Imam Tanpa Bayangan I Jilid 02

 
Jilid 02

"EHMMMM...!" seorang lelaki setengah baya bertopi kulit kecil muncul dari balik ruangan dengan wajah kaku, mendadak hardiknya

:

"Hey pelayan sialan, apa yang sedang kau gerutukan??" "Ooooh... oooh... kiranya toa Ciang Kwee, aku... aku baru

bilang... cuaca ini hari sangat bagus... matahari yang bulat membuat hati kita jadi hangat."

"Omong kosong... terang-terangan aku dengar kau sedang mengomeli nama penginapan tua Soen Hong-ku yang kurang baik... Hmmm, kau anggap sekolahmu jauh lebih tinggi dari aku?"

"Aaah... mana... mana... cuma kelinci cucu monyet baru mengatakan nama dari penginapan ini kurang baik... aku mengerti... ciang-kwee memberi nama itu agar usaha dagang kita lancar selalu..." "Bagus... coba kau terangkan lebih jauh, aku ingin tahu sampai di

manakah pengertianmu mengenai merek penginapanku ini."

Sang pelayan gosok-gosok matanya lalu berkata dengan bangga

:

"Gunung Cing Shia begitu tinggi, kita yang melakukan usaha

dagang begini sebagian besar tergantung pada orang-orang yang naik gunung untuk pasang hio, oleh karena itu kami selalu berharap agar perjalanan mereka lancar, selain cepat-cepat naik gunung dan cepat- cepat turun gunung..."

"Konyol, kalau naik gunung biar lancar itu memang betul, dengan begitu bisa mengurangi beban sang pelancong yang sedang mendaki, kalau turun gunung juga terhembus angin, bukankah mereka bakal jatuh terpelanting...?"

"Kalau anginnya terlalu gede, tentu saja terpelanting..." "Konyol! ayoh enyah dari sini!"

Pelayan itu jadi ketakutan buru-buru ia sambar bangkunya lalu lari masuk ke dalam ruangan.

Pada saat itulah mendadak... terdengar suara keleningan berkumandang datang... tak usah dipandang lagi, loo ciang-kwee itu tahu sang dewi ayu yang tinggal di kuil Hwie Kak An di atas gunung sedang lewat di situ.

Ia tarik napas dalam-dalam, pikirnya :

"Aaaah... aku harus tenangkan hati, jadi kalau berjumpa dengan Hee siancu nanti tidak sampai gugup hingga tak dapat berbicara... teringat tempo dulu... saking kagumnya kupandang wajahnya yang ayu, sampai bibirku terasa kaku dan tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun."

Suara keleningan kedengaran makin nyata, dalam sekejap mata suara itu sudah tiba di depan pintu penginapan, dengan wajah penuh senyum simpul ciang kwee itu lantas menegur :

"Hee siancu, apakah ini hari kau turun gunung lagi?"

Seorang gadis cantik jelita dengan menunggang di atas sebuah keledai kecil warna putih berdiri di hadapannya, tampak dara itu tersenyum.

"Sungguh deras hujan yang turun beberapa hari ini, mumpung ini hari terang... aku hendak turun gunung membeli barang keperluan sehari-hari."

Ia mendongak memandang kain terpal yang berkibar terhembus angin, lalu gumamnya :

"Penginapan tua Soen Hong, Penginapan tua Soen Hong... Aaaa... siapakah manusia di kolong langit yang selalu lancar harapannya bagaikan terhembus angin?" Biji matanya bening kelihatan bertambah sayu, sekilas rasa sedih menghiasi wajahnya yang ayu... perlahan-lahan ia menghela napas panjang.

"Hee Siancu, kau... kenapa kau nampak begitu sedih dan murung..." tegur Ciang kwee penginapan itu bagaikan orang mabok.

"Jalan hidup manusia di kolong langit hanyalah selapis awan yang gelap, hanya dengan tongkat penderitaan barulah kita dapat tembusi awan gelap yang penuh kesedihan itu..."

Perlahan-lahan ia tepuk keledainya... diiringi suara keleningan yang nyaring, gadis itu membuang pandangannya jauh ke depan.

"Tongkat Penderitaan?... kabut kesedihan..." ciang-kwee itu dibikin bingung dan tidak habis mengerti.

Sorot mata sang gadis yang sedih itu lambat-lambat ditarik kembali dari kejauhan, ketika memandang wajah sang ciang-kwee yang lucu tak tahan ia tertawa.

"Hey... kalau aku tidak beritahu kepadamu, dari mana kau bisa tahu?..." ia tepuk kepala keledainya dan berseru : "Ciang-kwee, aku pergi dulu..."

Keledai putih itu perlahan-lahan berjalan tinggalkan penginapan itu, diiringi suara keleningan yang nyaring terdengar dara itu bersenandung dengan nada yang pedih :

"Bunga mekar bunga layu berulang terjadi, Berkumpul terburu-buru, berpisah pun tergesa-gesa

Kudengar suara kicauan burung Nuri, tapi dimanakah kau berada?

Asap kian menebal, hujan kian deras..."

Tatkala ia menembusi kabut tipis yang melayang di atas permukaan, mendadak dari luar dusun berjalan datang dua ekor kuda yang penuh berlepotan lumpur. Sinar matanya yang sayu mendadak bercahaya terang, dengan pandangan termangu-mangu ditatapnya kedua orang penunggang kuda itu tanpa berkedip.

Laksana kilat kuda-kuda itu melaju ke arahnya, dara tersebut berseru tertahan, wajahnya menampilkan cahaya kejut, girang dan tercengang, bibirnya terpentang lebar seakan-akan hendak berteriak.

Tapi tatkala satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia segera batalkan niat tersebut dan perlahan-lahan tundukkan kepalanya, dengan sedih ia berpikir :

"Aaaai, buat apa kupanggil dirinya? setiap kali kujumpai dirinya, aku lantas teringat akan diri Pek In Hoei..."

Kiranya orang yang dijumpai dara ayu itu bukan lain adalah Ouw-yang Gong si kakek tua konyol itu.

