Imam Tanpa Bayangan I Jilid 11

 
Jilid 11

"UCAPAN Kong-yo heng sedikit pun tidak salah," sahut seseorang di antara para jago yang hadir dengan suara serak bagaikan tong bobrok. "Aku rasa di daratan Tionggoan dewasa ini tiada seorang pun yang cocok untuk menduduki kursi jabatan tertinggi itu kecuali kalian suami istri berdua..."

Ucapan orang ini terlalu terang-terangan dan menyolok sekali, seketika itu juga memancing rasa benci dan tidak puas di kalangan sebagian besar para jago.

Ketika semua orang menoleh ke arah si pembicara tadi, maka segera dikenalilah orang itu sebagai si tangan kilat Im Boe Kie dari partai Khong-tong pay, seorang lelaki kekar berwajah penyakitan segera mendengus dingin, sambil berjalan menghampiri Im Boe Kie si tangan kilat tersebut tegurnya dengan suara keras :

"Manusia macam apakah kau ini Hmmm! Berani betul sembarangan kentut disini..."

Si Tangan Kilat Im Boe Kie menoleh dan memandang ke atas wajah berwajah penyakitan itu, tapi sedetik kemudian ia sudah gemetar keras karena ketakutan, ia merasa betapa tajam dan seramnya pandangan mata orang itu sehingga membuat jantungnya berdebar keras. 

Tapi ia pun tak mau unjuk kelemahan di hadapan orang, segera dengusnya dingin.

"Siapa kau? Berani betul mengutarakan perkataan yang begitu tak tahu diri terhadap diriku?" "Hmmm, terhadap manusia hina seperti kau rasanya aku tak usah tahu diri atau sungkan-sungkan lagi..."

Si tangan kilat Im Boe Kie meraung gusar, sebuah telapak tangannya segera dibabat datang.

Dengan julukannya sebagai si tangan kilat, serangannya ini boleh dibilang dilancarkan dengan kecepatan yang luar biasa, sekali berkelebat tahu-tahu angin pukulan sudah melanda datang.

Siapa sangka lelaki kasar yang membungkam selama ini memiliki tenaga lweekang yang amat tinggi, sedikit badannya mengigos tahu-tahu bayangan telapak lawan sudah berhasil dihindar, tangannya menyambar dan kali ini tubuh Im Boe Kie si tangan kilat itulah yang tersambar dan terlempar ke tengah udara, bentaknya :

"Enyah kau dari sini..."

Di bawah sorot cahaya lampu, tampaklah tubuh si tangan kilat Im Boe Kie meluncur sejajar di tengah udara dan langsung meluncur ke arah bangunan pagoda di tengah telaga itu persis melayang turun di hadapan sepasang iblis dari samudra Seng Sut Hay.

"Im Heng, jangan gugup aku segera datang menolong," bentak Ciak Kak Sin Mo Kong Yo Leng dengan suara keras.

Kakinya bergeser selangkah ke depan diikuti telapak tangannya menyambar ke tengah udara, terhisap oleh segulung tenaga yang maha hebat seluruh tubuh Im Boe Kie si tangan kilat itu sudah meluncur ke arah tangannya.

Dalam pada itu air muka Im Boe Kie telah berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, sepatah kata pun tak sanggup ia utarakan keluar.

Sambil menurunkan tubuh si tangan kilat Im Boe Kie ke atas tanah, Kong Yo Leng tertawa seram dan berkata :

"Sungguh lihay ilmu silat yang dimiliki Heng-thay ini! Hmmm...hmmm... kau berani menimbulkan gara-gara di dalam perkampungan Thay Bie San cung kami, bukankah hal itu berarti pula tidak memandang sebelah mata pun terhadap orang-orang yang ada di dalam perkampungan Thay Bie San cung?... sekarang mumpung berada di hadapan para jago dari kolong langit aku hendak menuntut keadilan dengan dirimu..."

"Ciis...! perkampungan Thay Bie San cung terhitung manusia- manusia macam apa?" jengek lelaki kekar itu dengan suara ketus, sedikit pun tidak nampak rasa jeri di atas wajahnya. "Seandainya toa- ya jeri terhadap kalian sepasang iblis dari samudra Seng Sut Hay, tidak nanti aku bisa datang kemari..."

"Criiing... criiiing..."

Dua rentetan sentilan irama khiem bergema memenuhi angkasa, sambil mendengus dingin si Iblis Khiem Kumala Hijau maju dua langkah ke depan, ke-lima jarinya mencekal di atas senar khiem sementara matanya dengan sorot cahaya tajam mengawasi lelaki itu tanpa berkedip serunya :

"Siapa kau? Kalau kau berani mencari gara-gara di dalam perkampungan Thay Bie San cung ini berarti kau mencari penyakit buat diri sendiri..."

"Kepandaian permainan khiem yang kau miliki dan disebut-sebut sebagai maha sakti dari kolong langit itu sudah lama pernah kucoba kelihayannya," ujar lelaki dengan wajah dingin. "Huuuh! kalau hanya ingin mengandalkan kekuatan dari kalian sepasang iblis dari samudra Seng Sut Hay, tak nanti bisa mengapa-apakan diriku."

Ia merandek sejenak, kemudian hardiknya keras-keras : "Cepat panggil Hoa Pek Tuo suruh keluar..."

Sikap serta tingkah lakunya yang sombong serta jumawa ini kontan membuat Chin Tiong yang berdiri di belakang Ciak Kak Sin Mo Kong Yo Leng mencak-mencak saking gusarnya, sambil berkaok- kaok marah teriaknya :

"Keparat Cilik, kau anggap nama Hoa Pek Tuo pun bisa kau sebutkan dengan seenaknya..."

Sembari berseru badannya menerjang ke depan, dengan melangkah di atas gulungan ombak pada permukaan telaga ia langsung menyerbu tubuh lelaki kekar itu. Sebuah pukulan diiringi deruan angin serangan yang amat tajam kontan dilancarkan menghajar dada lawan.

"Haaaah... haaaah... haaaah... Chin Tiong, kalau aku tidak membiarkan kau mati disini, maka aku tak akan terhitung manusia berdarah dingin," seru lelaki itu sambil tertawa terbahak-bahak.

Tampak tubuhnya berkelit dengan enteng ke samping lalu mundur lima depa ke belakang sambil mendengus dingin telapaknya membabat keluar, segulung hawa desiran yang luar biasa dahsyatnya dengan cepat menyapu ke arah depan.

