Ilmu Angin Sakti Jilid 07

Jilid 07

GUSAR bukan buatan tukang tenung itu. Dengan pengerahan tenaga Iweekangnya yang dalam, kepala ular sinduk itu dihancur- leburkannya, Dan ular yang dua ekor lagi, disabetnya dengan pedang menjadi potongan-potongan delapan.

Melihat kehebatan lawannya, terutama kehebatan permainan pedangnya, plata Hek Ma Hie ambil langkah seribu, alias kabur. Semula Tie Koan Cat bermaksud mengejarnya. Akan tetapi bisa sacun ular yang menjalar di tububnya telah menghebat hingga ke pinggang. Demikianlah selanjutaya, Tukang tenung itu membiarkan lawannya melarikan diri, sedang ia sendiri dalam keadaan setengah sadar setengah pingsan. Ia pergi mencari sebuah dusun, untuk mencari pertolongan. Ketika tiba disebuah pondok, maka ia merebahkan diri, tanpa mengingat lagi siapa pemilik pondok itu.

Kiaranya pada saat itulah tukang tenung yang wataknya angin- anginan itu mendapat pertolongan pengobatan dari An Hwie Cian. Seorang tabib yang sedang memperdalam ilmu ketabibannya. Berkat kecermatan dan kepintarannya maka akhirnya, Tie Coan Cai dapat diselamatkan ajalnya.

Karena ingatan inilah maka ketika Tie Koan Cai berada di Shoatang bermaksud hendak menyambangi Ceng-bong-pay, Akan tempi secara tak diduga disebuah rurnah makan ia telah berternu dan duduk menghadapi satu meja dengan puteri penolongnya. Ketika mendengar keterangan dari si putri bahwa sang perolong telah terbunuh maka Tie Koan Cai telah melompat dan menghilang.

Hari itu juga, dengan menggunakan seluruh ilmu kepandaiannya, tukang tenung itu berlari meninggalkan Shoatang untuk buru-buru sampai di Ceng hong san. Hatinya cemas, bimbang, sedih tak terkirakan. Esok malamnya iapun sampai di tempat yang dituju. Tetapi begitu tiba disana, benar-benar ia hanya menemukan kuburan belaka. Karena menyesal dan sedihnya, maka tukang tenung itu menangis sepanjang hari disamping kuburan itu.

Setelah itu barulah ia terkejut sendirinya menyesal, karena baru sekarang ia teringat bukankah gadis yang menyamar sebagai pemuda di rumah makan Shostang itu puteri An Hwie Cian? Meogapa ia tertindak begitu ceroboh dan kurang pikir meninggalkan puteri penolongnya itu begitu saja. Ingatan ini membuat penyesalan dan kesedihannya makin menjadi-jadi. Tetapi tak adalah manfaatnya menangis dan bersedih belaka. Iapun memutuskaa tekadnya untuk kembali ke Shoatang, mencari dan menemukan puteri sababat peuolong jiwanya itu.

Akan tetapi keesokan harinya ketika ia tiba di Shoatang, ia tidak menemukan gadis itu lagi. Tie Koan Cai mencarinya keseluruh kota Shoatang, akan tetapi juga sia-sia belaka usahanya itu. Hingga ketika beberapa hari kemudian ia kembali kerumah makan itu pula, ia menemukan dua orang pemuda yang hampir serupa yang berdandan sebagai anak pertapaan. Mereka ini adalah Than Cian Po bersama anak-anak dan isterinya. Disinilah karena kecongkakan keluarga Than Cian Po itu, mereka lantas terlibat pertengkaran dengan tukang tenung ini. akan tetapi para murid aku- akuan Mie Ing Tianglo mana boleh melawan Tie Koan Cai?

Memangnya Tie Koan Cai sendiri tidak bermaksud menyusahkan orang, maka iapun tidak menarik panjang persoalan itu dan ia pergi meninggalkan mereka untuk melanjutkan usahanya mencari Siu Lian.

Sedangkan Tan Cian Poo bersama isteri dan anaknya lantas pergi ke Thai san untuk menjumpai gurunya. Mie Ing Tianglo, untuk melapor bahwa paman guru mereka An Hwie Cian telah terbunuh, akan tetapi mereka inipun hanya tinggal terkejut belaka, sebab Mie Ing Tianglo menemui nasib yang serupa, mereka hanya menemui kuburan gurunya belaka.

Tan Cian Po, walaupun orang tinggi hati akan tetapi terhadap guru akuannya itu sangat bakti sekali. Dalam kesedihan yang tak terkatakan itu ia pergi ke tanah Turki, untuk mencari bantuan guna mencari pembunuh gurunya. Orang Turki itu adalah sahabat kental Mie Ing Tianglo, sehingga kedatangan Tan Cian Po disambut dengan baik disana. Mendengar bahwa An Hwei Cian dan sahabatnya Mie Ing Tianglo terbinasa begitu rupa, maka bukan main sedih dan gusarnya sang sahabat ini. namun karena ia merasa sudah terlalu tua, maka ia mengutus seorang muridnya yang bernama Karra Gamalge, untuk menuntut balas kematian Mie Ing Tianglo tersebut. Akan tetapi jangankan sempat bergebrak dengan Ong Kauw Lian yang saat itu kepandaiannya sudah susah dicari tandingannya itu, murid dari turki itu tidak dapat berbuat banyak. Bahkan akhirnya ia ambil langkah seribu ketika Balganadar dengan Auwyang Siang Yong.

Tentang Tie Koan Cai yang sedang mencari puteri An Hwie Cian, hingga beberapa bulan kemudian ia tiba di pulau Tho Liu-to, diaman suhengnya Gouw Bian Lie bertempat tinggal. Kepada suhengnya itu, karena dia sudah merasa berputus asa, minta bantuannya untuk mencari Siu Lian. Demikianlah kiranya, Tie Koan Cai yang telah menjelajahi puluhan kota dan naik gunung mencari Siu Lian tidak herhasil, kiranya Gouw Bian Lie lah yang secara kebetulan telah menemukan gadis itu.

Gouw Bian Lie melihat kata-kata baik pada diri Siu Lian, lagipula ia mengingat akan budi An Hwei Cian yang telah menyelamatkan sutenya, maka ketika Siau Lian memohon ingin menjadi muridnya, dengan segala senang hati Gouw Bian Lie lantas menerimanya.

Bersama-sama merekapun meninggalkan gunung Thian san karena beberapa hari menjelajahi seluruh pelosok gunung itu, tidak juga menemukan Sin Hong. Beberapa hari kemudian, merekapun telah berada di pulau Tho liu-to kembali.

Pulau Tho liu to adalah sebuah pulau agak besar juga. Disekelling pulau tumbuh pohon-pohonan tinggi yang seakan-akan membentengi pulau itu. ditengah-tengah pulau terdapat sebuah tanah menggunduk yang berbentuk seperti gunung. Disebut semikian, karena kecuali letaknya meninggi juga luas dan ditumbuhi hutan-hutan liar.

Pada suatu fajar menyingsing, pemandangan di sekitar pulau itutampak sangat indah. Lebih-lebih pada tempat-tempat dimana tumbuh pohon-pohonan yang berbaris sama tingginya, puncaknya yang melambai-lambai seakan-akan sekumpulan prajurit yang berbaris rapi. Tumbuhan bunga-bunga hutan yang beraneka warna bergoyang-goyang bagaikan lambaian tangan jutaan rakyat yang sedang mengelu-elukn pemimpin mereka.

Matahari menyumburatkan sinarnya yang kemerahan di ufuk timur, menguak halimun pagi, membangkitkan cahaya pelangi indah berwarna tujuh rupa. Keindahan alam ini kemudian ditambah kian semarak oleh lagu-lagu pujian yang didendangkan oleh kicau burung-burung yang menyambut datangnya pagi, serta gemerciknya air kali yang mengalir.

Antara tampak dengan tiada, pagi hari itu dikala hawa sangat sejuk mendesir dan halimun tersingkap oleh sinar matahari yang lembut dari sebuah gunung kecil yang berada ditengah-tengah pulau, tampak sesosok bayangan tubuh yang melayang-layang di atas pohon bunga. Bayangan itu tampak samar-samar, tetapi bergerak sangat cepar sekali, sehingga orang apabila melihatnya akan mengira bahwa itu adalah seorang peri penjaga gunung.

Tetapi ketika bayangan hitam itu melintasi tempat yang terang maka terlihatlah dengan jelas bahwa bayangan itu seorang setengah tua yang sedang berlari dengan sangat cepatnya melayang-layang. Mengherankan sekali bahwa orang tua itu dapat berlari diatas pohon bunga dengan gerakan yang sangat ringan dan lincah seperti seekor kupu-kupu. Pohon-pohon bunga yang terinjak kedua kakinya tidak bergerak sedikitpun, rebah apalagi patah. Hingga dapatlah dibayangkan betapa tinnginya ilmu meringankan tubuh orang tua ini, sudah mencapai puncak kesempurnaannya. Wajah orang tua ini menunjukkan seperti orang yang tidak beres akalnya. Mukanya kelimis, tidak berjanggut ataupun berkumis, hanya rambut kepalanya yang keluar dari ikatan tampak berjuntaian, kotor dan sudah putih menguban.

Pakaiannya pada beberapa bagian tampak tambalan yang seperti disengaja. Leher dan lengan bajunya melambai-lambai dikibarkan angin ketika berlari. Sepasang kakinya terbungkus sepatu kulit jerami, sedang pada punggungnya menggepok seorang gadis cantik yang berusia sekitar lima belasan tahun.

