Imam Tanpa Bayangan I Jilid 01

 
Jilid 01

DALAM kisah sebelumnya diceritakan Pek In Hoei jago muda kita terhantam masuk jurang oleh pukulan Hoa Pek Tuo yang maha dahsyat sehingga nasibnya tidak ketahuan.

Sedang Hoa Pek Tuo yang berhasil menghantam roboh musuhnya tiba-tiba merasakan suatu penyesalan yang besar sebab satu satunya orang yang bisa menandingi kepintarannya telah lenyap, ia menganggap sejak itu partai Thiam-cong telah musnah dari permukaan bumi. 

Di saat bayangan tubuhnya baru saja lenyap dibalik kegelapan itulah, mendadak dari bawah tebing yang terjal muncul sepasang telapak tangan yang gemetar keras, seakan akan cakar baja telapak itu mencengkeram batu cadas kencang-kencang.

Orang itu bukan lain adalah Pek In Hoei jago kita yang dihantam masuk jurang oleh lawannya. Dengan susah payah ia merangkak naik ke atas tebing, di atas wajahnya yang penuh penderitaan terlintas rasa bangga yang tak terkirakan.

"Partai Thiam cong tidak akan musnah!" gumamnya sambil memandang kegelapan yang mencekam permukaan bumi. "Partai Thiam cong hanya akan lenyap dari dunia persilatan untuk sementara waktu begitu pula aku Pek In Hoei, tidak akan mati dengan begini saja, mungkin namaku akan hilang beberapa saat dari pendengaran orang..."  Perlahan ia bangkit berdiri sambil mengepal kepalannya kencang-kencang ia berseru:

"Suatu saat aku muncul kembali dalam dunia persilatan. Pek In Hoei tiga patah kata pasti akan mengagetkan seluruh kolong langit."

Kiranya tatkala sang badan mencelat masuk ke dalam jurang oleh pukulan Hoa Pek Tuo yang maha dahsyat tadi, tanpa terasa ia menjerit keras saking kagetnya, pada saat yang seperti itu timbul kemauan yang keras untuk melanjutkan hidupnya.

Maka dengan segenap kemampuan yang dimilikinya ia mengayunkan telapak tangannya ke depan, ia ingin menggunakan sambaran yang terakhir ini untuk mempertahankan jiwanya yang bakal musnah.

Oleh sebab itu, ketika tangan kanannya menyentuh sebuah tonjolan batu cadas di lambung tebing, tanpa sadar batu tadi dicengkeramnya kencang-kencang.

Setelah kesadarannya pulih kembali, ia himpun segenap kemampuan yang dimilikinya untuk setapak demi setapak merangkak naik ke atas, akhirnya usaha ini berhasil juga dan ia lolos dari ancaman maut.

Sambil membelai rambutnya yang kusut, si anak muda itu angkat kepalanya memandang ke angkasa lalu bergumam kembali seorang diri.

"Takdir masih belum menghendaki kematianku di tangan jahanam tua itu, aku tak boleh menyia nyiakan kesempatan bagus yang diberikan kepadaku untuk melanjutkan hidup ini..."

Diam diam ia merasa berterima kasih pula atas pemberian sebutir pil penerus nyawa atau 'Si Beng Wan' yang dilemparkan Pek Giok Jien Mo kepadanya, sebab kalau tidak demikian tak nanti dirinya mempunyai kekuatan sebesar itu untuk merangkak naik ke atas tebing.

Angin malam berhembus kencang... lapat-lapat terdengarlah serentetan suara nyaring menggema di angkasa : "Ada budi harus dibalas dengan budi, ada dendam harus dibalas dengan darah, aku tak sudi dirugikan oleh siapa pun dan tak mau berhutang kepada siapa pun !".

Tetapi... benarkah takdir memberikan budi kepadanya ? dapatkah ia menyelesaikan budi dan dendam yang tiada terhingga banyaknya itu? Jalan kecil yang tiada ujung pangkalnya menjulur di tengah kegelapan dan lenyap dibalik hutan belantara yang gelap gulita, hutan yang begitu lebat dan tak nampak ujungnya di bawah sorot cahaya rembulan tampak seolah-olah sebuah samudra yang amat luas....

Dengan sempoyongan Pek In Hoei berjalan meninggalkan tebing batu karang yang hampir saja merenggut nyawanya, selangkah demi selangkah ia berjalan di jalan kecil yang tiada ujung pangkalnya itu...

Angin malam berhembus seakan akan sedang mentertawakan dirinya yang telah usang, di bawah sorot cahaya bintang, bayangan tubuhnya nampak semakin limbung.

"Ooooh... Pek In Hoei! Pek In Hoe, kau tak boleh melupakan segala penderitaan serta hinaan yang telah kau alami selama ini!" ia benahi rambutnya yang kusut, lalu gumamnya kembali, "Setelah kau sanggup menahan penderitaan batin yang berat, sepantasnya kau pun harus dapat menahan penderitaan atas kesunyian serta kepedihan di dalam hatimu "

Ia angkat kepalanya memandang awan hitam di langit, senyum dingin menyungging di ujung bibirnya, kembali ia berpikir:

"Aku tak sudi menerima rasa kasihan serta rasa iba dari kamu sekalian, aku sudah terbiasa hidup sebatang kara, seakan akan bayangan tubuhku, sepanjang masa ia akan mengikuti diriku kemana saja aku pergi "

Wajahnya mendadak berkerut... air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

"Selamanya aku memang sebatang kara, aku tak sudi dikasihani orang... aku tak sudi orang lain merasa iba atas penderitaanku !" Angin malam membawa pergi jeritannya itu hingga lenyap di ujung sana... kesunyian kembali mencengkeram sekeliling tubuhnya. "Aku tidak seharusnya belajar silat," sambil menyeka air mata yang membasahi pipinya ia bergumam lirih, "Sejak dilahirkan aku memang tiada berbakat untuk belajar silat, aku tahu sekali tubuhku melangkah masuk ke dalam dunia persilatan, sepanjang masa aku tak akan dapat hidup tenang, dunia kangouw pada dasarnya hanyalah suatu lembah yang penuh dengan pusaran. Siapa pun yang terjerumus ke dalamnya maka selama hidup sulit baginya untuk melepaskan diri

dari pusaran tersebut..."

