Imam Tanpa Bayangan I Jilid 07

 
Jilid 07

SESAAT sebelum berlalu Kong Yo Leng telah memberi kesempatan kepada kami berdua untuk melarikan diri dalam waktu tiga hari, seandainya kami berhasil melepaskan diri dari pengejarannya maka dia akan melepaskan diriku, sebaliknya kalau tidak maka aku tetap akan diperkosa olehnya," dengan sedih dan penuh penderitaan ia merintih. "Pada waktu itu Pin-nie ingin bunuh diri saja, tapi rupanya Kong Yo Leng telah berpikir pula sampai ke situ. Ancamannya, kalau aku berani ambil keputusan pendek untuk bunuh diri maka anak murid Go bie selamanya jangan harap bisa muncul dalam dunia persilatan, oleh sebab itu terpaksa aku harus melanjutkan pelarian kami bersama- sama Ci Im suheng, sepanjang perjalanan kami menyaru sebagai suami istri, menginap dalam satu kamar yang sama, tidur sepembaringan yang sama pula dengan tujuan untuk melepaskan diri dari ancaman manusia laknat itu..."

"Oooh, jadi setiap kali kalian menginap di sebuah rumah penginapan maka kalian atur lebih dahulu jebakan maut agar Kong Yo Leng yang mengejar kalian bisa terjebak," kata Chee Thian Gak.

"Maksudmu ketika guruku berjumpa dengan mereka, waktu itu hanya suatu kebetulan saja dan peristiwa hanya suatu kesalahpahaman belaka?..." teriak Loe Peng dengan mata melotot.

"Tatkala gurumu menyerbu ke dalam kamar, ia segera terjebak ke dalam alat rahasia yang sengaja kupasang hingga mengakibatkan dia terpagut ular berbisa dan jatuh tak sadarkan diri. Sementara Pin- nie menemukan kalau sang korban bukanlah Ciak Kak Sin Mo, maka segera kuminta kepada suhengku untuk menolong jiwa gurumu."

"Ooooh..." Loe Peng berseru dengan wajah tertegun. "Tentang peristiwa ini bagaimanapun juga aku tetap tidak mempercayainya."

Hwie Kak Nikouw tidak mempedulikan teriakannya, ia melanjutkan :

"Pada saat suhengku membawa pergi gurumu dari situlah, Pin- nie baru menemukan bahwa Kong Yo Leng sudah menanti kedatanganku di dalam kamar..."

Bagian 17

BERBICARA sampai di situ ia merandek beberapa saat lamanya, sekilas rasa sedih yang tak terkirakan terlintas di atas wajahnya yang penuh keriput, dengan mulut membungkam dan pandangan sayu ditatapnya wajah Hee Siok Peng, sementara air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya.

Hong Teng adalah seorang manusia bodoh, ia cuma merasa heran tatkala menyaksikan tingkah laku Hwie Kak Nikouw yang membingungkan hati iut, karena tak tahu apa yang terjadi maka segera serunya kembali :

"Hey Nikouw tua, bagaimana selanjutnya? Apa yang telah dilakukan Ciak Kak Sin Mo setelah berada di dalam kamar?"

"Kepandaian silat Kong Yo Leng bukan saja berasal dari aliran sesat, kelihayannya pun tiada tandingannya di kolong langit," kata Hwie Kak Nikouw dengan penuh emosi. "Meskipun Pin-nie adalah anak murid Go bie Pay namun kepandaian silatku dalam pandangannya hanya bagaikan suatu permainan saja, Pin-nie sama sekali tiada berdaya untuk melawan, maka dalam suatu kesempatan itu berhasil ditawan olehnya, dan... dan... dan aku pun diperkosa oleh manusia laknat itu dalam kamar itu juga..."

Ia belai rambut Hee Siok Peng yang panjang dengan penuh kasih sayang, tambahnya lirih : "Dan dia adalah buah yang ditinggalkan Kong Yo Leng dalam badan Pin-nie..."

Tidak pernah Chee Thian Gak membayangkan kejadian itu, dengan nada tercengang bercampur kaget serunya :

"Apa? Hee Siok Peng sama sekali bukan putri dari Hee Giong Lam sang ketua dari Perguruan Selaksa Racun?"

Air mata semakin deras membasahi wajah Hwie Kak Nikouw yang penuh berkeriput, katanya dengan nada penuh sesenggukan :

"Ketika Pin-nie kembali ke dalam perguruan, ternyata telah berbadan dua, sembilan bulan kemudian lahirlah dia di dalam dunia... Aaaai! Karena keadaan memaksa aku ada maksud membuangnya saja ke tepi jalan, siapa sangka pada saat itulah kebetulan sumoay kudatang berkunjung ke gunung Gobie, maka..."

"Ibu!" tiba-tiba Hee Siok Peng angkat kepalanya dan berseru, "setelah sekian lamanya menderita akhirnya aku berhasil juga mengetahui siapakah ibuku yang sebenarnya. Ibu, aku minta janganlah membuang diriku lagi dari sisimu!"

Agaknya Hwie Kak Nikouw tidak menyangka kalau Hee Siok Peng secara tiba-tiba sudah mendusin, mendengar perkataan itu ia jadi gelagapan tidak karuan, dengan bibir gemetar dan wajah kebingungan serunya :

"Siok Peng..."

"Oooh Ibu!" seru Hee Siok Peng dengan nada sesenggukan sambil merebahkan diri di dalam pelukan nikouw itu. "Janganlah diriku lagi... Ooooh, betapa menderita aku selama mencari dirimu... janganlah kau tinggalkan diriku lagi..."

Sekuat tenaga Hwie Kak Nikouw memeluk putrinya, rasa pedih dan segala penderitaan serta siksaan yang telah terpendam selama belasan tahun rupanya telah tersalur keluar semua dalam sedetik yang terakhir ini, ia merasa tidak punya ganjalan lagi yang memberatkan pikirannya. Isak tangis yang pedih itu menggoncangkan perasaan hingga membuat Hong Teng serta Loe Peng pun ikut mewek, sedang Chee Thian Gak menghembuskan napas panjang dan membuang pandangannya jauh ke angkasa yang gelap..."

