Imam Tanpa Bayangan I Jilid 09

 
Jilid 09

GADIS BERGELANG EMAS itu segera menggeleng.

"Dengan kejadian ini maka racun ulat emas yang mengeram dalam tubuhnya, dalam waktu dua jam lagi bakal mati semua..."

Ia merandek sejenak, lalu katanya lagi :

"Sebab ulat-ulat emas itu adalah binatang pemakan darah, andaikata tak ada darah yang dimakan maka racun ulat emas itu bakal mati dengan sendirinya."

"Ooooh karena itulah siaocia hendak mendesak ulat-ulat emas itu kembali ke jantung?" seru Sioe To menjadi paham.

"Sedikit pun tidak salah, aku memang hendak berbuat demikian! Coba lihat bukankah di atas wajahnya sudah tidak terlihat tanda-tanda warna emas lagi bukan?"

"Aaaah....!" mendadak Chee Thian Gak merintih, kemudian merangkak bangun dari atas tanah.

Rupanya gadis bergelang emas itu tidak menyangka kalau pemuda she chee itu bisa mendusin demikian cepatnya, ia terperanjat dan segera serunya :

"Kau... kau bisa merangkak bangun?"

Perlahan-lahan Chee Thian Gak membuka matanya, ketika menjumpai seorang gadis bergelang emas dengan dandanan yang aneh sedang berdiri di hadapannya, ia segera menegur dengan nada tercengang :

"Siapa kau? Tempat manakah ini?"

"Aku bernama Pek-li Cien Cien, dan siapa kau?" "Cayhe..."

Mendadak ia rasakan perutnya teramat sakit seolah-olah ada seekor ular yang sedang menggigit ususnya, ucapannya seketika merandek. Sambil tarik napas dalam-dalam ia segera salurkan hawa murninya mengelilingi seluruh badan dan mulai bersemedi.

Dalam waktu singkat wajahnya telah berubah jadi merah padam, jubah merah yang dikenakan perlahan-lahan ikut mengembung, himpunan hawa murni yang amat dahsyat dengan mengikuti peredaran darahnya menyerang ke arah bagian tubuhnya yang terasa amat sakit.

Pek-li Cien Cien yang menyaksikan keadaan itu dalam hati merasa amat terperanjat, ia tak menyangka kalau tenaga lweekang yang dimiliki lelaki berjubah merah itu demikian dahsyatnya. Gadis itu segera berpikir :

"Mimpi pun aku tak pernah menyangka setelah tubuhnya terkena racun ulat emas dari suhu, dia masih mampu untuk mengerahkan tenaga dalamnya... ia betul-betul hebat..."

Beberapa saat kemudian dari atas batok kepalanya mengepul kabut berwarna putih, makin lama makin menebal hingga akhirnya seluruh batok kepalanya terlapis oleh kabut berwarna putih itu.

"Siaocia," seru Sioe To dengan nada terkesiap. "Dia jauh lebih hebat dari loo-ya kita..."

"Sstt, jangan bicara!" seru Pek-li Cien Cien sambil merapatkan jari tangannya di atas bibir.

Kemudian dengan wajah penuh napsu membunuh selangkah demi selangkah ia maju mendekati tubuh si anak muda itu, jari tangannya dipertegang siap-siap melancarkan totokan.

Andaikata totokan tersebut bersarang di tubuh si anak muda itu, maka niscaya Chee Thian Gak bakal mengalami jalan api menuju neraka, hawa murninya seketika akan buyar dan tubuhnya jadi Pan- swie. Desiran angin tajam menderu-deru ujung jari gadis itu telah merobek jubah merah yang dikenakan Chee Thian Gak dan menotok jalan darah Beng-bun hiat di atas punggung lawan.

Pada detik terakhir sebelum jarinya mengenai sasaran mendadak pemuda she Chee itu menggeser sedikit tubuhnya ke samping, tanpa menunjukkan reaksi apa pun ia meneruskan semedinya mengatur pernapasan.

Air muka Pek-li Cien Cien berubah hebat, ia merasakan kedua jari tangannya seakan menotok di atas papan baja yang keras membuat tangannya jadi linu dan kaku.

Dengan hati terkesiap ia mundur satu langkah ke belakang, pikirnya :

"Tidak aneh kalau suhu terpaksa harus melepaskan racun ulat emas untuk menghadapi dirinya, dalam mengatur pernapasan untuk menyembuhkan lukanya pun ia masih mampu untuk melindungi diri sendiri, kepandaian dahsyat seperti ini boleh dibilang jauh melebihi kemampuan suhuku sendiri..."

Ia gigit ujung bibirnya lalu berpikir lebih jauh :

"Andaikata aku berhasil menangkap dirinya, betapa senang dan gembiranya suhu, waktu itu dia pasti akan memuji diriku jauh lebih mengerti akan urusan."

Dalam pada itu Chee Thian Gak telah berhasil menyudutkan racun ulat emas yang dilepaskan si Dukun sakti berwajah jelek di dlm jalan darah Ci Tong hiat dengan andalkan hawa murni aliran panasnya, setelah itu semua jalan darahnya ditutup rapat-rapat.

Ia menghembuskan napas panjang dan siap meloncat bangun.

Menggunakan kesempatan itulah Pek-li Cien Cien tiba-tiba meloncat ke depan, telapaknya segera ditekankan ke atas batok kepala si anak muda itu.

"Jangan berdiri!" bentaknya dengan wajah penuh napsu membunuh.

Chee Thian Gak melengak, segera tegurnya : "Eeeei... apa yang hendak kau lakukan?"

******

Bagian 18

"APAKAH KAU bermusuhan dengan si Dukun sakti berwajah jelek dari wilayah Biauw sehingga ia melepaskan racun ulat emas ke dalam tubuhmu?" tegur Pek-li Cien Cien.

Dalam hati Chee Thian Gak sadar bahwa ia telah bertemu lagi dengan musuh tangguh, ia hanya heran bahwa dirinya sama sekali tidak kenal dengan dara berdandan aneh ini, apa sebabnya sekarang ia malah diancam?

Maka sahutnya :

Sedikit pun tidak salah, siapa kau ?" "Kau tak usah mengurusi siapakah aku!"

