Imam Tanpa Bayangan I Jilid 05

 
Jilid 05

SINAR matanya beralih ke atas tumpukan bangkai sembilan ekor unta yang bertumpuk bagaikan sebuah bukit di atas tanah, lalu katanya lagi

:

"Sin koen! Bukankah kau datang dengan naik unta?? Kenapa unta-untamu itu..."

"Ke-sembilan ekor unta ini telah dihajar mati semua oleh si Pendekar Jantan Berkapak Sakti Chee Thian Gak," tukas Oorchad dengan cepat lalu acungkan jempolnya ia memuji. "Dia benar-benar manusia yang berkekuatan paling sakti di kolong langit dewasa ini, sayang kalian tidak cepat-cepat datang kemari, kalau tidak kamu semua bisa saksikan betapa hebatnya tenaga sakti yang dia miliki setelah membunuh sembilan ekor unta, dia pun membanting mati lima ekor gajah..."

"Ooooh! diam-diam Kong Yo Leng merasa terperanjat. "Sungguh tak nyana Chee heng yang berusia sangat muda itu ternyata memiliki tenaga sakti yang maha dahsyat, rasanya meskipun Raja brutal Coe Pa Ong hidup kembali pun belum tentu bisa menandingi dirinya."

Chee Thian Gak tertawa dingin.

"Terima kasih atas pujian serta sanjungan dari Loo siang seng, tetapi sayang sekali cayhe dengan Hoa Pek Tuo telah terikat sebagai musuh besar, harap Loo siangseng jangan ikut campur di dalam persoalan ini..." Dalam hati kecilnya Hoa Pek Tuo sendiri pun tahu akan maksud hati dari Kong Yo Leng, dia ada rencana untuk menarik Chee Thian Gak masuk ke dalam komplotan mereka, bahkan dengan mengambil alasan tersebut dia pun punya rencana untuk menarik rombongan Thian Liong Toa Lhama sekalian menjadi komplotan mereka, bila rencana itu berhasil bukan saja kekuatan mereka akan bertambah besar bahkan rencana besar mereka untuk memimpin dunia persilatan akan berjalan dengan lancar.

Maka sambil menahan diri ujarnya dengan suara berat :

"Tatkala guru anda mengunjungi perkampungan Thay Bie San cung kami tempo dulu, loohu sama sekali tiada maksud untuk memandang rendah kalian semua, adalah dikarenakan gurumu buru- buru hendak berlalu maka..."

"Tutup mulut!" hardik Chee Thian Gak sambil melangkah ke depan satu tindak.

"Hoa Pek Tuo, pedang siapa yang berada dalam cekalanmu sekarang?"

"Pedang sakti Penghancur sang surya dari perguruan Thiam-cong pay! Siapa pun tahu akan senjata ini, apa kau tidak tahu?"

Perlahan-lahan Chee Thian Gak mengangguk.

"Ehmmm! Pedang ini memang milik Pek In Hoei, dan sekarang benda itu terjatuh ke tanganmu. Itu berarti Pek In Hoei telah mati di tanganmu, oleh sebab itu pula kau telah menjadi musuh besar dari jago-jago istana..."

"Pek In Hoei adalah murid partai Thiam Cong, sejak kapan dia telah mengikat hubungan dengan orang-orang pihak istana?" jengek Hoa Pek Tuo sambil tertawa dingin, "Chee heng, jangan-jangan kau telah mencampurbaurkan antara urusan pribadi dengan urusan dinas, sehingga mana dendam mana budi tak bisa dibedakan..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... cayhe tidak takut terhadap perkampungan Thay Bie San cung kalian, lebih-lebih tidak jeri terhadap kau manusia yang menyebut dirinya Hoa Pek Tuo," ia merandek sejenak, air mukanya berubah serius. "Ini hari, bilamana kau tidak serahkan Pek In Hoei kepadaku, maka tinggallah nyawamu disini!"

"Hmmm," dengusan dingin bergeletar keluar dari mulut Pek Giok Jien Mo si Iblis Khiem Kumala Hijau, dengan wajah dingin membeku tegurnya :

"Chee Thian Gak, berhadapan dengan jago-jago lihay yang sedemikian banyaknya, kau berani benar mengucapkan kata-kata sesumbar dan sombong sehebat itu, rupanya kau sudah bosan hidup?" Meskipun dalam hati kecilnya Chee Thian Gak merasa amat berterima kasih terhadap diri Mie Liok Nio yang pernah menyelamatkan jiwanya, tapi setelah pada saat ini ia muncul sebagai si Pendekar Jantan Berkapak Sakti, sudah tentu perasaan tersebut tak

bisa diutarakan di luar.

Dengan pandangan dingin diliriknya wajah Mie Liok Nio sekejap, kemudian ujarnya ketus :

"Cayhee Chee Thian Gak tidak pernah merasa jeri atau takut terhadap siapa pun juga..."

Mendadak terdengar suara tertawa aneh yang tinggi melengking menusuk pendengaran berkumandang di angkasa, dengan cepat Chee Thian Gak menoleh, dilihatnya seorang nenek tua kurus kering bagaikan tengkorak dengan jubah berwarna hitam, mata tajam bagaikan burung elang, hidung mancung serta wajah penuh berkeriputan berdiri angker di sana.

Di tangan nenek itu membawa sebuah tongkat berwarna hitam, rambutnya telah beruban, punggungnya bongkok dan keadaannya mirip sekali dengan seorang pengemis, sama sekali tidak menarik perhatian orang.

Begitu berjumpa dengan nenek tersebut, satu ingatan dengan cepat berkelebat di dalam benak jago kita, segera tegurnya dengan suara berat : "Apakah dalam pandanganmu cayhe seorang manusia lucu?

Kenapa kau tertawa geli?"

Sambil mengetuk permukaan tanah dengan tongkatnya, nenek tua itu melangkah maju tiga tindak ke depan sambil angkat kepala, kembali ia tertawa terbahak-bahak, serunya sambil menuding ke arah Chee Thian Gak dengan jari tangannya yang telah berkeriputan.

