Imam Tanpa Bayangan I Jilid 06

 
Jilid 06

"BAGUS, kalau kau dapat mendengarkan irama musik gabungan kami hingga selesai, Pedang Sakti Penghancur Sang Surya ini segera akan menjadi milikmu," Kong Yo Leng ikut menimbrung dengan hati panas.

"Tunggu sebentar!" tiba-tiba Hoa Pek Tuo menyela, "Kong-yo heng janganlah kau sampai termakan oleh siasat licik keparat cilik itu, kau harus tahu andaikata ia tidak sanggup menahan barisan ular dari Lhamapi si Dewa Cebol itu berarti pula ia sama sekali tidak berhak untuk mendengarkan irama musik gabungan dari kalian berdua."

Kong Yo Leng termenung sebentar, ia merasa ucapan tersebut sedikit pun tidak salah, maka sambil memandang ke arah Mie Liok Nio katanya :

"Ehmmm, perkataan Hoa heng memang sedikit pun tidak salah..."

Melihatnya siasatnya bakal hancur di tangan Hoa Pek Tuo, buru- buru Chee Thian Gak tertawa dingin.

"Hmmm!" Hoa Pek Tuo mendengus, "Asalkan dapat menembusi barisan ular ini, sudah tentu ada kesempatan pula bagimu untuk mendengar irama..."

"Baik!" tukar Chee Thian Gak sambil ayun kapak saktinya. "Akan cayhe demonstrasikan dahulu kepandaian membabat ular ku..." Dia maju dua langkah ke depan, tampaklah daerah seluas empat tombak persegi telah dipenuhi dengan ular-ular yang berliak-liuk mengikuti irama musik yang lembut, saat itu ular-ular lagi sedang angkat kepalanya menjulurkan lidah yang merah di sekeliling si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok hingga terciptalah selapis lautan ular yang luas.

Dalam pada itu Loe Peng serta Hong Teng berdiri dengan punggung menempel di atas punggung, sekeliling tubuh mereka sudah dipenuhi oleh gerombolan ular, wajah mereka berubah serius sementara di tangan masing-masing mencekal sebatang bambu hijau, rupanya mereka sudah siap melawan gerombolan ular itu.

"Ular yang berkumpul disini mungkin di atas ribuan jumlahnya," pikir Chee Thian Gak dalam hati. "Sekalipun aku ingin menjagal pun tak nanti bisa menjagal sebanyak itu, rupanya aku harus menghancurkan lebih dahulu seruling di tangan Dewa Cebol dari negeri Thian Tok dengan demikian rombongan ular pun bisa dibuyarkan..."

Tangannya segera merogoh ke dalam saku mengambil senjata rahasia naga emas, sekilas napsu membunuh berkelebat di atas wajahnya, sambil perhatikan rombongan ular itu dia maju tiga langkah ke depan.

Hoa Pek Tuo tertawa dingin, dia angkat tangannya ke arah si Dewa Cebol dan mengucapkan beberapa patah kata dengan bahasa India.

Irama seruling segera berubah, di tengah alunan musik secara lapat-lapat terselip irama mengusik, gerombolan ular itu segera bergerak, dengan membentuk satu kumpulan besar bersama-sama meluruk ke arah jago kita.

Bagaikan gulungan ombak di samudra yang saling susul menyusul, gerombolan ular itu sekelompok demi sekelompok tiada hentinya bergerak ke muka.

Oorchad yang selama ini membungkam tiba-tiba berkemak- kemik seperti membaca doa, kemudian sekali enjot badan ia sudah meloncat ke sisi Chee Thian Gak, katanya : "Marilah kita bersama-sama menerjang keluar dari barisan ular itu, kemudian bersama-sama lagi membinasakan setan cebol itu!"

"Terima kasih atas maksud baikmu," tolak Chee Thian Gak sambil geleng kepala, ia merogoh keluar sebatang senjata rahasia naga emas dan diletakkan di atas telapak. "Tetapi sayang aku tidak membutuhkan bantuanmu!..."

"Bukankah kita bersahabat? Kenapa aku tak boleh membantu dirimu?"

Melihat si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok sudah bangkit berdiri dan berjalan dengan sempoyongan mendekati arahnya, buru- buru jago muda she Chee ini berseru keras :

"Selamanya cayhe tidak jeri menghadapi pelbagai persoalan yang bagaimana berbahaya pun, dan selamanya pula aku tidak ingin mengajak orang ikut merasa murung karena masalahku..."

"Lalu dalam keadaan yang bagaimanakah seseorang yang kalian bangsa Han sebut sebagai sahabat baru boleh memberikan bantuannya? Apakah tidak pantas bagi seorang sahabat untuk memberikan bantuannya di kala sahabatnya sedang mengalami kesusahan?"

Chee Thian Gak melengak, hatinya terasa seakan-akan dipukul dengan martil besar, beberapa kali ia mengulangi kembali ucapan dari Oorchad itu dalam benaknya.

Ia merasa selama hidup bl pernah mempunyai sahabat, sungguh tak nyana pada saat seperti ini ia telah dianggap sebagai sahabat oleh seorang manusia yang semula dipandang musuhnya yaitu Oorchad.

"Benar, kau adalah sahabatku," akhirnya dia bergumam seorang diri. "Dalam keadaan apa pun sulit untuk mencari seorang sahabat yang benar-benar sejati kecuali sewaktu berada dalam kesusahan..."

Oorchad menjulurkan tangannya yang besar menepuk bahu Chee Thian Gak, lalu serunya lantang :

"Mulai sekarang antara kau dan aku tiada perbedaan lain, kau mati aku ikut mati, kau hidup akui kut hidup!" Dengan mulut membungkam Chee Thian Gak awasi perawakan tubuh Oorchad yang tinggi besar, timbul rasa terima kasih dalam hati kecilnya, dia pun balas menepuk bahu rekan barunya ini.

"Chee toako," terdengar Hong Teng si naga hitam dari gurun pasir berteriak keras, "Siauw-te pun bersedia mati h idup bersama dirimu!"

Ia sikut dada Loe Peng keras-keras sambil ajaknya : "Ayoh kita bergabung dengan diri Chee Toako sekalian!"

