Imam Tanpa Bayangan I Jilid 12

 
Jilid 12

MAKA sambil tertawa terbahak-bahak serunya :

"Haaaah... haaaah... haaaah... tidak cukup kalau hanya begitu saja, ayoh kalian saling berjotosan secara sungguh-sungguh..."

Dalam hati walaupun si jago pedang Cho Ban Tek serta di telapak naga Goei Peng merasa kheki bercampur mendongkol tetapi perasaan tersebut tak berani mereka utarakan di luaran, setelah mendengus dingin mulailah mereka berdua saling bergebrak dengan serunya.

Kepandaian silat yang dimiliki ke-dua orang ini pada dasarnya memang tidak lemah,maka setelah saling bergebrak terdengarlah suara gedebukan dalam ruangan itu.

Memandang pertarungan yang dilakukan ke-dua orang itu Si huncwee gede Ouw-yang Gong tertawa terbahak-bahak, kembali ia meneguk beberapa tegukan arak, setelah itu menjatuhkan diri berbaring di atas lantai dan tidur, terhadap pertarungan di kalangan tak sekejap pun dipandangnya.

Menanti si kakek konyol itu sudah mulai mendengkur keras, Cho Ban Tek serta Goei Peng segera berhenti untuk mengaso. Siapa sangka Ouw-yang Gong memang ada maksud mempermainkan mereka, baru saja kedua orang itu berhenti bergebrak ia segera meloncat bangun sambil memaki :

"Anak jadah sialan, rupanya kamu dua orang cecunguk jelas malasnya bukan main.. suruh latihanmu tidak bersungguh-sungguh... ayoh cepat mulai bergebrak lagi..." Dengan adanya kejadian ini, bukan saja Cho Ban Tek serta Goi Peng tidak berani berhenti bergebrak, bahkan mereka sengaja bergebrak semakin menyaring, saat ini apa yang dipikirkan ke-dua orang ini adalah sama yaitu berharap agar orang yang menggantikan tugas mereka cepat-cepat datang, daripada mereka harus menahan rasa dongkol terus menerus.

Pada saat itulah mendadak terdengar suara derap kaki kuda berkumandang di luar kuil, terdengar kuda itu mendadak berhenti disusul berkumandangnya suara langkah manusia yang berat.

Tampak bayangan manusia berkelebat, seorang kakek berwajah kering perlahan-lahan berjalan masuk ke dalam ruangan.

Ia menyapu sekejap ke seluruh ruangan itu, ketika menemukan Ouw-yang Gong tidur di atas lantai sedang dua orang lainnya sedang bertempur di hadapannya, orang tua itu terkejut dan segera bentaknya

:

"Berhenti semua!"

"Neneknya cucu monyet, Hey Hee Giong Lam siap suruh kau mencampuri urusanku..." maki Ouw-yang Gong sambil ulapkan tangannya berulang kali.

hgs Si Rasul beracun mendengus dingin.

"Ouw-yang Gong,aku sedang risau karena tidak berhasil menemukan dirimu, sungguh tak nyana kiranya kau bersembunyi disini."

Ouw-yang Gong tidak menggubris ucapan orang, ia segera bangun dari tidurnya dan berteriak :

"Heeei... kamu berdua jangan bertarung lagi, cepat kalian usir dulu tua bangka sialan ini dari sini..."

Dalam pada itu Cho Ban Tek serta Goei Peng sedang merasa mendongkol hingga mencapai pada puncaknya, mendengar Ouw- yang Gong secara tiba-tiba memerintahkan mereka untuk mengusir Hee Giong Lam dari situ, dengan cepat mereka saling berpisah kemudian berbareng menubruk ke arah Rasul Racun itu dengan gerakan ganas, semua rasa dongkol dan kheki yang menekan dada mereka selama ini ditumpahkan semua ke atas tubuh manusia She- Hee ini.

Sembari melancarkan sebuah serangan dahsyat, si telapak naga Goei Peng membentak gusar :

"Aku perintahkan kau segera mengundurkan diri dari sini, tempat ini adalah daerah kekuasaan dari Jie Thay coe kami..."

"Kau sendiri yang segera enyah dari sini..." bentak Hee Giong Lam pula sambil mendengus.

Rupanya kakek beracun ini sudah naik pitam pula, sambil membentak tubuhnya menerjang ke depan, telapaknya langsung disambar ke muka menggaplok pipi Goei Peng.

Plooook! Terdengar suara yang amat nyaring, sambil menahan kesakitan Goei Peng segera mengundurkan diri ke belakang, lima bekas jari yang merah berdarah tertera jelas di atas pipinya.

Melihat saudara seperguruannya kena digaplok orang, si jago pedang Cho Ban Tek jadi teramat gusar, pedangnya berputar bagaikan baling-baling kemudian laksana kilat membabat ke depan, bentaknya

:

"Bangsat keparat, rupanya kau sudah bosan hidup..."

Serangan tersebut merupakan gerakan 'Sin Kie Sit Seng' atau Badik sakti membidik bintang dari ilmu pedang 'Liok Seng Kiam Hoat' aliran perguruan Thian Liong Boen, begitu pedangnya bergetar segera tampaklah kilatan cahaya dingin yang amat menyilaukan mata meluncur ke depan mengurung seluruh tubuh Hee Giong Lam.

Si telapak naga Goei Peng sendiri sejak munculkan diri di dalam dunia persilatan belum pernah mengalami penghinaan sebesar ini, saking gusar dan mendongkolnya sampai-sampai sekujur badannya gemetar keras, bibirnya kontak bersemu ungu sedang wajahnya merah membara, dengan hati penasaran bercampur mendendam sekali lagi ia lancarkan sebuah pukulan dahsyat.