"Haaaah... haaaah... haaaah... sudah lama cayhe berkelana di dalam dunia persilatan, tapi belum pernah kujumpai ada orang berani mengancam keselamatanku dengan cara begini."

"Sekarang akan kusuruh kau rasakan bagaimanakah rasanya kalau diancam orang..." sahut Pek-li Cien Cien sambil tertawa dingin.

Chee Thian Gak tersenyum.

"Sebenarnya apa yang hendak kau lakukan terhadap diriku?" "Putar wajahmu menghadap kemari!"

"Seandainya aku tidak mau mendengarkan perkataanmu?" jengek Chee Thian Gak diam-diam merasa geli.

"Kalau kau berani membangkang maka sekali tepuk kuhajar jalan darah 'Pek Hoei hiat'mu, kau tentu tahu bukan bagaimana akibatnya?" "Hingga detik belum pernah aku diancam orang dengan cara seperti ini," pikir pemuda she Chee ini di dalam hati. "Pengin kulihat

siapakah sebenarnya orang ini?"

Perlahan-lahan ia menoleh, tampaklah seraut wajah yang amat cantik terpancang di depan matanya, meski ayu rupawan sayang matanya membawa napsu membunuh dan bibirnya tersungging senyuman yang amat dingin, membuat hati orang yang melihat merasa bergidik.

Pek-li Cien Cien sendiri diam-diam mengerutkan dahinya sewaktu menyaksikan cambang serta rambut Chee Thian Gak yang awut-awutan, tegurnya dengan nada jengkel :

"Hey, sudah berapa lama sih kau belum mandi?"

Pertanyaan ini bukan saja lucu bahkan menunjukkan wataknya yang polos da bersifat kekanak-kanakan, membuat Chee Thian Gak yang mendengar mau tertawa tak bisa mau menangis pun sungkan, ia tertawa getir :

"Apa maksudmu mengajukan pertanyaan seperti ini? Apakah kau hendak ajak dirimu mandi bersama?"

"Sebelum kukirim dirimu menghadap suhu, kau pasti akan kumandikan lebih dahulu!"

Haruslah diketahui sejak kecil gadis ini telah dibawa si dukun sakti berwajah seram pindah ke wilayah Biauw, pergaulannya dengan bangsa Biauw membuat dara ini terbiasa pula mengikuti tata cara mereka untuk mandi tiga kali setiap harinya.

Kini menyaksikan keadaan tubuh Chee Thian Gak yang dekil dan kotor, badannya tanpa terasa jadi ikut gatal hingga timbul niatnya untuk memandikan tubuh si anak muda itu.

Sebaliknya bagi Chee Thian Gak sendiri, ketika dilihatnya sifat kekanak-kanakan gadis itu belum hilang, bahkan bicara pun blak- blakan tanpa tedeng aling-aling, niatnya untuk menusuk telapak tangan gadis itu dengan rambutnya kemudian menawan dirinya segera dibatalkan.

Setelah hidup dalam ketegangan selama beberapa tahun, timbul keinginan dalam hati si pemuda ini untuk mencari sedikit hiburan.

Ia mendehem lalu bertanya :

"Sungguhkah kau hendak memandikan diriku?" "Apakah kau merasa keberatan untuk menghilangkan kotoran serta dekil yang melekat tubuhmu?" Pek-li Cien Cien balik bertanya dengan mata terbelalak besar.

"Kau hendak mandikan diriku, apakah tidak takut dimarahi gurumu?"

Untuk sesaat Pek-li Cien Cien tak dapat menangkap makna sebenarnya dari ucapan itu, dengan nada serius sahutnya :

"Suhuku dia orang tua paling suka akan kebersihan, tentu saja dia tak akan memarahi diriku."

"Haaaah... haaaah... haaaah... dengan keadaan suhumu yang dekil dan kotor masa ia suka akan kebersihan?"

"Kau berani memaki suhuku? Hati-hati, kubunuh dirimu!" ancam Pek-li Cien Cien dengan mata melotot.

Chee Thian Gak berhenti tertawa, tanyanya :

"Benarkah suhumu adalah si dukun sakti berwajah seram?" "Sedikit pun tidak salah, kali ini aku telah mengikuti dia orang

tua kembali ke daratan Tionggoan."

Chee Thian Gak melirik sekejap ke arah gadis berbaju hijau yang berdiri di samping itu, kemudian katanya lagi :

"Kalau begitu rumahmu pastilah berada di sekitar sini?...

Siapakah ayahmu?"

Pek-li Cien Cien tidak menjawab, sebaliknya menatap sepasang mata si anak muda itu pujinya :

"Ooooh, sungguh indah sepasang matamu!"

Sioe To yang berdiri di samping, ketika dilihatnya secara tiba- tiba nona majikannya memegang batok kepala lelaki setengah baya itu dengan tangan telanjang kemudian bergurau dan bercakap-cakap dengan bebasnya, dalam hati segera berpikir :

"Sungguh besar nyali siaocia ini, bukan saja tangan dan kakinya telanjang bahkan bergurau dan bercakap-cakap seenaknya dengan seorang pria asing... tidak aneh kalau orang bilang manusia-manusia dari wilayah Biauw adalah manusia-manusia liar..." Ketika ia mendengar pujian dari siaocia-nya barusan, tanpa terasa gadis itu ikut alihkan sinar matanya ke arah sepasang mata Chee Thian Gak, tapi begitu sorot matanya terbentur dengan sorot mata lawan, jantungnya kontan berdebar keras, buru-buru ia melengos ke samping.

Tampak Chee Thian Gak tersenyum, ujarnya :

"Eeei... aku toh sedang bertanya siapakah nama ayahmu, mengapa kau alihkan pembicaraan ke situ?"

"Looya kami adalah setengah kilat Pek li Sie yang amat tersohor namanya di daerah sekitar Su cuan," buru-buru Sioe To menjawab.

"Hey," tiba-tiba terdengar Pek-li Cien Cien berseru lagi dengan nada kesemsem, "Secara mendadak kutemukan bahwa gigimu rapi dan putih, waktu tertawa nampak sangat indah dan menarik. Hey, seandainya cambangmu dicukur mungkin wajahmu kelihatan semakin menarik!"

