Imam Tanpa Bayangan I Jilid 03

 
Jilid 03

SAAT ITULAH... tiba-tiba dari balik pepohonan yang rindang menerjang keluar seekor makhluk yang tinggi besar.

Makhluk itu mempunyai empat buah kaki yang ramping dan panjang, lehernya tinggi, badannya lebar, pada punggungnya terdapat dua gundukan bukit kecil... saat itu seakan-akan sedang mengejar sesuatu, dengan hebat dan cepatnya sedang menerjang datang.

Selama hidup belum pernah Loe Peng menjumpai makhluk aneh semacam ini, menyaksikan binatang itu menerjang ke arahnya buru- buru ia pejamkan matanya rapat-rapat.

Hong Teng sendiri, walaupun dilahirkan di daerah Hek Liong Kang namun disebabkan ia tumbuh jadi dewasa di sekitar daerah gurun pasir maka sering kali ia jumpai makhluk aneh yang dikenal olehnya sebagai binatang unta itu.

Walaupun begitu, sewaktu dilihatnya binatang itu sedang berlari kencang menerjang ke arahnya, dengan hati bergidik ia lantas berpikir

:

"Sungguh tak nyana aku Hong Teng yang sudah lama malang melintang dalam dunia persilatan akhirnya harus mati terinjak-injak oleh unta tanpa ada sedikit tenaga pun untuk melawan..."

Belum habis dia berpikir, dari tengah hutan kembali meluncur datang tiga ekor unta yang tinggi dan besar...

Punahlah harapan jago lihay dari gurun pasir ini untuk melanjutkan hidup, seperti halnya dengan Loe Peng, ia tahu hanya bisa pasrah dan pejamkan matanya rapat-rapat. Di saat yang amat kritis dan berbahaya itulah... tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring berkumandang di tengah angkasa.

Dengan hati kaget dan terkesiap buka matanya, tampaklah seorang lelaki kekar berjubah merah, berambut kusut dan mencekal sebuah kapak sedang melancarkan satu babatan kilat ke arah unta yang sedang menerjang datang itu.

Cahaya hitam tampak berkelebat lewat, unta yang menerjang paling depan segera menjerit ngeri, di tengah muncratan darah segar binatang itu roboh binasa di atas tanah.

Hong Teng tak menyangka di saat jiwanya terancam bahaya, seseorang telah muncul dan menolong dirinya, seluruh perhatian dan semangatnya segera dikumpulkan kembali untuk memperhatikan gerak-gerik manusia aneh berjubah merah itu lebih jauh.

Sambil mencekal kapak pembelah langit, Chee Thian Gak berdiri kaku di tengah kalangan, dengan wajah tenang ia siap menghadapi serbuan dari unta-unta berikutnya.

Kapaknya kembali diayun... darah segar muncrat ke empat penjuru, unta kedua roboh binasa.

Derap kaki bergetar membelah angkasa, seolah-olah barisan kuda yang banyak jumlahnya sedang menerjang ke arahnya, Chee Thian Gak membentak keras, dengan jurus 'Boan Ku Kay Thian' atau Boan Ku membuka langit ia ayunkan kapaknya ke depan.

Cahaya tajam berkilauan memenuhi angkasa, tiga ekor unta berikutnya sama-sama menjerit keras kemudian roboh di hadapannya bagaikan sebuah bukit kecil.

Chee Thian Gak tidak memandang untuk kedua kalinya, sehabis membinasakan binatang-binatang itu dengan langkah lebar ia lewati tumpukan bangkai unta-unta itu dan menghadapi serangan berikutnya.

Menanti jurus ke-tujuh dari Sembilan kapak pembelah langit telah digunakan, secara beruntun dia telah membinasakan sembilan ekor unta. Loe Peng si pendekar bertenaga sakti yang menyaksikan kejadian itu dengan mata kepala sendiri, diam-diam merasa terperanjat bercampur kagum, gumamnya :

"Tak nyana di kolong langit ini masih juga terdapat manusia yang bertenaga sakti sebagai itu..."

Mendengar gumaman itu, Hong Teng si naga hitam dari gurun pasir segera berpaling.

"Kau sudah menyaksikan kehebatan dari manusia aneh berjubah merah itu?..."

Dengan mulut membungkam Loe Peng mengangguk.

"Kau adalah orang yang berasal dari daratan Tionggoan," kata Hong Teng kembali, "tahukah kau siapakah dia?"

Loe Peng menggeleng.

"Belum pernah kudengar di daratan Tionggoan terdapat manusia yang menggunakan kapak sebagai senjata andalannya, dan tak pernah kudengar ada jago lihay dengan dandanan begitu..."

Dengan nada tercengang tiba-tiba tanyanya :

"Mungkin dia datang dari luar perbatasan, apa kau kenal dengan orang itu?"

"Aku cuma pernah mendengar orang berkata di Mongolia terdapat sinkoen bertenaga raksasa, di samping itu..."

Bicara sampai disini mendadak dia merandek, sebab secara mendadak dirasakannya senjata patung tembaga yang dicekal dalam genggaman telah jatuh ke atas tanah.

Demikian juga halnya dengan Loe Peng tahu-tahu ia menyaksikan senjata toyanya sudah terjatuh ke atas tanah.

Rupanya karena tegang menghadapi serbuan rombongan unta tadi maka tanpa terasa masing-masing pihak sudah mengendorkan tenaga serangannya sehingga lama kelamaan ingatan kedua belah pihak untuk adu jiwa pun semakin hilang dari benak mereka, ketika tenaga kendoran masing-masing pihak sudah mencapai pada satu titik, maka tanpa menimbulkan luka bagi pihak lawan senjata masing- masing terlepas dari genggaman.

