Ilmu Angin Sakti Jilid 09

Jilid 09

SAAT ITU, kedua-duanya telah bergebrak hampir pada jurus ketiga ratus. Mereka belum ada yang mau menyerah, akan tetapi senjata masing-masing telah banyak mengalami kerusakan. Gouw Nio telah kelihangan tiga buah gelang baharnya. Sedangkan senjata batok kepala manusia Cit Loo hampir seluruhnya hancur. Ruas-ruas senjata pecutnya ada lima buah pula yang pecah hancur.

Sebenarnya melihat kerusakan senjata saja Gouw Nio telah kebingungan. Semula ia mengira dengan kepandaiannya yang sekarang, paling lama Cit Loo akan dapat bertahan hingga jurus yang keseratus. Siapa duga hingga kini pada jurus yang ketiga ratus, sama sekali ia belum merasa berada di atas angin. Bahkan kalau dihitung-hitung ia lebih banyak mengalami kerusakan senjata. Sungguh saat ini si nenek merasa sedikit cemas. Dan kecemasannya ini kian berlipat ganda ketika mendengar Cit Loo memanggil- manggil nama-nama anjing!

Disaat ini pula, pemusatan perhatiannya terpecah. Pembawaan sifatnya yang dulu, belum juga hilang. Dengan demikian, maka segera keadaan pertandingan berobah. Walaupun senjata Cit Loo telah mengalami kerusakan pula beberapa bagian, akan tetapi masih merupakan ancaman bahaya yang tidak kecil. Senjata si nenek sendiri tinggal sebuah, sedangkan perhatiannya telah pecah oleh rasa takntnya pada anjing. Dengan demikian tentu saja sinenek jadi kalut dan kacau garakannya.

Ketika Gouw Nio sedang menarik kembali gelang baharnya yang tinggal semata wayang, dan justru saat itu ia menyabatkan kapaknya ke belakang punggungnya untuk membelah-belah Si putih yang dikiranya benar-benar menerkam. Sungguh kasihan, dia kena tipu mentah-mentah, pada detik itu pulalah ia bukannya dapat mernbunuh anjing, melainkan dirasakannya pundak sebelah kanan tiba-tiba saja sakit. Sebuah pukulan lawan telah mengenainya dengan telak, sehingga si nenek merasa seakan otaknya ikut tergetar. Barulah is sadar bahwa ia telah kena dikibuli.

Bukan kepalang gusarnya perempuan tua ini. Ia jadi nekad. Sedang bagi Siu Lian yang sejak semula mengharap kebinasaan salah seorang dari orang-orang tua itu, kini melihat cara bertarung si kakek yang licik itu, ikut juga merasa penasaran dan gusar. Pada saat ini andaikata si gadis tidak teringat bahwa si kakek dan si nenek adalah orang-orang dari jalan sesat, tentulah dia sudah turun tangan untuk membantui si nenek. Dengan mengeluarkan suara gerengan keras seperti macan tutul, nenek keriput Tan Gouw Nio melancarkan serangan nekad, dengan maksud mengajak mati bersarna lawan. Ia rnaju tiga tindak, kemudian secepat kilat di luncurkannya lengan kirinya maju, maka menyambarlah kedepan gelang baharnya. Serta membarengi dengan itu, kapaknya disambit- kan.

Gouw Nio tidak taHu, kearah bagian tubuh lawan yang mana, senjatanya diarahkan. Karena saat itu, dirasakan pandangan jadi gelap, langit pecah, bumi runtuh, dan tubuh nenek itu ambruk ketanah dengan jantung yang surdah berhenti berdetak...... Sementara itu, melihat siasat berhasil dan kemudian serangannya juga berhasil mengenai sasaran, maka bukan main kiranya gembira hati Cit Loo. Diluar sadarnya karena kegembiraan itulah ia jadi lengah. Ia lengah karena merasa pasti bahwa gempurannya yang terakhir tadi, yang berkekuatan tidak kurang dari lima ratus kati, tentulah bekas isterinya akan tewas seketika. Siapa duga, tengah ia bergembira tiba-tiba gelang si nenek Gouw Nio datang menyerang. Oleb karena jarak antara dia dengan si nenek dekat sekali, maka sulitlah bagi Cit Loo untuk menghindarkan sebagian serangan gelang bahar itu. Masih beruntung, gelang bahar itu dilemparkan oleh tuannya seeara sekenanya saja, hingga berakibat menyerempet bagian kulit lengan belaka. Akibat sentuhan kulit manusia dengan akar tumbuh-tumbuhan itu, tidak membekaskan luka apa-apa, apa lagi berdarah. Naraun suagguh diluar dugaan, sedikit saja gelang bahar itu menyentuh kulit nya, maka Cit Loo merasakan kesakitan dan kepanasan yang amat sangat, hingga si kakek yang memiliki Iwekang sangat tinggi ini jadi terkejut bukan alang kepalang.

Dapatlah dibayangkan, betapa andaikata gelang bahar itu tepat mengenai sasaran. Justeru saat itu, sebelum sernpat ia memikirkan sesuatu maka berkelebat datang bayangan yang berkerelip putih menyilaukan. Itulah senjata kapak Tan Gouw Nio.

Benar-benar hebat. Nenek yang sudah tidak berdaya dan harnpir maut itu. ternyata masih sempat melancarkan serangan yang mematikan! Tapi mujur jugalah Cit Loo. Ketika kapak hampir menancap tepat dipundak kirinya , tepat pada saat itu pula si nenek rubuh binasa, sehingga tenaga bacokan kapak itu. tidak lagi sekuat tenaga yang melontarkan akar bahar. Demikianiah, walaupun pundaknya terluka berdarah, akan tetapi tidak membuat Si kakek roboh. Namun demikian disebabkan kejadian itu, rasa kagetnya makin bertambah-tambah. Dilain saat rasa kaget itu berubah jadi kegusaran. Tidak perduli apakah bekas isterinya itu telah mati atau belum, segera diulurkannya tangannya lalu dengan kesepuluh jarinya, ia meraup kepalanya Gouw Nio, untuk kemudian diangkatnya tubuh nenek itu tinggi melampaut kepala. Caranya ini sama seperti yang dilakukannya terhadap bayi korbannya beberapa jam yang lalu.

Kembali dengan perbuataanya ini ia telah membuat Siu Lian gusar bukan buatan. Bebe rapa saat kemudian, terdengar pekik puas Cit Loo yang melengking rnenyeramkan.

―Ha  ha  ha!  Perempuan  keparat.",  teriaknya.  Dihempaskannya tubuh Gouw Nio yang ting gal kulit belaka itu keatas tanah. Sedang selu ruh tubuh kakek buas itu semakin merah, karena tidak sedikit darah yang telah dihisapnya hingga wajah yang buruk itu tampak menakut merab membara berkobar-kobar.

―Ya, aku harus berbuat demikian. Kalau tidak toh aku akan kau jadikan bulan-bulanan percobaanmu! Hehehe ...!‖

Akan tetapi, terasa bekas luka bocokan kampak dipundaknya ini panas dan perih sekali. Dirabanya luka itu, Dan Cit Loo terkejut. Kiranya luka ini telah membendul besar dan bal!!

―Beracun? Bangsat  kurang ajar! Beracun?!‖  Cit  Loo  memkik- mekik berjingkrakan. Adapun racun ini bekerja sangat cepat. Beberapa saat kemudian sudah jadi makin membesar. Masih beruntunglah kakek ini. Agaknya Giam-loo-ong belum berniat mencabut nyawanya saat ini. cit Loo teringat akan pelajaran gurunya, bagaimana mengeluarkan racun dari badan.

Lekas-lekas diletakannya kedua telapak tangannya keatas tanah. Kernudian dengan sebuah gerakan meletik, ia telah melakukan cara berdiri dengan berjungkir balik, kedua tangannya dijadikan sebagai kaki.