"Aku akan beradu jiwa dengan dirimu, bangsat!" Berhadapan dengan dua orang jago lihay dari perguruan Thian Liong Boen ini, si Rasul Racun Hee Giong Lam tak berani bertindak gegabah, dengan menggunakan suatu gerakan yang aneh ia melepaskan diri dari kejaran serangan pedang dan telapak musuh- musuhnya, mendadak dari pinggang ia melepaskan seutas tali lunak kemudian digetarkan ke udara hingga berdiri lurus kaku bagaikan sebatang pit...

Begitu menyaksikan senjata 'istimewa' yang digunakan pihak lawannya, kedua orang jago dari perguruan Thian Liong Boen ini sama-sama merasa terkejut, sambil menghembuskan napas dingin buru-buru mereka mengundurkan diri sejauh tujuh dlepan depa ke belakang, kemudian memandang benda di tangan Hee Giong Lam dengan pandangan termangu-mangu.

Kiranya senjata yang digetarkan di tengah udara oleh Hee Giong Lam barusan bukan lain adalah seekor ular kecil berwarna hijau, bukan saja ular itu sekujur badannya berwarna hijau mengkilap bahkan lencir tipis dan panjang seakan-akan seutas tali panjang, terutama sekali lidahnya yang merah dan tajam, sambil memandang tubuh ke-dua orang jago lihay dari perguruan Thian Liong Boen menjulur keluar tiada hentinya, jelas setiap saat kemungkinan besar binatang itu akan melancarkan patukan mautnya.

Dengan sekujur badan gemetar keras, Cho Ban Tek si jago pedang itu berseru keras :

"Kau... apakah kau adalah si orang tua dari Perguruan Selaksa Racun?..."

"Hmmm, kematian kalian berdua sudah di ambang pintu, buat apa banyak bertanya lagi..."

Cho Ban Tek mengerti andaikata mereka berani mengikat tali permusuhan dengan si orang tua dari Perguruan Selaksa Racun ini, maka tak akan ada hari yang aman lagi bagi mereka, teringat kesemuanya ini adalah hasil gara-gara dari Ouw-yang Gong, dengan hawa amarah yang berkobar-kobar tanpa terasa kedua orang itu berpaling ke arah si kakek konyol itu dan melotot penuh kebencian ke arahnya.

Siapa tahu ketika sorot mata mereka sebentar di atas wajah Ouw- yang Gong, sambil mengerdipkan matanya si kakek konyol itu berlagak seolah-olah tak pernah terjadi suatu peristiwa apa pun.

"Anak jadah gombal yang berbau busuk," terdengar ia menggembor dengan suara keras... "Apa yang bagus dilihat? Hanya melihat ular hijau di tangan Hee Giong Lam si cucu monyet itu pun kalian sudah ketakutan setengah mati, begitu masih bisanya berlagak sok dan mengatakan sampai di mana lihaynya perguruan Thian Liong Boen kalian? Hmmm! Kenapa sekarang setelah berhadapan dengan musuh kalian jadi pucat dan terkencing-kencing saking takutnya? Sungguh tak punya semangat, sungguh tak becus... manusia dogol..." Dimaki kalang kabut oleh Ouw-yang Gong, hawa amarah dalam dada Cho Ban Tek seketika berkobar kembali, ia mendengus berat kemudian putar pedangnya melancarkan sebuah tusukan kilat ke arah

dada Hee Giong Lam.

Si Rasul Racun dari Perguruan Selaksa Racun ini segera tertawa terbahak-bahak, mendadak ia getarkan ular hijau di tangannya untuk menggulung senjata pedang yang sedang mengancam ke arahnya.

Berada di tengah udara ular itu berputar satu lingkaran kemudian membelenggu senjata pedang itu tajam-tajam, kepala ular dalam waktu yang amat singkat secara tiba-tiba mengikuti tajamnya tubuh pedang itu meluncur ke depan dan memagut pergelangan tangan Cho Ban Tek keras-keras.

"Aduuuh...!" terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan hati, sambil membuang senjata pedangnya ke atas tanah Cho Ban Tek buru-buru meloncat mundur ke belakang, keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya membasahi seluruh tubuhnya, sebuah lengannya seketika jadi bengkak besar sekali, air mukanya berubah hebat. Sambil memandang lengannya yang mulai berubah jadi semu kehitam-hitaman serunya sedih :

"Goe sute, aku telah terluka..."

Rupanya si telapak naga Goei Peng sama sekali tidak mengira kalau toa suhengnya Cho Ban Tek bakal terpagut ular berbisa sebelum satu jurus serangannya habis digunakan, saking terkejutnya ia sampai berdiri termangu-mangu tanpa bisa berbuat sesuatu apa pun. 

Beberapa saat kemudian ia baru mendusin dari rasa kagetnya, buru-buru ia loncat ke depan mendekati tubuh suhengnya kemudian dengan gerakan yang cepat menotok tiga buah jalan darah di atas tubuh manusia she Cho dari perguruan Thian Liong Boen ini.

"Suheng, kau tak usah takut," serunya dengan hati bergidik. "Sebentar lagi Song Kiem toa koksu pasti akan tiba disini, dan kau pasti bakal tertolong..."

Berbicara sampai di situ dengan cepat ia putar badan kembali, seluruh tenaga dalam yang dimilikinya dihimpun ke atas telapak kanan, tapi sebelum serangan itu sempat dilontarkan untuk kesekian kalinya jago dari propinsi Liau Tang ini dibikin berdiri tertegun.

Tampaklah ular hijau yang berada di tangan Hee Giong Lam pada waktu itu sedang menggeliat dengan kencangnya di atas senjata pedang suhengnya, termakan oleh gerakan tadi mendadak pedang tersebut patah jadi beberapa bagian dengan menimbulkan suara nyaring, patahan-patahan pedang itu berserakan di atas lantai dalam bentuk yang amat kecil, sedang ular tadi selesai melakukan tugasnya bergerak kembali lagi ke atas lengan majikannya.