Dalam pada itu Loe Peng sudah berjongkok hendak mengambil kembali senjata toyanya.

"Bagaimana? pertarungan ini mau diteruskan?" bentak Hong Teng dengan mata melotot.

Sambil berkata ia pun segera berjongkok hendak mengambil kembali senjata patung tembaganya, apa daya sekalipun senjatanya sudah dipegang namun tiada tenaga untuk mengangkatnya, seakan- akan segenap kekuatan yang dimilikinya sudah buyar sama sekali.

Ketika ia berpaling ke arah lawan, ternyata keadaan Loe Peng pun tidak jauh berbeda, dalam keadaan begini mereka hanya bisa saling berpandangan sambil tertawa getir.

Lama sekali kedua orang itu saling berpandangan, akhirnya masing-masing pejamkan matanya untuk mengatur pernapasan.

Dalam pada itu Chee Thian Gak telah selesai membereskan ke- sembilan ekor unta tadi, dengan kapak pembelah langit terselip di pinggang ia dekati kedua orang itu dengan senyuman di kulum.

"Rasanya belum pernah mereka bayangkan kalau pada suatu hari mereka akan menjumpai keadaan yang serba kikuk macam begini," pikirnya. "Entah bagaimana perasaan mereka di kala saling berpandangan tadi?"

Tapi ingatan tersebut hanya sebentar saja berkelebat dalam benaknya, sebab ia lantas menyadari bahwa kedua orang itu berada dalam keadaan luka.

Dengan sebelah tangan menjepit Hong Teng dan tangan yang lain menjepit Loe Peng, sekali betot ia tarik kedua orang itu dari atas tanah.

"Terima kasih atas bantuanmu..." bisik Loe Peng sambil buka matanya memandang sekejap ke arah Chee Thian Gak lalu anggukkan kepalanya lirih.

Sedangkan Hong Teng sambil menghela napas ujarnya : "Sepanjang hidup belum pernah aku berhutang budi dengan siapa pun, setelah jiwaku kau tolong pada malam ini, selama aku masih hidup budi ini tak akan kulupakan..."

Sinar matanya dialihkan sekejap ke arah wajah Chee Thian Gak, memandang rambut serta jenggotnya yang kasar dan lebat, serunya lagi sambil tertawa tergelak.

"Keadaanmu tidak jauh berbeda dengan keadaanku..."

Mendadak... suara jeritan aneh yang tinggi dan panjang berkumandang datang dari balik hutan disusul bumi bergoncang keras, seekor binatang yang luar biasa besarnya menerjang keluar dari balik pepohonan, melalui tumpukan bangkai unta dan menerjang ke arah beberapa orang itu.

Melihat binatang raksasa itu mempunyai dua buah taring yang panjang serta belalai yang panjang, dengan hati kaget bercampur terkesiap Loe Peng menjerit :

"Aaaaah, gajah raksasa!"

Chee Thian Gak bertindak sebat, sekali dorong ia pentalkan tubuh kedua orang itu ke samping, kemudian sekali putar badan ia berjumpalitan menyongsong kedatangan binatang tersebut.

Dengan gerakan yang dahsyat gajah tersebut menerjang datang, jarak mereka kian lama kian dekat sehingga akhirnya tinggal enam depa saja...

Dalam jarak yang sedemikian dekatnya tak mungkin lagi bagi Chee Thian Gak untuk mencabut keluar senjata kapak yang terselip pada pinggangnya, sebaliknya kalau ia menghindarkan diri dari terjangan dahsyat binatang itu niscaya Hong Teng serta Loe Peng yang ada di belakangnya bakal terpijak-pijak sampai hancur.

Tiada lagi kesempatan lain baginya untuk berpikir lebih jauh, sambil mendengus berat telapaknya segera diputar setengah lingkaran di depan dada kemudian dengan dahsyatnya didorong ke depan. Braaak...! angin pukulan tersebut dengan telak menghantam batok kepala gajah itu membuat taring gadingnya tersapu miring dan gerakannya yang sedang menerjang datang pun tertahan untuk sesaat. Gajah raksasa itu menjerit panjang, kaki bagian depannya tiba-

tiba diangkat ke atas kemudian bagaikan dua batang pohon besar serentak diinjakkan ke atas kepala Chee Thian Gak.

Lelaki aneh berjubah merah ini tidak jadi gugup, badannya mengigos ke samping, tangan kanannya langsung menyambar salah satu kaki gajah yang sedang diangkat ke atas itu, di tengah bentakan keras di angkat seluruh tubuh gajah tadi kemudian melemparkannya ke arah belakang.

Bluuuum...! getaran dahsyat bagaikan ketimpa gempa menggetarkan seluruh bumi, batang bambu pada roboh ke samping, di mana gajah itu terbanting segera muncul sebuah liang yang sangat besar.

Hong Teng si naga hitam dari gurun pasir adalah seorang jagoan yang mempunyai tenaga sakti, meskipun ia pernah menghancurkan dua ekor harimau sekaligus di atas gunung Tiang Pek san dan membinasakan seekor ular naga yang besar di sungai Hek Liong Kang, tapi belum pernah ia saksikan ada orang bisa membanting gajah yang demikian besarnya setelah membunuh sembilan ekor unta.

Hatinya kontan bergidik, dengan pandangan kagum bercampur kaget ia berdiri melongo di tempat semula.