Karena kecepatan larinya, maka sebentar saja sudah sampai didekat puncak tanah tumbuh dan memasuki hutan yang cukup lebat. Ketika mereka telah memasuki pertengahan hutan maka mereka tida pada sebuah pondok bambu. Dan ketika mereka memasuki pondok itu, maka mereka telah disambut oleh seorang laki-laki tua pula, kira-kira dua tahun lebih muda dari kakek yang menggendong gadis itu. siapakah ketiga orang ini?.

―Suheng!   Bagus   sekali!"   Seru   orang   yang   menyambut   itu dengan hati gembira. Dan orang ini meinperhatikan gadis yang berada digendongan itu dengan tajam, sehingga gadis itu merasa malu. Gadis ini tentulah Siu Lian adanya, dan laki-laki tua yang mengendongnya adalah Gouw Bian Lie. Dan seorang lagi. tidak lain adalah dia situkang tenung uring-uringan atau Tie Koan Cai.

Dihadapan suteenya, Gouw Than Lie menjelaskan bahwa ia berhasrat sekali untuk manerima Siu Lian sebagai murid, hal ini tidaklah memberatkan bagi Tie Koan Cai, sebab ia tahu bahwa dalam hal kepandaian ilmu silat, suhengnya jauh lebih tinggi. Lagi pula, apabila mereka berdua mau bekerja sama, tentu akan membuat Siu Lian menjadi seorang murid yang pandai dan hebat dikemudian hari. Merekapun lantas melakukan upacara pengangkatan guru dan murid dan Siu Lian melakukan sembahyang pengangkatan tersebut. Tanpa diperintahkan lagi Siu Lian telah menjatuhkan diri berlutut dihadapan kedua guru itu, sehingga suheng dan sute itupun menjadi kegirangan sekall.

―Anak baik, Anak bilk! Sungguh tidak memalukan kau menjadi puteri An Hwie Cian sahabatku yang berbudi luhur itu!‖ kata Tie Koan Cai menyatakan kegembiraannya.

Dan sejak hari itu, kedua saudara seperguruan itupun lantas mulai dengan memberikan dasar-dasar ilmu silat Liong San Pai pada murid tunggalnya itu.

Pendiri Liong san pai adalah Yao Leng Sian Su, guru Gouw Bian Lie dan Tie Koan Cai. Semasa mudanya Yao Leng Siansu bersama Thio Hin Bin seseorang yang bercita-cita sangat tinggi dan dimasa usia empat puluhan tahun telah berhasil menggabungkan beberapa cabang ilmu silat tinggi-tinggi sehingga menjadi cabang ilmu silat tersendiri yang sangat lihai.

Selanjutnya untuk menyambung hidup dan memperdalam hasil ciptaannya Thio Hin Bin mengambil gunung Liong-san sebagai tempat berlatih juga sebagai tempat tingal. Untuk menyambung ilmu silat yang dengan susah payah telah diciptakannya itu, Yao Leng Siansu telah mengambil tiga orang murid, yaitu Gouw Bian Lie, murid pertama yang telah memperoleh tujuh bagian dari ilmu kepandaian gurunya. Murid kedua Tie Koan Cie hanya berhasil menyelami beberapa bagian saja dari kepandaian gurunya, sebab diluar tahu gurunya, murid yang dasarnya ugal-ugalan ini menuntut ilmu lain, diluar ilmu silat dari gurunya. Itulah dia Ilmu Tenung.

Sedangkan muridnya yang ketiga adalah seorang yang berbakat besar dan cerdas. Kecerdasan otaknya berlipat kali dari kecerdasan yang dimiliki kedua suhengnya. Dia bernama Jing Tang Toh. Jing Tang Toh diterima murid oleh Yao Leng Siansu ketika guru itu telah menginjak usia delapan puluh tahun, dua puluh tahun lamanya murid yang bermakat itu digembleng yang kadang-kadang juga oleh kedua suhengnya bila guru mereka sedang pergi.

Ia berhasil mewarisi seluruh kepandaian gurunya. Bahkan dengan kecerdasannya yang luar biasa, lima tahun sebelum ia turun gunung, ia telah berhasil menciptakan beberapa gerakan sendiri diluar tahu kedua suhengnya. Beberapa gerakan itu lihai bukan main, dan mungkin sekali beberapa tingkat lebih tinggi dari ilmu ciptaan gurunya, hingga dapat dibayangkan betapa lihainya murid penutup ini.

Akan tetapi, sungguh sangat disayangkan manusia yang dilahirkan diatas dunia dengan berbekal kecerdasan yang luar biasa itu, oleh Tuhan diturunkan pula sifat-sifat yang tidak seharusnya dimiliki oleh orang-orang yang berbudi luhur dan jujur. Jing Tang Toh memiliki sifat-sifat batin yang rendah sekali, hingga dua tahun kemudian sejak ia turun gunung. Ia telah melakukan perbuatan- perbuatah tak senonoh seperti merampok, membunuh dan memerkosa wanita dengan mengandalkan kepandaian yang dimilikinya. Hal inilah yang akhirnya menyebabkan Yao Leng Siansu mati mereras, meninggal dalam kedukaan dan malu.

Sebelum sampai ajalnya, pendiri Liang san pai itu, berpesan kepada kedua uridnya yang terdahulu, agar segera mencari dan membunuh sute mereka Jing Tang Toh. Dan kedua murid itupun telah turun gunung, mencari berminggu-minggu, berbulan-bulan sampai bertahun-tahun ke seluruh pelosok negeri, namun orang yang dicarinya tidak pernah dapat ditemukan. Jing Tang Toh terkenal sebagai bandit ulung, akan tetapi aneh, tidak seorangpun dapat mengetahui tempat tinggalnya.

Barulah beberapa tahun kemudian, tersiar kabar bahwa Jing Tang Toh yang mereka cari-cari itu telah binasa dalam suatu pertempuran yang dilakukan di daerah Turki, melawan tidak kurang dari empat puluh jago-jago negeri itu. Jing Tang Toh terbinasa setelah menewaskan separo lebih jago-jago itu, sehingga bagi kedua suhengnya, kabar itu merupakan kabar yang menggembirakan akan tetapi juga patut disesalkan.

Walaupun sang sute itu seorang yang memiliki jiwa yang rendah, akan tetapi bagi mereka toh merupakan saudara seperguruan yang pernah tinggal bersama di puncak gunung Liong san selama dua puluh tahun. Betapapun mereka pernah sekian lama segalang segulung dalam usahanya menuntut ilmu, maka rasa persaudaraannya itupun tidak mudah lenyap begitu saja. Lagipula kematian Jing Tang Toh, kecuali berakhirnya petualangannya sebagai seorang bandit ulung, juga sesungguhnya ia telah mengangkat tinggi nama Liong san pai. Merobohkan lebih dari dua puluh jago Turki seorang diri di negeri asing, bukanlah perbuatan yang tidak berarti.

Itulah sebabnya ketika mendengar berita itu, kedua murid Liong san pai itu mengadukan halnya kepada makam suhunya. Pada saat itu, ketika Bian Lie menuturkan hal kematian sutenya itu, di langit terdengar gledek dan guntur sambung menyambung, kilat menyambar-nyambar dan hari menjadi gelap. Setelah itu hujanpun turun sepeerti dicurahkan dari langit. Mungkin hal itu merupakan tangis dan kaget alam yang ditinggalkan oleh seorang berbakat besar yang telah menemui kebinasaan sebagai penjahat yang gagah.

Dan kini dua puluh dua tahun semenjak kedua suheng dan sute itu ditinggal mati gurunya di tengah-tengah tanah lapang yang luas, tampak seorang dara cantik jelita sedang menggerak-gerakkan tubuhnya belajar silat.

Dialah An Siu Lian. Gadis ini telah setahun tinggal di pulau Tho-liu-to. Dalam tahun pertama ini, Siau Lian mendapatkan pelajaran ilmu dasar silat Liong san pai dari Koa mia shia Tie Kang Cai yang mengajarnya dengan wajar dan sederhana. Tukang tenung uring-uringan ini merasa sangat gembira melihat bakat besar pada muridnya, cerdas dan cepat mengerti, juga sangat lincah, juga sifatnya periang menggembirakan.

Beberapa bulan saja belajar, Siu Lian telah dapat bersilat tingkat pertama dari Liong san pai dengan baik dan sempurna. Ketika setahun genap, Siu Lian mengikuti pelajaran dari kedua gurunya itu. gerakan tubuhnya semakin lincah saja. Seluruh gerakannya halus dan wajar, dan sudah mahir menggunakan tinju dengan ilmu pukulan seperti houw-tiam-ciu (totokan jeriji macan), im-ciu dan lain-lain.

Dua tahun kemudian, Tie Koan Cai merasa bahwa tugasnya membimbing Siu Lian telah selesai dalam mengajarkan pokok dasar ilmu silat Liong-san dan untuk selanjutnya ia serahkan tugas itu kepada suhengnya yang jauh lebih lihai dari dirinya. Sedangkan ia sendiri selanjutnya mengajar ilmu surat, karena ilmu pengetahuan inipun sangat penting terutama bagi seorang gadis seperti Siu Lian itu. dan ternyata dalam hal ini, kecerdasan Siu Lian tidaklah mengecewakan gurunya. Ingatannya sangat kuat, sekali menghafal maka surat-surat itu seakan melekat di kepalanya, tak mungkin dilupakan lagi.

Pada tahun kelima setelah merasa pasti benar bahwa dasar- dasar ilmu silat Liong san yang dipelajari Siu Lian telah matang benar, maka Bian Lie melanjutkan pekerjaan Tie Koan Cai untuk mendidik Siu Lian, memberikan pelajaran silat yang lebih tinggi.