Chin Tiong sama sekali tidak memandang sebelah mata pun terhadap lelaki ini, ketika dilihatnya angin pukulan lelaki tersebut kendati sangat dahsyat namun tidak lebih hanya terbatas sebagai seorang jago kelas satu segera tertawa dingin tiada hentinya.

Mendadak tubuhnya menjongkok ke bawah, dari kepalan serangannya berubah jadi pukulan telapak, menyongsong datangnya gulungan angin pukulan itu ia sambut dengan keras lawan keras.

"Blaaam...!

Di tengah udara terjadi suara ledakan amat dahsyat yang menggetarkan seluruh permukaan bumi, para jago yang memenuhi tepi telaga itu seketika merasakan telinganya mendengung keras, begitu dahsyat hasil bentrokan tersebut sehingga membuat ujung baju semua orang tertiup kencang dan berkibar tiada hentinya.

Chin Tong mundur dengan sempoyongan, namun sambil tertawa tergelak segera serunya kembali :

"Keparat cilik, seranganku kali ini akan mencabut selembar jiwa anjingmu..."

Ia tarik napas dalam-dalam, mendadak telapak kanannya diangkat ke tengah udara.

Segera lapat-lapat dari atas telapak tangannya itu muncul selapis hawa hitam yang tebal, kemudian perlahan-lahan ditabokkan ke atas tubuh lelaki tersebut. Air muka lelaki itu berubah membesi, selintas pikiran dengan cepat berkelebat dalam benaknya,ia berpikir :

"Seumpama kata aku hendak membinasakan diri Chin Tiong maka aku harus menggunakan kesempatan di kala ia belum tahu siapakah diriku, melancarkan serangan dengan ilmu Thay Yang sam Sie dengan demikian sebelum ia sadar siapakah aku tubuhnya sudah hangus termakan oleh serangan dahsyatku itu..."

Ingatan tersebut bagaikan sambaran kilat cepatnya berkelebat dalam benaknya, buru-buru ia himpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya ke atas telapak kanannya, kemudian hawa murni yang ada di dalam tubuh diatur mengelilingi badan sebanyak satu kali, tubuhnya maju tiga langkah ke depan dan telapak kanannya dibabat ke bawah secepat kilat.

Mendadak sekilas cahaya merah membara yang amat menyilaukan mata memancar keluar dari balik telapak lelaki kekar itu, begitu tajam pukulan cahaya merah membara itu sampai membuat pandangan Chin Tiong terasa kabur, ia tak tahu kepandaian apakah yang sedang dipergunakan pihak lawannya.

Kedua belah pihak sama-sama menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya ke atas telapak, kemudian pada saat yang bersamaan mendorongnya ke arah depan.

"Blaaam...!"

Segulung aliran hawa panas yang menyengat badan meluncur ke depan menghapuskan gulungan angin serangan Chin Tiong yang dahsyat dan langsung menerjang ke atas dadanya...

Ia menjerit ngeri... suaranya seram menyayatkan hati, tubuhnya yang tinggi besar berkelejotan beberapa kali di atas tanah bagaikan ayam yang baru disembelih kemudian menggeletak tak berkutik dan melayanglah selembar jiwanya menghadap Raja Akhirat.

Segumpal darah kental berwarna merah kehitam-hitaman meleleh keluar dari tujuh lubang inderanya, sebuah bekas telapak tangan yang nyata tertera tepat di atas dadanya, pakaian yang hangus terbakar menyiarkan bau sangit yang memualkan, ditinjau dari tanda- tanda tersebut jelas sekali menunjukkan bila kematiannya adalah disebabkan karena terbakar oleh hawa panas yang luar biasa.

Kematian Chin Tiong dalam keadaan mengerikan ini menggetarkan hati seluruh jago lihay dari pelbagai partai yang hadir di tempat itu, siapa pun tak bisa menduga kepandaian silat apakah yang telah dipergunakan lelaki itu untuk melakukan pembunuhan tersebut, bahkan tak seorang pun yang tahu lelaki kekar itu berasal dari perguruan atau partai mana.

Tapi dalam hati kecilnya pada saat bersamaan mempunyai satu pendapat yang sama, mereka pada berpikir :

"Sejak kapan di dalam dunia persilatan telah muncul seorang jago lihay seperti ini..."

Baik si Iblis Sakti Berkaki Telanjang Kong Yo Leng maupun si Iblis Khiem Kumala Hijau Mie Liok Nio pada saat yang bersamaan sama-sama dibikin tertegun dan melengak oleh peristiwa yang terjadi di luar dugaan ini, mimpi pun mereka tak pernah menyangka kalau lelaki kekar yang selalu membungkam dan jarang berbicara itu ternyata memiliki kepandaian silat yang maha dahsyat dan maha sakti.

Bibir Kong Yo Leng bergetar tiada hentinya, terdengar ia bergumam seorang diri dengan suara lirih :

"Thya Yang sinkang... Thay Yang Singkang..."

"Hey tua bangka sialan, apa kau bilang?" bentak Mie Liok Nio dengan nada gusar.

"Kepandaian tersebut adalah ilmu silat Thay Yang Sam-sie... " sahut Kong Yo Leng dengan wajah berubah hebat.

"Apa?" Iblis Khiem Kumala Hijau maju selangkah ke depan. "Kepandaian tersebut adalah ilmu sakti Thay Yang Sam-sie..."

Ia tak habis mengerti dan tak dapat menduga manusia kangouw manakah yang sanggup menggunakan ilmu Thay Yang Sin Kang yang tersohor karena keganasan serta kedahsyatannya itu, biji matanya langsung berputar dan dialihkan ke atas tubuh lelaki kekar itu.

Dalam pada itu ketika Ku Loei menyaksikan Chin Tiong menemui ajalnya dalam keadaan mengerikan di tangan kekar itu, bagaikan orang sinting segera berteriak-teriak keras, tanpa berpikir panjang ia segera menerjang ke arah tepi telaga.

"Keparat cilik serahkan nyawamu..." raungnya dengan penuh kegusaran.

Si Iblis Sakti Berkaki Telanjang Kong Yo Leng jadi sangat terperanjat ketika menyaksikan perbuatan Ku Loei, buru-buru hardiknya dengan suara berat :

"Ku Loei, ayoh cepat kembali ke sini!"