"Chee Toako!" gembor Loe Peng, "Tunggulah siauw te sejenak, aku pun hendak menemani dirimu melalui bencana ini secara bersama-sama!"

Demikianlah kedua orang itu segera menggerakkan tongkat bambu masing-masing menghajar rombongan ular yang mengepung di sekeliling mereka, akhirnya sebuah jalan berdarah berhasil dirintis dan mereka pun langsung bergabung dengan Chee Thian Gak.

Si Pendekar Jantan Berkapak Sakti merasakan darah panas bergelora dalam rongga dadanya, ia benar-benar dibuat sangat terharu oleh sikap sahabat-sahabatnya ini, dalam hati pikirnya :

"Sungguh tak kusangka pada hari ini di tempat semacam ini aku telah berjumpa dengan manusia-manusia berdarah panas seperti mereka, ditinjau dari kejadian ini aku merasa yakin bahwa aku masih punya harapan besar untuk mendobrak serta menghancurkan rencana besar Hoa Pek Tuo untuk merajai dunia persilatan..."

Berpikir demikian, dengan mata melotot gusar tiba-tiba dia ayunkan telapak kanannya ke depan, sekilas cahaya tajam yang dipancarkan oleh senjata rahasia naga emas segera meluncur keluar.

Mengikuti gerakan tubuhnya, secara beruntun kembali ada empat batang senjata rahasia naga emas meluncur ke depan secara serentak. Si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok miringkan badannya ke samping tatkala menjumpai bayangan cahaya yang meluncur ke arahnya dengan begitu dahsyat, hatinya terkesiap. Buru-buru dia kerahkan hawa murninya meloncat mundur enam depa ke belakang, nyaris sekali ia termakan oleh senjata rahasia naga emas yang mengancam wajahnya.

Chee Thian Gak selipkan kembali kapak kecilnya di sisi pinggang, kemudian sepasang telapaknya didorong ke muka secara berbareng sementara kakinya bergeser ke depan.

Gulungan angin puyuh dengan hebatnya menyapu seluruh permukaan bumi, dalam sekejap mata ular-ular yang berada di barisan depan tergulung oleh serangan tadi dan bertimbunan ke belakang.

Darah amis muncrat ke empat penjuru membasahi bumi, bangkai-bangkai ular yang hancur berantakan tertebar di mana- mana... pemandangan waktu itu benar-benar mengerikan sekali.

"Heng thay berdua tak usah takut dan bimbang," hardik Chee Thian Gak keras-keras. "Siauwte segera datang!"

Begitu badannya melayang ke atas bumi, dia lantas berdiri dengan posisi segi tiga bersama Hong Teng serta Loe Peng, dengan punggung menempel di atas punggung ia hadapi serangan-serangan ular yang ada di luar kalangan, di mana pada saat itu saling berdesakan menerjang datang.

Oorchad ayunkan tangan kanannya, di balik telapak tangannya yang besar terbawa sebutir Zamrud merah delima yang memancarkan cahaya tajam di tengah malam yang gelap itu.

Dengan langakah lebar dia maju ke depan mengikuti diri Chee Thian Gak, mengikuti bergesernya tubuh yang tinggi besar itu, barisan ular di sekelilingnya segera berdesakan menyingkir jauh-jauh dari situ.

Menyaksikan kejadian itu Chee Thian Gak tertegun, dalam hati segera pikirnya :

"Zamrud apakah itu? Sungguh luar biasa, ternyata mempunyai kekuatan untuk mengusir barisan ular..."

Belum habis dia berpikir, mendadak terdengar Hoa Pek Tuo berteriak lantang :

"Cepat jatuhkan diri bertiarap di atas tanah..." Sayang peringatan itu terlalu lambat datangnya, tahu-tahu tubuh si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok sudah termakan oleh senjata rahasia naga emas yang luar biasa itu.

Di tengah jeritan ngeri yang menyayatkan hati, badannya roboh ke dalam barisan ular kemudian menggeliat-geliat bagaikan binatang- binatang di sekelilingnya.

Sungguh kasihan jago lihay dari negeri Thian Tok ini, jauh-jauh ia datang ke daratan Tionggoan, sayang sebelum sempat melakukan sesuatu pekerjaan apa pun jiwanya sudah keburu melayang..."

Hoa Pek Tuo sendiri merasa mangkel bercampur sedih tatkala menyaksikan jago lihaynya yang dengan susah payah diundang dari negeri Thian Tok telah mati di ujung senjata rahasia naga emas ke- lima meskipun berhasil dari empat ancaman yang pertama, dalam hati pikirnya :

"Kurang ajar... sungguh sialan baru saja kehilangan seorang Pek In Hoei, kini muncul lagi seorang Chee Thian Gak..."

Tiba-tiba... di tengah kegelapan malam yang mencekam seluruh jagad, terdengar suara jeritan lengking yang mengerikan berkumandang datang dari kejauhan.

Mendengar suara jeritan itu Oorchad langsung kerutkan dahinya kencang-kencang.

"Maknya..." ia memaki kalang kabut, "siapa sih yang menjerit- jerit seperti kuntilanak di tengah malam buta macam begini..." ia buka mulutnya lebar-lebar lalu tertawa. "Zamrud merah delima ini adalah mustika yang berada di tangan malaikat kami, karena gelap aku telah menggunakannya sebagai penerangan... eeeei... tak tahunya ular-ular itu pada takut dengan mustikaku ini. Ooooh, kejadian ini benar-benar berkat perlindungan dari malaikat kami."

Dengan penuh gembira dia angsurkan mustika tadi ke hadapan Chee Thian Gak lalu serunya :

"Nih, kuhadiahkan zamrud tersebut kepadamu, anggap saja sebagai tanda mata atas persaudaraan kita..." "Eeeh... eeeeh... mana boleh..." tampik jago kita dengan cepat.

Sebelum dia sempat menyelesaikan kata-katanya, mendadak dari balik kegelapan ia jumpai munculnya seorang gadis bergaun panjang dan berambut panjang terurai hingga ke pundak dengan perlahan- lahan bergerak mendekat.