Si pendekar sesat dari Tho-liu-to Gouw Bian Lie, pada taraf pertamanya memberikan pelajaran khikang (mengatur nafas) sampai kemudian pada ilmu meringankan tubuh (ginkang) yang lebih sempurna dan berlari lebih cepat dan lebih tinggi. Dasar Siu Lian memang dilahirkan memiliki bakat sempurna. Dalam setahun saja berlatih siang malam, ia telah mewarisi dasar-dasar seluruh ilmu pelajaran tersebut. Setahun pula selanjutnya kepandaian dalam hal menyambit mempergunakan senjata rahasia telah ia pahami pula, tinggal memperaktekkan dan melatihnya.

Kemudian dua tahun lagi, Bian Lie memberikan pelajaran ilmu silat tangan kosong yang sangat cekatan yang bernama Soat Wan Kun Hoat (ilmu silat tangan lutung salju) yang berjumlah sembilan puluh enam jurus, seratus delapan jurus Lo-han-kun yang tergabung dengan Kin-na-hoat dari Siauw Lim dan Thai-tek-kun. Setelah itu setelah meningkat dalam tahun-tahun terakhir, Gouw Bian Lie menggembleng murid tunggalnya ini dengan ilmu golok Kun Lun Pai yang tiada taranya dan dua tahun terakhir sebelum turun gunung kepada An Su Lian diturunkan ilmu mempergunakan golok dan pedang yang gerakan-gerakannya lebih sulit.

Demikianlah latihan gemblengan yang diturunkan dari kedua guru ini, hingga kepada mereka itu, ia merasa sangat berterima kasih dan ketika telah mencapai usia dua puluh lima tahun ia telah memiliki kepandaian yang sangat hebat dan luar biasa sekali.

―Siu Lian,‖ berkata Tie Koan Cai pada suatu hari ketika merasa kalau kepandaiannya seluruhnya telah diturunkan kepada muridnya itu.  ―Kini  kukira  tiba  saatnya  untuk  kau  mewujudkan  cita-citamu. Membalaskan sakit hati ayah ibumu. Kukira dengan kepandaianmu sekarang ini, dapatlah kau mengalahkan musuh-musuhmu. Jangankan hanya seorang Ong Kauw lian, dua kali dia kau masih mampu. Hanya pesanku, walaupun kini telah memiliki kepandaian yang cukup lumayan, jangan sekali-kali engkau takabur dan menganggap dirimu orang terpandai di dunia ini.

Janganlah engkau menyombongkan diri, karena nanti bisa terjerumus. Serta jangalah pula terlalu mudah membunuh orang atau menindas yang lemah. Berbuatlah sebagai seorang pendekar yang berbudi luhur. Pergunakanlah kepandaianmu untuk menindas segala orang-orang yang bermartabat rendah dan berwatak kejam!‖ ―Juga agar siingat-ingat olehmu, usahakanlah agar nanti setelah kau berhasil membunuh musuh besarmu itu atau belum, sedapat- dapatnya kaucepat-cepat pulang dahulu, selambat-lambatnya tanggal lima belas bulan delapan …..‖ berkata Bian Lie.

―Ada apakah suhu?‖ tanya Siu  Lian yang tidak  mengerti akan maksud suhunya.

―Pada   hari   itu   nanti,   kita   bertiga   akan   pergi   ke   utara, menyeberangi sungai besar ke daerah Tiongkok Utara, untuk memenuhi undangan Auwyang Keng Kiak yang hendak mengadakan pertandingan silat untuk memperebutkan gelar ahli silat nomor satu di kolong langit ini.‖

―Dan     kau     harus     ingat     akan     pesan-pesanku     tadi!‖ memperingatkan  pula   Tie   Koan  Cai.   ―Yaitu   janganlah  engkau mengambil jalan salah, karena kalau kelak engkau berubah menjadi anak durhaka dan menjadi murid yang mencemarkan nama partaimu ini seperti sam susiokmu itu, maka kami berdua akan mencarimu!‖

Pada hari itu, tanpa diketahui oleh Siu Lian, Koan Cai telah mencabut sebatang pedang yang selama ini menggembok di punggungnya. Pedang itu berwarna putih dan berkilat-kilat ketika kena sinar pelita. Pedang itu diserahkan kepada Siu Lian seraya berkata,

―Muridku,  kau  berjodoh  untuk  memiliki  pedang  ini,  karena walaupun benar senjata ini bukanlah senjata mustika, tapi ini adalah warisan lurus dari Sucouw mu yang dipergunakan beliau ketika masih muda. Maka untuk memiliki ini yang diberi harus bersumpah terlebih dahulu.

Dengan khidmat diterimanya pedang itu seraya mengucapkan sumpah. ―Teecu  akan  memanggul  segala  kebenaran  diatas  pundak  dan kepala, dan menghukum yang jahat. Apabila kelak ternyata teecu mempergunakan pedang ini untuk maksud-maksud yang tidak baik atau hanya untuk kepentingan diri pribadi, biarlah teecu mati tertembus oleh pedang ini sendiri!‖

Mendengar sumpah murid perempuan ini, tampak Tie Koan Cai suhengnya tersenyum pusa. Tiba-tiba terdengar Siu Lian berkata pula, ―Atas didikan dan nasehat yang suhu limpahkan kepada teecu, entah bagaimana teecu harus membalasnya!‖

―Anak  baik,‖  kata  Bian  Lie,  ―Pabila  saja  kau  menjadi  anak yang berbudi baik dan membela kebenaran, maka itu sudahlah cukup sebagai pembalasan budi yang sangat besar bagi kami!‖

Kemudian setelah menerima beberapa nasehat penting, Siu Lian berangkat merantau mencari musuh besarnya serta sekalian mencari Sin Hong yang saat ini entah berada dimana.

Oleh kedua orang gurunya, ia dibekali bungkusan berisi pakaian tiga potong dan beberapa potong perak dan emas. Dengan hati terharu Gouw Bian Lie dan sutenya mengantarkan dengan pandangan matanya, hingga murid itu lenyap diseberang lautan luas.

Langsung dari pulau Tho-liu-to, Siu Lian menuju ke Cieng Hong dengan harapan akan bertemu musuh besarnya yang juga menjadi suhengnya itu berada di pegunungan itu dan bertempat tinggal.

Tetapi alangkah kecewanya, ketika tiba ia mendapatkan puncak Ceng-hong-san dimana dahulu ia pernah tinggal sunyi saja tak berpenghuni.

Hanya dari beberapa penduduk yang tinggal di lereeng gunung itu, mendapat keterangan bahwa katanyapada kira-kira lima-enam bulan yang lalu, ke atas puncak Ceng hong-san itu pernah berkunjung seorang pemuda berpakaian pengemis yang kemudian pergi pula setelah berdiam beberapa minggu.

Ketika ditanyakan oleh Siu Lian, apakah yang diperbuat oleh pemuda pengemis itu, beberapa penduduk di lereng pegunungan tersebut hanya menggelengkan kepala. Hanya dengan gerakan- gerakan tangannya para penduduk itu menggambarkan bahwa pemuda pengemis itu mempunyai ilmu silat yang sangat tinggi.

Salah seorang penduduk menerangkan bahwa, katanya pemuda pengemis yang datang di Ceng-hong-san itu, adalah untuk mengambil sebuah barang warisan dan ketika pulangnya dia menuju ke jalan yang menuju ke kota Giok-kang-ci-an. Letak kota ini jaraknya ratusan lie dari Ceng-hong-san dan jika ditempuh dengan jalan darat kira-kira memakan waktu sebulan, begitu keterangan penduduk itu. ada jalan yang lebih singkat yaitu melalui jalan air mengikuti arus sungai Giok-to dengan perahu.

Karena memang maksudnya meninggalkan Tho-lio-to adalah untuk mencari Kauw Lian dan sekalian pergi merantau meluaskan pengalaman, maka setelah mendengar adanya seseorang menyatroni Ceng-hong-san serta membawa pergi suatu benda warisan, Siu Lian menjadi curiga dan kemudian berangkat ke kota yang disebutkan oleh penduduk lereng gunung tadi. Ia pergi ke perkampungan nelayan yang tinggal didekat sungai Giok-ho untuk menyewa perahu.

Namun di kota ini bukan saja ia tidak gampang lantas dapat menyewa perahu, bahkan ia menjadi bahan perhatian orang banyak, hingga ia menjadi heran. akhirnya ia insyaf setelah memperhatikan disekelilingnya, kecuali dia tak ada seorang perempuan lainpun yang berkeliaran di tempat seperti itu. Cepat-cepat karena kuatir akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, iapun pergi mendapatkan seorang nelayan tua yang menyewakan perahu besar untuk menyebrangi sungai.

―Pada masa ini adalah masa terbaik untuk berpesiar, air sungai tenang dan jernih.‖ kata nelayan tua yang dihampiri Siu Lian itu, yang seperti juga penduduk yang lain, mengawasi si nona dengan pandangan  keheranan.   ―Nona   hendak  plesir   kemana?  Mengapa hanya seorang diri saja?‖

―Ya,  memang  aku  hanya  seorang  diri  saja  lopeh,  mengapa?‖ Siu Lian tersenyum seraya mempergunakan tangannya untuk menepuk badan perahu, sehingga perahu itu bergeser dua gentakan. Sengaja Siu Lian memamerkan kepandaiannya dengan harapan agar selanjutnya nelayan tua itu tidak menganggapnya sebagai perempuan lainnya yang umumnya lemah.

―Hah?  Tidak,  tidak  apa-apa.‖  seru  nelayan  itu  yang  menjadi sangat terkejut menyaksikan tenaga si nona yang besar itu.

―Aku  bukan  pelancongan,  tetapi  hendak  menyewa  perahumu untuk pergi ke Giok-kang-cian, berapa harganya?‖

―Ke Giok-cang-cian?‖ kembali nelayan itu berseru kaget.

