Imam Tanpa Bayangan I Jilid 10

 
Jilid 10

HAMPIR-HAMPIR saja ia tidak percaya kalau pelajar berusia pertengahan yang berdiri di hadapannya sekarang adalah salah satu di antara tiga dewa dari luar lautan yang namanya telah menggetarkan seluruh sungai telaga, menurut kabar yang tersiar dalam Bu lim orang mengatakan bahwa Poh Giok cu telah berusia lanjut, tapi dalam kenyataan keadaannya tidak lebih bagaikan seorang pelajar berusia pertengahan, sudah tentu Pek In Hoei merasa amat terperanjat.

Sebaliknya Poh Giok cu sendiri pun merasa tertegun ketika menyaksikan kegagahan serta keagungan Pek In Hoei, dengan sorot mata berkilat ia awasi wajah pemuda itu sekejap kemudian tegurnya : "Hey bocah cilik, apakah kau adalah anggota perkampungan

Hong Yap San cung..."

Pek In Hoei melengak, sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu Pek li Cian Cian telah membentak nyaring :

"Huuh! berapa besar sih usiamu, berani betul menyebut orang lain sebagai bocah cilik!"

"Haaaah... haaaah... haaaah... " Poh Giok cu mendongak dan tertawa terbahak-bahak. "Nona cilik, kalau usia loohu dibandingkan dengan umur ayahmu, jauh lebih tua, rasanya menyebut kalian sebagai bocah cilik pun tidak terlalu merendahkan derajat kalian bukan..."

Pek li Cian Cian semakin gusar dibuatnya, sejak kecil ia dibesarkan dalam wilayah Biauw yang kehidupan serta adat istiadatnya jauh berbeda dengan daratan Tionggoan, pergaulannya dengan suku liar mengakibatkan sifatnya pun banyak terpengaruh oleh mereka.

Dengan wajah berubah hebat segera bentaknya : "Kau berani bicara lagi!"

Badannya bergerak maju empat langkah ke depan, sang telapak berkelebat membelah angkasa dan langsung membabat tubuh Poh Giok cu.

"Haaaah... haaaah... haaaah... bocah cili yang tak tahu sopan santun," seru Poh Giok cu sambil tertawa tergelak, cepat ia kebaskan ujung bajunya ke depan. "Ayoh cepat panggil keluar orang tuamu..." Baru saja angin pukulan dari gadis itu meluncur keluar, mendadak terasalah segulung tenaga yang tak berwujud menghapus seluruh kekuatan tenaga serangannya hingga lenyap tak berbekas, hal ini membuat hatinya sangat terperanjat. Sebelum ia sempat menarik kembali telapaknya tahu-tahu segulung tenaga pukulan yang tak berwujud kembali menggulung tiba melontarkan badannya meluncur

ke belakang.

Cepat-cepat Pek In Hoei maju memayang tubuhnya sehingga tidak sampai jatuh terjengkang ke atas tanah, serunya :

"Kau tidak terluka bukan..."

Pek li Cian Cian merasa hatinya jadi manis bercampur hangat, seketika itu juga ia melupakan peristiwa terjengkangnya dia oleh dorongan tenaga tak berwujud dari Poh Giok cu, bibirnya bergetar dan sahutnya dengan manja :

"Aku sudah dipermainkan orang... ayoh cepat gebah pergi tua bangka yang suka mencari kemenangan di antara kaum muda itu... Huuh! aku jemu sekali melihat tampangnya..."

Walaupun ia sudah memiliki watak kejam, telengas dan tak kenal budi dari si Dukun Sakti Berwajah Seram, tetapi bagaimanapun sifat kekanak-kanakannya masih belum hilang, kini setelah menjumpai si anak muda itu turun tangan membantu dirinya, seketika itu juga sikap Pek In Hoei yang ketus dan tak berbudi sudah dilupakan sama sekali. "Aku bukan menolong dirimu," terdengar Pek In Hoei berkata sambil tertawa getir. "Aku hanya tidak ingin kau bertindak liar seperti itu..."

Setelah merandek sejenak, ujarnya lagi dengan nada ketus : "Kau tak akan berhasil mendapatkan diriku, karena aku tak akan

mencintai kaum wanita macam apa pun..."

Pada saat itu Pek li Cian Cian sedang dimabokkan oleh kehangatan pelukan si anak muda, terhadap apa yang dikatakan sama sekali tidak didengar olehnya, bahkan masih sengaja menggoyang- goyangkan pinggulnya memperlihatkan kepandaiannya untuk menghadapi kaum pria yang paling jitu, sayang Pek In Hoei adalah lelaki nomor satu di kolong langit yang tidak doyang menelan rayuan- rayuan semacam itu, terhadap tingkah laku gadis tersebut ia cuma tertawa getir belaka.

Poh Giok cu yang berdiri di sisi kalangan dapat menangkap setiap perkataan pemuda itu dengan jelas, dengan pandangan tercengang ia awasi si anak muda itu, orang tua ini merasa rada tidak percaya kalau seorang pemuda yang masih muda belia ternyata memandang benci terhadap kaum wanita di kolong langit, hingga terhadap gadis cantik macam Pek li Cian Cian pun tidak tertarik.

Ia gelengkan kepalanya berulang kali sambil bergumam : "Bocah cilik boleh dibilang betul-betul berhati keji sampai dalam

perkampungan pun ia tak sungkan-sungkan dan mengerti akan belas kasihan..."

Sorot mata Pek In Hoei berkilat.

"Kenapa? Apakah ucapanku telah salah kuutarakan keluar?" tegurnya.

Poh Giok cu terkejut, tiba-tiba ia temukan munculnya bekas telapak merah di antara sepasang alis pemuda itu, kian lama bekas merah itu kian bertambah jadi jelas, dengan kaget orang itu berseru tertahan. "Sungguhkah di kolong langit terdapat manusia semacam ini..." gumamnya.