"Sok Peng..." Dengan hati gemetar ia berbisik... "kenapa ia bisa berjalan hilir mudik di tengah barisan ular tanpa cedera?"

Tapi sewaktu ia teringat kembali bahwa Hee Siok Peng adalah putri kesayangan dari ketua perguruan seratus racun yang bermarkas di Propinsi In lam, rasa tercengangnya pun segera lenyap tak berbekas.

Perlahan-lahan Hee Siok Peng berjalan mendekat, wajahnya yang putih bersih bagaikan batu pualam terhias kemurungan yang luar biasa, di balik biji matanya seakan-akan terlapis oleh kabut...

Tapi ketika dijumpainya Chee Thian Gak berdiri gagah di bawah sinar rembulan, bagaikan seekor burung walet ia segera melayang ke depan menghampiri si anak muda itu.

"In Hoei, apakah kau telah sembuh?" teriaknya dengan wajah gembira.

"Apa? Kau adalah Pek In Hoei?" Mie Liok Nio pun ikut berteriak keras.

Sinar mata Chee Thian Gak perlahan-lahan menyapu sekejap ke arah Ciak Kak Sin Mo serta Hoa Pek Tuo, kemudian bantahnya :

"Cayhe sama sekali bukan Pek In Hoei!"

"Pek In Hoei," jengek Hoa Pek Tuo sambil tertawa dingin, "setelah kau menderita kalah di tanganku, sungguh tak nyana pada saat ini nama aslimu pun kau tak berani menggunakan lagi..."

"Tutup mulut anjingmu!" bentak Chee Thian Gak gusar. "Cayhe bukan Pek In Hoei, aku adalah si Pendekar Jantan Berkapak Sakti dari gurun pasir..."

"Hmmm!" Hoa Pek Tuo mendesis penuh kehinaan. "Sungguh tak nyana Pek In Hoei yang selama ini selalu kuanggap sebagai seorang lelaki jantan, seorang lelaki sejati ternyata sudah berubah jadi anak jadah yang tidak berani mengakui kakek moyangnya sendiri. Hmmm, sungguh terlalu hina... sungguh memuakkan... hanya manusia pengecutlah yang tidak berani menggunakan nama sendiri."

Ctg meraung gusar, dia cabut keluar kapak saktinya kemudian berteriak :

"Hoa Pek Tuo! Apakah kau sudah pengin mencoba ketajaman dari senjata kapakku??"

Dalam pada itu Hee Siok Peng telah mundur beberapa langkah ke belakang dengan hati terperanjat, rupanya ia dibikin kaget oleh sikap Chee Thian Gak yang keren dan penuh kewibawaan itu, pikirnya di dalam hati :

"Dahulu tingkah laku In Hoei sangat halus dan peramah, kenapa sekarang jadi... jadi begitu kasar..."

Dengan suara gemetar segera serunya :

"In Hoei..."

Chee Thian Gak memutar biji matanya, dalam hati si anak muda itu pengin memaki beberapa patah kata yang pedas terhadap gadis itu, tapi tatkala menjumpai sikapnya yang halus dan patut dikasihani itu, hatinya jadi lemas, sambil menahan amarah serunya :

"Nona Heee, cayhe sama sekali bukan Pek In Hoei yang kau maksudkan..."

"In Hoei, kenapa kau harus berbuat demikian??" seru Hee Siok Peng tertegun. "Si ular asap tua telah berkata kepadaku..."

"Lebih baik nona tak usah membohongi diri cayhe," tukas Chee Thian Gak dengan cepat. "Ouw-yang Gong hanya kenal diriku sebagai Chee Thian Gak yang bergelar si Pendekar Jantan Berkapak Sakti dari gurun pasir... nona pasti keliru..."

Hampir saja Hee Siok Peng menangis terisak saking sedihnya tapi dia tetap menggertak gigi menahan golakan perasaan hatinya itu. "Pek In Hoei, sekalipun kau telah hancur jadi debu aku pun tetap

mengenali dirimu." "Cayhe memang kenal dengan diri Pek In Hoei, tetapi kalau ilmu silatnya dibandingkan dengan kepandaianku... oooh hoo... dia masih terpaut jauh sekali mana boleh kau mengambil hal ini sebagai perbandingan??"

Sambil menjura segera tambahnya :

"Cayhe mengucapkan banyak terima kasih atas budi pertolongan nona yang mana telah menyelamatkan diriku..."

Mie Liok Nio yang menyaksikan keadaan tersebut tak bisa menahan diri lagi, sambil meloncat ke depan teriaknya :

"Pek In Hoei, hatimu benar-benar keji!"

"Liok Nio, tunggulah sebentar..." panggil Kong Yo Leng sambil menarik ujung bajunya.

"Mau apa?"

Dengan termangu-mangu Kong Yo Leng memperhatikan diri Hee Siok Peng yang sedang menangis terisik, bibirnya bergumam entah apa yang diucapkan, ada kalanya ia kerutkan dahi ada kalanya pula tundukkan kepala termenung, seakan-akan sedang memikirkan satu persoalan yang sangat aneh.

"Hey setan tua," maki Mie Liok Nio, "sebenarnya kau sedang main setan apa?"

"Dia... dia mirip sekali dengan seseorang..."

Sambil berteriak keras, si Iblis Sakti Bertelanjang Kaki ini segera menarik tangan istrinya dan kabur dari situ.

Hoa Pek Tuo tertegun, belum sempat ia mengucapkan sesuatu, bayangan kedua orang iblis sakti itu sudah lenyap dari pandangan.

Ia berpikir sejenak, akhirnya kepada Chee Thian Gak ia berkata : "Dalam tiga hari mendatang loohu akan menantikan kedatanganmu dalam perkampungan Thay Bie San cung, akuharap

kau bisa datang pada saatnya!"

"Ehmmm, aku pasti akan muncul dalam perkampungan kalian." Hoa Pek Tuo tertawa getir, kepada Kioe Boan Toh si Dukun Sakti

Berwajah Seram yang selama ini selalu diam mengawasi, ujarnya : "Kong-yo heng mungkin masih ada urusan lain, daripada kita berada disini silahkan Dukun sakti beristirahat selama beberapa hari di dalam perkampungan kami..."