Sambil berjalan otaknya berputar terus, makin dipikir ia merasa makin sedih sampai akhirnya ia merasa bahwa di kolong langit ini tak ada seorang sanak keluarga yang bisa dijagakan, tak ada satu tempat pun yang bisa digunakan untuk berteduh, ia merasa dirinya sebatang kara... seorang diri harus berkelana dalam dunia persilatan, merasakan pelbagai penderitaan dan siksaan tanpa segelintir manusia pun yang sudi menghibur hatinya.

Golakan batin yang luar biasa beratnya ini membuat si anak muda itu tak kuasa untuk menahannya lebih jauh, dengan penuh perasaan tersiksa ia mulai menjerit... bagaikan kalap ia lari sekencang- kencangnya ke depan sambil tiada hentinya berteriak... menjerit...

Entah berapa jauh sudah ditempuh... entah sudah berapa lama ia berteriak teriak bagaikan orang gila... akhirnya Pek In Hoei tarik napas panjang panjang dan menghentikan gerakan tubuhnya, dengan termangu mangu ia berdiri tegak sambil memandang kicauan burung yang beterbangan di angkasa karena terkejut oleh teriak teriakannya itu...

Dengan sedih ia tundukkan kepalanya, ditarik cepat panjang dan duduk ke atas tanah...

Ia mengerti, setelah berlarian beberapa saat lamanya peredaran darah dalam tubuhnya telah berjalan semakin lancar, ditambah pula daya kerja obat penerus nyawa atau "Si Beng Wan" yang ditelannya tadi, bila ia gunakan kesempatan tersebut untuk menyembuhkan luka dalam yang dideritanya, niscaya luka tersebut dengan cepatnya akan sembuh tujuh bagian.

Dalam keadaan seperti ini, ia tak ada waktu untuk memikirkan lagi apa sebabnya Pak Giok Jien Mo memberikan pil penerus nyawa itu kepadanya, seluruh perhatian serta pikirannya telah dipusatkan ke atas Tan Thian guna mengatur napas dan salurkan hawa murninya mengelilingi seluruh badan.

Segulung hawa panas perlahan lahan muncul naik dari pusar, perlahan lahan mengikuti persendian dan urat urat nadi dalam badan menyebar ke seluruh tubuh, dalam waktu singkat sekujur tubuhnya sudah dipenuhi oleh hawa panas tadi...

Mendadak... Di tengah kesunyian yang mencekam hutan belantara itu muncul suara langkah kaki yang nyaring, diikuti sebuah lampu lentera yang terang benderang perlahan-lahan muncul dari balik pepohonan yang lebat menuju ke arahnya.

"Eeeei... apa sebabnya burung burung dalam hutan ini secara tiba tiba pada beterbangan di angkasa?" serentetan suara nyaring menggema memecahkan kesunyian.

"Jangan jangan makhluk tua itu telah melarikan diri masuk ke dalam hutan ini?"

"Hmm...! Hmmm!" suara lain yang lebih keras menyahut pertanyaan itu. "Neneknya anjing tua itu... seolah olah selama hidupnya tak pernah makan nasi, berani benar ia mencuri makanan dalam tenda Pangeran, Hmmm! kalau bukan toa Hoed ya..."

Belum habis dia berkata, diiringi seruan tertahan orang itu roboh terjengkang di atas tumpukan dedaunan yang tebal.

Cahaya lampu berkelebat lewat, orang yang membawa lampu lentera itu segera memberikan reaksinya, cahaya kuning tampak berkelebat lewat. Laksana kilat meluncur ke dalam hutan yang lebat itu. Namun... bagaikan batu cadas yang tenggelam di dasar samudra, sama sekali tidak kedengaran reaksi apa pun dari balik sana.

Entah berapa saat sudah lewat... mendadak terdengar gelak tertawa yang nyaring muncul dari balik hutan, diikuti berkumandanglah serentetan suara yang nyaring:

"Neneknya cucu kura kura, kamu dua orang Lhama bukannya baik baik bersembahyang Lhama-Keng di Tibet, mau apa datang kemari mencicipi air kencing?"

Lampu lentera diangkat tinggi tinggi sehingga di bawah cahaya lampu tampaklah jelas orang itu memakai jubah merah, berkepala gundul dan berdandan seperti seorang Lhama dari Tibet.

Dengan penuh kegusaran Lhama itu membentak keras, tangannya kembali diayun ke depan, dua batang lempengan baja segera meluncur ke arah mana berasalnya suara tadi.

Bersamaan dengan meluncur datangnya dua batang lempengan itu, mendadak dari hutan melayang keluar sesosok bayangan hitam yang segera menyongsong datangnya serangan itu.

Duuuk... ! Duuuuk... ! dengan telak lempengan lempengan baja itu bersarang di tubuh bayangan hitam, jeritan ngeri yang lirih dan lemah segera berkumandang, bayangan hitam tadi tanpa ampun lagi segera roboh ke atas tanah.

Rupanya Lhama berjubah merah itu tidak menyangka kalau sambaran lempengan bajanya akan mendatangkan hasil, dalam tertegunnya ia tidak mempedulikan keadaan rekannya lagi, dengan langkah lebar ia segera meloncat ke arah mana robohnya bayangan hitam tadi.

Siapa sangka baru saja ia tiba ditempat kejadian, mendadak ia temukan bahwasanya kedua batang lempeng bajanya ternyata tertancap di atas sebatang kayu yang besar.

Ia sadar bahwa keadaan tidak menguntungkan jiwanya, sambil berseru tertahan cepat cepat ia putar badan bermaksud lari dari situ, tapi... pada saat itulah sebuah huncwee gede diiringi desiran angin tajam telah melayang keluar dari balik ranting menghantam jalan darah Giok Sheng Hiatnya.

Tak usah ditanya orang yang bersenjatakan huncwee gede itu bukan lain adalah Ouw-yang Gong yang pernah kita kenal.

