Imam Tanpa Bayangan I Jilid 08

 
Jilid 08

SONG KIEM TOA LHAMA membuka matanya yang terkancing rapat, memandang sekejap ke arah musuhnya lalu menyahut dengan suara lirih :

"Chee Thian Gak, kepandaian silat apakah yang barusan kau gunakan untuk menghadapi diriku ??"

Chee Thian Gak masih ingat, setelah ia berhasil menyalurkan tenaga sakti dari kitab 'Ie Cin Keng' ke dalam jurus serangan Thay Yang sam Sie sudah beberapa orang mengajukan pertanyaan yang sama.

Sekilas senyuman tersungging di ujung bibirnya.

"Itulah kepandaian maha sakti yang tiada tandingannya di kolong langit sejak jaman dahulu kala !"

"Hmmm ! bocah keparat yang bermulut besar, Thian Liong toa suheng sendiri pun tidak berani mengutarakan perkataan semacam itu, apalagi kau hanya memperoleh warisan kepandaian silat darinya... hmmm, bebar-benar "

Chee Thian Gak mendongak dan tertawa terbahak-bahak, begitu keras suara gelak tertawanya sampai sampai ranting dan daun ikut bergetar keras, dengan sombong katanya :

"Ilmu Thay yang Sinkang yang kumiliki saat ini sama sekali bukan warisan dari Thian Liong Toa Lhama."

"Apa?? Thay Yang Sin-kang ??" dengan amat terperanjat Lie Peng meloncat bangun dari atas tanah. "Kalau begitu kau berasal dari negeri Tay-li di Propinsi In lam??" "Darimana kau bisa menduga kalau aku datang dari negeri Tayli di propinsi In lam?"

"Kaisar Toan dari negeri Tayli telah mengutus pangeran ketiga Toan Hong datang keibu kota, dalam suatu kesempatan ia telah membicarakan soal ilmu silat ilmu silat yang terdapat dalam negerinya, aku masih ingat ia pernah meayebutkan nama Thay yang Sin-kang tersebut!"

Sorot matanya beralih ke arah jubah merah yang dikenakan Chee Than Gak, kemudian katanya lagi :

"Dan kini terbukti kau memiliki ilmu sakti Thay Yang Sin kang, bukankah hal ini menunjukkan kalau kau berasal dari negeri Tayli? "

"Chee Thian Gak menjengek dingin.

"Hmmmmm, kau anggap di kolong langit ini kecuali keluarga Toan dari negeri Tayli lantas tiada orang lain yang mengerti akan ilmu sakti Thay-yang Sin-kang?? Hmmmm... cayhe justru bukan berasal dari propinsi In Lam!"

"Lalu sebenarnya siapakah kau?" tanya Lie Peng dengan sorot mata sangsi,

"Haaaah ....haaaah   cayhe bukan lain adalah si Pendekar Jantan

Berkapak sakti Chee Thian Gak adanya !"

Ia merandek sejenak, lalu menambahkan.

"Barusan saja cayhe berpisah dengan sepasang iblis dari samudra Seng Sut Hay dan sejak tiba disini sudah tiga kali kulaporkan namaku, apakah kau tidak ingatnya sama sekali ?? "

"Apa? sepasang iblis dari Seng-sut-hay ?" jerit Lie Peng dengan air muka berubah hebat. "Apakah orang yang kau maksudkan itu adalah jago paling kosen dari kalangan sesat pada masa silam ??"

"Ehmmmm sedikit pun tidak salah!"

"Aaaaah, jadi sepasang iblis dari samudra Seng Sut Hay itu belum modar ??" seru Song Kim Toa Lhama pula dengan hati terkesiap. "Sampai sekarang mereka masih " "Heeeeh .... heeeh .... heeeh.... menurut hemat cayhe, justru kaulah yang sepantasnya modar lebih dulu," tukas Chee Thian Gak sambil tertawa dingin. "Bagi manusia yang berhasil melatih ilmu silatnya hingga mencapai puncak kesempurnaan, air api tak perlu ditakutkan lagi hidup sampai usia tujuh delapan puluh tahun bukan terhitung seberapa!"

Disemprot oleh kata-kata yang begitu tajam Song Kim Toa Lhama seketika bungkam dalam seribu bahasa, sepatah kata pun tak sanggup diucapkan lagi.

"Aaaaah, tidak benar ucapan itu" tiba-tiba Lie Peng berseru tertahan, "andaikata sepasang iblis itu masih hidup hingga

kini, usianya tak mungkin baru mencapai tujuh delapan puluh tahun, semestinya mereka telah berusia seratus tahun ke atas."

Sambil tertawa dingin segera jengeknya:

"Dengan kepandaian silat yang kau miliki masih cukup untuk mensejajarkan diri diantara jago jago kosen di kolong langit, apa gunanya kau sebut-sebut nama besar sepasang iblis dari samudra Seng Sut Hay untuk meninggikan derajat sendiri?"

Berbicara sampai di situ, dengan sikap menghina ia meludah ke atas tanah.

"Keparat sialan!" hardik Chee Thian Gak dengan sepasang matanya memancarkan cahaya menggidikkan hati. "Kalau kau berani meludah sekali lagi, jiwamu akan segera kubereskan !"

Dipandang dengan sorot yang mata begitu tajam dan menggidikkan, hati Lie Peng tak berani mengucapkan kata-katanya lagi, dengan wajah tertegun ia berdiri kaku ditempat semula.

"Che Thian Gak!" bentak Song Kim Toa Lhama dengan nada gusar. "Berani benar kau menggunakan kata-kata sekasar itu berbicara dengan jie thay-cu kami, Hmmm, rupanya kau sudah tidak ingin keluar dari hutan ini dalam keadaan utuh ??"

"Hmmmm, selama aku orang Chee berkelana mengarungi seluruh jagad belum pernah aku merasa jeri atau takut terhadap siapa pun juga, dengan andalkan kekuatan kamu beberapa orang ini dianggapnya sudah sanggup untuk menghalangi kepergianku."