"Suhengnya sudah tidak tertolong lagi," terdengar Hee Giong Lam berkata sambil tertawa dingin. "Siapa pun di dalam dunia persilatan mengetahui sampai dimanakah kelihayan dari ular hijauku ini, di dalam tiga jam apabila tiada obat pemunah dariku untuk memunahkan racun yang mengeram dalam tubuhnya maka selembar jiwanya pasti akan melayang..." "Haaaah... haaaah... haaaah... rupanya kau si cucu monyet berwajah kunyuk sedang mengibul gede-gedean di situ," seru Ouw- yang Gong sambil tertawa terbahak-bahak, "Aku si huncwee gede justru tidak percaya kalau ular hijaumu yang begitu kecil bisa demikian lihaynya. Mari...mari... mari... tak ada halangannya kalau kita mencoba-coba..."

Bicara sampai di situ ia sedot huncweenya dalam-dalam, kemudian huncwee gede tadi dengan menciptakan diri dari selapis bayangan hitam yang tebal menotok ke atas batok kepala ular tersebut, serangan ini dilancarkan sedemikian cepatnya sehingga tahu-tahu huncwee tersebut sudah meluncur ke depan.

Siapa tahu ular kecil itu ternyata memiliki gerakan tubuh yang amat gesit, ketika merasakan datangnya ancaman dengan sebat ia miringkan badannya ke samping kemudian secara tiba-tiba meloncat ke depan, lidahnya yang berwarna merah langsung menggigit ke atas wajah Ouw-yang Gong.

Melihat datangnya pagutan sang ular, Ouw-yang Gong tetap bersikap tenang, mendadak ia buka mulut dan menyemburkan asap huncwee yang tebal itu ke hadapan mukanya.

Rupanya ular hijau itu merasa sangat takut dengan kabut huncwee yang amat tebal itu, badannya dengan cepat menyusut mundur ke belakang dan kembali ke atas lengan Hee Giong Lam, sementara sepasang matanya yang kecil dan bersinar merah itu berkedip-kedip lirik, rupanya ia tak berani meluncur ke muka lagi.

Melihat ular itu berhasil dipukul mundur dengan amat bangga Ouw-yang Gong segera tertawa terbahak-bahak.

Haaaah... haaaah... haaaah... anjing buduk anak kunyuk, bagaimana dengan jurus seranganku ini?"

Air muka Hee Giong Lam berubah hebat, sebentar jadi pucat sebentar lagi berubah jadi hijau membesi, hardiknya :

"Ouw-yang Gong, kalau ini hari aku gagal mencabut selembar jiwa anjingmu, aku bersumpah tak akan berlalu dari sini." "Aaah,kentut bau nenekmu yang ketujuh puluh dua kalinya," maki Ouw-yang Gong dengan mata melotot. "Kalau aku si huncwee gede jeri terhadap kau monyet Hee Giong Lam, tak nanti aku berani bergelandangan di dalam dunia persilatan..."

"Heeeh... heeeh.... heeeh... Ouw-yang Gong kurangilah banyolan busukmu itu, coba pikirlah sudah berapa tahun lamanya kau terkurung di dalam lembah selaksa racunku? Apakah kau sudah lupakan kejadian tersebut? Hmm, seandainya bukan Pek In Hoei si keparat cilik itu yang datang menolong..."

"Cuuuh!" dengan gemas kakek Ouw yang meludah di atas lantai. "Kalau kau tidak ungkap persoalan lama mungkin masih mendingan, sekarang setelah kau sebut-sebut kembali peristiwa tersebut hatiku jadi semakin kheki, kau si anak kura-kura kalau tidak menggunakan siasat busuk, dari mana aku Ouw-yang Gong bisa terjebak di dalam perangkapmu..."

Waktu berbiar ludahnya muncrat-muncrat ke empat penjuru, setelah menghisap huncweenya beberapa kali ia segera enjotkan badannya meluncur ke depan, senjata huncwee gedenya laksana petir yang menyambar permukaan bumi menotok ke arah iga si Rasul Racun Hee Giong Lam.

Merasakan datangnya ancaman, cikal bakal dari perguruan seratus racun ini segera loncat ke samping untuk menghindar, serunya sambil tertawa seram :

"Huncwee gede, kau harus tahu bahwa aku Hee Giong Lam bukanlah manusia yang bisa dipermainkan seenaknya..."

Di kala ia sedang melancarkan pukulan untuk balas menyerang lawannya itulah, mendadak dari luar kuil berkumandang datang suara langkah manusia yang amat berat, langkah manusia itu bukan saja perlahan bahkan ketika menginjak genteng yang berhamburan yang nyaring, jelas yang datang bukan seorang saja.

Hee Giong Lam adalah manusia licik yang berakal cerdik, biji matanya segera berputar, pikirnya : "Entah siapakah yang berdatangan itu? Mungkinkah manusia- manusia sekomplotan dengan si huncwee gede Ouw-yang Gong? Kalau yang datang benar-benar adalah para pembantu dari manusia konyol itu, aku seorang she Hee bakal menderita kerugian besar..."

Begitu ingatan tersebut berkelebat lewat dalam benaknya, buru- buru ia menghindarkan diri dari sebuah serangan kilat dari Ouw-yang Gong dan mundur lima enam langkah ke belakang tegurnya :

"Hey si huncwee gede, kau sudah mengundang datang berapa banyak orang pembantu?"

Mula-mula Ouw-yang Gong tertegun, kemudian segera makinya dengan gusar :

"Nenek anjing... anak monyet, sejak kapan aku Ouw-yang Gong pernah memanggil pembantu?..."

Mendengar jawaban itu legalah hati Hee Giong Lam, sebab ia tahu belum pernah Ouw-yang Gong bicara bohong, maka sambil ulapkan tangannya ke arah kakek konyol itu melarang dia berbicara, perhatiannya segera dipusatkan jadi satu untuk memeriksa gerak- gerik di luaran.

Terdengarlah suara langkah manusia itu makin lama semakin mendekat, secara lapat-lapat ia dapat mendengar suara pembicaraan manusia.

