Imam Tanpa Bayangan I Jilid 04

 
Jilid 04

BELUM habis dia berkata, tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin muncul dari belakang tubuhnya, tahu-tahu si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok dengan gerakan yang mengerikan telah menubruk datang. Suara suitan lengking berkumandang di seluruh angkasa, hawa merah yang bercampur dengan bau amis menyelimuti empat penjuru, si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok sambil tertawa seram serunya :

"Oorchad, serahkan jiwamu!"

Buru-buru Oorchad bergeser ke samping, siapa sangka si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok membokong dari arah belakang, ia lantas menghardik keras :

"Setan cebol, kau..."

Belum habis ia berteriak, pukulan berantai merah dari si Dewa Cebol telah mengancam di depan dadanya, dalam keadaan yang kepepet jago lihay dari Mongolia ini tak bisa berbuat lain kecuali busungkan dadanya, ia siap menyambut datangnya serangan lawan dengan keras lawan keras.

Dalam detik terakhir yang kritis dan berbahaya itulah, mendadak tubuh Chee Thian Gak bagaikan bayangan setan telah menerobos masuk lewat celah-celah di tengah kepungan tersebut.

"Biarlah aku yang sambut seranganmu itu!" bentaknya keras.

Diiringi suara bentakan nyaring, hawa panas yang menyengat badan segera menyambar ke tengah udara, menggunakan jurus kedua dari ilmu Thay yang Sam Sie yaitu 'Liat Jiet Hian Hian' atau Terik Matahari Menyengat Badan ia sambut pukulan lawan. Ledakan keras membelah angkasa, di tengah jeritan aneh si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok tubuhnya mencelat ke angkasa, jenggotnya berkibar memenuhi udara bagaikan hujan gerimis yang melanda permukaan jagad...

Sepasang mata Chee Thian Gak melotot bulat, bekas merah di antara sepasang alisnya kelihatan merah membara semakin nyata, membuat orang yang memandang jadi ngeri dan bergidik.

Tubuh Dewa Cebol dari negeri Thian Tok yang tidak mencapai tiga depa tingginya itu di bawah sorot cahaya rembulan yang remang- remang nampak semakin cebol, di atas jubahnya yang berwarna putih kini berubah jadi hitam bekas terbakar hangus, jenggotnya yang semula panjang terurai ke bawah kini sudah terbakar hangus semua oleh pukulan Thay yang sinkang dari Chee Thian Gak hingga tinggal sedikit jenggot hangus di antara bibirnya.

Dengan napas terengah-engah, kakek cebol itu angkat kepalanya memandang ke arah Chee Thian Gak, beberapa saat kemudian baru ujarnya:

"Kepandaian apakah yang telah kau gunakan? Siapakah kau?" Dengan sikap yang keren, gagah dan penuh berwibawa Chee

Thian Gak maju dua langkah ke depan, sahutnya :

"Cayhe adalah Pendekar Jantan Berkapak sakti Chee Thian Gak, berasal dari gurun pasir..." ia merandek sejenak, kemudian terusnya dengan suara berat :

"Sepanjang hidupku cayhe paling benci melihat orang main bokong dari belakang, kalau kau tidak berbuat demikian tidak nanti aku campuri urusanmu..."

"Hmmm! Kepandaian silatmu mirip sekali dengan ilmu Hwie Yan Sam Sin Sie yang sudah lama lenyap dari 'Poo Sion Tiong' di negeri Thian Tok, mengapa kau membohongi aku dengan mengatakan kau datang dari gurun pasir???"

Tatkala menyaksikan jiwanya telah diselamatkan oleh Chee Thian Gak, dalam hati kecilnya Oorchad merasa amat terharu bercampur terima kasih, terutama sekali ketika mendengar Chee Thian Gak berasal dari gurun pasir, ia merasa hubungan batinnya makin erat.

Kini setelah mendengar teriakan si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok, dengan penuh kegusaran segera bentaknya :

"Setan tua hitam, kau anggap dari daerah Mongolia kami tak ada orang pandai?? Konyol... eeeeei, arang hitam tua, lebih baik kau cepat-cepat enyah ke kandang nenekmu."

Rupanya jago kosen dari Mongolia ini sudah lupa atas kekalahannya yang mengenaskan di tangan Chee Thian Gak barusan, di tengah bentakan keras mendadak ia terjang ke muka sambil melancarkan sebuah pukulan yang maha dahsyat.

Angin puyuh segera menderu-deru... begitu dahsyatnya serangan tadi sampai debu dan pasir beterbangan ke angkasa.

Dalam pada itu si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok sedang dibikin terkejut oleh kemistriusan serta kehebatan ilmu Thay yang Sam si dari Chee Thian Gak, ia sedang memikirkan hubungan antara ilmu tersebut dengan ilmu sakti Poo Sioe Tiong di negeri Thian Tok yang sudah lama dikabarkan lenyap.

Menjumpai kedatangan Oorchad, ia tertegun, tapi dengan cepat ia dapat merasakan datangnya ancaman musuh. Dalam keadaan gugup buru-buru badannya bergeser enam coen ke samping untuk meloloskan diri dari ancaman tersebut.

Pada kesempatan yang amat singkat itu dalam benaknya telah berputar beberapa ingatan, ia tahu kalau saat ini harus menghindarkan diri dari serangan musuh sehingga pihak lawan berhasil merebut kedudukan di atas angin, maka dalam puluhan jurus kemudian dia tak akan memperoleh kesempatan untuk balas melancarkan serangan.

Sebaliknya kalau ia kerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk menerima datangnya serangan itu dengan keras lawan keras, maka menang atau kalah masih merupakan persoalan yang sukar diduga. Berpikir demikian, buru-buru hawa murninya disalurkan mengelilingi seluruh badan. Ia membentak nyaring, tubuhnya setengah berjongkok ke bawah lalu tarik napas panjang-panjang, sepasang telapaknya secara beruntun melancarkan tiga buah serangan berantai.