Sebaliknya Loe Peng si pendekar bertenaga sakti dengan hati kagum bercampur terkejut segera berseru :

"Omihtohud! kalau ia tak memiliki tenaga sakti sebesar laksa kati, tak nanti gajah tersebut dapat dia angkat..."

Sementara kedua orang itu masih dibikin menjublak dengan peristiwa yang baru saja terjadi, mendadak terdengar jeritan panjang lagi berkumandang datang, kembali seekor gajah besar menerjang datang dengan hebatnya. Chee Thian Gak sama sekali tidak menggubris atas datangnya terjangan itu, ia tetap berlutut di atas tanah dengan sikap tenang.

Menanti gajah tadi hampir tiba di hadapannya, Chee Thian Gak baru meloncat bangun, telapak kirinya diayun ke muka... Duuuuk! sebatang taring gading gajah itu dihantam hingga patah, menggunakan kesempatan di kala binatang tersebut sedang meronta gusar, kaki kanannya maju ke depan, tangannya laksana kilat menghambur belalai yang sedang menyapu tiba.

Terdengar ia membentak keras, meminjam tenaga terjangan gajah itu mendadak ia angkat tubuh binatang tersebut dan kemudian membantingnya ke belakang.

Semua gerakan ini dilakukan dalam waktu yang amat singkat, sementara bentakan Chee Thian Gak belum reda, tubuh sang gajah yang tinggi besar tadi sudah terlempar ke udara dan jatuh kurang lebih dua tombak di hadapannya.

Blummmm... sekali lagi bumi bergetar keras...

Mendadak... satu bentakan keras berkumandang keluar dari balik hutan, sesosok bayangan manusia laksana kilat berkelebat datang dengan cepatnya...

Dalam sekejap mata orang itu sudah tiba di depan mata, ia tidak langsung berdiri di hadapan lelaki aneh itu, sebaliknya malahan duduk di atas ranting bambu dengan gerakan yang aneh.

Orang itu adalah seorang kakek tua berjenggot putih keperak- perakan sepanjang dada, perawakannya pendek sekali ditambah pula jenggotnya yang panjang membuat keadaannya aneh dan sangat lucu. "Entah siapakah kakek cebol ini?" diam-diam Chee Thian Gak berpikir di dalam hati. "Perawakan tubuhnya tidak mencapai tiga depa, jenggotnya malah sepanjang dua depa setengah, untung ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya sangat lihay, kalau tidak dengan

jenggot yang begitu panjang mana ia bisa berjalan seenaknya?..." Sementara itu kakek cebol tadi sedang melotot ke arah Chee Thian Gak dengan pandangan aneh, sesaat kemudian ia menjerit aneh

:

"Sungguh tak nyana di negeri kerajaan Tong masih terdapat manusia bertenaga sakti sehebat ini, ternyata sanggup membanting dua ekor gajah... Haaaah... haaaah... haaaah... kalau Oorchad sudah datang dan menyaksikan kesemuanya ini, dia tentu akan sangat mendongkol sekali!"

Suara kakek cebol ini melengking dan tidak enak didengar, apa yang dia katakan tak sepatah pun yang didengar Chee Thian Gak kecuali 'Oorchad' sepatah kata.

Dengan alis berkerut lantas pikirnya :

"Kakek cebol ini tidak mirip dengan orang yang berasal dari daratan Tionggoan, ditinjau dari kulitnya yang hitam, jangan-jangan dia berasal dari negeri Thian Tok atau mungkin budak Kun lun?"

Budak Kun lun adalah panggilan untuk orang-orang bangsa Hitam pada jaman dinasti Tong, waktu itu kerajaan diperintah oleh kaisar Tong Thay Cong yang kuat dan bijaksana, pengaruh kekuasaannya telah meliputi negeri Korea, Jepang, India, Vietnam, Birma serta beberapa negara tetangga, setiap tahun dari negeri itu pasti datang upeti yang tak ternilai jumlahnya.

Nama kerajaan Tong bukan saja tersohor di seluruh Asia bahkan pedagang-pedagang dari negeri Timur Jauh serta Eropah pun sudah seringkali mendatangi Tionggoan, oleh sebab itu tidak aneh pada masa itu kalau sering nampak orang bermata biru berambut pirang dengan membawa orang-orang kulit hitam sebagai budak bermunculan di negeri Tiongkok.

Bagi orang Tionggoan, bangsa kulit hitam itu disebutnya sebagai budak Kun lun.

Sementara itu ketika kakek cebol itu melihat Chee Thian Gak hanya memandang ke arahnya dengan pandangan tertegun tanpa mengucapkan sepatah kata pun, hawa gusarnya segera berkobar, makinya :

"maknya... anak anjing..."

"Hey, kenapa kau memaku aku?" tegur Chee Thian Gak dengan nada tertegun.

Bukannya berhenti, kakek cebol itu malah memaki kembali dengan kata-kata tercabul, dalam keadaan gusar bukan saja suaranya berubah jadi aneh, wajahnya pun kelihatan lucu sekali.

"Aaaah... rupanya orang ini baru saja belajar memaki orang dengan kata-kata kotor... maka ia cuma bisa mengulangi beberapa patah kata itu saja..." pikir Chee Thian Gak sambil tertawa getir.

Setelah melontarkan kata-kata makian, kakek cebol tadi menekan kain putih pengikat kepalanya ke atas.

Sebuah permata segera gemerlapan di atas kain kepala itu, mendadak ia buka mulut dan bersuit panjang.