―Ya,  Giok-cang-cian,  apakah  lopeh  tidak  tahu  dimana  letak tempat itu?‖ Siau Lian mengulangi dengan hati agak mendongkol.

―Nona,  aku  adalah  penduduk  tertua  untuk  daerah  ini,  hingga buat daerah-daerah sekitar. Walaupun sampai yang sekecil-kecilnya bagiku untuk mencarinya sama juga dengan membalikkan telapak tangan saja. Apalagi untuk mengantarkan nona ke Giok-cang-cian yang terkenal sebagai pusat besar, bagaimana aku bisa tidak mengetahuinya?‖

―Nah,  kalau  tahu,  buat  apa  banyak  bicara?  Apakah  kau  takut aku membayar murah?‖ ―Bukan, bukan nona,‖ kata nelayan tua itu gugup. ―Aku bukan manusia yang kau duga itu. lebih-lebih dengan kepandaian yang kau perlihatkan tadi. Aku tahu nona bukanlah perempuan sembarangan. Tidak dibayarpun tidak menjadi apa, hanya ……. hanya …….‖

―Hanya apa?‖

―Hanya  perjalanan  yang  kira-kira  dua  puluh  lie  jaraknya  dari tempat ini, di suatu tanah yang terletak di tengah-tengah sungai pada kira-kira lima bulan yang lalu, ada didatangi sebangsa siluman yang ‖

―Siluma apakah itu?‖ tanya Siu Lian memptpng pembicaraan si nelayan tua.

Nelayan tua itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata ‗tidak tahu‘.

―Hanya  menurut  kata  orang,  beberapa  penduduk  yang  pernah menyaksikan, datang dan perginya siluman itu sangat cepat sekali seperti angin serta suka sekali mengganggu orang-orang yang kebetulan melintas di tempat itu, terutama sekali terhadap orang- orang kaummu. Maka bukan aku menakut-nakuti, lebih baik urungkan saja niatmu itu!‖

Meudengar keterangan demikian bukannya Siu Lian takut, bahkan jadi gembira. Bukaukah tugasnya yang kedua disamping mencari musuh besarnya juga menghalau bahaya pengacau ketenteraman rakyat, adalah juga termasuk kewajinan nya.

―Lopek yang baik" kata Siu Lian tertawa. ―Maafkan kalau tadi aku telah menuduhtnu yang bukan-bukan. Sedang sebenarnya bukankah Giok kang-cian itu sendiri aman?"

Nelayan   tua    itu    mengangguk    membenarkan.    ―Ya,    yang kurnaksudkan tidak aman itu adalah perjalanan yang barus melalui sungai itu." ―Jadi  pada  biasanya  dapatkah  kau  mengantarkan  oran  yang pelesir ke Giok-kang-cian?!"

―Tentu saja. Kalau hal itu terjadi pada tahun yang lalu.‖

―Berapa upah sewanya?"

―Hem, semuanya sebelas tahil."

Siu Lian memasukan tangannya tedalam buntalan dan ia keluarkan perak kecil seharga lima belas tahil.

―Nah,    ambillah    ini    kalau    sekarang    kau    mau    antarkan akukesana. Dan nanti kalau sudah sampai di sana, akan kutambahkan pula lima tahil, bagaimana?‖ kata Siu Lian.

―Eh,   eh,   lupa   kah   kau   nona   muda!   Tadi  bukankah   telah kuceritakan bahwa di suatu tanah lebih ada silumannya?‖ jawab si nelayan tua. ―Dan lagipula pernah pada kira-kira sebulan yang lalu, dua puluh satu orang gagah mencoba memasuki daerah itu untuk mengusir siluman itu. kau tahu hasilnya nona? Kedua puluh satu orang itu masuk, tak seorangpun yang dapat pulang kembali!‖ kata nelayan tua itu menjelaskan, agaknya ia masih tetap ragu-ragu kepada si nona yang hanya seorang diri itu.

―Aku  tahu  lopek.  Dan  biarlah  kalau  sampai  aku  mendapat celaka, aku tidak takut!‖

Nelayan tua itu memandanginya dengan pandangan mata penuh tanya, hingga membuat Siu Lian habis kesabaran. Lalu dihadapan kakek itu ia melompat keatas dan menghilang yang membuat nelayan itu berteriak-teriak gila mengira bahwa Siu Lian juga sebangsa siluman pula.

―Tolong! Siluman, siluman…!‖ teriaknya. Bukankah baru saja si nona itu berada di depannnya! Kakek nelayan itu menjadi lebih ketakutan ketika teringat bahwa siluman memang serig kali menyamar sebagai perempuan cantik atau sejenis dewi.

Tetapi,  tiba-tiba,  ―Lopeh  ………….  Jangan  takut!  Aku  bukan siluman!‖ terdengar suara yang halus dan merdu dan dihadapannya kini telah muncul Siu Lian yang sedang tersenyum manis.

Terpaksa gadis ini berbuat demikian untuk memberikan keyakinan pada si kakek agar ia mau mengantarkannya.

Kakek nelayan itu mengangguk-anggukkan kepalanya antara sangsi dan kagum. Tetapi akhirnya ia berkata pula.

―Kau  bukan siluman, kalau begitu kau tentu seorang pendekar wanita. Akan tetapi jangan lupa. Kecepatan bergerakmu tadi kukira tidak berada dibawah kepandaian para siluman-siluman itu. aku Lauw Toa tidak pernah berdusta, tetapi dalam hal ini agaknya akupun masih ragu-ragu.‖

―Jangan  khawatir  kakek  yang  baik,‖  sahut  Siu  Lian  sambil tertawa.

Akhirnya Lauw   Toa   menerima   juga   tawaran   Siu   Lian.

Beberapa saat kemudian mereka berangkat.

Tampaknya perahu yang ditumpangi Siu Lian ini sudah tua. Terlihat dari bahan-bahan kayunya yang sudah mengering keras sekali. Tetapi walaupun demikian masih cukup kuat dan lebih-lebih atapnya baru dua hari yang lalu diganti si pemilik, sehingga jika hujan besar turunpun tidak nanti akan kebocoran. Sedangkan si kakek nelayan itu sendiri tidak putus-putusnya memuji-muji perahunya yang sudah tua itu.

Saat itu hati Siu Lian sedang lapang dan bergembira. Pemandangan disepanjang jalan tepat seperti dikatakan orang, sangat indah sekali. Apa lagi Lauw Toa ternyata orang tua yang pandai bercerita, membumbui segala keindahan emandangan itu dengan dongengnya yang menarik. Ia juga mendongeng tentang riwayat terjadinya sungai besar itu.

Pada malam harinya, kakek itu mendongeng pula untuk melewatkan waktu yang gelap dan menyeramkan.

―Dahulu  kala,‖  demikian  kakek  nelayan  tua  ini  mulai  cerita dongengnya, ―Di dasar sungai ini hidup dua orang. Seorang pemuda dan seorang gadis. Kedua mahluk itu walaupun belum kawin, akan tetapi dalam hidupnya selalu saling kasih mengasihi seperti hidupnya dua orang yang berumah tangga bahagia.

Mereka sangat bahagia tampaknya, sehingga membuat iri pada orang yang melihatnya. Hingga akhirnya ketika sang Raja Ombak mengetahui akan kerukunan kedua makhluk itu, segera mendatangkan bala tentaranya untuk menggulung rumah istana tempat kedua makhluk itu bersemayam dan menghancurkannya. Dalam kemarahannya yang meluap-luap, yang laki-laki mencabut senjatanya dan mematahkan serangan itu dan berhasil membunuh sang Raja Ombak itu. akan tetapi, ketika perkelahian itu berakhir, ternyata si gadis holang entah kemana.‖

―Hai    nona,    naona,    kau    menangis?!‖    tiba-tiba    kakek    itu menghentikan ceritanya, ketika diliihatnya dari mata nona penumpangnya, tampak mengalir air mata. Lauw Hoa jadi kebingungan.

―Akh…  tidak…  tidak!‖  sahut  Siu  Lian  gugup.  Terkejut  dan  malu ketika disadarinya bahwa baru saja ia menangis. ―Berceritalah terus lopek, berceritalah…!‖

Sebenarnya pikiran Siu Lian sedang melayang kepada pemuda pujaannya, Sin Hong yang hilang ketika ia bersama pemuda itu sama-sama mendaki gunung Thang-sia-san. Tadi tanpa terasa ia menangis, karena ternyata kisah itu ada persamaannya dengan si gadis ini sendiri. Namun karena kejadian itu Laow Toa jadi tak suka mendongeng lagi. Ia khawatir ceritanya akan membuat si nona menangis lagi.

Pada keesokan harinya, pagi-oagi mereka telah tiba ditengah- tengah sungai yang membelok memasuki hutan. Dihadapannya tampak muncul segunduk tanah diatas air yang berbentuk piring dan cukup luas. Ditengah-tengahnya terlihat seperti tampak menjulang sebentuk gunung kecil, agak tinggi dan seperti belukar.

―Hati-hati nona, itulah tanah muncul yang kumaksudkan…!‖ Belum habis Lauw Toa berkata, tiba-tiba dari sisi kanan perahu

tampak melesat sesosok bayangan merah yang bergerak cepat

sekali. Dalam sekejap saja bayangan itu telah menghilang ke dalam hutan.

―Celaka nona, siluman itu datang…‖ Lauw Toa mengeluh dan tubuhnya kontan menggigil ketakutan. Namun Siu Lian yang waspada dan berpenglihatan aws, tenang-tenang saja. Ia tahu kalau bayangan yang berkelebat tadi adalah bayangan manusia biasa yang menggunakan ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi. Hanya yang membuat ia keheranan ialah, bentuk bayangan itu merupakan bentuk seorang perempuan. Apakah mungkin yang dimaksud siluman itu adalah perempuan jahat yang berpakaian baju merah. Ataukah mungkin yang dimaksudkan mereka adalah seorang perempuan jahat berkepandaian tinggi.