Terdengar Ouw-yang Gong dengan suara penuh kegirangan sedang berkata :

"Anjing buduk neneknya... pin itu betul-betul bukan manusia sembarangan, dua tahun berselang dia masih merupakan seorang bocah keparat yang sama sekali tidak mengerti akan ilmu silat, sekarang nama besarnya sudah tercantum di antara tujuh jago pedang dari dunia persilatan. Hmmm... Hm... Chee loote, tahukah kau apa sebabnya ia diberi sebutan sebagai jago pedang berdarah dingin??? Di kolong langit hanya aku seorang yang tahu akan sebab-sebabnya, justeru karena dalam hatinya hanya senang dengan Hee Siok Peng si perempuan tuyul itu, maka terhadap perempuan lain ia tidak ambil peduli..."

Ucapan itu diutarakan keras dan lantang, setiap patah kata seolah- olah martil yang menghantam dada gadis itu, tak tahan lagi dara ayu penunggang keledai itu angkat kepala dan berseru :

"Hey si ular asap tua, Ouw-yang Gong!"

Sebenarnya Ouw-yang Gong yang berjalan bersama-sama seorang lelaki berjubah merah tidak menaruh perhatian sama sekali terhadap dara ayu penunggang keledai yang ada di pinggir jalan, tetapi setelah mendengar teriakan itu, buru-buru ia menoleh.

"Hey setan cilik, kiranya kau?"

Di tengah bentakan keras, si kakek tua konyol itu loncat turun dari kudanya dan lari menghampiri gadis itu.

"Kenapa kau bisa berada disini?? Di mana ayahmu si racun tua Hee Gong Lam?"

Sang dara ayu yang bukan lain adalah Hee Siok Peng itu segera tertawa getir.

"Suhuku melarang aku berada bersama-sama ayah, maka aku lantas diboyong kemari."

Dengan pandangan tajam diawasinya wajah gadis itu dari atas hingga ke bawah, tatkala dijumpainya gadis itu pemurung dan wajahnya sayu, Ouw-yang Gong segera menegur kembali :

"Hey setan cilik, kau banyak berubah."

"Berubah?" perlahan-lahan Hee Siok Peng alihkan sorot matanya ke tempat kejauhan, "Awan putih bergerak di angkasa, setiap saat bisa berubah-ubah mengikuti keadaan, sudah jamak bagi kita manusia untuk berubah pula mengikuti situasi di sekitarnya. Selama dua tahun ini, siapa bilang aku tidak berubah? Bukan saja wajahku berubah, hatiku pun telah berubah semakin tua."

Ouw-yang Gong tertegun lalu menggeleng. "Siok Peng, aku tidak dapat memahami dirimu."

"Siapakah di dunia ini yang dapat memahami diriku?" gadis itu tersenyum, memandang rambut Ouw-yang Gong yang kacau tidak karuan, ia berkata kembali :

"Hey ular asap tua, kau pun berubah, meskipun kau masih mengenakan jubah kulit kambing, tapi mana huncweemu..."

Ouw-yang Gong semakin tertegun.

"Kau sudah kelihatan bertambah dewasa..." gumamnya lirih. "Manusia tentu saja akan meningkat jadi dewasa, bukankah begitu? aku rasa kau tentu gembira bukan melihat aku bertambah dewasa..."

Sinar matanya beralih ke atas tubuh lelaki jubah merah yang ada di sisi orang tua itu, kemudian tanyanya :

"Siapakah dia? Mengapa keadaannya seperti kau, rambutnya kusut, jenggot panjang dan bau kecut, apakah dia adalah muridmu?"

"Haaaah... haaaah.... haaaaah.... di adalah tuan penolongku, si Pendekar jantan Berkapak Sakti Chee Thian Gak yang sudah tersohor namanya di Say Pak, apakah kau ingin bertemu dengan dirinya?"

Dengan cepat Hee Siok Peng gelengkan kepalanya.

"Sekarang aku tidak ingin berjumpa dengan siapa pun." Wajahnya mendadak memerah. "Apakah kau pernah berjumpa dengan Pek In Hoei?"

"Oooh, sampai sekarang kau masih belum melupakan dirinya?" Buru-buru Hee Siok Peng menghindarkan diri dari pandangan

Ouw-yang Gong, memandang ujung jubah Chee Thian Gak yang berkibar terhembus angin, katanya lagi dengan suara lirih :

"Bagaimana keadaannya sekarang? Selama dua tahun terakhir belum pernah kudengar akan kabar beritanya."

"Kakek moyang anjing buduk itu benar-benar tak tahu diri, bulan berselang ketika aku bertemu dirinya, ia sedang bersiap-siap memasuki perkampungan Thay Bie San cung yang ada di luar kota Seng Tok, siapa sangka si neneknya anjing buduk itu telah ajak aku berkelahi hanya lantaran seorang bocah perempuan dari luar lautan, ia telah putuskan hubungan dengan diriku..."

"Apa? Dia sudah putuskan hubungan dengan dirimu lantaran seorang gadis...?" teriak Hee Siok Peng dengan wajah berubah hebat. "Siapakah nama gadis itu?"

"Dia bernama It-boen Pit Giok, murid dari Thian Tie Loo Nie salah satu di antara tiga dewa dari luar lautan..." Ia merandek sejenak kemudian tertawa terbahak-bahak, terusnya

:

"Memandang wajahmu yang patut dikasihani, biarlah terus

terang kuberitahukan kepadamu, dia bukan mencintai It-boen Pit Giok itu sebaliknya lantaran bencinya maka ia telah putuskan hubungan dengan diriku."

Sehabis mendengar keterangan ini Hee Siok Peng baru merasa hatinya lega, merah jengah selembar wajahnya.

"Cisss! Siapa yang peduli dia mau mencintai siapa pun juga! Apa sangkut pautnya dengan aku?"

"Haaaah... haaaah... haaaah... di kolong langit hanya Hee Siok Peng seorang yang paling bisa mengurusi Pek In Hoei mencintai orang lain atau tidak!"

"Cisss, ular asap tua, makin tua kau makin menjadi, mulutmu selalu saja usil!"