Suaranya aneh dan seram... begitu hebat suaranya sehingga bikin hati orang tidak tenang dan terasa sangat kacau...

Jeritan-jeritan gajah gajah melengking dari balik hutan disusul sahutan seorang dari tempat kejauhan.

Begitu mendengar suara sahut menyahut antara kakek cebol itu dengan rombongan gajah, dalam benak Chee Thian Gak segera berkelebat satu ingatan, ia teringat kembali akan dua nama yang pernah disebut Cian Hoan Lang koen atau Lelaki tampan berwajah seribu.

"Oooouw... dia pastilah si dewa cebol dari negeri Thian Tok yang diundang Ciak Kak Sin Mo!" pikirnya. "Sedang orang yang disebut Oorchad kemungkinan besar adalah ketua suku Oorchad yang disebut Sinkoen bertenaga sakti..."

oooOooo Bagian 15

BERPIKIR SAMPAI DISINI, air mukanya berubah jadi adem, pikirnya lebih jauh :

"Rupanya Hoa Pek Tuo menganggap setelah aku pin menemui ajalnya maka di kolong langit sudah tiada orang yang patut disegani lagi, karena itu dia sudah laksanakan rencana besarnya untuk menguasai seluruh jagad jauh sebelum saat yang telah ditetapkan..."

Mendadak hardiknya dengan suara lantang :

"Apakah kau adalah si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok?"

Senyuman manis terlintas di atas wajah si kakek cebol yang hitam pekat bagaikan pantat kuali, bibirnya yang lebar merekah hingga nampak sebaris giginya yang putih bersih, setelah tertawa jawabnya :

"Darimana kau bisa mengetahui akan diriku?"

"Hmmm... Hmmm... bukankah kau sengaja diundang Hoa Pek Tuo untuk menghadapi tiga dewa dari luar lautan?" kembali Chee Thian Gak berseru sambil tertawa dingin.

Sementara Dewa cebol dari negeri Thian Tok hendak menyahut, sesosok bayangan hitam berkelebat datang dengan gerakan yang amat cepat. Memandang ke arah orang itu, kakek cebol dari negeri Thian Tok berteriak keras :

"Oorchad! coba kau lihat gajahku!"

Orang yang baru saja datang mempunyai perawakan yang tinggi besar dan kekar, kulit wajahnya kuning emas, rambutnya keriting, hidungnya mancung dan matanya cekung ke dalam, sekali pandang siapa pun tahu bahwa orang itu bukan bangsa Han.

Menyaksikan kehadiran orang itu diam-diam Chee Thian Gak merasa terkesiap, pikirnya :

"Sedikit pun tidak salah, dia adalah Sin Koen bertenaga sakti dari Mongolia, rupanya beberapa ekor unta itu adalah binatang yang sengaja dia bawa ke daratan Tionggoan, dan kini sudah kubinasakan semua..." Belum habis dia berpikir, sin koen bertenaga sakti Oorchad telah menerjang tiba, sambil meraung gusar sekali jotos ia kirim sebuah bogem mentah ke arah tubuh Chee Thian Gak.

Angin pukulan menderu-deru, jago kita tidak bingung dibuatnya, dengan tenang ia buang badan bagian atasnya ke belakang, lengan kanannya diputar satu lingkaran busur balas melancarkan satu jotosan ke depan.

Duuuuk... ! sepasang kepalan saling membentur satu sama lainnya di tengah udara menimbulkan bentrokan yang amat nyaring, tubuh kedua orang itu sama-sama tertekan ke bawah hingga mengakibatkan bumi bergoncang keras.

Oorchad mundur selangkah ke belakang, memandang kepalannya ia berdiri melengak, tapi hanya sebentar saja sebab secara tiba-tiba ia meraung keras, sepasang lengannya dikepal ke depan dada kemudian menubruk ke arah tubuh lawan.

Chee Thian Gak sendiri diam-diam merasa bergidik juga atas kekuatan tenaga sakti yang dimiliki pihak lawan, dalam bentrokan barusan ia rasakan tulang kepalannya teramat sakit seakan-akan pada retak semua...

Belum sampai pikiran kedua berkelebat dalam benaknya, terasa pandangan matanya jadi kabur, Oorchad dengan ganas dan hebatnya tahu-tahu sudah menerjang datang, sepasang lengannya laksana ular hijau membelit ke arah pinggangnya.

"Aaai...! Chee Thian Gak berseru tertahan, mendadak kaki kanannya melancarkan satu tendangan ke depan mengarah lambung lawan, lengannya diputar siap meronta dari jangkauan lengan musuh. Dua jurus serangan ini dilancarkan dengan kecepatan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, tetapi Oorchad sama sekali tidak menggubris, pinggangnya dibungkukkan ke depan, kaki ditekuk ke bawah, diiringi suara bentakan keras dia dekap pinggang musuh

kemudian diangkat ke atas. Cara tubrukan serta pendekapan yang dia lakukan bukan lain menggunakan cara sistim gulat aliran Mongolia, begitu lengannya berhasil memeluk pinggang musuh pergelangannya segera diputar, seketika ia banting badan Chee Thian Gak ke atas tanah dan menekan kepalanya mencium tanah.

Kelihatannya sebentar lagi kepala Chee Thian Gak akan membentur permukaan tanah, mendadak terdengar Hong Teng si naga hitam dari gurun pasir membentak keras, badannya sekuat tenaga meloncat ke depan, maksudnya ia hendak betot tubuh Chee Thian Gak sehingga kepalanya tidak sampai membentur tanah.