Sementara itu jago tua yang konyol itu sudah mengambil alih lampu lentera itu dari tangan Lhama yang telah roboh binasa itu, sambil meludah ke atas tanah omelnya :

"Maknya... anak anjing cucu monyet, para Lhama keparat ini bukannya hidup bersenang senang dalam istananya, mau apa mereka lari kemari untuk bikin keonaran... sialan..."

Mendadak ia hentikan ucapannya yang belum selesai diutarakan, huncwee gedenya dengan cepat dilintangkan di depan dada, tubuhnya berputar dan menempel di balik. sebuah pohon besar.

Belum sempat ia padamkan lampu lentera yang ada di tangan, sebilah pedang panjang tanpa mengeluarkan sedikit suara pun telah meluncur datang dari balik kegelapan.

Selapis cahaya pedang yang amat tajam dan menyilaukan mata segera meluncur tiba dengan kecepatan laksana sambaran kilat, dalam sekejap mata tiga buah jalan darah penting di dada jago tua itu sudah terkurung di bawah ancamannya.

Ouwyang Gong terkejut, buru buru ia putar huncwee gedenya untuk menangkis datangnya titik titik cahaya kuning itu.

Triiing... ! Triiiing... ! Triiiing... ! tiga kali suara dentingan bergema di angkasa, seketika itu juga gerakan pedang lawan terhenti sejenak, namun sungguh lihay orang itu, mendadak pedangnya membentuk gerakan setengah busur yang aneh, dari samping laksana kilat membabat masuk ke dalam.

Rupanya Ouwyang Gong tidak menyangka kalau pihak lawan bisa mengubah jurus serangannya dengan begitu cepat, baru saja huncwee di tangannya tersampok oleh pedang musuh, tahu tahu di hadapan tubuhnya telah berkelebat datang lagi sebuah ancaman maut!. Ia menjerit aneh, lampu lentera di tangan kirinya dengan cepat didorong ke depan sementara huncwee gedenya menyapu datar sang badan menyingkir ke samping.

Cahaya lampu berkedipan, sinar pedang menggulung silih berganti... dalam sebuah babatan kilat lampu lentera itu terbelah jadi tiga bagian, separuh batang lilin dengan menempel di punggung senjata meneruskan babatannya ke depan.

Serangan pedang ini benar benar dilakukan dengan kecepatan yang sukar dibayangkan; bukan saja dalam sekejap mata ia sudah kirim tiga babatan dahsyat, bahkan sebelum lampu lilin itu terjatuh ke tanah orang itu sudah menyambutnya dengan punggung pedang.

Ouwyang Gong angkat ujung bajunya untuk diperiksa, ia lihat pakaian itu sudah terbabat sebagian oleh kilatan pedang lawan sehingga robek dan bergelantungan bagaikan bendera.

Diam diam si orang tua itu menjulurkan lidahnya, ia berpikir : "Kalau aku tidak berhasil menghindarkan diri dengan cepat,

Oooh... niscaya lengan kananku ini sudah ambrol termakan oleh senjata lawan..."

"Hmmm! Hmmmm...!" mendadak gelak tertawa nyaring muncul dari balik hutan, Ilmu pedang kilat "Hoei Hong Kwan" dari aliran Hay Lam Pay betul-betul luar biasa, loolap merasa sangat kagum !"

Dengan cepat Ouwyang Gong berpaling, tampaklah enam buah lampu lentera entah sejak kapan sudah menerangi hutan tersebut, seorang Lhama tua yang berperawakan tinggi kekar perlahan lahan munculkan diri ke dalam kalangan.

"Aduuuuuh celaka...! pikir si tua konyol itu dengan hati kecut, "Kurang ajar, aku tak mengira kalau malam ini diriku bisa termakan oleh siasat Song Kim situa bangka sialan ini..."

Sinar matanya berkilat, kembali ia temukan dua orang jago muda bersenjata lengkap munculkan diri dari belakang batang pohon. Kedua orang itu berwajah dingin menyeramkan, sedikit pun tiada perasaan yang terlihat di wajahnya, dengan sorot mata buas mereka awasi diri Ouwyang Gong tanpa berkedip.

Diam diam si huncwee gede menghembuskan napas dingin, ia mengerti bagaimanapun juga sulit baginya untuk melepaskan diri dari kepungan musuh yang begitu rapat pada malam ini.

Diam diam pikirnya :

"Kurang ajar neneknya cucu monyet ! kalau memang anjing anjing ini tak mau melepaskan aku si huncwee gede, baiklah, kuhadiahkan dua butir Pek Lek Cu kepada mereka... agar mereka semua modar jadi perkedel..."

Dalam pada itu Song Kim Toa Lhama, dengan gerakan yang sangat ringan melayang turun lebih tiga tombak ke depan, dengan sikap yang angkuh dan sombong ia berdiri tegak kurang lebih dua tombak di hadapannya.

"Omihtohud!" serunya sambil tersenyum, "Loo-lap rasa sekarang sudah waktunya bagi sicu untuk menjumpai Jie thay cu kami bukan??"

Ouwyang Gong mendehem ringan, perlahan ia maju dua langkah ke depan.

"Thay Koksu kau terlalu sungkan, masa dengan upacara yang demikian besarnya kau hendak undang aku siorang tua untuk menjumpai pangeran kalian?? Hmm... Hmm... seandainya tidak kuterima undanganmu ini... waaah, bukankah aku jadi merasa tak enak terhadap dirimu?"

"Terima kasih... terima kasih..." sahut Song Kim toa Lhama denganalis berkerut.

Dalam pada itu enam orang Lhama muda berjubah merah yang berada di belakang tubuhnya sambil menenteng lampu lentera perlahan-lahan maju ke depan, kemudian berdiri di belakang Song Kim toa Lhama. "Ooouw... di antara tujuh orang jago pedang Bu lim yang tersohor dalam kolong langit dewasa ini sekarang sudah muncul tiga orang disini... waduh... aku orang tua benar-benar boleh merasa bangga atas penyambutan yang luar biasa ini!"