Bayangan telapak memenuhi angkasa, angin pukulan menderu- deru... seluruh jagad segera dibikin gelap oleh sapuan angin puyuh serta hamburan batu dan debu di tengah udara...

Tubuh Oorchad mencapai ketinggian satu tombak lebih, sebaliknya tubuh si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok belum mencapai tiga depa, serangan yang dilancarkan dengan setengah berjongkok ini mengakibatkan serangan-serangan yang dilancarkan hanya mencapai ketinggian dua depa saja, oleh karena itulah ketika Oorchad mengirim pukulannya, mendadak ia sudah kehilangan jejak lawannya.

Ia berseru tertahan, karena tertegun tanpa terasa pukulannya pun rada merandek sejenak.

Chee Thian Gak yang menonton jalannya pertarungan dari sisi kalangan dapat menyaksikan semua kejadian dengan nyata, ia tidak menyangka kalau si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok mempunyai pukulan-pukulan aneh yang begitu sakti dan luar biasa, hatinya segera bergerak dan ia siap turun tangan menolong jiwa jago kosen dari Mongolia itu.

Dengan merandeknya serangan yang dilancarkan tadi, dengan sendirinya daya pertahanan tubuh Oorchad pun semakin lemah, menggunakan kesempatan yang sangat baik itu pukulan-pukulan Si kakek cebol segera mendesak masuk ke dalam, tahu-tahu selapis bayangan telapak telah mengancam di depan mata.

Kembali Oorchad melengak, teriaknya :

"Hey, kepandaian silat apa yang kau gunakan? Macam dolanan bocah saja..." Belum habis dia berkata, di antara tiga belas pukulan yang dilancarkan si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok hanya ada sebuah jurus saja merupakan serangan sungguhan, hawa pukulan segera dilepaskan dan bersarang telah di atas dada Oorchad.

Jago kosen dari Mongolia ini menjerit aneh, ia muntah darah segar dan segera mundur tiga langkah ke belakang.

Menyaksikan jurus serangan 'Hoa-Yoe Pin Hoen' atau Hujan Bunga berserakan di mana-mana dari ilmu Sin-Yoe-Kangnya yang termasuk dalam kepandaian Yoga berhasil mendatangkan hasil, air muka si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok segera terlintas napsu membunuh yang maha hebat.

Sepasang telapaknya segera dirapatkan di depan dada, diam-diam ia membaca mantera kemudian badannya bergerak dan kembali melancarkan sebuah serangan dengan jurus 'Hoa-Yoe Pin Hoen' atau Hujan Bunga berserakan di mana-mana.

Tiga belas jurus serangan kembali dilancarkan secara berbareng, tiap jurus berubah jadi jurus sungguhan, hawa pukulan memenuhi angkasa, terciptalah segumpal hawa pukulan yang maha dahsyat menyapu seluruh permukaan bumi.

Oorchad mendengus berat, tubuhnya yang tinggi besar berjongkok ke bawah, sepasang lengan dikumpulkan jadi satu lalu menyerang dengan keras lawan keras, ia siap menggunakan gerakan gulatnya untuk membanting tubuh lawan.

Plaaak... ! Plaaaak...! plak! lengannya yang sedang diluncurkan ke depan kena dihantam musuh, si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok menggertak giginya keras... ia tambahi kekuatannya... Kraak ! sendi- sendi tulang lawan tahu-tahu sudah dihantam patah.

Oorchad menjerit kesakitan, keringat dingin sebesar kacang kedele mengucur keluar tiada hentinya, tetapi ia sama sekali tidak mau mundur ke belakang, kakinya bergeser ke depan dan segera melancarkan tiga buah tendangan kilat. Ketika menyaksikan serangannya berhasil mengenai di tubuh lawan, si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok siap meneruskan kembali serangannya untuk membinasakan lawan, tetapi ia tak menyangka kalau pihak musuh begitu keras kepala, meski persendian tulang tangannya sudah patah masih juta melancarkan serangan balasan.

Tidak sempat lagi untuk menghindar, dadanya dengan telak kena terhajar oleh tiga buah tendangan musuh.

Ia menjerit aneh, tubuhnya seketika mencelat sejauh dua tombak, setelah berjumpalitan beberapa kali di tengah udara, badannya terbanting jatuh ke atas tanah.

Oorchad segera mendongak dan tertawa terbahak-bahak. "Haaaah... haaaah... haaaah... setan cebol, akhirnya tetap akulah

yang menang!"

Tapi secara tiba-tiba wajahnya berubah hebat, ia menjerit kesakitan kemudian roboh terjungkal ke atas tanah.

Semua peristiwa ini berlangsung dalam sekejap mata, Chee Thian Gak tidak menyangka kejadian itu bisa berakhir demikian dan tak menyangka pula kalau si Dewa Cebol dari Thian Tok bakal keok di tangan Oorchad.

Diam-diam pikirnya dalam hati :

"Seandainya si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok tidak bersikap begitu jumawa serta menganggap kemenangan pasti berada di tangannya, dengan serangkaian ilmu pukulannya yang luar biasa tak nanti badannya bakal terhajar oleh tiga tendangan lawan... rupanya kata-kata pepatah yang mengatakan : menggunakan tentara tak boleh jumawa, benar-benar mempunyai arti yang tepat..."

Hong Teng serta Loe Peng yang mengikuti pula jalannya pertarungan itu mula-mula merasa tegang dan ngeri atas kehebatan kedua orang itu, tetapi setelah menyaksikan kedua orang itu sama- sama roboh terluka, tanpa terasa mereka saling berpandangan sambil tertawa getir. Tapi justru dalam pandangan itulah masing-masing pihak bisa memahami suara hati masing-masing dengan sendirinya permusuhan di antara mereka pun jauh lebih tawar.

Chee Thian Gak tarik napas dalam-dalam, ia melirik sekejap ke arah tubuh Dewa Cebol dari negeri Thian Tok yang melingkar di atas tanah bagaikan udang, setelah ragu-ragu sejenak akhirnya ia berjalan menghampiri diri Oorchad.