Manusia aneh dari luar lautan ini boleh dibilang merupakan seorang jago sakti yang bisa meramalkan kejadian yang akan datang maupun yang bakal terjadi, ia sadar bahwa bekas merah darah di antara sepasang alis Pek In Hoei menandakan bahwa dia adalah lelaki nomor satu di kolong langit yang tidak kenal apa artinya 'cinta'. Kebanyakan orang semacam ini mempunyai bakat yang bagus serta kecerdikan yang luar biasa, tetapi terhadap persoalan yang menyangkut dendam atau pun sakit hati biasanya teristimewa hapalnya, barangsiapa yang pernah melakukan kesalahan terhadap dirinya maka sebagian besar akan menemui ajalnya di ujung senjata orang itu juga.

Dengan pandangan tertegun orang tua itu berdiri menjublak, sementara otaknya berpikir lebih jauh :

"Seandainya bocah ini bertemu dengan guru kenamaan maka ia akan menjadi pendekar paling kosen di kolong langit, sebaliknya andaikata ia salah jalan maka dunia akan diobrak-abrik hingga tiada kehidupan yang tenang setiap harinya, banjir darah bakal melanda di mana-mana, pembunuhan kesadisan serta kebrutalan akan merajalela di seluruh kolong langit..."

Berpikir demikian, senyuman yang semula menghiasi bibirnya seketika lenyap tak berbekas, tegurnya :

"Hey bocah cilik, siapa namamu?"

"Hmmm, apakah kau tidak merasa terlalu cerewet untuk mengajukan pertanyaan semacam itu??" jengek pemuda kita ketus.

"Pek In Hoei..." mendadak dari tempat kejauhan berkumandang datang suara teriakan nyaring, tampak bayangan merah berkelebat lewat, It-boen Pit Giok laksana bianglala yang membelah bumi tahu- tahu sudah melayang turun di sisi tubuh Poh Giok cu.

Tetapi ketika dilihatnya Pek li Cian Cian sedang menyandarkan diri di dalam pelukan Pek In Hoei, air muka It-boen Pit Giok seketika berubah hebat, seolah-olah terkena gempuran keras untuk beberapa saat lamanya ia berdiri menjublak dan tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Perlahan-lahan Pek In Hoei mendongak, memandang sekejap ke arahnya dengan pandangan dingin dan berseru ketus :

"Ooooh, ternyata kau..."

"Kau... kau... aku benci dirimu sampai mati!" jerit It-boen Pit Giok dengan suara gemetar, ia tarik ujung baju Poh Giok cu dan serunya lebih jauh, "Supek, ayoh kita pergi saja..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... yang ajak datang kemari juga kau, sekarang ajak pergi juga kau, waaah... sampai aku pun dibikin bingung dan tak habis mengerti oleh sikapmu ini!" omel Poh Giok cu sambil tertawa terbahak-bahak.

Diserobot dengan kata-kata yang tajam seperti itu merah jengah seluruh wajah It-boen Pit Giok yang dingin, sekalipun ia sangat membenci diri Pek In Hoei, tapi sebagai seorang gadis tak urung merasa malu juga setelah rahasia hatinya dibongkar di hadapan orang.

Tanpa sadar ia tundukkan kepalanya rendah-rendah dan mengomel sambil mempermainkan ujung baju :

"Supek... kembali kau mentertawakan diriku..."

Menyaksikan gerak-gerik It-boen Pit Giok yang diliputi kesedihan dan kemurungan, suatu bayangan hitam berkelebat dalam benak Poh Giok cu, wajahnya kontan berubah jadi dingin dan perlahan-lahan ia alihkan sinar matanya ke atas tubuh Pek In Hoei.

Dalam pada itu si anak muda tadi sedang mendorong tubuh Pek li Cian Cian dari pelukannya, ia tarik napas dalam-dalam dan suatu perasaan bimbang melintas di atas wajahnya, seakan-akan ia sedang melamunkan kembali kejadian-kejadian yang telah lampau.

Rupanya Pek li Cian Cian tidak mengerti akan maksud pemuda itu mengesampingkan tubuhnya, ia lantas menegur :

"Pek In Hoei, mengapa kau tidak peluk tubuhku lagi?" "Ciss, tak tahu malu," maki It-boen Pit Giok sambil meludah ke atas tanah.

Setelah makian itu terlontar keluar, gadis itu baru sadar bahwa ia sudah buka suara padahal dalam hatinya ia sama sekali tidak mengerti apa sebabnya perasaan hatinya segera berubah jadi sangat tak enak setiap kali ia saksikan Pek In Hoei berada bersama-sama perempuan lain, dalam hatinya ia sangat membenci si anak muda itu, tetapi rasa benci itu ternyata bisa bercampur baur dalam rasa cintanya.

"Eeeei... eeei... kau sedang maki siapa?" bentak Pek li Cian Cian dengan mata melotot.

"Hmm di tempat ini kecuali kau seorang siapa lagi yang berbuat tak tahu malu..."

Pek li Cian Cian yang dibesarkan di wilayah Biauw sama sekali tidak memahami akan peraturan yang membatasi atas pergaulan kaum pria dan wanita, ia hanya tahu asalkan seorang pria telah jatuh cinta kepada wanita dan sebaliknya pun demikian maka tiada pantangan- pantangan lagi yang membelenggu hubungan mereka apakah mereka mau hubungan senggama atau pun tidak orang lain tiada berhak untuk mencampurinya.

Dengan wajah yang berubah hebat karena menahan gusar, gadis itu berteriak kembali :

"Apa salahnya kalau aku bermesraan dengan dirinya? Kau tahu? Setiap bulan tanggal lima belas di wilayah Biauw pasti diadakan pesta bulan purnama, dalam pesta tersebut kalau seseorang telah tertarik pada lawan jenisnya maka mereka boleh langsung melakukan perbuatan tersebut di dalam gua atau pun di balik semak belukar setelah itu berarti pula secara resmi telah disahkan sebagai suami istri..."

Ia merandek sejenak, kemudian dengan gusar bentaknya :

"Dan kini kenapa kau maki aku? Hmm! kau berani memaki aku berarti menghina diriku. Nah rasakanlah sebuah bogem mentahku...!" Diiringi bentakan keras tubuhnya menubruk ke depan, telapak tangannya yang putih halus bergetar membentuk tiga lingkaran busur di tengah udara kemudian membabat ke bawah menghajar tubuh It- boen Pit Giok.