Biji mata Song Kim Toa Lhama berputar kencang, tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia segera bertanya :

"Pada tengah malam tempo dulu, apakah kau juga orang yang telah menolong Ouw-yang Gong??"

Chee hian Gak mengerti yang dimaksudkan si padri ini adalah peristiwa sewaktu berada di belakang gunung Tay bie-sancung tempo dulu, di mana setelah tubuhnya terhajar masuk jurang oleh pukulan Poh Giok Kang dari Hoa Pek Tuo.

Waktu itu dengan membawa luka ia masuk ke dalam sebuah hutan lebat, di situ ditemuinya Ouw-yang Gong sedang dikurung oleh Song Kim Toa lhama serta empat jago pedang dari dunia persilatan.

Pada saat itulah dengan salurkan sisa tenaga yang dimilikinya ia sambit selembar daun kering dengan ilmu Hoei Hoa Sat Jien untuk merontokkan semangat lawan.

Kini mendengar teguran tersebut, pemuda itu tertawa getir dan gelengkan kepalanya.

"Orang itu bukanlah cayhe melainkan Jago Naga Emas It-boen Chiu !"

"Siapa itu si jago naga emas It-boen Chiu ??" tanya Song Kim Toa Lhama tertegun.

"Dia adalah kakak seperguruan cayhe!" sahut Chee Thian Gak dengan lagak penuh rasa hormat.

Rupanya Song Kim Toa Lhama tak pernah menyangka kalau toa suhengnya sudah menerima begitu banyak murid, bahkan semuanya memiliki kepandaian silat yang maha sakti.

Diam-diam lantas gumamnya :

"Dia pasti sudah berhasil menemukan kitab rahasia ilmu silat yang maha sakti, kalau tidak tak nanti murid-muridnya begitu lihay sehingga hampir menandingi kemampuanku..." Lie Peng sendiri pun sementara itu sedang berpikir dalam hati kecilnya :

"Aaai... aku masih mengira di daerah Kwan Tiong dan Seek Siok dua tempat tidak terdapat jago-jago berkepandaian lihay, sungguh tak nyana begitu banyak jago kosen yang tersebar disini. Aaai... kalau dipikir tujuh jago pedang dari dunia persilatan belum termasuk manusia ampuh dalam kolong langit..."

Tatkala dilihatnya beberapa orang jago yang ada di dalam hutan itu sebagian besar sudah terpengaruh oleh siasat licik yang sengaja diaturnya itu, diam-diam Chee Thian Gak tertawa dingin pikirnya :

"Setiap kali aku bertemu dengan mereka, selalu saja orang-orang ini sedang berkumpul di dalam hutan lebat, jangan-jangan mereka sedang menjalankan suatu siasat licik yang lihay? Kalau ditinjau dari ocehan Ouw-yang Gong, rupanya persoalan ini mempunyai hubungan dengan soal penjualan..."

Berpikir sampai disini hatinya kontan jadi terkesiap, pikirnya lebih jauh :

"Kalau aku belum tahu akan persoalan ini masih mendingan, setelah mengetahuinya aku harus mencampurinya hingga jadi beres!" Dalam pada itu pelbagai ingatan telah berkelebat dalam benak

Lie Peng, sambil memandang jago yang berperawakan tinggi kekar di hadapannya ini ia berpikir kembali :

"Andaikata aku berhasil mendapatkan bantuan dari jago yang begini lihaynya, tidak sulit rasanya bagiku untuk mengalahkan kakakku, apalagi dia masih mempunyai seorang suheng!"

Sambil menengok sekejap ke arah Chee Thian Gak, pikirnya lebih jauh :

"Andaikata aku dapat mengetahui kegemaran serta kebiasaannya, dengan menyerang titik kelemahannya itu mungkin dia sudi membaktikan tenaganya untukku, kalau tidak seandainya ia sampai berpihak kepada toakoku dan memusuhi diriku meski Hoat su dari negeri Tarta dan Raja dari negeri Turfan datang membantu pun belum tentu bisa menandingi dirinya, terhadap manusia lihay seperti dia bagaimanapun juga aku harus berusaha untuk mendapatkannya."

Untuk sesaat suasana dalam hutan berubah jadi sunyi... hening... dan sepi, kecuali deruan angin pagi yang menggoyangkan ranting serta dedaunan tiada suara lain yang kedengaran.

Sementara itu Chee Thian Gak sudah mengambil keputusan dalam hatinya, ia letakkan tubuh Siok Cian ke atas tanah kemudian ujung jarinya berkelebat membebaskan jalan darah bisu yang tertotok di tubuh dara itu.

Siok Cian menghembuskan napas panjang, lalu dengan nada terkejut serunya :

"Aku berada??... engkoh Peng..."

"Cian Cian... aku... aku berada disini," sahut Lie Peng dengan suara gemetar, ia segera melangkah maju setindak ke depan.

"Engkoh Peng, kau..."

"Cian Cian... kenapa kau??" Lie Peng semakin gelisah.

Mendadak dengan wajah membesi Chee Thian Gak silangkan tangan kanannya menghadang jalan pergi orang, bentaknya :

"Hey orang she Lie, jangan mencoba maju ke sini!"

"Kau mau apa??" teriak Lie Peng gusar, tetapi setelah ucapan itu meluncur keluar dari mulutnya ia jadi menyesal, pikirnya :

"Demi suksesnya seluruh rencana besar yang sedang kususun, sekalipun aku harus Cian-Cian juga tidak mengapa, asal Chee Thian Gak suka dengan dirinya, kenapa aku harus merasa keberatan untuk menghadiahkan kepada dia???"

Tapi begitu ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, segera ia merasa malu dan menyesal sendiri, kenapa bisa mempunyai ingatan seperti itu, sembari menggigit bibir pikirnya lebih jauh :

"Aku telah berkasih-kasihan selama dua tahun dengan Cian Cian mana boleh kujual dirinya dan menghina dirinya hanya disebabkan oleh keinginan untuk mendapat penghargaan belaka?? andaikata seorang lelaki harus menjual istri sendiri demi suksesnya pekerjaan yang dicita-citakan, sekalipun akhirnya usaha itu berhasil, aku pun bakal menyesal dan kecewa sepanjang masa."