Chee Thian Gak mengerutkan alisnya.

"Apakah ayahmu juga tidak mengurusi dirimu?" serunya. "Hey, Pek-li Cien Cien, apakah ia setuju kalau kau mandikan diriku?"

Rupanya pada saat itulah Sioe To baru menyadari maksud lain dari ucapan Chee Thian Gak barusan, ia segera berteriak :

"Siaocia, kau tertipu, ia sudah mengejek dan menghina dirimu!"

Pek-li Cien Cien termenung dan berpikir sebentar, akhirnya dia pun menyadari akan maksud lain daripada ucapan itu, merah jengah selembar wajahnya.

"Ciiss, berani benar kau bermaksud jelek terhadap diriku," makinya kalang kabut.

Hawa murninya segera disalurkan ke dalam telapak, dalam gusar dan malunya ia telah himpun segenap kemampuannya untuk melancarkan sebuah tabokan.

Chee Thian Gak sendiri baru menyesal setelah ucapan itu meluncur keluar, ia merasa tidak sepantasnya kalau mengucapkan kata-kata serendah itu, tapi ia tak pernah menyangka kalau Pek-li Cien Cien secara tiba-tiba bisa melancarkan serangan.

Dalam keadaan tidak bersiap sedia, hawa murninya segera buyar, kepalanya terasa pusing tujuh keliling dan seketika itu juga pemuda tersebut jatuh tak sadarkan diri.

Andaikata peristiwa ini diketahui oleh Song Kim Toa Lhama atau Hoa Pek Tuo sekalian jago-jago lihay, mereka pasti tak akan percaya dengan kemampuan silat yang dimiliki Chee Thian Gak ternyata berhasil dihajar pingsan oleh seorang gadis cilik, andaikata Oorchad mengetahui akan hal ini maka ia pasti tak akan mempercayai pandangan matanya sendiri.

Melihat musuhnya roboh tak sadarkan diri, Pek-li Cien Cien segera berseru sambil tertawa dingin :

"Hmmm, aku masih mengira dia punya kemampuan yang begitu hebat sehingga berani mengucapkan kata-kata semacam itu terhadap diriku. Hmmm! Sekarang akan coba kulihat perkataan apa lagi yang sanggup dia utarakan keluar!"

"Siaocia, apa yang hendak kau lakukan terhadap dirinya?" "Boyong di pulang ke rumah, kemudian cari orang suruh

mandikan dirinya, setelah itu menunggu sampai suhu pulang. Akan kuserahkan keparat ini pada suhu."

"Tapi siaocia... bagaimana caranya kita boyong lelaki ini pulang ke dalam perkampungan?" Sioe To merengek kesulitan.

"Goblok, gotong saja dia keatas kuda kemudian kita masuk melalui pintu belakang perkampungan, bukankah beres sudah persoalannya?"

Bicara sampai di situ sinar matanya dialihkan ke atas wajah Chee Thian Gak, di antara bibirnya yang terbungkam terlintas rasa penyesalan yang tebal, apakah ia sedang menyesal karena telah melakukan perbuatan salah?

..... Entah berapa saat lamanya telah lewat, Chee Thian Gak mendusin kembali, ia merasa dirinya berada di sebuah taman bunga yang sedang mekar dan menyiarkan bau harum...

Mendadak... ia mendengar ada orang memanggil dirinya, suara itu seolah-olah datang dari suatu tempat yang sangat jauh tapi terasa dekat pula di sisi tubuhnya.

Ia lari menuju ke tengah kebun, mencari sumber asal mulanya suara tadi... akhirnya dia benar-benar mendusin.

"Thian... terima kasih atas kemurahanmu, akhirnya aku sadar kembali!"

Serentetan suara yang merdu berkumandang dari sisi telinganya, si anak muda itu terperanjat, sekarang ia baru sadar bahwa dirinya bukan berada dalam impian.

Mengikuti arah berasalnya suara tadi, ia saksikan Pek-li Cien Cien sedang berdiri di sisi pembaringan sambil memandang ke arahnya dengan wajah berseri-seri, dua buah lampu lentera tergantung di kedua belah samping menyoroti wajahnya yang cantik.

Hanya sekejap saja, ia segera teringat bagaimana mungkin dirinya bisa berbaring di atas pembaringan yang menyiarkan bau wangi ini, pemuda itu berseru tertahan kemudian meloncat bangun dari atas ranjang.

Ketika selimut tersingkap, pemuda itu bertambah kaget lagi sebab ditemuinya ia berbaring hanya memakai celana dalam dan pakaian dalam saja, baru ia tarik kembali selimut itu untuk menutupi tubuhnya.

Menyaksikan tingkah lakunya yang gugup dan lucu, Pek-li Cien Cien tak dapat menahan rasa gelinya lagi, ia tertawa cekikikan.

"Apa yang sedang kau tertawakan?" tegur Chee Thian Gak dengan nada mendongkol bercampur gusar.

Sinar matanya berkelebat, ia temukan sebuah cermin besar tergantung di situ dan dari cermin ia dapat menyaksikan wajahnya yang telah berubah memerah. "Aaaah...!" kembali pemuda itu berteriak kaget, ia temukan jenggot dan cambangnya entah sejak kapan telah dicukur orang hingga bersih, rambutnya yang awut-awutan telah disisir pula dengan rapi.

"Eeeei... dimanakah cambangku?" jeritnya.

"Hiiih... hiiiih... hiiih... cambangmu sudah dicukur sampai licin!" Chee Thian Gak jadi mendongkol bercampur kecewa... ia tak mengira kalau janggut dan cambang yang dipeliharanya selama banyak tahun dengan harapan bisa digunakan untuk menyaru sebagai Chee Thian Gak dan merusak rencana busuk dari Hoa Pek Tuo untuk merajai Bu lim telah dicukur habis oleh orang lain sewaktu ia tak

sadarkan diri.

Teringat bahwa raut wajahnya telah pulih kembali seperti sedia kala, Pek In Hoei menghela napas panjang dan menggeleng tiada hentinya.