Dalam hati ia merasa senang dan simpatik terhadap lelaki jantan dari Mongolia yang jujur, polos serta tidak punya pikiran licik ini, maka ia tidak tega membiarkan orang semacam itu mati binasa karena persoalan yang sepele.

Baru saja ia tiba di sisi tubuh Oorchad dan belum sempat memeriksa keadaan lukanya, mendadak jago kosen dari Mongolia itu menggelinding ke samping lalu meloncat bangun, dengan mata melotot bulat ditatapnya wajah Chee Thian Gak tanpa berkedip, keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.

Chee Thian Gak tertegun menyaksikan sikap orang itu, segera tegurnya :

"Hey, kenapa kau melototi aku dengan wajah menyeramkan?"

Oorchad berteriak keras, darah segar muncrat keluar dari mulutnya, dengan suara yang parau teriaknya :

"Jangan dekati diriku!"

"Kenapa? Aku hendak memeriksa keadaan lukamu..."

Oorchad menghembuskan napas berat, mendadak ia jatuh terjengkang dan roboh kembali ke atas tanah, Chee Thian Gak mengira dia mati karena lukanya, buru-buru didekatinya tubuh orang itu dan diperiksa dengan seksama.

Dada Oorchad yang bidang dan kekar telah basah kuyup oleh darah segar, darah amis yang bercampur dengan keringat menimbulkan bau aneh yang menusuk penciuman, membuat Chee Thian Gak diam-diam mengerutkan dahinya. Tapi ia sempat mendengar dengan jelas detak jantung jago kosen itu, ia jadi lega dan segera memeriksa keadaan lukanya.

"Hati-hati belakang..." tiba-tiba terdengar Loe Peng berteriak keras.

Chee Thian Gak terperanjat, buru-buru badannya bergelindingan ke samping menghindar sejauh enam depa dari tempat semula, ketika ia melirik ke belakang terlihatlah si dewa cebol dari negeri Thian Tok dengan badan setengah telanjang sedang menubruk datang dengan hebatnya.

Di atas dadanya yang kerempeng terlihat beberapa batang tulang pay-kutnya yang ramping, mengikuti datangnya tubrukan tersebut dari balik celananya yang longgar kakek cebol itu mencabut keluar tiga batang pisau belati yang memancarkan cahaya keemas-emasan. 

Chee Thian Gak bersuit nyaring, sepasang lengannya segera diayun ke depan, dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh 'Kun lun Sam Sian' ia mencelat ke tengah udara kemudian meluncur tiga tombak jauhnya dari tempat semula.

Begitu sepasang kakinya mencapai permukaan tanah, kapak saktinya segera dicabut keluar dan siap-siap menghadapi sambitan pisau belati emas dari kakek cebol itu.

Tetapi si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok sama sekali tidak berbuat demikian, ia cuma menjerit aneh di tengah udara diikuti sepasang kakinya membalik keluar, tangan kanannya laksana kilat diayun dan menghunjamkan ketiga batang pisau belati itu ke dalam perut sendiri.

Peristiwa ini benar-benar aneh dan luar biasa membuat Chee Thian Gak jadi tertegun dan berdiri melongo, ia tak mengerti apa sebabnya pihak lawan bisa berbuat demikian.

Begitulah ketika badannya meluncur ke atas permukaan tanah dengan kepala di bawah kaki di atas, sepasang lengannya segera direntangkan, telapak kiri menancap di atas permukaan tanah sedang tangan kanannya dengan cepat meraba celananya lalu ditabokkan ke atas batok kepala sendiri.

Sekilas cahaya merah memancar ke empat penjuru, dari balik keningnya meloncat keluar sebutir zamrud merah delima, tangan kanannya segera menekan dada, telapak kiri menahan di tanah dan berdiri tegak dalam keadaan begitu.

Gerak-geriknya yang aneh ini membuat Chee Thian Gak yang menyaksikan dari samping jadi ngeri, bulu kuduknya pada bangun berdiri, ia sedang merasa heran mengapa si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok menusuk perutnya sendiri dengan pisau belati? Dan apa sebabnya dari perutnya sama sekali tidak mengucurkan darah...

Sementara ia sedang memikirkan persoalan itu, dada si kakek cebol itu sudah bergetar terus dengan hebatnya, dari tenggorokannya muncullah suara jeritan-jeritan aneh yang memekikkan telinga, membuat suara itu kedengaran amat mengerikan sekali di tengah malam buta itu.

Loe Peng jadi terperanjat, serunya :

"Hiiii... suaranya mirip sekali dengan jeritan kuntilanak yang sering disebut dalam kitab suci... sungguh membuat hati orang jadi bergidik..."

Hong Teng si naga hitam dari gurun pasir pun bergidik, ujarnya pula :

"Aku belum pernah membaca kitab suci, tapi keadaan seperti ini tiada berbeda jauh dengan suara memedi yang seringkali gentayangan di tengah gunung Tiang pek san di tengah malam buta..."

Belum habis dia berkata, mendadak terdengar suara gemuruh yang amat keras berkumandang dari kejauhan.

"Apa itu?" teriak Loe Peng terperanjat.

Di tengah kegelapan segera muncullah beberapa buah bayangan hitam yang tinggi besar bagaikan bukit.

"Aaaaah... gajah... dan gajah yang datang menyerang lagi," jerit Hong Teng dengan nada setengah menjerit. Sedikit pun tidak salah, dari balik pepohonan segera muncullah serombongan gajah-gajah yang besar dan mengerikan.

Bumi segera bergoncang, pohon sama bergoyang... seakan-akan terjadi gempa dahsyat membuat Chee Thian Gak tersadar dari lamunannya...

Ketika ia menjumpai di atas punggung gajah itu masing-masing duduk seorang India yang memakai kain putih, suatu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benaknya.

"Bila aku mundur selangkah ke belakang, niscaya Oorchad serta Hong Teng sekalian akan terinjak-injak oleh gajah itu hingga mati, akhirnya aku sendiri pun tak akan bisa menghindarkan diri dari kejaran gajah-gajah tersebut..."