Tapi sayang segenap kekuatan tubuh yang dimilikinya boleh dikata sudah hampir habis digunakan untuk beradu jiwa beberapa saat berselang, baru saja badannya melayang sejauh lima depa, mendadak kakinya jadi lemas dan tubuhnya tidak ampun segera roboh ke atas tanah.

Dengan cepat ia merangkak bangun, tapi belum sempat ia berdiri punggungnya telah kejatuhan benda berat... tidak ampun ia roboh kembali ke atas tanah.

Ternyata Loe Peng yang berusaha hendak menyelamatkan jiwa Chee Thian Gak pula sudah jauh terjengkang ke atas tanah berhubung kehabisan tenaga...

Tiba-tiba terdengar Oorchad membentak keras, begitu keras suara teriakannya sehingga seluruh bumi bergetar keras, Hong Teng serta Loe Peng yang sudah pejamkan mata karena tidak tega menyaksikan tubuh tuan penolongnya hampir terbanting ke tanah tanpa sadar sudah membelalakkan mata dan memandang ke arah kalangan dengan hati kaget bercampur tercengang...

Ternyata keadaan di tengah kalangan sudah mengalami perubahan besar, bukan Chee Thian Gak yang terbanting ke atas tanah, sebaliknya tubuh Oorchadlah yang sudah menggeletak di tanah dengan mata melotot bulat, ketika itu dengan pandangan tertegun jago lihay dari Mongolia ini sedang menatap wajah Chee Thian Gak yang berdiri kurang lebih enam depa di hadapannya.

Mimpi pun ia tak menyangka kalau kepandaian gulat aliran Mongolia yang sudah dikuasainya dengan amat sempurna itu sama sekali tak berhasil membanting tubuh lawan ke atas tanah.

Ia semakin tidak mengerti apa sebabnya, tatkala ia salurkan hawa murninya tadi, tendangan yang dilancarkan lawan bisa mengenai di jalan darah Jiu keng Hiat di atas dadanya dengan begitu tepat, membuat badannya jadi lemas dan sebaliknya malah terpental sejauh enam langkah.

Chee Thian Gak sendiri dengan mulut membungkam menatap wajah Oorchad tajam-tajam, cambangnya yang pendek dan kasar membuat raut wajahnya nampak lebih gagah dan perkasa.

Di tengah kesunyian yang mencekam seluruh jagad itulah, terdengar si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok bertepuk tangan sambil tertawa terbahak-bahak.

"Setan cebol, apa yang kau tertawakan?" maki Oorchad dengan penuh kegusaran sambil meloncat bangun dari atas tanah.

Dewa Cebol dari negeri Thian Tok tertawa semakin nyaring sehingga barisan giginya yang putih di balik bibirnya yang merah kelihatan semakin nyata.

"Kau paling suka mempamerkan kekuatan kasarmu di hadapan banyak orang, sekarang rasakanlah kalau sudah ketanggor batunya dan bertemu dengan tandinganmu, haaaah... haaaah... haaaah... aku merasa sangat gembira karena kau jatuh terjengkang di atas tanah."

Oorchad tertegun, namun dengan cepat ia sudah berseru kepada diri Chee Thian Gak :

"Tunggu sebentar, aku hendak saling beradu tiga jurus pukulan lagi dengan dirimu."

Sambil membentak keras dengan langkah lebar ia segera berjalan menuju ke arah hutan bambu. Selama ini Hong Teng selalu menganggap perawakan tubuhnya yang paling tinggi, tapi setelah menyaksikan tubuh Oorchad yang tingginya melebihi satu tombak ini, tanpa sadar diam-diam ia menghela napas panjang.

Dalam dua tiga langkah Oorchad telah tiba di tepi hutan bambu, tatkala dilihatnya Hong Teng serta Loe Peng bergulingan jadi satu di situ, dengan hati melengak ia segera menegur :

"Hey, kalian sedang berbuat di situ?"

"Heeeh... heeeeh... heeeh... kami sedang menonton orang berkelahi!" sahut Hong Teng sambil tertawa nyaring.

"Darimana kau bisa tahu kalau aku datang kemari memang mau berkelahi???" kembali Oorchad bertanya dengan wajah tertegun.

Menyaksikan tingkah laku orang, Loe Peng segera mengerti bahwa Oorchad adalah seorang dungu, maka ia lantas tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... bukan, kami bukan sedang nonton orang berkelahi, kami sedang tidur!"

"Oooow...! tidur???" Oorchad angguk-anggukan kepalanya berulang kali, "sekarang hari sudah malam, memang sudah waktunya untuk tidur!..."

Sambil meraba kepalanya sendiri, sekilas rasa sedih berkelebat di atas wajahnya, kembali dia bergumam :

"Sayang aku harus berkelahi lagi, tak mungkin aku bisa tidur dalam keadaan begini..."

Sambil menggerutu ia lantas lanjutkan langkahnya menerjang ke dalam hutan bambu.

Menyaksikan si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok yang masih berdiri di atas ranting bambu, teriaknya keras-keras :

"Hey setan cebol, ayoh turun!"

"Haaaah... haaaah... haaaah... Oorchad kau jangan melampiaskan amarahmu ke atas tubuhku, aku toh tidak membinasakan unta-untamu itu!" Oorchad melengak, tapi dengan cepat serunya :

"Gajah-gajahmu tak sanggup menangkan cepatnya lari unta- untaku, kau sudah menderita kekalahan di tanganku!"