Segera Siu Lian menggerakkan tenaga iwekangnya pada kedua kakinya, sehingga perahu itu dapat bergerak lebih cepat. Ketika kemudian si kakek nelayan karena takutnya tidak dapat menggunakan pengayuhnya lagi.

―Bagiamana baiknya nona…?‖ suara Laow Toa masih gemetar ketakutan. ―Kayuh  terus!  Jangan  takut!‖  perintah  Siu  Lian  dengan  suara tenang.    ―Apakah   kakek    tidak    malu    dengan    diriku    seorang perempuan?‖ Siu Lian mengejek, sehingga membuat muka kakek itu menjadi merah karena malu. Perahu didayung terus, bahkan karena ejekan tadi, sikakek mendayung dengan lebih kuat. Akan tetapi karena ia bekerja dengan perasaan terpaksa, lagipula bercampur takut, maka sebentar saja keringat kakek ini membutir- butir sebesar biji kacang kedelai membasahi dahi dan keningnya.

―Lopeh boleh beristirahat, biarlah aku menggantikannya.‖ Kata Siu Lian.

―Tidak   mungkin   nona!‖   kakek   itu   menolak   dengan  keras.

―Apakah kau kira aku orang yang demikian rendahnya? Walaupun batang usiaku telah renta, walau keringat sudah membasahi dahiku dan juga aku mengaku takut, tapi tak mungkin aku meninggalkan kewajibanku!‖ dan kakek itu terus mendayung dengan kerasnya. Rupanya sikap Siu Lian yang terakhir ini cukup menggugah keberanian kakek itu hingga sekarang ia tidak tampak gemetaran lagi.

Perahu melaju semakin cepat. Memecah air yang dilaluinya sudah menjadi satu pula pada bagian belakang perahu. Tiba-tiba kira-kira tiga puluh kaki dari tempat kedudukan perahu itu, terlihat melesat sesosok bayangan hitam. Cepat sekali. Sekejap saja telah berada di atas perahu. Dan ternyata, bayangan itu adalah sebatang pohon hutan yang mungkin akan dapat menenggelamkan mereka apabila batang pohon itu dapat menumbuk perahu.

―Siluman  ampun…..  siluman  ampun  …..‖  si  kakek  meratap- ratap gemetaran. Ia memeramkan matanya, dalam hati ia pasrah akan nasib.

―Piiiiiiaaaaarrrr …..!‖ tiba-tiba ia mendengar suara bingar yang terjatuh ke dalam air. Cipratan air yang bermuncratan membasahi perahu dan si kakek itu sendiri, sehingga ia tersadar dan membuka matanya kembali.

Ia mendapatkan kenyataan bahwa perabunya tidak kurang suatu apa. Dan tidak jauh dari situ dilihatnya sebatang pohon tadi terhanyut perlahan teraung di atas air. Ia menjadi sangat heran. tadi terang bahwa pohon itu hendak menimpa persis diatas kepalanya. Cepat-cepat matanya mencari Siu Lian. Dan herannya menjadi bertambah-tambah ketika kadis itu ternyata masih juga berada di tempat semula, duduk dengan tenang-tenang belaka di ujung perahu seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu apapun. Mungkinkah gadis ini yang telah menyingkirkan balok kayu tadi? Demikianlah kakek itu bertanya-tanya dalam hati. sementara batang kayu itu telah kira- kira sepuluh tombak menjauhi perahu.

―Nona, tidakkah kau kurang suatu apa?‖

―Tidak!‖ dan agaknya yang ditanya ini menggeleng-gelengkan kepalanya acuh tak acuh. Saat ini perahu sudah berada di pinggir tanah muncul.

―Kek, siluman itu rupanya takut kepadaku!‖ Siu Lian berolok- olok sehingga si kakek tunduk kemalu-maluan. ―Labuhkan perahu! Perintah si nona kemudian.

―Haaa?‖  si kakek  berseru  kaget.  Melabuhkan perahu  ditempat ini? sama sekali si kakek tidak pernah menduga sebelumnya.

―Melabuhkan perahu di sini?‖ si kakek mengulangi pertanyaan.

―Ya, labuhkan perahu, kataku! Apakah kurang jelas kek?‖ Siu Lian mengulangi perintahnya dengan mendongkol. Seraya demikian si nona mengerahkan iwekang pada kedua kakinya membuat perahu itu bergerak menepi dengan cepat tidak dapat ditahankan oleh si kakek. Dia jadi kalang kabut kebingungan dan lantas mengira yang bukan-bukan. ―Nona, nona ….., siluman datang lagi….!‖ Lauw Toa berteriak- teriak menggila hingga mau tak mau Siu Lian tertawa geli.

―Sebagaimana  telah  kujanjikan  tadi,  terimalah  ini  kek,  lima tahil lagi dan kau pulanglah!‖ kata Siu Lian kemudian setengah menyuruh.

Setelah menerima pembayaran itu, maka Lauw Toa memutar perahunya cepat-cepat meninggalkan tempat tanpa mempedulikan Siu Lian lagi. Dalam hati ia masih kuatir, apakah si nona tadi benar- benar manusia atau sebangsa siluman juga. Maka sebentar-sebentar ia tengok hadiah pemberian itu, khawatir tahu-tahu jika kemudian menjadi batu.

Sebentar kemudian, perahu itu telah jauh meninggalkan tempat tanah yang muncul tadi. Bila kemudian ia dapat selamat dan bertemu dengan kawan-kawannya maka ia akan segera menceritakan seluruh pengalamannya ini, membuat kawan- kawannya menjadi gempar.

Memperhatikan akan keadaan di situ Siau Lian teringat akan Tho-liu-to. Hanya bedanya tanah lebih ini ditumbuhi oleh tubhuhan liar yang tak berketantuan, mirip sebuah semak belukar, atau hutan kecil. Cocok sekali untuk perampok yang mengasingkan diri, suasananya angker dan menyeramkan. Dari dalam hutan kadang- kadang terdengar bunyi-bunyian yang aneh-aneh, yang untuk orang yang bernyali kecil, mungkin bisa membuat orang mati berdiri dikarenakan takut.

Setelah berjalan kira-kira seratus langkah, Siu Lian tiba disuatu tempat yang di kanan-kirinya penuh dengan tumbuh-tumbuhan lebat dan berduri-duri.

Sebenarnya tidak ada niat Siu Lian untuk memasuki hutan itu. akan tetapi karena tertarik akan penglihatan bayangan merah tadi, maka ia berniat untuk menyelidiki. Besar dugaannya bayangan merah itu adalah seorang perempuan yang memiliki ilmu tinggi. Apabila ternyata dia seorang penjahat. Siu Lian akan menghancurkan untuk menghilangkan kegelisahan masyarakat banyak disekitar tempat itu.

Siu Lian kagum akan tenaga orang yang menyambitkan batang pohon ke arahnya, pasti dia memiliki iwekang yang cukup tinggi dan tentunya sebat pula.

Tiba-tiba, tengah ia berjalan dengan berbagai macam pikiran yang mengganggu kepala, dari arah sebelah kanan depan, dari antara tumbuh-tumbuhan yang lebat, tampak melesat tiga batang sinar merah yang mengarah tiga bagian anggota tubuhnya. Serta matanya yang jeli masih dapat melihat adanya sekelebat bayangan yang menyelusup cepat di sisi kirinya, kemudian menghilang ke dalam hutan.

Siu Lian tidak menjadi gugup akan datangnya tiga serangan gelap itu. dengan memutar pedang keras-keras sehingga menimbulkan angin keras, maka ia telah membuat ketiga sinar merah itu terpukul balik setindak sebelum senjata-senjata tersebut mengenai tubuhnya. Hanya yang menjadikan ia merasa heran ialah adanya orang lain itu yang pendek sekali, kira-kira setinggi empat kaki dan tadi menyusup menghilang. Nyata-nyata bahwa kepandaiannya tidak dibawah kepandaian si penyerang gelap. Yang tahu adalah orang yang tadi membuat Lauw Toa kaget ketakutan.

Bersama itu pula, sebelum ia sempat berbuat suatu apa mendadak terdengar mendesis-desisnya beberapa ekor ular. Tak lama kemudian terlihat pada jarak kira-kira dua tombak dari tempat Siu Lian berdiri, sepasukan ular yang berjumlah ratusan ekor, menggeleser cepat bergerak maju menuju ke arahnya. Menyaksikan ini Siu Lian terkejut bukan alang kepalang. Dalam sedetik ini, ia teringat akan cerita gurunya yang kedua, yang pernah mengatakan bahwa kira-kira seabad yang lalu, daerah Tionggoan pernah kedatangan seorang pendeta dari India yang sangat pandai dan mempunyai kegemaran memelihara sebangsa ular-ular kecil putih yang berbisa. Dan kini pada tempat yang seasing ini, dikata pulau juga bukan, sementara belum dapat mengetahui adanya si kate yang mengherankan itu, ia telah disambut oleh sepasukan ular putih yang tampaknya juga berbisa. Apakah mungkin pendeta India itu masih hidup? Kalau demikian, mungkin dia yang usianya tentu tidak kurang dari satu seperempat abad, itulah yang dikira orang sebagai siluman.