"Heeeei.... sungguh aneh kau ini," seru Pek-li Cien Cien sambil tertawa. "Rupamu begitu tampan dan menarik, kenapa sih malah suka berdandan begitu kotor dan dekil? Kalau dilihat dari gerak gerikmu, rupanya kau sedang menyesal dan kecewa karena jenggotmu kucukur licin..."

pin tertawa getir, pikirnya :

"Mana kau bisa tahu akan kesulitanku?"

Pek-li Cien Cien tanpa malu dan sungkan-sungkan segera duduk di sisi tubuhnya, ia menegur sambil tertawa :

"Hey siapa sih namamu?"

Melihat gadis cantik ini bukan saja berlengan dan berkaki telanjang bahkan tanpa sungkan-sungkan dan malu duduk di sisi tubuhnya, Pek In Hoei jadi kaget, buru-buru ia menyingkir lebih ke dalam.

Menyaksikan tingkah laku si anak muda itu Pek-li Cien Cien tertawa cekikikan, saking gelinya sampai tak tahan lagi ia menubruk ke atas tubuh pemuda itu. "Eeeei... nona... kau... kau..." teriak pin kelabakan.

"Kau ini... sungguh menyenangkan sekali!" seru Pek-li Cien Cien sambil menowel pipi pemuda itu.

"Menyenangkan?" pin betul-betul dibikin menangis tak bisa tertawa pun susah, dengan wajah serius serunya, "nona, aku minta kau sedikit tahu diri,haruslah kau ketahui bahwa hubungan antara pria dan wanita ada batasnya."

"Apa itu batas-batas antara kaum pria dan wanita?" jengek Pek-li Cien Cien. "Bagi kita yang biasa hidup di wilayah Biauw, tarik menarik tangan, rangkul merangkul adalah suatu kejadian yang umum dan biasa, apakah kau tidak tahu setiap tahun di kala orang menari di bawah sinar rembulan, acara pasti diakhiri dengan masuknya pasangan pria dan wanita ke dalam gua atau semak belukar yang gelap, toh mereka tidak apa-apa dan tidak dianggap kelewat batas?"

Diam-diam Pek In Hoei dibikin terkejut juga oleh keberanian gadis manis ini, segera tanyanya :

"Siapakah yang kau maksudkan dengan mereka?"

"Suku Pay I, suku Lolo, dan suku Biauw, mereka semua berbuat demikian!..."

"Hmmm, tidak aneh kalau mereka berbuat begitu tak tahu diri, rupanya kau maksudkan suku-suku liar yang belum beradab itu. Hmmm... mana bisa adat istiadat mereka dibandingkan dengan tata kesopanan dari daratan Tionggoan kita?"

Pek-li Cien Cien mengerutkan dahinya dan mendengus dingin. "Andaikata seseorang telah menyintai pihak yang lain, kenapa

mereka harus sembunyikan rasa cinta dan kasih mereka satu sama lain? Apakah saling jatuh cinta adalah suatu perbuatan yang keliru? Hmmm, adat istiadat, tata cara kesopanan kolot yang ditetapkan oleh setan-setan tua bangka yang sudah mendekati liang kubur, di luarnya saja mereka suruh orang pegang adat dan jaga diri, padahal dalam kenyataannya mereka sendiri toh main kasak kusuk dan melanggar kesusilaan..." "Nona, seandainya di kolong langit tiada peraturan serta tata cara kesopanan yang mengikat satu sama lainnya, maka perbuatan tiap manusia tentu akan jadi liar tak tahu malu dan brutal, akan berubah jadi apakah jagad kita ini? Bagaimanapun juga toh manusia tak bisa kau samakan dengan binatang liar! Bukan begitu?" seru Pek In Hoei dengan wajah serius.

Sorot mata yang tajam mendadak memancar keluar dari balik kelopak matanya, ia berkata lebih jauh :

"Sedangkan mengenai tuduhan nona yang mengatakan penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan para pujangga... hal ini harus diingatkan pula bahwa manusia bukanlah makhluk yang super sempurna, suatu saat mungkin saja seseorang melakukan kesalahan, karena itu aku minta agar kau jangan sembarangan mencerca atau pun menghina para cianpwee dan pujangga besar..."

"Aduuuh mak! Sungguh tak nyana dengan usiamu yang masih begini muda, ternyata otaknya telah dipenuhi dengan segala macam peraturan yang kolot dan kuno," seru Pek-li Cien Cien sambil tertawa merdu.

Ia merandek sebentar kemudian katanya lagi :

"Bukankah Khong Coe pernah berkata bahwa Cinta adalah perasaan yang dimiliki setiap insan manusia? Apakah rasa cinta antara seorang pria terhadap seorang wanita adalah suatu perbuatan yang melanggar susila?..."

Diam-diam Pek In Hoei tarik napas dingin, ia tak menyangka sama sekali kalau gadis cili yang datang dari wilayah Biauw ini ternyata mengerti banyak akan urusan, untuk beberapa saat lamanya ia tak sanggup membentak atau pun mengucapkan sepatah kata pun.

Akhirnya setelah termenung beberapa saat lamanya terpaksa ia berkata :

"Sudah... sudahlah... anggap saja apa yang kau ucapkan barusan adalah benar. Tetapi bagaimanapun juga kau toh harus memberi kesempatan bagiku untuk bangun!" Merah padam selembar wajah gadis manis itu.

"Beritahu dulu kepadaku, siapa namamu? Setelah itu aku akan melepaskan dirimu untuk bangun."

Pek In Hoei tidak langsung menjawab, ia termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian baru jawabnya :

"Baiklah, akan kuberitahukan siapa namaku, tapi kau harus janji jangan katakan kepada suhumu lho!"

"Suhu dan ayah sedang keluar rumah, mungkin tiga empat hari lagi baru akan pulang ke sini..." kata Pek-li Cien Cien, dengan lidahnya ia membasahi ujung bibirnya yang kering lalu terusnya, "Hayo cepat toh beritahu namamu, kemudian aku akan lenyapkan racun ulat emas yang mengeram dalam tubuhmu kalau tidak... awas, tak akan kupedulikan lagi mati hidupmu!"