Kioe Boan Toh si Dukun Sakti Berwajah Seram tertawa terkekeh-kekeh, lambat-lambat ia berjalan menghampiri Chee Thian Gak lalu katanya :

"Bocah muda, kau adalah lelaki paling keji yang pernah kujumpai selama ini."

Chee Thian Gak tertegun, sebelum ia sempat berbuat sesuatu terlihatlah di atas wajah Kioe Boan Toh si dukun sakti itu terlintas selapis cahaya emas yang amat tipis, sesosok bayangan merah berkelebat di antara dahinya kemudian dengan wajah menyeramkan ia berkata kembali :

"Aku si nenek tua paling benci terhadap kaum lelaki yang berhati kejam dan tidak kenal budi. Hmmm! Kau sudah terkena racun ulat sutera emasku, di dalam tiga hari jiwamu pasti melayang!"

Habis berkata sambil tertawa aneh dia ketukkan tongkatnya ke atas tanah, kemudian mengikuti di sisi tubuh Hoa Pek Tuo segera berlalu dari situ.

Malam semakin kelam... angin dingin berhembus kencang... di kala fajar hampir menyingsing, langit terasa semakin gelap sehingga sukar melihat ke-lima jari tangan sendiri.

Beberapa biji bintang masih berkelip-kelip lemah di sudut jagad, sementara rembulan bersembunyi di balik awan...

Chee Thian Gak sambil mencekal kapak saktinya memandang ke arah Loe Peng dengan sorot mata tajam, lama sekali dia baru berkata

:

"Antara manusia dengan manusia seringkali terjadi pelbagai macam kesalahpahaman, seperti pula kesalahpahaman antara gurumu dengan Hwie Kak Loo Nie pada masa yang silam. Seandainya kau merasa salah paham ini hanya satu persoalan kecil dan bisa diselesaikan secara baik-baik, aku berharap kau suka memandang di atas wajahku menyelesaikan persoalan ini sampai disini saja."

Loe Peng tidak menjawab, sebaliknya dia lantas mengisahkan bagaimanakah pada masa yang silam secara kebetulan sekali gurunya berhasil menemukan kitab Ie Cin Keng yang sudah lama lenyap dari partai Sauw-lim serta sebutir Si Lek-cu milik Tong Sam Cong dalam sebuah gua batu...

Mendengar kisah tersebut Chee Thian Gak berseru tertahan, ia tidak menyangka kalau di balik persoalan itu masih ada liku-likunya, jelas persoalan ini tidak segampang apa yang dikatakan Hwie Kak Loo Nie kepadanya, sepasang alisnya kontan berkerut, ia mengerti persoalan ini menyangkut urusan pribadi antara partai Sauw lim dengan partai Go-bie, sedikit saja salah bertindak bisa mengakibatkan yang fatal...

Hong Teng si Naga hitam dari gurun pasir yang sedang bersandar di sisi batu, pada saat ini dengan nada tertegun menimbrung dari samping :

"Hey hweesio gadungan, apa sih yang disebut Si Lek Cu itu?

Apakah kau bisa terangkan kepadaku?"

"Orang liar, lebih baik jangan banyak cingcong, hati-hati dengan toya bajaku!"

"Keledai botak, kau tak usah sombong seperti itu, bayangkan saja pertarungan kita tadi... Hmmm! Apakah kau kurang terima dan sekarang ingin adu tenaga lagi?"

Ia merandek sejenak, lalu dengan mata melotot makinya lagi : "Hmmm, makanya... kau anggap manusia macam apa sih dirimu

itu? Sombong sekali!"

Loe Peng jadi naik pitam setelah hatinya dipanasi terus, toyanya langsung disapu ke depan sambil memaki :

"Manusia liar jangan pergi dahulu, rasakanlah sebuah kemplangan toyaku!" Hong Teng tak mau unjukkan kelemahan dia pun angkat senjata patung tembaganya untuk menyongsong datangnya serangan itu.

"Hmmm, kau anggap aku jeri kepadamu?"

Chee Thian Gak yang melihat kedua orang itu kembali saling bergebrak karena beberapa patah kata saja, ia jadi naik pitam, bentaknya :

"Hey,kalian mau apa?"

Traaaang....! di tengah bentrokan keras dua macam senjata itu telah saling beradu satu sama lainnya, kedua belah pihak sama-sama mundur ke belakang untuk kemudian saling menubruk kembali lagi ke depan...

Maka satu pertarungan sengit pun kembali berlangsung di sana.

Lama-kelamaan Chee Thian Gak merasa tidak sabar menyaksikan tingkah laku mereka, badannya segera berkelebat ke depan, di tengah meluncurnya bayangan kapak tahu-tahu ia sudah tangkis senjata kedua orang itu dengan telak.

Traaang... traaang... kembali terdengar suara bentrokan yang memekakkan telinga, Hong Teng sambil mendengus berat mundur empat langkah ke belakang dengan sempoyongan, senjatanya yang terhajar oleh kapak Chee Thian Gak terasa jadi berat hingga membuat tangannya jadi panas, linu dan kaku.

Chee Thian Gak tidak berhenti sampai di sana saja, kapaknya kembali berputar menghajar toya Loe Peng sehingga membuat jago ini pun terdesak mundur beberapa langkah ke belakang dengan sempoyongan.

Beberapa saat lamanya Loe Peng berdiri termangu-mangu, kemudian dengan gusar teriaknya :

"Apa maksudmu berbuat begini?"

"Dan kau sendiri mau apa?" balas Chee Thian Gak dengan sorot mata yang menggidikkan hati.

Meskipun Loe Peng adalah seorang manusia tolol, namun ia tidak goblok sekali, dengan mata kepala sendiri ia sudah menyaksikan betapa hebatnya kepandaian serta kekuatan yang dimiliki Chee Thian Gak, di mana setelah membinasakan sembilan ekor unta, membanting mati lima ekor gajah, mengalahkan Oorchad kemudian membinasakan pula si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok.