"Haaaah... haaaah... haaaah... begitu baru mirip si setan licik pada dua tahun berselang!"

"Kalau kau masih saja ngaco belo, aku segera pergi dari sini!" habis berkata ia lantas menggait perut keledainya dan siap berlalu dari tempat itu.

Ouw-yang Gong sendiri kendati dalam hati mengerti bahwa gadis itu hanya main gertak sambal belaka, namun karena takut ia benar- benar berlalu dari sana, maka segera teriaknya :

"Hey, mari ke sini, biar kukatakan jejak mengenai Pek In Hoei!" "Hmmm, siapa yang sudi mencari tahu nasibnya, biar hidup atau

mati apa hubungannya dengan aku?"

Sekalipun berkata demikian namun tak urung gadis itu menghentikan badannya juga dan kembali ke hadapan si kakek tua itu.

Ouw-yang Gong tidak menggoda lebih lanjut, ia mendehem ringan kemudian berkata : "Di antara tujuh jago pedang dari dunia persilatan yang mulai tersohor namanya dalam dunia kangouw dewasa ini, Pek In Hoei menempati kedudukan nomor tiga, dia disebut orang sebagai si jago pedang berdarah dingin...!"

Walaupun tadi secara diam-diam Hee Siok Peng telah mencuri dengan pembicaraan Ouw-yang Gong mengenai diri Pek In Hoei, namun sekarang setelah mendengar keterangan itu sekali lagi, ia tetap merasa girang.

Sambil menggigit bibir lantas tanyanya :

"Kenapa ia disebut orang sebagai si jago pedang berdarah dingin?"

"Haaaah... haaaah... haaaah... tentang soal ini, lebih baik tanyalah kepada dirimu sendiri."

Sudah tentu Hee Siok Peng mengerti apa yang ia maksudkan, namun untuk menutupi rasa jengahnya ia menukas :

"Kenapa harus bertanya kepada diriku sendiri? Apa hubunganku dengan dirinya?"

"Selama ini namanya tersohor di daerah sekitar propinsi Su Cuan serta Hoo lam, aku rasa kau yang selalu mengasingkan diri dalam wilayah Biauw tentu tak tahu bagaimanakah tindak tanduknya..."

Ia mendehem ringan, lalu terusnya :

"Dibicarakan dari wajahnya yang ganteng serta potongan badannya yang kekar dan gagah, tak usah diragukan lagi banyak kaum gadis yang tergila kepadanya, tetapi ia sama sekali tidak tertarik oleh mereka, coba pikirlah, kalau dia bukan dikarenakan dirimu mengapa bisa bertindak demikian???"

Betapa girang hati Hee Siok Peng setelah mendengar perkataan itu, namun di luaran dengan wajah kaku serunya :

"Setan ular asap tua, kau jangan ngaco belo tak karuan, aku mau pergi..."

Kali ini ia benar-benar menggapit perut keledainya dan berlalu dari situ. "Hey buda! Suhumu serta kau tinggal di mana?" teriak Ouw-yang Gong keras-keras.

Derap kaki keledainya kian lama kian menjauh, tampak Hee Siok Peng sambil menoleh sahutnya :

"Kami tinggal di dalam kuil Hwie Kak An di atas gunung Cing Shia, asal kau tanyakan di manakah rumahnya Hee Siancu, semua orang akan memberi petunjuk kepadamu..."

"Hee Siancu?" sambil garuk-garuk rambutnya yang kusut, Ouw- yang Gong bergumam seorang diri, "Hey setan cilik, sejak kapan kau berubah jadi Hee Siancu?"

Setiap kali ia teringat akan senyuman manis yang diperlihatkan dara itu di kala mendengar nama Pek In Hoei, hatinya lantas ikut gembira, maka sambil geleng kepala pikirnya :

"Dia begitu mencintai diri Pek In Hoei tapi di hadapanku masih saja berpura-pura seperti hambar dan tidak menaruh perhatian. Heeei... dianggapnya aku si orang tua tidak mempunyai pengalaman mengenai soal ini? Masa masih saja mau membohongi aku?"

Senyuman bangga tersungging di bibirnya, mendadak ia saksikan Chee Thian Gak sedang loncat turun dari kudanya.

Terdengar orang itu berkata sambil tertawa ringan :

"Ouw yang Loo toako, apakah kau merasa sedih karena harus merawat lukamu selama beberapa hari hingga mengakibatkan perutmu yang buncit jadi kecil? "

"Aaah soal itu sih aku tidak ambil pusing asal makan nasi lima hari lagi, perutku akan kembali jadi buncit."

Ia berpaling menuding ke arah belakangnya dan berkata lebih jauh :

"Sudah kau lihat bocah perempuan itu? Dia bukan lain adalah Hee Siok Peng yang sering kuceritakan kepadamu, dan dia pula gadis idaman si jago pedang berdarah dingin Pek In Hoei "

"Ooouw... kiranya dia sungguh tak kusangka baru saja kau membicarakan soal dirinya, aku lantas bisa melihat raut wajahnya. Ehmm, wajahnya memang cantik jelita, tidak aneh kalau Pek In Hoei telah menolak cinta kasih kaum gadis dunia persilatan yang begitu banyak mengejar kejar dirinya."

"Tadi, kenapa kau tidak datang kemari untuk melihat wajahnya lebih jelas? Sebaliknya malahan berdiri saja di situ..."

Chee Thian Gak tertawa getir.

"Huncwee gede, coba kau lihat tampangku, masa manusia macam begini pantas kalau berdiri berjajar dengan gadis secantik itu?? Bila dia wajahku, jangan-jangan bisa melarikan terbirit-birit..."

Meskipun di luaran ia berkata demikian, dalam hati pikirnya : "Mana aku boleh biarkan dia mengetahui bahwasanya aku bukan

lain adalah Pek In Hoei yang tempo dulu telah melarikan diri dari gunung Thian cong dengan badan menderita keracunan? pin telah mengasingkan diri dari dunia persilatan, buat apa aku harus mencari kesulitan dan kerepotan di dalam kalangan percintaan yang memusingkan kepala? Hutangku terhadapnya baru saja dibayar, kenapa harus berhutang lagi?? Bukankah aku akan jadi seorang manusia bodoh?"