Dalam hati ia menghela napas panjang pikirnya :

"Peristiwa yang menimpa umat manusia memang seringkali berubah dengan cepatnya, entah sudah berapa banyak penderitaan serta siksaan yang sudah dirasakan oleh umat manusia di dunia ini? Entah berapa banyak air mata yang bercucuran? Berapa banyak hati yang hancur lebur? Dan siapa pula yang bisa menduga di balik kegembiraan seorang terkadang tersembunyi penderitaan serta siksaan batin yang berat?"

Sementara ia ada maksud menghibur hati ibu dan anak itu, mendadak terdengar Loe Peng berteriak keras :

"Lalu apa yang terjadi? Secara bagaimana kitab pusaka Ie Cin Keng serta Si Lek cu itu bisa terjatuh ke tanganmu?"

"Tatkala Pin-nie sadar kembali dari pingsan, kujumpai suhengku, Ci Im telah berdiri di dalam ruangan sambil membawa Si Lek cu serta kitab pusaka Ie Cin Keng, menurut pengakuannya benda-benda itu didapatkan dari dalam liang ular. Pada saat itu Pin-nie sedang sedih bercampur gusar, sama sekali tak terlintas dalam benakku untuk menemukan gurumu dan mengembalikan benda-benda mustika tadi kepadanya, hingga akhirnya..."

"Bagaimanapun juga aku tetap tidak percaya," tiba-tiba Loe Peng menukas.

Hwie Kak Nikouw mengerutkan sepasang alisnya, sedangkan Hee Siok Peng mendadak meloncat bangun sambil membentak :

"Kau ingin keadaan yang bagaimana baru mau mempercayai perkataan ibuku?"

Tangannya segera digetarkan, di antara lengannya yang putih mulus perlahan-lahan merambat keluar seekor ular kecil bersisik kembang-kembang, sambil melotot ke arah Loe Peng dengan sinar mata buas, lidahnya yang merah mendesis-desis...

Loe Peng menyusut mundur beberapa langkah ke belakang, sambil mencekal toyanya erat-erat ia berseru :

"Aku... aku minta bukti!"

"Di atas telapak kaki kanan Kong Yo Leng terdapat sebuah andeng-andeng merah, sedang di telapak kaki kanan Siok Peng pun terdapat andeng-andeng yang sama..."

"Ibu kalau begitu ayahku bukan she Hee melainkan Kong Yo?" teriak Hee Siok Peng dengan mata terbelalak.

Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Chee Thian Gak, ia teringat kembali tatkala Ciak Kak Sin Mo melancarkan sebuah jurus serangan yang aneh waktu ada di perkampungan Thay Bie San cung, secara tidak sengaja ia telah melihat andeng-andeng merah di telapak kaki gembong iblis itu.

Maka dengan cepat berseru :

"Cayhe bisa membuktikan kalau di atas kaki Kong Yo Leng benar-benar ada andeng-andeng merahnya."

"Aaaah, di atas telapak kakiku pun terdapat andeng-andeng..." seru Hee Siok Peng dengan wajah berubah. "Kalau begitu sudah pasti benar bahwa aku tidak she Hee melainkan she Kong Yo?"

Hwie Kak Nikouw menghela napas panjang, ia merasakan badannya jadi lemas tak bertenaga, seakan-akan ucapan yang telah diutarakan tadi telah menyumbat peredaran darah dalam tubuhnya sehingga membuat ia merasa enggan untuk berbicara lebih banyak, ia mengangguk.

Wajah Kong Yo Siok Peng segera berubah jadi riang, dengan penuh kegembiraan gumamnya :

"Kalau begitu aku sudah bukan merupakan musuh besar dari Pek In Hoei lagi, sejak kini ia pun bisa bersikap lebih baik terhadap diriku..." Chee Thian Gak yang mendengar gumaman dara itu, dalam hatinya segera timbul suatu perasaan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, pada saat ini pikirannya terasa buntu, ia terbayang kembali akan wajah dari Wie Jien Siang... baru saja bayangan itu lenyap, dalam benaknya terbayang kembali bayangan tubuh dari It-boen Pit Giok.

Untuk beberapa lamanya ia berdiri termangu-mangu di situ tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Hey!" tiba-tiba Kong Yo Siok Peng menegur sambil memandang ke arahnya dengan pandangan mesra. "Menurut pendapatmu dapatkah Pek In Hoei mencintai diriku?"

Chee Thian Gak melengak, tapi dengan cepat ia menyahut : "Ooooh, dari mana cayhe bisa tahu perasaan hati orang?"

Kong Yo Siok Peng maju dua langkah ke depan, katanya lagi sambil tersenyum :

"Seandainya kau adalah Pek In Hoei, dapatkah kau mencintai diriku?..."

Rupanya Chee Thian Gak tidak menyangka kalau dara bersifat polos yang mula-mula dijumpainya ini sekarang bisa berubah jadi begitu berani, alisnya kontan berkerut.

"Cayhe percaya Pek In Hoei adalah mencintai gadis-gadis yang jujur dan bersifat polos, ia tak akan sudi bergaul dengan gadis-gadis yang suka berjual lagak."

Kong Yo Siok Peng melengak, air mukanya berubah hebat. "Siapa yang kau maksudkan sebagai gadis yang suka berjual

lagak?"

Loe Peng benar-benar orang yang tak tahu diri, sambil usap kepalanya mendadak ia menimbrung :

"Hey, bolehkah aku memeriksa sebentar telapak kakimu?"

Kong Yo Siok Peng mencibirkan bibirnya, ular kecil yang berada di lengan kanannya tiba-tiba meluncur ke depan, laksana kilat memagut tubuh Loe Peng. Gerakan ular itu cepat bukan kepalang, baru saja lidahnya yang merah mendesis keluar tahu-tahu ia sudah tiba di hadapan jago Sauw lim ini.

Loe Peng membentak keras, sepasang telapaknya buru-buru didorong ke depan melancarkan sebuah babatan.

Segulung angin pukulan yang kencang menghadang jalan perginya ular tadi, siapa tahu tiba-tiba tubuh sang binatang yang panjang dan lencir itu membelok ke bawah lalu berputar ke samping, dari jarak lima coen di bawah ancaman angin pukulannya ia terobos menggigit leher lawan.

Perubahan yang dilakukan dengan gerakan cepat ini sungguh berada di luar dugaan Loe Peng, ia membentak, tubuh bagian atasnya dibuang ke belakang sementara telapak kanannya segera mencengkeram tubuh ular tadi.