Pelbagai ingatan berkelebat dalam benaknya, membuat ia jadi gelisah bercampur cemas, tanpa sadar perasaan tersebut terlintas di atas wajahnya.

Mendadak Chee Thian Gak membentak lagi dengan sepasang mata melotot bulat :

"Kalau kau berani maju lagi, segera akan kubacok tubuhnya jadi beberapa bagian!"

"Apa yang kau inginkan??" jerit Lie Peng dengan wajah menunjukkan siksaan batin yang tak terhingga.

"Bagaimanakah sikap kalian terhadap Ouw-yang Gong, dengan cara itu pula akan kuhadapi dirinya..."

Tiba-tiba biji mata Siok Cian berputar, menggunakan kesempatan di kala Chee Thian Gak sedang bercakap-cakap dengan Lie Peng, pergelangan tangannya berkelebat meloloskan sebilah pedang lemas dari pinggangnya.

Lie Peng dapat mengikut gerak-gerik kekasihnya dengan jelas, ketika dilihatnya Chee Thian Gak sama sekali tidak menaruh perhatian terhadap perbuatan Siok Cian yang meloloskan senjata tajam di belakang tubuhnya, dengan mata melotot segera teriaknya :

"Akan kubunuh dirinya sekarang juga!"

"Heeh... heeeeh... heeeh... kalau begitu, jangan harap setiap manusia yang ada di dalam hutan hari ini bisa lolos dari sini dalam keadaan hidup...!" sahut Chee Thian Gak sambil tertawa dingin.

Ucapan itu begitu tegas dan meyakinkan, sekalipun Lie Peng berkata demikian hanya bertujuan untuk membuyarkan konsentrasi Chee Thian Gak saja sehingga Siok Cian yang siap melancarkan serangan bokongan bisa berhasil sukses tak urung terpengaruh juga oleh perkataan itu sehingga untuk sesaat tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. "Chee Thian Gak!" bentak Song Kim Toa Lhama dengan suara berat, "kau tak usah begitu jumawa dan sombong..."

Mendadak perkataannya merandek di tengah jalan, pada saat itulah Siok Cian menggerakkan pergelangan tangannya, cahaya pedang segera berkilauan membelah angkasa.

Jarak antara Chee Thian Gak dengan gadis itu hanya terpaut satu depa belaka, bacokan tadi langsung mengancam punggung orang itu. Bersama dengan datangnya bacokan tersebut, Lie Peng segera menubruk ke depan, sepasang kepalannya diayun berulang kali

mengirim serangan dahsyat ke arah dada Chee Thian Gak.

Jago kosen berkapak sakti ini mendengus dingin, tiba-tiba telapak kanannya diputar balik, hawa pukulan segera menderu-deru dan menggulung balik ke depan, tubuh Lie Peng terhajar telak sehingga tidak ampun badannya terjengkang mundur tiga langkah ke belakang. Siok Cian menjerit keras, sebelum ujung senjatanya sempat mampir di tubuh lawan tahu-tahu orang she-Chee itu sudah putar badannya mengirim satu pukulan kilat menghajar di atas gagang pedang lawan, pedang lemas itu segera terhajar dan lepas dari cekalan. Ketika melihat ujung pedang Siok Cian telah menempel di atas punggung lawan tadi, Song Kim Toa Lhama diam-diam sedang merasa bergirang hati, tapi ia tidak menyangka kalau reaksi orang she

Chee itu bisa demikian cepat dan tajamnya.

Dengan hati bergidik pikirnya :

"Aaaah sungguh tak nyana ilmu 'Baudi Pu Tong Ciat Eng' dari aliran Mie Tiong pun berhasil ia kuasai dengan begitu sempurna, kehebatannya benar-benar mengerikan sekali..."

Sementara itu perlahan-lahan Chee Thian Gak sudah putar badan, katanya dengan nada menyeramkan :

"Apakah antara kau dengan aku sudah terikat dendam sakit hati sedalam lautan? Mengapa kau hendak tusuk badanku sampai mati?" Sepasang mata Siok Cian terbelalak lebar-lebar, dengan wajah ketakutan ia menutupi mulutnya sendiri kemudian memandang wajah Chee Thian Gak tanpa berkedip.

Si Pendekar Jantan Berkapak Sakti ini mendengus dingin, dengan ujung kakinya ia menjejak permukaan tanah, pedang lemas yang menggeletak di tanah itu segera mencelat ke udara, sekali tangan kanannya digape, tahu-tahu senjata tadi sudah digenggamnya di tangan.

Matanya melirik seram, diiringi suitan panjang, pedang tersebut dengan memancarkan cahaya berkilauan tiba meleset ke tengah udara dan meluncur ke muka.

Termakan oleh getaran hawa murninya pedang lemas tadi berubah jadi kaku bagaikan tombak, membawa desiran tajam yang memekikkan telinga, senjata itu meluncur ke dalam hutan berkelebat meninggalkan cahaya bulat kemudian meluncur ke arah sebuah pohon besar di hadapannya.

Pedang itu meluncur menembusi dahan kemudian bergetar tiada hentinya sambil meninggalkan desingan tajam yang memekikkan telinga.

Di tengah gugurnya daun dan ranting, Chee Thian Gak berseru lantang :

"Pernahkah kalian menjumpai ilmu pedang macam begini?"

Saking terperanjatnya wajah Lie Peng berubah jadi hijau membesi, ia berdiri tertegun di tengah kalangan sambil memandang ke arah lawannya dengan pandangan bodoh, sepatah kata pun tak sanggup ia ucapkan.

To-Liong It-Kiam si Pedang sakti Pembunuh Naga Tauw Meh menjerit histeris, dengan wajah penuh ketakutan teriaknya :

"Haaah?... Ilmu pedang terbang..."

Sudah tentu Chee Thian Gak tidak kenal dengan apa yang disebut sebagai ilmu pedang terbang itu, dia hanya tahu hasil itu didapatkan karena konsentrasi segenap perhatian dan kekuatannya pada ujung senjata.