Kena dibentak oleh sikap lawan yang gagah, keberaniannya seketika menjadi lumer, sahutnya dengan suara terpatah-patah :

"Aku... aku sedang mengatakan kepadanya, kenapa ia... ia banyak mulut..."

"Aku toh cuma menanyakan apa yang dinamakan Si Lek Cu..." cepat-cepat Hong Teng berseru.

"Hmmm, dapatkah kau tutup sedikit mulutmu?" tegur Chee Thian Gak.

Hong Teng membungkam, sambil meraba cambang yang memenuhi di atas wajahnya, sesaat kemudian gerutunya :

"Maknya... kalau hweesio gadungan ini berani membangkang lagi, malam ini juga aku akan ajak dia beradu jiwa."

Chee Thian Gak tidak menggubris orang itu lagi, dengan alis berkerut ia menoleh kembali ke arah Loe Peng dan bertanya :

"Jikalau Si Lek cu itu benar-benar didapatkan gurumu bagaimana mungkin bisa terjatuh pula ke tangan Cie In?..."

Ia melirik sekejap ke arah Hwie Kak Loo Nie yang selama ini duduk bersila terus di ujung tembok, sementara soal kitab Ie Cin Keng sama sekali tidak diungkapnya.

Loe Peng tarik napas dalam-dalam, sahutnya :

"Walaupun guruku adalah anak murid partai Sauw lim, tetapi yang jelas beliau adalah seorang hong tiang dari kuil Poo Son Sie yang ada di Propinsi Su Cuan bagian utara, sejak dia memperoleh Si Lek cu di Toan Hong guruku segera kembali ke kuilnya..."

Ia merandek sejenak untuk melirik sekejap ke arah Hwie Kak Loo Nie kemudian lanjutnya :

"Di kala dia orang tua hampir memasuki propinsi Su Cuan itulah di tengah jalan beliau telah berjumpa dengan Ci Im serta Hwie Kak yang melakukan perjalanan bersama-sama, walaupun mereka memakai jubah pendeta namun baik melakukan perjalanan maupun menginap selalu berada jadi satu, keadaan mereka tidak lebih bagaikan sepasang suami istri..."

"Kau bohong!" jerit Hee Siok Peng. "Hwie Kak Taysu tidak nanti melakukan perbuatan semacam itu..."

"Siapa bilang aku bohong?" bantah Loe Peng sambil melotot gusar. "Kalau kau tidak percaya, tanya saja kepada Hwie Kak!"

Hwie Kak Loo Nie yang sedang bersemedi di ujung tembok sebelah sana, tiba-tiba membuka mata lalu mengganggu.

"Omihtohud! Apa yang dikatakan Loe sicu sedikit pun tidak salah."

"Aaaah sepasang mata Hee Siok Peng terbelalak lebar, dengan pandangan tercengang ia menatap wajah Hwie Kak Loo Nie, hampir saja ia tidak percaya bahwa ucapan itu diutarakan oleh nikouw tua tersebut.

Chee Thian Gak sendiri walaupun merasa bahwa jawaban dari Hwie Kak Loo Nie agak menusuk pendengaran, tapi dia yakin bahwa di balik peristiwa itu pasti masih ada ada latar belakangnya yang aneh, maka serunya kemudian :

"Lanjutkanlah perkataanmu!"

Loe Peng melirik sekejap ke arah Hee Siok Peng lalu melanjutkan

:

"Menjumpai kejadian seperti itu, guruku jadi gusar bercampur

mendongkol, beliau tidak menyangka kalau dalam kalangan agama Buddha telah dicemarkan namanya oleh perbuatan mesum kedua orang itu, maka malam itu juga sambil membawa senjata andalannya, guruku secara diam-diam menyusup ke dalam rumah penginapan di mana mereka berada, hasil dari penyelidikan itu membuktikan bahwa mereka berdua ternyata tidur dalam sepembaringan..."

Hong Teng yang ikut mendengarkan kisah itu, sekarang tak bisa menahan diri lagi, dengan mata terbelalak mulut melongo tukasnya : "Bukankah mereka sudah jadi pendeta! Kenapa berani benar tidur dalam sepembaringan? Bukankah hal ini..."

Ia merandek dan berpaling ke arah Hwie Kak Nikouw yang duduk bersila di ujung tembok, sinar matanya diliputi tanda tanya :

"Pada waktu itu usia pinnie masih muda," terdengar Hwie Kak Loo Nie menjawab. "Lagi pula aku bersama Ci Im suheng sedang menyaru sebagai suami istri, sudah tentu kami boleh menginap dalam sekamar dan tidur di atas sepembaringan." Jawaban gamblang dan terus terang membuat semua orang jadi tertegun, lebih-lebih Hee Siok Peng. Dia rasakan dadanya seperti dihantam dengan martil besar, membuat napasnya jadi sesak, sekujur badannya gemetar keras... setelah menjerit kaget, ia putar badan dan lari masuk ke dalam kuil.

"Siok Peng, kembali! hardik Hwie Kak Nikouw dengan suara keren.

Dengan kaget Hee Siok Peng berpaling lalu menatap wajah nikouw itu dengan pandangan tertegun.

Sinar matanya penuh diliputi perasaan memandang rendah, membuat Hwie Kak Nikouw yang melihatnya jadi sakit hati dan sedih, namun dengan suara berat ujarnya lagi :

"Siok Peng, kalau kau ingin berlalu dari sini, dengarkanlah dahulu penjelasanku hingga duduknya persoalan jadi terang, kalau tidak kau bukan keponakan muridku lagi dan bukan murid dari Ko In lagi!"

Hee Siok Peng ragu-ragu sejenak, akhirnya dengan perlahan- lahan ia putar badan dan jalan kembali ke tengah kalangan.

"Nona Hee, pergilah setelah selesai mendengarkan rahasia ini," ujar Chee Thian Gak pula.

Begitulah dengan nada gusar Loe Peng segera melanjutkan kembali kata-katanya :

"Guruku makin bertambah gusar ketika tiba di dalam kamar itu dan menyaksikan kedua orang pendeta Buddha itu dengan kepala gundul, badan telanjang sedang tidur bersama di atas pembaringan seakan-akan baru saja melakukan perbuatan mesum yang memalukan itu, maka dalam gusarnya beliau telah menerjang masuk ke dalam ruangan dan meloncat naik ke atas pembaringan itu..."