Sebentar-sebentar Cit Loo berpindah tempat. Itulah yang disebut ‗Hawa Kodok Iblis‘, sejenis ilmu pelajaran mengembalikan aliran tenaga dalam. Orang yang menjalankan ilmu ini, pada saat itu seluruh peredaran darahnya tidak berjalan normal sebagaimana biasa melainkan seluruhnya memberikan tekanan kekanan dan kekiri. Dalam hal ini, main besar tenaga Iwekang seseorang, maka akan semakin kuatlah tekanan nafasnya, semakin besar dorongan aliran darahnya, hingga jangankan baru kulit manusia, pembuluh darah ataupun daging biasa, meskipun sepuluh lapis kulit sapi takkan sulit untuk dapat ditembua.

Pada saat yang demikian apabila orang tersebut tidak segera menjalankan ilmu penahanannya, maka dari seluruh lubang kulit tubuhnya akan memancur keluar darah orang tersebut. Dan pancuran darah itu akan berhenti apabila darah dalam orang tersebut telah habis.

Percumalah Hek Ma-hie pencipta ilmu ini apabila ia dapat membut ilmu yang dapat membahayakan diri itu, tidak lantas dapat membuat penangkalnya. Tentu saja tak mungkin. Ia menciptakan ilmu ini untuk kebaikan dirinya, bukan untuk membunuh diri.

Demikianlah, Kin Cit Loo dengan menghembuskan nafasnya, segera beraturan sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang diajarkan oleh Hek Mahie kepadanya, maka ia tahan memancurnya darah dari seluruh pori-pori kulitnya sedemikian rupa sehingga hanya darah yang mengandung racun saja yang membalik deras menuju ke telapak tangannya. Kemudian ketika Cit Loo mengemposkan sedikit tenaganya maka sedikit-demi sedikit melalui telapak tangannya menetes-netes darah kental berwarna hitam. Ketika menggeserkan diri, maka pada tempatnya tadi, tampak berceceran darah berwarna hitam yang menebarkan bau busuk. Dengan cara demikian, setelah beberapa kali ia berpindah maka dapatlah diharapkan usahanya akan berhasil.

Pada kepindahan tempat yang kelima, maka Cin Loo merasa kebeningan pikirannya pulih kembali, dan gatal-gatalpun terasa berkurang, badannya kembali segar.

Akan tetapi teringat kalau didalam tubuhnya terdapat dua benda, sedangkan orang yang akan menjalankan ilmu itu, didalam tubuhnya tidak boleh kedapatan suatu benda apapun.

Karena kuatir akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, dilambungkannya tubuhnya tinggi-tinggi, kira-kira tiga tombak, dengan tubuh tetap dengan kedudukan seperti tadi. Tidak bergoyang. Pada detik selanjutnya, ia telah menurunkan kembali tubuhnya ke tempat asal. Hanya pada saat tubuhnya masih mengapung, ia kempiskan dadanya, hingga dengan demikian dari dalam bajunya yang gedonbrongan, tampak terjatuh keluar dua macam benda, yaitu sebuah peti putih dan sejilid kitab berwarna merah.

Akan tetapi baru saja ia bermaksud untuk melanjutkan ilmunya, tiba-tiba dihadapannya, berkelebat sebuah bayangan yang tidak ketahuan lagi darimana arah datangnya.

Bukan main cepatnya gerakan bayangan itu, hingga ketika Cin Loo baru hendak membalikkan peredaran darahnya dan bayangan tadi telah menjemput peti putih itu.

Tak terlukiskan kagetnya Cin Loo akankegesitan orang yang menurut dugaannya berada diatas kepandaiannya sendiri. Tetapi dengan kejadian yang mengejutkan ini. Cin Loo menjadi sangat gusar, merasa terhina sekali. Lebih-lebih lagi, ada orang yang lancang memasuki guhanya, tanpa ia ketahui terlebih dahulu. Tamnpa memperhitungkan akibatnya, Cit Loo cepat-cepat mengembalikan peredaran darahnya. Peredaran itu cepat sekali. Namun walaupun dia agak lebih cepat sedikit dapat merampas kembali peti itu, karena tadi dia melakukan gerakan perubahan di dalam tubuhnya secara tiba-tiba, maka ketika ia melancarkan serangan dengan kedua tangan diluruskan kedepan hendak menghajar kepala bayangan yang baru muncul tadi, dari kedua telapak tangannya menyembur keluar darahnya deras sekali. Hebatnya, darah yang keluar bukanlah darah yang beracun belaka, tetapi berikut darah bersihnya, menyembur keluar seperti pancuran.

Terkejut tak terkatakan si kakek buas ini. sesaat dirasakannya isi tubuhnya ikut tersedot keluar. disaat itu juga barulah ia menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan besar.

Bayangan yang baru muncul ini tidak lain adalah Siu Lian. Kecuali Cit Loo yang terkejut karena bahaya yang mengancam diri sendiri, agaknya Siu Lian pun terkejut bukan buatan. Ia berhasil dapat merampas peti putih itu dan maksudnya hendak menyingkirkan benda itu, untuk kemudian kembali lagi memberikan hajaran kepada kakek buas dan kejam itu. akan tetapi diluar dugaannya, tampak melesat dua gumpalan warna merah hitam.

Gumpalan pertama dapat dihindarinya, akan tetapi gumpalan kedua yang datangnya beberapa derik kemudian, Siu Lian tak dapat mengelakkannya.

Tidak ampun lagi gumpalan merah menggulaung mukanya. Dasar lagur, ketika gumpalan datang, karena terkejut, mulutnya sedang terbuka lebar, hingga dikutkan baginya untuk menahan bau amis busuk yang memasuki mulutnya. Sekejap saja dirasakan tubuhnya menjadi berat sekali. Tenaga pada kedua belah tangannya berlipat ganda, hanya pada saat itu dirasakan otaknya mejadi gelap. Justeru pada saat pandangan menjadi samar ini, antara kelihatan dan tidak. muncullah bayangan pecut berwarna putih yang beruas- ruas meluncur kepadanya. Walaupun dalam keadaan sadar dan tidak, akan tetapi Siu Lian masih dapat menduga bahwa benda itu tentulah senjata Cit Loo.

Tidak ada jalan mengelak baginya, karena tubuhnya yang dirasakan sangat berat, bahkan kesempatan untuk mencabut senjata yang berada dipunggungnya saja sudah tidak ada lagi, sebab bayangan putih pecut itu mungkin datang lebih dahulu menghajar, maka jalan satu-satunya iapun nekat. Diangkatnya kedua tangannya untuk menyambuti serangan senjata pecut ruas-ruas tulang itu, yang ia tahu sangat lihai bukan main.

Akibatnya sungguh diluar dugaan keduanya. Pada saat itu, sebenarnya Siau Lian telah memejamkan matanya, pasrah pada nasib. Menyesal sekali ia karena akan menemui ajal dalam keadaan seperti itu. dendam sakit hati orang tuanya belum terbalas, tetapi apa daya. Rasanya percuma saja ia telah membuang waktu. Bersusah payah selama sepuluh tahun memperdalam ilmu.

Akan tetapi seperti tidak masuk akal. Termasuk juga Cit Loo yang mempergunalan senjata itu. senjata sambungan ruas-ruas tulang itu hancur lebur ketika membentur tangan kanan Siu Lian, sedangkan Cit Loo merasakan tangannya bergetar sepeerti menusuk-nusuk sumsum.

―Celaka!‖  Cit  Loo  menjerit  kaget.  Kalau  tadi ia  dibikin  kaget oleh tenaga Iwekang si nenek Gouw Nio yang dapat menghancurkan setengah dari batang stalagtit, maka sekarang berlipat-lipat kagetnya malihat kemampuan dara yang baru muncul ini, yang ternyata bisa merusakkan senjatanya denganmudah. Akibatnya dari kaget,maka Cit Loo jadi ketakutan. Bagaimana tidak? senjata pecut ruas-ruas tulang itu, cara pembuatannya luar biasa. Senjata itu mula-mula dimandikan dibawah sinar matahari selama setahun lebih. Setelah itu direndam sibawah tumpukan salju untuk jangka waktu paling tidak selama tiga bulan. Dan selanjutnya setelah disimpan beberapa lama untuk melihat ketangguhannya, barulah kemudian bisa digunakan.

Selama lima tahun malang melintang dikalangan Kangouw, Kim Cit Loo denganmempergunakan senjata tulang ini, belum pernah menemukan tandingan. Selama itu, senjata musuh yang bagaimanapun akan hancur, baik logam biada maupun logam simpanan tak pernah sanggup menghadapi pecut itu.