Dengan cepat dan waspada, sebalum ular-ular itu datang melibat, Siu Lian menjejakkan kakinya ke tanah. Lalu dengan tubuh didoyongkan ke kanan, maka ketika tubuhnya turun kembali, ia telah berada dalam semak-semak untuk menyembunyikan diri. Ia ingin melihat apakah benar-benar pemelihara ular ini adalah orang India yang dimaksud. Melihat binatang-binatang piaraan itu berada di sini, maka tentulah majikannya tidak jauh berada disekitar tempat ini pula.

Tidak lama kemudian dari balik semak-semak sebelah kiri, tampak kelyar sesosok tubuh pendek, kepalanya besar, tidak berambut kepala akan tetapi janggutya panjang hingga menyapu- nyapu ke tanah. Aneh sekali tingkah laku orang kate ini. begitu muncul lantas berlari-lari mengitari kelompok ular-ular terebut sambil tiada henti-hentinya meniup seruling pada mulutnya.

Dan hebat, ular-ular yang semula beringas hendak menggigit manusia pendek itu, demi mendengar suara seruling, mereka jadi mengangkat-angkat kepalanya tinggi-tinggi seakan menari-nari. Ular-ular itu melenggak-lenggokkan kepalanya mengikuti irama tiupan seruling. Selain itu mereka juga mengumpul di tengah- tengah pusat lingkaran, berkumpul bertumpuk-tumpuk menjadi satu dengan sebentar-sebentar si peniup mendekatkan mulut seruling.

Tiba-tiba Siu Lian teringat sesuatu. Ia ingat akan cerita gurunya yang menceritakan kepadanya bahwa di dunia kangouw pada beberapa puluh tahun terakhir ini pernah muncul seorang pendekar bertubuh pendek bernama Ban Lie Thong, si pendekar lucu dari Liang San, mungkinkah dia Si Pendekar ini.

Pada tangan kanannya tampak ia mengepal bungkusan peti putih. Dilain saat, sambil mengeluarkan bentakan keras, di tengah- tengah udara seperti mengandung bahan peledak, maka air liur yang menggumpal itu pecah berhamburan, jatuh menjadi titik-titik seperti hujan sekeliling ratusan ular-ular itu yang seketika menjadi panik.

Hebat luar biasa, bahkan tidak masuk diakal, bahwa tiap titik air liur itu telah menghajar tiap ular-ular itu pada bagian-bagian yang sama yaitu pada kedua biji matanya. Hingga ular-ular itu seketika menjadi buta dan mati tak berkutik lagi.

Tak terkira terkejutnya Siu Lian menyaksikan kehebatan Iwekang orang yng luar biasa. Bila ia menilik pada tingkah laku orang pendek itu, maka semakin yakinlah bahwa si manusia kate itu tentulah Ban Lie Thong tentunya. Sesaat kemudian, maka tiupan seruling itu brhenti. Ketika Siu Lian menengok ke arah ular-ular itu ternyata binatang-binatang bertubuh panjang itu sudah tidak bernyawa lagi. Dan dilain saat, si manusia kate itu memperdengarkan suara tawanya yang melengking panjang. Suaranya keras dan berkumandang jauh, benar-benar memekakkan telinga manusia biasa.

Namun saat itu pula, dari arah semak di depan sana, tampak melesat lima batang sinar merah yang mengarah pada lima jalan darah si manusia pendek yang saat itu sedang pentang mulut cekekekan, namun sungguh lihai, walaupun pada saat tertawa itu matanya merapat seperti terpejam, akan teapi ia seakan mengeahui datangnya serangan gelap yang sangat tiba-tiba itu. demikanlah seperti tadi ia semburkan air liur yang seperti juga tadi dilakukan terhadap kawanan ular itu, gumpalan air liur itu memecah brhamburan menjadi titik-titik di tengah udara. Lima diantara titik- titik itu menghajar jatuk ke arah lima buah senjata gelap yang sedang menyerang dirinya, sedangkan yang lain terus langsung meluncur kedepan ke arah tempat asal datangnya kelima sinar merah itu.

Selanjutnya dari dalam semak itu tampak muncul sebuah bayangan merah dan melesat memburu ke arah si manusia pendek. Bayangan merah itu kiranya tidak lain adalah bayangan orang yang semalam telah membayangi perahu Siu Lian. Benar juga kiranya bayangan yang berwarna merah itu adalah seorang wanita yang berpakaian merah yang kini muncul dengan sebatang pedang ditangan.

Dengan gerakan yang sangat cepat perempuan berjubah merah itu meluncur mendekati si manusia kate yang saat itu telah menyemburkan air liurnya pula. Dengan memutar pedangnya wanita berjubah merah itu menggangalkan jurus ‗Hujan Liur‘ si manusia pendek serta kemudian dengan gerakan yang lincah, ujung pedang tahu-tahu telah digerakkan mengancam tenggorokan lawan.

Sambil tidak menghentikan tawanya yang berkakakan, si manusia kate membuka mulutnya dengan maksud menyambut serangan pedang dengan gigi-giginya. Agaknya dia memandang rendah terhadap wanita berjubah merah ini. akan tetapi kemudian dia sangat terkejut, ketika ternyata serangan pedang wanita itu kiranya bertenaga sangat besar. Cepat-cepat si manusia kate memutar tubuhnya sambil egoskan kepalanya dan selanjutnya ditangannya telah menggenggam sebatang senjata yang berbentuk seperti pecut. Pecut itu brgagang pendek, tidak sampai satu jengkal. Sedang tali yang terbuat dari bahan logam panjangnya kira-kira enam kaki lebih. Lemas tampaknya tali pecut itu, tetapi ketika digerakkan ke depan, tali pecut itu berubah menjadi lempang dan kaku. Suara sabetannya bersiutan nyaring dan menimbulkan angin sambaran yang dapat membuat rontok daun-daun disekitarnya. Akan tetapi lawan yang lemah, si wanita berjubah merah segera menggerakkan pedangnya dengan lebih bencar. Diapun kiranya memiliki Iwekang yang cukup tinggi, hingga ketika pedangnya digerakkan menimbulkan angin yang menyambar-nyambar dingin dan menimbulkan rasa nyeri.

Tidak memalukan orang pendek kate itu bergelar Ban Lie Thong dari Liang San. diserang selagi baru saja ia menyerang, cepat-cepat ia meletakkan petinya di atas tanah, kemudian tubuhnya mendadak lurus dan melesat ke atas, sedangkan perutnya dengan mengerahkan tenaga Iwekang yang sebesar-besarnya telah disampokkan ke arah pedang wanita itu.

Sebelum hinggap di atas tanah, tubuhnya diputar kaki kaanannya menendang lebih dahulu kemudian disusul dengan tendangan kaki kirinya. Itulah gerak tipu pecut kosong memburu bayangan hantu dan sapuan berantai pembetot nyawa dari Liang san-pai yang digunakan secara saling susul. Dihantam secara demikian, si nona yang ternyata berkepandaian setingkat lebih rendah dari Lie Thong lantas terdesak mundur setindak ke arah semak-semak. Melihat kesempatan ini, buru-buru Lie Thong memutar tubuhnya untuk mengambil peti putihnya itu.

―Siuman  murid  murtad!‖  bentak  nona  berjubah  merah  itu,

―Malam ini akan kuhabisi dulu riwayatmu, Baru nani sesudah kau, gurumu mendapatkan giliran kuhabisi pula.‖ ―Akh, dia salah duga.‖ Pikir Siu Lian, yang saat itu juga dapat menduga bahwa perempuan berjubah merah itu tentulah seorang pendekar yang sebagaimana juga Siu Lian saat ini, hendak menyatroni sarang siluman.

Hanya saja, apakah isi peti putih itu?

Sedang Siu Lian bermaksud hendak turun tangan meleraikan perkelahian itu, tiba-tiba ia melihat Lie Thong mengulurkan tangan hendak mengambil peti tersebut. Dan tepat pada saat itu, di punggungnya menyambar pedang si nona baju merah.

Lie Thong menendang peti itu hingga sejauh tiga tombak, sedangkan pecutnya digunakan untuk menangkis senjata lawan sekaligus langsung mengirimkan tekanan senjatanya dengan serangan yang bertubi-tubi. Tetapi si nona baju merahpun cukup tangguh. Ia memutar pedangnya dengan rapat sekali, bersama itu pula melancarkan kadang-kadang tusukan dan babatan senjata dengan sangat gencar.

―Barang  apakah   yang  diperebutkan  mereka  itu?‖  Siu  Lian menduga-duga dalam hati. timbul keinginannya untuk mengambil dan meneliti isi peti itu.

Akan tetapi, selagi ia baru hendak melompat keluar, mendadak terdengar suara menggeram sangat nyaring. Suara itu melengking menyeramkan dan menandakan bahwa orang itu sedang marah. Hampir bersamaan dengan itu, dua orang pengemis yang mukanya menyeramkan menerobos keluar dari dalam sebuah semak dengan garang sekali.

Melihat air mukanya, tampaknya pengemis yang berada di depan, usianya masih muda sekali. Mungkin jauh lebih muda dari Siu Lian. Tetapi oleh karena rambutnya yang riap-riapan tak terurus dan roman mukanya yang bengis kotor dan menjijikkan maka pengemis itu tampak tua sekali. Pada tangannya menyelip sebatang tongkat dari batang pohon. Seram sekali bentuk tongkat itu, karena selain mata-mata kayunya yang banyak memenuhi tongkat itu, pada ujungnya terdapat sebuah pentol yang diukir mirip dengan tengkorak kepala manusia.

Langsung, begitu muncul ia melompati atas kepala dua orang yang sedang bertatung.

―Ha,   inilah  tentu  siluman  aslinya…‖  seru  Siu  Lian  dalam hatinya. Ia kagum akan kegesitan pengemis muda menakutkan itu, namun dia juga diam-diam merasa heran mengapa orang yang masih semuda itu mau berpakaian demikian macamnya.