Jago lihay dari laut Seng Sut Hay ini tidak malu disebut gembong iblis yang tersohor di kolong langit, ia tahu kemunculan lelaki kekar secara mendadak di tempat itu pastilah bukan disebabkan oleh karena suatu persoalan yang sederhana, karena itu sambil menekan hawa amarah serta kobaran napsu membunuh yang berulang kali memancar ke dalam benaknya, dengan gesit meloncat ke muka.

Karena dibentak oleh iblis tersebut terpaksa Ku Loei mundur dua langkah ke belakang, sementara sorot matanya dengan penuh diliputi napsu membunuh menatap lelaki kekar itu tanpa berkedip.

"Ku Loei," terdengar lelaki kekar itu menjengek sambil tertawa dingin tiada hentinya. "Apakah kau pun ingin coba menjajal kepandaian silatku?"

Kong Yo Leng segera tertawa dingin, serunya ketus :

"Dengan andalkan kepandaian silat yang kau miliki sekarang, tidak sulit bagimu untuk angkat nama di pelbagai tempat, tapi seandainya kau ingin menjual lagak di dalam perkampungan Thay Bie San cung ini... Hmm... hmmm... maka perhitungan sie-poamu itu merupakan suatu kesalahan yang amat besar..."

"Cuuuuh!..." lelaki kekar itu meludah ke atas lantai. "Kong Yo Leng! terus terang kuberitahukan kepadamu, aku adalah toa suheng dari si Pendekar Jantan Berkapak Sakti Chee Thian Gak, setelah menemui ajalnya terkena tangan keji dari Hoa Pek Tuo serta Kioe Boan Toh si dukun sakti berwajah seram, maka ini hari sengaja aku datang kemari untuk menuntut balas..."

Kong Yo Leng melengak, ia tidak menyangka setelah kematian dari Pek In Hoei muncul seorang jago yang bernama Chee Thian Gak, dan sekarang muncul lagi seorang kakak seperguruan dari Chee Thian Gak, di balik peristiwa ini sebenarnya apa yang telah terjadi?

Dengan wajah tercengang segera tegurnya :

"Kau adalah kakak seperguruan dari Chee Thian Gak..." iblis ini segera tertawa dingin. "Sekalipun maksud kedatanganmu kemari adalah untuk menuntut balas, sudah semestinya kalau kau datang secara terang-terangan dan blak-blakan, tindakanmu membunuhi manusia yang ada di dalam perkampungan Thay Bie San cung termasuk tindakan dari seorang enghiong hoohan macam apa? Mumpung berada di hadapan para jago dari seluruh kolong langit, aku akan menuntut keadilan dari dirimu..."

Mendengar ucapan tersebut lelaki kekar tadi segera mendongak dan tertawa terbahak-bahak :

"Haaaah... haaaah... haaaah... Kong Yo Leng, siapa pun tahu bahwa kau serta Hoa Pek Tuo mempunyai ambisi besar untuk menguasai seluruh dunia persilatan, ini hari kecuali aku datang untuk menuntut balas di samping itu akan kubeberkan pula semua niat busuk serta rencana busuk kalian kepada seluruh umat Bu-lim..."

Sekujur badan Kong Yo Leng bergetar keras, segera pikirnya : "Aaaaah, rupanya persoalan kami yang berhasil diketahui

bangsat ini terlalu banyak, malam ini andaikata ia berhasil membeberkan semua rahasia dan rencana besar perguruan Liuw-sah Boen kami ke seluruh dunia, kerja susah payahku selama hampir dua puluh tahun lamanya ini bukankah akan sia-sia belaka? Bahkan mungkin saja malah akan memancing rasa permusuhan dari orang- orang pelbagai partai terhadap diriku. Bagaimanapun juga aku tak boleh melepaskan keparat cilik ini berlalu dari sini dalam keadaan hidup, tapi aku pun tak dapat membinasakan dirinya di hadapan orang banyak... lalu... lalu... apa yang harus kulakukan demi menyelamatkan karierku ini..."

Sementara gembong iblis ini masih berputar otak untuk mencari jalan bagaimana caranya melenyapkan lelaki kekar ini, mendadak di tengah kegelapan malam yang mencekam seluruh jagad berkumandang datang suara tertawa dingin yang menggidikkan hati, diikuti munculnya seorang manusia berkerudung hitam meluncur ke dalam kalangan.

Begitu munculkan diri manusia berkerudung hitam itu langsung ayunkan telapak tangannya mengirim satu babatan dahsyat ke arah lelaki kekar tersebut.

Menyaksikan munculnya manusia berkerudung itu, Kong Yo Leng jadi sangat kegirangan, pikirnya :

"Hoa Pek Tuo benar-benar seorang manusia luar biasa, ia tahu kalau aku tak dapat turun tangan secara terang-terangan, ternyata ia bisa muncul dengan jalan menyaru untuk melenyapkan bangsat sialan ini..."

Sementara itu pertarungan di tengah kalangan berlangsung dengan serunya, dalam sekejap mata lelaki kekar itu telah saling bertukar pukulan sebanyak sembilan belas jurus dengan manusia berkerudung hitam itu, tapi untuk beberapa saat lamanya siapa pun tak sanggup untuk membinasakan pihak lawannya.

Mendadak lelaki kekar itu menghindar lalu mundur ke belakang, bentaknya keras :

"Kau adalah Hoa Pek Tuo!"

Sinar mata manusia berkerudung hitam itu berkilat bengis, sekujur tubuhnya bergetar keras tapi sambil tertawa seram serunya :

"Hmmmm... hmmmmm   siapakah Hoa Pek Tuo itu?"

"Hmmm! Bukankah kau takut aku membongkar niat busuk kalian di hadapan umum maka sekarang berusaha untuk melenyapkan diriku dari muka bumi? Hoa Pek Tuo! dari sorot matamu aku sudah tahu akan perasaan hatimu saat ini..."

"Hmm... keparat cilik, tiada gunanya banyak bacot di tempat ini..."

Rupanya manusia berkerudung hitam itu merasa teramat gusar oleh tingkah laku lawannya, sambil membentak keras tubuhnya segera meloncat ke depan, telapak kirinya sambil berputar membentuk satu lingkaran busur segera dihantamkan ke depan, sementara telapak kanannya dengan jurus 'Ngo Teng Kay San' atau Ngo Teng membuka gunung membabat tubuh lawan.