"Ciis...!" si pedang kilat Pelangi terbang Tok See menghardik keras, "Tua bangka sialan, kau masih juga tak mau menyerah dan mandah dibelenggu?? berani betul ngaco belo tidak karuan disini?"

"Nenekmu keturunan ketiga belas yang bau tengik," maki Ouw- yang Gong sambil berpaling. "Apa sih hebatnya perguruan Hay Lam Kiam Pay?? Hmm, bagaimanapun juga orang-orang yang datang dari luar lautan memang manusia-manusia liar yang tidak berpendidikan, sedikit sopan santun untuk menghormati kaum yang lebih tua pun tidak punya."

"Tutup mulut!"

Saking gusarnya si pedang kilat Pelangi Terbang Tok See tak sanggup menahan diri, pedangnya digetarkan keras, lilin yang masih berada di punggung pedang tadi seketika mencelat ke angkasa dan meluncur ke arah Ouw-yang Gong.

Si orang tua itu buru-buru membuang badan bagian atasnya ke belakang, huncwee gedenya diayun ke muka... dengan ujung huncweenya ia sambut datangnya letupan api tersebut.

Pleeetak... pleeetak...! di tengah letupan panjang, api membakar sisa tembakau dalam huncwee dan mengebulkan segulung asap tebal ke angkasa.

Sambil menghembuskan asap tebal, ia tertawa terbahak-bahak dan berseru :

"Haaah... haaah... haaah... terima kasih atas bantuanmu yang sudi pasangkan api buat aku si orang tua!"

Ia merandek sejenak, kemudian dengan wajah serius katanya lagi

:

"Coba kau lihat tingkah laku dari Cian san Kiam Khek yang

berasal dari Tiang Pek san serta To Liong It Kiam yang berasal dari samudra utara... Ehmm, mereka jauh lebih halus dan lebih sopan, cuma... Heeeh... heeee....heee... kau bisa pasangkan api buat huncwee aku si orang tua, rupanya kau si bocah cilik pun boleh juga dididik dan dipupuk!"

Pedang Sakti Pelangi Terbang Tok See amat gusar, sambil mempersiapkan pedang ia maju ke depan, diiringi desiran angin tajam ia babat tubuh Ouw-yang Gong.

Mendadak...

"Tok See!" bentakan keras berkumandang keluar dari Song Kim Toa Lhama.

Sangat cepat serangan pedang itu meluncur ke depan namun cepat pula ia tarik kembali serangannya, sambil mendengus dingin Tok See tarik kembali cahaya pedangnya yang berkilauan.

"Sungguh tak disangka manusia liar tak berpendidikan macam kau bisa terhitung sebagai salah satu di antara tujuh jago pedang dari dunia persilatan," seru Ouw-yang Gong dengan wajah tenang. "Sungguh hal ini merupakan suatu penghinaan bagi dunia kangouw!"

Gelak tertawa seram berkumandang dari balik hutan disusul munculnya seorang lelaki berbaju ringkas dari atas pohon.

"Hey huncwee gede, kau jangan memaki pula dirimu lho...!"

Begitu menjumpai siapakah orang itu, Ouw-yang Gong semakin getir perasaannya.

"Aaaaah, sungguh tak nyana Pay Boen Hay si keparat cilik ini pun telah menggabungkan diri dalam kalangan perwira istana, rupanya rencana kaum Seng Sut Hay untuk merajai Bu-lim masih belum dilepaskan dengan begitu saja!"

Ia tarik napas panjang, kemudian serunya :

"Ooooouw...! aku kira siapa, tak tahunya kau si Kiam Leng koen si pemuda tampan pedang sakti Pay Boen Hay. Hmmm... di antara tujuh jago pedang Bu lim kini sudah muncul empat orang, entah si jago pedang berdarah dingin Pek In Hoei apakah juga ikut datang atau tidak?" Teriakannya yang keras ini segera berkumandang hingga ke tempat yang sangat jauh di tengah kesunyian yang mencekam malam itu, membuat Pek In Hoei yang sedang duduk bersila sambil menyembuhkan lukanya kurang lebih sepuluh tombak dari tempat kejadian itu pun gemetar keras, ia sadar kembali dari konsentrasinya. "Eeei...? bukankah teriakan tadi mirip suara dari Ouw-yang Gong

si tua bangka itu? Kenapa dia pun berada di dalam hutan ini...?" Dalam pada itu terdengar si pemuda tampang pedang sakti Pay

Boen Hay sedang tertawa dingin.

"Hmmm! Pek In Hoei terhitung manusia macam apa? orang seperti itu pun bisa dianggap salah satu di antara tujuh jago pedang dari dunia persilatan? Kalau sekarang ia berada di hadapanku, maka dalam sepuluh jurus pun Lang-koen pasti dapat memaksa pedangnya terlepas dari cekalan! "

"Neneknya cucu monyet, rupanya kau dilahirkan oleh anjing betina! coba dibayangkan dahulu kau Pay Boen Hay itu manusia apa? kau tidak lebih hanyalah cucu murid dari Ciak Kak Sin Mo, anak murid dari Ku Loei si monyet tua itu, berani betul kau. "

Pek In Hoei yang dapat mendengar pula pembicaraan itu, diam- diam tarik napas panjang dan berpikir :

"Saat ini luka dalamku sudah sembuh tujuh, delapan bagian, rasanya untuk mengalahkan manusia yang bernama Pay Boen Hay bukanlah suatu pekerjaan yang terlalu sukar!"

"Aku ingin agar kau bisa melihat betapa lihaynya ilmu pedang Liuwsat Kiam Hoat dari Seng Sut Hay kami," terdengar Pay Boen Hay berseru dengan suara menyeramkan. "Aku hendak tutup bacot anjingmu yang kotor itu dan segera menyerahkan diri kepada Song Kiam Toa Koksu!"

"Eeei?..." kembali Pek In Hoei berpikir, "Sungguh tak nyana disini masih ada seorang koksu dari istana, entah Ouw-yang Gong sedang mengalami kesulitan apa?" Ia mengepos tenaga dalamnya kemudian bagaikan selembar daun kering mengikuti hembusan angin malam meluncur ke arah sebelah kanan tubuhnya.