Dengan gerakannya ini justru sang telapak telah memapaki datangnya moncong ular tadi... tidak ampun lagi telapaknya terpagut sekali, seluruh lengan jadi kaku dan hawa murni pun tak sanggup dikerahkan keluar.

Chee Thian Gak tidak menyangka kalau dara manis itu bakal mencelakai sahabatnya, dengan cepat ia loncat ke depan, ke-lima jarinya direntangkan bagaikan sebuah gunting laksana kilat mencengkeram bagian tujuh coen dari ular itu, jari telunjuk serta ibu jarinya ditekan ke dalam menjepit ular tadi kemudian sekali tarik ia cabut gigi-gigi taring sang ular yang telah menembusi kulit tubuh Loe Peng.

"Nona Peng!" tegurnya dengan sepasang alis berkerut, "kenapa kau lukai orang dengan ularmu?"

"Jangan lukai siauw hoa ku..." teriak Kong Yo Siok Peng sambil meloncat ke depan, tapi ketika mendengar teguran dari Chee Thian Gak ia segera merandek, badannya gemetar keras dan tak tahan ia berseru :

"Kau adalah Pek In Hoei..." Belum habis ia berseru, dari dalam kuil tiba-tiba berkelebat keluar sesosok bayangan tubuh, dia adalah Ouw-yang Gong, sambil membopong sesosok tubuh kakek itu menangis tersedu-sedu...

Sedari dulu dalam ingatannya belum pernah melihat Ouw-yang Gong menangis seperti kali ini, tentu saja tingkah laku orang itu membuat dara manis she Kong Yo ini jadi tertegun.

"Hey Ular asap tua!" tegurnya.

Ouw-yang Gong berhenti, sambil menoleh dan mengucurkan air matanya ia berbisik lirih :

"Uuuuh... Uuuuuh... dia telah mati!"

Sekarang Kong Yo Siok Peng baru dapat melihat bahwa orang yang dibopong manusia aneh itu bukan lain adalah suhunya Ko In Nikouw, ia jadi sangat terperanjat.

"Suhu!" teriaknya.

"Huuuu... uuuuh... nenek moyang sialan, siapakah suhumu? Dia adalah sayangku... Uuuuh... uuuuuh..."

Di tengah isak tangis yang amat sedih, orang itu melayang ke tengah angkasa dan meluncur ke bawah bukit Cing Shia, dalam waktu yang singkat badannya sudah lenyap di tengah kegelapan.

"Ooooh Ko In... Ko In..." bisik Hwie Kak Nikouw sambil menghela napas. "Apa gunanya kau bunuh diri hanya disebabkan persoalan ini?..."

Sebaliknya Chee Thian Gak jadi terperanjat, sambil melemparkan ular kecil tadi ke atas tanah serunya :

"Celaka, Ouw-yang Gong telah jadi gila..." sinar matanya berputar sekejap, tambahnya... "Cepat kau cabut keluar sisa racun ular yang mengeram dalam tubuh Loe Peng, aku segera akan pergi menyusul si ular asap tua!"

Dipandang dengan begitu tajam oleh Chee Thian Gak, air mata yang semula sudah hampir meleleh keluar dari kelopak mata Kong Yo Siok Peng segera terdesak masuk lagi, dengan termangu-mangu ia memandang bayangan tubuh pemuda itu lenyap di tengah kegelapan, lama sekali ia berdiri mematung disini.

"Omihtohud..." bisi Hwie Kak Nikouw licik. "Ko In... Ko In... bukankah kau sudah hampir dua puluh tahun lamanya berdoa setiap hari? Mengapa kau gagal juga menembusi kesulitan tentang 'cinta'?? Aaaai... samudra cinta luas tak terhingga, dimanakah adalah tepian??..."

Dengan kepala tertunduk, muka murung selangkah demi selangkah ia kembali ke ruang dalam, di tengah kegelapan hanya terdengar gumamnya berkumandang di angkasa :

"Peristiwa menyedihkan banyak di dunia... siksaan batin banyak di orang yang mabok oleh cinta..."

.....

Fajar baru saja menyingsing, kabut tipis menyelimuti bukit dan permukaan bumi... mengikuti angin kabut tadi makin mengumpul jadi satu...

Gunung Cing Shia masih dikelilingi oleh kabut yang tebal, di tengah kesunyian yang mencekam, suasana di sekeliling situ terasa semakin menyeramkan...

Mendadak terdengar isak tangis yang amat sedih muncul di balik kesunyian, tangisan itu seolah-olah muncul bagaikan kabut sukar dicari dari mana asalnya... dan lenyap tiada berbekas.

Jubah merah yang dikenakan Chee Thian Gak berkelebat muncul di tengah kabut, kemudian lenyap pula di balik kumpulan kabut lain yang jauh lebih tebal, dengan alis berkerut pikirnya :

"Sudah dua hari dua malam aku mengejar diri Ouw-yang Gong, tapi dia hanya selalu berputar di sekeliling Gunung Cing Shia, andaikata syarafnya tidak beres, tak mungkin ia bisa berbuat demikian!"

"Dari balik kabut kembali berkumandang suara isak tangis yang lirih, sebentar suara itu muncul sebentar lagi lenyap tak berbekas... seakan-akan suara itu muncul dari dalam impian... tapi mirip pula sebagai kenyataan...

Chee Thian Gak berseru tertahan, badannya dengan cepat berkelebat meloncat sejauh empat tombak ke depan, bergerak menuju ke arah mana berasalnya suara tadi.

Kabut tebal menggulung ke sana kemari, suara tadi lenyap tak tahu ujung pangkalnya, dalam keadaan begitu terpaksa jago she Chee itu berdiri tak berkutik di tempat semula sambil diam-diam menantikan kemunculan isak tangis tadi sekali lagi.

Sedikit pun tidak salah, beberapa saat kemudian suara tangisan itu muncul lagi dari balik kabut, mengikuti hembusan angin buyar di angkasa... seakan-akan bunga yang rontok di atas tanah...

Chee Thian Gak tarik napas dalam-dalam badannya melayang tiga tombak ke depan dan melayang turun di mana berasalnya suara tadi.

