaupun hukuman mati bisa dihindari, hukuman hidup tak akan terlepas dari tubuhmu, memandang di atas budimu yang mau memberi keterangan kepadaku, aku cuma akan memusnahkan ilmu silatmu..."

"Apa?" jerit Hee Giong Lam. "Kau betul-betul manusia yang tidak tahu malu..."

Belum habis ia berkata si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei telah meloncat ke depan.

Cahaya tajam berkilauan di depan mata, tahu-tahu pedang mustika penghancur sang surya itu sudah mengunci ke sekeliling tubuhnya, sekilas kilatan cahaya dengan cepatnya mengancam jalan darah 'Chiet Kan' di atas dadanya.

Dalam waktu singkat air muka Hee Giong Lam telah berubah beberapa kali, ia mengerti asalkan ujung pedang lawan berhasil menotok di atas jalan darah 'Chiet Kan' tersebut niscaya ilmu silat yang dilatihnya dengan susah payah selama ini bakal musnah sama sekali.

Hatinya jadi bergidik, ia meraung keras dan tubuhnya dengan cepat mundur dua langkah ke belakang pada detik-detik yang terakhir. "Pek In Hoei!: makinya sangat marah. "Ucapanmu sama baunya

dengan kentut busuk..."

"Coba kau ulangi sekali lagi..." seru Pek In Hoei dengan sikap tertegun.

Sambil ayunkan telapaknya ke depan mengirim satu pukulan dahsyat, Hee Giong Lam berteriak keras :

"Kau terlalu mendesak diriku, jangan salahkan aku kalau aku akan beradu jiwa dengan dirimu!" Ia mengerti si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei tidak nanti akan melepaskan dirinya dengan begitu saja, asal dirinya terjatuh ke tangan pemuda ini niscaya ilmu silatnya bakal dipunahkan. Haruslah diketahui bagi seorang jago Bu lim yang memiliki ilmu silat, ia menyayangi ilmu silat yang dilatihnya dengan susah payah itu melebihi sayang terhadap jiwa sendiri, ketika ia tahu bahwa dirinya dari seorang jago yang memiliki ilmu silat akan berubah jadi manusia biasa yang sama sekali tak dapat menggunakan kepandaian silatnya lagi, penderitaan yang dirasakan dalam hatinya jauh lebih berat dan

hebat daripada penderitaan di kala ia hendak dibunuh.

Hee Giong Lam menyadari sedalam-dalamnya penderitaan yang sedemikian beratnya itu tak akan bisa dirasakan olehnya, walau dalam keadaan apa pun jua, maka diambilnya keputusan untuk melakukan perlawanan hingga titik darah penghabisan, ia lebih rela mati terbunuh di tangan musuh daripada menanggung sengsara selama hidup.

Demikianlah, dengan cepatnya kedua jago Bu-lim itu sudah terlibat dalam suatu pertempuran sengit, dalam sekejap mata dua puluh gebrakan telah berlalu.

Ouw-yang Gong sendiri setelah menyaksikan pertarungan adu jiwa yang sedang berlangsung di tengah kalangan, dalam hati pun merasa teramat gelisah,ia hisap huncweenya berulang kali sementara sepasang matanya memperhatikan ke tengah kalangan tanpa berkedip.