Ia sendiri pun tak pernah menyangka kalau hasil himpunan semangat dan kekuatannya bisa menghasilkan daya perputaran yang kuat pada senjata tajam itu, semakin tak pernah disangka kalau kekuatan semacam itu bisa digunakan untuk membunuh orang dari jarak ratusan tombak...

"Ilmu pedang terbang!...ilmu pedang..." gumamnya berulang kali. "Inikah yang disebut sebagai ilmu pedang terbang?..."

Setiap manusia yang hadir dalam hutan saat itu rata-rata merupakan jago Bu-lim yang lihay dalam ilmu pedang namun belum pernah mereka menyangka kalau kehebatan dari ilmu pedang terbang itu dalam kenyataannya begitu dahsyat...

Chee Thian Gak tertawa terbahak-bahak... sepasang mata yang tajam menatap di atas pedang lemas pada dahan pohon dua tombak di hadapannya tanpa berkedip.

Seluruh perhatian dan kekuatannya kembali dihimpun jadi satu, menurut cara yang pernah digunakannya barusan perlahan-lahan dia angkat tangan kanannya ke atas.

Melihat perbuatan si anak muda itu Siok Cian menjerit kaget, segera ia meloncat ke sisi Lie Peng dan menubruk ke dalam pelukannya.

Tauw Meh serta Tok See pun tanpa sadar mundur empat langkah ke belakang dan bersembunyi di belakang dahan pohon, dengan pandangan ketakutan mereka ngintip ke arah lawannya.

Air muka Song Kim Toa Lhama berubah hebat, sepasang telapaknya disilangkan di depan dada, sementara kakinya bergeser di depan tubuh Lie Peng serta Siok Cian sambil berjaga-jaga terhadap serangan bokongan dari Chee Thian Gak.

Suasana di dalam hutan seketika berubah jadi sunyi senyap... Begitu sepi sehingga suara napas pun secara lapat-lapat kedengaran...

Mendadak terdengar Ouw-yang Gong berteriak keras : "Aduuuuh sakitnya... aduuuh biyung..."

"Aaaah," Chee Thian Gak tersadar kembali dari lamunannya. "Ouw-yang Gong kau..."

Ucapannya terputus, tangan kanannya yang berada di angkasa menggurat beberapa kali, seketika itu juga hatinya tergerak dan seolah-olah dia telah menemukan sesuatu.

Tapi cahaya kilat itu hanya sekejap mata, sebelum dia sempat jelas apakah itu kegelapan telah menyelimuti kembali seluruh jagad...

Perlahan-lahan ia turunkan tangannya kembali dan berpikir : "Aaaai...   dalam   waktu   yang   singkat   aku   tak   akan   bisa

menemukannya kembali..."

Pada saat itulah dengan badan sempoyongan Ouw-yang Gong bangkit berdiri kemudian berjalan ke arah hutan, sambil bergerak mulutnya berteriak tiada hentinya :

"Siauw Hong... Siauw Hong...!"

Chee Thian Gak enjotkan badannya, sang tubuh melayang satu tombak di udara dan cabut kembali kapaknya yang tertancap di atas dahan pohon.

Ia tarik napas dalam-dalam, katanya :

"Dalam lima hari kemudian cayhe akan tetap berada dalam propinsi Su cuan, andaikata kalian ada yang merasa tidak puas, setiap saat boleh datang mencari diriku."

Siok Cian yang masih berdiri tertegun, tiba-tiba menoleh lalu bertanya dengan suara bimbang :

"Peng ko, sebenarnya siapakah orang itu?"

"Cayhe adalah si Pendekar Jantan Berkapak Sakti Chee Thian Gak!" jawab si anak muda itu dengan suara lantang.

"Chee Thian Gak? Benarkah kau bernama Chee Thian Gak?" "Hey Lie Peng!" seru si anak muda itu lagi dengan suara berat,

"Cayhe hendak memperingatkan dirimu! Andaikata kau mempunyai niat jahat untuk menghianati kerajaan, dan aku mengetahui akan rencana busukmu ini..." Sekilas napsuf membunuh terlintas di atas wajahnya.

"Hmmm! Saat itu aku akan suruh kau merasakan siksaan yang paling berat dan paling mengerikan... akan kusuruh kau rasakan bagaimana akibatnya bagi seseorang yang menghianati negaranya."

Suara itu mendengung tiada hentinya di udara, memberikan keangkeran dan keseraman bagi yang ada dalam hutan berdiri termangu dan membungkam dalam seribu bahasa. Tak seorang manusia pun yang berani bertindak ketika ia perlahan-lahan meninggalkan hutan tersebut.

Menanti bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan, pertama-tama Tok See lah yang menghembuskan napas panjang lebih dahulu.

"Aaaah... aku benar-benar tidak mengerti manusia macam apakah dia itu!" serunya.

"Tenaga lweekang yang dimiliki orang ini telah mencapai pada puncak kesempurnaan yang tiada taranya di kolong langit," Tauw Meh menambahkan. "Sudah tak seberapa banyak orang lagi dalam dunia persilatan dewasa ini yang sanggup menandingi dirinya."

"Tak pernah kusangka sama sekali, dia yang tersohor di dalam Bu lim karena kesaktiannya dalam permainan kapak, ternyata mempunyai kelebihan yang tak kalah hebatnya dalam ilmu pedang..." dengan perasaan bergidik orang she Tok ini memandang sekejap luka- luka di tubuhnya, lalu bergumam kembali :

"Ilmu pedang terbang... ilmu pedang terbang... untung dia menghadapi diriku hanya menggunakan senjata kapaknya, kalau tidak selembar jiwaku pasti sudah melayang sejak tadi-tadi..."

"Hey Tok See, jangan terlalu memuji kehebatan orang..." bentak Song Kim Toa Lhama.

"Song Kim Koksu," sela Lie Peng, "ucapannya sedikit pun tidak salah, andaikata Chee Thian Gak menghadapi kita dengan menggunakan ilmu pedang terbangnya, aku percaya tak seorang pun di antara kita yang berhasil tinggalkan tempat ini dalam keadaan selamat."