Dalam pada itu dengan pandangan tajam Ouw-yang Gong sedang memperhatikannya, tiba-tiba ia berkata :

"Chee Loote, setelah kupandang pulang pergi, rasanya makin lama kau semakin mirip Pek In Hoei, bila kumismu dihilangkan kemudian rambutmu dibereskan maka aku pikir kalau kau berdiri sejajar dengan Pek In Hoei, sulit bagiku untuk membedakannya."

Dalam hati Chee Thian Gak merasa terperanjat, namun di luaran ia segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... manusia kasar dan tidak kenal sopan santun macam aku mana bisa dibandingkan dengan Pek In Hoei yang halus budinya serta tampan wajahnya? Loo toako, rupa-rupanya kau sedang mengejek diriku!" Bibir Ouw-yang Gong bergetar seperti mau mengucapkan sesuatu, namun dengan cepat Chee Thian Gak sudah tepuk bahunya sambil berseru :

"Ayoh berangkat! Apa gunanya kita membicarakan persoalan yang tak berguna di tempat ini? Kita harus mencari satu tempat yang bagus untuk beristirahat, malam nanti aku masih harus melakukan perjalanan naik ke atas gunung Cing Shia."

Melihat Chee Thian Gak sudah mencemplak kudanya berlalu, dengan perasaan apa boleh buat Ouw-yang Gong geleng kepalanya dan bergumam :

"Selamanya aku dibikin tak habis mengerti sebenarnya siapakah dia? Bagaimana mungkin dia bisa menyelamatkan jiwaku dari pengawasan Song Kim Toa Lhama serta empat jago pedang."

Perlahan-lahan ia mencemplak kudanya dan menyusul dari belakang manusia aneh tersebut.

Memandang gunung Cing Shia yang menjulang tinggi ke angkasa, ia menghela napas panjang.

"Gunung Cing Shia... gunung Cing Shia! Sungguh tak nyana dua tahun kemudian aku telah kembali lagi ke sini!"

Dengan rasa dongkol dan penuh kemarahan sambungnya lebih jauh :

"Huuuu....! semuanya ini gara-gara Pek In Hoei bajingan cecunguk anak anjing budukan itu, wataknya jauh lebih keras dari cadas di puncak gunung..."

Chee Thian Gak dapat mendengar semua omelan itu dengan jelas, cuma ia tidak menunjukkan reaksi apa pun kecuali tertawa getir...

*****

Memandang rentetan hutan bambu yang terbentang di depan mata, Chee Thian Gak tertawa getir, pikirnya :

"Sejak kentongan pertama naik gunung hingga kini kentongan ketiga pun hampir menjelang tiba, namun aku belum juga berhasil menembusi hutan bambu ini, rupanya kalau aku tidak bertindak kasar tidak nanti bisa memasuki kuil Hwie Kak An!"

Ingatan lain berkelebat dalam benaknya, pikirnya lebih jauh : "Lebih baik besok pagi aku datangi kuil Hwie Kak An lagi dan

terus terang mengutarakan maksud kedatanganku kepada Hwie Kak Loo Nie serta mohon kepadanya agar meminjamkan kitab pusaka 'Ie Cin Keng' tersebut kepadaku. Kalau tidak bukankah luka yang kuderita akibat pukulan Song Kim Toa Lhama di kala menolong Ouw-yang Gong tempo dulu selamanya tak bisa sembuh?"

Sudah lama dia putar otak memikirkan persoalan ini, namun belum berhasil juga untuk menemukan satu cara yang bagus untuk mendapatkan kitab pusaka Ie Cin Keng tersebut, sebab dia tahu setelah menderita luka dalam secara beruntun ditambah pula dengan luka yang baru belum sempat ia mendapatkan waktu untuk beristirahat, hal ini bisa mempengaruhi isi perutnya dan mempengaruhi pula kepandaian silatnya.

Bila ia harus menembusi hutan bambu ini dengan kekerasan maka berpuluh-puluh keleningan yang digantungkan pada jaring baja di sekeliling tempat itu pasti akan berbunyi dan kedatangannya pasti ketahuan, dalam keadaan begitu sulit baginya untuk melepaskan diri dari cengkeraman Hwie Kak Loo Nie.

Sekarang, dia jadi merasa gemas, dongkol karena Ouw-yang Gong tidak tahu akan kedatangannya ke gunung Cing Shia serta datang membantu dirinya...

Di kala ia masih kebingungan itulah mendadak terdengar suara keleningan yang amat nyaring berkumandang di tengah hutan bambu, diikuti terdengarnya suara teriakan Ouw-yang Gong yang keras bagaikan sambaran geledek :

"Ko In Loo Nikouw, ayoh keluar kau dari sarangmu!"

"Ko In Loo Nie?" pikir Chee Thian Gak dengan perasaan tercengang bercampur tertegun. "Darimana si ular asap tua bisa tahu kalau dalam kuil Hwie Kak An terdapat seorang nikouw tua yang bernama Ko In Loo Nie?..."

Tapi dengan cepat ia tertawa, pikirnya lebih jauh :

"Tingkah laku macam dia juga terhitung suatu hal yang luar biasa, rasanya di kolong langit jarang terdapat seorang manusia yang mendatangi kuil nikouw di tengah malam buta sambil berteriak-teriak suruh sang nikouw keluar menjumpai dirinya, aaaai... rasanya cuma dia seorang yang sanggup melakukan perbuatan ini."

Suara keleningan berbunyi makin gencar, hingga akhirnya seluruh bukit tersebut telah dipenuhi oleh suara yang amat nyaring.

Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benak Chee Thian Gak, pikirnya :

"Seandainya dengan menggunakan kesempatan ini aku membelah bambu tersebut untuk membuka satu jalan masuk, suara keleningan yang berbunyi disini tak nanti bisa terdengar oleh orang- orang dalam kuil..."