Dengan sebat dan gesit lelaki kekar itu berkelejit ke tengah udara, setelah berhasil menghindarkan diri dari dua buah serangan lawan, tubuhnya berjumpalitan di tengah udara kemudian kaki kiri dan kaki kanannya secara mendadak melancarkan tendangan berantai.

"Aaaah dia..." mendadak si Iblis Khiem Kumala Hijau menjerit lengking. "Dia adalah Pek In Hoei..."

Mendengar jeritan itu lelaki kekar yang sedang melangsungkan pertarungan sengit di kalangan itu seketika bergetar keras tubuhnya, seakan-akan ia merasa terkejut oleh teriakan itu. Tapi hanya sejenak saja sebab secara tiba-tiba sambil tertawa terbahak-bahak tubuhnya berkelebat ke samping dan mengundurkan diri ke belakang, tangannya dengan cepat menggosok ke atas wajah sendiri dan muncullah raut wajahnya yang tampan menawan hati itu.

Sedikit pun tidak salah, dia bukan lain adalah si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei adanya.

Sambil menarik kembali gelak tertawanya Pek In Hoei berteriak keras :

"Seandainya sejak tadi kalian sudah tahu akan kehadiranku, maka tak nanti suasana sedemikian hening dan tenangnya..."

Pada saat itulah seorang lelaki berlari datang dengan cepatnya dan membisikkan sesuatu ke sisi telinga Ku Loei dengan suara lirih. Air muka Ku Loei seketika berubah hebat, dengan wajah penuh kegusaran serunya :

"Apa? Tiga dewa dari luar lautan telah datang..."

Dalam pada itu manusia berkerudung hitam itu sedang saling menyerang dengan serunya melawan Pek In Hoei ketika secara mendadak bahwasanya Tiga dewa dari luar lautan telah datang, sekilas perasaan aneh muncul dari balik sorot matanya.

Dengan gugup dia melirik sekejap keluar perkampungan, kemudian sambil mengirim satu pukulan memaksa mundur Pek In Hoei serunya :

"Hey manusia she Pek, hutang piutang di antara kita baiknya diperhitungkan di kemudian hari saja..."

Habis berkata tubuhnya berkelebat melarikan diri dari ke tempat kegelapan, bagaikan suka gentayangan saja dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas, siapa pun tak berhasil melihat jelas dengan cara apakah dia berlalu dari situ.

Serentetan senyuman hambar tersungging di ujung bibir Pek In Hoei, sorot mata penuh napsu membunuh terpancar dari balik matanya sambil memandang wajah Ku Loei yang diliputi hawa amarah jengeknya :

"Hey manusia she Ku, bukankah suhengmu telah modar? Apa arti kau hidup seorang diri di kolong langit? Aku lihat lebih baik kau segera menyusul dirinya saja!"

Dengan pandangan dingin Ku Loei melirik sekejap ke arahnya tapi sikapnya seolah-olah sama sekali tidak mendengar jengekan tersebut bahkan perlahan-lahan menarik kembali pandangan matanya. Sikap yang aneh dan di luar dugaan ini seketika membuat Pek In Hoei jadi tertegun, ia tidak menyangka kalau Ku Loei bakal tidak

menggubris dirinya.

Sudah tentu si anak muda itu tak pernah menyangka kalau pada saat yang bersamaan orang she Ku ini sedang menggunakan akal serta kecerdikannya untuk membuat suatu rencana keji guna membinasakan dirinya serta membalas dendam bagi kematian Chin Tiong.

Perlahan-lahan Pek In Hoei alihkan sinar matanya menyapu sekejap para jago dari pelbagai partai yang berkumpul di tepi telaga, ia lihat berpuluh-puluh pasang mata saat itu telah tercurahkan semua keluar pintu perkampungan.

Diam-diam ia menghela napas panjang, pikirnya :

"Aaaai...! Bagaimanapun juga nama besar dari Hai Gwan Sam San tiga Dewa dari luar lautan jauh berbeda dari siapa pun, terbukti dari sikap para jago lihay ini, begitu mendengar kehadiran dari ketiga orang dewa tersebut seluruh perhatian mereka segera dicurahkan ke situ..."

Belum habis berpikir, tampaklah Thiat Tie Sin Nie serta Poh Giok cu di bawah pimpinan seorang lelaki yang membawa jalan perlahan-lahan munculkan diri di tempat itu.

Ketika tiba di tepi telaga, sambil memandang si Iblis Sakti Berkaki Telanjang Kong Yo Leng terdengar Poh Giok cu menegur :

"Hey kau si bocah keparat yang tidak suka memakai sepatu, ayoh cepat undang keluar Hoa Pek Tuo,katakanlah aku si Poh Giok cu datang menjenguk dirinya..."

Sepanjang hidupnya si Iblis Sakti Berkaki Telanjang Kong Yo Leng selalu bersikap jumawa dan tinggi hati, belum pernah ada orang yang berani memaki dirinya dengan kata-kata seperti itu, tapi setelah menjumpai kehadiran dari Poh Giok cu serta Thiat Tie Sin Nie sikap bengis dan sombongnya itu seketika lenyap tak berbekas, seolah-olah ia berjumpa dengan tandingan yang paling ditakutinya.

Terdengar ia menjawab dan sikap sangat menghormat : "Boanpwee tidak tahu kalau Sian jien berdua telah berkunjung

kemari, atas penyambutan kami yang rada terlambat harap Sian Jien berdua suka memaafkan!" S Iblis Khiem Kumala Hijau Mie Liok Nio merasa sangat tidak puas dengan sikap suaminya yang lemah dan tunduk menghormat, ia segera mendengus dingin sambil tegurnya dengan nada aneh :

"Tua bangka sialan,siapa suruh kau bersikap jeri macam cucu kura-kura begitu..."

Sinar mata Thiat Tie Sin Nie berkilat, ia memandang sekejap perempuan iblis itu lalu serunya sambil menghela napas :

"Mie Liok Nio, ternyata hingga kini tabiatmu yang angseran sama sekali tidak berubah!"

"Heeeh... heeeh... heeeh... usiaku sudah begini tuanya, kenapa mesti berubah?"

"Taaaang..."