"Orang mua, janganlah sombong dan sesumbar, hati-hati dengan lidahmu, jangan sampai tersambar geledek... Hmmmm! menyesal kemudian tak ada gunanya."

Chee Thian Gak tidak menjawab, dipandangnya wajah nenek itu lebih seksama, tapi setelah menjumpai raut wajah di balik rambut yang telah beruban itu ia terperanjat, segera pikirnya :

"Oooh sungguh tak nyana di kolong langit terdapat manusia yang berwajah begitu jelek!"

Rupanya ketika si nenek tua itu angkat kepalanya tadi, di bawah sorot cahaya rembulan tampaklah wajahnya yang telah berkeriput serta menempelnya tiga ekor makhluk beracun di atas keningnya.

Wajahnya saja sudah cukup menggidikkan hati orang yang menjumpainya di tengah malam, lebih-lebih cahaya emas yang terpancar keluar dari mulutnya setiap kali ia berbicara, keadaannya jauh lebih menyeramkan.

Tanpa sadar bulu kuduk di badan Chee Thian Gak pada bangun berdiri, sambil menarik napas panjang-panjang ia berusaha menenangkan hatinya, lama sekali ia baru menegur :

"Sebenarnya siapakah kau?"

"Hiiih... hiiih... hiiiih.. pun sin Wu bukan lain adalah Kioe Boan Toh si dukun sakti berwajah seram, bocah cilik, pernahkah kau mendengar namaku?"

Sorot mata Chee Thian Gak berkelebat, segera pikirnya : "Rupanya rencana besar dari Hoa Pek Tuo telah mendekati

masaknya, sungguh tak nyana manusia-manusia liar yang maha sakti dari luar perbatasan telah saling berdatangan..." Di tengah kesunyian yang kemudian mencekam seluruh jagad, tiba-tiba terdengar Mie Liok Nio menjerit tertahan, ketika menyaksikan kegagahan dari Chee Thian Gak dalam benaknya segera berkelebat bayangan seseorang... ia teringat kembali pemandangan tatkala Pek In Hoei seseorang diri duduk di atas tumpukan batu cadas. Perempuan itu segera menarik tangan suaminya Kong Yo Leng,

lalu bisiknya lirih :

"Hey, setan tua! Coba pandanglah dengan seksama, orang ini mirip siapa?"

"Siapa yang kau maksudkan?"

"Coba lihatlah bukankah Chee Thian Gak mirip sekali dengan diri Pek In Hoei?"

"Aaaach tidak mungkin, Pek In Hoei adalah seorang lelaki berwajah tampan sedang dia kasar dan jelek, mungkin kau sudah salah melihat orang... lagi pula Pek In Hoei toh sudah mati."

"Aku pernah perhatikan wajah Pek In Hoei dengan seksama, kulihat raut wajahnya bukan manusia yang berumur pendek, ia tak mungkin mati, aku rasa dia pasti telah menyembunyikan diri untuk sementara waktu..."

Mendengar perkataan itu Kong Yo Leng si Iblis Sakti Bertelanjang Kaki segera tertawa terbahak-bahak :

"Haaaah... haaaah... haaaah... Hujien, lebih baik kau tak usah peras keringat putar otak untuk memikirkan persoalan itu. Hmmm! Pastilah disebabkan setiap hari kau mengingat-ingat diri Pek In Hoei maka setelah bertemu dengan orang yang mempunyai potongan wajah rada mirip dengan dirinya, kau lantas anggap dia sebagai Pek In Hoei."

Mie Liok Nio tidak mau menyerah dengan begitu saja, kembali ia perhatikan wajah Chee Thian Gak dengan lebih seksama.

"Tidak bisa jadi!" serunya. "Bagaimanapun juga aku harus mencoba dirinya dan berusaha membuktikan apakah dia adalah Pek In Hoei atau bukan, daripada Jien Siang si bocah itu jadi kapiran dan setiap hari ribut kepadaku untuk mengajak aku pergi mencari Pek In Hoei..."

Dalam pada itu Chee Thian Gak sedang saling berpandangan dengan diri Kioe Boan Toh si Dukun Sakti Berwajah Seram, lama kelamaan kesadarannya mulai terpancing oleh sorot mata yang dingin itu ke pelbagai persoalan yang selama ini dilamunkan... kejadian di masa lampau bagaikan gulungan air bah membanjiri lubuk hatinya, rasa sedih, gembira, budi, dendam dan cinta meluruk datang saling susul menyusul, membuat benaknya dipenuhi oleh pelbagai lamunan.

Air mata mulai mengembang dalam kelopak matanya, terdengar ia bergumam seorang diri :

"Ayah, aku merasa menyesal dan malu terhadap dirimu, detik ini aku tak berani menggunakan nama asliku... tetapi... aku berbuat demikian adalah demi keselamatan serta kebahagiaan umat Bu Lim..." Melihat si anak muda itu sudah mulai terpengaruh oleh ilmunya, Dukun Sakti Berwajah Seram tertawa haha hihi, sorot matanya berubah jadi hijau tua, rasa bangga dan gembira terlintas di atas

wajahnya, ia melangkah dua tindak ke depan lalu gumamnya lirih : "Percuma kau hidup di kolong langit, lebih baik modarlah..."

seluruh otot dan kulit wajah Chee Thian Gak berkerut kencang, mendadak teriaknya,

"Aku tak boleh mati... aku tak boleh mati dengan begini saja...

Jien Siang..."

Pemandangan hot sewaktu ada di dalam ruang rahasia perkampungan Thay Bie San cung pun tertera kembali dalam benaknya, ia merasa tubuh Jien Siang yang montok padat berisi dan berada dalam keadaan telanjang bulat itu memancarkan kembali bau harum yang merangsang...