Melihat datangnya ancaman gadis cantik yang berasal dari luar lautan ini buru-buru menghindar ke samping, makinya :

"Perempuan yang tak tahu malu, rupanya kau memang harus diberi sedikit pelajaran..."

Pada saat itu ia memang berada dalam keadaan gusar, maka sewaktu dilihatnya Pek li Cian Cian menerjang datang sambil lancarkan babatan, ia segera tertawa dingin, badannya maju tiga langkah ke depan dan menyambut datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.

Blaaam... suara ledakan dahsyat bergeletar membelah permukaan bumi, sekujur tubuh Pek li Cian Cian bergetar keras, badannya rontok dari tengah udara dengan wajah pucat pias bagaikan mayat, dengan pandangan mendelong ditatapnya wajah gadis she Ie boen itu tanpa berkedip, rupanya ia tidak percaya seorang gadis yang sebaya usianya dengan dia ternyata memiliki tenaga dalam yang begitu tinggi.

Mendadak tubuhnya meloncat mundur ke belakang, teriaknya setengah menjerit :

"Aku mau kau mati konyol disini hingga tak seorang pun berani menolong dirimu..."

Seraya berkata perlahan-lahan dia angkat telapak kirinya ke tengah udara kemudian sentilkan ujung jarinya ke muka. Mengikuti sentilan jari tangannya tadi segulung asap kabut berwarna merah segera menyebar ke seluruh udara.

Mendadak air muka Poh Giok cu berubah hebat, sembari maju ke depan bentaknya :

"Kalau kau berani melepaskan ilmu jari Ang Hoa Cie dari wilayah Biauw maka akan kutebas kutung jari tanganmu itu, kau harus tahu bahwa ilmu jari Ang Hoa Cie dari dukun sakti berwajah seram masih belum terhitung ilmu maha sakti di kolong langit..."

Ancaman itu ternyata manjur sekali, Pek li Cian Cian benar-benar tidak berani mengeluarkan ilmu simpanannya.

"Kau kenal dengan suhuku?" serunya dengan wajah termangu- mangu.

"Hmm, Dukun Sakti Berwajah Seram terhitung manusia macam apa?? Ia belum pantas untuk menjadi sahabatku..."

Pek li Cian Cian tidak tahu sampai di mana kelihayan dari tiga dewa tersebut, mendengar pelajar berusia pertengahan itu berani menghina dan memandang rendah suhunya, timbul rasa gusar dalam hatinya, sambil membentak marah teriaknya :

"Kau berani memaki suhuku..."

Bayangan jari berkelebat lewat, di tengah udara segera berkelebat selapis kabut merah yang memanjang bagaikan bianglala diiringi desiran tajam bianglala merah tadi langsung menerjang tubuh Poh Giok cu.

Dengan tindakan cepat si orang tua dari luar lautan ini menarik tubuh It-boen Pit Giok mundur ke belakang, seluruh jubah bajunya mendadak menggembung jadi besar, sambil maju selangkah ke depan ia ayunkan telapak tangannya yang segera memancarkan cahaya putih ke empat penjuru.

"Bocah yang tak tahu diri," jengeknya sambil tertawa dingin, "kau benar-benar terlalu jumawa..."

Ketika kabut merah yang menggulung tiba itu berjumpa dengan cahaya putih yang meluncur ke udara seketika buyarlah kabut tadi berubah jadi kerlipan-kerlipan cahaya yang menyebar ke empat penjuru kemudian lenyap di tengah udara, bukan begitu saja bahkan desiran angin tajam pun lenyap tak berbekas.

"Kepandaian apakah itu?" jerit Pek li Cian Cian dengan hati terperanjat. "Sungguh tak bisa mempercayai, sampai ilmu jari Ang Hoa Cie yang lihay dan sukar dicarikan tandingannya pun bisa dihancurkan dengan begitu gampang."

Sebelum gadis sempat menarik kembali serangannya Poh Giok cu sudah merangsek ke depan, tangannya berkelebat dan tahu-tahu jari tangan Pek li Cian Cian sudah terjepit di tengah udara.

Seketika itu juga murid Dukun Sakti Berwajah Seram ini tertarik maju ke depan oleh sentakan tenaga lawan.

Dengan wajah adem bagaikan salju Poh Giok cu mendengus dingin hardiknya :

"Kau perempuan yang tak tahu diri dan berhati keji, bagaimanapun jari tanganmu ini akan kukutungkan untuk diserahkan kepada gurumu si Dewi Khiem Bertangan Sembilan..."

Ia mengerti sampai dimanakah kelihayan dari ilmu jari Ang Hoa Cie atau ilmu jari bunga merah yang berasal dari wilayah Biauw ini, kepandaian tersebut adalah hasil latihan dari hisapan inti sari pelbagai kabut racun yang ada di wilayah Biauw, setelah ke-sepuluh jarinya direndam di dalam racun kemudian mengisap sari-sari racun itu ke dalam jari tangannya, maka setiap kali kepandaian tersebut digunakan maka korbannya pasti akan mati konyol dengan seluruh tubuh hancur lebur karena membusuk, di samping itu dari mayat sang korban akan menyiarkan bau aneh yang dapat membinasakan setiap orang yang mencium bau itu.

Bukan saja manusia segera mati konyol, sekalipun binatang kecil pun sama-sama nasibnya, boleh dibilang kepandaian ini merupakan kepandaian yang terkeji di kolong langit.

Dalam pada itu Poh Giok cu telah mengambil sebilah pedang kecil berwarna merah keperak-perakan, setelah berkilat di angkasa perlahan-lahan menebas jari tangan Pek li Cian Cian yang terjepit itu. Waktu itu gadis she Pek-li murid dari Dukun Sakti Berwajah Seram ini sudah ketakutan setengah mati di bawah kekuasaan orang, beberapa kali ia berusaha meronta dan coba melepaskan diri dari jepitan tangan lawannya, namun usahanya selalu gagal saking gelisah bercampur lemasnya keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, kekuatan untuk melawan pun lenyap tak berbekas. "Pek In Hoei..." jerit Pek li Cian Cian dengan suara keras.