Ketika itu Ouw-yang Gong sudah menyambut lima buah serangan gencar Pay Boen Hay dan didesak mundur tiga langkah ke belakang.

Ia menghembuskan napas panjang, setelah menenteramkan golakan rasa kaget dan ngeri dalam hatinya, buru-buru ia berpikir :

"Oooh, tak kusangka ilmu pedang yang dimiliki Pay Boen Hay si keparat cilik ini jauh lebih lihay dari suhunya, terpaksa malam ini aku harus adu jiwa..."

Meskipun dalam hati kecil ia sudah mengambil keputusan, bila keadaan sudah kepepet maka dia akan lemparkan bahan peledak Pek Lek Cu peninggalan Pek Lek Sian cu si dewa Pek Lek Hong Loei, tetapi sebelum kedua belah pihak sama-sama menderita luka, ia masih tetap berharap bisa melepaskan diri dari kepungan itu tanpa menggunakan senjata ampuhnya itu.

"Aaaai   " ia semburkan asap tembakaunya dan menghela napas.

"Aku si huncwee gede benar-benar sedang sial, sudah dua hari aku menderita kelaparan disini, karena ingin mencari sedikit makanan tanpa sengaja aku telah memasuki daerah perguruan Jie Thay cu sehingga kini aku dipandang sebagai buronan yang melarikan diri...

huuuu. !"

"Loo sicu, kalau kau ada ucapan terangkan saja di hadapan Jie Thay cu nanti," seru Song Kim Toa Lhama. "Sudahlah, kau tak usah mengulur ulur waktu lagi, bagaimanapun juga tidak nanti kau bisa loloskan diri dalam keadaan selamat pada malam ini."

"Aaaai baiklah, anggap saja aku sedang sial, tanpa angin tanpa

hujan ternyata sudah ketanggor kamu sekalian cucu monyet keturunan cecunguk bau!"

"Ouw-yang Gong, kau benar-benar sudah bosan hidup?" bentak Pay Boen Hay gusar. "Neneknya cucu kura-kura anak anjing, jangan kau anggap aku si orang tua benar-benar tidak berani menghadapi dirimu..."

Ia merandek sejenak, tiba-tiba tubuhnya berjumpalitan di tengah udara, huncwee gedenya laksana kilat dihantamkan ke atas batok kepala 'Cau san Kiam Khek' atau si jago pedang selaksa bukit Long Lek.

Mimpi pun orang she Liong itu tidak menyangka kalau secara tiba-tiba ia bakal dibokong, dalam tertegunnya ia terdesak mundur satu langkah ke belakang.

Setelah sadar apa yang telah terjadi, orang itu membentak gusar, pedangnya segera diloloskan dari sarung dan dibabat keluar.

Ilmu pedang selaka bukit dari aliran Tiang Pek san betul-betul luar biasa, begitu serangannya dilancarkan maka seakan-akan berlaksa-laksa buah bukit karang berbarengan menumbuk tubuh lawan.

Ouw-yang Gong jadi kelabakan, secara beruntun ia rubah dua jurus serangan untuk memunahkan datangnya ancaman lawan, tetapi bagaimanapun juga huncwee gede di tangannya tidak berhasil menembusi pertahanan lawan yang kokoh dan kuat itu.

Karena menyadari bahwasanya serangan itu tak mungkin berhasil menjebolkan pertahanan musuh, tubuhnya segera berputar kencang, dan kini ia balik menubruk ke arah To Liong It Kiam si pedang sakti pembunuh naga Tauw Meh yang berdiri di sudut Barat laut.

"Bagus!" seru Tauw Meh.

Kakinya segera bergeser ke samping cahaya pedang tiba-tiba memancar ke empat penjuru dan segera membentur huncwee gede di tangan Ouw-yang Gong.

"Traaaang...! diiringi suara bentrokan nyaring, tubuh Ouw-yang Gong berputar kencang ke samping, huncwee di tangannya terpental dan menimbulkan letupan api. Ia terkejut, tangan kirinya segera meraba gagang huncwee, ditemuinya sudut huncwee tersebut telah gumpil sebesar beras, hatinya makin terkesiap.

"Neneknya... anjing buduk ini betul-betul hebat dan liar," batinnya dalam hati.

Sementara itu Tauw Meh telah tertawa seram, pedangnya miring ke samping dan kembali melancarkan satu babatan ke depan.

Ouw-yang Gong menjerit aneh, badannya sebat bergetar ke samping, setelah lolos dari ancaman pedang itu mendadak huncweenya berputar dan ditempelkan ke atas bibirnya.

Phuuu... sekuat tenaga ia meniup kencang, sisa tembakau yang belum terbakar habis dalam huncwee itu segera meloncat ke tengah angkasa dan laksana kilat meluncur ke arah tubuh To Liong It Kiam. Tauw Meh tidak menyangka kalau Ouw-yang Gong secara tiba-

tiba bisa mengeluarkan jurus serangan yang demikian anehnya, sementara ia masih melengak, senjata rahasia itu sudah menyerang dadanya.

Dengan penuh kegusaran To Liong It Kiam meraung keras, sekujur tubuhnya mengikuti gerakan pedang bergeser ke samping kanan, maksudnya ia hendak meloloskan diri dari hantaman 'Senjata rahasia itu'.

Siapa sangka percikan sisa tembakau yang meluncur ke depan itu sungguh aneh gerakannya, semakin ia menghindar serangan itu bersarang di tubuhnya makin tepat, tidak ampun lagi pakaiannya terbakar dan kulitnya terluka, saking sakitnya ia sampai menjerit-jerit keras.

"Haaah... haaah... haaah.... bagaimana dengan jurus ular racun melepaskan kentut ini??" jengek Ouw-yang Gong sambil tertawa terbahak-bahak.

Dengan gusar Tauw Meh berteriak keras, sekuat tenaga tangan kirinya menarik ke bawah, pakaian yang terbakar tadi segera terlepas dari tubuhnya hingga tampaklah dadanya yang bidang, kekar dan penuh dengan bulu hitam.

Seluruh cambangnya berdiri tegak bagaikan landak, bisa dibayangkan betapa gusarnya si jago pedang pembunuh naga ini atas permainan usil lawannya.