Serentetan suara genta yang nyaring dan berat berkumandang di angkasa memecahkan kesunyian yang mencekam malam itu, dari sudut sebelah barat perkampungan Thay Bie San cung tiba-tiba muncul enam bayangan lampu lentera, barisan lampu lentera itu perlahan-lahan bergerak mendekat dan tidak lama kemudian telah tiba di tepi telaga.

Enam orang bocah berbaju putih dengan masing-masing membawa sebuah lentera merah berjalan di paling depan, di belakang mereka adalah sebuah tandu besar yang digotong oleh empat orang lelaki kekar, Hoa Pek Tuo sambil duduk di dalam tandu dengan pandangan dingin melotot sekejap ke arah Thiat Tie Sin Nie.

"Omihtohud... " Nikouw tua itu segera merangkap tangannya memuji keagungan Buddha, senyuman manis tersungging di atas wajahnya, dan ia segera mengangguk perlahan ke arah manusia she Hoa itu.

Hoa Pek Tuo mendengus dingin, ia tidak menggubris atau menegur, mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Sedangkan Poh Giok cu segera mendengus dingin, di atas wajahnya yang tenang tiba-tiba muncul suatu perubahan aneh yang tidak bisa dipahami oleh orang lain, seakan-akan ia menunjukkan kesedihan yang tak terhingga.

Hoa Pek Tuo mencibirkan bibirnya, kepada Pek In Hoei jengeknya ketus :

"Hmm, rupanya kau belum modar?"

Ucapan ini seketika membuat hawa amarah yang terpendam dalam dada Pek In Hoei terasa hendak menerjang keluar, ia tarik napas panjang-panjang untuk menekan gejolak jiwanya itu, sedangkan pelbagai ingatan terutama pemandangan di kala ia disiksa dan dianiaya oleh Hoa Pek Tuo satu demi satu muncul kembali dalam benaknya.

Si anak muda itu segera mendengus dingin :

"Hmmm! Aku si Jago Pedang Berdarah Dingin selamanya tak akan mati, kau pasti merasa amat kecewa bukan..."

Hoa Pek Tuo tidak menyahut, ia cuma tersenyum lalu ulapkan tangannya, tandu ia pun segera berhenti di hadapan Poh Giok cu.

Perlahan-lahan kakek she Hoa itu melangkah turun dari dalam tandunya.

Kepada Poh Giok cu sembari menjura memberi hormat, ujarnya sambil tertawa seram :

"Suheng, semenjak berpisah di laut Tang Hai hingga kini..."

Pek In Hoei terperanjat, ia tidak menyangka Hoa Pek Tuo yang sudah banyak melakukan kejahatan serta perbuatan terkutuk itu ternyata bukan lain adalah saudara seperguruan dari Poh Giok cu, diam-diam ia merasa gelisah sendiri, pikirnya :

"Aduuuh celaka, seandainya Poh Giok cu bekerja sama dengan Hoa Pek Tuo untuk menghadapi diriku, malam ini aku pasti akan menemui ajalnya di dalam perkampungan Thay Bie San cung ini..."

Belum habis ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, Poh Giok cu telah mendengus dingin :

"Hmmm! Kau masih ingat dengan aku yang menjadi kakak seperguruanmu ini?" Hoa Pek Tuo tertawa seram.

"Haaaah... haaaah... haaaah... perkataan apakah ini? Kendati aku Hoa Pek Tuo sudah melepaskan diri dari perguruan Ciat It-boen, tapi atas budi kebaikan yang pernah Toa suheng limpahkan terhadapku, hingga kini tak pernah kulupakan barang sekejappun, setiap saat aku selalu mengingatnya terus..."

Pek In Hoei dapat memahami kelicikan, kekejian serta kesadisan hati Hoa Pek Tuo, mendengar sampai di situ dengan nada menghina segera timbrungnya :

"Benar, setiap saat kau selalu teringat bagaimana caranya membinasakan orang-orang yang tidak tunduk kepadamu, agar paku di depan mata bisa cepat-cepat dilenyapkan, bukankah begitu hey manusia she Hoa? Haaaah... haaaah... haaaah... "

Kontan Hoa Pek Tuo melototkan matanya bulat-bulat dan memancarkan cahaya bengis dengan gusar bentaknya :

"Kau tahu tempat apakah ini? Hmmm jangan dianggap kau punya hak untuk ikut berbicara..."

Pek In Hoei mendengus dingin teriaknya :

"Hoa Pek Tuo, aku hendak membinasakan dirimu..."

Sembari berbicara... wwesss! sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan ke arah kakek tua itu.

Dengan enteng Hoa Pek Tuo berkelit ke samping, serunya ketus

:

"Lebih baik kau segera enyah dari sini, suatu ketika utang piutang

di antara kita berdua pasti akan kubereskan..."

"Lebih baik sekarang juga kita bereskan hutang piutang di antara kita berdua itu," seru Pek In Hoei sambil melangkah maju ke depan dengan tindakan lebar.

Si Iblis Sakti Berkaki Telanjang Kong Yo Leng segera mendengus dingin, ia geser badannya dan menerjang ke depan menghadang jalan pergi si anak muda itu, tapi Hoa Pek Tuo keburu goyangkan kepalanya maka terpaksa Iblis Sakti Berkaki Telanjang itu menghentikan gerakan tubuhnya.

Terdengar Poh Giok cu berkata lagi sambil tersenyum :

"Sute, setelah bertemu dengan suhengmu, kenapa kau tidak menyambut kedatanganku dengan menuruti adat istiadat perguruan kita..."

Air muka Hoa Pek Tuo berubah hebat, buru-buru jawabnya : "Aku telah melepaskan diri dari perguruan Ciat It-boen,

menyebut dirimu sebagai Suheng tidak lain karena aku tak pernah melupakan budi kebaikanmu pada masa yang silam, tapi kalau kau hendak maksa diriku untuk menuruti peraturan perguruan... Hmmm! Hmmm! terpaksa aku pun tak akan mengakui dirimu sebagai Toa Suheng lagi..."

Air muka Poh Giok cu berubah menjadi dingin, bentaknya : "Kau hanya diusir dari laut Tang Hay dan belum pernah

melepaskan diri dari ikatan perguruan Ciat It-boen, apabila kau bersikeras mengatakan bahwa dirimu sudah bukan anak murid dari perguruan Ciat It-boen lagi, maka terpaksa aku akan mewakili suhu untuk menarik kembali ilmu silat yang telah diwariskan kepadamu dari perguruan kami..."