"Apakah kau rela melihat jari tanganku dipotong orang..."

Dari balik biji matanya yang sayu Pek In Hoei berhasil menangkap sinar keputusasaan yang dipancarkan gadis itu, hatinya bergetar keras, pelbagai ingatan segera berkelebat dalam benaknya, ia berpikir :

"Meskipun aku tidak menaruh rasa senang atau cinta terhadap diri Pek li Cian Cian, rasanya tidak semestinya kalau aku berpeluk tangan belaka menyaksikan ia harus menderita karena jari tangannya ditebas orang, andaikata gadis cantik dan menarik semacam Pek li Cian Cian betul-betul harus kehilangan sebuah jarinya, aku rasa penderitaan yang dideritanya akan jauh lebih hebat daripada jiwanya dicabut. Biarlah! Memandang di atas budi pertolongannya yang sudah mencabut bibit racun ulat emas dari dalam tubuhku, aku harus cegah perbuatan Poh Giok cu untuk mencelakai dirinya..."

Berpikir sampai disini ia lantas meloncat ke depan, bentaknya keras-keras "

"Ko loocianpwee, aku minta kau segera melepaskan dirinya..." "Aku rasa lebih baik kau tarik kembali ucapanmu itu," tukas Poh

Giok cu Ko Ek dengan suara ketus. "Tak nanti aku jual muka untuk dirimu..."

"Hmmm! Kalau memang begitu maaf kalau boanpwee terpaksa harus berbuat kurang ajar!"

Ia tahu Poh Giok cu salah seorang di antara tiga dewa drai luar lautan tak akan memberi kesempatan kepadanya, maka sembari meloncat ke depan secara tiba-tiba telapak kirinya melancarkan sebuah serangan dahsyat menghantam tubuh lawan, sementara telapak kanannya laksana kilat mencengkeram urat nadi orang tua itu.

Poh Giok cu menjengek sinis mendadak ia mengirim satu tendangan kilat untuk memunahkan datangnya ancaman itu. "Aaaah..." begitu dahsyat serangan ini membuat Pek In Hoei tiada kesempatan untuk menghindarkan diri.

Si anak muda itu membentak keras, badannya berjumpalitan beberapa kali di tengah udara kemudian meloncat ke bawah dan sekali lagi meluncur ke depan.

It-boen Pit Giok yang menyaksikan si anak muda itu terpental ke udara karena serangan si orang tua itu wajahnya seketika berubah hebat, buru-buru tegurnya :

"Supek, kau..."

"Kau tak usah kuatir," jawab Poh Giok cu sambil tertawa ewa. "Tak nanti kulukai dirinya..."

Sementara kedua orang itu masih bercakap-cakap, Pek In Hoei bagaikan sesosok bayangan telah menubruk kembali, sebelum Poh Giok cu sempat mengeluarkan jurus serangan untuk menghadapi mara bahaya, sebuah serangan telapak si anak muda itu sudah bersarang di atas bahunya.

Sekalipun ilmu silat yang dimiliki Poh Giok cu sangat lihay namun ia tak berani menyambut datangnya serangan dahsyat itu dengan keras lawan keras, tetapi serangan itu datangnya terlalu cepat, tidak sempat lagi bagi Poh Giok cu untuk menangkis dengan memakai jurus gerakan, dalam keadaan kepepet terpaksa ia harus melepaskan Pek li Cian Cian dan memutar telapaknya menerima datangnya serangan itu.

Blaaam...! di tengah suara ledakan dahsyat yang menggetarkan seluruh jagad, tubuh Poh Giok cu bergetar keras tiada hentinya sedangkan Pek In Hoei terpukul mundur tiga langkah ke belakang baru berhasil berdiri tegak.

Setiap langkah mundurnya telah meninggalkan bekas telapak kaki sedalam beberapa coen, hal ini membuktikan sampai dimanakah taraf tenaga dalam yang dimiliki kedua belah pihak. Poh Giok cu berdiri melengak, rupanya ia tak pernah menyangka kalau Pek In Hoei si pemuda yang lemah lembut itu ternyata sanggup menerima kedahsyatan pukulannya tanpa roboh.

"Hmmm! rupanya kau lihay juga!" seru si orang tua itu dengan suara dalam. "Dalam kolong langit dewasa ini hanya tiga orang saja yang sanggup menerima pukulanku, sungguh tak nyana kau si bocah cilik pun mempunyai kepandaian sampai ke taraf yang demikian lihay, tidak aneh kalau Pit Giok menggambarkan sedemikian lihaynya!"

Ketika itu It-boen Pit Giok sedang mengawasi jalannya pertarungan antara kedua orang itu dengan mata terbelalak, tetapi setelah mendengar ucapan terakhir dari supeknya ini ia lantas tundukkan kepalanya tersipu-sipu, gadis itu tak berani menengok lagi ke arah Pek In Hoei barang sekejappun.

Si anak muda itu sendiri pun melirik sekejap ke arah It-boen Pit Giok, mendadak dalam hatinya timbul perasaan murung, kesal dan kesunyian, ketika ia menangkap setiap lirikan It-boen Pit Giok yang selalu ditujukan kepadanya itu, dengan perasaan termangu-mangu pikirnya :

"Kenapa sorot matanya begitu sayu... begitu murung? Apakah hal ini disebabkan karena aku berada bersama-sama Pek li Cian Cian... sewaktu berjumpa dalam perkampungan Thay Bie San cung tempo dulu, teringat betapa bencinya dia kepadaku, tapi sekarang ..."

Ia tarik napas panjang-panjang lalu ujarnya :

"Mungkin nona It-boen terlalu membesar-besarkan diriku dalam kenyataan cayhe masih ketinggalan jauh sekali kalau dibandingkan dengan diri Ko Loocianpwee!"

"Hmmm... " Poh Giok cu mendengus dingin. "Bocah sekecil kau sudah berani jumawa dan jual aksi, rupanya kalau aku tidak memberi sedikit pelajaran kepadamu, selamanya kau tak akan gunakan otakmu yang jernih untuk berpikir, jauh-jauh dari luar lautan datang kemari aku Poh Giok cu bukan cuma ingin mendengar perkataan semacam itu..."