Sinar matanya menyapu sekejap ke arah si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok yang sedang berjungkir balik di atas tanah, pikirnya lebih jauh :

"Mungkin karena ia melihat aku sukar dibunuh, maka dia hendak meminjam kekuatan gajah-gajahnya untuk menahan diriku, serta menghabiskan kekuatanku, agar ia dapat menyembuhkan lukanya dengan cara ilmu sakti ciri khas negerinya..."

Berpikir demikian, ia lantas membentak keras, kelima jarinya disentil ke depan, sekilas cahaya emas dengan cepat meluncur ke depan.

Dalam pada itu Pawang gajah yang sedang duduk di atas punggung gajah sambil memberi petunjuk kepada binatangnya untuk menerjang datang, sama sekali tak menyangka kalau secara tiba-tiba ia bakal diserang, belum habis ia berpikir keningnya sudah termakan oleh sebatang senjata rahasia naga emas.

Jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang di angkasa, tidak ampun lagi badannya roboh ke atas tanah.

Dengan gusar Chee Thian Gak mundur tiga langkah ke belakang, dengan jurus 'Si Yang Tang Seng' atau Sang Surya Terbit di Timur, ia lancarkan sebuah pukulan menyongsong datangnya gajah itu. Belalainya yang panjang diayun ke depan, sebelum gajah itu sempat menerjang ke hadapan Chee Thian Gak ia sudah terhantam telak oleh segulung angin puyuh yang maha dahsyat.

Pekikan panjang menggema di tengah hutan yang sunyi, seluruh tubuh sang gajah yang tinggi besar itu terpental ke angkasa, sepasang gadingnya yang tajam bagaikan tombak patah dari tempatnya semula dan meluncur ke tengah udara.

Chee Thian Gak membentak keras, sepasang telapaknya diayun ke muka dengan jurus 'Pa Ong Kie Tang' atau Raja ganas mengangkat hioloo ia tangkap sepasang kaki gajah itu, kakinya bergeser ke depan sambil memutar separuh badan bagian atasnya setengah lingkaran, dia lempar lagi gajah itu ke angkasa.

Bluuuum....! di tengah suara ledakan dahsyat bumi bergoncang keras, di tengah angkasa hanya terdengar suara pekikan si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok yang tinggi melengking dan aneh sekali. Chee Thian Gak menghembuskan napas panjang, baru saja ia beristirahat sejenak tiba-tiba dilihat dua ekor gajah bagaikan kalap telah menerjang lagi ke arahnya dengan hebat, di bawah sorotan cahaya rembulan yang redup, tampaklah terjangan kedua ekor gajah itu bagaikan dua bukit yang bergeser tiba, keadaannya sangat

mengerikan sekali.

Dalam pada itu Oorchad baru saja mendusin dari pingsannya, menyaksikan keadaan yang sangat mengerikan itu hatinya jadi terkesiap.

Tanpa sadar lagi, dengan suara setengah menjerit teriaknya keras- keras :

"Cepat menyingkir ke samping!"

Mendengar teriakan dari Oorchad, dalam hati Chee Thian Gak merasa amat girang sebab dari suara itu ia bisa mengetahui bahwa rekannya belum mati binasa.

Segera ditariknya napas dalam-dalam, ilmu sakti yang didapatkan dari kitab pusaka 'Ie Cin Keng' segera disalurkan ke dalam jurus ilmu Surya Kencananya yang amat lihay, sekujur tubuhnya kontan bergemerutukan keras, tubuhnya pun dalam sekejap mata mengembang lebih besar beberapa bagian dari keadaan semula.

Menyongsong kedatangan dua ekor gajah yang menerjang tiba bagaikan dua buah panser itu dengan wajah yang kalem dan tidak menunjukkan sedikit rasa gentar pun ia maju ke depan.

Suatu pikiran aneh secara mendadak muncul dalam hati sanubarinya, ia membatin :

"Ini hari aku akan menciptakan nama besar bagi Chee Thian Gak di atas permukaan bumi, agar orang-orang semua pada tahu bahwa Chee Thian Gak sanggup menghadapi terjangan lima ekor gajah sekaligus... perbuatanku ini berarti juga suatu percobaan bagi tenaga dalamku, seandainya aku dapat merobohkan ke-lima ekor gajah tadi, berarti pula aku masih sanggup untuk bertempur melawan tiga dewa dari luar lautan serta dua iblis dari samudra Seng Sut Hay... berarti pula kedudukanku jauh berada di atas jago-jago paling lihay di kolong langit..."

Ingatan tersebut hanya berkelebat dalam sekejap mata saja, bumi segera bergoncang keras, sapuan angin tajam menyesakkan napas, dua ekor gajah raksasa bagaikan sambaran geledek tahu-tahu sudah menerjang di hadapannya.

Dua buah belalai yang besar bagaikan batang pohon diiringi desiran tajam langsung membelit tubuh Chee Thian Gak.

Dengan gusar jago kita melototkan matanya bulat-bulat, sepasang telapak diputar hampir berbareng, kemudian melancarkan sebuah pukulan yang maha hebat, di mana pergelangannya berputar dua buah belalai gajah yang panjang dan besar itu tahu-tahu sudah berhasil dicengkeramnya.

Sebuah bentakan dahsyat laksana guntur membelah bumi bergeletar di udara, tenaga dorongan dua ekor gajah yang sedang menerjang ke arah Chee Thian Gak itu berhasil digunakan jago kita dengan tepat dan sempurna, bukan jago itu yang berhasil dipelintir sebaliknya tubuh gajah-gajah itulah yang sudah mencelat ke angkasa. Dua orang pawang gajah yang duduk di atas punggung gajah itu segera menjerit keras, badan mereka terperosot dari atas punggung binatang itu, cepat-cepat dipeluknya telinga gajah tadi kencang- kencang lalu bungkukkan badannya dengan rasa ketakutan, mereka

tak berani berkutik lagi.