Ia ketukkan toyanya keras-keras ke atas tanah, lalu bentaknya : "Siapa sangka sepasang suami istri yang tak tahu malu ini telah

memasang alat rahasia di sisi pembaringan mereka, karena kurang hati-hati guruku segera terjebak ke dalam perangkap mereka, sementara Si Lek cu serta kitab Ie Cin Keng pun segera terjatuh ke tangan kedua orang manusia laknat itu."

Dengan gusarnya ia menatap Hwie Kak Nikouw, tiba-tiba ia membentak keras, toyanya langsung dikemplangkan ke atas kepala rahib perempuan itu.

Chee Thian Gak membentak keras, laksana kilat kapaknya disilangkan di hadapan Loe Peng, teriaknya :

"Loe Heng... jangan semberono!"

Traaaang...! kemplangan toya dari Loe Peng tertangkis oleh babatan kapak Chee Thian Gak sehingga terpapas sebagian, seluruh toya itu mencelat tiga depa ke angkasa menggetarkan tubuh orang she Loe itu sehingga tak sanggup mempertahankan diri, badannya mundur lima langkah ke belakang dan menumbuk di atas sebuah tiang batu yang besar.

Dengan gusar ia membentak, toyanya diputar kembali melancarkan satu serangan.

Kraaaak... tiang batu itu patah jadi dua, atap di atas wuwungan rumah pada rontok ke bawah, di tengah bergemanya gemuruh keras pasir dan debut beterbangan di mana-mana...

Laksan kilat Hong Teng si naga Hitam dari gurun pasir meloncat ke depan, pedangnya ditancapkan ke atas tanah lalu sepasang lengannya diayun memeluk tiang batu tadi, kemudian diangkatnya mentah-mentah dan ditumpangkan di atas tiang batu bagian bawah yang patah. Seluruh tubuh Loe Peng kotor oleh debut, ia berdiri termangu- mangu di tempat semula tanpa mengucapkan sepatah kata pun, rupanya ia tidak sadar apa yang telah ia lakukan barusan.

Chee Thian Gak yang menyaksikan Hee Siok Peng ketakutan setengah mati berdiri kaku di sisi kalangan, timbul suatu perasaan aneh dalam hatinya, tanpa sadar ia berseru dengan suara lembut :

"Siok Peng, kau tak usah takut!"

Hee Siok Peng membelalakkan sepasang matanya yang bulat besar, lama sekali ia memandang ke arah diri Chee Thian Gak tanpa berkedip, pemandangan indah ketika ia masih berada bersama Pek In Hoei pun terbayang kembali dalam benaknya.

Untuk sesaat ia jadi lupa dengan keadaan di sekelilingnya, sambil meloncat ke dalam pelukan Chee Thian Gak bagaikan seekor burung walet, serunya manja :

"In Hoei!"

Seluruh tubuh Chee Thian Gak gemetar keras, hampir saja ia tak kuat menahan diri dan balas memeluk gadis itu kencang-kencang, tapi kejernihan otaknya dengan cepat memadamkan kobaran api cinta yang timbul dari dasar hatinya.

Dengan cepat wajah berubah jadi kaku dan dingin, ia dorong tubuh Hee Siok Peng dari dalam pelukan lalu berseru dengan nada ketus :

"Sudah berulang kali cayhe terangkan kepadamu bahwa aku bernama Chee Thian Gak, mengapa nona selalu menaruh salah paham terhadap diriku?..."

Mimpi pun Hee Siok Peng tidak menyangka kalau sikap pin begitu ketus dan dingin, dorongan yang amat perlahan itu dirasakan bagaikan guntur yang membelah bumi di siang bolong, membuat wajahnya berubah hebat dan sekujur badannya gemetar keras.

Lama sekali ditatapnya wajah Chee Thian Gak tanpa berkedip, bibirnya gemetar keras... lama sekali beberapa patah kata baru sanggup dipaksakan keluar : "Pek In Hoei, kau benar-benar kejam..."

Dalam hati Chee Thian Gak merasa sedih bercampur perih, namun air mukanya tetap dingin dan ketus, ujarnya adem :

"Nona Hee, kembali kau salah paham, cayhe bukanlah Pek In Hoei seperti yang kau maksudkan, aku adalah si Pendekar Jantan Berkapak Sakti Chee Thian Gak..." dia tarik napas dalam-dalam, dengan perasaan yang datar dan tenang lanjutnya kembali, "pin adalah seorang pemuda yang berwajah tampan, berbudi bahasa halus dan bertingkah laku lemah lembut, sebaliknya cayhe kasar, jelek dan tidak tahu sopan santun, nona benar-benar sudah salah melihat orang."

Air mata bercucuran membasahi seluruh wajahnya yang pucat pias bagaikan mayat, namun dara itu tetap berkata lagi dengan suara gemetar :

"Pek In Hoei, kau tak usah mengelabui diriku, meskipun kau sudah hancur lebur jadi tanah, aku tetap akan mengenali dirimu..."

Darah panas bergelora dalam dada Chee Thian Gak, sekali lagi perasaan halusnya terpukul oleh sikap Hee Siok Peng yang patut dikasihani itu, hampir-hampir saja ia mengaku bahwa dirinya adalah Pek In Hoei, tetapi begitu teringat akan perbuatan ayahnya sang ketua dari Perguruan Selaksa Racun Hee Giong Lam yang pernah meracuni seluruh anak murid partai Thiam Cong, kembali hatinya membeku. Akhirnya sambil menggertak gigi ujarnya :

"Cayhe Chee Thian Gak adalah seorang lelaki jantan, lelaki sejati yang tak sudi menyembunyikan nama sendiri, apalagi menyaru sebagai nama orang lain? Terus terang sudah kukatakan kepada nona bahwa aku tidak sudi meminjam nama Pek In Hoei untuk memperoleh kasih sayang dari nona, cayhe harap nona bisa..."