Terdengar seorang dengan suara yang kasar dan kaku sedang berkata :

"Toa Koksu, menurut pandanganmu mungkinkah Ouw-yang Gong bisa melarikan diri?"

"Haaaah... haaaah... haaaah... tidak mungkin," sahut Song Kim Toa Lhama sambil tertawa terbahak-bahak. "Cho Ban Tek serta Goei Peng adalah jago kelas satu dari perguruan Thian Liong Boen aliran Utara, andaikata Ouw-yang Gong hendak satu lawan mereka berdua, pasti ia bukan tandingan dari kedua orang itu..."

Ketika si telapak naga Goei Peng mendengar suara dari Song Kim Toa Lhama berkumandang datang, segera teriaknya keras-keras: "Toa Koksu cepat datang, toa suhengku menderita luka parah..." "Hey anak jadah kumal! Siapa suruh kau ngebacot dan berteriak- teriak seperti monyet kelaparan..." bentak Ouw-yang Gong dengan

mata melotot.

Baru saja bentakan itu sirap, dari balik ujung tembok secara beruntun berjalan keluar tiga orang, Song Kim Toa Lhama berjalan duluan disusul oleh Tauw Meh serta Tok See dua orang di belakangnya.

Menyapu sekejap suasana dalam ruangan kuil, ketiga orang itu nampak terkejut dan tidak habis mengerti.

Song Kim Toa Lhama melirik sekejap ke arah tubuh si jago pedang Cho Ban Tek yang menggeletak di atas tanah, kemudian tegurnya :

"Siapa yang telah melukai dirimu?"

"Aku!" Sahut Hee Giong Lam ketus, ia segera melangkah maju setindak ke muka.

Dengan sorot cahaya tajam Song Kim Toa Lhama mengawasi wajah si Rasul Racun Hee Giong Lam, kemudian sambil tertawa dingin ujarnya :

"Ooooh, kiranya dirimu, Perguruan Selaksa Racun hanya suatu perkumpulan kecil, berani betul kau menentang dan melawan kami!" Penghinaan tersebut segera diterima Hee Giong Lam dengan luapan hawa gusar yang tak terkirakan, seluruh tulang belulang dalam tubuhnya bergemerutukan keras, jubah pakaiannya menggelembung

besar dan sorot cahaya buas memancar keluar dari matanya.

"Hey hweesio bau," serunya sambil tertawa seram, "rupanya kau tidak pandang sebelah mata pun terhadap Perguruan Selaksa Racun kami..."

"Hmmm! Hmmm! manusia di kolong langit dewasa ini siapa yang berani menentang dan melawan kekuasaan Sri Baginda pada masa ini? Walaupun Perguruan Selaksa Racun kalian merupakan sebuah partai di dalam dunia persilatan, tapi dalam pandangan kami keluarga Baginda Raja..."

"Hmmm!..." dengan amat gusarnya Hee Giong Lam mendengus keras-keras, pergelangannya diputar dan sang telapak dengan membentuk gerakan busur melancarkan sebuah babatan maut ke arah depan.

Song Kim Toa Lhama segera geserkan badannya berkelit ke samping, kemudian sambil mundur ia balas mengirim pula satu pukulan.

Mendadak Tauw Meh mencabut keluar pedangnya dari dalam sarung, sambil mengirim satu tusukan kilat bentaknya :

"Serahkan saja bajingan she Hee ini kepadaku!"

"Kemungkinan besar manusia she Hee dari Perguruan Selaksa Racun ini adalah komplotan dari Ouw-yang Gong, kalian cepat kirim si huncwee gede itu berlalu dari sini, sedang jago lihay dari Tok-boen ini biarlah aku yang layani..."

Selesai berbicara secara beruntun dia lepaskan dua buah babatan maut memaksa Hee Giong Lam mundur dua langkah ke belakang, Tauw Meh serta Tok See mengerti akan masuk hati dari Song Kim Toa Lhama, secara serentak mereka segera menubruk ke arah Ouw- yang Gong.

Merasakan dirinya ditubruk dengan hebatnya, kontan Ouw-yang Gong memaki kalang kabut :

"Song Kiem bajingan keledai gundul,kalau berbicara mulutmu disikat dulu agar tidak bau! Aku si huncwee gede kenal dengan semua manusia yang ada di kolong langit, tapi tidak kenal dengan cucu monyet anak kura-kura she Hee tersebut, kalau tidak percaya tanyakanlah sendiri kepadanya..."

"Huncwee gede!" seru Tok See dengan suara dingin sambil menyusup mendekati, "Toa Koksu ada perintah untuk mengundang kau pergi menghadap Jie Thaycu kami..." "Nenek anjing monyet jelek! Walaupun aku si huncwee gede sudah menyanggupi untuk tidak ngeloyor pergi, tapi aku tak pernah menyanggupi untuk pergi menjumpai pangeran anak monyet jelek itu," bentak Ouw-yang Gong dengan mata melotot bulat. "Tok See! Kalau kau hendak menggunakan kekerasan terhadap diriku, maka kau sudah salah memilih orang..."

Ketika dilihatnya secara tiba-tiba air muka si huncwee gede itu berubah bersungut, baik Tok See maupun Tauw Meh segera mengerti bahwa urusan telah terjadi perubahan, sebagai dua jago pedang terbaik di kolong langit, mereka segera menggetarkan senjatanya masing-masing menciptakan berkuntum-kuntum bunga pedang yang dingin dan tajam untuk mengurung seluruh tubuh kakek konyol itu.

Dengan ketakutan Ouw-yang Gong mundur selangkah ke belakang, makinya penuh kegusaran :

"Aduuh celaka... rupanya kalian dua orang anak monyet jelek yang borokan hendak mencabut selembar jiwaku... hey! Jangan kasar- kasar terhadap aku tahu?..."

Mendadak tubuhnya mencelat ke angkasa, berada di udara dengan lincah ia berjumpalitan beberapa kali lalu dengan gerakan tegak lurus bagaikan sebatang tombak ia meluncur naik ke atas tiang wuwungan bangunan kuil itu.