Siapa duga, hari ini senjata yang sangat ampuh dan diandalkan sekali itu. dapat hancur berantakan terkena pukulan tangan seorang perempuan muda dan dia masih bidup, sementara Cit Loo sendiri rnerasakan nyeri hingga ketulang sumsumnya.

Olele, karera itu, sebab takutnya, tanpa pikir terhadap kitab ataupun peti putih itu, Cit Loo segera angkat kaki, kabur secepat- cepatnya.

Sama sekali Cit Loo tidak menyadari, bahwa bersamaan dengan dia melesat keluar dari guha, Siu Lian sendiri rubuh pingsan. tntah berapa lama gadis itu rebah mene lungkup. Ia tersadar ketika sinar matabari rnenyelinap masuk kedalam guha, membuat cuaca terang ditempat itu.

Apalzah sebeaatnya yang terjadi?.

Sebenarnya sebagai seorang yang meyakinkan ilmu mengeluarkan racun, haruslah Cit Loo menyadari. Akain tetapi karena ilmu ini diperoleh dari Hek Mahie bukanlah karena dia menjadi murid aku-akuan belaka. Sama sekali Cit Loo tidak menyadari bahwa setiap bisa atau racun yang masuk kedalam tubuhuhnya, pasti mendapatkan perlawanan pada waktu itu, oleh karena la membalikkan peredaran darahnya. Sebagian besar darah putih yang beredar dalam tubuhnya akan membentuk pertahanan, sehingga akibat dari persenyawaannya dengan racun itu, akan menghasilkan ‗anti racun‘ yang sangat kuat sekali.

Itulah sebabnya, walaupun tidak seberapa banyak Siu Lian

‗minum‘ itu, akan tetapi tenaganya bertarnbah bebat berlipat ganda, hingga sekali bentur dengan pecut tulang Cit Loo, maka senjata itupun hancur berkeping-keping.

Mula-mula Siu Lian agak tak yakin bahwa dirinya masih hidup. Menilik pantasnya, sedangkan sinenek Gouw Nio yang juga kosen segera tewas terkena pecut tulang itu, apa lagi dia, yang telak-telak menerima hantaman senjata itu deagan tangan.

Tetapi akhirrya pemudi ini insyap juga, babwa dirinya memang masih hidup. Ditelitinya keadaan disekitar guha ini, ternyata kakek buas Kim Cit Loo itu sudah lenyap entah telah kemana. Tidak terlihat walaupun hanya bayang-bayangannya.

Sunyi sekali, dan menyerarnkan suasanansia Apalagi melihat bagkai si nenek Gouw Nio yang tinggal kulit berlipat-lipat itu, sungguh ngeri dan sedih rasanya. Bergidik rasanya, mem bayangkan kekejaman ilmu si kakek Cit Loo yang dahsyat itu,

Siu Lian jadi terberan-heran, ketika terlihat dilantai guha terdapat tanab legok yang bentuknya mirip manusia menggeletak, ia tak tabu babwa sebenarnya tanab legok itu terjadi ketika ia terjatuh, dan "mencap" lantai guha itu. Demikianlah, karena badannya yang menjadi lebih berat berkali-kali lipat, begitu jatuh terbanting, maka menimbulkan bentak cap manusia. Betapa dabsyatnya!

Selang beberapa saat, barulah ingatannya terhimpun kembali. Terlintas dalam pikirannya, apa yang baru saja terjadi atas dirinya. Seketika itu juga terasa mulutnya asin, dan bau amis menguar dekat sekali. Hingga akhirnya dia ingat bahwa ia secara tak sangaja menelan gumpalan darah. Seketika itu pula, perutnya terasa mual.

Cepat-cepat ia mengatur pernapasannya. Serta kemudian duduk bersemedi untuk melakukan siulian. Setelah dirasakannya tubuhnya kembali segar, ia membuka matanya kembali. Tiada lagi terasa perut mual, atau mulut asin bau amis. Bahkan yang membuat ia keheranan, adanya tenaga yang bertambah besar.

Lega hatinya, ketika didapatkannya kitab dan peti putih itu masih berada disitu, tidak kurang suatu apa. Diarnbilaya kedua barang itu. Tanpa pikir apa isinya itu, langsung dimasukanuya kedalam saku.

Peti putih yang sejak semula sudah dicurigainya, segera dibukanya. Seluruh bagian peti itu berlapis kulit kecil putih, dan memberi bentuk seperti sebuah dus tempat bedak. Dan didalamnya terdapat suatu bcnda yang membuat Siu Liam tersentak keras.

Sebuah benda berbentuk singa-singaan berwarna hijau. Matanya bersinar-sinar, seakan hidup. Entah terbuat dari logam apa, namun mena rik hati sekali, akan tetapi juga aguag berwibawa.

Seketika itu juga, Siu Lian berlutut diha dapan benda kecil itu. Kiranya benda inilah tanda lambang kepartaian Ceng Hong-pai, yang kemudian dengan khidmad dan hormatnya benda itu diangkatnya, untuk kemudian dikembalikan ke tempatnya.

Akan tetapi, ketika tangannya baru saja hendak meletakkan lambang partai itu, tiba-tiba terlihat olehnya sebuah lipatan kertas yang mirip surat. Segera diambilnya surat itu, keti ka dibukanya, kiranya benarlah sebuah surat yang bertuliskan lima belas kata : ―Disampaikan kepada cianpwe Kim Cit  Loo  untuk dihaturkan kepada Loo-hiap-kek Hek Mahie Luciepaong. Dari saudara muda mu Ong Kauw Lian, Nepal !"

Singkat sekali isi surat itu, akan terapi bagi Siu Lian kiranya berarti besar. Jelaslah kini siapa yang mencuri benda puiaka ini, juga dimana adanya Ong Kauw Lian yang merupakan musuh besar yang sedang dicari-carinya.

Beberapa saat Siu Lian menengadahkan muka, serta merangkapkan kedua tangannya untuk mengucap syukur kehadiran Tuhan Yang Maha Kuasa, yang kiranya telah melakukan keajaiban ini.

Lekas-lekas dengan tidak mempedulikan segala sesuatu yang ada disekeliiingnya ia tinggalkan guha Cit Lou. Ketika itu matahari telah naik tinggi. Iapun baru tersadar kalau ia telah meninggalkan Hong In lebih dari delapan jam.

Dengan mempergunakan ilmu lari cepatnya yang telah mencapai tingkat tinggi, Sin Lian kembali kebotelnya. Hanya kurang lebin satu jam ia telah tiba, langsung ia menerobos masuk melintasi kamar kuasa hotel.

Melihat kehadiran Siu Lian yang sangat tiba-tiba ini, kuasa hotel dan beberapa orang jongos jadi terheran-heran.

―Nona  Apakah  hendak  bermalam  pula?"  tanya  salah  seorang diantara mereka.

Siu Lian merasakan adanya firasat kurang baik. Ia kuatir, kalau- kalau Hong In ngambek dan meninggalkan dirinya, yang berarti akan membuat urusan tambah ruwet saja.

―Nona,   Kawanmu   sudah  pergi   sejak   tadi  pagi-pagi!"   kata seorang jongos. ―Tidak meninggalkan pesan?‖

―Tidak !" Jongos tadi menggeleng-gelengkan kepalanya. "Pada pagi-pagi tadi, kami dapatkan kamar kosong melompong. Nona tidak ada kawan nona juga tak ada, barang-barang juga bersih. kecuali sepotong uang perak seharga delapan tahil.‖

―Dan  kamar  itu  akhirnya  kami  sewakan  kepada  tamu-tamu yang lain.‖ kata kuasa hotel menyembungi.

Siu Lian mengerti maksud kuasa hotel berkata setengah memohon ini. dan ia juga bukan orang yang suka membuat keonaran. Kamar sudah disewa orang lain, ya sudah. Hanya yang disesalkan adalah sikap Hong In yang selalu hanya menuruti keinginan-keinginan spontan tanpa banyak pikir atau timbang- timbang.