Dalam sekejap mata saja, pengemis yang seorang lagi yang usianya lebih tua telah mendarat turun ke tanah, persis dekat dengan peti putih yang menggeletak. Segera hendak mengambilnya.

Namun sebuah bayangan tiba-tiba melesat sambil mengulur kedua tangannya. Itulah dia Siu Lian yang telah turun tangan setelah menyadari bahwa ia tak mungkin menunda-nunda lagi. Ditangannya tercekal sebatang ranting. Pengemis itu terkejut. Cepat-cepat ia menggerakkan tongkatnya untuk memapak Tongkat itu. keduali dapat dipergunakan sebagai senjata rahasia. Tetapi kini ia behadapan dengan Siu Lian, seorang dara gemblengan dua orang guru pulau Tho-lio-to yang sakti itu. sepuluh tahun lamanya ia belajar, telah cukup membuat dara remaja itu menjadi seorang pendekar remaja yang perkasa. Segera ditangkisnya senjata lawan dengan ranting itu. berada ditangan Siu Lian, dari ujungnya yang lunak itu dapat digunakan sebagai senjata yang keras melawan keras.

Demikianlah, begitu si pengemis mambabatkan tongkatnya menghantam ranting dengan tenaga penuh, kiranya tenaga serangan itu seakan membacok kapas, sama sekali tidak ada tenaga yang melawan. Pengemis itu terperanjat, gugup. Buru-buru ditariknya tongkatnya itu. namun tongkat itu seolah-olah telah menjadi satu dengan senjata lawan, melekat dengan keras.

Pengemis itu mengerahkan seluruh tenaganya menekan dengan maksud memutuskan senjata lawan. Tetapi rupanya Siu Lian tidak mau membiarkan lawannya banyak tingkah. Dengan mengerahkan tenaganya Siu Lian membentak.

―Lepas!‖

Rupanya pengemis tua itu sangat sayang pada senjata tongkatnya. Iapun mengerahkan tenaga sepenuhnya melawan tenaga musuh. namun diluar tahunya, Siu Lian telah mempergunakan waktu lowong seperti itu untuk bersiasat. Secepat kilat ia mengulurkan tangannya merebut peti putih yang berada di ketiak si pengemis. Walaupun si pengemis itu seandainya seorang Dewa sekalipun, tak mungkin ia dapat menggagalkan tindakan Siu Lian. Pada saat ia mengerahkan seluruh perhatiannya pada tongkatnya, maka kepitan pada ketiaknya mengendor, dan saat itulah kiranya menyebabkan peri putih itu segera berpindah tangan ke tangan Siu Lian.

Pucat sekali wajah pengemis itu karena kaget. Ia baru sadar bahwa isi peti itu semahal jiwanya sendiri. Justeru itu, sedang pikiran si pengemis gugup dan bingung. Siu Lian telah mencongkelkan senjatanya ke arah tngkat lawan. Tak ampun lagi, tongkat si pengemis terlepas dari cekalan.

Sementara itu, keadaan pertempuran yang dilakukan oleh si nona baju dan merah Ban Lie Thong lantas berubah. Mereka serentak berhenti bertempur, tercengang melihat munculnya kedua pengemis itu maupun Siu Lian yang sama sekali tak pernah diduga.

Selanjutnya seakan mereka telah berunding terlebih dahulu, keduanya seperti tersadar, dan masing-masing menggunakan senjata untuk menyerang kedua pengemis yang berbentuk sangat menyeramkan itu. akan tetapi pengemis itu melihat bahwa peeti putih berada di tangan Siu Lian, mereka tak mau meladeni Ban Lie Thong maupun si nona baju merah, sebaliknya malah meninggalkannya untuk menyerang Siu Lian.

Dengan senjata yang telah berhasil dijumput kembali, pengemis tua itu menyerbu maju dan kaki kirinyapun dipergunakan menyapu kaki lawan. Bersama dengan itu, si pengemis muda yang ternyata lebih lihai daripadanya menubruk maju seraya mengirimkan empat bacokan berantai ke arah Siu Lian.

Terkejut Siu Lian menyaksikan serangan pengemis muda ini. karena walaupun samar-samar, cara bersilat pengemis muda ini ada persamaannya dengan gerakan silat pada Ceng-hong-pai. Dengan sebelah tangan memasuki peti putih yang isinya masih mencurigakan baginya, Siu Lian menangkis serangan pengemis pertama dengan rantingnya. Terhadap serangan tongkat satunya lagi yang diketahui olehnya ini lebih lihai, Siu Lian tidak berani bertindak sembarangan mempergunakan senjata rantingnya. Demikianlah terhadap serangan ini, Siu Lian bertindak hati-hati. ia menggeser tubuhnya ke kanan lalu mengiringi gerakan itu. ia menggunakan tipu serangan Dewa untuk menghajar pergelangan tangan lawan. Hingga hasilnya, pengemis itu terkejut lalu buru-buru menarik kembali serangan tongkatnya.

Tepat pada saat itu, ia merasakan kesiur angin serangan dibelakang punggungnya. Senjata pecut telah datang mengancam dirinya. Cepat-cepat ia memutar tubuhnya serta menangkis serangan itu. selagi ia sibuk mencurahkan perhatiannya pada lawannya si pendek kate ini, maka kawannya sedang dirintangi oleh si nona baju merah yang agaknya juga cukup tangguh.

Pertempuran berjalan tambah seru menjadi sua rombongan, masing-masing satu lawan satu. Baik Ban Lie Thong maupun si nona baju merah menyedari bahwa datangnya Siu Lian ketempat itu mengandung maksud yang sama. Dengan demikian, merekapun bersatu untuk menggempur kedua pengemis yang menyeramkan itu, yang mengira yakin bahwa keduanya inilah yang oleh penduduk disekitar tempat itu dianggap sebagai siluman yang suka mengganggu penduduk.

Kian lama pertarungan itu menjadi semakin seru saja. Mula- mula mereka tampak setanding, akan tetapi tak selang berapa lama mulai terjatuh dibawah angin dan tak selang beberapa jurus kemudian mereka hanya dapat membela diri belaka. Sama sekali mereka tidak memiliki kesempatan untuk balas menyerang. Mereka jadi cemas sekali, lebih-lebih ketika mereka melihat bahwa peti putih yang bagi mereka lebih penting masih berada di tangan Siu Lian.

Akhirnya akibat cemas, mereka jadi nekat. Tiba-tiba saja si pengemis muda telah melontarkan tongkatnya ke arah Ban Lie Thong dengan sepenuh tenaganya yang besar hingga daun-daun disekitarnya pun bergoyang-goyang dengan keras.

Terkejut Lie Thong akan datangnya serangan ini. ia tidak berhasil menangkis, karena ia tahu tenaga serangan lawan yang demikian dahsyatnya, mungkin dapat membuat ia mati terlanggar. Lie Thong tak berani menyambuti keras melawan keras, akan tetapi hanya satu jalan baginya pada saat yang sangat gawat itu. ia menjauhkan diri ke belakang menghindari. Tongkat pun lewat mendatar sejari di atas kepalanya.

Apa yang dilakukan oleh pengemis muda itu adalah sebuah gerak tipu yakni tipu menerbitkan suara di barat menyerang di timur. Dia amat berniat untuk merampas kembali peti putih itu yang tampaknya sangat berharga. Demikianlah, disaat dirinya bebas, ia meloncat dengan gerakan walet kecil menembus mega ke arah Siu Lian. Pada tangannya tergenggam bumbung yang tak terlihat apa isinya.

Lie Thong terkejut juga mendongkol. Ia merasa telah ditipu mentah-mentah oleh pengemis muda itu. ia melihat betapa bahaya yang sedang mengancam dara pendatang itu, karena agaknya Lie Thong telah mengetahui kalau bumbung yang berada di tangan si pengemis muda itu mengandung sesuatu yang sangat berbahaya.

Benar saja, baru sedetik ia menduga demikian, terdengar si pengemis berteriak keras, dan tiba-tiba saja disekitar tempat Siu Lian berdiri terlihat berhamburan ribuan batang-batang jarum yang beterbangan seperti tawon.

―Celaka!‖  terdengar  Lie  Thong  berseru  kaget.  Tahulah  bahwa itu adalah jarum-jarum pencabut nyawa yang bercun lihai sekali. Sebatang jatum saja yang membuatnya dengan merendam dalam bisa ular sudah dapat membunuh korbannya seketika dengan tubuh menjadi kaku kejang. Apalagi ribuan jarum. Sungguh mengerikan sekali, walaupun untuk membayangkannya saja.

Akan tetapi, sedang Lie Thong berada dalam keadaan tak berdaya untuk memberikan pertolongan karena jaraknya yang terlalu jauh dari gadis itu, maka tiba-tiba ia mendengar dua jerit kesakitan yang melengking mengerikan. Dan sesaat kemudian, dalam sekejap terlihat bayangan si pengemis muda berkelebat lari sambil memperdengarkan suara gerangan kesakitan.

Lie Thong ternganga heran, ketika melihat kenyataan bahwa Siu Lian masih tinggal tenang-tenang saja, berdiri sambil tersenyum, sedang pada air mukanya sama sekali tidak melukiskan rasa kesakitan akibat pengaruh bekerjanya racun. Dalam hal ini rupanya Siu Lian telah bekerja sangat cepat sehingga walaupun Lie Thong tidak dapat melihat apa yang sebenarnya telah terjadi. Ketika menyadari bahwa dirinya mendapat serangan tiba-tiba dari pengemis muda itu, apalagi melihat datangnya ribuan jarum beracun menghujani dirinya, Siu Lian pun terkejut juga. Akan tetapi ia tidak menjadi gugup. Segera dalam detik itu pula, berkelebat ingatan suatu cara untuk menghindari serangan jarum beracun. Secepat kilat dilontarkannya senjata ranting ditangannya, untuk menahan serangan jarum yang pertama.