Teringat akan kehebatan serta keampuhan ilmu pedang sakti yang diperlihatkan Chee Thian Gak barusan, diam-diam Song Kim Toa Lhama pun merasa terkesiap, pikirnya :

"Benar juga perkataannya ini, cukup dengan andalkan ilmu 'Toa Budhi Put Tong Ciat Eng' yang dimilikinya itu, boleh dibilang tak seorang manusia pun yang ada di kolong langit bisa melukai dirinya..."

Diikuti dia pun berpikir lebih jauh :

"hal ini membuktikan pula sebelum Thian Long toa suhengku berangkat menuju ke daratan Tionggoan, ia telah memperoleh lebih dahulu ilmu warisan dari Kauw Tong cauwsu, kalau tidak tak nanti kedua orang muridnya bisa memiliki kepandaian silat yang demikian dahsyatnya, bahkan tiada berbeda jauh dengan kehebatan dari Buddha hidup..."

Setelah termenung sesaat lamanya, diam-diam dalam hatinya dia mengambil keputusan.

Sementara itu Lie Peng sambil memandang kabut yang kian menipis di pagi hari yang cerah itu bergumam seorang diri :

"Ternyata pelajaran ilmu pedang begitu luasnya hingga tak bertepian, rupanya untuk mencapai ilmu pedang terbang seperti apa yang berhasil dia capai, aku harus berlatih giat dan tekun selama dua puluh tahun lagi..."

Ucapan ini membawa rasa kecewa dan murung yang tak terhingga, menunjukkan betapa sedih dan kesalnya hati pangeran kedua ini.

Siok Cian yang berada di sisinya buru-buru menghibur sambil meraba dadanya :

"Engkoh Peng, kau sebagai seorang pangeran suatu kerajaan, tidak sepantasnya kalau ikut menerjunkan diri ke dalam dunia persilatan, kau harus tahu manusia semacam itu berjiwa besar, berhati lapang dan berkeliaran tiada menentu dalam dunia persilatan, seluruh perhatian serta tenaganya hanya dicurahkan kepada ilmu silat belaka, sudah tentu dalam keadaan seperti ini ilmu silatnya bisa peroleh kemajuan pesat yang mengejutkan dalam waktu singkat..."

Ia mengerdipkan bulu matanya yang indah, kemudian melanjutkan :

"Sebaliknya kau mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap keselamatan serta keutuhan negara, seluruh perhatian, semangat serta tenagamu hanya kau curahkan kepada urusan Kerajaan dan rakyatmu, sudah tentu keadaanmu lain kalau dibandingkan dengan manusia-manusia liar macam mereka..."

Mendengar perkataan itu, Lie Peng tundukkan kepalanya rendah- rendah, tak sepatah kata pun berhasil dilontarkan keluar dari mulutnya.

"Engkoh Peng," ujar Siok Cian kembali, "bagaimana perkataanku barusan, ada bagian yang tidak benar, harap kau jangan marah kepadaku!"

Perlahan-lahan Lie Peng mendorong tubuhnya, lalu sambil menatap wajahnya tajam-tajam ia berseru memuji :

"Cian Cian, ucapanmu sedikit pun tidak salah, perkataanmu ini terlalu bagus sekali hingga membuat aku tersadar kembali."

Dengan tersipu-sipu Siok Cian menghindarkan diri dari pandangan mata kekasihnya, setelah merandek sejenak ia berkata :

"Sayang seribu kali sayang keparat tua itu berhasil lagi meloloskan diri, hingga membuat pekerjaan kita sejak pagi buta tadi menemui kegagalan total."

"Aaaaai... hal ini tak bisa menyalahkan dirimu," bisik Pangeran kedua sambil merangkul tubuh kekasihnya. "Andaikata Chee Thian Gak tidak datang kemari, mana mungkin ia bisa lari dari sini?"

"Jie Thay cu, kau tak usah kuatir," ujar Song Kim Toa Lhama dari sisi kalangan. "Ouw-yang Gong tak nanti bisa lolos dari pengejaran kita, pinceng telah melakukan sedikit permainan setan di atas nadi Jien Meh serta Tok Meh-nya, tanggung ia tak akan sanggup hidup melebihi lima hari..."

"Tapi... bukankah Chee Thian Gak memahami pelbagai macam kepandaian sakti yang maha dahsyat? Apakah ia tak bisa membebaskan rekannya dari pengaruh totokanmu?" tanya Tauw Meh dengan nada tercengang.

"Tentu saja ia tak akan berhasil membebaskannya, sebab aku telah membuat sedikit permainan setan di atas tubuh Ouw-yang Gong dengan ilmu Ciat meh Ciat Kim aliran negeri Thian Tok, coba pikirkan masa ia mampu untuk membebaskan pengaruh totokanku?" "Aaaaai... sayang Pay Boen Hay heng telah terluka di tangan

Chee Thian Gak..." keluh Tok See.

"Oooooh! Aku telah melupakan diri Pay heng..." seru Lie Peng sambil mendorong tubuh Siok Cian.

Cepat ia berjalan menghampiri anak buahnya yang sementara itu perlahan-lahan sedang merangkak bangun.

"Pay Boen Hay," tegur Song Kim Toa Lhama dengan sepasang alis berkerut. "Kalau memang lukamu tidak terlalu parah, mengapa kau terus menerus..."

Belum habis padri itu menyelesaikan kata-katanya, sebagai manusia yang cerdik Pay Boen Hay bisa menebak apa yang sedang dimaksudkan hweesio itu, dengan sorot mata dingin segera timbrungnya :

"Toa koksu, lengan cayhe telah patah termakan pukulan lawan, apakah kau menaruh curiga terhadap diriku?"

Song Kim Toa Lhama mendehem ringan.

"Loo ceng sedang merasa heran kenapa setiap kali kami sedang berhasil menangkap Ouw-yang Gong manusia yang menamakan dirinya Chee Thian Gak itu pasti muncul pula disini? Jangan-jangan ada orang yang sengaja membocorkan berita ini..."