Baik Tok See maupun Tauw Meh tak pernah menyangka kalau si kakek konyol itu bakal mengeluarkan jurus serangan seaneh itu, saking mendongkol dan khekinya mereka segera berkaok-kaok dan menyumpah-nyumpah.

Bersandaran di atas tiang penglari Ouw-yang Gong menghisap huncweenya beberapa kali, dua gulung asap hitam disemburkan perlahan-lahan lewat kedua buah lubang hidungnya, lalu sambil memandang Tok See serta Tauw Meh yang sedang mencak-mencak di bawah ia tertawa terbahak-bahak, sikap mengejek sekali. Tauw Meh segera enjotkan badannya meluncur ke tengah udara, berbareng dengan gerakan tersebut cahaya pedang berkilauan mengirim satu tusukan kilat, bentaknya marah :

"Huncwee gede! Sedari kapan kau telah mempelajari kepandaian ngeloyor pergi ini?"

Huncwee gede Ouw-yang Gong menggerakkan senjatanya memukul balik cahaya pedang yang mengancam dirinya...

Traaaang! Seketika itu juga tubuh Tauw Meh yang sedang mumbul ke atas terpukul pental dan melayang turun kembali ke atas lantai.

"Haaaah... haaaah... haaaah... kau tanya aku pelajari ilmu ngeloyor ini sedari kapan?" seru kakek itu sambil tertawa terbahak- bahak. "Baiklah kuberitahukan kepadamu, aku belajar kepandaian ini sedari nenekmu yang burikan itu dilahirkan di kolong langit. Haaaah... haaaah... haaaah... kenapa kalian dua ekor monyet jelek tidak sekalian naik bersama-sama?..."

Tok See serta Tauw Meh mengerti bahwasanya kepandaian silat Ouw-yang Gong yang sebenarnya tidaklah berada di bawah mereka, melihat si kakek itu menggantungkan diri di tengah udara tentu saja kedua orang jago pedang itu dibikin apa boleh buat.

Setelah saling bertukar pandangan sekejap kedua orang itu serentak bersama-sama menubruk ke arah Hee Giong Lam.

Dalam pada itu Hee Giong Lam setelah saling beradu kekuatan sebanyak beberapa jurus dengan Song Kim Toa Lhama, ia mulai merasa tidak tahan dan keteter hebat, melihat Tok See serta Tauw Meh secara tiba-tiba menyerang pula ke arahnya, ia jadi semakin gelisah, buru-buru teriaknya :

"Hey Ouw-yang Gong! Asal kau suka membantu diriku untuk pukul mundur mereka dari sini, sejak ini hari aku Hee Giong Lam berjanji tak akan mencari satroni dengan dirimu lagi, persoalan yang menyangkut dirimu di kemudian hari akan kuanggap sebagai persoalanku pula..." "Haaaah... haaaah... haaaah... tidak bisa jadi, persoalan yang menyangkut kau si anak kura-kura aku tak sudi mencampuri..."

Dalam keadaan terdesak yang dipikirkan Hee Giong Lam dalam hatinya adalah bagaimana caranya memukul ketiga orang jago lihay dari dunia persilatan ini, walaupun makian dari Ouw-yang Gong cukup mengobarkan hawa amarahnya tapi ia tetap sabarkan diri untuk menahan gelora angkara murkanya dalam dada.

Setelah menghembuskan napas panjang, secara beruntun si Rasul Racun dari perguruan Pak Tok Boen ini melancarkan tujuh buah serangan berantai, teriaknya kembali :

"Hey, Ouw-yang Gong! Asal kau mau turun ke bawah untuk membantu diriku, aku Hee Giong Lam akan menyanggupi satu permintaan yang kau ajukan kepadaku..."

Song Kim Toa Lhama yang ikut mendengarkan teriakan-teriakan itu segera tertawa, katanya sambil melepaskan satu pukulan :

"Si huncwee gede sendiri pun tak sanggup melindungi keselamatan jiwanya sendiri, dari mana ia mampu membantu dirimu..."

Sementara itu ketika Ouw-yang Gong melihat Hee Giong Lam berhasil didesak oleh tiga orang jago lihay itu sehingga kesempatan untuk melepaskan makhluk-makhluk berbisanya pun tak sempat, ia jadi kegirangan setengah mati, sambil tertawa terbahak ia bertepuk tangan tiada hentinya.

Dan kini setelah mendengar Hee Giong Lam menyanggupi untuk memenuhi sebuah permintaannya, dengan otaknya berputar, pikirnya

:

"Hee Giong Lam telah mengurung aku si ular asap selama hampir tujuh belas tahun lamanya, sekarang setelah ada persoalan mohon bantuanku, lebih baik aku terima saja, kemudian aku pun akan mengurung dirinya selama dua puluh tahun..."

Berpikir demikian ia lantas gerakkan badannya melayang turun ke bawah, huncwee gedenya digetarkan menotok pinggang Song Kim Toa Lhama. Jurus serangan ini dilancarkan dengan cepat sementara di udara bergema suara desiran tajam.

"Hey anak kura-kura," teriaknya, "setelah kau mengatakan demikian, maka kau harus pegang janji lho..."

Setelah merasakan daya tekanan yang mengurung tubuhnya rada kendur, Hee Giong Lam tarik napas dalam-dalam dan menyahut :

"Tentang soal ini kau si ular asap boleh berlega hati, aku Hee Giong Lam bukanlah seorang manusia yang suka mengingkari janji sendiri!"

Menggunakan kesempatan di kala Ouw-yang Gong sedang bertempur melawan Song Kim Toa Lhama itulah badannya segera mundur ke belakang, ular hijau kecilnya dengan cepat meluncur keluar dari sakunya dan langsung mematuk pedang panjang dari Tok See yang sedang mengancam ke atas tubuhnya.