Pada detik itulah kebetulan Mie Liok Nio sedang menyebutkan nama Jien Siang, tubuhnya bergeser keras, kesadarannya yang sudah mulai terpengaruh oleh kepandaian hipnotis lawan seketika tersadar kembali. Menyaksikan tubuh Si Dukun Sakti Berwajah Seram sambil tertawa menyeringai sedang datang menghampiri tubuhnya, ia segera membentak keras : Bagian 16 ****** KIOE BOAN TOH si Dukun Sakti Berwajah Seram tertegun, rupanya dia tidak mengira kalau pihak musuh berhasil melepaskan diri dari pengaruh ilmu pengacau pikirannya, tanpa terasa nenek itu bergumam

:

"Eeeei...! sungguh aneh,kenapa ilmu hipnotis pengacau pikiranku jadi tidak manjur??"

Chee Thian Gak melangkah maju setindak ke depan, kapaknya diayun dan segera membabat tubuh pihak musuh.

Kioe Boan Toh si Dukun Sakti Berwajah Seram tertawa aneh, mendadak tongkat hitam di tangannya diayun ke muka menutul di atas kapak lawan... Tiiing, letupan cahaya api muncrat ke empat penjuru.

Chee Thian Gak tarik napas dalam-dalam , dengan kekuatan yang amat besar sekali lagi dia ayun kapaknya melancarkan satu babatan.

Angin serangan membawa desiran angin berpusing laksana gulungan ombak melanda tiba.

Kioe Boan Toh si Dukun Sakti Berwajah Seram berteriak aneh, terdesak oleh ancaman yang tiada taranya ini sang badan terpaksa meloncat mundur ke belakang, buru-buru tongkatnya diayun ke muka lalu mundur lagi sejauh dua tombak dari tempat semula.

Pek Giok Jien Mo s Iblis Khiem Kumala Hijau menggerakkan badannya menerjang masuk ke dalam kurungan bayangan kapak, teriaknya keras-keras : "Pek In Hoei tahan!"

"Siapa yang kau panggil sebagai Pek In Hoei?" tegur Chee Thian Gak tertegun.

Ia gigit bibir, kapaknya dengan jurus 'Sha Bong Ti Lai' atau Gunung Runtuh Tanah Merekah kembali melancarkan satu serangan. Rupanya Mie Liok Nio si Iblis Khiem Kumala Hijau tidak pernah menyangka kalau Chee Thian Gak mempunyai tenaga dalam yang begitu sempurna, setelah melengak sejenak jari tangannya segera disentil ke muka, sebatang tusuk konde kumala laksana petir menyambar meluncur ke depan mengancam tenggorokan lawan.

Bayangan Hijau berkelebat lewat, tahu-tahu sudah mengurung lima buah jalan darah penting di tubuh lawan.

Chee Thian Gak membentak keras, kakinya berputar sambil ayun kapaknya, setelah menangkis datangnya ancaman tusuk konde kumala yang gencar bagaikan jalan badannya meluncur enam langkah ke belakang, teriaknya setelah lolos dari ancaman.

"Tahan!"

"Pek In Hoei," seru Mie Liok Nio sambil tertawa dingin, "Ternyata kau masih belum berani memusuhi diriku!"

Chee Thian Gak dibuat serba salah dan apa boleh buat, terutama sekali setelah mendengar Pek Giok Jien Mo bersikeras menganggap dirinya sebagai Pek In Hoei. Kendati ia tidak ingin memusuhi perempuan yang pernah melepaskan budi kepadanya ini tapi demi lancarnya rencana besar yang telah ia susun tak bisa tidak jago kita terpaksa harus bermain sandiwara terus untuk menutupi asal usul yang sebenarnya.

Memandang ke arah Mie Liok Nio, diam-diam sambil gertak gigi serunya :

"Cayhe adalah si Pendekar Jantan Berkapak Sakti Chee Thian Gak, dan sama sekali bukan Pek In Hoei seperti apa yang berulang kali kau sebutkan, aku harap kau jangan melanjutkan kesalahpahaman ini."

Ia merandek sejenak, lalu dengan nada dingin serunya : "Selamanya cayhe tidak suka berkelahi dengan kaum perempuan,

aku sebagai seorang lelaki jantan yang berjiwa besar tak akan sudi bertempur atau ribut-ribut dengan kaum wanita, apalagi usiamu sudah begitu besar, lebih-lebih tidak pantas bagiku untuk ajak kau berkelahi..."

"Bagus! Sebagai seorang lelaki jantan, lelaki sejati memang sudah sepantasnya bersikap demikian!" gembor Oorchad dari samping dengan suara keras bagaikan geledek.

Mie Liok Nio naik pitam, dengan gemas ia melotot sekejap ke arah Oorchad kemudian teriaknya :

"Hey setan tua, kau pergilah menghadapi si tolol itu, biar aku yang bereskan rekening kita dengan manusia she Chee ini."

"Ooooh... tentang soal ini... Ehmmm, Hujien, kau harus tahu kepala suku Oorchad adalah pembantu yang sengaja kita undang datang..."

"Aku tidak mau ambil peduli dia adalah pembantu yang sengaja kita undang atau bukan," tukas Mie Liok Nio tajam. "Setan tua, kau berani membangkang perintah Loo nio?"

Merah jengah selembar wajah Kong Yo Leng, ia sapu sekejap wajah para jago yang hadir di sana lalu tentangnya.

"Kalau persoalan yang lain, Loohu pasti akan menuruti kemauanmu, tetapi dalam soal ini... maaf! aku terpaksa menentang."

Mie Liok Nio jadi sangat mendongkol, sepasang alisnya berkerut dan khiem kumala hijau yang berada di tangan kanannya telah diayun siap menyapu keluar, tapi tatkala matanya menyapu kembali wajah Chee Thian Gak, segera dia batalkan sapuan tadi.

"Baiklah," jeritnya sambil menggigit bibir. "Perhitungan kita baru kubereskan nanti saja."

Dalam pada itu Chee Thian Gak sedang memandang wajah sepasang suami istri itu dengan sorot mata dingin, dalam hati diam- diam pikirnya :

"Oooo... betapa sedihnya jadi seorang pria macam begitu, untuk mengurusi bininya saja tak sanggup bahkan sebaliknya setiap saat malah harus diurus... Huuu... keberanian untuk membalas tak punya, begitukah namanya seorang pria sejati?? Aaaai..." Ia gelengkan kepalanya dan berpikir lebih jauh :

"Entah bagaimana keadaanku di kemudian hari, apakah juga takut sama bini?? tapi aku rasa hal ini tak mungkin terjadi, karena menurut watakku tak nanti aku sudi dipaksa atau tunduk seratus persen kepada istriku..."