Pay Boen Hay segera mendengus dingin. "Cayhe adalah cucu murid Ciak Kak Sin Mo, apakah kau pandang diriku sealiran dengan Ouw-yang Gong?" serunya.

Wajah yang semula berwarna putih kepucat-pucatan seketika berubah jadi merah padam saking gusarnya.

Buru-buru Lie Peng menengahi persoalan itu serunya : "Song Kim Toa Koksu, kalian tak usah cekcok..."

"Tahukah kalian siapakah sebenarnya Chee Thian Gak itu?" teriak Pay Boen Hay keras-keras.

"Chee Thian Gak yah Chee Thian Gak, dia bilang berasal dari Gurun Pasir, apa kau tahu siapa dia yang sebenarnya?" tanya Tauw Meh tercengang.

"Dia adalah si jago pedang berdarah dingin Pek In Hoei!" "Apa?" teriak Lie Peng. "Dia adalah si jago pedang berdarah

dingin Pek In Hoei yang menduduki urutan ke-empat dalam tujuh jago pedang dunia persilatan?"

"Dia masih berhutang dendam satu bacokan dengan diriku, maka ia telah memenggal lenganku!" ujar Pay Boen Hay sambil tertawa sedih. "Aku sendiri pun tidak tahu apa hubungannya dengan Ouw- yang Gong, hanya saja sebelum ia pandai ilmu silat orang itu sudah berada bersama-sama Ouw-yang Gong, oleh karena itu setiap kali si tua bangka sialan itu menghadapi kesulitan, dia tentu akan datang untuk menolong..."

"Aaaah, tak mungkin... tak mungkin terjadi... aku tidak percaya dengan perkataanmu... ucapanmu tak bisa dipercayai..." gumam Lie Peng tiada hentinya.

Siok Cian pun berseru dengan nada sangsi :

"Menurut kabar yang tersiar dalam Bu lim, orang bilang Pek In Hoei mempunyai wajah yang ganteng dan tingkah laku yang halus, masa manusia macam begitu adalah Pek In Hoei? Aku tidak percaya!"

Dengan pandangan mendalam Pay Boen Hay melirik sekejap ke arah gadis itu kemudian tertawa getir. "Kalau cuwi sekalian tidak percaya, aku pun tak bisa berbuat apa- apa..." perlahan-lahan ia berjalan menghampiri pangeran kedua, kemudian ujarnya lebih jauh :

"Jie Thay cu, sungguh mohon maaf yang sebesar-besarnya, aku tak dapat membaktikan diri lagi dengan dirimu..."

"Apakah kau ada urusan penting?"

"Aku hendak pergi ke perkampungan Thay Bie San cung dan menjumpai sucouwku Ciak Kak Sin Mo."

"Oooouw... kau hendak ke situ? Dengan kepergianmu ini, andaikata Toa Hoat su dari negeri Tu fan dan Raja negeri Tartar datang ke sini, siapa yang akan bertindak sebagai penterjemah?"

Sinar mata Pay Boen Hay berkilat, lalu menjawab :

"Andaikata Jie Thay cu merasa kuatir, bagaimana kalau kita bersama-sama berangkat ke perkampungan Thay Bie San cung dan sementara waktu berdiam di situ? Rasanya di situ keadaan kita akan jauh lebih aman."

Rupanya Lie Peng tidak menyangka kalau dalam waktu singkat ia bisa bertemu dengan Ciak Kak Sin Mo, dengan hati penuh kegirangan pikirnya :

"Seandainya aku bisa memperoleh bantuan dari Ciak Kak Sin Mo, maka aku tak usah takuti engkohku lagi... saat itu..."

Ia segera mengangguk.

"Baiklah, menanti Raja Tartar telah tiba disini, maka aku beserta mereka segera akan berangkat menuju ke perkampungan Thay Bie San cung."

"Kalau begitu cayhe mohon diri terlebih dahulu," ujar Pay Boen Hay kemudian setelah melirik sekejap ke arah lengannya yang telah kutung.

Sekali enjotkan badannya, bagaikan serentetan cahaya kilat tubuh orang itu lenyap di balik kerimbunan hutan belukar yang lebat.

Menanti bayangan tubuh orang she Pay itu sudah lenyap dari pandangan, Lie Peng baru berkata : "Dewasa ini kekuatan kita kian lama kian bertambah besar dan kuat, rasanya kesempatan bagiku untuk menumbangkan kekuasaan engkohku kian hari kian mendekat. Haaaah... haaaah... haaaah... Koksu, terima kasih atas bantuanmu, andaikata kau tidak memanasi hatinya, belum tentu ia bisa berbuat demikian dan mengundang kita mengunjungi perkampungan Thay Bie San cung..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... Jie Thay cu, pinceng harus mengucapkan kiong hie lebih dahulu kepadamu... Haaaah... haaaah... haaaah... " seru Song Kim Toa Lhama sambil tertawa tergelak.

Begitu keras suara tertawa itu hingga membumbung tinggi ke angkasa dan berkumandang ke tempat kejauhan.

*****

SEMENTARA ITU Chee Thian Gak yang sedang melakukan perjalanannya tiba-tiba merasakan dadanya amat sakit, begitu perih dan tersiksa rasanya membuat ia terguling-guling di atas tanah.

"Nenek tua keparat..." teriaknya dengan penuh kebencian. "Hal ini pastilah hasil perbuatan dari nenek keparat itu... Ooooh racun ulat sutera emas..."

Sambil memegang perutnya ia mengerang kesakitan, si anak muda itu bergumam lebih jauh :

"Kalau aku berhasil menemui dirinya lagi, pasti akan kucabut selembar jiwa anjingnya..."

Sorot matahari di tengah hari yang panas terik begitu menyengat badan, namun Chee Thian Gak hanya merasakan rasa dingin yang menusuk tulang menggigilkan seluruh tubuhnya, ditambah pula sakit bagaikan diiris-iris dengan pisau tajam, membuat ia tak tahan dan berteriak-teriak seperti orang gila.