"Cayhe Pek In Hoei bukanlah manusia yang takut akan mati!" kata pemuda itu sambil tertawa hambar. "Sekarang tolong nona keluar dahulu sebab aku mau berpakaian, masa kau suruh aku berada dalam keadaan telanjang terus?"

"Pek In Hoei? Ooooh...! Sungguh indah dan menarik namamu itu!... Hey, Pek In Hoei, coba katakanlah apakah namaku pun enak didengar dan menarik??"

"Menarik, menarik sekali," jawab si anak muda tak sabaran, "Nah! Sekarang harap nona keluar dahulu!"

"Huuh... kenapa aku mesti keluar?? Pakaianmu toh aku yang lepaskan semua... rasanya kau pun tak usah malu-malu lagi terhadap diriku, sebab seluruh badanmu sudah kulihat semua ketika aku melepaskan pakaianmu tadi..." ia tatap wajah pemuda itu tajam-tajam dan menambahkan, "Hey, halus amat kulit badanmu... aduh... bukan saja putih bersih bagaikan salju bahkan keras berotot... waah dipegang dan diraba... syuuur nikmat sekali!"

Merah padam selembar wajah Pek In Hoei mendengar perkataan itu, batinya di dalam hati : "Eeei... eei... eei... perempuan macam apakah orang ini? Kalau dilihat rupa serta gerak-geriknya semestinya dia sudah mengerti akan hubungan antara laki dan perempuan, kenapa sih tingkah lakunya begitu tak tahu malu dan tebal muka?? Huuuh! tidak sepantasnya kalau aku anggap perbuatannya ini karena sifatnya yang masih polos dan lincah..."

Sementara ia masih membatin mendadak pintu terbuka dan muncullah seorang gadis berbaju hijau yang membawa sebuah nampan di tangannya, tatkala sorot matanya terbentur dengan raut wajah Pek In Hoei yang ganteng tanpa sadar merah jengah pipinya, sorot mata cinta dan sayang terpancar keluar dari balik matanya.

"Sioe To!" tegur Pek-li Cien Cien dengan nada tidak senang. "Bukankah aku melarang kau masuk kemari? Kenapa tanpa mengetuk pintu kau langsung nyelonong masuk ke dalam kamar?"

"Nona, bukankah tadi kau suruh aku yang buatkan kuah bunga teratai untuk sauw ya ini menangsal perut? Nih, aku bawakan kuah bunga teratai..."

"Hmm, letakkan saja di atas meja!" perintah Pek-li Cien Cien ketus.

Sementara itu Pek In Hoei sedang duduk di balik selimut dengan wajah tersipu-sipu ketika sinar matanya menyapu sekejap wajah Sioe To tadi, diam-diam hatinya merasa terkejut, pikirnya :

"Aduuuh celaka! Rupanya dayang cilik ini pun sudah ikut kesurupan setan..."

Ia sadar bahwa wajahnya terlalu tampan dan terlalu menarik bagi pandangan kaum gadis, apabila ia tak sanggup merahasiakan perasaan hatinya dan baik-baik menjaga diri, maka sedikit meleng saja akan mengakibatkan banyak gadis cantik tergila-gila kepadanya.

Ia telah memperoleh banyak pengalaman dari gadis-gadis yang pernah dijumpainya pd masa lampau, seperti Kong Yo Siok Peng, Wie Chin Siang, It-boen Pit Giok... ia berhasil mengetahui perasaan kagum dan cinta mereka dari sorot mata yang jeli itu... Dan kini dari sorot mata Pek li Cian Cian serta Sioe To kembali ia temukan pancaran sinar cinta yang sama seperti yang lain...

Timbul perasaan gentar dalam hati kecilnya, diam-diam ia membatin :

"Dendam kesumat sedalam lautan yang masih kutanggung sama sekali belum berhasil dituntut balas, mana boleh aku terjerumus ke dalam belaian kasih serta pelukan mesra kaum gadis muda? Malam ini bagaimanapun juga aku harus berusaha untuk melarikan diri dari sini."

Sinar matanya berkilat, setelah merandek beberapa saat ia bertanya : "Eeeei! Kau simpan di mana itu kapak sakti serta kutang pelindung badanku?"

Sementara itu Sioe To sedang memandang wajah Pek In Hoei dengan termangu-mangu, tatkala mendengar pertanyaan tersebut, buru-buru ia letakkan sebuah kotak ke atas meja sembari ujarnya :

"Kutang pelindung badan serta kapak saktimu itu telah kusimpan semua dalam almari..."

"Sioe To siapa suruh kau ikut usil disini? Ayoh cepat enyah dari dalam kamar ini!" hardik Pek li Cian Cian semakin mendongkol.

Dengan perasaan berat dan tidak rela serta bibir yang dicibirkan terpaksa dayang berbaju hijau itu mengundurkan diri dari kamar, sesaat sebelum meninggalkan pintu ruangan dengan pandangan mendalam dan berat kembali ia lirik sekejap wajah si anak muda.

Pek li Cian Cian bukanlah seorang gadis yang bodoh, dari gerak- gerik yang ditunjukkan Sioe To ia telah berhasil menebak isi hatinya, maka seraya mendengus dingin tegurnya :

"Hey budak sialan, kalau kau berani berebutan lelaki ini dengan diriku... awas! Selembar jiwamu bisa kucabut tanpa mengenal kasihan."

Berbicara sampai di situ ia lantas berpaling kembali dan tertawa merdu. "In Hoei!" serunya. "Kau tak usah bangun, biarkanlah aku yang menyuapkan kuah teratai itu untukmu..." "Hmmm! Selama hidup belum pernah kujumpai perempuan yang tak tahu malu seperti dia..." pikir Pek In Hoei dengan alis berkerut, wajahnya segera berubah membesi, serunya :

"Terima kasih atas maksud baik dari nona, cayhe tidak ingin mendahar makanan apa pun juga."

"Apakah racun ulat emas itu kembali sudah kambuh?" pin menggeleng.

"Selama beberapa hari ini cayhe merasa luar biasa lelahnya, sekarang aku kepengin sekali tidur dengan nyenyaknya... lagi pula kepala cayhe terasa rada pening, oleh sebab itu aku berharap agar nona jangan mengganggu diriku lagi."