Gerakan tubuhnya ringan, sewaktu mencapai permukaan tanah pun tidak menimbulkan sedikit suara pun tapi suara itu belum berhasil juga dikejarnya...

Meski begitu, kali ini Chee Thian Gak bertindak jauh lebih cerdik, ia tidak bergeser dari tempat semula sebaliknya malah berdiri tak berkutik di situ.

Sedikit pun tidak salah, ia segera mendengar dengusan napas napas di sekeliling sana.

Bagi seorang jago silat yang sudah berpengalaman luas, penemuan itu memberikan perasaan baginya bahwa ia sudah berada di dalam kepungan segi enam yang sangat kuat.

Ia tidak mengerti, apakah ke-enam orang jago itu sejak semula sudah bersembunyi di sana, ataukah dirinya yang tidak beruntung telah meloncat masuk ke dalam kepungan mereka, setelah berpikir sejenak akhirnya ia menahan pernapasan, kapaknya dipersiapkan dan dengan tenang menantikan perubahan selanjutnya. Dengusan napas di sekitar sana sebentar memanjang, sebentar lirih dan lemah sekali seakan-akan mereka sedang mengintai sesuatu, gerak-geriknya sangat berhati-hati dan dijaga dengan sangat agar jangan sampai menimbulkan sedikit suarapun.

Waktu berlalu dengan cepatnya, sudah beberapa saat Chee Thian Gak menanti di sana tetapi sama sekali tiada suatu gerakan apa pun, kian lama hatinya kian bertambah curiga, segera pikirnya :

"Apakah ada jago yang begitu berharga sehingga ke-enam tujuh orang jago lihay itu mau menanti dengan sabar..."

Belum habis dia berpikir, tiba-tiba dari sisi tubuhnya berkumandang datang suara isak tangis yang amat lirih.

Sekarang Chee Thian Gak baru mengerti, ternyata isak tangis tadi adalah tangisan yang sengaja diperdengarkan untuk memancing perhatian seseorang, otaknya dengan cepat berputar, batinnya :

"Rupanya orang itu sedang memancing kedatangan seseorang dengan suara tangisan tersebut, siapa sih yang bisa dipancing datang dengan suara isak tangis..."

Tapi dengan cepat pikiran itu dicabut dari dalam benaknya, sebab secara tiba-tiba ia teringat bukankah dia sendiri pun terpancing datang ke situ karena mendengar suara-suara isak tangis tadi?

Dari tempat kejauhan berkumandang datang suara suitan yang aneh diikuti suara Ouw-yang Gong yang serak-serak nyaring bagaikan tong bobrok itu berkumandang ke angkasa :

"Maknya, anak setan cucu monyet... siapa sih yang menangis tersedu-sedu di pagi buta seperti ini? Apakah kalian sudah kematian seseorang?"

"Aaach, rupanya orang-orang yang sedang bersembunyi di sekitar sini bukan lain adalah gerombolan dari Song Kim Toa Lhama sekalian," satu ingatan berkelebat dalam benak Chee Thian Gak. "Tapi apa sebabnya mereka hendak menangkap diri Ouw-yang Gong? Jangan-jangan karena dia telah mengetahui rahasia atau rencana besar mereka maka manusia itu akan dibunuh? aaaaaai... ketika aku menolong dirinya dari hutan tempo dulu, sudah sepantasnya kalau kutanyai alasannya sampai jelas..."

Dalam kenyataan tiada kesempatan sama sekali baginya untuk menyesal atau berpikir lebih jauh, dari balik kabut terdengar suara senjata dicabut dari sarungnya diikuti enam sosok bayangan manusia berkelebat lewat dari balik kabut, meninggalkan orang yang masih menangis terisak itu.

Dengan badan setengah merangkak perlahan-lahan Chee Thian Gak bergerak maju ke depan, laksana kilat ia dekap mulut orang itu dengan telapak tangannya.

Meskipun gerakan ini dilakukan dengan kecepatan luar biasanya, tapi rupanya orang itu pun merasakan adanya ancaman bahaya yang sedang mengintai dirinya, dengan cepat badannya berputar sementara sikut kirinya disodokkan ke depan menghajar jalan dara So Sim Hiat di atas dadanya.

Chee Thian Gak melengak, cepat lengan kirinya dirangkul ke depan melalui tekukan lengan musuh kemudian memeluk tubuhnya kencang-kencang.

Jari tangannya ditekuk dari depan siap mencengkeram jalan darah bisu di tubuh orang tadi.

Siapa sangka ketika telapak tangannya bergesek lewat di depan dada orang itu, ia rasakan sebuah perasaan empuk yang padat berisi dan kenyal bergelora masuk lewat pori-pori jari tangannya membuat jantung berdebar dan badannya gemetar keras.

Sekarang   dia   baru mendusin bahwa orang yang sedang didekapnya sekarang adalah seorang perempuan dan benda yang disenggolnya barusan bukan lain adalah sepasang tetek dari gadis itu.

Sebelum dia sempat bertindak sesuatu, gadis itu sudah menjerit kaget dengan kerasnya.

Jeritan lengking itu berkumandang menembusi kabut dan menyebar di angkasa, dalam keadaan begini Chee Thian Gak tidak bisa tidak harus meneruskan gerakannya. Sambil menggigit bibir ia segera sodok jalan darah bisu perempuan itu dengan ujung gagak kapaknya.

Angin desiran tajam menyambar lewat dari belakang, tahu-tahu sebilah pedang sudah disodok ke arah tubuhnya dari sayap kanan.

Sungguh tajam serangan itu, bukan saja ganas bahkan dahsyat, buru-buru Chee Thian Gak menggeserkan tubuh bagian atasnya ke samping, senjata kapak segera dipancarkan ke depan menyongsong datangnya babatan lawan.

Cring. ! di tengah suara dentingan nyaring, pedang itu patah jadi

dua bagian dan rontok ke atas tanah.

Chee Thian Gak putar kapaknya membentuk ke arah lain, kebetulan orang itu sedang memapaki kedatangannya dengan gagang pedang, tidak ampun lagi sambil menjerit kesakitan kutungan pedang itu pun mencelat ke angkasa.

Chee Thian Gak mengerti gerakan serangan yang barusan digunakan adalah salah satu jurus yang terampuh di antara sembilan kapak pembelah langit, tulang tangan orang itu kemungkinan besar sudah retak.