Dengan langkah sempoyongan selangkah demi selangkah pemuda itu berusaha mencapai hutan di sebelah depan, pandangannya terasa kabur... ia sudah tak dapat membedakan lagi jalan yang dilalui adalah jalan raya ataukah jalan gunung yang sempit... Ranting pohon menghalangi jalan perginya, mencengkeram bajunya membuat ia tergaet dan jatuh terpelanting di atas tanah.

"Ooooh...!" rintihan penuh kesakitan terbisik lirih dari ujung bibirnya...ia merasa tulang belulang dalam tubuhnya seakan-akan telah retak dan hancur berantakan, lambung terasa sakit seperti dipuntir-puntir... hawa murni dalam tubuhnya seketika buyar entah kemana...

Dengan wajah basah penuh keringat ia menghela napas panjang. "Aaaaai... sungguh tak nyana aku Pek In Hoei harus merasakan pelbagai siksaan dan penderitaan selama hidupnya... percuma aku belajar ilmu silat yang demikian lihaynya... toh akhirnya aku tak

berhasil mempertahankan hidupku...

Ia merintih lirih... pandangannya terasa kian lama kian menggelap... bayangan kematian kembali terlintas di atas wajahnya, sambil merintih ia coba meronta bangun kemudian merangkak... dan bergerak menuju keluar hutan.

Belum beberapa jauh ia merangkak ke depan, sorot matahari yang tajam menyilaukan matanya, membuat ia tak sanggup membuka matanya lebar-lebar.

Sambil menutupi wajahnya dengan sepasang tangan, ia bergumam kembali :

"Tiga hari... ucapan si dukun sakti berwajah seram sedikit pun tidak salah, dalam tiga hari racun ulat sutera emas yang mengeram dalam tubuhku akan mulai bekerja... isi perutku akan mulai membusuk dan mataku akan jadi buta..."

Teringat akan matanya yang bakal jadi buta, pemuda itu merasa semakin sedih dan tersiksa batinnya, suatu perasaan tekanan batin yang berat seolah-olah menindihi tubuhnya, membuat keringat sebesar kacang kedele mengucur keluar tiada hentinya...

Ia meraung gusar, teriaknya kalang kabut. "Kenapa aku bisa jadi begini? Oooooh Thian, mengapa kau bersikap begitu kejam terhadap diriku? Mengapa kau selalu menyiksa diriku dan membuat aku menderita?..."

Suara raungan keras itu bergema di tanah pegunungan yang sunyi dan mendengung tiada hentinya mengikuti hembusan angin...

Chee Thian Gak benar-benar tak sanggup menahan diri, pandangannya jadi gelap dan ia roboh menggeletak di atas tanah.

Pada saat itulah... dari tempat kejauhan berkumandang datang suara keleningan yang lirih tapi nyaring... kian lama suara itu kian mendekat...

Dari bawah bukit yang hijau, dari balik jalan kecil yang membujur jauh ke depan muncul seekor kuda berwarna merah darah, seorang gadis berpakaian ringkas berwarna hijau, berkaki telanjang dan berlengan pendek perlahan-lahan bergerak mendekat.

Wajahnya cantik dan polos, di atas lengannya yang telanjang tergantung sepasang gelang emas yang saling membentur tiada hentinya hingga menimbulkan irama yang amat merdu...

Tiba-tiba... kuda merah itu meringkik dan meloncat naik ke tengah udara.

Gadis di atas kuda menjerit kaget, belum sempat lengannya memeluk leher kudanya sang tubuh telah mencelat jatuh ke atas tanah.

Namun... rupanya ilmu meringankan tubuh yang dimiliki dara ayu itu cukup tangguh, sesaat sebelum badannya mencium permukaan tanah ia berhasil melejit dan melayang kembali ke tengah udara.

Atas peristiwa yang terjadi di luar dugaan ini, dengan wajah merah padam gadis itu memaki kudanya kalang kabut.

Tetapi sang kuda tetap meringkik panjang sambil berjingkrak- jingkrak.

"Hey, apa yang sedang kau lakukan?" tegur dara ayu itu dengan nada mendongkol.

Tapi pada saat itulah ia telah menemukan tubuh Chee Thian Gak yang menggeletak di atas tanah. Jubah merah berkibar terhembus angin, mula-mula gadis itu mengira seorang perempuan yang menggeletak di situ, tapi setelah ia berjongkok untuk memeriksa lebih seksama tiba-tiba ia menjerit kaget

:

"Aaaaah!"

Rupanya wajah Chee Thian Gak yang penuh bercambang serta kening yang dilapisi cahaya keemas-emasan telah mengejutkan hati gadis itu, sambil memegang dada sendiri ia loncat mundur tiga langkah ke belakang dan tidak berani memandang lagi.

Jantung berdebar keras, lama sekali ia baru berhasil mententeramkan hatinya, perlahan-lahan ia mendekati kembali tubuh si anak muda itu.

"Ooooh, racun ulat emas!" serunya keras-keras, "Ia sudah terkena racun Ulat emas!"

Waktu wajah Chee Thian Gak telah berubah pucat keemas- emasan, di antara sepasang alisnya tersisa bekas merah yang samar, pada bekas merah itu secara lapat-lapat terlintas pula cahaya emas yang tajam.

"Siapakah orang ini?" pikir gadis itu sambil memutar biji matanya berulang kali. "Secara bagaimana ia bisa terkena racun ulat emas dari suhuku?"

Sinar matanya kembali dialihkan ke atas wajah Chee Thian Gak yang penuh bercambang, pikirnya lebih jauh:

"Potongan wajahnya sangat gagah, cambang yang lebat memenuhi seluruh wajahnya, keadaannya tiada berbeda dengan ayahku. Ahai    sudah banyak tahun aku mengikuti suhu belajar silat,

selama ini aku harus menetap di wilayah Biauw yang gersang dan jelek pemandangan alamnya, kali ini aku bisa pulang ke rumah...

ooooh, sebentar lagi aku bakal berjumpa dengan ayah. "

Belum habis ingatan itu berkelebat dalam benaknya, dari balik hutan berkumandang kembali suara derap kaki kuda disertai suara seruan berulang kali : "Siaocia... Siaocia.."