Sinar mata bengis memancar keluar dari balik mata Hoa Pek Tuo, ia melirik sekejap ke arah Thiat Tie Sin Nie kemudian secara tiba-tiba mendongak dan tertawa terbahak-bahak :

"Haaaah... haaaah... haaaah... Toa Suheng," serunya sinis, "keadaanku pada hari ini jauh berbeda dengan keadaan pada masa lampau, aku takut kau belum mempunyai kemampuan sehebat itu..."

"Kau terlalu jumawa!" bentak Poh Giok cu gusar.

Kepergiannya meninggalkan luar lautan kali ini tujuan yang terpenting baginya adalah menyelesaikan persoalan pribadi dalam perguruannya, kini setelah menyaksikan Hoa Pek Tuo sama sekali tidak memandang sebelah mata pun terhadap dirinya, hawa amarah kontan memuncak, sambil membentak gusar dari tempat kejauhan ia lancarkan sebuah pukulan dahsyat.

Air muka Hoa Pek Tuo berubah serius, ia mendengus berat : "Toa suheng, apakah kau benar-benar hendak memusuhi diri

siauw te??..."

Dia mengerti ilmu pukulan 'Poh Giok Chiet Sih' dari Toa suhengnya adalah kepandaian hawa sakti dari dunia persilatan, manusia yang ada di kolong langit tak ada beberapa orang banyaknya yang sanggup menahan tujuh pukulan berantainya ini, maka ia tak berani bertindak gegabah.

Sambil tarik napas dalam-dalam ia mundur selangkah ke belakang, kemudian ayunkan telapak tangannya melancarkan pula sebuah pukulan!

"Blaaam...!" di tengah suara bentrokan yang amat dahsyat, para jago lihay dari pelbagai partai yang ada di sekeliling tempat itu merasakan dadanya seakan-akan terhantam oleh martil besar, beberapa orang jago yang rendah tenaga lweekangnya kontan muntah darah segar saking tak kuat menahan goncangan dahsyat itu.

"Omihtohud!" Thiat Tie Sin Nie merangkap tangannya memuji keagungan sang Buddha, kemudian teriaknya keras-keras :

"Para enghiong hoohan dari seluruh kolong langit, inilah ilmu pukulan Poh Giok Chiet Sih yang dapat melukai orang tanpa berwujud. Bagi mereka yang tak ada urusan di tempat ini segeralah mengundurkan diri dari perkampungan Thay Bie San cung daripada terkena bencana besar yang mengakibatkan kematian."

Walaupun dalam hati kecilnya para jago dari pelbagai partai itu ingin sekali menyaksikan kepandaian maha sakti dari luar lautan, apa lacur tenaga lweekang dari kedua belah pihak terlalu sempurna dan hebat bagi mereka, maka setelah mendengar peringatan tersebut sambil menghela napas panjang karena kecewa orang-orang itu segera mengundurkan diri dari situ dan berlalu dari perkampungan Thay Bie San cung. Sementara itu setelah Poh Giok cu melancarkan sebuah pukulan maut dengan ilmu Poh Giok Chiet Sih yang memakan banyak kekuatan hasil latihan selama ratusan tahun itu, dari atas ubun- ubunnya segera mengepul keluar selapis asap kabut yang tipis, telapaknya perlahan-lahan diangkat kembali dan dihantamkan ke arah dada Hoa Pek Tuo.

Sebaliknya Hoa Pek Tuo sendiri setelah menerima sebuah pukulan ampuh dari Poh Giok Chiet Sih yang tak berwujud itu, mendadak wajahnya berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, rambutnya pada berdiri tegak semua bagaikan landak sedang rasa kaget dan ngeri jelas tercermin di atas raut wajahnya.

Buru-buru ia keluarkan jari tangannya, dari ujung jari yang runcing segera meluncurlah serentetan cahaya berkilauan yang berwarna putih bersih bagaikan susu, sambil membelah angkasa kilatan cahaya itu langsung menotok ke atas tubuh Poh Giok cu.

Kali ini serangan dari kedua belah pihak sama sekali tidak menimbulkan sedikit suarapun, hanya terlihat tubuh mereka berdua bergetar pada saat yang bersamaan.

Hoa Pek Tuo segera muntah darah segar, tapi sambil tertawa terbahak-bahak ia sempat berseru :

"Suheng ternyata kau menang!"

Selapis hawa hijau membesi terlintas di atas wajah Poh Giok cu, hardiknya :

"Sungguh keji perbuatanmu..."

Nada suaranya rada gemetar, sambil berpaling ke arah Thiat Tie Sin Nie katanya lagi :

"Aku berhasil melukai isi perutnya tetapi ia pun berhasil melukai ginjalku, Hoa Pek Tuo telah berhasil melatih ilmu Gien Ciu Ci ilmu jari perak, manusia di kolong langit tak ada yang berhasil menaklukkan dirinya lagi..." Rupanya si orang tua dari luar lautan ini mengerti akan parahnya luka dalam yang diderita, selesai berkata ia putar badan segera berlalu dari tempat.

Thiat Tie Sin Nie menghela napas panjang terhadap diri Hoa Pek Tuo serunya :

"Tidak sepantasnya kau turun tangan yang begitu kejinya terhadap toa suhengmu sendiri..."

"Nikouw bau! Dengan andalkan apa kau berani mengucapkan kata-kata semacam itu kepadaku?" bentak Hoa Pek Tuo dengan gusarnya.

Thiat Tie Sin Nie gelengkan kepalanya berulang kali.

"Rupanya kau masih membenci pada diriku karena kau pernah kuusir dari istana Hoei-Coe Kiong? Aaaaai...! dari mana kau bisa tahu perasaan hatiku pada waktu itu? Sekarang coba kau pikirkan lagi, kenapa pada waktu itu aku berbuat demikian?"

"Tak ada yang perlu dipikirkan lagi..." tukas Hoa Pek Tuo sambil menyeka darah kental yang membasahi ujung bibirnya, mendadak sambil mencabut keluar pedang penghancur sang surya milik Pek In Hoei bentaknya keras-keras :

"Apabila tak ada kau yang mengacau, tak nanti aku bisa berpisah dengan Hoo Bong Jien. Hmmm! Nikouw bau, malam ini masih ada perkataan apa lagi yang hendak kau ucapkan? Aku hendak membinasakan dirimu untuk melenyapkan rasa dendam dan rasa sakit dalam hati..."