Perasaan tersebut hanya timbul dari dasar hati kecilnya dan sama sekali tidak diutarakan keluar, sebaliknya Oorchad yang hadir juga di sana sudah tak dapat menahan rasa gelinya lagi, ia tertawa terbahak- bahak, serunya sambil menuding ke arah Mie Liok Nio :

"Kalaupun Sin koen tak akan memperkenankan kaum wanita merangkak terlalu tinggi, sebaliknya kau yang jadi bini tuanya telah merangkak naik ke atas kepala lelakimu. Haaaah... haaaah... haaaah... ternyata perkataan orang Tionggoan yang menyebutkan 'Seorang lelaki sejati mempunyai jiwa yang besar' adalah dimaksudkan takut sama bini? Haaaah... haaaah... haaaah... "

Mie Liok Nio melotot gusar, tiba-tiba jari kanannya disentilkan ke atas senar khiem... serentetan irama yang lembut segera terpancar keluar... diikuti sebuah tusuk konde digariskan pula di atas khiem tadi, serentetan suara musik laksana anak panah yang tajam meluncur ke depan menembusi lubuk hati Oorchad.

Kepala suku dari Mongolia ini menjerit keras, sepasang matanya terbelalak besar, sambil menghembuskan napas panjang, teriaknya dengan nada tercengang.

"Hey nenek tua, permainan setan apa sih yang sedang kau lakukan terhadap diriku?"

"Kurang ajar! Kau berani mengatakan aku sudah tua??" jerit Mie Liok Nio makin gusar. "Loo Nio akan suruh kau merasakan kelihayan dari ilmu Bayangan Setan irama mautku yang hebat!"

Hoa Pek Tuo yang mendengar ancaman itu seketika berubah air mukanya, buru-buru dia maju satu langkah ke depan lalu teriaknya keras-keras : "Enso, Kepala suku Oorchad adalah pembantu yang sengaja kuundang datang ke daratan Tionggoan, aku harap enso suka memandang di atas wajahku melepaskan dirinya dari bencana ini..."

Sedangkan Kong Yo Leng segera mendengus dingin.

"Liok Nio," serunya, "lebih baik kau tak usah bekerja menuruti napsu angkara murkamu..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... kesemuanya ini adalah kau si setan tua yang mencelakai orang, apa yang hendak kau ucapkan lagi?? Ciiss, rasakanlah tusuk kondeku!"

Air muka Kong Yo Leng berubah hebat, dengan sebat dia meloloskan diri dari sambaran tusuk konde tersebut, lalu teriaknya dengan marah.

"Liok Nio, lebih baik kau sedikit mengetahui diri, jangan membiarkan orang mentertawakan kita..."

"Bagus, hey setan tua, kau berani berkelit dari seranganku?"

Bayangan tubuhnya bagaikan kelebatan setan meluncur ke depan... Sreeet... Sreeet... secara beruntun dia telah melancarkan beberapa serangan dahsyat, beratus-ratus buah titik bayangan hijau bagaikan curahan hujan badai berbarengan meluncur ke depan.

Kong Yo Leng bungkam dalam seribu bahasa, kakinya tetap berdiri tegak bagaikan gunung Thay san, hanya tubuh bagian atasnya saja yang bergoyang tiada hentinya meloloskan diri dari ancaman serangan yang meluncur datang bagaikan hembusan hujan badai itu.

Sehabis melancarkan serangan gencar, kembali Mie Liok Nio berteriak keras :

"Bagus sekali, rupanya selama beberapa puluh tahun belakangan kau telah mengelabuhi diriku, rasakanlah sepuluh buah tusukan tusuk konde mautku!"

Di tengah teriakan lengking jari tangannya bergetar tiada hentinya, dalam sekejap mata tusuk konde kumala hijau itu sudah mengirim sepuluh buah tusukan maut yang benar-benar luar biasa, setiap jurus mempunyai perubahan gerakan yang tak terhingga banyaknya.

Beruntun Kong Yo Leng mundur enam langkah ke belakang, gembornya dengan hati dongkol :

"Liok Nio, janganlah berbuat terlalu kelewat batas!"

"Hmmm! kalau tidak kuberi sedikit kelihayan kepadamu, kau tidak akan mengerti kelihayan dari Loo Nio!"

Cahaya hijau meluncur bagaikan kilat, di tengah desiran tajam yang tinggi melengking menusuki pendengaran dalam sekejap mata tubuh Kong Yo Leng yang tinggi kekar telah terkurung dalam kepungan serangan istrinya.

"Kau pun rasakanlah kelihayan dari ilmu jari Jan Song Cie ku!" terdengar Kong Yo Leng berteriak keras.

Jari tengah dan telunjuk tangan kirinya diluncurkan ke depan, setelah bergetar setengah lingkaran busur di depan dada secara beruntun dia lepaskan delapan belas buah totokan gencar... desiran angin tajam segera menderu-deru...

Dalam waktu singkat ia telah menggunakan tiga macam ilmu jari yang berbeda untuk mengimbangi ke-delapan belas totokan yang telah dilancarkan, di balik serangan tersebut ia sudah mencampurbaurkan pula inti sari dari pelbagai ilmu jari yang ada di kolong langit, bukan saja perubahannya tiada terhingga dahsyat dan luar biasa sekali.

Delapan belas buah totokan itu kontan membuat Mie Liok Nio berseru kaget, dalam hati ia benar-benar merasa amat terkesiap, sebab ia merasa bahwa semua jurus serangan yang dia lancarkan telah terbendung semua oleh pergetaran jari tangan suaminya.