"Aduuuh... ! Apakah badanmu panas? Coba... coba biar kuraba keningmu..."

Sembari berkata ia lantas ulurkan tangannya bermaksud meraba kening si anak muda itu, tetapi Pek In Hoei telah mengingos ke samping dengan perasaan jemu.

Melihat rabaannya dihindari, Pek li Cian Cian melengak, pikirnya

:

"Jangan-jangan ia benci dan muak kepadaku karena gerak-

gerikku yang terlalu bebas?"

Pada dasarnay ia memang seorang gadis yang cerdik, hanya cukup meninjau dari sikap serta perubahan wajah si anak muda itu saja ia lantas mengerti dimanakah letak kesalahan dirinya. Setelah termenung berpikir sejenak batinnya :

"Baiklah mulai besok pagi, aku harus menarik kembali sikap serta tingkah lakuku yang terlalu bebas ini, aku tak boleh menggunakan tata cara yang biasa berlaku di wilayah Biauw untuk menghadapi dirinya, karena bagaimanapun juga dia tetap seorang bangsa Han dan bukan orang dari suku Biauw..."

Sebaliknya ketika Pek In Hoei melihat gadis itu membungkam dan tidak berbicara lagi timbul rasa menyesal dalam hati kecilnya. Ia lantas mendehem dan berkata : "Cayhe merasa tidak enak badan dan ingin tidur..." Pek li Cian Cian tertawa hambar.

"Sekarang sudah malam, memang sudah waktunya bagimu untuk beristirahat..." ia bangkit berdiri dari atas pembaringan. "Apakah kau tidak habiskan dulu kuah teratai ini sebelum pergi tidur?"

"Aku rasa tak perlu, terima kasih atas perhatianmu," jawab pemuda itu sembari menggeleng, setelah merandek sejenak tambahnya :

"Aku... apakah aku tidur disini?"

"Apa salahnya kau tidur di situ? Kamar ini adalah kamar pribadiku, siapa pun tak akan berani nyelonong masuk kemari secara sembarangan."

"Hmm, peduli amat ini adalah kamar pribadimu atau bukan," pikir Pek In Hoei dalam hati, "asal kau sudah pergi dari sini aku segera akan bangun dan berpakaian lalu melarikan diri lewat jendela, bagaimanapun juga aku toh tak akan terlalu lama tidur disini, apa salahnya kalau sekarang berpura-pura dulu?"

Karena berpikir demikian maka dengan mulut membungkam dia lantas tarik selimut dan merebahkan diri.

Dengan mesra dan penuh kasih sayang Pek li Cian Cian membongkokkan badannya membetulkan ujung selimut yang tergulung, lalu ujarnya halus :

"Mulai besok pagi aku akan berusaha untuk memusnahkan racun ulat emas yang mengeram dalam tubuhnya, sekarang tidurlah dengan nyenyak dan jangan berpikir yang bukan-bukan."

"Huuh! mana ada hari esok bagimu?" jengek Pek In Hoei di dalam hati. "Sebentar lagi aku bakal kabur dari sini!"

Tetapi sebelum ingatan tersebut selesai berkelebat dalam benaknya, menggunakan kesempatan di kala membetulkan selimut yang menggulung itulah Pek li Cian Cian telah menotok jalan darah tidurnya. Seketika itu juga Pek In Hoei merasakan pandangannya jadi kabur dan keadaannya makin berkurang, jeritnya di dalam hati :

"Aduuuh celaka, aku sudah terkena tipu muslihat setan cilik ini!" Tetapi ia tak sempat mengerahkan tenaga dalamnya lagi untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan, tahu-tahu si anak muda itu

sudah tertidur pulas.

Memandang Pek In Hoei yang tertidur dengan nyenyaknya di atas pembaringan, rasa bangga tertera di atas wajah Pek li Cian Cian, pikirnya :

"Peduli kau adalah si jago pedang berdarah dingin atau bukan, aku pasti akan berusaha untuk memeluk dirimu ke dalam rangkulanku!"

Ia menghembuskan napas panjang dan berjalan ke depan cermin, di situ perlahan-lahan ia lepaskan baju luarnya, melepaskan gelang emas yang dikenakan di lengannya dan unjukkan senyuman manis ke hadapan cermin gumamnya dengan suara lirih :

"Mulai besok, kau telah menjadi Pek hujien!"

Dari atas meja ia mengambil seutas kain tipis untuk mengikat rambutnya yang panjang dan lebar, kemudian melepaskan gaun dan pakaian hingga akhirnya tinggal kutang berwarna merah serta celana dalamnya yang tipis.. Diikuti ia menguap keras, memadamkan lampu lentera dalam kamar hingga suasana jadi gelap gulita...

Di tengah kegelapan terdengar kelambu diturunkan serta suara gemericitan di atas pembaringan, setelah itu suasana pulih kembali dalam kesunyian...

Malam itu adalah suatu malam yang lembut dan hangat... kelembutan yang membawa kemesraan serta keharuan... membuat orang susah melupakan kenangan manis itu...

.....

Sambil berpangku tangan Pek In Hoei berdiri termangu-mangu di pinggir sungai yang membentang di sisi perkampungan Hong Yap Sancung, hatinya terasa amat risau dan diliputi oleh kesedihan. "Mungkin selama hidupku tak akan kujumpai suatu percintaan yang betul-betul kekal dan abadi... semua kelembutan, kemesraan serta kehangatan selamanya tak akan bisa berdiam terlalu lama di sisi tubuhku..." pikir di dalam hati.

Kong Yo Siok Peng, Wie Chin Siang serta ibpt semua pernah membakar api cinta yang tersembunyi dalam hatinya, tetapi kobaran api cinta itu hanya kobaran sebentar saja, tidak lama kemudian padam dan musnah dengan sendirinya, kini ia harus berdiam dalam perkampung Hong Yap Sancung dan menerima perawatan serta cinta kasih dari Pek li Cian Cian.

Nasib telah menentukan setiap gerak-geriknya, hidup yang terombang-ambing bagaikan daun kering terhembus angin memaksa dia harus muncul dalam dunia persilatan dan menghadapi pelbagai peristiwa dan kejadian dengan raut wajah yang berbeda.