Pek In Hoei segera tertawa dingin.

"Kalau kau menganggap perkataan yang kuucapkan keluar adalah kata-kata yang terlalu congkak atau jumawa, maka aku harap kau sekarang juga meninggalkan perkampungan Hong Yap San cung, di tempat ini tak ada orang yang sedang kau cari..."

"Pek In Hoei, kau hendak mengusir kami pergi..." jerit It-boen Pit Giok semakin murung.

Sejak Pek In Hoei tampil ke depan menangani persoalan itu wajah Pek li Cian Cian sudah tidak kelihatan begitu kaget atau takut seperti semula lagi, ia telah melupakan peristiwa yang baru saja berlangsung di mana dirinya terjatuh ke tangan orang dan jari tangannya nyaris dipapas orang sampai putus.

Saat ini dengan bibir tersungging senyuman mengejek serunya ketus :

"Kalau kami hendak usir kalian pergi, terus kalian mau apa? Kau harus tahu Pek In Hoei adalah suamiku, perkataan yang diucapkan olehnya sama pula artinya dengan perkataan yang keluar dari mulutku..."

Ucapan ini diutarakan dengan nada sungguh-sungguh, seolah- olah dia benar-benar sudah mengikat diri jadi suami istri dengan pin, mendengar ocehan yang kacau balau tidak karuan ini kontan pemuda itu jadi mendongkol, dengan wajah berubah jadi merah padam ia melotot sekejap ke arah gadis itu.

Sementara ia hendak membantah, mendadak dari tempat kejauhan berkumandang datang suara teguran :

"Siapa yang bernama Pek In Hoei?"

Ucapan itu merdu bagaikan genta, mengalun di angkasa dan menggema tiada hentinya mengikuti datangnya suara tersebut Pek In Hoei menoleh ke samping, tampaklah seorang nikouw tua berjubah abu-abu dengan membawa tasbeh berwarna hitam dan pandangan yang tajam bagaikan pisau belati menatap wajah Pek In Hoei tak berkedip.

Nikouw tua ini meskipun karena dimakan usia, wajahnya telah berkeriputan tetapi kecantikan wajahnya di masa yang lampau masih jelas tertera di atas mukanya, hal ini bisa membuktikan bahwa pada masa mudanya nikouw ini pastilah seorang perempuan yang cantik dan menarik.

Dengan air mata bercucuran membasahi pipi It-boen Pit Giok segera berjalan menghampiri sisi nikouw tua itu, serunya :

"Suhu!"

Sejak kecil belum pernah Pek In Hoei bertemu dengan seorang nikouw yang berwajah penuh welas kasih seperti ini, begitu agung dan penuh kasih sayang seolah-olah Kwan Im Pouwsat dari Lam Hay.

Diam-diam ia menghela napas panjang dan berpikir :

"Nikouw tua ini pastilah Thiat Tie Sin Nie dari luar lautan, kalau dipandang sikapnya yang agung dan penuh wibawa, semestinya tiada angkara murka yang terpendam dalam hatinya... sungguh aneh sekali! Mengapa begitu berjumpa dengan dirinya napsu marah dan kobaran api berangasan yang terpendam dalam dadaku seketika lenyap tak berbekas..."

Dalam pada itu sambil membelai rambut It-boen Pit Giok yang hitam pekat, Thiat Tie Sin Nie berkata lembut :

"Anakku, sudah kujelajahi seluruh perkampungan Hong Yap San cung ini tetapi sama sekali tak kutemui bayangan tubuh dari si Pendekar Jantan Berkapak Sakti Chee Thian Gak, ditinjau dari keadaan tersebut membuktikan pula kalau Chee Thian Gak bukanlah melarikan diri kemari..."

"Aku bukan mencari dirinya," sahut It-boen Pit Giok sambil gelengkan kepalanya berulang kali. "Menurut kabar dunia kangouw yang tersiar luas, Chee Thian Gak adalah Pek In Hoei, tetapi kalau ditinjau dari bukti yang ada di depan mata sekarang Pek In Hoei dan Chee Thian Gak mungkin adalah dua orang yang berbeda..." Thiat Tie Sin Nie alihkan sinar matanya melirik sekejap ke arah Pek In Hoei kemudian menghela napas panjang, ujarnya :

"Pit Giok, antara kening bocah ini terdapat bekas telapak darah, ujung bibirnya menunjukkan ia tak kenal budi dan cinta, urusanmu dengan dirinya di kemudian hari sulit untuk diramalkan mulai sekarang, aku hanya berharap janganlah kau meniru keadaan suhumu sekarang..."

Berbicara sampai disini ia tertunduk dengan sedih, di atas wajahnya yang agung dan penuh cinta kasih itu terlintas rasa murung yang tebal.

Dengan sedih It-boen Pit Giok gelengkan kepalanya dan membungkam dalam seribu bahasa.

Dalam benak gadis ini kembali terlintas sikap dingin, ketus, angkuh dan jumawa yang diperlihatkan Pek In Hoei sewaktu ada di depan perkampungan Thay Bie San cung, dia pernah menusuk perasaan halusnya dan menyinggung gengsinya sebagai seorang gadis, ia pernah pula mengacaukan pikiran serta perasaan hatinya yang semula tenang bagaikan permukaan telaga. Sebelum ia menginjakkan kakinya di daratan Tionggoan belum pernah ada persoalan yang merisaukan hatinya, tapi sekarang ia mulai merasakan penderitaan dan siksaan.

Kesemuanya ini Pek In Hoei lah yang memberikan kepadanya, oleh karena itu ia sangat membenci diri si anak muda itu, tetapi ia pun mencintai dirinya...

Pek li Cian Cian melirik sekejap ke arah nikouw tua itu, mendadak tegurnya :

"Hey nikouw tua, benarkah barusan kau telah memasuki perkampungan kami?"

"Benar, aku hendak mencari ayahmu karena ada suatu urusan penting..."