Setiap tusukan tusuk konde yang dilancarkan kesemuanya disambut oleh jari tangan lawan yang sengaja disongsongkan ke arahnya, hal ini membuat jurus serangan tersebut tak bisa digunakan lebih jauh dan terpaksa membuyarkan di tengah jalan. Melihat posisinya berubah jadi lemah, sorot mata buas memancar keluar dari kelopak matanya.

"Hey Setan tua," bentaknya gusar, "Jangan kau salahkan kalau aku bertindak terlalu keji!"

Bahu atasnya mendadak meleset menembusi angkasa, di tengah meluncurnya cahaya hijau di atas tusuk konde tadi mendadak cahayanya memantul dua coen lebih panjang dari keadaan biasa, bukan saja tajam mengerikan bahkan jauh berbeda di luar dugaan orang.

Kong Yo Leng sendiri pun sadar bahwa serangan yang dilancarkan dalam keadaan gusar bercampur gelisah itu telah menggunakan segenap tenaga lweekang yang dimilikinya, bisa dibayangkan betapa dahsyat dan mengerikannya ancaman itu.

Sepasang alisnya kontan berkerut, dengan gusar hardiknya : "Liok Nio!"

Mie Liok Nio angkat kepalanya di tengah kegusaran, mendadak hatinya bergetar keras tatkala menyaksikan sikap suaminya yang keren dan gagah, kenangan lama pun segera terlintas kembali di dalam benaknya.

Dahulu dia masih seorang gadis muda yang amat cantik jelita, tapi karena justru karena kegagahan serta kewibawaan Kong Yo Leng yang tidak gentar menghadapi segala apa pun juga itulah akhirnya dia jadi tertarik.

Ia tahu disebabkan suaminya terlalu sayang dan mencintai dirinya, maka setelah menikah dia selalu menuruti segala kemauannya, hal ini menyebabkan timbullah rasa sombong pada watak dirinya.

Di tengah rasa tertegunnya itulah pelbagai ingatan telah berkelebat di dalam benaknya, tenaga murni yang sudah terkumpul pun karena itu menjadi kendor kembali, sudah barang tentu serangannya yang maha dahsyat pun jadi rada merandek sejenak. Kong Yo Leng mendengus dingin, telapak kanannya diangkat dan mendadak membabat ke bawah.

Cahaya tajam berwarna keperak-perakan memancar keluar dari balik telapak kanan tersebut, tajam dan amat menyilaukan mata.

Chee Thian Gak pernah menjumpai ilmu sakti tersebut, tapi belum pernah menjumpai orang yang menggunakan ilmu itu jauh lebih dahsyat dan hebat seperti apa yang dilakukan Kong Yo Leng saat ini.

Hati jadi bergidik, pikirnya :

"Liok Gwat To merupakan ilmu sesat yang sangat hebat, dimainkan oleh iblis ini kehebatan serta kesaktiannya betul-betul luar biasa sekali... Ciak Kak Sin Mo tidak malu disebut sebagai seorang dedengkot dalam aliran sesat!"

Sesudah Kong Yo Leng menggunakan ilmu sakti 'Liok Gwat To' nya, tusuk konde di tangan Mie Liok Nio segera rontok ke atas tanah setelah merandek sejenak di tengah udara, yang tertinggal di jari tangannya hanya sebagian kecil dari serat tipis yang terbuat dari ulat sutera.

Perempuan itu melengak kemudian teriaknya keras-keras : "Setan tua, kepandaian silat apakah yang telah kau gunakan?" "Haaaah... haaaah... haaaah... Hujien, aku minta maaf yang

sebesar-besarnya kepadamu, di mana serat tipis ulat langit pun sudah kuhancurkan, di kemudian hari Loohu pasti akan berangkat ke gua salju di atas gunung Thay Soat san untuk membuatkan lagi beberapa lembar untuk diri Hujien!"

"Setan tua, anggap saja kemenangan berada di tanganmu kali ini," jerit Mie Liok Nio sambil menggigit bibir, "Lain kali Loo Nio pasti akan suruh kau menjumpai kelihayan dari sembilan belas jurus tusuk konde kumala hijauku. Hmmm! Kalau kau punya nyali, berkelitlah pada waktu itu!..."

"Apa? Sembilan belas jurus Tusuk Konde Kumala Hijau?" Kong Yo Leng berkemak-kemik dengan wajah melengak, tapi sebentar kemudian ia sudah mengerti, "Ooooh! rupanya kau hendak menciptakan sembilan jurus baru lagi untuk siap menghancurkan serangan maut dari ilmu 'Liok Gwat To' ku? haaaah... haaaah... bagus, bagus, setiap saat loohu pasti akan menantikan hasil dari ciptaan jurus serangan barumu!"

Pertarungan antara suami istri yang barusan berlangsung cukup menggoncangkan hati para penonton yang menyaksikan jalannya pertarungan dari sisi kalangan, dalam benak mereka rata-rata terlintas satu pandangan yang sama yaitu sepasang iblis dari samudra Seng Sut Hay betul-betul jagoan lihay nomor wahid di antara kaum sesat.

Jurus-jurus serangan ampuh dan sakti yang telah mereka pergunakan belum pernah mereka jumpai sebelumnya, apalagi kesempatan untuk menyaksikan pertarungan sengit antara kedua orang itu.

Diam-diam Chee Thian Gak berpikir dalam hatinya :

"Sepasang suami istri ini ditambah pula Hoa Pek Tuo sudah cukup untuk menjagoi seluruh dunia persilatan tanpa seorang manusia pun yang sanggup menandingi mereka, apalagi mereka masih ditunjang oleh beberapa orang manusia sakti dari luar perbatasan... heeeh... rupanya bencana maut bakal melanda seluruh kolong langit." Dengan pandangan mendalam Mie Liok Nio melirik sekejap ke arah suaminya, tangan kanan menyambar ke depan merampas balik tusuk konde kumala hijau yang terjatuh di tanah, kemudian sambil

menghampiri Chee Thian Gak ujarnya :

"Pek In Hoei, aku ingin mencoba kepandaian silatmu!"

"Eeee... bukankah sudah berulang kali cayhe terangkan bahwa cayhe bukanlah si Pendekar Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei... kenapa sih kau selalu menyebut aku dengan nama itu?"