Ouw-yang Gong bukan manusia bodoh, tidak menanti pihak lawan sampai menubruk datang, tubuh bagian atasnya telah dibuang ke belakang kemudian bagaikan gasingan berputar kencang, huncweenya digetar lalu diputar ke muka, hardiknya :

"Anjing buduk yang bau tengik, sana pulang ke rumah nenek monyetmu!"

Tauw Meh mendengus berat, tubuhnya yang besar kekar berjumpalitan lima enam kali ke belakang, akhirnya menubruk di atas sebuah pohon besar dan roboh terjengkang ke atas tanah.

Satu jurus serangannya mendapatkan hasil, Ouw-yang Gong tidak berhenti sampai di situ, dengan cepat badannya berkelebat meluncur ke arah Barat laut yang kosong.

"Omihtohud, loo sicu, tunggu sebentar."

Bayangan merah berkelebat lewat, Song Kim Toa Lhama telah ayunkan tangan kirinya ke depan, segulung hawa pukulan yang sangat kuat segera membendung jalan pergi tubuhnya.

Ouw-yang Gong merandek sejenak,kemudian tarik napas panjang-panjang, senjata huncweenya dioperkan ke tangan kiri sementara telapak kanannya diayun ke depan melancarkan satu pukulan dahsyat.

"Bluum...! di tengah ledakan keras, tubuhnya terhuyung mundur dua langkah sebelum berhasil berdiri tegak.

"Loo sicu, kenapa kau tidak tahu diri?" seru Song Kim Toa Lhama sambil tersenyum.

Ouw-yang Gong tertegun, kemudian makinya : "Nenekmu yang tak tahu diri! Hmm... bangsat, bangsat sialan, kalian tidak lebih hanyalah komplotan penjual negara yang tak tahu malu!"

Air muka Song Kim Toa Lhama berubah hebat, sepasang alisnya yang tebal berkerut kencang, tidak menanti pihak lawan menyelesaikan kata-katanya ia sudah meluncur ke depan dengan kecepatan yang luar biasa.

Tangan kanannya diangkat, sebuah angin pukulan yang sangat hebat segera dilepaskan.

Sungguh dahsyat angin pukulan dari Lhama tua itu, mau tak mau Ouw-yang Gong yang menyaksikan kejadian itu jadi berubah air mukanya, buru-buru ia salurkan hawa murninya ke seluruh badan, jubah bulu yang dikenakan dalam waktu singkat menggembung besar bagaikan balon yang ditiup keras-keras.

Huncweenya tidak ambil diam, secara beruntun dia pun melancarkan tiga buah serangan kilat untuk melindungi seluruh tubuhnya.

Sayang pihak lawan jauh lebih hebat, maka tak ampun pukulan 'Tay Chiu Eng' Lhama tua itu sudah bersarang di tubuhnya.

Plaaak ! senjata huncwee andalannya pun patah jadi dua bagian

dan terlepas dari cekalan.

Ouw-yang Gong mendengus berat, ia muntah darah segar, mundur empat langkah ke belakang dengan sempoyongan dan akhirnya roboh terjengkang di atas tumpukan daun yang tebal.

Pay Boen Hay yang pada saat itu berada kurang lebih delapan depa dari tempat kejadian, tatkala menjumpai Ouw-yang Gong roboh dalam keadaan mengenaskan segera tertawa terbahak-bahak, dengan langkah lebar ia maju ke depan, lengannya ditekuk siap meringkus si orang tua itu.

Mendadak. senyumnya jadi kaku, tubuhnya miring ke samping,

lengan kanannya diputar seolah-olah hendak menangkap sesuatu di belakang tubuhnya. Song Kim Toa Lhama yang berdiri paling dekat dengan dirinya jadi tercengang, ia segera menegur :

"Apa yang telah terjadi?"

"Ada orang melancarkan serangan bokongan dengan senjata rahasia..."

Belum habis dia berkata, air mukanya telah berubah hebat, wajahnya diliputi oleh rasa kaget, ngeri dan takut yang tak terhingga. Song Kim Toa Lhama cukup kenal siapakah Pay Boen Hay itu, sebagai cucu murid dari Ciak Kak Sin Mo bukan saja kepandaian silatnya lihay, kecerdikannya pun luar biasa, belum pernah ia jeri atau

takut terhadap persoalan apa pun juga.

Kini setelah menyaksikan wajahnya menunjukkan rasa takut, ngeri dan kaget yang tak terkiranya dengan perasaan tercengang ia lantas bertanya :

"Siapa yang berani..." Bagian 14 ****** KETIKA sinar mata Song Kim Toa Lhama tertuju ke atas telapak pby yang sementara itu sudah direntangkan, ucapannya yang belum selesai segera terputus di tengah jalan, wajah Lhama ini pun segera terlintas oleh rasa kaget dan tercengang yang tak terkirakan.

Kiranya benda yang ada di tangan pby tidak lain hanya selembar daun kering yang sudah layu.

Dengan hati terperanjat si pemuda tampan pedang sakti berseru : "Bukankah serangan ini merupakan serangan 'Hoei Hoa Sat Jiet' atau Terbang bunga membunuh orang, suatu kepandaian lweekang

tingkat tinggi?..."

Ucapan ini membuat Pedang Kilat Pelangi Terbang Tok See serta si jago pedang selaksa bukit Liong Lak berubah air muka. Si pedang sakti pembunuh naga Tauw Meh yang baru saja sadar dari pingsannya pun terperanjat sekali mendengar ucapan itu, saking kagetnya ia sampai lupa untuk bangkit berdiri.

Haruslah diketahui ilmu kepandaian Terbang bunga membunuh orang adalah suatu kepandaian maha sakti yang sukar dicapai oleh sementara orang biasa, mereka pun hanya pernah mendengar akan nama ilmu tersebut tanpa pernah menyaksikan sendiri. Maka bisa dibayangkan betapa terperanjat dan ngerinya orang-orang itu setelah menjumpai peristiwa yang maha hebat ini.