Si telapak naga Goei Peng yang berada di samping kalangan, begitu menyaksikan Hee Giong Lam telah mengeluarkan kembali ular beracunnya yang maha sakti itu, sekujur badannya seketika bergetar keras saking takutnya, buru-buru ia berteriak keras memperingatkan :

"Tok heng, hati-hati! Ular itu sangat beracun..."

Tok See putar gerakan pedangnya ke samping, dari balik gerakan senjatanya segera muncullah pancaran cahaya dingin yang menggidikkan, menyongsong kehadiran ular hijau itu ia babat tubuh binatang tersebut.

Babatan ini datangnya amat cepat dan tajamnya sukar dilukiskan dengan kata-kata"

Ciiit...! Ular hijau itu mencilit aneh, lidah merahnya yang tajam memuntir di tengah udara, meminjam gerakan tubuhnya yang menyungkit ke atas secara tiba-tiba ia alihkan ancamannya mematuk tubuh Tauw Meh.

Rupanya Tauw Meh tidak menyangka kalau ular hijau itu dapat meluncur ke arahnya dengan gerakan yang begitu cepat, sebelum pedangnya sempat digerakkan untuk menyerang, mendadak kakinya terasa disambar angin dingin diikuti sebuah benda menyusup masuk lewat lubang celananya dan merangkak naik ke atas.

Makhluk dingin dan licin lunak itu bergerak terus menyusup ke atas paha, ia jadi kaget dan ketakutan sehingga tubuhnya berguling- guling di atas tanah, teriaknya dengan amat ketakutan :

"Tok See benda apakah itu..."

Dengan cepat Tok See alihkan sinar pandangannya ke arah benda yang sedang bergerak-gerak menyusup ke dalam celana sahabatnya, tapi dengan cepat wajahnya berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, dengan suara gemetar karena ketakutan teriaknya :

"Aaaaah, ular... ular..."

Kendati Tauw Meh mempunyai nyali yang amat besar dan tidak takut langit atau pun bumi, tapi sejak kecil ia paling takut dengan ular. Kini setelah mendengar makhluk dingin, licin dan lunak yang sedang merangkak dalam celananya adalah ular ia jadi gemetar keras karena ketakutan, seraya membuang pedang dalam genggamannya ia

berteriak-teriak keras :

"Tolong... tolong... ada ular... tolong singkirkan ular dalam celanaku..."

Sambil berteriak ia lari ke sana kemari dengan takutnya, dalam waktu singkat jago pedang she-Tauw itu sudah mengelilingi ruang kuil tersebut sebanyak dua kali.

Rupanya ular hijau itu ada maksud untuk menggoda korbannya, dari kaki perlahan-lahan binatang tadi merangkak naik ke bawah kemudian muncul dari sisi leher dan menjilat-jilat wajahnya.

Menyaksikan anak buahnya dibikin ketakutan karena seekor ular, Song Kim Toa Lhama segera loncat ke depan, serunya :

"Cepat tangkap bagian tujuh coen-nya..."

Suasana dalam kuil bobrok itu untuk beberapa saatnya berubah jadi hening dan sunyi karena tingkah laku Tauw Meh yang mengenaskan itu. Siapa pun tak pernah menyangka kalau gara-gara seekor ular hijau ternyata membuat seorang jago pedang dari angkatan muda dibikin ketakutan setengah mati sampai berlarian ke sana kemari sambil berteriak-teriak histeris...

Air muka Song Kim Toa Lhama berubah hebat, laksana kilat tubuhnya meluncur ke depan, berada di tengah udara ia berputar dengan suatu gerakan manis kemudian melayang ke hadapan Tauw Meh.

Ketika tubuhnya masih berada di tengah udara, pendeta itu segera membentak lagi :

"Cepat cekal bagian tujuh coen-nya..."

Walaupun Tauw Meh memiliki kepandaian silat yang maha sakti, tetapi terhadap makhluk lunak yang mengerikan itu ia paling merasa takut, pada saat itu dengan badan gemetar keras dan wajah hijau membesi ia berdiri mematung tanpa berani bergerak barang sedikit pun jua.

"Toa Koksu!" terdengar ia berseru dengan suara gemetar. "Tolong bantulah diriku..."

Wajahnya mengenaskan sekali, dari sorot matanya jelas terlihat betapa besarnya harapan jago muda ini untuk memperoleh bantuan dari Koksunya ini.

Menyaksikan keadaan Tauw Meh yang begitu mengenaskan serta bernyali kecil, tanpa terasa Song Kim Toa Lhama tertawa dingin, ia ada maksud mendemonstrasikan kelihayannya di depan orang, telapak tangannya laksana sambaran kilat segera meluncur ke depan melakukan penangkapan.

"Heeeh... heeeeh... heeeeh. makhluk sialan, kau pun berani bikin keonaran di sini.

Di mana jari telapaknya meluncur datang, desiran angin tajam yang memekakkan telinga membelah angkasa, tampak bayangan telapak menyambar lewat dan tahu-tahu ular kecil tadi sudah tercekal dalam genggamannya. "Hmm! Makhluk jelek seperti ini pun berani kau gunakan untuk menakut-nakuti orang..." kembali Song Kim Toa Lhama mengejek sambil tertawa seram.

Hawa lweekang yang dimilikinya segera dihimpun ke dalam tubuh, sepasang telapaknya mencengkram kepala serta ekor ular tadi kemudian ditariknya ke samping.

Ular hijau itu mencuit nyaring, mendadak tubuhnya menyusut menjadi semakin kecil, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya kekuatan ular tersebut.

Hee Giong Lam yang menyaksikan perbuatan pendeta gundul itu dengan cepat tertawa dingin, jengeknya :

"Kalau kau sanggup membetot ular itu hingga patah jadi dua bagian, anggap saja aku Hee Giong Lam yang menderita kalah!"