Laksana kilat ia cabut keluar kapak saktinya dari pinggang kemudian gerakkan badannya ke samping, sekali bayangan kapak berkelebat lewat sebatang pohon bambu roboh ke atas tanah.

Dengan tumbangnya bambu tadi terbukalah satu jalan masuk baginya, tanpa pikir panjang ia menerobos masuk ke dalam hutan bambu dan langsung menuju ke arah kuil.

"Huuu... akhirnya aku berhasil juga tiba di kuil Hwie Kak An..." pikirnya sambil menghembuskan napas panjang dan menyeka air keringat yang membasahi tubuhnya.

Dari kejauhan masih kedengaran suara raungan gusar Ouw-yang Gong bergema memecahkan kesunyian...

Chee Thian Gak selipkan kembali kapak saktinya ke sisi pinggang, kemudian duduk bersila di atas tanah dan ia bermaksud untuk beristirahat sebentar, setelah lelahnya hilang baru menyusup masuk ke dalam kuil. Mendadak... Goobrrak...! diiringi suara keleningan berdenting nyaring... ketika ia menoleh terlihatlah seorang lelaki kekar berambut panjang sebahu dengan kepala memakai ikat besi berwarna emas, tangannya membawa toya baja menerobos masuk ke dalam.

"Siapakah orang itu?" pikir Chee Thian Gak dengan perasaan kaget, ia siap meloncat bangun.

Dalam pada itu lelaki kate bersenjata tongkat baja itu sudah berteriak gusar :

"Pendekar bertenaga sakti Loe Peng dari partai Sauw lim datang berkunjung, Hey Hwie Kak Loo Nie, kenapa kau tidak munculkan diri untuk menyambut kedatanganku???"

Dengan gemas dan kalapnya orang itu menerjang terus ke depan, seakan-akan dia mau sapu hutan bambu itu jadi tanah lapang. Mendadak sesosok bayangan manusia kembali berkelebat datang, dengan suara yang aneh bagaikan gembrengan bobrok teriaknya :

"Maknya... anak sundal, apa toh yang sedang kau teriakan macam jeritan setan? berisik benar hingga mengganggu tidur aku si orang tua!"

Dimaki dengan kata-kata yang kotor Si pendekar bertenaga sakti Loe Peng naik pitam, tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia ayun toyanya dan dikemplangkan ke muka.

Duuuuk...! getaran keras membuat telinga Pek In Hoei hampir saja berubah jadi tuli.

"Siapa yang datang?" teriak pendekar bertenaga sakti Loe Peng sambil mundur selangkah ke belakang.

"Toayamu adalah si Naga hitam dari Gurun pasir Hong Teng.

Keparat cilik, siapa kau???"

"Aaaai... kembali seorang manusia kasar!..." pikir Chee Thian Gak dengan alis berkerut.

Belum habis dia berpikir mendadak dari belakang tubuhnya menyambar datang segulung angin dingin, laksana kilat ia putar badannya ke belakang, tampaknya seorang nikouw tua berjubah abu dengan wajah penuh keagungan sedang melancarkan satu pukulan dahsyat ke belakang kepalanya dengan tasbeh yang ia cekal.

Chee Thian Gak mendehem rendah, telapak kirinya segera diayun mengirim satu pukulan hebat menolak datangnya tasbeh tersebut.

Nikouw tua itu hentikan langkahnya secara mendadak kemudian kaki kirinya melancarkan satu tendangan kilat ke muka dengan jurus naga sakti mendaki gunung, sementara telapak kirinya dengan membentuk gerakan satu lingkaran busur menghantam bahu kiri lawannya.

Begitu menyaksikan jurus serangan itu menggunakan ilmu Hoe Hauw Koen atau ilmu pukulan menaklukkan harimau dari Go bie pay, Chee Thian Gak segera menyadari bahwa nikouw tua itu bukan lain adalah Hwie Kak Loo Nie.

Ia tidak ingin bertarung melawan nikouw yang pernah menguburkan jenazah ayahnya, dengan cepat ia mundur ke belakang sambil menghindar, serunya :

"Hwie Kak suthay, cayhe datang kemari adalah atas suruhan..."

Belum habis ia berkata angin dingin meluncur datang dari belakang punggungnya, seketika tubuhnya jadi lemas dan ia segera roboh ke atas tanah.

"Kalian manusia-manusia keparat yang menangkap ikan di air keruh..." seru Hee Siok Peng sambil gigit bibir.

Tetapi ketika ia menjumpai raut wajah Chee Thian Gak yang terlentang di atas tanah, sekujur tubuhnya gemetar keras, seketika ia dibikin tertegun dan bungkam dalam seribu bahasa.

Hwie Kak Loo Nie masih belum mengetahui akan perubahan sikap muridnya, terdengar ia berkata dengan suara gelisah :

"Peng jie, cepat pergi ke sebelah Timur, biar kuperiksa keadaan dari dua orang lelaki bodoh ini." Habis berkata tubuhnya segera berkelebat ke arah depan. Hee Siok Peng memandang sekejap ular hijau di lengannya lalu menangis tersedu-sedu, sambil memeluk tubuh Chee Thian Gak teriaknya :

"In Hoei... In Hoe..."

"Aku... aku bukan Pek In Hoei!" sahut Chee Thian Gak susah payah.

"Tidak, kau adalah pin, sekalipun tubuhmu hancur jadi abu tak akan kulupakan bahwa kau adalah pin, peduli betapa panjangnya rambutmu serta betapa kusutnya jenggotmu aku masih kenali dirimu... kau adalah Pek In Hoei..."

Kesadaran Chee Thian Gak berangsur-angsur mulai hilang, dalam keadaan seperti ini ia tak bisa memikirkan soal apa pun juga, ia cuma ingat bahwa tujuannya datang kemari adalah untuk mencari kitab pusaka Ie Cin Keng, maka tanpa sadar ia bergumam seorang diri

:

"Ie Cin Keng... Ie Cin Keng..."

Hee Siok Peng tertegun, tapi dengan cepat ia totok jalan darah Chee Thian Gak, bisiknya sambil menyeka air mata yang jatuh bercucuran :

"Baik, aku pasti akan mendapatkan kitab pusaka Ie Cin Keng untukmu!"