Ia merandek sejenak, kemudian dengan nada sombong tambahnya :

"Lagipula Pek In Hoei tidak nanti memiliki kepandaian silat sehebat apa yang kumiliki sekarang." "Baik! Akan kulihat sampai dimanakah kehebatan ilmu silatmu sehingga berhak menggunakan sebutan jago bertenaga paling sakti di kolong langit dewasa ini!"

Merah jengah selembar wajah Chee Thian Gak.

"Siapa yang memakai gelar tersebut?" bantahnya. "Sin Koen bertenaga saktilah yang menghadiahkan gelar tadi kepadaku, sedang cayhe sendiri sama sekali tidak tertarik dengan segala macam gelar kosong yang tiada gunanya, karena kenyataan jauh lebih penting daripada segala macam nama kosong... " dengan suara berat terusnya, "meskipun cayhe mempunyai keistimewaan dalam tenaga sakti, tetapi aku tidak ingin ajak dirimu untuk beradu tenaga!"

"Hmmm, jadi menurut maksudmu?"

Chee Thian Gak tarik napas dalam-dalam, sorot matanya menyapu sekejap angkasa yang penuh bertaburan bintang, kemudian serunya dengan nada serius :

"Cayhe ingin sekali coba mendengarkan permainan gabungan irama musik kamu berdua!"

"Apa? Kau maksudkan hendak menghadapi kami dalam permainan musik maut?"

"Sedikit pun tidak salah, sudah lama cayhe mendengar bahwa gabungan permainan musik dari sepasang iblis Seng Sut Hay tiada tandingnya di kolong langit, oleh sebab itu cayhe kepengin mencobanya sendiri..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... " Kong Yo Leng mendongak dan tertawa terbahak-bahak, "tahun ini loohu berusia tujuh puluh delapan tahun, belum pernah kudengar ada orang berani mengajukan sendiri permohonannya untuk mencoba ilmu harpa besi pencabut sukma ku, apalagi gabungan irama khiem dengan harpa."

Sekilas napsu membunuh terlintas di atas wajahnya, dengan suara adem dia melanjutkan :

"Sekalipun tiga orang setan tua dari luar lautan datang sendiri kemari pun belum tentu berani mengatakan kepada loohu untuk mendengarkan gabungan irama dari Khiem dan harpa, apalagi kau seorang bocah cilik yang masih bau tetek."

Chee Thian Gak tertawa keras.

"Ombak belakang sungai Tiang Kang selalu mendorong ombak di depannya, kalian sudah tua semua dan di dalam dunia persilatan dewasa ini pun sudah tidak berguna... " cahaya licik berkelebat di atas matanya. "Lagipula dengan berbuat demikian kalian pun bisa menjajal benarkah aku adalah Pek In Hoei atau bukan, apa salahnya bertindak sekali tepuk dapat dua lalat?"

"Pek In Hoei, kau terlalu jumawa!" jerit Mie Liok Nio. "Hmmm! Dengan menggunakan kesempatan ini cayhe ingin

meminjam nama besar dari Seng Sut Hay Siang Mo untuk memperkenalkan nama besarku sebagai Pendekar Jantan Berkapak Sakti ke seluruh dunia, atau mungkin kalian berdua memang tidak berani mempertaruhkan nama besar kalian berdua?..."

"Haaah... haaah... kalau memang kau ingin modar gampang sekali! Kita segera kabulkan permintaan itu," ujar Kong Yo Leng sambil mempersiapkan harpa besinya.

Sinar mata Chee Thian Gak perlahan-lahan beralih ke atas pedang sakti penghancur surya yang berada di tangan Hoa Pek Tuo, lalu katanya kembali :

"Tunggu sebentar! Andaikata cayhe berhasil mendengarkan gabungan irama musik kalian hingga selesai tanpa menemui ajal ku, apa yang hendak kalian laksanakan?"

Mie Liok Nio melirik sekejap ke arah Kong Yo Leng kemudian balik tanyanya :

"Kau ingin bagaimana?"

"Kita pertaruhkan pedang sakti penghancur surya milik Pek In Hoei saja!" seru Chee Thian Gak sambil menuding ke arah Hoa Pek Tuo.

Kakek tua ini melengak. "Bagus!" akhirnya dia pun ikut berseru, "Seandainya kau berhasil lolos dari maut, Pedang Sakti Penghancur Sang Surya segera menjadi milikmu..."

Mendadak ucapannya berhenti di tengah jalan, sebab pada saat itulah si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok perlahan-lahan bangun duduk, kemudian dari saku celananya ambil keluar sebuah seruling kayu.

Irama seruling yang bernada sangat aneh pun dengan cepat berkumandang memenuhi angkasa, begitu aneh iramanya seolah-olah terdapat beribu-ribu ekor ular yang bersama-sama menyusup ke dalam hati setiap orang.

Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Hoa Pek Tuo, pikirnya :

"Jangan-jangan dia sedang gunakan ilmu memanggil ular yang sudah terkenal di negeri Thian Tok..."

Irama lembut yang lirih dan halus itu seolah-olah datang dari alam impian yang sangat jauh... bergema di udara dan menyelinap ke seluruh sudut kalangan...

Dalam pada itu Chee Thian Gak sedang mengawasi wajah Hoa Pek Tuo dan seksama, berhadapan dengan manusia licik yang mempunyai banyak akal busuk macam begini, mau tak mau dia harus pertingkat kewaspadaannya untuk menghindarkan diri dari serangan bokongan.

Tapi ketiga irama seruling dari si Dewa Cebol bergema tiada hentinya di angkasa, alisnya segera berkerut, dengan cepat ia menoleh ke samping kalangan.

"Hmmm, permainan setan apa yang sedang kau lakukan?" tegurnya sambil mendengus.

Hoa Pek Tuo tersenyum.

"Lamaphi disebut dewa oleh kalangan masyarakat di negeri Thian Tok sebelah utara, malam ini saksikanlah kepandaian saktinya..." "Haaaah... haaaah... haaaah... kau maksudkan si setan cebol itu?..." jengek Oorchad dengan nada menghina.