Dari balik mata Chee Thian Gak memancar keluar sorot mata yang menggidikkan, sepasang lengannya digetarkan, badan bergeser setengah langkah ke samping kemudian dengan sekuat tenaga dihentaknya ke belakang.

Getaran keras yang menggoncangkan seluruh permukaan bumi berkumandang dari balik reruntuhan pohon yang ada di arah belakang, pasir dan debu beterbangan memenuhi seluruh lingkungan di sekeliling tempat itu, cuaca jadi suram dan gelap... udara penuh dengan tekanan...

Tatkala pasir dan debut telah berjatuhan di atas bumi, dan suara hiruk-pikuk telah mereda... suasana berubah jadi sunyi senyap... yang terdengar hanya dengusan napas yang memburu... berat... dan kasar... Oorchad dengan badan menggigil karena kagum bercampur kaget, lambat-lambat bangkit berdiri dari atas tanah, sorot matanya penuh memancarkan rasa kagum, gumamnya seorang diri dengan

suara lirih :

"Luar biasa... luar biasa... hanya dialah yang pantas disebut manusia paling jempolan di kolong langit..."

Si Naga hitam dari gurun Pasir dengan mata terbelalak, wajah terkesiap serta mulut melongo menatap Chee Thian Gak yang tinggi kekar tanpa berkedip, dalam hati kecilnya ia merasa benar-benar takluk... dalam keadaan begini ia sudah mulai merasa sangsi... Chee Thian Gak pasti bukan manusia... dia pasti seorang dewa.

Karena manusia biasa tak mungkin bisa memiliki tenaga sakti demikian dahsyatnya secara beruntun bisa melemparkan tubuh lima ekor gajah ke atas udara, perbuatan ini tak mungkin bisa dilakukan oleh seorang manusia yang terdiri dari darah dan daging... tidak mungkin seorang manusia dapat mengangkat tubuh seekor gajah...

Bibirnya gemetar keras... lama... lama sekali ia berbisik lirih : "Tidak mungkin... hal ini tidak mungkin terjadi... tidak

mungkin..."

Ketika sorot matanya dialihkan ke arah Dewa Cebol dari Negeri Thian Tok yang berdiri dengan jungkir balik itu, kembali ia berseru tertahan.

Di bawah sorot cahaya rembulan tampaklah tubuh Dewa Cebol yang berdiri dengan sikap jungkir balik seolah-olah seekor laba-laba yang berada di sebuah sarang tanpa berwarna, tubuhnya berada di tengah udara... bergoyang mengikuti hembusan angin...

Seluruh tubuhnya melingkar jadi satu, di atas dadanya menancap tiga bilah pisau belati... keadaan orang itu aneh dan menggidikkan membuat barangsiapa pun yang melihat ikut merasa ngeri...

"Omihtohud!" pujian panjang meluncur dari bibir Loe Peng yang selama ini membungkam.

Pujian yang panjang, rendah dan berat itu bergema tiada hentinya di tengah kesunyian malam yang mencekam,suara pantulan mendatangkan rasa agung... serius dan kewibawaan... dan mengetuk hati sanubari setiap orang yang ada di sana.

Hong Teng si naga hitam dari gurun pasir merasakan lenyapnya rasa takut dan ngeri yang semula mencekam hatinya, kini ia merasa hatinya tenang kembali...

Dengan rasa tercengang dan tidak habis mengerti segera tegurnya

:

"Hey Hweesio gadungan, pujianmu barusan sungguh aneh sekali

kedengarannya, aku rasa suara itu jauh lebih mantap dan serius daripada pujian dari hweesio-hweesio sungguhan..."

"Pelajaran itu khusus diturunkan suhu kepadaku, bilamana setiap kali menjumpai peristiwa yang mengerikan atau tempat angker yang harus kulewati di tengah malam buta maka aku segera berseru memuji dengan salurkan hawa lweekang yang kumiliki... " jawab si Pendekar bertenaga sakti dengan bangga.

Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia merandek sejenak lalu membentak keras :

"Apa? Kau mengatakan aku si Hweesio gadungan?"

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... salahnya kalau kusebut dirimu sebagai hweesio gadungan? Bukankah kau boleh panggil aku seorang liar atau panggilan yang lain... kita toh boleh panggil pihak yang lain dengan sebutan apa pun..."

"Aaaach betul... betul... " dari gusar Loe Peng si pendekar bertenaga sakti pun berubah jadi girang. "Begitu baru dikatakan adil... pokoknya kita berdua tak boleh saling merugikan..."

Tanya jawab dari dua orang kasar ini benar-benar menggelikan hati, sampai Oorchad si Sinkoen bertenaga sakti pun tak dapat menahan rasa gelinya hingga tertawa terbahak-bahak.

Belum sempat dia mengutarakan sesuatu, tampaklah Chee Thian Gak dengan senjata terhunus sedang memperhatikan si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok yang ada di tengah udara tanpa berkedip.

Ia segera menghembuskan napas panjang, hardiknya dengan suara rendah :

"Kalian tutup mulut semua!"

"Nenek..." maki Loe Peng si pendekar bertenaga sakti dengan mata melotot, tapi sewaktu teringat kehebatan Oorchad di kala beradu enam buah pukulan dengan Chee Thian Gak tadi, ia segera merandek dan berkata:

"Kau bilang apa?"

"Bangsat gede, kau bilang apa barusan?" gembor Oorchad marah, ia maju satu langkah ke depan dan lanjutnya, "coba ulangi sekali lagi!"

Bibir Loe Peng gemetar, perlahan kemudian tarik napas dalam- dalam dan bangkit berdiri. "Neneknya... bilang yaah bilang, kau anggap aku jeri terhadap dirimu?... makanya..."

Oorchad naik pitam, tanpa mempedulikan apakah luka dalamnya telah sembuh atau belum ia maju ke depan sambil ayun lengannya mengirim satu bogem mentah, arah yang dituju adalah tubuh Loe Peng sementara angin pukulan menderu-deru dengan hebatnya.