"Eeeei... nanti dulu, bukankah kita bertaruh binatang tunggangan siapa yang lebih dahulu tiba di perkampungan Thay Bie San cung, maka zamrud merah delima itu akan jatuh ke tangan siapa, unta- untamu toh tidak melanjutkan perjalanan, sebaliknya gajah-gajahku masih meneruskan perjalanan ke depan..."

Rupanya si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok serta Sin koen bertenaga sakti Oorchad sengaja diundang Hoa Pek Tuo untuk datang ke perkampungan Thay Bie San cung guna melaksanakan rencana besarnya melenyapkan dunia persilatan di daratan Tionggoan.

Mereka berdua, yang satu dengan menunggang untanya berangkat dari Mongolia sedang yang lain berangkat dari negeri Thian Tok dengan menunggang gajah.

Karena mereka berdua sama-sama tidak begitu paham dengan peta bumi negeri Tionggoan, sedang perjalanan mereka hanya mengandalkan secarik peta yang sengaja dibuat Hoa Pek Tuo bagi mereka, maka perjalanan yang dilakukan kedua orang itu ngawur tidak karuan.

Sungguh tak nyana dalam suatu kesempatan mereka telah saling berjumpa di dalam propinsi Kwang Soe, berhubung gerak gerik mereka berdua yang serba mistrius, ditambah pula kedua belah pihak menunggang binatang-binatang yang pada masa itu masih dianggap aneh bagi penduduk di daratan Tionggoan maka begitu saling berjumpa mereka lantas saling berkelahi satu sama lain.

Menanti kedua orang itu sama-sama mengutarakan tujuan dari kedatangan mereka, barulah mereka sadar bahwa mereka berdua sengaja datang atas undangan dari Hoa Pek Tuo.

Suatu malam mereka telah tiba di propinsi Su cuan, karena malam yang gelap sedang perjalanan masih dilanjutkan, Oorchad telah mengeluarkan zamrud merah delima milik sukunya sebagai penerangan.

Si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok yang menyaksikan benda berharga tadi segera mengenali pula bahwasanya benda itu adalah Zamrud merah delima yang telah hilang hampir seratus tahun lamanya dari kuil gajah mustika di negeri Thian Tok maka dengan segala macam akal dicobanya untuk mendapatkan kembali Zamrud tadi, siapa sangka Oorchad tak mau mengembalikan.

Sampai akhirnya si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok segera mengusulkan untuk mengadakan pertandingan menempuh perjalanan antara gajah serta unta-untanya; barang siapa yang tiba lebih duluan di perkampungan Thay Bie San cung maka Zamrud merah delima itu akan menjadi pemilik si pemenang.

Watak Oorchad adalah jujur dan polos, belum pernah ia menggunakan akal muslihat untuk merobohkan musuhnya, ditambah pula ia berdiam jauh di daerah Mongolia yang belum pernah melihat gajah maka ketika dijumpainya gajah-gajah itu besar lagi berat, dia lantas mengira unta-untanya pasti dapat menang dalam pertandingan ini.

Tapi ia tidak mengerti kalau unta-untanya memang jempolan di daerah bergurun sebaliknya payah kalau diharuskan lewat jalan gunung yang penuh dengan bukit dan pepohonan.

Oleh karena itu untuk sementara unta-untanya menderita kekalahan, tapi ia tidak berputus asa, digunakannya cara penjinakan unta yang telah dikuasainya untuk memerintahkan unta-unta itu berlari cepat, alhasil untuk kali itu ia mendapat kemenangan.

Kian lama perkampungan Thay Bie San cung semakin dekat, kalau ia tidak mempertahankan terus posisinya sekarang niscaya pihaknya yang akan menderita kekalahan. Siapa sangka di tempat itu unta-untanya berjumpa dengan Chee Thian Gak yang mengakibatkan binatang-binatang miliknya mati terbunuh semua. Apalagi setelah menyaksikan si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok mengejek dan mentertawakan dirinya, tentu saja semua rasa dongkol dan marahnya ditumpahkan ke atas tubuh kakek cebol itu.

Namun setelah mendengar perkataan lawan, kembali ia dibikin tertegun, sambil meraba kepalanya terdengar orang itu bergumam :

"Ehmmm, sedikit pun tidak salah, dia memang berkata binatang tunggangan milik siapa yang tiba di perkampungan Thay Bie San cung lebih duluan, maka dialah yang akan mendapatkan zamrud merah delima..."

Lama sekali Oorchad berdiri termangu-mangu di situ, seakan- akan ia telah menemukan sesuatu, sambil mendongak katanya :

"Gajah-gajahmu tidak nanti bisa tiba di perkampungan Thay Bie San cung, kau anggap aku adalah orang tolol yang bakal tertipu oleh siasat licinmu?"

"Haaaah... haaaah... haaaah... sedikit pun tidak salah, kau memang seorang manusia tolol."

Oorchad meraung keras, ia masuk ke dalam hutan sambil ayunkan sepasang telapaknya yang besar, angin puyuh menderu-deru di angkasa... seketika berpuluh-puluh batang bambu roboh ke atas tanah.

Benar-benar hebat manusia ini, kakinya yang melangkah di tanah segera menghancurkan apa saja yang dijumpai, dalam sekejap mata keadaan di situ berubah jadi porak poranda...

Menyaksikan tingkah laku orang kasar tadi, si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok segera tertawa geli, sindirnya :

"Huuuu.... keadaanmu tidak jauh berbeda dengan babi-babi celeng di negeriku sana... di mana saja yang dilalui babi-babi itu tanaman tentu akan hancur berantakan..."