"Sialan!" maki dara berbaju hijau itu di dalam hati. Perlahan- lahan ia berjongkok dan mendorong tubuh Chee Thian Gak. "Budak sialan... siapa sih suruh kau menguntit diriku terus macam suka gentayangan... dianggapnya aku sudah mati!"

Dengan hati gemas ia meloncat bangun lalu makinya : "Sioe To, kenapa sih kau berkaok-kaok terus?"

Seekor kuda berwarna abu meluncur datang dengan cepatnya, di tengah suara derap kaki kuda yang nyaring, sesosok bayangan hijau melesat ke tengah udara dan melayang turun di sisi gadis itu.

"Eeeei... kau takut aku tersesat yaah?" tegur gadis bergelang emas itu sambil mendorong tubuh gadis yang baru saja datang itu ke samping. "Siapa sih yang suruh kau menguntit aku terus seperti sukma gentayangan, berkaok-kaok melulu sepanjang jalan!"

Gadis yang baru tiba adalah seorang dara berusia lima enam belas tahun yang rambutnya berkepang dua, mendengar teguran itu diam- diam ia menjulurkan lidahnya.

"Baik... baik, siaocia, lain kali budak tidak berani berkaok-kaok lagi... maafkanlah aku siaocia."

"Hmmmm, budak sialan, lain kali kau berani berkaok-kaok lagi, lihat saja akan kukutungkan kakimu itu!"

Sioe To mencibirkan bibirnya dan pura-pura menunjukkan wajah mau menangis, katanya dengan suara lirih :

"Kata looya, siaocia belum lama kembali dari wilayah Biauw, terhadap jalanan di sekitar sini tentu belum begitu paham, maka beliau suruh aku baik-baik menjaga siaocia. Siapa suruh kau lari begitu cepat... budak takut siaocia tersesat di tengah gunung maka sepanjang jalan berteriak memanggil, eeei, siapa tahu..."

Mimik wajahnya yang patut dikasihani ini seketika membuat dara bergelang emas itu tertawa cekikikan. "Baik... baiklah, anggap saja aku yang salah. Ayoh, sudahlah, jangan tunjukkan mimik wajah seperti orang mati, janganlah aku tertawa kegelian..."

"Waaah... kalau siaocia sampai tertawa berat hingga giginya terlepas... budak semestinya dijebloskan ke dalam neraka tingkat ke delapan belas..."

"Budak sialan, siapa suruh kau membahasai dirimu sebagai budak... budak melulu? Ayoh panggil aku enci Cen..."

"Atuuuuh... tentang soal ini, budak mana berani... kalau sampai kedengaran oleh loo ya, mulut budak bisa jadi dirobek robek."

Wajah gadis bergelang emas itu segera berubah membeku, makinya :

"Budak sialan, kalau kau berani menyebut dirimu sebagai budak lagi, hati hati kugaplok pipimu !"

Cepat-cepat Sioe To mundur dua langkah ke belakang, katanya sambil tertawa :

"Siaocia, aku..."

Sinar matanya berkelebat, tiba-tiba ia menemukan tubuh Chee Thian Gak yang menggeletak di atas tanah, seketika itu juga ia menjerit kaget :

"Siaocia, coba lihat, di situ ada orang..."

Rupanya saat itulah gadis bergelang emas itu baru teringat akan diri Chee Thian Gak yang keracunan racun ulat emas, ia menjerit tertahan dan segera memaki :

"Huh, semua ini adalah gara-gara kau si budak sialan sehingga membuang tenaga ku, kalau orang ini sampai tidak tertolong, hati-hati kau, akan kusuruh kau ganti selembar jiwanya."

Dari dalam sakunya dia ambil keluar sebuah botol porselen, kemudian katanya :

"Sioe To, ayoh cepat payang bangun orang itu."

Sioe To maju menghampiri, mendadak dengan nada terperanjat serunya : "Siaocia, siapakah orang ini? hiiih... menyeramkan sekali wajahnya..."

"Kau tak usah banyak bicara!" bentak gadis itu sambil membuka botol porselen itu dia mengambil keluar sedikit bubuk yang ditaruh di atas telapak kirinya. "Ayoh cepat angkat kepalanya!"

Sioe To menurut, dia angkat kepala orang dan dipandang lagi dengan wajah tercengang, ia lihat seluruh tubuh Chee Thian Gak telah basah oleh keringat, sepasang alisnya berkerut kencang, ditambah cambangnya yang lebat membuat gadis itu bertanya kembali :

"Siaocia... coba kau lihat, di antara alisnya terdapat cahaya keemas-emasan..."

Gadis bergelang emas itu tidak langsung menjawab, bubuk yang berada di atas telapaknya segera dihembuskan ke dalam lubang hidung pemuda she Chee itu, setelah itu sambil membereskan rambutnya yang awut-awutan katanya :

"Aku sendiri pun tidak kenal dengan orang ini, tapi menurut dugaanku dia pastilah seorang jago Bu lim yang sangat lihay, kalau tidak tak nanti suhuku harus menggunakan racun saktinya untuk menghadapi orang ini..."

"Siaocia, apakah kau bersedia untuk menyelamatkan jiwanya?" tanya dayang itu.

Gadis bergelang emas itu segera tertawa dingin.

"Dia adalah musuh tangguh dari suhuku, sudah tentu aku tak akan menolong jiwanya, akan kucelakai jiwanya agar cepat-cepat modar." "Mencelakai dirinya?"  seru Sioe To dengan mata terbelalak.

"Lalu apa gunanya kau memberi obat kepadanya?"

"Kau tidak tahu, racun ulat emas yang dimiliki suhuku semuanya berjumlah tiga macam, ini adalah jenis yang paling kecil, semestinya seluruh darah segar dalam tubuhnya baru akan terhisap kering di dalam lima jam, siapa tahu ternyata orang ini berhasil memaksa racun ulat emas itu terdesak ke arah otak..." "Dengan begitu apakah kematiannya akan datang jauh lebih cepat lagi?..."