Berubah air muka Hoa Pek Tuo, rasa tidak senang muncul di balik wajahnya yang telah berkeriput pikirnya :

"Manusia goblok ini benar-benar keterlaluan, susah payah kuundang dia datang ke daratan Tionggoan, eeeei... tahunya dia malah membantu Chee Thian Gak..."

"Hoa Pek Tuo?" mendadak terdengar Chee Thian Gak berseru. "Sekarang adalah saatnya bagiku untuk bertanding melawan suami istri Sin-mo ataukah kesempatanku untuk adu kepandaian dengan manusia cebol dari negeri Thian Tok?"

Ucapan ini didengar sepintas lalu seakan-akan ditujukan kepada Hoa Pek Tuo, padahal maksud yang sebenarnya adalah ditujukan kepada diri Kong Yo Leng.

"Keparat cilik kau benar-benar mencari mati?" bentak Ciak Kak Sin Mo dengan wajah beringis.

"Haaah... haaah... masa cari mati pun ada palsu dan sungguhan? Selamanya cayhe mendengar bahwa nama besar dari Seng Sut Hay Siang Mo..."

"Bagus rasakan dulu sebuah tendanganku!"

Di tengah bentakan badannya sudah maju dua langkah ke depan, kakinya melayang datar ke depan bagaikan bayangan yang membuai angkasa, tahu-tahu telapak kakinya yang berukuran besar itu sudah berada kurang lebih lima coen di depan dada Chee Thian Gak.

Sewaktu berada di dalam perkampungan Thay Bie San cung tempo dulu, jago kita sudah pernah terluka di bawah tendangan maut 'Teng Thain Lip Tah' atau Menyungging Langit Menginjak Bumi dari iblis tua ini maka dari itu menyaksikan datangnya ancaman dengan hati terperanjat buru-buru mundur dua langkah ke belakang.

Gerakan mundurnya ini dilakukan sangat cepat, begitu tubuh bagian atas bergeser telapak kanannya berbareng dibabat ke bawah menebas telapak kaki musuh. Kong Yo Leng mendengus dingin, telapak kaki ditekan ke bawah, sementara sisi telapak menjejak ke samping kiri, dengan bergeser di sisi telapak kanan Chee Thian Gak dia langsung mengancam perut lawan.

Chee Thian Gak membentak nyaring, pinggiran telapaknya yang kena digesek telapak kaki musuh terasa panas dan linu seolah-olah menempel di atas hioloo yang panas membara.

Hatinya terkesiap, telapak kirinya buru-buru dikebaskan membentuk gerakan setengah busur dan langsung menembus ke dalam mengancam dada sementara tubuh bagian atasnya menjengkang ke belakang tanpa geserkan kaki ia menyurut mundur enam coen lebih.

Menggunakan kesempatan yang sangat kecil inilah, telapak kirinya yang berhasil menembusi pertahanan musuh menabok di atas kaki kanan lawan.

Ploook, setitik cahaya merah berkelebat lenyap dari pandangan mata, segulung hawa tekanan yang hebat memancar keluar dari balik kaki lawan, tubuh Chee Thian Gak sempoyongan dan mundur tiga langkah ke belakang.

Ia lihat Kong Yo Leng menarik kembali telapak kanannya yang ada andeng-andeng merah itu kemudian mengangkat kaki kirinya untuk menyerang, hatinya terperanjat, segera pikirnya :

"Tenaga dalam yang dimiliki iblis tua ini betul luar biasa, aku pasti bukan tandingannya..."

Sang biji mata lantas berputar, teriaknya keras : "Kong Yo Leng, kau punya malu tidak?"

Ciak Kak Sin Mo melengak, diikuti dengan nada gusar ia berseru

:

"Keparat cilik, kau bilang apa?"

"Heeeh... heeeh... kau anggap kakimu itu kaki babi atau kaki

ayam? Kenapa suruh aku mencicipi terus..." Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, semua orang segera tertawa terbahak-bahak, terutama Oorchad, ia tertawa tergelak sampai air mata pun ikut bercucuran.

Kong Yo Leng dibuat semakin naik pitam. "Maknya... rasakan lagi sebuah tendanganku..."

"Lho... looo... looo... kok aku disuruh mencicipi lagi?"

Tingkah lakunya yang kocak ini membuat Mie Liok Nio sendiri pun tak bisa menahan rasa gelinya lagi dan ikut tertawa.

"Hey setan tua, kau ingin pamerkan kejelekanmu lagi?" makinya sambil menarik tangan sang suami.

"Kau bilang apa?"

"Bukankah cayhe sudah katakan bahwa aku ingin coba melawan gabungan irama musik kalian berdua dengan tenaga dalam ku? Dan persoalan ini telah disetujui oleh Mie cianpwee, bahkan kita pun sedang mempertaruhkan Pedang Mustika Penghancur Surya dari Pek In Hoei, atau mungkin... Hoa Pek Tuo merasa berat hati untuk melepaskan pedang mustika itu?..."

Hoa Pek Tuo mendengus gusar, ia lepaskan pedang sakti itu dari punggungnya lalu diletakkan di atas tanah.

"Manusia bodoh yang tak tahu diri," serunya, "kalau memang kau ingin menjajal untuk melawan gabungan irama musik dari kedua orang itu, sudah tentu loohu tak akan menghalang."

Ia merandek sejenak lalu dengan wajah keren tambahnya : "Sebaliknya andaikata kau tidak sanggup bertahan selama

setengah jam, apa yang hendak kau lakukan??"

"Telur busuk tua!" diam-diam Chee Thian Gak memaki di dalam hati. "Semula aku masih ingin coba mencari keuntungan dengan tidak adanya perpaduan dalam gabungan permainan irama musik sepasang iblis dari laut Seng Sut Hay berhubung dengan percekcokannya tadi, sungguh tak nyana Hoa Pek Tuo begitu licik dan pintar sehingga mengetahui pula akan hal ini. Batas waktu setengah jam bagiku cukup terasa berat, sebab kalau hanya sebentar saja mungkin aku masih bisa bertahan, sebaliknya kalau waktu makin panjang maka persatuan batin mereka tentu akan pulih kembali dalam perpaduan yang harmonis... dalam keadaan begitu mana aku sanggup mempertahankan diri?"