Menyaksikan datangnya ancaman, tergopoh-gopoh Loe Peng mengerahkan hawa murninya, sekalipun ia merasa bahwa tenaga lweekangnya baru pulih tidak sampai lima bagian tetapi berhadapan dengan Oorchad tak bisa tidak ia harus maju memapaki dengan keras lawan keras.

Sambil membentak keras, segenap tenaga kekuatan yang dimilikinya disalurkan ke luar kemudian sambil merangkap telapak tangannya ia sambut datangnya ancaman itu.

Blaaam...! di tengah bentrokan dahsyat Loe Peng terpukul mundur sejauh tiga langkah, tidak ampun lagi pantatnya langsung mencium bumi.

"Hey Hweesio gadungan, jangan takut, aku membantu dirimu!" teriak Hong Teng si Naga Hitam dari Gurun Pasir dengan suara keras. Secara beruntun badannya maju tiga langkah ke depan, mengirimkan pukulan kemari menerbitkan deruan angin puyuh yang maha hebat, dengan gagah beraninya ia menyerang diri Oorchad

habis-habisan.

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... aku lihat alangkah baiknya kalau kalian dua orang keparat cilik maju serentak!" ejek Oorchad sambil tertawa terbahak-bahak.

Seraya berkata telapak kirinya direntangkan ke samping menyambar lengan Hong Teng sementara lengan kanannya menebuk ke atas, sikutnya ambil peranan dengan menyodok iga kanan musuh. Duuuk...! Hong Teng menjerit kesakitan, seluruh tubuhnya terangkat oleh sapuan Oorchad, kemudian setelah berjumpalitan sejauh delapan depa di angkasa badannya terbanting di atas tanah keras-keras.

Dengan bangga Oorchad pentang mulutnya yang lebar dan tertawa terbahak-bahak, tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia putar badan menghampiri si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok.

Tapi... baru saja ia melangkah maju dua tindak, mendadak dari arah belakang tubuhnya berkumandang datang suara bentakan dahsyat yang memekikkan telinga, bentakan itu bagaikan seruan pujian kepada Buddha yang dipancarkan dari atas langit, membawa gelombang pantulan yang tajam menerjang ke dalam lubuk hatinya.

Jantungnya berdetak keras sekujur badan gemetar hebat, sementara dia masih berdiri dengan hati sangsi, terlihatlah tubuh Chee Thian Gak berjumpalitan di angkasa seakan-akan malaikat yang baru turun dari kahyangan, kapaknya langsung dibacokkan ke atas tubuh lawan.

si Dewa Cebol dari Negeri Thian Tok menjerit aneh, badannya berjumpalitan berulang kali di tengah udara sehingga menyingkir sejauh dua tombak dari tempat semula, sorban putih yang dikenakan pada kepalanya terlepas hingga sebutir zamrud merah delima yang semula berada di atas sorban mencelat ke tengah udara.

Chee Thian Gak ayun tangan kirinya menyambut batu Zamrud merah delima yang mencelat di angkasa itu, kemudian sambil tertawa dingin ujarnya :

"Hmm...! tak nyana seorang maha guru ilmu silat yang katanya luar biasa masih juga menggunakan ilmu hipnotis dari kepandaian Yoga aliran negeri Thian Tok untuk berjual lagak di hadapan orang Tionggoan, apakah kau sendiri tidak merasa malu dan menyesal??..." Rambut si Dewa Cebol yang tadinya terbungkus sorban kini terurai di atas pundak si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok yang kasar, dari balik matanya memancar keluar sorot cahaya yang amat

buas, setelah termenung beberapa saat lamanya dia baru menyebut : "Hmmm! seandainya keparat jahanam itu tidak memiliki kepandaian 'Auman Singa' dari kalangan Buddha yang maha sakti, tidak nanti kau berhasil memecahkan ilmu laba-laba sakti iblis langit 'Mo Thian Sin Coa'ku yang maha dahsyat ini."

"Ooooh, ternyata dugaanku tidak meleset," pikir Chee Thian Gak di dalam hati, "semula aku masih mengira secara tiba-tiba aku berhasil memusatkan segenap perhatianku dan memecahkan tipuan ilmu Hipnotis yang telah membohongi pandangan mataku itu, tak tahunya Auman singa dari si pendekar bertenaga saktilah yang telah membantu aku!"

Berpikir begitu, ia lantas berpaling sambil serunya :

"Loe heng, terima kasih atas bantuanmu dari samping kalangan!"

Mula-mula Loe Peng rada melengak, tapi dengan cepat ia sudah tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... kepandaian sakti Chee heng tiada tandingannya di kolong langit, tak mungkin kau bisa jeri terhadap kakek cebol celaka itu. Auman siauw te barusan hanya cahaya kunang-kunang di malam hari saja... haaah... haaaah... tidak berharga untuk dibicarakan, tak berharga untuk dibicarakan!"

"Tak berharga nenek moyangmu!" maki Oorchad dengan mata melotot. "Hey monyet cilik, lagakmu sekarang seolah-olah kepandaianmu itu betul-betul luar biasa... Hmmm, andaikata aku tidak memandang di atas wajah Chee heng, sedari tadi aku sudah kasih hadiah sebuah bantingan gulat...!"

Sementara itu Loe Peng si pendekar bertenaga sakti sedang merasa bangga atas bantuan yang dia berikan barusan, mendengar sindiran dari Oorchad tersebut seketika ia merasakan kepalanya bagaikan diguyur dengan sebaskom air dingin, saking mendongkolnya dia sampai mencak-mencak.

"Kau si manusia liar dari Mongolia. Hmm! andaikata pun Siaoi tidak memandang di atas wajah Chee heng, dari tadi pula sudah kusuruh kau merasakan sebuah kemplangan toya tembagaku sehingga sukmamu mendapat tempat untuk berjumpa dengan Raja Akhirat!"

Chee Thian Gak yang mendengar percekcokan itu diam-diam segera kerutkan alisnya, ia berpikir :

"Meskipun usiaku masih muda, tetapi belum pernah kujumpai manusia-manusia tolol semacam mereka. Kenapa sih pada malam ini sekaligus aku telah berjumpa dengan tiga orang jago lihay dari dunia persilatan namun ketiga-tiganya adalah manusia tolol! Aaaaai, kalau mereka bertiga harus berkumpul jadi satu, dunia persilatan tentu akan kacau balau tidak karuan."