Di tengah hembusan angin malam bayangan tubuhnya yang ramping lenyap di balik hutan bambu, tinggal Chee Thian Gak seorang diri yang menggeletak dalam keadaan tidak sadar.

Cahaya rembulan telah mendoyong ke barat, remang-remang menerangi tubuhnya di balik bayangan bambu, mendadak Chee Thian Gak merintih dan sadar dari pingsannya.

Ia tarik napas panjang-panjang kemudian bangkit berdiri dan melongok ke arah belakang hutan bambu, di situ ia jumpai si pendekar bertenaga sakti dari partai Sauw lim masih saja bersitegang dengan si naga hitam Hong Teng dengan wajah penuh kegusaran. Mendadak terdengar si naga hitam dari gurun pasir membentak keras :

"Padri bau, sambutlah sebuah seranganku!"

Badannya menekuk ke depan, bagaikan seekor biruang raksasa ia tubruk musuhnya dengan dahsyat.

Loe Peng si pendekar bertenaga sakti mengerutkan sepasang alisnya, sepasang kakinya menekuk ke samping, toyanya digetarkan dan laksana kilat digetarkan ke atas.

Traaang...! bentrokan nyaring menimbulkan pusaran angin puyuh yang membuat daun serta ranting di sekeliling tempat itu bergoyang kencang...

"Bagus!" teriak si naga hitam dari gurun pasir.

Badannya yang tinggi besar dengan cepat berputar kencang, kakinya bergeser dua langkah ke samping, kemudian secara tiba-tiba membentur ke arah bawah.

Loe Peng mendengus dingin, ujung toyanya diputar sedemikian rupa dibarengi dengan gerakan tubuh bagian atasnya, seluruh toya mendadak jadi tegang kemudian menyambut dengan gerakan mendatar.

Traaaang...

Kembali terjadi bentrokan nyaring yang menggema di seluruh lembah bukit itu, angin pun menderu-deru... daun bambu berguguran ke atas tanah...

Loe Peng tarik kaki kanannya ke belakang ujung toyanya ditekan ke bawah, sementara buntut toya menyapu keluar, bentaknya :

"Enyah kau dari sini!"

Naga hitam dari gurun pasir membentak keras, badannya yang tinggi besar berputar ke samping, mendadak ia cabut keluar senjata andalannya yang berupa patung tembaga berkaki tunggal, dengan senjata itu ia lancarkan satu sodokan ke muka menghantam toya lawan hingga terpental ke samping kiri... Trang...! bayangan manusia saling berpisah. Hong Teng si naga hitam mundur sempoyongan tiga langkah ke belakang sebelum ia berhasil berdiri tegak.

Ia tundukkan kepalanya memandang sekejap bekas telapak kakinya yang tertera sedalam beberapa coen di atas tanah, lalu mendongak dan tertawa terbahak-bahak.

"Sungguh tak nyana di daratan Tionggioan pun masih terdapat manusia yang bisa diandalkan. Haaaah... haaaah... haaaah... "

Loe Peng mendengus dingin.

"Hmm, aku pun tak mengira manusia dogol dari sungai Hek Long Kang mempunyai tenaga seberat beberapa kati."

Meskipun sepintas lalu nampaknya dia peroleh keuntungan dalam bentrokan barusan tapi dalam kenyataan sepasang kakinya pun sudah amblas sedalam beberapa coen ke dalam tanah oleh bentrokan itu.

Perlahan-lahan ia cabut kakinya dari atas tanah, toyanya diayun ke depan dan hardiknya :

"Masih sanggupkah kau untuk menerima tiga buah kemplangan toyaku?..."

Walaupun orangnya tidak tinggi tetapi kekuatan badannya maha sakti, seperti halnya pula kalau tidak banyak berbicara, sekali buka suara maka begitu nyaring suaranya seolah-olah auman singa.

Menyaksikan kekuatan kedua orang itu begitu dahsyat, Chee Thian Gak yang diam-diam mengintai dari belakang merasa amat terperanjat, pikirnya :

"Sungguh tak kusangka dalam partai Sauw lim masih terdapat seorang jago yang begitu lihaynya, meskipun tubuhnya kecil pendek tapi kekuatan saktinya luar biasa, secara beruntun dia sudah menerima beberapa bentrokan keras dari senjata Hong Teng si naga hitam dari gurun pasir, terutama sekali pada kemplangannya yang terakhir, di tengah kekerasan terdapat kelunakan serta keringanan yang luar biasa, keadaan itu sulit digunakan bagi seseorang yang mempunyai kekuatan tenaga sakti sebesar ribuan kati!"

Sementara dia masih berpikir, terdengar Hong Teng si naga hitam dari Gurun pasir tertawa geram.

"Haaaah... haaaah... haaaah... sudah hampir sepuluh tahun lamanya aku si orang tua belum pernah menjumpai tandingan sehebat ini, sungguh tak kusangka pada malam ini aku telah berjumpa dengan kau!"

Sambil mempersiapkan senjata patung tembaganya, kembali ia tertawa seram.

"Haaaah... haaaah... haaaah... mantap mantap! Mantap!" "Hmmm! aku si hwesesio sedang bertanya keadaanmu, beranikah

kau sambut tiga buah kemplanganku lagi?"

"Apa? Tiga kemplangan?" teriak Hong Teng si naga hitam dengan mata melotot.

"Sekalipun tiga puluh kemplangan akan kusambut juga!" "Bagus!"

Tanpa banyak bicara, toyanya diputar kencang kemudian laksana kilat dihantamkan ke atas batok kepala lawan.

Hong Teng si naga hitam dari Gurun pasir meraung rendah, sepasang lututnya menekuk ke depan, lengannya dijangkau keluar, cepat-cepat ia putar senjata patung tembaganya menyambut datangnya ancaman itu.

Traaaang...! Di tengah suara bentrokan keras yang nyaring tubuh Loe Peng merandek sebentar, kakinya mundur setengah langkah ke belakang, toyanya lantas diputar kencang sambil melangkah maju setindak kembali ia lancarkan satu kemplangan.