Dari balik kabut berkumandang keluar suara teriakan Ouw-yang Gong yang serak :

"Neneknya anjing geledak, siap ayg suruh kalian ribut terus disini? Siauw Hong sedang tidur tahu?"

"Ouw-yang Gong si ular asap tua, cepat lari," teriak Chee Thian Gak memberi peringatan.

"Siapa yang memanggil aku?"

Dari balik kabut berkumandang datang suara bentakan dari Kiam Leng Koen Pay Boen Hay, sekilas cahaya pedang menembusi kabut putih yang tebal dan langsung menusuk darah Thian To hiat di atas tenggorokan musuhnya...

Chee Thian Gak segera ayun kapak saktinya dengan jurus 'Kay Thian Pit Teh' atau Membelah langit membacok bumi, ujung senjatanya yang tajam membelah angkasa hingga menimbulkan gulungan hawa tekanan dan menyapu ke arah luar.

Tiiiing.... ujung pedang Pay Boen Hay terbabat sampai kutung sebagian kecil.

Jurus pedangnya terbendung dan gerakan badannya pun terhenti di tengah jalan, tatkala merasakan tenaga serangannya lenyap tak berbekas, buru-buru ia meloncat mundur ke belakang dengan hati terkesiap.

"Siapakah kau?" tegurnya keras.

"Haaaah... haaaah... haaaah... si Pendekar Jantan Berkapak Sakti Chee Thian Gak berada disini!"

Dengan langkah lebar ia maju ke depan, kapaknya diputar sedemikian rupa di tengah udara, dengan jurus 'Koen Toen Jut Hoen' atau Alam Semesta pertama Berpisah yaitu jurus ketiga dari sembilan jurus pembelah langit, ia membentuk berlaksa bayangan kapak yang mana secara berbareng dengan diiringi angin pukulan yang hebat menyapu ke muka.

Baru saja Pay Boen Hay membabat pedangnya ke depan, seluruh tubuhnya tahu-tahu sudah tergulung oleh hawa serangan yang maha dahysat itu sehingga sama sekali tak berkutik, keadaannya mirip dengan teruruk di dalam guguran gunung thay-san...

Dadanya kontan terasa sakit, hampir saja ia jatuh semaput saking tak tahan, air mukanya berubah hebat, sambil berteriak keras segenap kekuatan yang dimilikinya dihimpun dan melancarkan sebuah serangan lagi.

Angin tajam menyambar lewat di atas pipinya, pedang yang sedang terayun segera kutung jadi enam bagian, belum sempat ia bertindak, sesuatu dari sisi kiri kembali menyambar lewat segulung angin tajam membuat ia jadi ketakutan setengah mati, seakan-akan sukmanya telah melayang, dengan sekuat tenaga badannya meloncat ke belakang. Meskipun semua gerakan itu dilaksanakan dengan sangat cepat, sayang kapak lawan sudah mampir di atas lengan kirinya, seketika cipratan darah segar muncrat ke empat penjuru, di tengah jeritan ngeri yang menyayatkan hati lengan kirinya terbabat kutung sebatas bahu dan mencelat jauh dari kalangan.

Melihat lengan lawan berhasil disambar kutung, diam-diam Chee Thian Gak merasa sangat girang, pikirnya :

"Dendam satu babatan pedang sewaktu berada di gunung Cing Shia dua tahun berselang, hitung-hitung berhasil kubalas pada saat ini!"

Criiit...! Criiit...! hawa pedang membumbung di angkasa, ujung pedang yang tajam kembali menyerang datang dari belakang punggung laksana sambaran kilat.

Chee Thian Gak mendengus berat, seluruh tubuhnya berputar satu lingkaran besar, kapak sakti di tangannya dengan disertai gerakan ke-lima dari sembilan jurus pembelah langit yaitu 'Hoen Thian An Teh' atau langit berpusing bumi menggelap meluncur keluar.

Gerakan kapak beterbangan di angkasa membawa desiran angin tajam yang berpusing, begitu dahsyatnya serangan itu sampai-sampai kabut putih di sekitar delapan depa di sekeliling tempat itu tersapu lenyap dan menggulung keluar.

Menggunakan kesempatan itu Chee Thian Gak berhasil melihat jelas wajah lawannya, dia adalah seorang pemuda beralis tebal, berkening lebar dan bersikap gagah sedang memutar pedangnya menyambar datang.

Jurus-jurus serangan yang digunakan kebanyakan merupakan gerakan terbuka, tetapi di mana ujung pedangnya mengancam selalu diiringi getaran yang kencang membuat seluruh gerakan itu terlihat jadi aneh dan di luar dugaan.

Ketika serangan kapak meluncur tiba, serangan pedang orang itu segera termakan oleh serangan yang sangat kuat, ujung pedang mencelat ke angkasa sementara kakinya bergeser dua langkah ke samping.

Dengan perputaran itulah, si anak muda tadi segera dapat menyaksikan diri Chee Thian Gak yang berdiri keren di situ sambil mengepit tubuh seorang dara.

"Aaaah!" ia berseru tertahan, air mukanya berubah hebat, "Siok Cian... kenapa kau?..."

Menggunakan kesempatan di kala pihak lawan sedang tertegun, cahaya kapak laksana kilat telah meluncur tiba meluruk masuk ke dalam lingkaran gerakan pedang lawan.

"Aaah, inilah sembilan jurus pembelah langit!" teriak pemuda itu dengan wajah berubah jadi hijau membesi.

Pedangnya segera diputar, ia bermaksud membendung datangnya serangan lawan yang maha dahsyat itu, sayang keadaan sudah tidak sempat lagi.

"Traaang...! termakan oleh benturan senjata lawan yang berat dan mantap pedangnya seketika patah jadi dua bagian.

Pada saat itulah, dari tengah hutan berkumandang datang jeritan kesakitan dari Ouw-yang Gong :

"Aduuuh... Song Kim Toa Lhama... bagus... bagus sekali perbuatanmu, rupanya kau hendak mencabut jiwaku!"

Chee Thian Gak terkejut, ia berusaha mendekati arah berasalnya suara tadi, tapi dua bilah pedang tahu-tahu sudah mengancam tiba dari sisi kiri dan sisi kanan, serangannya ganas dan telengas, membuat orang mau tak mau harus menghadapinya dengan serius.