"Aaaa...! Inilah kesedihan yang terbesar dalam kehidupan seorang manusia," gumamnya dengan kepala tertunduk rendah- rendah. "Pekerjaan yang paling disukai tak bisa dilakukan, orang yang dicintai tak bisa didapatkan..."

Suara gemerincingan merdu berkumandang datang dari arah belakang, tanpa berpaling lagi ia telah mengetahui siapa yang telah datang, tetapi ia pura-pura berlagak pilon, sorot matanya segera dialihkan ke atas mega putih yang melayang-layang di tengah udara. "Hey!" suara teguran merdu berkumandang datang dari arah belakang diikuti bau harum semerbak berhembus lewat menusuk penciuman, sebuah tangan yang lembut dan halus menepuk bahunya.

Pek In Hoei mengerutkan alisnya dan perlahan-lahan menoleh ke belakang.

"Hey, apa yang sedang kau pikirkan? Mengapa kau berdiri termangu-mangu di sini?" tegur Pek li Cian Cian dengan senyuman manis menghiasi bibirnya.

"Tidak, aku tidak memikirkan apa-apa!" sahut si anak muda itu sambil menggeleng. "Sudahlah kau tak usah membohongi diriku, aku tahu apa yang sedang kau pikirkan!"

"Kau tahu apa yang sedang kupikirkan?" Pek In Hoei tertawa hambar.

"Bukankah kau sedang membenci diriku?"

"Membenci dirimu?" si anak muda itu gelengkan kepalanya berulang kali. "Tidak... tak nanti aku membenci kepada orang lain, aku hanya membenci kepada diriku sendiri!"

"Kenapa?... Hmmm! sekarang aku tahu sudah, kau tentu sedang memaki diriku, kau maki aku tidak sepantasnya mendapatkan dirimu dengan menggunakan tipu muslihat, bukankah begitu?"

Pek In Hoei tidak menjawab, memandang awan putih yang bergerak di tengah udara, otaknya berputar ke sana kemari dengan kacaunya, ia merasa semua jalan yang ditempuh adalah buntu dan ia gagal untuk melepaskan simpul mati yang membelenggu pikirannya. Dalam waktu yang amat singkat sudah amat banyak... banyak sekali yang dipikirkan, semua persoalan yang belum pernah ia pikirkan pada masa yang silam atau persoalan yang pernah dipikirkan tetapi belum berhasil diselesaikan, saat ini berkumpul dan

berkecamuk semua jadi satu dalam benaknya.

Dengan perasaan penuh penderitaan ia berpikir :

"Aku tidak sepantasnya belajar ilmu silat... sejak aku mengerti persoalan dan tahu urusan aku sudah tidak berminat untuk belajar silat, sungguh tak kusangka saat ini aku bisa menjadi anggota dunia persilatan, aku harus menanggung banyak resiko dan kerepotan..."

Dengan tajam ia menyapu sekejap wajah Pek li Cian Cian, kemudian pikirnya lebih jauh :

"Kalau tidak tak nanti aku bisa berjumpa dengan dirinya, dan terjebak ke dalam tipu muslihatnya..."

Ia gelengkan kepalanya berulang kali dan berpikir kembali. "Sungguh tak kusangka kecerdikanku selama ini ternyata percuma saja, akhirnya aku masih juga terjerumus ke dalam jebakannya!"

Ketika dilihatnya si anak muda itu tidak berbicara, Pek li Cian Cian segera berkata :

"meskipun aku tahu bahwa perbuatan aku itu salah besar, tetapi hati kecilku mengatakan bahwa aku benar-benar telah jatuh cinta kepadamu, aku tidak ingin kehilangan dirimu lagi!"

"Tetapi... benarkah perbuatanmu itu? Apakah cinta kasih bisa didapatkan dengan akal dan tipu muslihat?" seru Pek In Hoei tertawa getir.

Dengan mata terbelalak Pek li Cian Cian memandang wajah si anak muda itu tak berkedip, sepatah kata pun tak sanggup diucapkan. "Tahukah kau? Meskipun kau telah berhasil mendapatkan badanku tetapi kau tak akan memperoleh hatiku," ujar Pek In Hoei lagi dengan gemas bercampur mendongkol. "Andaikata aku tidak cinta kepadamu, bagaimanapun juga kau tak akan berhasil memaksa

aku jatuh cinta kepadamu!"

Titik air mata mulai jatuh bercucuran membasahi wajah Pek li Cian Cian, dengan wajah termangu-mangu ia menatap wajah Pek In Hoei, bibirnya bergetar keras dan air mata bercucuran semakin deras...

Melihat gadis itu menangis, Pek In Hoei menghela napas panjang.

"Aaaai...! sudah, sudahlah, anggap saja aku yang tidak benar, tidak sepantasnya kuucapkan kata-kata semacam ini kepadamu!"

"Kau... kalau aku... aku tidak berbuat demikian... aku... aku tak akan berhasil mendapatkan dirimu," seru Pek li Cian Cian dengan suara sesenggukan. "Pek In Hoei, kau tak tahu betapa cintanya aku terhadap dirimu, aku rela mengorbankan apa pun juga yang kumiliki demi dirimu... aku rela mengorbankan jiwa ragaku..." "Kalau begitu mulai sekarang janganlah kau berdandan semacam ini!" tukas si anak muda itu dengan alis berkerut.

"Baik! Aku pasti akan menuruti perkataanmu, aku pasti akan melakukan perbuatan yang menyenangkan hatimu!"

"Aaaai...! Aku harus melakukan perjalanan lagi di dalam dunia persilatan, aku masih mempunyai banyak persoalan dan pekerjaan yang belum selesai kulakukan, apakah kau rela mengikuti diriku untuk berkelana dan menjelajahi seluruh penjuru dunia?? Bukankah kau masih punya suhu dan ayah?? Apakah kau tega meninggalkan mereka semua?"

"Aku tidak akan mempedulikan mereka lagi, aku tak akan memikirkan mereka lagi, aku bersumpah akan turut serta dirimu walau kau hendak pergi kemana pun juga."

"Tapi... apa gunanya kita berbuat demikian?" seru Pek In Hoei sambil geleng kepala dan tertawa getir.