Sepasang senjata saling beradu keras, tubuh kedua belah pihak berpisah sejenak untuk kemudian merapat kembali.

Dalam waktu yang amat singkat itulah Loe Peng sudah melancarkan tujuh buah kemplangan kilat sementara Hong Teng dengan tenang dan mantap pun sudah sambut ke-tujuh buah serangan tadi.

Traaaang! Traaaang! Traaaang! tujuh kali bentrokan nyaring menggetarkan seluruh lembah itu, bunyi dengusan memantul kemana-mana, menggoncangkan bambu dan menggugurkan dedaunan...

Chee Thian Gak yang menyaksikan peristiwa itu kembali berpikir dengan hati terperanjat :

"Kalau mereka saling membentur dengan keras lawan keras macam ini, meskipun sebuah batu cadas yang bagaimana keras pun juga akan hancur lebur dibuatnya... entah apa sebabnya mereka saling beradu jiwa?..."

Ketika sinar matanya dialihkan kembali ke tengah kalangan, tampaklah napas Hong Teng maupun Loe Peng sama-sama sudah kempas kempis, jarak antara kedua orang itu pun terpaut enam depa.

Dengan wajah penuh air keringat Hong Teng berdiri berbongkok di tengah kalangan, serunya dengan napas tersengkal-sengkal :

"Hweesio bau, hebat juga ke-tujuh buah kemplanganmu barusan!"

"Anak jadah, siapa yang kau maksudkan hweesio?"

Hong Teng melengak, memandang rambut Loe Peng yang panjang terurai hingga ke pundak serta gelang emas pengikat rambut dengan rasa bimbang ia berseru :

"Kalau kau bukan seorang hweesio,kenapa memakai pakaian lhasa?"

"Aku adalah si pendekar bertenaga sakti Loe Peng, apa kau tidak tahu akan diriku?"

"Ooouw, kalau begitu kau adalah hweesio gadungan!"

"Hey orang she-Hong!" teriak Loe Peng dengan gusarnya. "Rupanya kau masih pengin mencicipi tujuh buah kemplanganku lagi?" "Hmmm, siapa yang jeri kepadamu? mari.. mari... mari... loo toa menanti kedatanganmu!"

Loe Peng tarik napas panjang-panjang, dengan langkah lebar ia maju ke depan kemudian membentak dan ayun toyanya ke depan.

Memandang toya lengkung yang disiapkan lawannya, Hong Teng tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... toya pembuat tepung yang kau gunakan itu, kalau di daerah Hek Liong Kang kami biasanya digunakan waktu mau makan bakpau!"

Loe Peng tidak banyak bicara, ia pegang ujung toyanya kemudian sekuat tenaga ditarik ke atas.

Lhasa yang ia kenakan segera berkibar tanpa dihembus angin, pergelangannya menegang kencang, otot-otot hijaunya pada menonjol keluar, di tengah satu bentakan nyaring toya besar yang melengkung itu tahu-tahu telah diluruskan kembali.

Chee Thian Gak dapat menyaksikan kesemuanya itu dengan jelas, diam-diam ia gelengkan kepalanya sambil berpikir :

"Loe Peng berasal dari partai Sauw lim, rupanya dia adalah seorang jago yang lihay dalam ilmu Gwaa kang maupun Lwee kang, ditambah pula memiliki tenaga alam yang maha sakti. Hmmm, tak nyana cuma disebabkan sedikit persoalan kecil saja ia sudah melakukan perbuatan-perbuatan yang konyol!"

Sementara itu terdengar Hong Teng si naga hitam dari Hek Liong Kang tertawa terbahak-bahak.

"Hey hweesio gadungan, kau pengin beristirahat sebentar? Kalau tidak mungkin kau tak akan sanggup menyambut dua buah seranganku lagi!"

Loe Peng tidak mau banyak bicara, sehabis meluruskan senjata toyanya dengan langkah lebar ia lantas maju ke depan, diiringi suara bentakan keras toyanya menyapu keluar disertai hawa desiran yang sangat tajam. Hong Teng tidak menyangka kalau pihak musuh bisa melancarkan serangan secara mendadak, ia mendengus, senjata patung tembaganya diangkat ke atas lalu sekuat tenaga memapaki datangnya kemplangan itu.

Duuuuk...! di tengah bentrokan keras, percikan bunga api memancar ke empat penjuru, dua sosok bayangan manusia saling berpisah dengan langkah sempoyongan, namun dengan cepat mereka sudah saling bentrok kembali.

Sekujur tubuh Hong Teng bergetar keras, mendadak badannya terpental tiga langkah ke belakang dan hampir saja jatuh terduduk di atas tanah, meski begitu ia masih sempat tertawa terbahak-bahak sambil berseru :

"Puas! puas! akhirnya aku si Loo toa berhasil juga menemukan tandingan..."

"Bagaimana? mau terus diadu?"

"Siapa yang takut? hmmm. Nah! rasakanlah satu kemplangan senjata patung tembagaku!"

"Kau pun cicipi kemplangan toyaku!"

Bagaikan anak kecil yang sedang berkelahi saja, kedua orang itu ribut tak karuan hingga membuat Chee Thian Gak yang bersembunyi di belakang hutan bambu diam-diam mengerutkan dahinya.

Sambil geleng kepala, pikirnya di dalam hati :

"Dua orang manusia tolol itu benar-benar seperti bocah cilik, apa mereka mau saling ngotot hingga salah satu di antara mereka mati? Hmmm, otaknya benar-benar bebal!"

Belum habis ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, mendadak tampaklah tubuh kedua orang itu merandek di tengah jalan sementara senjatanya saling membentur satu sama lainnya dengan menimbulkan suara yang amat lirih.

"Eeeei... jangan-jangan kedua orang itu sudah hentikan pertarungannya...?" dengan alis berkerut kembali ia berpikir. Tapi dengan cepat pertanyaan itu telah terjawab, tampaklah kedua orang itu dengan wajah menahan penderitaan saling berdiri kaku di tempat masing-masing, seluruh otot hijau dalam tubuhnya telah menonjol keluar semua...