Belum habis ia berkata, dari dalam perkampungan telah berlari datang seorang lelaki kekar. Di belakang lelaki itu berjalan mengikuti seorang kakek tua beralis tebal berjenggot hitam serta seorang nenek tua yang membawa tongkat hitam terbuat dari baja.

Lelaki tadi segera menuding kemari sementara kakek beralis tebal serta nenek tua itu laksana kilat meluncur datang.

"Hoooree... ayahku datang!" teriak Pek li Cian Cian kegirangan. Mendengar seruan itu pin terperanjat, sorot cahaya buas memancar keluar dari balik matanya, di ujung bibirnya yang tipis tersungging senyuman dingin dan sadis, diam-diam pikirnya :

"Si kakek tua itu mungkin adalah cung cu dari perkampungan ini... hmmm! si Dukun Sakti Berwajah Seram hampir saja mencabut selembar jiwaku, tunggu saja saatnya, aku pasti akan memberikan sedikit kepadanya..."

Sementara itu terdengar Hong Yap cung cu telah menegur sambil tertawa seram :

"Siapa yang sedang mencari aku Pek li Khie..."

"Omihtohud!" Thiat Tie Sin Nie merangkap tangannya memuji keagungan Buddha lalu sahutnya, "Pek li sicu, apakah kau masih ingat dengan diri Pin-nie..."

Begitu melihat nikouw tua itu, air muka Pek li Khie seketika itu juga berubah hebat.

"Kau... kau adalah Thiat Tie Sin Nie... " Thiat Tie Sin Nie menghela napas panjang.

"Kedatangan Pin-nie jauh-jauh dari laut timur menuju ke daratan Tionggoan semuanya ada tiga persoalan yang akan kuselesaikan, persoalan yang pertama adalah persoalan yang menyangkut peristiwa pembunuhan terhadap It-boen Kiat pemilik peternakan naga putih di wilayah Say-pak pada lima belas tahun berselang..."

Begitu disebutkannya peristiwa itu mendadak sekujur badan Pek li Khie gemetar keras, dengan suara bergetar serunya :

"Apa sangkut pautnya antara peristiwa berdarah itu dengan perkampungan Hong Yap San cung kami?" "Sewaktu kau bersama It-boen Kiat mengusahakan peternakan Naga putih di wilayah Say pak dahulu ia pernah menyerahkan sebatang 'Pek Sioe Poo Pit' kumala pusaka gajah putih kepada dirimu. Pin-nie berharap sicu suka memandang atas hubungan persahabatan kalian dengan It-boen Kiat selama banyak tahun suka menyerahkan batang kumala itu kepadaku..."

Makin mendengar Pek li Khie semakin terkejut, sambil meloncat mundur dua langkah ke belakang serunya berulang kali :

"Tidak ada, tidak ada..."

"Sicu, kalau kau berbuat demikian maka tindakanmu itu adalah keliru besar," kata Thiat Tie Sin Nie dengan nada kurang senang, "batang kumala Pek Siok Poo Pit tersebut mempunyai sangkut paut yang amat besar atas asal usul kelahiran muridku It-boen Pit Giok, meskipun benda itu termasuk suatu jenis benda mustika tetapi..."

"Hmmm! Sama sekali tak ada kejadian seperti ini," tukas si Dukun Sakti Berwajah Seram secara tiba-tiba sambil mendengus dingin. "Pek li cung cu sama sekali tidak mengambil kumala pusaka gajah putih itu, kau suruh ia dapatkan benda itu dari mana untuk diserahkan kepadamu..."

Pek In Hoei yang segera teringat kembali atas perbuatan si dukun sakti yang hampir saja mencabut jiwanya dengan racun ulat emasnya, mendengar dia ikut buka suara hawa amarahnya segera berkobar hebat, mendadak ia maju beberapa langkah ke depan lalu bentaknya keras-keras :

"Kioe Boan Toh! Ayo cepat bergelinding kemari..."

Dukun Sakti Berwajah Seram melengak, rupanya ia tak menyangka kalau seorang pemuda yang masih muda belia berani membentak dirinya secara kasar sebagai seorang jago yang merajai wilayah Biauw, suku-suku liar di situ pun sama-sama menaruh hormat kepadanya apalagi seorang pemuda macam dia, mendengar teriakan yang begitu jumawa amarahnya seketika memuncak.

Dengan badan gemetar keras saking gusarnya ia berseru : "Keparat cilik yang tak tahu diri, rupanya kau sudah bosan hidup di kolong langit..."

Sekali enjot badan ia meloncat ke muka, toya baja berwarna hitamnya langsung diayun ke depan diiringi suara desiran tajam yang membelah bumi, dengan suatu gerakan yang mengerikan dia babat tubuh si anak muda itu.

Buru-buru Pek In Hoei menekuk badannya dan loncat ke udara dengan gerakan cepat bagaikan kilat, dengan suatu gerakan yang manis ia berhasil menghindarkan diri dari ancaman tersebut.

"Kioe Boan Toh!" teriaknya setengah menjerit. "Dengan racun ulat emas kau telah membinasakan Chee Thian Gak, kau harus tahu aku Pek In Hoei adalah sahabat sehidup semati dengan dirinya, ini hari aku akan menuntut balas bagi kematian sahabatku Chee Thian Gak..."

Telapak kirinya laksana kilat meluncur ke depan mengirim satu babatan, segulung angin pukulan yang maha dahsyat seketika menggulung keluar memaksa tubuh si Dukun Sakti Berwajah Seram itu terdesak miring dan harus meloncat mundur ke belakang.

Melihat kehebatan lawannya Dukun Sakti Berwajah Seram itu segera mendongak dan tertawa keras.

"Haaaah... haaaah... haaaah... setelah Chee Thian Gak mati, kini muncul lagi seorang Pek In Hoei. Andaikata aku si Dukun Sakti Berwajah Seram tak berhasil menahan dirimu di dalam perkampungan Hong Yap San cung ini, mulai ini hari aku tak akan muncul lagi di dalam dunia persilatan..."

Watak berangasan dari jago kelas satu yang berasal dari wilayah Biauw ini tidak kalah dengan kaum pemuda, setelah menjerit aneh toya bajanya segera diputar di tengah udara hingga menimbulkan kilatan cahaya yang amat tajam, kemudian langsung menghajar ke muka.