"Bukankah ilmu silat yang kau miliki sangat lihay? Apakah dengan kemampuan yang kau miliki kau masih jeri terhadap mereka?" pin terkesiap, dengan rasa kaget ia angkat kepala dan menatap tajam wajah gadis itu, mimpi pun ia tak pernah menyangka kalau Pek li Cian Cian bisa memiliki keteguhan imam serta kebulatan tekad

yang begitu kukuh.

Pikirnya dalam hati :

"Belum pernah kujumpai di kolong langit ini terdapat manusia yang berani menghianati guru dan ayahnya semacam perempuan ini... ia betul-betul seorang wanita yang berbahaya!"

Sementara itu Pek li Cian Cian telah berkata lagi dengan nada sedih : "Aku mengerti kau tak akan mencintai diriku!"

Pek In Hoei merasa tidak enak untuk menanggapi perkataan itu maka ia cuma tertawa getir dan membungkam dalam seribu bahasa, dalam hatinya mulai timbul rasa jemu yang tak terkirakan.

Air mata bercucuran dengan derasnya membasahi wajah gadis itu, terdengar ia bergumam kembali : "Andaikata kau mencintai diriku, maka kau pasti dapat berkorban demi diriku!"

"Sayang harapanmu itu hanya kosong belaka," sambung Pek In Hoei ketus. "Selama hidup belum pernah aku mencintai seorang gadispun!"

"Aku tidak pernah," jerit Pek li Cian Cian dengan badan bergetar keras, ia tatap wajah pemuda itu tak berkedip.

Pek In Hoei tertawa dingin.

"Bukan saja dahulu tak pernah, mulai detik ini aku pun tak akan mencintai gadis atau perempuan macam apa pun juga, termasuk dirimu, kau boleh legakan hati."

Sekujur tujuh Pek li Cian Cian gemetar keras, tanpa sadar ia mundur satu langkah ke belakang dengan nada gemetar serunya :

"Kau... kau... hatimu betul-betul kejam, aku bersikap begitu baik terhadap dirimu, tapi sebaliknya kau... kau..."

"Apa salahnya? Toh kau sudah tahu bahwa aku adalah si jago pedang berdarah dingin, aku adalah manusia yang tak kenal apa artinya cinta!"

Pek li Cian Cian tak pernah menyangka hubungan mereka yang baru saja berlangsung hangat tiba-tiba telah berubah jadi dingin dan renggang, bahkan Pek In Hoei menunjukkan sikap begitu ketus dan hambar, Ia gigit bibirnya keras-keras dan berseru :

"Apakah kau sudah melupakan sama sekali perbuatanmu kemarin malam..."

"Kemarin malam!" Pek In Hoei teringat kembali, ketika pagi tadi ia bangun dari tidurnya telah ditemukan dirinya berbaring dalam keadaan telanjang bulat...

Meskipun Pek li Cian Cian begitu cantik tetapi ia sama sekali tidak tertarik atau pun terangsang olehnya.

Ia masih ingat ketika ia menemukan dirinya berbaring dalam keadaan telanjang bulat di sisi sang gadis yang berada dalam keadaan polos pula, tiada napsu yang merangsang dirinya, tetapi sewaktu selimut yang menutupi badan mereka mereka disingkap, terasa segera ditemukannya titik noda darah di atas pembaringan..."

Ia menghela napas panjang, gumamnya :

"Siapa tahu apa yang telah kulakukan kemarin malam?" "Hmmm, kau betul-betul manusia berhati keji," teriak Pek li Cian

Cian penuh kebencian.

Baru saja ia menyelesaikan kata-katanya, mendadak muncul seorang lelaki berusia setengah baya lari menghampiri mereka.

"Hey, apa yang telah terjadi?" tegur gadis itu segera sambil menyeka air mata.

Dengan wajah hijau membesi lelaki itu jatuhkan diri berlutut di atas tanah dan menjawab :

"Di luar perkampungan telah kedatangan seorang sastrawan yang mengaku berasal dari luar lautan, ia paksa hamba untuk melaporkan kedatangannya kepada cung-cu..."

"Kenap tidak kau katakan kepadanya bahwa Cung cu tidak berada di dalam perkampungan?" maki Pek li Cian Cian gusar.

"Dia... dia bilang apa pun yang terjadi, Cung-cu kami harus ditemui juga..." setelah menelan air ludah tambahnya, "Ia menyebut dirinya Poh Giok cu."

"Poh Giok cu?" seru Pek In Hoei terperanjat. "Apakah tiga dewa dari luar lautan telah datang semua?"

"Benar, disamping itu terdapat pula seorang nikouw tua serta seorang dara berbaju merah yang menanti di samping."

Pek In Hoei semakin terperanjat dibuatnya, ia segera bertanya : "Apakah kau melihat sesuatu benda yang dicekal nikouw tua

itu?"

"Hamba melihat di tangannya membawa sebuah seruling yang terbuat dari besi baja."

"Ooooh Thiat-Tie Loo-nie telah datang," gumam pemuda she Pek itu. "Kalau begitu dia pun tentu ikut datang." "Apa? Tiga dewa dari luar lautan telah datang?" sementara itu terdengar Pek li Cian Cian berseru kaget.

Air muka Pek In Hoei berubah hebat, pikirnya :

"Andaikata sekarang It-boen Pit Giok menemukan aku berada disini, entah apa yang ia pikirkan, aku rasa lebih baik untuk sementara waktu bersembunyi saja di dalam kalau tidak..."

Belum habis ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, mendadak dari tengah udara melayang datang sesosok bayangan manusia.

Dari jarak kurang lebih lima tombak di hadapannya dengan sebat dan cepat meluncur datang seorang pelajar berusia pertengahan dan melayang turun tepat di hadapannya.

Dalam pada itu sambil bergendong tangan Pek In Hoei masih berdiri di sisi sungai yang membujur dalam perkampungan Hong Yap San-ceng ketika memandang kehadiran pelajar berusia pertengahan itu hatinya bergetar keras, pikirnya :

"Siapakah pelajar berusia pertengahan ini?? Begitu gagah dan agung wajahnya..."