Air muka Chee Thian Gak berubah hebat.

"Aaaah, ternyata mereka benar-benar saling beradu tenaga dengan taruhan nyawa, dalam pertarungan macam begini siapa pun tidak akan berani mengendorkan pertahanannya..."

Tubuh kedua orang itu mulai sempoyongan, kemudian makin lama makin tenggelam ke dalam tanah semakin dalam.

Dengan begitu tubuh Hong Teng si naga hitam dari Hek Liong Kang yang tinggi besar pun tinggal separuh bagian, sebaliknya Loe Peng yang berperawakan kecil itu kini semakin pendek lagi.

"Konyol!" maki Chee Thian Gak dalam hati. "Dianggapnya dengan cara begitu masing-masing pihak dapat mengalihkan tenaga musuhnya ke samping, siapa tahu justru karena tindakannya ini membuat mereka semakin cepat menemui ajalnya. Hmmm! menanti tanah sudah menutupi pusar, jangan harap kedua belah pihak bisa hidup jauh!"

Dalam keadaan semacam ini bisa dipahami betapa susah dan serba salahnya masing-masing pihak, sebab barangsiapa yang mengendorkan lebih dahulu tenaga pertahanannya niscaya kekuatan pihak lawan akan menerjang datang bagaikan bendungan yang ambrol, isi perutnya pasti akan remuk dan jiwanya bakal melayang.

Dalam sorot mata masing-masing pihak mulai pancarkan rasa sesal, dongkol dan sedih, keringat dingin sebesar kacang kedele mengucur keluar tiada hentinya membasahi seluruh tubuh, namun siapa pun tak berani sembarangan bergerak...

Diam-diam Chee Thian Gak menghela napas panjang dan pejamkan matanya, dengan kepandaian mengatur pernapasan untuk menyembuhkan luka dalam yang didapatkan dalam kitab Ie Cin Keng, ia salurkan hawa murni ke segala penjuru badan. Cara mengatur pernapasan dari Tat Mo Couwsu yang diperoleh dari negeri Thian Tok ini jauh berbeda dengan ilmu sim hoat tenaga dalam dari aliran partai Thiam Cong tapi ada persamaannya dengan cara mengatur pernapasan dari ilmu 'Thay Yang Sam Sih' sebab kedua-duanya bersumber dari negeri Thian Tok (India).

Hawa sakti mengitari beratur-ratus buah urat dan mengitari badan sebanyak dua kali, rasa segar segera terasa di seluruh tubuh. Ia tarik napas panjang-panjang dan sekali lagi membuka matanya.

Bayangan rembulan telah jauh bergeser dari tempat semula, kabut semakin tebal membungkus permukaan bumi, angin masih berhembus lewat menimbulkan suara gemerisikan pada dahan bambu di sekitar situ...

Melalui celah-celah hutan bambu, ia saksikan dua orang yang sedang beradu jiwa itu telah berdiri kaku bagaikan patung arca, sedikit pun tidak berkutik.

Saat ini sepasang lutut masing-masing pihak telah sama sekali terbenam di dalam tanah, pakaian mereka basah kuyup dan wajahnya berubah jadi pucat pias bagaikan mayat.

Diam-diam Chee Thian Gak menghela napas panjang, pikirnya : "Sayang sekali dalam keadaan begini tak mungkin bagiku untuk bangkit menolong mereka. Aaaai...! jarang sekali dalam kolong langit terdapat manusia bertenaga sakti seperti mereka... kalau kubiarkan mereka mati dengan begitu saja, lalu apa gunanya mereka berlatih ilmu silat dengan susah payah selama ini? Demi memperebutkan nama, jiwa harus   dipertaruhkan...   Hmmm...! benar-benar tak

berharga..."

Kendati dalam hati kecilnya timbul rasa sayang dan kasihan, apa daya tenaganya tak mampu untuk berbuat demikian.

Sementara dia masih serba salah dibuatnya, mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya.

"Aku pernah mempelajari ilmu 'Kau Thian Kioe Hoe' atau sembilan kapak Pembuka langit peninggalan dari Thian Liong Toa Lhama yang kesemuanya mengandalkan peredaran hawa murni untuk menerjang ke-delapan belas jalan darah dalam tubuhku sehingga menghasilkan suatu tenaga hawa sakti yang maha dahsyat, kenapa aku tidak coba menggunakan cara ini yang kemudian digabungkan dengan pelajaran dalam kitab Ie Cin Keng untuk mempercepat mendalami kepandaian tersebut!"

Dengan hati girang pikirnya lebih jauh:

"Seandainya aku berbuat demikian maka bukan saja luka dalamku bisa kusembuhkan dengan cara yang lebih cepat bahkan dapat mengusir pula racun yang dimasukkan ke dalam tubuhku olehnya, tanpa sengaja..." ia menghembuskan napas panjang. "Dengan demikian aku pun bisa menghindarkan kedua manusia bertenaga hawa sakti itu dari kematian yang sia-sia..."

Berpikir demikian tanpa berpikir panjang lagi ia pejamkan mata dan segera mempelajari ilmu tersebut dengan menggabungkan kedua cara yang dipahaminya itu... sekejap mata ia sudah berada dalam keadaan kosong.

Asap putih yang tipis mulai kelihatan mengepul keluar dari batok kepalanya... suasana tenang namun tegang...

Mendadak... suara bentakan nyaring bagaikan guntur membela bumi bergema memecahkan kesunyian yang mencekam seluruh jagad itu...

Suara itu makin lama semakin dekat, begitu dahsyat bunyi suara tadi seolah-olah terdapat berlaksa ekor kuda sedang berlari ke arah situ, membuat seluruh permukaan bumi bergetar keras...

Suara dahan yang patah kedengaran makin nyata diimbangi suara derap kaki yang santer...

Loe Peng serta Hong Teng yang berdiri kaku di tengah kalangan dapat mendengar pula datangnya suara itu, namun mereka tetap berdiri kaku di tempat semula kecuali putaran biji matanya yang penuh disertai dengan pengharapan.