Lama sekali Song Kim Toa Lhama baru berhasil menenangkan hatinya, dengan suara berat segera serunya :

"Maha guru dari manakah yang ada di dalam hutan?"

Ia tahu dalam dunia persilatan dewasa ini sudah jarang terdapat manusia yang sanggup menggunakan kepandaian tersebut, bahkan menurut apa yang pernah ia dengar hanya tiga dewa dari luar lautan serta sepasang iblis dari samudra Seng Sut Hay saja yang bisa ilmu tersebut.

Suasana dalam hutan tetap sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun...

Pay Boen Hay termenung sebentar, kemudian berkata : "Mungkinkah orang itu adalah sucouwku atau tiga dewa dari luar

lautan? sebab orang itu tidak bermaksud membunuh orang..."

Belum habis ia berkata, serentetan suara aneh berkumandang keluar dari balik hutan, buru-buru pedangnya dicabut keluar kemudian menyambar ke arah mana berasalnya suara tadi.

Meskipun cukup cepat gerakan pedangnya, namun gerakan ke- enam lembar daun kering itu jauh lebih cepat lagi, secara berbarengan ke-enam lembar daun tadi menembusi lampu lentera dan memapas lilin dalam lentera tersebut.

Cahaya api seketika padam, suasana dalam hutan berubah jadi gelap gulita, Song Kim Toa Lhama meraung gusar, badannya berkelebat lewat, langsung menubruk ke arah mana berasalnya suara tadi.

Bluuum...! di tengah ledakan dahsyat, ia mendehem rendah, tubuhnya yang termakan oleh hembusan angin dahsyat itu terpental balik ke tempat semula dan roboh terjengkang di atas tanah.

Dalam bentrokan barusan lengan kanannya jadi kaku dan linu sehingga hampir saja tak sanggup diangkat, dalam kagetnya sesosok tubuh kembali melayang lewat dari atas kepalanya.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia himpun segenap tenaganya ke tangan kiri lalu diayun ke atas mengirim satu bokongan dahsyat.

Di tengah kegelapan berkumandang bentakan nyaring, ia tahu serangan Tay Chiu Eng yang ditabokkan barusan telah bersarang di tubuh jago lihay tersebut.

Ia segera loncat bangun sambil membentak keras : "Cepat pasang lampu!"

Cahaya lampu menerangi kegelapan, Pay Boen Hay sambil membawa obor jalan menghampiri tanyanya :

"Toa Koksu, kenapa kau?"

Song Kim Toa Lhama menggeleng, sekilas memandang ia dapat menyaksikan pedang si pemuda tampan pedang sakti telah patah jadi dua bagian, diam-diam hatinya merasa bergidik atas kelihayan orang. Dari perubahan sikap lhama tersebut, Pay Boen Hay bisa menduga apa yang sedang  dipikirkan lawan, dengan  suara berat

segera ujarnya :

"Kemungkinan besar orang ini merupakan satu komplotan dengan si huncwee gede Ouw-yang Gong..."

Angin malam berhembus lewat, kembali tiga buah obor telah menerangi hutan belantara yang gelap itu.

"Apakah kalian telah mengejar orang itu?" tanya Song Kim Toa Lhama dengan suara berat. Pedang kilat pelangi terbang Tok See geleng kepala, ia berpaling ke arah pedang sakti pembunuh naga Tauw Meh, namun orang ini sama saja segera gelengkan kepalanya.

"Ketika cahaya lampu belum padam tadi," ujar jago pedang selaksa bukit dengan wajah serius, "kusaksikan meluncur datangnya enam lembar daun kering mengarah kita, segera kuduga bahwa kedatangan orang itu tentulah disebabkan Ouw-yang Gong, maka dari itu menggunakan kesempatan di kala lampu sebelum padam aku segera berdiri di depan tubuh Ouw-yang Gong..."

Alisnya berkerut, dengan nada terperanjat terusnya :

"Tatkala orang itu menubruk datang dengan meminjam kesempatan di tengah kegelapan yang mencekam jagad, laksana kilat aku lancarkan sebuah serangan ke arahnya. Serangan itu dengan cepat telah membendung gerakan tubuhnya bahkan aku merasa bahwa ujung pedangku menusuk tubuhnya..."

Sepasang alis Kiam Lang koen Pay Boen Hay berkerut kencang, sorot mata tajam memancar keluar dari sepasang matanya.

"Ketika pedangmu menancap di tubuh orang itu bukankah kau rasakan seperti menusuk papan baja?? Bukan saja orang itu tidak berhasil kau bunuh bahkan ujung pedang malahan menggelincir ke samping?" tanyanya.

"Kau... dari mana kau bisa tahu??" tanya jago pedang selaksa bukit dengan mata terbelalak.

"Sebab keadaanku tidak jauh berbeda dengan pengalaman yang baru saja kau alami."

Tok See serta Liong Lek saling berpandangan dengan wajah aneh, bukan saja mereka dibikin terkejut oleh kisah tersebut bahkan secara lapat-lapat hatinya terasa bergidik.

Lama sekali.... pedang sakti pembunuh naga Tauw Meh baru menghembuskan nafas panjang sambil berkata : "Sungguh tak kusangka tusukan pedang Pay heng begitu dahsyatnya pun tak berhasil membinasakan dirinya, sungguh membuat orang merasa tidak percaya."

pby tertawa getir.

"Tusukan pedangku yang bersarang di tubuhnya bukan saja tidak berhasil membinasakan orang itu, bahkan pedangku kena dihantam sampai patah jadi dua bagian. Aaaaai...! peristiwa ini sungguh memalukan!"

"Peduli siapakah orang itu kita wajib menyelidikinya hingga jelas..." sela Song Kim Toa Lhama dengan wajah sungguh-sungguh. "Sebab kalau tidak maka keselamatan Pangeran kedua bakal terancam mara bahaya!..."

Tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benaknya, tanpa sadar ia berseru :

"Eeei... di mana ke-enam orang pengiringku?"

Begitu ucapan tersebut diutarakan, ke-empat orang itu baru teringat kembali akan nasib enam orang lhama yang berdiri di belakang Song Kim Toa Lhama sebelum lampu padam tadi.