Rupanya Song Kim Toa Lhama tak pernah mengira kalau ular hijau itu mempunyai kekuatan yang demikian besarnya, ia mendengus dingin, segenap kekuatan yang dimilikinya dihimpun ke dalam telapak kemudian sekali lagi dibetotnya keras-keras.

Seketika itu juga ular hijau tadi tertarik hingga lurus bagaikan pena, namun makhluk tadi belum berhasil juga dibetot putus.

"Hmmm..."

Mendadak Song Kim Toa Lhama mendengus rendah, segumpal bau amis yang menusuk hidung tersebar di angkasa, titik darah kental berceceran di atas permukaan tanah, dalam suatu sentakan yang amat dahsyat tubuh ular hijau itu tersentak putus jadi beberapa bagian dan rontok ke bawah.

Air muka si Rasul Racun Hee Giong Lam berubah hebat, kembali ayunkan tinjunya ke depan hardiknya :

"Bajingan gundul, kau harus dibunuh..."

Angin pukulan menderu-deru, pukulan ini disodokkan langsung ke arah dada musuh dengan kekuatan hebat. Song Kim Toa Lhama geserkan badannya ke samping untuk berkelit, dengan suatu gerakan manis tahu-tahu ia telah meloloskan diri dari ancaman tersebut.

Kemudian sambil tertawa dingin ejeknya :

"Kalau terlalu sombong, jumawa dan tidak pandang sebelah mata pun terhadap orang lain, bahkan mau cari gara-gara dengan pihak keluarga Kaisar... Hmmmm! Hmmmm...! itulah artinya mencari kesulitan bagi diri sendiri!"

Ouw-yang Gong yang ikut mendengarkan pembicaraan itu dari samping kalangan mendadak jadi naik pitam sembari sapukan huncwee gedenya ke arah lawan makinya :

"Anak jadah cucu monyet...! Kau si bajingan botak pun berani sembarangan melepaskan angin busuk disini..."

Tok See segera ayunkan pedangnya dari samping, cahaya tajam yang berkilauan berkelebat memenuhi angkasa, di mana ujung pedang itu bergetar seketika terciptakan berbintik-bintik kilatan cahaya di mana langsung meluncur ke arah Ouw-yang Gong.

"Hey ular asap tua!" serunya sambil tertawa dingin, "kau berani memaki toa Koksu kami dengan kata-kata kotor..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... neneknya! kau si anak kura-kura pun berani kurang ajar kepadaku..." Ouw-yang Gong tertawa terbahak-bahak.

Huncwee gedenya mendadak digetarkan keluar, sekilas cahaya tajam menyapu lewat langsung menghajar tubuh musuh.

"Traaaaang...!"

Tok See merasakan pergelangannya bergetar keras, percikan bunga api muncrat ke empat penjuru, termakan oleh totokan senjata lawan pedangnya tersampok miring sehingga hampir saja terlepas dari genggamannya.

Dengan hati terkesiap tercampur ngeri buru-buru badannya mundur lima enam langkah ke belakang lalu menatap wajah si orang tua itu dengan mata mendelong. Dalam pada itu setelah si huncwee gede Ouw-yang Gong berhasil memukul mundur Tok See dalam sejurus, ia segera mendongak tertawa terbahak-bahak dan menghisap huncweenya berulang kali, asap putih mengepul keluar lewat lubang hidungnya sedang sepasang mata menatap Song Kim Toa Lhama tajam, senyuman mengejek tersungging di ujung bibirnya.

Kiranya pada waktu itu Song Kim Toa Lhama sedang berdiri di tengah kalangan dengan wajah berkerut kencang, kemudian ia meraung keras dengan penuh rasa kesakitan, telapak yang sedang direntangkan secara tiba-tiba menyambar ke atas kakinya sendiri.

"Bangsat..." teriaknya dengan penuh kegusaran. "Ular sialan, sudah modar pun kau masih tidak terima..."

Dalam genggamannya tercekal potongan ular yang barusan dibetot putus itu, sedangkan pada moncong ular yang telah putus tadi tergigit segumpal daging yang berlumuran darah.

Semua orang dalam ruangan itu jadi amat terperanjat, terlihatlah kaki Song Kim Toa Lhama telah terluka lebar, segumpal dagingnya copot tergigit ular tadi sehingga darah segar mengucur keluar tiada hentinya membasahi seluruh celana dan permukaan tanah.

Pendeta itu gusar bercampur mendongkol, dengan rasa penuh kebencian digenggamnya kepala ular yang telah terpotong tadi lalu dipencet sekeras-kerasnya hingga hancur berhamburan di atas tanah, setelah itu cepat-cepat ia ambil keluar sebutir pil dan dimasukkan ke dalam mulutnya, hawa murni disalurkan mengelilingi seluruh tubuh berusaha melawan cairan racun ular yang telah menyusup ke dalam badannya itu.

Melihat Song Kim Toa Lhama terluka, Hee Giong Lam segera tertawa terbahak-bahak dengan hati gembira, serunya :

"Ular hijauku adalah termasuk salah satu makhluk paling beracun yang ada di kolong langit, meskipun ilmu silatmu sangat lihay, jangan harap hawa murnimu sanggup melawan daya kerja racun keji yang sangat dahsyat itu. Haaaah... haaaah... haaaah... hidupmu tak akan lebih lama dari lima jam lagi..."

Sekujur tubuh Song Kim Toa Lhama gemetar keras setelah mendengar ancaman ini, tergopoh-gopoh ia duduk bersila di atas tanah dan menggunakan sim hoat tenaga lweekangnya ia berusaha memaksa keluar racun ular yang mulai menyebar ke seluruh tubuhnya itu.

Dalam pada itu Tauw Meh yang menyaksikan Song Kim Toa Lhama menderita luka racun yang begitu parahnya lantaran hendak menolong dirinya, dalam hati merasa teramat sedih, ia segera menenteramkan hatinya dan selangkah demi selangkah berjalan mendekati tubuh Rasul Racun Hee Giong Lam dengan wajah penuh napsu membunuh.