"Setan tua ayoh turun kemari... lihat saja nanti aku si tua cabut gundul jenggot-jenggot sialmu itu," maki Oorchad dengan gusarnya. Si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok yang dimaki bukan jadi marah sebaliknya malah tertawa semakin menjadi, begitu gelinya kakek itu sampai-sampai air mata jatuh bercucuran dan mulutnya tak sanggup ditutup rapat, teriaknya sambil menuding ke arah Oorchad :

"Babi celeng... kau..."

"Maknya, hey setan tua, kudoakan agar kau tertawa sampai modar..."

Gelak tertawa si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok semakin menjadi-jadi... seakan-akan di kolong langit tidak ada orang yang jauh lebih menggelikan daripada Oorchad.

Terlihatlah wajahnya yang hitam pekat telah basah oleh air mata, bibirnya kelihatan bertambah merah, saking kerasnya dia tertawa sampai pinggang pun terbungkuk-bungkuk.

"Haaaah... haaaah... haaaah... sungguh menggelikan... sungguh menggelikan... sampai air mataku bercucuran..."

"Maknya... moga-moga ususmu pada mengalir keluar semua... ayoh tertawa terus... moga-moga perutmu jebol..."

Ia sambar batang bambu di sisinya lalu dilemparkan ke tengah angkasa, diikuti ia dekati bambu di mana si cebol berada dan dengan sekuat tenaga dibetotnya dari atas tanah.

Hilang lenyap seketika itu juga gelak tertawa dari si Dewa Cebol, buru-buru badannya melejit ke angkasa, jenggotnya berputar setengah lingkaran busur di angkasa dan melayang turun kurang lebih dua tombak jauhnya dari tempat semula.

Ketika Oorchad berhasil mencabut keluar bambu tadi dan dipatah-patahkan jadi beberapa bagian, ia baru tertegun karena tidak menjumpai si cebol berada di situ.

"Heeey... kemana perginya setan tua itu?" serunya tercengang.

Tingkah lakunya yang ketolol-tololan ini tentu saja mengerutkan dahi Chee Thian Gak, pikirnya :

"Kenapa sih otak orang ini begitu bebal dan sederhana? Tidak aneh kalau ia begitu gampang kena dipanasi oleh Hoa Pek Tuo sehingga bersedia memusuhi orang kangouw. Aaaaa... aku benar- benar tidak habis mengerti bagaimana caranya ia memimpin sebuah suku yang besar? atau mungkin orang Mongol memang mengagumi orang yang memiliki kekuatan besar, maka menjumpai orang yang mempunyai kekuatan jauh lebih besar dari mereka lantas diangkat sebagai ketua suku..."

Dalam pada itu Oorchad telah maju dua langkah ke depan, sorot matanya dengan tajam melirik sekejap ke arah Dewa Cebol dari negeri Thian Tok yang ada di sisi kanan pohon bambu, tiba-tiba teriaknya keras :

"Aaaaah... disini ada bangkai gajah..." seraya berseru ia lantas berjongkok ke atas tanah.

Senyuman yang menghiasi bibir Dewa Cebol dari negeri Thian Tok seketika lenyap tak berbekas, sekarang ia baru teringat bahwa tujuan kedatangannya ke daratan Tionggoan adalah atas undangan dari sepasang iblis Seng Sut Hay, dan teringat pula bahwa Chee Thian Gak telah membinasakan seekor gajahnya.

Dengan cepat ia meloncat ke depan serunya :

"Hey Oorchad, lebih baik kita jangan ribut dahulu..."

Oorchad tidak ambil pusing seruan orang, melihat jarak si Dewa Cebol dengan dirinya cuma terpaut lima depa, mendadak ia maju selangkah ke depan, lengan kanannya laksana kilat menyambar jenggot panjang dari lawannya.

Rupanya si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok tak pernah menyangka Oorchad yang selama ini dianggap bodoh bagaikan babi ternyata dapat menggunakan akal, tanpa bisa dihindari lagi jenggotnya segera kena disambar, membuat ia jadi melengak dan tertegun.

"Haaaah... haaaah... haaaah... setan tua berjenggot panjang..." seru Oorchad sambil tertawa keras. "Biarlah aku si kepala suku menghantar dirimu menghadap Malaikat!"

Dewa Cebol dari Negeri Thian Tok meraung rendah, seluruh tubuhnya melayang ke depan dengan mendatar, sepasang kakinya serentak melancarkan tendangan berantai menghajar dada Oorchad. Kekuatan tendangan dari kedua belah kakinya boleh dikata mencapai bobot seberat ribuan kati, namun tatkala ujung kakinya mampir di atas dada Oorchad yang bidang dan lebar, sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa pun seolah-olah dada lawannya terbuat dari baja yang sangat kuat.

Mula-mula Oorchad melengak ketika menyaksikan perbuatan lawan, tapi dengan cepat ia tertawa terbahak-bahak, sekali puntir ia tarik jenggot panjang kakek cebol dua kali mengitari depan tubuhnya kemudian dibetot ke arah bawah.

Si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok menjerit-jerit kesakitan, telapaknya segera diputar dan hawa murni disalurkan ke seluruh tubuh, dalam sekejap mata telapaknya berubah jadi merah padam bagaikan darah, diiringi desiran tajam langsung ditabokkan ke atas tubuh Oorchad.