Begitu ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, ia lantas berteriak dengan suara keras,

"Aku minta kalian berdua dengan memandang di atas wajahku untuk sementara waktu suka menunda dahulu percekcokan itu, berilah kesempatan bagiku untuk menghadapi si setan hitam itu!"

Dalam pada itu bibir si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok berkemak kemik terus tiada hentinya, sang badan bagaikan gangsingan berputar terus dengan gencarnya, tiba-tiba tiga bilah pisau emas yang menancap di atas lambungnya dengan membawa tiga rentetan semburan darah memancar ke tengah angkasa dan langsung mengancam tubuh Chee Thian Gak.

Bayangan darah memenuhi angkasa, desiran tajam menggidikkan hati, Chee Thian Gak tarik napas panjang-panjang, lalu bersuit nyaring, kapak saktinya segera dibabatkan ke tengah angkasa dengan menciptakan diri jadi selapis cahaya tajam.

Criiit...! Criiiit...! diiringi desiran tajam, badan si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok menerjang masuk ke balik bayangan darah itu. Chee Thian Gak segera merasakan datangnya ancaman berjuta-

juta batang pedang, bayangan darah bagaikan titiran air hujan serta segulung tenaga tekanan yang maha berat memancar masuk dari empat penjuru, sekeliling tempat itu seakan-akan terkepung rapat tiada peluang baginya untuk menghindarkan diri. Hatinya bergidik, telapak kirinya buru-buru ditekan dan dimuntahkan keluar, mengirim satu babatan angin pukulan yang sangat tajam, sementara kapak sakti di tangan kanannya diayun ke muka dengan memakai jurus serangan 'Kay Thiang Kioe Si' atau sembilan jurus pembelah langit.

Gulungan angin puyuh meluncur keluar, udara segera dipenuhi oleh bau sengit yang menusuk hidung, sambil merendahkan tubuhnya si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok meloncat ke depan, dengan demikian persis sekali ia menyambut kedatangan angin pukulan yang dilancarkan dengan memakai ilmu sakti Surya Kencana.

Kakek cebol itu jadi gugup, tergesa-gesa ia dorong lengannya ke muka untuk membendung pukulan itu, segenap kekuatan yang dimilikinya telah digunakan dalam pukul tersebut...

Blaaaaam...! di tengah suara ledakan keras, sekujur badan si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok gemetar keras, darah segar muncrat keluar dari mulutnya, wajah yang hitam pekat kini berubah jadi merah padam bagaikan babi panggang...

Sementara itu Chee Thian Gak sudah siap melancarkan jurus yang ke-empat, tiba-tiba ia merasa mengendornya daya tekanan dari luar, bayangan darah berhamburan ke atas tanah, tiga bilah pisau emas tahu-tahu sudah termakan oleh kapak sakti dan patah jadi beberapa bagian.

Kutungan senjata tersebar di atas tanah, cahaya emas lenyap dari pandangan, dengan jelas Chee Thian Gak dapat menyaksikan wajah si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok yang sedang menahan sakit, ia ragu-ragu sejenak, kemudian sambil mengayunkan kapaknya ke depan ia berseru :

"Aku tak boleh membiarkan kau hidup lebih jauh di kolong langit sehingga ilmu 'Hie Yan Kim To' atau Cahaya darah golok emas dari perkumpulan Mo-kauw merajalela di dunia persilatan."

Babatan kapak meluncur bagaikan desiran angin tajam, si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok hanya merasakan berkelebat cahaya tajam, tak sempat lagi baginya untuk berkelit, di tengah jeritan ngeri yang menyayatkan hati, sebuah lengan kanannya tahu-tahu sudah putus sebatas siku.

Sorot mata tajam memancar keluar dari balik mata Chee Thian Gak, ia maju selangkah ke depan, telapaknya dibalik dan kembali melancarkan sebuah babatan kilat, rupanya ia hendak membinasakan kakek cebol itu pada detik ini juga.

Mendadak...

Serentetan cahaya pedang yang amat menyilaukan mata berkelebat lewat, disusul suara bentakan seseorang berkumandang datang :

"Berilah belas kasihan di ujung kapakmu!"

Chee Thian Gak mendengus dingin, kapak hitam yang mantap dan berat itu memancar keluar sekilas cahaya yang lembut, mendadak membabat dari arah kanan sementara kakinya melancarkan satu tendangan dahsyat.

Traaaang...! pedang yang membabat datang seketika terpental dari sasaran.

Sedangkan tendangan yang dilancarkan dengan sepenuh tenaga itu dengan telak bersarang di atas lambung si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok, membuat pihak lawan terpental sejauh tiga tombak dari tempat semula dan terbanting di dalam reruntuhan bambu.

Dari tengah udara berkumandang tiba suara kencringan yang nyaring diikuti suara irama khiem pun menggema di angkasa.

Seolah-olah dua batang batu cadas yang menghantam dadanya, seluruh tubuh jago kita tergetar keras, hampir-hampir saja ia muntahkan darah segar...

Buru-buru ia bergeser mundur lima depa dari tempat semula, kapaknya disilangkan di depan dada melindungi badan sedang matanya dengan tajam mengawasi ke muka. Tampaklah Hoa Pek Tuo smbil mencekal pedang sakti penghancur Sang surya miliknya sedang memandang dirinya dengan cahaya mata tertegun.

Tiga sosok bayangan hitam meluncur datang dengan cepatnya, gelak tertawa nyaring bergema memecahkan kesunyian.

Menyaksikan kedatangan beberapa orang itu, air muka Chee Thian Gak berubah hebat.