"Makhluk racun tua!" serunya sambil tertawa dingin, pedangnya diangkat menghadap ke angkasa. "Cepat serahkan obat pemunahnya kepadaku..."

"Hmmm! Tidak semudah itu kawan..."

Tauw Meh membentak gusar, pedangnya sambil bergetar maju dua langkah ke depan. Dalam sekejap mata tampaklah cahaya tajam yang berkilauan mengelilingi seluruh tubuhnya.

Di tengah kerlipan cahaya berkilauan itulah kembali ia menghardik :

"Rupanya kau pengin modar..." Criiiit....! Criiiit !

Cahaya pedang membumbung ke angkasa, sekilas cahaya tajam menembusi udara mengancam tubuh lawan. Di tengah desiran tajam laksana kilat ujung pedangnya menusuk ulu hati Hee Giong Lam.

Si Rasul Racun ini meraung keras, telapak kirinya didorong ke depan, segumpal hawa pukulan yang amat dahsyat bagaikan guntur membelah bumi meluncur ke muka menyongsong kedatangan titik cahaya pedang musuh. Telapak tangan yang diluncurkan ke muka tadi secara mendadak berubah jadi merah membara, bagikan sebuah jepitan baja yang membara diiringi hawa panas yang menyengat badan segera menggulung ke arah muka.

Cahaya pedang yang dipancarkan Tauw Meh setelah termakan oleh pukulan 'Hiat Chiu Eng' yang amat berat itu seketika tak sanggup menahan diri, badannya mundur empat lima langkah ke belakang sementara pedangnya hampir saja terlepas dari genggamannya.

Sekalipun begitu pantulan cahaya kilat yang terpancar keluar diiringi suara desiran tajam itu masih tetap meneruskan daya luncurnya ke arah depan...

Melihat pukulan 'Hiat Chiu Eng' yang ia pancarkan hanya sanggup menahan sebentar bayangan pedang lawan, Hee Giong Lam merasa amat terperanjat.

Ujung jubahnya segera dikebaskan keluar, bagaikan bayangan setan ia meluncur ke angkasa, di tengah udara ia membentak keras, telapak kirinya diayun mengirim satu pukulan sementara lima jari tangan kanannya dengan memancarkan lima buah jalur hawa hitam menyebar ke seluruh kalangan.

Tauw Meh terkesiap, satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benaknya :

"Hee Giong Lam tersohor di kolong langit karena pukulan- pukulan beracunnya, hawa hitam yang dipancarkan dari jari tangan tersebut pasti mengandung hawa racun yang hebat, kalau aku harus beradu kekerasan dengan dirinya perbuatan ini boleh dibilang terlalu menempuh bahaya..."

Ingatan tersebut bagaikan sambaran kilat berkelebat di dalam benaknya, buru-buru Tauw Meh tarik kembali pedangnya sambil meloncat mundur ke belakang, teriaknya :

"Tok heng, mari kita bereskan dahulu bangsat ini!"

Sementara itu tubuh Tok See laksana busur yang melengkung berkelebat menembusi angkasa, pedang di dalam genggamannya dengan menciptakan selapis cahaya hijau segera membabat ke atas batok kepala Rasul beracun itu.

Menghadapi serangan dua orang musuh dari arah yang bertentangan, Hee Giong Lam segera membentak gusar :

"Bangsat yang tidak tahu malu..."

Tubuhnya yang tinggi besar mendadak meloncat ke tengah udara, berada di angkasa ia merandek sejenak, dengan gerakan yang manis itulah ia berhasil melepaskan diri dari ancaman kedua bilah cahaya pedang itu tanpa mengalami cedera apa pun.

******

Bagian 20

TETAPI Tok See serta Tauw Meh adalah sepasang jago pedang yang punya pengalaman luas dalam pertarungan, tubuh mereka tiba-tiba merandek sementara sepasang pedang itu segera berubah posisi dan mengejar ke atas, cahaya pedang berkilauan dari dua arah yang berbeda segera menggulung ke satu sasaran yang sama.

Kendati Hee Giong Lam adalah seorang ketua dari perguruan seratus racun, apa daya kepandaian silat dari kedua orang pemuda ini memang lihay sekali,ia jadi terkesiap dan satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benaknya.

Ia berpikir di dalam hati :

"Menyaksikan aku diserang oleh dua orang musuh tangguh si Ular asap tua sama sekali tiada bermaksud membantu diriku, jelas ia ada maksud menyusahkan diriku. Rasanya tak ada gunanya aku berdiam terlalu lama disini, lebih baik di kemudian hari saja kutuntut balas atas hutang piutang pada hari ini..."

Mendadak ia melancarkan empat buah serangan berantai diikuti dilepaskan pula beberapa pukulan dengan kekuatan yang berbeda, memaksa Tauw Meh serta Tok See terdesak mundur beberapa langkah ke belakang, menggunakan kesempatan itulah ia melayang ke udara kemudian meluncur keluar ruangan. Si Huncwee gede Ouw-yang Gong segera mengerutkan dahinya, ia memaki :

"Anak jadah cucu monyet, kau mau ngeloyor kemana..."

Pada saat ini Hee Giong Lam telah mengambil keputusan untuk melarikan diri dari situ, ia mendengus dingin, tubuhnya yang berada di tengah udara secara beruntun berganti beberapa gerakan, meskipun kepandaian Tauw Meh serta Tok See cukup ampuh, tak urung kecepatan mereka rada terlambat setindak.

Sambil membabatkan pedangnya ke tengah angkasa, Tok See membentak keras :

"Kau pengin lari dengan begini saja?" Tidak gampang..."

Baru saja ucapan itu selesai diutarakan mendadak terlihatlah tubuh Hee Giong Lam yang sedang meluncur di angkasa melayang ke atas tanah, diikuti sebilah pedang menerobos masuk dari luar pintu, hampir saja menyayat wajah Rasul Racun itu.