Pedang sakti itu digetarkan keras-keras sehingga mengeluarkan suara dengungan keras yang memekikkan telinga.

Pek In Hoei segera maju selangkah ke depan, hardiknya :

"Hoa Pek Tuo! kembalikan pedang pusaka penghancur sang surya ku..."

Thiat Tie Sin Nie melirik sekejap ke arah Pek In Hoei, tiba-tiba tanya dengan suara lembut : "Ooooh, apakah pedang mustika itu milikmu? Baiklah! Akan kurampaskan kembali..."

Tampaklah jago sakti dari laut Tang Hay ini menggerakkan pundaknya dan secara tiba-tiba menggunakan ketiga jari tangannya menjepit pedang mustika penghancur sang surya itu, seketika itu juga terasalah segulung tenaga tekanan yang maha dahsyat menerjang ke arah tubuh Hoa Pek Tuo.

Kendati tenaga lweekang yang dimiliki Hoa Pek Tuo telah mencapai puncak kesempurnaan, apa daya Thiat Tie Sin Nie adalah seorang jago sakti dari luar lautan, bukan saja gerakannya dilaksanakan dengan kecepatan melebihi suara lagi pula Hoa Pek Tuo dalam keadaan terluka tak berani menyambut datangnya hawa pukulan yang sangat hebat itu dengan keras lawan keras.

Wajahnya berubah hebat, sambil melepaskan cekalan pada pedang itu dengan ketakutan ia mengundurkan diri ke belakang.

"Huuuh! Nikouw bau, kau benar-benar tak tahu malu!" maki Hoa Pek Tuo amat gusar.

Thiat Tie Sin Nie sama sekali tidak menggubris makian orang, perlahan-lahan ia serahkan kembali pedang mustika penghancur sang surya itu ke tangan Pek In Hoei sambil pesannya :

"Lain kali jangan sampai hilang lagi, senjata tajam mustika semacam ini apabila tidak digunakan pada tempatnya kemungkinan besar malah akan mengakibatkan banjir darah..."

"Cianpwee, kau..." seru Pek In Hoei terharu.

Thiat Tie Sin Nie tersenyum. "Pergilah dengan cepat dari sini! Tempat ini bukan tempat yang cocok bagimu untuk berdiam lebih lama..."

Pek In Hoei sendiri pun tahu bahwa ia tak bisa berdiam terlalu lama di situ maka setelah menerima pedang mustikanya ia melirik sekejap ke arah Hoa Pek Tuo dengan pandangan dingin kemudian baru putar badan berlalu dengan langkah lebar. Menanti pemuda itu sudah berlalu, dengan wajah dingin Thiat Tie Sin Nie baru berpaling ke arah Hoa Pek Tuo sambil tegurnya :

"Dengan kedudukanmu ternyata hanya berani merampas senjata tajam milik seorang boanpwee, apakah kau tidak takut memalukan kita orang-orang dari Tang Hay? Aku mengerti betapa benci dan mendendamnya dirimu kepadaku, tapi sekarang aku tak akan bergebrak melawan dirimu di kala kau sedang terluka. Tiga hari kemudian aku akan menantikan kedatanganmu di puncak Soe Sin Hong, aku rasa pada saat itulah semua persoalan di antara kita berdua boleh diselesaikan..."

Berbicara sampai di situ tanpa menantikan jawabannya lagi ia segera berkelebat pergi dari situ, tak seorang pun tahu bagaimana caranya ia berlari dari sana.

******

Cahaya sang surya yang lembut dan hangat memancar di dalam sebuah kuil bobrok yang tinggal puing berserakan, di tengah ruangan kuil yang penuh debu Ouw-yang Gong sambil mencekal huncwee gedenya menyedot tiada hentinya, segulung demi segulung asap putih mengepul ke udara dan menyebar di angkasa...

Di belakang tubuhnya duduk dua orang kakek tua yang mengawasi gerak-geriknya dengan sorot tajam, ditinjau dari tindak tanduk mereka berdua rupanya mereka kuatir kalau si kakek tua ini melarikan diri.

Tampak Ouw-yang Gong menggoyang-goyangkan huncwee gedenya, lalu ia memaki dengan suara gemas :

"Hey kamu dua orang bangsat cecunguk ngapain melotot terus ke arahku dengan pandangan bajingan? Sudahlah, tak usah punya pikiran jahat, aku si huncwee gede tidak punya uang barang sepeserpun..."

Si kakek tua berperawakan kurus kering yang ada di sebelah kiri segera mengerutkan alisnya setelah mendengar perkataan itu, sahutnya ketus : "Ouw-yang Gong, lebih baik tenang-tenanglah duduk di sana. Tempo dulu masih ada seorang pendekar jantan berkapak sakti Chee Thian Gak yang datang menolong dirimu, kali ini tak nanti ada panglima penolong yang datang menyelamatkan jiwamu..."

"Maknya edan! Rupanya kalian cucu murid dari perguruan Thian Liong Boen pun sudah menjadi prajurit pengawal dari keluarga Kaisar? Hmmm! Anak jadah kumal! Pekerjaan lain yang lebih baik tak sudi dikerjakan, dagangan sepi yang tiada untung malah kalian kerjakan, kalau kalian Ciang Kiam Siang Kiat tiada jalan keluar lagi, lebih baik ikut aku si Ouw-yang Gong saja mencari sesuap nasi..."

Kakek tua yang ada di sebelah kanan adalah seorang kakek berbadan gemuk serta memelihara jenggot kambing pada janggutnya, jubah yang dikenakan adalah kain sutera berwarna hijau, pada pinggangnya tersoren sebilah pedang panjang.

Ketika mendengar ocehan dari Ouw-yang Gong barusan, alisnya kontan berkerut, dengan sorot mata berapi-api ia melotot sekejap ke arah kakek tua itu dengan penuh kebencian.

"Hmmm... Hmmm... hey huncwee gede! Kalau berbicara harap berbicaralah yang rada enakan didengar," peringatnya dengan suara dingin. "Aku Cho Ban Tek dari perguruan Thian Liong Boen aliran Utara bukan manusia lemah yang bisa dipermainkan seenaknya kalau bacotmu bicara kotor dan tidak genah lagi, hati-hati kuhajar mulut anjingmu itu sampai bonyok dan remuk..."