Dengan perasaan gugup Song Kim Toa Lhama segera melayang dua tombak ke depan dan meluncur ke arah kalangan di mana ke- enam orang pengiringnya berdiri tadi.

"Aaaach! seakan akan disambar geledek di siang hari bolong sekujur tubuh lhama tua itu gemetar keras, ia berdiri mematung di situ tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Thay Koksu, kenapa kau...?" tegur Pay Boen Hay sambil meloncat ke depan.

"Senjata rahasia naga emas!" gumam Song Kim Toa Lhama dengan tubuh gemetar

Liong Lek serta Tauw Meh sekalian secara beruntun segera melayang ke tempat kejadian; tampaklah enam orang lhama berbaju merah itu pada saat ini sudah roboh ke atas tanah dengan badan kaku, pada kening masing-masing orang tertancaplah sebatang senjata rahasia, darah segar menodai wajah mereka.

Dengan cepat si pedang kilat Pelangi Terbang Tok See mencabut sebatang senjata rahasia naga emas dari kening salah satu mayat lhama itu, setelah diperiksa dengan seksama katanya :

"Benda ini terbuat dari emas murni, bagus sekali pembuatannya dan rapi ukirannya!"

"Cara melepaskan senjata rahasia dari orang itu sungguh lihay amat!" ujar Pay Boen Hay pula dengan nada berat, "belum pernah aku orang menyaksikan cara pelepasan senjata rahasia yang demikian tepatnya seperti kejadian ini hari, di tengah kegelapan ternyata enam batang senjata rahasia yang dilepaskan bukan saja terkena pada sasarannya semua bahkan arahnya tepat dan tiada yang berbeda..."

"Jangan-jangan perbuatan ini adalah hasil dari tindakan keluarga Tong dari propinsi Su Cuan??" si jago pedang selaksa Bukit memberikan komentarnya.

Dengan perasaan hati yang berat Song Kim Toa Lhama gelengkan kepalanya berulang kali.

"Senjata rahasia naga emas adalah benda ciptaan serta andalan dari suhengku Thian Liong Toa Lhama, sama sekali keliru besar kalau dikatakan benda itu berasal dari keluarga Tong di propinsi Su Cuan!" "Aaaah..." Pay Boen Hay berseru tertahan. "Yang Koksu maksudkan apakah thay koksu kita terdahulu Thian Liong Toa

Lhama??"

"Sedikit pun tidak salah Thy Koksu pemerintahan yang lampau bukan lain adalah Thian Liong Toa suheng!"

Ia termenung sebentar, kemudian katanya lagi:

"Sejak dua belas tahun berselang suhengku secara mendadak lenyap dari istana, hingga kini perguruan kami secara beruntun telah mengutus tiga rombongan anak murid kami untuk mencari kabar beritanya namun hingga kini Thian Liong Toa suheng belum juga menampakkan diri, sungguh tak nyana malam ini..." "Kalau begitu pastilah Thian Liong Toa Lhama!" teriak pedang sakti pembunuh naga Tauw Meh sambil tepuk dadanya yang bidang.

Song Kim Toa Lhama melengak, sementara dalam hati kecilnya ia pun sedang membatin, mungkinkah orang yang berusaha munculkan diri bukan lain adalah suhengnya Thian Liong Toa Lhama..."

Mendadak... dari tengah hutan yang lebat berkumandang datang jeritan aneh dari Ouw-yang Gong.

"Hey anjing buduk sialan, sebenarnya siapakah kau??"

Song Kim Toa Lhama tertegun, ujung bajunya segera dikibaskan dan laksana kilat ia meluncur ke arah mana berasalnya suara tadi.

Sekejap mata empat jago pedang dari dunia persilatan saling berpandangan sejenak, kemudian memadamkan api obor di tangan mereka dan berbareng lari di belakang Song Kim Toa Lhama.

Angin berhembus kencang... daun kering bergemerisik terinjak kaki... dalam waktu singkat suasana dalam hutan itu pulih kembali dalam kegelapan serta kesunyian yang mencekam.

Dari kejauhan masih terdengar teriakan-teriakan aneh dari Ouw- yang Gong si kakek tua konyol itu :

"Orang edan, anak sinting... kau hendak bawa aku si orang tua pergi kemana..."

*****

Hujan deras yang turun selama beberapa hari membuat desa Keng An cung jadi becek dan penuh dikelilingi lumpur, meskipun di tengah jalan raya masih ada yang berlalu lalang, namun boleh dikata para pelancong yang pada hari biasa naik gunung untuk bersembahyang, saat ini sudah tak kelihatan lagi.

Pagi itu hujan telah berhenti, dari balik awan yang tebal sang surya perlahan-lahan memancarkan cahayanya yang hangat, menyinari permukaan gunung Cing Shia yang lembab membuat pemandangan di situ nampak semakin segar dan indah. Pintu besar sebuah rumah penginapan yang terletak di sebelah kanan dusun itu perlahan-lahan terpentang lebar, sang pelayan yang masih mengantuk dengan tangan kanan membawa sebuah bambu panjang, tangan kiri membawa sebuah bangku kecil perlahan-lahan munculkan diri dari balik ruangan.

Menyongsong hembusan angin yang segar sekujur badannya gemetar sedikit, lalu menguap dan bergumam :

"Neneknya... selama beberapa hari hujan melulu membuat dagangan jadi sepi, tak sesosok bayangan manusia pun yang menginap disini... pagi setiap hari bersembunyi di balik selimut lama kelamaan tulang jadi lemas dibuatnya... mata kena hembusan angin saja badan sudah menggigil..."

Ia letakkan bangku di atas undak-undakan batu lalu duduk berjongkok di sana...

Kain peneduh berkibar terhembus angin, di bawah sorot cahaya sang surya nampak jelas di atas kain itu bertuliskan Penginapan tua Penerus angin, empat huruf besar.

Memandang tulisan di atas kain itu, kembali pelayan itu mengomel :

"Huu... Neneknya... apa itu penginapan tua Soen Hong, sekalipun aku tidak pernah sekolah tapi aku tahu nama itu tidak bagus digunakan disini!"