Akhirnya, setelah pikir-pikir tak ada gunanya lagi di tempat itu maka iapun berpamitan pergi. Di luar Siu Lian jadi bingung, karena ketika ia merogoh sakunya disana hanya terdapat sepotong uang perak seharga sekali makan. Uangnya seluruhnya berada dalam buntalan yang mungkin dibawa oleh Hong In.

Ketika perut sudah tak tahan lagi karena lapar, Siu Lian memasuki sebuah rumah makan, walaupun dengan hati kebat kebit. Di tempat itu kebanyakan tamu-tamunya kaum buruh biasa.

Lega juga hatinya, ketika ternyata setelah dihintung-hitung, uangnya masih menyisa delapan chie. Dengan sisa ini ia membeli secarik kain yang cukup dipakai untuk membuntal cap kepartaiannya dan juga kitab Cit Loo. Pada pikirnya, kitab ini akan diberikannya pada Hong In, seseorang yang dianggapnya wajib memiliki benda ini.

Hari ini, sepanjang malam Siu Lian menjelajahi kota Giok Kang Cian. Telah mencari-cari Hong In tidak dapat juga ditemukan. Iapun mencari tempat istirahat dalam sebuah kuil tua, bila perlu untuk bermalam juga.

Menjelang kjam tiga pagi, ketika terdengar suara kentongan tiga kali. Siu Lian keluar dari dalam kuil.

Mengerahkan ilmu meringankan tubuh, ia berloncatan melalui genteng-genteng tumah penduduk menuju ke arah selatan. Itulah bagian kota tempat hartawan-hartawan bertempat tinggal.

Kebanyakan rumah-rumah disitu bertingkat, setidaknya bertingkat tiga. Centeng-centengnya berkeliaran menjaga sekitar pekarangan gedung.

Akan tetapi pada saat itu, tanpa para penjaga rumah-rumah itu menyadari, kedalam gedung besar bertingkat lima, tampak melesat sebuah bayangan hitam. Dan beberapa detik kemudian, bayangan hitam itu telah keluar lagi. Ditangannya terjinjing bungkusan uang. Bayangan itu cepat melesat ke arah utara. Lalu memasuki sebuah kuil rusak yang sepi. Itulah Siu Lian yang terpaksa mencuri sejumlah uang emas. Ia hendak membuat perjalanan jauh dan perlu sekali biaya.

Keesokan harinya, pagi buta sedang ayam jantan berkokok. Siu Lian telah terjaga dari tidurnya. Setelah mencuci muka, maka ia meninggalkan kota Giok-kang-cian! Dengan tujuan yang sudah tetap. NEPAL!

****

Kemanahkah Hong In pergi? Mengapa ia membawa semua barang-barangnya berikut buntalan Siu Lian, hingga Siu Lian terpaksa melakukan pencurian? Pagi itu, ketika ia tersadar dari tudurnya, ia jafdi terkejut ketika mendapatkan temannya tidak ada. Pintu dan jendela tertutup sebagaimana biasa. Hong In membuka jendela dan melompat keluar, barangkali Siu Lian sedang melatih diri?

Tetapi sampai setengah jam lamanya ia mengitari keliling hotel,tidak juga ditemukan orang yang dicarinya. Bayangannya pun tidak!

Akhirnya, karena kesal iapun balik kembali ke kamarnya. Dikemasinya seluruh barang-barangnya, termasuk pula buntalanSiu Lian dibereskannya. Tanpa memberitahu kepada kuasa hotel, ia meninggalkan tempat itu, setelah meninggalkan sepotong uang perak di meja da;am kamarnya.

Di luar pintu kota, dilaluinya sebuah toko yang menjual anjing- anjing dan kuda-kuda mongol. Setelah memilih seekor yang berwarna hitam, tanpa menawar, dibayarnya kuda itu. memangnya pembayaran itu sangat tinggi, maka pemilik toko itu jadi kegirangan.

Dengan tangkas Hong In menceplak punggung kuda. Ketika kedua kakinya menjepit kuat-kuat pada perut binatang itu, maka kuda itu melesat kabur secepat terbang.

Sebentar saja, lima lie telah dilalui. Pikirannya kacau, juga kecewa, mengira bahwa kepergian Siu Lian itu merupakan sikap yang memandang rendah sekali kepadanya. Mengapa tidak mengajakku? Atau setidak-tidaknya meninggalkan hendak kemana?!

Dengan tidak menemukan halangan suatu apa , telah empat belas hari ia menempurh perjalanan. Ketika tiba pada sebuah hutan padang rumput, terasa haus bukan main, karena kecuali matahari pada saat itu sedang naik tinggi tepat berada di atas kepala, juga di sekitar tempat itu tidak terdapat sumber air ataupun sebatang anak sungai, sehingga sampai saat ini Hong In belum minum.

Setelah berpayah-payah mengitari padang rumput itu, maka ketika matahari hampir terbenam, ditemuinya sebuah anak sungai yang melintang dari utara ke selatan. Airnya jernih, dan tanpa membuang waktu lagi Hong In meneguk air beberapa tenggak sehingga badannya kembali terasa segar. Sehabis memberi minum kudanya pula, Hong In bermaksud menceplak binatang itu untuk melanjutkan perjalanan.

Akan tetapi, sedang ia baru saja hendak dudukkan badannya di punggung kuda, matanya yang tajam melihat sekelebat bayangan yang berlari ke arah utara.

Cepat sekali lari bayangan itu. akan tetapi Hong In masih dapat melihat bahwa bayangan itu berpakaian kedombrongan dengan katun India. Seketika itu juga semangat Hong In terguggah, ia yakin bahwa orang itulah yang telah mencuri peti putih dari bawah bantalnya. Cuma bedanya bayangan ini tidak berkuncir dan selama melarikan diri selalu memekik-mekik.

Seketika Hong In sudah menghunus pedangnya untuk mengejar. Akan tetapi segera teringat bahwa lawan sangat lihai, diatas tingkat kepandaiannya sendiri. Maka sambil menunggu gelagat, ia hanya menguntit dengan perasaan meluap-luap dan hati panas.

Mengagumkan kecepatan lari bayangan ini. dengan masih tetap memekik-mekik, menggunakan bahasa yang tidak sedikitpun Hong In dapat memahami, bayangan itu terus berlari dengan kecepatan yang makin lama makin cepat.

Semula Hong In mengira bahwa bayangan itu telah menjadi gila, sebab memekik-mekik tidak karuan juntrungannya. Akan tetapi terdengar sahutan. Sayup-sayup dari kejauhan terdengar suara pekikan yang serupa.

Sebenarnya sejak Hong In membuntuti, bayangan tadi telah menyadari bahwa dirinya telah dikuntit oleh seorang pemudi. Akan tetapi karena agaknya ada urusan yang sangat penting sekali, ia tidak mempedulikannya, melainkan mempercepat tindak langkahnya, sehingga walaupun Hong In telah megerahkan seluruh kemampuannya, ia masih juga semakin ketinggalan.

Pekikan-pekikan bayangan itu, semakin keras menyambut pekikan-pekikan yang datang dari arah depan. Bayangan itu tampak sudah binggal berupa sebuah titik belaka.

Maka kini tampak dua buah titik dikejauhan sana. Yang satu datang dari arah depan bergerak pesat juga seperti titik yang sebenarnya adalah bayangan berpakaian kedombrangan itu.

Sekonyong-konyong ketika kedua titik itu telah saling mendekati, mereka melenting ke udara tinggi sekali. Mereka tampaknya seperti sedang bertarung.

Tadimereka sahut menyahut dengan pekikannya. Mengapa sekarang jadi baku hantam? Tak lama kemudian Hong In datang di tempat itu.

Dan jelaslah kini apa yang sebenarnya terjadi. Bayanganyang dikuntit tadi, yang ternyata adalah seorang asing, bermuka kuning menyeramkan. Rambutnya dikonde ke atas. Orang ini sedang bertarung dengan seorang pemuda tampan yang bersenjatakan pedang.

Ada dua prang lagi yang tidak ikut bertarung. Seorang ading bermuka merah seperti bara. Buruk dan menyeramkan. Hanya kelihatannya dia ini telah terluka. Matanya seperti tidak bisa melihat. sedangkan dibawahnya menandakan tanda-tanda darah yang sedang mengering.