Ouw-yang Gong segera mendongak dan tertawa terbahak-bahak. "Haaaah... haaaah... haaaah... Cho Ban Tek, sungguh indah kedengarannya namamu itu, kenapa kau si anak jadah kumat tak mau ganti nama menjadi Cho Jiak Tek? Kalau dilihat dari tampangmu

yang jelek sudah pasti perangai serta akhlaknya telah bejat..."

Disindir dan diolok-olok dengan ucapan seperti ini, Cho Ban Tek si jago pedang dari perguruan Thian Liong Boen aliran Utara ini jadi tak tahan, ia meraung gusar kemudian ayun telapaknya mengirim satu babatan ke atas bahu kakek she Ouw yang itu. Buru-buru Ouw-yang Gong berkelit ke samping menghindar, kemudian ejeknya lagi :

"Anak jadah kumal! Kau betul-betul punya keberanian, sampai bapakmu sendiri pun berani kau gebuk, bagus... bagus sekali. Sekalipun aku tak bisa menangkan dirimu, untuk lari rasanya masih sanggup. Jangan sampai kau bangkitkan amarahku yang belum sampai aku jadi nekad dan lari dari sini, akan kulihat kalian mau apakah diriku..."

Begitu mendengar si kakek konyol itu mau melarikan diri, dua orang jago lihay dari perguruan Thian Liong Boen aliran Utara ini jadi amat gelisah, buru-buru mereka loncat bangun dari atas tanah dan memencarkan diri masing-masing menjaga di salah satu sudut ruangan untuk menghalangi kepergian kakek tersebut.

Suheng dari Cho Ban Tek yaitu Long Heng Ciang atau si telapak naga Goei Peng dengan wajah berubah hebat serunya :

"Ouw-yang Gong, kau punya rasa malu atau tidak..."

"Maknya, anak jadah kumal! Duduk dulu, duduk dulu, jangan emosi dan jangan marah dulu," sahut Ouw-yang Gong setelah menghisap beberapa kali huncweenya. "Kalau aku si huncwee gede benar-benar mau minggat dari sini, tak nanti kuberitahukan dulu kepada kalian. Hey! Buat apa kamu bersitegang seperti kunyuk jelek..."

Tingkah laku yang konyol dari kakek tua ini tentu saja membuat dua orang jago dari perguruan Thian Liong Boen ini jadi mewek saking mendongkolnya, mereka saling bertukar pandangan sambil tertawa getir kemudian perlahan-lahan duduk kembali di atas lantai.

"Asal kau tidak pergi, persoalan apa pun bisa kita rundingkan secara baik-baik..." kata si jago pedang Cho Ban Tek dengan wajah berkerut sedih.

"Sungguh...??" jerit Ouw-yang Gong tiba-tiba dengan mata melotot gede. "Hey anak jadah kumal yang bulukan, kalau punya arak bawa sini dulu, kalau suruh aku huncwee gede duduk nongkrong terus disini sambil biarkan pantatku jadi kering, lama kelamaan aku bisa tidak kerasan... mana araknya? Bawa sini, tenggorokanku sudah mulai kering kerontang..."

Dari dalam buntalannya buru-buru si telapak naga Goei Peng ambil keluar sebuah cupu-cupu arak kemudian diangsurkan ke depan, menerima cupu-cupu arak tersebut Ouw-yang Gong langsung meneguknya beberapa tegukan, setelah itu sambil tertawa terbahak- bahak menyeka mulutnya. Biji mata berputar dan rupanya ia sedang mencari akal lagi untuk menggoda dan mempermainkan dua orang jago lihay dari perguruan Thian Liong Boen ini.

Ia ketukkan huncwee gedenya ke atas lantai, semua ampas tembakaunya dibuang ke situ, setelah itu sambil putar huncwee gede itu di tengah udara serunya lagi sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... Hey, bukankah kamu berdua menyebut dirinya datang dari perguruan Thian Liong Boen yang ada di propinsi Liauw Tang...? Sepanjang jalan entah sudah berapa kali kalian menjual lagak di hadapanku, katanya perguruan Thian Liong Boen kalian bagaimana... bagaimana lihaynya, sekarang hatiku si huncwee gede sedang gatal, pengin sekali aku melihat sampai di manakah kepandaian silat yang dimiliki perguruan kalian. Coba kamu dua orang anak jadah kumal masing-masing berlatihlah semacam kepandaian untuk dipertontonkan kepadaku..."

"Apa?? Jangan ngaco belo terus menerus..." teriak Cho Ban Tek sambil meraung gusar.

"Nenek bermata codet, edan rupanya semua nenek moyangmu," maki Ouw-yang Gong dengan mata melotot, "kalau kau berani tidak menuruti perkataanku..."

Melihat Ouw-yang Gong hendak pergi, saking gelisah dan cemasnya air muka si telapak naga Goei Peng sampai berubah hebat, mereka berdua mendapat tugas dari Song Kim Toa Lhama untuk menjaga Ouw-yang Gong, sepanjang jalan entah sudah berapa banyak rasa dongkol yang harus mereka telan begitu saja, berhubung mereka takut Ouw-yang Gong secara mendadak mengingkari janji dan ngeloyor pergi maka kedua orang itu terpaksa harus bersabar terus menerus, mereka hanya berharap Song Kim Toa Lhama cepat-cepat datang hingga tugas mereka selesai.

Dengan gemas ia mendepakkan kakinya keras-keras, pikirannya di dalam hati :

"Menanti Song Kiem Toa Koksu telah datang, aku harus baik- baik memberi pelajaran kepadanya..."

Maka dengan wajah setengah mewek karena mendongkol yang tak tersalurkan katanya :

"Cho suheng, siapa suruh kita mendapatkan tugas konyol seperti ini? Anggap saja kita lagi sial, mari kita turuti saja permintaannya..." Selesai berkata ia segera mempersiapkan gerakan permulaan dari ilmu telapak Liong heng ciang kemudian sejurus demi sejurus

dimainkan dengan teratur.

Si jago pedang Cho Ban Tek mendengus dingin, ia cabut keluar pedangnya dan mulai berlatih pula sejurus demi sejurus.

Menyaksikan kedua orang itu benar-benar mulai berlatih silat, Ouw-yang Gong mengerutkan alis, timbullah niatan untuk memperolok-olok mereka sejadinya.