Tapi karena urusan sudah terlanjur demikian, terpaksa ia mengangguk.

"Baiklah, kita batasi saja selama setengah jam..."

Belum habis dia berkata, mendadak terdengar si Naga Hitam dari gurun pasir berteriak sambil meloncat ke angkasa.

"Ular... ooh betapa banyaknya ular disini..." Loe Peng si pendekar bertenaga sakti pun ikut berteriak.

Rupanya tiupan seruling dari si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok yang menggema tiada hentinya itu sudah mengundang beribu- ribu ekor ular yang tersebar di empat penjuru.

Di bawah sorot cahaya sang surya, tampaklah ular-ular itu sambil meliuk-liukkan tubuhnya bergerak menuju ke arah kakek cebol itu, seolah-olah para pengikut agama yang berduyun-duyun menghampiri nabinya.

Pemandangan yang begitu mistrius serta ngerinya itu membuat orang yang melihat jadi ngeri dan merinding... sampai-sampai Loe Peng serta Hong Teng yang punya perawakan tubuh tinggi kekar pun ikut gemetar keras saking takutnya, baru saja mereka melangkah beberapa tindak, badan mereka sudah roboh ke atas tanah.

Chee Thian Gak sendiri pun merasa amat terperanjat, pikirnya : "Ooooh, inilah ilmu pawang ular yang sangat lihay dari negeri

Thian Tok, tadi aku masih mengira dia hanya bermain-main dengan tiupan serulingnya belaka..."

Memandang gerombolan ular yang memenuhi permukaan tanah, jago kita lantas berseru lantang :

"Kong Yo Leng, kau punya rasa malu atau tidak?"

"Apa yang kau katakan?" seru Ciak Kak Sin Mo dengan wajah berubah hebat. Beberapa saat ia termenung, kemudian teriaknya lagi :

"Keparat cilik, ini hari sudah dua kali kau maki aku tidak punya malu, hmmm! loohu bersumpah akan membeseti kulit tubuhmu dan mencabuti otot-otot dalam badanmu, kalau tidak... aku Ciak Kak Sin Mo lebih baik mati saja!"

Melihat wajah iblis tua itu berubah jadi merah padam saking dongkol dan jengkelnya sehingga berbicara pun tidak karuan, diam- diam Chee Thian Gak merasa geli, walaupun begitu kewaspadaannya tetap dipertingkat, ia takut secara tiba-tiba iblis itu melancarkan serangan mematikan.

Hoa Pek Tuo yang selama ini mengikuti gerak-gerik Chee Thian Gak dari samping, kini merasa kecurigaannya makin tebal, pikirnya : "Orang ini mempunyai tingkah laku yang aneh dan sukar diduga, suaranya, pembicaraannya serta lagak lagunya yang sombong, jumawa dan tinggi hati hampir boleh dibilang sangat mirip dengan

diri Pek In Hoei..."

Cahaya buas memancar keluar dari balik matanya. "Andaikata dia benar-benar adalah Pek In Hoei, maka aku harus menggunakan kesempatan yang sangat baik pada malam ini untuk melenyapkan bibit bencana ini dari muka bumi..."

Ingatan tersebut bagaikan sambaran kilat berkelebat lewat dalam benarnya, ia segera maju selangkah ke depan, ujarnya :

"Lebih baik terjanglah dahulu barisan ular dari Lhamapi si Dewa Cebol ini..."

"Ooooh... tak kusangka dari sebangsa dedengkot aliran sesat yang amat tersohor namanya dalam dalam dunia persilatan tidak lebih bau daripada kentut busuk," tukas Chee Thian Gak cepat sambil tertawa dingin. "Aku rasa kalau memang begitu... yaaah sudahlah, tak ada perkataan lain yang bisa kuucapkan. Hoa Pek Tuo! Apa yang akan kau katakan lagi?..."

"Kurang ajar!" teriak Mie Liok Nio gusar, "Manusia kepar she- Chee, kau berani menyindir Loo Nio tidak pegang janji?" Chee Thian Gak tidak menjawab, diliriknya sekejap barisan ular yang telah mengepung rapat empat penjuru sekeliling tempat itu, diam-diam hatinya bergidik, pikirnya :

"Rupanya ular-ular itu hingga sekarang belum mendapat perintah untuk melancarkan serangan, apabila aku tidak memancing kedua iblis itu masuk jebakan dengan memakai kesempatan bagus ini, seandainya barisan ular itu telah bergerak... aku bisa konyol!"

Maka segera sindirnya lagi :

"Semula cayhe ingin mempertaruhkan Pedang Sakti Penghancur Sang Surya ini dengan menikmati irama musik gabungan dari cianpwee berdua, tapi sekarang kalangan kita sudah dipenuhi oleh barisan ular yang begini banyak, atau jangan-jangan kalian berdua memang ada maksud hendak mengandalkan ular-ular ini untuk memperataskan tarian gabungan ular dan iblis..."

"Kentut busuk anjing makmu!" maki Mie Liok Nio dengan penuh kegusaran, "Kau berani menghina Loo Nio atau mungkin kau memang mengharapkan Loo Nio melanggar pantangan?"

Chee Thian Gak tertawa.

"Nyawa yang cayhe miliki hanya selembar, baiklah kuserahkan pada kalian berdua saja, cuma... andaikata cayhe tidak diberi kesempatan untuk menikmati irama musik gabungan dari cianpwee berdua, yah terus terang saja cayhe merasa mati tidak meram..."

"Setan tua!" Mie Liok Nio segera berseru sambil membopong khiem kumala hijaunya. "Mari kita sempurnakan keinginan dari si keparat cilik ini!"

"Andaikata cayhe tidak mati, kabulkan keinginan cayhe ini! jawab Chee Thian Gak cepat sambil tersenyum.