Yang seorang lagi adalah seorang pemuda pula. Kehadirannya di tempat itu, tampaknya hanya menonton, atau mungkin juga karena ia menjadi teman salah satu pihak, yang mana pihak itu tidak memerlukan bantuan lagi.

Sipemuda yang melayani bayangan muka kuning itu, care bertempurnya sangat tenang, akaa tetapi serangannya sungguh aneh, cepat juga berperibawa, seakan dapat mempengaruhi gerakan lawannya. Tampaknya ia tidak perlu kuatir akan berada jatuh dibawah angin. Setiap serangan orang bermuka kuning itu, disambutinya dengan baik, lalut berbalik secara tak terduga ia balas mendesak.

Hong In terus menonton pertarungan dari tempat semnbunyinya. Hatinya sangat tertarik. Sejak usia dua belas tahun ia telah mengikuti kedua gurunya, menuntut ilmu. Disamping itu walaupun ia hanya mengikuti kedua gurunya ini, akan tetapi berkat ketekunan dan kecerdasannya, dalam waktu tujuh tahun ini, cukup banyak pengetahuan dan pengalamannya tentang berbagai cabang ilmu pedang yang ada dikalangan kangouw.

Namun demikian, ia benar-benar tidak mengetahui ilmu pedang yang dimainkan oleh si pemuda tampan tadi.

Lama Hong In sudah memperhatikan dengan seksama, tetapi tetap juga ia tidak dapat menduganya, dari golongan manakah ilmu pedang pemuda itu. ia melihat ilmu pedang si pemuda cepat seperti angin! bahkan tepatnya disebut ilmu pedang angin saja. sebab gerakannya sangat cepat, hampir tak terlihat, akan tetapi bahayanya bagi lawan sungguh mengerikan! Setiap saat melontarkan ancaman- ancaman maut yang tidak terduga. Dalam kagumnya ini, Hong In tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tiba-tiba ia teringat sesuatu! Bukankan ia tadi telah menguntit seseorang yang begitu sangat dicurigainya. Orang itu bermuka kuning?! Mungkinkah dia ini? si iblis muka kuning?! Dia bermuka kuning dan berkebangsaan India! Mungkinkah?!

Sedang Hong In belum dapat mengambil keputusan, tiba-tiba terdengar suara teriakan orang bermuka kuning itu. teriakannya seperti memberikan aba-aba.

Menyusul kemudian, belum sempat Hong In menduga apa yang dimaksud oleh teriakan itu, maka orang bermuka merah itu memperdengarkan teriakan yang serupa! Sekonyong-konyong pula ia telah melancarkan serangan ke arah Hong In. walaupun orang itu kedua matanya tidak dapat melihat, akan tetapi gerakannya sangat cepat. Sebentar saja telah tiba di hadapan Hong In. dengan gerakan yang tidak kalah hebatnya, Hong In melompat ke samping kanan sambil menghunus pedangnya, siap untuk mengirim serangan balasan.

Tetapi sungguh gadis ini menjadi kecele! Ternyata kakek muka merah itu bukannya menyerang dengan sesungguhnya, hanya gertak belaka untuk mencari jalan buat kabur.

Demikianlah, dengan mempergunakan kesempatan ketika Hong In menyingkir, orang muka merah itu menjejakkan kakinya ke kiri, untuk kemudian tubuhnya melayang ke arah semak-semak rumput yang lebat. Ketika Hong In bermaksud mengejarnya, ia hanya mendapatkan tempat kosong belaka. Orang muka merah itu sudah tak kelihatan bayangannya.

Disaat itu pula, terdengar pekik kesakitan si kakek muka kuning. Lalu terlihat tubuhnya mencelat kabur menyusul kawannya meninggalkan ceceran darah yang menyembur dari sebelah lengannya yang telah terpapas buntung. Sebenarnya, waktu si kakek muka kuning ini yang tidak lain adalah Oei Mokko, meneriakkan suaranya agar pergi menyingkir, karena keadaannya sudah menar-benar terdesak hemat. Sebagai juga Hong In ia terheran-heran menyaksikan ilmu pedang lawan yang sama sekali tidak dapat diketahui dari cabang persilatan mana. Seluruh tipu-tipu silat pemuda itu, yang tidak lain adalah Lie Sin Hong teramat cepat dan susah diduga.

Oei Mokko walaupun ia berkebangsaan India, akan tetapi sudah dua puluh tahun lamanya ia menjagio hampir tiga perempat tanah Tionggoan, boleh dibilang hampir segala ilmu silat dari cabang yang manapun telah dikenalnya. Tetapi kali ini bertemu lawan seorang pemuda ini, jangankan dapat mengalahkannya, mengenal ilmu silat lawannyapun tidak!

Pedang lawan bergerak seperti angin dan orangnya berkelebatan seperti bayangan. Sejak pertama kali bergebrak, Oei Mokko selalu menubruk tempat kosong. Sekali waktu sempat ia melihat lawannya di sebelah kanan. Ia segera menerjang kesana. Akan tetapi lawan tiba-tiba lawan telah berada dibelakang tubuhnya, sehingga ia seakan dilibat oleh angin yang berputar-putar membingungkan.

Begitulah, karena menduga bakal kalah, maka Oei Mokko memberi aba-aba saudaranya untuk kabur, sedang dia sendiri, begitu melihat kelonggaran segera melompat pergi.

Tetapi malang baginya, pedang Sin Hong masih sempat menyabet tangan kanannya, hingga buntunglah akibatnya tangan kanan iblis muka kuning ini! untunglah Sin Hong tidak mengejar lebih jauh. Bukankah dengan membutakan matanya Ang Mokko dan membuntungi lengan kanan Oei Mokko itu sudah cukup? Menurut dugaan Sin Hog yang memang masih hijau, dalam kalangan kangou, kedua iblis itu akhirnya akan menyesal dan insyaf, kapok! Dia tidak memperhitungkan bahwa, bagi kedua iblis bangkotan itu, mana mengenal kapok apalagi menyesal?!

―Tua  bangka  muka  merah!  Muka  kuning,  Hari  ini  kuampuni jiwa anjing kalian! Tapi jangan diharap dilaiu waktu, bila kalian berbuat lagi ........ Eh, adik Giok!" Seru Sin Hong mernanggil Giok Hoat Kong pemuda yang juga duduk diluar pertarungan itu.

Sin Hong hendak membicarakan sesuatu, akan tetapi tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda, bersama munculnya sebuah bayangan baju merah yang melekat dipunggung binatang itu.

Tanpa menghiraukan keadaan sekitarnya, bayangan mcrah itu yang bukan adalah Hong In, melarikan kudanya mengejar kearah jalan yang ditempub Oei Mokko. Semnla Sin Hong bermaksud tidak mau tahu urusan orang, akan tetapi segera dilihatnya pemuda tampan Hwat Kong ternyata berlari memburu si baju merah, maka Sin Hong mengejar sambil berseru:

―Tunggu! Mau kemana kau?!"

Tetapi Hwat Kong tidak peduli. Dengan raengerahkan seluruh kepandaian lari cepatnya ia berusaha mendekati kuda yang ditunggangi oleh si baju merah.

Oleh karena mereka berlari cepat menerobos semak belukar, maka kuda yang ditunggangi oleh si baju merah itu jadi sering terhalang. Sebaliknya, baik Oei Mokko ataupun Ang Mokko juga Hwat Kong data Sin Hong dapat berlari dengan leluasa, melompat- ompat atau pun menerobos.

Tak lama kemudian Sin Hong dapat roe nyandak Hwat Kong. Dan keduanya akhirnya dapat menyusul si baju merah, yang kemudian membuat mereka keheraaan, sebab penunggang kada itu kiranya adalah seorang data remaja cantik.

Data itu memang Hong In, tentu saja cantik dan juga cepat membuat laki-laki terpikat hatiaya untuk sekali pandaug.

Diam-diam dalam hati Sin Hong mengeluh.

―Rupanya  dara  inipun  begitu  dendam  ke  pada  India  itu,  Ah, benar-benar iblis itu terlalu besar dosanya. Pastilah urusan hutang jiwa juga., !