Pek In Hoei tarik napas dalam-dalam, ia hendak menggunakan kesempatan di kala ia belum sempat mengeluarkan segala macam ilmu beracunnya untuk mencabut selembar jiwanya dengan menggunakan ilmu sakti Thay Yang Sam Sie, sebab kalau tidak...

Hawa sakti surya kencana dikerahkan mengelilingi badan satu kali, kemudian dihimpun semuanya ke dalam telapak kanan itu perlahan-lahan diangkat tinggi ke tengah udara.

Pek li Cian Cian adalah orang yang paling gelisah di antara semua yang hadir di situ, ia tak menyangka kalau Pek In Hoei segera turun tangan setelah berjumpa dengan gurunya.

Dalam cemasnya ia takut gurunya si Dukun Sakti Berwajah Seram telah melukai si anak muda itu, segera teriaknya :

"Pek In Hoei, kau bukan tandingan suhu ku.. ayoh cepat kembali..."

Ia merandek sejenak, kemudian sambil menoleh ke arah gurunya ia berteriak lagi :

"Suhu... dia adalah... dia adalah... janganlah kau melukai dirinya..."

Pek In Hoei terkesiap, hampir saja tenaga murni yang telah dihimpun itu buyar kembali, ia segera keraskan hatinya dan mendengus dingin, hawa murni disalurkan keluar mengikuti suatu gerakan serangan yang aneh, hawa panas yang amat menyengat badan berbarengan dengan kilatan cahaya yang menyilaukan mata segera menggulung keluar.

"Aaaah..."

Mimpi pun si Dukun Sakti Berwajah Seram tak pernah membayangkan Pek In Hoei berhasil menguasai Thay Yang Sin Kang ilmu maha sakti dari negeri tayli, ia merasakan gelombang hawa panas yang luar biasa hebatnya menghantam sekujur badannya membuat ia menjerit ngeri... dadanya terhajar hangus oleh kilatan cahaya merah yang membara itu dan tak ampun lagi jiwanya melayang meninggalkan raganya.

Dengan wajah amat terperanjat bercampur tercengang, Thiat Tie Sin Nie berseru keras, ia tak percaya kalau seorang pemuda yang masih demikian mudanya ternyata berhasil melatih ilmu ganas yang maha sakti itu hingga mencapai taraf yang begitu sempurna.

Sementara itu Pek li Cian Cian telah menjerit ngeri dengan penuh kesedihan :

"Pek In Hoei, kau betul-betul amat kejam..."

Si anak muda itu hanya merasakan darah panas bergolak dalam dadanya, rasa penasaran dan mangkel yang semula menyumbat dadanya segera membuyar dan lenyap, ketika ia saksikan kesedihan serta kesengsaraan dari Pek li Cian Cian timbul rasa sedih dalam hati kecilnya, buru-buru ia melengos kemudian enjotkan badan berlalu dari situ.

Memandang bayangan punggung Pek In Hoei yang kian menjauh dari pandangan, It-boen Pit Giok yang selama ini hanya membungkam saja tiba-tiba merasakan golakan perasaan yang sukar dikendalikan; segera dia pun enjotkan badannya menyusul, teriaknya keras-keras :

"Pek In Hoei..."

Dalam sekejap mata bayangan tubuh kedua orang itu sudah lenyap di balik kegelapan yang mencekam seluruh jagad.

Pada waktu itu Poh Giok cu maju merangsek dan mencengkeram tangan Pek li Khie, serunya :

"Kalau kau tidak serahkan kumala pusaka 'Pek Sioe Poo Pi' kepada kami, perkampungan Hong Yap San cung ini akan kami ratakan dengan tanah..."

Dengan penuh penderitaan Pek li Khie berteriak keras :

"Bukan aku yang mengambil benda itu... benda itu betul-betul tidak berada disini... ketika It-boen Kiat menyerahkan benda itu kepadaku tempo dulu Hoa Pek Tuo telah merampasnya dari tanganku..."

"Aaaah, jadi kalau begitu kematian dari It-boen Kiat pun ada sangkut pautnya dengan Hoa Pek Tuo..." seru Thiat Tie Sin Nie dengan hati terkejut. Air muka Poh Giok cu pun berubah hebat, sambil melepaskan Pek li Khie dari cekalannya ia membentak :

"Ayoh berangkat, andaikata Hoa Pek Tuo benar-benar tersangkut dalam kasus pembunuhan terhadap pemilik peternakan naga putih di wilayah Say Pak, sekalipun aku harus keluarkan ilmu 'Poh Giok Chie Sie' dia pasti akan kubunuh sampai mati..."

Thiat Tie Sin Nie merangkap tangannya memuji keagungan Buddha, kemudian bersama-sama Poh Giok cu berlalu dari situ dan lenyap di balik kegelapan...

.....

Angin malam berhembus lembut membelah kesunyian yang mencekam, di tengah malam yang gelap dua belas buah lampu lentera dengan dibagi dalam delapan sudut bergelantungan di sekeliling sebuah telaga besar, membuat permukaan telaga jadi terang benderang.

Di tepi telaga pada saat itu telah dipenuhi oleh para jago yang berdatangan dari seluruh penjuru kolong langit, mereka berdiri dalam suasana yang hening tak seorang pun yang buka suara atau pun bercakap-cakap, semua pandangan mata tercurahkan pada sebuah pagoda di tengah telaga.

Traaaang...! suara lonceng yang nyaring mendadak berkumandang di tengah udara dan mengalun di sisi telinga para jago... lama sekali suara itu baru sirap kembali... suasana mulai gaduh dan suara berbisik mulai terdengar menggema dari antara para jago.

Setelah suara lonceng tadi sirap, dari dalam bangunan pagoda di tengah telaga perlahan-lahan berjalan keluar Chin Tong serta Ku Loei dua orang, setibanya di tepi telaga mereka saling berpisah ke kiri kanan dan memandang sekejap ke arah para jago yang hadir di sana.