Sekilas pandang jago kita segera kenali kedua orang itu sebagai si Pedang Kilat Pelangi Terbang Tok See serta pdpn Tauw Meh, ia segera tertawa terbahak-bahak, langkah kaki bergeser ke samping, dalam sehembusan napas dia telah melancarkan dua buah serangan maut. Cahaya tajam memancar menyilaukan mata, jurus yang rapat sambung menyambung bagaikan mata rantai, tubuh kedua orang itu pun segera terkurung dalam kepungan itu.

Dalam pada itu si anak muda tadi pun tidak berdiam diri saja, ia buang kutungan pedangnya ke atas tanah kemudian sepasang telapaknya dipisahkan dan mengirim dua babatan kosong menghantam ke arah gulungan cahaya kapak yang rapat.

Blaaam... Blaaam... pergelangan tangan Chee Thian Gak bergetar keras, termakan oleh pukulan tersebut, ia rasakan tenaga serangannya tersumbat dan dengan sendirinya gerakan kapak pun ikut terganggu.

Meskipun si anak muda itu memakai baju yang perlente dan berdandan bagaikan seorang kongcu ya tapi kekuatan dua buah serangannya benar-benar lebih lihay dari jagoan kelas satu.

Diam-diam Chee Thian Gak merasa terperanjat, ia tak tahu siapakah orang itu, badannya dengan cepat berputar berulang kali, mengikuti perubahan gerakan jurus itu dalam waktu singkat kembali ia lancarkan tiga buah babatan kilat.

Bayangan kapak selembar demi selembar menggulung ke angkasa, serangan yang dipancarkan bagaikan hujan taupan ini membuat ketiga orang yang terkurung itu terasa tergencet hingga keringat dingin pun mulai mengucur keluar membasahi jidat mereka. Seandainya bukan dialami sendiri mungkin ketiga orang itu tidak akan percaya bahwa gabungan tiga orang jago pedang yang sangat lihay ternyata tidak sanggup menandingi seorang lelaki aneh berjubah

merah yang tidak tersohor namanya dalam dunia persilatan.

Chee Thian Gak sendiri berhasil melebur tenaga sin kang dari Ie Cin Keng ke dalam jurus serangan ilmu Surya kencananya hingga membuat ia memperoleh hasil di luar dugaan, kesempurnaan tenaga lweekangnya saat ini boleh dibilang tiada taranya.

Oleh karena itu ketika ia menggunakan sembilan jurus pembelah langit yang diciptakan Thian Liong Toa Lhama dari jurus saktinya Thian Liong Cap Kan Pian, daya pengaruhnya benar-benar sangat mengejutkan, bukan sembarangan jago kelas satu yang sanggup menahannya.

Diam-diam pemuda berbaju perlente itu merasa terperanjat, pikirnya dalam hati :

"Sembilan jurus ilmu pembelah langit adalah kepandaian ciptaan dari Thay Koksu Thian Liong Toa Lhama, tapi ketika digunakan oleh orang ini bukan saja lebih sempurna gerakannya bahkan jauh lebih lihay dari Thian Liong Toa Lhama sendiri, entah siapakah orang ini? Dan apa sebabnya ia menangkap Siok Cian?"

Satu ingatan belum lenyap, ingatan lain telah muncul di dalam benaknya, ketika ia teringat akan keselamatan Siok Cian, hawa amarahnya segera berkobar, ia ingin sekali membinasakan diri Chee Thian Gak dalam dua tiga jurus saja.

Pada saat pikirannya sedang rumet itulah mendadak Chee Thian Gak membentak keras, kapaknya bergerak dengan jurus ke-delapan 'Jiet Gwat Boe Kong' atau Rembulan dan sang surya sirna dari semesta.

Si Pedang Sakti Pembunuh Naga Tauw Meh menjerit kaget, pedangnya terpapas kutung jadi beberapa bagian, pakaian bagian dadanya tersambar robek sedangkan darah segar segera mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.

Si Pedang Kilat Pelangi Terbang Tok See yang ada dekat Tauw Meh kontan termakan oleh tumbukan badan rekannya, buru-buru bahu kanannya direndahkan ke bawah coba menolong orang she Tauw itu dari ancaman.

Siapa sangka baru saja tubuhnya merendah ke bawah, pedangnya tahu-tahu sudah terpapas kutung jadi beberapa bagian oleh sambaran senjata Chee Thian Gak.

Dengan meluncur tibanya babatan tersebut maka dadanya segera terbuka dari perlindungan, desiran angin tajam yang menyengat badan pun menerjang masuk ke dalam, dalam keadaan begini tiada harapan lagi baginya untuk meloloskan diri dari ancaman mau. Berada di ambang kematian, wajahnya berubah kaget, ngeri dan ketakutan setengah mati, air mukanya jadi pucat pias bagaikan mayat, memandang kapak sakti yang sedang menyambar tiba, ia cuma bisa berdiri termangu-mangu dengan sorot mata sayu.

Semua perubahan wajah orang she Tok ini dapat dilihat jelas oleh Chee Thian Gak, mendadak hatinya bergetar dan pelbagai ingatan berkelebat memenuhi benaknya.

Ia teringat beberapa kali nyawanya berada di ujung tanduk, ia selalu berada dalam harapan untuk melancarkan perlawanan, ia bisa merasakan betapa tersiksa batinnya pada saat itu.

Tiada siksaan batin lain yang jauh lebih berat daripada siksaan batin di kala seseorang berada di depan maut, di ambang kematian yang akan menghapus namanya dari muka bumi.

Begitu ingatan tadi berkelebat masuk dalam benaknya, sang pergelangan segera dimiringkan ke samping, sementara kaki kirinya mengirim satu tendangan kilat membuat tubuh Tok See terpental sejauh enam depa dan terbanting keras-keras di atas tanah.

Pemuda berbaju perlente itu bukan manusia sembarangan, sudah tentu ia pun bisa mengikuti tingkah laku lawannya, menyaksikan sikap Chee Thian Gak, ia segera merasa bahwa inilah satu kesempatan baik baginya untuk bertindak.

Tangan kanannya segera diluruskan ke depan kemudian membabat dengan satu gerakan yang aneh, sementara tangan kirinya mencengkeram lengan Siok Cian dengan maksud merampasnya kembali.