Sementara itu si Sinkoen bertenaga sakti dari Mongolia sedang kegirangan setengah mati karena berhasil membetot jenggot musuhnya, tatkala secara tiba-tiba ia mencium bau amis yang amat menusuk hidung, dalam hati ia lantas sadar bahwa si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok ini pastilah telah mengeluarkan ilmu pukulan beracunnya, suatu ingatan berkelebat dalam benaknya.

Di tengah suatu bentakan nyaring, tangan kanannya dengan cepat mencengkeram kiri kanan lawannya, kemudian sekali puntir dan menjegal, ia banting tubuh kakek cebol itu ke atas tanah dengan gerakan gulat aliran Mongolia...

Dalam pada itu si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok sedang mengerahkan tenaga dalamnya untuk melancarkan satu pukulan kilat, siapa sangka secara tiba-tiba tubuhnya diangkat oleh Oorchad ke tengah udara sehingga hantamannya mengenai sasaran yang kosong, tubuhnya jdi kendor dan lemas... tahu-tahu ia sudah diputar dua lingkaran di tengah udara dan dibanting keras-keras ke atas tanah.

Oorchad tertawa terbahak-bahak, ia maju dua langkah ke depan, lengan tangannya bagaikan ular sendok mendekam tubuh lawan erat- erat kemudian sekali betot ia cekal pinggang musuh dan dibantingnya lagi ke ke atas tanah dengan gerakan gulat.

Ketika dibanting untuk pertama kalinya tadi si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok sudah merasa pusing tujuh keliling, dadanya terasa sesak dan sukar untuk bernapas, belum sempat dia atur pernapasan tubuhnya kembali sudah dicekal lawan dan dibanting ke atas tanah.

Duuuuk...! punggungnya mentah-mentah mencium permukaan tanah, membuat badannya terjungkal bulak-balik bagaikan onde- onde, darah panas dalam dadanya langsung bergolak kencang, hampir saja ia muntahkan darah segar.

Oorchad tertawa terbahak-bahak, sambil meludah ke atas tanah serunya :

"Hey setan tua keling... enyah dari sini! Sana pulang ke rumah nenekmu! Aku sudah tidak punya waktu lagi untuk berjoget dengan dirimu...!"

Ia putar badan langsung menghampiri Chee Thian Gak, kembali teriaknya :

"Keparat cilik, waaah... terpaksa aku harus suruh kau menanti agak lama... mari! mari! mari! lebih baik kita adu kepalan sebanyak tiga gebrakan lagi!"

Mendengar seruan itu Chee Thian Gak merasa geli bercampur mendongak, ia lantas mendongak dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... tidak salah, lebih baik kita saling adu tenaga."

Buru-buru Oorchad menerjang ke muka, kepalanya yang besar dan kuat segera dikepal kencang-kencang kemudian secara beruntun melancarkan tiga buah serangan berantai, desiran tajam menderu- deru, angin pukulan bagaikan gulungan ombak menyapu dan melanda ke muka dengan hebatnya. Chee Thian Gak membentak berat, tubuh bagian atas sedikit berjongkok ke bawah, hawa murni disalurkan ke dalam sepasang lengan, dalam waktu singkat dia pun melancarkan tiga buah serangan berantai, dengan keras lawan keras disambutnya seluruh serangan lawan.

Angin guntur membelah bumi, bagaikan bendungan yang ambrol desiran angin menyebar ke empat penjuru, tubuh Oorchad membeku beberapa saat, wajahnya berubah jadi merah padam, dengan termangu-mangu dipandangnya pasir serta batu kerikil yang berhamburan di tengah angkasa.

Lama sekali... ia baru berseru :

"Bagus!"

Habis berkata dari mulutnya menyembur keluar darah segar, tubuhnya yang tinggi kekar mundur tiga langkah ke belakang dengan sempoyongan, termakan oleh desiran angin pukulan yang maha dahsyat badannya berpusing dua kali kemudian roboh terjengkang ke atas tanah.

Hijau membesi seluruh wajah Chee Thian Gak,ia tarik napas dalam-dalam, hawa murninya perlahan-lahan diatur dan menekan golakan hawa darah dalam rongga dadanya.

Meskipun di dalam adu kekuatan yang baru saja berlangsung ia berhasil menang satu gebrakan, tetapi memandang tubuh Oorchad yang jatuh terjengkang di atas tanah, diam-diam ia merasa menyesal, sebab ketiga buah serangan yang baru saja digunakan tadi merupakan suatu penggabungan antara ilmu Lay yang sin kang serta kepandaian sakti yang diperolehnya dari kitab Ie Cin Keng.

Seandainya ia tidak mengeluarkan gabungan kedua macam kepandaian sakti yang menimbulkan kekuatan aneh itu, mungkin ia tak akan sanggup menahan kekuatan lawan.

"Oorchad!" tanpa terasa serunya dengan nada kagum, "kau benar- benar seorang pendekar sejati di antara pendekar-pendekar yang ada di kolong langit, kau tidak malu disebut sebagai seorang Sinkoen bertenaga maha sakti." Titik-titik air bercampur darah mengucur keluar dari ujung bibir Oorchad, perlahan-lahan ia merangkak bangun, serunya pula dengan suara parau :

"Hanya kau seorang yang bisa disebut pendekar sejati di antara pendekar-pendekar yang ada di kolong langit..." ia tertawa tergelak. "Mulai detik ini aku Oorchad akan mengingat hubungan persahabatan dengan dirimu, bukan saja aku tak akan mempersoalkan ke-sembilan ekor untaku lagi, bahkan suatu hari bila kau berkunjung ke Mongolia,akan kuhadiahkan sembilan ekor unta untukmu..."