Terdengar Ku Loei berkata sambil tertawa :

"Saudara-saudara sekalian tentu sudah lama menunggu bukan? Dalam pertemuan para enghiong yang diselenggarakan di tepi telaga malam ini, entah para jago dari delapan perguruan tiga partai lima lembah serta sepuluh benteng sudah pada berkumpul semua atau belum..."

Suasana di empat penjuru hening dan sunyi untuk beberapa saat lamanya, tiba-tiba terdengar seorang kakek tua dengan suaranya yang serak :

"Kecuali orang-orang dari partai Sauw-lim, partai Bu-tong serta partai Thiam cong, boleh dikata semua anak murid perguruan lain telah hadir disini."

Bagian 19

MENDENGAR ucapan itu Ku Loei jadi naik pitam, teriaknya dengan penuh kemarahan :

"Apa? Ada anak murid perguruan yang tidak ikut menghadiri pertemuan ini? Bukankah di atas surat undangan sudah kami jelaskan bahwa kecuali ciangbunjien-nya sendiri yang hadir orang lain tidak diperkenan ikut datang kemari."

Teriakannya yang disertai oleh hawa amarah ini kontan disambut dengan sikap tidak puas oleh para jago lihay dari pelbagai partai serta perguruan, terdengar dengusan dingin berkumandang simpang siur dari antara gerombolan hadirin, seorang pemuda loncat keluar dari barisan adalah segera berteriak keras :

"Apa maksud ucapanmu itu? Ciangbunjien kami toh bukan manusia penganggur yang punya banyak waktu luang, apa salahnya kalau dari partai kami diutus para anak muridnya untuk mewakili? Apakah kecuali ciangbunjien sendiri orang lain tak boleh mewakili?"

"Hmmm! Siapa kau?"

"Anak murid partai Tiong-lam Loe Liang Jien..."

"Aku perintahkan kau saat ini juga enyah dari perkampungan Thay Bie San cung, di tempat ini kekurangan satu partai Tiong Lam masih terhitung seberapa, kalau ciangbunjien kalian di dalam tiga hari tidak datang kemari, mohon maaf, Hmmm... jangan salahkan kami kalau partai kalian secara mendadak menemui bencana kehancuran total."

Dengan diucapkannya perkataan semacam ini sudah jelas kemanakah maksud tujuan orang she Chin ini.

Saking gusarnya air muka Loe Liang Jien seketika berubah jadi hijau membesi, ia melangkah maju setindak ke depan, sambil menuding ke arah Chin Tiong makinya :

"Partai Tiong-Lam kami sama sekali tidak butuh menjilat pantat kalian orang-orang dari perkampungan Thay Bie San cung, siapa pun tahu sampai dimanakah ambisi kalian untuk mengundang semua partai ini. Hmmm! Bukankah kamu hendak mengangkangi dunia persilatan? Huuh! Anak murid partai Tiong Lam kami nomor satu yang tidak setuju dan akan selalu menentang maksud kalian itu."

Selesai berkata dingin, ia putar badan dan segera berlalu. Mengikuti tindakannya tersebut lima enam orang jago lihay dari pelbagai partai segera ikut berlalu pula dengan wajah penuh kegusaran.

Melihat tingkah laku orang-orang itu, Chin Tiong segera mendongak dan tertawa terbahak-bahak "

"Haaaah... haaaah... haaaah... siapa yang berani berlalu dari sini mengikuti jejak anak murid dari partai Tiong-Lam itu, berarti pula menjadi musuh dari perkampungan Thay Bie San cung kami, asal sesudah melewati malam ini kalian akan tahu sampai dimanakah kelihayan dari kami perkampungan Thay Bie San cung..."

Sebagian besar para jago yang diundang untuk menghadiri pertemuan para jago pada malam ini boleh dikata menaruh rasa jeri terhadap pengaruh serta kekuasaan Perkampungan Thay Bie San cung, meskipun di dalam hati mereka merasa tidak puas tetapi teringat akan kelihayan dari sepasang iblis yang berasal dari samudra Seng Sut Hay, terpaksa semua orang harus menekan kobaran hawa amarah serta rasa tidak puas itu di dalam hati saja, tak seorang pun yang buka suara atau pun membantah. "Ngaco belo! ngaco belo!"

Dari dalam bangunan pagoda air di tengah telaga berkumandang suara bentakan nyaring, dengan ketakutan Chin Tiong serta Ku Loei tundukkan kepalanya dengan sikap menghormat, mereka tak berani mendongak lagi...

Bersamaan dengan menggemanya suara bentakan tadi, Si Iblis Sakti Berkaki Telanjang Kong Yo Leng beserta istrinya si Iblis Khiem Kumala Hijau Mie Liok Nio munculkan diri dari balik ruangan.

Ciak Kak Sin Mo menjura lebih dulu ke para jago yang hadir di sisi telaga, kemudian teriaknya dengan suara keras :

"Harap saudara-saudara sekalian suka memaafkan diri muridku yang terlalu angseran serta berangasan itu, bilamana sudah menyalahi saudara sekalian mohon dimaafkan sebesar-besarnya, mengenai persoalan diselenggarakannya pertemuan para jago pada malam ini, mungkin sudah terjadi kesalahpahaman di antara kalian..."

Ia merandek sejenak, kemudian terusnya :

"Ada pun tujuan siauw te mengundang saudara sekalian untuk jauh-jauh berkumpul di dalam perkampungan Thay Bie San cung pada malam ini bukan lain adalah untuk mengajak saudara-saudara sekalian merundingkan satu masalah yang cukup serius, kalian tentu tahu bukan bahwa di dalam tubuh partai besar yang bercokol di dalam dunia persilatan seringkali terjadi pertumpahan darah hanya disebabkan satu persoalan kecil saja, pertumpahan darah itu seringkali menggoncangkan ketenteraman serta ketenangan dunia kangouw, untuk menghindarkan diri dari kekacauan-kekacauan yang tidak diharapkan itu maka sengaja siauwte undang saudara sekalian untuk berkumpul disini membicarakan masalah tersebut, aku berharap agar cuwi sekalian dapat memilih seorang pemimpin untuk menduduki kursi Beng cu khusus untuk menangani masalah yang menyangkut soal pertumpahan darah tersebut."