Chee Thian Gak berseru tertahan, rupanya dia pun tidak menyangka kalau kepandaian silat dari pemuda itu sangat lihay, sebelum tubuhnya sempat berkelit tahu-tahu lengan kirinya termakan pula oleh hajaran lawan.

Ploook! di tengah bentrokan keras ia mendengus dingin, badan bagian atas miring ke samping, sedang kapaknya digulung balik keluar, sekejap mata bayangan kapak telah memenuhi angkasa. Jurus yang ia gunakan barusan adalah jurus terakhir dari sembilan jurus ilmu pembelah langit yaitu ' Thian Teh Ke Hoei' atau Bumi dan langit hancur berantakan, daya dan pengaruh mengerikan dan cukup untuk merobohkan sebuah bukit.

Sementara itu pemuda berbaju perlente tadi sedang merasa terkesiap karena serangannya yang bersarang dengan telah di tubuh lawan bukan saja tidak berhasil merobohkan lawannya, sebaliknya ia seolah-olah menghantam baja yang kuat sehingga membuat tangannya jadi kaku.

Segera pikirnya di dalam hati :

"Jurus serangan yang aku gunakan barusan sanggup menjebolkan perut seekor banteng, tapi apa sebabnya sama sekali tak berguna baginya? Jangan-jangan ia telah berhasil melatih ilmu Kim Kong Sinkang yang kebal terhadap pelbagai macam ilmu pukulan!"

Baru saja ingatan itu muncul dalam benaknya, desiran angin tajam sudah menyapu tiba,tidak sempat lagi baginya untuk berpikir panjang, buru-buru ia enjotkan badannya berusaha meloloskan diri dari kurungan bayangan kapak lawan.

Bekas telapak merah yang ada di atas jidat Chee Thian Gak kian lama kian bertambah nyata, senyuman dingin yang menghiasi bibirnya menunjukkan kesadisan serta kekejaman hatinya.

Hmmm! Kau anggap aku sudi memberi kesempatan bagimu untuk melarikan diri dari sini?" jengeknya ketus.

Baru saja lelaki berbaju perlente itu loncat ke samping, ia segera rasakan daya tekanan yang maha berat menekan datang dari sekeliling tubuhnya membuat ia seolah-olah terjerumus ke dalam lumpur, sama sekali tak berhasil lari dari situ.

"Addduhh...! habis sudah jiwaku!" teriaknya keras-keras dengan wajah pucat pias bagaikan mayat.

"Pangeran kedua, jangan gugup, Song Kiem segera datang!" bentakan nyaring laksana suara benda mendengung tiba dari balik kabut putih yang menutupi pemandangan sekeliling tempat itu. Sekilas bayangan merah bergerak membelah angkasa, segulung tenaga pukulan yang berat laksana tindihan bukit thay san menekan ke bawah.

Blaaam! di tengah ledakan dahsyat bagaikan guntur membelah bumi di siang hari bolong, bayangan kapak yang memenuhi angkasa seketika sirap, di tengah membuyarnya kabut putih di sekeliling sana tampak Chee Thian Gak dengan mata melotot bulat dan alis berkerut kencang sedang menatap wajah Song Kim Toa Lhama yang berada di hadapannya tanpa berkedip.

Pakaian yang dikenakan Song Kim Toa Lhama terbelah jadi beberapa bagian, di atas jubahnya yang lebar dengan nyata terlihat sebuah bekas mulut luka yang amat panjang, darah segar mengucur keluar dengan derasnya dari mulut luka tadi dan membasahi seluruh tubuhnya...

Dengan wajah hijau membesi karena belum berhasil menguasai golakan darah panas dalam rongga dadanya, sorot mata yang tajam menatap cambang lebat di atas wajah lawan serta bekas merah darah yang nampak sangat menyolok di atas dahinya.

Dalam ingatannya dari daerah Tibet belum pernah didengar ada manusia yang memiliki kepandaian silat demikian lihaynya bahkan berani menyambut pukulan 'Thay Chioe Eng' suatu kepandaian maha sakti yang mengerikan dengan keras lawan keras tanpa mengalami cedera apa pun.

Bukan begitu saja, dalam dunia persilatan di daratan Tionggoan pun ia belum pernah bertemu dengan seorang jago yang berdandan demikian aneh serta memiliki ilmu silat begitu anehnya macam Chee Thian Gak.

Tatkala sorot mata Song Kim Toa Lhama terbentur dengan napsu membunuh yang bergelora di balik kerutan alis lawan, mendadak hatinya jadi bergidik, tanpa sadar seluruh bulu kuduknya pada bangun berdiri. Chee Thian Gak tertawa dingin, sambil melirik sekejap ke arah lelaki berbaju perlente yang saat itu lupa berdiri dan masih saja duduk mendeprok di atas tanah jengeknya :

"Ooooh.... kiranya kau masih mempunyai kedudukan sebagai seorang pangeran kedua... Hmmm! Hmmm! kalau begitu aku harus minta maaf..."

Lelaki perlente itu tetap membungkam sementara hatinya sedih dan pedih bagaikan diiris-iris dengan beribu-ribu batang pedang, ia hanya merasakan bahwa pandangan di hadapannya hanya warna kelabu belaka, ilmu pedang yang dilatihnya dengan susah payah selama sepuluh tahun dan dipersiapkan untuk membesarkan namanya di kemudian hari, saat ini harus hancur berantakan terlebih dahulu sebelum impiannya terwujud.

Ia merintih lirih, pikirnya :

"Dapatkah aku disebut sebagai jago pedang lainnya yang baru muncul di dalam dunia persilatan? Tenaga gabungan kami bertiga ternyata masih belum sanggup untuk menghadapi seorang manusia kasar model dia..."

Kabut putih perlahan-lahan membuyar dari sekeliling tempat itu, secara lapat-lapat tampaklah Chee Thian Gak sambil mengepit seorang gadis cantik sedang berdiri keren di tengah kalangan, sikap maupun gerak-geriknya cukup membuat orang merasa bergidik...

Menyaksikan kesemuanya itu, pangeran kedua kembali berpikir dalam hatinya :

"Oooooh Lie Peng... Lie Peng... kau sebagai keluarga Kaisar mempunyai kedudukan yang maha tinggi dan maha mulia... apakah kau rela dihina dan dipermalukan orang seperti hal ini? Untuk mempertahankan kekasih pun tak sanggup?... Dimanakah kekuasaan serta kehormatanmu pada hari-hari biasa..."