Belum habis dia berkata, teriakan memuji dari Hong Teng sudah berkumandang di angkasa, tampak lelaki itu sambil acungkan jempolnya berseru : "Bagus... ucapan seorang lelaki sejati memang harus bisa diutarakan dan bisa dilaksanakan. Chee Thian Gak! mulai detik ini aku si Loo toa adalah sahabatmu!"

Loe Peng melirik sekejap ke arah diri Hong Teng, kemudian sambil menepuk pantat sendiri serunya pula :

"aku pun rela mengikat tali persahabatan dengan dirimu, berilah kesempatan bagi kita bertiga untuk bersahabat sepanjang masa dan mendobrak semua kejadian yang tidak adil di dunia."

Perkataan itu tepat mengenai lubuk hati Hong Teng, maka kembali dia menggembor :

"Mari kita bertiga segera angkat sumpah menjadi saudara sehidup semati!"

"Baik, setelah persoalan disini selesai, aku orang she Chee pasti akan mengajak kalian berdua untuk menjelajahi seluruh sudut dunia..."

Hee Siok Peng merasakan hatinya jadi sakit, kepalanya pusing tujuh keliling dan tak sanggup memikirkan apa-apa lagi, pandangannya jadi gelap dan seketika ia roboh tak sadarkan diri.

Dengan sebat Hwie Kak Nikouw memayangi tubuhnya, sambil memandang ke arah Chee Thian Gak serunya :

"Chee sicu, benarkah kau bukan Pek In Hoei?"

"Meskipun cayhe kenal dengan diri Pek In Hoei namun aku tidak berani mengaku-aku sebagai si Pendekar Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei."

"Omihtohud, hati sicu benar-benar keras bagaikan baja, cukup dikatakan sejajar dengan tabiat Pek In Hoei. Aaaai... Pendekar Pedang Berdarah Dingin... pendekar pedang yang tak kenal cinta... kalian semua tak tahu apa artinya cinta dan sampai dimanakah berharganya cinta..."

"Hey nikouw tua apa yang kau gerutukan?" tegur Loe Peng dengan suara kasar. Hwie Kak Nikouw tidak menggubris bentakan orang, sambil tundukkan kepala ia berseru memuji keagungan sang Buddha.

"Omihtohud, sejak dahulu hanya cintalah yang banyak meninggalkan penderitaan, tapi mengapa kau tidak mau kenal apa artinya cinta? Aaaai... setiap kali gadis yang romantis mencintai seorang lelaki, kesulitan dan penderitaan pun mulai berdatangan..."

Dengan penuh kasih sayang ia peluk tubuh Hee Siok Peng kemudian kembali ke sudut tembok dan duduk bersila di situ.

"Maknya..." maki Hong Teng dengan gusar. "Setiap kali kujumpai lagak tengik nikouw tua itu hatiku jadi benci, kurang ajar... ia berani mengomeli kita orang lelaki!"

"Hwie Kak," gembor Loe Peng sambil menjemput toyanya. "Rupanya kau pengin dikemplang lagi??"

"Loe heng, harap jangan menuruti nafsu..."

"Hmm! guruku dijebak ke dalam sebuah ruang batu yang berukuran empat depa persegi oleh dia serta Ci Im sehingga harus menderita karena dipagut berpuluh-puluh ekor ular beracun, bukan saja badannya penuh dengan luka sehingga keadaannya tidak mirip manusia lagi, badan pun keracunan hebat, apakah dendam kesumat ini tak boleh kutuntut balas?"

Chee Thian Gak yang mendengar perkataan itu diam-diam merinding, bulu kuduknya pada bangun berdiri pikirnya :

"Kalau aku jadi dia, sedari tadi tubuh Hwie Kak sudah kubacok jadi dua bagian, apa gunanya mengucapkan kata-kata yang bertumpuk-tumpuk??"

Tampak Hwie Kak Nikouw tertawa sedih dan berkata :

Seandainya gurumu benar-benar dipagut oleh berpuluh-puluh ekor ular beracun, niscaya dia sudah mati pada saat itu juga, secara bagaimana ia bisa hidup lebih lanjut sehingga bisa wariskan ilmu silatnya kepadamu?"

Mula-mula Loe Peng melengak, kemudian dengan gusar teriaknya : "Setelah dia orang tua berhasil meloloskan diri dari cengkeraman kalian, racun itu segera diobatinya hingga sembuh, sudah tentu guruku tidak sampai mati keracunan."

Hwie Kak Nikouw tertawa getir.

"Pada waktu itu gurumu tidak sampai mati bukan lain karena pinnie lah yang sudah memberi tambahan darah kepadanya dan memberi pula obat anti racun kepadanya..."

"Kentut busuk, sesaat sebelum guruku menghembuskan napas yang terakhir ia telah berpesan kepadaku untuk menuntut balas dendam kesumat ini, beliau sama sekali tidak mengatakan bahwa lukanya disembuhkan oleh kalian berdua..." sambil menuding rambut yang panjang di atas kepalanya ia berkata kembali, "tahukah kau apa sebabnya aku tidak mencukur rambutku jadi hweesio? Karena guruku sakit hati, dia merasa anak murid kaum Buddha pun bisa melakukan perbuatan yang demikian memalukan, apa gunanya seseorang harus cukur rambutnya hingga gundul? Maka aku pun tak usah memikirkan segala persoalan yang memusingkan kepala."

Dalam pada itu secara diam-diam, Chee Thian Gak memperhatikan terus perubahan wajah dari Hwie Kak Nikouw, dia lihat sepasang pipi paderi itu berkerut kencang, maka suatu ketika ujarnya :

"Hwie Kak Suthay, seandainya apa yang diucapkan Liok Hong adalah kenyataan, maka..."

"Maka senjata patung tembagaku akan mengobrak-abrik kuil ini rata dengan tanah," sambung Hong Teng sambil meraung keras.

Hwie Kak Nikouw mengerutkan dahinya, sinar tajam memancar keluar dari kelopak matanya, tapi hanya sesaat ia telah tundukkan kepalanya kembali.