Hong In tahu bahwa dirinya diikuti oleh dua orang pemuda tampan. Akan tetapi seluruh perhatiannya sedang tercurah kepada dua orang musun besarnya. Mereka tak boleh lolos. Ia bertekad untuk mengadu jiwa dengan kedua pembunuh orang tuanya itu, bila perlu sanipai titik darah pengbabisan.

Ang Oci Mokko berlari sipat kuping, menerobos hutan belukar untuk menghindarkan jejak dari pengejar-pengejarnya. Akan tetapi hal itu sulit. Karena mereka selalu menjerit-jerit sepanjang jalan tetutama sekali Ang Mokko yang tidak tahu jalan juga ceceran darah dari luka mereka merupakan penunjuk jalan bagi pengejar pengejarnya.

Sin Hong naempertinggi pengerahan ginkangnya. Entah mengapa hatinya merasa tertarik melihat wajah gadis baju merah itu. Bukan karena dia seorang pemuda yang hidung belaag, akan tetapi setelah rnemperhatikan bentuk wajah dara itu, Sin Hong seperti teringat pada seseorang.

Diam-diam sambil mengamati dari dekat wajah Hong In, Sin Hong mengingat-ingat. Hm, dara baju merah! Dara berpita merah! Sepatu merah! Serba merah! Dimana? Dimana aku pernah mengenal dia ini ! Tiba-tiba Sin Hong hampir melompat kegirangan, karena teringat akan perjalanannya sepuluh tahun yang lalu bersama Balghangadar. Mereka pernah menyambangi keluarga Oei Kechung!

―Tidak salah !" seru Sin Hong selanjut nya. ―Bukankah nona ... nona Oei?"

Seketika Hong In menarik kenbali kudanya. Lalu dengan mata membelalak, ia menatap ke arah Sin Hong.

Lalu seperti orang kaget dan gugup, cepat sekali ia meuabok pinggang kudanya. Kuda itu pun melompat pula, berlari dengan sangat cepatnya.

Sebenarnya Hong In sendiri memang rasa-rasa perrah melihat pemuda tampan yang berilmu sangat tinggi itu. Akan tetapi kapan, dia tak ingat lagi. Ingin sekali ia menegurnya, akan tetapi mendadak dirasanya jantungnya berdebar keras ketika melihat ketampanan peenuda yang dapat mengalahkan kedua musuh besar keluarganya itu. Lagi pula, ia kuatir Ang Oei Mokko dapat lolos dari pengejaran, maka ia lebih baik membalapkan kudanya. Urusan lain toh dapat diselelsaikan nanti.

Tetapi Sin Hong dapat berlari menjejeri kuda itu. Bahkan sarna sekali dia tidak tampak ngos-ngosan, karena Iwekangnya yang sudah mencapai tingkat tertinggi. Dan hal ini tambah mernbuat kagurn Hong In belaka.

―Nona  ….  belum  lama  aku  menyambangi  Oei  kechung  lagi, tetapi ….. seru Sin Hong.

―Bagaimana   kau   bisa   nuengenalku?"   Akhirnya   Hong   In menjawab juga.

―Aku  adalah tamu  kecil dirumahmu,  dulu  sepuluh tahun  yang lalu, bersama sahabat ayahmu, Balghangadar ‖ ―Oh  !"  Hong  In  terpekik.  Ia  ingat  sekarang.  Benar,  ia  ingat bahwa saat itu orang tuanya pernah mernperkenalkan kedua orang tamu yang pernah berkunjung kerumahnya. Saat itu Hong In masih gadis kecil kuciran. Kini pemuda itu telah menjadi demikiau lihainya, tambah devvasa dan tampan sekali. Begitu pula, Hong

In sendiri menyadari bahwa dirinya sudah bukanlah gadis yang ingusan lagi.

Terpikir yang demikian, Hong In merasa malu sendiri. Disamping mereka berdua, masih ada pula seorang pemuda tampan pula yang tampaknya genit, dan selalu memandangi Hong In dengan mulut cemberut.

Terhadap pemuda yang terakhir ini, Hong In tidak mengenalnya tetapi mengapa pemuda itu tampaknya membencinya? Hong In jadi sebal melihatnya.

―Nona,  kukira  kedua  iblis  itu  takkan  bisa  lari  terlalu  jauh.

Mereka terluka!" kata Sin Hong.

―Teritna    kasib    atas    bantuanmu.    Tetapi    mengapa    kau melepaskannya? Bukankah sudah tahu bahwa mereka itu musuh besar "

―Punya  musuh  besar  sih,  orang  lain  yang  rnembalaskan  sakit hati, mana patut?!" Tiba-tiba saja Giok Hwat Kong memotong bicara.

―Siapasurulli?"   Hong   In   membentak   karena   tersinggung. Dengan matanya yang bundar, gadis baju merah ini melotot kearah Hwat Hong. Kau kira aku tak sanggup melakukan sendiri? Membunuh monyet tua seperti itu apa susah nya!"

Sebenarnva Hong In sendiri tak yakin pada kata-katanya, Namun karena rnarah, maka ia berkata asal ceplos saja. Hwat Kong menjebikan bibirnya. Sedangkan Sin Hong jadi bingung. la tak tahu, mengapa kedua orang kenalan barunya ini tahu-tahu jadi seperti bermusuhan.

―Yah,  kalau  cuma  membunnh  monyet-monyet  tua  yang  sudah luka barang kali dengan mata meram semua orang juga bisa! Tetapi aku tidak percaya bahwa kau dapat begitu mudah melawan rnereka, Siapa yang tidak pernah mendengar nama Ang Oei Mokko? kalau bukannya Lie-ko yang melakukannya, agaknya sulit diharap.‖

Mendengar disebutnya nama Lie ko, nama si pernuda tampan yang berilmu tinggi nu. Hong In tersenyum dalam hati. Niatnya untuk menanyakan nama pemuda itu sudah ada yang menjawabnya.. Ia ingat persis sekarang bahwa nama pemuda teatulah Lie Sin Hong. Nama yang jadi dapat diingatnya sekarang.

―Sudahlah, kenapa kalian jadi bertengkar?" Sin Hong menukas. "Kewajiban rnembiasakan Aug Oei Mokko itu merupakan kewajiban bersama bagi orang-orang gagah. Tak perlu diributkan lagi. Barangkali sudah waktunya kedua perusak dunia ini akan tamat riwayarnya!" 

Mendengar akan ucapan Sin Hong yang agak condong rnembantu dirinya, Hong In berberdebar hatinya. Namun mendadak ia terkejut, ketika ia tiba-tiba kuda tunggangannya lompat maju, meringkik kesakitan sambil mencongklang sangai pesat kedepan,

―Bangsat cilik! Kau apakan kudaku?!" bentak Hong In.

―Katanya  mau  menangkap  Ang  Oei  Mokko.  Kenapa  pakai ngobrol apa segala?!" sahut Hwat Kong seraya menjebikan bibirnya, dan menyeret tangan Sin Hong untuk mempercepat larinya mengejar. Dengan mengikuti tetes-tetes darah yang masih terlihat tercecer diatas tanah, maka mereka membayangi Ang Oei Mokko yang kini sudah tidak lagi kedengaran suaranya.

Saat itu hari telah mulai rernang kembali. Layung senja merah telah bertukar dengan kegelapan. Dan mereka kiini masih berada di antara semak belukar, yang mereka tidak tahu dimana batasnya.

Tentu sija dengan adanya perubahan cuaca ini, mereka tidak mungkin lagi dapat menjejaki jejak berdarah yang dibekaskan oleh buron mereka. Lagi pula, dalam keadaan malam seperti ini, mengejar musuh yang tak ketahuan dimana beradanya, amatlah berbahaya.

Setiap saat, mereka bisa saja membokong. Oleh karena itu, walaupun tidak bersepakat terlebih dahulu, mereka bertiga menghentikan perjalanannya.

―Tak  mungkin  mereka  berani  membokong"  kata  Hwat  Kong seakan dapat menduga jalan pikiran kedua temannya. Kalau kita berhenti disini, mungkin besok kita takkan dapat menemukan jejaknya lagi. Akibatnya. walaupun seribu tahun lagi kita mencari takkan berhasil menemukan mereka.,.."