Belum habis dia berpikir, terdengar Chee Thian Gak telah berkata dengan suara dingin : "Song Kiem, kau bukannya menikmati kehidupan yang serba mewah dan serba menyenangkan dalam istana kaisar, mengapa malah datangi tempat yang gersang dan rudin seperti ini?"

Song Kim Toa Lhama tidak langsung menjawab, ditatapnya wajah lelaki she Chee itu beberapa saat lamanya, kemudian baru menjawab :

"Sicu! Besar amat nyali anjingmu, berani menculik calon permaisuri kami. Hmmm! Rupanya kau sudah bosan hidup di kolong langit?"

"Di mana Ouw-yang Gong? Apa yang telah kalian lakukan terhadap dirinya?"

"Persoalan yang ia ketahui terlalu banyak, bagaimanapun juga kami tak akan biarkan dia tetap hidup di kolong langit."

"Hmmm! Kalau memang begitu keinginan kalian, maka permaisuri kalian pun tak akan hidup lebih dari esok pagi!"

"Hmmm! Kau masih ingin tinggalkan tempat ini?" hardik Song Kim Toa Lhama.

"Haaaah... haaaah... haaaah... Siapakah manusia yang ada di kolong langit dewasa ini sanggup menghalangi kepergian dari aku Chee Thian Gak...?"

"Chee Thian Gak?" pikir Song Kim Toa Lhama, tapi ia merasa belum pernah kenal dengan nama tersebut, dengan pandangan sangsi bercampur curiga diliriknya sekejap senjata kapak di tangan pihak lawan, kemudian tegurnya dengan suara berat :

"Apa hubunganmu dengan Thian Liong toa suheng?" Mendengar padri itu mengungkap soal nama Thian Liong Toa

Lhama, untuk beberapa saat Chee Thian Gak merasa sangsi, lagi katanya juga :

"Thian Liong si Buddha Hidup adalah guru yang mewariskan kepandaian silat kepadaku!" "Aaaaach!" Song Kim Toa Lhama berseru terperanjat, "Kau adalah anak murid dari Thian Liong Toa suheng? Sekarang dia berada di mana?"

"Dunia penuh ketenangan di langit barat."

"Ooooh... dia sudah wafat?" seru Song Kiem, sekilas rasa sedih terlintas di atas wajahnya, "Ia meninggal dunia di mana?"

"Kenapa harus kukatakan kepadamu?"

Song Kim Toa Lhama mengerti bahwasanya semasa kakak seperguruannya masih memangku jabatan sebagai Toa Koksu, ia pernah melarikan sejumlah besar benda-benda pusaka dari gudang mustika dalam istana terlarang, sekarang walaupun orangnya sudah mati tapi benda-benda mustika itu pasti masih berada di kolong langit.

Oleh sebab itu dengan nada menyelidik tanyanya lagi :

"Chee Sutit, tahukah kau bahwa semasa hidupnya ia pernah memiliki sejumlah benda-benda mustika..."

Chee Thian Gak mengerti bahwa ucapan barusan diutarakan Song Kim Toa Lhama adalah dimaksudkan benda-benda mustika yang banyak berserakan dalam meja kuno di gunung Cing Shia, diam- diam ia lantas tertawa dingin.

"Cisss... siapakah sih yang menjadi keponakan muridmu?" ia menjengek.

Sepasang alis Song Kim Toa Lhama kontan berkerut kencang, jubah lebarnya tiba-tiba menggelembung besar, diikuti bergetarnya ujung baju, segulung angin pukulan yang maha dahsyat laksana hembusan angin taupan menggulung ke depan.

"Keparat cilik yang tak tahu diri," makinya kalang kabut. "Kau berani memandang hina angkatan tuamu. Hmmm! Rasakanlah sebuah pukulanku..."

Chee Thian Gak ayunkan kapak saktinya ke tengah udara, lalu maju selangkah ke depan, dengan sebelah telapak tangan ia sambut datangnya serangan dahsyat dari Song Kim Toa Lhama. Blaaaam... ledakan dahsyat bergeletar di tengah udara, pasir dan debut beterbangan ke angkasa, di tengah raungan keras Song Kim Toa Lhama telapak kanannya perlahan-lahan diayun keluar menghantam tubuh lawan...

Segulung desiran angin tajam yang aneh dan kuat memancar keluar membelah angkasa, telapak tangan yang barusan diulur keluar dari balik ujung bajunya itu mendadak berubah jadi besar dan merah padam bagaikan darah...

"Thay Chiu Eng," bisik Chee Thian Gak sambil tarik napas dalam-dalam, telapak kanannya disendat lalu ditumpahkan keluar hawa sakti aliran panas disalurkan ke segenap tubuh, dengan jurus 'Yang Kong Phu Ciauw' atau Cahaya Sang Surya Memancar Terang ia sambut datangnya ancaman lawan.

Deruan angin puyuh yang maha dahsyat mengiringi suara desiran yang memekikkan telinga, hawa kabut di udara seketika buyar ke empat penjuru terdesak oleh hawa pukulan berhawa panas membara itu dan berubah jadi titik embun...

Bluuuummm... Song Kim Toa Lhama mendengus berat, beberapa puluh lembar terbakar hangus... dengan tubuh sempoyongan ia mundur satu langkah ke belakang.

Di tengah udara tercium bau sangit yang amat menusuk hidung, bibirnya bergeletar keras dan akhirnya tak tahan lagi ia muntahkan darah segar...

Sebaliknya wajah Chee Thian Gak berubah jadi kelabu gelap, sepasang kakinya sudah terbenam ke dalam tanah namun badannya tetap gemilang atau pun tidak bergeser dari tempat semula...

Chee Thian Gak kerutkan alisnya, perlahan-lahan ia hembuskan napas panjang kemudian bergeser dua langkah ke samping melepaskan diri dari benaman tanah.

Ditatapnya wajah Song Kim Toa Lhama yang penuh berlepotan darah dengan pandangan tajam, sekilas hawa napsu membunuh melintas di atas wajahnya, dengan nada berat ia menegur : "Song Kiem toa Kok su, bagaimana kalau sekarang rasakan lagi sebuah pukulanku???"