"Omihtohud! Chee sicu, aku harap kau suka mendengarkan penuturan dari pin-nie terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan untuk menghancur lumatkan kuil ini jadi tanah." "Ehmm baiklah!" Chee Thian Gak mengangguk setelah termenung sejenak, kepada kedua orang saudaranya ia berseru :

"Heng-thay berdua harap jangan marah lebih dahulu, mari kita dengarkan kisah yang dialami Loo suthay sebelum mengambil keputusan."

Hwie Kak Nikouw tarik napas dalam-dalam, setelah termenung sebentar ujarnya :

"Peristiwa ini sudah lewat delapan belas tahun lamanya, semula aku tidak ingin mengungkapnya kembali dan akan kuanggap sebagai suatu impian buruk, kenangan itu mengikuti bergesernya hari lama kelamaan akan lenyap dengan sendirinya, siapa tahu Thian tidak menghendaki demikian, delapan belas tahun kemudian Pin-nie terpaksa harus mengungkap kembali kejadian itu..."

Dengan sorot mata penuh kasih sayang ia alihkan pandangannya ke atas wajah Hee Siok Peng, sambungnya lebih jauh :

"Peristiwa ini terjadi pada delapan belas tahun berselang, ketika itu aku berusia dua puluh lima tahun, tapi aku sudah diterima sebagai murid oleh Ie Chin suthay dan mencukur rambut jadi nikouw..."

Chee Thian Gak tertegun, mimpi pun ia tidak menyangka Hwie Kak Loo Nie yang wajahnya telah penuh berkeriputan sebenarnya baru berusia empat puluh tahunan.

Hwie Kak Nikouw tertawa getir.

"Mungkin sicu tidak percaya bukan kalau pin-nie baru berusia empat puluh tahunan? aaaai...! kalau perasaan hati menggerogoti perasaan, dan siksaan itu tak dapat dihilangkan, wajahku kenapa tak bisa berubah jadi tua?"

Chee Thian Gak sekalian membungkam dalam seribu bahasa, masing-masing tercekam dalam perasaan hati masing-masing.

Memandang kerlipan cahaya bintang nun jauh di awang-awang, Hwie Kak Nikouw melanjutkan kembali kata-katanya :

"Karena wajahku pada saat itu terhitung cantik dan ilmu silatku baik juga, maka baru saja aku terjun ke dalam dunia persilatan, orang- orang telah memberi gelar Giok Kwan Im, atau si Kwan Im pualam kepadaku. Suatu hari susiokku pulang ke gunung Go bie dari kota Keng Chiu dalam propinsi Kan Siok, ia banyak bercerita tentang keindahan alam di kota Keng chiu dan mengatakan pula bahwa suheng kami Ci Hoei berdiam di kuil Thian-an Si dalam kota Keng Chiu, maka Pin-nie pun lantas mengajak suhengku Ci Im untuk berangkat berpesiar..."

Ia merandek sejenak, kemudian sambil tertawa getir lanjutnya : "Meskipun waktu itu usiaku sudah mencapai dua puluh lima

tahun, tapi watakku masih kekanak-kanakan, sedikit pun tiada tingkah laku seorang nikouw, maka dari itu sepanjang jalan kami selalu bergurau hingga sepanjang jalan tidak merasa kesepian. Suatu hari baru saja kami melangkah masuk ke dalam propinsi Kan Siok, kami telah berjumpa dengan seorang lelaki tinggi besar berkepala gundul dan berkaki telanjang..."

"Seorang lelaki gundul berkaki telanjang?" pikir Chee Thian Gak dengan hati tercengang. "Jangan-jangan orang itu adalah..."

"Karena rasa tertarik dan ingin tahu, ketika itu aku sudah memandang orang itu beberapa kejap," Hwie Kak melanjutkan, "Siapa sangka justru karena perbuatanku itulah bencana telah menimpa diriku, malam harinya dia telah mengejar kami ke dalam kota Keng Chin..."

Ia tertawa getir, wajahnya berkerut kencang, sambungnya lebih jauh:

"Malam itu ia telah menyerbu ke dalam kuil Thian An Sie, ke- enam puluh dua orang hweesio yang ada di sana telah dibunuh semua hingga musnah tak berbekas, hanya tinggal Pinnie serta Ci Im suheng saja yang masih hidup..."

"Oooh, siapakah orang itu?" tanya Loe Peng tercengang. "Kenapa begitu ganas dan sadis perbuatannya?"

"Dia bukan lain adalah iblis nomor satu di kolong langit dewasa ini, si Iblis Sakti Berkaki Telanjang Kong Yo Leng!" "Dugaanku ternyata tepat sekali," batin Chee Thian Gak dengan alis berkerut. "Orang itu bukan lain adalah Ciak Kak Sin Mo!"

Hong Teng pun merasa terkesiap serunya :

"Oooh, ternyata orang itu adalah Kong Yo Leng ketua perguruan Lauw sah Boen di samudra Seng Sut Hay, tidak aneh kalau dalam semalaman suntuk ia sanggup membinasakan enam puluh dua orang hweesio..."

Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia segera menegur :

"Hey Nikouw tua, apa sebabnya Kong Yo Leng tidak membinasakan kalian berdua? Apakah kalian..."

"Omihtohud, maafkanlah bila tecu harus membongkar kembali rahasia ini!" bisik Hwie Kak Nikouw sambil mendongak ke atas langit.

Loe Peng mendengus dingin.

"Maknya, banyak amat permainan kembangmu!" serunya.

Hwie Kak Nikouw melirik sekejap ke arahnya, lalu sambil menggertak gigi katanya lagi :

"Karena tujuan dari Kong Yo Leng bukan lain ingin memperkosa diri Pin-nie..." ia menghembuskan napas panjang. "Tapi Pin-nie tolak permintaannya itu maka ia lantas mengancam akan membinasakan seluruh padri yang ada di dalam kuil tersebut, maksudnya untuk menggertak Pin-nie agar mau menuruti napsu kebinatangannya tetapi Pin-nie bersikeras tetap menampik maka dalam keadaan gusar ia telah bunuh semua padri suci itu dan kemudian pergi dengan penuh kegusaran."

"Hey, nikouw tua, apa sangkut pautnya persoalan ini dengan kematian dari guruku?"