"Aaaaah, Ciak Kak Sin Mo suami istri pun ikut datang?" Dengan sikap tertegun Hoa Pek Tuo mengawasi wajah Chee

Thian Gak tak berkedip, sorot mata ragu-ragu jelas terpancar keluar dari balik matanya, sedang dalam hati ia berpikir :

"Siapakah orang ini? Betapa dahsyatnya kepandaian silat yang dia miliki, bukan saja si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok tak sanggup mengapa-apakan dirinya malahan dialah yang justru menderita kalah. Jangan-jangan dia adalah orang yang pernah mendatangi perkampungan Thay Bie San cung tempo dulu..."

Sebaliknya Chee Thian Gak sendiri sambil memandang pedang sakti penghancur sang surya berada di tangan lawan, dalam hati kecilnya segera timbul perasaan sedih yang tak terkira, suatu perasaan aneh bagaikan gulungan ombak menghantam lubuk hatinya.

Terdengar Ciak Kak Sin Mo Kong Yo Leng tertawa tergelak dengan nada yang aneh, kemudian serunya :

"Sungguh tak nyana di kolong langit masih terdapat jagoan lihay yang sanggup mengalahkan si Dewa Cebol dari Negeri Thian Tok, tolong tanya siapakah nama besarmu?"

"Cayhe adalah Pendekar Jantan Berkapak Sakti Chee Thian Gak."

"Chee Thian Gak?" seru Kong Yo Leng si iblis sakti berkaki telanjang dengan nada tercengang. "Dengan kepandaian silatmu yang begitu luar biasa dan dahsyatnya kenapa tidak pernah kudengar nama besarmu disebut orang dalam dunia persilatan?" Ia berpikir sebentar, kemudian sambil berpaling ke arah Hoa Pek Tuo tanyanya lebih jauh.

"Hoa loo, pernah kau mendengar nama besar dari si Pendekar Jantan Berkapak Sakti Chee heng?"

Air muka Hoa Pek Tuo berubah hebat.

"Apakah kau adalah murid dari Thian Liong Toa Lhama si Pendekar Jantan Berkapak Sakti..."

Chee Thian Gak tidak langsung menjawab, sebaliknya dalam hati kecilnya diam-diam merasa geli, ia teringat kembali perbuatannya yang telah menipu Hoa Pek Tuo dengan pelbagai macam logat di bawah perlindungan asap hitam yang tebal, sehingga kakek tua itu mengira Thian Liong Toa Lhama telah berkunjung diikuti para muridnya, di mana bukan saja kakek she Hoa telah dibikin kalang kabut bahkan dia pun memperoleh kesempatan untuk melarikan diri.

Maka ia lantas mengangguk.

"Sedikit pun tidak salah, cayhe adalah anak murid dari Thian Liong Toa Lhama!" sinar matanya berputar, lalu terusnya, "setengah bulan berselang cayhe dengan mengikuti guru pernah berkunjung ke perkampungan anda untuk menolong Pek In Hoei, apakah Hoa Loo sianseng telah melupakan peristiwa ini?"

Hoa Pek Tuo berseru tertahan, kemudian teriaknya :

"Jadi hari itu kalian benar-benar telah datang berkunjung ke dalam perkampunganku? Sampai sekarang Loohu masih mengira kejadian itu adalah perbuatan dari Pek In Hoei yang sengaja hendak menipu aku, sungguh tak nyana..."

Chee Thian Gak mendengus dingin, pikirnya dalam hati : "Hmmmm, tak akan kau sangka bahwa aku Chee Thian Gak

bukan lain adalah Pek In Hoei, sedang si pjbk tidak lain adalah jelmaan dari si Pendekar Pedang Berdarah Dingin!"

Biji matanya berputar, kemudian ujarnya :

"Hey orang she Hoa, saat ini Pek In Hoei berada di mana? Suhu telah berpesan kepada cayhe untuk mencarinya hingga ketemu..." "Entah ada urusan apa Thian Liong Toa Lhama hendak mencari diri Pek In Hoei?"

Chee Thian Gak tertawa dingin.

"Manusia tolol, tua bangka sialan. Pek In Hoei adalah seorang perwira kelas satu dari istana kaisar, andaikata kau telah membinasakan dirinya... Hmmm! tunggu saja jago-jago lihay dari istana Kaisar pasti akan mencari balas dengan dirimu. Hmmm, akan kulihat kau hendak melarikan diri kemana?"

Hoa Pek Tuo langsung naik pitam, hawa amarahnya berkobar di dalam dada, ia teringat kembali, tatkala Chee Thian Gak masih berada di dalam perkampungan Thay Bie San cung tempo dulu ia pun pernah memaki dirinya si telur busuk tua, dengan kegusaran yang memuncak segera makinya :

"Manusia rendah yang tak tahu diri, kau berani..."

"Kakek tua celaka!" tiba-tiba Oorchad si Sinkoen bertenaga sakti menukas dengan nada gusar, "kau berani memaki si jago bertenaga sakti yang paling kosen di kolong langit sebagai manusia rendah yang tak tahu diri?..."

"Siapa kau?"

"Haaaah... haaaah... haaaah... pun sinkoen adalah Oorchad kepala suku di Mongolia, telur busuk tua siapa kau?"

"Apa?" dengan hati terperanjat Hoa Pek Tuo menjerit keras, "kau adalah si Sinkoen bertenaga sakti??"

Beberapa saat ia termenung, kemudian baru lanjutnya :

"Loohu bukan lain adalah si Tabib sakti dari daratan Tionggoan Hoa Pek Tuo adanya."

Oorchad melengak lalu tertawa tergelak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... aku memang terlalu sering menimbulkan kesalahpahaman dengan orang lain. Hoa Loo-heng! harap kau suka maafkan diriku yang salah ngomong."

Ciak Kak Sin Mo si iblis berkaki telanjang pun ikut tertawa terbahak-bahak. "Haaaah... haaaah... haaaah... air bah telah menghancurkan kuil si Raja Naga, ternyata kita semua adalah orang asal satu keluarga, Sin- koen jauh-jauh datang ke daratan Tionggoan selama perjalanan tentu lelah sekali bukan... aaaah, bilamana kami tidak menyambut dari jauh, harap kau suka memaafkan..."