Benar juga apa yang dikatakan oleh Hwat Kong. Memberikan waktu kepada kedua orang buron yang terluka itu„ berarti membiarkan mereka mengobati luka-lukanya, untuk kemudian berbalik menyerang atau mungkin arnbil langkah seribu alias minggat. Hal ini tentu saja tidak menguntungkan bagi rombongan Hong In ini.

Hong In ingin sekali membenarkan pandapat Hwat Kong, pemuda tampan yang gerak-riknya kegadis-gadisan itu. Tetapi sungkan! Bahkan terpikir olehnya untuk menyangkalnya dengan jitu. la yakin bahwa cenauda genit itu tentu bermaksud meneari muka dihadapan Sin Hong. Maka ia harus kalahkan dengan segera. ―Dendamku  dengan  iblis-iblis  itu  sedalan  lautan.  Jangankan seribu tahun, seumur dunia akan kujejaki mereka hingga dapat kucincang dengan pedangku!. Orang yang tidak tahu urusan tak perlu ikut campur !"

―Siapa  bilang  aku  tidak  tabu  urusan?"  Hwat  Kong  mengotot.

―Sebelum   kau   muncul,   aku   sudah   bertarung   dengan   rnereka Bukankah begitu, Lie-ko?"

Tentu saja Lie Sin Hong membenarkan perkataan Hwat Kong, dan hal itu saugat menggembirakan Hwat Kong yang merasa menang bicara. Sebaitknya membuat jangkel, Hong In.

―Ah,  benar  hebat  ilmu  kepandaianmu!  Lie-ko  yang  demikian lihainya bertarung melawan Aug Oei Mokko dari jarak dekat. Tetapi kau sambil bersembunyi menonton bisa bertarung melawan mereka. Tentunya kau mempergunakan jurus kura-kura tarik kepala, bukan? Nah, didalam partai persilatan yang manapun tak pernah ada jurus sakti seperti itu, kecuali dari perguruan omong besar, seperti kau!‖

Tak tahan Lie Sin Hong mendengar kata-kata itu, ia tertawa terpingkal-pingkal, sedangkan Hwat Kong yang merasa kena ejekan jitu, wajah nya berubah merah jambu. Untung saja keadaan waktu itu sangat gelap, hingga tidak terlihat betapa pipi pemuda itu memerah seperti pipi gadis,

―Kau  kira  aku  takut  padamu!"  bentak  Hwat  Kong,  seraya bertindak maju.

―Nonton  iblis  berani  tarung  masakah  takut  melihat  aku  yang lagi omong-omong!‖

―Awas aerangan !‖

Hwat Kong yang sudah tak dapat menahan amarah lagi, segera menggerakkan tangannya menyodok kearah dada Hong In. Hong in tidik lengah. Dengan sedikit memiringkan tubuhnya, maka serangan Hwat Kong dapat dihindarinya. Sekaligus gadis berjubah merah, melancarkan serangan balasan.

Sebeilah kakinya yang masih berada di atas kuda itu menendang, mirip gerakan kuda menyepak. Tetapi Sin Hong telah lebih cepat bertindak. Dengan mengangkat kedua tangannya, pemuda perkasa ini berseru mencegah.

―Sudablah! Dengarkan, suara apa itu?!"

Sekalian keduanya segera diam, memasang telinga. Benar saja, raereka segera mendengar so ara sayup. Suara ya'ig terdengar aneh, lengking seperti seruling, akan tetapi juga mendesis seperti- seperti angin puyuh.

Ketiganya saling pandang penuh tanda tanya. Hong In segera teringat sesuatu, lalu katanya:

―Mereka bertempur !"

―Siapa?‖ Hwat Kong lupa bahwa gadis baju merah itu baru saja menjadi lawaanya. Sin Hong manggut-manggut. Walaupun ia belum dapat menduga dengan pasti, tetapi ia yakin bahwa tidak. jauh dari tempat mereka sedang berlangsung pertarungan seru antara orang penjinak ular dengan peniup seruling sakti.

Hong In membalapkan kudanya tanpa bicara lagi. Dia ingat akan Ban Lie Thong, pendekar kate yang jenaka, yang pernah dikenalnya di tanah muncul sungai Giok ho, ketika bertarung melawan kedua siluman.

Sin Hong dan Hwat Kong pun mengikutinya tanpa pasang bicara lagi. Benar saja, setelah mereka berjalan tidak berapa lama, mereka telah tiba pada sebuah padang liar yang sempit yang agaknya merupakan sebidang tanah bekas hutan yang dibabat oleh pemburu.

Pada padang itu tampak duduk seorang laki-laki pendek di atas sebuah pangkal kayu sambil meniup seruling. Sedang kan disekeliling orang ini terlihat berpuluh-puluh ekor ular sendok yang mengelilinginya sambil menari menggerak-gerakkan kepalanya.

Tidak jauh dari tempat padang itu, tampak seorang laki-laki yang mengenakan ubel-ubel di kepalanya. Lelaki ini berwajah menyeramkan, penuh dengan bulu-bulu yang tumbuh pada pipi dan janggutnya. Tubuhnya kurus tinggi, kulitnya hitam kusam. Matanya besar dan cekung, sedangkan hidungnya bengkung seperti paruh burung. Ia mengenakan jubah katun warna putih, sedangkan pada tangan kirinya tergenggam cambuk berwarna belang-belang.

Adapun dibelang orang ini, terlihat sebuah bayangan putih pula, yang menggunguk seperti bonggol pohon. Rupanya diapun manusia juga, tetapi tidak nyata siapa adanya.

Sambil kadang-kadang tertawa ha-ha he-he, lelaki kate yang dikelilingi ular-ular senduk itu berseru.

―Hek Mahie! Hari ini kau akan kehilangan seluruh piaraanmu! Mereka lebih suka mendengar sulingku daripada suara nyanyianmu yang ngorok seperti babi disemblih!‖

Si manusia hitam kurus yang ternyata adalah Hek Mahie ini mendengus geram.

―Hendak   kulihat,   apakah   orang   Liangsan   sanggup   hidup beberapalama lagi!‖

―Aku masih hidup, Hek Mahie!‖ seru Lie Ban Thong. Namun, walaupun demikian jawabnya, terdengar nada suaranya bergear seperti orang yang merasa gentar. Betapa tidak? ular-ular senduk yang besar-besarnya hampir menyamai paha kerbau itu, selalu mendesis menyemburkan bisanya melalui mulutnya yang caplak menyeramkan. Binatang-binatang itu menari-nari memang, keenakan mendengar lagu dari seruling. Akan tetapi setiap suara seruling itu putus, mereka menggelegser maju.

Binatang-binatang itu seakan-akan tahu akan perintah tuannya bahwa mereka harus membunuh si manusia kate itu. dengan matanya yang berkilat itu tidak berkedip, sedang lidahnya bergerak- gerak mengerikan. Barangkali untuk seekor saja belum tentu Ban Lie Thong cukup membikin kenyang.

Tetapi Ban Lie Thong bukanlah orang sembarangan, yang dengan mudah dibikin ketakutan oleh ular-ular itu. dengan sekuat tenaganya, dikerahkannya tenaga khikangnya melalui tiupan seruling. Sehingga walaupun binatang itu dapat bergerak maju pula, akan tetapi mereka harus jath-bangun dan tampak menderita sekali.

Tiba-tiba Hek Mahie mengangkat cambuk belang-belangnya.

Lalu dengan suara mengguntur, berseru mengancam.

―Lie Thong! Aku akan mengampunimu, asalkan …..‖

―Tidak     perlu!     Tak     usah!     Tak     sudi!‖     Lie     Thong memotong.‖Besar mulut kau! Aku takkan membuatmu mati cepat- cepat! Ular-ularku dapat kuperintahkan untuk menggigit jari-jari kakimu saja. menggigit bulu matamu saja, atau mencabut rambut kepalamu agar kau lebih kate!‖

Ban Lie Thong diam. Rupanya ancaman membuat dia makin pendek membikin gentar.