Selanjutnya dengan sebat ditariknya pedang langsung diputarnya dalam gerak Gunung Besar Menghadang Badai. Pedang itu memang bukan pedang pusaka, tidak ada memancarkan suatu cahaya luar biasa. Akan tetapi di balik itu, dari batang pedang seakan terkandung suatu angin yang besar dan dahsyat.

Demikianlah ketika pedang diputar, maka segera terasa ada angin keras yang tiba-tiba saja datang menyambar-nyambar. Hebat benar kerja angin pedang ini. dalam sekejap saja, ribuan batang jarum beracun tergempur runtuh. Bahkan seperti sudah dalam perhitungan sebagian jarum itu berbalik menghajar ke arah tuannya.

Pada saat itu si nona baju merah sedang membalikkan tubuhnya. Ia terkejut ketika melihat Lie Thong yang sudah tidak menjadi musuhnya itu tiba-tiba saja terjengkang roboh. Hingga buat sesaat si nona baju merah menjadi lengah. Hal ini diketahui oleh Siu Lian. Sehingga demikian ia harus segera membantu. Segera Siu Lian membagi angin serangannya menjadi dua jurusan. Jurusan yang kedua ini, diarahkan pada kepala pengemis yang lebih tua, hingga tak ampun lagi ia hanya dapat menjerit kesakitan dan tubuhnya kontan roboh terjengkang. Bahkan oleh tingkat ilmu kepandaiannya berada dibawah pengemis muda, ia tidak mampu mencegah menjalarnya racun dalam tubuhnya.

Tidak demikian dengan kawannya yang usianya lebih muda. Demi merasa dirinya terkena senjata sendiri, maka cepat-cepat ia menutup pembuluh-pembuluh darah yang penting dalam tubuhnya, lalu dengan kecepatan seperti setan gila, ia melarikan diri ke arah timur sebagaimana yang tadi dilihat oleh Lie Thong.

Nona berbaju merak tampak sudah demikian gemasnya terhadap si pengemis, walaupun melihat lawannya ini tak berdaya lagi. Akan tetapi gadis itu masih juga mengayunkan pedangnya untuk menusuk bangkai yang sudah tak berkutik itu.

―Lie  hiap,  tahan!‖  berteriak  Siu  Lian  mencegah.  Nona  baju merah itu mengurungkan serangannya dan menengok dengan beringas.

―Bagus,‖  ia  membentak.  ―Aku  datang  mewakili  menolongmu, sebaliknya kau hendak melindungi siluman keparat ini. ini yang disebut persembahan emas dibalas dengan batu koral!‖

―Bukan begitu,‖ Siu Lian menyanggah. Ia menjadi geli dengan kecongkakan gadis baju merah itu, yang tentu dia ini yang pernah merintangi perahu dengan batang pohon.

―Terima     kasih     atas     pertolonganmu     tadi,‖     Siu     Lian menyambung. ―Tapi tengoklah, bukankah ia telah menjadi bangkai? Ampunilah orang yang telah mati, agar ia dapat diterima Giam-lo- ong dengan tubuh yang masih sempurna. Apakah engkau ini sebagai seorang wanita yang berbudi halus akan tega mencacah tubuh orang yang telah mati? Lagi pula, bukankah peti putih sudah berada di tangan kita?‖ Siu Lian membujuk sekaligus mencemooh.

―Kau  benar  …..!‖  dara  berjubah  merah  itu  menyahut  dengan perlahan sambil menundukkan kepala. Pedangnya disarungkan kembali. Pada saat itu terdengar suara tiupan seruling yang bernada gembira. Dan tak lama kemudian disusul dengan munculnya Ban Lie Thong yang sedang berjalan seakan-akan menari-nari ke arah mereka. Dilain pihak Siu Lianpun merasa kagum juga pada ketangkasan gadis jubah merah itu yang pada setiap gerakannya lincah dan gesit. Menilik bentuk tubuhnya dia itu berusia tidak lebih dari dua puluh tahun. Raut wajahnya cantik jelita. Tubuhnya ramping dan tampak semarak sekali sengan pakaiannya yang berwarna merah itu melambai-lambai waktu ditiup angin. Sepatunya berlapis logam keras dibawahnya. Sedangkan rambut yang hitam tebal diikat dengan warna merah pula.

―Akh,   Lie   Thong!   Sudahlah,   ular-ular   itu   telah   tumpas semuanya, untuk apa lagi kau meniup serulingmu?‖ kata Siu Lian seraya tersenyum. Ia langsung menyebut nama manusia kate itu dengan namanya, untuk menduga dan menyelidiki apakah dugaannya benar. Kiranya orang kate pendek itu tercengang keheran-heranan.

―Hai, kita baru kali ini bertemu, belum pernah saling mengenal.

Bagaimana kau bisa mengetahui namaku?‖

Tingkah laku dan cara bicaranya sangat jenaka, sehingga kedua dara itu jadi terpingkal-pingkal geli.

―Bagaimana  orang  sekali  melihat  tidak  mengenal  namamu? Orang pendek yang lucu dari Liang-san Cuma satu, namanya Ban Lie Thong. Apa susahnya mengingat nama itu?‖ terdengarnya ketus kata-kata Siu Lian, akan tetapi sesungguhnya sangat menarik dan manis, hingga Lie Thong jadi tersipu-sipu dan malu.

―Lihiap, nama itu Cuma dilebih-lebihkan orang saja.‖ sahutnya.

―Selanjutnya perbolehkan aku orang tua  mengetahui nama  julukan kedua lihiap ini agar nanti dapat kujadikan cerita yang menarik penduduk Tionggoan, bahwa sekarang pada masa ini telah muncul dua orang dara pendekar yang budiman!‖

Kedua dara itu tertawa. ―Aku dipanggil Hong In she Oei‖ kata si dara baju merah.

―Dan  kau  nona,  orang  yang  sudah  mengetahui  namaku  lebih dulu!‖

―Namaku An Siu Lian.‖

―Akh,  sungguh  nama-nama  yang  kelak  pasti  akan  menjadi terkenal!‖ Lie Thong memuji. Hendak kemanakah kalian kedua lihiap sebenarnya?‖

Tampaknya terhadap Hong In, orang kate ini tidak menaruh dendam suatu apa walaupn diantara mereka tadi terjadi pertarungan yang cukup seru.

―Aku hendak pergi ke Giok-kang-ciang,‖ sahut kedua gadis itu hampir serentak.

―Hah!  Giok-kang-ciang?,  kebetulan  sekali,   lihiap  aku  yang rendah juga hendak pergi kesana. Marilah kita pergi keperahuku yang kutambatkan di pinggir kali sana, tidak jauh dari sini!‖ Lie Thong menawarkan.

Siu Lian menyatakan terima kasihnya. Semula ia bermaksud enolak tawaran itu, akan tetapi ketika ternyata Hong In menerima baik, maka apa boleh buat, iapun mengikutinya pula.

Sepanjang perjalanannya, Siu Lian yang merasa masih sedikit pengalaman, merasa canggung, hingga karena itu ia berdiam diri saja. Untunglah, rupanya Hong In yang seperti anak terpelajar, tanpa ragu-ragu mengajaknya bercakap-cakap, hingga lama kelamaan gadis gunung inipun hilang rasa kikuknya.

Hong In kecuali mahir dalam ilmu silat, juga luas pengetahuan tentang ilmu sastera. Dalam hal agaknya ini ia mengetahui bahwa Siu Lian ternyata hanya mengertahui sedikit tentang ilmu sastera. Maka pembicaraan mereka kebanyakan setelah berputar-putar dalam masalah itu saja. Agaknya Hong In juga berbangga diri dengan pengetahuan sasteranya ini.

Oleh karena perahu itu sebenarnya ukuran perahu untuk dua orang dan hanya memiliki satu kamar saja yang hanya cukup tidur untuk dua orang, maka Lie Thong mengalah. Sementara dua orang dara itu tidur dalam kamar perahu, Lie Thong membaringkan dirinya di luar pada bagian yang tidak beratap.

Pelabuhan Giok-kang-cian walaupun merupakan sebuah pelabuhan sungai, tetapi ternyata cukup ramai. Hari itu, pagi hari ketika sang surya baru saja menguak kabut dan halimun, sudah tampak banyak kapal-kapal daerah yang datang dan pergi, mengisi barang-barang dari anak-anak sungai yang hendak diangkutnya ke luar daerah.

Di tempat itu terdapat empat buah anak sungai yang masing- masing tampak ramai dengan kendaraan air yang bersimpang siur. Kecuali satu anak sungai yaitu Giok-hok. Dulunya Giok-hok merupakan anak sungai yang paling ramai diantara ketiga yang lain. Tetapi akhir-akhir ini, dengan adanya desas-desus tentang adanya siluman yang suka mengganggu penduduk, maka sungai itu jadi sunyi. Tidak sebuah perahupun pada saat itu berani melaluinya.

Namun hari ini, penduduk Giok-kang-cian telah digemparkan oleh munculnya sebuah perahu. Mereka menduga tentunya kapal siluman. Dan sebentar saja, keadaan yang semula ramai dengan nelayan-nelayan, seketika berubah menjadi kalut, untuk kemudian menjadi sepi.

Mereka ketakutan.mereka yakin, kalau kapal itu adalah kapal siluman yang hendak mencari mangsa, habis mau apa lagi? Maka sebelum nasib badan menjadi umpan siluman, bukankan lebih baik menyingkir jauh-jauh mencari selamat?

****