―Tetapi bisa kuampuni jiwa kecilmu asal cepat kau kembalikan kitab dan benda pusaka itu!‖

―Pusaka kentut! Kitab emakmu! Aku tidak tahu!‖ Hek Mahie tertawa, ia menduga bahwa ancamannya cukup berhasil.

―Di guha tempat Cit Loo muridku kudapati bangkai Gouw Nio. Dia kakak seperguruanmu. Kalau dia datang kesana, masakan kau tidak. bukankah kalian saling mencintai?!‖ Hek Mahie mendesak. Ingat! Bila kulecutkan cambukku ini, walaupun malaikat turun menolongmu, tak kan mungkin kau lolos dari ular-ularku!‖

―Omongan busuk!‖

Rupanya benar-benar Ban Lie Hong sama sekali tidak bermaksud untuk membuka mulut. Ia telah memasang lagi serulingnya dimulutnya, dan mulai pula ditiup sekuat-kuatnya.

Ular-ular senduk itu menggeliat-geliat kesakitan. Memang suara seruling itu kini melengking tinggi, memekakkan teling bahwak dapat merusakkan isi dada orang yang tidak memiliki Iwekang yang cukup berarti. Untungnya di tempat itu dan sekitarnya, rombongan Sin Hong adalah muda-mudi yang kepandaiannya cukup tinggi, hingga mereka tidak menderita suatu apapun.

Binatang-binatang itu agaknya bermaksud akan bergerak mundur, namun segera terdengar sura ledakan cambuk Hek Mahie yang menggelegar nyaring. Di udara mengepul asap hitam dan bau busuk dari cambuk itu, mirip bau darah membusuk.selanjutnya seperti disulap, ular-ular kobra itu seketika meronta, lalu meletik ke arah Ban Lie Thong. Meluncur seperti panah-panah daging yang menggeliat-geliat kearah pendekar pendek itu.

Agaknya orang tak akan percaya bahwa binatang-binatang buas semacam itu dapat berubah menjadi sebatang panah bensar yang bentuknya aneh. Sin Hong dan kawan-kawannya hampir terpekik karena kaget dan ngeri. Mungkin orang belum mati sekali tumbuk oleh panah ular besar itu. Akan tetapi agaknya akan segera mati karena mati dan jijik.

Demikian pula agaknya keadaan Ban Lie Thong. Ia tidak mampu melakukan suatu apa, kecuali mendelikkan mata dan mulutnya menganga, sambil tubuhnya gemetaran menggigil.

Tampaknya sebentar lagi maut akan segera menimpa pendekar kate dari Liangsan ini. tak kan tertolong, seluruh tubuhnya akan menjadi sasaran panah-panah ular besar itu. namun kiranya Giam Lo ong belum menghendaki kehadiran lelaki kate itu.

Sebelum binatang-binatang berbisa itu sampai menyentuh tubuh Ban Lie Thong, terdengar suara mendengung sangat nyaring, seperti dengungan gangsing raksasa. Dan pada saat itu juga, di udara tampak berkelebatan sinar putih yang berkilatan berlompatan kian kemari dibarengi dengan suara terbacoknya daging dan tulang.

Seketika terciumlah bau amis darah yang menusuk hidung. Kepala-kepala ular berpelantingan ke udara menyemburkan darah, sedangkan badan ular itu berkoseran mengerikan ekornya mengigil seperti merasakan kesakitan yang amat sangat.

Ketika kelebatan sinar tajam berkilat itu berbenti, maka di tengah arena tampak sesosok bayangan yang langsing yang berdiri dengan kaki melebar. Gagah dan agung sikap pendatang ini. pedang di tangannya telah kembali dimasukkan ke dalam sarungnya.

―Enci Lian!‖ seru Hong In terpekik.

―Lian Moay …..‖ perlahan akan tetapi terdengar nyata, seruan kaget Sin Hong yang pada penglihatannya sendiri, bahwa gadis yang selama ini dirinsukan dan diduga telah meninggal dalam guha beruang, ternyata kini muncul dengan tiba-tiba. Seandainya tidak banyak orang di situ, tentu Sin Hong akan memburu maju, untuk menanyakan segala macam hal, dan mencurahkan isi hatinya yang selama ini terpendam dalam dadanya. Tetapi melihat keadaan demikian maka pemuda ini maju mundur ragu-ragu.

Benar yang baru muncul itu adalah An Siu Lian adanya. Sepeninggalnya dari guha Cit Loo, gadis ini bermaksud melanjutkan perjalanannya menuju Nepal guna menemukan musuh besarnya, Ong Kauw Lian. Akan tetapi dalam perjalanannya ini, ia mendengar suara pertarungan bunyi antara seruling dan desis ular- ular. Itulah sebabnya maka ia datang untuk mengintai dan menyelidikinya.

Sebagaimana telah dipaparkan di depan bahwa antara An Siu Lian dan Ban Lie Thong telah terjadi perkenalah dan hubungan baik. maka melihat keadaan Ban Lie Thong yang dalam bahaya seperti itu, ia segera turun tangan.

Sebenarnya Siu Lian juga telah dapat melihat kehadiran Sin Hong maupun di luar pertarungan itu.

Siu lian juga dapat mengenali bahwa pemuda itu adalah pemuda yang selama ini menggugah rasa cinta dihatinya. Akan tetapi, kini dilihatnya pemuda itu ada bersama Hong In, sikap kedua muda-mudi itu demikian akrab. Maka sang cemburu pun berkobar dihatinya. Walaupun hati rindu tak terkatakan, akan tetapi Siu Lian berusaha menjaga diri, seolah-olah tidak mengenal.

Tak terhingga terkejutnya Hek Mahie, melihat kejadian yang sangat mendadak itu. tindakan membunuhi ular-ular dengan sebatang pedang tidaklah mengherankan. Akan tetapi melihat kenyataan bahwa gadis itu dapat muncul tanpa suara dan segera turun tangan begitu cepat hingga Hek Mahie tidak sempat melindungi binatang piaraannya, itulah hebat! Gerakan-gerakan gadis yang baru datang itu mirip burung walet. Gerakan pedangnya mirip bianglala yang sering tampak melengkung di atas pulau. Serta loncatan-loncatannya yang mirip ikan terbang, mengingatkan Hek Mahie pada seseorang.

Segera pendeta India itu berseru :

―Eh, perawan,! Ada hubungan apa kau dengan dua orang jelek dari Tho-liu-to?‖

Siu Lian terkejut, lalu sahutnya, ― sungguh jeli matamu Hek Mahie! Mereka yang mulia adalah guru-guruku!‖

Mendengar keterangan Siu Lian, Hek Mahie tertawa melonjak seperti orang kegelian. Sebaliknya Ban Lie Thong dan yang lain- lainnya diam–diam merasa kagum. Kiranya gadis cantik itu adalah murid sepasang tokoh sakti dari pulau Tho-liu-to.

―Panta  saja  kau  tidak  tahu  adat  seperti  itu!‖  sambung  Hek Mahie, ―Kedua monyet itu apakah masih hidup?‖

Menurut pantasnya mendengar perkataan Hek Mahie, tentunya dia bersahabat dengan kedua orang gurunya itu. akan tetapi Siu Lian menganggap sebaliknya. Orang yang menghina gurunya adalah musuh!,

―Guru-guruku  adalah  orang  baik-baik,  bukan  jahat  dan  keji seperti kau! Walaupun kau seorang tua bangka, tetap bukan ukurannya untuk menghina mereka!‖

Hek Mahie tertawa sinis. Matanya yang cekung itu mendelik menyeramkan.

―Dasar  budak  tak  tahu  selatan,  walaupun kedua  gurumu  maju bersama, belum tentu sanggup menahan tinju jurusku! Hei, budak cilik! Sebelum kutumpas kedua kutu pulau itu, sekarang hendak kupijat dulu telurnya disini. Awas!‖ Bukannya main-main ancaman Hek Mahie. Semua tokoh persilatan mengenal tokoh yoga dari insia ini. bahkan dikabarkan kulitnya seliat tembaga, tulangnya sekeras baja. Jangankan hanya Siu Lian, murid yang baru turun gunung kemarin sore, sekiranya gurunya sendiri yang harus turun tangan, masih harus mikir-mikir dulu.

****